PENELITIAN ASLI HUBUNGAN NEUTROPHIL-TO-LYMPHOCYTE RATIO DENGAN DERAJAT HIPERTENSI DAN DERAJAT KARDIOMEGALI PADA PASIEN HIPERTENSI Muhammad Ricky Ramadhian1. Felicia Key Josephine1. Nanda Fitri Wardani1. Putu Ristyaning Ayu Sangging1 Fakultas Kedokteran. Universitas Lampung. Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro No. Gedong Meneng. Kec. Rajabasa. Kota Bandar Lampung. Lampung 35141 Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan Tanggal Dikirim: 11 Februari 2026 penyebab timbulnya berbagai komplikasi kardiovaskuler. Tanggal Diterima: 12 Februari 2026 Kardiomegali sering ditemukan pada pasien gagal jantung Tanggal Dipublish: 12 Februari 2026 sebagai akibat dari hipertensi berat dan tidak terkontrol. Pada foto toraks disebut kardiomegali jika nilai cardiothoracic ratio lebih dari 50%, dan diklasifikasikan menjadi derajat ringan. Kata kunci: hipertensi. sedang dan berat. Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan NLR dengan derajat hipertensi dan derajat kardiomegali pada pasien hipertensi. Penulis Korespondensi: Metode: Penelitian ini bersifat deskriptik analitik Muhammad Ricky Ramadhian dengan desain potong lintang. Variabel yang dianalisis Email: mricky. ramadhian@fk. adalah NLR dengan derajat hipertensi dan NLR dengan derajat kardiomegali. Hasil: Dari 31 subjek penelitian, sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebesar 64,5%. Kelompok usia terbanyak adalah 59-64 tahun, yaitu sebesar 29%. Subjek penelitian didominasi oleh hipertensi derajat 1 dan derajat 2, masingmasing sebesar 45,2%. Nilai NLR minimum adalah 0,96 dan nilai maksimum 14,33 dengan simpangan baku 4,07. Uji korelasi Spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi . sebesar 0,421 dengan signifikansi 0,021 . <0,. untuk hubungan NLR dengan derajat hipertensi, serta koefisien korelasi . sebesar 0,341 dan signifikansi 0,061 . >0,. untuk hubungan NLR dengan derajat kardiomegali. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara NLR dengan derajat hipertensi, dan hubungan yang positif antara NLR dengan derajat kardiomegali walaupun tidak signifikan secara statistik. Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat e-ISSN: 2527-8185 Vol. 10 No. 2 Desember, 2025 (Hal 190-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JMKM DOI: https://doi. org/10. 51544/jmkm. How To Cite: Ramadhian. Muhammad Ricky. Felicia Key Josephine. Nanda Fitri Wardani, and Putu Ristyaning Ayu Sangging. AuHubungan Neutrophil-To-Lymphocyte Ratio Dengan Derajat Hipertensi Dan Derajat Kardiomegali Pada Pasien Hipertensi. Ay Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat . 190Ae197. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/jmkm. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Hipertensi merupakan salah satu tantangan masalah kesehatan global di dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang. Hal ini disebabkan angka mortalitas dan angka morbiditas yang tinggi. World Health Organization (WHO) melaporkan terjadi peningkatan hipertensi di berbagai negara, di wilayah Asia Tenggara dilaporkan terjadi peningkatan dari 29% pada tahun 1990 menjadi 32% pada tahun 2019 . Kematian akibat hipertensi dan komplikasi yang menyertainya dilaporkan meningkat sebesar 65,3% dari tahun 2009 hingga tahun 2019 di Amerika serikat . Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mencatat terdapat hipertensi yang terdiagnosis di Provinsi Lampung sebanyak 7,9% dan berada di urutan ke-16 dari seluruh provinsi di Indonesia. Kabupaten Lampung Timur menempati urutan ke-3 di propinsi Lampung dengan jumlah kasus sebanyak 270. 230 kasus . Hipertensi merupakan penyakit silent killer yang berkontribusi terhadap berbagai kerusakan organ vital, salah satunya adalah organ jantung sehingga sering menimbulkan penyakit kardiovaskuler. Pada hipertensi terjadi peningkatan tekanan dalam pembuluh darah arteri yang mengakibatkan kerusakan sehingga jantung akan memompa darah lebih keras untuk melewati arteri yang menyempit. Hipertensi yang terjadi dalam proses yang lama dan tidak terkontrol dengan baik akan menyebabkan perubahan struktur otot jantung, antara lain hipertrofi ventrikel kiri sehingga jantung juga akan kehilangan fungsi relaksasi saat menampung darah . Hipertensi yang tidak diobati atau tidak terkontrol akan menyebabkan hipertrofi dan penebalan pada otot jantung. Hal ini awalnya adalah merupakan bagian dari proses kompensasi sebagai respon adaptasi terhadap peningkatan tekanan dinding ventrikel. Pembesaran ventrikel kiri pada pasien hipertensi meningkat sampai 40% dibandingkan dengan populasi umum . Pembesaran jantung sering ditemukan pada pasien hipertensi yang dapat dilihat pada foto toraks sebagai gambaran kardiomegali. Kardiomegali adalah pembesaran diameter jantung lebih besar dari 50% diameter rongga dada pada foto toraks posteroanterior. Akurasi foto toraks dalam memberikan gambaran kardiomegali adalah 95,8% . Klasifikasi kardiomegali dapat ditentukan berdasarkan nilai Cardiothoracic Ratio (CTR) yaitu derajat ringan . ,50 < CTR O 0,. , sedang . ,55 < CTR O 0,. , dan berat (CTR > 0,. Salah satu faktor yang signifikan pada penyakit hipertensi adalah proses inflamasi Proses inflamasi ini memainkan peran penting dalam patogenesis dan perkembangan penyakit kardiovaskular. Jika tekanan darah meningkat maka molekul adhesi vaskular dan intraseluler, protein kemostaktin dan inhibitor plasminogen-F akan meningkat. Terjadi aktivasi netrofil dan supresi pada limfosit. Limfosit yang menurun merupakan dampak dari inflamasi kronis sedangkan peningkatan netrofil berhubungan dengan kerusakan jaringan dan stress oksidatif . Peningkatan penanda inflamasi seperti Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) dapat dijadikan sebagai indikator tingkat keparahan penyakit hipertensi . NeutrophilLymphocyte Ratio akan meningkat sesuai dengan derajat hipertensi terutama pada hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik. Sebagai penanda inflamasi NLR dapat memprediksi risiko penyakit jantung atherosklerotik dan gagal jantung. NLR telah dievaluasi dalam berbagai gangguan jantung terutama penyakit jantung atherosklerotik dan menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara peningkatan NLR dengan gangguan kardiovaskular seperti disfungsi diastolik . Penelitian lain menunjukkan bahwa NLR berkolerasi terhadap tekanan darah dan kerusakan organ yang lebih tinggi berupa pembesaran ventrikel kiri dan aterosklerosis aorta . Pemeriksaan NLR diperoleh dari pemeriksaan darah lengkap, dengan membagi jumlah netrofil absolut dengan jumlah limfosit absolut. Sehubungan dengan uraian di atas dan belum adanya penelitian mengenai korelasi Netrofil limfosit ratio dengan kardiomegali pada pasien hipertensi di RSUD Sukadana Lampung Timur, maka peneliti tertarik untuk menelitinya. Penelitian ini diharapkan dapat membantu klinisi dalam mendeteksi komplikasi kardiovaskular. Metode Penelitian ini dilakukan di RSUD Sukadana Lampung Timur bulan Januari sampai Agustus 2025. Populasi penelitian adalah pasien yang berobat ke bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Sukadana Lampung Timur. Jenis penelitian observasional dengan desain potong lintang. Besar subjek penelitian dihitung menggunakan rumus koefisien korelasi Hulley dan Cumming dan didapatkan jumlah subjek penelitian minimum sebanyak 31 subjek penelitian. Kriteria inklusi penelitian adalah pasien hipertensi berdasarkan Joint National Committee (JNC) 8 . dengan atau tanpa obat yang dilakukan pemeriksaan foto toraks PA dan memiliki data laboratorium darah lengkap. Semua data diperoleh dari data Rekam Medis pasien. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan penyakit keganasan hematologi, penyakit infeksi, penyakit gagal ginjal kronis, diabetes melitus, dan data yang tidak lengkap. Pemeriksaan CTR pada foto toraks dilakukan pada proyeksi posteroanterior (PA) dengan kualitas foto yang layak baca. Pemeriksaan NLR dilakukan dengan perhitungan membagi jumlah netrofil absolut dengan limfosit absolut dari hasil pemeriksaan alat hematology analyzer. Data disajikan dalam bentuk persentase untuk data ordinal/kategorikal dan dalam bentuk rerata dan simpangan baku untuk data rasio. Data dianalisa menggunakan korelasi Spearman untuk menilai hubungan antara derajat hipertensi dengan NLR dan derajat kardiomegali dengan NLR. Hasil Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 31 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data penelitian diperoleh dari data rekam medis pasien. Tabel 1. Karakteristik Pasien Hipertensi Menurut Usia Kategori Usia Frekuensi . Persentase (%) . Total Tabel 1. memperlihatkan usia minimum pasien pada penelitian ini yaitu 47 tahun dan maksimum 82 tahun dengan frekuensi terbanyak pada usia 59-64 tahun . %). Secara umum subjek penelitian didominasi usia tua. Tabel 2. Karakteristik Pasien Hipertensi Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi . Persentase (%) Laki-laki Perempuan Total Tabel 2. memperlihatkan bahwa pada penelitian ini subjek penelitian berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki yaitu 20 subjek penelitian . ,5%). Tabel 3. Karakteristik Pasien Hipertensi Menurut Tekanan Darah Kategori Freku Persenta Tekanan se (%) Darah Normotensi (<120/<. Prahipertensi -139/8. Derajat -159/9. Derajat (>=160/>=10 Total Tabel 3. memperlihatkan bahwa kategori pasien yang telah didiagnosis hipertensi yang belum dan sudah mendapatkan obat hipertensi terbanyak ialah kategori hipertensi derajat 1 . ,2%) dan kategori hipertensi derajat 2 . ,2%). Data ini menunjukkan 30 dari 31 subjek penelitian . ,8%) masih dalam kondisi hipertensi yang belum terkontrol sepenuhnya dan memiliki risiko kardiovaskular yang sangat tinggi. Tabel 4. Karakteristik Derajat Kardiomegali pada Pasien Hipertensi Kategori Derajat Frekuensi . Persentase Kardiomegali (%) Tidak kardiomegali/ normal Derajat ringan Derajat sedang Derajat berat Total Tabel 4. memperlihatkan sebanyak 22 pasien mengalami kardiomegali ringan sampai dengan berat, dengan didominasi kardiomegali berat sebanyak 11 subjek penelitian . ,5%). Tabel 5. Karakteristik Pemeriksaan Darah Lengkap pada Pasien Hipertensi Kategori Min Max Mean Leukosit 8,05 x103/AAL NLR Tabel 5. memperlihatkan nilai NLR terendah adalah 0,96, tertinggi 14,33 dengan nilai rata-rata NLR adalah 4. 07 dan simpangan baku 3. 36, sedangkan rata-rata leukosit subjek penelitian adalah 8,05 x103/AAL dengan simpangan baku 1,92. Uji normalitas bertujuan untuk menilai apakah data terdistribusi normal atau tidak. Karena jumlah subjek penelitian <50, maka uji yang digunakan ialah Shapiro-Wilk. Hasil uji normalitas data mendapatkan data yang tidak berdistribusi normal karena semua variabel menjukkan nilai signifikansi <0,05 sehingga digunakan uji korelasi Spearman untuk mengukur apakah terdapat hubungan antara variabel NLR dengan derajat hipertensi dan hubungan NLR dengan derajat kadiomegali. Hasil perhitungan korelasi tersebut menunjukkan korelasi antara derajat hipertensi dan NLR memiliki nilai koefisien korelasi . sebesar 0,412 dengan signifikansi 0. <0,. yang berarti terdapat hubungan antara derajat hipertensi dengan NLR. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara tingkat tekanan darah dengan penanda inflamasi NLR sebagai respon inflamasi sistemik. Perhitungan uji korelasi antara derajat NLR dengan derajat kardiomegali memiliki nilai koefisien korelasi . sebesar 0,341 dengan signifikansi 0. >0,. yang berarti terdapat hubungan yang positif antara derajat derajat kardiomegali dengan NLR namun tidak signifikan secara statistik. Pembahasan Pada penelitian ini, subjek didominasi oleh usia 59-64 tahun. Subjek penelitian perempuan lebih banyak dibandingkan pasien laki-laki. Faktor usia dan jenis kelamin merupakan faktor risiko untuk timbulnya kejadian hipertensi. Perempuan yang telah menopouse mengalami risiko hipertensi dan gangguan kardiovaskuler yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki pada tingkat usia yang sama akibat penurunan estrogen yang berperan dalam proteksi vaskular dan fungsi endotel . Temuan pada penelitian ini konsisten dengan beberapa penelitian sebelumnya yang melaporkan proporsi hipertensi lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki antara lain penelitan Pebrisiana et al. dimana proporsi perempuan yang hipertensi 91,7%, dan penelitian Nawangwulan et al. proporsi hipertensi pada perempuan ditemukan sebesar 63,7% . Pada penelitian ini didominasi oleh hipertensi derajat 1 dan 2 dan sudah mengalami Hipertensi yang berlangsung lama dan tidak terkontrol dapat menyebabkan kardiomegali yang dapat dideteksi dari pemeriksaan foto toraks. Kardiomegali melibatkan pembesaran pada ventrikel kiri, ventrikel kanan, kedua ventrikel dan atrium . , namun kardiomegali secara signifikan lebih sering terjadi pada hipertrofi ventrikel kiri pada pemeriksaan ekokardiografi . Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian Poleng . dan Efendi et al. yang menyatakan terdapat hubungan antara hipertensi dengan kardiomegali pada hipertensi yang tidak terkontrol . , penelitian Pujowaskito et al. yang mendapatkan pasien hipertensi dengan kardiomegali sebanyak 86,8% . Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang positif dan signifikan secara statistik antara derajat hipertensi dengan NLR. Artinya semakin tinggi derajat hipertensi maka semakin tinggi NLR. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara tingkat tekanan darah yang tinggi dengan penanda inflamasi NLR sebagai respon inflamasi sistemik. NLR adalah kombinasi dari dua penanda inflamasi independen yaitu netrofil dan NLR yang tinggi dihubungkan dengan kejadian atherosklerotik. Netrofil berperan sebagai penanda peradangan akut sedangkan limfosit sangat berperan dalam setiap fase atherosklerotik. Peningkatan NLR merupakan indikator risiko kejadian kardiovaskuler sehingga dapat dijadikan sebagai penanda inflamasi untuk memprediksi risiko komplikasi kardiovaskuler . Penelitian ini sejalan dengan penelitian Bozduman et al. yang menemukan rerata NLR yang tinggi pada pasien hipertensi yang tidak terkontrol sebesar 3,3 dengan simpangan baku 0,9 . dan penelitian Sarejloo et al. menemukan peningkatan NLR yang signifikan pada pasien dengan hipertensi tidak terkontrol. Pada penelitian ini diperoleh hubungan NLR dengan derajat kardiomegali yang positif tetapi tidak signifikan secara statistik . Peningkatan NLR pada kardiomegali mengindikasikan adanya proses sistemik yang berhubungan dengan masalah kardiovaskular secara umum, dimana NLR tidak secara spesifik mengukur tingkat keparahan kardiomegali namun kepada kondisi inflamasi umum yang mendasari komplikasi penyakit kardiovasuler. Kadar NLR dengan kardiomegali pada penelitian ini bervariasi, ditemukan nilai NLR tertinggi 14,33 dengan kardiomegali berat dan hipertensi derajat 2 pada pasien berusia 70 tahun, namun pada derajat hipertensi dan derajat kardiomegali yang sama juga ditemukan nilai NLR 2,56 yaitu pada pasien berusia 47 tahun. Hal ini menunjukkan NLR tidak menunjukkan nilai yang sama pada tiap pasien dihubungkan dengan derajat kardiomegalinya. Hal ini sejalan dengan penelitian Dewanti et al. yang menemukan nilai NLR yang bervariasi pada derajat disfungsi diastolik yang sama . Terdapat banyak faktor yang diduga menyebabkan perbedaan ini antara lain riwayat penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan menurunnya jumlah netrofil, seperti obat antimikroba, analgesik dan obat-obat kardiovaskuler. Terdapat beberapa penelitian yang lebih spesifik yang menunjukkan hubungan antara NLR dengan pembesaran jantung, seperti penelitian Afin et al. menunjukkan korelasi yang positif antara peningkatan NLR dengan hipertrofi ventrikel kiri . dan penelitian Korkmaz et al. menemukan retara NLR lebih tinggi yaitu 5,49 pada kelompok hipertensi dengan troponin positif . Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara NLR dengan derajat kardiomegali, namun secara statistik tidak bermakna. Penelitian yang lebih spesifik diperlukan untuk menilai hubungan NLR dengan pembesaran jantung berupa hipertrofi ventrikel kiri atau disfungsi diastolik. Keterbatasan pada penelitian ini antara lain tidak diketahuinya riwayat durasi hipertensi pasien, riwayat dan jenis penggunaan obat hipertensi sebelumnya, data indeks massa tubuh, faktor risiko merokok apakah hipertensi terkontrol atau tidak, waktu pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan foto toraks dihari yang berbeda juga dianggap mempengaruhi hasil yang dapat mempengaruhi hasil temuan. Kesimpulan Terdapat hubungan yang positif antara NLR dengan derajat hipertensi dan bermakna secara statistik dan terdapat hubungan positif NLR dengan derajat kardiomegali tapi tidak bermakna secara statistik. Saran Perlu penelitian lebih lanjut dengan jumlah subjek penelitian yang lebih besar sehingga dapat dijelaskan lebih pasti hubungan NLR dengan kardiomegali dengan modalitas yang lebih akurat. Referensi