Urecol Journal. Part D: Applied Sciences Vol. 2 No. eISSN: 2797-2089 Effects of Core Stability Exercise and Neurosensorimotor Reflex Integration on the Crawling Ability of Children with Quadriplegi Spastic Cerebral Palsy: Case Report Selma Safiannisa Haqia1. Wahyu Tri Sudaryanto 1 . Intan Herlinawati2. Farid Rahman1 1Department of Physiotherapy. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia 2Department of Physiotherapy. Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta. Indonesia wahyu3sudaryanto@gmail. https://doi. org/10. 53017/ujas. Received: 13/02/2022 Revised: 25/03/2022 Accepted: 28/03/2022 Abstract In children with cerebral palsy, core stability exercise is an important aspect that must be done as a basis and preparation for crawling. In addition, neurosensorimotor reflex integration is given to help control emotions so that children can cooperate when given exercise. These two methods are given because they can support the motor, sensory, and cognitive aspects of It is hoped that research outcomes can be achieved. To determine the effect of core stability exercise and neurosensorimotor reflex integration on the crawling ability on children with spastic quadriplegia cerebral palsy. Single subject research conducted on a 20-month-old spastic quadriplegious cerebral palsy child. Subjects were given core stability exercise and neurosensorimotor reflex integration for 4 weeks, therapy was carried out twice a week and follow-up measurements were made on children's motor development for 1 month. Evaluation of children's motoric measurement, using the GMFCS (Gross Motor Function Classification Syste. The baseline found that there was no significant development in the child's ability to crawl. However, at the second follow-up, the child was able to perform crawling movements even though the pattern was less than perfect. Creep becomes the basis for There was no significant improvement in children's motoric development, namely crawling after being given core stability exercise and neurosensorimotor reflex integration for one month. Keywords: Core stability exercise. Neurosensorimotor reflex integration. Cerebral palsy. Crawling. Children Efek Core Stability Exercise dan Neurosensorimotor Reflex Integration pada Kemampuan Merangkak Anak Cerebral Palsy Spastik Quadriplegi: Case Report Abstrak Pada anak cerebral palsy . latihan core stability menjadi aspek penting yang harus dilakukan sebagai dasar dan persiapan untuk merangkak. Selain itu, neurosensorimotor reflex integration diberikan untuk membantu kontrol emosi agar anak bisa kooperatif saat diberikan Kedua metode ini diberikan karena dapat mendukung aspek motorik, sensorik, dan kognitif anak diharapkan outcome penelitian dapat tercapai. Untuk mengetahui efek core stability exercise dan neurosensorimotor reflex integration pada kemampuan merangkak anak cerebral palsy spastik quadriplegi. Single subject research yang dilakukan terhadap seorang anak cerebral palsy spastik quadriplegi berumur 20 bulan. Subjek diberikan core stability exercise dan neurosensorimotor reflex integration selama 4 minggu terapi dilakukan sebanyak 2x/minggu dan dilakukan follow up pengukuran pada perkembangan motorik anak selama 1 Evaluasi pengukuran motorik anak menggunakan instrumen GMFCS (Gross Motor Function Classification Syste. Baseline didapatkan belum ada perkembangan signifikan Urecol Journal. Part D: Applied Sciences. Vol. 2 No. Selma Safiannisa Haqia et al. pada kemampuan anak dalam merangkak. Tetapi, di follow up ke 2, anak mampu melakukan gerakan merayap walaupun dengan pola yang kurang sempurna. Gerakan merayap menjadi dasar dalam merangkak. Tidak terdapat peningkatan yang signifikan pada perkembangan motorik anak yaitu merangkak setelah diberikan core stability exercise dan neurosensorimotor reflex integration selama satu bulan. Kata kunci: Core stability exercise. Neurosensorimotor reflex integration. Cerebral palsy. Merangkak. Anak Pendahuluan Pertumbuhan dan perkembangan manusia meliputi penambahan berat dan tinggi badan, perkembangan fisik, psikososial, dan kognitif terjadi sepanjang daur hidup manusia . Gangguan tumbuh kembang biasanya disebabkan oleh beberapafaktor seperti genetik, riwayat trauma kehamilan dan kelahiran prematur, dan penyebab lain yang belum diketahui . Salah satu kasus gangguan tumbuh kembang padaanak adalah cerebral palsy. Cerebral Palsy (CP) adalah kelainan yang ditandai dengan masalah tonus, postur, dan gerakan yang abnormal . Diseluruh dunia 1-4 anak didiagnosis CP per 1000 kelahiran . Permasalahan yang muncul pada anak CP disebabkan oleh kerusakan atau gangguan otak yang belum matang. Tanda-tanda dapat muncul ketika anak masih bayi atau prasekolah . Pada kasus spastik atau hipertonus, keterlambatan reflek yang muncul dan reflek primitif yang belum terintegrasi dapat menyebabkan permasalahan gerak pada anak . Sering ditemui rata-rata anak CP diusia 10 bulan, belum mampu merayap dan merangkak, beberapa dari mereka melakukan dengan pola yang salah . Merayap dan merangkak adalah salah satu komponen penting pada tumbuh kembang Merangkak bukan hanya sebagai persiapan untuk berjalan tetapi proses yang membantu dalamperkembangaan motorik, persepsi visual,dan koordinasi antara mata dan Dengan demikian, anak yang melewati fase merayap atau merangkak akan mengalami gangguan tumbuh kembang anak . Merangkak membantu meningkatkan kekuatan otot area kepala, leher, lengan, punggung, dan tungkai, serta perkembangan motorik kasar dan halus. Merangkak menjadi awal dari perkembangan koordinasi mata dan tangan untuk meraih objek dan bergerak maju . Pada tahap ini, akan melibatkan komponen reciprocal movement dari ekstremitas atas, ekstremitas bawah, rotasi dari trunk dan pelvis untuk mendapatkan pola merangkak yang baik . Pada anak gangguan tumbuh kembang, salah satunya cerebral palsy, rata-rata mengalami kekakuan pada vertebra. Menyebabkan gerakan dinamis yang dihasilkan kurang karena tidak ada konektivitas antar otot serta persendian pada area tulang Latihan merangkak bertujuan untuk mendapatkan konektivitas pada area spine, jika tidak terjadi konektivitas akan berpengaruh terhadap penurunan tonus otot postural. Latihan merangkak biasanya diawali dengan kapital fleksi posisi prone, patterning merayap, mobilisasi pada spine dengan rotasi dan ekstensi trunk, 3 dimensional pelvic movement, dan fasilitasi pola merangkak . Kontrol otot postural pada trunk sangat penting untuk menopang saat anggota badan ikut bergerak, sehingga memengaruhi gerakan motorik. Ketika trunk stabil, ekstremitas atas dan bawah dapat digunakan dengan baik. Anak penderita cerebral palsy spastik biasanya mengalami kelemahan kontrol postural, yang akan memengaruhi kemampuan aktivitas sehari-hari, keseimbangan statis dan dinamis . Anak yang tidak mengalami fase merangkak dimasa depannya lebih besar berpeluang mengalami gangguan keseimbangan saat melakukan aktivitas . Sehingga, latihan penguatan otot pada trunk, kemampuan keseimbangan otot pada trunk, fase merangkak penting Urecol Journal. Part D: Applied Sciences. Vol. 2 No. Selma Safiannisa Haqia et al. Pada anak dengan CP, gangguan fungsi motorik berkontribusi terhadap gangguan perkembangan persepsi, memori, bicara, sensoris, dan pengaturan diri . Sehingga pengaturan sensoris dan emosi penting dilakukan pada anak neurodevelopmental disorders . Neurosensorimotor Reflex Integration (NSMRI) diyakini dapat digunakan dalam membantu masalah sensoris dan menjadi metode rileksasi pada anak . Latihan yang diberikan biasanya stretching pada ekstremitas, mobilisasi, tendon guard setiap sendi,dan usapan pada seluruh tubuh. Intervensi ini dapat merangsang pola pengaturan diri, pertahanan diri, dan pelepasan stress yang benar. Bertujuan untukmengaktifkan kembali hubungan antara neurostructural . Latihan penguatan salah satunya dengan core stability diharapkan dapat meningkatkan kekuatan otot dari trunk dan ekstremitas . Disisi lain pengaturan diri berupa regulasi emosi penting diberikan untuk memaksimalkan input sensoris yang diberikan saat latihan. Karena, modal awal dari merangkak adalah stabilitas dari core muscle, ekstremitas atasdan bawah, serta emosi yang stabil dari anak. Dengan demikian tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui efek core stability exercise dan neurosensorimotor reflex integration pada kemampuan merangkak anak cerebral palsy spastik quadriplegi. Metode Studi yang dilakukan saat ini menggunakan single-subject research dengan pendekatan desainABA. Desain ini untuk mengetahui efek core stability exercise dan neurosensorimotor reflex integration pada kemampuan merangkak anak cerebral palsy spastik quadriplegi: Case Report. Desain penelitian ABA ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1. Desain Penelitian ABA Keterangan: C A1: Baseline yaitu pemeriksaan kemampuan motorik anak menggunakan instrument GMFCS (Gross Motor Function Classification Syste. C B: Pemberian intervensi . ore stability exercise dan neurosensorimotor reflex integratio. selama 4 minggu . kali pertemua. kemudian dilakukan evaluasi setelah treatment C A2: Follow up yaitu pemeriksaan kembali atau evaluasi setelah mendapat program treatment sebanyak 8 kali. Lokasi penelitian dilaksanakan pada salah satu Klinik A. Kecamatan Ngemplak. Kabupaten Boyolali. Provinsi Jawa Tengah. Waktu pelaksanaan studi adalah 1 November 2021sampai dengan 27 November 2021. Studi dilaksanakan terhadap seorang anak cerebral palsy spastik quadriplegi usia 20 bulan dengan tinggi badan 76,2 cm dan berat badan (BB) 9 kg. Pasien lahir dengan kondisi prematur diusia 35 minggu, dikarenakan kondisi ibu yang mengalami preeklamsia dan ketuban pecah dini. An. R lahir melalui operasi caesar, menangis setelah 10 menit lahir, dan diperkirakan mengalami hipoksia. Pasien sempat dirawat selama 15 hari di inkubator rumah sakit dan sempat mendapat perawatan untuk gangguan pencernaan. Kriteria inklusi dan ekslusi pemilihan subjek adalah sebagai berikut: Kriteria inklusi: C Subjek berumur 8-30 bulan C Menderita cerebral palsy spastik quadriplegi tipe ekstensi skala ashworth 3 C Memiliki jadwal terapi minimal dua kali seminggu Urecol Journal. Part D: Applied Sciences. Vol. 2 No. Selma Safiannisa Haqia et al. Kriteria ekslusi: C Bukan pasien Klinik A C Subjek sedang sakit, misalnya demam C Mengalami tantrum Tahapan studi dimulai dengan baseline yang dilakukan sebanyak dua kali pada tanggal 02 dan 04 November untuk mengukur kemampuan motorik kasar anak. Definisi operasional intervensi terdiri dari: Variabel Bebas Variabel bebas yang digunakan dalam kasus ini yaitu metode core stability exercise dan neurosensorimotor reflex integration (NSMRI). Core stability execise adalah latihan yang digunakan untuk menguatkan core muscle yang akan berpengaruh terhadap kemampuan merangkak anak. Saat latihan anak diberikan mainan agar tidak bosan sehingga latihan dilakukan secara menyenangkan. Sedangkan NSMRI atau dikenal sebagai neurosenso merupakan salah satu metode yang digunakan untuk penataan sensoris, rileksasi, dan emosi pada anak. Pemberian NSMRI biasanya dilakukan sebelum latihan diberikan, tetapi pada kasus ini, neurosenso hanya diberikan ketika emosi pasien sedang tidak stabil. Penjelasan intervensi yang digunakan adalah sebagai berikut: Core Stability Exercise Fleksi Neck Posisi Supine Latihan ini dilakukan pada posisi supine lying dimana keempat ekstremitas pasien berada disamping tubuh, kemudian leher pasien difleksikan sedikit, dan akan diikuti oleh terangkatnya kedua tungkai pasien kearah perut. On Hand Pasien berada pada posisi prone lying, kedua tungkai bawahnya lurus, kemudian terapis memfasilitasi anak untuk mengangkat kedua lengannya, dan diminta untuk menahan selama beberapa detik. Disaat yang sama, terapis juga mengoreksi neck dan visual pasien untuk tetap fokus melihat ke depan. Pattern Merayap Fisioterapis memfasilitasi pasien untuk berada pada posisi seperti merayap. Satu terapis akan merotasikan kepala ke posisi samping pasien, memfleksikan siku pasien kemudian menggerakkannya ke bawah. Terapis lain memfleksikan hip dan knee pasien kemudian menggerakkan tungkai tersebut sampai menempel dengan lengan pasien. Ketiga gerakan tersebut dilakukan dan diulangi diwaktu yang bersamaan. Kneeling Latihan ini membutuhkan kursi kecil sebagai alat bantu. Kedua lengan pasien diletakkan pada kursi, dari posisi duduk pasien difasilitasi untuk mengangkat panggulnya agar berada pada posisi kneeling. Pasien harus menahan selama beberapa Standing Sebelum memulai latihan ini, anak harus memakai kaos kaki, sepatu khusus standing, dan backslap. Pasien akan diletakkan pada alat standing pada posisi tegak. Fisioterapi akan mengikatkan tali pada area axila, hip, dan knee, agar pasien tetap tegak dan tidak terjatuh. Supaya leher anak tetap berada diposisi mid line, bantal collar leher akan dipasangkan. Pasien harus tetap diposisi tersebut selama 30 menit. Urecol Journal. Part D: Applied Sciences. Vol. 2 No. Selma Safiannisa Haqia et al. Semua dosis untuk pemberian exercise akan dijelaskan pada Tabel 1. Tabel 1. Dosis Pemberian Core Stability Exercise Minggu Frekuensi 1 set 1 set 1 set 30 menit 10 menit 30 menit 10 menit 2 kali dalam seminggu 50 repetisi 1 set On hand Kneeling Pattern merayap Standing Fleksi neck On hand Kneeling Pattern merayap Standing Fleksi neck On hand Kneeling Pattern merayap Standing Fleksi neck On hand Kneeling Pattern merayap Standing 10 menit 2 kali dalam seminggu 50 repetisi Tipe Fleksi neck 2 kali dalam seminggu 50 repetisi Time Intensitas 30 menit 10 menit 2 kali dalam seminggu 50 repetisi 30 menit Neurosensorimotor Reflex Integration (NSMRI) Neurosenso diberikan sebelum exercise dimulai dan disesuaikan dengan kondisi anak. Jika anak pada kondisi tegang dan emosinya cukup tinggi. NSMRI dapat diberikan untuk membantu menenangkan kondisi anak tersebut. Gerakannya dimulai dari usapan halus ke seluruh ekstremitas, abdomen, dan juga trunk. Dilanjutkan usapan bintang mengular atau bergelombang pada trunk. Setelah itu usapan angka delapan pada trunk dan semua Jika pasien mengalami spastik, maka diberikan stretch-contract pada area trunk dan semua ekstremitasnya. Dilanjutkan dengan myofascial release diseluruh ekstremitas, tendon guard disetiap persendian, mobilisasi pada persendian, stretching pada ekstremitas, pemberian penekanan pada telapak kaki pasien, dan ditutup dengan usapan halus seluruh tubuh. Tabel 2. Dosis Neurosensorimotor Reflex Integration (NSMRI) Minggu Frekuensi 2 kali dalam seminggu Tidak dilakukan 1 kali dalam seminggu Tidak dilakukan Intensitas Setiap gerakan pada NSMRI 3 kali repetisi Setiap gerakan pada NSMRI 3 kali repetisi Time Tipe NSMRI NSMRI Tabel 2 menjelaskan seberapa sering pemberian neurosensorimotor reflex integration (NSMRI). Pemberian NSMRI dilakukan hanya tiga kali, dua kali pada minggu pertama dan satu kali pada minggu ketiga. Hal tersebut dilakukan ketika emosi pasien sedang naik. Variabel Terikat (Gross Motor Function Classification Syste. The Gross Motor Function Classification System (GMFCS) untuk cerebral palsy didasarkan pada gerakan yang dapat dilakukan sendiri atau tidak, seperti duduk, transfer, atau mobilitas. Terdiri dari klasifikasi lima tingkat . evel I-V), yang menggambarkan perbedaan antara tingkat didasarkan pada keterbatasan fungsional, kebutuhan perangkat mobilitas . eperti alat bantu jalan, kruk, atau tongka. , dan pada tingkat yang jauh lebih Urecol Journal. Part D: Applied Sciences. Vol. 2 No. Selma Safiannisa Haqia et al. rendah pada gerakan dasar seperti merangkak, merayap, duduk atau lainnya. Pasien dalam kasus ini mengeluhkan belum mampu dalam merangkak, duduk dengan posisi tegak, dan beberapa gerakan lain belum mampu dilakukan dengan baik. Pengukuran perkembangan motorik salah satunya merangkak dapat dilakukan dengan pengukuran menggunakan instrument Gross Motor Function Classification System (GMFCS). Penilaian dilihat berdasarkan kemampuan pasien kemudian disesuaikan masuk kedalam level yang mana. Penilaian menggunakan GMFCS dilaksanakan diawal, ditengan penelitian dan diakhir penelitian . Rangkaian tata cara intervensi yang diberikan: Alat dan bahan C Matras C Kursi kecil C Backslap tungkai C Standing frame C Mainan Prosedur Latihan core exercise . n hand, kneeling, dan fleksi nec. dilaksanakan dengan waktu masing-masing 10 menit. Standing exercise 30 menit, dan pattern merayap 50 kali repetisi setiap sesi. Selama latihan pasien diberikan mainan agar tidak bosan sekaligus dapat melatih fokus, menstimulasi motorik dan sensorik pasien. Sedangkan semua gerakan yang ada di dalam neurosensorimotor reflex integration . eperti usapan halus, bintang bergelombang, angka 8, contract stretch, dan lainny. masing-masing dilakukan sebanyak tiga kali repetisi. Scoring Pengukuran dengan menggunakan instrument GMFCS dilakukan di awal penelitian, pertengahan, dan akhir penelitian. Dinilai berdasarkan level mana yang mampu dicapai oleh pasien tersebut. Analisis dan pengolahan data pada studi ini menggunakan pendekatan statistik deskriptif yaitu dengan melihat gambaran dari kemajuan atau progres yang dialami pasien. Outcome dalam hal ini berupa kemampuan fungsional pasien merangkak yang diukur dengan GMFCS. Penyajian dalam studi ini menggunakan grafik dan tabel. Grafik yang ditunjukan mendeskripsikan tingkat efek pemberian core stability exercise dan neurosensorimotor reflex integration terhadap kemampuan merangkak anak dengan cerebral palsy spastik quadriplegi. Proses analisis data dibutuhkan dalam setiap kondisi yang ada dengan komponen yang perlu diperhatikan, yaitu variabel yang diubah, perubahan stabilitas, efek yang muncul, serta data yang bersifat tumpang tindih. Pengukuran baseline atau A1 dilakukan sebanyak 2 kali untuk mendapatkan data yang stabil. Melihat kemampuan apa yang sebelumnya sudah dimiliki pasien. Fase kedua dalam penelitian ini adalah intervensi selama 4 Fase selanjutnya adalah evaluasi atau A2 untuk mengidentifikasi keberhasilan intervensi dengan menggunakan instrument GMFCS. Tabel 1 menggambarkan dosis program latihan core exercise. Program tersebut dilaksanakan selama 4 minggu . ua kali pertemuan dalam semingg. dengan dosis yang sama disetiap sesinya. Tabel 2 menggambarkan dosis program neurosensorimotor reflex integration (NSMRI). Intervensi tersebut diberikan pada minggu pertama sebanyak 2 kali dan minggu ke 3 sebanyak 1 kali. Urecol Journal. Part D: Applied Sciences. Vol. 2 No. Selma Safiannisa Haqia et al. Hasil dan Pembahasan Hasil Setelah dilakukannya core exercise dan NSMRI pada anak berumur 20 bulan penderita cerebral palsy spastik quadriplegi selama 4 minggu dengan 8 sesi latihan yang dilakukan 2x per minggu dan dilakukan follow up pengukuran di minggu ke 4 tidak didapatkan peningkatan yang signifikan diukur menggunakan gross motor function classification system (GMFCS). Pengukuran follow-up I GMFCS dimulai tanggal 1 November 2021 didapatkan pasien belum bisa merangkak, dan masih berada pada level IV. Pengukuran follow-up II dimulai tanggal 18 November 2021 diperoleh pasien belum bisa merangkak, tetapi ketika diposisikan untuk merayap pasien mulai terstimulasi untuk merayap dengan pola yang belum baik. Merayap sendiri cukup penting sebagai dasar anak sebelum merangkak. GMFCS pasien masih berada level IV. Pada pengukuran follow-up i dimulai tanggal 25 November 2021 masih sama seperti follow up ke II. Setelah diberikan latihan dan dilakukan evaluasi tidak didapatkan perubahan yang Followup I. II, dan ke i pasien masih belum bisa merangkak (Gambar . Hal tersebut disebabkan karena latihan dan stimulasi yang diberikan pada anak tidak cukup jika dilakukan dalam waktu yang singkat. Rata-rata anak dengan cerebral palsy butuh waktu beberapa tahun terapi untuk melihat progres kemajuan tumbuh kembangnya . Gambar 2. Data Follow Up Pasien Pembahasan Metode latihan dengan core exercise adalah metode yang melibatkan kekuatan otot-otot core pada anak . Salah satu penelitian menjelaskan, terapi berbasis human movement dapat meningkatakan kekuatan otot postural. Dilakukan mulai dari capital flexion neck yang dapat dikombinasikan dengan stimulasi otot wajah untuk maksimalkan gerakan dari mata, wajah, leher dan bagian proksimal tubuh. Otot wajah akan berkoneksi dengan otot mata sehingga posisi mata stabil, tetap berada di tengah, dan dapat meningkatkan kekuatan otot perut. Latihan merayap, dilakukan untuk melatih 3D pelvic movement, sedangkan latihan berdiri dilakukan untuk stimulasi foot muscle dan penguatan postur . Bentuk latihan yang dipakai dalam penelitian ini adalah fleksi neck posisi supine, on hand, kneeling, pattern merayap, dan standing. Latihan fleksi neck pada posisi supine dilakukan untuk stimulasi agar kedua ekstremitas bawah pasien terangkat dan fleksi ke Urecol Journal. Part D: Applied Sciences. Vol. 2 No. Selma Safiannisa Haqia et al. arah perut. Ketika area kranial difleksikan, maka area caudal atau bawah akan ikut Tujuannya untuk meningkatkan kekuatan otot abdomen pasien dan stimulasi agar postur pasien kembali ke posisi fleksi, karena pasien CP ini lebih cenderung pada pola On hand, dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas dan postural, serta diposisi ini juga, pasien dilatih fokus dengan menatap matanya. Latihan kneeling untuk menguatkan otot abdomen dan tungkai atas. Pattern merayap dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot dibagian lateral trunk, meningkatkan mobilitas pelvis, dan menstimulasi pasien untuk merayap, karena merayap adalah salah satu hal yang penting dilakukan sebelum masuk ke fase merangkak. Standing frame exercise dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot postural dan ekstremitas bawah pasien. Selain itu dapat digunakan untuk memperbaiki postur anak. Selama melakukan latihan diatas, terapis selalu mengajak anak untuk bermain atau berbicara agar anak tidak jenuh dan dapat bermanfaat sebagai stimulasi sensoris anak . Metode core stability exercise menjadi hal yang sangat diperhatikan. Core muscle diilustrasikan oleh para peneliti sebagai "power house" sebagai dasar ekstremitas dalam memulai gerakan . Suatu treatment akan efektif jika anak bersikap kooperatif. Sikap tersebut dipengaruhi oleh emosi dan juga fokus. Latihan fokus dapat dilakukan dengan visual motor attention (VMA) yaitu latihan menghubungkan gabungan titik menjadi suatu bentuk, menggambar angka 8 dengan tangan kanan dan kiri secara searah dan berlawanan, latihan fisik seperti jumping sesuai instruksi terapis, dan lainnya . , . Tetapi, fokus dapat terganggu jika emosi anak sedang meningkat. Regulasi emosi yang buruk pada anak akan menyebabkan defisit kognitif dan memicu perilaku yang agresif . Neurosenso dapat memperbaiki tingkat fokus anak secara tidak langsung. Dari neurosenso tersebut, anak mendapatkan stimulus sensori berupa integrasi visual dan auditori salah satunya dengan gerakan usapan halus dari ujung kepala, menuju mata dan telinga, serta ke seluruh tubuh yang membuat anak merasa nyaman, sehingga emosi anak menjadi stabil. Ketika emosi anak stabil, tingkat fokus anak juga akan meningkat sehingga mempermudah anak untuk melakukan Gerakan . , . Efek dari mengombinasikan beberapa latihan dianggap terapi yang efektif untuk anak cerebral palsy. Anak harus distimulasi untuk melakukan gerakan aktif agar latihan menjadi lebih maksimal . Seorang anak yang rutin melakukan latihan core stability akan memiliki fungsi trunk, keseimbangan dan kemampuan motorik yang baik, karena melibatkan kerjasama yang aktif dari vertebra, core muscle dan kontrol dari persarafan, yang bermanfaat untuk mempersiapkan anak dalam menghadapi tahapan merangkak, dimana butuh otot trunk yang kuat sebagai dasarnya . Disisi lain, neurosenso dilakukan untuk mengurangi reaksi emosi dari pasien saat melakukan terapi. Treatment akan mudah dan efektif dilakukan ketika anak cenderung tenang. Setelah dilakukan neurosenso beberapa kali, emosi pasien R terbukti cenderung lebih tenang dan lebih mudah dalam menerima terapi. Dalam studi ini, progres merangkak belum terjadi peningkatan dikarenakan waktu penelitian yang singkat, yaitu satu bulan. Anak dengan gangguan tumbuh kembang memiliki progres yang sedikit lambat . Biasanya progres mulai muncul setelah melakukan terapi selama beberapa tahun, dilakukan secara rutin, dan sesuai kondisi anak. Tetapi, pada beberapa kasus, progres mulai muncul setelah satu tahun dilakukan terapi . Sehingga, kombinasi terapi core stability exercise dan neurosensorimotor reflex integration dapat bermanfaat untuk kemampuan merangkak pasien jika dilakukan secara rutin, dengan jangka waktu yang lama. Selain itu, dukungan dari keluarga di rumah sangat dibutuhkan untuk melakukan edukasi yang diberikan fisioterapi dan memberikan semangat Urecol Journal. Part D: Applied Sciences. Vol. 2 No. Selma Safiannisa Haqia et al. pada anak . Terlepas dari itu semua, terdapat tantangan dalam melakukan terapi, seperti kondisi anak yang terkadang kurang kooperatif karena emosinya masih fluktuatif, merasa bosan sehingga harus diajak bermain sambil berlatih, dan konsentrasi anak mudah terpecah saat latihan. Kesimpulan Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan, efek core stability exercise dan neurosensorimotor reflex integration belum memberikan hasil yang signifikan, terlihat dari instrumen GMFCS belum menunjukkan peningkatan kemampuan merangkak anak cerebral palsy spastik quadriplegi. Progres merangkak akan terlihat jika terapi dilakukan secara terus menerus dan dalam waktu yang cukup lama. Referensi