International Water Transport Journal Vol. No. April 2025, pp. ISSN: 2723-3294. DOI: 10. 54249/iwtj A A Pengaruh Efisiensi Operasional Ship To Ship (St. Dan Faktor Cuaca Terhadap Kelancaran Distribusi Kargo Di Pt. Ciomas Ariya Berkah Endrik Nofri Setiawan1*. Andri Yulianto. Kumila Hanik Abstract In this study, the researcher used a quantitative descriptive research method. This study aims to determine the effect of the variables studied, namely Ship to Ship (STS) Operational Efficiency and Weather Factors on the Smoothness of Cargo Distribution at PT. Ciomas Ariya Berkah. This research was conducted on a ship owned by the stevedoring company PT. Ciomas Ariya Berkah headquartered at Jl. Lingkar Selatan KM. 5 Link. Jerenong RT. 015 RW. 005 Kel. Lebak Denok Kec. Citangkil. Cilegon-Banten. While the effective research time took place from January to March 2025. The results of statistical testing with multiple linear regression equations obtained that partially the Ship to Ship (STS) operational efficiency variable on the smoothness of cargo distribution at PT. Ciomas Ariya Berkah. The results of statistical testing with multiple linear regression equations obtained that partially the weather factor variable on the smoothness of cargo distribution at PT. Ciomas Ariya Berkah. The results of statistical testing with multiple linear regression equations obtained that partially the weather factor variable on the smoothness of cargo distribution at PT. Ciomas Ariya Berkah. Where indicated by a significance value of 0. Keywords: Ship to Ship. Loading and unloading. Distribution efficiency PENDAHULUAN Transportasi maritim memiliki peranan yang sangat krusial dalam operasional pelayaran di seluruh dunia. Hal ini membuat transportasi maritime menjadi sangat penting bagi perdagangan dunia dan ekonomi global. Transportasi barang melalui air selama berabad-abad telah menjadi dasar perdagangan bahan dasar dan barang antarnegara dari berbagai wilayah di segala penjuru bumi (Haugen & Kristiansen, 2. Dapat dikatakan bahwa transportasi maritim merupakan aktivitas pelayaran dan perniagaan atau perdagangan lainnya yang menggunakan wahana kapal dengan tujuan untuk membantu manusia dalam beraktivitas dan atau pertukaran barang danjasa. Pelayaran dan perniagaan atau perdagangan dengan transportasi maritim sepenuhnya bergantung pada laut sebagai jalur transportasi yang menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain dan kapal sebagai sarananya. Oleh sebab itu, biaya transportasi laut sangat kompetitif dibandingkan dengan transportasi darat dan udara (Fatah et al. , 2. Dilihat dari segi ekonomi, perpindahan barang dan jasa dengan kapal sebagai sarana transportasinya membuat perdagangan lebih efisien karena kapasitasnya yang besar dan biaya yang relatif lebih hemat dibandingkan angkutan angkutan lainnya (Haugen & Kristiansen, 2. Selain itu, industri pelayaran juga memainkan peran penting dalam meningkatkan standar IWTJ Vol. 7 No. April 2025 hidup global yang telah membawa jutaan orang keluar dari kemiskinan akut dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu kegiatan yang sering terjadi dalam transportasi maritim adalah Ship to Ship (STS). STS merupakan suatu kegiatan dalam dunia transportasi maritim untuk memindahkan atau mentransfer muatan kapal dari kapal tanker atau kapal curah ke kapal jenis yang sama atau jenis kapal 2 lain (PRADANA, 2. Umumnya kegiatan ship to ship terjadi pada dua kapal yang saling merapat satu sama lain, baik dalam keadaan diam maupun bergerak. Jenis muatan yang biasa dibongkar ataupun dimuat dalam kegiatan ship to ship ini yang terkenal dan dalam jumlah sangat besar seperti minyak mentah. Liqufied Petroleum Gas (LPG), bahan minyak, batu bara, nikel, timah dan lain sebagainya. Sistem Ship To Ship merupakan penyaluran pengisian bahan bakar dari kapal ke kapal seperti yang dilakukan oleh PT. Arghaniaga Pancatunggal Cabang Cilacap melalui MT. Anugrah Dewi 2 (Pamujianto & Kirana, 2. Pada umumnya muatan-muatan tersebut harus dibongkar secara ship to ship (STS) antara lain karena kurangnya fasilitas pelabuhan lokal untuk menampung muatan, kurangnya kedalaman laut pada suatu pelabuhan, dan untuk efektifitas distribusi muatan ke berbagai daerah. Sebelum proses transfer dilakukan, maka semua sistem keselamatan harus diaktifkan atau difungsikan dan kondisi laut serta cuaca terus dipantau untuk memastikan keadaan keamanan dalam melakukan operasi (Muda et al. , 2. Selain itu, kru kapal yang melakukan kegiatan ship to ship harus dipastikan tidak mengalami kecelakan dalam bekerja dan dipastikan pula dalam proses transfer tidak ada muatan yang tumpah ke laut. Pada prinsipnya kegiatan ship to ship atau bongkar muat dan transfer barang dari dan ke kapal telah diatur dalam (Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 152 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Bongkar Barang Muat Dari dan Ke Kapal, khususnya pasal 19 mengenai tanggung jawab dan jaminan atas keselamatan pekerja. Dengan kata lain, kegiatan ship to ship harus dilakukan secara efektif, efisien dan terlebih optimal agar hasil yang diinginkan tercapai dan ancaman kerugian dapat diatasi. Efisiensi operasional dalam kegiatan STS sangat mempengaruhi waktu dan biaya distribusi kargo dimana efisiensi operasional dalam kegiatan STS mencakup berbagai aspek, seperti koordinasi antara kapal, kesiapan peralatan, dan kompetensi awak kapal. Kinerja operasional yang optimal dapat mengurangi waktu bongkar muat, menekan biaya operasional, dan meningkatkan kepuasan pelanggan, namun pada kenyataanya kendala dalam proses STS dapat memperlambat dan menghambat kinerja operasional bongkar muat, yang akhirnya mempengaruhi efektivitas dan efisiensi distribusi kargo (Sadewa, 2. Selain efisiensi operasional, faktor cuaca juga memiliki dampak signifikan terhadap kelancaran distribusi kargo. Kondisi cuaca buruk, seperti angin kencang, gelombang tinggi, dan hujan lebat, dapat menghambat proses STS dan meningkatkan risiko kecelakaan. Cuaca ekstrem sangat mempengaruhi waktu loading ketika window time, yang dapat menyebabkan penumpukan serta kerusakan muatan dan penghentian operasi kapal (RIZKA, 2. PT. Ciomas Ariya Berkah adalah perusahaan logistik yang berfokus pada layanan handling material di pelabuhan, transportasi, alih muatan kargo (STS), pergudangan, dan custom clearance. Didukung oleh armada transportasi, peralatan berat, gudang, sumber daya manusia profesional, serta sistem manajemen dan teknologi terkini, perusahaan ini berkomitmen memberikan layanan logistik efisien sesuai kebutuhan pelanggan. Dalam operasionalnya. PT. Ciomas Ariya Berkah menghadapi berbagai tantangan, termasuk memastikan efisiensi operasional STS dan mengantisipasi dampak negatif dari kondisi cuaca yang tidak menentu. Kedua faktor ini berpotensi mempengaruhi kelancaran distribusi kargo dan kepuasan pelanggan (Aryasamudra, 2. Kondisi cuaca yang buruk tidak hanya mempengaruhi keselamatan pelayaran tetapi juga efisiensi distribusi kargo. (RIZKA, 2. mencatat bahwa cuaca ekstrem dapat menyebabkan penundaan dalam proses bongkar muat, meningkatkan risiko kerusakan muatan, dan menambah biaya operasional. Untuk mengurangi dampak negatif cuaca buruk, perusahaan perlu mengimplementasikan strategi mitigasi, seperti pemantauan cuaca secara real-time, penjadwalan ulang operasi STS, dan pelatihan awak kapal dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem. (Wahyuni et al. menekankan pentingnya persiapan kapal dan koordinasi dengan otoritas terkait dalam menghadapi cuaca buruk untuk menjamin keselamatan dan efisiensi PT. Ciomas Ariya Berkah, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang distribusi kargo, menghadapi berbagai tantangan dalam operasionalnya, terutama dalam pelaksanaan Ship to Ship (STS) dan faktor cuaca yang dapat mempengaruhi kelancaran distribusi. Efisiensi operasional STS yang optimal diharapkan dapat meningkatkan ketepatan waktu dan keamanan distribusi kargo. Namun, faktor cuaca yang tidak dapat diprediksi menjadi variabel yang berpotensi menghambat proses distribusi. Oleh karena itu, diperlukan analisis mendalam untuk memahami sejauh mana efisiensi operasional STS dan faktor cuaca dapat mempengaruhi kelancaran distribusi kargo serta strategi mitigasi yang dapat diterapkan. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif Menurut (Sugiyono, 2. Deskriptif kuantitatif, yaitu konsisten dengan variabel penelitian, fokus pada permasalahan aktual dan fenomena yang sedang terjadi, serta menyajikan hasil penelitian dalam bentuk angka-angka yang Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh dari variable yang diteliti yaitu Efisiensi Operasional Ship To Ship (STS) dan Faktor Cuaca terhadap Kelancaran Distribusi Kargo di PT. Ciomas Ariya Berkah. Penelitian ini dilaksanakan pada kapal yang dimiliki Pada perusahaan bongkar muat PT. Ciomas Ariya Berkah berkantor pusat di Jl. Lingkar Selatan KM. 5 Link. Jerenong RT. 015 RW. 005 Kel. Lebak Denok Kec. Citangkil. Cilegon-Banten. Sedangkan Waktu penelitian efektif berlangsung pada bulan Januari sampai Maret 2025. Penelitian ini didasarkan pada teknik pengumpulan data yang merupakan penelitian kuantitatif dengan kuesioner. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan data yang akurat yaitu dengan menggunakan skala Likert. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kru kapal yang dimiliki Pada perusahaan bongkar muat PT. Ciomas Ariya Berkah. Adapun kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah kru salah satu kapal yang dimiliki IWTJ Vol. 7 No. April 2025 Pada perusahaan bongkar muat PT. Ciomas Ariya Berkah yaitu MV. Aurora Christine. Sampel dalam penelitian ini sekitar 20 awak kapal termasuk nahkoda kapal MV. Aurora Christine PT. Ciomas Ariya Berkah. Analisis deskriptif digunakan oleh peneliti untuk mengklasifikasikan variabel independen dan dependen sesuai dengan jumlah jawaban pada kuesioner. Pengujian ini dapat dilakukan dengan menggunakan program SPSS 23 for windows. Kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Efisiensi Operasional STS (X. Kelancaran Distribusi Kargo Faktor Cuaca (X. Keterangan: = Pengaruh secara parsial = Pengaruh secara stilmultan Gambar 1. Kerangka Berfikir HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bersifat kuantitatif dimana data yang dihasilkan akan berbentuk Dari data yang didapat dilakukan analisis dengan menggunakan Software SPSS 23. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis Pengaruh Efisiensi Operasional Ship To Ship (STS) dan Faktor Cuaca terhadap Kelancaran Distribusi Kargo di PT. Ciomas Ariya Berkah. Dengan tujuan yang didasarkan, data dikumpulkan dengan kuesioner sebanyak 20 responden yang menjadi awak kapal MV. Aurora Christine salah satu kapal STS PT. Ciomas Ariya Berkah. Penyebaran kuesioner dilakukan secara tertutup dengan menggunakan skala likert 1-5. Penelitian ini menggunakan 2 variabel independen yang terdiri Efisiensi Operasional Ship To Ship (STS) dan Faktor Cuaca serta variabel dependen yaitu Kelancaran Distribusi Kargo. Kuesioner yang dibuat dengan variabel yang diteliti memiliki rata 2 item pertanyaan. Adapun rincian penyebaran angket dan pengambalian kuesioner dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Ikhtisar penyebaran dan pengembalian kuesioner No. Keterangan Penyebaran kuesioner Kuesioner yang dikembalikan Kuesioner yang tidak dikembalikan Kuesioner yang dapat diolah Jumlah Angket Prosentase Karakteristik responden apabila dilihat dari jenis kelaminnya dapat dilihat pada tabel 2 berikut: Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin No. Keterangan Laki Ae laki Perempuan Total Jumlah Angket Prosentase Karakteristik responden apabila dilihat dari segi umur dapat dilihat pada tabel 3 berikut: Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan usia No. Usia 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun Total Frekuensi Prosentase (%) Karakteristik responden apabila dilihat dari pendidikan terakhir responden dapat dilihat pada tabel 4 berikut: Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir No. Pendidikan Terakhir SMA Diploma Total Frekuensi Prosentase (%) Karakteristik responden apabila dilihat dari masa kerja responden dapat dilihat pada tabel 5 berikut: Tabel 5. Karakteristik responden berdasarkan masa kerja No. Masa Kerja 1-6 Tahun 7-12 Tahun 13-18 Tahun 19-24 tahun 25-30 tahun Total Frekuensi Prosentase (%) Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Metode yang digunakan untuk menilai validitas kuesioner tersebut adalah korelasi produk moment atau menggunakan bevariate pearson. Adapun hasi uji validitas sebagai berikut: Tabel 6. Hasil uji validitas Variabel Efisiensi Operasional Ship To Ship (STS) Indikator X1. X1. r Hitung r Tabel Keterangan Valid Valid IWTJ Vol. 7 No. April 2025 (X. Faktor Cuaca (X. Kelancaran Distribusi Kargo (Y) X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Berdasarkan Tabel 6 diatas menunjukkan terdapat 3 variabel yang menjadi bahan penelitian dari ketiga variabel yang diteliti memiliki item pertanyaan ratarata 3 pernyataan. Dari masing-masing item pertanyaan pada setiap variabel baik independen maupun dependen ternyata memiliki nilai r hitung lebih besar daripada r tabel maka datanya yang didapat dilapangan dapat dinyatakan valid. Tabel 7 Hasil Uji Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,973 Berdasarkan Tabel 7. diatas menunjukkan bahwa pada pengujian ini dilakukan secara variabel bukan secara item pertanyaan pada setiap variabel yang dapat dilihat hasilnya adalah nilai cronbahAos alpha lebih besar daripada 0,6 yaitu 973, maka dapat dikatakan reliebel. Tabel 8. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parameters Mean ,0000000 Std. Deviation Most Extreme Differences 2,62807185 Absolute ,249 Positive ,249 Negative ,127 Test Statistic ,249 Asymp. Sig. -taile. ,062c Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Berdasarkan Tabel 8. menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan pada Asym. sig sebesar 0,062 yang dapat dikatakan nilai asymp. sig 0,062 lebih besar daripada 0,05 maka dapat dikatakan data berditribusi normal. Tabel 9. Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa Collinearity Statistics Model Tolerance VIF ,016 3,705 ,016 3,705 Dependent Variable: Y Berdasarkan Hasil Tabel 9. menunjukkan bahwa baik kepercayaan , iklan, dan persepsi resiko memiliki nilai tolerance kurang dari 1 dan VIF memiliki nilai kurang dari 10 maka dapat dikatakan data tidak mengalami multikolinieritas. Tabel 10. Hasil Uji heterosdekastisitas IWTJ Vol. 7 No. April 2025 Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Model Std. Error (Constan. ,339 4,062 -,106 ,489 ,125 ,472 Coefficients Beta Sig. ,083 ,934 -,415 -,216 ,832 ,509 ,265 ,794 Dependent Variable: ABS_RES Berdasarkan Tabel 10. menunjukkan bahwa pengujian ini menggunakan metode Uji Glejser yang nilainya dilihat dari t sig. Pada variabel kepercayaan, iklan, dan persepsi resiko memiliki nilai sig lebih besar daripada 0,05 maka dapat dikatakan data tidak terjadi heteroskedastisitas. Tabel 11. Hasil Analisis Regresi Berganda Coefficientsa Model (Constan. Dependent Variable: Y Unstandardized Coefficients Std. Error 39,180 7,128 1,985 ,858 -1,458 ,828 Standardized Coefficients Beta 2,896 -2,202 5,496 2,315 -1,760 Sig. ,000 ,033 ,046 Berdasarkan tabel 11 diatas menunjukkan koefisien y merupakan bentuk sebuah persamaan regresi yang dapat dihasilkan sebagai berikut: Y = 39,180 1,985X1 - 1,458X2 Dari persamaan diatas maka dapat dijadikan acuan untuk diintepretasikan sebagai berikut: 1. Koefisien Konstanta bernilai positif artinya bahwa ketika Efisiensi Operasional Ship To Ship (STS) dan Faktor Cuaca terjadi maka Kelancaran Distribusi Kargo tetap akan meningkat. Koefisien Operasional Ship To Ship (STS) bernilai positif artinya setiap melakukan efisiensi Operasional Ship To Ship (STS) yang dimiliki awak kapal meningkat, akan disertai dengan peningkatan Kelancaran Distribusi Kargo juga. Sedangkan setiap penurunan kepercayaan yang dimiliki konsumen menurun, akan disertai penurunan keputusan Koefisien Faktor Cuaca negatif artinya setiap adanya Faktor Cuaca yang meningkat, akan disertai dengan penurunan Kelancaran Distribusi Kargo. Begitu juga sebaliknya, setiap penurunan Faktor Cuaca yang terjadi, akan disertai meningkatnya Kelancaran Distribusi Kargo. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen yaitu Efisiensi Operasional Ship To Ship (STS) (X. dan Faktor Cuaca (X. terhadap variabel dependen yaitu Kelancaran Distribusi Kargo (Y). Hasil uji t dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 12 sebagai berikut: Tabel 12 Hasil Uji Parsial (Uji . Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Model Coefficients Std. Error Beta (Constan. 39,180 7,128 1,985 ,858 -1,458 ,828 Sig. 5,496 ,000 2,896 2,315 ,033 -2,202 -1,760 ,046 Dependent Variable: Y Dari persamaan tabel 12. maka dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Hasil uji t pengaruh variabel Efisiensi Operasional Ship To Ship (STS) terhadap Kelancaran Distribusi Kargo yang tersaji pada tabel 12. diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,033. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 (< c = 0,. , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya Efisiensi Operasional Ship To Ship (STS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kelancaran Distribusi Kargo. Hasil uji t pengaruh variabel Faktor Cuaca terhadap Kelancaran Distribusi Kargo yang tersaji pada tabel 12. diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,046. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 ( 0,05 maka model tidak layak untuk digunakan sebagai model pengujian dalam penelitian. Hasil uji F dapat dilihat pada tabel 13. berikut ini: Tabel 13 Hasil Uji Simultan (Uji . ANOVAa Model Sum of Squares Mean Square Regression 182,972 91,486 Residual 131,228 7,719 Total 314,200 11,852 Sig. ,001b Dependent Variable: Y Predictors: (Constan. X2. X1 Tabel 13. menunjukkan bahwa dari hasil uji F, dimana diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,001. Oleh karena signifikansi lebih kecil dari 0,05 (