Journal Genta Mulia Volume 15. Number 2, 2025 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm PENINGKATAN KEAKTIFAN PESERTA DIDIK KELAS V SEKOLAH DASAR DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING Maharani Dyah Ayu Setiawati*1 . Riska Fahmawati2. Dewi Suci Indah Sari3. Adi Nurcahyo4. Rohman5. Artik6. Edy Heru Prasetyo7 1, 2, 3, 4 Universitas Muhammadiyah Surakarta 5, 6, 7SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan * Corresponding Author: maharani. dyahayu99@gmail. Abstrak Penelitian ini didasarkan pada permasalahan rendahnya keaktifan belajar peserta didik di kelas V. Hal ini ditandai dengan kurangnya antuasime selama pembelajaran, kurang adanya interaksi peserta didik, dan rendahnya partisipasi dalam menjawab soal, bertanya, dan menyelesaikan tugas. Penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk melihat kenaikan keaktifan belajar peserta didik menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) saat melaksanakan pembelajaran Pancasila di kelas. Subjek pada penelitian ini merupakan peserta didik kelas V SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan Colomadu yang berjumlah 22 peserta didik. Indikator tergapainya keberhasilan kajian ini ialah tergapainya presentase keaktifan belajar peserta didik yang mencapai 75%. PTK dijalankan hingga 2 siklus. Jenis data yang dipakai yakni data kualitatif yang meliputi hasil observasi langsung, peneliti mengamati tanpa terlibat Selain itu juga didapatkan data kuantitatif dari hasil pengolahan presentase keaktifan belajar peserta didik. Pengumpulan datanya dilaksanakan melalui observasi. Melalui pengumpulan datanya kemudian bisa dicerminkan bahwa pada siklus I mencapai 63%, dimana hasil keaktifan masih kurang, kemudian meningkat pada siklus II mencapai 70,3%. Berdasarkan hasil tersebut tercermin bahwasanya metode Problem Based Learning dapat menunjukkan kenaikan aspek keaktifan belajar peserta didik kelas V pada mapel Pancasila. Kata Kunci: Keaktifan. Pancasila. Problem Based Learning Abstract This study is based on the problem of low learning activity of students in grade V. This is indicated by a lack of enthusiasm during learning, lack of student interaction, and low participation in answering questions, asking questions, and completing assignments. The research conducted was Classroom Action Research (CAR) to see an increase in student learning activity using the ProblemBased Learning (PBL) model when implementing Pancasila learning in class. The subjects of the study were 22 grade V students of SD Muhammadan Plus Malangjiwan. Colomadu. The indicator of the success of this study is the achievement of the percentage of studentsAo activeness reaching 75%. CAR is carried out for 2 cycles. The type of data used in this study is qualitative data that includes the results of direct observation, which the researcher observes without being directly involved. addition, quantitative data is also obtained from the results of processing the presentation of studentsAo activeness. Data collection is carried out through observation. Through data collection, it can be seen that in cycle I reached 63%, which describe that the results of the studentsAo activeness were still lacking, then increased in cycle II reaching 70. Based on these results, can describe that the PBL method can increase of studentsAo activeness in class V students on the Pancasila subject. Maharani Dyah Ayu Setiawati1Peningkatan Keaktifan Peserta DidikA Jurnal Genta Mulia . Keywords : Activeness. Pancasila. Problem Based Learning PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran yang krusial terhadap kemajuan negara dan bertujuan untuk mencerdaskan bangsa. UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha untuk mewujudkan kondisi belajar dan proses pembelajaran yang mendorong peserta didik secata aktif mengembangkan potensi yang ada dalam Pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah mengharapkan peserta didik untuk berperan aktif dalam menjalani tahapan serta kegiatan proses pembelajaran dengan baik. Menurut Rejeki & Wantoro . , keaktifan peserta didik di kelas adalah salah satu aspek penting untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif. Purwati . mengutip pendapat Sardiman yang menjelaskan bahwa keaktifan ialah aktivitas yang terdiri dari fisik dan mental, sehingga perbuatan . dan berpikir . menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Selanjutnya menurut Wahyuningsih, dikutip dari Susilowati . , keaktifan belajar adalah bentuk partisipasi aktif peserta didik selama tahap pembelajaran yang ditandai dengan adanya komunikasi sesama peserta didik dan kepada (Putri & Taufina . menyebutkan bahwa keaktifan belajar merupakan suatu respon ketertarikan atau adanya rasa suka yang ditunjukkan oleh peserta didik dalam Mengacu dari pendapat oleh ahli sebelumnya, diambil simpulan terhadap keaktifan belajar ialah faktor penting untuk mencapai pembelajaran yang optimal. Keaktifan peserta didik dapat melibatkan perpaduan aspek fisik dan mental selama pembelajaran, misalnya ada partisipasi aktif peserta didik dan adanya minat atau rasa suka terhadap pembelajaran yang berlangsung. Oleh sebab itu maka pembelajaran yang dilaksanakan, sebaiknya mengacu pada upaya kenaikan aktivitas dan partisipasi belajar peserta didik. Puspita sari et al. , . menjelaskan beberapa indikator keaktifan peserta didik, yakni: . antusias selama pembelajaran, . keberanian dalam mengajukan pertanyaan, . kemampuan dan keberanian peserta didik dalam merespon pertanyaan . dapat menunjukkan pemahaman yang dimiliki di depan kelas, . keterlibatan peserta didik dalam mengerjakan tugas, . keterlibatan peserta didik dalam diskusi kelompok sesuai arahan guru. Selanjutnya. Prasetyo & Abduh . menyebutkan beberapa bentuk keaktifan peserta didik selama pembelajarannya, misalnya ikut aktif dalam mengerjakan tugas, menanyakan materi yang sulit dipahami kepada guru atau sesama teman, aktif dalam berkolaborasi untuk memecahkan masalah, serta dapat menampilkan hasil diskusi di depan kelas. Dengan demikian, keaktifan belajar peserta didik mencakup baik aspek kognitif . emahaman dan kemampuan berpiki. maupun efektif . ikap dan motivas. , dimana keduanya berperan penting mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Hasil pengamatan pembelajaran di kelas V, menunjukkan bahwa terdapat masalah kurangnya kurangnya keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran Pancasila. Masalah ini ditunjukkan dengan tanda-tanda seperti bosan ketika pembelajaran berlangsung, memiliki kesibukan sendiri ketika guru sedang menjelaskan materi, tidak ada keinginan bertanya mengenai materi yang belum dipahaminya, hingga kurang adanya diskusi dan interaksi dengan teman kelas. Menurut Rahmayanti et al. , . kurangnya keaktifan peserta didik selama proses pembelajaran disebabkan oleh metode pengajaran konvensional yang membuat peserta didik kurang memeroleh motivasi. Akibatnya, peserta didik menjadi pasif, banyak mengobrol saat pembelajaran dan ragu memberikan pendapat saat pembelajaran. Bahkan rendahnya tingkat keaktifan belajar peserta didik ketika pembelajaran berlangsung dapat berdampak pada capaian belajar. Maka dari itu, guru diupayakan menggunakan model pembelajaran yang lebih menarik guna menaikkan level keaktifan belajar peserta didik di dalam kelas. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 135 Maharani Dyah Ayu Setiawati1Peningkatan Keaktifan Peserta DidikA Jurnal Genta Mulia . Menurut Irviana . model pembelajaran adalah sebuah rancangan yang dipakai oleh guru sebagai acuan dalam merencanakan pembelajaran agar bisa untuk memenuhi kompetensi atau tujuan belajar yang diharapka. Yunitasari & Hardini . yang mengemukakan bahwa model Problem Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan level keaktifan belajar peserta Saputra et al. , . mendefinisikan Problem Based Learning sebagai model pembelajaran yang membangkitkan keakitfan belajar peserta didik yang produktif serta kreatif sehingga peserta didik dapat menaikkan hasil belajarnya secara optimal. Pada proses dan tahapan pembelajaran menggunakan PBL, peserta didik akan diberikan kasus yang berkaitan dengan materi pembelajaran, kemudian dituntut untuk mencari solusi dari kasus tersebut. Oleh karena itu Problem Based Learning dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan mereka pada aspek kerja sama kelompok (Muhammad et , 2. Beberapa model lain juga dinyataka efektif dapat meningkatkan kemapuan peserta didik seperi round club Rita & Dara . Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat diambil simpulan bahwa Problem Based Learning dapat diimplementasikan untuk menaikkan aspek keaktifan peserta didik dengan memberikan suatu permasalahan untuk merangsang sikap berpikir kritis dan meningkatkan kemampuan memecahkan suatu permasalahan dengan menyusun pengetahuannya sendiri. Fitriani et al. , . menjelaskan PBL merupakan model pembelajaran yang memakai persoalan sebagai pijakan awal guna menumbuh kembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah dan menyatukan pengetahuan hingga mereka mampu meningkatkan kemandirian belajar. Penelitian sebelumnya yang relevan pernah dilakukan oleh Novia Siti Syaripatul Ula dan Milah Jamilah dengan pembahasan mengenai pengaruh model pembelajaran Teams Games Tournament pada keaktifan belajar peserta didik kelas V di SDN 201 Sukaluyu (Syaripatul Ula & Jamilah, 2. Penelitian tersebut lebih banyak membahas terkait penggunaan model pembelajaran kooperatif Team Games Tournament untuk mengembangkan aspek keaktifan belajar peserta didik, sehingga penelitian yang dilakukan ini dibuat untuk membuktikan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning juga sanggup menaikkan aspek keaktifan belajar. Penelitian relevan selanjutnya yaitu dari Indry Widiyastuti. Wawan Shokib Rondli, dan Erik Aditia Ismaya, dimana penelitian ini menunjukkan model Problem Based Learning memiliki dampak yang cukup besar terhadap hasil belajar peserta didik (Widiyastuti et al. Penelitian tersebut membahas terkait hasil belajar peserta didik tanpa melihat sisi keaktifan peserta didik selama pembelajaran. Maka, penelitian ini disusun untuk melihat keaktifan belajar peserta didik melalui model pembelajaran Problem Based Learning. Penelitian relevan yang selanjutnya juga dilaksanakan oleh Romario Seger Aji Pamungkas dan Jan Wantoro, yang menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning efektif untuk mengembangkan kemampuan critical thinking pada pembelajaran Pendidikan Pancasila SD (Rejeki & Wantoro, 2. Penelitian ini dibuat untuk menyempurnakan penelitian terdahulu, yang mana model pembelajaran Problem Based Learning dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta kemampuan keaktifan peserta didik. Mengacu paparan di atas, alternatif solusi dengan kajian baru yang bisa penulis berikan adalah penelitian untuk mengukur perkembangan keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila melalui model pembelajaran Problem Based Learning. Tujuan dari penelitian yakni untuk menunjukkan terjadinya peningkatan dalam keaktifan belajar pada peserta didik kelas V di SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan. METODE PENELITIAN P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 136 Maharani Dyah Ayu Setiawati1Peningkatan Keaktifan Peserta DidikA Jurnal Genta Mulia . Penelitiannya ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research. Menurut Gusmaningsih et al. , . PTK adalah metode penelitian yang dilaksanakan guru sebagai usahanya meningkatkan praktik pembelajaran di kelas. Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan PTK yakni memberikan suatu tindakan pada permasalahan di kelas, supaya kinerja peserta didik dapat meningkat. Penelitian dilaksanakan di SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan yang merupakan tempat pelaksanaan Praktik Pembelajaran Lapangan (PPL) dengan subjek penelitiannya yakni peserta didik kelas V SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan di semester ganjil TA 2024/2025, dengan total peserta didik sebanyak 22 peserta didik . peserta didik perempuan dan 11 laki-lak. Penelitian ini dilaksanakan mulai Oktober 2024 sampai Februari 2025. Rangkaian penelitian meliputi pengajuan judul, pengambilan data, pengumpulan dan analisa data, serta penyusunan laporan artikel. Analisis data dilakukan secara sistematis dengan menggunakan analisis isi kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif melibatkan perhitungan presentase keaktifan peserta didik, sementara analisis kualitatif berfokus pada interpretasi mendalam terhadap makna dan konteks dari isi penelitian. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan menggunakan prosedur penelitian model Kemmis dan Mc Taggart, yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Ngatiyem . menyatakan bahwa model Kemmis dan Mc Taggart dilakukan dalam dua siklus, yakni siklus I dan siklus II. Gambar 1. Bagan Model PTK oleh Kemmis dan Mc Taggart Berdasarkan bagan prosedur diatas, setiap siklus terdiri dari empat tahapan dengan dua Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dijabarkan dibawah ini: Tahap Perencanaan (Pla. Di tahap ini penguji menjalani observasi kelas yang dilakukan pada tanggal 26-27 September 2024 untuk mengetahui pembelajaran sebelumnya. Selanjutnya, peneliti menyusun rencana dan perangkat pembelajaran yang disesuaikan dengan materi. Tahap Pelaksanaan (Actio. Pada tahan ini dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2024 dengan menerapkan rencana pembelajaran Pancasila menggunakan model pembelajaran PBL sebanyak 2 siklus dimana setiap siklusnya dilakukan 2 kali pertemuan. Tahap Pengamatan (Observatio. Pada tahap observasi, peneliti mencatat informasi penting yang berkaitan dengan kegiatan Pengamatan dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat kenaikan pada aspek keaktifan belajar peserta didik pada pelajaran Pendidikan Pancasila. Tahap Refleksi (Reflectio. Refleksi dilaksanakan melalui diskusi dengan guru kelas mengenai kondisi tingkat keaktifan belajar peserta didik sebelum dan sesudah tindakan. Hasil dari siklus II dijadikan acuan peneliti dan guru untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik pada kelas V SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 137 Maharani Dyah Ayu Setiawati1Peningkatan Keaktifan Peserta DidikA Jurnal Genta Mulia . Tabel 1. Pedoman Konversi Keaktifan Belajar Peserta Didik Tingkat Persentase Kriteria 80%-100% Sangat Baik 70%-79% Baik 60%-69% Cukup 50%-59% Kurang 0%-49% Sangat Kurang Tabel di atas menjadi pedoman pengukuran persentase keaktifan belajar peserta Terdapat lima kriteria atau kategori keaktifan belajar peserta didik yakni sangat baik, baik, cukup, kurang dan sangat kurang (Purwati, 2. Tabel 2. Pedoman Indikator Pengamatan Keaktifan Belajar No. Indikator Banyaknya butir Antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Interaksi peserta didik dengan guru Kerja sama kelompok Keaktifan peserta didik dalam kelompok Partisipasi peserta didik dalam menyimpulkan hasil (Salasih, 2. Dari indikator diatas, penilaian keaktifan belajar peserta didik dilakukan menggunakan skala penilaian 1-4 point, dimana skor maksimal yang diperoleh adalah 4 Selanjutnya, dilakukan perhitungan persentase keaktifan belajar sebagai berikut: Rumus Keaktifan Peserta Didik: Jumlah indikator yang muncul X 100% Jumlah maksimal indikator Hasil analisis data kemudian dibandingkan dengan indikator keberhasilan minimal untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari penelitian. Kemudian, hasil analisis tersebut dapat dibandingkan dengan hasul persentasi keaktifan belajar di siklus sebelumnya untuk mengetahui indikator apa yang mengalami peningkatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Mengacu hasil observasi pra siklus pada kelas V di SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan yang berjumlah 22 peserta didik, menunjukkan keaktifan belajar peserta P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 138 Maharani Dyah Ayu Setiawati1Peningkatan Keaktifan Peserta DidikA Jurnal Genta Mulia . didik saat pembelajaran Pendidikan Pancasila hanya sebesar 55%. Menurut beberapa penelitian sebelumnya, keaktifan belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor internalnya hingga eksternalnya. Sedangkan yang terjadi di lapangan yakni karena pembelajaran Pendidikan Pancasila bersifat monoton dengan metode ceramah dan belum disertai media Berdasarkan data tersebut didapatkan data yang digunakan jadi acuan permulaan sebelum menjalani tindak perbaikan dengan mengimplementasikan model Problem Based Learning. Pada siklus I, tingkat keaktifan peserta didik pada kegiatan pembelajaran Pendidikan Pancasila sebesar 63&, yang menunjukkan adanya peningkatan sebenyak 8%. Sedangkan pada siklus II, keaktifan belajar peserta didik mencapai 70,3%. Jika dibandingkan dengan siklus I, maka terdapat kenaikan kembali sebesar 7,3%. Tabel 3. Perbandingan Keaktifan Belajar Peserta didik Tahapan Pra Siklus Siklus Siklus Keaktifan belajar peserta 70,3% Peningkatan 7,3% (Sumber: Hasil analisis dat. Pra Siklus Pada tahapan pra siklus, peneliti belum mengimplementasikan model pembelajaran apapun. Hal ini karena peneliti ingin mengetahui tingkat keaktifan peserta didik selama pembelajaran Pendidikan Pancasila, sebelum menggunakan model Problem Based Learning. Dalam kegiatan pra siklus didapati data dibawah ini: Aspek yang diamati Skor Antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Interaksi peserta didik dengan guru Kerja sama kelompok Aktivitas peserta didik dalam kelompok Partisipasi peserta didik menyimpulkan hasil pembahasan Jumlah skor yang muncul Dari 22 peserta didik, seluruh peserta didik mengikuti pembelajaran. Jumlah maksimal indikator adalah 21 pernyataan x 4 skor maksimal x 22 peserta didik = 1. Mengacu tabel di atas, diperoleh 1. 020 skor indikator yang muncul, sehingga persentase keaktifan peserta didik adalah 55%. Berdasarkan tahap pra siklus, menunjukkan bahwa keaktifan belajar peserta didik masih dalem kategori kurang. Hasil tersebut mencerminkan keaktifan belajar yang ditunjukkan peserta didik kelas V SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan tidak maksimal. Mengacu pada refleksi dan evaluasi terhadap persentase keaktifan belajar peserta didik P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 139 Maharani Dyah Ayu Setiawati1Peningkatan Keaktifan Peserta DidikA Jurnal Genta Mulia . ketika melaksanakan pembelajaran di kelas, peneliti kemudian menyusun perencanaan tindakan dalam PTK di tahap siklus I yakni mengimplementasikan pembelajaran dengan memakai metode Problem Based Learning. Siklus I Siklus I dilaksanakan di bulan Oktober hingga November 2024 dengan peserta didik sebanyak 22 orang. Materi yang digunakan adalah mengenai norma. Tahapan di siklus I diawali dengan melakukan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Perolehan dari siklus I diantaranya: Aspek yang diamati Skor Antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Interaksi peserta didik dengan guru Kerja sama kelompok Aktivitas peserta didik dalam kelompok Partisipasi peserta didik menyimpulkan hasil pembahasan 220 Jumlah skor yang muncul Dari 22 peserta didik, seluruh peserta didik mengikuti pembelajaran tanpa Jumlah maksimal indikator adalah 21 pernyataan x 4 skor maksimal x 22 peserta didik = 1. Mengacu pada tabel aspek di atas, diperoleh 1. 175 skor indikator, sehingga persentase keaktifan peserta didik adalah 63%. Berdasarkan hasil persentase tersebut menunjukkan bahwa aspek keaktifan belajar peserta didik terdapat peningkatan dari pra siklus. Akan tetapi keaktifan belajar peserta didik pada siklus I masih pada presentasi 63%, dimana menunjukkan bahwa keakitfan peserta didik masih dalam kategori cukup. Siklus II Siklus II dilakukan pada bulan November 2024 di kelas V SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan peserta didik sebanyak 22 orang. Materi yang diajarkan pada siklus II yaitu terkait norma sama seperti materi pada siklus I. Tahap dalam siklus II diawali dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil dari siklus II diantaranya: Aspek yang diamati Skor Antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Interaksi peserta didik dengan guru Kerja sama kelompok Aktivitas peserta didik dalam kelompok Partisipasi peserta didik menyimpulkan hasil pembahasan Jumlah skor yang muncul P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 140 Maharani Dyah Ayu Setiawati1Peningkatan Keaktifan Peserta DidikA Jurnal Genta Mulia . Dari 22 peserta didik, seluruh peserta didik mengikuti pembelajaran. Jumlah maksimal indikator adalah 21 pernyataan x 4 skor maksimal x 22 peserta didik = 1. Pada siklus II ini muncul 1. 300 skor indikator. Sehingga dari data itu bisa dihitung persentase keaktifan belajar peserta didik yakni 70,3%. Berdasarkan perhitungan di atas, siklus II persentase keaktifan belajar peserta didik mencapai 70,3%. Hal ini membuktikan adanya peningkatakan keaktifan belajar peserta didik dari siklus I sebelumnya. Peningkatan hasil penelitian dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, yaitu peserta didik lebih antusias dan tertarik mengikuti pembelajaran serta lebih banyak interaksi dengan guru karena guru mengemas pembelajaran dengan kreatif. Selain itu guru memberikan LKPD dengan kegiatan menempelkan dan menjodohkan sehingga kerja sama kelompok menjadi lebih menyenangkan dan membuat aktivitas peserta didik dalam kelompok menjadi lebih Terakhir, mereka dapat lebih mudah dalam menyimpulkan hasil diskusi karena dengan mudah memahami materi dari kegiatan diksusi kelompok. Berdasarkaan hasil penelitan menunjukkan bahwa keaktifan peserta didik menggunakan model Problem Based Learning di siklus I naik sebesar 8% jadi 63%, dari pembelajaran pra siklus yang hanya sebesar 55%, dimana guru belum menerapkan model pembelajaran PBL. Selanjutnya, pada siklus II mengalami kenaikan mecapai 7,3% jadi 70,3% yang menandaka bahwa keaktifan belajar peserta didik dalam kriteria baik. Data ini membuktikan bahwa implementasi model pembelajaran Problem Based Learning dapat menaikkan keaktifan belajar peserta didik dalam mapel Pancasila. Hasil ini selaras dengan peneilitian Nurrohim et al. , . yang menyatakan pembelajaran menggunakan model PBL di mapel Pendidikan Pancasila pada sekolah dasar meningkatkan keaktifan peserta didik dari 63% menjadi 80% setelah dilaksanakan tindakan siklus II. Penelitian lain dari Rasya et al. , . menyatakan pemakaian model pembelajaran PBL terbukti sangat signitifikan dalam menaikkan level keaktifan peserta didik dari siklus I sebanyak 58% menjadi 80% pada siklus II. Tidak hanya di jenjang sekolah dasar, penelitian dari Fathin Dianah et al. , . di jenjang sekolah menengah atas juga membuktikan implementasi model PBL bisa meningkatkan keaktifan peserta didik dari 78,82% menjadi 93,26% pada siklus II. Hal ini makin menjadi bukti bahwa penggunaan model pembelajaran PBL bisa meningkatkan keaktifan belajar peserta didik. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian di kelas V SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan, disimpulkan penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik dalam pembelajaran Pancasila di kelas V SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan. Peningkatan keaktifan peserta didik terbukti dengan meningkatnya presentasi dari 63% pada siklus 1 menjadi 70,3% di siklus II, yaitu naik sebesar 7,3%. Kelima indikator keaktifan peserta didik mengalami kenaikan sehingga menandakan penggunaan model Problem Based Learning mampu mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, meningkatnya antusias belajar peserta didik, interaksi antar teman dan guru, dan kolaborasi. Temuan dari penelitian ini membuktikan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning efektif untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran PBL dapat menjadi pilihan guru SD Muhammadiyah sebagai upaya meningkatkan keaktifan peserta didik dalam belajar. Oleh karena itu peneliti juga berharap, sekolah dapat mendukung guru dalam mengimplementasikan model pembelajaran PBL dengan menyedikan fasilitas dan media belajar yang menunjang pembelajaran agar mendapatkan hasil yang maksimal. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 141 Maharani Dyah Ayu Setiawati1Peningkatan Keaktifan Peserta DidikA Jurnal Genta Mulia . Selanjutnya, peneliti berharap untuk penelitian selanjutnya dapat lebih mengeksplorasi dan mengembangkan model PBL di berbagai mata pelajaran, serta dapat membandingkan antara keaktifan belajar peserta didik dengan hasil belajarnya. Selain itu dapat juga mengeksplorasi apa saja faktor yang mempengaruhi keberhasilan penggunaan model pembelajaran PBL di jenjang sekolah dasar. DAFTAR PUSTAKA