Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 GAMBARAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS DAN KELELAHAN PADA TOUR GUIDE DI NUSA PENIDA Shasya Thalia Kairupan*1. Ni Ketut Guru Prapti1. Ni Kadek Ayu Suarningsih1. Gusti Ayu Ary Antari1 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana *korespondensi penulis, email: shasyathalia23@gmail. ABSTRAK Tour guide merupakan salah satu pekerja agen wisata yang memiliki risiko dalam mengalami kejadian keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. dan kelelahan akibat tuntutan pekerjaan. Keterlibatan seluruh aktivitas tour guide bersama dengan wisatawan seringkali melibatkan aktivitas statis dan dinamis dalam waktu lama sehingga berpotensi meningkatkan penekanan pada otot serta tendon. Hal ini mampu berdampak pada sejumlah faktor keluhan yang bersifat sementara maupun tetap seperti keluhan MSDs dan kelelahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keluhan MSDs dan kelelahan pada tour guide di Nusa Penida. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah 105 responden tour guide yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) dan Subjective Self Rating Test (SSRT). Hasil analisis univariat dan crosstabulation didapatkan bahwa prevalensi keluhan MSDs tertinggi pada mayoritas tour guide di Nusa Penida terdapat di area pinggang . ,7%), punggung . ,6%), betis kanan . ,7%) dan paha kanan . ,9%). Sedangkan pada kelelahan, tour guide di Nusa Penida menunjukkan sebagian besar responden memiliki kelelahan tertinggi pada kategori pelemahan kegiatan yaitu seringkali mengantuk . ,8%) dan menguap . ,9%). Tour guide di Nusa Penida sering mengalami keluhan tingkat sedang terkait dengan keluhan MSDs dan kelelahan, dengan risiko MSDs sebesar 78,1% dan tingkat kelelahan sebesar 75,2%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan ilmu pengetahuan mengenai perilaku menjaga kesehatan fisik untuk mencegah keluhan muskuloskeletal dan kelelahan serta pengembangan literasi kesehatan yang dimiliki. Kata kunci: kelelahan, musculoskeletal disorders, tour guide ABSTRACT Tour guides are one of the workers in the tourism industry who are at risk of experiencing Musculoskeletal Disorders (MSD. and fatigue due to the demands of their job. Their involvement in various activities with tourists often includes both static and dynamic tasks that can lead to prolonged muscle and tendon stress. This can result in temporary or persistent complaints such as MSDs and fatigue. The aim of this study is to provide an overview of the prevalence of MSDs and fatigue among tour guides in Nusa Penida. This research is a descriptive exploratory study with a cross-sectional approach. The study involved 105 tour guides as participants, selected through accidental sampling technique. Data collection was done using the Nordic Body Map (NBM) questionnaire and the Subjective Self Rating Test (SSRT). The results of univariate and crosstabulation analysis showed that the highest prevalence of Musculoskeletal Disorders (MSD. complaints among tour guides in Nusa Penida was found in the waist area . 7%), followed by the back . ,6%), right calf . ,7%), and right thigh . ,9%). As for fatigue, the majority of respondents among tour guides in Nusa Penida reported the highest level of fatigue in the category of reduced activity, such as frequently feeling sleepy . ,8%) and yawning . ,9%). Tour guides in Nusa Penida frequently experience complaints at a moderate level of Musculoskeletal Disorders (MSD. and fatigue, with an MSDs risk of 78,1% and a fatigue level of 75,2%. The results of this study are expected to contribute the body of knowledge on maintaining physical health behavior to prevent musculoskeletal complaints and fatigue, as well as to the development of health literacy. Keywords: fatigue, musculoskeletal disorders, tour guide Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang terkenal akan potensi pariwisatanya baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional (Kartika et al. , 2. Provinsi Bali merupakan salah satu penyumbang destinasi wisata terbesar di Indonesia dengan rata-rata peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dari Bulan Maret 2022 hingga 2023 mencapai 2. 436% dan wisatawan domestik sebesar 52,1% (Badan Pusat Statistik, 2. Oleh karena itu, perkembangan pariwisata di Indonesia, para kenyamanan wisatawan, baik dari segi fasilitas maupun kualitas. Keperawatan praktiknya di Indonesia merupakan suatu fokus bidang keperawatan dengan pendekatan holistik dalam memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan selama berkegiatan. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kepercayaan serta memupuk tingkat kepuasan wisatawan seperti penyediaan informasi kesehatan yang mudah diakses serta implementasi protokol kesehatan yang ketat (Fadli et al. , 2022. Yadnya et al. , 2. Nusa Penida merupakan kawasan kepulauan yang terdiri atas tiga pulau berpenghuni di wilayah Kabupaten Klungkung Provinsi Bali. Berdasarkan data CNN Indonesia . , jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik ke kawasan Nusa Penida bagian Barat. Selatan hingga Timur terus meningkat setelah pandemi Covid-19, dengan kisaran 000 orang per harinya dan dapat meningkat 30-40% di hari libur nasional. Seiring dengan meningkatnya minat Nusa Penida, kunjungan wisatawan awam baik secara individu maupun berkelompok, banyak didampingi oleh tour guide sebagai fasilitator untuk mempermudah menjelajahi berbagai destinasi wisata (Zuraida et al. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan jasa tour guide menjadi suatu Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 pilihan yang populer dalam industri Penggunaan jasa tour guide dalam industri pariwisata memainkan peran penting dalam memberikan pengalaman yang menyenangkan serta edukatif bagi wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi wisata. Tour guide dalam konsep keperawatan pariwisata juga memiliki memberikan jaminan keselamatan bagi (Cahyawati et al. , 2. Hal ini menyebabkan tour guide secara langsung ikut terlibat dalam segala aktivitas Keterlibatan tour guide dalam segala aktivitas wisatawan meliputi posisi dinamis yakni berjalan, mendaki, berbicara, membawa, mengangkat barang, dan posisi statis seperti berdiri serta mengemudi berlangsung dalam jangka waktu lama (Mantra, 2. Postur tubuh kurang ergonomis yang dihasilkan oleh aktivitas dalam jangka waktu lama mampu meningkatkan potensi 4,5 kali risiko pada penekanan otot dan tendon di sejumlah bagian tubuh (Manunel et al. , 2. Hal ini menyebabkan tour guide sebagai pekerja Musculoskeletal Disorders (MSD. dan kelelahan (Tristiawan. Wahyuni, & Jayanti. Musculoskeletal Disorders (MSD. atau gangguan muskuloskeletal merupakan masalah kesehatan pada seseorang yang ditandai dengan adanya nyeri ataupun ketidaknyamanan dalam skala ringan hingga berat pada sistem otot, saraf, tulang, ligamen, serta tendon di sejumlah bagian tubuh (Julia et al. , 2. Negara Indonesia memiliki prevalensi diagnosis keluhan muskuloskeletal sebesar 7,3% dengan Provinsi Bali menduduki peringkat ketiga yaitu sebesar 10,46% (Wewengkang et al. Secara umum, seluruh pekerja termasuk tour guide mengalami kelelahan karena tuntutan pekerjaan. Kelelahan Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 merupakan suatu kondisi penurunan efisiensi visual, stamina fisik, dan saraf akibat faktor risiko lingkungan yang mencakup beban kerja (Achmar et al. Menurut National Safety Council . , kelelahan menjadi kontributor kecelakaan di tempat bekerja dan 40% penurunan produktivitas pekerja. Kelelahan secara fisik dari pekerja dapat ditandai dengan adanya keluhan subjektif seperti merasa lemas, mengantuk, dan kelelahan secara psikologis yang ditandai dengan adanya reaksi negatif seperti merasa bosan, lelah, malas, dan stres (Ramadhanty et al. Melihat dari dampak yang ditimbulkan oleh kelelahan, hal ini mampu berpengaruh pada kesejahteraan, kinerja, peningkatan risiko kecelakaan dan kesalahan dalam menjalankan tugas. Berdasarkan hasil studi pendahuluan melalui wawancara yang telah dilakukan pada Desember 2022 kepada enam tour guide di Nusa Penida, didapatkan data bahwa seluruh tour guide melaporkan aktivitas sebagai tour guide cukup melelahkan baik secara fisik maupun psikis. Lima orang diantaranya menyebutkan aktivitas seperti mengemudi dan mendaki di Nusa Penida menyumbang kondisi METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan pendekatan metode kuantitatif dan desain penelitian cross Variabel yang diteliti dan diukur dalam penelitian ini mencakup keluhan MSDs dan kelelahan pada populasi tour guide aktif di Kawasan Nusa Penida. Klungkung. Bali dengan jumlah sampel yang diperoleh mencapai 105 melalui teknik accidental sampling. Adapun kriteria dalam pemilihan sampel penelitian ini diantaranya adalah tour guide yang bersedia mengikuti penelitian dan menandatangani lembar informed consent, berusia 18-58 tahun, dan tidak menggunakan alat bantu jalan atau tidak sedang mengalami patah Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan 28 checklist kuesioner Nordic Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 kelelahan terbesar terutama pada saat cuaca panas mendominasi daerah wisata di Nusa Penida. Selain itu, wisata full day trip dengan kisaran 7Ae8 jam per harinya dilaporkan juga lebih meningkatkan kelelahan dibandingkan dengan half day trip yaitu kisaran 4Ae5 jam. Hasil data kuesioner Nordic Body Map (NBM) pada keenam tour guide Musculoskeletal Disorders (MSD. mencapai kategori tingkat risiko sedang. Adapun bagian tubuh yang dilaporkan terbesar yakni pada bagian leher, bahu, pinggul, lutut, tangan, dan pergelangan Selain itu, hasil kuesioner Subjective Self Rating Test (SSRT) juga menunjukkan bahwa mayoritas skor kelelahan tour guide berada pada tingkat risiko sedang. Minimnya sumber literatur terkait penelitian keluhan muskuloskeletal dan kelelahan pada tour guide di Nusa Penida menarik perhatian peneliti untuk meneliti lebih lanjut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keluhan MSDs dan kelelahan pada tour guide di Nusa Penida. Body Map (NBM) mengenai pengukuran sakit pada otot dan Subjective Self Rating Test (SSRT) dengan 30 butir pertanyaan meliputi kategori berkurangnya kegiatan, berkurangnya motivasi, dan kelelahan fisik. Pengumpulan data dilakukan dengan estimasi waktu 15-20 menit dan dilanjutkan dengan pemberian edukasi singkat mengenai pencegahan dan penanganan keluhan MSDs serta kelelahan saat bekerja dengan estimasi waktu 10 menit. Pada penelitian ini, analisis yang digunakan adalah analisis univariat untuk menganalisa parameter masing-masing data demografi dan variabel dari populasi dalam bentuk tabel dan analisis crosstabulation untuk melihat hubungan secara deskriptif gambaran keluhan MSDs serta kelelahan berdasarkan karakteristik responden tour Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 guide di Nusa Penida. Penelitian ini telah mendapatkan surat keterangan laik etik dari Komisi Etik Penelitian FK Unud dengan HASIL PENELITIAN Pengumpulan menggunakan lembar kuesioner dengan Tabel 1. Karakteristik Responden . Variabel 17-25 . asa remaja akhi. 26-35 . asa dewasa awa. 36-45 . asa dewasa akhi. Usia . 46-55 . asa lansia awa. 56-65 . asa lansia akhi. Total Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan Total O 8 jam Lama Bekerja > 8 jam Total < 1 Tahun 1-3 Tahun Masa Bekerja > 3 Tahun Total Kurus Tingkat Ringan Normal Klasifikasi Indeks Massa Gemuk Tingkat Ringan Tubuh (IMT) Gemuk Tingkat Berat Total Bukan Perokok . Batan. Perokok Ringan (<10 Batan. Kebiasaan Perokok Sedang . -20 Batan. Merokok Perokok Berat (>20 Batan. Total Ada Riwayat Cedera Tidak Muskuloskeletal Total Tabel 1 menunjukkan sebagian besar tour guide termasuk ke dalam rentang usia 26-35 tahun, yaitu sebanyak 34,3% dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 99%. Lama bekerja tour guide mayoritas O 8 jam yaitu sebanyak 59% dan masa bekerja terbanyak yaitu > 3 tahun dengan jumlah nomor surat etik 1636/UN14. VII. LT/2023. total sampel yang diperoleh sebanyak 105 responden ditampilkan dalam tabel berikut: Frekuensi . tour guide mencapai 44,8%. Sebanyak 84,8% tour guide memiliki IMT normal dan mayoritas tour guide merupakan perokok berat dengan prevalensi yaitu 41,9%, dan muskuloskeletal sebesar 55,2%. Tabel 2. Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. pada Tour Guide . Variabel Frekuensi . Rendah . Sedang . Tinggi . Sangat Tinggi . Total Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Persentase (%) Persentase (%) Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar tour guide memiliki keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. pada tingkat sedang yaitu sebesar 78,1%. Namun, pada data juga menunjukkan ada Tabel 3. Kelelahan pada Tour Guide . Variabel Rendah . Sedang . Tinggi . Total Frekuensi . Tabel 3 menunjukkan mayoritas tour guide sebesar 75,2% memiliki kelelahan terbesar pada tingkat sedang, diikuti PEMBAHASAN Distribusi karakteristik responden berdasarkan karakteristik usia menunjukan mayoritas tour guide berada pada usia 2635 tahun atau masa dewasa awal. Hal ini sejalan dengan penelitian Meiantini. Rusni, dan Winianti . serta penelitian Mallapiang . mengenai mayoritas usia pekerja berada pada masa dewasa awal yang berkaitan dengan meningkatnya kematangan, kedewasaan, dan kemampuan Masa usia dewasa juga dikenal sebagai periode perkembangan yang mampu memengaruhi kondisi fisik, mental, dan tanggung jawab bekerja. Sehingga semakin bertambahnya usia, kondisi psikologis seseorang mencakup perubahan emosi dan stressor akan meningkat dikarenakan harus menyesuaikan dengan lingkungan kerja. Hal ini juga berkaitan dengan faktor fisiologis yang mulai mengalami kemunduran seperti penurunan fungsi penglihatan, pendengaran, memori, kapasitas paru, dan kekuatan otot (Titasari & Fani, 2. Distribusi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa mayoritas tour guide sebesar 99,0% merupakan laki-laki dan 1,0% tour guide Hal ini sesuai dengan penelitian Mubalus . serta Agustin. Meidiana, dan Muljaningsih . menyatakan bahwa sebagian besar pengendara kendaraan bermotor berjenis kelamin laki-laki. Temuan tersebut didukung oleh penelitian Sali . yang Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 tour guide yang mengalami keluhan tingkat rendah sebesar 20,0% dan tingkat tinggi serta sangat tinggi dengan prevalensi paling sedikit yaitu sebesar 1,0%. Persentase (%) kelelahan tingkat rendah sebesar 19,0% dan kelelahan tingkat tinggi sebesar 5,7%. menunjukkan adanya hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat produktivitas, dimana jenis kelamin laki-laki cenderung menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi karena memikul tanggung jawab yang lebih besar dan memiliki faktor biologis lebih kuat jika dibandingkan dengan perempuan. Distribusi karakteristik responden berdasarkan lama bekerja menunjukkan sebagian besar tour guide memiliki lama bekerja dalam satu hari adalah O 8 jam yaitu sebesar 59,0%. Hal ini sejalan dengan standar rata-rata jam kerja normal individu yang berkisar antara 6 hingga 8 jam setiap hari (Kirana, 2. Penelitian tersebut mendapatkan dukungan dari rekomendasi International Labour Organization (ILO) bahwa untuk mengurangi risiko terjadinya cedera dalam bekerja, disarankan agar seseorang bekerja tidak lebih dari 8 jam per hari atau 40 jam per minggu (Sarah. Andriani, & Setyawan, 2. Distribusi karakteristik responden berdasarkan masa bekerja menunjukkan sebagian besar tour guide memiliki masa bekerja > 3 tahun sebesar 44,8%. Hal ini serupa pada penelitian Mallapiang . yang menunjukkan bahwa 66,75% pekerja driver memiliki masa kerja > 3 tahun dan sebagian besar 75% pengemudi kapal pada penelitian Tuwongkesong. Akili, dan Kalesaran . memiliki masa bekerja > 3 tahun. Berdasarkan temuan tersebut, hal ini mengindikasikan bahwa pekerja dengan Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 masa kerja lebih lama mampu berisiko dibandingkan pekerja yang memiliki masa kerja yang lebih pendek. Distribusi karakteristik responden berdasarkan IMT menunjukkan bahwa mayoritas tour guide memiliki IMT kategori normal sebesar 84,8%. Penelitian ini serupa dengan penelitian Malau dan Ramdan . pada pengemudi yang menunjukkan bahwa mayoritas responden pekerja memiliki IMT normal. Prevalensi IMT normal pada tour guide menunjukkan adanya kecenderungan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan berat badan dan keoptimalan penggunaan energi yang berasal dari gizi makanan. Distribusi karakteristik responden berdasarkan kebiasaan merokok yang tinggi dengan rata-rata >20 batang per hari mencapai prevalensi 41,9%. Kebiasaan merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu dengan faktor lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku merokok seseorang (Rudika. Putri, & Casiavera, 2. Data ini sejalan dengan penelitian sebelumnya di Indonesia yang mengindikasikan bahwa 62,9% laki-laki memiliki kecenderungan untuk merokok di atas usia 15 tahun (Panji et al. , 2. Terlebih lagi ditemukan bahwa 51,32% sopir yang bekerja seperti pemandu wisata juga merupakan perokok berat (Mulyana. Laweung, & Arbi, 2. Distribusi karakteristik responden sebesar 55,2% tour guide tidak memiliki riwayat cedera muskuloskeletal. Temuan ini sejalan dengan penelitian Putri . yang menyatakan bahwa 56,3% pengemudi mobil tidak memiliki riwayat cedera muskuloskeletal seperti keluhan low back Namun, hasil ini berbeda dengan temuan dari penelitian Almayda et al. yang menunjukkan bahwa mayoritas 94,6% pekerja pernah memiliki riwayat keluhan muskuloskeletal. Temuan ini mengindikasikan bahwa secara umum, tour pekerjaannya tanpa mengalami nyeri Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Namun, faktor-faktor fisik dalam lingkungan kerja seperti penggunaan tenaga secara tiba-tiba atau paparan yang berkepanjangan juga mampu memperburuk kondisi cedera. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai tour guide seringkali melibatkan aktivitas fisik yang berulang dan memerlukan mobilitas tinggi seperti mengemudi, berjalan, naik ataupun turun tangga pada kondisi lingkungan yang berbeda, seperti medan yang terjal maupun cuaca yang ekstrem. Pada penelitian yang telah dilakukan kepada 105 tour guide di Nusa Penida, sebagian besar mengalami keluhan MSDs tingkat sedang yang mencapai 78,1%. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Suoth dan Adam . serta Sulfirah et al. mengenai pengemudi memiliki skor keluhan MSDs tingkat sedang. Prevalensi yang tinggi dari keluhan MSDs pada pekerja dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti aktivitas otot yang intensif dan berulang, frekuensi pekerjaan yang tinggi, kurangnya peregangan otot, serta istirahat yang memadai di antara aktivitas kerja. Hal ini didukung oleh penelitian Saphira . yang menyatakan bahwa kurangnya peregangan otot mampu mempengaruhi keluhan muskuloskeletal dikarenakan fleksibilitas berkurang, dan penurunan sirkulasi darah. Berdasarkan hasil penelitian, keluhan MSDs yang paling sakit dialami oleh tour guide adalah pada area pinggang sebesar 46,7%, kemudian diikuti punggung sebesar 28,6%, paha kanan sebesar 22,9%, dan betis kanan sebesar 25,7%. Temuan ini juga didukung oleh penelitian Gunung et al. yang menunjukkan bahwa 73,9% pengemudi melaporkan keluhan terbesar dan tersakit ada pada area pinggang, diikuti oleh 21,7% pada betis dan paha kanan, serta 8,69% pada punggung. Penelitian oleh Sulfirah et al . dan Malik et al . juga menyatakan temuan hasil yang serupa dengan penelitian bahwa mayoritas pengemudi rentan mengalami keluhan MSDs terbesar pada bagian pinggang Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 bawah dengan persentase 50% dan 76,2% kemudian diikuti dengan area punggung dan ekstremitas bawah yaitu lutut bagian Prevalensi keluhan MSDs kalangan pengemudi termasuk tour guide pada area pinggang, punggung, dan kaki masih tergolong tinggi dikarenakan kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor pekerjaan dan faktor lingkungan. Keluhan MSDs di area pinggang dan punggung seringkali terkait dengan beban dan tegangan yang dialami oleh tulang belakang dan komponen pendukungnya, seperti otot dan ligamen. Posisi duduk statis yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan kurang ergonomis seperti membungkuk atau miring, gerakan berulang yang terjadi selama mengemudi, serta eksposur terhadap getaran dan guncangan saat mengemudi berlebihan pada tulang belakang dan mengakibatkan timbulnya rasa nyeri (Boas. Hal ini sejalan dengan penelitian Mardiyanti . yang menyatakan posisi statis membuat otot berkontraksi secara terus-menerus dan memberikan ketegangan berkurangnya aliran darah menuju otot, menurunkan suplai oksigen ke otot, karbohidrat, dan mengakibatkan akumulasi asam laktat yang menghasilkan sensasi nyeri pada otot (Wahyuni, 2. Hasil penelitian lainnya pada kelelahan tour guide ditemukan bahwa 75,2% memiliki kelelahan terbesar pada skor tingkat sedang. Kegiatan mengemudi memiliki risiko tinggi terhadap kelelahan kerja dikarenakan memiliki durasi kerja panjang, aktivitas monoton, dan risiko faktor lingkungan yang ekstrem. Kondisi tersebut dapat menimbulkan tegangan pada otot karena adanya tuntutan konsentrasi dan kewaspadaan yang konstan. Selain itu, hal tersebut juga mampu menyebabkan keterbatasan gerak dan berdampak pada kejenuhan visual serta mental (Kamila. Diantara ketiga kategori kelelahan pada kuesioner, pelemahan kegiatan Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 menduduki urutan pertama dengan jawaban Ausangat seringAy terbanyak pada poin mengantuk sebesar 44,8% dan sering menguap sebesar 41,9%. Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pelemahan kegiatan pada pekerja cukup signifikan besarnya yaitu 35,52% dibandingkan kedua kategori lainnya yaitu pelemahan fisik dan pelemahan motivasi (Ihsania & Iriani. Mengantuk saat bekerja merupakan salah satu gejala yang sering terjadi akibat kelelahan pada seseorang akibat tingginya konsentrasi saat bekerja. Hal ini didukung oleh penelitian Susilawati dan Batubara . mengenai fisiologis kelelahan yang terjadi, yaitu penurunan daya atau kekuatan pada otot dan tulang akibat kehabisan energi atau tenaga dari proses metabolisme. Adapun hasil data pada kategori pelemahan motivasi penelitian sebanyak 2,9% tour guide sangat sering melupakan sesuatu, dan 59,0% tour guide kadangkadang merasa malas untuk berbicara. Hal ini berbeda dengan penelitian Putrisani et al . yang menyatakan bahwa 12,5% pekerja menunjukkan sangat sering untuk tidak dapat mengontrol sikap akibat kelelahan dan penelitian Patandung dan Widowati . yang menyatakan gejala pelemahan motivasi paling banyak dirasakan dengan intensitas sangat sering sebesar 16,7% dan sering sebesar 52,4% adalah rasa cemas terhadap sesuatu. Kelelahan yang berlebihan mampu berdampak pada penurunan aktivitas neurotransmiter penting, seperti serotonin dan dopamin yang bertanggung jawab dalam pengaturan mood dan emosi. Apabila adanya gangguan keseimbangan kimia dalam otak, hal ini mampu menyebabkan sejumlah perubahan dalam kontrol sikap, respons emosional, fungsi kognitif, hingga tingkat kecemasan (Hermanto. Kandarina, & Latifah, 2020. Yunitaningrum. Indriyati, & Suwarni, 2. Pada kategori kelelahan fisik, hasil data penelitian menunjukkan 35,2% tour guide sangat sering merasa nyeri pada bagian punggung, 55,2% tour guide sering merasa kaku pada bagian bahu dan 79,0% Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 tour guide kadang-kadang merasa pening. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian Putrisani et al . dan Afif et al . yang menyatakan bahwa sebagian besar pengemudi memiliki tingkat risiko tinggi pada area punggung. Nyeri pada punggung akibat faktor pekerjaan seperti posisi statis baik itu berdiri maupun mengemudi dalam durasi lama mampu meningkatkan kerja otot berlebih sehingga menimbulkan rasa nyeri serta menambah spasme pada otot (Lariksa. Yohanan, & Wahyuni, 2. Hal ini didukung oleh Wahyuni. Sultan. Baharuddin . mengenai tekanan pada otot dan tendon dalam durasi lama mampu menghambat aliran darah dan merusak Hal ini menyebabkan pasokan nutrisi serta oksigen yang dibutuhkan untuk fungsi optimal berkurang sehingga berdampak pada kelemahan fisik. Hasil analisis tabulasi silang gambaran keluhan MSDs dan kelelahan berdasarkan karakteristik tour guide di Nusa Penida mendapatkan hasil bahwa mayoritas tour guide pada kelompok usia 26-35 tahun memiliki keluhan MSDs tingkat sedang sebesar 27,6% dan 1,0% tour guide berada pada keluhan tingkat sangat tinggi. Hal ini menunjukkan adanya prevalensi keluhan MSDs yang cukup signifikan pada kelompok usia tour guide Namun, terdapat 1,0% tour guide pada kelompok usia 56-65 tahun yang mengalami kelelahan tingkat tinggi, meskipun persentasenya lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih muda. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Hanif, 2. yang menyatakan bahwa pekerja usia 26-35 tahun atau usia dewasa awal memiliki keluhan MSDs pada tingkat sedang sebesar 65% serta 20% pada tingkat tinggi. Namun, temuan tersebut bertentangan dengan teori yang diajukan oleh Tarwaka . yang menyatakan bahwa keluhan MSDs umumnya dialami pada rentang usia 35-65 tahun (Mumtaz. Karakteristik berpengaruh terhadap perubahan fungsi fisiologis tubuh dan kapasitas kerja, dimana pekerja dengan usia yang lebih tua Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 cenderung memiliki daya tahan dan kapasitas kerja yang lebih rendah, sehingga berisiko mengalami keluhan MSDs. Menurut penelitian studi yang dilakukan sebelumnya, kejadian keluhan MSDs tidak selalu terjadi pada individu lanjut usia (Wati et al. , 2. Data ini mungkin dapat dipengaruhi oleh faktor pendidikan seseorang dalam mengatasi keluhan MSDs. Adapun hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa mayoritas tour guide 26-35 tahun memiliki kelelahan tingkat sedang sebesar 25,7%. Namun, terdapat 1,0% tour guide usia 56-65 tahun, 2,9% tour guide usia 46-55 tahun, serta 1,9% tour guide dengan usia 26-35 tahun mengalami kelelahan tingkat tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian Lombonaung dan Lihi . serta Lupita dan Agustina . mengenai kelelahan kerja pada pekerja didominasi oleh 26-35 tahun atau masa dewasa awal dan lansia awal. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pekerja dengan usia tua memiliki potensi untuk mengalami kelelahan karena menurunnya kemampuan dalam menahan beban dan melakukan gerakan tubuh. Namun, adapun faktor-faktor lain seperti aktivitas fisik yang berat dan paparan iklim kerja panas mampu kelompok usia yang lebih muda (Eka & Theresia, 2019. Aprilina & Tarwaka, 2. Mayoritas tour guide laki-laki pada penelitian ini memiliki keluhan MSDs tingkat sedang sebesar 78,1%, dan kelelahan tingkat sedang sebesar 74,3%. sisi lain, hanya satu tour guide perempuan yang mengalami keluhan MSDs rendah sebesar 1,0% dan kelelahan tingkat sedang sebesar 1,0%. Hal ini sejalan dengan penelitian Nino dan Ramdhan . yang menyatakan bahwa 97,3% pekerja laki-laki berhubungan dengan kelelahan dan kewaspadaan akibat kondisi lingkungan. Temuan tersebut didukung oleh penelitian Khairani . yang menyatakan mayoritas pengemudi merupakan 76,7% laki-laki. Adanya perbedaan kapasitas otot laki-laki berpengaruh akan tingkat ketahanan otot Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 yang berdampak pada keluhan MSDs dan tingkat kelelahan (Purba et al. , 2. Hasil data penelitian ini bertolak belakang dengan temuan Tarwaka . yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki risiko keluhan muskuloskeletal lebih tinggi dibandingkan laki-laki dikarenakan kapasitas ototnya yang dua per tiga lebih rendah (Manik & Lestari, 2. Namun, pada penelitian ini, jenis kelamin laki-laki memiliki tingkat kelelahan dan keluhan muskuloskeletal lebih tinggi dikarenakan adanya beban kerja yang lebih besar daripada perempuan (Fatejarum et al. , 2. Hasil ini berkaitan dengan adanya faktor peran dan tanggung jawab yang menunjukkan adanya hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat produktivitas, dimana jenis kelamin lakilaki cenderung menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi karena memikul peran tanggung jawab yang lebih besar sehingga meningkatkan kelelahan baik fisik maupun psikis lebih besar. Berdasarkan keterlibatan durasi bekerja dalam satu hari memiliki kaitan dengan tingkat keluhan MSDs dan tingkat kelelahan pada tour Mayoritas tour guide dengan lama bekerja O 8 jam mengalami tingkat keluhan MSDs sedang sebesar 47,6%, sedangkan 1,0% dari tour guide yang bekerja O 8 jam mengalami keluhan MSDs tingkat sangat Sementara itu, bagi tour guide yang bekerja > 8 jam, tingkat keluhan MSDs tingkat tinggi mencapai 1,0%. Selanjutnya, jika melihat data mengenai tingkat kelelahan, mayoritas tour guide dengan lama bekerja O 8 jam memiliki tingkat kelelahan sedang sebesar 44,8%. Namun, sekitar 4,8% dari tour guide yang bekerja > 8 jam mengalami kelelahan tingkat tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa durasi bekerja yang lebih pendek tidak secara signifikan mengurangi tingkat kelelahan yang dialami oleh tour guide. Adapun penelitian sejenis oleh Adnyani et al . melaporkan bahwa baik pekerja dengan durasi kerja O 8 jam maupun > 8 jam, menunjukan adanya hubungan dengan keluhan MSDs. Selain durasi kerja, faktorfaktor lain seperti postur kerja yang tidak Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 ergonomis, seperti membungkuk, berdiri atau miring, serta aktivitas berulang juga berperan dalam menyebabkan keluhan MSDs pada individu (Fitri. Wardiati, & Santi, 2. Temuan ini diperkuat dengan penelitian Chofsoh dan Sahri . yang menyatakan bahwa lama bekerja dalam satu hari terlebih setelah empat jam bekerja terus-menerus mempengaruhi penurunan produktivitas Adanya perpanjangan waktu kerja di atas batas kemampuan, umumnya tidak diiringi oleh tingkat efisiensi yang tinggi. Sebaliknya, hal ini sering terjadi penurunan produktivitas serta munculnya kelelahan, penyakit, dan kecelakaan kerja (Harahap & Susilawati, 2. Hasil analisis data menunjukkan bahwa 34,3% tour guide dengan masa bekerja 1-3 tahun memiliki keluhan MSDs tingkat sedang dan 1,0% tour guide pada tingkat tinggi lebih besar dibandingkan dengan tour guide < 1 tahun dan > 3 tahun. Namun sebaliknya, 33,3% tour guide dengan masa bekerja > 3 tahun memiliki kelelahan tingkat sedang dan 5,7% tour guide dengan masa kerja > 3 tahun memiliki kelelahan tingkat tinggi. Berdasarkan hasil analisis data, hal ini sejalan dengan pernyataan penelitian Husna dan Utami . yang sebelumnya menyatakan bahwa masa bekerja dapat berpengaruh terhadap keluhan MSDs. Masa kerja merupakan salah satu faktor risiko yang berperan penting dalam meningkatkan risiko keluhan muskuloskeletal, terutama pada jenis pekerjaan yang mengharuskan penggunaan kekuatan fisik secara intensif (Pridayanti. Rusni, & Santoso, 2. Penggunaan kekuatan fisik pada pekerjaan tour guide melibatkan aktivitas monoton seperti mengemudi dan duduk yang berlangsung dalam masa kerja cukup lama mampu menyebabkan adanya tekanan pada postur tubuh dan terakumulasi setiap harinya mengakibatkan berkurangnya kinerja otot (Faridah & Junaidi, 2. Adanya perbedaan tingkat keluhan muskuloskeletal pada tour guide dengan masa bekerja 1-3 tahun dengan > 3 tahun mengindikasikan bahwa terdapat faktor lain Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 selain masa kerja yang berpengaruh yaitu tingkat intensitas kerja tinggi dalam waktu terbatas, postur yang tidak ergonomis, dan kebiasaan hidup (Amardibta & Sri Darnoto. Tekanan-tekanan akibat beban aktivitas kerja tour guide yang terakumulasi pada suatu masa yang panjang juga selain berdampak pada keluhan muskuloskeletal, hal ini juga buruk bagi kelelahan yang dialami (Meruntu & Kawatu, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 68,6% tour guide dilaporkan memiliki keluhan MSDs tingkat sedang, 1,0% tour guide dengan keluhan MSDs tingkat tinggi dan sangat tinggi. Hal ini bertentangan dengan penelitian Sophia et al . yang menunjukkan bahwa semakin tinggi IMT, semakin tinggi pula risiko terjadinya keluhan MSDs. Namun, temuan ini serupa dengan penelitian Dwiseptianto Wahyuningsih menunjukkan bahwa keluhan pada sistem muskuloskeletal terhadap ukuran tubuh manusia lebih disebabkan oleh faktor keseimbangan struktur rangka saat menanggung beban, baik itu berupa berat badan sendiri maupun beban tambahan. Selain itu, hasil data menunjukkan sebagian besar tour guide dengan klasifikasi IMT normal mengalami kelelahan tingkat sedang sebesar 61,9% dan 5,7% tour guide memiliki kelelahan tingkat tinggi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hamid et al . yang menyatakan bahwa 43,5% pekerja dengan klasifikasi IMT normal juga Hal menunjukkan bahwa penelitian ini dapat diantaranya adalah perbedaan geografis daerah, dan faktor individu dalam sampel, seperti gaya hidup dan pola makan terhadap keluhan MSDs dan kelelahan. Sebagian besar tour guide di Nusa Penida merupakan perokok berat dengan konsumsi rokok lebih dari 20 batang per hari mengalami keluhan yang terkait dengan Musculoskeletal Disorders (MSD. tingkat sedang sebanyak 31,4% dan tingkat tinggi sebanyak 1,0%. Sedangkan pada analisis kelelahan, 3,8% tour guide perokok berat melaporkan tingkat kelelahan yang Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Indreswari. Laraswati, dan Prasetyo . menunjukkan bahwa semakin tinggi kebiasaan merokok seseorang, maka tingkat kelelahan kerja juga akan meningkat. Pekerja dengan kebiasaan merokok lebih dari 20 batang memiliki peluang sebesar 75,0% untuk mengalami risiko keluhan MSDs terutama pada area punggung (Ningrum & Febriyanto, 2. Kebiasaan merokok yang berlebihan dapat menyebabkan peradangan dan penurunan aliran darah pada jaringan-jaringan tubuh, termasuk sistem muskuloskeletal. Hal ini dapat mengakibatkan rasa nyeri, kaku, dan kelemahan pada otot dan sendi, yang pada akhirnya mengarah pada keluhan MSD (Hanif, 2. Selain itu, kebiasaan merokok juga dapat berdampak negatif pada tingkat kelelahan seseorang dimana kandungan zat-zat kimia berbahaya rokok dapat mempengaruhi fungsi sistem pernapasan dan sirkulasi darah. Akibatnya, pasokan oksigen ke otot dan organ tubuh dapat terhambat, sehingga menyebabkan peningkatan rasa kelelahan dan keluhan MSDs (Sandhi, 2. Hasil data menyatakan bahwa sebagian besar tour guide tidak memiliki riwayat cedera mengalami keluhan muskuloskeletal tingkat sedang sebesar 41,0% dan tinggi sebesar 1,0% serta kelelahan tingkat sedang sebesar 41,9% dan tinggi sebesar 4,8%. Data ini bertolak belakang dengan penelitian Sekaaram dan Ani . yang menyatakan bahwa 76,6% pekerja dengan riwayat keluhan MSDs memiliki persentase keluhan MSDs yang cukup signifikan dibandingkan dengan yang tidak memiliki. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun tour guide tidak melaporkan adanya cedera pada sistem muskuloskeletal, individu tetap mengalami tingkat kelelahan yang signifikan. Adapun faktor-faktor lain seperti stres, kebiasaan tidur yang buruk, dan tekanan kerja yang tinggi juga dapat berkontribusi terhadap tingkat kelelahan yang dialami oleh responden (Harahap & Susilawati, 2. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 SIMPULAN Sebagian besar tour guide memiliki keluhan MSDs dan kelelahan tingkat sedang selama dalam periode bekerja. Hal tersebut sejalan dengan hasil analisis karakteristik tour guide meliputi usia dewasa awal, jenis kelamin laki-laki, lama bekerja O 8 jam dan masa bekerja > 3 tahun, serta Indeks Massa Tubuh (IMT) kategori normal, kebiasaan merokok > 20 batang per hari dan tidak adanya riwayat cedera Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal cakupan partisipan perempuan yang kurang representatif serta waktu dan biaya sehingga penentuan keluhan MSDs dan kelelahan hanya berdasarkan hasil pengisian kuesioner tanpa ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis para pekerja. Oleh mengharapkan adanya kesadaran dari tour guide untuk selalu melakukan pencegahan, dan bagi peneliti selanjutnya mampu melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai hubungan antara karakteristik tour guide dengan tingkat kelelahan dan keluhan muskuloskeletal. DAFTAR PUSTAKA