RISDA : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Volume. Number. April 2022 p-ISSN : 2540-8097, e-ISSN : 2776-1517 Hlm : 17-34 Journal Home Page : https://ejournal. id/index. php/risda/index ESENSI DAN SIGNIFIKANSI STUDI TAFSIR MADZHABI BAGI CIVITAS AKADEMIKA MUSLIM Wildah Nurul Islami Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia islami@uinsby. Abstract The essence and significance of the study of madzhabi interpretation for the Muslim academic This article examines the essence, scope, and significance of the study of madzhabi interpretation for the Muslim academic community by focusing on the study of the theology verses of different mufassir ideologies, which influence the results of the interpretation of the Qur'an in the resulting exegesis. Using descriptive analysis techniques, the author found that there are different characteristics of the existing madzhabi tafsir books, both shi'ah, mu'tazilah, khawarij and Sunni. However, these four exegesis also have an element of similarity in terms of the subjectivity of interpreters in interpreting the verses of the Qur'an and elements of equal importance for mutual legitimacy of the madzhab it embraces. Tafsir madzhabi is part of madhahib al-tafsir . afsir patter. is viewed in terms of the tendency of madzhab embraced by The initial framework of understanding the study of madzhabi interpretation is to study two aspects of science, namely kalam science and tafsir science. Kalam science is a science that discusses the creed of Imani . he nature and nature of Allah, the problems of the world and death based on Islamic doctrin. , while the science of tafsir is a science that examines the meaning of Allah's kalam in the Qur'an in accordance with the abilities possessed by humans. With the study of madzhabi interpretation, it is expected that the academic community can develop a discourse on the importance of respecting plurality in interpreting qur'anic verses related to differences in theological madhhab so as not to behave taqdis al-fikr al-diniy . anctity of religious though. for the realization of religious moderation. Keywords: Essence. Significance. Tafsir Madzhabi. Theological Verses. Mufassir Abstrak Artikel ini mengkaji tentang esensi, ruang lingkup, dan signifikansi studi tafsir madzhabi bagi civitas akademika muslim dengan berfokus pada telaah ayat-ayat teologi para mufassir yang berbeda ideologi, yang mempengaruhi hasil penafsiran Al-QurAoan dalam karya kitab tafsir yang dihasilkan. Dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, penulis menemukan bahwa terdapat karakteristik yang berbeda dari kitab-kitab tafsir madzhabi yang ada, baik tafsir shiAoah, muAotazilah, khawarij dan sunni. Namun, keempat tafsir ini juga memiliki unsur kesamaan dalam hal subyektivitas penafsir dalam memaknai ayat-ayat Al-QurAoan dan unsur kesamaan kepentingan untuk saling legitimasi madzhab yang dianutnya. Tafsir RISDA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Wildah Nurul Islami madzhabi termasuk bagian dari madhahib al-tafsir . orak tafsi. dipandang dari segi kecenderungan madzhab yang dianut para mufassir. Kerangka awal memahami studi tafsir madzhabi adalah dengan mengkaji dua segi keilmuan yakni ilmu kalam dan ilmu tafsir. Ilmu kalam adalah ilmu yang membahas tentang akidah Imani . zat dan sifat Allah, masalah dunia dan kematian berdasarkan doktrin Isla. , sedangkan ilmu tafsir adalah ilmu yang mengkaji makna kalam Allah dalam AlQurAoan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Dengan studi tafsir madzhabi, diharapkan civitas akademika dapat mengembangkan wacana tentang pentingnya menghargai pluralitas dalam menafsirkan ayat-ayat Al-QurAoan terkait perbedaan madzhab teologi sehingga tidak bersikap taqdis al-fikr al-diniy . ensakralan pemikiran agam. demi terwujudnya moderasi beragama. Kata Kunci: Esensi. Signifikansi. Tafsir Madzhabi. Ayat-Ayat Teologi. Mufassir Pendahuluan Al-QurAoan adalah pedoman untuk kelangsungan kehidupan manusia melalui ayat-ayat yang dapat dikaji maknanya. Isinya yang bersifat universal menyebabkan aktualitas makna berlandaskan historisitas meniscayakan adanya dialog dalam konteks waktu yang bersumber dari pengalaman manusia. 1 Hal ini kemudian menjadi pendorong umat Islam melakukan interpretasi ayat-ayat Al-QurAoan dalam wujud karya kitab tafsir dengan berbagai karakteristik. Terkait perkembangan ilmu tafsir, telah dikenal beragam corak tafsir oleh ulama salaf maupun ulama kontemprer, termasuk diantaranya corak tafsir madzhabi. Kajian tafsir madzhabi ini banyak dilakukan melalui kritik dan analisis ayat-ayat teologi dalam kitabkitab tafsir dengan memperhatikan sudut pandang ideologi mufassir. Fanatisme doktrin teologi dan adanya keinginan legitimasi madzhab teologi telah mempengaruhi penafsir dalam melakukan interpretasi Al-QurAoan, akibatnya muncul ideologisasi tafsir. Adanya karakteristik kitab tafsir madzhabi ini telah menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan tafsir yang signifikan dalam upaya menciptakan paradigma dan sikap yang moderat dalam perbedaan ideologi diantara kaum Muslimin. Studi tafsir madzhabi adalah kajian tafsir yang bernuansa madzhab teologi dari perspektif corak tafsir. Studi ini bertujuan sebagai upaya memahami corak mufassir dalam memahami ayat-ayat Al-QurAoan berdasarkan madzhab yang dianut. Sebagaimana diketahui dalam sejarah ilmu kalam bahwa ada banyak sekali Farid Essack. AuQurAanic Hermeneutics. Problems and ProspectAy dalam The Muslim Word. Vol. Lxi. No. 2 (April, 1. , 118. Volume. Number. April 2022 Esensi dan Signifikansi Studi Tafsir Madzhabi bagi Civitas Akademika Muslim madzhab-madzhab teologi yang muncul berawal dari masalah pokok-pokok agama (Ushuluddi. , diantaranya madzhab kaum ShiAoah. Khawarij. MuAotazilah, dan Sunni. Persoalan kalam muncul diawali dengan konflik politik tidak terimanya MuAoawiyah terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yang menyebabkan perang Shiffin dan terjadi peristiwa ta. ki>m. 2 Setelah itu, berkembang argumen-argumen kalam yang seringkali dituangkan dalam sebuah kitab tafsir sesuai ideologi masingmasing mufassir. Dari fanatisme madzhab inilah yang menyebabkan adanya ideologisasi tafsir terhadap ayat-ayat Al-QurAoan. Dengan studi tafsir madzhabi, diharapkan sebagai bahan kajian keilmuan tentang dinamika dan pluralitas tafsir dari hasil penafsiran para mufassir yang dipengaruhi oleh subyektivitas madzhab Metode Penelitian Kajian tentang studi tafsir madzhabi ini termasuk jenis library research dimana data-data hasil penelitian bersumber dari kitab-kitab tafsir atau buku-buku yang terkait dengan tafsir madzhabi. Penulis mengumpulkan data dengan menggunakan teknik dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan pendekatan deskriptif Dalam tahap awal, penulis melakukan kajian tentang ilmu kalam dan ilmu tafsir. Dari pendalaman kedua ilmu tersebut, penulis mencoba merelevansikan dengan konteks tafsir madzhabi untuk mencari esensi dan signifikansinya. Langkah selanjutnya adalah melakukan telaah ayat-ayat teologi yang ditafsirkan oleh para mufassir berdasarkan ideologi masing-masing. Hasil dan Pembahasan Esensi Studi Tafsir Madzhabi Secara etimologi, tafsir adalah menyingkap dan menerangkan makna yang sukar dari sebuah kata. 3 Adapun secara terminologi, tafsir adalah sebuah disiplin keilmuan untuk menginterpretasikan kitab Allah yang diturunkan kepada Rasulullah dan menerangkan maksud yang tersirat, serta menetapkan Abdul Rozak dan Rosihon Anwar. Ilmu Kalam (Bandung: Pustaka Setia, 2. , 28. Ibnu Mandhur. Lisa>n Al-AoArab (Beirut: Dar Shadir, t. , 55. RISDA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Wildah Nurul Islami hukum-hukum dan hikmah-hikmah. 4 Cara pemaknaan lafaz melalui tafsir berbeda dengan takwil. Takwil secara bahasa berawal dari lafaz awwala yang bermakna kembali, berpaling. 5 Adapun secara terminologi, takwil adalah memindahkan maksud teks lafaz kepada diantara maksud konteks lafaz yang relevan dan selaras dengan al-QurAoan dan hadis. 6 Takwil biasanya digunakan untuk menginterpretasikan maksud ayat-ayat yang mutasyabih dan penafsiran kontekstual dan esoterik . iniy/isha>ri. , baik yang berlandaskan akal . aAo. maupun intuitif . Imam Suyuti dengan mengutip dari beberapa ulama, bahwa tafsir berkaitan dengan riwayah, sedangkan takwil berkaitan dengan dirayah . , sehingga keduanya sesungguhnya adalah dua hal yang tidak sama. Diantara aktualisasi contoh tafsir dan takwil adalah pemahaman maksud Auyukhrij al-. ayya min al-mayyiti,Ay jika yang dimaksud adalah mengeluarkan burung dari telurnya, maka ini berarti cara pemaknaan melalui tafsir. Sedangkan jika yang dimaksud adalah mengeluarkan orang beriman dari orang kafir, atau mengeluarkan orang pintar dari orang bodoh, maka ini berarti cara pemaknaan takwil. 7 Jika menganalisis interpretasi ayat-ayat Al-QurAoan oleh para mufassir shiAoah khususnya, banyak ditemukan adanya takwil dalam kitab tafsirnya. Mereka seringkali berpegang pada makna batini dalam penafsiran daripada makna . Hal ini dipengaruhi oleh subyektivitas mufassir yang cenderung mengunggulkan madzhab ideologinya dan seringkali melakukan kritik atas madzhab lainnya yang dianggap bertentangan. Istilah madzhabi disini bermakna Auyang berkenaan dengan madzhab teologi para mufassir. Ay Jika menilik segi historisnya, pertentangan antar madzhab teologi diawali dengan adanya konsep ima>mah . epemimpinan politi. yang diagungkan oleh kelompok syiAoah bahwa yang layak menjadi pengganti nabi adalah Ali bin Abi Thalib. Ini berarti hak politik mutlak dimiliki oleh keturunan ahlu al-bayt. Dari aspek politik inilah kemudian berkembang menjadi persoalan Ali Ash-Shabuni. Al-Tibya>n fi> AoUlu>m Al-QurAoa>n (Beirut: Dar Al-Irsyad, 1. , 73. Ibid. , 360. Hasby Ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2. , 172. Mashuri Sirojudin Iqbal dan A. Fudhali. Pengantar Ilmu Tafsir (Bandung: PT. Angkasa, 1. , 90. Volume. Number. April 2022 Esensi dan Signifikansi Studi Tafsir Madzhabi bagi Civitas Akademika Muslim akidah . terkait kategori kafir dan tidak kafir akibat peristiwa ta. ki>m, yang menimbulkan kontradiksi dan memunculkan madzhab-madzhab teologi lainnya dengan doktrin-doktrin akidah yang dianut. Diantara faktor penyebabnya adalah fanatisme yang tinggi sehingga menyulut perpecahan umat menjadi beberapa golongan . ekte madzhab. Studi Tafsir Madzhabi adalah kajian tafsir dari segi kecenderungan madzhab teologi Islam, baik shiAoah, khawarij, muAotazilah maupun sunni. Sektesekte ini muncul berawal dari problem politik yang malah merebak ke arah problem akidah dan ideologi. Hal ini menyebabkan banyak mufassir klasik yang cenderung berusaha untuk melegitimasi madzhab yang dianutnya melalui penulisan kitab tafsir, meskipun juga bertujuan pengembangan keilmuan tafsir. Doktrin-dokrin madzhab mereka menjadi dasar interpretasi ayat-ayat AlQurAoan. Dari sinilah muncul adanya ideologisasi tafsir yakni proses memasukkan doktrin teologi Islam ke dalam penafsiran ayat-ayat Al-QurAoan. Akibatnya, produk kitab tafsir yang dihasilkan bersifat subyektivitas mufassir. Ruang Lingkup Studi Tafsir Madzhabi Kerangka awal memahami studi tafsir madzhabi adalah dengan mengkaji dua segi keilmuan yakni ilmu kalam dan ilmu tafsir. Ilmu kalam merupakan sebuah keilmuan yang mengkaji tentang akidah Imani . zat dan sifat Allah, masalah dunia dan kematian berdasarkan doktrin Isla. Bisa pula dimaknai sebagai ilmu yang berisi dasar-dasar mempertahankan keimanan, dengan memakai dalil-dalil pemikiran dan sanggahan terhadap orang-orang yang bertentangan dengan kepercayan salaf dan ahlussunnah. 8 Sedangkan ilmu tafsir adalah keilmuan yang mengkaji maksud kalam Allah dalam Al-QurAoan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh manusia. 9 Penafsiran terhadap makna ayat harus melalui riwayat yang shahih, berasal dari nabi atau sahabat nabi yang menyaksikan wahyu turun, mengetahui peristiwa yang terjadi, pernah Sahilun A. Nasir. Pengantar Ilmu Kalam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1. , 3. Muhammad Husain Al-Dzahabi. Tafsir Al-QurAoan. Sebuah Pengantar (Jakarta: Baitul Hikmah Press, 2. RISDA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Wildah Nurul Islami berinteraksi dengan nabi dan mempertanyakan makna dan kandungan AlQurAoan langsung kepada nabi. Dari perspektif ilmu kalam, maka yang harus dipahami terkait studi tafsir madzhabi adalah sejarah munculnya madzhab teologi dan perkembangannya. Pada mulanya, sejak nabi wafat, muncul permasalahan-permasalahan yang dihadapi umat Islam tentang pengganti nabi yang kemudian dipilih Abu Bakar Al-S. ddiq sebagai khalifah. Setelah beliau wafat, digantikan oleh Umar bin Kha. a>b yang menjadikan Islam meluas dan mengalami ekspansi ke jazirah Arab. Syiria. Palestina. Mesir, sebagian Persia dan Romawi. Pengganti khalifah Umar adalah Uthman bin Affan, ekspansi kekuasaan Islam semakin meluas hingga di luar semenanjung Arab. Tapi pemerintahan Uthman cenderung nepotisme, membuat kondisi umat Islam tidak stabil dengan banyaknya pemberontak yang kemudian menewaskan Uthman. 10 Setelah Uthman wafat. Ali bin Abi Talib adalah calon terkuat dan terpilih, namun kemudian muncul tantangan dari para pemuka yang ingin menjadi khalifah, khususnya dari MuAoawiyah yang mengkristal menjadi perang S. ffi>n dan berakhir dengan keputusan ta. Peristiwa ta. ki>m . membuat Ali dianggap berbuat salah oleh pendukungnya sehingga meninggalkan barisannya yang kemudian dikenal dengan golongan khawarij . rang yang memisahkan dir. Golongan tersebut Allah mengembalikannya pada hukum yang terdapat dalam Al-QurAoan. La . ukma illa> lilla>h atau la . ukma illa> Allah menjadi semboyan mereka. 11 Adapun golongan yang tetap mendukung Ali dikenal dengan ShiAoah. Dialektika kalam bermula dari konteks orang yang terkategori kafir dan bukan kafir. Golongan khawarij menganggap semua yang ikut serta dalam peristiwa ta. kim disebut sebagai kafir berdasarkan dalil surat Al-Maidah ayat 44. Hal ini memunculkan aliran murjiAoah . emandang orang yang berbuat dosa besar tetap mukmin dan bukan kafi. dan muAotazilah . emandang orang tersebut bukan mukmin, bukan pula kafir/al10 Muhammad Hasbi. Ilmu Kalam. Memotret Berbagai Aliran Teologi dalam Islam (Yogyakarta: Trustmedia Publishing, 2. , 7. Montgomery Watt. Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam (Jakarta: P3M, 1. , 10. Volume. Number. April 2022 Esensi dan Signifikansi Studi Tafsir Madzhabi bagi Civitas Akademika Muslim manzilah baina manzilatai. Kemudian muncul penentang golongan muAotazilah yang dianggap menyimpang yaitu aliran ashAoariyah dan maturidiyyah yang kemudian dikenal dengan nama ahlu al-sunnah wa al-jama>Aoah . Persoalan kafir dan bukan kafir tersebut berkembang menjadi doktrin-doktrin teologi masing-masing sekte. Dengan mengkaji sejarah dan perkembangan ilmu kalam, dapat dipahami bahwa banyak ulama menaruh perhatian khusus pada tafsir akibat munculnya madzhab-madzhab teologi yang bermula dari gejolak politik dan perkembangan ideologi agama. Para mufassir klasik dalam menulis kitab tafsir dipengaruhi oleh doktrin-doktrin madzhab teologi yang dianut dalam melakukan interpretasi ayat, selain kapasitas keilmuan yang dimiliki. Namun, tidak semua sekte teologi memiliki produk kitab tafsir dari penganutnya. Yang sampai kepada kita sekarang ini berupa tafsir syiah, tafsir khawarij, tafsir muAotazilah, dan tafsir Keempat tafsir ini cenderung memiliki karakteristik yang sama pada hal kecenderungan mufassir dalam doktrin teologi yang diyakini dalam melakukan interpretasi ayat Al-QurAoan. Artinya, doktrin atau ajaran sekte menjadi dasar penafsiran yang bertujuan melegitimasi madzhabnya. Dari segi karakteristiknya, secara umum mufassir shiAoah menggunakan tafsir bi al-raAoyi . engedepankan ijtihad sendir. , mengedepankan tafsir batini bukan dzahirnya ayat, melakukan penakwilan ayat-ayat Al-QurAoan, memiliki tujuan legitimasi doktrin madzhab syiAoah terutama dalam prinsip im. mah, lebih banyak mengambil rujukan dari qaul dan kitab-kitab ulama shiAoah sebagai sumber penafsiran sehingga bersifat subyektif golongannya saja, serta kebanyakan mufassir shiAoah menulis kitab tafsir tidak sampai 30 juz karena hanya ayat-ayat teologi yang mereka fokuskan. Ayat-ayat teologi tersebut terkait dengan keyakinan teologi mufassir yang berwujud doktrin akidah shiAoah al-ima>mah . , al-Aoadl . emahaadilan Tuha. , dan al-maAoa>d . ari akhi. Adapun tingkat fanatisme mufassir shiAoah bisa dikategorikan menjadi dua, ada yang memiliki fanatisme madzhab yang tinggi sehingga terkadang memaknai ayat-ayat Al-QurAoan ditakwilkan dengan keturunan ahlu al-bayt, namun adapula yang cenderung RISDA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Wildah Nurul Islami moderat dengan tidak meyakini adanya tafsir batini dalam menafsirkan ayatayat Al-QurAoan. Mufassir khawarij justru menafsirkan ayat berdasarkan makna harfiyah . ahir aya. , tidak sesuai kaidah penafsiran, dan tidak mau menelusuri makna secara mendalam. Sedangkan mufassir muAotazilah seringkali menakwilkan ayatayat Al-QurAoan dengan analogi-analogi mereka. Mereka mengedepankan akal dalam kitab tafsirnya tanpa bersandar pada salaf al-. a>li. dan setelahnya. Adapun mufassir sunni, memakai dua pendekatan berupa tafsir bi al-maAothu>r dan tafsir bi al-raAoyi. Mereka melakukan ijtihad dengan metodologi penafsiran yang benar meskipun tetap ada kecenderungan madzhab teologi yang dianut. Selain itu, dalam penafsiran juga sesuai dengan kaidah bahasa Arab, prinsip-prinsip syariat dan menjaga syarat-syarat seorang mufassir. Dari perspektif ilmu tafsir, studi tafsir madzhabi termasuk bagian dari kajian madha>hib al-tafsi>r yakni sejarah aliran atau corak tafsir yang mempengaruhi corak kitab tafsir. Menurut Nashruddin Baidan, corak tafsir adalah suatu kecenderungan paradigma atau pemikiran tertentu yang mempengaruhi penulisan sebuah karya tafsir. 12 Dari sini dapat dimaknai bahwa corak tafsir adalah sebuah karakteristik atau kekhasan sebuah kitab tafsir sehingga menghasilkan penafsiran yang berdasarkan latar belakang keilmuan dan ideologi mufassir ketika menjelaskan maksud ayat Al-QurAoan. Dasar identifikasi dan klasifikasi kecenderungan corak tafsir seorang mufassir bisa dilihat dari segi corak yang paling dominan dalam kitab tafsirnya karena kadangkala mufassir menggunakan berbagai corak dalam hasil karyanya. Hal ini dapat dicontohkan pada karya Al-T. barsi dalam kitab tafsir MajmaAo Al-Baya>n fi> Tafsi>r Al-QurAoa>n yang mencakup corak tafsir madhhabi> dan lughawi>. Ada beberapa pemetaan madha>hib al-tafsi>r yaitu: Berdasarkan periodesasi atau kronologi waktu mencakup periode tafsir kasik, pertengahan, dan kontemporer. Berdasarkan kecenderungan mencakup corak tafsir shiAoah, khawarij, muAotazilah, dan sunni. Nashruddin Baidan. Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 388. Volume. Number. April 2022 Esensi dan Signifikansi Studi Tafsir Madzhabi bagi Civitas Akademika Muslim Berdasarkan perspektif dan pendekatan yang dipakai mencakup tafsir . u>fi>, falsafi>, fiqhi>, lughawi>, dll. Berdasarkan perkembangan pemikiran manusia mencakup mitis, ideologis, dan ilmiah. Dari sini dapat diketahui bahwa tafsir madzhabi termasuk bagian dari madha>hib al-tafsi>r . orak tafsi. dari segi kecenderungan mufassir sesuai madzhab yang dianutnya. Jika dilihat dari jenis-jenis ilmu tafsir . erdasarkan corakny. , tafsir madzhabi termasuk tafsir iAotiqady yakni tafsir yang beraliran teologi Islam dengan dasar penafsiran doktrin akidah. Studi tafsir madzhabi berfokus pada kajian kitab-kitab tafsir dalam perspektif kecenderungan madzhab mufassir, mulai dari kajian kitab tafsir karya mufassir shiAoah, khawarij, muAotazilah, hingga Studi diawali dengan telaah biografi mufassir mencakup latar belakang keluarga, guru dan muridnya, ideologi atau madzhab yang dianut, pendidikan dan bidang keilmuan yang dikuasai, kemudian telaah latar belakang penulisan kitab tafsir, sistematika penyusunan kitab tafsir, kelebihan dan kekurangan kitab tafsir, baru kemudian analisis ayat-ayat teologi yang terdapat dalam kitab Selanjutnya melakukan studi perbandingan kitab-kitab tafsir madzhabi. Melalui tahapan kajian inilah akan membentuk kesadaran pola pemikiran civitas akademika muslim agar lebih bersikap moderat dengan menghargai pluralitas dalam penafsiran ayat-ayat Al-QurAoan sebagai khazanah keilmuan Islam. Telaah Ayat-Ayat Teologi Para Mufassir Penafsiran Ayat-Ayat Teologi Mufassir ShiAoah Penafsiran Muhsin Al-Kasyani terhadap lafa. dza>lika dalam Q. S al-Baqarah A u AaONa u aN UO E aEe aI ac aC A A aE Oe A a AaE aE e aA AOA AuKitab (Al Qura. ini tidak ada keraguan padanya. petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Ay 14 Abdul Mustaqim. Madzahibut Tafsir: Peta Metodologis penafsiran Al-QurAoan Periode Klasik hingga Kontemporer (Yogyakarta: Nun Pustaka, 2. , 6. Departemen Agama RI. Al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta: PT. Kudasmoro Grafindo Semarang, 1. , 2. RISDA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Wildah Nurul Islami Dalam kitab tafsirnya yakni tafsi>r al-S. >fi>, al-Kasyani mengutip riwayat dari Al-AoAyyashi sebagai penguat. Lafa. dha>lika oleh al-Kasyani diartikan sebagai suatu isyarah yang mengarah kepada Ali bin Abi Thalib. Lafa. alKita>b diibaratkan sebagai Ali, sehingga makna dari dha>lika al-Kita>b adalah dia (Al. dan tidak ada keraguan padanya . emuliaan perangainya dan keutamaannya sebagai Imam yang telah dinashka. Penafsiran Al-Tabarsi terhadap lafa. AuBahrainAy dalam surat Al-Rahman A e e e e A AIA a AI eEO aI OECaOA AuDan dia membiarkan dua samudera (Ali dan Fatima. yang luas kemudian bertemu. Ay Kata ba. rain yang makna aslinya adalah dua samudera, maksudnya samudra yang asin dan samudera yang tawar. Kedua samudera tersebut tidak bercampur, karena ada sekat diantaranya. Namun, al-Tabarsi dalam kitabnya MajmaAo al-Baya>n fi> Tafsi>r Al-QurAoa>n menafsirkan kata ba. rain adalah sayyidina Ali dan sayyidah Fatimah. Al-Tabarsi mengutip dari riwayat Salman al-Farisi dan SaiAod ibn Jubair dan Sufyan al-Thauri yang mengatakan bahwa bahrain adalah sayyidina Ali dan sayyidah Fatimah. Dari kedua penafsiran di atas dapat diketahui tentang karakteristik tafsir shiAoah diantaranya: 1. Memiliki kecenderungan menggunakan metode taAowil berfokus pada makna batini, 2. Menggunakan pendekatan raAoyi . dalam penafsiran, 3. Fanatik terhadap doktrin shiAoah, 4. Mayoritas merujuk kepada riwayat-riwayat dan kitab-kitab ulama shiAoah. Bertujuan untuk melegitimasi madzhab teologinya. Penafsiran Ayat Teologi Mufassir MuAotazilah Penafsiran Al-Zamakhshari tentang surat Al-AnAoam ayat 39 A e ac a a e e a e e e e a A a aI e A AEa a A a AOIA ACA A II Ou a acEE OE aEN OII O aOENA. Muhsin al-Kasyani. Tafsir Al-S. >fi> (Qom. Iran: Muassasah al-Hadi, 1. , 78. Volume. Number. April 2022 Esensi dan Signifikansi Studi Tafsir Madzhabi bagi Civitas Akademika Muslim AuABarangsiapa dikehendaki Allah . alam kesesata. , niscaya disesatkannya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah . ntuk diberi petunju. , niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. Ay Al-Zamakhshari mengatakan orang yang dikehendaki tersesat, maka Allah akan membuatnya terlantar dan membiarkan dalam kesesatan. Dia tidak diberi lu. f oleh Allah sebab lu. f tidak layak jika diberikan padanya. Dan orang yang dikehendaki mendapat hidayah. Allah memberikannya lu. f yang berfaedah bagi kehidupannya dan dia berada dalam jalan yang 16 Hal ini menampakkan usaha al-Zamakhshari menggunakan kepandaiannya mengolah kata, agar maksud ayat selaras dengan doktrin muAotazilah. Padahal ayat-ayat tersebut secara jelas menunjukkan bahwa Allah Maha Menghendaki segala sesuatu. Penafsiran Abd Al-Jabbar tentang Surat Hud ayat 17 A e A aAEa O I I eaI Na OOeEaONa N Ua IaIeNA a AAII aEIA s a AuApakah . rang-orang kafir itu sama denga. orang yang sudah mempunyai bukti yang nyata (Al-QurAoa. dari Tuhannya, diikuti oleh saksi dari-Nya. Ay Abd Al-Jabbar mengungkapkan apabila terdapat orang yang menanyakan. Aumengapa pada penggalan ayat, afaman ka>na 'ala> bayyinah min rabbih wa yatlu>hu sha>hidun minhu disebutkan mubtadaAo tanpa menyebutkan khabar-nya, apa faedahnya. Ay Jawabannya adalah khabar tidak disebut sebab sudah bisa dipahami dan dimaklumi. Makna yang diinginkan adalah apa seseorang yang memiliki karakter di atas seperti orang kafir yang menolak beribadah pada Allah. Dari kedua penafsiran di atas dapat diketahui tentang karakteristik tafsir muAotazilah diantaranya: 1. Menggunakan pentakwilan-pentakwilan dan pendekatan raAoyi . dalam penafsiran, 2. Mengedepankan kerangka perspektif kebahasaan . terhadap ayat-ayat yang Tuhan, 17 Cenderung Al-Zamakhsyari>. Tafsi>r al-Kasysya>f Aoan H. qa>iq Gawa>mi. al-Tanzi>l wa AoUyu>n alAqa>wi>l fi> Wuju>h al-TaAowi>l (Beirut: al-Kutub al-Ilmiyyah, 2. , jilid I, 621. Ignaz Goldziher. Mazhab Tafsir dari Aliran Klasik Hingga Moderen, (Yogyakarta: Elsaq Press, 2. , 147- 148. RISDA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Wildah Nurul Islami menyimpang dari kaidah penafsiran yang benar, 4. Fanatik terhadap doktrin akidah muAotazilah, 5. Tetap bersandar kepada ulama muAotazilah dalam memaknai ayat Al-QurAoan, 6. Mengingkari hadis nabi yang tidak sejalan dengan doktrinnya, 7. Bertujuan untuk melegitimasi madzhab Penafsiran Ayat-Ayat Teologi Mufassir Khawarij Penafsiran Muhammad bin Yusuf Itfisy tentang pengkhususan dari keumuman sebuah bulan dalam surat al-Baqarah ayat 185 AU a A A A A a A A O I eI aEI I aOe eO Ea A s Aa acU aI eI Oac sI A. AuA dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan . alu ia berbuk. , maka . ajiblah baginya berpuas. , sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain AAy Muhammad bin Yusuf Itfisy menafsirkan bahwa bagi orang sakit dan musafir . erjalanan jau. yang tidak mampu berpuasa maka tidak wajib mengqadhaAo, ini selalu ditekankan untuk menghindari macam-macam prasangka yang mengatakan bahwa orang sakit dan musafir tidak ada kewajiban berpuasa dengan keumuman ayat a eINA e A Aa aI eI a aN a IeI aE aI EAterdapat a acNa AaEeOA perbedaan pendapat para ulama dalam menafsirkan ayat ini, contohnya dari imam madzhab syafiAoi, imam malik, imam hambal serta kisah Nabi Muhammad semasa hidupnya. Penafsiran Hud bin Muhakkam tentang pengampunan dosa dalam surat Al-Zumar ayat 53 Hud bin Muhakkam menafsirkan ayat-ayat tentang ampunan . yang menunjuk arti bahwa pelaku syirik dan dosa besar tidak akan mendapat ampunan dari Allah kecuali segera bertaubat kepada Allah. Berikut penafsiran beliau terhadap surah al-Zumar ayat 53: ca a Aac ac ac ac A a Aa ac e a a A AEIa A a AIA a A AOA AacEEa uaI acEE Oa AEOI AO Ea A a AOA aa aACE O aA ao A aNI aE CIO IaI aA a aOe U oa uIac aNu aN O E a ca AOA AOe aIA a AEA Muhammad Bin Yusuf Itfisy. Hamyan al-Za>d ila> Da>r al-MaAoa>d, juz 3, (Wazarat Al-Turath Al-Qaumi wa AlThaqafah, 1. , 14. Volume. Number. April 2022 Esensi dan Signifikansi Studi Tafsir Madzhabi bagi Civitas Akademika Muslim AuKatakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ay Beliau menafsirkan kata asrofu> yang artinya orang-orang yang melewati batas dengan makna syirik, dan dosa-dosa besar lainnya agar tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena Allah adalah Dzat yang Maha mengampuni semua dosa, dengan catatan mau bertaubat dan beramal Dari kedua penafsiran di atas dapat diketahui tentang karakteristik tafsir khawarij diantaranya: 1. Memaknai ayat secara harfiyah bukan maAonawiyah yang mendalam, 2. Menggunakan hadis-hadis palsu dalam penafsiran, 3. Cenderung menyimpang dari kaidah penafsiran yang benar. Fanatik terhadap doktrin akidah khawarij, 5. Bertujuan untuk melegitimasi madzhab teologinya. Penafsiran Ayat Teologi Mufassir Sunni Penafsiran al-Qurthubi tentang surat T. >ha> ayat 5 A ac e a a A e AEa Ee e aA A aOOA AEIA Au. Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Aoarsy. Ay Pada saat menafsirkan ayat tersebut, al-Qurthubi terlebih dahulu menjelaskan terkait kedudukan lafa. tersebut dalam sebuah kalimat, atau nahwunya terlebih dahulu, kemudian baru disusul pengertiannya. Dalam tafsirannya tidak tanggung-tanggung, ia langsung mengutip langsung pendapat Abu Hasan al-Asyariy. Aubahwa Allah bersemayam dalam Aoarsy namun berbeda pengertian sebagaimana bersemayam yang dilakukan para Ay19 Dengan kata lain, ayat tersebut dimaknai secara . ahir namun bentuknya diyakini tidak sama seperti yang dilakukan manusia, dan hal tersebut hanya diketahui oleh Allah Swt. Tentunya hal ini berbeda dengan Mujassimah. Aubersemayamnya Tuhan itu sama seperti yang dilakukan manusia. Jadi, titik perbedaan terdapat pada pengertian bersemayam tersebut. Maka Al-Qurthubi. Al-Ja>mi li A. ka>m Al-QurAoa>n. Juz 17, (Beirut : Ar-Risalah, 2. , 315. RISDA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Wildah Nurul Islami dengan jelas, bahwa al-Qurthubi mengikuti Ahlu al-sunnah wa al-jama>Aoah baik dari taAowil dan juga memaknainya secara . ahir tapi pengertiannya hanya Allah yang mengetahui. Penafsiran Al-ThaAolabi tentang surat Al-NisaAo ayat 93: U A e e a e a e U a U a a ac a A AaE AaOe NA a AOII OCE IIaI I aI AN NII A AuDan barangsiapa yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam . Ay Al-ThaAolabi pemahamannya (Sunn. bahwa apabila seorang mukmin membunuh mukmin lainnya dengan disengaja, maka tidak akan menjadi kafir atas perbuatannya tersebut kecuali pembunuhan itu memiliki alasan yang diperbolehkan untuk membunuh dan persoalan agama. Dari kedua penafsiran di atas dapat diketahui tentang karakteristik tafsir khawarij diantaranya: 1. Mayoritas menggunakan metode tafsir bi almaAothur dan tafsir bi al-raAoyi al-mahmud, 2. Menggunakan ijtihad dan metodologi penafsiran yang benar, 3. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan perangkat ilmu tafsir, 4. Fanatik terhadap doktrin sunni, 5. Bertujuan untuk melegitimasi madzhab teologinya. Ragam penafsiran ayat-ayat teologi para mufassir menunjukkan adanya hubungan kausalitas antara paradigma ideologis dan fanatisme doktrin akidah terhadap kepentingan legitimasi madzhabnya melalui hasil penafsiran ayat-ayat Al-QurAoan. Unsur kepentingan ini terkait dengan hawa nafsu alami manusia ang tidak mungkin dapat dihilangkan dalam Yang perlu dilakukan adalah pengendalian diri sebagai syarat mentalitas seorang mufassir. Khaled M. Abou el-Fadl merumuskan lima komprehensifitas, rasionalitas dan pengendalian diri. Abu> Isha>q Al-ThaAolabi, al-Kashf wa al-Baya>n, (Lebanon: Da>r Ihya>Ao Al-Turath Al-AoArabi, 2. , 255. Khaled Abou el-Fadl. Speaking In GodAos Name: Islamic Law. Authority and Women (England: Oneworld, 2. Volume. Number. April 2022 Esensi dan Signifikansi Studi Tafsir Madzhabi bagi Civitas Akademika Muslim Signifikansi Studi Tafsir Madzhabi Studi tafsir madzhabi termasuk kajian ilmu tafsir yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat ideologisasi mufassir dalam memaknai ayat-ayat AlQurAoan. Ada mufassir yang mengedepankan obyektivitas dalam penafsiran, adapula yang sangat fanatik pada madzhab teologinya sehingga mengedepankan subyektivitas dalam penafsiran. Hal ini dipengaruhi oleh adanya keinginan untuk melegitimasi madzhab teologi masing-masing dari para mufassir sehingga belum memenuhi kaidah penafsiran yang benar. Kaidah tersebut terkait syarat seorang mufasir yang seharusnya memiliki niat dan tujuan yang baik, terbebas dari hawa nafsu, serta memiliki akidah yang kokoh. Kebanyakan para mufassir tersebut adalah ulama yang sangat berkompeten dalam ilmu bahasa Arab, ilmu Al-QurAoan, dan ilmu agama, namun pertentangan ideologi pada masa para mufassir saat itu sangat berpengaruh pada pola penafsiran ayat-ayat Al-QurAoan dalam kitab tafsirnya. Namun, terlepas dari itu semua, ada beberapa hal yang dapat ditelaah dari segi signifikasi munculnya kitab-kitab tafsir yang cenderung subyektif sebagai khazanah keilmuan di dunia Islam. Studi tafsir madzhabi merupakan kajian kitab tafsir yang penting bagi civitas akademika khususnya mahasiswa karena memiliki signifikansi sebagai Menambah wawasan tentang corak tafsir dari perspektif madzhab teologi Islam. Menumbuhkan sikap toleran terhadap pluralitas penafsiran Al-QurAoan. Mamiliki kemampuan memilah mana nilai-nilai positif yang bisa diambil dan nilai-nilai negatif yang tidak perlu diikuti atau dijadikan pedoman. Menghindari sikap taqdi>s al-fikr al-di>ni>y . ensakralan pemikiran agam. sehingga menempatkan diri pada posisi sebagai akademisi yang netral. Mampu membandingkan corak dan karakteristik kitab-kitab tafsir madzhabi, menganalisis ayat-ayat teologi dan melakukan kritik positif untuk membangun kerangka berpikir moderat, serta menelaah kontribusi kitab pada bidang keilmuan tafsir. Setelah mempelajari tafsir madzhabi, maka dapat disimpulkan adanya nilai-nilai positif dan negatif yang dapat diambil sebagai media refleksi. Nilai- RISDA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Wildah Nurul Islami nilai positif tersebut dilihat dari perspektif pengembangan khazanah keilmuan tafsir berupa: Hakikatnya para mufassir adalah orang yang ahli di bidang tafsir dan berbagai disiplin ilmu lainnya, meskipun ada kecenderungan melegitimasi madzhab yang dianutnya namun kitab tafsir yang dihasilkan tetaplah mengandung nilai kebermanfaatan dalam studi ilmu tafsir dan bernilai Kitab tafsir madzhabi merupakan hasil pemikiran mufassir yang mendalam terhadap makna ayat-ayat Al-QurAoan tetap dapat dijadikan sumber referensi, bahan kajian dan diskusi, serta penelitian. Kitab tafsir yang beraneka corak madzhabi menghasilkan kesimpulankesimpulan ayat-ayat karakteristik kitab tafsir sesuai dengan kecenderungan mufassir terhadap doktrin teologinya. Adapun nilai-nilai negatif yang tidak perlu diikuti atau dipedomani Nilai subyektivitas mufassir dalam penafsiran ayat-ayat Al-QurAoan karena ingin melegitimasi madzhab teologinya. Adanya pencampuran doktrin teologi dalam penafsiran . deologisasi tafsi. sehingga ada yang menggunakan makna batini juga pentakwilan demi mengunggulkan madzhab teologinya. Adanya kekhilafan dan kekurangan dalam kevalidan data rujukan riwayat yang mendukung penafsiran ayat-ayat Al-QurAoan. Volume. Number. April 2022 Esensi dan Signifikansi Studi Tafsir Madzhabi bagi Civitas Akademika Muslim Simpulan Studi tafsir madzhabi adalah kajian tafsir bernuansa madzhab teologi mufassir yang bertujuan memahami corak mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat Al-QurAoan berdasarkan madzhab yang dianut. Studi tafsir madzhabi adalah bahan kajian keilmuan tafsir tentang dinamika dan pluralitas tafsir dari hasil penafsiran para mufassir yang dipengaruhi oleh subyektivitas madzhab teologi. Kerangka awal memahami studi tafsir madzhabi adalah dengan mengkaji dua segi keilmuan yakni ilmu kalam dan ilmu tafsir. Adapun tafsir madzhabi yang sampai kepada kita sekarang ini berupa tafsir syiah, tafsir khawarij, tafsir muAotazilah, dan tafsir sunni. Keempat tafsir ini, doktrin atau ajaran sekte menjadi dasar penafsiran yang bertujuan melegitimasi madzhabnya. Dengan studi tafsir madzhabi, diharapkan civitas akademika dapat mengembangkan wacana tentang pentingnya menghargai pluralitas dalam menafsirkan ayat-ayat Al-QurAoan terkait perbedaan madzhab teologi sehingga tidak bersikap taqdi>s al-fikr al-di>ni>y . ensakralan pemikiran agam. Untuk mewujudkan moderasi beragama, diantara upaya yang bisa dilakukan adalah mengkaji ayat-ayat Al-QurAoan secara obyektif dengan niat dan tujuan yang lurus, mampu membandingkan corak dan karakteristik kitab-kitab tafsir madzhabi, menganalisis ayat-ayat teologi dan melakukan kritik positif untuk membangun kerangka berpikir moderat, mampu memilah mana nilai-nilai positif yang bisa diambil dan nilai-nilai negatif yang tidak perlu diikuti atau dijadikan pedoman serta menelaah kontribusi kitab-kitab pada bidang keilmuan tafsir. RISDA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Wildah Nurul Islami Daftar Pustaka