FORGIVENESS TO AFFAIRS FOR SUSTAINABILITY OF CHILDREN'S EDUCATION FORGIVENESS TERHADAP PERSELINGKUHAN DEMI KEBERLANGSUNGAN PENDIDIKAN ANAK Syaiful Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah (STAIFA) Pamekasan Jl. Sumber Gayam Kadur Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan syaifulstaifawk1@gmail. com, 085259761255 Abstract: Forgiveness is the attitude of someone who is hurt not to take revenge for the perpetrator, on the contrary, there is a desire to make peace and do good even though the performer has done hurtful behavior. The goal of this study was to find out the description of forgiveness for infidelity by a partner and the factors underlying the provision of forgiveness to a partner who committed infidelity. This study uses a qualitative approach with the type of phenomenological The subjects in this study were six people with details of three husbands and three wives who were both victims and had children. The results of the study showed that even though the partner had committed an affair, the victim still gave The supporting factors for giving forgiveness are. Situational factors, the victim feels bored with the situation that occurs due to the infidelity committed by the partner. The relational factor, there is a direct apology from the performer to the victim. Personality factors . , forgiving, patience, sincerity, and considering the incident of infidelity are temptations that must be In addition to these three factors, there is a more basic factor in providing forgiveness by victims to the performer, namely is a responsibility for the continuity of children's education. Children will be displaced if their parents' divorce, on that basis the victim gives forgiveness to the performer who committed the affair. Keywords: forgiveness. the continuity of children's education Abstrak: Forgiveness merupakan sikap seseorang yang tersakiti untuk tidak melakukan perbuatan balas dendam terhadap pelaku, sebaliknya adanya keinginan untuk berdamai dan berbuat baik walaupun pelaku telah melakukan perilaku yang Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran forgiveness terhadap perselingkuhan yang dilakukan pasangan serta faktor yang mendasari pemberian forgiveness terhadap pasangan yang melakukan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 6 orang dengan rincian 3 orang suami dan 3 orang istri yang sama-sama sebagai korban serta telah IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan memiliki anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun pasangan telah melakukan perselingkuhan akan tetapi korban tetap memberikan forgiveness. Adapun faktor pendukung pemeberian forgiveness yaitu. Faktor situasional, korban merasa jenuh dengan keadaan yang terjadi akibat perselingkuhan yang dilakukan oleh pasanngan. Faktor relasional, adanya permintaan maaf secara langsung dari pelaku kepada korban. Faktor kepribadian . , memberi maaf, sabar, ikhlas dan menganggap kejadian perselingkuhan merupakan ujian yang harus dihadapi. Selain tiga faktor tersebut, ada faktor yang lebih mendasar pemberian forgiveness oleh korban terhadap pelaku, yaitu rasa tanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan anak. Anak akan terlantar apabila kedua orang tuanya bercerai, atas dasar itulah korban memberikan forgiveness terhadap pelaku yang melakukan perselingkuhan. Kata kunci: Forgiveness. Perselingkuhan. Keberlangsungan pendidikan anak PENDAHULUAN Pernikahan merupakan suatu komitmen yang dibangun berdasarkan keputusan untuk menjalin dan memelihara hubungan sebagai suami istri yang didasarkan pada rasa saling percaya dan menjaga satu samalain. Akan tetapi, tidak selamanya komitmen dapat dijaga dengan baik, penghianatan terhadap komitmen berupa perselingkuhan oleh suami atau istri bisa terjadi dan dapat merusak keharmonisan dalam rumah tangga. Menghadapi kenyataan bahwa suami atau isteri berselingkuh memang tidak mudah, karena perselingkuhan dapat berdampak negatif baik bagi salah satu pasangan maupun kehidupan anak. Perselingkuhan merupakan segala bentuk perilaku yang melanggar kontrak dan perjanjian antara dua orang dalam suatu hubungan yang didasari oleh komitmen eksklusif. Bird dan Melville . 4: . menjelaskan bahwa perselingkuhan adalah hubungan yang dilakukan oleh salah satu pasangan yang telah menikah dengan orang lain yang bukan merupakan pasangan secara resmi. Peselingkuhan akan berdampak negatif terhadap korban sebagaimana dijelaskan oleh Hertlin bahwa perselingkuhan merupakan kejadian yang traumatis dan meninggalkan dampak negatif bagi pasangannya (Hertlein, dkk, 2005: . Apabila perselingkuhan itu dilakukan oleh suami maka secara emosional, dampak yang dirasakan istri lebih besar dibandingkan yang dirasakan suami ketika mengetahui pasangannya berselingkuh. Istri akan menunjukkan reaksi emosi IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan negatif yang lebih sering, merasa jijik, stres, cemas, kecewa, merasa diabaikan, menyalahkan diri sendiri, dan merasa tidak spesial di mata suaminya (Hall dan Fincham, 2006: . Sementara itu, kebanyakan suami yang mengetahui istrinya berselingkuh akan cenderung langsung menceraikannya atau melakukan tindakan agresif (Gray dan Anderson, 2010: . Perselingkuhan merupakan kejadian yang traumatis dan meninggalkan dampak negatif bagi pasangannya. Apabila suami atau istri sebagai korban tidak bisa menerima perlakuan perselingkuhan maka besar kemungkinan akan terjadi Pasangan suami istri yang telah bercerai pada umumnya akan menunjukkan perasaan sedih, kecewa, frustasi, tidak nyaman, tidak tentram, tidak bahagia, takut, khawatir, stress bahkan ada juga yang mengalami depresi. Kondisi tersebut membuat individu menunjukkan emosi negatif seperti marah, dendam, bahkan benci dan menyalahkan mantan pasangannya atau bahkan orang lain. Dampak negatif perceraian tidak hanya dirasakan oleh pasangan sebagai korban, dampak negatif juga bisa dirasakan oleh anak sebagai bagian dalam anggota keluarga. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Syamsul, dkk . 9: . Jika orang tua bercerai maka anak akan mengalami bebarapa kondisi . rasa malu dengan perceraian orang tua, . mudah marah jika sikap orang lain tidak sesuai dengan keinginannya, . sulit fokus terhadap sesuatu, . kehilangan rasa hormat terhadap orang tua dan mudah menyalahkan orang tua, . melakukan sesuatu yang salah, . sering tidak peka terhadap lingkungan, . tidak memiliki etika dalam masyarakat, . tidak memiliki tujuan hidup, . ingin menang sendiri, . merasa tidak aman dengan lingkungan sekitar. Fakta teoritis dan empiris di atas mengindikasikan bahwa perceraian memiliki dampak negatif yang sangat besar baik pada pasangan maupun anak. Sehingga tidak sedikit pasangan tetap memilih untuk tidak bercerai demi keutuhan rumah tangganya meskipun salah satu pasangan melakukan perselingkuhan yaitu dengan memberikan forgiveness. Forgiveness berhubungan dengan keinginan orang yang telah disakiti untuk menghilangkan kemarahan, melawan dorongandorongan untuk menghukum, berhenti untuk marah. Dengan memaafkan adanya perubahan sikap yang sebelumnya ingin membalas dendam dan menjauhi pelaku. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan maka dengan memaafkan seseorang memiliki keinginan untuk berdamai dengan pelaku, dimana perilaku memaafkan ini akan tampil dalam pikiran, perasaan atau tingkah laku orang yang telah disakiti (Enright, dkk, dalam McCullogh, dkk, 2003: . Bagi suami atau istri yang menjadi korban perselingkuhan memilih forgivenessatau pemaafan terhadap pasangan tentunya tidak mudah, individu yang tersakiti untuk memilih memberikan forgivenessharus memenuhi beberapa faktor agar forgiveness dapat terwujud, diantarnya. empati, merupkan kemampuan untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain, . karakteristik serangan, faktor ini berkaitan dengan persepsi dari kadar penderitaan yang dialami oleh orang yang disakiti serta konsekuensi yang menyertainay, . tipe kepribadian, yakni kepribadian tertentu seperti ekstravert menggambarkan beberapa karakter seperti sosial, keterbukaan ekspresi, dan asertif, . kualitas hubungan dengan pelaku, sebelum korban cenderung memaafkan pelaku, terdapat kepuasan dan komitmen dalam hubungan tersebut, . religiusitas, kegiatan kelompok keagamaan yang bersifat tradisional seperti sharing dan doa bersama dapat membantu individu memaagkan orang lain (McCullough, dkk, dalam Wardati dan Faturrochma. Selain foktor-faktor yang telah diungkapkan di atas, ada salah satu faktor yang membuat korban memberikan forgiveness terhadap pasangannya yang melakukan perselingkuhan, faktor tersebut adalah anak. Hasil studi awal peneliti di lapangan menunjukkan bahwa anak menjadi salah satu alasan bagi suami atau istri selaku korban yang pasangannya melakukan perselingkuhan untuk tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga, alasan tersebut merujuk pada sebuah asumsi bahwa anak memiliki masa depan yang panjang dan memerlukan pendamping yakni orang tua. Sehingga tidak sedikit suami atau istri selaku korban tetap menerima pasangannya meskipun sudah melakukan kesalahan berupa perselingkuhan dan tetap melanjutkan hubungan pernikahan. Atas keadaan objektif tersebut maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih mendalam tentang forgiveness terhadap perselingkuhan yang dilakukan pasangan serta faktor yang IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan mendasari METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitian fenomenologi. Penelitian ini mencoba mengetahui lebih mendalam tentang gambaran forgiveness terhadap perselingkuhan pasangan faktor-faktor perselingkuhan pasangan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan wawancara. Wawancara dilakukan dengan informan yang terlebih dahulu dipilih sebagai sumber data dengan menggunakan teknik purposive, yaitu teknik pemilihan dengan menetapkan kriteria atau ciri-ciri yang sesuai tujuan penelitian. Informan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang yang teridiri dari 3 orang suami dan 3 orang istri yang sama-sama berstatus sebagai korban dan memiliki anak. Karakteristik sumber data pada penelitian ini yaitu individu yang memberikan forgiveness terhadap pasangan yang melakukan Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik Analysis Interactive Model dari Miles dan Huberman . 9: . yang membagi langkahlangkah dalam kegiatan analisis data dengan beberapa bagian yaitu pengumpulan data . , reduksi data . ata reductio. , penyajian data . ata displa. , dan penarikan kesimpulan atau verifikasi . Dari hasil analisis data tersebut dapat ditarik kesimpulan yang kemudian dikomparatifkan dengan pendapat para ahli atau studi terdahulu yang dilakukan peneliti sebelumnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Data hasil penelitian diperoleh dari teknik wawancara terhadap enam informan yang terdiri dari tiga orang suami dan tiga orang istri yang sama-sama berstatus sebagai korban yang mengalami perlakuan perselingkuhan oleh Enam informan tersebut sama-sama memilih mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan memberikan forgiveness pada pasangannya yang IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan melakukan perselingkuhan. Wawancara dilakukan untuk mengetahui proses forgiveness serta faktor-faktor pendukung pemberian forgiveness. Faktor-faktor tesebut berdasarkan model tahapan forgiveness yang dikembangkan oleh Enright dan Coyle . yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan perilaku yang terjadi dalam proses forgiveness. Tahapan tersebut dibagi dalam empat fase yaitu. uncovering phase, decision phase, work phase, dan outcome/deepening phase. Proses Forgiveness Terhadap Perselingkuhan Pasangan Uncovering Phase Pada fase ini, suami atau istri selaku korban mengungkapkan bahwa dirinya marah dan kecewa atas apa yang dilakukan pasangan. Dari enam informan yang telah diwawancarai menjelaskan bahwa perasaan terluka muncul tiba-tiba berselingkuh, perasaan tersebut diantaranya. rasa terhina, sedih, kecewa, marah, dan benci. Selain perasaan terluka yang muncul akibat dari perselingkuhan yang dilakukan pasangan, munculnya motivasi negatif juga menjadi kelanjutan dari rasa terluka yang dialami korban perselingkuhan. Motivasi negatif tersebut dalam bentuk berbeda yang dilampiaskan oleh Korban mungkin masih dalam keadaan tersakiti, penuh kemarahan, sakit hati, merasa dikhianati, kesulitan untuk mengendalikan emosi dan ingin membalas dendam kepada pelaku, salah satunya dengan cara menghindar (Ginanjar, 2019: . Keadaan tersebut tentunya dapat menyebabkan siklus yang dialami oleh pelaku semakin berulang sehingga dapat menyebabkan masalah yang lebih besar pada pernikahan. Informan yang berstatus suami lebih condong melakukan tindakan agresif yakni pemukulan bahkan ada indikasi akan melakukan pembunuhan. Sedangkan motivasi negatif dari korban istri lebih pada marah-marah dan sambil menangis dan ada juga yang lebih memilih diam dan tidak ada kontak pembicaraan dengan suami. Decision Phase Pada fase ini, pihak korban sudah mulai memberikan forgiveness pada perselingkuhan pasangan, pada fase ini korban sudah mulai sadar dengan IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan apa yang menimpanya dan memikirkan dampak negatif bagi dirinya. Dari keenam informan yang sudah diwawancarai oleh peneliti, mereka menjelaskan bahwa setelah selang waktu beberapa bulan mereka mulai memahami dampak yang dirasakan, pemahaman yang muncul bahwa perselingkungan yang dilakukan oleh pasangannya telah menyakiti dirinya. Dampak yang terjadi yakni kesehatan menurun sebagai akibat dari tidak nafsu makan dan akhirnya jatuh sakit. Tidak hanya itu saja, korban juga mulai sadar bahwa ketika dia sudah jatuh sakit maka semuanya tidak terurus baik itu pekerjaan dan anak-anaknya. Dari keadaan itulah para korban akhirnya mulai menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh pasangan . hanya merugikan dirinya sendiri dan akan berdampak pada semua aspek yang harus diurus dalam rumah tangga. Work Phase Pada fase ini korban sudah mulai memantapkan komitmen bahwasanya pasangannya telah melakukan perselingkuhan. Pada work phase merupakan fase pelaksanaan forgiveness dalam tindakan nyata, korban menunjukkan perbaikan sikap terhadap pasangannya. Suami dalam hal ini sebagai korban tetap memberikan nafkah berupa materi kepada isteri, adapun informan istri selaku korban juga tetap melayani suami seperti halnya memasak dan mencucikan pakaiannya. Hal ini dilakukan secara perlahan, korban mulai menyusun kembali pandangan terhadap pasangannya yang telah melakukan kesalahan yakni perselingkuhan. Informan suami selaku korban kembali mengingat kebaikan-kebaikan pasangan di masa lalu, korban mengingat bahwa istrinya adalah sosok yang bertanggung jawab dalam mengurus rumah tangga, mengurus anak, mamasak, mencuci dan urusan rumah tangga Keadaan tersebut juga diungkapkan oleh istri selaku korban juga mengungkapakan perasaan yang sama, mereka menganggap suami sebagai sosok yang bertanggung jawab terutama dalam uruasan nafkah, kebutuhan pokok dalam keluarga selalu tercukupi dan tegas dalam mendidik anakanaknya. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan d. Deepening Phase Pada fase ini korban mulai menemukan makna baru dari persitiwa yang Peristiwa perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan mereka anggap sebagai ujian dari sang pencipta dan korban mengatakan bahwa sang pencipta tidak akan memberikan ujian pada hambanya kecuali hambanya adalah orang yang mampu menjalaninya. Peningkatan emosi positif ini menunjukkan bahwa korban telah memiliki forgiveness dalam dirinya dan dapat dimanifestasikan dalam langkah konkrit yakni dapat melanjutkan hubungan pernikahan mereka. Pada fase ini korban merasa semakin lebih baik karena pasangan sebagai pelaku menunjukkan perilaku baik yakni lebih perhatian pada keluarganya. Faktor Pendukung Forgiveness Terhadap Perselingkuhan Pasangan Faktor Situasional Rasa jenuh dan ingin suasana harmonis dalam keluarga Pada saat korban mengetahui pasangannya berselingkuh, korban melakukan penolakan terhadap semua yang ada pada diri pasangannya. Korban berusaha menghindar dengan cara tidak mau berkomunikasi. Hal ini membuat kondisi rumah tangganya semakin memburuk, pekerjaan yang terbengkalai, keadaan rumah berantakan, dan anak-anak tidak mau belajar serta tidak mau masuk sekolah. Akan tetapi ada hal yang unik dari kejadian tersebut yakni para korban menemukan satu titik jenuh jika korban harus terus menghindar dari pasangannya yang sudah melakukan perselingkuhan. Dari kondisi tersebut, keadaan anak-anak mereka yang tidak mau belajar dan tidak mau masuk sekolah ternyata menjadi poin penting bagi para Keadaan ini menjadi titik awal dimana korban merenung memikirkan kembali langkah apa yang akan diambil untuk menyikapi keadaan yang sedang dialaminya. Dari enam informan yang telah peneliti wawancarai semuanya menyatakan bahwa mereka mulai bisa memaafkan pasangannya dengan pertimbangan demi masa depan anak-anak mereka. Para korban beranggapan bahwa jika mereka bercerai maka dampak yang IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan paling buruk akan dirasakan oleh anak. Para korban mengatakan bahwa selama kejadian ini anak-anak sudah malas belajar dan tidak mau masuk sekolah, sehingga akan berimbas pada masa depan mereka kelak. Akhirnya Hal ini dilakukan agar kondisi rumah tangganya kembali Faktor Relasional Adanya niat pelaku untuk meminta maaf Permintaan maaf yang disertai penyesalan merupakan salah satu faktor dimana para korban mulai membuka pintu maaf. Permintaan maaf yang diucapkan secara langsung oleh para pelaku membuat sedikit reda emosi yang ditimbulkan oleh kejadian perselingkuhan tersebut. Korban kemudian mencoba membuka hati atas permintaan maaf para pelaku, meskipun dirasa cukup sulit akan tetapi korban mencoba dengan perasaan ikhlas menjalani kenyataan hidup yang mereka alami. Dari enam informan yang sudah peneliti lakukan wawancara, informan istri selaku korban menjelaskan bahwa hubungan dengan suaminya merupakan suatu hal yang perlu dipertahankan, korban mengungkapakan bahwa bagaimanapun juga suami adalah ayah dari anakanaknya. Maka dari itu permintaan maaf dari suami atas kesalahan yang keberlangsungan masa depan khususnya bagi pendidikan anak. Pelaku perselingkuhan membutuhkan Dalam menentukan makna hidup yang baru, pelaku harus menempuh proses pemaafan diri yang sesungguhnya (Graham, dkk, 2017: . Sementara itu, para informan suami selaku korban menjelaskan bahwa tetap menerima istri atas kesalahannya karena telah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Forgiveness diberikan dengan dasar demi keutuhan rumah tangga sehingga anakanaknya ada yang mengurus baik ketika belajar di rumah dan bersekolah. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Harapan yang sama juga diungkapkan oleh para informan suami selaku korban, bahwasannya mereka memberikan forgiveness pada pelaku karena tidak ingin anak-anak mereka terlantar dan memiliki masa depan yang baik. Faktor Kepribadian Adanya nilai agama Konsep hidup berumah tangga yang diajarkan agama Islam menjadi dasar bertindak serta menyikapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini nilai-nilai agama juga sekaligus menjadi tolak ukur seperti apa tingkat keimanan seseorang. Jika seseorang mendapatkan permasalahan dan orang tersebut mampu bersabar dan bertawakkal, maka orang tersebut berada pada tingkat keimanan yang lebih tinggi. Keadaan tersebut juga dipraktekkan oleh para korban dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi, forgiveness diberikan kepada pasangannya yang berselingkuh atas dasar ikhlas menerima dan bersabar karena semuanya diyakini datangnya dari Allah Swt, keyakinan akan mendapatkan pahala yang lebih besar dan akan digantikan oleh kenikmatan lainnya menjadi harapan para korban sehingga forgiveness diberikan. Pembahasan Sebagai bentuk pengkhianatan komitmen pernikahan, perselingkuhan memberikan luka mendalam bagi pasangan yang menjadi korban. Savitiri . menjelaskan bahwa peristiwa perselingkuhan yang dialami menyebabkan munculnya perasaan terluka seperti kecewa, marah, sakit hati, kesehatan menurun, dan munculnya motivasi Berdasarkan pengakuan para korban, ketika mengetahui bahwa pasangananya berselingkuh, mereka menyatakan rasa sakit hati terhadap perselingkuhan yang dialami, sehingga korban melakukan tindakan negatif terhadappasangannyaseperti bersikap kasar, menghindar, dan tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Korban yang berposisi sebagai suami lebih melakukan tindakan agresif yakni melakukan pemukulan terhadap istri sebagai pelampiasan rasa kesal dan tidak terima diperlakukan demikian. Sedangkan korban yang berposisi sebagai istri lebih menunjukkan rasa sedih dengan menangis dan murung. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Emosi dan motivasi negatif ini merupakan uncoveringphase dalam proses pemberian forgiveness. Emosi dan motivasi negatif yang muncul berdampak padatidak terurusnya anak-anak dengan baik, hilangnya nafsu makan yang menyebakan sakit, pekerjaan terbengkalai, dan hilangnya keharmonisan rumah Dampak-dampak ini menunjukkan bahwaemosi dan motivasinegatif berpengaruh terhadap kondisifisik dan mental. Motivasi negatif sebagai respons terhadap pelanggaran interpersonal mengakibatkan stres secara fisik, dapat menciptakan suasana hati dan kondisi mental yang mirip dengan stres kronis, dapat merusak hubungan yang menyebabkan kecemasan dan depresi. Motivasi negatif yang ditunjukkan oleh korban kemudian menjadi sebuah kondisi dimana korban merasakan bahwasannya keadaan tersebut hanya membuat rugi pada dirinya sendiri. Para korban akhirnya mengungkapkan rasa sakit hati terhadap pasangannya dengan cara berbicara langsung dengan pasangaanya, ungkapan tersebut membuat emosi para korban sedikit reda. Mengungkapkan perasaan terluka merupakan cara yang dilakukan untuk menjalin kembali komunikasi sebagai usaha dalam memperbaiki hubungan (Kinanthi, 2018: . Berbicara secara langsung dengan pasangan tentunya membuka ruang terjalinnya komunikasi kembali dengan pasangan, tentunya hal tersebut dilakukan atas dorongan dari berbagai aspek atau pihak baik karena fakor nilai-nilai agama yang mereka yakini dan adanya pertimbangan demi masa depan anak khususnya keberlangsungan pendidikan anak. Kesadaran terkait dampak negatif yang dirasakan dan adanya pertimbangan untuk memaafkan pelakumerupakan decision phase dalam proses forgiveness. Setelah para korban menempati posisi decision phase, secara perlahan emosi negatif menghilang dan berubah dengan memunculkan peningkatan emosi positif, keadaan ini disebut dengan work phase. Pada fase tersebut para korban mulai menunjukkanforgiveness dalam tindakan nyata sebagai wujud pelaksanaan Tindakan nyata pemberian forgiveness ini ditunjukkan korban dengan bersikap dan berperilaku positif terhadap pasangan. Tindakan nyata dari IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan penerapan forgiveness oleh korban yaitu mampumelaksanakan tugasnya kembali berdasarkan fungsinya masing-masing baik sebagai suami maupun istri. Setelah korban mempu berperilaku positif terhadap pasangan, maka fase berikutnya yaitu memunculkan penyusunan kembali pandangan korban terhadap pasangan mereka yang merupakan deepening phase dalam proses forgiveness. Pada fase ini korban memandang bahwa kejadian tersebut menjadi suatu ujian yang harus dihadapi pasangan suami istri dalam mempertahankan pernikahannya. korban memiliki keyakinan bahwa jodoh sudah diatur oleh Allah Swt dan harus diterima apa adanya termasuk kekurangan yang dimiki. Hal inilah yang membuat korban mampu meningkatkan emosi positif sehingga kondisi rumah tangganya Forgiveness melibatkan transformasi dalam diri individu terkait penghentian emosi negatif dan peningkatan emosi positif. Forgiveness terhadap perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan karena adanya tiga faktor yaitu. faktor situasional, faktor relasional, dan faktor Faktor situasional berperan dalam pemberian forgiveness yaitu situasi dan kondisi rumah tangga yang tak lagi harmonis berdampak pada korban sekaligus anggota keluarga lainnya baik orang tua dan khususnya pada anak. Anak sulit belajar karena tidak adanya bimbingan dan pengawasan dari orang tua serta anak tidak mau sekolah. Atas keadaan tesebut korban mulai merindukan lagi keadaan rumah tangga yang harmonis sebelum perselingkuhan itu terjadi. Dari situlah korban berpikir untuk mengembalikan keadaan rumah tangganya harmonis seperti dulu lagi, korban mulai membuka komunikasi dengan pelaku. Pada faktor situasional korban memberikan forgiveness terhadap pelaku didasari oleh keadaan anak yang terlantar baik minat belajar di rumah dan juga keaktifannya ke sekolah. Anak menjadi malas belajar dengan lebih sering bermain game online hingga larut malam dan keesokan harinya tidak mau masuk sekolah dengan alasan mengantuk. Keadaan ini membuat korban rindu akan keharmonisan rumah tangganya yang dulu sehingga korban memberikan forgiveness pada pelaku. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Astri dan Sudarji . bahwa usaha mempertahankan rumah tangga merupakan suatu hal yang juga mengacu pada IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan nilai moralitas, yaitu pandangan bahwa sebuah pernikahan merupakan sesuatu yang berlangsung seumur hidup. Faktor relasional merupakan faktor kedua yang menjadi pertimbangan korban memberikan forgiveness pada pelaku. Permintaan maaf dari pelaku secara langsung kepada korban dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, membuat emosi negatif korban bertransformasi ke emosi positif. Korban kemudian memiliki keyakinan bahwa hubungan dengan pasangannya merupakan suatu ikatan yang perlu dipertahankan mengingat juga bagaimana dengan masa depan anak-anak mereka yang masih tetap perlu asuhan dari kedua orang tuanya. Hal inilah yang membuat para korban dapat memberikan forgiveness pada para Faktor kepribadian merupakan faktor yang juga mendasari para korban untuk memberikan forgiveness kepada para pelaku. Nilai agama yang dipegang olehpara korban yaitu sikap ikhlas dalam menerima segala hal tentang pasangan termasuk kekurangan yang dimiliki. Sikap ikhlas dan menerima segala kondisi pasangan inilah yang membuat korban mampu bertahan. Menjaga kehormatan keluarga juga merupakan nilai agama yang dimilikioleh korban, karena bagaimanapun pasanganmemiliki tugas dan fungsi saling melengkapi kekurangan yang dimiliki pasangan masing-masing. Selain itu korban juga memahami bahwa perceraian merupakan hal yang dibolehkan tapi dibenci oleh Allah Swt. Korban juga memiliki nilai agama untuk saling memaafkan sesuai anjuran dalam agama Islam karena sesama manusia harus saling memaafkan. Korban juga menganggap bahwa peristiwa perselingkuhan yang merekaalami merupakan sebuah ujian dalam hidup. Korban memiliki pandangan bahwa pasangan mereka saat ini merupakan jodoh atau pasangan hidup yangdiberikan oleh Allah Swt, sehingga segala kekurangan yang dimiliki pasangan harus ikhlas menerimanya. Nilai agama yang juga dimiliki oleh korban adalah rasa tanggung jawab dalam mengurus anak-anak yang masih harus dalam asuhan orang tua, korban beranggapan apabila kedua orang tua bercerai maka pola asuh anak akan berubah. Jika sebelumnya anak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, setelah orang tua bercerai maka salah satu dari orang tua tidak akan lagi dapat IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan memberikan kasih sayang secara maksimal. Keadaan tersebut pertimbangan yang sangat mendasar oleh para korban, bahwasannya perceraian pendidikannya, jika anak kurang pengawasan dari orang tua akan sulit belajar dan sangat rentan putus sekolah. Keberadaan kedua orang tua menjadi motivasi tersendiri bagi anak khususnya anak yang masih berada di bangku sekolah dasar. Sebagaimana hasil penelitian Zakki . 1: . menjelaskan bahwa motivasi internal seorang anak akan lahir dari dorongan orang tua, sanak famili dan anggota keluarga yang sering terjalin interaksi dan komunikasi. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian forgiveness terhadap perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan adalah demi kepentingan anak. Masa depan anak menjadi dasar penentuan sikap dari para korban perselingkuhan untuk memberikan forgiveness pada para pelaku. Adapun faktor pendukung pemeberian forgiveness oleh para korban adalah faktor situasional, faktor relasional, dan faktor kepribadian. Faktor situasional, yakni para korban merasa jenuh dengan keadaan yang terjadi akibat perselingkuhan yang dilakukan oleh pasanngannya, pekerjaan yang terbengkalai dan keadaan anak yang terlantar menjadi faktor utama penyebab kejenuhan tersebut. Korban kemudian merindukan kembali suasana harmonis yang pernah ada dalam kehidupan . Faktor relasional, yakni adanya permintaan maaf secara langsung dari pelaku kepada korban. Permintaan maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang diperbuat membuat korban memiliki anggapan masih adanya sisi baik dan tanggung jawab dari pelaku. Korban beranggapan bahwa bagaimanapun juga pelaku merupakan sosok yang masih dibutuhkan dalam keluarga khususnya bagi anak. Faktor kepribadian . , memberi maaf pada orang yang telah berbuat salah serta bersabar merupakan nilai agama yang paling tinggi. Anggapan tersebut membuat korban dapat menerima keadaan dan menganggap sebagai ujian sehingga dapat dengan ikhlas menjalani. Nilai agama tentang tanggung jawab mengasuh anak juga menjadi prioritas utama oleh korban untuk tetap IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan mempertahankan ikatan pernikahan. Tanggung jawab orang tua terhadap anak baik secara materi dan non materi khususnya keberlanjutan pendidikan anak merupakan kewajiban para orang tua yang akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat kelak. Tiga faktor tersebut menjadi titik balik para korban untuk membuka lagi komunikasi dengan pelaku, korban kembali menata emosi yang dulunya emosi negatif berubah menjadi emosi positif sehingga forgiveness dapat diberikan oleh korban terhadap pelaku perselingkuhan. Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan yang telah disimpulkan maka dapat penulis ajukan saran. mengingat keterbatasan peneliti dalam melakukan penelitian maka diharapkan akan ada penelitian selanjutnya tentang forgiveness terhadap perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan dengan informan pernikahan tanpa adanya keturunan atau anak, sehingga dapat diketahui lebih mendalam yang menjadi dasar pemberian forgiveness dan tetap mempertahankan pernikahan. mengingat banyaknya perselingkuhan yang terjadi, akan lebih baik jika dilakukan terapi pasangan atau konseling kepada istri atau suami sebagai korban perselingkuhan, untuk membantu istri atau suami dalam proses pemulihan terhadap luka batin yang dialami akibat perselingkuhan DAFTAR PUSTAKA