P- ISSN 1412-0380. E-ISSN 2615-272X PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 22 Nomor 1. Juni 2018 p 23 - 30 Film Dokumenter AuNyama SelamAy Dengan Gaya Expository Hanif Syahrul Mubarik. I Ketut Buda. Ni Kadek Dwiyani Institut Seni Indonesia Denpasar hanifsyahrul@gmail. Film dokumenter AuNyama SelamAy merupakan karya audio visual yang menampilkan tentang kehidupan masyarakat asli Bali yang beragama Islam. Kata AuNyama SelamAy berarti saudara yang beragama Islam. Film ini menggambarkan toleransi dan kerukunan beragama yang terjadi di Bali, khusunya di Desa Candikuning. Kecamatan Baturiti, kabupaten tabanan. Film dokumenter AuNyama SelamAy juga berfungsi sebagai media informasi untuk masyarakat tentang toleransi dan kerukunan beragama di Bali. Film dokumenter AuNyama SelamAy diharapkan bisa mengubah paradigma masyarakat awam yang menganggap semua umat Islam di Bali sebagai kaum pendatang. Pembuatan film dokumenter AuNyama SelamAy dengan gaya expository menitik beratkan pada informasi sejarah, toleransi, dan makna kata AuNyama SelamAy sendiri bagi masyarakat Candikuning. Bahasan tersebut didapat dari hasil riset dan wawancara dengan sepuluh narasumber, yaitu Kepala Dusun Kampung Islam Candikuning. Bendesa Adat Kampung Islam Candikuning. Ketua BPD Desa Candikuning. Tokoh Sesepuh Kampung Islam Candikuning. Sejarawan. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali. Tokoh Pemuda Kampung Islam Candikuning. Seniman Rudat dari Kampung Islam Candikuning. Juru Kunci Makam Keramat Gunung, dan Imam Masjid di Kampung Islam Candikuning. Hasil riset wawancara tersebut menjadi sebuah film dokumenter AuNyama SelamAy sebagai media informasi kerukunan beragama di Bali. Film dokumenter AuNyama SelamAy memiliki struktur tiga babak yaitu awal, tengah, dan akhir. Pada babak awal dalam film dokumenter AuNyama SelamAy menampilkan tentang sejarah Islam di Bali dan di Candikuning. Pada bagian isi, film dokumenter AuNyama SelamAy menampilkan tentang tradisi, toleransi dan makna kata AuNyama SelamAy sendiri bagi warga Kampung Islam Candikuning. Pada bagian akhir film ini menjelaskan tentang harapan-harapan narasumber untuk toleransi dan kerukunan beragama di Bali. Film ini juga menampilkan budaya tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW serta keindahan panorama alam yang ada di Kampung Islam Candikuning. Kata kunci: film dokumenter. AuNyama SelamAy, gaya expository. The AuNyama SelamAy documentary film is an audio visual work it displays the life of Balinese Muslims. AuNyama SelamAy means Muslims families. It illustrates tolerance and religious harmony occurred in Bali, especially in Candikuning Village. Baturiti District. Tabanan Regency. AuNyama SelamAy documentary also serves as an information media for community about tolerance and religious harmony in Bali. The documentary is expected to change the paradigm of ordinary people who regard All Muslims in Bali as immigrants. The making of AuNyama SelamAy documentary film using expository style emphasizes the historical information, tolerance, and meaning of the word AuNyama SelamAy for the Candikuning community. The discussion was obtained from the results of research and interviews with ten informants, namely Village Chief of Candikuning Islamic Village. Bendesa Adat of Candikuning Islamic Village. Chairman of BPD Candikuning Village. Elder of Candikuning Islamic Village. Historian. Chairman of Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali. Youth Figure of Candikuning Islamic Village. Rudat Artist from Candikuning Islamic Village. Interpreter of the Sacred Mountain Tomb, and Imam Masjid in Candikuning Islamic Village. The results of the interview are collaborated as a medium of information on religious harmony in Bali. AuNyama SelamAy documentary has three round structures, such as beginning, middle, and end. In the early stages of the documentary AuNyama SelamAy showcases the history of Islam in Bali and in Candikuning. In the contents, the documentary film AuNyama SelamAy presents about the tradition, tolerance and meaning of the word AuNyama SelamAy for the citizens of Kampung Islam Candikuning. At the end of this film explains the expectations of resource persons for religious tolerance and harmony in Bali. The film also features a cultural tradition of the Maulid of the Prophet Muhammad SAW and the beauty of natural panorama in the Islamic Village of Candikuning. Keywords: documentary film. AuNyama SelamAy, expository style Proses review: 15 - 29 mei 2018, dinyatakan lolos 7 juni 2018 Hanif Syahrul Mubarik. I Ketut Buda. Ni Kadek Dwiyani (Film Dokumenter AuNyama SelamAy. PENDAHULUAN Film dokumenter adalah sebuah usaha untuk mencari pola-pola dan keteraturan-keteraturan tentang fenomena yang ada di sekitar kita (Tazi L, 2010:. Sebagai sebuah film, keteraturan-keteraturan atau pola-pola itu kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita dalam medium audio-visual. Menurut Misbach Yusa Biran, film dokumenter adalah suatu dokumentasi yang diolah secara kreatif dan bertujuan untuk mempengaruhi penontonnya. Film dokumenter merupakan film yang lebih menonjolkan fakta dan data dari topik yang akan diangkat. Hal itu menjadi kelebihan film dokumenter dengan genre film lainnya. Topik yang akan diangkat sebagai objek penciptaan dalam tugas akhir ini adalah tentang kerukunan beragama yang ada di Indonesia, khusunya yang ada di Bali. Kerukunan beragama di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Di Bali, kerukunan beragama ditemukan dalam bentuk banyaknya etnis lain yang hidup dan tinggal di Bali. Contohnya adalah Kampung Islam Candikuning di Kecamatan Baturiti. Kabupaten Tabanan. Menurut Dhurorudin dalam bukunya Muslim Bali: mencari kembali Harmoni yang Hilang. Kampung Islam Candikuning merupakan salah satu kampung Islam yang ada di Bali. Kampung Islam ini merupakan bagian dari sejarah perlawanan masyarakat Bali menghadapi kolonial Belanda. Warga Kampung Islam Candikuning asal muasalnya adalah penduduk Sindhu dari Kabupaten Karangasem. Mereka beretnis Lombok, sebab era lama Lombok memang berada di bawah kekuasaan kerajaan Gelgel dan akhirnya dikuasai kerajaan Karangasem sebagai salah satu pecahan dari kerajaan Gelgel. Muasal penempatan Muslim di Candikuning ini ada dua versi: Pertama, kaum muslim sengaja ditempatkan oleh raja Karangasem untuk menjaga keamanan wilayah ujung dekat Mengwi, seiring dengan tradisi perang kala itu. Kedua, kaum muslim sengaja diberi tanah palungguhan di tempat ini sebagai penghargaan raja Karangasem atas jasa dan atau bantuan mereka dalam perang melawan Belanda yang ingin menduduki Bali. Terlepas dari persoalan dua versi tadi, kedatangan kaum Muslim kala itu sebenarnya tidak eksklusif, sebab penempatan mereka dilakukan bersama-sama dengan kaum Hindu. Jadi, cikal bakal wilayah Candikuning ini sebenarnya dibangun oleh dua komunitas keagamaan yang sama-sama Dua kaum ini, bekerjasama membuka wilayah baru, serta bersama pula untuk membangun dan mengembangkannya. Hingga sekarang kerukunan beragama antar umat Hindu dan Islam selalu terjaga di wilayah Candikuning. (Dhurorudin, 2014:. Menurut Dhurorudin dalam bukunya Muslim Bali. Komunitas muslim di Bali biasanya dikenal dengan sebutan AuNyama SelamAy. AuNyama SelamAy artinya adalah saudara atau kerabat dari kalangan Islam. Sebutan ini merupakan Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 sebutan khas dari masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu kepada kerabat yang beragama Islam (Dhurorudin, 2014:. Kerukunan beragama di Desa Candikuning sepatutnya diketahui oleh masyarakat luas melalui konsep film dokumenter dengan gaya expository yang berjudul AuNyama SelamAy. Film dokumenter AuNyama SelamAy menggunakan konsep expository karena konsep ini memiliki pola cerita yang jelas sehingga penonton lebih mudah memahami informasi yang disajikan. Dokumenter adalah media komunikasi yang mampu mempengaruhi cara pandang individu yang kemudian akan membentuk karakter suatu bangsa dalam pranata sosial yang mempengaruhi tatanan sosial Film dokumenter merupakan suatu karya film atau video berdasarkan realita serta fakta peristiwa. Film dokumenter AuNyama SelamAy menggunakan konsep expository dengan genre ilmu pengetahuan, sehingga nantinya film dokumenter AuNyama SelamAy menjadi bahan informasi bagi masyarakat luas. Selain menjadi bahan informasi, film dokumenter AuNyama SelamAy diharapkan juga menjadi salah satu bukti bentuk keragaman budaya yang ada di Indonesia pada umumnya dan di Bali khususnya. Film dokumenter AuNyama SelamAy menampilkan data dan fakta yang ada di Desa Candikuning, khususnya di Kampung Islam Candikuning. Film ini juga menampilkan budaya tradisi Maulid Nabi yang ada di Kampung Islam Candikuning. Permasalahan yang akan diangkat adalah tentang paradigma masyarakat awam yang menganggap semua umat Islam di Bali adalah pendatang. Dalam film ini juga menampilkan wawancara dengan warga Kampung Islam candikuning yang tidak suka disebut sebagai pendatang dan diharapkan bisa merubah paradigma tersebut. METODE PENELITIAN Dalam menciptakan sebuah karya membutuhkan metodemetode untuk memperkuat data yang ada, metode yang digunakan dalam penciptaan karya film dokumenter yang berjudul AuNyama SelamAy adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara. Metode observasi Metode observasi digunakan untuk mengamati langsung budaya yang ada di Kampung Islam Candikuning. Penulis akan mengunjungi kawasan Kampung Islam Candikuning dan sekitarnya, sehingga data yang dikumpulkan akan sesuai dengan fakta. Metode Wawancara Metode wawancara digunakan untuk mengetahui fenomena budaya yang ada di Kampung Islam Candikuning dengan beberapa warga Kampung Islam Candikuning. Pemilihan narasumber akan dilakukan dengan survey kepada warga Kampung Islam Candikuning. Survey ini akan Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 dilakukan secara acak. Setelah melakukan survey, penulis mendapatkan beberapa narasumber sebagai pendukung dalam penciptaan film dokumenter AuNyama SelamAy ini. HASIL ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA Film dokumenter AuNyama SelamAy merupakan sebuah media audio visual yang memberikan informasi-informasi tentang sejarah Islam di Bali, bentuk-bentuk tradisi dan budaya yang berada di Kampung Islam Candikuning, serta memberikan informasi tentang toleransi dan kerukunan beragama yang ada di wilayah Desa Candikuning. AuNyama SelamAy sendiri merupakan sebutan bagi masyarakat yang asli Bali, namun memeluk agama Islam. Format Karya Format karya film ini menggunakan format film dokumenter expository dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Film dihasilkan dalam format digital dengan durasi 40 menit. Film dokumenter AuNyama SelamAy menampilkan tentang sejarah Islam pada umumnya dan khususnya di Kampung Islam Candikuning. Selain itu, film ini juga menampilkan tradisi dan budaya, serta toleransi dan kerukunan beragama yang terjadi di Desa Candikuning. Log Line AuNyama SelamAy merupakan sebuah sebutan untuk masyarakat asli Bali yang beragama Islam. Sebutan yang berarti saudara yang beragama Islam ini menjadi menarik karena yang memberikan sebutan tersebut adalah masyarakat Hindu. Hingga sekarang sebutan tersebut masih dipakai oleh masyarakat Hindu yang hidup berdampingan dengan masyarakat Islam, seperti di Desa Candikuning. Outline Panorama alam yang ada di sekitar Desa Candikuning. Sejarah Islam di Bali dan Sejarah Kampung Islam Candikuning. Wilayah dan adat istiadat yang ada di Kampung Islam Candikuning. Tradisi Maulid Nabi yang ada di Kampung Islam Candikuning. Sejarah Makam Keramat Gunung. Penjelasan tentang Tarian Rudat. Toleransi antar umat beragama. Dampak bom Bali terhadap toleransi beragama. Penjelasan tentang arti dan makna AuNyama SelamAy. Statement tentang warga muslim sebagai pendatang. Harapan untuk toleransi beragama di Bali Desain Produksi Tema Film ini bertemakan tentang Kerukunan Beragama Judul Judul yang sesuai dengan tema yang diangkat adalah AuNyama SelamAy. AuNyama SelamAy merupakan sebuah sebutan untuk masyarakat asli Bali yang beragama Islam Durasi Film ini berdurasi 40 menit 26 detik dengan format digital Segmentasi Penonton PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Target penonton film dokumenter AuNyama SelamAy adalah berusia 13 tahun ke atas, karena terdapat informasi-informasi yang bisa mendidik anak-anak remaja Narasumber Ariel D. Azkacetta (Kepala Dusun Kampung Islam Candikunin. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang kondisi kewilayahan dan toleransi yang ada di Desa Candikuning Khaeroni Saputro (Bendesa Adat kampung Islam Candikunin. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang adat istiadat yang ada di Kampung Islam Candikuning Muhammad Ali Bick (Tokoh Sesepuh kampung Islam Candikunin. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang sejarah dan toleransi yang ada di Kampung Islam Candikuning Dr. I Putu gede Suwitha. SU (Sejarawa. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang sejarah Islam di Bali dan dampak bom Bali kepada warga muslim di Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet (Ketua Umum Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama Indonesi. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang dampak bom Bali kepada warga muslim dan kerukunan beragama yang ada di Bali I Gusti Ngurah Agung Artanegara. SH (Ketua Badan Perwakilan Desa Candikunin. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang sejarah terbentuknya dan toleransi yang ada di Desa Candikuning Ahmad Sulthoni. SH (Tokoh Pemuda Kampung Islam Candikunin. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang peran pemuda dalam menjada toleransi di Desa Candikuning Jaelani (Seniman Ruda. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang sejarah dan perkembangan tarian rudat di kampung Islam Candikuning Faridin (Juru Kunci Makam Keramat Gunun. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang sejarah makam keramat gunung di puncak Bukit Bedugul Umar Bahsan (Imam Masjid di wilayah Kampung Islam Candikunin. Beliau lebih banyak menjelaskan tentang rangkaian tradisi Maulid Nabi yang ada kampung Islam Candikuning Sinopsis Semenjak bom Bali tahun 2002, banyak yang menilai umat Islam sebagai teroris dan dianggap sebagai masyarakat pendatang di Bali. Padahal umat Islam asli di Bali sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Hal ini menjadi paradigma baru di masyarakat awam yang tidak mengetahui sejarah umat Islam di Bali. Film ini diharapkan bisa merubah paradigma tersebut sesuai dengan sejarah yang benar Pesan Pesan yang ingin disampaikan dalam film dokumenter AuNyama SelamAy untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa orang asli Bali itu tidak hanya umat Hanif Syahrul Mubarik. I Ketut Buda. Ni Kadek Dwiyani (Film Dokumenter AuNyama SelamAy. Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 Gambar 1. Wilayah Kampung Islam Candikuning Gambar 3. Screenshot opening film yang menampilkan pemukiman Kampung Islam Candikuning Gambar 2. Screenshot opening film yang menampilkan keindahan Puncak Mangu Gambar 4. Screenshot wawancara dengan Dr. I Putu Gede Suwitha. SU Hindu saja, ada umat Islam yang juga asli Bali Treatment Film dokumenter AuNyama SelamAy menggunakan struktur 3 babak. Setiap babak akan memaparkan topik tertentu berdasarkan struktur cerita yang sudah dibangun Film dokumenter AuNyama SelamAy menggunakan pendekatan naratif dengan konstruksi konvensional yaitu struktur tiga babak . wal, tengah, dan akhi. Film dokumenter AuNyama SelamAy menampilkan 10 narasumber yang terdiri dari Kepala Dusun Kampung Islam Candikuning. Bendesa Adat Kampung Islam Candikuning. Ketua BPD Desa Candikuning. Tokoh Sesepuh Kampung Islam Candikunng. Sejarawan. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali. Tokoh Pemuda Kampung Islam Candikuning. Seniman Rudat dari Kampung Islam Candikuning. Juru Kunci Makam Keramat Gunung, dan Imam Masjid di Kampung Islam Candikuning. Babak Awal Pada babak awal. Film dokumenter AuNyama SelamAy menampilkan panorama alam ditampilkan di opening film. Hal ini bertujuan untuk menampilkan keindahan alam yang ada di wilayah desa Candikuning. Gambar panorama alam sendiri diiringi dengan suara azan, diharapkan bisa memberikan ketenangan saat menonton. Panorama alam yang ditampilkan seperti, keindahan Puncak Mangu dari kejauhan, keindahan masjid dan pura dari kejauhan dan keindahan pemukiman Kampung Islam Candikuning dari atas bukit Bedugul. Framing pada bagian ini lebih banyak menggunakan extreme long shot, karena ingin menunjukkan keindahan panorama alam yang luas. Bagian opening ini diakhiri dengan tipografi tulisan AuNyama SelamAy. Setelah opening, film dilanjutkan dengan menampilkan wawancara-wawancara tentang sejarah Islam di Bali dan sejarah Islam di Candikuning. Bagian ini dijelaskan oleh 4 narasumber yaitu Bapak Dr. I Putu Gede Suwitha. SU sebagai sejarawan. Bapak Ariel D. Azkacetta sebagai Kepala Dusun Kampung Islam Candikuning. Bapak H. Muhammad Ali Bick sebagai tokoh sesepuh Kampung Islam Candikuning, dan Bapak I Gusti Ngurah Agung Artanegara. SH sebagai Ketua BPD Desa Candikuning. Bapak Dr. Putu Gede Suwitha. SU menjelaskan tentang sejarah Islam di bali. Bapak Ariel D. Azkacetta. Muhammad Ali Bick, dan Bapak I Gusti Ngurah Agung Artanegara. SH menjelaskan tentang terbentuknya Desa Candikuning. Pada bagian ini, akan menampilkan framing medium shot dan close up setiap narasumber yang berbicara. Pergantian framing ini digunakan agar penonton tidak merasa bosan saat menonton. Pada bagian selanjutnya, memasuki topik tentang adat istiadat yang ada di Kampung Islam Candikuning serta kondisi kewilayahan di Desa Candikuning, khusunya wilayah Kampung Islam Candikuning. Sebelum memasuki topik tersebut. Film ini diselingi dengan gambar-gambar panorama alam dan pemukiman yang ada di Kampung Islam Candikuning. Hal ini bertujuan agar bisa memberi jeda dengan topik sebelumnya. Topik adat istiadat dan kondisi kewilayahan ini dijelaskan oleh Bapak H. Muhammad Ali Bick. Bapak Khaeroni Saputro, dan Bapak Ariel D. Azkacetta. Bapak Khaeroni Saputro merupakan Bendesa Adat dari Kampung Islam Candikuning. Bapak H. Muhammad Ali Bick menjelaskan tentang alasan dibentunya Bendesa Adat di Kampung Islam Candikuning. Bapak Khaeroni Saputro menjelaskan tentang bendesa adat dari fungsi hingga strukturnya. Struktur kepengurusan bendesa adat ditampilkan sebagai gambar insert. Sementara itu. Bapak Ariel D. Azkacetta akan Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Gambar 5. Screenshot wawancara dengan H. Muhammad Ali Bick Gambar 7. Screenshot wawancara dengan Bapak Umar Bahsan Gambar 6. Screenshot footage maulid nabi Gambar 8. Screenshot footage tarian rudat menjelaskan tentang pembagian tempekan yang ada di kampung Islam Candikuning. Pada penjelasan pembagian tempekan, ditambahkan insert gambar sesuai dengan pembagian tempekan tersebut, dalam hal ini adalah masjid dan musholla yang ada di kawasan Kampung Islam Candikuning. Bagian ini menampilkan framing medium shot dan close up pada narasumber, agar penonton tidak melihat satu framing yang sama. mat Gunung, yang menjadi salah satu bukti peninggalan Bagian, ini, akan dijelaskan oleh H. Muhammad Ali Bick dan Juru Kunci Makam Keramat Gunung yaitu Bapak H. Faridin. Bapak H. Muhammad Ali Bick menjelaskan tentang sejarah singkat ditemukannya makam. Sementara itu Bapak H. Faridin menjelaskan secara detail tentang sejarah ditemukannya makam. Bagian ini ditambahkan insert gambar makam yang sedang dikunjungi oleh para peziarah. Selanjutnya film ini menampilkan footage-footage kegiatan tradisi maulid nabi. Footage-footage ini diringi dengan musik sholawat nabi. Pada bagian ini dimaksudkan sebagai jeda dari bagian selanjutnya. Bagian ini menjadi penutup pada babak awal film. Babak Tengah Memasuki babak tengah, film dilanjutkan dengan masuk ke bagian yang membahas tentang tradisi Maulid Nabi yang ada di Kampung Islam candikuning. Tradisi ini akan dijelaskan oleh Bapak H. Muhammad Ali Bick dan Bapak Umar Bahsan. Bapak umar bahsan merupakan Imam Masjid Al Hikmah yang berada di kawasan Kampung Islam Candikuning. Bapak H. Muhammad Ali bick menjelaskan tentang tradisi Maulid di Kampung Islam Candikuning. Sementara itu. Bapak Umar Bahsan menjelaskan rangkaian acara tradisi Maulid Nabi. Pada bagian ini ditambahkan gambar insert tentang seluruh rangkaian acara yang dilakukan. Wawancara dengan Bapak Umar Bahsan dilakukan di tengah keramaian acara. Hal ini dimaksudkan agar penonton bisa merasakan ikut dalam rangkaian acara Selanjutnya ditampilkan footage-footage Makam Keramat Gunung di Puncak Bukit Bedugul. Footage-footage ini diiringi dengan musik sholawat nabi. Bagian ini menjadi jeda dengan bagian selanjutnya. Pada bagian selanjutnya, film ini menampilkan pembahasan tentang Makam Kera- Film dilanjutkan dengan pembahasan tentang kesenian yang ada di Kampung Islam Candikuning khususnya tarian rudat. Bagian ini diawali dengan memperlihatkan sekilas tarian rudat yang diiringi juga dengan musiknya. Bagian ini dilanjutkan dengan wawancara dengan bapak Ariel D. Azkacetta yang menjelaskan tentang tradisi yang ada di Kampung Islam Candikuning. Wawancara ini ditambahkan dengan gambar insert tarian rudat dan hadrah. Kemudian dilanjutkan dengan wawancara kepada Bapak Jaelani sebagai seniman rudat yang menjelaskan perkembangan tarian rudat sampai sekarang. Wawancara ini tetap ditambhkan insert gambar tarian rudat. Pada bagian ini, suara musik rudat di kecilkan, hal ini dimaksudkan agar penonton bisa menikmati musik rudat tersebut. Bagian ini diakhiri dengan footage-footage tarian rudat. Selanjutnya film memasuki bagian yang membahas tentang toleransi yang ada di Desa Candikuning. Bagian ini akan dijelaskan oleh Bapak H. Ahmad Sulthoni. Bapak Gusti Ngurah Agung Artanegara. Bapak Khaeroni Saputro, dan Bapak Ariel D. Azkacetta. Bapak H. Ahmad Sulthoni merupakan tokoh pemuda di Kampung Islam Candikuning. Bapak H. Ahmad Sulthoni menjelaskan tentang toleransi di desa Candikuning dari sudut pandang pemuda. Bapak Gusti Ngurah Agung Artanegara menjelaskan toleransi Desa Candikuning. Bapak Khaeroni Saputro menjelaskan bentuk toleransi di Desa Candikuning. Sementara itu. Ba- Hanif Syahrul Mubarik. I Ketut Buda. Ni Kadek Dwiyani (Film Dokumenter AuNyama SelamAy. Gambar 9. Screenshot wawancara dengan Bapak I Gusti Ngurah Agung Artanegara. SH Gambar 11. Screenshot footage anak-anak yang sedang bermain Gambar 10. Screenshot footage kegiatan jual beli di pasar Candikuning Gambar 12. Screenshot footage anak-anak yang sedang mengaji pak Ariel D. Azkacetta menjelaskan tentang bukti toleransi yang ada di Kampung Islam Candikuning. Bagian ini merupakan pendapat dari masing-masing narasumber tentang toleransi yang ada di Desa Candikuning. Jadi, penambahan gambar insert tidak terlalu banyak, hanya melakukan pergantian framing dari medium shot ke close up secara Hal ini dimaksudkan agar penonton bisa melihat dan mendengar pendapat dari setiap narasumbernya. Film dilanjutkan dengan menampilkan footage-footage kegiatan jual beli di pasar Candikuning. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada penonton tentang kegiatan jual beli yang ada di pasar Candikuning. Bagian ini diiringi dengan musik sholawat nabi. Selanjutnya film memasuki bagian yang membahas tentang dampak bom Bali bagi warga Desa Candikuning pada umumnya, dan Kampung Islam candikuning khususnya. Bagian ini dijelaskan oleh Bapak H. Ahmad Sulthoni. Bapak Ariel D. Azkacetta. Bapak Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, dan Bapak Dr. I Putu Gede Suwitha. Bapak Ahmad Sulthoni menjelaskan tentang dampak sebelum dan sesudah bom bali. Bapak Ariel D. Azkacetta menjelaskan tentang dampak bom Bali bagi warga Kampung Islam Candikuning. Bapak Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet menjelaskan tentang terorisme, dan Bapak Dr. I Putu Gede Suwitha menjelaskan secara umum tentang tragedi bom Bali. Pada bagian ini, ditambahkan insert gambar kegiatan-kegiatan masyarakat Kampung Islam Candikuning. Selain itu framing yang digunakan juga hampir sama dengan bagian sebelumnya, yaitu menggunakan medium shot dan close up. Untuk memberikan jeda antara bagian ini dengan bagian selanjutnya, ditampilkan footage-footage anak-anak yang sedang bermain. Jeda ini diiringi juga dengan musik sholawat nabi. Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 Selanjutnya film memasuki bagian yang membahas tanggapan tentang arti kata AuNyama SelamAy. Bagian ini dijelaskan oleh Bapak H. Muhammad Ali Bick. Bapak Gusti Ngurah Agung Artanegara. Bapak Ariel D. Azkacetta. Bapak Jaelani. Bapak H. Ahmad Sultoni, dan Bapak Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet. Narasumber-narasumber menjelaskan arti kata AuNyama SelamAy secara bergantian. Selama bagian ini, musik sholawat nabi tetap diperdengarkan, namun suaranya diperkecil. Framing pada bagian ini juga sama seperti sebelumnya, yaitu juga menggunakan medium shot, dan close up. Hal ini dimaksduknya agar penonton bisa melihat dan mendengar pendapat para narasumber secara langsung. Bagian selanjutnya menampilkan footage-footage anakanak yang sedang mengaji. Bagian ini masih diiringi dengan musik sholawat yang sama, namun kali ini dengan suara yang tidak dikecilkan. Selain dimaksudkan sebagai jeda dengan bagian selanjutnya, footage ini juga dimaksudkan untuk menampilkan semangat anak-anak yang rajin mengaji. Pada bagian selanjutnya, film akan menjelaskan tentang paradigma masyarakat yang menganggap semua umat Islam sebagai pendatang. Hal ini dijelaskan oleh Bapak Jaelani. Bapak Khaeroni Saputro. Bapak H. Ahmad Sulthoni. Bapak Dr. I Putu gede Suwitha, dan Bapak Ariel D. Azkacetta. Pendapat-pendapat narasumber ini ditampilkan dengan framingmedium shot dan close up secara bergantian. Bagian ini juga tetap diiringi dengan musik sholawat yang suaranya sudah diperkecil. Bagian ini merupakan bagian penutup dari babak tengah. Babak Akhir Pada babak akhir, film menampilkan tentang harapan-harapan toleransi dan kerukunan beragama dari narasumber-narasumber. Bagian ini diawali dengan footage-footagetimelapse panorama alam dan diiringi dengan musik Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 Gambar 13. Screenshot footage timelapse matahari terbit Gambar 14. Screenshot footage hyperlapse Pura Ulun Danu Beratan sholawat nabi yang berbeda. Footagetimelapse yang pertama menampilkan timelapse matahari terbit dan bukit di seberang danau Beratan. Harapan yang pertama dan kedua, dijadikan satu bagian, harapan tersebut disampaikan oleh Bapak H. Ahmad Sulthoni dan Bapak Ariel D. Azkacetta. Kemudian dilanjutkan dengan menampilkan kembali timelapse kegiatan-kegiatan pemuda. Harapan yang ketiga dan keempat dijadikan 1 bagian juga, harapan tersebut disampikan oleh Bapak H. Muhammad Ali Bick dan Bapak Gusti Ngurah Agung Artanegara. Film kembali dilanjutkan dengan hyperlapse pura dan masjid. Harapan selanjutnya disampaikan oleh Bapak Khaeroni Saputro dan dilanjutkan kembali dengan timelapse wisatawan yang berkunjung ke pura dan warga pulang dari sholat jumat. Kemudian dilanjutkan oleh harapan dari Bapak Dr. I Putu Gede Suwitha. Film dilanjutkan dengan menampilkan timelapse terakhir yaitu menampilkan timelapse Pura Ulun Danu dan Matahari tenggelam. Sebelum memasuki credit tittle, bagian ini diakhiri dengan harapan dari bapak Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet. PENUTUP Memvisualkan budaya yang ada di kampung Islam Candikuning ke dalam film dokumenter memerlukan tiga tahapan, yaitu praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Tahapan praproduksi yang diperlukan untuk membuat sebuah film dokumenter adalah melakukan riset berupa studi pustaka, wawancara, dan observasi tentang toleransi yang ada di Kampung Islam Candikuning. Setelah melakukan tahap riset pada praproduksi, penulis mengurus perizinan syuting dan menentukan narasumber yang dibutuhkan dalam pembuatan film AuNyama SelamAy ini. Tahap selanjutnya adalah tahap produksi. Tahap produksi adalah tahap pengambilan gambar sesuai dengan jadwal yang sudah PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Gambar 15. Screenshot credit tittle Jadwal yang sudah dibuat, sewaktu-waktu bisa berubah dikarenakan data dan fakta di lapangan belum tentu sama dengan data dan fakta yang didapat pada saat riset. Pengambilan gambar untuk konsep dokumenter expository dibuat sesantai mungkin untuk membuat narasumber menjadi nyaman dalam menyampaikan statement. Selain itu, dalam tahap produksi juga melakukan pengambilan gambar untuk footage-footage yang sesuai dengan isi wawancara dari setiap narasumber. Tahap selanjutnya adalah tahap yang terakhir dalam pembuatan film dokumenter, yaitu tahap pasca produksi. Dalam tahap ini, proses yang paling penting adalah proses editing. Proses editing dapat dibagi menjadi 2, yaitu offline editing dan online editing. Offline editing adalah proses untuk merangkai gambar menjadi sebuah cerita film yang utuh. Setelah film sudah terbentuk secara utuh, dilanjutkan ke proses online editing. Online editing adalah proses untuk memperhalus gambar dan suara agar bisa dinikmati oleh penonton secara baik. Pesan budaya yang ada dalam film AuNyama SelamAy sebagai media kerukunan beragama adalah toleransi yang ada di Desa Candikuning sudah terjadi sejak pembentukan Desa Candikuning. Toleransi tersebut dilakukan oleh dua umat, yaitu umat Islam dan umat Hindu yang dijaga sampai sekarang. Selain itu, umat Islam yang ada di Desa Candikuning biasa dipanggil dengan sebutan AuNyama SelamAy, yang artinya adalah saudara yang beragama Islam. Sebutan tersebut diberikan oleh umat Hindu, karena umat Islam yang ada di Desa Candikuning sudah dianggap saudara. Ada fakta unik yang ada di Desa Candikuning, yaitu tidak ada yang menikah antara Banjar Candikuning I . mat Hind. dengan Banjar Candikuning II (Umat Isla. , karena sudah dianggap menjadi saudara sendiri. Pesan-pesan tersebut untuk memberikan informasi kepada penonton untuk saling menjaga toleransi antarumat beragama agar tercipta sebuah kedamaian. DAFTAR RUJUKAN Ali Ahmad. Haidlor. Kasus-kasus Aktual Hubungan Antarumat Beragama di Indonesia. Puslitbang Kehidupan Keagamaan. Jakarta Armantono. RB. Skenario Teknik Penulisan Struktur Cerita Film. FFTV-Press. Jakarta Aryawaningrat P. I Gusti Ayu Agung. Penyutradaraan Film Dokumenter Tajen Dengan Gaya Expository. Skripsi Jurusan Televisi dan Film Institut Seni Indonesia Denpasar. Denpasar Hanif Syahrul Mubarik. I Ketut Buda. Ni Kadek Dwiyani (Film Dokumenter AuNyama SelamAy. Ayawailia. Gerzon R. Dokumenter dari Ide Sampai Produksi. FFTV-IKJ Press. Jakarta Ayu Pamungkas. Epriliana Fitri. Karya Film AuMataAy Visualisasi Bipolar Disorder. Tesis Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Denpasar. Denpasar Bernard. Sheila Curran. Documentary Storytelling 2nd Edition. Focal Press. United States of America Dhurorrudin. Muslim Bali: Mencari Harmoni yang Hilang. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Dwiloka. Bambang. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Rineka Cipta. Jakarta Kartika. Sony Darsono. Estetika. Rekayasa Sains. Bandung Lana Sari. Putu Dea Chessa, . Film dokumenter Nginang Sebagai Media Edukasi Kesehatan. Skripsi Jurusan Televisi dan Film Institut Seni Indonesia Denpasar. Denpasar Mabruri KN. Anton. Manajemen Produksi Program Acara TV. Gramedia. Jakarta Mona. Undang-Undang Perfilman. Penerbit Pustaka Mahardika. Jakarta Naratama. Menjadi Sutradara Televisi Dengan Single dan Multicamera. Gramedia. Jakarta Nichols. Bill. Introducing to Documentary. Indiana University Press. United States of America Parimartha dkk. Bulan Sabit di Pulau Dewata: Jejak Kampung Islam Kusamba-Bali. Huma Printing & Design Graphic. Yogyakarta Pratista. Himawan. Memahami Film. Homerian Pustaka. Yogyakarta Rosenthal. Alan. Writing, directing, and Producing Documentary Films and Videos 3rd Edition. Southern Illinois University Press United States of America Zoebazary. Ilham. Kamus Istilah Televisi & Film. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Volume 22. Nomor 1. Juni 2018