E-ISSN : 2797-1910 Open Acces Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025 Page 186-199 DOI : 10. 37274/ukazh. Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab Menggunakan Modul Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) Yusuf Ridho1. Wasilah2. Nazarmanto3 1,2,3 Universitas Islam Negeri Raden Fatah. Palembang. Indonesia E-mail: * ysufridho21@gmail. com1, wasilah_uin@radenfatah. nazarmanton16@gmail. Submission: 21-04-2025 Revised: 22-05-2025 Accepted: 19-06-2025 Published: 28-06-2025 Abstract This study aims to evaluate the effectiveness of Arabic language learning using modules based on Higher Order Thinking Skills (HOTS) in enhancing the higher-order thinking abilities of fifth-grade students at MIN 2 Palembang. Employing a mixed-methods approach with a sequential explanatory design, the research began with the collection and analysis of quantitative data through pre-tests and post-tests, followed by qualitative data obtained from interviews, observations, and The findings indicate that prior to the implementation of the HOTS-based module, learning was still conventional and teacher-centered, which limited the development of students' critical and creative thinking skills. After the module was implemented, there was a notable increase in the average learning outcomes, from 74. 83 to 80. Furthermore, interviews with teachers and students confirmed that this approach was more engaging, challenging, and encouraged active cognitive involvement. Therefore. Arabic language learning based on HOTS has proven effective in improving both student achievement and higher-order thinking skills. This research contributes to the development of innovative teaching strategies in madrasahs, particularly in strengthening higher-order thinking literacy within Arabic language education. Keywords: Arabic language learning. Module. Higher Order Thinking Skills (HOTS) Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pembelajaran Bahasa Arab menggunakan modul berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) terhadap peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas V MIN 2 Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan model sequential explanatory yang diawali dengan pengumpulan dan analisis data kuantitatif melalui pre-test dan post-test, kemudian dilanjutkan dengan data kualitatif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sebelum menggunakan modul HOTS masih bersifat konvensional dan berpusat pada guru, sehingga kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif Setelah diterapkannya modul berbasis HOTS, terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dari 74,83 menjadi 80,17. Selain itu, hasil wawancara dengan guru dan peserta didik memperkuat temuan bahwa pendekatan ini lebih menarik, menantang, dan memicu keterlibatan kognitif siswa secara aktif. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Arab berbasis HOTS terbukti efektif dalam mendorong peningkatan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pembelajaran inovatif di madrasah, khususnya dalam penguatan literasi berpikir tingkat tinggi pada mata pelajaran Bahasa Arab Kata kunci: HOTS, modul , pembelajaran Bahasa Arab. A 2025 by the authors. This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution- ShareAlike 4. 0 International License. ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab Menggunakan Modul Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) PENDAHULUAN Bahasa Arab memiliki posisi strategis dalam sistem pendidikan dasar, khususnya di madrasah ibtidaiyah, karena tidak hanya sebagai mata pelajaran formal(Wasilah. Jumhur, and Cahyani 2. , tetapi juga sebagai alat untuk memahami sumber ajaran Islam sekaligus membentuk karakter dan kecakapan berpikir siswa (Irmansyah and Pratiwi 2. Namun, realitas pembelajaran Bahasa Arab di tingkat madrasah ibtidaiyah masih menunjukkan berbagai hambatan(Nazarmanto and Oktafia 2. Proses pembelajaran yang berlangsung belum sepenuhnya efektif dan belum mampu menumbuhkan daya pikir serta keterampilan berbahasa yang optimal bagi siswa (Muhammad. Irmansyah, and Febiola 2. Permasalahan utama yang sering ditemui di lapangan adalah penggunaan metode pembelajaran yang cenderung bersifat tradisional(Hidayah and . M Mukmin 2. , seperti penghafalan kosakata dan kaidah nahwu tanpa diiringi strategi pembelajaran aktif (Mukmin and Irmansyah 2. Hal ini berdampak pada rendahnya motivasi belajar siswa dan lemahnya kemampuan mereka dalam memahami serta menerapkan Bahasa Arab dalam konteks keseharian (Nazarmanto and Oktafia 2. Selain itu, keterbatasan media dan bahan ajar yang inovatif juga menjadi faktor penghambat yang signifikan (Rohayati Enok 2. Modul yang digunakan masih didominasi materi hafalan tanpa memberikan stimulus untuk berpikir kritis, menganalisis(Rosyidi 2. , mengevaluasi, ataupun mencipta(Hidayah. Mukmin, and Eltika 2. Permasalahan tersebut diperparah dengan rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran aktif, di mana sebagian besar siswa hanya menjadi penerima informasi pasif(Yuniar. Yuniar, amna 2. Hal ini berpotensi menghambat kemampuan mereka dalam membangun pengetahuan secara mandiri(Fadhila and Abdilah 2. Kecenderungan guru untuk berfokus pada penyampaian materi secara verbal tanpa mengintegrasikan aktivitas berbasis eksplorasi atau pemecahan masalah, menyebabkan kompetensi berpikir tingkat tinggi tidak berkembang secara optimal(MUKMIN and HIDAYAH 2. Oleh karena itu, pengembangan modul berbasis HOTS menjadi sangat relevan sebagai respons terhadap tantangan pembelajaran Bahasa Arab di jenjang madrasah ibtidaiyah. Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Yusuf Ridho. Wasilah. Nazarmanto Selain itu, relevansi penguatan HOTS dalam pembelajaran Bahasa Arab tidak hanya sebatas pada peningkatan hasil akademik, tetapi juga sebagai sarana membentuk karakter peserta didik yang adaptif dan berpikir reflektif. Dengan memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis, mengajukan pertanyaan(Prasetyo 2. , dan menyelesaikan masalah yang kontekstual, pembelajaran Bahasa Arab dapat menjadi lebih hidup dan bermakna(Kurnia et al. Hal ini juga sejalan dengan visi pendidikan abad ke-21 yang menekankan penguasaan literasi dasar, keterampilan berpikir tingkat tinggi, serta karakter produktif yang berorientasi pada pemecahan masalah dunia nyata(Mukmin et Kondisi ini bertolak belakang dengan tuntutan kurikulum abad ke-21 yang menekankan pentingnya pengembangan Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada peserta didik. HOTS bukan hanya menjadi sarana untuk meningkatkan hasil belajar, tetapi juga sebagai dasar membentuk generasi yang adaptif(Bashkin 2. , kreatif, dan solutif (WasilahAo Wasilah. N Nazarmanto. ST Utami 2. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam pengembangan bahan ajar, khususnya modul Bahasa Arab yang tidak hanya menyajikan informasi(NiAomah. Nasihah, and Munfaati 2. , tetapi mampu mengarahkan siswa untuk berpikir tingkat tinggi serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran (Nurani 2. Beberapa penelitian sebelumnya telah mencoba mengintegrasikan pendekatan inovatif dalam pembelajaran Bahasa Arab. Misalnya, (Nainggolan. Situmorang. , & Silaban 2. menunjukkan meningkatkan kompetensi bahasa secara praktis. (Hidayah. Mukmin, and Marfuah 2. juga menegaskan bahwa penggunaan media digital interaktif dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Sementara itu, (Yuniar Yuniar 2. meneliti peran teknologi digital dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Arab. Meski demikian, mayoritas penelitian tersebut masih terbatas pada aspek metode dan media, belum secara khusus mengembangkan modul pembelajaran Bahasa Arab yang berbasis HOTS dengan pendekatan yang komprehensif, terutama di lingkungan madrasah ibtidaiyah(Prasetyo. Noer, and Fajri 2. Dari paparan tersebut, terlihat adanya gap dalam pengembangan bahan ajar Bahasa Arab yang menerapkan prinsip HOTS secara eksplisit dan sistematis, baik dari sisi Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab Menggunakan Modul Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) isi maupun strategi penerapan di kelas(Hidayah 2. Selain itu, kajian yang menggunakan pendekatan penelitian campuran . ixed metho. untuk menguji efektivitas modul semacam ini masih jarang ditemukan, padahal pendekatan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih utuh terhadap peningkatan hasil belajar sekaligus pengalaman belajar siswa. Hal inilah yang menjadi dasar pentingnya dilakukan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan di kelas V MI Negeri 2 Palembang dengan dua tujuan Pertama, untuk menganalisis peningkatan hasil belajar Bahasa Arab siswa setelah menggunakan modul berbasis HOTS dibandingkan dengan siswa yang menggunakan modul konvensional. Kedua, untuk mengeksplorasi respons dan pengalaman belajar siswa terhadap penggunaan modul tersebut dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan pendekatan mixed method, pengumpulan data dilakukan secara kuantitatif melalui pretest dan posttest, serta secara kualitatif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, guna memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai efektivitas modul yang dikembangkan. Diharapkan penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan bahan ajar Bahasa Arab berbasis HOTS, tetapi juga memberikan manfaat praktis bagi guru, pengembang kurikulum, dan lembaga pendidikan dalam menerapkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap kebutuhan zaman(Wasilah Lebih jauh lagi, hasil kajian ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan model pembelajaran Bahasa Arab yang mendukung transformasi pendidikan abad 21(Rasyid 2. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di MI Negeri 2 Palembang dengan menggunakan pendekatan mixed method, yakni gabungan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif guna memperoleh pemahaman yang menyeluruh terhadap efektivitas modul pembelajaran Bahasa Arab berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Desain penelitian yang digunakan untuk pendekatan kuantitatif adalah quasi experiment dengan model one group pretest-posttest design, sementara pendekatan kualitatif menggunakan desain deskriptif untuk menggali informasi tambahan dari sudut pandang siswa dan Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Yusuf Ridho. Wasilah. Nazarmanto Subjek penelitian terdiri dari satu kelas V yang berjumlah 30 siswa dan menjadi kelompok eksperimen yang diberi perlakuan menggunakan modul berbasis HOTS. Seluruh siswa mengikuti pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah enam kali pertemuan pembelajaran. Instrumen penelitian kuantitatif berupa soal pilihan ganda yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas dilakukan dengan teknik Product Moment, sedangkan uji reliabilitas menggunakan rumus KR-20 sebagaimana dirujuk dari teori Sugiyono . Data hasil pretest dan posttest dianalisis menggunakan uji-t untuk melihat perbedaan rata-rata hasil belajar sebelum dan sesudah perlakuan. Sementara itu, data kualitatif diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi proses pembelajaran, dan dokumentasi aktivitas siswa. Wawancara dilakukan terhadap lima guru dan sepuluh siswa secara purposif, dan observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Dokumentasi meliputi foto, catatan lapangan, serta hasil kerja siswa. Pengumpulan data dilakukan secara paralel dan terpadu untuk memastikan kelengkapan informasi. Analisis data kualitatif dalam penelitian ini mengikuti model Miles dan Huberman . yang meliputi tiga tahap, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan Pada tahap reduksi data, peneliti menyeleksi dan memfokuskan data dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang relevan dengan implementasi modul HOTS di kelas. Selanjutnya, pada tahap penyajian data, informasi yang telah direduksi disusun dalam bentuk narasi deskriptif dan tabel untuk mempermudah interpretasi Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, yakni dengan menganalisis pola-pola yang muncul serta memastikan keterkaitan antar data untuk memperoleh gambaran dampak penggunaan modul terhadap keterlibatan kognitif siswa. Guna menjamin validitas dan kredibilitas data, digunakan teknik triangulasi sumber . embandingkan data dari guru dan sisw. , triangulasi teknik . enggabungkan wawancara, observasi, dan dokumentas. , serta member check untuk memverifikasi keakuratan informasi dari narasumber. Sementara itu, data kuantitatif dianalisis dengan menghitung skor pretest dan posttest setiap siswa, kemudian dikalkulasi dan dirataratakan. Efektivitas modul ditentukan dengan melihat peningkatan signifikan pada rata190 Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab Menggunakan Modul Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) rata nilai posttest dibandingkan pretest menggunakan uji-t. Selain itu, indikator efektivitas lainnya adalah adanya respons positif dari siswa dan guru terhadap proses pembelajaran dan konten modul berbasis HOTS. Dengan pendekatan gabungan ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai efektivitas modul sebagai media pembelajaran inovatif di madrasah. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah menyelesaikan penelitian tentang pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan modul berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS), peneliti memperoleh data hasil belajar yang diperoleh melalui beberapa metode berikut: Observasi Hasil observasi sebelum penerapan modul berbasis Higher Order Thinking Skills mengungkapkan bahwa siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami materi yang bersifat kompleks maupun dalam mengaitkan kosakata dengan konteks yang lebih luas. Mereka cenderung bergantung pada metode hafalan dan kurang mampu melakukan analisis atau mengembangkan gagasan baru dalam bahasa Arab. Penilaian terhadap keterampilan berpikir tingkat tinggi, seperti kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi, juga menunjukkan hasil yang rendah. Wawancara Untuk memperkuat temuan observasi, peneliti melakukan wawancara dengan guru mata pelajaran Bahasa Arab. Ibu Nurhastin. Pd. I, pada tanggal 28 November 2024. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang lebih mendalam mengenai pola pembelajaran sebelum dan sesudah penggunaan modul berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Menurut Ibu Nurhastin. Pd. AuPembelajaran bahasa Arab di kelas masih berfokus pada pengajaran dasar seperti kosakata, tata bahasa, dan pelafalan. Prosesnya cenderung konvensional, berpusat pada guru, serta lebih menekankan pada ceramah dan hafalan materi dari buku teks. Model seperti ini kurang memberi ruang bagi peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, atau kreatif. Ay Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa. AuRespon Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Yusuf Ridho. Wasilah. Nazarmanto peserta didik terhadap pembelajaran bervariasi. Sebagian siswa tampak antusias dan terlibat dalam berpikir mendalam atau bertanya, namun aktivitas pembelajaran yang monoton menyebabkan keterlibatan kognitif mereka menjadi rendah. Ay Tes Peneliti mengumpulkan data hasil belajar siswa melalui tes pre-test dan post-test sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan modul pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Pre-test diberikan sebelum proses pembelajaran untuk mengetahui kemampuan awal siswa, sedangkan post-test diberikan setelah modul diterapkan untuk mengukur peningkatan kemampuan mereka. Masing-masing tes terdiri dari 10 soal pilihan ganda, dengan ketentuan skor 10 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah, sehingga skor maksimal setiap siswa adalah 100. Nilai dari masing-masing siswa kemudian dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah seluruh siswa . untuk memperoleh nilai rata-rata kelas. Setelah itu, nilai rata-rata pre-test dan post-test dibandingkan untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar. Selain itu, data juga dianalisis menggunakan uji-t Berpasangan . aired sample t-tes. untuk menguji signifikansi peningkatan tersebut secara statistik . Berikut langkah Ae langkah nya Sebelum melakukan uji-t, peneliti terlebih dahulu memasukkan data pre-test dan posttest ke dalam lembar kerja SPSS dengan menempatkan masing-masing pada kolom yang Langkah selanjutnya adalah menguji normalitas data menggunakan uji ShapiroWilk untuk memastikan bahwa distribusi data memenuhi asumsi normalitas. Setelah data dinyatakan berdistribusi normal, uji-t berpasangan dilakukan dengan memilih menu Analyze, kemudian Compare Means, dan selanjutnya Paired-Samples T Test. Dalam tahap ini, variabel pre-test dan post-test dimasukkan ke dalam kotak paired variables untuk Setelah perintah dijalankan. SPSS menghasilkan output yang menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. dari perbandingan kedua nilai. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata pre-test sebesar 74,83 meningkat menjadi 80,17 pada post-test. Hal Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab Menggunakan Modul Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) ini mengindikasikan adanya perkembangan positif yang objektif terhadap hasil belajar siswa setelah diterapkannya modul berbasis HOTS. Tabel 1. Hasil Pre test dan Pos test Hasil Pre test 74,83 Pos test 80,17 Selain itu, hasil tanggapan siswa melalui survei sederhana juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa lebih tertantang dan termotivasi dengan model pembelajaran ini. Siswa merasa kegiatan belajar menjadi lebih menarik karena mereka diajak berpikir dan menciptakan, bukan hanya menghafal Pembahasan Gambar 1. Suasana pembelajaran Bahasa Arab menggunakan modul berbasis HOTS Peningkatan hasil belajar siswa setelah penggunaan modul berbasis HOTS menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif dalam pembelajaran Bahasa Arab(Irmansyah Modul HOTS mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang mencakup analisis (C. , evaluasi (C. , dan penciptaan (C. sebagaimana dijelaskan oleh Anderson dan Krathwohl . Hal ini menjadi pembeda dengan pendekatan pembelajaran konvensional yang hanya fokus pada aspek kognitif dasar seperti mengingat dan memahami (C1AeC. Hasil penelitian ini diperkuat oleh pernyataan guru yang menyebutkan bahwa sebelum penggunaan modul, siswa cenderung pasif karena pembelajaran didominasi metode ceramah. Kondisi tersebut selaras dengan pendapat (Emilia et al. yang Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Yusuf Ridho. Wasilah. Nazarmanto menyatakan bahwa dominasi guru dalam proses pembelajaran dapat menghambat pengembangan potensi berpikir kritis siswa. Dari sisi peserta didik, pengalaman belajar yang hanya berpusat pada hafalan membuat mereka merasa jenuh. Nazilla Az-Zahra menyatakan bahwa pembelajaran sebelumnya "hanya sebatas mengerjakan soal-soal dari buku tanpa adanya diskusi mendalam dan aktivitas(Kholief. Maslamah, and Qosim 2. yang menstimulasi kemampuan berpikir tinggi. " Hal ini mengindikasikan pentingnya perubahan pendekatan agar siswa lebih terlibat secara kognitif dan afektif. Penemuan ini juga sejalan dengan temuan (Zahra 2. yang mengungkapkan HOTS meningkatkan kemampuan berpikir reflektif dan argumentatif dalam pembelajaran bahasa(Febriyani and Hasan 2. Modul HOTS tidak hanya memfasilitasi pemahaman materi, tetapi juga melatih siswa untuk menerapkan konsep dalam situasi nyata. Dengan demikian, penggunaan modul berbasis HOTS dalam pembelajaran Bahasa Arab memberikan dampak positif tidak hanya terhadap hasil belajar(Efendi 2. , tetapi juga terhadap proses belajar yang lebih bermakna, partisipatif, dan menantang. SIMPULAN Pembelajaran Bahasa Arab menggunakan modul berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada siswa kelas V MI Negeri 2 Palembang secara keseluruhan terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan kognitif siswa secara lebih mendalam. Tujuan pertama, yakni peningkatan kemampuan berbahasa Arab melalui rangsangan berpikir tingkat tinggi, berhasil dicapai dengan baik sebagaimana dikemukakan oleh Jamanuddin . Modul HOTS yang diterapkan berhasil menciptakan suasana pembelajaran yang tidak hanya menitikberatkan pada hafalan dan pengulangan, tetapi juga menstimulasi pengembangan keterampilan berpikir kritis, evaluatif, dan kreatif siswa secara optimal. Dengan demikian, penggunaan modul ini memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil belajar bahasa Arab siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran yang menstimulasi proses berpikir tingkat tinggi dapat menjadi alternatif strategis dalam Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab Menggunakan Modul Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) menyusun materi ajar Bahasa Arab yang lebih kontekstual dan menantang. Dengan kata lain, model pembelajaran ini relevan untuk diterapkan pada kurikulum yang berorientasi pada kompetensi abad ke-21(Sabana and Imron n. ), di mana siswa tidak hanya dituntut mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata(Abdilah and Farisi 2. Secara teoritis, penelitian ini memperkuat urgensi pergeseran pendekatan pembelajaran Bahasa Arab dari teacher-centered menjadi student-centered berbasis konstruktivisme aktif. Hal ini memperluas pemahaman bahwa penguasaan bahasa tidak cukup hanya melalui penyajian materi yang linier, tetapi memerlukan stimulus kognitif yang menantang dan bermakna. Implikasi dari penelitian ini membuka peluang bagi pendidik dan pengembang kurikulum untuk mengadaptasi modul berbasis HOTS pada berbagai jenjang dan materi pembelajaran lainnya. Meskipun penelitian ini terbatas pada satu lokasi dan jenjang, hasilnya memberikan arah awal yang positif terhadap upaya peningkatan mutu pembelajaran Bahasa Arab secara menyeluruh. Ke depan, perlu dilakukan kajian lanjutan dengan skala yang lebih luas dan pendekatan beragam untuk memperkuat generalisasi serta validitas temuan ini dalam konteks yang lebih bervariasi. Batasan Penelitian. Penelitian ini dibatasi pada penerapan modul pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada siswa kelas V MI Negeri 2 Palembang dalam mata pelajaran Bahasa Arab. Fokus penelitian hanya pada aspek peningkatan kemampuan berbahasa Arab yang meliputi keterampilan berpikir kritis, evaluatif, dan kreatif melalui modul tersebut. Data yang digunakan terbatas pada nilai pre-test dan post-test, observasi, wawancara dengan guru, serta dokumentasi aktivitas pembelajaran. Penelitian ini belum mencakup analisis jangka panjang terkait dampak modul HOTS terhadap perkembangan kemampuan bahasa Arab siswa secara menyeluruh maupun aspek afektif dan sosial siswa dalam pembelajaran. Usulan untuk Penelitian Mendatang. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan dengan melibatkan variasi tingkat kelas dan jenjang pendidikan yang berbeda untuk melihat generalisasi efektivitas modul HOTS. Selain itu, pengembangan penelitian dapat mencakup analisis dampak jangka panjang serta Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Yusuf Ridho. Wasilah. Nazarmanto integrasi aspek afektif dan sosial dalam proses pembelajaran Bahasa Arab berbasis HOTS(Gunawan and Zulkhaidir 2. Peneliti juga dapat mengkaji penerapan metode pembelajaran lain yang dikombinasikan dengan modul HOTS guna mendapatkan hasil yang lebih komprehensif dan inovatif dalam meningkatkan kompetensi bahasa Arab Pendekatan mixed method yang lebih mendalam juga dianjurkan untuk menggali pengalaman dan persepsi siswa secara lebih luas. Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2025: 186-199 Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab Menggunakan Modul Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) DAFTAR PUSTAKA