INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 MUKODI Revitalisasi Islam Nusantara di Era Digital: Antara Harapan dan Kenyataan ABSTRAKSI: Artikel ini Ae dengan menggunakan pendekatan kualitatif, metode historis, tinjauan literatur, dan analisis deskriptif Ae bertujuan untuk merekonstruksi wajah Islam Nusantara di era digital. Wajah santun Islam yang selama ini ditampilkan, dijaga, dirawat, dan ditumbuhkembangkan oleh para AuSalafussholihAy, seperti Wali Songo. Ulama. Kyai Kampung. Santri, dan Komunitas Moderat, menjadi tercoreng oleh ulah sebagian kecil pemeluk Islam radikal. Padahal, apa yang ditampilkan Islam radikal senyatanya bukanlah gambaran Islam Nusantara (Indonesi. itu sendiri. Arena kontestasi Islam radikal yang diekspos sedemikian rupa, baik melalui surat kabar, televisi, media sosial, maupun dunia maya seperti Website. Blogger. Twitter. Face Book. AhatsApp, pada hakikatnya menjadi kunci eksistensi kelompok mereka. Ada tiga hal yang ditemukan dalam kajian ini. Pertama. Konstruksi Islam Nusantara sebagai Rumah Besar Islam di Indonesia, yang dipraktekkan melalui akulturasi kebudayaan lokal dan Islam, di antaranya melalui tradisi ziarah kubur, tradisi tahlilan, tradisi wiridan, tradisi kenduri atau slametan, tradisi barjanzi, tradisi Peringatan Hari Besar Islam, dan tradisi silaturrahmi. Kedua. Kontestasi Wajah Baru Islam Nusantara di Dunia Maya, yang dapat diformat melalui empat model: Islam Nusantara virtual tanpa identitas. Islam Nusantara virtual berbasis swadaya pesantren. Islam Nusantara virtual berbasis komunitas, dan Islam Nusantara virtual berbasis NU (Nahdlatul Ulam. Ketiga. Reposisi Ulama Masa Kini sebagai Penggerak Islam Nusantara, yang ditandai dengan adanya ekspos fakto atas aktivitas Kyai yang AumaslahahAy atau bermanfaat bagi umat Islam di dunia maya. KATA KUNCI: Islam Nusantara Virtual. Insklusivisme Islam. Reposisi Ulama. ABSTRACT: AuRevitalizing Archipelagic Islam in the Digital Age: Between Hope and RealityAy. This article Ae using a qualitative approach, historical methods, literature review, and descriptive analysis Ae aims to reconstruct the face of Archipelagic Islam in the digital age. The polite faces of Islam that have been displayed, guarded, cared for and developed by the AuSalafussholihsAy, such as Nine Saints. Islamic Scholars. Kampung Clerics. Islamic Boarding School Students, and Moderate Community, have been tarnished by the actions of a small part of radical Muslims. In fact, what is shown by radical Islam is actually not a picture of Archipelagic (Indonesia. Islam itself. Arena of radical Islamic contestation that is exposed in such a way, whether through newspapers, television, social media, or cyberspace such as Website. Blogger. Twitter. Face Book. AhatsApp, is essentially the key to their groupAos existence. There are three things found in this study. Firstly, the Construction of the Archipelagic Islam as a Large Islamic House in Indonesia, which is practiced through local and Islamic cultural acculturation, including through the grave pilgrimage tradition. AutahlilanAy tradition. AuwiridanAy tradition. AukenduriAy tradition or AuslametanAy, the AubarjanziAy tradition, the commemoration of Islamic holidays, and the tradition of AusilaturrahmiAy. Secondly, the Contestation of the New Face of Archipelagic Islam in Cyberspace, that can be formatted through four models: a virtual Archipelagic Islam without identity, a virtual Archipelagic Islam based on Islamic boarding school, a virtual Archipelagic Islam based on a community, and a virtual Archipelagic Islam based on NU (Nahdlatul Ulam. Thirdly. Repositioning of the Islamic Scholars as the Activator of Archipelagic Islam, one of which is marked by factual exposure to the activities of the Clerics which is AumaslahahAy or beneficial for the Islamic communities in cyberspace. KEY WORD: Virtual Archipelagic Islam. Islamic Inclusivism. Repositioning of Islamic Scholars. About the Author: Dr. Mukodi adalah Dosen Senior di STKIP PGRI (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Persatuan Guru Republik Indonesi. di Pacitan. Jawa Timur. Indonesia. Untuk kepentingan akademik. Penulis bisa dihubungi dengan alamat emel: mukodi@yahoo. Suggested Citation: Mukodi. AuRevitalisasi Islam Nusantara di Era Digital: Antara Harapan dan KenyataanAy in INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February, pp. Bandung. West Java. Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, with ISSN 2443-1776 . and ISSN 2657-0491 . Article Timeline: Accepted (October 28, 2. Revised (December 27, 2. and Published (February 28, 2. A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita MUKODI. Revitalisasi Islam Nusantara PENDAHULUAN Sejatinya. Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang baru. Penebalan kata AuNusantaraAy yang dikawinkan dengan AuIslamAy, bukan hanya menegaskan nama, melainkan juga karakter untuk menunjukkan corak atau warna dari sebuah entitas yang heterogen. Keragaman sebagai salah satu tipologi. Islam Nusantara adalah buah dari pergumulan panjang antara agama dan budaya, antara teks dengan konteks yang saling melengkapi satu sama lain, sehingga menelurkan Islam yang ramah, inklusif, dan fleksibel (Mustofa, 2015:405. Hidayatullah, 2019. dan Huda, 2. Eksistensi Islam Nusantara menemukan momentum tatkala dunia Islam sedang Pertikaian, peperangan, anarkisme, terorisme, dan radikalisme yang mengatasnamakan Islam semakin menjadi-jadi. Indonesia, sebagai negarabangsa yang penduduknya beragama Islam terbesar di dunia, menawarkan Islam Nusantara sebagai solusi atas pelbagai problema yang ada. Keramahan Islam Nusantara (Indonesi. atas kebudayaan setempat, yang terpraktekkan sejak kelahiran Islam di Nusantara, menjadi bukti nyata bahwa Indonesia dapat dijadikan model dalam keberagamaan dunia (Abdullah, 2016. Faiqah & Pransiska, 2018. and Hidayatullah, 2. Riak-riak kecil aksi terorisme di Indonesia belakangan ini diyakini tidak berurat-akar dari dalam. Melainkan hasil interaksi, gesekan kebudayaan, serta faham agama dari luar Indonesia. Hal ini pun dikuatkan oleh pendapat Ketua PB NU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulam. Said Agil Siraj, sebagaimana dikutip dalam Edi Susanto & Moh Mashur Abadi . , yang menyatakan sebagai berikut: Islam in Indonesia has no radical root. The rising of radicalism and terrorism in Indonesia is the result of religious culture adopted from abroad. Radical Islam in Indonesia is an imported product, and then distributed inside the country. The global communication technology makes people easily absorbs foreign ideas from abroad and this absorption triggered a new model, which is struggling to gives a new meaning for Islamic teachings and itAos practices (Susanto & Abadi, 2015:. Terjemahan: Islam di Indonesia tidak memiliki akar Munculnya radikalisme dan terorisme di Indonesia adalah hasil dari budaya agama yang diadopsi dari luar negeri. Islam radikal di Indonesia adalah produk impor, dan kemudian didistribusikan di dalam negeri. Teknologi komunikasi global membuat orang mudah menyerap ide-ide asing dari luar negeri dan penyerapan ini memicu model baru, yang sedang berjuang untuk memberikan makna baru bagi ajaran Islam dan praktekprakteknya. Dalam konteks itulah artikel ini ingin mendudukkan Islam ala Indonesia, atau Islam Nusantara, sebagai jawaban, sekaligus tawaran konkrit, bagi dunia Islam atas praktek-praktek Islam yang inklusif dan akomodatif terhadap kearifan budaya lokal tanpa meninggalkan esensi ke-Islam-annya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, metode historis, tinjauan literatur, dan analisis deskriptif (Somantri, 2005. Sjamsuddin, 2007. dan Zed, 2. , kajian artikel ini difokuskan pada: . Konstruksi Islam Nusantara sebagai Rumah Besar Islam Indonesia. Kontestasi Wajah Baru Islam Nusantara di Dunia Maya. Reposisioning Ulama Masa Kini sebagai Penggerak Islam Nusantara. HASIL DAN PEMBAHASAN Konstruksi Islam Nusantara sebagai Rumah Besar Islam Indonesia. Sebelum A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 menjelaskan konstruksi Islam Nusantara secara mendalam, akan dijelaskan definisi Islam Nusantara terlebih dahulu. AuIslam NusantaraAy, secara harfiah, merupakan gabungan dari dua kata, yakni: Islam dan Nusantara. Islam merujuk pada agama luhur yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (Salallahu Alaihi Wassala. , yang lahir di Mekkah. Dalam perkembangannya, agama Islam meluas ke segala penjuru dunia. Sedangkan Nusantara adalah wilayah atau kawasan yang merujuk pada Indonesia dan sekitarnya di Asia Tenggara. Akan tetapi, tidak mencakup secara keseluruhan, karena tidak semua Asia Tenggara dimasuki Islam atau dialiri oleh fondasi Islam (TP-JNM, 2014:3. Arif, 2017. Hermawan & Jati, 2. Dengan kata lain. Islam Nusantara adalah Islam yang memiliki karakter dan bercorak Nusantara, yang mengakomodasi tradisi-tradisi dan alam pikiran orang Nusantara, dengan tetap dan berangkat dari titik pijak Islam (TP-JNM, 2014:4. Qamar, 2015. Hermawan & Jati, 2. Senada dengan hal itu. Mujamil Qamar . , dan sarjana lainnya, memberi penekanan bahwa Islam Nusantara sesungguhnya merupakan model pemikiran, pemahaman, dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang dikemas, baik melalui budaya maupun tradisi yang berkembang di wilayah Asia Tenggara. Bentuk, perwujudan, dan ekspresi Islam Nusantara bisa bermacammacam, karena didalamnya tidak mengandaikan satu ketunggalan, tetapi memiliki karakter dan corak yang dapat Dengan demikian, pewajahan Islam Nusantara pun dapat direpresentasikan oleh ratusan organisasi keagamaan, yang tetap mengakomodasi adat, tradisi, dan budaya lokal, tanpa meninggalkan esensi ke-Islam-an itu sendiri (Qamar, 2015:202. Bilfagih, dan Luthfi, 2. Dalam perjalanannya. Islam Nusantara disemai dan ditumbuh-kembangkan secara alamiah oleh NU (Nahdhatul Ulam. Bahkan. Muktamar NU ke-33, pada tanggal 1-5 Agustus 2015, di Jombang. Jawa Timur pun mengusung Islam Nusantara sebagai grand theme, yakni: AuMeneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan DuniaAy. Menarik untuk dicermati, selanjutnya, adalah bagaimana konstruksi Islam Nusantara itu dibangun? Konstruksi pilar-pilar bangunan Islam Nusantara, sesungguhnya, berdimensi kultural. Praktek dan aktivitasnya bersifat akomodatif dengan adat-istiadat dan budaya lokal setempat, tentunya tanpa meninggalkan esensi nilai-nilai ke-Islaman (Bilfagih, 2016. Luthfi, 2016. Futaqi, 2. Setidaknya ada delapan bangunan material Islam Nusantara, yang dipraktekkan di akar rumput, atau grass root, selama ini, yakni: Tradisi Ziarah Harus diakui bahwa banyak juga organisasi lain, di luar NU (Nahdlatul Ulam. , yang acapkali mempraktekkan amalan-amalan Islam Nusantara secara turun-temurun, walau tidak pernah menyebutkan identitas Islam Nusantara itu sendiri. Lihat, misalnya, kajian yang dilakukan oleh A. Sunarto . Tuti Munfaridah . dan Tri Wahyudi Ramdhan . Tema ini diambil oleh Panitia Muktamar NU (Nahdlatul Ulam. ke-33 di Jombang. Jawa Timur, yang mengundang pro dan kontra, baik di internal ke-Panitia-an Muktamar maupun di eksternal ke-Panitia-an . arga NU, simpatisan, dan organisasi di luar NU). Namun. Panitia Muktamar NU, akhirnya, dapat meyakinkan bahwa Islam Nusantara dapat menjadi perekat, sekaligus tawaran solutif atas problem keagamaan (Isla. yang terjadi belakangan ini di pelbagai belahan dunia. Lihat, misalnya. Yusuf Hanafi et . Hijrian A. Prihantoro . dan Achmad Syahid . A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita MUKODI. Revitalisasi Islam Nusantara Kubur. 3 Tradisi Tahlilan. 4 Tradisi Wiridan. Tradisi Kenduri atau Slametan. 6 Tradisi Barjanzi. 7 Tradisi Perayaan Hari Besar Islam, seperti Mauludan. Ruwahan. Rajaban. Nisfu SyaAoban. IsraAo MiAoraj, dan Lebaran. Tradisi Menjaga AdatTradisi XE "Tradisi" Ziarah Kubur pun berkembang subur di Indonesia, khususnya dari kalangan jamaah Nahdliyin atau warga NU (Nahdlatul Ulam. Mereka mendatangi makam-makam keluarga yang sudah meninggal, seperti makam orang tua, kakek-nenek, anak, leluhur, para ulama, para wali, dan lain sebagainya, untuk mendoakan atau ber-tawassul kepada mereka. Biasanya, waktu yang dipilih adalah hari Kamis sore atau hari Jumat pagi. Dipilihnya hari Kamis sore atau Jumat pagi, karena hari Jumat adalah hari paling mulia . enanggalan tahun Hijriah dimulai dari tenggelamnya matahar. Lihat sebagai perbandingan, misalnya. Mukodi . Jamaluddin . dan M. Misbahul Mujib . Secara etimologi. Tahlilan berasal dari kata HallaYuhallilu-Tahlilan . engucapan kalimat Tauhid, memuj. Secara terminologi. Tahlil berarti membaca La Ilaha Illallah. Dalam arti popular. Tahlil merupakan upacara mendoakan ruh yang sudah meninggal. Ada juga Tahlilan disebut sebagai upacara mengirim doa atau mendoakan. Selanjutnya, lihat Mukodi . Ainul Yaqin . dan H. Zainuddin . Wirid XE "Wirid" adalah bacaan yang diucapkan secara Orang-orang Nahdliyin atau warga NU (Nahdlatul Ulam. , biasanya, membaca Wiridan setiap usai menjalankan shalat fardhu, yaitu membaca istighfar, kalimah-kalimah thayibah, dzikir, dan doa-doa secara bersama-sama. Membaca Wiridan dipimpin oleh imam shalat dan diikuti oleh para makmum di belakangnya, terkadang secara bersamaan, atau secara bergantian. Lihat, selanjutnya. Afif Ansori . Muhsin Jamil . dan Mukodi . Slametan adalah ritual keagamaan, yang awalnya berasal dari ajaran Hindu dengan maksud mencari berkah dan Oleh para Wali di Jawa, sesajen bukan diminta untuk dihilangkan tetapi ditambah jumlahnya, lalu mereka diminta mengundang para tetangga dan berdoa bersamasama. Maka jadilan acara Selamatan. Baca, misalnya. Mukodi . 5 dan 2. Dedi Mahyudi . Emmi Nur Afifah . dan http://khazanah. id/berita/duniaislam/islam-nusantara/15/07/27/ns5hd4313-alasan-pbnuangkat-tema-muktamar-teguhkan-islam-nusantara . iakses di Pacitan. Jawa Timur. Indonesia: 10 November 2. Tradisi Barjanzi adalah suatu upacara pembacaan risalah perjalanan Nabi Muhammad SAW (Salallahu Alaihi Wassala. , yang dilakukan oleh kaum Nadliyin atau warga NU (Nahdlatul Ulam. secara bergantian, baik dilakukan di rumah, mushalla, maupun di masjid. Biasanya, pembacaan risalah Al-Banjanzi lebih intensif dilakukan pada bulan Rabiul Awal menjelang peringatan Hari Kelahiran Sang Nabi, yakni setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Lihat, selanjutnya. Mukodi . 5 dan 2. Hammad Abu Muawiyah As-Salafi . dan Anna Rahma Syam. Kasjim Salenda & Wahid Haddade . Bagan 1: Konstruksi Material Pilar-pilar Islam Nusantara Istiadat dan Budaya Lokal. serta Tradisi Silaturrahmi . f Ansori, 2003. Jamil. Mukodi, 2005 dan 2017. As-Salafi. Jamaluddin, 2014. Mahyudi, 2014. Yaqin, 2014. Afifah, 2015. Zainuddin. Mujib, 2016. dan Syam. Salenda & Haddade, 2. Lebih lanjut dapat dilihat pada bagan 1. Poin terpenting yang harus dipahami adalah objek material konstruksi bangunan Islam Nusantara, sesungguhnya, berasal dari akulturasi budaya HinduBuddha yang telah ada dan berurat-akar di Kemudian. Islam datang tidak lantas menghapus dan mengganti tradisi, adat-istiadat, serta kebudayaan lokal yang telah ada, melainkan memberi demensi keIslam-an. Sekadar contoh. Tradisi Sesajen yang dipraktekkan dan dibudayakan oleh nenek-moyang sejak turun-temurun, kemudian disentuh oleh Wali Songo (Sembila. di Jawa menjadi Slametan yang transenden dan berdimensi shadaqah (Mukodi, 2005 dan 2017. Handoko. Junaid, 2013. dan TP-JNM, 2. Akan tetapi, harus diingat bahwa Islam Nusantara bukanlah ajaran-ajaran Islam yang di-Indonesia-kan atau di- A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 Jawa-kan. 8 Melainkan ajaran-ajaran Islam yang akomodatif terhadap budaya lokal setempat, tanpa meninggalkan esensi keIslam-annya. Dengan demikian, sikap akomodatif terhadap kebudayaan itulah yang menjadikan Islam Nusantara sebagai rumah besar bagi masyarakat Indonesia (Mukodi, 2005 dan 2017. TP-JNM, Akhiles, 2015. Mustofa, 2015. Bilfagih, 2. Kontestasi Wajah Baru Islam Nusantara di Dunia Maya. Gelombang arus informasi dan teknologi atau IT (Information Technolog. begitu massif. Dunia digital seolah menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan masyarakat dunia (Isla. saat ini. Praktis, masyarakat yang gagap IT akan menuai keterbelakangan. dan masyarakat yang melek IT akan menuai kemajuan pengetahuan (TP-JNM. Luthfi, 2016. dan Sunarso et al. , 2. Islam Nusantara pun harus dipersiapkan dan didesain sedemikian rupa dalam kontestasi di dunia digital. Muaranya, agar nilai-nilai Islam Nusantara dapat menyebar dan menjalar dalam kehidupan masyarakat global. Hal ini menjadi penting, mengingat belakangan ini wajah Islam acapkali ditampilkan oleh sekelompok orang di dunia maya dengan begitu garang, bengis, dan ganas. 9 Padahal, kondisi itu tidak merepresentasikan agama (Isla. yang sesungguhnya, yakni Islam Kondisi ini pernah diluruskan oleh K. (Kyai Haj. Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang menjabarkan tentang istilah Islam Nusantara. Menurutnya, kata Nusantara itu akan salah maksud jika dipahami dalam struktur naAoat-manAout . , sehingga berarti AuIslam yang di-NusantarakanAy. Akan tetapi, akan benar bila diletakkan dalam struktur idhafah . enunjukan tempa. , sehingga berarti AuIslam di NusantaraAy. Lihat, selanjutnya. Edi Akhiles . Saiful Mustofa . dan Taufik Bilfagih . Sebagaimana diketahui bahwa blogger, website, dan situssitus di dunia maya yang berbau Islam radikal begitu massif. Lihat, misalnya. Iman Fauzi Ghifari . Novita Ayu Dewanti . dan Riyan Fadli . yang toleran, santun, dan rahmatan lil Aoalamin, laiknya wajah Islam Nusantara itu sendiri (Ghifari, 2017. Mukodi, 2017. Munfaridah, 2017. Dewanti, 2018. Fadli, 2. Temuan riset dari disertasi penulis, dan sarjana lainnya, mengklasifikasikan pondok pesantren di era modern menjadi empat model, yakni: . pondok salafiyah. pondok khalafiyah. pondok gabungan salafiyah-khalafiyah. pondok virtual atau pondok pesantren dunia maya, yang menjadi dasar pondasi, sekaligus alasan rasional atas eksistensi Islam Nusantara di dunia maya . f Falah. Mukodi, 2014 dan 2017. Daryanto, 2. Jika, rating pengunjung pesantren virtual di dunia maya dari waktu ke waktu semakin meningkat, maka kehadiran Islam Nusantara versi virtual pun demikian Fenomena FB (Face Boo. milik (Kyai Haj. Musthofa Bisri atau Gus Mus, misalnya, tatkala membuat status, baik berupa puisi, sajak, atau statement yang menyejukkan, bernilai, dan bermutu, acapkali disukai . dan dilihat . oleh ribuan penggemarnya di dunia maya. Hal ini seolah menjadi bukti bahwa masyarakat butuh referensi dunia maya yang menyejukkan, dan Islam Nusantara pun dapat menjadi bagian dari Lebih-lebih, di tengah gelombang informasi yang merangsek masuk kedalam bilik-bilik dunia imajiner dan dunia real yang tak terbendung lagi . f RifaAoi, 2009. Hamid, 2016. Hasan et al. , 2. Secara konseptual, eksisistensi Islam Nusantara versi virtual atau dunia maya dapat direkayasa melalui empat model, . Islam Nusantara Virtual Tanpa Identitas. Islam Nusantara Virtual Berbasis Swadaya Pesantren. Islam A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita MUKODI. Revitalisasi Islam Nusantara Nusantara Virtual Berbasis Komunitas Islam Nusantara. Islam Nusantara Virtual Berbasis NU atau Nadlatul Ulama. Konstruksi bangunan Islam Nusantara virtual dapat mengikuti pola pesantren virtual, yang sudah berkembang selama ini (TP-JNM. Luthfi, 2016. Mukodi, 2. Lebih Bagan 2: detail dapat dilihat pada Skemata Konseptualisasi Inus Virtual Adapun penjelasan Komunitas. Keberadaannya diprakarsai dari masing-masing rincian kerangka oleh komunitas Islam Nusantara untuk konseptual pada bagan 2 adalah sebagai masyarakat global. Wujud mereka bisa saja berasal dari alumni, pecinta Islam Pertama. Islam Nusantara Virtual Tanpa Nusantara. LSM (Lembaga Swadaya Identitas. Wujudnya merupakan ekspresi Masyaraka. , tokoh masyarakat, atau dan aktualisasi diri setiap individu dalam aktivis sosio-agama. Konsep dan materi alam kasat mata atau dunia maya. Islam Nusantara virtual pun didesain zona ini, masyarakat global seringkali secara mandiri oleh komunitas Islam berselancar dalam dunia imajiner, serta Nusantara secara swadaya (Qamar, 2015. aktif melakukan aktivitas tanpa sekat Bilfagih, 2016. dan Astuti, 2. dan batas teritorial. Sebut saja, misalnya. Pelbagai materi yang di upload bisa mereka bergiat dalam membuat website. pula diambil dari fatwa-fatwa para Kyai blogger, update status via FB (Face Boo. , dan Salafus-Sholih. Selain itu, kajian kitab Twitter. BBM (Black Berry Messenge. WA kuning, kisah-kisah bijak orang-orang (WhatsAp. Yahoo Mesengger. Lines, dan shalih, kajian bahsul masail, dan lain lain sebagainya (Badruzaman et al. , 2017. sebagainya merupakan deret materi yang Mukodi, 2017. dan Nashrillah, 2. dapat disajikan di website Islam Nusantara Batasan pengkategorian AuIslam virtual (Hamsyah, 2015. Hanafi et al. Nusantara Virtual Tanpa IdentitasAy pada dan Fawait, 2. hakikatnya adalah pelbagai produk yang Ketiga. Islam Nusantara Virtual Berbasis dilahirkan di dunia maya, yang bernilai Swadaya Pesantren. Eksistensinya, pada Islam, humanis, dan akomodatif terhadap hakikatnya, melengkapi lanskap-lanskap kebudayaan lokal, tanpa meninggalkan ruang kosong alam imajiner yang ada esensi jiwa Islam itu sendiri (TP-JNM, 2014. selama ini. Melalui AuIslam Nusantara Mukodi, 2017. dan Munfaridah, 2. Virtual Berbasis Swadaya PesantrenAy. Kedua. Islam Nusantara Virtual Berbasis masyarakat diberi menu hidangan Ae A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 wawasan pengetahuan Islam Ae yang cepat saji, tanpa harus datang kepada sang Kyai atau Ustadz secara fisik. Mereka bisa berinteraksi melalui media internet tanpa batas, yang lebih efisien, efektif, dan cepat. Formatnya, laiknya seperti pesantren virtual, hanya saja konten-konten material yang disuguhkan di dunia maya berbasis wawasan Islam Nusantara (Hanafi et al. , 2016. Mukodi, 2017. dan Halim, 2. Keempat. Islam Nusantara Virtual Berbasis NU atau Nahdlatul Ulama. Versi terakhir ini merupakan konseptualisasi Islam Nusantara virtual yang paling ideal. Mengapa demikian? Sebab, grand desain keberadaannya di-support dan diinisiasi langsung oleh NU. Dengan demikian, wujud Islam Nusantara virtual versi terakhir ini diharapkan dapat hadir secara lebih sempurna, sekaligus memenuhi ekspektasi masyarakat global (Bilfagih. Mukodi, 2017. dan Syahid, 2. Jadi, keempat skemata konsepsi Islam Nusantara virtual tersebut di atas diharapkan dapat menjadi penyambung lidah, sekaligus penyampai pesan-pesan Islam yang rahmatan lil Aoalamin di dunia maya . , sebagaimana praktekpraktek kehidupan keber-Islam-an di Indonesia. Lebih dari itu, keberadaannya dapat menjadi penyeimbang atas munculnya situs-situs Islam radikal di dunia maya (Bilfagih, 2016. Luthfi, 2016. dan Mukodi, 2. Reposisioning Ulama Masa Kini sebagai Penggerak Islam Nusantara. Ulama adalah bentuk jamaAo dari yClim, yang berarti orang yang mengerti dan faham pengetahuan agama. Kumpulan para AoAlim inilah yang disebut dengan Ulama. Posisi Ulama di tengah masyarakarat, yang mempresentasikan pewaris Nabi, mendudukkan diri mereka sebagai figur kharismatik, sekaligus ditaati (Bilfagih, 2016. Mukodi, 2017. Munfaridah, 2. Dalam banyak hal. Ulama di Indonesia dijadikan refensi, sekaligus model. Mereka penjaga keadaban budaya, pencerah kegelapan . edangkalan agam. , dan penyejuk jiwa yang gersang. Ulama pun menjadi kunci wujud nyata Islam Nusantara di Indonesia. Tanpa Ulama, niscaya Islam Nusantara akan mati. Terhimpunnya Ulama dalam wadah organisasi keagamaan, seperti NU (Nahdlatul Ulam. Muhammadiyyah. Nahdlatul Waton (Kebangkitan Bangs. LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesi. , dan lain sebagainya mempermudah titik koordinasi di antara mereka (Qamar, 2015. Bilfagih, 2016. dan Munfaridah, 2. Sebagai penggerak gerbong Islam Nusantara dalam dunia real . ondok pesantren, masjid, mushalla, dan langga. Ulama perlu ditampilkan dalam dunia Bagi Ulama yang belum terbiasa, atau enggan melibatkan diri, berperilaku waraAo dalam dunia maya . perlu Sebab, fatwa-fatwa mereka dapat dengan mudah didengarkan dan dijadikan pijakan bagi masyarakat global (Hamid, 2016. Luthfi, 2016. Mukodi, 2. Di area inilah. Santri-santri senior di lingkaran sang Kyai perlu meng-create . akun Wibesite. Situs. Blogger. WA (WhatsAp. FB (Face Boo. , dan BBM (Black Berry Messange. sang Kyai. Sang Kyai, karena kesibukan kesehariannya yakni: mendidik, mengajar, memberi fatwa, berceramah, dan beribadah, tidak perlu menulis status. Namun, para Santri lah yang bertugas menulis, merekam, dan meretas ke dunia maya tentang pelbagai aktivitas sang Kyai, yang bermanfaat untuk A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita MUKODI. Revitalisasi Islam Nusantara masyarakat luas (Mukodi, 2017. Putri, dan Safitri. Sari & Yuliati, 2. Sekadar contoh, pengajian Gus Mus. Habib Lutfi. Zakir Abdul Karim Naik. Cak Nun. Habib Syech. (Kyai Haj. Maimun Zubair. Gus Nuril, dan Anwar Zahid di Youtube ditonton oleh ribuan orang di dunia maya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat global membutuhkan petuah-petuah keagamaan yang menyejukkan dan bernilai. ranah inilah Ulama. Islam Nusantara, dan komunitas Islam Nusantara dapat bermain peran dalam berbagi bidang. Praktis, reposisioning Ulama via digital mendudukkan diri mereka sebagai pelita umat, penebar kebaikan, dan pewaris risalah para Nabi (MasAoud, 2014. Mukodi, and Takdir, 2. KESIMPULAN10 Wajah baru Islam Nusantara di era global ditandai dengan kontestasinya di Sebuah Pengakuan: Artikel ini Ae sebelum diedit-ulang dan dikemas-kini dalam bentuknya sekarang Ae merupakan makalah yang dikirimkan untuk kegiatan SSB (Seminar Sambil Berlaya. dari Sorong ke Raja Ampat, di Papua Barat. Indonesia, pada tanggal 10-14 Juli 2017, yang diselenggarakan oleh ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesi. di Bandung bekerjasama dengan UBD (Universiti Brunei Darussala. di Bandar Seri Begawan. Negara Brunei Darussalam. serta pernah diterbitkan pula dengan judul AuRevitalisasi Islam Nusantara di Era DigitalAy dalam Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. No. 2 [Desember 2. , hlm. 1394-1420, yang tersedia juga secara online di: http://ejournal. id/index. php/jpp/article/ view/158/288. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pengurus ASPENSI dan Redaksi Jurnal INSANCITA, yang telah memberi peluang agar artikel saya ini diterbitkan ulang, semata-mata demi kepentingan diseminasi karya ilmiah yang lebih luas. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Andi Suwirta. Hum. Dosen Senior di FPIPS UPI (Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Universitas Pendidikan Indonesi. di Bandung, yang telah ikut membantu untuk mengedit-ulang artikel ini dengan cara memutakhirkan dan memperkaya sumber-sumber rujukan, sebagaimana nampak dalam Daftar Pustaka atau Referensi. Walau bagaimanapun, semua isi dan interpretasi dalam artikel ini tetap menjadi tanggung jawab akademik saya sendiri, dan tidak ada hubung-kaitnya dengan segala bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak kepada saya selama ini. dunia digital. Aktivitas kultural keagamaan Ae ziarah kubur, tradisi tahlilan, tradisi wiridan, tradisi kenduri . , tradisi al-barjanzi, tradisi HBI (Hari-hari Besar Isla. , dan tradisi silaturrahmi Ae yang telah, sedang, dan akan berlangsung di masyarakat Indonesia merupakan bagian dari pilar-pilar Islam Nusantara. Penjaga tradisi Islam Nusantara itu adalah para Kyai (Ulam. Kyai Kampung. Guru Ngaji. Ustadz. Ustadzah, dan lain Arena kontestasi Islam Nusantara diformat melalui versi virtual. Melalui Islam Nusantara virtual inilah menjadikan Ulama tidak hanya sebagai Aupialang budayaAy . ultural broke. , meminjam istilah dari Cliffort Geertz . , melainkan juga memerankan agen perubahan sosial dan produksi simbol budaya secara global. Referensi