e-ISSN: 2721-6632 p-ISSN: 2721-6624 Vol 6. No 2. Oktober 2025 . http://sttmwc. id/e-journal/index. php/haggadah IF YOUR ENEMY IS HUNGRY. FEED HIM. IF HE IS THIRSTY. GIVE HIM SOMETHING TO DRINK: HISTORICAL CRITICISM HERMENEUTICS ROMANS 12:20 Magel Haens Sianipar, 2Afriani Manalu . David Mariepan Universitas Terbuka, 2STT Misi William Carey , 3STT Misi William Carey sianiparmagel@gmail. com , afrianimanalu2103@gmail. Correspondence: afrianimanalu2103@gmail. Abstract: This article aims to present the hermeneutics of Romans 12:20 regarding Paul's teaching to the Romans, to love their enemies. This article discusses the shift in themes in the text of Romans 12 which highlights the relationship between doctrine and praxis in Christian life. In the context of the previous chapters 11. Paul discusses Christian doctrine, but in chapter 12, the focus shifts to the implementation of these doctrines in everyday life. Paul also emphasized the importance of attitudes towards others, including enemies, in the context of socio-political tensions in Rome for Christians at that time. The author uses the method of critical historical hermeneutics by analyzing keywords and paying attention to the text and text context in the passage of Romans 12 and the book of Romans. To achieve this goal, the author first explains the parallels of Romans 12:20 with Proverbs 25:21-22 and highlights the influence of Jewish tradition in Paul's teaching. Next, the author analyzes the concept of loving enemies in the hermeneutics of Romans 12:20. The socio-political context of Rome at the time, including the complexity of social structures, politics, and religious plurality, reinforced the importance of the theological and ethical guidance in the Book of Romans for Christian congregations. This research details the hermeneutics with histircal criticism and then relevanced it to the context of the church and Christian society Keywords: Love. Feed. Give A Drink. Enemy. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mempresentasikan hermeneutika Roma 12:20 tentang pengajaran Paulus kepada jemaat di Roma untuk mengasihi musuh. Tulisan ini membahas pergeseran tema dalam teks Roma 12 yang menyoroti hubungan antara doktrin dan praksis dalam kehidupan Kristen. Dalam konteks 11 pasal sebelumnya. Paulus membahas doktrin Kristen, namun di pasal 12, fokusnya bergeser ke implementasi doktrin tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Paulus juga menekankan pentingnya sikap terhadap sesama, termasuk musuh, dalam konteks ketegangan sosial-politik di Roma terhadap orang Kristen pada waktu itu. Penulis menggunakan metode hermeneutika historis kritis dengan menganalisis kata kunci dan memperhatikan teks dan konteks teks dalam perikop Roma 12 dan kitab Roma. Untuk mencapai tujuan ini, pertama-tama penulis memaparkan keparalelan Roma 12:20 dengan Amsal 25:21-22 dan menyoroti pengaruh tradisi Yahudi dalam pengajaran Paulus. Selanjutnya, penulis menganalisa bagaimana konsep mengasihi musuh dalam hermeneutika Roma 12:20. Konteks sosial-politik Roma pada saat itu, termasuk kompleksitas struktur sosial, politik, dan pluralitas agama, memperkuat pentingnya panduan teologis dan etika dalam Kitab Roma bagi jemaat Kristen. Penelitian ini merinci hermeneutika dengan metode historis kritis kemudian merelevansikannya dalam konteks gereja dan masyarakat Kristen pada masa kini. Kata Kunci: Kasih. Memberi Makan. Memberi Minum. Seteru. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 51 PENDAHULUAN Ketika membaca teks Roma 12, ada satu kerangka berpikir yang muncul terkait teks ini. Secara implisit bisa dilihat bahwa pasal ini mengalami pergeseran tema. Di dalam 11 pasal sebelumnya. Paulus penulis surat Roma, membawa pembaca pada hal-hal yang berkaitan dengan doktrin atau 1 Namun, di dalam pasal 12 ini, tema itu agak bergeser menjadi tema praksis/hal yang menyangkut implementasi dari doktrin/ajaran itu. Sehingga ada satu pemahaman yang muncul bahwa seorang Kristen sejati adalah Kristen yang melibatkan kepercayaan dan pola perilakunya. Hal ini terbukti dengan pemakaian kata n . un = karena it. di dalam Roma 12:1. Doktrin/ajaran yang telah diterima itu membentuk dasar bagi kehidupan Kekristenan dalam semua aspeknya. Roma 1:6-7, menyatakan bahwa Paulus mengalamatkan suratnya bagi semua orang yang percaya . rang yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. Oleh karenanya, hendaklah dipahami, bahwa perintah Paulus dalam surat ini dengan jelas mengungkapkan ada hubungan yang sejati antara doktrin dan perilaku . Efesus 4:1. 1 Tes. Seperti yang Wuest katakan. Ajaran harus selalu mendahului peringatan karena dalam ajaran, orang suci ditunjukkan posisi agungnya sebagai yang membuat nasihat kepada kehidupan suci, yang masuk akal, dan dalam doktrin, orang percaya diberi tahu tentang sumber kasih karunia yang dimilikinya untuk mematuhi nasihat/peringatan3. Tetapi, sepertinya hal ini ditolak oleh Knox. Knox berpendapat bahwa teks ini dimulai tanpa hubungan apapun dengan apa yang mendahuluinya, dan dia melihat bahwa kata n hanya untuk menandai transisi, dan bukan rujukan untuk melihat kembali ke hal yang dasar dari surat itu4. Memang benar, partikel ini mungkin saja dipahami sebagai sebuah transisi dan bukan sesuatu yang inferensial, namun mengingat penggunaan yang sama di Efesus 4:1 dan 1 Tesalonika 4:1 yang umumnya diterima bahwa kata n memiliki kekuatan yang inferensial yaitu melihat kembali ke apa yang telah terjadi sebelumnya. Lange berpendapat bahwa inferensial tersebut berhubungan langsung dengan Roma 11:35-36, yang merupakan puncak organik dari keseluruhan ajaran5. Cranfield menyatakan bahwa, bagaimanapun, secara intrinsik tampaknya lebih mungkin bahwa Paulus memikirkan nasehatnya secara keseluruhan dari yang sejauh ini dia tulis kepada Gereja Roma, dan dia menyimpulkan bahwa rujukan dari n adalah keseluruhan argumen yang diberikan oleh Paulus. Artinya. Paulus ingin menunjukkan sebuah hubungan yang tidak terpisahkan antara doktrin dan perilaku. Doktrin menjadi sebuah landasan berpijak sebuah tugas pelayanan dan kehidupan Kristen. Adapun salah satunya yang di tuliskan oleh Paulus kepada jemaat di Roma yaitu pengejaran etika tentang sikap berbuat kepada sesama, terlebih kepada musuh. Teks Roma 12:20 ini sesungguhnya memiliki keparalelan dengan Amsal 25:21-22 di Perjanjian Lama. Mengingat Paulus seorang yang ahli dalam taurat dan tradisi Yahudi, kemungkinan ia menuliskan ulang pengajaran William Barclay. Pash Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 13. Th. Van Den End. Taf. Alk. Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 572. Kenneth S Wuest. Romans in the Greek New Testament for the English Reader (Grand Rapids: W. Eerdmans, 1. , 204. John Knox and Gerald R Cragg. AyThe Epistle to the RomansAy dalam The Interpreter's Bible, ed George Buttrick, 12 vols (New York Abingdon Cokesbury, 1. , 579. John Peter Lange. Commentary on the Holy Scriptures. Critical. Doctrinal and Homiletical, trans and ed with additions by Philip Schaff, 10 vols (Grand Rapids: Zondervan, 1. , 381. C i e Cranfield. A Critical and Exegetical Commentary on the Epistle to the Romans. International Critical Commentary, 2 vols (Edinburgh Clark, 1. , 596. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 52 Salomo dalam Amsal sebagi pengajaran kepada jemaat di Roma terkait bagaimana mereka harus bersikap murah hati dalam kasih kepada musuh. Konteks jemaat Roma pada waktu itu sedang dalam masa-masa sulit dimana mereka di benci, di sakiti, menderita sebab menjadi pengikut Kristus. Kitab Roma ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma pada sekitar tahun 57-58 Masehi. Konteks sosial-politik saat itu adalah Kekaisaran Romawi yang tengah berkuasa, dengan semua kompleksitas struktur sosial, perbudakan, dan ketegangan politik yang terkait. Sosial-ekonomi mencakup kelas sosial yang berbeda, termasuk kekayaan dan kemiskinan yang ekstrem. Agama dan budaya Roma pada saat itu juga mencakup berbagai kepercayaan pagan dan sistem keagamaan yang beragam, yang mempengaruhi persepsi dan praktik agama Kristen yang sedang berkembang. Dalam konteks ini. Kitab Roma memberikan panduan teologis dan etika bagi jemaat Kristen di tengah tantangan sosial-politik dan budaya mereka. 7 Teks Roma 12:20 ini oleh Paulus menjadi sangat penting mengingat situasi pada masa itu. Penulis dalam hal ini hendak mengkaji bagaimana hermeneutika teks Roma 12:20 ini dan nantinya akan di kontekstualisasikan dalam kehidupan gereja dan masyarakat secara khusus dalam lingkup Kekristenan pada masa kini. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif dengan analisa historis kritis. Historis kritis adalah metode yang menganalisa bagaimana menggunakan analisa sejarah dan konteks teks untuk mengetahui makna teologis dari teks yang sedang di bahas,8 yang dalam hal ini Roma 12:20. Penulis meneliti kata kunci dalam teks seperti aNAC . , o . dan AEO . Penulis juga menganalisa konteks Roma 12:20 dan teks yang pararel dalam Amsal 25:21-22. Konteks dari ayat ini berbeda dalam Amsal 25:21-22. Surat Roma adalah surat yang berisikan pengajaran Paulus tentang bagaimana menjalani kehidupan Kristen yang sesuai dengan kasih Allah yang murah hati dan penerimaan anugerah-Nya. Dalam pasal 12. Paulus mengajarkan tentang etika Kristen dalam hubungan antarpribadi dan bagaimana mengatasi konflik dengan cara yang menghormati prinsip-prinsip injil. Ayat 20 ini menekankan pentingnya memberikan belas kasihan kepada musuh, bukan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan tindakan yang baik dan berbelas kasihan. 9 Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini mengajarkan tentang kekuatan belas kasihan dan pengampunan sebagai cara untuk menangani konflik dan memperlihatkan kasih Kristus kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang mungkin bertindak sebagai musuh sekalipun. PEMBAHASAN Pengajaran Paulus tentang Belas Kasihan Terhadap Musuh Pengajaran Paulus tentang belas kasihan terhadap musuh dalam Roma 12:20 adalah bagian dari suratnya kepada jemaat di Roma, di mana ia memberikan instruksi tentang bagaimana seorang Kristen seharusnya bertindak dalam menghadapi musuh aNAC YM. Seto Marsunu. Pengantar Surat-Surat Paulus (Yogyakarta:Kanisius, 2. , 201-203. James Barr . History and Ideology in the Old Testament. Biblical Studies at the End of a Millennium (Oxford University Press, 2000 ), 32. bnd Samuel Terrien. AyHistory of the Interpretation of the Bible i: Modern periodAy dalam The Bible in the Church, (New York: The Macmillan Co. , 1. , 127-129. Barbour. Bible Question & Answers (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2. , 189. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 53 . Ayat tersebut berbunyi Aujika seterumu lapar, beri dia makan. jika dia haus, beri dia minum. karena dengan melakukan itu kamu akan menumpukkan bara api di atas Ay Dalam konteks ayat ini. Paulus memberikan pengajaran yang mengubah paradigma mengenai cara menangani musuh . engajaran yang berbeda dari kebiasaan pada saat itu di kekaisaran Rom. Sebagai pengikut Kristus. Paulus menekankan pentingnya belas kasihan, pengampunan, dan cinta terhadap musuh, yang merupakan ajaran inti dari ajaran Yesus sendiri. Roma 12:9-21 adalah sebuah daftar berisi sejumlah perintah singkat dalam beberapa Secara keseluruhan, ketiga hal tersebut memberikan gambaran tentang seperti apa seharusnya kehidupan Kristen yang penuh pengorbanan. Tema pemersatu dari daftar ini adalah mengesampingkan diri kita sendiri, untuk secara efektif mengasihi dan melayani Tuhan, satu sama lain, dan bahkan musuh sekalipun. Seorang Kristen harus melayani dengan semangat dan fokus, menguasai emosi untuk bersukacita di masa depan dan bersabar di masa kini. Seorang Kristen harus menolak untuk tenggelam pada tingkat kejahatan dalam membalas dendam dan sebaliknya mengatasi kejahatan dengan berbuat baik kepada mereka yang merugikan diri sendiri dan komunitas. Dalam Roma 12. Paulus menggambarkan penyembahan kepada Tuhan sebagai pengorbanan yang hidup kepada Tuhan, berhenti mencari apa yang diinginkan dalam hidup dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Tuhan inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani untuk saling melayani di gereja. Ajaran Paulus ini menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri sendiri. Menolak untuk tenggelam dalam kejahatan melainkan memberi kebaikan pada orang yang merugikan, bukan membalas dendam. Paulus sekarang menambahkan kesulitan pada ayat sebelumnya. Di sana ia menulis bahwa umat Kristiani harus berhenti melakukan upaya balas dendam terhadap mereka yang membenci/memusuhi. Orang percaya dipanggil untuk terlibat secara aktif, positif, dan murah hati dengan mereka yang merugikan. Daripada sekadar mengabaikan musuh-musuh, orang percaya harus berusaha berbuat baik bagi mereka. Saat mengutip kata-kata Salomo dari Amsal 25:21-22, uraian Paulus tentang bagaimana menanggapi pelaku kejahatan pada awalnya menyakitkan, bahkan membuat marah. Pada saat yang sama, ada suatu kekejaman tertentu dalam hal ini, secara rohani. Orang percaya dipanggil untuk menjatuhkan keyakinan yang membara terhadap musuh-musuh dengan bersikap baik tanpa henti dalam memperhatikan dan memenuhi kebutuhan dasar mereka . emberi makan atau memberi minu. Saat ini dilakukan, ada dua hal yang terjadi. Pertama, ini mencerminkan kemurahan Tuhan kepada orang percaya. Marva J. Dawn. Truly the Community (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 304. Eugene Boring. Fred B. Craddock. The People's New Testament Commentary (Louisville: Presbyterian Publishing Corporation, 2. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 54 Kedua, ini menunjukkan bahwa orang percaya tidak pantas diperlakukan buruk dan bahwa ia harus lebih kuat dari mereka yang menyakiti. Deskripsi Aumenumpukkan batu baraAy mengacu pada Amsal 25:21Ae22. Di Mesir, ada kebiasaan membawa panci berisi bara api di kepala sebagai tanda pertobatan. 12 Kebaikan dan pengampunan kepada orang yang menganiaya, idealnya, akan membuat mereka malu, dan harapannya membawa mereka untuk bertobat. Respons yang paling kuat dan paling ampuh terhadap penganiayaan dan kebencian adalah dengan mengasihi musuh dan orang yang membenci. Pada Gereja mula-mula, umat Kristen menghadapi berbagai tantangan dan persekusi dari berbagai pihak, termasuk otoritas Romawi dan agama-agama tradisional pada saat itu seperti agama Yunani kuno yang politeis dan Yahudi yang monoteis. Ada beberapa alasan mengapa orang Kristen dimusuhi pada masa itu, beberapa diantaranya adalah sebagai Penolakan terhadap politeisme Romawi. Agama Kristen monoteis, sementara agama-agama Romawi pada saat itu politeis. Ini menyebabkan ketegangan antara umat Kristen dan otoritas Romawi yang memandang agama Kristen sebagai ancaman terhadap stabilitas politik dan agama Romawi. Penolakan untuk menyembah kaisar. Salah satu contoh konflik yang terkenal adalah penolakan umat Kristen untuk menyembah kaisar Romawi sebagai dewa. Ini dianggap sebagai penghinaan terhadap otoritas kekaisaran dan memicu persekusi terhadap orang-orang Kristen. Ketidaksepakatan moral dan sosial. Ajaran Kristen tentang moralitas dan nilai-nilai sosial sering kali bertentangan dengan praktik yang dianut oleh masyarakat pada saat itu. Misalnya, praktik kekerasan, perbudakan, dan perzinahan sering kali ditentang oleh umat Kristen, yang dapat menimbulkan ketegangan dengan masyarakat yang mengamalkan praktik-praktik tersebut. Ketidakpahaman terhadap agama baru. Kristen pada awalnya sering kali disalahpahami sebagai sekte sesat atau bahkan dianggap sebagai ancaman terhadap tatanan sosial dan politik yang ada. Semangat untuk menyebarkan Injil. Umat Kristen pada masa itu juga berkomitmen untuk menyebarkan ajaran agama mereka, yang sering kali menimbulkan ketegangan dengan mereka yang berpegang teguh pada keyakinan tradisional mereka. Maka orang Kristen pada masa awal gereja sering kali menjadi sasaran berbagai bentuk penindasan dan persekusi akibat perbedaan keyakinan mereka dengan mayoritas masyarakat pada saat Paulus menjelaskan bahwa membenci musuh atau membalas dendam kepada orang yang membenci orang percaya, tidak akan membawa perdamaian atau kebaikan. Sebaliknya, ia menyerukan tindakan konkret yang menunjukkan belas kasihan dan pengampunan, bahkan kepada mereka yang mungkin telah melukai atau menentang orang percaya. Dalam Rom. 12:20 ini. Paulus menggunakan Kenneth L. Barker. John R. Kohlenberger i. The Expositor's Bible Commentary - Abridged Edition: Two-Volume Set (Michigan: Zondervan Academic, 2. , 122. Kenneth L. Barker. John R. Kohlenberger i. The Expositor's Bible Commentary - Abridged Edition: Two-Volume Set, 122-123. Craig S. Keener. Romans: A New Covenant Commentary (Eugene: Cascade, 2. , 150. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 55 gambaran yang kuat dan landasan yang sudah ada dalam PL dan bisa saja kebanyakan dari mereka sudah mengetahui hal itu sebab orang Kristen mula-mula kebanyakan adalah penganut Yahudi 15 Untuk menggambarkan bagaimana tindakan belas kasihan terhadap musuh dapat Aumenumpuk bara api di atas kepalanyaAy. Ini dapat diartikan sebagai efek yang kuat yang timbul dari tindakan baik terhadap musuh, yang dapat menyentuh hati dan membuka kesempatan bagi pertobatan dan perubahan. Pengajaran Paulus ini sesungguhnya sejalan dengan ajaran Yesus. Paulus tidaklah melampaui ajaran Yesus yang pernah ia sampaikan dalam Injil Matius (Mat. 5:43-. tentang kasih kepada musuh, di mana Yesus mengatakan. AuTetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Ay Serta dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati (Luk. 10:25-. 16 Pentingnya belas kasihan terhadap musuh dalam ajaran Paulus menegaskan bahwa kasih adalah prinsip utama dalam kehidupan seorang Kristen. Ini bukan hanya tentang perasaan simpati, tetapi juga tindakan nyata yang menunjukkan cinta kasih, kemurahan hati dan pengampunan kepada orang-orang yang mungkin dianggap sebagai musuh atau bahkan orang yang membenci. Dengan mempraktikkan belas kasihan, orang Kristen dapat menjadi saksi nyata dari kasih Kristus dalam dunia ini, membawa perdamaian dan harapan kepada mereka yang mungkin tidak layak menerimanya. Konsep cinta kasih dan kemurahan hati terhadap musuh adalah salah satu ajaran utama dalam agama Kristen yang diilhami oleh ajaran Yesus Kristus. Meskipun umat Kristen pada masa awal sering kali menjadi sasaran persekusi, ajaran ini mengajarkan untuk merespons dengan kasih dan belas kasihan, bahkan terhadap orang-orang yang memusuhi mereka. Prinsip cinta kasih dan kemurahan hati terhadap musuh juga ditekankan dalam surat-surat Rasul, di mana umat Kristen diajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi untuk mencari cara-cara damai dan berbelas kasihan. Penting untuk dicatat bahwa praktik dari ajaran ini dapat menjadi tantangan bagi individu, terutama dalam situasi di mana mereka dihadapkan dengan kesulitan dan Namun demikian, prinsip ini menunjukkan nilai pentingnya dalam memperjuangkan perdamaian, pengampunan, dan keadilan yang sejati, serta dalam memahami dan mengatasi konflik dengan cara yang mempromosikan kasih dan belas kasihan. Belas Kasihan dengan Memberikan Makan dan Minum dalam Tindakan Nyata Tindakan nyata belas kasihan, termasuk memberikan makan dan minum kepada mereka yang membutuhkan, memiliki akar yang dalam dalam ajaran agama-agama besar di dunia. Dalam konteks Kristen, ajaran ini diilhami oleh berbagai ayat dalam Alkitab, termasuk Roma 12:20 yang menyatakan Aujika seterumu lapar, beri dia makan. jika dia haus, beri dia minumAy. Ayat ini terletak dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma dan menegaskan prinsip belas kasihan dan pengampunan yang harus dimiliki oleh umat Kristen. Namun, prinsip ini tidak hanya terbatas pada konteks Kristen, tetapi juga mencerminkan nilainilai kemanusiaan yang mendasari banyak agama dan filosofi. Memberikan makanan dan minuman John Stambaugh. Dunia Sosial Kekristenan Mula-Mula (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 173. Eugene Boring. Fred B. Craddock. The People's New Testament, 498-499. Yeo. Scripture. Cultures, and Criticism Interpretive Steps and Critical Issues Raised by Robert Jewett (Eugene: Pickwick Publications, 2. , 282. Craig S. Keener. Romans: A New Covenant Commentary, 150-151. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 56 kepada yang lapar dan haus adalah tindakan konkret belas kasihan yang menunjukkan empati dan perhatian terhadap kebutuhan dasar orang lain. Dalam konteks Roma 12:20, hal ini bahkan dipahami sebagai cara untuk Aumenumpukkan bara api di atas kepalanyaAy yang dapat diartikan sebagai cara untuk memenangkan hati musuh dengan kebaikan dan mengubah sikap mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan ini memiliki dampak yang besar, terutama dalam membantu mereka yang kurang mampu atau yang mengalami kesulitan ekonomi. Memberikan makanan dan minuman tidak hanya memberikan bantuan langsung, tetapi juga mengangkat martabat dan menjaga kehidupan orang yang menerima Di banyak negara dan komunitas, ada berbagai lembaga, organisasi, dan individu yang berkomitmen untuk memberikan makanan dan minuman kepada mereka yang membutuhkan. Misalnya di Jerman ada lembaga amal, dapur umum, dan program bantuan makanan menjadi sarana bagi individu dan keluarga untuk mendapatkan akses ke makanan dan minuman yang mencukupi secara khusus bagi para imigran yang mencari suaka dan perlindungan. Tindakan memberi makan dan minum juga memiliki konotasi yang lebih dalam dalam konteks sosial dan budaya. Selain memberikan bantuan langsung kepada yang membutuhkan, tindakan ini juga menciptakan ikatan sosial dan solidaritas dalam Orang-orang yang memberikan bantuan merasa terhubung dengan mereka yang menerima bantuan, sementara mereka yang menerima bantuan merasa didukung dan dihargai. Selain itu, memberikan makanan dan minuman juga merupakan langkah pertama dalam mengatasi masalah kelaparan dan kekurangan gizi di berbagai belahan dunia. Kelaparan adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi manusia saat ini, dan upaya untuk memberikan akses makanan yang mencukupi kepada semua orang merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Tindakan ini juga mencerminkan nilai-nilai keadilan sosial dan hak asasi manusia yang menjadi fokus perhatian global saat ini. Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan makanan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, dan tindakan memberikan makanan dan minuman merupakan langkah nyata untuk mewujudkan hak ini. Selain memberikan makanan dan minuman kepada mereka yang membutuhkan, tindakan nyata belas kasihan juga mencakup upaya untuk mengidentifikasi akar penyebab kelaparan dan mengatasi ketidaksetaraan dalam distribusi sumber daya. Hal ini melibatkan langkah-langkah seperti pembangunan infrastruktur, pengembangan pertanian berkelanjutan, dan kebijakan publik yang mendukung akses makanan yang adil bagi semua orang. Dalam konteks agama Kristen, tindakan memberikan makanan dan minuman kepada mereka yang membutuhkan juga merupakan perwujudan kasih Kristus yang mengajarkan untuk mencintai sesama manusia tanpa memandang latar belakang atau kondisi sosial. Ini memotivasi umat Kristen untuk berperan aktif dalam melayani mereka yang membutuhkan sebagai wujud dari iman mereka. Selain memberikan makanan dan minuman secara langsung, gereja dan organisasi Kristen juga terlibat dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan sosial mereka yang membutuhkan. Misalnya, program pelatihan kerja, bantuan modal usaha kecil, dan pembangunan infrastruktur dapat membantu menciptakan kesempatan yang lebih baik Vine. Vine's. New Testament Word Pictures: Romans to Philemon: A Commentary Drawn from the Original Languages (Nashville:Thomas Nelson Publishing, 2. , 124. James D. Dunn. Eerdmans Commentary on the Bible (Michigan: Zondervan, 2. ,1292. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 57 bagi mereka yang kurang beruntung yang bisa dilakukan inter maupun lintas denominasi. Dalam konteks hubungan antarmanusia, tindakan memberikan makanan dan minuman juga dapat menjadi sarana untuk membangun jembatan dan memperkuat solidaritas antarindividu dan 21 Memberikan makanan dan minuman kepada mereka yang membutuhkan menghapus batasan sosial dan ekonomi, dan membuka kesempatan untuk terjalinnya hubungan yang lebih dalam dan bermakna. Dalam konteks global, tindakan memberikan makanan dan minuman juga dapat menjadi cara untuk merespons krisis kemanusiaan dan bencana alam yang mengancam kehidupan dan keamanan orang-orang di berbagai negara. Dalam situasi-situasi darurat seperti ini, bantuan makanan dan minuman dapat menyelamatkan nyawa dan memberikan harapan bagi mereka yang terkena dampak. Namun secara teologis teks Rom. 12:20 ini mendorong agar dilakukannya kebaikan atau kemurahan hati, bahkan kepada musuh sekalipun. Ini akan mendorong mereka untuk kemudian berubah dan menunjukkan tindakan yang baik kepada orang yang dia musuhi atau benci tersebut. Paulus mengajarkan mereka bukan membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan melakukan kebaikan sekalipun ada yang memusuhi dan ada yang membenci. Hal ini sebagai jalan keluar yang positif dari permasalahan jemaat pada masa itu yang mengalami penderitaan dan penganiayaan. Tindakan Belas Kasihan atau Kemurahan Hati dapat Memicu Kesadaran dan Pertobatan Tindakan belas kasihan dan kemurahan hati merupakan konsep yang sangat penting dalam ajaran Kristen, terutama yang disebutkan dalam Roma 12:20. Ayat ini mengajarkan umat Kristiani untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi malah dengan tindakan belas kasihan dan kemurahan hati. Tindakan belas kasihan terhadap musuh bisa menjadi titik balik yang mengubah hati dan pikiran mereka. Ketika kita memperlakukan musuh dengan kasih dan kebaikan, orang percaya menumpuk bara api di atas kepalanya, bukan dengan niat untuk menyakiti, tetapi untuk membangkitkan kesadaran akan kebaikan yang telah ditunjukkan kepada mereka. Ini dapat menyentuh hati mereka secara mendalam dan memicu kesadaran akan kejahatan yang mereka lakukan. Dengan memperlihatkan belas kasihan, bukan hanya menyembunyikan dendam atau kebencian, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pertobatan. Tindakan dapat menjadi cerminan kasih karunia Tuhan yang tidak terbatas, yang dapat menarik hati seseorang untuk bertobat dan memperbaiki hubungan mereka dengan Allah dan sesama. Namun, penting untuk diingat bahwa hasil akhirnya terletak pada kehendak Tuhan. Meskipun tindakan belas kasihan dapat mempengaruhi kesadaran dan pertobatan seseorang, itu adalah pekerjaan Roh Kudus yang sejati untuk mengubah hati manusia. Memberi makan musuhmu atau memberinya minuman melambangkan segala perbuatan baik yang dapat kamu lakukan untuk memenuhi kebutuhan musuh/orang yang membenci. Dalam konteks hubungan antarmanusia, tindakan belas kasihan dan kemurahan hati memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengubah dinamika konflik dan memperbaiki hubungan yang terputus. Hal ini sesuai dengan Vincent Kalvin Wenno AuInisiatif Untuk MengasihiAy Membaca Etika Paulus dalam Roma 12:9-21 serta Implikasinya bagi Pembangunan Perdamaian dalam KENOSIS Vol. 3 No. Desember 2017, 114-128. Vincent Kalvin Wenno AuInisiatif Untuk MengasihiAy Membaca Etika Paulus dalam Roma 12:9-21 serta Implikasinya bagi Pembangunan Perdamaian dalam KENOSIS Vol. 3 No. Desember 2017, 114-128. James D. Dunn. Eerdmans Commentary on the Bible, 1292. Vine. Vine's. New Testament Word Pictures: Romans to Philemon: A Commentary Drawn from the Original Languages, 124125. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 58 ajaran Kristus tentang mengasihi musuh-musuh dan mendoakan bagi mereka yang menyakiti. Pentingnya Hidup Sesuai dengan Nilai-Nilai Kerajaan Allah, bahkan dalam Menghadapi Situasi Sulit Seperti Konflik dan Permusuhan. Pentingnya hidup sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah, seperti yang diajarkan dalam ayat ini, adalah untuk mencerminkan karakter Kristus dalam segala hal, bahkan dalam menghadapi situasi sulit seperti konflik dan permusuhan. Beberapa poin penting dari ayat ini adalah: Kebalikan dari apa yang diharapkan Manusia cenderung merespons kebencian dengan kebencian, tetapi ayat ini mengajarkan tentang membalas dengan kebaikan. Ini adalah prinsip yang mendasari pengajaran Yesus tentang cinta terhadap musuh (Matius 5:. Memberikan contoh nyata kasih Memberi makan dan minum kepada musuh bukan hanya tindakan kasih yang konkret, tetapi juga merupakan cara praktis untuk menunjukkan cinta dan mengalahkan kebencian dengan Pengharapan akan akibat Ayat ini menggambarkan konsekuensi alami dari bertindak dengan kebencian atau kasih. Ketika orang percaya bertindak dengan kebaikan terhadap musuh, itu dapat menimbulkan kesadaran akan perbuatannya di atas mereka, dan ini diharapkan membawa mereka kepada pertobatan atau Mengikuti contoh Kristus Paulus juga mengarahkan pembaca untuk mengikuti contoh Kristus. Kristus sendiri mengajar dan mencontohkan kebaikan dan kasih-Nya kepada mereka yang tidak patut menerimanya. Dalam konteks Roma 12:20, hidup sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah berarti hidup dengan kasih, kemurahan hati, pengampunan, dan kedamaian, bahkan dalam situasi yang penuh dengan konflik dan permusuhan. Ini bukan hanya tentang bagaimana berhubungan dengan orang lain, tetapi juga tentang bagaimana orang percaya mencerminkan karakter Kristus di dunia ini. Teologi Kemurahan Hati Teologi Kemurahan Hati merupakan salah satu ajaran Kristiani yang mendasarkan diri pada kasih tanpa syarat yang ditunjukkan oleh Tuhan kepada manusia. Pada intinya, teologi ini menyiratkan bahwa Allah adalah sumber segala kasih dan kebaikan, dan sebagai pengikut Kristus, orang percaya dipanggil untuk mencerminkan sifat-sifat-Nya, termasuk kemurahan hati, dalam hubungan dengan sesama dan bahkan musuh sekalipun. Salah satu ayat kunci yang mengilustrasikan prinsip ini adalah Rom. 12:20, dimana Paulus menyerukan untuk Aumemberikan makan kepada Vincent Kalvin Wenno AuInisiatif Untuk MengasihiAy Membaca Etika Paulus dalam Roma 12:9-21 serta Implikasinya bagi Pembangunan Perdamaian dalam KENOSIS Vol. 3 No. Desember 2017, 114-128. Vine. Vine's. New Testament Word Pictures: Romans to Philemon: A Commentary Drawn from the Original Languages, 124125. Vincent Kalvin Wenno AuInisiatif Untuk MengasihiAy Membaca Etika Paulus dalam Roma 12:9-21 serta Implikasinya bagi Pembangunan Perdamaian dalam KENOSIS Vol. 3 No. Desember 2017, 114-128. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 59 musuhmu jika ia lapar, dan memberinya minum jika ia hausAy. Roma 12:20 terletak di bagian surat Paulus kepada jemaat di Roma yang berbicara tentang etika Kristen. Paulus mengeksplorasi cara-cara hidup yang mencerminkan transformasi hati oleh Roh Kudus. Dalam konteks ayat ini. Paulus memberikan instruksi konkret tentang bagaimana bersikap terhadap musuh. Dia menegaskan bahwa orang percaya tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi harus membalas dengan kebaikan. Dalam interpretasi ayat ini, penting untuk memahami bahwa kemurahan hati yang dimaksud bukan sekedar perbuatan baik biasa, tetapi lebih dalam dari itu. Ini adalah sikap hati yang terpancar dalam perbuatan konkret memberikan makan dan minum kepada musuh, yang tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka, tetapi juga untuk menunjukkan kasih Allah kepada mereka. Hal ini menyoroti prinsip kasih tanpa syarat yang menjadi inti ajaran Yesus Kristus. Teologi Kemurahan Hati merupakan bagian integral dari ajaran Kristen yang menekankan pentingnya kasih dan pengampunan. Kemurahan hati adalah ekspresi tertinggi dari kasih tanpa syarat yang diperlihatkan oleh Tuhan kepada manusia, terutama melalui karya keselamatan Kristus di salib. Dalam Perjanjian Baru, kasih kemurahan hati ditegaskan berkali-kali, baik dalam ajaran langsung Yesus maupun dalam surat-surat para rasul. Contohnya, dalam Matius 5:44. Yesus mengatakan. AuAku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Ay Hal ini menunjukkan bahwa kemurahan hati bukanlah konsep baru yang diperkenalkan oleh Paulus dalam Roma 12:20, tetapi telah menjadi bagian integral dari ajaran Kristiani sejak zaman Yesus Kemurahan hati bukanlah sekadar konsep teologis yang abstrak, tetapi memiliki implikasi praktis yang signifikan dalam kehidupan orang percaya. Berikut adalah beberapa implikasi praktis dari teologi kemurahan hati dalam konteks Roma 12:20: Menyatakan Kasih kepada Musuh Salah satu implikasi langsung dari ajaran ini adalah panggilan untuk menyatakan kasih kepada musuh. Ini berarti tidak hanya menghindari membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi juga aktif mencari kebaikan mereka dan memenuhi kebutuhan mereka sesuai kemampuan orang percaya. Memahami Sifat Allah Praktik kemurahan hati membantu orang percaya lebih memahami sifat Allah sebagai sumber segala kasih. Melalui perbuatan orang percaya mencerminkan karakter Yesus kepada dunia, yang pada gilirannya, memberikan kesaksian tentang kasih-Nya kepada semua orang. Menyembuhkan Konflik Kemurahan hati juga merupakan alat yang kuat untuk menyembuhkan konflik dan memulihkan hubungan yang rusak. Ketika orang percaya memilih untuk merespon kebencian dengan kebaikan, maka ia membuka jalan bagi pemulihan dan rekonsiliasi yang Ryan A. Brandt. John Frederick. Theological Interpretation of Scripture as Spiritual Formation (Leiden: Brill, 2. , 180. bnd John Thiede. Bridging Scripture and Moral Theology (Lanham: Lexington Books, 2. , 16. Diana Nainggolan. AuMengalahkan Naluri Membalaskan Dendam: Tafsir Kontekstual terhadap Roma 12:17-21Ay dalam Immanuel, 277295. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 60 sejati. Menjadi Saksi Kasih Kristus Dalam hidup sesuai dengan prinsip kemurahan hati, orang percaya menjadi saksi kasih Kristus bagi dunia. Tindakan-tindakan yang penuh kasih merupakan kesaksian yang kuat akan karya-Nya dalam hidup umat. KONTEKSTUALISASI Kemurahan Hati dan Keramahtamahan adalah sebuah nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya masyarakat Batak Toba. Sehingga akan lebih baik dalam berhadapan dengan suku ini dengan hospitabilitas yang mumpuni. L Nommensen penginjil dari Jerman yang menginjili ke tanah Batak pada tahun 1861 mengedepankan sikap hospitabilitas sebagai pendekatan terhadap orang-orang Batak. Nommensen mulanya sangat di benci dan di musuhi oleh banyak raja-raja kampung di tanah Batak dan juga masyarakat Batak. Namun Nommensen memperlihatkan kedalaman nilai-nilai tradisional dan kehangatan dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar, terutama dalam konteks kehidupan bersama dengan masyarakat Batak Toba. Sikap murah hati dan keinginan untuk hidup harmonis dengan orang-orang di sekitar mereka menjadi ciri khas dari budaya dan identitas sosial Nommensen. Masyarakat Batak Toba adalah bagian dari etnis Batak Toba, sebuah kelompok sub-etnis yang mendiami wilayah Sumatera Utara. Indonesia. Masyarakat Batak Toba terkenal dengan kehangatan dan keramahan mereka dalam menerima tamu serta dalam berinteraksi dengan sesama. Tradisi keramahtamahan telah diwarisi dari generasi ke generasi dan menjadi salah satu pijakan kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak Toba. Sikap hospitalitas yang dimiliki oleh Nommensen tercermin dalam kedekatan mereka dengan masyarakat Batak Toba. Mereka tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga terlibat dalam berbagai aspek kehidupan bersama. Nommensen aktif dalam kegiatan adat dan budaya masyarakat Batak Toba, seperti upacara adat, perayaan, dan acara komunal lainnya. Mereka dengan bangga mempertahankan warisan budaya mereka sambil terbuka untuk berbagi pengalaman dengan masyarakat sekitar. 31 Ia juga mendirikan pargodungan yang menghadirkan kehidupan dan memberikan pelayanan Spritual. Kesehatan Fisik. Psikis. Finansial, dll. Meskipun dibenci dan dianggap musuh, namun kasih yang murah hati ia tampilkan untuk memenangkan hati orang Batak dan menyebarkan Injil kepada bangsa Batak. Selain itu. Nomensen juga turut serta dalam kegiatan sosial dan pembangunan komunitas bersama-sama dengan masyarakat Batak Toba. Mereka memperlihatkan rasa persaudaraan yang kuat dan siap membantu sesama dalam menghadapi berbagai tantangan. Kerjasama antara Nommensen dan masyarakat Batak Toba menciptakan ikatan sosial yang kokoh, memperkuat solidaritas di antara anggota masyarakat. Bungaran Antonius Simanjuntak. Konsepku membangun bangso Batak manusia, agama, dan budaya (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. , 312. Jubil Raplan Hutauruk. Lahir. Berakar Dan Bertumbuh Di Dalam Kristus (Sejarah 150 Tahun HKBP 7 Oktober 1861-2. (Pearaja:Kantor Pusat HKBP, 2. , 314. Franciska Marcia J. Silaen AySebuah Kajian Eklesiologis-Historis Pargodungan bagi Pembangunan Jemaat HKBP yang TransformatifAy dalam Epigraphe. Vol. 3: . , 203-239. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 61 Sikap Murah Hati: Keluar Memberi Bukan Mengambil Konsep Aukeluar memberi bukan mengambilAy adalah prinsip yang dipegang teguh oleh Nommensen, sebagaimana halnya dengan masyarakat Batak Toba secara umum. Mereka memahami bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kemampuan untuk memberi dan berbagi dengan orang lain. Oleh karena itu, mereka tidak segan untuk memberikan bantuan kepada sesama maupun musuhnya, baik dalam bentuk materi maupun dukungan emosional bahkan sekalipun nanti Nommensen di benci dan dimusuhi oleh banyak dari orang Batak. 33 Sikap murah hati ini tercermin dalam berbagai aktivitas sehari-hari Nommensen, seperti gotong royong untuk membantu anggota komunitas yang membutuhkan, mengumpulkan sumbangan untuk kegiatan amal, dan memberikan tempat tinggal serta makanan kepada tamu yang datang berkunjung. Nommensen memahami bahwa dengan saling membantu dan mendukung satu sama lain, mereka dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan sejahtera. Implementasi Sikap Hospitality dalam Kehidupan Sehari-hari dan dalam Komunitas orang Percaya. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap hospitality Nommensen tercermin dalam berbagai aspek kegiatan mereka. Misalnya, saat ada tamu yang datang berkunjung, mereka dengan tulus menyambut dan memberikan penghormatan yang layak. Mereka menyediakan makanan dan minuman untuk tamu serta memastikan bahwa tamu tersebut merasa nyaman dan dihargai selama berada di rumah Selain itu, dalam konteks kegiatan adat dan budaya, masyarakat Nommensen melibatkan masyarakat Batak Toba maupun masyarakat luar . i pargodunga. Mereka dengan antusias mengundang orang untuk bergabung dan merayakan bersama, menciptakan suasana yang penuh dengan kehangatan dan kegembiraan. Keramahtamahan dan sikap hospitality yang dimiliki oleh Nomensen merupakan bagian integral dari identitas budaya mereka sebagai bagian dari masyarakat Batak Toba. Sikap murah hati, kedekatan dengan masyarakat sekitar, dan keinginan untuk hidup harmonis dengan sesama menjadi landasan kuat dalam kehidupan bersama. Melalui prinsip Aukeluar memberi bukan mengambilAy, mereka menciptakan lingkungan yang hangat, solidaritas yang kuat, dan kebersamaan yang mendalam dalam komunitas mereka Keluarga Kristen Harus Bekerja Keras Dari ayat 12-14, terlihat bahwa Ishak adalah seorang pekerja keras dan rajin. Sekalipun Tuhan berjanji menyertai dan memberkatinya, tetapi ia tetap bekerja dengan keras, dia tidak tinggal diam bermalas-malasan menunggu berkat Tuhan. Demikianlah setiap keluarga Kristen harus berpikir unggul. Memang benar bahwa Tuhan berjanji akan memberkati umat-Nya, tetapi Tuhan juga memerintahkan agar setiap orang bekerja dan berusaha. Pola pikir malas dan mendapat hasil instan harusdibuang. Keluarga Kristen harus bekerja keras. Dan ini tentu dimulai dari pemimpin Kristen yang Jan S. Aritonang. A History of Christianity in Indonesia (Leiden: Brill, 2. , 537. Jan S. Aritonang. A History of Christianity in Indonesia, 537. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 62 memberikan teladan lewat visi misinya, potensi, kecakapan dan kemampuannya berpikir maju untuk kebaikan bersama. Tugas pelayanan gereja adalah tanggung jawab langsung kepada Tuhan Yesus Kristus, sehingga seorang pemimpin harus memperlengkapi dirinya dengan banyak hal lain yang dapat berpengaruh bagi orang lain35. Kegiatan wirausaha harus digunakan untuk memuliakan Tuhan (Mazmur 150. Roma 11:. Allah memberikan mandat kepada manusia untuk menguasai dan melestarikan ciptaan serta memberikan kecerdasan kepada manusiaberupa kemampuan bakat dan ketrampilan untuk melakukan Theopreneurship bukan saja untuk memenuhi kebutuhan seperti mencari nafkah hidup tetapi yang terpenting adalah dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi sesama dan dapat pertanggung jawaban kepada Tuhan yang telah menitipkan talenta. Pemaknaan entrepreurship berlandaskan Alkitab akan memberikan arah bahwa tujuan akhir berwirausaha bukan untuk mendapatkan kekayaan dan kemakmuran tetapi untuk manfaat bagi sesama manusia dan memuliakan Allah. Mendapatkan konsep nilai yang berdasarkan Alkitab mengenai aktivitas melaluipekerjaan, termasuk kegiatan bisnis. Karena itu, dalam aktivitas bisnisnya manusiaharus mengerjakan dengan sebaik-baiknya dan bertanggung jawab di dalam memproduksi, bertanggung jawab di dalam penjualan, bertanggung jawab di dalam mempromosikan dan bertanggung jawab di dalam pembayaran kewajiban dan hutang/pinjaman mereka. Tidak boleh ada pengusaha Kristen yang bisa membeli barang tetapi tidak bisa membayarnya, atau kabur begitu saja tanpa pemberitahuan atau tanggung jawab. Hal yang demikian sangat tidak terpuji dan tidak menjadi kesaksian yang baik dimana mereka harus menjadi garamdan terang. Seorang pengusaha Kristen tidak boleh lalai dalam membayar hutang-hutangnya sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Seorang pengusaha Kristen harus dapat dipegang janjinya dengan berpedoman pada prinsip Alkitab yaitu : Au ya katakan ya, tidak katakan tidak Au Pengusaha Kristen harus jujur dan bertanggung jawab Keluarga Kristen Harus Berani Bertindak Kehidupan iman kadang sangat mengherankan. Seorang bisa mempunyai iman yang teguh di suatu saat, namun kemudian dia mengalami keraguan di saat lain. Ishak pun rupanya mengalami kondisi serupa. Ishak mengalami masa kelaparan seperti yang pernah dialami Abraham, ayahnya. Jika Abraham dibiarkan Tuhan pergi ke Mesir, kali ini Ishak tidak. Lalu Tuhan menjanjikan berkat-berkat-Nya kepada Ishak. Situasi kelaparan melanda negeri dimana Ishak berada. Secara logika manusia,wajarlah jika Ishak berniat meninggalkan Filistin dan mengungsi ke daerah yang tidak terkena bencana. Namun firman Tuhan menguatkan Ishak untuk berani bertindak sekalipun di tengah kondisi ekonomi sulit. Dia berani bertindak dengan menabur atau dalam terjemahan lain berladang. Semua itu terjadi karena Ishak percaya akan janji Tuhan yang diikrarkan dengan ayahnya Abraham. Dalam hidup ini, sering keadaan kelihatannya bertentangan dengan janji firman Tuhan. Kristandi. Darren. AuKeberhasilan Seorang Pemimpin Gereja Sebagai Seorang Panutan dan Dampaknya dalam Pertumbuhan GerejaAy Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika. Vol. No. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 63 Dalam keadaan seperti itu, orang Kristen justru harus terus merenungkan janji Tuhan, supaya segala keragu-raguan bisa dihancurkan. Pada masa pembuangan di Babel pun. Tuhan menyuruh orang Israel mengusahakan kesejahteraan bangsa dimana mereka dibuang. Tuhan tidak mau umat-Nya menjadi terlalu ketakutan dalam kondisi sukar yang menimpa mereka. Sekalipun situasi sulit, orang percaya harus berani bertindak memulai usaha dan menjalankan Orang-orang dunia melakukan usaha atau bisnisnya sebagai tujuan dan sebagai ukuran dari keberhasilan hidup mereka. Mereka melakukan bisnis siang dan malamkarena itulah satusatunya arti hidup bagi mereka dan mereka melakukannya tanpamengandalkan atau melibatkan Tuhan. Berbeda dengan orang Kristen, kewirausahaan atau bisnis dalam kekristenan tidak dapat dilepaskan dari keimanan dan campur tangan Tuhan. Tuhan peduli dengan bisnis yang dilakukan oleh anak- anakNya. Tuhan sebagai Bapa ingin melihat usaha atau bisnis anak-anakNya berhasil, dan Ia ingin memberkati usaha anak-anak-Nya. Keluarga Kristen Harus Kreatif Tentang pengungsian ke Mesir pada waktu mengalami bencana kelaparan. Abraham. Ishak dan Yakub mengalami hal yang berbeda-beda. Pada waktu Abraham mengalami kelaparan dan mengungsi ke Mesir. Tuhan tidak memerintahkan ataupun melarang itu (Kejadian . Pada waktu Ishak terkenakelaparan. Tuhan melarangnya untuk pergi ke Mesir (Kejadian 26:. Pada waktu Yakub terkena kelaparan. Tuhan justru menyuruhnya untuk pergi ke Mesir (Kejadian 46:. Dari semua ini penulis menarik kesimpulan bahwa sekalipun situasi dan kondisinya sama, tetapi kehendak Tuhan bisa berbeda-beda. Karena itu, orang Kristen jangan sembarangan meniru orang lain. Orang Kristen harus kreatif. Tuhan menyuruh Ishak tinggal di Gerar sebagai orang asing . yat 2-. Tuhan adalah seorang desainer yang menciptakan, seorang kreator dan manajer yangkreatif dan inovatif36. Seorang pemimpin Kristen harus mampumemberikan sebuah solusi untuk masalah yang dihadapi jemaat. Ini adalah buah yang baik bagi pertumbuhan sebuah Ishak menunjukkan pentingnya kreatifitas dalam bekerja. Sekalipun ia tinggal di tanah Filistin sebagai pendatang dan orang asing, ia menjadi petani yang berhasil sehingga orang Filistin iri padanya. Seorang Kristen hendaknya seorang yang mampu menatap masa dengan dengan lebih optimis. Melihat ke depan dengan berpikir dan berusaha. Usaha memanfaatkan peluang dengan penuh perhitungan. Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan. Karena memiliki pandangan jauh ke masa depan maka ia akan selalu berusaha untuk berkarya dan berkarya38 Agus Wahyudi. AuApa Itu Entrepreneurship. Theopreneurship. Spiritual preneurshipAy Asteros: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Volume 8. No. Kristandi. Darren. AuKeberhasilan Seorang Pemimpin Gereja Sebagai Seorang Panutan dan Dampaknya dalam Pertumbuhan GerejaAy Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika. Vol. No. Suryana. Suryana. Kewirausahaan: Pedoman Praktis. Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta: Salemba, 2003. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 64 Inilah yang dimaksud penulis dengan theopreneurship Kristen harus kreatif. Tuhan menciptakan manusia serupa dan segambar dengan Allah (Kejadian 1:. Dia adalah Pribadi yang kreatif. Tuhan adalah pribadi yang bekerja, manusiajuga diciptakan untuk Tuhan senang manusia meneladani Dia, sebagaimana seorang ayah senang jika anaknya meneladani hal yang baik dari ayahnya. Tuhan Yesus selama berada dalam dunia memberikan teladan dengan bekerja sebagai tukang kayu (Markus 6:. , murid-murid Tuhan Yesus bekerja sebagai nelayan. Paulus bekerja sebagai pembuat tenda (Kisah Para Rasul 18:. Mereka adalah contoh-contoh pribadi yang kreatif dalam berentrepreneurship. Pengusaha Kristen dituntut untuk menjadi pengusaha yang membangun, artinya melakukan usaha atau bisnis yang tidak merusak dan merugikan orang lain dan lingkungan alam serta sosial di Misalnya seorang pengusaha Kristen tidak boleh menjadi pengusaha permainan judi, buka usaha pelacuran yangberkedok karaoke, atau dalam contoh yang banyak ditemui adalah membungakan uang dengan tingkat bunga yang sangat tinggi. Seorang pengusaha Kristen harus menyadari bahwa ia adalah seorang saksi Kristus yang membawa damai sejahtera bagi dunia ini dan tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukumkasih Allah dan firman Allah. Keluarga Kristen Harus Inovatif Dalam Kejadian 26:1-6 dan 12-14. Ishak ditonjolkan sebagai pribadi yang tunduk akan firman Tuhan tanpa membantah. Namun secara tersirat juga ditunjukkan bahwa ia seorang yang inovatif, terbukti dia mencari wilayah yang strategis untuk mulai berladang yaitu Gerar. Gerar merupakan kota kecil di Filistin dekat jalan menuju Mesir. Rupanya Ishak memilih untuk menetap dan bertani disana sehingga akses ke wilayah luar Filistin lancar. Dalam Kejadian 26:12 dicatat bahwa Ishak mendapat hasil tanah yang diusahakannya sejumlah seratus kali lipat karena ia diberkati Tuhan. Ini bukan hanya berlaku pada diri Ishak, tetapi juga pada diri semua orang percaya. Jika keluarga Kristen berhasil dalam pendidikan, usaha-bisnis, pekerjaan maupun pelayanan, semua itu adalah berkat Tuhan. Kesuksesan jangan menyebabkan orang percaya menjadi sombong lalu melupakan Tuhan, akhirnya mengutamakan pekerjaan, bisnis, uang dan harta di atas Tuhan. Seorang Kristen harus pandai bersyukur kepada Tuhan atas kesuksesan yang Ia berikan itu, dan menggunakan apa yang ada padanya kemuliaan Tuhan. Sifat inovatif Ishak menjadi teladan bagi entrepreneur Kristen masa kini. Keberhasilan entrepreneur umum adalah dengan mengumpulkan keuntungan finansial, sedangkan keberhasilan theopreneur berasal dari janji berkat Tuhan Allah, karena itu ia harus hidup untuk memberkati sebanyak mungkin orang dengan terus memberi dan memberi Bekerja dalam konteks theopreneurship menurut Drucker berarti menerapkan logika dan CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 65 aturan yang berguna untuk mencapai tujuan tertentu 39. Di dalam berwirausaha ada logika yang mengatur arus kerja. Kerja membutuhkan kemampuan menganalisis, membuat sintesis, dan mengontrol proses. Perlu dipahami bahwa berusaha atau berbisnis hanya berfungsi sebagai alat saja agar hidup manusia dapat terpelihara. Bisnis bukan segala-galanya dan bukan menjadi tujuan hidup manusia. Artinya seorang Kristen tidak boleh lupa akan Tuhan, keluarga, tujuan hidupnya dan kehidupan bergereja bersama-sama saudara seiman lainnya. Setiap orang Kristen harus mengingat bahwa ada tugas mulia yang dimandatkan oleh Tuhan Yesus agar menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Tugas mulia ini harus tetap dibawa dan dijalankan di dunia bisnis yang dilakukan. Hal ini bukan menunjukkan kefanatikan seseorang tetapi menunjukkan bahwa ia tahu tugas dan tanggung jawabnya di hadapan Allah. KESIMPULAN Surat Roma 12 menandai pergeseran tema dari pembahasan doktrin atau dogma ke praktik atau implementasi doktrin tersebut. Paulus menekankan pentingnya hubungan antara doktrin dan perilaku Kristen, di mana doktrin menjadi dasar bagi kehidupan Kristen dalam semua aspeknya. Penulis juga menjelaskan konteks sosial-politik pada saat surat Roma ditulis, yang mencakup kekaisaran Romawi yang berkuasa, struktur sosial yang kompleks, serta keberagaman agama dan budaya yang mempengaruhi praktik agama Kristen. Analisis juga diberikan terkait beberapa kata kunci dalam surat, seperti aNAC . , o . , dan AEO . , yang memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang teks Perjanjian Baru dan pentingnya memberi pelayanan dan kasih kepada sesama dan musuh dalam konteks Kristen. Paulus mengajarkan tentang pentingnya belas kasihan dan pengampunan, terutama terhadap Ayat 12:20 menekankan pentingnya bertindak dengan kebaikan terhadap musuh, bukan membalas kejahatan dengan kejahatan. Ini merupakan bagian dari ajaran Yesus yang mengubah paradigma tentang cara menangani konflik, mengedepankan prinsip-prinsip injil tentang kasih dan Ajaran Paulus tentang belas kasihan/kemurahan hati terhadap musuh merupakan bagian integral dari ajaran Kristiani yang menekankan pentingnya kasih dan pengampunan. Hal ini menggambarkan kemurahan hati sebagai ekspresi dari kasih tanpa syarat yang ditunjukkan oleh Tuhan kepada manusia, dan sebagai pengikut Kristus, umat Kristen dipanggil untuk mencerminkan sifat-sifatNya, termasuk kemurahan hati, dalam hubungan dengan sesama dan bahkan musuh sekalipun. Selain itu, hal ini juga menyoroti pentingnya hidup sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah, bahkan dalam menghadapi situasi sulit seperti konflik dan permusuhan. Ini menunjukkan bahwa kemurahan hati bukan hanya tentang bagaimana orang percaya berhubungan dengan orang lain, tetapi juga tentang bagaimana ia mencerminkan karakter Kristus di dunia ini. Tindakan nyata belas kasihan dan kemurahan hati, seperti memberikan makanan dan minuman kepada yang membutuhkan, memiliki dampak yang besar dalam membantu mereka yang kurang mampu dan dalam membangun ikatan sosial serta solidaritas dalam masyarakat. Drucker. Management: Tasks. Responsibilities. Practices. Chicago: Harper and Raw, 2004. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 66 REFERENSI