TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. Analisis Komparatif Tingkat Transparansi antara Bank Konvensional dan Bank Syariah di Indonesia Ailen Romauli Nababan1. Teri2. Arianto Taliding3. Wendy Kala Tikupadang4 1,2Universitas Fajar Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia 3,4Universitas Kristen Indonesia Paulus. Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia unifa@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif tingkat transparansi antara Bank Konvensional dan Bank Syariah di Indonesia pada periode 2019Ae2023. Transparansi dipandang sebagai faktor penting dalam membangun kepercayaan publik, investor, dan regulator, serta menjadi salah satu indikator tata kelola yang baik dalam industri Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dengan menganalisis laporan tahunan dan laporan keuangan sebagai dokumen resmi yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa BRI cenderung konsisten dalam mengungkapkan informasi teknis, seperti laporan keuangan, risiko usaha, dan kepatuhan regulasi. Sementara itu. BSI memperlihatkan peningkatan transparansi terutama setelah merger pada 2021, dengan penekanan pada aspek etika, akad syariah, mekanisme bagi hasil, dan tata kelola syariah. Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan karakteristik transparansi kedua jenis bank tidak hanya terletak pada bentuk laporan, tetapi juga pada landasan nilai yang mendasari operasional masing-masing. ABSTRACT This study aims to conduct a comparative analysis of the transparency level between Conventional Banks and Islamic Banks in Indonesia during the period 2019Ae2023. Transparency is considered an essential factor in building public trust, investor confidence, and regulatory compliance, as well as being a key indicator of good corporate governance in the banking industry. The research employs a qualitative descriptive approach, analyzing official documents such as annual reports and financial statements published through the Indonesia Stock Exchange (IDX). The findings reveal that BRI consistently emphasizes technical aspects of disclosure, including financial reporting, business risk, and regulatory compliance. Meanwhile. BSI demonstrates a significant improvement in transparency, particularly after the merger in 2021, with greater emphasis on ethical dimensions, sharia contracts, profit-sharing mechanisms, and sharia-based governance. These results indicate that the main difference in transparency characteristics lies not only in reporting format but also in the underlying values guiding each banking systemAos operations. Volume 10 Nomor 2 Halaman 485-493 Makassar. Desember 2025 p-ISSN 2528-3073 e-ISSN 24656-4505 Tanggal masuk 2 Desember 2025 Tanggal diterima 7 Desember 2025 Tanggal dipublikasi 9 Desember 2025 Kata kunci : Transparansi. Bank Konvensional, dan Bank Syariah Keywords : Transparency. Conventional Banks, and Islamic Banks Mengutip artikel ini sebagai : Nababan. Teri. Nurbayani, dan Tikupadang. Analisis Komparatif Tingkat Transparansi antara Bank Konvensional dan Bank Syariah di Indonesia. Tangible Jurnal, 10. No. Desember 2025. Hal. https://doi. org/10. 53654/tangible. PENDAHULUAN Sistem Perbankan memegang peranan krusial dalam menggerakkan roda perekonomian suatu negara, termasuk Indonesia yang memiliki dua sistem perbankan yang berjalan berdampingan yakni Bank Konvensional dan Bank Syariah (Mashuri , 2. Kedua jenis bank ini memiliki karakteristik operasional dan prinsip yang berbeda, terutama dalam hal landasan hukum dan etika bisnis. Bank Konvensional beroperasi berdasarkan prinsip bunga, sementara bank syariah berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam yang melarang riba (Bung. dan spekulasi yang tidak sesuai dengan syariah (Pramesti et al. , 2. Perbedaan mendasar ini berpotensi memengaruhi tingkat transparansi dalam penyajian informasi keuangan dan operasional kepada para pemangku kepentingan. TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. Transparansi dalam Industri perbankan merupakan aspek yang sangat penting untuk membangun kepercayaan nasabah, investor dan regulator (Yuniar et al. , 2024. Agustuty dkk. , 2. Tingkat Transparansi yang tinggi memungkinkan para pemangku kepentingan untuk memahami kinerja keuangan, risiko dan praktik bisnis secara lebih baik, sehingga memfasilitasi pengambilan keputusan yang lebih informatif Dalam konteks persaingan antara bank konvensional dan bank syariah di Indonesia, tingkat transparansi dapat menjadi salah satu faktor pembeda yang signifikan dalam menarik nasabah dan investor yang semakin sadar akan etika dan akuntabilitas. Perbedaan Prinsip operasional antara bank konvensional dan bank Syariah dapat menimbulkan perbedaan dalam fokus informasi yang diungkapkan. Bank Konvensional dan Bank syariah dalam beberapa hal memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP. NPWP, proposal, laporan keuangan dan sebagainya menjadi hal mendasar yang membedakan antara lembaga keuangan konvensional dengan syariah terletak pada pengembalian dan pembagian keuntungan yang diberikan oleh nasabah kepada lembaga keuangan dan/atau yang diberikan oleh lembaga keuangan kepada nasabah. (Rosiana & Triaryati, 2. Penelitian tentang bank konvensional dan bank syariah sudah banyak dilakukan oleh para peneliti. Seperti penelitiannya Rahmawati & Yanti . tentang tingkat kesehatan bank konvensional vs bank syariah. Hasil penelitiannya Secara keseluruhan, bank konvensional memiliki skor kesehatan bank yang lebih baik, terutama karena transparansi terhadap rasio risiko, kualitas aktiva produktif dan tata kelola. Bank syariah tertinggal dalam pelaporan RGEC (Risk Profile. Good Corporate Governnace. Earnings. Capita. adalah proses pelaporan yang digunakan untuk menilai tingkat kesehatan bank umum syariah. karena struktur organisasi yang lebih kompleks akibat keberadaan dewan pengawas syariah. Begitu juga dengan penelitiannya Nuraini . tentang Efisiensi dan Transparansi pada investasi bank. Adapun hasil penelitiannya, penelitian ini melihat perbedaan pendekatan transparansi antara bank syariah dan konvensional dalam konteks investasi yang dimana dalam penelitian tersebut menjelaskan bank syariah lebih menekankan pada prinsip etika, keadilan, dan penghindaran riba, namun tidak selalu lengkap dalam penyajian informasi keuangan berbasis risiko. Sejalan dengan itu penelitiannya Zubairi . tentang Krisis Global transparansi syariah versus konvensional. Hasil yang sama juga dikemukakan oleh Irsyad . Hasil penelitiannya mengungkapkan Transparansi bank syariah cenderung etis normatif. Bank konvensional unggul dalam transparansi struktural saat krisis. Minimnya penelitian komparatif yang mendalam mengenai tingkat transparansi antara bank konvensional dan bank syariah di Indonesia menjadi motivasi utama penelitian ini. Pemahaman yang komprehensif mengenai perbedaan tingkat transparansi antara kedua jenis bank ini akan memberikan kontribusi yang berharga bagi regulator dalam merumuskan kebijakan yang mendorong praktik transparansi yang lebih baik di seluruh industri perbankan. selain itu hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi nasabah dan investor dalam memilih layanan perbankan yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhan informasi mereka (Alfajri & Andrini, 2. Di Indonesia, sistem perbankan terdiri dari dua entitas besar, yakni bank konvensional dan bank syariah. Salah satu representasi utama dari bank konvensional adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang merupakan bank milik Negara dan dikenal luas sebagai pelopor layanan keuangan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) (Purnomo. Syarifah, & Hodri, 2. BRI telah lama menerapkan prinsip perbankan modern berbasis bunga serta mengadopsi standar pelaporan TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. keuangan internasional seperti IFRS untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas. Di sisi lain. Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi simbol utama dari perbankan berbasis syariah, terbentuk dari penggabungan tiga bank syariah milik BUMN pada Tahun 2021, yaitu Bank Syariah. Mandiri. BNI Syariah, dan BRI Syariah (Kunaifi & Syam, 2. BSI beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam yang menekankan pada keadilan, transparansi, dan larangan terhadap praktik riba serta spekulasi (Nasution dkk. , 2. Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin terbuka, tuntutan terhadap transparansi dalam laporan keuangan dan operasional lembaga keuangan meningkat tajam. Hal ini tidak hanya berlaku bagi investor institusional dan regulator, tetapi juga bagi nasabah individu yang semakin sadar akan pentingnya keterbukaan informasi. Transparansi menjadi elemen krusial dalam membangun kepercayaan, memperkuat reputasi lembaga, serta mencegah praktik manipulatif dan risiko moral hazard. Dalam konteks inilah, praktik transparansi antara bank Konvensional dan bank syariah ditelaah lebih dalam. Khususnya dalam aspek sejauh mana keduanya mampu memenuhi harapan standar keterbukaan yang berlaku. Secara empiris, masih ditemukan ketimpangan dalam penerapan transparansi antara kedua jenis bank tersebut. Bank konvensional dinilai relatif lebih mapan karena telah lama mengadopsi standar pelaporan internasional seperti IFRS, serta secara reguler mengungkapkan rasio keuangan, struktur organisasi, dan risiko operasional secara Sementara itu. Bank Syariah kerap menghadapi tantangan dalam menyelaraskan pelaporan keuangan berbasis syariah yang dengan ekspektasi transparansi pasar yang lebih luas (Ramly & Jumliana, 2. Kompleksitas struktur organisasi bank syariah, keberadaan dewan pengawas syariah (DPS), dan beragamnya akad-akad syariah yang digunakan menambah lapisan baru dalam pelaporan keuangan yang belum tentu dapat dipahami secara luas oleh pemangku kepentingan non-spesifik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif tingkat transparansi antara bank konvensional dan bank syariah di Indonesia. Penelitian ini akan mengeksplorasi perbedaan dalam pengungkapan informasi keuangan, operasional dan informasi spesifik lainnya yang relevan bagi para pemangku kepentingan. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keunggulan dan kekurangan masingmasing jenis bank dalam hal transparansi, serta mengidentifikasi area-area yang berpotensi untuk ditingkatkan. METODE PENELITIAN Pendekatan penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai praktik transparansi bank konvensional dan bank syariah melalui analisis naratif atas dokumen resmi, bukan melalui pengukuran numerik. Metode deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan gambaran yang sistematis, faktual, dan akurat mengenai tingkat transparansi informasi pada bank yang diteliti. Pendekatan ini tidak hanya berusaha menjawab apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana praktik transparansi dilakukan serta mengapa perbedaan itu muncul. Dengan demikian, penelitian ini menekankan interpretasi fenomenologis, yaitu bagaimana transparansi dipraktikkan oleh bank dalam konteks regulasi, etika, dan kebutuhan pemangku kepentingan. Subjek dan Objek Penelitian Objek penelitian adalah pengungkapan dalam laporan tahunan . nnual repor. perusahaan perbankan konvensional dan syariah. Subjek penelitian ini di wakili oleh TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai representasi dari bank konvensional dan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai representasi dari bank syariah. Periode pengamatan adalah 5 . tahun yakni sejak tahun 2019-2023. Metode Analisis Data Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan rumus index disclosure. Adapun Rumus dari disclosure index, yaitu sebagai berikut : Keterangan: xi bernilai 1 jika informasi diungkapkan, 0 jika tidak diungkapkan (OcX. : Jumlah total skor pengungkapan dari seluruh indikator N : Total Jumlah indikator atau item dalam indeks disclosure Analisis ini bertujuan untuk menilai sejauh mana suatu entitas mengungkapkan informasi penting dalam laporan keuangannya secara transparan dan sesuai standar Adapun indikator dalam Disclosure Index yang digunakan dalam penelitian ini disusun dengan mengacu pada ketentuan resmi dari Otoritas Jasa keuangan (POJK No. 37/PJOK. 03/2019 dan SEOJK No. 10/SEOJK. 03/2. , standar akuntansi keuangan di Indonesia (PSAK dan PSAK Syaria. , serta literatur terdahulu yang relevan mengenai transparansi perbankan. Dengan dasar tersebut, pengukuran transparansi tidak hanya bersifat teknis tetapi juga sesuai dengan standar regulasi nasional, sehingga hasil penelitian dapat dipercaya dan memiliki kesesuaian dengan praktik pelaporan yang berlaku. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Pengungkapan Informasi Pada bank Rakyat Indonesia (BRI) Berdasarkan dari data 5 tahun terakhir yang diperoleh peneliti dan sudah dianalisis tentang transparansi dan efektivitasnya, maka hasil analisis bisa dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Bank Rakyat Indonesia . No. Item Pengungkapan 2021 2022 2023 Informasi profil Pengungkapan Laporan visi dan misi Struktur organisasi Laporan keuangan lengkap Informasi CSR Pengungkapan risiko usaha Kepatuhan pemerintah/ojk Informasi remunerasi manajemen Informasi tata kelola (GCG) 10 Laporan auditor independen Berdasarkan tabel diatas Pada laporan keuangan di Tahun 2019-2021 pada PT Bank Rakyat Indonesia . Tbk menunjukkan bahwa kinerja pada periode 2022 menjadi tantangan bagi sektor keuangan nasional, termasuk dalam Bank Rakyat Indonesia (BRI), akibat dampak pandemi yang menekan aktivitas ekonomi. Meskipun demikian. BRI mampu mempertahankan kepercayaan nasabah dengan menjaga TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. stabilitas penghimpunan dana dan penyaluran kredit secara selektif. Tekanan terhadap laba terjadi terutama karena peningkatan cadangan risiko kredit sebagai langkah antisipasi terhadap potensi risiko gagal bayar di tengah ketidakpastian ekonomi. sisi operasional. BRI mempercepat transformasi digital untuk mendukung layanan perbankan yang tetap berjalan optimal meskipun ada pembatasan aktivitas. Peningkatan layanan berbasis teknologi juga berhasil memperluas akses dan mendukung kenyamanan nasabah di masa krisis. Kondisi permodalan tetap terjaga kuat, mencerminkan kesehatan keuangan yang baik meskipun dihadapkan pada tekanan eksternal. Laporan auditor independen memberikan opini wajar tanpa pengecualian, yang menegaskan bahwa laporan keuangan telah disajikan sesuai standar akuntansi yang berlaku serta menunjukkan kepatuhan BRI terhadap tata kelola perusahaan yang baik. Berdasarkan data Laporan keuangan pada Tahun 2022 PT Bank Rakyat Indonesia . Tbk memiliki tingkat keterbukaan 100% menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan laporan sebelumnya yang umumnya hanya mencapai 60%. Laporan ini tidak hanya menyajikan data keua65gan lengkap tetapi juga memasukkan informasi non-keuangan seperti visi dan misi, tanggung jawab sosial (CSR), remunerasi manajemen, praktik tata kelola (GCG), dan laporan auditor independen, sehingga mencerminkan komitmen kuat terhadap transparansi dan tata kelola yang Selanjutnya Laporan keuangan pada Tahun 2023 BRI menunjukkan tingkat keterbukaan informasi yang tinggi. Informasi profil perusahaan, visi-misi, struktur organisasi, laporan keuangan. CSR, risiko usaha, kepatuhan terhadap regulasi. GCG, dan laporan auditor telah disajikan dengan baik. Satu aspek yang belum lengkap adalah rincian remunerasi manajemen yang umumnya disajikan pada laporan tahunan, bukan laporan interim. Hasil Pengungkapan Informasi Pada Bank Syariah Indonesia (BSI) Bank syariah di wakili olah informasi pengungkapan Bank Syariah Indonesia yang disajikan dalam tabel di bawah ini. Tabel 2. Bank Syariah Indonesia . No. Item Pengungkapan 2021 2022 2023 Informasi profil Pengungkapan Laporan visi dan misi Struktur organisasi Laporan keuangan lengkap Informasi CSR Pengungkapan risiko usaha Kepatuhan pemerintah/ojk Informasi remunerasi manajemen Informasi tata kelola (GCG) 10 Laporan auditor independen Berdasarkan tabel diatas laporan keuangan syariah 2019 Bank Syariah memberikan pengungkapan yang baik terkait profil perusahaan, laporan keuangan, manajemen risiko, kepatuhan terhadap regulasi OJK, serta penerapan Good Corporate Governance (GCG). Namun, informasi terkait visi dan misi, struktur organisasi, tanggung jawab sosial (CSR), remunerasi manajemen, dan laporan auditor independen belum disajikan dalam dokumen ini. Secara keseluruhan, indeks pengungkapan mencapai 50% . dari 10 aspe. , menunjukkan adanya ruang perbaikan pada aspek non-keuangan seperti CSR dan tata kelola detail. Selanjutnya pada Laporan keuangan TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. syariah 2020 sudah mengungkapkan mayoritas informasi penting, terutama terkait profil bank, laporan keuangan lengkap, kepatuhan regulasi, manajemen risiko. GCG, serta remunerasi berbasis saham. Namun, informasi visi dan misi, struktur organisasi, dan kegiatan CSR belum diungkapkan secara eksplisit di dalam dokumen ini. Laporan Keuangan Syariah 2021-2023 menunjukkan tingkat pengungkapan yang sangat baik dengan skor 100%. Seluruh komponen penting seperti profil perusahaan, visi misi, tata kelola, risiko, dan kepatuhan regulasi terungkap dengan lengkap. Ini menunjukkan transparansi dan kepatuhan yang tinggi terhadap standar pelaporan keuangan dan tata kelola yang baik di sektor perbankan syariah. Semua aspek yang direkomendasikan dalam indeks pengungkapan terpenuhi, mulai dari profil perusahaan hingga laporan audit independen. Penyajian laporan keuangan lengkap, komitmen terhadap prinsip syariah, serta kepatuhan terhadap regulasi OJK memperkuat transparansi. Informasi CSR dan GCG mengindikasikan tanggung jawab sosial yang dijalankan, sementara risiko usaha dan kepatuhan syariah diuraikan jelas untuk mendukung kepercayaan publik. Dengan demikian. BSI tahun 2023 dapat dikategorikan sebagai bank syariah dengan pengungkapan informasi yang sangat baik, sejalan dengan praktik perbankan modern yang menekankan keterbukaan informasi sebagai bagian dari prinsip tata kelola yang sehat. Analisis Transparansi Bank Rakyat Indonesia Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebagai salah satu bank konvensional terbesar di Indonesia, memiliki reputasi yang cukup baik dalam hal keterbukaan informasi kepada publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat transparansi BRI dalam periode 2020 hingga 2024 mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini tercermin dari nilai disclosure index yang meningkat secara bertahap, dari 60% pada tiga tahun awal . , menjadi 100% pada Tahun 2023, dan sedikit menurun menjadi 90% pada Tahun 2024. Pada awal periode pengamatan, yakni tahun 2020 hingga 2022. BRI cenderung hanya mengungkapkan informasi yang bersifat wajib atau minimal sesuai regulasi yang ditetapkan oleh otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan standar akuntansi keuangan. Informasi seperti laporan keuangan lengkap . eraca, laba Rugi, arus ka. , struktur organisasi, kepatuhan terhadap regulasi, serta laporan auditor independen tersedia dan diungkapkan dengan baik. Tingkat transparansi yang berada pada angka 60% dalam tiga tahun pertama menunjukkan bahwa meskipun BRI sudah memenuhi sebagian besar kewajiban pelaporan, namun belum sepenuhnya memaksimalkan potensi keterbukaan informasi sebagai strategi untuk membangun kepercayaan publik dan meningkatkan kredibilitas di mata investor maupun Pada awal periode pengamatan, yakni tahun 2020 hingga 2022. BRI cenderung hanya mengungkapkan informasi yang bersifat wajib atau minimal sesuai regulasi yang ditetapkan oleh otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan standar akuntansi keuangan. Informasi seperti laporan keuangan lengkap . eraca, laba Rugi, arus ka. , struktur organisasi, kepatuhan terhadap regulasi, serta laporan auditor independen tersedia dan diungkapkan dengan baik. Tingkat transparansi yang berada pada angka 60% dalam tiga tahun pertama menunjukkan bahwa meskipun BRI sudah memenuhi sebagian besar kewajiban pelaporan, namun belum sepenuhnya memaksimalkan potensi keterbukaan informasi sebagai strategi untuk membangun kepercayaan publik dan meningkatkan kredibilitas di mata investor maupun regulator. Namun demikian, pada tahun 2023 terjadi lonjakan signifikan dalam disclosure index BRI menjadi 100%. Kenaikan ini menunjukkan adanya perubahan strategi pelaporan yang lebih komprehensif, di mana seluruh elemen pengungkapan termasuk TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. visi dan misi. CSR. GCG, serta informasi remunerasi manajemen telah disajikan secara Perubahan ini mencerminkan kesadaran BRI terhadap pentingnya keterbukaan sebagai bagian dari tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governanc. serta sebagai respons terhadap meningkatnya tuntutan publik terhadap transparansi dalam industri perbankan. Pada tahun 2023, meskipun nilai transparansi sedikit menurun menjadi 90%, hal ini disebabkan oleh tidak diungkapkannya informasi remunerasi manajemen secara rinci pada laporan keuangan interim. Namun secara keseluruhan, transparansi BRI masih tergolong tinggi. Penurunan ini bukan merupakan indikasi kelemahan, melainkan lebih kepada perbedaan cakupan antara laporan interim dengan laporan tahunan yang bersifat lebih lengkap dan detail. Analisis Transparansi Bank Rakyat Indonesia Bank Syariah Indonesia (BSI) merupakan representasi dari sistem perbankan berbasis syariah di Indonesia, yang terbentuk dari hasil penggabungan tiga bank syariah BUMN pada tahun 2021, yaitu BRI Syariah. BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri. Oleh karena itu, evaluasi terhadap tingkat transparansi BSI tidak hanya penting dalam melihat kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah, tetapi juga dalam menilai kemampuannya menyelaraskan prinsip transparansi modern dengan nilainilai Islam yang menjadi dasar operasionalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat transparansi BSI mengalami perkembangan yang progresif selama periode pengamatan 2020 hingga 2024. Meskipun secara formal BSI baru terbentuk pada 2021, penelusuran data dari entitas sebelumnya digunakan untuk tahun 2020. Pada tahun tersebut, tingkat disclosure berada pada angka 50%, yang mengindikasikan masih terbatasnya pengungkapan informasi, terutama pada aspek non-keuangan. Peningkatan mulai terlihat pada tahun 2021, dengan skor disclosure index naik menjadi 70%. Pada periode ini. BSI mulai mengungkapkan lebih banyak informasi terkait kepatuhan terhadap regulasi, manajemen risiko, remunerasi manajemen, dan tata kelola perusahaan (GCG) (Praditha dkk. , 2. Hal ini mencerminkan adaptasi yang cepat terhadap ekspektasi publik dan regulator, serta merupakan hasil dari konsolidasi sistem pelaporan pasca-merger. Capaian transparansi 100% dalam dua tahun berturut-turut menunjukkan keberhasilan BSI dalam menyelaraskan prinsipprinsip syariah seperti keadilan, transparansi, dan keberlanjutan . dengan praktik tata kelola modern. Dalam konteks perbankan syariah, ini menjadi prestasi penting karena tantangan transparansi di sektor ini tidak hanya berasal dari aspek pelaporan konvensional, tetapi juga dari keharusan untuk menjelaskan akad-akad syariah, pengelolaan dana sesuai fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI), serta pengawasan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Analisis Komparatif Stabilitas Transparansi: Bank Rakyat Indonesia (BRI) lebih konsisten sejak awal dalam pengungkapan laporan keuangan dan regulasi, menunjukkan kematangan sistem pelaporan. Sebaliknya. Bank Syariah Indonesia (BSI) memperlihatkan tren peningkatan yang tajam, dari transparansi rendah menuju pengungkapan penuh dalam waktu dua Tahun. Karakteristik Transparansi: Bank Rakyat Indonesia (BRI) unggul dalam aspek teknis, seperti pelaporan keuangan, audit, dan risiko usaha. Sementara itu Bank Syariah Indonesia (BSI) menonjol dalam aspek etika dan kepatuhan Syariah, yang menjadi nilai tambah dalam membangun kepercayaan nasabah Muslim. Keterbukaan Non-Keuangan Bank Syariah Indonesia (BSI) mulai menunjukkan keunggulan dalam hal Keterbukaan terhadap informasi CSR. GCG, dan struktur TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. organisasi sejak tahun 2022. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan syariah mulai bertransformasi ke arah yang lebih informatif dan akuntabel. Tantangan dan Kompleksitas : Bank Syariah Indonesia (BSI) menghadapi tantangan tambahan berupa integrasi prinsip syariah dalam pelaporan. Kompleksitas akad dan keberadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS) menjadi faktor pembeda dalam proses pelaporan, yang pada awalnya menjadi SIMPULAN Tingkat transparansi Bank Konvensional Bank Rakyat Indonesia cenderung lebih menonjol pada aspek keterbukaan informasi finansial, terutama laporan keuangan, rasio keuangan, serta pemenuhan standar akuntansi yang berlaku umum. Transparansi tersebut didorong oleh kewajiban regulasi dan kebutuhan untuk menjaga kepercayaan publik maupun investor. Sedangkan tingkat transparansi Bank Syariah lebih menekankan pada kepatuhan terhadap prinsip syariah selain aspek finansial. Informasi yang diungkapkan tidak hanya berkaitan dengan kinerja keuangan, tetapi juga terkait aspek kesesuaian dengan fatwa Dewan Syariah Nasional, pembiayaan berbasis syariah, serta tanggung jawab sosial. Perbedaan utama antara keduanya terlihat pada orientasi transparansi. Bank Konvensional lebih berorientasi pada kepatuhan regulasi dan kebutuhan pasar, sedangkan Bank Syariah berorientasi pada pemenuhan prinsip syariah serta nilai moral yang mendasarinya. DAFTAR PUSTAKA