Manajemen Agribisnis:Jurnal Agribisnis (Volume 26 Nomor 1 Januari 2. ISSN : 1829-7889. e-ISSN : 2715-9086 Analisis Pola Konsumsi Susu Kental Manis oleh Rumah Tangga Peserta Program Keluarga Harapan di Kota Pekanbaru Mutia Agnes Almira Rosalin. Djaimi Bakce. Jumatri Yusri. Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Riau email: mutia. agnes2965@student. Abstract Sweetened condensed milk is one of the most widely consumed dairy product in Indonesia, particularly among low income households due to its affordable price and long shelf life. However, considering its high sugar content and low protein levels make its consumption an important concern in terms of nutritional quality. This study aims to analyze the consumption pattern of sweetened condensed milk among households participating in Program Keluarga Harapan (PKH) in Pekanbaru City based on their socioeconomic characteristics. Primary data were collected through interviews with PKH households in several districts of Pekanbaru City. Data were analyzed using descriptive quantitative methods through cross tabulation to examine variations in sweetened condensed milk consumption according to household size, education level, and occupation of the household head. The results show that most Program Keluarga Harapan households in Pekanbaru regularly consumed sweetened condensed milk. The amount of consumption tends to be lower in households with more family members, while households with lower education levels and head working in the informal sector tend to consumed more sweetened condensed milk. In conclusion, sweetened condensed milk remains the most widely consumed dairy product among Program Keluarga Harapan households, highlighting the need for nutrition education to promote awareness of healthier and more nutritious milk consumption choices. Keywords: Consumption. Household. Program Keluarga Harapan Sweetened condensed Pendahuluan Susu merupakan salah satu komoditas pangan hewani yang dikonsumsi seharihari oleh berbagai kelompok umur. Sebagai pangan bergizi tinggi, susu protein, lemak, dan karbohidrat, serta mikronutrien seperti vitamin, mineral, dan komponen lain yang bermanfaat bagi pemenuhan gizi dan kesehatan tubuh (Suciati & Safitri, 2. Sementara itu. Harna & Irawan . menjelaskan bahwa susu merupakan cairan berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar susu mamalia betina dan berperan sebagai sumber gizi utama bagi keturunannya. Ada banyak jenis susu yang beredar di pasaran dan kalangan masyarakat. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia mengklasifikasikan susu menjadi empat jenis yaitu susu cair pabrik, susu bubuk, susu bubuk bayi, dan susu kental manis. Berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG). Angka Kecukupan Energi (AKE) anjuran adalah 100 kkal dengan kebutuhan harian terdiri dari 57 gr protein, 50 gr lemak, 280 gr karbohidrat, 25 gr serat, 350 ml air, 14 vitamin, dan 14 mineral. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . menyatakan bahwa dalam setiap 100 gr susu mengandung 61 kkal energi, 3,2 gr protein, 3,5 gr lemak, 4,3 gr karbohidrat, 143 mg kalsium, 60 mg fosfor, 1,7 mg zat besi, 39 AAg vitamin A, 0,03 mg vitamin B, 1 mg vitamin C, dan 88,3 gr air. Kandungan gizi tersebut menunjukkan bahwa susu berperan strategis dalam membantu pemenuhan kebutuhan energi dan protein. Meskipun bergizi tinggi, angka konsumsi semua jenis susu di Kota Pekanbaru masih Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . yaitu sebesar 200 ml/kapita/hari. Rendahnya konsumsi ini mengindikasikan bahwa terdapat sebagian besar masyarakat yang belum mampu memenuhi kebutuhan gizi dengan optimal. Manajemen Agribisnis:Jurnal Agribisnis (Volume 26 Nomor 1 Januari 2. ISSN : 1829-7889. e-ISSN : 2715-9086 Gambar 1. Konsumsi susu kental manis di Kota Pekanbaru tahun 2020-2024 Keadaan tersebut menjadi semakin terlihat nyata pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah, termasuk rumah tangga penerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH). Rumah tangga penerima bantuan PKH memiliki kecenderungan memilih produk susu dengan harga yang lebih terjangkau dan menggunakan bantuan yang mereka terima untuk pengeluaran bahan makanan lain yang dianggap lebih utama seperti beras dan telur, sehingga pembelian produk susu sering kali tidak menjadi prioritas dalam pengeluaran rumah Hidayat. Yudistira. Chairunnisa, & Soefihara . menyatakan bahwa susu kental manis merupakan jenis susu yang harganya murah, daya simpannya lama, dan dianggap sebagai pengganti susu Namun, kandungan gula pada susu kental manis yang mencapai lebih dari 60% menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang bagi kesehatan bila dikonsumsi secara berlebihan, terutama bagi rumah tangga penerima PKH (Kusnandar. Rahayu. Marpaung, & Santoso, 2. Berdasarkan Badan Pangan Nasional Republik Indonesia . , pola konsumsi mencerminkan proporsi dan jenis pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat dalam jangka waktu tertentu. Pola konsumsi dipengaruhi berbagai faktor sosial dan ekonomi, seperti pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan (Irham. Harahap. Kumala. Tarigan, & Yafiz, 2. Hal tersebut Nursamsi. Nurmalina, & Rifin . mengenai sistem permintaan komoditas sumber protein di enam provinsi Indonesia, yang komoditas sumber protein dipengaruhi oleh tingkat pendapatan dan pendidikan rumah tangga. Walaupun berbagai studi terkait konsumsi susu dan sumber protein telah banyak dilakukan, kajian mengenai pola konsumsi susu kental manis, khususnya pada rumah tangga PKH, masih sangat terbatas. Keterbatasan dilakukan penelitian yang secara spesifik menganalisis bagaimana faktor sosial dan ekonomi mempengaruhi pola konsumsi susu kental manis pada kelompok khususnya rumah tangga PKH. Berdasarkan penelitian ini dilakukan untuk mengkaji secara mendalam pola konsumsi susu kental manis oleh rumah tangga peserta PKH di Kota Pekanbaru Penelitian ini bertujuan melihat bagaimana pengaruh jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan terhadap pola konsumsi susu kental manis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi merumuskan kebijakan edukasi gizi dan strategi peningkatan konsumsi susu yang lebih sehat di kalangan rumah tangga berpendapatan rendah, khususnya rumah tangga peserta PKH di Kota Pekanbaru. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kota Pekanbaru. Provinsi Riau. Lokasi pertimbangan bahwa Kota Pekanbaru sebagai ibu kota provinsi sehingga keberhasilan pelaksanaan PKH. Populasi penelitian mencakup seluruh rumah tangga yang resmi terdaftar sebagai Manajemen Agribisnis:Jurnal Agribisnis (Volume 26 Nomor 1 Januari 2. ISSN : 1829-7889. e-ISSN : 2715-9086 PKH Kota Pekanbaru. Jumlah sampel penelitian ditetapkan sebanyak 315 rumah tangga penerima PKH di Kota Pekanbaru. Penentuan sampel dilakukan dengan metode multistage sampling melalui teknik melakukan pengundian yang bertujuan agar sampel yang diperoleh tidak bersifat Pemilihan sampel diawali dengan menentukan tujuh kecamatan dari total lima belas kecamatan di Kota Pekanbaru. Kecamatan-kecamatan tersebut dipilih karena berada di wilayah pintu masuk Kota Pekanbaru keragaman pola konsumsi rumah tangga sehingga data yang diperoleh diharapkan karakteristik sosial ekonomi di antara penerima PKH dan tidak bersifat Dari setiap kecamatan yang telah ditentukan, dipilih tiga kelurahan berdasarkan jarak terdekat, menengah, dan terjauh dari pasar. Selanjutnya, dilakukan pemilihan 15 responden rumah tangga peserta PKH secara acak dari masing-masing diperoleh 315 responden rumah tangga peserta PKH sebagai sampel penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan rumah tangga penerima PKH di Kota Pekanbaru menggunakan kuesioner Kuesioner tersebut disusun sesuai dengan tujuan penelitian, yang meliputi karakteristik sosial ekonomi, jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga, serta pola konsumsi susu kental manis sehingga data yang diperoleh dapat mencerminkan kondisi aktual responden. Analisis data penelitian deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif menggambarkan pola konsumsi susu kental manis oleh rumah tangga peserta PKH berdasarkan jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga yang Hasil Dan Pembahasan Karakteristik Responden Rumah Tangga Peserta Program Keluarga Harapan Karakteristik penelitian ini memberikan gambaran umum mengenai identitas responden rumah tangga peserta PKH di Kota Pekanbaru. Karakteristik responden yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi beberapa aspek antara lain umur, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan jumlah Keempat karakteristik tersebut dipertimbangkan karena berpotensi mempengaruhi pola konsumsi susu kental manis pada rumah tangga berpendapatan rendah, khususnya rumah tangga PKH. Faktor umur pengetahuan, dan sikap yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan pangan rumah tangga (Reicilya. Mukson, & Setiyawan, 2. Sementara itu, tingkat pendidikan berkaitan dengan kemampuan intelektual seseorang, di mana semakin tinggi pendidikan dan intelektualitas, maka semakin rasional dan terarah pula keputusan yang diambil individu, termasuk dalam menentukan pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi (Ginting, 2. Selain itu, jenis pekerjaan juga menjadi faktor penting dalam mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga. Pekerjaan di sektor informal umumnya identik dengan ketidakpastian ekonomi. Kondisi ini dapat mempengaruhi kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari (Sibagariang. Mauboy. Erviana, & Kartiasih, 2. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan sebanyak 315 rumah tangga peserta PKH di Kota Pekanbaru. Informasi lebih rinci terkait karakteristik sosial ekonomi responden rumah tangga peserta PKH di Kota Pekanbaru tersebut disajikan pada Tabel 1 berikut: Manajemen Agribisnis:Jurnal Agribisnis (Volume 26 Nomor 1 Januari 2. ISSN : 1829-7889. e-ISSN : 2715-9086 Tabel 1 Karakteristik Responden Rumah Tangga Peserta Program Keluarga Harapan Umur No. Kategori Jumlah (Jiw. Belum Produktif (<15 tahu. Produktif . -59 tahu. Tidak Produktif (> 59 tahu. Total Sumber: Data Primer diolah Penulis Persentase (%) 92,70 7,30 Tabel 2 Karakteristik Responden Rumah Tangga Peserta PKH Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. Kategori Jumlah (Jiw. Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah (SMP & SMA) Perguruan Tinggi Total Sumber: Data Primer diolah Penulis Persentase (%) 2,54 22,22 71,43 3,81 Tabel 3 Karakteristik Responden Rumah Tangga Peserta PKH Berdasarkan Jenis Pekerjaan No. Kategori Informal Formal Jumlah (Jiw. Total Sumber: Data Primer diolah Penulis Persentase (%) 81,59 18,41 Tabel 4 Jumlah Anggota Rumah Tangga No. Kategori Jumlah (Jiw. Kecil . -4 oran. Sedang . -7 oran. Besar ( Ou 8 oran. Total Sumber: Data Primer diolah Penulis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . menggolongkan umur menjadi tiga bagian, yaitu penduduk usia muda/belum produktif (<15 tahu. , penduduk usia produktif . -59 tahu. , dan penduduk usia non produktif (>59 Penduduk usia muda/belum produktif merupakan penduduk yang belum mampu menghasilkan barang Persentase (%) 46,03 53,02 0,95 Penduduk usia produktif dianggap sudah mampu menghasilkan barang dan jasa. Sedangkan penduduk usia tidak produktif merupakan penduduk menghasilkan barang maupun jasa dan hidupnya ditanggung oleh usia produktif (Sukmaningrum & Imron, 2. Tabel 1 Manajemen Agribisnis:Jurnal Agribisnis (Volume 26 Nomor 1 Januari 2. ISSN : 1829-7889. e-ISSN : 2715-9086 menunjukkan bahwa mayoritas ibu/kepala rumah tangga peserta PKH berada pada usia produktif, sebanyak 292 jiwa dengan 92,70 kemudian diikuti oleh ibu/kepala rumah tangga pada usia non produktif. Usia ibu/kepala rumah tangga cenderung memengaruhi pengambilan keputusan konsumsi pangan rumah tangga (I Gusti Ayu Athina Wulandari & Ni Made Intan Priliandani, 2. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2024 mengelompokkan tingkat pendidikan menjadi empat kategori, yaitu tidak bersekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan Tabel 1 menunjukkan mayoritas ibu/kepala rumah tangga peserta PKH menengah (SMP dan SMA) sebanyak 225 jiwa dengan persentase sebesar 71,43 persen, menunjukkan tingkat pendidikan yang relatif rendah hingga menengah. Rendahnya pendidikan berkaitan erat dengan pola konsumsi, di mana pendidikan tinggi cenderung memengaruhi keragaman kebutuhan rumah tangga (Hanum, 2. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia . tenaga kerja ke dalam dua kelompok, yaitu tenaga kerja formal dan tenaga kerja Pengelompokan tenaga kerja memiliki peran penting karena jenis tingkat pendapatan yang kemudian akan berdampak pada pola dan pengeluaran Pekerjaan formal cenderung lebih diminati dibandingkan dengan pekerjaan informal karena pekerjaan di sektor formal dianggap lebih prospektif karena memberikan jaminan stabilitas kerja yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya sistem yang lebih teratur, seperti pemberian jaminan sosial yang melindungi pekerja dari berbagai risiko, gaji yang lebih baik, serta kontrak kerja yang jelas (Amini. Sugiharti. Aditina, & Meidika, 2. Tabel 1 menunjukkan mayoritas kepala rumah tangga peserta PKH memiliki pekerjaan di sektor informal yaitu sebanyak 257 jiwa dengan 81,59 tangga peserta PKH pada pendapatan dari sektor informal. Jumlah anggota rumah tangga sangat mempengaruhi tingkat konsumsi rumah Semakin banyak anggota rumah tangga berarti semakin banyak pula jumlah kebutuhan yang perlu dipenuhi. Begitu pula sebaliknya. Semakin sedikit anggota rumah tangga berarti semakin sedikit pula kebutuhan yang harus Banyaknya anggota rumah tangga menyebabkan pola konsumsi rumah tangga akan semakin bervariasi karena masing-masing anggota rumah tangga belum tentu memiliki pola konsumsi yang sama (Fielnanda & Sahara, 2. Tabel 1 menunjukkan mayoritas rumah tangga peserta PKH termasuk kategori rumah tangga sedang sebanyak 167 rumah tangga dengan persentase sebesar 53,02 persen, diikuti rumah tangga kecil dan rumah tangga Kondisi ini mencerminkan rumah tangga PKH memiliki jumlah anggota rumah tangga yang relatif banyak sehingga kebutuhan pangan yang harus dipenuhi juga relatif besar (Sanjaya & Dewi, 2. Pola Konsumsi Susu Kental Manis oleh Rumah Tangga Peserta Program Keluarga Harapan Konsumsi susu pada rumah tangga peserta PKH di Kota Pekanbaru cenderung memilih sumber pangan alternatif yang lebih murah untuk sehari-hari. Berdasarkan hasil survei dan pengolahan data, terlihat bahwa susu kental manis merupakan jenis susu yang paling sering dikonsumsi oleh rumah tangga peserta PKH di Kota Pekanbaru dibandingkan jenis susu lainnya seperti susu cair pabrik, susu bubuk, dan susu bubuk bayi. Kondisi ini dapat terjadi karena dipengaruhi oleh harga susu kental manis yang lebih ekonomis dan daya simpannya yang lebih lama, serta persepsi masyarakat yang cenderung menganggap susu kental manis sebagai pengganti susu (Hidayat et , 2. Manajemen Agribisnis:Jurnal Agribisnis (Volume 26 Nomor 1 Januari 2. ISSN : 1829-7889. e-ISSN : 2715-9086 Susu umumnya dipandang sebagai salah satu sumber pemenuhan protein hewani yang bermutu tinggi, namun sedikit berbeda halnya dengan susu kental Susu kental manis memiliki kandungan gula yang lebih tinggi daripada jenis susu lainnya, satu sachet susu kental manis . memiliki kandungan gula kurang lebih 63-64% atau 23 gram gula yang artinya konsumsi satu sachet susu kental manis saja sudah memberikan hampir setengah dari batas konsumsi gula harian sehingga tidak baik jika dikonsumsi secara berlebihan (Kusnandar et al. Meskipun begitu. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia menggolong susu kental manis sebagai salah satu jenis susu oleh rumah tangga peserta PKH Kota Pekanbaru. Secara umum, konsumsi susu kental manis oleh rumah tangga PKH Kota Pekanbaru menunjukkan bahwa susu kental manis merupakan produk alternatif penting dalam memenuhi kebutuhan energi harian rumah tangga. Berdasarkan rekomendasi Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI tahun 2018, disebutkan bahwa kebutuhan protein per kapita per hari adalah sebanyak 57 gram, yang sebagian kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari sumber pangan hewani seperti daging, ayam, ikan, telur, susu, dan lain-lain. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . , menganjurkan konsumsi susu cair sebanyak 200 ml per kapita per hari, setara dengan 6,4 gram protein. Mengacu pada Tabel Komposisi Pangan 2017, setiap 100 ml susu cair mengandung 3,2 gram protein, sedangkan 100 gram susu kental manis mengandung 8,2 gram protein. Dengan demikian, untuk memenuhi rekomendasi konsumsi 200 ml susu cair yang menyediakan 6,4 gram protein, diperlukan sekitar 78 gram susu kental manis per kapita per hari. Dari rata-rata pendapatan responden rumah tangga peserta PKH adalah sebesar Rp 622. per kapita per bulan, dengan tingkat konsumsi susu kental manis hanya sebanyak 133 gram per kapita per bulan dan pengeluaran sekitar Rp 4. 895 per kapita per bulan, atau hanya 0,79% dari total pendapatan. Pola konsumsi susu kental manis oleh rumah tangga peserta PKH dianalisis berdasarkan karakteristik jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan ibu/kepala rumah tangga, dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 2 berikut: Tabel 5 Pola Konsumsi Susu Kental Manis Peserta PKH Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga No. Kategori Jumlah (Jiw. Kecil . -4 oran. 5,15 Sedang . -7 oran. 3,95 Besar ( Ou 8 oran. 2,14 Sumber: Data Primer diolah Penulis Persentase (%) Tabel 6 Pola Konsumsi Susu Kental Manis Peserta PKH Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. Kategori Jumlah (Jiw. Pendidikan Dasar dan/Tidak Sekolah 4,38 Pendidikan Menengah 4,46 Pendidikan Tinggi 4,65 Sumber: Data Primer diolah Penulis Persentase (%) Manajemen Agribisnis:Jurnal Agribisnis (Volume 26 Nomor 1 Januari 2. ISSN : 1829-7889. e-ISSN : 2715-9086 Tabel 3 Karakteristik Responden Rumah Tangga Peserta PKH Berdasarkan Jenis Pekerjaan No. Kategori Informal Formal Jumlah (Jiw. 4,86 4,36 Sumber: Data Primer diolah Penulis Tabel 2 memperlihatkan bahwa ratarata konsumsi susu kental manis pada rumah tangga peserta PKH berbeda-beda menurut jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan ibu/kepala rumah tangga, serta jenis pekerjaan kepala rumah tangga. Berdasarkan jumlah anggotanya, rumah tangga kecil memiliki rata-rata konsumsi susu kental manis tertinggi yaitu 5,15 gr/kapita/hari dengan pengeluaran Rp 116/kapita/hari, disusul oleh rumah tangga sedang, sementara rumah tangga besar justru menunjukkan konsumsi terendah. Temuan ini sejalan dengan Budiraharti. Harini, & Sudrajat . dan Sabaora. Priyanto, & Prihtanti . yang menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus, semakin banyak jumlah anggota rumah tangga maka konsumsi per kapita cenderung menurun karena kebutuhan pangan harus dibagi kepada lebih banyak individu. Situasi tersebut menegaskan pentingnya pengendalian jumlah anggota rumah tangga untuk menjaga keseimbangan konsumsi dan kesejahteraan keluarga. Pemerintah juga telah mendorong hal ini melalui kebijakan kependudukan dalam Program Keluarga Berencana (KB), yang berfokus pada pengaturan kelahiran, jarak dan usia ideal melahirkan, serta pengaturan kehamilan melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai hak reproduksi guna mewujudkan keluarga yang berkualitas (Muaya. Sampe, & Kumayas, 2. Dengan jumlah anggota keluarga yang lebih terkontrol, pemenuhan kebutuhan gizi rumah tangga dapat berlangsung lebih Rumah tangga dengan ibu atau kepala rumah tangga yang berpendidikan tinggi dibandingkan rumah tangga dengan pendidikan dasar atau tidak sekolah, yaitu mencapai 4,65 gr/kapita/hari dengan Persentase (%) pengeluaran sebesar Rp 109/kapita/hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa rumah tangga berpendidikan tinggi lebih efisien dalam mengelola pengeluaran, misalnya dengan memilih jenis atau kemasan yang lebih ekonomis sehingga jumlah konsumsi yang diperoleh lebih besar meskipun Sebaliknya, pendidikan lebih rendah cenderung membeli dalam jumlah kecil atau secara membutuhkan biaya lebih besar. Temuan ini sejalan dengan Maulana. Khoiriyah, & Surya . , yang menyebutkan bahwa sebagian masyarakat memilih produk eceran karena dianggap lebih terjangkau. Hal ini menegaskan bahwa rendahnya tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pola konsumsi dan pengelolaan keuangan rumah tangga. Oleh karena itu, diperlukan peran pemerintah untuk meningkatkan akses pendidikan bagi rumah tangga berpendapatan rendah. Pemerintah telah menyediakan Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk peserta didik jenjang pendidikan dasar hingga menengah, serta Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) bagi berpendapatan rendah dan penerima PKH. Melalui kesempatan pendidikan dan mengurangi kesenjangan akses sehingga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan serta kesadaran masyarakat dalam mengelola konsumsi rumah tangga secara lebih bijak. Berdasarkan jenis pekerjaan, rumah tangga dengan kepala rumah tangga yang memiliki pekerjaan di sektor formal menunjukkan tingkat konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan rumah tangga yang kepala keluarganya bekerja di sektor Temuan ini sejalan dengan Chrismardani & Satriawan . yang Manajemen Agribisnis:Jurnal Agribisnis (Volume 26 Nomor 1 Januari 2. ISSN : 1829-7889. e-ISSN : 2715-9086 mengungkapkan bahwa kepala rumah tangga yang bekerja di sektor formal umumnya memiliki pendapatan lebih besar, sehingga memungkinkan alokasi pengeluaran yang lebih tinggi, termasuk untuk konsumsi susu kental manis, dibandingkan mereka yang bekerja di Kondisi menggambarkan bahwa rumah tangga dengan pekerjaan formal cenderung memiliki akses yang lebih luas dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya menetapkan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekolah Rakyat. Kebijakan ini bertujuan memperluas akses pendidikan serta pelatihan non-formal bagi peserta didik yang berasal dari rumah tangga miskin ekstrem, miskin, maupun rentan miskin. Melalui pelaksanaan Sekolah Rakyat, rumah tangga berpendapatan rendah diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja, sehingga memiliki kesempatan dan mampu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal. Peningkatan keterampilan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi dan mendorong peningkatan kesejahteraan rumah tangga berpendapatan rendah, termasuk rumah tangga peserta PKH, yang pada akhirnya membantu meningkatkan daya beli terhadap pangan bergizi. Secara sosial ekonomi seperti jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, dan jenis membentuk variasi pola konsumsi susu kental pada rumah tangga peserta PKH. Namun, rata-rata konsumsi susu kental manis masih berada jauh di bawah angka rekomendasi 78 gr/kapita/hari, yang menunjukkan adanya keterbatasan daya beli rumah tangga peserta PKH dalam memenuhi kebutuhan gizi secara optimal. Kesimpulan Hasil menunjukkan bahwa pola konsumsi susu kental manis rumah tangga peserta PKH di Kota Pekanbaru bervariasi berdasarkan jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan. Rumah tangga kecil memiliki tingkat konsumsi susu kental manis tertinggi, sementara rumah tangga sedang dan rumah tangga besar memiliki konsumsi susu kental manis yang lebih rendah karena keterbatasan daya beli. Sementara itu, konsumsi lebih tinggi juga terjadi pada ibu/kepala rumah tangga dan rumah tangga dengan kepala rumah tangga yang memiliki pekerjaan formal. Meskipun terdapat variasi konsumsi antar kategori, secara keseluruhan konsumsi susu kental manis masih berada di bawah angka Temuan diperlukannya peningkatan pendidikan dan keterampilan kerja untuk memperluas akses terhadap pekerjaan di sektor formal sehingga pendapatan rumah tangga PKH kemampuan dalam memenuhi kebutuhan gizi, termasuk konsumsi susu, dapat lebih optimal, sejalan dengan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekolah Rakyat peningkatan pendidikan dan keterampilan Selain pemberian subsidi susu dalam bentuk natura yang disalurkan melalui paket bantuan PKH, sehingga selain menerima bantuan tunai, penerima bantuan PKH juga dapat secara langsung memperoleh susu untuk memenuhi kebutuhan gizinya dengan lebih mudah. Selain itu, diperlukan pemberian subsidi susu dalam bentuk natura melalui paket bantuan PKH agar memperoleh bantuan tunai, tetapi juga dapat secara langsung mendapatkan susu untuk memenuhi kebutuhan gizinya dengan lebih mudah. Manajemen Agribisnis:Jurnal Agribisnis (Volume 26 Nomor 1 Januari 2. ISSN : 1829-7889. e-ISSN : 2715-9086 Referensi