Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. Nurlaela, et al. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 EKSPLORASI POTENSI EKONOMI LOKAL: SEBUAH ANALISIS KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN MELALUI METODE LOCATION QUOTIENT DAN SHIFT SHARE Exploring the Local Economic Potential: An Analysis of Leading Agricultural Commodities Using LQ and Shift Share Method Nurlaela1. Muhammad Arafat Abdullah1 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Universitas Sulawesi Barat Jl. Prof. Dr. Baharuddin Lopa. Talumung. Majene 91412 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi komoditas pertanian unggulan di setiap kecamatan di Kabupaten Majene. Provinsi Sulawesi Barat, dengan menggunakan pendekatan terintegrasi antara Location Quotient (LQ) dan Shift Share Analysis (SSA). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder tahun 2022Ae2023 yang diperoleh dari berbagai instansi pemerintah daerah. Metode LQ digunakan untuk mengidentifikasi komoditas basis, yaitu komoditas yang memiliki nilai LQ > 1 dan menunjukkan keunggulan komparatif karena kontribusinya lebih tinggi dibandingkan rata-rata wilayah lainnya. Sementara itu, analisis SSA digunakan untuk menilai apakah komoditas tersebut juga mengalami pertumbuhan aktual dan memiliki daya saing secara dinamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kecamatan memiliki komoditas unggulan yang berbeda, mencerminkan perbedaan kondisi geografis, agroekologi, dan sosial ekonomi. Beberapa komoditas seperti ubi kayu, jagung, kacang hijau, kelapa, dan kakao teridentifikasi sebagai komoditas basis di beberapa kecamatan. Komoditas jagung di Kecamatan Ulumanda, ubi kayu di Pamboang, dan kelapa di Ulumanda menjadi contoh komoditas yang tidak hanya unggul secara relatif, tetapi juga tumbuh cepat dan kompetitif. Namun, terdapat pula komoditas dengan nilai LQ tinggi tetapi nilai SSA negatif, yang menunjukkan adanya tantangan dalam hal produktivitas atau daya saing. Integrasi pendekatan LQ dan SSA memberikan kerangka yang lebih utuh dalam merumuskan strategi pengembangan pertanian berbasis potensi wilayah yang lebih adaptif, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan pemetaan komoditas unggulan di Kabupaten Majene, tetapi juga menghadirkan kerangka analisis yang dapat direplikasi di daerah lain untuk mendukung pembangunan pertanian yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal. Kata kunci: Keunggulan Komparatif. Daya Saing. Hilirisasi. Perencanaan Wilayah. Pembangunan Lokal. ABSTRACT This study aims to analyze the potential of leading agricultural commodities in each sub-district of Majene Regency. West Sulawesi Province, using an integrated approach that combines Location Quotient (LQ) and Shift-Share Analysis (SSA). A quantitative descriptive method was employed, utilizing secondary data from 2022Ae2023 obtained from various local government agencies. The LQ method was used to identify base commoditiesAithose with an LQ value greater than 1, indicating comparative advantages due to their higher contribution than the regional average. Meanwhile. SSA was used to assess whether these commodities also experienced actual growth and possessed dynamic The results reveal that each sub-district has different leading commodities, reflecting geographic, agroecological, and socioeconomic variations. Commodities such as cassava, maize, mung Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 Nurlaela, et al. beans, coconut, and cocoa were considered base commodities in certain sub-districts. For instance, maize in Ulumanda, cassava in Pamboang, and coconuts in Ulumanda are examples of relatively superior commodities that are growing rapidly and competitively. However, some commodities with high LQ values showed negative SSA results, indicating challenges in productivity or competitiveness. Integrating the LQ and SSA approaches offers a more comprehensive framework for formulating adaptive, targeted, and sustainable agricultural development strategies based on regional potential. This study not only provides a mapping of leading agricultural commodities in Majene Regency but also offers an analytical framework that can be replicated in other regions to support inclusive, sustainable, and locally based agricultural development. Keywords: Comparative Advantage. Competitiveness. Downstreaming. Regional Planning. Local Development @ 2025 Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Halaman Jurnal : https://ejournal. polbangtan-gowa. id/index. php/J-AgrSosekpenyuluhan/article/view/482 Accepted 28 Juni 2025 Published Online : 30 Juni 2025 * Email Korespondensi: nurlaela. unsulbar@gmail. PENDAHULUAN Pertanian menjadi sektor strategis dalam mendukung ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan wilayah berkelanjutan di Indonesia. Kabupaten Majene, sebagai salah satu komponen penting dalam struktur administratif Provinsi Sulawesi Barat, menempatkan sektor pertanian sebagai tulang punggung perekonomian lokal, meskipun pemetaan komoditas basis secara spesifik dan formulasi strategi pengembangan yang komprehensif masih memerlukan perhatian mendalam(Yanti et al. , 2. Pertanian basis adalah sektor pertanian dari ekonomi daerah yang memiliki kelebihan dibandingkan sektor lain, baik dari sisi potensi maupun daya saing. Sektor tersebut memainkan peran penting sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah karena keterkaitannya dengan sektor-sektor lain dan kontribusinya yang besar terhadap pendapatan wilayah(Fitri et al. , 2. Oleh karena itu, mengenali komoditas pertanian basis sangat penting dalam menyusun rencana pembangunan ekonomi, terutama di daerah seperti Kabupaten Majene yang kaya akan sumber daya alam dan masyarakatnya banyak bergantung pada pertanian. Kajian mendalam terhadap potensi dan kinerja sektor pertanian akan menjadi dasar penting dalam menyusun strategi pengembangan yang tepat dan berkelanjutan, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta daya saing daerah (Afriyanti et al. , 2. Di tengah dinamika global yang ditandai oleh perubahan iklim, tekanan demografis, dan fluktuasi pasar komoditas, pembangunan pertanian berbasis potensi wilayah menjadi semakin penting untuk menjamin efisiensi sumber daya dan relevansi intervensi kebijakan (Mariani et al. , 2. Kabupaten Majene di Provinsi Sulawesi Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki keragaman agroekologi dan potensi komoditas pertanian yang cukup tinggi, namun belum sepenuhnya termanfaatkan secara Disparitas kontribusi sektor pertanian antar kecamatan, serta belum adanya pemetaan komoditas berbasis keunggulan wilayah yang sistematis, menjadi tantangan utama dalam upaya pengembangan pertanian yang adil dan berkelanjutan. Ada perbedaan yang cukup mencolok antara apa yang diharapkan dan apa yang terjadi. Di satu sisi, diharapkan setiap wilayah di Kabupaten Majene dapat mengembangkan komoditas unggul yang sesuai dengan potensi lokal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, faktanya menunjukkan bahwa pengembangan komoditas hanya terjadi secara sporadis, tanpa data yang lengkap, dan belum Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 Nurlaela, et al. terintegrasi dengan strategi pembangunan wilayah. Akibatnya, potensi yang ada belum mampu memberikan koleksi komoditas unggul yang sesuai dengan potensi lokal. Diketahui dari jumlah produksi tanaman pangan yang dihasilkan (Tabel . utamanya dalam komoditas pangan, saat ini belum ditetapkan secara data terkait adanya komoditas yang tergolong dalam tanaman unggulan daerah yang dapat menjadi informasi dengan tujuan dapat meningkatkan pendapatan petani serta sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan usahatani yang berdaya saing. Tabel 1. Jumlah Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten Majene menurut Kecamatan (To. Tahun Kecamatan No. Komoditi Banggae Banggae Timur Pamboang Sendana Tammerodo Tubo Sendana Malunda Ulumanda Tanaman Pangan Ubi Kayu Kacang hijau Jagung Kacang Tanah Ubi Jalar Padi ladang 16,78 181,36 151,20 911,03 849,61 840,60 1890,90 497,11 1020,50 122,59 2793,58 1200,43 872,04 12 Cabai 13 Bawang Merah 14 Petsai Tanaman Buah-buahan 17 Pisang 18 Mangga 19 Durian Sumber: BPS Majene 2024 7 Padi sawah Tanaman Perkebunan 8 Kakao 9 Kelapa 10 Kopi 11 Lada Tanaman Sayuran Nanas Pepaya Potensi pertanian Kabupaten Majene tinggi dengan nilai 10 persen berdasarkan BPS 2024 Kabupaten Majene berada diposisi keempat Setelah Polman. Mamuju dan Mamuju Tengah sebagai penghasil komoditas pangan di Sulbar, serta pada Tabel 1 data produksi komoditas hanya tersaji berdasarkan volume produksi, pengelolaan dan pengembangannya masih menghadapi berbagai kendala mendasar. Salah satu persoalan utama adalah belum tersedianya informasi yang memadai dan terukur mengenai komoditas pertanian unggulan di masing-masing kecamatan yang berdampak pada kebijakan dan program pembangunan pertanian cenderung bersifat umum dan tidak berbasis pada keunggulan spesifik Sehingga untuk dapat meningkatkan kontribusi Kabupaten Majene dalam meningkatkan produksi dibidang pangan diperlukan fokus terhadap penentuan komoditas unggulan secara basis . Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 Nurlaela, et al. Lebih jauh, pengelolaan dan pengembangan sektor pertanian di Majene masih menghadapi berbagai kendala mendasar, salah satunya adalah ketiadaan informasi yang memadai dan terukur mengenai komoditas unggulan spesifik di tingkat kecamatan. Hal ini berdampak pada perumusan kebijakan dan program pembangunan pertanian yang cenderung bersifat umum dan tidak terarah pada keunggulan lokal yang spesifik, padahal karakteristik agroekologi dan potensi setiap kecamatan berbeda-beda. Ketimpangan antara harapan dan realitas terlihat jelas: di satu sisi, harapannya adalah setiap kecamatan dapat mengembangkan komoditas unggulan berdasarkan potensi lokal secara terintegrasi dan berbasis data, namun kenyataannya kebijakan pertanian masih bersifat top-down dan belum menyentuh kekhasan wilayah. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kontribusi Kabupaten Majene dalam produksi pangan secara signifikan dan berkelanjutan, dibutuhkan penentuan komoditas unggulan berbasis wilayah . rea-based commodity mappin. yang mengintegrasikan data produksi, nilai ekonomi, kondisi agroekologi, preferensi pasar, dan kapasitas petani lokal. Langkah ini sangat penting agar intervensi pemerintah daerah dalam bidang pertanian tidak hanya bersifat seragam, tetapi benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Pendekatan yang digunakan selama ini belum mampu membedakan mana komoditas yang benar-benar memiliki keunggulan komparatif dan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi lokal (Yunus et al. , 2. Selain itu, strategi pengembangan sering kali tidak mempertimbangkan dinamika pertumbuhan sektor pertanian dalam konteks waktu dan ruang. Kondisi ini menimbulkan risiko inefisiensi dalam perencanaan, alokasi sumber daya, serta rendahnya daya saing komoditas lokal di pasar regional maupun nasional. Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendekatan analitis yang tidak hanya mampu mengidentifikasi keunggulan komparatif antar wilayah, tetapi juga menilai kontribusi sektor secara dinamis dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah (Novandaya et al. , 2. Berbagai studi sebelumnya telah mengkaji pengembangan komoditas pertanian dengan menggunakan pendekatan Location Quotient (LQ) atau Shift Share Analysis (SSA), namun sebagian besar masih dilakukan secara terpisah dan pada tingkat agregasi yang luas, seperti provinsi atau kabupaten (Rohmah & Cahyono, 2. Pendekatan tunggal tersebut cenderung menghasilkan gambaran yang parsial, karena tidak mampu menangkap dinamika pertumbuhan sektoral sekaligus keunggulan komparatif secara bersamaan. Selain itu, sangat sedikit penelitian yang secara khusus menerapkan pendekatan terintegrasi LQ dan SSA pada tingkat sub-regional seperti kecamatan, padahal unit analisis ini justru lebih relevan dalam konteks perencanaan pembangunan berbasis wilayah. Sebagai contoh, studi oleh Utomo & Kurniawan . di Provinsi Jawa Tengah menggunakan LQ untuk mengidentifikasi sektor unggulan, namun kesimpulannya bersifat makro karena dilakukan pada level kabupaten/kota. Sementara itu. Hasibuan et al. menerapkan SSA untuk menganalisis dinamika pertumbuhan sektor pertanian di Sumatera Utara, tetapi tidak mengaitkannya dengan data komparatif LQ sehingga sulit digunakan sebagai dasar prioritas komoditas unggulan. Studi lain oleh Rahmawati dan Suryono . mencoba mengintegrasikan LQ dan SSA dalam analisis sektor pertanian di Kabupaten Sleman. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan kombinatif mampu mengidentifikasi kecamatan-kecamatan yang tidak hanya memiliki keunggulan komparatif (LQ > . , tetapi juga mengalami pertumbuhan relatif lebih cepat dibanding rata-rata wilayah (SSA positi. Kecamatan Komoditas Unggulan Nilai LQ Nilai SSA Kategori Ngaglik Padi Sawah 1,35 Basis & Bertumbuh Tempel Kacang Tanah 1,21 Basis tetapi Menurun Kalasan Jagung 0,89 Potensial Bertumbuh Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 Nurlaela, et al. Hasil ini memperkuat argumen bahwa integrasi LQ dan SSA mampu memberikan dasar yang lebih komprehensif untuk menetapkan komoditas prioritas dan wilayah target secara lebih tepat, efisien, dan Maka dari itu, pendekatan integratif tersebut perlu diterapkan dalam konteks Kabupaten Majene, guna mengidentifikasi komoditas unggulan berbasis kecamatan secara objektif, serta mengatasi disparitas sektoral dan spasial dalam pengembangan pertanian wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komoditas pertanian basis di Kabupaten Majene dengan menggunakan pendekatan Location Quotient dan Shift Share Analysis, dan merumuskan strategi Metode Location Quotient digunakan untuk menentukan sektor basis dan non-basis tanaman pangan di suatu wilayah (Sausan et al. , 2. Sedangkan Shift Share Analysis digunakan untuk mengidentifikasi sektor-sektor ekonomi yang memiliki keunggulan kompetitif di suatu wilayah (Wijaya et al. , 2. Dengan mengintegrasikan kedua metode ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai potensi dan daya saing komoditas pertanian di Kabupaten Majene, serta menjadi dasar bagi penyusunan kebijakan dan program pengembangan pertanian yang lebih efektif. BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang mencakup periode dua tahun, yakni 2022 dan 2023. Data yang digunakan bersifat sekunder dan diperoleh dari berbagai instansi terkait di Kabupaten Majene, seperti Badan Pusat Statistik (BPS). Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA). Dinas Pertanian dan Peternakan. Dinas Kehutanan dan Perkebunan, serta Dinas Kelautan dan Perikanan. Informasi yang dikumpulkan meliputi data produksi komoditas pertanian per kecamatan, harga rata-rata komoditas di tingkat produsen, publikasi Kabupaten Majene dalam Angka untuk tahun 2022 dan 2023, serta dokumen program perencanaan daerah (Proped. Kabupaten Majene. Pemilihan total populasi sebagai sampel didasarkan pada tujuan utama penelitian, yaitu untuk memetakan komoditas unggulan di setiap kecamatan secara komparatif dan longitudinal, serta untuk mengidentifikasi keunggulan komparatif dan pertumbuhan aktual melalui metode Location Quotient (LQ) dan Shift Share Analysis (SSA). Pendekatan ini memungkinkan hasil analisis menjadi lebih representatif dan bermanfaat langsung bagi perencanaan pembangunan berbasis wilayah di tingkat kabupaten. Untuk mengidentifikasi komoditas yang menjadi andalan . serta mengevaluasi tingkat pertumbuhan dan daya saingnya, penelitian ini menggunakan dua metode analisis utama. Pertama, analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk menentukan apakah suatu komoditas memiliki keunggulan komparatif di tingkat daerah. Metode ini membandingkan proporsi produksi suatu komoditas di Kabupaten Majene terhadap proporsinya secara nasional. Komoditas dikategorikan sebagai komoditas basis apabila nilai LQ-nya lebih dari 1, yang mengindikasikan bahwa kontribusinya di Majene lebih besar dibandingkan rata-rata nasional, sehingga dapat dianggap sebagai sektor unggulan lokal nasional, sehingga dapat dianggap sebagai sektor unggulan lokal. Besarnya nilai LQ diperoleh dari persamaan berikut: ycU/ycUA LQij=ycU. yc/ycU. Keterangan : X= derajat aktivitas ke-j di wilayah ke-i. XA = total aktivitas di wilayah ke-i. total aktivitas ke-j di semua wilayah. dan X. = derajat aktivitas total wilayah. Kedua, digunakan pendekatan Shift-Share Analysis (SSA) untuk mengurai faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan suatu komoditas. Metode ini memungkinkan identifikasi sejauh mana pertumbuhan disebabkan oleh faktor eksternal . eperti tren nasiona. , karakteristik sektoral, atau daya saing lokal yang spesifik. Dengan demikian. SSA tidak hanya mengukur kinerja historis, tetapi juga memberikan dasar strategis untuk menentukan komoditas yang memiliki prospek pertumbuhan berkelanjutan (Novandaya et al. , 2. Persamaan analisis shift-share ini adalah sebagai berikut. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 ycU. XA. Xij. Nurlaela, et al. XA. SSA = . Oe . [XA. Oe X. ] [Xji. Oe XA. ] . Keterangan :. = komponen share. = komponen proportional shift. = komponen differential shift, dan. X = Nilai total aktivitas dalam total wilayah. XA = Nilai total aktivitas tertentu dalam total wilayah. Xij = Nilai aktivitas tertentu dalam unit wilayah tertentu. t1 = titik tahun akhir. titik tahun awal. Nilai negatif pada Differential Shift mengindikasikan bahwa sektor tersebut kurang kompetitif, mencerminkan ketidakmampuan sektor dalam memanfaatkan potensi pertumbuhan wilayah atau adanya masalah internal yang menghambat pengembangan (Situmorang et al. , 2. Sedangkan nilai SSA kurang dari 1 mengindikasikan bahwa daerah tersebut belum mampu mengoptimalkan potensi komparatifnya dalam produksi komoditas yang bersangkutan, atau dengan kata lain, belum mampu bersaing secara efektif di pasar yang lebih luas. HASIL DAN PEMBAHASAN Sektor pertanian di Kabupaten Majene terdiri atas beberapa subsektor utama, yakni tanaman pangan, perkebunan, sayuran, dan buah-buahan. Potensi unggulan daerah Kabupaten Majene, sangat ditentukan oleh kondisi geografis daerah dengan tiga dimensi wilayah yang meliputi: perairan, dataran dan pegunungan. Hal tersebut menyebabkan terdapatnya perbedaan sumber daya alam antar wilayah, sehingga nampak pada bervariasinya komoditi unggulan yang diusahakan di tiap-tiap wilayah tersebut . Tabel 2. Komoditi pertanian basis di masing-masing kecamatan di Kabupaten Majene tahun 2022-2023 Komoditi Pertanian Basis Jumlah Komoditi Banggae Kacang Tanah, kacang hijau, ubi kayu, kelapa, bawang merah, mangga, papaya, jeruk. Banggae Timur Jagung, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, bawang merah, kelapa, mangga, jeruk, papaya, pisang. Pamboang Ubi kayu, ubi jalar, jagung, kacang hijau, kelapa, cabai, petsai, mangga, papaya, nanas, jeruk. Sendana Padi ladang, jagung, kelapa, petsai, bawang merah, pisang. TammeroAodo Jagung, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, padi ladang, kacang hijau, lada, kakao, cabai, pisang, papaya. Tubo Sendana Padi sawah, kacang hijau, ubi kayu, kakao, cabai, pisang. Malunda Padi sawah, jagung, kacang tanah, ubi jalar, kelapa, kakao, cabai, durian, jeruk. Ulumanda Padi sawah, padi lading, jagung, kopi, lada, kakao, bawang merah, cabai, mangga, durian, pisang, papaya. Kecamatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kecamatan di Kabupaten Majene memiliki komoditas pertanian unggulan yang berbeda-beda, yang mencerminkan keragaman kondisi geografis, iklim, serta karakteristik sosial-ekonomi di masing-masing wilayah. Untuk mengidentifikasi komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dan potensi sebagai penggerak ekonomi lokal, digunakan pendekatan Location Quotient (LQ). Komoditas dengan nilai LQ > 1 dianggap sebagai komoditas basis karena kontribusinya terhadap perekonomian daerah lebih tinggi dibandingkan rata-rata wilayah lain, dan karena itu memiliki potensi ekspor serta peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 Nurlaela, et al. Tabel 1 menyajikan daftar komoditas basis yang tersebar di tiap kecamatan berdasarkan pengamatan atas potensi produksi setempat, sementara Tabel 2 dan Tabel 3 memperkuat identifikasi tersebut dengan menyajikan nilai LQ masing-masing komoditas pada tahun 2022 dan 2023. Dengan demikian, integrasi antara daftar komoditas unggulan (Tabel . dan bukti kuantitatif berbasis LQ (Tabel 3 dan . tidak hanya menunjukkan keberagaman komoditas basis di Kabupaten Majene, tetapi juga memberikan dasar empiris yang kuat untuk menyusun strategi pengembangan pertanian berbasis potensi lokal yang adaptif dan berkelanjutan. Tabel 3. Hasil Perhitungan Indeks Location Quotient (LQ) komoditi pertanian basis di masing-masing kecamatan di Kabupaten Majene tahun 2022 Kecamatan No. Komoditi Banggae Banggae Timur Pamboang Sendana Tammerodo Tubo Sendana Malunda Ulumanda Tanaman Pangan Ubi Kayu Kacang hijau Jagung 4,46 2,18 0,94 2,08 8,24 3,95 3,14 1,37 0,51 0,86 1,30 2,48 3,68 0,38 2,78 0,67 0,71 0,71 1,45 0,30 0,32 0,39 Kacang Tanah Ubi Jalar 5,39 1,36 2,91 0,14 3,90 2,79 1,88 1,29 0,29 0,74 6 Padi ladang 7 Padi sawah Tanaman Perkebunan 8 Kakao 9 Kelapa 10 Kopi 11 Lada Tanaman Sayuran 1,54 0,80 1,09 1,01 0,39 1,60 1,54 1,03 0,07 2,06 0,28 1,82 0,17 0,14 1,98 0,86 1,16 0,56 1,38 0,58 0,42 2,97 1,48 0,48 0,08 0,94 1,07 0,23 0,28 1,72 0,07 4,95 3,39 12 Cabai 13 Bawang Merah 14 Petsai Tanaman Buah-buahan 0,37 2,90 0,37 2,90 0,20 2,09 1,22 2,82 1,44 1,44 1,23 0,43 0,71 0,98 1,04 0,89 Nanas 0,11 0,09 8,85 0,04 0,01 0,37 0,09 Pepaya Pisang Mangga Durian 2,67 0,59 2,46 2,60 1,04 1,33 1,39 0,52 2,45 0,64 1,21 0,99 0,10 0,73 1,41 0,35 0,33 0,03 1,40 0,31 0,52 0,47 0,61 0,86 3,16 2,60 1,04 1,33 2,52 Tabel 4. Hasil Perhitungan Indeks Location Quotient (LQ) komoditi pertanian basis di masing-masing kecamatan di Kabupaten Majene tahun 2023 Kecamatan No. Komoditi Banggae Banggae Timur Pamboang Sendana Tammerodo Tubo Sendana Malunda Ulumanda Tanaman Pangan Ubi Kayu Kacang hijau 4,81 10,82 4,69 4,88 0,83 0,39 0,19 3,02 0,83 1,92 1,01 0,70 0,59 0,31 0,78 Jagung Kacang Tanah 0,57 2,15 3,07 5,65 0,32 1,07 0,22 1,21 2,11 0,62 0,66 1,56 1,20 0,58 Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 5 Ubi Jalar 6 Padi ladang 7 Padi sawah Tanaman Perkebunan Nurlaela, et al. 1,34 1,82 0,72 1,58 0,82 1,47 0,75 0,23 1,39 1,44 0,53 1,65 0,77 1,43 0,92 Kakao 0,08 0,30 0,95 0,95 1,61 1,69 1,06 0,08 9 Kelapa 10 Kopi 11 Lada Tanaman Sayuran 1,83 1,63 0,17 1,05 0,54 1,05 0,54 0,47 0,38 3,91 0,41 0,07 0,95 0,23 0,16 0,08 0,69 0,37 Cabai Bawang 13 Merah Tanaman Buah-buahan 0,51 1,71 1,71 1,71 1,61 1,21 1,31 1,66 2,09 0,14 0,70 0,56 2,36 0,36 2,26 1,80 0,08 2,73 0,83 1,77 2,62 0,05 0,73 0,83 1,71 0,15 0,05 0,73 0,83 1,71 0,15 1,52 1,44 0,81 0,58 0,06 2,44 0,07 0,18 0,41 0,54 0,60 1,34 2,41 0,16 2,48 0,11 1,55 1,52 Nanas Pepaya Pisang Mangga Jeruk Durian Secara umum, komoditas dari sub sektor tanaman pangan seperti ubi kayu, jagung, kacang hijau, dan ubi jalar secara konsisten muncul sebagai basis di beberapa kecamatan. Misalnya, ubi kayu menunjukkan nilai LQ yang sangat tinggi di Kecamatan Banggae . dan Pamboang . pada tahun 2023, yang mengindikasikan bahwa tanaman ini menjadi salah satu komoditas andalan daerah. Sementara itu, kacang hijau di Banggae Timur (LQ = 4,. dan jagung di Tammerodo (LQ = 1,. menunjukkan keunggulan yang serupa. Temuan ini memperkuat argumen bahwa Kabupaten Majene memiliki potensi besar dalam subsektor tanaman pangan, terutama jika diiringi dengan intervensi teknologi budidaya dan akses pasar yang memadai. (Ariani et al. , 2. Subsektor hortikultura dan perkebunan juga menunjukkan performa yang tidak kalah signifikan. Kelapa, cabai, bawang merah, dan mangga muncul sebagai komoditas basis di lebih dari satu Cabai, misalnya, memiliki nilai LQ lebih dari 1 di Kecamatan Sendana. Tammerodo, dan Tubo Sendana, menunjukkan penyebaran geografis dan daya adaptasi tanaman ini di berbagai wilayah Majene. Komoditas perkebunan seperti kakao dan kopi juga tercatat sebagai komoditas unggulan di kecamatan yang memiliki topografi dataran tinggi, seperti Ulumanda dan Tammerodo, yang secara agroekologis memang sesuai untuk tanaman tersebut. Temuan ini sejalan dengan hasil kajian Sutanto et al. di Kabupaten Bone Bolango. Gorontalo, yang menemukan bahwa komoditas seperti jagung dan ubi kayu juga menjadi basis produksi di wilayah-wilayah dengan kondisi agroklimat marginal tetapi memiliki kapasitas adaptasi tinggi. Dalam studi tersebut, nilai LQ ubi kayu mencapai 3,12 di Kecamatan Kabila Bone, dan produktivitasnya meningkat pesat ketika disertai pelatihan budidaya dan akses subsidi Lebih lanjut, subsektor hortikultura dan perkebunan di Majene juga menunjukkan performa yang tidak kalah signifikan. Kelapa, cabai, bawang merah, dan mangga muncul sebagai komoditas basis di lebih dari satu kecamatan. Cabai, misalnya, memiliki nilai LQ lebih dari 1 di Kecamatan Sendana. Tammerodo, dan Tubo Sendana, menunjukkan penyebaran geografis dan daya adaptasi yang luas dari komoditas ini di berbagai wilayah Majene. Komoditas perkebunan seperti kakao dan kopi juga tercatat sebagai komoditas unggulan di kecamatan dengan topografi dataran tinggi, seperti Ulumanda dan Tammerodo. Hasil ini diperkuat oleh studi Anggraini dan Mulyadi . di Kabupaten Tana Toraja. Sulawesi Selatan, yang menunjukkan bahwa kopi arabika dan kakao menjadi basis ekonomi di wilayah dataran tinggi. Studi tersebut menggabungkan LQ dan SSA serta menyarankan intervensi dalam bentuk perbaikan rantai nilai dan diversifikasi pasar ekspor untuk meningkatkan nilai tambah komoditas. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 Nurlaela, et al. Temuan-temuan ini memperkuat argumen bahwa Kabupaten Majene memiliki potensi besar dalam subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Namun, potensi ini baru akan optimal bila didukung dengan intervensi teknologi budidaya, penguatan kelembagaan petani, dan peningkatan akses pasar secara terstruktur. Selain itu, pengembangan wilayah berbasis keunggulan komoditas per kecamatan sangat relevan untuk menjawab disparitas antarwilayah dan menciptakan pertanian yang adil dan berkelanjutan. Namun, sekadar mengandalkan nilai LQ belum cukup untuk memahami dinamika pertumbuhan sektor pertanian. Oleh karena itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan Shift Share Analysis (SSA) untuk menilai apakah komoditas yang unggul secara relatif juga mengalami pertumbuhan nyata dan memiliki daya saing yang tinggi (Manullang et al. , 2. Hasil SSA menunjukkan bahwa beberapa komoditas tidak hanya unggul dalam hal distribusi spasial, tetapi juga mengalami pertumbuhan yang cepat dan kompetitif yang dijelaskan sehingga diketahui besaran kontribusi pada masing-masing komoditas serta perolehan pertumbuhan pada hasil ekonomi atau pendapatan petani pada wilayah Kabupaten Majene utamanya di setiap kecamatan dan dapat dilihat berdasarkan hasil analisia pada Tabel 5. Tabel 5. Shift Share Analysis (SSA) komoditi pertanian di masing-masing kecamatan di Kabupaten Majene No. Kecamatan Jenis Komoditi dan Nilai SSA Tan. Tan. Sayuran Perkebunan Cabai . Lada . Kelapa . Kelapa . Mangga . Ubi jalar . Bawang merah Bawang merah Cabai . Tan. BuahBuahan Pisang (-0,. Nanas . Lada . Mangga . Tammerodo Jagung . Cabai (-0,. Kakao (-0,. Mangga . Tubo Sendana Malunda Pisang . Durian . Ulumanda Cabai (-0,. Bawang Merah Bawang merah . Lada . Lada . Jagung . Kacang tanah Jagung . Tan. Pangan Banggae Banggae Timur Kacang tanah Ubi kayu . Pamboang Kacang . Sendana Kelapa . Nilai SSA untuk komoditi jagung di kecamatan Ulumanda merupakan salah satu contoh paling menonjol, dengan nilai SSA sebesar 9,33 ton. Hal tersebut menunjukkan bahwa jagung tidak hanya dominan secara kuantitatif, tetapi juga tumbuh lebih cepat daripada rata-rata kabupaten dan memiliki daya saing tinggi dibandingkan komoditas lain. Hal serupa terjadi pada ubi jalar di kecamatan Sendana (SSA = 4,5 to. dan kelapa di Ulumanda (SSA = 7,63 to. , yang menunjukkan bahwa kedua komoditas ini tumbuh secara signifikan dan berpotensi menjadi komoditas unggulan yang berkelanjutan. Sebaliknya, beberapa komoditas meskipun memiliki nilai LQ tinggi, menunjukkan nilai SSA Hal ini menunjukkan bahwa meskipun komoditas tersebut saat ini unggul secara relatif, pertumbuhannya tidak sejalan dengan dinamika pasar atau faktor pendukung lainnya. Sebagai contoh, kakao di Kecamatan Tammerodo memiliki nilai LQ > 1 tetapi nilai SSA negatif (-0,. Kondisi semacam ini sejalan dengan temuan dari Azizia & Huda . dalam penelitian mereka di Kabupaten Luwu Utara. Sulawesi Selatan, yang mencatat bahwa beberapa komoditas perkebunan seperti kakao dan cengkeh tetap menunjukkan LQ tinggi, tetapi mengalami SSA negatif akibat menurunnya investasi Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 Nurlaela, et al. budidaya, lemahnya regenerasi petani, serta fluktuasi harga pasar yang tidak stabil. Kajian serupa oleh Hartati dan Sugiyanto . di Kabupaten Kolaka juga mencatat bahwa nilai LQ kakao tetap tinggi, tetapi SSA menunjukkan nilai negatif berturut-turut selama tiga tahun, yang berkorelasi dengan penurunan produksi akibat cuaca ekstrem dan rendahnya adopsi inovasi pertanian. Kajian pembanding lainnya dari Rizaldi et al. di Provinsi Bengkulu juga menunjukkan bahwa komoditas basis dengan SSA negatif cenderung tidak berkelanjutan, kecuali dilakukan intervensi kebijakan yang menyasar akar persoalan, seperti rehabilitasi tanaman, pelatihan teknis petani, dan penguatan kelembagaan usaha tani. Temuan ini menegaskan pentingnya tidak hanya mengandalkan LQ sebagai indikator utama, tetapi juga mempertimbangkan nilai SSA sebagai indikator dinamika dan daya saing komoditas dari waktu ke waktu. Kombinasi kedua indikator ini dapat memberikan peta jalan yang lebih komprehensif dalam perencanaan pembangunan pertanian. Secara keseluruhan, hasil analisis ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kekuatan dan tantangan pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Majene. Tidak semua komoditas basis secara otomatis layak dijadikan prioritas pembangunan, kecuali jika didukung oleh bukti pertumbuhan dan daya saing yang kuat. Oleh karena itu, pendekatan integratif yang menggabungkan analisis kuantitatif dan pertimbangan kontekstual lokal menjadi penting dalam merumuskan strategi pengembangan komoditas pertanian yang adaptif dan berkelanjutan (Sihombing, 2. Identifikasi komoditas basis secara kuantitatif dapat digunakan sebagai dasar objektif untuk menetapkan prioritas dalam alokasi anggaran pembangunan, penyusunan rencana strategis sektor pertanian, dan program pendampingan petani. Pemahaman terhadap dinamika pertumbuhan dan daya saing komoditas melalui SSA dapat membantu pemerintah daerah dalam merancang kebijakan yang tidak hanya bersifat reaktif terhadap tren pasar, tetapi juga proaktif dalam mengantisipasi perubahan struktural di sektor pertanian (Lestari et al. , 2. Oleh karena itu, pemantauan dan evaluasi berkala terhadap kinerja komoditas pertanian basis sangat penting untuk memastikan pengembangan yang Selain itu, hasil penelitian ini dapat mendorong perumusan strategi hilirisasi dan tata kelola rantai nilai . alue chain governanc. yang lebih terarah. Misalnya, komoditas jagung yang terbukti unggul di Ulumanda dan Tammerodo bisa menjadi fokus dalam pengembangan agroindustri berbasis pakan ternak, sementara kelapa dan kakao yang tumbuh baik di wilayah lain dapat diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui produk olahan . eperti minyak kelapa murni dan cokelat bubu. Hal ini secara langsung akan meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat daya saing daerah di pasar domestik maupun ekspor. Sehingga rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah pada masing-masing Kecamatan yang ada di Kabupaten Majene, perlu pengembangan dan fokus pada. Kecamatan Banggae. Banggae Timur dan Pamboang fokus pada komoditas Bawang Merah dan Kelapa. Kecamatan Sendana. Tammerodo. Tubo Sendana fokus pada padi Ladang. Jagung. Kelapa dan Kakao. Kecamatan Malunda dan Ulumanda fokus pada komoditas padi ladang, padi Sawah, kelapa dan Hasil penelitian ini tidak hanya memperkuat pemahaman mengenai keunggulan komparatif dan pertumbuhan sektoral komoditas pertanian di Kabupaten Majene, tetapi juga memberikan landasan untuk merumuskan strategi hilirisasi dan tata kelola rantai nilai . alue chain governanc. yang lebih Berdasarkan hasil analisis gabungan antara nilai Location Quotient (LQ) dan Shift Share Analysis (SSA), terdapat beberapa komoditas yang sangat layak dikembangkan secara prioritas. Komoditas jagung, khususnya di Kecamatan Ulumanda dan Tammerodo, terbukti unggul secara relatif dan tumbuh lebih cepat dibanding rata-rata kabupaten, dengan nilai SSA yang tinggi mencapai 9,33 ton di Ulumanda. Hal ini menjadikan jagung sebagai kandidat utama untuk dikembangkan dalam kerangka agroindustri berbasis pakan ternak, mengingat kebutuhan nasional terhadap jagung pakan yang terus Selain itu, komoditas kelapa yang menunjukkan pertumbuhan signifikan di Ulumanda (SSA = 7,63 to. juga berpotensi besar untuk diarahkan pada pengembangan produk olahan bernilai tambah seperti minyak kelapa murni (VCO), arang aktif, dan produk turunan lainnya. Di sisi lain, ubi kayu dan Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 Nurlaela, et al. ubi jalar yang mendominasi beberapa kecamatan seperti Banggae. Pamboang, dan Sendana, dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pengolahan menjadi produk pangan lokal seperti tepung mocaf, keripik, atau camilan sehat berbasis umbi-umbian, yang sejalan dengan tren pangan fungsional. Sementara itu, meskipun kakao di Kecamatan Tammerodo memiliki nilai LQ tinggi, nilai SSA yang negatif menunjukkan bahwa komoditas ini tengah mengalami penurunan daya saing. Hal ini mencerminkan adanya masalah struktural seperti stagnasi produktivitas, penurunan minat petani muda, atau gangguan hama yang belum tertangani secara optimal. Namun, dengan intervensi strategis berupa revitalisasi tanaman, pelatihan pascapanen, dan penguatan akses pasar, kakao tetap dapat diposisikan sebagai komoditas perkebunan strategis daerah. Adapun komoditas kopi, khususnya di wilayah dataran tinggi seperti Ulumanda, juga menunjukkan kinerja yang baik dan berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan melalui pendekatan specialty coffee yang menggabungkan kualitas produksi dan daya tarik wisata berbasis desa. Secara keseluruhan, pengembangan komoditas unggulan di Kabupaten Majene sebaiknya difokuskan pada jagung dan kelapa sebagai motor pertumbuhan baru yang memiliki potensi hilirisasi cepat. kakao dan ubi kayu sebagai komoditas revitalisasi berbasis nilai tambah. kopi dan ubi jalar sebagai komoditas potensial dengan diferensiasi produk dan pasar niche. Pendekatan ini tidak hanya akan meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat struktur ekonomi lokal, tetapi juga akan memperkokoh daya saing Kabupaten Majene dalam peta ketahanan pangan dan komoditas strategis di tingkat regional maupun nasional. Selanjutnya, data dan hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan penting bagi lembaga pendidikan, lembaga riset, dan lembaga pembiayaan dalam mengarahkan kegiatan inovasi teknologi pertanian, pelatihan petani, serta pembiayaan berbasis komoditas unggulan. Penggunaan hasil ini untuk menyusun roadmap pengembangan kawasan pertanian berbasis komoditas juga sangat memungkinkan, terutama dalam menyelaraskan program lintas sektor dan memastikan kesinambungan antar level kebijakan . esa, kecamatan, dan kabupate. KESIMPULAN Setiap kecamatan memiliki komoditas unggulan yang spesifik, mencerminkan diferensiasi agroekologis dan struktur produksi lokal. Komoditas seperti jagung, ubi kayu, kacang hijau, kelapa, dan kakao memiliki nilai LQ yang tinggi dan, dalam beberapa kasus, juga menunjukkan pertumbuhan dan daya saing yang positif berdasarkan nilai SSA. Temuan ini menegaskan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Majene memiliki potensi strategis untuk menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi daerah apabila dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan. Sehingga pemetaan potensi komoditas harus mempertimbangkan baik keunggulan relatif maupun dinamika pertumbuhan, untuk menghindari jebakan perencanaan berbasis data statis semata. Akan tetapi, pemahaman yang lebih komprehensif terhadap faktor penentu keberhasilan komoditas unggulan . eperti aspek spasial dan sosial-kultura. akan sangat menentukan efektivitas strategi pengembangannya. UCAPAN TERIMA KASIH