Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Original Article Distribution Of Febrile Neutropenia Incidence In Leukemia Patients Undergoing Chemotherapy Distribusi Kejadian Febril Neutropenia Pada Pasien Leukemia Yang Menjalani Kemoterapi Rudi Rudi1. Rini Ismawati2. Diah Ayu Puspitarini3. Nadia Umar4. Cunani Indriyani5. Fitri Rahmayani6. Laura Megawati Sinaga7. Retno Purwanti8 1,2,3,4,5,6,7,8 Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais *Corresponding Author: Rudi Rudi Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais Email: rudiabdullah79@gmail. Keyword: Febrile Neutropenia. Leukemia. Chemotherapy. Absolute Neutrophil Count Kata Kunci: Febril Neutropenia. Leukemia. Kemoterapi. Absolute Neutrophil Count A The Author. 2025 Abstract One of the serious complications that often occurs in leukemia patients undergoing chemotherapy is febrile neutropenia, especially in isolation rooms with weak immune The purpose of this study was to provide an overview of the prevalence of febrile neutropenia and the characteristics of leukemia patients undergoing chemotherapy in the Decreased Immunity Isolation Room at Dharmais Cancer Hospital in Jakarta. Data, collected through a descriptive retrospective study design, were obtained from medical records of patients receiving chemotherapy for leukemia between 2013 and 2014, with a sample size of 71 patients calculated using the Slovin formula. The variables analyzed included gender, age, diagnosis, type of chemotherapy, absolute neutrophil count value, and the incidence and characteristics of febrile neutropenia. The results showed that 83. 1% of the total patients experienced febrile neutropenia, with the most frequent occurrence on days 8 to 20 after chemotherapy. Most patients with febrile neutropenia had an absolute neutrophil count value of less than 500 cells/AAL, indicating a high risk of infection. The majority of patients received antibiotics for the management of febrile neutropenia, with the most commonly used antibiotics being Meropenem and Ceftazidime. This study can help healthcare providers prevent and manage febrile neutropenia in leukemia patients and provide a basis for further research to develop better interventions. Abstrak Article Info: Received : November 30, 2024 Revised : March 8, 2025 Accepted : March 9, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Salah satu komplikasi serius yang sering terjadi pada pasien leukemia yang menjalani kemoterapi adalah febril neutropenia, terutama di ruang isolasi dengan sistem kekebalan yang lemah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang prevalensi febril neutropeni dan karakteristik pasien leukemia yang menjalani kemoterapi di Ruang Isolasi Immunitas Menurun di RS Kanker Dharmais di Jakarta. Data, yang dikumpulkan melalui desain penelitian retrospektif deskriptif, diperoleh dari rekam medis pasien yang mendapatkan kemoterapi untuk leukemia antara tahun 2013 dan 2014, dengan ukuran sampel sebanyak 71 pasien yang dihitung menggunakan rumus Slovin. Variabel yang dianalisis meliputi jenis kelamin, usia, diagnosis, jenis kemoterapi, nilai absolute neutrophil count, serta kejadian dan karakteristik febril neutropenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 83,1% dari total pasien mengalami febril neutropenia, dengan waktu kejadian terbanyak pada hari ke-8 hingga ke-20 setelah kemoterapi. Sebagian besar pasien yang mengalami febril neutropenia memiliki nilai absolute neutrophil count kurang dari 500 sel/AAL, yang menunjukkan risiko tinggi terhadap infeksi. Mayoritas pasien menerima antibiotik untuk penanganan febril neutropenia, dengan jenis antibiotik yang paling sering digunakan adalah Meropenem dan Ceftazidime. Studi ini dapat membantu tenaga kesehatan mencegah dan menangani febril neutropenia pada pasien leukemia dan menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan intervensi yang lebih baik. PENDAHULUAN Penyakit kanker merupakan penyakit yang tidak menular dengan tingkat kematian yang cukup tinggi. Leukemia, sekelompok ditunjukkan oleh proliferasi sel darah putih yang tidak normal di darah perifer dan sumsum tulang . Proliferasi sel leukosit yang tidak normal dan tidak terkontrol dikenal sebagai leukemia . Menurut data World Health Organization (WHO) dalam Globocan tahun 2050 kasus kanker baru di dunia diperkirakan sebanyak 35 juta orang, sedangkan pada tahun 2022 kasus baru https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 kanker sebanyak 19. 9 juta orang dengan jumlah angka kematian sebanyak 9. 7 juta orang . Salah satu jenis kanker darah yang paling umum di dunia adalah leukemia. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) menunjukkan bahwa pada tahun 2022, ada sekitar 486,777 kasus leukemia baru di seluruh dunia, dengan angka kematian sebesar 305,033 kasus per Salah satu dari sepuluh jenis kanker yang paling umum di banyak negara, baik pada anak-anak maupun dewasa, adalah Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun pada kasus AML hanya 30% . Kemoterapi adalah pengobatan umum untuk leukemia, terutama leukemia akut seperti Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) dan Acute Myeloid Leukemia (AML). Namun, neutropenia, salah satu efek samping kemoterapi yang paling serius, pengobatan dan meningkatkan risiko infeksi berat . Menurut Nugroho infeksi bakterial dapat muncul dan berkembang dengan cepat dalam kondisi netropenia dan merupakan keadaan darurat yang dapat mengancam jiwa. Namun, ada bukti bahwa infeksi lokal maupun sistemik terjadi pada 48 hingga 60% dari episode demam netropenia, dengan hanya bakteremia yang terjadi di antaranya . Neutropenia pasien leukemia mendapatkan kemoterapi berbeda di seluruh dunia tergantung pada jenis leukemia, protokol kemoterapi yang digunakan, dan faktor lain. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada fase awal kemoterapi, hingga 90% pasien neutropenia berat . Kondisi ini sering kali memerlukan intervensi medis yang intensif, seperti pemberian antibiotik profilaksis dan Granulocyte Colony-Stimulating Factor (GCSF) . Jumlah kasus kanker baru di Indonesia pada Tahun 2022 sebanyak 408. 661 orang dengan jumlah kematian sebanyak 242. orang data dari Global Cancer Observatory . Data tentang prevalensi neutropenia dan leukemia di Indonesia masih terbatas, tetapi tren menunjukkan bahwa Salah satu jenis kanker yang paling umum pada anak-anak adalah leukemia. Sebuah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa leukemia adalah jenis kanker yang paling umum pada anak-anak di Indonesia. Di Indonesia, prevalensi neutropenia di kalangan pasien leukemia yang menjalani kemoterapi diperkirakan cukup tinggi, karena standar pengobatan yang mengikuti protokol internasional dan tingkat infeksi nosokomial yang tinggi di Febril Neutropenia (FN) adalah salah satu komplikasi kemoterapi dan kegawatan onkologi yang terjadi saat pasien mengalami neutropenia . Menurut pendapat lain. FN adalah suhu di atas 38,3oC pada pengukuran suhu oral sekaligus atau 38,0oC dalam lebih dari satu jam dengan jenis neutrofil kurang dari 500/mm3 atau 1000/mm3 dengan perkiraan penurunan hingga 500/mm3 dalam 48 jam . Mengingat tingginya angka infeksi dan masalah manajemen suportif pasien kanker di Indonesia, memahami prevalensi dan efek neutropenia menjadi penting sehingga penelitian ini dapat memberikan gambaran kejadian FN di Indonesia. Penelitian lebih lanjut di Indonesia diperlukan untuk memberikan data yang lebih komprehensif dan relevan. Pada akhirnya, ini akan perawatan yang diberikan kepada pasien leukemia di Indonesia. METODE Digunakan desain retrospektif deskriptif dalam penelitian ini. Populasi pasien leukemia yang menjalani kemoterapi di RS Kanker Dharmais. Ruang Isolasi Immunitas Menurun (RIIM), terjadi dari Januari 2013 Desember Dipilih menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi, 71 https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 pasien dihitung menggunakan rumus Slovin. Populasi ini dipilih karena mereka berpotensi mengalami febril neutropenia sebagai akibat dari kemoterapi dengan kriteria inklusi: Pasien yang didiagnosis leukemia berdasarkan hasil pemeriksaan patologi dan telah menjalani setidaknya satu siklus kemoterapi, memiliki rekam medis lengkap, termasuk hasil laboratorium dan catatan suhu tubuh selama perawatan dan pasien yang berusia setidaknya 13 tahun ke atas. Sedangkan untuk kriteria eklusi: Pasien yang tidak memiliki data lengkap tentang hasil laboratorium atau catatan klinis terkait febril neutropenia dan pasien yang meninggal atau meninggalkan perawatan sebelum menyelesaikan satu siklus kemoterapi. Data diperoleh dari rekam medis pasien. Data rekam medis dilakukan verifikasi bahwa tidak ada lembaran yang tertinggal dengan mengecek kelengkapan data setiap rekam medisnya, data yang sudah diverifikasi dilakukan validasi dengan memastikan susuai dengan Kemudan menggunakan statistik deskriptif untuk variabel-variabel penelitian, termasuk jenis kelamin, usia, jenis kemoterapi, nilai ANC, dan kejadian FN. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Penelitian Dalam penelitian ini, distribusi jenis kelamin pasien menunjukan sedikit perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dengan 52,1% pasien perempuan dan 47,9% pasien laki-laki. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara jenis kelamin dalam insiden FN pada pasien leukemia yang menjalani kemoterapi. distribusi relatif seimbang ini sejalan dengan temuan ini . Mayoritas pasien dalam penelitian ini berusia antara 25 dan 59 tahun, atau 77,5% dari total pasien . Tabel 1. Distribusi Karakteristik Jenis Kelamin Responden Karaktersitik Laki-Laki Perempuan Total Frekuensi Persentase Sebagian besar pasien dalam penelitian ini Acute Myeloid Leukemia (AML) . ,5%) dibandingkan dengan Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) . ,5%). Pada leukemia akut komplikasi akiibat nuetropenia lebih besar angka kejadian jika dibandingkan dengan leukemia kronik . Tabel 2. Distribusi karakteristik diagnosa medis responden Karaktersitik Frekuensi Persentase AML ALL Total Jenis kemoterapi yang diberikan oleh responden bervariasi, tetapi protokol Induksi LAM 8 menjadi yang paling umum . ,4%). Ini kemoterapi LAM 8 lebih sering diberikan pada pasien AML, yang menunjukkan hubungannya dengan diagnosis medis Penggunaan FN, https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 penelitian sebelumnya kejadian FN banyak terjadi pada pasien dengan kemoterapi induksi . Beberapa jenis kemoterapi, terutama yang lebih intensif, diketahui dapat menurunkan jumlah neutrofil secara signifikan, meningkatkan kemungkinan infeksi . Jenis kemoterapi yang terdiri dari beberapa gabungan regimen obat kemoterapi ada hubungannya dengan nilai ANC pada pasien hal ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa jenis regimen kemoterapi dapat memengaruhi terhadap efek samping dari kemoterapi . Tabel 3. Distribusi karakteristik jenis kemoterapi responden Karaktersitik Induksi LAM 8 Reinduksi LAM 8 Konsolidasi LAM 8 BIDFA Reinduksi BIDFA FLAG Induksi ALL 80 Konsolidasi ALL 80 Induksi ALL 4 Reinduksi ALL 4 Konsolidasi ALL 4 Maintenance Total Frekuensi Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien neutropenia memiliki nilai ANC rendah. 39,4% memiliki nilai ANC antara 0-500, dan 28,2% memiliki nilai ANC antara 501 dan 1000. Hasil ini menunjukkan Persentase bahwa nilai ANC yang sangat rendah terkait dengan risiko infeksi dan neutropenia febril yang tinggi . Pasien dengan nilai ANC di bawah 500 sangat rentan terhadap infeksi, yang dapat menyebabkan gejala FN . Tabel 4. Distribusi karakteristik nialai ANC responden Karaktersitik Tidak Total Frekuensi Antibiotik diberikan kepada sebagian besar pasien FN, seperti Meropenem . ,9%) dan Ceftazidime . ,7%). Meropenem carbapenem yang banyak digunakan, berbeda denggan penelitian sebelumnya untuk mengatasi FN menggunakan antibiotik golongan sefalosporin seperti cefotaxime sebagai antibiotiik empiris . Hal ini dikarenakan pada hasil pola kuman diruangan bahwa golongan carbafenem dan Persentase ceftazidime tergolong masih sensitif. Saat ini penggunaan antibitotik diatur oleh Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). Penggunaan antibiotik yang luas menunjukkan betapa pentingnya mengelola infeksi pada pasien FN dan harus dimulai dalam waktu 1 jam setelah demam . Tujuan penggunaan antibiotik pada pasien FN adalah untuk mencegah infeksi yang lebih serius muncul hal ini sesuai dengan mahajemen algoritme https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 FN . Studi menunjukkan bahwa pemberian antibiotik yang tepat dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas FN pada pasien leukemia . Tabel 5. Distribusi karakteristik antbiotik yang diberikan pada responden Karaktersitik Sopime Amikasin Tazocin Ceftum Targocyd Doribax Meropenem Sopirom Meronem Sympenem Ceftazidime Maxipime Cefepime Zyfox Cefpirom Tidak Pakai Total Frekuensi Sebagian besar hasil kultur darah menunjukkan hasil steril . ,6%), yang menunjukkan bahwa meskipun pasien menunjukkan gejala FN, tidak ada bakteri yang ditemukan pada kultur darah mereka. Penemuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa tidak semua pasien FN menunjukkan infeksi bakteri yang ditemukan melalui kultur darah . Pada penelitian ini hanya menganalisa hasil kultur darah saja sesuai dengan panduan penangan FN yang diperiksa hanya kultur darah. Pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dilakukan untuk mengetahui fokal infeksi pada pasien yeng mengalami FN seperti dengan melakukan swab hidung, swab tengorok, swab anal dan kultur urine. Tetapi beberapa bakteri, seperti Klebsiella pneumoniae dan Acinetobacter baumannii, ditemukan pada Ini menunjukkan bahwa infeksi bakteri dapat berkontribusi pada timbulnya FN pada pasien leukemia. Persentase Kejadian Febril Neutropenia pada Pasien Leukemia Penelitian lain menunjukkan bahwa FN sering terjadi pada pasien leukemia, terutama pada mereka yang menerima kemoterapi intensif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 83,1% pasien dalam penelitian ini mengalami FN. Kejadian FN pada pasien leukemia adalah komplikasi yang serius karena meningkatkan risiko infeksi dan dapat memperpanjang durasi rawat inap dan menurunkan kualitas hidup pasien . Mayoritas kejadian FN terjadi pada hari ke-8 hingga ke-20 setelah kemoterapi . ,2%), menunjukkan bahwa munculnya FN terkait dengan waktu pasca kemoterapi, saat penurunan jumlah Ini mendukung penelitian bahwa kejadian FN lebih sering terjadi selama periode neutropenia berat setelah pemberian kemeoterapi kejadiannya lebih tinggi pada leukemia dibandingkan pada kanker padat . https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Sebagian besar responden yang mengalami FN memiliki nilai ANC yang sangat rendah, dengan 39,4% dari mereka menunjukkan neutropenia berat (ANC antara 0-. , yang menunjukkan bahwa mereka berisiko tinggi menyebabkan FN. Temuan ini sejalan dengan temuan dalam literatur yang menunjukkan bahwa neutropenia berat (ANC di bawah . adalah faktor risiko utama untuk berkembangnya FN pada pasien dengan leukemia yang menjalani kemoterapi . Jumlah ANC yang lebih tinggi antara 5011000 dan 1001-1500 ditemukan pada 28,2% pasien dan 31% responden. 1,4% responden yang memiliki ANC lebih neutropenia berat. Penurunan jumlah neutrofil secara langsung terkait dengan penurunan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, terhadap FN. Oleh karena itu, pengelolaan infeksi pada pasien dengan FN sangat bergantung pada seberapa rendah nilai ANC mereka, dengan perhatian khusus pada pasien dengan ANC di bawah 500 yang memerlukan pengobatan antibiotik empiris Salah satu indikator utama untuk diagnosis febril neutropenia adalah suhu Suhu tubuh pasien FN dalam penelitian ini berkisar antara 38,1AC hingga 38,4AC 45,1% menunjukkan gejala demam yang tidak terlalu parah tetapi tetap memerlukan perawatan medis. Peningkatan suhu tubuh pada tingkat ini seringkali merupakan tanda infeksi, yang dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius jika tidak ditangani segera. Selain itu, suhu tubuh 29,6% pasien berkisar antara 38,5AC dan 39,0AC, menunjukkan demam moderat. Hal ini menunjukkan bahwa FN muncul dengan gejala demam yang jelas pada sebagian besar pasien, yang menuntut pemeriksaan tambahan untuk menentukan penyebab Sebanyak 8,5% pasien mengalami suhu tubuh yang sangat tinggi, berkisar antara 39,1AC 40,0AC, menunjukkan infeksi berat atau sepsis, yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi fatal. Demam yang sangat tinggi seringkali menunjukkan bahwa bakteri atau mikroorganisme lain telah menyebabkan infeksi yang lebih serius, yang dapat memperburuk kondisi pasien, terutama pada pasien yang menderita neutropenia berat. Hasil ini sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa peningkatan suhu tubuh adalah salah satu gejala klinis utama FN. Suhu ini sering digunakan sebagai petunjuk untuk pengobatan empiris dengan antibiotik untuk mengendalikan infeksi yang mungkin terjadi pada pasien neutropenia . Secara keseluruhan, keduanya merupakan indikator penting untuk pengendalian FN, yang harus segera ditangani dengan pemeliharaan antibiotik . Tabel 6. Distribusi kejadian febril neutropenia pada responden Febril Nutropenia Tidak Total Frekuensi https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Persentase Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Penelitian ini dapat menjadi dasar onkologis untuk menentukan protokol pengobatan penanganan FN dan bagi tenaga kewaspadaannya terhadap kejadian FN serta dapat mencegah terjadinya FN dengan menerapkan standar keselamatan pasien yaitu mencegah peningkatan infeksi salah satunya dengan cuci tangan. Pada penelitian ini terdapat keterbatasan sehingga dapat menimbulkan terjadinya bias yaitu penelitian hanya dilakukan di salah satu ruangan saja sehingga jumlah sampelnya infeksi serius. Untuk penelitian selanjutnya dapat diperluas dengan melakukan penelitan iintervensi untuk menguji efektivitas strategi pencegahan terhadap FN. DAFTAR PUSTAKA Capelli D. Menotti D. Fiorentini A. Saraceni F. Olivieri A. Secondary Acute Myeloid Leukemia: Pathogenesis and Treatment. Leukemia. 111Ae127 Black JM. Hawks JH. Keperawatan medikal bedah: manajemen klinis untuk hasil yang diharapkan. Elsevier (Singapor. Bray F. Laversanne M. Sung H. Ferlay J. Siegel RL. Soerjomataram I, et al. Global cancer statistics 2022: GLOBOCAN estimates of incidence and mortality worldwide for 36 cancers in 185 countries. CA Cancer J Clin. :229Ae63. Peseski AM. McClean M. Green SD. Beeler C. Konig H. Management of fever and neutropenia in the adult patient with acute myeloid leukemia. Expert Rev Anti Infect Ther [Interne. :359Ae78. Available from: https://doi. org/10. 1080/14787210. Chennamadhavuni A. Lyengar V. Mukkamalla SKR. Shimanovsky A. Leukemia. In Treasure Island (FL). Muliyani M. Perwitasari DA. Andalusia R. Aisyi M. Pengaruh Kemoterapi Pada Pasien Pediatri Leukimia Limfoblastik Akut Dengan Febrile Neutropenia di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta. Pharmascience. :11Ae7. KESIMPULAN Febril Neutropenia merupakan kondisi yang umum terjadi pada pasien leukemia yang menjalani kemoterapi, dengan prevalensi yang cukup tinggi di RS Kanker Dharmais. Penelitian ini memberikan informasi penting bagi perawat dan dokter dalam menangani serta mencegah FN dan Granulocyte Colony-Stimulating Factor (GCSF) jika FN sudah terjadi sehingga dapat mencegah masalah yang lebih serius bahkan kematian . Penelitian ini juga dapat dijadikan dasar bagi penelitian selanjutnya untuk mengembangkan strategi intervensi yang lebih efektif. Sesuai algoritma FN bahwa penggunaan antibiotik sebelum ada hasil kultur pasti, maka dapat digunakan antibiotik empiris terlebiih Pasien leukemia yang akan menjalankan kemoterapi dengan dosis besar, maka dapat dipertimbangkan selama perawatannya dilakukan di ruang single room dengan tekanan positiif yang dilengkapi dengan hepafilter. SARAN