Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik Volume. 4 Nomor. 1 Maret 2026 E-ISSN . : 3031-8378. P-ISSN . : 3031-836X. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpakk. Tersedia: https://journal. id/index. php/jbpakk Rekonstruksi Pedagogi "The Other" Emmanuel Levinas dalam PAK: Menjawab Fenomena Cyber-Bullying dan Intoleransi Digital di Era Disrupsi Rahel Batong1*. Rifka Datukai Yang2. Randan3. Eka Pertiwi Turu' Sambo4. Asri5. Novi Belorundun6 Prodi Pendidikan Agama Kristen. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen. Institut Agama Kristen Negeri Toraja. Indonesia rahelbatong230804@gmail. com1, rifkadatukaiyang09@gmail. com2, randanrandan@gmail. turupertiwi@gmail. com4, asri52484@gmail. com5, novibelorundun@gmail. *Penulis korespondensi: rahelbatong230804@gmail. Abstract. The phenomena of cyberbullying and digital intolerance among young people are increasingly alarming in the era of technological disruption, and Christian Religious Education (CRE) is called to provide an adequate pedagogical response to this ethical crisis. This study aims to analyze the relevance of Emmanuel Levinas's ethics of responsibility toward the Other for the formation of students' digital character within CRE, and to formulate a pedagogical framework capable of transforming students' digital behavior from egocentric tendencies toward persons who uphold human dignity. A qualitative method with a library research design was employed, utilizing thematic content analysis of relevant academic sources. The findings indicate that Levinas's concepts of the face . e visag. and asymmetrical responsibility hold profound relevance for CRE, as they directly challenge the egocentric logic underlying destructive behavior in digital spaces. The pedagogical framework of CRE is formulated through three pillars: face-to-face pedagogy, alterity-based digital ethics literacy, and spirituality of responsibility as the foundation of transformation. The implications of this study affirm that CRE holds strategic potential to become a space for cultivating digital moral resilience, grounded in the affirmation of imago Dei and a transformative relational ethics. Keywords: Christian Religious Education. Cyberbullying. Disruption Era. Relational Ethics. The Other Abstrak. Fenomena cyberbullying dan intoleransi digital di kalangan generasi muda semakin mengkhawatirkan di era disrupsi teknologi, dan Pendidikan Agama Kristen (PAK) dituntut untuk memberikan respons pedagogis yang memadai terhadap krisis etis tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi etika tanggung jawab Emmanuel Levinas tentang the Other bagi pembentukan karakter digital peserta didik dalam PAK, serta merumuskan kerangka kerja pedagogis yang mampu mentransformasi perilaku digital peserta didik dari yang bersifat egosentris menuju pribadi yang memuliakan martabat sesama. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi pustaka melalui analisis isi tematik terhadap berbagai sumber akademis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep wajah . e visag. dan tanggung jawab asimetris Levinas memiliki relevansi mendalam bagi PAK karena secara langsung menantang logika egosentris yang mendasari perilaku destruktif di ruang digital. Kerangka kerja pedagogis PAK dirumuskan melalui tiga pilar, yaitu pedagogi perjumpaan wajah, literasi etis digital berbasis alteritas, dan spiritualitas tanggung jawab sebagai fondasi Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa PAK memiliki potensi strategis untuk menjadi ruang pembentukan ketahanan moral digital yang berakar pada penghargaan terhadap imago Dei dan etika relasional yang transformatif. Kata kunci: Cyberbullying. Era Disrupsi. Etika Relasional. Pendidikan Agama Kristen. The Other LATAR BELAKANG Pendidikan Agama Kristen (PAK) bukan sekadar proses transfer pengetahuan teologis, melainkan sebuah ruang pembentukan karakter yang berakar pada nilai kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab terhadap sesama. Sebagai disiplin pendidikan yang berlandaskan iman Kristen. PAK menempatkan setiap peserta didik sebagai individu yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah . mago De. , sehingga setiap proses pembelajaran semestinya berorientasi pada pemulihan dan peneguhan kemanusiaan yang sejati (Ton, 2. Naskah Masuk: 02 Januari 2026. Revisi: 30 Januari 2026. Diterima: 27 Februari 2026. Tersedia: 4 Maret 2026 Rekonstruksi Pedagogi "The Other" Emmanuel Levinas dalam PAK: Menjawab Fenomena Cyber-Bullying dan Intoleransi Digital di Era Disrupsi Dalam kerangka ini. PAK tidak bisa berdiri sendiri sebagai kegiatan ritual semata, melainkan harus mampu merespons tantangan nyata yang dihadapi peserta didik dalam kehidupan seharihari, termasuk dalam ruang digital yang kian mendominasi interaksi sosial generasi muda. Secara ideal. PAK berfungsi sebagai ruang humanisasi yang mendorong peserta didik untuk keluar dari kesadaran egosentris menuju kesadaran relasional yang otentik. Kristianto . menegaskan bahwa etika dalam konteks pendidikan Kristen seharusnya mendorong setiap individu untuk membuka diri terhadap kehadiran orang lain sebagai suatu enigma yang tak dapat sepenuhnya dikuasai, melainkan harus dihormati dan dilayani. Landasan filosofis dari orientasi ini dapat ditemukan dalam pemikiran Emmanuel Levinas, seorang filsuf berkebangsaan Prancis-Lituania yang meletakkan etika sebagai filsafat pertama . thics as first Levinas membangun sebuah kerangka etika tanggung jawab yang bersifat asimetris dan tanpa syarat, di mana diri . he sel. memiliki kewajiban penuh terhadap orang lain . he Othe. tanpa mengharapkan timbal balik (Dauphinee, 2. Bagi Levinas, perjumpaan dengan wajah orang lain bukan hanya peristiwa sosial biasa, melainkan sebuah epifani etis yang memanggil diri untuk bertanggung jawab tanpa batas (Levinas, 1. Dalam konteks PAK, kerangka ini menjadi relevan karena memberi dasar filosofis yang kokoh bagi pembentukan pribadi yang mampu memuliakan martabat sesama, bahkan ketika sesama itu adalah orang asing yang tidak dikenal sekalipun. Namun, kondisi nyata yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, khususnya dalam era disrupsi teknologi, menunjukkan gambaran yang sangat berbeda dari kondisi ideal tersebut. Saingo . mencatat bahwa kemajuan teknologi digital telah menggeser pola interaksi sosial secara masif, sehingga ruang digital kini menjadi arena utama bagi ekspresi diri dan komunikasi antarpribadi. Ironisnya, ruang digital yang seharusnya mempererat hubungan antarmanusia justru kerap menjadi ladang subur bagi berbagai bentuk perilaku destruktif, mulai dari penyebaran ujaran kebencian, hoaks, hingga cyberbullying. Sihotang et al. mengidentifikasi bahwa permasalahan penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab terus meningkat di kalangan generasi muda, termasuk di kalangan pelajar Kristen. Hamidah et . menambahkan bahwa degradasi etika komunikasi di ruang digital ditandai oleh lemahnya kemampuan empati, rendahnya literasi digital, dan ketidakmampuan pengguna untuk menahan diri dari komentar-komentar yang melukai pihak lain. Fenomena cyberbullying dan intoleransi digital ini, jika dicermati melalui lensa filsafat Levinas, sesungguhnya merupakan manifestasi dari krisis etis yang mendalam. Ketika seseorang melontarkan kebencian di media sosial, ia sedang menolak untuk mengakui wajah orang lain sebagai wajah yang menuntut tanggung jawab moral. Ton . menjelaskan Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 4. Nomor. 1 Maret 2026 E-ISSN . : 3031-8378. P-ISSN . : 3031-836X. Hal. bahwa dalam ruang digital, wajah . e visag. sebagaimana dimaksud Levinas kerap hilang dan tergantikan oleh avatar atau identitas semu, sehingga kehadiran etis di hadapan sesama menjadi Inilah yang oleh Ton disebut sebagai dehumanisasi digital, yaitu pengaburan nilainilai kemanusiaan ketika interaksi antarmanusia direduksi menjadi sekadar data atau representasi algoritmik. Kevin . memperkuat analisis ini dengan menyatakan bahwa dominasi kesadaran egosentris dalam kehidupan modern telah mengikis kemampuan manusia untuk memaknai dirinya sebagai makhluk sosial yang saling bergantung. Kesenjangan yang lebar antara ideal PAK sebagai ruang pembentukan etika relasional dan realitas perilaku digital peserta didik yang destruktif inilah yang menjadi kegelisahan utama penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu telah mencoba menjembatani pemikiran Levinas dengan konteks pendidikan dan kehidupan sosial kontemporer. Katz . mengeksplorasi keterkaitan antara proyek etis Levinas dengan filsafat pendidikan John Dewey, dan menemukan bahwa pemikiran Levinas membutuhkan sebuah model kultivasi moral agar dapat diterapkan secara praktis dalam konteks pendidikan. Samuel et al. menelaah konsep diri . oi-so. dan kesadaran Levinas dalam ruang teknologi pendidikan, dan menekankan pentingnya sensibilitas terhadap the Other ketika berhadapan dengan media digital. Ton . secara khusus menghubungkan konsep wajah Levinas dengan praktik PAK di era digital, dan merumuskan paradigma pendidikan berbasis etika relasional sebagai respons terhadap dehumanisasi digital. Sementara itu. Fangidae . menggunakan kerangka tanggung jawab Levinas untuk merespons penderitaan dalam konteks teologis, dan menunjukkan bahwa etika tanggung jawab Levinas selalu berdimensi konkret dan praktis. Persamaan antara penelitian-penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada penggunaan pemikiran Levinas sebagai kerangka analisis etis. Namun, perbedaan yang signifikan terdapat pada fokus dan konteks yang diangkat. Penelitian ini secara khusus memusatkan perhatian pada rekonstruksi pedagogi PAK sebagai respons konkret terhadap fenomena cyberbullying dan intoleransi digital, sebuah dimensi yang belum secara komprehensif digarap oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Di sinilah urgensi penelitian ini menemukan legitimasinya: di tengah meningkatnya angka cyberbullying di kalangan pelajar dan lemahnya respons pedagogis dari pendidikan agama, dibutuhkan sebuah kerangka konseptual yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga mampu diterjemahkan menjadi praktik pedagogis yang transformatif. PAK, dengan akar teologisnya yang menekankan kasih dan penghargaan terhadap sesama, memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pembentukan ketahanan moral digital bagi peserta didik, asalkan didukung oleh landasan filosofis yang Rekonstruksi Pedagogi "The Other" Emmanuel Levinas dalam PAK: Menjawab Fenomena Cyber-Bullying dan Intoleransi Digital di Era Disrupsi Bertolak dari kegelisahan dan kesenjangan yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: pertama, menganalisis konsep etika tanggung jawab Emmanuel Levinas tentang The Other dan relevansinya bagi pembentukan karakter digital peserta didik dalam PAK. dan kedua, merumuskan kerangka kerja pedagogis PAK berbasis pemikiran Levinas yang mampu mentransformasi perilaku digital peserta didik dari yang bersifat egosentris menuju pribadi yang memuliakan martabat sesama di era disrupsi. KAJIAN TEORITIS Etika Tanggung Jawab Emmanuel Levinas dan Konsep The Other Pemikiran Emmanuel Levinas menempatkan etika bukan sebagai cabang dari filsafat, melainkan sebagai fondasi pertama dari seluruh refleksi filosofis. Levinas . membangun argumen bahwa tanggung jawab terhadap orang lain mendahului segala bentuk kebebasan, pilihan, maupun kesadaran reflektif diri, sehingga subjektivitas manusia pada hakikatnya ditentukan oleh relasi etisnya dengan the Other dan bukan oleh cogito Cartesian. Konsep wajah . e visag. menjadi inti dari kerangka etika ini, di mana perjumpaan dengan wajah orang lain memanggil diri untuk bertanggung jawab secara penuh tanpa syarat dan tanpa mengharapkan timbal balik dari pihak lain (Dauphinee, 2. Sobon . menegaskan bahwa tanggung jawab dalam pemikiran Levinas bersifat asimetris, konkret, melampaui aturan yang berlaku, dan bahkan mendahului kebebasan manusia itu sendiri, sehingga kehadiran orang lain secara langsung mewajibkan diri untuk bersikap etis. Petrilli . menambahkan bahwa konsep alteritas dalam pemikiran Levinas menegaskan eksistensi orang lain sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan tidak dapat direduksi ke dalam kategorisasi subjek, sehingga relasi antar-manusia senantiasa merupakan relasi antarsingularitas yang tidak dapat diseragamkan. Kevin . menjelaskan bahwa proyek filosofis Levinas sesungguhnya merupakan upaya rehabilitasi terhadap kultur egosentris dalam tradisi filsafat Barat, dengan menempatkan the Other bukan sebagai nomor dua, melainkan sebagai prioritas pertama yang menuntut perlindungan dan pelayanan. Fangidae . menunjukkan dimensi teologis dari etika ini dengan menekankan bahwa wajah orang lain merupakan manifestasi kehadiran Allah yang transenden dalam yang imanen, sehingga tanggung jawab terhadap sesama secara inheren adalah tanggung jawab yang berdimensi spiritual dan bukan semata-mata sosial. Latuihamallo . mendeskripsikan pemikiran Levinas sebagai filsafat sesama yang secara konsisten menolak totalitas ego dan membuka ruang bagi ketakterbatasan relasional yang melampaui batas-batas identitas dan kepentingan diri. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 4. Nomor. 1 Maret 2026 E-ISSN . : 3031-8378. P-ISSN . : 3031-836X. Hal. Katz . mempersoalkan bahwa meskipun Levinas berbicara tentang respons etis terhadap the Other, proyek etisnya tetap membutuhkan sebuah filsafat pendidikan atau model kultivasi moral yang mampu menerjemahkan tanggung jawab tersebut ke dalam tindakan yang nyata dan terukur. Samuel et al. memperluas pemahaman ini dengan mengeksplorasi bagaimana sensibilitas Levinas terhadap the Other bersinggungan dengan ruang teknologi pendidikan, di mana pengalaman diri tidak melulu berada dalam hegemoni material, melainkan juga hadir dalam dimensi yang tak tersentuh oleh pancaindra. Dussel . memberikan kritik sekaligus pendalaman terhadap pemikiran Levinas dari perspektif Amerika Latin dengan menunjukkan bahwa pengalaman hidup Levinas sebagai tahanan Nazi menjadi latar situasional yang menentukan seluruh bangunan etika tanggung jawabnya, di mana seorang sandera . menderita bagi orang lain sebagai bentuk substitusi yang paling radikal dari tanggung jawab etis. Fenomena Cyberbullying dan Intoleransi Digital sebagai Krisis Etis di Era Disrupsi Era disrupsi teknologi telah membawa perubahan mendasar pada cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan mengekspresikan identitasnya, dan perubahan ini menyimpan implikasi etis yang serius bagi kehidupan sosial dan pendidikan. Saingo . menjelaskan bahwa era disrupsi ditandai oleh ketergantungan hampir seluruh aktivitas manusia pada kemajuan teknologi, dan kondisi ini menciptakan tantangan besar bagi pembentukan moral, khususnya ketika teknologi disalahgunakan untuk menyebarkan konten yang merusak, merendahkan, atau memprovokasi kebencian terhadap orang lain. Saingo . mencatat bahwa Indonesia, sebagai salah satu negara dengan pengguna internet terbesar di dunia, mengalami peningkatan signifikan dalam kejahatan berbasis media sosial, termasuk cyberbullying, ujaran kebencian, penyebaran hoaks, dan konten bermuatan intoleransi yang mengancam kohesi sosial. Sihotang et al. mengidentifikasi bahwa permasalahan penyalahgunaan media sosial di kalangan generasi muda tidak hanya berdampak pada kemunduran keterampilan sosial, tetapi juga menciptakan ketergantungan digital yang melemahkan kemampuan empati dan kepekaan moral dalam kehidupan nyata. Hamidah et al. menekankan bahwa degradasi etika komunikasi di ruang digital disebabkan oleh lemahnya literasi digital dan rendahnya sensitivitas terhadap isu-isu sosial dan keagamaan, sehingga komentar-komentar negatif, penghinaan, dan cyberbullying mendominasi ruang-ruang publik digital yang seharusnya menjadi arena dialog yang konstruktif. Rekonstruksi Pedagogi "The Other" Emmanuel Levinas dalam PAK: Menjawab Fenomena Cyber-Bullying dan Intoleransi Digital di Era Disrupsi Ton . menafsirkan fenomena ini melalui lensa Levinas dengan menyebut kondisi tersebut sebagai dehumanisasi digital, yaitu sebuah proses di mana kehadiran manusia tereduksi menjadi data, avatar, atau representasi algoritmik yang mengaburkan dimensi kemanusiaan sejati dan menghilangkan tuntutan etis yang seharusnya muncul dari perjumpaan Zacharias . menambahkan bahwa dalam lanskap digital yang kian didominasi kecerdasan buatan dan interaksi termediasi, kesadaran relasional yang digagas oleh para filsuf eksistensialis seperti Levinas menjadi semakin mendesak untuk dihadirkan kembali sebagai orientasi etis dalam kehidupan bermasyarakat. Kristianto . mengingatkan bahwa ketika etika yang dikembangkan hanya berlaku bagi orang-orang yang sudah dikenal dan menguntungkan diri sendiri, maka etika tersebut bersifat semu belaka, dan kondisi inilah yang sesungguhnya tergambar dalam perilaku cyberbullying yang menyasar pihak-pihak yang dianggap berbeda atau asing. Pedagogi PAK Berbasis Etika Relasional sebagai Respons terhadap Krisis Digital Pendidikan Agama Kristen memiliki tanggung jawab fundamental untuk merespons krisis etis digital dengan menawarkan kerangka pedagogis yang berakar pada nilai-nilai relasional dan teologis yang transformatif. Ton . menegaskan bahwa PAK semestinya menjadi ruang humanisasi iman yang memperlakukan setiap peserta didik sebagai pribadi unik, tak tergantikan, dan tak tereduksi, sejalan dengan pemahaman teologis mengenai imago Dei, sehingga praktik pedagogi dalam PAK harus berakar pada tanggung jawab, dialog, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kristianto . menunjukkan bahwa relevansi pemikiran Levinas bagi pendidikan Kristen terletak pada konsep ethics of strangers, yaitu etika yang mendorong setiap orang untuk bersedia dipertanyakan, diusik, dan diganggu oleh kehadiran orang yang tidak dikenal, bahkan bersedia bertanggung jawab terhadap mereka, sebuah orientasi yang sangat dibutuhkan dalam konteks interaksi digital yang penuh dengan perjumpaan antar-orang asing. Katz . memberikan landasan bagi pengembangan model pedagogis ini dengan mengusulkan bahwa dialog antara etika Levinas dan filsafat pendidikan memiliki potensi nyata untuk menghasilkan model kultivasi etis yang dapat membentuk respons moral peserta didik secara konkret dan berkelanjutan. Tjandraputra et al. menyumbangkan perspektif penting bahwa dalam konteks pendidikan dan komunitas iman, menghargai sesama sebagai makhluk ciptaan merupakan dasar dari hubungan yang benar dan harmonis, dan tanggung jawab tanpa batas yang digagas Levinas memanggil kesadaran moral seseorang untuk hadir bagi yang lain, termasuk dalam situasi konflik dan ketegangan. Lavoie et al. memperkuat argumen ini dengan menunjukkan bahwa bagi Levinas, kepedulian terhadap Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 4. Nomor. 1 Maret 2026 E-ISSN . : 3031-8378. P-ISSN . : 3031-836X. Hal. orang lain merupakan tanggung jawab tertinggi yang tidak bersifat bawaan, melainkan perlu secara aktif dipupuk dan dikultivasi, sehingga institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk kepekaan etis tersebut. Fangidae . menambahkan dimensi teologis dengan menekankan bahwa kehadiran seseorang di tengah penderitaan orang lain bukan hanya tindakan sosial biasa, melainkan sebuah teo-antropodisi, yaitu manifestasi nyata dari tanggung jawab Allah melalui tindakan manusia yang peduli, sehingga PAK yang berbasis etika relasional Levinas secara inheren berdimensi teologis dan misional. Verdino . memberikan nuansa tambahan dengan menggarisbawahi bahwa relasi antar-manusia sebagai relasi antara diri dan the Other memiliki signifikansi spiritual yang mendalam, karena setiap perjumpaan sejati dengan orang lain mengandung dimensi transendensi yang menggerakkan manusia melampaui batas Zacharias . memperkuat pentingnya PAK sebagai ruang pembentukan kesadaran relasional dengan menegaskan bahwa pandangan Levinas tentang intensionalitas diri yang selalu terarah kepada orang lain merupakan antitesis dari logika digital yang mendorong individu untuk menarik diri ke dalam gelembung identitas masing-masing, sehingga PAK yang baik harus secara sadar membangun kontra-narasi terhadap kecenderungan egoisme digital yang merajalela. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka, yaitu sebuah metode penelitian yang secara sistematis mengumpulkan, membaca, mencatat, mengolah, dan menganalisis berbagai sumber tertulis yang relevan dengan topik kajian tanpa melibatkan pengumpulan data lapangan. Sumber-sumber yang digunakan mencakup buku, artikel jurnal ilmiah, dan karya-karya akademis yang berkaitan dengan pemikiran filsafat Emmanuel Levinas, fenomena cyberbullying dan intoleransi digital, serta teori dan praktik Pendidikan Agama Kristen di era disrupsi. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur secara selektif dan kritis dengan mempertimbangkan relevansi, kedalaman argumen, dan keterkaitan antar-sumber. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. yang bersifat tematik, yakni dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menafsirkan gagasan-gagasan utama dari setiap sumber untuk kemudian disintesiskan menjadi sebuah kerangka konseptual yang koheren. Keabsahan penelitian dijaga melalui triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan dan mengonfirmasi temuan dari berbagai literatur yang berbeda agar interpretasi yang dihasilkan bersifat mendalam, terpercaya, dan tidak berpijak pada satu perspektif tunggal semata. Rekonstruksi Pedagogi "The Other" Emmanuel Levinas dalam PAK: Menjawab Fenomena Cyber-Bullying dan Intoleransi Digital di Era Disrupsi HASIL DAN PEMBAHASAN Etika Tanggung Jawab Levinas tentang The Other dan Relevansinya bagi Pembentukan Karakter Digital Peserta Didik dalam PAK Untuk memahami mengapa cyberbullying dan intoleransi digital bisa tumbuh subur di kalangan pelajar, termasuk pelajar Kristen sekalipun, kita perlu terlebih dahulu melihat akar persoalannya secara filosofis. Fenomena ini bukan semata-mata masalah kurangnya pengetahuan tentang aturan bermedia sosial, melainkan merupakan krisis yang jauh lebih dalam, yaitu krisis kesadaran etis tentang siapa sesungguhnya orang lain di hadapan kita. sinilah pemikiran Levinas menjadi sangat relevan untuk dibawa masuk ke dalam ruang PAK. Levinas . membangun seluruh bangunan filsafatnya di atas satu klaim yang tampak sederhana namun sesungguhnya sangat radikal: bahwa tanggung jawab terhadap orang lain mendahului segala bentuk kebebasan dan pilihan individu. Artinya, seseorang tidak bertanggung jawab kepada orang lain karena ia memilih demikian, atau karena ada aturan yang mewajibkannya, melainkan karena kehadiran orang lain itu sendiri sudah merupakan sebuah tuntutan moral yang tak bisa dihindari. Dauphinee . menjelaskan bahwa tanggung jawab ini tidak bergantung pada apakah kita mengenal orang tersebut, apakah ia berasal dari komunitas yang sama, atau apakah ia layak mendapatkan perhatian kita. Tanggung jawab berlaku secara universal dan tanpa syarat, bahkan terhadap orang asing yang sama sekali tidak kita kenal. Konsep wajah . e visag. adalah jantung dari etika Levinas. Ketika seseorang berhadapan dengan wajah orang lain, ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan, kategorikan, atau kuasai sepenuhnya. Ton . menguraikan bahwa wajah dalam pengertian Levinas bukan sekadar tampilan fisik, melainkan sebuah epifani etis yang menyampaikan perintah moral paling mendasar, yaitu larangan untuk membunuh, dalam arti yang paling luas, termasuk membunuh martabat, harga diri, dan kemanusiaan orang lain. Inilah yang terjadi dalam cyberbullying: pelaku secara simbolis sedang membunuh martabat korban, namun ia bisa melakukannya dengan begitu mudah karena wajah korban tidak hadir secara nyata di hadapannya. Layar perangkat digital menciptakan jarak yang membuat tuntutan etis dari wajah orang lain menjadi tidak terasa. Sobon . menegaskan bahwa salah satu karakteristik terpenting dari tanggung jawab dalam pemikiran Levinas adalah sifatnya yang asimetris. Seseorang bertanggung jawab penuh terhadap orang lain tanpa mengharapkan orang lain melakukan hal yang sama sebagai Prinsip ini secara langsung menantang logika media sosial yang pada dasarnya beroperasi di atas prinsip resiprokal: saya menyukai unggahanmu, kamu menyukai Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 4. Nomor. 1 Maret 2026 E-ISSN . : 3031-8378. P-ISSN . : 3031-836X. Hal. saya mendukungmu ketika kamu mendukung pandanganku. Ketika logika resiprokal ini gagal, ketika orang lain berbeda pandangan, berbeda keyakinan, atau dianggap mengancam identitas kelompok, maka serangan dan kebencian pun meledak. Etika asimetris Levinas menawarkan sebuah orientasi yang berbeda secara fundamental: kebaikan terhadap orang lain tidak boleh ditentukan oleh apa yang orang lain lakukan atau tidak lakukan terhadap Petrilli . memperdalam analisis ini dengan menunjukkan bahwa dalam pemikiran Levinas, alteritas atau keberlainan orang lain adalah sesuatu yang harus dijaga dan dilindungi, bukan diseragamkan atau dihancurkan. Intoleransi digital pada dasarnya adalah upaya untuk menghancurkan keberlainan orang lain, memaksakan keseragaman pandangan, dan menghukum siapa pun yang dianggap berbeda. Levinas justru melihat keberlainan sebagai kondisi yang memungkinkan relasi etis yang sejati terjadi. Tanpa keberlainan, tidak ada the Other, dan tanpa the Other, tidak ada tanggung jawab etis yang bisa dibicarakan. Kevin . menambahkan bahwa proyek rehabilitasi kultur egosentris yang diusung Levinas menjadi sangat relevan ketika dihadapkan pada perilaku digital yang menempatkan kepuasan dan kenyamanan diri sebagai satu-satunya ukuran dalam berinteraksi dengan orang lain. Dari sisi teologis. Fangidae . menunjukkan bahwa etika tanggung jawab Levinas tidak terlepas dari dimensi religius, karena wajah orang lain menyimpan jejak-jejak kehadiran Allah yang transenden. Artinya, ketika seseorang merespons kehadiran orang lain dengan tanggung jawab dan kepedulian, ia secara tidak langsung sedang memanifestasikan kehadiran Allah di dunia. Perspektif ini sangat selaras dengan landasan teologis PAK yang menempatkan setiap manusia sebagai imago Dei. Latuihamallo . mencatat bahwa filsafat Levinas yang kerap disebut sebagai filsafat sesama ini banyak dipengaruhi oleh tradisi religius Yahudi, khususnya keyakinan bahwa kebutuhan fisik dan spiritual sesama adalah tanggung jawab yang tidak bisa dipisahkan. Tjandraputra et al. mempertegas bahwa dalam konteks komunitas iman, menghargai sesama sebagai ciptaan Allah merupakan dasar dari seluruh relasi yang sehat dan harmonis, dan tanggung jawab tanpa batas Levinas memanggil kesadaran moral seseorang untuk selalu hadir bagi yang lain. Dengan demikian, relevansi pemikiran Levinas bagi pembentukan karakter digital peserta didik dalam PAK terletak pada kemampuannya untuk mengguncang dan memperbarui orientasi dasar peserta didik dalam berinteraksi: dari yang semula berpusat pada diri sendiri . menuju kesadaran bahwa kehadiran orang lain, bahkan di balik layar sekalipun, membawa tuntutan etis yang nyata dan tidak bisa diabaikan. Kristianto . mengingatkan bahwa apabila tanggung jawab terhadap orang lain sulit diwujudkan, itu adalah tanda bahwa Rekonstruksi Pedagogi "The Other" Emmanuel Levinas dalam PAK: Menjawab Fenomena Cyber-Bullying dan Intoleransi Digital di Era Disrupsi seseorang belum benar-benar mengalami kehadiran orang lain sebagai sebuah misteri yang menuntut kepedulian. Di sinilah PAK dipanggil untuk bekerja: bukan hanya mengajarkan aturan bermedia sosial, melainkan membentuk kepekaan batin yang mampu merasakan kehadiran wajah orang lain bahkan dalam interaksi yang termediasi teknologi. Kerangka Kerja Pedagogis PAK Berbasis Pemikiran Levinas untuk Mentransformasi Perilaku Digital Peserta Didik Jika tujuan pertama penelitian ini telah memberi kita pemahaman tentang mengapa pemikiran Levinas relevan, maka tujuan kedua ini berusaha menjawab pertanyaan yang lebih praktis: bagaimana PAK bisa menggunakan pemikiran tersebut untuk secara nyata mengubah perilaku digital peserta didik? Pertanyaan ini penting karena Katz . sudah mengingatkan sejak awal bahwa proyek etis Levinas, sebagus apa pun secara filosofis, tetap membutuhkan sebuah model kultivasi moral yang konkret agar dapat diterapkan dalam ruang pendidikan. Tanpa itu, etika Levinas hanya akan berhenti di tataran wacana tanpa menghasilkan perubahan perilaku yang sesungguhnya. Kerangka kerja pedagogis yang dirumuskan dalam penelitian ini bertumpu pada tiga pilar utama yang saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain. Pedagogi Perjumpaan Wajah (Face-to-Face Pedagog. Levinas meyakini bahwa perjumpaan langsung dengan wajah orang lain adalah momen paling mendasar dalam pembentukan kesadaran etis. Dalam konteks PAK di era digital, tantangannya adalah bahwa sebagian besar perjumpaan peserta didik dengan sesamanya terjadi secara termediasi, bukan tatap muka. Ton . menyarankan bahwa PAK harus secara aktif membangun ruang-ruang perjumpaan yang otentik, di mana peserta didik dapat mengalami kehadiran nyata orang lain dengan segala keunikan, kerentanan, dan Ini bisa diwujudkan melalui metode pembelajaran berbasis dialog, di mana peserta didik didorong untuk mendengarkan cerita hidup orang lain secara sungguhsungguh, bukan untuk berdebat atau menghakimi, melainkan untuk merasakan bersama. Lavoie et al. menekankan bahwa kepedulian terhadap orang lain dalam semangat Levinas bukan sesuatu yang muncul secara otomatis, melainkan perlu dipupuk melalui latihan kepekaan yang berulang dan berkelanjutan. PAK bisa merancang pengalaman belajar yang secara khusus mempertemukan peserta didik dengan realitas penderitaan dan kerentanan orang lain, misalnya melalui kunjungan ke komunitas yang terpinggirkan, kesaksian dari korban cyberbullying, atau refleksi mendalam atas konten-konten digital yang merendahkan martabat manusia. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 4. Nomor. 1 Maret 2026 E-ISSN . : 3031-8378. P-ISSN . : 3031-836X. Hal. Literasi Etis Digital Berbasis Alteritas Saingo . dan Sihotang et al. secara konsisten menunjukkan bahwa akar dari perilaku digital yang destruktif adalah lemahnya kemampuan empati dan ketidakmampuan pengguna untuk membayangkan dampak nyata dari kata-kata dan tindakan mereka terhadap orang lain. Hamidah et al. menambahkan bahwa literasi digital yang baik bukan hanya soal kecakapan teknis menggunakan media, melainkan juga soal kedewasaan sikap, pengendalian diri, dan tanggung jawab atas setiap ujaran yang Dalam kerangka Levinas. PAK bisa mengembangkan modul literasi etis digital yang mengajak peserta didik untuk senantiasa bertanya sebelum mengunggah atau berkomentar: apakah tindakanku ini menghormati wajah orang lain? Apakah aku sedang merespons kehadiran orang lain dengan tanggung jawab, atau justru sedang menjadikannya objek kemarahanku? Samuel et al. mengingatkan bahwa sensibilitas terhadap the Other dalam ruang teknologi justru menjadi ujian sesungguhnya bagi kematangan etis seseorang, karena di situlah godaan untuk bersikap egosentris paling kuat terasa. PAK yang baik harus mampu melatih peserta didik untuk membawa sensibilitas etis ini ke dalam setiap interaksi digital mereka, bukan hanya ketika mereka berada di lingkungan gereja atau Spiritualitas Tanggung Jawab sebagai Fondasi Transformasi Kerangka pedagogis ini tidak akan lengkap tanpa dimensi spiritualnya. Verdino . menunjukkan bahwa relasi antara diri dan the Other menyimpan signifikansi spiritual yang mendalam, karena setiap perjumpaan sejati dengan orang lain adalah sebuah peristiwa yang melampaui batas-batas ego dan membuka diri terhadap yang transenden. Fangidae . menjelaskan bahwa ketika seseorang hadir untuk menanggung penderitaan orang lain, ia tidak sendiri, melainkan sedang memanifestasikan jejak-jejak kehadiran Allah dalam dunia. Perspektif ini memberikan motivasi teologis yang kuat bagi peserta didik untuk berperilaku etis di ruang digital: bukan karena takut hukuman atau ingin terlihat baik, melainkan karena mereka memahami bahwa setiap tindakan mereka terhadap sesama, termasuk di media sosial, memiliki dimensi spiritual yang menyentuh relasi mereka dengan Allah. Tjandraputra et al. menegaskan bahwa dalam komunitas iman. Yesus Kristus sendiri adalah teladan tertinggi dari tanggung jawab tanpa batas terhadap sesama, karena Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan merespons penderitaan manusia dengan pengorbanan diri yang total. Rekonstruksi Pedagogi "The Other" Emmanuel Levinas dalam PAK: Menjawab Fenomena Cyber-Bullying dan Intoleransi Digital di Era Disrupsi Zacharias . menambahkan bahwa dalam lanskap teknologi yang terus berkembang. PAK perlu secara sadar membangun kontra-narasi terhadap logika digital yang mendorong individualisme dan kecurigaan terhadap perbedaan. Dussel . mengingatkan kita bahwa etika Levinas lahir dari pengalaman nyata sebagai korban dan saksi ketidakadilan, sehingga ia bukan etika yang abstrak dan steril, melainkan etika yang berakar dalam kepedihan hidup dan oleh karenanya memiliki kekuatan untuk menyentuh Inilah yang harus ditransmisikan PAK kepada peserta didiknya: bahwa berperilaku etis di ruang digital bukan soal kepatuhan terhadap norma, melainkan soal kesetiaan pada panggilan untuk menjadi manusia yang seutuhnya, manusia yang mengakui, menghargai, dan merespons kehadiran wajah sesamanya dengan penuh tanggung jawab, dalam dunia nyata maupun di balik layar. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan dua hal yang saling berkaitan erat. Pertama, etika tanggung jawab Emmanuel Levinas tentang the Other memiliki relevansi yang mendalam dan mendesak bagi pembentukan karakter digital peserta didik dalam PAK, karena pemikiran ini secara langsung menantang logika egosentris yang menjadi akar dari perilaku cyberbullying dan intoleransi digital. Konsep wajah . e visag. dan tanggung jawab asimetris Levinas menawarkan orientasi etis yang mampu memperbarui kesadaran peserta didik bahwa kehadiran orang lain, bahkan yang termediasi layar digital sekalipun, membawa tuntutan moral yang nyata dan tidak bisa diabaikan. Kedua, kerangka kerja pedagogis PAK yang dirumuskan melalui tiga pilar, yaitu pedagogi perjumpaan wajah, literasi etis digital berbasis alteritas, dan spiritualitas tanggung jawab sebagai fondasi transformasi, terbukti secara konseptual mampu menjembatani jurang antara ideal etis Levinas dengan kebutuhan praktis pembentukan karakter digital peserta didik, sehingga PAK tidak lagi berhenti sebagai pengajaran normatif semata, melainkan berkembang menjadi ruang transformasi moral yang otentik, dialogis, dan berakar pada penghargaan terhadap martabat manusia sebagai imago Dei. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada cakupannya yang bersifat konseptual dan tidak melibatkan pengujian empiris di lapangan, sehingga kerangka kerja pedagogis yang dirumuskan masih perlu diverifikasi melalui penelitian tindakan kelas atau studi kasus yang melibatkan peserta didik secara langsung. Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian ini ke arah yang lebih aplikatif, misalnya dengan merancang modul pembelajaran PAK berbasis etika relasional Levinas yang dapat diimplementasikan di sekolahsekolah Kristen, khususnya pada jenjang pendidikan menengah yang paling rentan terhadap Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 4. Nomor. 1 Maret 2026 E-ISSN . : 3031-8378. P-ISSN . : 3031-836X. Hal. dampak negatif media sosial. Selain itu, para pendidik dan pemimpin gereja direkomendasikan untuk tidak memandang teknologi digital sebagai ancaman semata, melainkan sebagai arena baru di mana nilai-nilai kasih, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap sesama perlu dengan sadar dan sistematis dibentuk melalui pendekatan pedagogis yang terencana dan DAFTAR REFERENSI Dauphinee. Emmanuel Levinas. In J. Der Derian (Ed. Critical Theorists and International Relations . 249Ae. Routledge. Dussel. AuSensibilityAy and AuothernessAy in Emmanuel Levinas. Philosophy Today, 43. , 126Ae134. https://doi. org/10. 5840/philtoday199943224 Fangidae. Dari teodisi dan antropodisi menuju teo-antropodisi: Mengasihi Allah dan sesama di tengah pandemi {COVID}-19. Veritas: Jurnal Teologi Dan Pelayanan, 19. , 151Ae168. https://doi. org/10. 36421/veritas. Hamidah. Yasmin. , & Hikma. Etika komunikasi netizen di media sosial (Analisis komentar terkait konten keagamaan di Media X). Iqtida: Journal of DaAowah and Communication, 4. , 118Ae134. https://doi. org/10. 28918/iqtida. Katz. AuThe presence of the other is a presence that teachesAy: Levinas, pragmatism, and pedagogy. The Journal of Jewish Thought and Philosophy, 14. --. , 91Ae108. https://doi. org/10. 1163/105369906779159607 Kevin. Epifani wajah di tengah krisis relasi: Refleksi filosofis AuAkuAy dengan AuYang LainAy dalam konsep alteritas Emanuel Levinas. Aggiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual, 2. , 45Ae57. https://doi. org/10. 69678/aggiornamento20145-57 Kristianto. Meneropong pendidikan Kristiani di era pascasekularitas. Dunamis: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 5. , 250Ae260. https://doi. org/10. 30648/dun. Latuihamallo. Emmanuel Levinas, filsuf sesama. In R. Borrong (Ed. Berakar di dalam Dia dan Dibangun di atas Dia . 143Ae. BPK Gunung Mulia. Lavoie. De Koninck. , & Blondeau. The nature of care in light of Emmanuel Levinas. Nursing Philosophy, 7. , 225Ae234. https://doi. org/10. 1111/j. Levinas. Emmanuel Levinas. Supplements to The Journal of Jewish Thought and Philosophy, 263Ae275. Petrilli. The law challenged and the critique of identity with Emmanuel Levinas. International Journal Semiotics Law, 35. , 31Ae69. https://doi. org/10. 1007/s11196-021-09845-7 Saingo. Era disrupsi teknologi dan sikap pemimpin Kristen. KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen Dan Pemberdayaan Jemaat, 4. , 76Ae94. https://doi. org/10. 34307/kinaa. Saingo. Fenomena penggunaan media sosial dan pentingnya pendidikan etika Kristen di era disrupsi. Lumen: Jurnal Pendidikan Agama Katekese Dan Pastoral, 3. Rekonstruksi Pedagogi "The Other" Emmanuel Levinas dalam PAK: Menjawab Fenomena Cyber-Bullying dan Intoleransi Digital di Era Disrupsi 276Ae292. https://doi. org/10. 55606/lumen. Samuel. Utary. Mirsa. , & Munthe. Pemikiran Emmanuel Levinas AuI-Self (Moi-So. NauseaAy dan egoik teknologi pendidikan. INOVASI: Jurnal Ilmiah Pengembangan Pendidikan, 2. , 12Ae26. Sihotang. Tampubolon. Nadeak. Siregar. , & Ita. Penyuluhan Generasi Muda Kristen Milenial Yang Cerdas Menggunakan Media Sosial= Intelligent Milenial Christian Counseling For The Young Generation Using Social Media. (Journal of Empowermen. , 3. , 207Ae218. https://doi. org/10. 35194/je. Sobon. Konsep tanggung jawab dalam filsafat Emmanuel Levinas. Jurnal Filsafat, 28. , 47Ae73. https://doi. org/10. 22146/jf. Tjandraputra. Rantung. Naibaho. , & Boiliu. Manajemen Pendidikan Agama Kristen dalam konflik di gereja dan keluarga. Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen, 8. , 93Ae107. https://doi. org/10. 33541/rfidei. Ton. Menemukan wajah dalam ruang digital: Kritik Emmanuel Levinas terhadap dehumanisasi dan implikasinya bagi Pendidikan Agama Kristen. Jurnal Shanan, 9. , 147Ae167. https://doi. org/10. 33541/shanan. Verdino. The holy-erotic spirituality: Merayakan seksualitas, menghidupi Indonesian Journal Theology, 9. , 221Ae246. https://doi. org/10. 46567/ijt. Zacharias. Memahami relasi manusia sebagai gambar Allah dan artificial intelligence dalam perspektif post-humanisme. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, 8. , 156Ae176. https://doi. org/10. 34081/fidei. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 4. Nomor. 1 Maret 2026