ISSN: 2988-2850 Volume 2. Nomor 1. Januari 2024 DOI XX-XX Kunci Sukses Pembelajaran Efektif: Tinjauan Sistematic Literature Review Memahami Hubungan Gaya Kognitif. Regulasi Diri, dan Motivasi Indra Gunawan Pratama. Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Indonesia Email: 1 Indragunawanpratama21@gmail. Abstract Effective education requires a profound understanding of the psychological factors influencing the learning process. In this context, this research conducts a systematic review of existing literature to explore the relationship between cognitive styles, self-regulation, and motivation in achieving effective learning. Cognitive styles encompass individual preferences in processing information and completing learning tasks, while self-regulation involves the ability to control behavior and emotions to achieve learning goals. Motivation, as a driving force, plays a crucial role in directing learning behavior, both intrinsically and extrinsically. This systematic review method involves the identification, selection, and critical analysis of relevant articles published within a specified time period. Data are comprehensively analyzed to identify patterns and trends that emerge in the relationship between cognitive styles, self-regulation, and motivation in the context of learning. The review findings indicate a significant correlation between cognitive styles and self-regulation with learning motivation. These findings underscore the importance of adapting learning strategies according to individual cognitive styles and developing self-regulation skills to enhance learning motivation. Intrinsic motivation, rooted in internal interests and desires, proves stronger in predicting sustained academic achievement compared to extrinsic motivation dependent on external rewards or punishments. The conclusion of this review emphasizes the need for a holistic educational approach that considers the complex interaction between cognitive styles, self-regulation, and motivation. Practical implications include the development of personalized and differential learning strategies as well as empowering students to manage their own motivation and self-regulation to achieve optimal learning potential. Keyword : Cognitive Styles. Self-Regulation. Motivation. Effective Learning. Systematic Review. Learning Strategies. Abstrak Pendidikan yang efektif memerlukan pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor psikologis yang memengaruhi proses pembelajaran. Dalam konteks ini, penelitian ini melakukan tinjauan sistematis terhadap literatur yang ada untuk menggali hubungan antara gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi dalam mencapai pembelajaran yang efektif. Gaya kognitif mencakup preferensi individu dalam memproses informasi dan menyelesaikan tugas belajar, sementara regulasi diri melibatkan kemampuan untuk mengatur perilaku dan emosi guna mencapai tujuan Motivasi, sebagai kekuatan pendorong, memainkan peran krusial dalam mengarahkan perilaku belajar, baik secara intrinsik maupun ekstrinsik. Metode tinjauan sistematis ini melibatkan identifikasi, seleksi, dan analisis kritis terhadap artikel-artikel terkait yang diterbitkan dalam periode waktu yang ditentukan. Data dianalisis secara menyeluruh untuk mengidentifikasi pola dan tren yang muncul dalam hubungan antara gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi dalam konteks pembelajaran. Hasil tinjauan menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara gaya kognitif dan regulasi diri dengan motivasi belajar. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya adaptasi strategi pembelajaran sesuai dengan gaya kognitif individu dan pengembangan kemampuan regulasi diri untuk meningkatkan motivasi belajar. Motivasi intrinsik, yang berakar dari minat dan keinginan internal, terbukti lebih kuat dalam memprediksi pencapaian akademik yang berkelanjutan dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik yang bergantung pada hadiah atau hukuman eksternal. Kesimpulan dari tinjauan ini menekankan perlunya pendekatan pendidikan yang holistik yang mempertimbangkan interaksi kompleks antara gaya kognitif, regulasi diri, dan Implikasi praktisnya mencakup pengembangan strategi pembelajaran yang personal Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi dan diferensial serta pemberdayaan siswa dalam mengelola motivasi dan pengaturan diri mereka sendiri guna mencapai potensi belajar yang optimal. Kata Kunci : Gaya Kognitif. Regulasi Diri. Motivasi. Pembelajaran Efektif. Tinjauan Sistematis. Strategi Pembelajaran. Pendahuluan Pembelajaran efektif merupakan fondasi utama bagi perkembangan intelektual dan kemajuan personal. Dalam mengejar sukses pembelajaran, banyak faktor yang memainkan peran penting, dan antara yang paling signifikan adalah gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi. Hubungan kompleks di antara ketiga elemen ini menjadi fokus kajian ini, yang bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana integrasi yang tepat dari ketiganya dapat menjadi kunci sukses dalam proses pembelajaran. Gaya kognitif, sebagai dasar pengolahan informasi kognitif seseorang, memainkan peran sentral dalam bagaimana individu memahami, menyusun, dan mengingat informasi. Teori-teori seperti teori gaya belajar Howard Gardner dan model belajar VARK (Visual. Auditory. Reading/Writing. Kinestheti. menekankan perbedaan individual dalam preferensi belajar. Pengenalan gaya kognitif individu menjadi kunci untuk merancang metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan unik setiap pelajar. Regulasi diri, di sisi lain, mencakup serangkaian proses mental yang membimbing perilaku dan kognisi Dalam konteks pembelajaran, regulasi diri melibatkan kemampuan untuk mengatur waktu, memantau kemajuan, menilai diri sendiri, dan mengatur strategi Bagaimana individu mengelola perhatian, memotivasi diri, dan menangani hambatan adalah elemen- elemen penting dalam regulasi diri yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap efektivitas pembelajaran. Motivasi, sebagai dorongan internal atau eksternal yang mendorong seseorang untuk belajar, memainkan peran penting dalam memastikan ketekunan dan fokus selama proses pembelajaran. Teori motivasi, seperti teori motivasi instrinsik dan ekstrinsik, membantu kita memahami bagaimana individu dapat mempertahankan ketertarikan dan semangat belajar. Keterlibatan emosional dan tujuan belajar yang jelas dapat menjadi pendorong utama dalam mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Dalam artikel ini, kami akan mengeksplorasi keterkaitan erat antara gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi dalam konteks pembelajaran efektif. Melalui tinjauan mendalam terhadap literatur dan penelitian terkini, kami akan mencoba membongkar mekanisme dan interaksi di antara ketiga faktor ini. Tujuan akhirnya adalah memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang bagaimana penerapan holistik terhadap gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi dapat menjadi kunci sukses bagi pembelajaran Metode Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi pustaka, yang melibatkan pengumpulan data dari berbagai sumber literatur dan referensi ilmiah, termasuk buku, artikel, dan hasil riset yang berfokus pada perkembangan kurikulum di Indonesia (Sugiyono, 2. Pendekatan pemaparan yang diterapkan bersifat deskriptif, di mana penulis menggambarkan dengan runut, faktual, aktual, dan sistematis tentang perbandingan antara kurikulum yang telah diterapkan sebelumnya dengan kurikulum merdeka yang akan diimplementasikan. Dalam analisisnya, penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif, yang dimulai dengan pengumpulan data, pengelompokkan data, penyajian, dan analisis keterkaitan data untuk mencapai kesimpulan (Creswell. Nilamsari. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Hasil dan Pembahasan Pada bagian pembahasan ini, dibahas kajian Ae kajian terhadap masalah serta solusinya dan diintegrasikan ke dalam kumpulan pengetahuan dan teori yang telah mapan, dan menyusun teori baru atau memodifikasi teori yang ada. Kutipan ahli diperlukan dalam bab Dianjurkan untuk memberi sub Ae sub judul untuk masing-masing temuan penelitian. Agar menghindari penggunaan tabel dan lebih mengutamakan penulisan dalam bentuk Pendidikan memegang peran krusial dalam membentuk masa depan generasi Dalam upaya mencapai pembelajaran yang efektif, penting bagi kita untuk memahami dinamika yang kompleks yang memengaruhi proses pembelajaran itu sendiri. Salah satu aspek yang menjadi fokus utama adalah hubungan intrikat antara gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi. Kombinasi tiga elemen ini menjadi kunci sukses dalam merancang strategi pembelajaran yang tidak hanya memadai tetapi juga memotivasi dan mengakomodasi keberagaman individual. Gaya kognitif, sebagai cara khas individu dalam memproses informasi, memberikan landasan untuk merancang pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan keunikan setiap peserta didik. Regulasi diri, kemampuan untuk mengelola waktu, sumber daya, dan emosi, menjadi jembatan kritis antara motivasi dan pencapaian akademis. Motivasi, sebagai pendorong utama perilaku belajar, menciptakan energi yang mendorong individu untuk mencapai tujuan Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam keterkaitan antara gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi sebagai kunci sukses pembelajaran efektif. Melalui pemaparan konsep, studi kasus, dan strategi pem elajaran yang relevan, kita akan menjelajahi bagaimana pendekatan ini dapat diterapkan dalam konteks pendidikan. Selain itu, kita akan mengkaji implikasi hubungan ini terhadap visi kurikulum merdeka belajar, mencari pemahaman lebih dalam tentang bagaimana kebebasan dalam belajar dapat dioptimalkan melalui pemahaman mendalam terhadap gaya kognitif, regulasi diri, dan Pengenalan Konsep Pembelajaran Efektif Definisi dan Ruang Lingkup Pembelajaran efektif merupakan landasan penting dalam dunia pendidikan yang terus Pembelajaran efektif adalah suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dengan mudah, merasa senang, dan mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan harapan (Constantinou, 2. Proses pembelajaran yang berhasil adalah metode pengajaran yang dapat menghasilkan pengalaman belajar yang Ini mencakup keterlibatan dan pemahaman yang mendalam dari peserta didik secara aktif, sebagaimana diungkapkan oleh (Suwarno, 2. Pembelajaran dianggap efektif apabila proses pengajaran mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan awal. Efektivitas pembelajaran terlihat ketika peserta didik mampu menyerap materi pelajaran dengan efisien. Dalam setiap sesi pembelajaran, guru atau pendidik sebaiknya memiliki perencanaan awal yang terdokumentasi, seperti RPP (Rencana Pelaksanaan Perencanaa. atau sejenisnya. Kesimpulannya, pembelajaran efektif merupakan suatu proses transformasi individu dalam aspek kognitif, tingkah laku, dan psikomotorik, yang dihasilkan dari pembelajaran yang diperoleh dari pengalaman pribadi dan lingkungan, yang membawa dampak, makna, dan manfaat tertentu (Mulyasa. Tujuan pembelajaran efektif adalah untuk mencapai hasil belajar yang Apabila peserta didik belajarnya tidak tuntas, tidak teratur, tidak berkesinambungan dan juga tidak bersungguh-sungguh baik itu di sekolah ataupun di rumah maka akan menyebabkan tidak tercapai tujuan belajar yang di harapkan. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Gaya Kognitif dalam Pembelajaran Gaya kognitif telah menjadi salah satu topik paling kontroversial dalam bidang psikologi. Meskipun psikolog kognitif biasanya memeriksa perbedaan individu dalam jenis dasar pemrosesan informasi . eperti kecepatan pemrosesan, kapasitas memori kerja, atau kecerdasan umu. , peneliti memperkenalkan konsep gaya kognitif untuk mencerminkan perbedaan kognitif yang lebih dapat diubah yang berkembang sebagai respons terhadap tantangan fisik dan sosial tertentu (Kozhevnikov et al. , 2014 untuk tinjaua. Namun, seringkali konseptualisasi awal gaya kognitif sebagai pola adaptasi terhadap tuntutan lingkungan (Klein, 1954. Witkin et al. , 1. diabaikan, yang mengakibatkan banyak upaya mendefinisikan gaya kognitif sebagai 'preferensi' atau 'cara' pemrosesan informasi, dan sebagai hasilnya, perdebatan berkelanjutan tentang kegunaan konsep Meskipun beberapa peneliti berpendapat bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa gaya kognitif dapat meningkatkan pembelajaran (Nancekivell et al. 2020, 2021. Riener & Willingham, 2. , yang lain mengusulkan efek multidimensional gaya kognitif pada berbagai aspek kehidupan, seperti membentuk tim yang efektif (Aggarwal & Woolley, 2. , memengaruhi sikap pembelajar terhadap teknologi (Chae et al. , 2. , menjelaskan keyakinan politik (Yilmaz & Saribay, 2. , dan berfungsi sebagai prediktor yang dapat diandalkan untuk prestasi akademis (Kyseoglu, 2. dan kinerja kreatif (Kozhevnikov et al. , 2013, 2. Beranjak dari konseptualisasi awal gaya kognitif sebagai pola adaptasi (Klein, 1951. Witkin et al. , 1. Kozhevnikov et al. mengusulkan definisi ulang gaya kognitif sebagai perbedaan individu yang responsif terhadap lingkungan dalam kognisi yang menggunakan predisposisi individu . emampuan kognitif dan traits kepribadia. sebagai batasan namun sebagian besar dibentuk oleh kebutuhan lingkungan. Menurut pendekatan ini, lapisan lingkungan yang membentuk profil gaya kognitif seseorang melibatkan mikrosistem . ingkungan langsung, seperti sekolah dan keluarg. , lapisan pendidikan dan profesional, hingga makrosistem . isalnya pola budaya institusional, seperti ekonomi, adat, dan pengetahuan. Kozhevnikov et al. , 2. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyelidiki validitas internal dan eksternal konsep gaya kognitif, yang didefinisikan sebagai perbedaan individu yang responsif terhadap lingkungan dan kognisi. Khususnya, penelitian ini menguji struktur internal konsep gaya kognitif dan kekuatan prediktifnya terhadap kreativitas melewati perbedaan individu dalam jenis dasar pemrosesan informasi. Selain itu, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana gaya kognitif berkembang seiring bertambahnya usia di bawah pengaruh pengaruh sosial-budaya tertentu. Jenis Gaya Kognitif Gaya kognitif dalam konteks pembelajaran peserta didik merujuk pada kecenderungan individu dalam memproses, memahami, dan mengingat informasi. Kajian terhadap jenis gaya kognitif menjadi relevan dalam pengembangan strategi pembelajaran yang berfokus pada kebutuhan dan preferensi belajar masing- masing peserta didik. Beberapa jenis gaya kognitif mencakup visual, auditif, kinestetik, logis/matematis, verbal/linguistik, sosial, dan soliter. Peserta didik dengan gaya kognitif visual cenderung lebih responsif terhadap materi pembelajaran yang disajikan melalui gambar atau grafik. Peserta didik visualizer mampu memahami informasi dalam soal walaupun sebelumnya siswa tersebut harus membaca berulang-ulang sampai paham untuk memahami informasi pada soal yang disajikan dalam bentuk verbal atau kata-kata (Lwande, 2. Gaya belajar visual adalah strategi pembelajaran yang mengandalkan penglihatan sebagai alat utama. Dalam strategi ini, penggunaan mata sangat penting. Orang menggunakan pendekatan ini untuk memperoleh informasi dengan melihat gambar, diagram, peta, poster, grafik, dan hal-hal serupa . baidillah, 2. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Sementara itu, peserta didik yang memiliki preferensi auditif lebih memahami informasi melalui pendengaran, sehingga metode pengajaran berbasis suara atau diskusi dapat menjadi lebih efektif bagi mereka. Pemahaman terhadap gaya kognitif ini memberikan dasar bagi pendidik untuk merancang pengalaman pembelajaran yang beragam, memfasilitasi berbagai bentuk interaksi, dan memadukan metode pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan beragam peserta didik. Selain itu, penerapan strategi pembelajaran yang memperhitungkan gaya kognitif dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta didik, karena mereka lebih cenderung terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan cara mereka memproses informasi. Dengan memahami dan mengakomodasi g a y a k o g n i t i f peserta didik, pendidik dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan mendukung pertumbuhan kognitif yang optimal . iller, 1. Regulasi diri, sebagai kemampuan untuk mengatur, mengontrol, dan mengarahkan perilaku serta pikiran, memainkan peran kritis dalam meningkatkan efektivitas Kemampuan ini mencakup sejumlah aspek pengaturan emosi, manajemen waktu, perencanaan, dan evaluasi diri. Dalam konteks pembelajaran, regulasi diri memungkinkan peserta didik untuk mengelola tantangan belajar, mempertahankan motivasi, dan mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih efektif (Martins, 2. Salah satu aspek penting dari regulasi diri dalam pembelajaran adalah kemampuan untuk mengelola emosi. Peserta didik yang mampu mengenali dan mengatasi emosi negatif seperti kecemasan atau frustrasi cenderung memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi kesulitan belajar. Kemampuan ini juga membantu mereka tetap fokus dan termotivasi bahkan ketika menghadapi tugas-tugas yang menantang. Regulasi diri juga terkait erat dengan manajemen waktu. Peserta didik yang dapat mengatur waktu dengan efisien dapat mengalokasikan waktu untuk belajar, istirahat, dan kegiatan lainnya dengan seimbang. Ini membantu menghindari prokrastinasi dan meningkatkan produktivitas dalam proses pembelajaran. Selain itu, regulasi diri mencakup kemampuan perencanaan dan pengaturan tujuan. Peserta didik yang memiliki tujuan yang jelas dan membuat rencana untuk mencapainya lebih mungkin mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Regulasi diri juga melibatkan kemampuan untuk memantau kemajuan terhadap tujuan tersebut, mengevaluasi pencapaian, dan menyesuaikan rencana jika diperlukan. Aspek evaluasi diri dari regulasi diri memungkinkan peserta didik untuk secara kritis merefleksikan pemahaman mereka, mengidentifikasi kelemahan, dan mengembangkan strategi perbaikan. Ini menciptakan siklus pembelajaran yang terus-menerus dan memungkinkan peserta didik untuk tumbuh secara akademis dan pribadi. Dalam keseluruhan, regulasi diri bukan hanya sekadar keterampilan tambahan, tetapi merupakan inti dari pembelajaran efektif. Kemampuan untuk mengelola emosi, manajemen waktu, perencanaan, dan evaluasi diri memainkan peran sentral dalam membentuk sikap positif terhadap pembelajaran, meningkatkan ketahanan terhadap kesulitan, dan memberdayakan peserta didik untuk mencapai potensi maksimal mereka. Motivasi sebagai Pendorong Pembelajaran Motivasi memegang peran sentral dalam memahami dinamika pembelajaran yang efektif. Secara ilmiah, motivasi dapat dipandang sebagai konstruksi psikologis yang memotivasi individu untuk memulai, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku tertentu, seperti partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Teori motivasi, seperti teori hirarki kebutuhan Maslow atau teori motivasi belajar dari Bandura, memberikan wawasan mendalam tentang faktor- faktor yang mempengaruhi motivasi peserta didik. Motivasi intrinsik, yang muncul dari keinginan internal dan kepuasan pribadi, dianggap sebagai Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi bentuk motivasi yang paling kuat dalam konteks pembelajaran (Fu, 2. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik, yang melibatkan hadiah eksternal atau pengakuan, juga memainkan peran penting dalam membentuk perilaku pembelajaran. Penelitian neurobiologis mendukung ide bahwa motivasi terkait erat dengan pelepasan neurotransmiter seperti dopamine, yang memainkan peran kunci dalam pengaturan suasana hati dan dorongan belajar. Dalam konteks pendidikan, pemahaman mendalam tentang profil motivasi masing-masing peserta didik menjadi esensial. Strategi diferensiasi instruksional yang memperhitungkan preferensi dan kebutuhan individu, memberikan tantangan yang sesuai, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung otonomi dapat meningkatkan motivasi peserta didik. Dengan memanfaatkan pemahaman ilmiah tentang motivasi, pendidik dapat membentuk pengalaman pembelajaran yang memotivasi, berkelanjutan, dan memberdayakan peserta didik untuk mencapai potensi belajar mereka secara maksimal. Studi Kasus atau Temuan Penelitian/ Relevansi dengan Konteks Kurikulum Merdeka Belajar Dalam konteks Kurikulum Merdeka Belajar, penelitian telah mengungkap temuan menarik terkait dengan pembelajaran efektif, khususnya dalam memahami hubungan antara gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi peserta didik. Studi kasus ini menyoroti bahwa peserta didik dengan gaya kognitif yang beragam cenderung merespon dengan lebih baik terhadap strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan preferensi kognitif mereka. Regulasi diri, yang melibatkan kemampuan peserta didik untuk mengelola waktu, emosi, dan tujuan belajar, juga memainkan peran krusial dalam keberhasilan pembelajaran. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi elemen-elemen regulasi diri dalam desain pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Selain itu, motivasi, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik, diidentifikasi sebagai pendorong utama keberhasilan pembelajaran. Hasil penelitian memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana memadukan pendekatan pembelajaran yang memperhitungkan gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dalam era Kurikulum Merdeka Belajar. Relevansi temuan ini terhadap konteks kurikulum tersebut menyoroti perlunya pendekatan diferensiasi yang mendukung keanekaragaman gaya belajar dan memberikan ruang bagi pengembangan keterampilan regulasi diri serta membangun motivasi intrinsik peserta didik Dengan memahami dan mengaplikasikan temuan ini, pendidik dapat lebih efektif menyelaraskan pendekatan pembelajaran dengan tujuan Kurikulum Merdeka Belajar, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, dan memotivasi peserta didik untuk meraih pencapaian optimal mereka. Simpulan Disimpulkan bahwa gaya kognitif, regulasi diri, dan motivasi memiliki peran penting dalam membentuk pembelajaran yang efektif. Keterkaitan erat antara ketiga faktor ini menciptakan landasan holistik untuk merancang strategi pembelajaran yang dapat mengakomodasi keberagaman individual peserta didik. Gaya kognitif memengaruhi cara individu memproses informasi, dan pemahaman terhadap gaya ini dapat membantu pendidik merancang metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan unik setiap Regulasi diri, melibatkan pengelolaan waktu, emosi, dan tujuan, merupakan jembatan kritis antara motivasi dan pencapaian akademis. Kemampuan peserta didik untuk mengatur diri mereka sendiri secara efektif dapat meningkatkan daya tahan terhadap kesulitan dan mempromosikan hasil pembelajaran yang optimal. Motivasi, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik, menjadi pendorong utama dalam menjaga fokus dan ketekunan selama proses pembelajaran. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Referensi