A AL-MUSTAQBAL: Jurnal Agama Islam Volume. Nomor. 4 November 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 01-13 DOI: https://doi. org/10. 59841/al-mustaqbal. Tersedia: https://ibnusinapublisher. org/index. php/AL-MUSTAQBAL Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme: Analisis Kualitatif di Lingkungan Universitas Negeri Makassar Ushwa Dwi Masrurah Arifin Bando Universitas Negeri Makassar. Indonesia *Penulis Korespondensi: ushwaarifin@gmail. Abstract: This study aims to analyze religious moderation as an effort to prevent radicalism within Universitas Negeri Makassar. The background of this research is rooted in the growing vulnerability of students to radical ideologies spread through digital spaces and social interactions on campus. A qualitative approach was employed using data collection techniques such as interviews, observations, and document studies involving lecturers, students, and internal policy makers of the university. The findings indicate that religious moderation, based on the values of tolerance, inclusivity, and respect for diversity, serves as an effective preventive strategy against student radicalization. The implementation of religious moderation on campus is carried out through strengthening religious literacy, integrating moderation values into the curriculum, developing extracurricular activities grounded in diversity, and fostering interdisciplinary as well as interfaith collaboration. This study concludes that religious moderation functions not only as a normative discourse but also as a practical approach to building an academic culture that is peaceful, inclusive, and resistant to radical ideologies. The findings are expected to serve as a reference for higher education institutions in formulating more systematic and sustainable radicalism prevention policies. Keywords: Prevention. Radicalism. Religious Moderation. Students. Universitas Negeri Makassar. Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis moderasi beragama sebagai upaya pencegahan radikalisme di lingkungan Universitas Negeri Makassar. Latar belakang penelitian ini didasari oleh meningkatnya kerentanan mahasiswa terhadap penyebaran paham radikalisme yang berkembang melalui ruang digital maupun interaksi sosial di kampus. Pendekatan kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan pemangku kebijakan internal kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama yang berbasis pada nilai-nilai toleransi, inklusivitas, dan penghargaan terhadap keragaman mampu menjadi strategi preventif dalam menghambat proses radikalisasi Strategi implementasi moderasi beragama di kampus dilakukan melalui penguatan literasi keagamaan, pengintegrasian nilai moderasi dalam kurikulum, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler berbasis kebinekaan, serta kolaborasi lintas disiplin dan lintas agama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa moderasi beragama tidak hanya berfungsi sebagai wacana normatif, melainkan juga sebagai pendekatan praktis yang efektif dalam membangun budaya akademik yang damai, inklusif, dan jauh dari paham radikal. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi perguruan tinggi dalam merumuskan kebijakan pencegahan radikalisme yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Kata kunci: Moderasi Beragama. Pencegahan. Radikalisme. Siswa. Universitas Negeri Makassar. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara dengan karakter plural ditandai oleh keragaman suku, adatistiadat, budaya, bahasa, dan agama yang sangat luas, yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor historis dan geografis, tetapi juga oleh kontak antar budaya dan migrasi internal. Kemajemukan tersebut, meskipun menjadi kekayaan bangsa, juga mengandung potensi benturan baik dalam cara pandang maupun dalam pola interaksi sosial antar kelompok. Persoalan muncul ketika perbedaan agama, etnis, dan kebangsaan menjadi sumber ketegangan, konflik kepentingan, atau diskriminasi (Marbun, 2023. Khairiah & Walid, 2. Naskah Masuk: 01 September 2025. Revisi: 13 Oktober 2025. Diterima: 28 November 2025. Terbit: 30 November Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme: Analisis Kualitatif di Lingkungan Universitas Negeri Makassar Negara sebagai institusi formal telah menetapkan norma-norma hukum yang menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai hak fundamental warga negara. UUD 1945 dalam Pasal 28E ayat . menetapkan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, sementara Pasal 29 menjamin kemerdekaan beragama serta ibadah yang sesuai agama dan kepercayaannya. Ketentuan-ketentuan ini ditunjang oleh UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang mempertegas perlindungan tersebut (Kemenkumham RI, 2025. Makna Pasal 29 UUD 1945, 2. Kehidupan berbangsa di Indonesia dihadapkan pada tantangan serius terkait intoleransi dan radikalisme yang kerap memanfaatkan sentimen agama, etnis, maupun nasionalitas sebagai instrumen politik identitas. Fenomena ini tidak hanya terlihat pada level nasional, misalnya dalam berbagai momentum politik elektoral yang sering diwarnai polarisasi berbasis SARA, tetapi juga berdampak pada kehidupan akademik di perguruan tinggi. Perguruan tinggi, termasuk Universitas Negeri Makassar (UNM), sebagai pusat pengembangan intelektual generasi muda, memiliki potensi besar menjadi arena tumbuhnya sikap kritis, namun pada saat yang sama juga rentan terhadap infiltrasi ideologi eksklusif dan radikal. Laporan penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan politik identitas berbasis agama dan etnis dapat memperlemah kohesi sosial di tingkat mahasiswa, melahirkan framing perpecahan seperti dikotomi Aupro dan kontra pemerintahAy atau Aukelompok Islam moderat vs Islam garis kerasAy (Rahman, 2. Situasi ini diperkeruh oleh penyebaran narasi radikal melalui ruang digital. Misalnya. Densus-88 pada tahun 2025 menangkap terduga pelaku penyebar paham kekerasan di Jawa Tengah melalui media daring (Kompas, 2. Temuan ini sejalan dengan studi yang menyatakan bahwa mahasiswa menjadi salah satu target utama rekrutmen kelompok radikal karena dianggap memiliki semangat perlawanan dan akses luas pada media sosial (Sutrisno & Wibisono, 2. Di Sulawesi Selatan sendiri, hasil riset LIPI mengindikasikan bahwa sebagian kalangan mahasiswa di Makassar memiliki kerentanan terhadap narasi eksklusif keagamaan, terutama yang dibungkus dalam agenda keorganisasian maupun kegiatan keagamaan yang kurang diawasi (Syukur, 2. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan moderasi beragama sebagai strategi kunci dalam mencegah berkembangnya benih intoleransi dan radikalisme di lingkungan UNM. Moderasi beragama, dengan ciri menekankan sikap adil, seimbang, serta menghargai keragaman, tidak hanya relevan dalam menjaga kohesi sosial, tetapi juga menjadi instrumen strategis pendidikan tinggi untuk melahirkan mahasiswa yang berkarakter toleran, terbuka, dan memiliki daya tangkal terhadap ideologi radikal (Kemenag RI, 2. Dengan demikian. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 01-13 penelitian ini penting dilakukan untuk menelaah sejauh mana upaya moderasi beragama dapat diinternalisasi sebagai mekanisme pencegahan radikalisme di Universitas Negeri Makassar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, karena berfokus pada fenomena moderasi beragama sebagai upaya pencegahan radikalisme di lingkungan Universitas Negeri Makassar secara mendalam dan kontekstual. Sumber data penelitian terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan yang terlibat langsung dalam aktivitas akademik maupun non-akademik terkait penguatan moderasi beragama. Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui dokumen resmi universitas, laporan kegiatan, artikel ilmiah, serta kebijakan terkait pendidikan agama dan moderasi beragama. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipatif terhadap aktivitas kampus, wawancara semiterstruktur, serta telaah dokumentasi. Instrumen penelitian utama adalah peneliti sendiri sebagai human instrument yang berperan dalam merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data, serta didukung oleh pedoman wawancara, catatan lapangan, dan Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh civitas akademika Universitas Negeri Makassar, namun karena keterbatasan waktu dan ruang lingkup penelitian, maka dipilih sampel secara purposive, yaitu individu-individu yang dianggap memiliki pengalaman, pengetahuan, dan keterlibatan langsung dalam isu moderasi beragama di kampus. Dengan demikian, informan penelitian meliputi dosen Pendidikan Agama Islam, pengurus lembaga dakwah kampus, mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan, serta pihak pimpinan universitas yang terkait dengan bidang kemahasiswaan. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sesuai model analisis Miles dan Huberman. Untuk menjaga validitas data, digunakan teknik triangulasi sumber dan metode sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme: Analisis Kualitatif di Lingkungan Universitas Negeri Makassar Gambar 1. Bagan Alur Penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman Moderasi Beragama di Kalangan Civitas Akademik Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan di Universitas Negeri Makassar memiliki pemahaman yang baik tentang konsep moderasi beragama. Mereka memahami moderasi sebagai sikap tengah, adil, toleran, serta menghargai keberagaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran agama masing-masing. Pemahaman ini sejalan dengan konsep moderasi beragama yang digaungkan Kementerian Agama, yaitu menekankan pada tawassuth . alan tenga. , tasamuh . , tawazun . , dan iAotidal . Sesuai dengan Firman Allah SWT, sebagai berikut: Tawassuth . alan tengah / umat modera. QS. Al-Baqarah . : 143 U AA a A aEa aE eOIa eOA A aN eOU aO aI aa eEIa eE aC eEaa Eaca eO aE eIa aEa eO aN e acaacE aEIa eEa aIA a A eO aE aEa eO aE eIA a AEA ca aA aOOa aE eOIA a caA aNa a aEaO EIA a AaOE aEaEa aa eE I aE eI a acIU acOA e A eO aE aI acI eI acO eICaEaa a EO a aCa eO aN aO eaI EaIA a AEA ca AaI eI Oac ac a aA AcEEa aEOa a eO a a eO aI aI aE eI acaIA aAcEEa aO aI aEIA Aa Ea aE aO ae U acaacE aEaO Eac aOeIa aNaOA a caAcEEa aEIA AA ac a eO UIA U AEa a a eOA Terjemahan Kemenag 2019 AuDemikian pula Kami telah menjadikan kamu . mat Isla. umat pertengahan. agar kamu menjadi saksi atas . manusia dan agar Rasul (Nabi Muhamma. menjadi saksi atas . Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdi. kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui . alam kenyataa. siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya . emindahan kibla. itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. Ay AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 01-13 Tasamuh . QS. Al-Kafirun . : 6 AO aO aeIA a AEa aE eI a eOIa aE eI aO aEA Terjemahan Kemenag 2019 AuUntukmu agamamu dan untukku agamaku. Ay Tawazun . QS. Al-Qashash . : 77 e AacA AcEEa acEA Aa acaIA aAIA aO e aa aA eO aI e OEA a Aa aAO eacEa eA a aAcEEa aEaOeEa aOacE aea eEA a ea eO aEa aIIa Eac eI aO aOae a eI aE aI e aA a AIA a AcEEa EA a AacE a a a aOacE a eIA aAO ac eE aI e a aOeIA Terjemahan Kemenag 2019 AuDan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu . negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah . epada orang lai. sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Ay Temuan ini memperlihatkan bahwa sosialisasi moderasi beragama di lingkungan kampus sudah mulai efektif, baik melalui kegiatan akademik, pengajian, seminar, maupun aktivitas Namun, sebagian kecil responden masih mengidentikkan moderasi beragama sebagai bentuk kompromi ajaran agama, yang menunjukkan perlunya penguatan literasi keagamaan yang lebih mendalam. Implementasi Moderasi Beragama dalam Aktivitas Kampus Melalui kegiatan akademik Berdasarkan hasil wawancara dengan dosen Pendidikan Agama Islam (PAI), teridentifikasi beberapa strategi pedagogis yang digunakan dalam mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam proses pembelajaran. Pertama, penggunaan pendekatan dialogis melalui diskusi kelas yang berfokus pada isu-isu kontemporer terkait keberagaman, toleransi, dan potensi radikalisme. Strategi ini memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta memperluas perspektif dalam menyikapi perbedaan. Kedua, penerapan pembelajaran berbasis studi kasus, di mana mahasiswa diajak untuk menganalisis fenomena nyata seperti konflik antaragama atau dinamika perbedaan pendapat di Pendekatan ini berfungsi untuk menghubungkan konsep teoritis dengan realitas sosial yang kompleks. Ketiga, strategi kolaborasi lintas mata kuliah, yakni melibatkan mahasiswa dalam proyek-proyek interdisipliner yang menyoroti keberagaman agama dan budaya. Integrasi ini Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme: Analisis Kualitatif di Lingkungan Universitas Negeri Makassar tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menumbuhkan sikap keterbukaan dan penghargaan terhadap perspektif lain di luar ranah keilmuan PAI. Keempat, pembelajaran berbasis pengalaman, yang diwujudkan melalui kegiatan praktis seperti kunjungan lapangan ke komunitas lintas agama. Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengalami secara langsung interaksi dengan keberagaman, sehingga penguatan nilai-nilai moderasi tidak berhenti pada ranah kognitif, tetapi juga terinternalisasi dalam ranah afektif dan Pada perkuliahan Pendidikan Agama Islam (PAI) maupun mata kuliah lain yang bersentuhan dengan nilai moral dan sosial, dosen berupaya menanamkan nilai tawassuth . alan tenga. , tasamuh . , tawazun . , dan iAotidal . Dosen tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menghadirkan diskusi terkait isu keberagaman, radikalisme, dan peran mahasiswa dalam menjaga harmoni sosial. Dengan cara ini, mahasiswa dapat memahami bahwa moderasi bukanlah kompromi, melainkan pilihan rasional untuk menjaga persatuan dalam perbedaan. Melalui kegiatan keagamaan dan pengajian Lembaga Dakwah Kampus (LDK) serta organisasi keagamaan mahasiswa rutin mengadakan pengajian, kajian tematik, dan kegiatan sosial yang melibatkan mahasiswa lintas Pengajian tidak hanya berisi kajian ritual, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan sosial kemasyarakatan sehingga nilai Islam yang rahmatan lil-Aoalamin lebih mudah dipahami. Hal ini sejalan dengan QS. Al-Hujurat . : 13 yang menegaskan bahwa perbedaan suku, bangsa, dan kelompok adalah sarana untuk saling mengenal, bukan berpecah-belah. a A aIac aEa eC I aE eI aI eI aE sa acO a eI O aO aa eE I aE eIA AcEEa a aE eO UI aaO UeA AcEEa ae CO aE eI acaIA a eO o acaI a eE a aI aE eI a eIA a caA eOaOac aN EIA a a eOU acO aCa aiO aE aEaA Terjemahan Kemenag 2019 AyWahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian. Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha TelitiAy. Melalui aktivitas kemahasiswaan seperti organisasi intra kampus. UKM, dan BEM sering menyisipkan nilai moderasi dalam program kerja, seperti bakti sosial lintas agama, kegiatan kebudayaan, hingga kampanye digital bertema toleransi. Implementasi moderasi beragama di UNM pada empat aspek utama yaitu akademik, keagamaan, kemahasiswaan, dan kebijakan kampus. Hal ini memperlihatkan bahwa moderasi bukan sekadar konsep, melainkan sebuah budaya akademik yang terinternalisasi. Dengan penerapan ini, kampus mampu membentuk mahasiswa yang religius, kritis, toleran, dan AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 01-13 memiliki daya tahan terhadap paham radikal. Aspek yang Mempengaruhi Keberagaman Latar Belakang Mahasiswa Budaya dan tradisi memegang peran penting dalam membentuk sikap mahasiswa terhadap keberagaman. Mahasiswa yang tumbuh dalam lingkungan budaya homogen sering kali menghadapi kesulitan dalam menghargai keberagaman, sedangkan mereka yang berasal dari latar budaya multikultural cenderung lebih menerima perbedaan sebagai bagian integral dari kehidupan. Tradisi Mappanre Tasi yang dijalankan oleh masyarakat pesisir di Desa Ujung Lero. Kecamatan Suppa. Kabupaten Pinrang menjadi contoh kearifan lokal yang hidup dan menjadi media dalam membangun moderasi beragama. Pemahaman keagamaan menjadi salah satu faktor krusial yang memengaruhi sikap mahasiswa terhadap moderasi beragama. Variasi dalam cara memahami ajaran agama mulai dari yang bercorak konservatif hingga progresif, sering kali menghadirkan hambatan dalam proses penyampaian nilai-nilai moderasi. Mahasiswa yang menafsirkan ajaran agama secara literal atau tekstual kerap menilai moderasi beragama sebagai bentuk kompromi terhadap akidah, sehingga dapat mengurangi efektivitas internalisasi nilai moderasi dalam lingkungan (Hanafi, 2021. Kemenag RI, 2. Menurut Ismail et al. , mahasiswa yang memahami agama secara literal umumnya memiliki resistensi terhadap nilai-nilai moderasi yang menekankan toleransi, keseimbangan, dan sikap inklusif. Tantangan tersebut dapat diatasi melalui pendekatan pendidikan yang menitikberatkan pada metodologi Islam yang menyeluruh, sekaligus mengintegrasikan penguatan karakter moderat dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI). Sejalan dengan itu, temuan Najib et al. mengungkapkan bahwa penerapan metode pembelajaran berbasis masalah . roblem-based learnin. dalam PAI efektif dalam menumbuhkan sikap moderat dan memperkuat internalisasi nilai moderasi beragama di kalangan mahasiswa. Melalui pendekatan ini, mahasiswa memperoleh ruang untuk menelaah isu-isu sosial maupun keagamaan secara kritis, sehingga mereka semakin menyadari peran moderasi beragama sebagai strategi menjaga kerukunan dan keberagaman. Oleh karena itu, pengintegrasian metodologi Islam yang moderat dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya mendorong terbentuknya pemahaman keagamaan yang lebih inklusif, tetapi juga memperkuat sikap toleran serta kemampuan adaptif mahasiswa dalam menghadapi dinamika sosial di tengah masyarakat multikultural (Azra, 2021. Hidayat, 2. Latar belakang pendidikan pra perguruan tinggi merupakan faktor penting yang memengaruhi kesiapan mahasiswa dalam menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama. Mahasiswa yang menempuh pendidikan di lembaga berbasis agama umumnya memiliki Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme: Analisis Kualitatif di Lingkungan Universitas Negeri Makassar orientasi keagamaan yang lebih berakar pada nilai tradisional atau konservatif, sehingga mereka kerap memandang moderasi beragama sebagai konsep yang kurang sejalan dengan keyakinannya (Ananda, 2. Sebaliknya, mahasiswa dari sekolah umum dengan pendekatan pendidikan yang lebih terbuka dan inklusif terhadap keberagaman cenderung lebih mudah menerima prinsip moderasi. Perbedaan latar belakang pendidikan ini, sebagaimana ditegaskan oleh Nisar . , dapat menjadi tantangan dalam proses integrasi moderasi beragama dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Untuk menjembatani perbedaan latar belakang mahasiswa, penerapan pendekatan pendidikan multikultural dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat menjadi alternatif strategis. Model pendidikan ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan secara damai di tengah pluralitas budaya dan agama. Wahid . menegaskan bahwa integrasi pendidikan multikultural dengan nilai moderasi beragama dapat memperkuat pemahaman mahasiswa bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan aset yang memperkaya bangsa. Dalam kerangka ini. PAI tidak hanya difokuskan pada pengajaran aspek normatifteologis, tetapi juga diarahkan pada penanaman nilai universal seperti keadilan, keseimbangan, serta penghargaan terhadap perbedaan. Implementasi pendidikan multikultural dalam PAI dapat diwujudkan melalui penyusunan materi ajar yang sesuai dengan realitas sosial mahasiswa, penyelenggaraan forum diskusi lintas budaya dan agama, serta penyajian studi kasus yang mencerminkan kondisi heterogen masyarakat Indonesia. Dengan strategi semacam ini, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual sekaligus membangun sikap inklusif terhadap moderasi beragama. Pada akhirnya, keragaman latar belakang pendidikan mahasiswa tidak lagi dipandang sebagai kendala, melainkan sebagai peluang untuk menumbuhkan solidaritas, toleransi, dan semangat kebersamaan di lingkungan akademik. Lingkungan sosial memiliki peranan penting dalam membentuk persepsi mahasiswa terhadap moderasi beragama. Faktor-faktor seperti keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, serta keterlibatan dalam komunitas memberikan kontribusi signifikan terhadap cara mahasiswa memahami dan menginternalisasi nilai moderasi. Selain itu, arus informasi dan paparan ideologi tertentu melalui media sosial juga turut memengaruhi pola pikir mereka (Muliadi. Untuk mengantisipasi pengaruh lingkungan sosial yang beragam ini, diperlukan strategi pendidikan yang menekankan pada penguatan sikap moderat. Integrasi Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Kewarganegaraan menjadi salah satu pendekatan yang dinilai efektif AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 01-13 dalam membangun kesadaran moderasi beragama. Hasil penelitian Patih et al. menunjukkan bahwa kombinasi kedua bidang studi tersebut mampu menumbuhkan sikap toleran, inklusif, serta komitmen kebangsaan di kalangan mahasiswa perguruan tinggi umum di Indonesia. Tabel 1. Pemahaman Mahasiswa Terhadap Moderasi Beragama. Kategori Persepsi Positif-Inklusif Kritis-Konstruktif Ambivalen Resistif-Konservatif Deskripsi Pemahaman Mahasiswa Melihat moderasi beragama sebagai wujud toleransi, keseimbangan, dan cara menjaga kerukunan. Menerima moderasi dengan catatan perlu disesuaikan dengan ajaran agama yang komprehensif. Memahami konsep moderasi, namun masih ragu-ragu karena dipengaruhi lingkungan sosial & media. Menilai moderasi beragama sebagai kompromi yang dapat melemahkan keyakinan agama. Persentasi Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki persepsi positif terhadap moderasi beragama dengan menekankan nilai inklusivitas, toleransi, dan keseimbangan. Namun, terdapat sebagian mahasiswa yang bersikap kritis maupun ambivalen, yang menunjukkan bahwa pemahaman mereka masih dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, lingkungan sosial, serta paparan media. Sementara itu, kelompok kecil mahasiswa dengan kecenderungan konservatif masih melihat moderasi sebagai bentuk kompromi terhadap ajaran agama. Secara ilmiah, temuan ini menegaskan bahwa persepsi mahasiswa terhadap moderasi beragama bersifat heterogen, dipengaruhi oleh variabel sosial, kultural, dan pendidikan Oleh karena itu, pendekatan pedagogis berbasis dialog, problem-based learning, dan integrasi nilai-nilai kearifan lokal dalam kurikulum PAI dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat penerimaan mahasiswa terhadap moderasi beragama. Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme Di era modern, agama tetap memegang peran fundamental sebagai pedoman hidup yang relevan dengan kemajuan zaman, sehingga umat tidak salah dalam menentukan arah Seiring berkembangnya demokrasi dan pesatnya teknologi informasi, isu-isu keagamaan dapat dengan cepat tersebar dan diakses oleh masyarakat di berbagai lapisan sosial. Namun, realitas sosial menunjukkan bahwa kasus kekerasan dan intoleransi antarumat beragama masih sering muncul di sejumlah wilayah Indonesia. Konflik tersebut kerap berakar dari miskomunikasi dan ketidakharmonisan antar kelompok keagamaan. Oleh karena itu, moderasi beragama hadir sebagai solusi strategis dalam konteks modern, yakni dengan menawarkan jalan tengah yang menjembatani perbedaan serta memperkuat kerukunan. Lebih dari itu, moderasi beragama juga berperan penting dalam mencegah berkembangnya Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme: Analisis Kualitatif di Lingkungan Universitas Negeri Makassar radikalisme, sehingga potensi penyebaran paham ekstrem dapat ditekan dan diminimalisir (Azra, 2020. Wahid, 2. Radikalisme dapat dipahami sebagai suatu ideologi atau pemikiran yang berseberangan dengan nilai-nilai Pancasila. Karakteristik utama dari paham ini ialah penggunaan cara-cara ekstrem, termasuk tindakan kekerasan, untuk mewujudkan tujuan kelompok tertentu. Dalam konteks keagamaan, radikalisme sering muncul sebagai bentuk ekspresi keberagamaan yang berlebihan dalam merespons isu-isu sosial, politik, maupun agama, sehingga melahirkan sikap yang intoleran dan keras (Sainuddin, 2. Beberapa ciri yang menonjol dari radikalisme antara lain adanya penolakan berulang terhadap pandangan berbeda, tuntutan yang bersifat ekstrem terhadap perubahan, penggunaan kekerasan sebagai instrumen perjuangan, serta keyakinan absolut bahwa hanya pandangan mereka yang benar, sementara perspektif lain dianggap salah. Radikalisme dapat muncul di berbagai tempat, kapan saja, serta dapat memengaruhi siapa pun tanpa memandang latar belakang ras, agama, maupun status sosial. Fenomena ini berpotensi mengancam stabilitas negara sekaligus menimbulkan konflik sosial dalam Dampak radikalisme sangat destruktif, antara lain menciptakan keresahan publik, merusak nilai kasih sayang dan kerukunan antarumat beragama, melemahkan rasa nasionalisme serta ideologi Pancasila, mencoreng citra agama, bahkan mengakibatkan korban jiwa, kerugian ekonomi yang signifikan, dan meracuni pola pikir generasi muda (Sainuddin. Hidayat & Fadli, 2. Sikap radikal biasanya berakar pada ketidakmauan untuk menerima perbedaan yang ada di masyarakat. Perbedaan atau diskrepansi sosial kerap dipandang sebagai ancaman oleh kelompok yang berpaham radikal. Radikalisme beragama sendiri dapat dipahami sebagai gerakan yang berlandaskan interpretasi tekstual terhadap hukum agama, dengan orientasi pada praktik keagamaan yang dianggap murni dan autentik, sehingga cenderung menolak nilai-nilai Pancasila dan mengabaikan prinsip toleransi dalam kehidupan berbangsa (Azra, 2020. Sainuddin, 2. Moderasi beragama memiliki peran strategis dalam mencegah berkembangnya paham radikal di Indonesia. Konsep ini dipahami sebagai jalan tengah yang mampu mengurangi kesenjangan antaragama maupun antarumat beragama yang berbeda keyakinan. Dengan penerapan nilai-nilai moderasi, potensi radikalisme dalam masyarakat dapat ditekan seminimal Oleh karena itu, internalisasi moderasi beragama perlu dilakukan oleh setiap pemeluk agama dalam interaksi sosial sehari-hari. Implementasi nilai-nilai tersebut menjadi upaya penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam keberagaman, sekaligus AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 01-13 menumbuhkan kesadaran hukum yang kokoh di tengah masyarakat (Hasan, 2022. Wahid. Moderasi beragama berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran hukum masyarakat sekaligus mencegah berkembangnya paham radikal. Melalui pemahaman yang mengedepankan sikap saling menghormati, menerima perbedaan, bertoleransi, dan menjaga kerukunan, setiap pemeluk agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Meskipun upaya ini tidak mudah dan membutuhkan peran aktif dari seluruh pihak, kesadaran akan pentingnya kerukunan dalam keberagaman merupakan kunci utama. Perbedaan seharusnya dipandang sebagai kekayaan, bukan penghalang, untuk memperkuat rasa persaudaraan, kebersamaan, serta tanggung jawab dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan kesadaran tersebut, paham radikal akan lebih sulit memengaruhi individu maupun masyarakat. KESIMPULAN Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa moderasi beragama memiliki peran strategis dalam mencegah berkembangnya paham radikalisme di kalangan mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Penerapan nilai-nilai moderasi, seperti toleransi, keseimbangan, inklusivitas, dan penghargaan terhadap keberagaman, terbukti mampu memperkuat kohesi sosial serta menekan potensi munculnya sikap eksklusif maupun ekstrem. Faktor-faktor yang memengaruhi sikap mahasiswa terhadap moderasi beragama meliputi latar belakang pendidikan, pemahaman keagamaan, pengaruh lingkungan sosial, serta paparan media Integrasi pendidikan agama Islam (PAI) dengan pendekatan moderasi beragama, disertai dukungan pendidikan multikultural dan literasi digital kritis, menjadi solusi yang efektif dalam memperkuat karakter moderat mahasiswa. Dengan demikian. Universitas Negeri Makassar dapat berperan penting sebagai center of excellence dalam menanamkan kesadaran moderasi beragama, yang tidak hanya mencegah radikalisme, tetapi juga memperkuat rasa persatuan, kesetiaan terhadap Pancasila, serta tanggung jawab kebangsaan di era masyarakat Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme: Analisis Kualitatif di Lingkungan Universitas Negeri Makassar REFERENSI