213 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 PKM Internasional melalui Program BIPA Berbasis Kearifan Lokal untuk Memperkuat Citra Indonesia Nurhusna1. Abdul Haliq2. Shafariana3 Fakultas Bahasa dan Sastra. Universitas Negeri Makassar. Indonesia1,2,3 Email: nurhusna@unm. Abstrak. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Internasional melalui pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) berbasis kearifan lokal dilaksanakan oleh Lembaga BIPA Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar untuk memperkuat diplomasi budaya dan citra Indonesia di tingkat global. Kegiatan ini bermitra dengan Yala Rajabhat University, sebuah universitas publik di Thailand Selatan yang memiliki mandat pengembangan komunitas dan terdaftar sebagai penyelenggara resmi program BIPA. Pengabdian ini bertujuan mengimplementasikan pembelajaran BIPA yang mengintegrasikan unsur budaya lokal Indonesia, meningkatkan kompetensi komunikatif dan kesadaran budaya peserta, serta menghasilkan luaran akademik berupa persepsi peserta dan artikel ilmiah. Metode pelaksanaan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pendampingan, dan evaluasi melalui pendekatan komunikatif-integratif dan pembelajaran berbasis Materi pembelajaran memanfaatkan artefak budaya seperti kuliner, cerita rakyat, dan ungkapan sopan santun, yang terbukti memperkaya konteks belajar dan meningkatkan partisipasi peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kelancaran berbahasa, pemahaman nilai budaya, dan motivasi belajar peserta. Selain itu, proyek microvideo yang dihasilkan peserta berfungsi sebagai evaluasi otentik yang mendorong kreativitas dan refleksi Secara keseluruhan, program ini efektif memperkuat diplomasi budaya Indonesia dan layak direplikasi pada konteks pembelajaran BIPA di negara lain. Kata kunci: BIPA, kearifan lokal, diplomasi budaya, pembelajaran bahasa PENDAHULUAN Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) semakin diakui sebagai wahana diplomasi budaya yang efektif. Melalui BIPA. Indonesia tidak hanya memperkenalkan sistem linguistiknya, tetapi juga cara pandang, nilai, dan praktik budaya yang melekat pada penuturnya. Dalam konteks kekuatan nasional non-militer, diplomasi bahasa dan budaya merupakan bagian dari soft power yang membangun ketertarikan dan kepercayaan internasional terhadap Indonesia (Nye, 2. Ketika pembelajaran BIPA dirancang melampaui gramatika yang menghadirkan artefak, praktik, dan narasi budaya yang autentik, maka pembelajar memperoleh pengalaman yang lebih menyeluruh dan memaknai bahasa sebagai tindakan sosial (Byram, 1997. Kramsch. Pengalaman global menunjukkan bahwa pengajaran bahasa kedua/asing yang menautkan kompetensi linguistik dengan kompetensi antarbudaya mendorong partisipasi, retensi, dan transfer pengetahuan ke situasi nyata (Richards & Rodgers, 2014. Tomlinson. Pendekatan ini menggeser peran guru dari Aupenyampai materiAy menjadi Auperancang pengalamanAy yang memungkinkan pembelajar berinteraksi dengan teks, praktik, dan komunitas budaya sasaran. Di sinilah kearifan lokal . ocal wisdo. menjadi pembeda. Alih-alih mengandalkan bahan ajar generik, pengajar memanfaatkan narasi kuliner, ungkapan adat, seni tradisi, cerita rakyat, dan etika pergaulan yang menubuh pada kehidupan masyarakat Indonesia. PKM Internasional melalui Program BIPA Berbasis Kearifan Lokal 214 Dengan demikian, kosakata dan struktur kalimat tidak dipelajari secara terlepas, melainkan dalam konteks sosial-budaya yang konkret (Kramsch, 1993. Tomlinson, 2. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang menjadi dasar artikel ini dirancang sebagai PKM internasional melalui BIPA berbasis kearifan lokal dengan mitra Yala Rajabhat University. Thailand. Program berlangsung selama 8 bulan (MaretAeNovember 2. , menargetkan luaran berupa data persepsi peserta, artikel ilmiah, dan publikasi media daring, serta memosisikan bahasa sebagai katalis diplomasi budaya Indonesia di Asia Tenggara. Kegiatan ini memperkuat jejaring akademik lintasnegara dan menjadi wahana community engagement yang relevan dengan mandat universitas untuk membangun ekosistem pembelajaran regional yang saling Secara konseptual, program memadukan pendekatan komunikatif-integratif dengan orientasi antarbudaya dan pengembangan materi berbasis proyek. Pendekatan komunikatif (Communicative Language Teachin. menekankan penggunaan bahasa dalam tugas-tugas autentik, sedangkan orientasi antarbudaya memastikan setiap aktivitas mengandung refleksi nilai dan praktik budaya Indonesia (Byram, 1997. Richards & Rodgers, 2. Materi dirancang sebagai Auexperience-rich tasksAy, misalnya dialog sopan santun dalam konteks perjumpaan sehari-hari. eksplorasi kosa kata kuliner daerah. penceritaan kembali dongeng Nusantara. produksi micro-video bertema AuIndonesia dalam Pandangan SayaAy yang memungkinkan pembelajar bernegosiasi makna secara kreatif. (Tomlinson, 2013. Council of Europe, 2. Dari sisi motivasi, program memanfaatkan gagasan L2 Motivational Self System yang menekankan gambaran diri ideal sebagai penutur bahasa sasaran (Dyrnyei, 2. Proyek kreatif dan interaksi budaya yang positif membantu peserta membangun Audiri ideal berbahasa IndonesiaAy yang relevan dengan aspirasi pribadi dan profesional mereka. Dengan begitu, motivasi tidak hanya bersumber dari kewajiban kurikuler, tetapi juga dari vision personal yang terbayang jelas (Dyrnyei, 2009. Brown, 2. Yala Rajabhat University adalah universitas publik non-profit di 133 Thetsaban 3 Road. Tambol Sateng. Amphoe Mueang. Provinsi Yala 95000. Thailand. Secara historis, rumpun kelembagaan keguruan di Yala telah hadir sejak 1 Juli 1934 dan berkembang menjadi Yala Teacher College, kemudian meningkat menjadi Yala Rajabhat Institute . , dan akhirnya beralih status menjadi Yala Rajabhat University . seiring berlakunya Rajabhat University Act . Sebagai bagian dari sistem Rajabhat University di Thailand, yang pada mulanya berdiri sebagai teacher training colleges dan berevolusi menjadi universitas publik untuk pengembangan komunitas lokal. Yala Rajabhat University menekankan tridarma yang erat dengan community engagement, penguatan profesi keguruan, serta layanan masyarakat di wilayah perbatasan selatan Thailand. Pada tingkat operasional, struktur fakultas/klaster akademik Yala Rajabhat University . endidikan, sains-teknologi-pertanian, humaniora-sosial, dan lainny. bergerak dalam bingkai Auuniversitas untuk pembangunan lokalAy sebagaimana ditegaskan dalam narasi resmi Yala Rajabhat University Relevan dengan program ini. Yala Rajabhat University teridentifikasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Kemendikbudristek RI) sebagai lembaga penyelenggara BIPA di Thailand, dengan alamat institusi dan pranala resmi tercantum dalam Jaringan Lembaga Penyelenggara Program BIPA. Informasi ini memvalidasi posisi Yala Rajabhat University sebagai mitra strategis untuk kerja sama pengajaran bahasa dan diplomasi budaya Indonesia. Dengan profil tersebut, kolaborasi Lembaga BIPA PBSI UNM dengan Yala Rajabhat University menjadi relevan secara geografis . edekatan interaksi IndonesiaAeThailand Selata. , historis . kar pendidikan kegurua. , dan kelembagaan . andat community engagemen. Hal INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 ini menguatkan asumsi bahwa BIPA berbasis kearifan lokal bukan hanya layak dilakukan, tetapi juga berpotensi memberi dampak sosial-budaya yang nyata. Merujuk rancangan PKM yang telah disepakati bersama mitra dan pemangku kepentingan terkait, program ini bertujuan untuk: . mengimplementasikan pembelajaran BIPA berbasis kearifan lokal bagi mahasiswa Yala Rajabhat University. meningkatkan pemahaman budaya Indonesia melalui praktik bahasa yang kontekstual, autentik, dan reflektif. memperkuat citra Indonesia melalui diplomasi budaya berbasis pendidikan dan jejaring akademik lintas negara. menghasilkan luaran terukur berupa data persepsi peserta, artikel ilmiah, dan publikasi media daring. METODE PELAKSANAAN Program dilaksanakan MaretAeNovember 2024 di Yala Rajabhat University. Thailand, melibatkan tim pengabdi dan dua mahasiswa pendamping dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar, serta dukungan koordinatif KBRI Bangkok. Pendekatan kerja menggabungkan model pelatihan komunikatif-integratif, orientasi antarbudaya, dan proyek berbasis kearifan lokal. Tahap Perencanaan . Analisis kebutuhan: pemetaan profil peserta, tujuan belajar, dan preferensi topik . Desain kurikulum mikro: menyusun modul bertema kearifan lokal . uliner, tradisi lisan, sopan santun, sen. yang disejajarkan dengan deskriptor kemampuan berbahasa . ujukan CEFR untuk kejelasan target performati. (Council of Europe, 2. Koordinasi kelembagaan: penjadwalan, penyediaan sarana kelas dan media audiovisual, serta penyiapan lembar kerja dan rubrik penilaian. Orientasi pendamping: pembekalan mahasiswa asisten terkait fasilitasi tugas komunikatif dan dokumentasi proses. Tahap Pelaksanaan . Sesi tatap muka berfokus pada tugas komunikatif . ialog layanan, perkenalan, narasi pengalama. yang disisipi artefak budaya . ideo kuliner, cerita rakyat Nusantara, role play sopan santu. Pembelajaran berbasis proyek: setiap kelompok menyusun micro-video AuIndonesia dalam Pandangan SayaAy yang merefleksikan temuan budaya melalui bahasa. Integrasi refleksi antarbudaya: jurnal singkat pasca-sesi yang menautkan bahasaAe budaya, perbedaan, dan kesamaan nilai. Tahap Pendampingan . Klinik bahasa: feedback individual pada pelafalan, pilihan leksikal, dan kelancaran. Mentoring budaya: diskusi terarah tentang makna ungkapan adat dan konteks . Kurasi karya: bimbingan storyboard, pengambilan gambar, dan narasi bahasa pada proyek video. Tahap Evaluasi . Formatif: cek pemahaman akhir sesi melalui exit ticket dan observasi performatif. Sumatif: kuesioner persepsi kebermanfaatan, wawancara singkat, dan penilaian proyek video dengan rubrik . kurat, komunikatif, nilai budaya, kreativita. Analisis data: deskriptif kualitatif-kuantitatif sederhana . endensi respons, kutipan kunci, dan temati. PKM Internasional melalui Program BIPA Berbasis Kearifan Lokal 216 . Refleksi kolaboratif: pertemuan akhir dengan mitra untuk menyusun rekomendasi penguatan program. HASIL DAN PEMBAHASAN Keterlaksanaan program dan partisipasi peserta berjalan sesuai jadwal selama delapan bulan dengan kehadiran peserta yang stabil. Sinergi peran dosen pengabdi, mahasiswa pendamping, dan pengelola kelas di Yala Rajabhat University menopang kelancaran operasional Kehadiran artefak budaya . ideo, foto kuliner, dan materi tradisi lisa. terbukti menjadi ice breaker yang efektif. peserta lebih cepat memasuki Aumode berbahasaAy karena tugas dikaitkan dengan pengalaman estetik dan emosional. Pola ini sejalan dengan gagasan bahwa tugas makna-nyata mendorong negotiation of meaning sekaligus output yang lebih lancar (Richards & Rodgers, 2014. Brown, 2. Integrasi kearifan lokal sebagai pengaya linguistik penguatan bahan ajar berbasis kearifan lokal memberikan scaffold yang kaya konteks. Contoh konkret: Ungkapan sopan santun . permisi, mohon maaf, mappatabeAo dalam budaya Bugis-Makassa. digunakan dalam role play perjumpaan formal, sehingga struktur kalimat permohonan dan ragam tutur dapat dipraktikkan dengan nuansa sosial-budaya yang tepat. Kuliner Nusantara . ontoh: coto, pallubasa, barongk. menjadi pintu masuk kosakata deskriptif . asa, tekstur, cara memasa. serta konstruksi kalimat penjelasan . ksposisi singka. Cerita rakyat dipakai untuk melatih narasi lampau . refiks meN-, konfiks peN-a. , dialog, dan intonasi. Secara pedagogis, aktivitas tersebut memadukan input kaya . ateri buday. dan output bermakna . ugas komunikati. , yang menurut Tomlinson . dan Council of Europe . berkontribusi pada perkembangan kompetensi komunikatif dan strategi belajar. Temuan ini menguatkan pandangan Kramsch . bahwa bahasa-budaya merupakan satu kesatuan ekologi pembelajaran. Perkembangan kompetensi komunikatif observasi kelas menunjukkan kemajuan pada fluency dan pragmatic competence. Peserta lebih berani berbicara dan melakukan repair mandiri ketika misformasi terjadi. Perkembangan tersebut tercermin pada: peningkatan kelancaran dialog layanan . memesan makanan, menanyakan ara. , ketepatan penggunaan strategi kesopanan . mitigasi permintaa. , kemampuan merangkum cerita rakyat dalam bahasa Indonesia dasar, konsistensi penggunaan kosa kata budaya pada proyek video. Dari kuesioner persepsi, mayoritas peserta menilai materi Aupaling membantuAy karena relevan dan menarik, sedangkan metode Aupaling bermaknaAy adalah proyek video karena memberi ruang kreatif dan kolaboratif. (Analisis ini bersumber dari data persepsi peserta dan dokumentasi luaran progra. Secara teoretis, keterkaitan tujuan pribadi dan tugas pembelajaran meningkatkan keterikatan dan ketekunan (Dyrnyei, 2. Proyek Micro-Video sebagai Instrumen Evaluasi Otentik Proyek micro-video AuIndonesia dalam Pandangan SayaAy dipilih sebagai evaluasi otentik karena menuntut integrasi bahasa, budaya, dan kreativitas. Rubrik penilaian menimbang akurasi, kefasihan, kelengkapan informasi budaya, dan daya cipta. Hasilnya, seluruh kelompok menghasilkan video berdurasi 2Ae3 menit yang menarasikan topik budaya . uliner, sapaan, pakaian tradisional, objek wisat. dengan bahasa Indonesia tingkat pemula dan menengah. Pendekatan berbasis proyek ini berpijak pada prinsip task-based/experiential learning yang kuat dukungan empiriknya dalam pembelajaran bahasa (Richards & Rodgers, 2014. Tomlinson, 2. Pemilihan Yala Rajabhat University sebagai mitra memiliki signifikansi strategis. Sebagai universitas publik yang lahir dari tradisi pendidikan keguruan dan berorientasi pada INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 pengembangan komunitas lokal. Yala Rajabhat University secara kelembagaan memiliki kultur community engagement yang selaras dengan misi PKM. Narasi sejarah Yala Rajabhat University yang dari lembaga pendidikan guru . , menjadi Rajabhat Institute . , hingga berstatus universitas . menunjukkan kapasitas adaptasi terhadap kebutuhan wilayah dan negara (Rajabhat University Act, 2. Validasi Yala Rajabhat University sebagai penyelenggara BIPA oleh Badan Bahasa Kemendikbudristek menambah legitimasi mitra dalam kerangka diplomasi budaya Indonesia di Thailand. Data pada Jaringan Lembaga Penyelenggara Program BIPA mencantumkan Yala Rajabhat University dengan alamat yang sama seperti pada situs resmi Yala Rajabhat University , sehingga cross-check kredensial dapat dipastikan. Dari perspektif soft power, inisiatif ini memperluas jejaring lintasnegara, memperkenalkan budaya Indonesia secara positif, dan memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa dengan kekayaan budaya serta komitmen kerja sama pendidikan (Nye, 2. Beberapa tantangan yang diidentifikasi selama pelaksanaan antara lain: Heterogenitas kemampuan awal: tingkat kemahiran bahasa peserta beragam. Strategi: tugas bertingkat . iered task. , pasangan sebaya, dan feedback diferensiasi. Ketersediaan waktu: benturan jadwal akademik. Strategi: jadwal fleksibel dan materi modular sehingga tiap sesi tetap berdampak. Ekspose budaya yang selektif: tidak semua topik budaya mudah diakses. Strategi: kurasi materi digital berlisensi terbuka/izin pemilik, serta kolaborasi komunitas diaspora untuk berbagi narasi otentik. Luaran program berupa . data persepsi peserta, . naskah artikel ilmiah, dan . publikasi media daring/dokumentasi telah dihasilkan sebagaimana rencana. Untuk keberlanjutan, tim dan mitra menyepakati: pengayaan modul BIPA berbasis kearifan lokal lintas daerah, pertukaran dosen/pendidik tamu secara berkala, integrasi proyek kolaboratif lintas kampus antara Yala Rajabhat University dan lembaga BIPA PBSI UNM bertema Aucerita kuliner NusantaraAy atau Auungkapan sopan santun serumpunAy. Secara keseluruhan, implementasi menunjukkan bahwa BIPA berbasis kearifan lokal tidak hanya meningkatkan kompetensi komunikatif peserta, tetapi juga memperkuat jembatan pemahaman antarbudaya Indonesia dan Thailand Selatan. KESIMPULAN Program PKM Internasional BIPA berbasis kearifan lokal di Yala Rajabhat University berhasil mencapai tujuan utama: . mengimplementasikan pembelajaran bahasa yang kontekstual, . meningkatkan pemahaman budaya Indonesia, . memperkuat citra Indonesia melalui diplomasi budaya, dan . menghasilkan luaran terukur. Integrasi kearifan lokal, mulai dari ungkapan sopan santun, kuliner, hingga cerita rakyatAimembuktikan diri sebagai pengaya linguistik yang efektif: peserta lebih lancar, lebih tepat secara pragmatik, dan lebih percaya diri. Proyek micro-video menyediakan wahana evaluasi otentik yang mendorong kreativitas sekaligus akuntabilitas performatif. Kolaborasi dengan Yala Rajabhat University relevan secara kelembagaan dan regional, serta tervalidasi oleh jejaring BIPA Badan Bahasa. Ke depan, penguatan kurikulum mikro, diversifikasi artefak budaya, dan mekanisme tindak lanjut kolaboratif . ertukaran dosen, proyek lintas kampu. direkomendasikan untuk menjaga kesinambungan dampak. Model ini layak direplikasi pada konteks ASEAN lain dengan adaptasi PKM Internasional melalui Program BIPA Berbasis Kearifan Lokal 218 budaya setempat, sehingga BIPA benar-benar menjadi wajah Indonesia yang ramah, kaya, dan berdaya saing. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Makassar atas dukungan pendanaan dan fasilitas. Yala Rajabhat University sebagai mitra pelaksanaan. KBRI Bangkok atas dukungan koordinasi, serta para peserta dan mahasiswa pendamping yang berkontribusi pada keberhasilan kegiatan. DAFTAR PUSTAKA