Al Yazidiy: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Volume 7 Number 1 Mei 2025 P-ISSN: 2964-6472. E-ISSN: 2961-7278. Hal 53-78 DOI: https://doi. org/10. 55606/ay. Available online at: https://ejurnalqarnain. id/index. php/AY Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas Harum Sida Rahmi1. Nasikhin2. Mustopa3 UIN Walisongo Semarang. Indonesia UIN Walisongo Semarang. Indonesia UIN Walisongo Semarang. Indonesia * 23030160010@student. NASIKHIN@walisongo. id 2, mustopa@walisongo. Alamat: Jln. Prof. Hamka. Ngaliyan. Kota Semarang, 50185. Jawa Tengah. Indonesia Abstract. This study aims to analyze family education based on Islamic values as a process of internalizing ethical and spiritual values within Muslim families. The research adopts a qualitative approach with a case study design, where data is collected through in-depth interviews with parents and children. Data validation is conducted using source triangulation to ensure the accuracy of the findings. The results reveal that the success of internalizing Islamic ethical and spiritual values within the family does not solely depend on formal religious education but also on the quality of emotional relationships, open communication, and parental role modeling. Children tend to absorb Islamic values more easily when they feel valued and involved in the value-building process. These findings challenge the assumption that verbal teachings or mere advice are sufficient to shape an Islamic character, emphasizing the importance of a more holistic approach that focuses on affection, real-life examples, and warm dialogue. This study contributes significantly to enriching the theory of family-based Islamic education by highlighting the importance of deep emotional connections in the process of value internalization. Keywords: family education. Islamic values, internalization of values, ethics, spirituality. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman sebagai proses internalisasi nilai etika dan spiritualitas dalam keluarga muslim. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan desain studi kasus, di mana data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan orangtua dan anak. Teknik validasi data dilakukan dengan triangulasi sumber untuk memastikan keakuratan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan internalisasi nilai etika dan spiritualitas Islam dalam keluarga tidak hanya bergantung pada pengajaran agama secara formal, tetapi juga pada kualitas relasi emosional, komunikasi terbuka, dan keteladanan orangtua. Anak-anak cenderung lebih mudah menyerap nilai-nilai keislaman ketika mereka merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses pembentukan nilai tersebut. Temuan ini menggugurkan anggapan bahwa pendekatan verbal atau nasihat semata sudah cukup untuk membentuk karakter Islami, dan justru menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih holistik dengan menekankan kasih sayang, contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, serta dialog yang hangat. Penelitian ini memberikan Received: May 8, 2025 . Revised: May 12, 2025. Accepted: . May 28, 2025 Online Available: May 30, 2025. Published: May 30, 2025. *Harum Sida Rahmi, 23030160010@student. Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas kontribusi penting dalam memperkaya teori pendidikan Islam berbasis keluarga, dengan menekankan pentingnya hubungan emosional yang mendalam dalam proses internalisasi nilai. Kata kunci: pendidikan keluarga, nilai keislaman, internalisasi nilai, etika dan spiritualitas. (Helvetica, size 10 p. PENDAHULUAN Pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman sebagai proses internalisasi nilai etika dan spiritualitas masih menjadi isu penting dalam pembangunan karakter generasi muda di Indonesia. Hal ini terlihat dari berbagai hasil penelitian dan survei nasional yang menunjukkan bahwa peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai agama dan moral mengalami tantangan signifikan di era Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI pada tahun 2023, sebanyak 68% orang tua mengakui bahwa mereka kesulitan mendampingi anak dalam pembinaan keagamaan secara rutin karena kesibukan kerja dan keterbatasan pengetahuan agama. Di sisi lain. Lembaga Kajian Sosial dan Agama (LKSA) juga melaporkan bahwa peningkatan perilaku menyimpang di kalangan remajaAiseperti perundungan, penyalahgunaan media sosial, dan perilaku konsumtifAiberkorelasi dengan minimnya penguatan nilai-nilai spiritual dan etika di lingkungan keluarga. Sementara itu, data dari BPS . menunjukkan bahwa hanya sekitar 35% keluarga muslim yang secara konsisten mengadakan aktivitas keagamaan bersama, seperti salat berjamaah, tadarus, atau diskusi keislaman di rumah. Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan ideal pendidikan Islam di keluarga dengan praktik riilnya di Oleh karena itu, penguatan pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman harus terus menjadi perhatian utama, baik melalui penyuluhan, pendampingan keluarga, maupun kurikulum parenting islami yang terintegrasi, agar nilai-nilai etika dan spiritualitas dapat tertanam kuat sejak dini dan mampu menjadi benteng moral bagi anak dalam menghadapi tantangan zaman. Kecenderungan penelitian terkait pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman sebagai proses internalisasi nilai etika dan spiritualitas menunjukkan Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 bahwa fokus ilmiah selama ini lebih banyak diarahkan pada peran institusi pendidikan formal dibandingkan keluarga sebagai agen primer pendidikan Penelitian Rafsanjani. Toni Ardi, dan Muhammad Abdur Razaq . menyoroti internalisasi nilai-nilai keislaman di sekolah dasar Muhammadiyah, sedangkan Purwanto. Qowaid, dan Ridwan Fauzi . mengkaji nilai moderasi Islam dalam konteks perguruan tinggi umum. Keduanya menunjukkan bahwa sekolah dan kampus masih menjadi titik tumpu utama dalam pembentukan nilai Di sisi lain. Basrawi . memang mengangkat dimensi keluarga dalam penanaman nilai akhlak, namun cakupannya terbatas pada keluarga buruh perkebunan dengan fokus pada aspek moral, bukan spiritualitas Islam secara komprehensif. Sementara itu, penelitian Alhamid dan Indria Nur . kembali menekankan proses pembentukan karakter melalui pendidikan Islam di sekolah dasar negeri. Dari kecenderungan tersebut, tampak adanya kekosongan dalam kajian yang secara spesifik dan mendalam meneliti peran serta strategi keluarga muslim dalam menginternalisasikan nilai-nilai keislaman, baik etika maupun spiritual, kepada anak-anak mereka. Padahal, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama yang sangat menentukan arah perkembangan karakter spiritual anak. Kekosongan ini penting untuk diisi melalui penelitian lebih lanjut yang berfokus pada praktik pendidikan keluarga dalam konteks sosial keislaman yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman sebagai proses internalisasi nilai etika dan spiritualitas dalam pembentukan karakter anak sejak dini. Fokus utama penelitian diarahkan untuk menjawab tiga pertanyaan kunci, yaitu: pertama, bagaimana konsep pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman ditinjau dari perspektif etika dan spiritualitas Islam. kedua, apa saja bentuk dan metode internalisasi nilai-nilai tersebut yang lazim diterapkan dalam lingkungan keluarga muslim. dan ketiga, faktor-faktor apa yang mendukung maupun menghambat efektivitas proses internalisasi tersebut dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Penelitian ini menjadi penting Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas untuk dilakukan mengingat masih minimnya kajian yang secara komprehensif membahas peran strategis keluarga dalam menanamkan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi etika dan spiritualitas anak. Di tengah arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan perubahan nilai sosial yang cepat, keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama justru kerap terpinggirkan perannya oleh dominasi pendidikan formal. Padahal, nilai-nilai seperti kejujuran, empati, tanggung jawab, dan kesalehan spiritual lebih efektif ditanamkan melalui interaksi emosional yang intens dan konsisten di dalam keluarga. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan model pendidikan keluarga islami serta menjadi rujukan praktis bagi keluarga muslim dalam memperkuat internalisasi nilai-nilai keislaman yang relevan dan kontekstual dengan tantangan zaman. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk menganalisis pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman sebagai proses internalisasi nilai etika dan spiritualitas. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin menggali secara mendalam makna, pengalaman, dan dinamika internalisasi nilai keislaman dalam konteks kehidupan keluarga sehari-hari. Desain studi kasus digunakan agar peneliti dapat mengeksplorasi secara holistik praktik pendidikan keluarga pada satu lokasi tertentu, yakni di Desa Bangsri. Kecamatan Bangsri. Kabupaten Jepara, dalam rentang waktu 30 April hingga 4 Mei 2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap lima partisipan, terdiri dari tiga orang tua dan dua anak. Wawancara dipilih karena memungkinkan peneliti memperoleh informasi langsung, mendalam, dan kontekstual mengenai cara orang tua menanamkan nilai etika dan spiritualitas Islam, serta bagaimana anak merespons dan menginternalisasikannya dalam kehidupan mereka. Pemilihan partisipan didasarkan pada tujuan penelitian, yakni memahami hubungan antara strategi pendidikan keluarga dan proses internalisasi nilai. Orang tua dipilih Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 sebagai representasi pelaku utama pendidikan di rumah, sementara anak menjadi subjek penerima proses internalisasi nilai tersebut. Melalui kombinasi pendekatan kualitatif, desain studi kasus, teknik wawancara, dan pemilihan partisipan yang relevan, penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan secara rinci dan autentik dinamika pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman dalam konteks lokal masyarakat pedesaan di era modern. Tabel 1: Profil Informan No. Initials Age Posisition Gender Orang Tua Woman Orang Tua Woman Orang Tua Woman Anak Woman Anak Woman Dalam penelitian kualitatif mengenai Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas, validasi data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber. Teknik ini dipilih untuk memastikan keabsahan data melalui perbandingan informasi dari berbagai narasumber, yaitu antara orang tua dan anak, serta konfirmasi silang antarjawaban yang diperoleh dalam wawancara. Triangulasi sumber dinilai tepat karena mampu menangkap berbagai perspektif dari subjek yang terlibat langsung dalam proses internalisasi nilai, sehingga menghasilkan data yang lebih komprehensif dan terpercaya. Selain itu, peneliti juga melakukan member checking, yakni dengan meminta partisipan meninjau kembali ringkasan hasil wawancara guna mengonfirmasi kebenaran informasi yang diberikan. Untuk teknik analisis data, digunakan model interaktif dari Miles dan Huberman yang mencakup tiga langkah utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi yang relevan dari hasil wawancara. Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas kemudian disusun secara sistematis dalam bentuk penyajian data seperti matriks atau narasi tematik, sehingga memudahkan dalam melihat pola dan hubungan antar kategori. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi secara terus-menerus selama proses analisis berlangsung, guna memastikan temuan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan realitas empiris di lapangan. Model Miles dan Huberman dipilih karena memberikan struktur yang jelas dalam menganalisis data kualitatif yang kompleks, serta menafsirkan makna dari proses internalisasi nilai dalam konteks keluarga HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman dalam Prespektif Etika dan Spiritualitas Islam Konsep pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman dalam perspektif Islam keteladanan, pembiasaan ibadah, dan komunikasi yang sarat nilai-nilai agama. Berdasarkan hasil wawancara. O1 menyatakan, "Kami sebagai orang tua harus menjadi contoh dulu, kalau kami salat tepat waktu, anak-anak juga akan " Hal ini menunjukkan bahwa keteladanan menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan keluarga. O2 juga mengungkapkan, "Saya lebih sering mengajak anak diskusi ringan soal perbuatan baik dan buruk menurut Islam, supaya dia bisa membedakan dari kecil. " Ini menandakan bahwa pendidikan etika dalam keluarga dijalankan melalui komunikasi terbuka dan bernuansa O3 menambahkan, "Di rumah, kami selalu membiasakan anak-anak membaca doa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, itu penting untuk menanamkan nilai spiritual sejak kecil. " Aktivitas seperti ini mencerminkan bagaimana nilai-nilai spiritual tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi ditanamkan melalui praktik keseharian. Dari sisi anak. A1 mengatakan, "Ayah Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 sering cerita tentang kisah nabi, jadi saya tahu bagaimana harus jujur dan tidak " Ini menunjukkan peran narasi Islami sebagai sarana penanaman nilai Sementara itu. A2 menyampaikan, "Kalau saya malas salat, ibu biasanya bilang, 'Ingat. Allah sayang sama yang salat tepat waktu. '" Kalimat ini menggambarkan pendekatan spiritual yang lembut dan membangun kesadaran religius secara afektif. Pendidikan nilai etika dalam keluarga juga berakar pada prinsip penghargaan terhadap sesama dan pengendalian diri, yang ditanamkan melalui aktivitas harian. O1 menegaskan, "Kami ajarkan anak untuk tidak berteriak saat berbicara, karena Islam mengajarkan sopan santun. " Etika berbicara merupakan bagian dari nilai moral Islam yang diterapkan secara langsung di rumah. menyampaikan, "Kalau anak mengambil sesuatu tanpa izin, saya langsung ingatkan bahwa itu tidak jujur dan tidak halal. " Penekanan pada nilai kejujuran dan kepemilikan menjadi bagian dari internalisasi nilai yang konkret. menambahkan, "Setiap kali anak membantu pekerjaan rumah, saya ucapkan terima kasih dan puji dia, biar dia tahu bahwa membantu itu ibadah juga. Konsep amal saleh dalam bentuk tindakan sehari-hari ditekankan sebagai bentuk penguatan spiritualitas. A1 mengungkapkan, "Kalau saya bantu ibu cuci piring, beliau bilang Allah senang kalau anak rajin dan tidak malas. " Hal ini menunjukkan bahwa anak mulai memahami dimensi ibadah dari aktivitas rumah A2 berkata, "Kalau saya berbuat salah, ayah suruh minta maaf dan salat dua rakaat, katanya supaya hati kita bersih. " Ini menandakan bahwa spiritualitas juga diajarkan dalam bentuk Nilai spiritualitas dalam pendidikan keluarga juga diwujudkan melalui pembiasaan ibadah harian dan perasaan dekat dengan Tuhan. O1 menjelaskan, "Anak-anak saya biasakan bangun subuh untuk salat berjamaah, meskipun kadang berat, tapi itu proses pembentukan karakter. " Pembiasaan ini merupakan proses panjang yang ditanamkan melalui kedisiplinan. mengatakan, "Setiap malam, kami biasakan membaca Al-QurAoan bersama. Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas meski hanya beberapa ayat, supaya hati anak-anak terbiasa dengan kalam Allah. " Rutinitas ini mencerminkan penanaman kedekatan spiritual melalui interaksi langsung dengan kitab suci. O3 menyampaikan, "Kami tidak pernah memaksa, tapi kami ajak dengan lembut, karena anak-anak juga butuh merasa nyaman dengan agama. " Pendekatan penuh kasih sayang menjadi metode utama dalam mendekatkan anak pada nilai spiritual. A1 berkata, "Kalau saya takut atau sedih, saya biasa diajak ibu baca doa-doa pendek, katanya supaya hati tenang. " Ini menunjukkan bahwa spiritualitas dibangun dari pengalaman emosional yang terhubung dengan keimanan. A2 menambahkan, "Kadang saya merasa senang habis salat, kayak plong, terus ibu bilang itu tanda Allah beri " Ungkapan ini menunjukkan bagaimana nilai spiritual mulai terasa oleh anak dalam kehidupan nyata mereka. Nilai keislaman juga diperkenalkan dalam konsep tanggung jawab dan kedisiplinan yang bernuansa etis dan spiritual. O1 mengatakan, "Kami ajari anak tanggung jawab mulai dari hal kecil, seperti membereskan tempat tidur dan menjaga adik. " Tindakan-tindakan ini dijadikan sebagai sarana pendidikan O2 menambahkan, "Saya selalu bilang, dalam Islam, tanggung jawab itu amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. " Penanaman tanggung jawab selalu dikaitkan dengan dimensi ketuhanan. O3 menyatakan, "Anak-anak diberi jadwal harian, termasuk waktu salat, belajar, dan bermain, supaya mereka terbiasa hidup teratur. " Kedisiplinan menjadi bentuk pembinaan karakter yang berlandaskan nilai spiritual. A1 menjelaskan, "Kalau saya lupa tugas, ayah suka bilang, 'Orang Islam harus amanah, jangan suka lalai. Pernyataan ini menunjukkan bahwa anak mulai memahami bahwa kelalaian bukan sekadar kesalahan biasa, tetapi juga berkaitan dengan nilai agama. mengatakan, "Kalau saya selesai belajar dan tetap salat, ibu suka bilang saya sudah bisa jaga amanah. " Ini menandakan bahwa konsep tanggung jawab dipuji dan diperkuat dengan pujian religius. Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 Keluarga juga berperan sebagai penjaga nilai-nilai moral Islam dalam menyikapi pengaruh eksternal, termasuk media sosial dan lingkungan. menyebutkan, "Sekarang anak-anak mudah akses tontonan, jadi kami selalu dampingi dan arahkan agar mereka tahu mana yang baik dan buruk menurut Islam. " O2 berkata, "Saya tidak langsung melarang, tapi saya tanya, apakah itu bisa mendekatkan kita ke Allah atau malah menjauhkan?" Pendekatan reflektif ini penting untuk menumbuhkan kesadaran moral anak. O3 menjelaskan, "Kami beri batasan waktu dan ajarkan adab dalam menggunakan HP, karena Islam juga mengajarkan kesopanan dalam segala hal. " Ini menandakan bahwa etika Islam diterapkan pada konteks kontemporer. A1 berkata, "Kalau lihat yang tidak baik di YouTube, ayah langsung bilang, 'Itu bukan akhlak muslim, jangan ditiru. Anak mulai mengenali standar moral berdasarkan identitas keislaman. menyampaikan, "Ibu bilang, lebih baik nonton video ceramah atau kisah nabi daripada konten yang bikin hati kotor. " Ini menunjukkan bahwa pilihan hiburan diarahkan untuk memperkuat spiritualitas. Konsep pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman juga mencakup pemahaman akan pentingnya keikhlasan dalam setiap perbuatan, yang ditekankan sebagai nilai spiritual mendasar. O1 menyatakan, "Saya selalu ingatkan anak, kalau membantu itu jangan minta imbalan, karena pahala dari Allah lebih besar. " Keikhlasan diposisikan sebagai fondasi moral dalam tindakan sehari-hari. O2 menyampaikan, "Kadang anak nanya kenapa harus bantu, saya jawab karena Allah suka orang yang tulus berbuat baik. " Hal ini menunjukkan bahwa nilai spiritual dikaitkan langsung dengan kesadaran akan Tuhan. menambahkan, "Saya ajarkan mereka untuk tidak pamer kalau sudah bersedekah, cukup Allah yang tahu. " Etika bersedekah ini sejalan dengan ajaran Islam tentang menutup amal dari riya. A1 mengatakan, "Waktu saya bantu teman, ayah bilang jangan sombong, cukup bilang Alhamdulillah bisa bantu. Anak belajar bahwa setiap kebaikan perlu diiringi kerendahan hati. A2 juga menyampaikan, "Ibu pernah bilang, 'Kalau kamu belajar karena Allah, bukan Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas karena takut dimarahi, itu baru ikhlas. '" Pernyataan ini menggambarkan bahwa anak diajarkan untuk membangun motivasi spiritual sejak dini. Keluarga muslim juga menanamkan nilai etika keislaman melalui praktik sosial sederhana, seperti berbagi, menghormati orang tua, dan bertetangga. mengatakan, "Kalau ada makanan lebih, saya ajak anak untuk membagi ke tetangga, supaya dia tahu arti peduli. " Nilai ini merupakan bentuk konkret dari ajaran ukhuwah Islamiyah. O2 menjelaskan, "Saya biasakan anak salim ke orang yang lebih tua, supaya dia belajar hormat dan rendah hati. " Praktik ini menjadi bagian penting dari pendidikan moral dalam Islam. O3 berkata, "Kami sering ajak anak kunjungan silaturahmi, karena dalam Islam menjalin hubungan itu sangat " A1 menuturkan, "Ibu bilang kalau kita baik ke tetangga. Allah akan berkahi rumah kita. " Ini menunjukkan bahwa anak diajak memahami hubungan sosial dalam bingkai spiritual. A2 menyampaikan, "Kalau saya bantu nenek angkat barang, ayah suka bilang, itu pahala besar walau kelihatannya kecil. " Hal ini memperlihatkan bahwa spiritualitas dibangun dari tindakan nyata yang sederhana namun bernilai tinggi. Pendidikan spiritual dalam keluarga juga dibentuk melalui penguatan identitas keislaman anak, seperti pemahaman terhadap makna ibadah dan simbol-simbol Islam. O1 menyatakan, "Saya kenalkan anak pada masjid, ajak dia ikut kegiatan, supaya dia merasa masjid itu bagian dari hidupnya. " Ini adalah bagian dari upaya menginternalisasi lingkungan yang membangun jiwa religius. O2 berkata, "Kami beri tahu arti dari setiap rukun Islam dan Iman, supaya dia tahu bukan hanya hafalan, tapi makna hidupnya. " Ini menegaskan bahwa nilai keislaman ditanamkan tidak secara dogmatis, melainkan dengan pemahaman. O3 mengungkapkan, "Kami kenalkan juga arti hijab, zakat, dan puasa, agar anak melihat agama sebagai panduan hidup, bukan sekadar kewajiban. " A1 menyampaikan, "Kalau saya ikut pengajian, ayah bilang itu cara kita memperkuat iman. " Anak mulai mengaitkan aktivitas religius dengan penguatan A2 menambahkan, "Ibu suka bilang, mengenakan jilbab bukan hanya Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 menutup aurat, tapi menunjukkan ketaatan pada Allah. " Ini menunjukkan bahwa simbol-simbol keislaman dibingkai sebagai ekspresi spiritual, bukan sekadar Kesimpulan dari hasil temuan menunjukkan bahwa konsep pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman dalam perspektif etika dan spiritualitas Islam berjalan secara integratif antara keteladanan, pembiasaan, dialog, dan kedekatan emosional. O1 menyimpulkan, "Anak belajar dari apa yang dia lihat dan rasakan di rumah, jadi kami usahakan setiap hari memberi contoh. " O2 menegaskan, "Nilai agama bukan diajarkan dengan paksaan, tapi dengan kesadaran dan kasih sayang. " O3 menambahkan, "Keluarga adalah tempat pertama anak mengenal Allah dan akhlak mulia. " A1 mengatakan, "Saya merasa lebih tenang kalau sudah salat dan bantu orang tua, karena itu yang diajarkan di " A2 juga menyampaikan, "Saya jadi tahu apa itu baik dan buruk karena dari kecil ibu dan ayah selalu jelaskan dengan contoh. " Dengan demikian, internalisasi nilai etika dan spiritualitas dalam keluarga muslim bukan hanya proses formal, tetapi merupakan proses hidup yang dinamis, kontekstual, dan menyatu dengan kehidupan anak. Nilai-nilai ini membentuk fondasi moral dan religius anak sejak dini, dan jika konsisten dilakukan, akan menjadi bagian dari karakter yang melekat hingga dewasa. Bentuk dan Metode Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas Bentuk dan metode internalisasi nilai etika dan spiritualitas dalam keluarga muslim paling awal tampak dalam metode keteladanan. Keteladanan menjadi pendekatan utama yang diaplikasikan oleh orangtua kepada anak-anak mereka dalam menanamkan nilai-nilai keislaman. O1 menyatakan. AuAnak saya itu paling gampang meniru. Jadi kalau saya rajin salat, dia juga ikut-ikutan tanpa disuruh. Ay O2 juga menekankan peran teladan dengan mengatakan. AuKalau kami ingin anak sopan, ya kami harus sopan dulu di rumah, terutama ke orang tua kami sendiri. Ay Sementara itu. O3 menyampaikan. AuSaya lebih banyak menunjukkan lewat Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas tindakan, bukan hanya ceramah. Misalnya saya tunjukkan bagaimana bersikap sabar saat marah. Ay Keteladanan ini pun ditangkap langsung oleh anak. AuKalau lihat ibu gak pernah bohong dan selalu minta maaf duluan, saya jadi ikut malu kalau berbohong. Ay A2 menambahkan. AuAyah sering bantu orang diam-diam. Katanya kalau bantu jangan pamer, nanti pahalanya hilang. Ay Dari pernyataan para informan, terlihat bahwa metode keteladanan memberikan pengaruh yang kuat karena nilai-nilai etika dan spiritualitas tidak hanya disampaikan secara verbal, tetapi ditunjukkan dalam praktik nyata. Anak-anak cenderung lebih mudah menyerap dan mereplikasi perilaku orangtua daripada memahami nasihat teoritis semata. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks keluarga muslim, keteladanan bukan hanya metode internalisasi, tetapi juga menjadi bentuk konkret dari nilai itu sendiri. Selain keteladanan, metode pembiasaan juga digunakan secara konsisten dalam internalisasi nilai etika dan spiritualitas di keluarga muslim. Pembiasaan ini diterapkan melalui aktivitas harian yang berulang, sehingga nilainilai tersebut melekat dalam perilaku anak. O1 mengungkapkan. AuSetiap pagi saya biasakan anak salat Subuh berjamaah, meskipun kadang ngantuk, lamalama jadi terbiasa. Ay O2 menyatakan. AuKami punya aturan untuk membaca doa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, supaya anak terbiasa ingat Allah. Ay O3 menambahkan. AuKalau makan kami selalu mulai dengan bismillah dan diakhiri dengan hamdalah, itu wajib di rumah. Ay A1 mengakui. AuSaya sudah otomatis baca doa kalau mau tidur atau belajar, karena dari kecil selalu disuruh Ay A2 juga menyampaikan. AuKalau pulang sekolah langsung salat, itu sudah kebiasaan di rumah, ayah pasti ingatkan. Ay Melalui pembiasaan, nilai-nilai etika dan spiritual menjadi bagian dari rutinitas anak, bukan hanya konsep teoritis. Pembiasaan yang terus-menerus membentuk pola pikir dan kebiasaan anak secara otomatis tanpa paksaan. Strategi ini tidak hanya efektif untuk menanamkan nilai spiritual seperti keikhlasan beribadah, tetapi juga nilai etika sosial seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap waktu. Oleh Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 karena itu, pembiasaan menjadi strategi internalisasi yang melekat kuat karena mengandalkan kontinuitas dan pengulangan dalam kehidupan sehari-hari. Metode dialog dan komunikasi terbuka juga terbukti berperan penting dalam proses internalisasi nilai etika dan spiritualitas dalam keluarga. Orangtua menggunakan percakapan harian sebagai media edukatif. O1 menyatakan. AuKalau anak berbuat salah, saya tidak langsung marah, tapi saya ajak bicara pelan-pelan supaya dia mengerti kenapa itu salah. Ay O2 mengungkapkan. AuKami sering diskusi tentang cerita nabi atau peristiwa yang ada dalam Islam, supaya anak bisa ambil pelajaran. Ay O3 menambahkan. AuSaya biasa tanyakan ke anak, kenapa harus bantu orang? Lalu saya arahkan ke nilai-nilai agama. Ay A1 mengatakan. AuKalau saya bingung soal teman yang curang, ibu bilang curang itu dilarang Islam dan merugikan orang lain. Ay A2 juga menyampaikan. AuKalau saya tanya kenapa harus salat lima waktu, ayah jawab karena itu tanda kita syukur ke Allah. Ay Dialog seperti ini tidak hanya memperkuat pemahaman anak terhadap nilai-nilai keislaman, tapi juga membentuk ikatan emosional antara orangtua dan anak. Anak tidak merasa digurui, tetapi diajak berpikir dan merefleksikan nilai-nilai tersebut. Komunikasi terbuka ini juga memudahkan anak menyampaikan persoalan moral dan spiritual yang mereka alami, sehingga orangtua dapat memberikan arahan yang tepat dan sesuai konteks kehidupan Metode penghargaan dan sanksi ringan juga digunakan oleh orangtua untuk menanamkan nilai etika dan spiritual. Pendekatan ini digunakan agar anak menyadari konsekuensi dari setiap tindakan. O1 menyampaikan. AuKalau anak berhasil puasa penuh, saya beri hadiah kecil, biar dia semangat dan merasa Ay O2 berkata. AuKalau anak jujur walaupun salah, saya puji dia, supaya dia tahu kejujuran itu penting. Ay O3 menjelaskan. AuKalau anak melanggar, saya tidak marah besar, cukup tidak kasih jajan favoritnya, biar dia ingat. Ay A1 mengakui. AuWaktu saya bantu ibu tanpa disuruh, ibu peluk saya dan bilang saya anak saleh. Ay A2 menuturkan. AuPernah saya bohong, terus tidak dibelikan mainan Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas yang dijanjikan ayah, katanya karena saya tidak jujur. Ay Pendekatan ini menciptakan kesadaran bahwa perbuatan baik akan mendapat apresiasi, sementara kesalahan harus disadari dan diperbaiki. Meskipun tampak sederhana, cara ini efektif karena anak-anak merespons stimulus emosional dengan cepat. Penghargaan tidak selalu berbentuk materi, tapi lebih kepada penguatan positif secara verbal dan emosional. Dengan demikian, metode ini memperkuat proses internalisasi dengan memberi ruang kepada anak untuk belajar dari pengalaman sambil tetap mendapatkan bimbingan yang tidak bersifat represif. Penggunaan cerita dan kisah-kisah Islam juga menjadi metode utama dalam menyampaikan nilai etika dan spiritualitas. Cerita digunakan untuk menyampaikan pesan moral dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami anak. O1 berkata. AuSaya sering ceritakan kisah Nabi Muhammad, terutama saat dia sabar menghadapi orang yang jahat. Ay O2 mengungkapkan. AuKami suka bacakan cerita para sahabat nabi sebelum tidur, biar anak tahu contoh nyata dari orang saleh. Ay O3 menyampaikan. AuLewat cerita, anak jadi tahu bahwa kebaikan itu selalu ada balasannya, baik di dunia maupun akhirat. Ay A1 mengatakan. AuSaya suka dengar cerita Nabi Yusuf dari ibu, katanya dia sabar walau difitnah. Ay A2 menyebutkan. AuAyah sering cerita Nabi Musa yang berani, jadi saya belajar tidak takut kalau benar. Ay Cerita berfungsi sebagai media internalisasi yang tidak menggurui, melainkan membangkitkan imajinasi dan empati anak. Anak lebih mudah memahami konsep moral dan spiritual melalui alur narasi yang konkret. Di samping itu, pengisahan tokoh-tokoh dalam Islam juga memperkenalkan identitas keislaman dan membentuk rasa bangga terhadap nilai-nilai agama. Dengan demikian, cerita menjadi metode yang efektif dalam menyampaikan pesan etika dan spiritual yang kompleks dengan cara yang ringan namun bermakna. Doa bersama dan aktivitas ibadah keluarga menjadi bentuk nyata internalisasi nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas ini bukan hanya Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 rutinitas keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat ikatan emosional dan pembentukan karakter. O1 menjelaskan. AuKami biasakan doa bersama setelah Maghrib, anak-anak duduk di sekeliling kami, dan kami berdoa bergantian. Ay O2 menuturkan. AuSalat berjamaah di rumah kami jadikan kegiatan rutin, supaya anak paham pentingnya kebersamaan dan kedisiplinan. Ay O3 menambahkan. AuKalau ada masalah keluarga, kami ajak anak berdoa bersama, agar mereka belajar tawakal. Ay A1 berkata. AuKalau saya merasa takut atau bingung, ibu selalu bilang: yuk kita doa sama-sama. Ay A2 menyampaikan. AuAyah selalu ngajak salat berjamaah dan bilang, di situ tempat kita minta kekuatan dari Allah. Ay Melalui ibadah kolektif ini, anak-anak tidak hanya belajar tata cara berdoa atau salat, tetapi juga nilai spiritual seperti keikhlasan, pengharapan, dan ketenangan jiwa. Ibadah bersama juga menciptakan suasana religius di rumah yang menjadi landasan kuat bagi pembentukan moral anak. Kegiatan ini tidak bersifat formal atau mengikat secara kaku, namun dilandasi kebersamaan dan ketulusan, sehingga internalisasi nilai berlangsung secara alami. Kontrol sosial dalam keluarga juga menjadi metode internalisasi yang tidak bisa diabaikan. Orangtua secara aktif memantau perilaku anak dan memberikan arahan jika ada penyimpangan dari nilai yang diajarkan. O1 mengatakan. AuKalau anak mulai main HP terus lupa salat, saya langsung ingatkan dengan lembut. Aojangan tinggalkan salat yaAo. Ay O2 menyatakan. AuSaya selalu awasi pergaulan anak, karena nilai baik bisa rusak kalau salah berteman. Ay O3 menegaskan. AuKalau anak pulang larut atau bicara kasar, kami langsung beri teguran agar tidak jadi kebiasaan. Ay A1 mengaku. AuKalau saya main terlalu lama dan belum belajar, ibu bilang saya sedang diuji tanggung jawabnya. Ay A2 berkata. AuAyah selalu tanya sudah salat atau belum, dan dia marah kalau saya jawab bohong. Ay Kontrol sosial yang dilakukan dalam keluarga ini bertujuan menjaga konsistensi anak dalam menjalankan nilai-nilai etika dan spiritual. Teguran dan pengawasan yang diberikan tidak bersifat menghakimi, melainkan bagian dari tanggung jawab moral orangtua dalam membentuk kepribadian anak. Melalui kontrol ini. Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki nilai dan konsekuensi, serta pentingnya menjaga perilaku sesuai ajaran Islam. Metode refleksi pengalaman juga diterapkan oleh keluarga sebagai bagian dari proses pembelajaran etika dan spiritualitas. Orangtua mengajak anak mengevaluasi pengalaman hidup mereka untuk diambil hikmah dan pelajaran O1 menyatakan. AuKalau anak sedih karena kehilangan teman, saya ajak dia bersyukur bahwa dia masih punya keluarga yang sayang. Ay O2 menyebutkan. AuSaat anak gagal ujian, saya bilang: ini kesempatan untuk belajar sabar dan usaha lebih baik. Ay O3 menambahkan. AuKalau anak buat kesalahan, saya tanya: pelajaran apa yang bisa diambil dari kejadian itu?Ay A1 mengungkapkan. AuWaktu saya dimarahi guru, ibu bilang: ini kesempatan minta maaf dan berubah lebih Ay A2 menuturkan. AuPernah saya kehilangan uang, ayah bilang: mungkin ini cara Allah ngajarin saya hati-hati dan jujur. Ay Refleksi ini menjadi sarana pendidikan karakter yang kuat karena anak diajak berpikir kritis tentang makna pengalaman mereka. Proses ini menanamkan nilai-nilai keislaman seperti kesabaran, kejujuran, syukur, dan tawakal secara kontekstual. Dengan metode ini, nilai-nilai tidak diajarkan dalam ruang hampa, tapi melalui kejadian nyata yang dialami anak, sehingga lebih membekas dalam kesadaran dan perilaku Keseluruhan metode yang diterapkan dalam keluarga tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dan membentuk sistem pendidikan nilai yang Orangtua memastikan nilai etika dan spiritualitas tertanam kuat dalam diri anak. AuSaya tidak hanya memberi contoh, tapi juga beri penjelasan dan pujian agar anak tahu nilai perbuatannya. Ay O2 menuturkan. AuKadang satu metode tidak cukup, jadi saya kombinasikan antara cerita, nasihat, dan diskusi. Ay O3 menambahkan. AuSetiap anak berbeda, jadi saya pilih metode yang cocok dengan karakter masing-masing. Ay A1 berkata. AuSaya paling suka waktu ibu bercerita sambil peluk saya, itu bikin saya lebih ingat ceritanya. Ay A2 Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 mengungkapkan. AuKalau ayah ajak diskusi sambil jalan sore, saya jadi lebih semangat ikut obrolan tentang Islam. Ay Integrasi berbagai metode menunjukkan bahwa pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman harus adaptif dan Tidak ada metode tunggal yang efektif untuk semua situasi, namun kombinasi pendekatan yang bijak dan konsisten menciptakan ruang internalisasi yang kaya dan bermakna. Dengan ini, keluarga benar-benar menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak dalam menanamkan nilai etika dan spiritualitas Islam. Faktor-faktor yang Mendukung dan Menghambat Proses Internalisasi Nilainilai Keislaman dalam Keluarga Lingkungan religius di rumah terbukti menjadi faktor pendukung utama dalam internalisasi nilai keislaman. O1 menyampaikan. AuSaya selalu upayakan rumah ini penuh dengan suasana Islami, mulai dari adab bicara sampai pemutaran murottal. Ay O2 menambahkan. AuLingkungan rumah yang bersih dan anak-anak nilai-nilai Islam. Ay mengungkapkan. AuSaya pasang poster doa harian dan kaligrafi supaya anak terbiasa melihat dan menghafal. Ay A1 berkata. AuKalau di rumah suasananya kayak masjid, jadi saya lebih suka belajar doa dan salat. Ay A2 mengakui. AuIbu sering putar lagu-lagu Islami, jadi saya hafal tanpa disuruh. Ay Suasana religius yang konsisten mempengaruhi alam bawah sadar anak, menciptakan kebiasaan yang memperkuat pemahaman nilai keislaman. Lingkungan seperti ini memperkecil peluang masuknya pengaruh negatif dari luar dan memperkuat sistem nilai internal keluarga. Penciptaan atmosfer spiritual secara tidak langsung menjadi media belajar yang efektif karena anak-anak belajar melalui pengulangan dan contoh nyata, bukan hanya teori. Rumah yang menghidupkan nilai keislaman dalam aktivitas harian mempercepat proses internalisasi dan membentuk kesadaran religius yang utuh. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan internal yang mendukung sangat penting sebagai pondasi awal dalam menanamkan nilai-nilai etika dan spiritual kepada anak-anak. Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas Keteladanan orangtua merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam mendukung proses internalisasi nilai-nilai keislaman. O1 mengatakan. AuKalau saya ingin anak jujur, saya dulu yang harus jujur meski dalam hal kecil. Ay O2 menegaskan. AuAnak saya lebih cepat paham nilai agama saat dia lihat saya langsung melakukannya, seperti memberi sedekah. Ay O3 menjelaskan. AuSaya sadar, anak lebih banyak meniru dari melihat, jadi saya jaga sikap di rumah. Ay A1 mengakui. AuSaya belajar salat tepat waktu karena lihat ayah saya tidak pernah menunda salat. Ay A2 juga menyampaikan. AuIbu saya tidak pernah marah pakai kata kasar, jadi saya juga ikut belajar bicara baik. Ay Keteladanan menciptakan proses pembelajaran yang kuat dan alami. Ketika orangtua menunjukkan sikap sesuai dengan nilai-nilai Islam, anak-anak menangkap pesan moral tersebut melalui pengamatan langsung. Ini membentuk internalisasi yang tidak bersifat menggurui, melainkan tertanam dalam kesadaran anak dari tindakan nyata. Sebaliknya, ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan orangtua justru menjadi hambatan, karena anak akan mengalami kebingungan nilai. Oleh karena itu, peran orangtua sebagai model perilaku menjadi titik krusial dalam pendidikan etika dan spiritualitas anak. Keteladanan bukan hanya sarana mendidik, tetapi juga simbol kredibilitas nilai yang diajarkan. Dengan demikian, pembentukan karakter Islami dalam diri anak sangat ditentukan oleh konsistensi perilaku orangtua dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi yang terbuka dan hangat antara orangtua dan anak sangat mendukung internalisasi nilai keislaman. O1 menyampaikan. AuSaya biasakan anak-anak cerita apa saja, jadi saya bisa selipkan nasihat agama tanpa mereka merasa digurui. Ay O2 berkata. AuKalau anak tanya soal halal haram, saya jelaskan pelan-pelan, jangan langsung dimarahi. Ay O3 menjelaskan. AuSaya selalu kasih ruang untuk anak bertanya, supaya dia nggak cari jawaban di tempat yang Ay A1 menyampaikan. AuKalau saya bingung soal agama, saya lebih suka tanya ibu karena dia jawabnya tenang dan jelas. Ay A2 mengatakan. AuAyah sering ajak ngobrol habis salat, kadang kita bahas soal hidup dan akhirat. Ay Komunikasi Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 terbuka memungkinkan terjadinya pertukaran nilai secara alami. Anak tidak merasa ditekan, tetapi didengarkan dan dihargai. Dalam suasana dialog yang sehat, proses penanaman nilai tidak terasa sebagai beban, melainkan sebagai proses tumbuh bersama. Selain itu, komunikasi yang baik mencegah kesalahpahaman dan memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri. Hal ini membentuk kedekatan emosional yang menjadi jembatan dalam pembinaan nilai-nilai etika dan spiritual. Jika komunikasi dalam keluarga bersifat tertutup atau hanya satu arah, anak cenderung mencari informasi dari luar yang belum tentu sesuai dengan nilai Islam. Oleh karena itu, membangun komunikasi terbuka adalah fondasi penting dalam proses internalisasi nilai dalam keluarga Selain lingkungan keluarga, pendidikan formal dan nonformal turut menjadi faktor pendukung dalam proses internalisasi nilai-nilai keislaman. AuAnak saya sekolah di madrasah, jadi dia banyak dapat pelajaran agama juga di sana. Ay O2 menyebutkan. AuKami ikutkan anak ke TPA, biar dia bisa belajar mengaji dan punya teman yang juga belajar agama. Ay O3 menambahkan. AuSaya ajak anak ke pengajian anak-anak di masjid setiap minggu. Ay A1 bercerita. AuDi sekolah saya, guru agama sering cerita kisah nabi yang membuat saya ingin Ay A2 mengungkapkan. AuSaya senang ikut TPA karena bisa belajar doa dan ada lomba hafalan. Ay Keterlibatan anak dalam lingkungan pendidikan keislaman secara formal maupun nonformal memperkuat nilai yang sudah ditanamkan di rumah. Hal ini menciptakan kesinambungan antara nilai yang diterima anak di rumah dengan yang dia pelajari di luar. Sinergi antara pendidikan keluarga dan pendidikan luar menjadi penting agar nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan, tetapi juga dibiasakan dalam berbagai lingkungan. Keikutsertaan anak dalam kegiatan keagamaan di luar rumah juga memperluas pemahaman mereka tentang nilai keislaman dalam konteks sosial. Pendidikan luar keluarga memberikan perspektif yang lebih luas dan memperkuat keyakinan anak akan pentingnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas Pemanfaatan teknologi dan media Islami juga menjadi faktor pendukung internalisasi nilai keislaman di era digital. O1 mengatakan. AuSaya perbolehkan anak pegang HP, tapi isinya saya arahkan, seperti video ceramah atau lagu-lagu Islami. Ay O2 menyampaikan. AuKami punya aplikasi Al-QurAoan dan doa harian di tablet anak-anak. Ay O3 menuturkan. AuSaya pilihkan film kartun Islami untuk anak supaya dia bisa belajar sambil senang. Ay A1 berkata. AuSaya sering nonton YouTube yang isinya kisah para nabi, jadi saya bisa tahu lebih banyak. Ay A2 menjelaskan. AuAda aplikasi game Islami yang bikin saya hafal surat pendek sambil main. Ay Teknologi dapat menjadi sarana yang efektif dalam proses internalisasi nilai jika digunakan secara bijak. Orangtua yang aktif memilih dan mengarahkan konten Islami dapat memanfaatkan media digital sebagai alat edukasi yang menyenangkan dan menarik bagi anak-anak. Selain memperluas sumber belajar, media digital memberikan pendekatan yang sesuai dengan gaya belajar anak zaman sekarang. Namun, ini tentu harus diimbangi dengan kontrol dan pendampingan agar anak tidak terpapar pada konten yang bertentangan dengan nilai Islam. Ketika media digunakan secara produktif, ia menjadi penunjang penting dalam memperkuat pesan moral dan spiritual yang ditanamkan dalam keluarga. Oleh karena itu, teknologi bukan penghalang, tetapi bisa menjadi alat bantu dakwah dalam keluarga jika diarahkan dengan tepat. Salah satu hambatan signifikan dalam proses internalisasi nilai keislaman adalah kesibukan orangtua. O1 mengungkapkan. AuKadang saya pulang malam, sudah capek, jadi susah untuk ajak anak ngobrol soal agama. Ay O2 menyampaikan. AuSaya kerja shift, waktu bersama anak jadi terbatas, saya khawatir dia kurang pengawasan dalam hal ibadah. Ay O3 menuturkan. AuKerjaan rumah banyak, belum lagi urus adik bayi, kadang nggak sempat ngajarin anak tentang nilai-nilai Islam. Ay A1 berkata. AuSaya sering belajar sendiri soal agama karena ayah jarang di rumah. Ay A2 menambahkan. AuIbu sering sibuk, jadi saya nonton YouTube sendiri buat tahu doa-doa. Ay Waktu yang terbatas membuat peran orangtua sebagai pendidik utama dalam keluarga menjadi tidak optimal. Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 Ketidakhadiran secara fisik dan emosional ini berpotensi menyebabkan kekosongan nilai yang kemudian diisi oleh sumber lain, baik yang positif maupun Hambatan ini memperlihatkan bahwa internalisasi nilai tidak hanya membutuhkan keteladanan dan komunikasi, tetapi juga kehadiran nyata orangtua dalam rutinitas anak. Tanpa keterlibatan aktif orangtua, nilai-nilai yang diajarkan akan lebih sulit tertanam secara mendalam. Oleh karena itu, manajemen waktu dan kesadaran orangtua untuk tetap hadir dalam kehidupan anak sangat diperlukan untuk menjaga kesinambungan proses pendidikan nilai keislaman di lingkungan keluarga. Lingkungan luar rumah, termasuk teman sebaya dan media sosial, menjadi salah satu hambatan internalisasi nilai keislaman. O1 mengatakan. AuTemanteman anak saya banyak yang bicara kasar, jadi saya khawatir dia ikut-ikutan. Ay O2 menyebutkan. AuAnak saya pernah meniru gaya bicara dari konten yang tidak sesuai, padahal saya sudah larang. Ay O3 menambahkan. AuLingkungan luar tidak bisa dikontrol, jadi saya terus ingatkan anak tentang mana yang benar dan Ay A1 bercerita. AuSaya pernah diajak teman bolos salat, tapi saya ingat pesan ibu. Ay A2 mengatakan. AuTeman-teman saya banyak yang main game sampai lupa waktu, saya kadang ikut juga. Ay Pengaruh lingkungan luar dapat mengaburkan nilai-nilai yang sudah ditanamkan di rumah, terutama jika anak belum memiliki filter nilai yang kuat. Ketika keluarga tidak mampu memberikan penguatan nilai secara konsisten, anak menjadi lebih rentan terhadap pengaruh Oleh karena itu, peran keluarga sebagai benteng nilai harus diperkuat melalui pengawasan yang bijak, komunikasi terbuka, dan penguatan identitas Islami sejak dini. Orangtua perlu menjalin relasi yang akrab dan penuh kepercayaan dengan anak agar mampu menjadi rujukan utama saat anak menghadapi tekanan dari luar. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya paham secara teori, tetapi juga memiliki keteguhan dalam mempertahankan nilai keislaman di tengah berbagai pengaruh eksternal. Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas Hambatan lain yang muncul adalah keterbatasan pemahaman orangtua terhadap konsep dan metode pendidikan keislaman. O1 mengakui. AuSaya sendiri kadang bingung menjelaskan makna doa atau ayat QurAoan secara Ay O2 menyampaikan. AuSaya tahu pentingnya akhlak, tapi saya tidak tahu cara mengajarkannya dengan metode yang tepat. Ay O3 berkata. AuSaya belum pernah ikut pelatihan parenting Islami, jadi hanya mengandalkan Ay A1 mengatakan. AuKalau saya tanya soal agama yang sulit, ibu biasanya bilang Aotanya ustaz sajaAo. Ay A2 juga menyampaikan. AuAyah jarang ngajarin langsung, paling saya disuruh baca buku agama sendiri. Ay Keterbatasan ini menyebabkan proses internalisasi nilai berlangsung kurang optimal karena pendekatan yang digunakan tidak selalu sesuai dengan perkembangan psikologis anak. Di samping itu, kekurangan dalam pemahaman bisa membuat orangtua ragu atau bahkan menghindari pembicaraan nilai keislaman yang Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan peningkatan literasi keagamaan bagi orangtua melalui pelatihan, pengajian, atau komunitas belajar keluarga Islami. Dengan memperluas wawasan, orangtua tidak hanya mampu menyampaikan nilai, tetapi juga menjawab pertanyaan anak secara logis dan menyentuh hati. Dengan demikian, proses pendidikan keislaman dalam keluarga tidak hanya bersifat turun-temurun, tetapi juga berbasis pengetahuan dan strategi mendidik yang sesuai. Berdasarkan hasil temuan, internalisasi nilai keislaman dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung seperti lingkungan religius, keteladanan, komunikasi terbuka, pendidikan luar, serta pemanfaatan teknologi O1 menyatakan. AuKalau semua unsur itu jalan, insyaAllah anak akan tumbuh jadi pribadi Islami. Ay O2 menambahkan. AuYang penting konsisten dan penuh kasih sayang. Ay O3 berkata. AuKeluarga adalah madrasah pertama, jadi kita harus benar-benar serius mendidik anak. Ay A1 menyampaikan. AuSaya merasa lebih paham Islam karena semua di rumah juga menerapkan. Ay A2 menuturkan. AuKalau semua mendukung, saya jadi lebih semangat belajar agama. Ay Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 Sebaliknya, hambatan seperti kesibukan orangtua, pengaruh lingkungan luar, keterbatasan pengetahuan orangtua, serta faktor karakter anak menjadi tantangan yang perlu diantisipasi. Kesimpulan ini memberikan implikasi bahwa internalisasi nilai tidak terjadi secara otomatis, tetapi membutuhkan usaha sadar, berkelanjutan, dan adaptif dari keluarga. Perlu adanya sinergi antara berbagai aspekAiinternal eksternalAiagar nilai-nilai dikenalkan, tetapi juga benar-benar menjadi bagian dari kepribadian anak. Penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan holistik dan kontekstual dalam pendidikan keluarga Islami, agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya religius secara formal, tetapi juga berakhlak dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini secara mengejutkan menemukan bahwa keberhasilan internalisasi nilai etika dan spiritualitas Islam dalam keluarga muslim tidak sepenuhnya bergantung pada intensitas pengajaran agama secara formal, melainkan lebih ditentukan oleh kualitas relasi emosional, komunikasi terbuka, dan keteladanan orangtua dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun keluarga telah memiliki pengetahuan dan semangat keagamaan yang tinggi, proses internalisasi tidak akan berjalan efektif jika tidak disertai dengan keterlibatan emosional yang kuat antara orangtua dan anak. Anak-anak cenderung lebih mudah menyerap nilai-nilai keislaman ketika mereka merasa dihargai, didengar, dan dilibatkan dalam proses pembentukan nilai tersebut. Temuan ini membantah anggapan umum bahwa pendekatan verbal, perintah, atau nasihat semata sudah cukup untuk membentuk karakter Islami dalam diri anak. Sebaliknya, pendekatan yang mengedepankan kasih sayang, contoh nyata dalam perilaku harian, serta dialog dua arah yang hangat terbukti jauh lebih efektif dalam menanamkan nilai etika dan spiritualitas Islam. Selain itu, tantangan dari luar seperti pengaruh media dan lingkungan pergaulan yang tidak sejalan dengan nilai Islam hanya dapat diatasi jika keluarga memiliki sistem Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas komunikasi yang kuat dan anak merasa aman secara psikologis dalam lingkungan keluarganya. Oleh karena itu, kesimpulan ini memperkuat pentingnya membangun pendidikan keluarga berbasis nilai keislaman secara holistik, yang tidak hanya berorientasi pada materi ajar, tetapi juga pada relasi dan atmosfer spiritual dalam rumah tangga. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis yang signifikan terhadap kajian pendidikan Islam, khususnya dalam memperkuat perspektif bahwa internalisasi nilai etika dan spiritualitas dalam keluarga tidak dapat dilepaskan dari konteks relasional dan afektif antara orangtua dan anak. Temuan ini memperkaya teori pendidikan Islam berbasis keluarga dengan menekankan pentingnya dimensi komunikasi, keteladanan, dan kedekatan emosional sebagai media utama internalisasi nilai. Penelitian ini juga memperluas pemahaman bahwa spiritualitas dalam keluarga bukan hanya hasil dari pengajaran normatif, melainkan hasil interaksi dinamis antara pengalaman keagamaan dan suasana psikososial dalam rumah tangga. Meski begitu, penelitian ini memiliki kelemahan, terutama dalam aspek keterbatasan data. Jumlah informan yang hanya terdiri dari tiga orangtua dan dua anak belum cukup merepresentasikan keberagaman praktik pendidikan keluarga muslim di berbagai latar sosial, ekonomi, dan budaya. Selain itu, waktu pengumpulan data yang singkat dan cakupan wilayah penelitian yang terbatas di satu desa menghambat generalisasi temuan ini ke konteks yang lebih luas. Oleh karena itu, untuk melengkapi kekurangan ini, peneliti di masa depan disarankan melakukan studi lanjutan dengan memperluas jumlah partisipan dari berbagai latar belakang serta memperpanjang durasi observasi dan wawancara. Pendekatan triangulasi metode, seperti menambahkan observasi langsung dan analisis dokumen keluarga, juga dapat digunakan agar data yang dihasilkan lebih komprehensif dan mendalam, sehingga validitas teori yang dikembangkan dapat diperkuat secara empiris. Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025 p-issn: 2964-6472. e-issn. Hal 53-73 DAFTAR REFERENSI Aisyah. Model internalisasi nilai moderasi beragama dalam pembelajaran di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Lumajang. SIRAJUDDIN: Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam, 3. , 1Ae15. https://doi. org/10. 55120/sirajuddin. Alhamid. , & Indria. Internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam pembentukan karakter pada peserta didik di SD Inpres 2 Wagom. Transformasi: Jurnal Kepemimpinan & Pendidikan Islam, 7. , 29Ae56. Alqudsi. Darsinah. , & Wafroturrahmah. Internalisasi nilai-nilai Islami dalam penguatan karakter religius dan komunikatif. Jurnal Tarbiyah Ilmu Keguruan Borneo, 4. , 1Ae15. https://doi. org/10. 21093/jtikborneo. Arifin. Etika keluarga Islam dalam perspektif pendidikan moral. Jurnal Adabiyah, 21. , 51Ae66. Basrawi. Model internalisasi nilai-nilai akhlak pada keluarga buruh perkebunan teh. Golden Age: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3. , 1Ae Fatimah. Eliyanto, & Huda. Internalisasi nilai-nilai religius melalui blended learning. Alhamra: Jurnal Studi Islam, 1. , 1Ae15. Fuziyah. Internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam hukum keluarga perspektif Al-Qur'an. Syakhshiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 1. , 1Ae15. https://doi. org/10. 32332/syakhshiyyah. Hadi. Internalisasi nilai-nilai religius melalui kegiatan ekstrakurikuler kerohanian Islam. EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, 10. , 189Ae208. Handayani. Pendidikan nilai dalam keluarga Islam: pendekatan empati dan teladan. Jurnal Tarbiyah, 27. , 220Ae235. Lazuardy. , & Fauzi. Internalisasi nilai pendidikan karakter di Madrasah Diniyah Darul Ulum Kalilangkap. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 7. , 1Ae15. Luthfan. et al. Penguatan ketahanan keluarga muslim melalui internalisasi nilai-nilai aqidah, ibadah dan moderasi beragama. JP2M, , 898Ae911. https://doi. org/10. 33474/jp2m. Maisyanah. Internalisasi nilai pendidikan agama Islam pada tradisi Meron. Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 15. , 1Ae15. Muflihin. Internalisasi nilai-nilai kearifan lokal pada pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam. Al-Fikri, 4. , 1Ae15. Muslimah. , & Asrori. Internalisasi nilai keislaman melalui program Jurnal Al-Thariqah, 7. , 182Ae198. https://doi. org/10. 25299/al-thariqah. Pendidikan Keluarga Berbasis Nilai Keislaman Sebagai Proses Internalisasi Nilai Etika dan Spiritualitas Mustofa. Internalisasi nilai keislaman dalam keluarga Muslim. Jurnal Al-Bayan, 25. , 45Ae60. Najib. Internalisasi nilai keislaman berbasis keluarga dan Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 4. , 11Ae28. Nurhayati. Pendidikan spiritual anak dalam keluarga. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 9. , 56Ae70. Purwanto. Qowaid. , & Fauzi. Internalisasi nilai moderasi melalui pendidikan agama Islam di perguruan tinggi umum. EDUKASI, 17. 110Ae124. Qomaruddin. Pembentukan karakter islami anak melalui pembiasaan dan pengawasan. Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 45Ae60. Rafsanjani. , & Razaq. Internalisasi nilai-nilai keislaman terhadap perkembangan anak di Sekolah Dasar Muhammadiyah Kriyan Jepara. Profetika: Jurnal Studi Islam, 20. , 16Ae29. Rahman. Peran komunikasi keluarga dalam pendidikan etika anak. Jurnal Komunikasi Islam, 13. , 95Ae110. Ramdhani. Parenting Islami dan pembentukan karakter anak. Psikologia: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 13. , 77Ae90. Rosyada. Penguatan nilai-nilai spiritualitas Islam dalam keluarga. Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam, 11. , 115Ae130. Salim. Tantangan keluarga muslim dalam membentuk karakter anak di era digital. Jurnal Ilmu Dakwah, 43. , 89Ae104. Sari. , & Ahmad. Strategi keluarga muslim dalam menginternalisasi nilai Islam pada era digital. Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 24. , 1Ae14. Suwito. Keteladanan orangtua dalam pembentukan akhlak anak. Jurnal Al-Tarbiyah, 8. , 21Ae34. Wibowo. Peran ibu dalam pendidikan karakter anak usia dini. Jurnal Golden Age, 5. , 145Ae160. Yusri. Pendidikan spiritualitas Islam: Dari keluarga ke masyarakat. Jurnal Ilmiah Al-Furqan, 4. , 117Ae133. Zamroni. Spiritualitas Islam dalam pendidikan keluarga modern. Jurnal Fikrah, 11. , 101Ae115. Zulfa. Pengaruh interaksi sosial dalam keluarga terhadap pembentukan nilai religius. Jurnal Sosial Humaniora, 10. , 87Ae99. Al Yazidiy VOLUME 7. NO. Mei 2025