Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH PADAT MEDIS DAN NON MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. BAHARUDDIN. KES KABUPATEN MUNA TAHUN 2024 Fardan Illahi1. Marheni Fadillah Harun 2*. Noviani Munsir3 STIKes Pelita Ibu *marhenifh@pelitaibu. Received: 11-03-2024 Revised: 19-05-2024 Approved: 25-05-2024 ABSTRACT Management of medical and non-medical waste at the dr. Baharuddin Regional General Hospital. Muna Regency, faces a number of challenges even though sorting and containerization efforts have been carried out in accordance with applicable This study aims to analyze the management of solid medical and nonmedical waste at the hospital, focusing on aspects of sorting, containerization, transportation, storage, and final processing. The method used is qualitative with observation techniques and in-depth interviews. The results of the study indicate that the waste sorting process at the dr. Baharuddin Regional General Hospital has been running according to standards, but there are still obstacles in the understanding of patient families about waste classification, which causes medical and non-medical waste to be mixed. The waste container process has met the established standards, although there is a need to improve the container technology. Waste transportation is carried out separately, but there are shortcomings in the use of Personal Protective Equipment (PPE) by cleaning staff. Storage of medical waste at the Temporary Shelter (TPS) is adequate, but the cooling facilities are not functioning optimally. Final processing of medical waste is carried out by a third party because RSUD dr. Baharuddin does not have an incinerator, and non-medical waste processing is carried out by the Environmental Service (DLH). This study suggests increasing education for patient families, using new technology in containers, increasing the frequency of waste transportation, improving storage facilities, and periodic evaluation of waste processing by third parties. Further efforts are needed to overcome obstacles in waste management that are in accordance with the geographical and demographic conditions of Muna Regency. Keywords: Waste Management. Medical Waste. Non-Medical Waste. Muna Regency PENDAHULUAN Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang memiliki peranan strategis dalam memberikan layanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat. Sebagai lembaga yang menyediakan berbagai jenis pelayanan medis seperti rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat, rumah sakit juga turut berkontribusi terhadap tercapainya tujuan pembangunan kesehatan, termasuk dalam mendukung tercapainya cakupan kesehatan universal dan tujuan pembangunan berkelanjutan (WHO, 2. Salah satu dampak yang tak terhindarkan dari aktivitas rumah sakit adalah penghasilannya limbah, baik yang berasal dari kegiatan medis maupun non medis. Limbah ini dapat berbentuk padat, cair, atau gas dan memerlukan pengelolaan yang baik agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia (Kotika et al. , 2. Limbah medis dan non medis yang dihasilkan oleh rumah sakit jika tidak dikelola dengan benar dapat mencemari lingkungan dan menjadi sumber penyebaran penyakit. Oleh karena itu, pengelolaan limbah rumah sakit harus dilakukan dengan cara yang Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 efisien dan sesuai dengan standar yang berlaku (Habibi, 2. Pengelolaan limbah yang tidak optimal berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan dan gangguan lingkungan yang lebih luas, seperti penyakit menular, infeksi nosokomial, atau kerusakan ekosistem (Kementerian Kesehatan RI, 2. Untuk memastikan bahwa limbah medis dapat dikelola dengan baik, diperlukan prosedur yang jelas yang mencakup pemilahan, pewadahan, pengangkutan, penyimpanan, hingga pemusnahan limbah sesuai dengan ketentuan yang berlaku (PERMENKES, 2. Menurut laporan World Health Organization (WHO, 2. , hampir 80% dari limbah yang dihasilkan oleh rumah sakit adalah limbah umum, sementara 20% lainnya berupa limbah bahan berbahaya yang berpotensi menular, beracun, atau radioaktif. Limbah infeksius, benda tajam, limbah kimia, farmasi, dan limbah genotoksik semuanya perlu ditangani secara terpisah untuk meminimalisir risiko yang dapat ditimbulkannya (Singh et al. , 2. Secara global, pengelolaan limbah medis terus menjadi tantangan, terutama dengan meningkatnya jumlah limbah medis selama pandemi COVID-19 yang menambah beban pengelolaan limbah di seluruh dunia, termasuk di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia (Fernandez, 2. Pengelolaan limbah rumah sakit di Indonesia masih menghadapi berbagai Berdasarkan data Kemenkes . , sebagian besar rumah sakit di Indonesia telah melakukan pemisahan antara limbah medis dan non medis . ,7%), namun masih banyak yang belum memenuhi standar dalam hal pewadahan yang sesuai (Adisasmito. Di RSUD dr. Baharuddin, yang merupakan rumah sakit umum daerah di Kabupaten Muna, pengelolaan limbah telah dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada, meskipun masih terdapat tantangan terkait pemahaman masyarakat, terutama keluarga pasien, tentang klasifikasi limbah (Profil RSUD dr. Baharuddin, 2. Dalam pengelolaan limbah medis, penting untuk memiliki wadah yang sesuai untuk masing-masing jenis limbah agar tidak terjadi kontaminasi. Pewadahan yang tepat akan meminimalkan potensi penyebaran penyakit dan menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit (PERMENKES, 2. Proses pengangkutan limbah juga perlu dilakukan dengan hati-hati dan menggunakan jalur khusus yang tidak mengganggu area perawatan pasien. Namun, penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tidak konsisten oleh petugas kebersihan masih menjadi kendala utama dalam mencegah paparan limbah medis (Habibi, 2. Selain itu, pengolahan limbah medis yang memerlukan incinerator sebagai fasilitas pemusnahan juga menjadi tantangan bagi rumah sakit yang berada di tengah kota, mengingat adanya regulasi terkait lokasi insenerator (Singh et al. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengelolaan limbah medis dan non medis di RSUD dr. Baharuddin dengan fokus pada pemilahan, pewadahan, pengangkutan, penyimpanan, dan pemusnahan limbah, serta mengeksplorasi solusi untuk mengatasi berbagai kendala yang ada, khususnya yang berkaitan dengan kesadaran masyarakat dan pemanfaatan teknologi pengelolaan limbah (Adisasmito, 2. METODE PENELITIAN Penelitian kualitatif menurut (Heryadi, 2. merupakan proses penyelidikan naturalistik yang mencari pemahaman mendalam tentang fenomena secara sosial Penelitian kualitatif menekankan pada kualitas bukan kuantitas dan data-data yang dikumpulkan bukan berasal dari kuesioner melainkan berasal dari wawancara, observasi langsung dan dokumen resmi yang terkait. Penelitian kualitatif juga lebih mementingkan segi proses dari pada hasil yang di dapat. Hal tersebut disebabakan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang fditeliti akan jauh lebih jelas jika diamati dalam Lokasi penelitian adalah di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Baharuddin. Kes Kabupaten Muna Tahun 2024. Teknik analisa data yang dipergunakan oleh Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 penelitian menggunakan model Miles and Huberman dalam buku Sugiyono . analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, serta sesudah terselesaikan pengumpulan data pada periode eksklusif. Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara interaktif dan berlangsung secara hingga tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian di RSUD dr. Baharuddin, pengelolaan limbah medis dan non medis telah dilakukan dengan cukup baik meskipun beberapa tantangan masih dihadapi. Proses pemilahan limbah dilakukan dengan memisahkan limbah medis dan non medis sesuai dengan peraturan yang berlaku, dengan menggunakan kantong plastik berlabel sesuai karakteristik masing-masing jenis Namun, kendala utama ditemukan pada kurangnya pemahaman keluarga pasien mengenai klasifikasi limbah yang menyebabkan tercampurnya beberapa jenis Pewadahan limbah medis dilakukan dengan menggunakan wadah yang kedap air, tahan karat, dan mudah dibersihkan, sesuai dengan standar yang ditetapkan. Proses pengangkutan limbah juga telah dilakukan dengan menggunakan jalur khusus yang jauh dari keramaian orang, namun terdapat kendala terkait penggunaan alat pelindung diri (APD) yang belum sepenuhnya digunakan oleh petugas kebersihan. Proses pengolahan akhir limbah medis dilakukan oleh pihak ketiga dengan pengangkutan limbah ke Batam untuk dimusnahkan, sedangkan limbah non medis langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sidodadi. Meskipun sudah sesuai dengan peraturan, rumah sakit masih menghadapi kendala dalam pengadaan insenerator karena letak rumah sakit yang berada di tengah kota dan dekat dengan Tabel 4. 1 Sarana dan Prasarana Unit Luas . A) Bangunan rumah sakit Rumah jabatan Direktur Rumah jabatan Dokter Luas keseluruhan Tabel 4. 2 Tenaga Kepegawaian Profesi Dokter Perawat Bidan Penunjang Umum dan administrasi Jumlah keseluruhan PNS Kontrak Jumlah seluruh Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Tabel 4. 3 Karakteristik Responden Nama Umur Jenis Kelamin Status Kepegawaian Perempuan Laki-Laki Laki-Laki Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Pendidikan PNS PNS Honorer Honorer Honorer Honorer SMA SMA SMA Lama Kerja Tahun 20 Tahun 2 Tahun 5 Tahun 4 Tahun 2 Tahun PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian ini, pengelolaan limbah medis di RSUD dr. Baharuddin sudah cukup baik meskipun masih ada beberapa tantangan yang perlu Pemilahan limbah medis dan non medis sudah dilakukan dengan benar sesuai dengan peraturan yang berlaku, dengan masing-masing jenis limbah dibedakan menggunakan kantong plastik yang sudah diberi label sesuai karakteristiknya. Hal ini menunjukkan bahwa rumah sakit sudah mengikuti pedoman yang diterapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai pengelolaan limbah medis di fasilitas kesehatan. Namun, kendala utama yang ditemukan adalah kurangnya pemahaman dari keluarga pasien terkait klasifikasi limbah. Pemahaman yang terbatas mengenai jenis limbah yang harus dipisahkan mengakibatkan tercampurnya limbah medis dengan limbah non medis, yang berpotensi meningkatkan risiko infeksi atau Oleh karena itu, perlu adanya upaya lebih lanjut untuk meningkatkan edukasi kepada keluarga pasien, misalnya melalui sosialisasi atau pelatihan di ruang tunggu atau melalui pengumuman di rumah sakit. Proses pewadahan limbah medis di RSUD dr. Baharuddin dilakukan dengan menggunakan wadah yang kedap air, anti karat, dan mudah dibersihkan. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Permenkes No. 7 Tahun 2019 yang mengharuskan penggunaan wadah yang aman dan memenuhi standar untuk limbah medis, terutama limbah infeksius dan benda tajam. Penggunaan safety box untuk limbah tajam sudah dilakukan dengan tepat. Proses pengangkutan limbah menggunakan jalur khusus yang jauh dari keramaian merupakan langkah yang baik untuk mencegah paparan limbah medis kepada masyarakat umum, meskipun masih ada beberapa kendala terkait kurangnya penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh petugas kebersihan. Sementara itu, pengolahan akhir limbah medis yang dilakukan oleh pihak ketiga sudah sesuai dengan prosedur, di mana limbah medis yang tidak dapat dihancurkan di rumah sakit dibawa ke Batam menggunakan kontainer untuk Namun, rumah sakit masih menghadapi tantangan besar dalam hal pengadaan insenerator sendiri. Masalah ini muncul karena regulasi yang mengatur lokasi pendirian insenerator yang harus memiliki jarak tertentu dari pemukiman penduduk dan juga harus dibangun lebih tinggi dari bangunan rumah sakit. Mengingat lokasi rumah sakit yang berada di pusat kota, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, kerjasama dengan pihak ketiga untuk pengolahan akhir limbah medis masih menjadi solusi yang paling memungkinkan, meskipun pengangkutan limbah medis hanya dilakukan setiap tiga bulan sekali. Pengelolaan limbah non medis di RSUD dr. Baharuddin sudah berjalan dengan baik, di mana limbah non medis langsung dibuang ke TPA Sidodadi setelah dikumpulkan dan diangkut menggunakan viar. TPA yang dikelola oleh pemerintah daerah telah memenuhi syarat dan proses pembuangannya tidak menimbulkan Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 masalah besar. Namun, perlu diperhatikan bahwa dalam pengelolaan limbah ini, koordinasi antara petugas pengelola sampah, petugas kebersihan, dan pihak terkait lainnya perlu terus ditingkatkan, agar pengelolaan limbah dapat berjalan dengan lancar dan aman. Secara keseluruhan, meskipun sudah ada upaya yang baik dalam pengelolaan limbah medis dan non medis di RSUD dr. Baharuddin, beberapa kendala teknis dan kesadaran masyarakat serta tenaga medis harus terus ditangani. Untuk itu, disarankan agar pihak rumah sakit meningkatkan pelatihan dan sosialisasi, serta memperkuat kerjasama dengan pihak ketiga dalam pengolahan limbah medis. Selain itu, perbaikan dan pemeliharaan fasilitas seperti insenerator atau fasilitas pengolahan limbah lainnya juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan limbah di rumah sakit ini. KESIMPULAN Berdasarkan Pengelolaan limbah medis dan non medis di RSUD dr. Baharuddin sudah dilakukan dengan baik, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Proses pemilahan, pewadahan, dan pengangkutan limbah medis serta non medis sudah sesuai standar. Namun, tantangan utama adalah kurangnya pemahaman keluarga pasien mengenai klasifikasi limbah, yang mengakibatkan pencampuran Proses pengolahan akhir limbah medis sudah dilakukan oleh pihak ketiga, meskipun rumah sakit masih terkendala dalam pengadaan insenerator. Penyimpanan limbah medis di Tempat Penampungan Sementara (TPS) berjalan lancar, meski ada penumpukan karena pengangkutan yang dilakukan setiap tiga bulan. Secara keseluruhan, pengelolaan limbah sudah baik, namun masih perlu peningkatan dalam sosialisasi, pelatihan, dan pengadaan fasilitas pengolahan limbah, terutama REFERENCE