Prosiding Konferensi Nasional STIKes Mayapada AuArtificial Intelligence Dan Revolusi Kesehatan: Tantangan Dan Peluang Angkatan 1 Jakarta, 17 Januari 2026 Artikel Penelitian HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN PRAKTIK PEMBERIAN MP-ASI PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI POLI ANAK RS X Dewi Nuranggeraini1*. Lucia Utami CB1. Regina Vidya Trias Novita2 STIK Sint Carolus. Jakarta . Indonesia STIKes Mayapada. Jakarta. Indonesia Alamat Afiliasi. *Corresponding email: srluciautamicb22@gmail. Abstrak Latar belakang penelitian ini adalah masih ditemukannya ibu yang kurang memahami waktu, frekuensi, dan tekstur MP-ASI sesuai rekomendasi, sehingga berisiko mengganggu pemenuhan gizi bayi dan meningkatkan kemungkinan stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan praktik pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) pada bayi usia 6Ae12 bulan di Poli Anak RS X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki bayi berusia 6Ae12 bulan di Poli Anak RS X. Sampel sebanyak 40 responden ditentukan dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner pengetahuan ibu tentang MP-ASI dan kuesioner praktik pemberian MP-ASI. Analisis data univariat dan bivariat dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu memiliki pengetahuan baik tentang MP-ASI sebanyak 24 orang . %) dan praktik pemberian yang sesuai sebanyak 27 orang . ,5%). Uji bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dengan praktik pemberian MP-ASI pada bayi usia 6Ae12 bulan dengan nilai p-value = 0,003 . < 0,. Kesimpulannya, semakin baik pengetahuan ibu maka semakin optimal pula praktik pemberian MP-ASI, yang berkontribusi pada pemenuhan gizi bayi dan pencegahan stunting. Saran dari penelitian ini adalah perlunya peningkatan edukasi dan pendampingan kepada ibu mengenai pemberian MP- ASI sesuai rekomendasi, baik oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan maupun melalui program penyuluhan masyarakat, agar praktik pemberian MP-ASI dapat lebih optimal. Kata kunci: Bayi. Gizi. MP-ASI. Pengetahuan Ibu. Praktik Abstract The background of this study is that there are still mothers who do not fully understand the timing, frequency, and texture of complementary feeding (CF) as recommended, which may interfere with fulfilling infantsAo nutritional needs and increase the risk of stunting. This study aimed to determine the relationship between the level of maternal knowledge and the practice of providing complementary feeding to infants aged 6Ae12 months at the Pediatric Clinic of Hospital X. The research applied a quantitative descriptive-correlational design with a cross-sectional approach. The population included all mothers with infants aged 6Ae12 months at the Pediatric Clinic of Hospital X, with a total sample of 40 respondents determined through total sampling. Data were collected using a questionnaire on mothersAo knowledge of complementary feeding and a questionnaire on complementary feeding practices, and analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-square test. The results showed that most mothers had good knowledge of complementary feeding . respondents, 60%) and appropriate feeding practices . respondents, 67. 5%). The bivariate analysis demonstrated a significant relationship between maternal knowledge and complementary feeding practices for infants aged 6Ae12 months, with a p-value of 0. < 0. It can be concluded that the better the maternal knowledge, the more optimal the practice of complementary feeding, which contributes to fulfilling infantsAo nutrition and preventing stunting. This study suggests the need to strengthen education and assistance for mothers regarding recommended complementary feeding practices, both through healthcare services and community-based programs, to achieve more optimal Keywords: Infant. Nutrition. Complementary Feeding. Maternal Knowledge. Practice Prosiding Konferensi Nasional STIKes Mayapada PENDAHULUAN Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) merupakan komponen penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi bayi, khususnya pada usia 6Ae24 bulan. Meskipun demikian, praktik pemberian MP-ASI dini, yaitu sebelum bayi mencapai usia enam bulan, masih banyak ditemukan di negara berkembang termasuk Indonesia. Rendahnya tingkat pengetahuan ibu mengenai waktu dan cara pemberian MP-ASI menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi fenomena ini. Penelitian Antoni . di Puskesmas Nangalo Padang menunjukkan bahwa pengetahuan ibu mengenai MP-ASI berada pada kategori rendah sehingga praktik pemberian MP-ASI sebelum usia enam bulan masih tinggi. Penelitian lain oleh Safitri dan Mulyaningsih . di Desa Pengkol. Jawa Tengah, juga menemukan bahwa mayoritas ibu memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori sedang, yang turut berkontribusi terhadap ketidaktepatan praktik pemberian MP-ASI. Bayi usia enam bulan telah mengalami peningkatan kebutuhan energi dan zat gizi yang tidak dapat dipenuhi hanya dari ASI. Oleh karena itu. WHO . merekomendasikan pemberian MP-ASI yang tepat waktu, adekuat, aman, serta sesuai kemampuan bayi untuk mencegah gangguan pertumbuhan, defisiensi zat gizi, dan keterlambatan perkembangan. Syarifuddin dan Najmi . menjelaskan bahwa bayi pada usia 6Ae24 bulan telah siap menerima MPASI dengan tekstur dan porsi yang meningkat secara bertahap hingga mencapai makanan keluarga. Periode ini merupakan fase kritis yang menentukan status gizi dan perkembangan anak. Secara global, praktik pemberian MP-ASI dini masih menjadi tantangan. WHO . melaporkan bahwa hanya 40% bayi di dunia yang menerima ASI eksklusif, sementara 60% lainnya telah diberikan MP-ASI sebelum usia enam bulan. Rendahnya cakupan ASI eksklusif ini turut memengaruhi kualitas pertumbuhan anak. Negara-negara di Asia seperti India. Filipina. Vietnam, dan Myanmar juga mencatat cakupan ASI eksklusif yang masih rendah (WHO, 2. Kondisi tersebut berdampak pada tingginya prevalensi stunting di berbagai negara, termasuk Indonesia yang mencapai 21,6% pada tahun 2022 (RGN, 2. Data tersebut menunjukkan bahwa praktik pemberian MP-ASI yang tidak tepat masih menjadi masalah nutrisi yang signifikan. Risiko stunting meningkat seiring bertambahnya usia bayi, khususnya pada periode 6Ae23 bulan. RGN . melaporkan bahwa angka risiko stunting meningkat 1,6 kali dari kelompok usia 6Ae11 bulan ke kelompok usia 12Ae23 bulan, yaitu dari 13,7% menjadi 22,4%. Peningkatan ini mengindikasikan adanya ketidaktepatan dalam pemberian MP-ASI, baik dari segi waktu, frekuensi, jumlah, tekstur, maupun variasi makanan. Pemberian MP-ASI yang tidak tepat tidak hanya meningkatkan risiko stunting, tetapi juga dapat menghambat perkembangan kognitif anak. Faktor lain yang memengaruhi praktik pemberian MP-ASI meliputi pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu. kondisi sosial ekonomi. paparan iklan susu formula. serta kurangnya dukungan tenaga kesehatan. Madani . menyatakan bahwa banyak ibu belum memahami prinsip pengenalan makanan baru secara bertahap, yang idealnya dilakukan dengan interval 4Ae7 hari untuk memantau respons tubuh Sebagian ibu juga lebih memilih makanan instan karena dinilai praktis, padahal makanan yang dibuat sendiri lebih aman dan sehat. Citerawati . menambahkan bahwa promosi produk susu formula secara masif turut memengaruhi persepsi dan keputusan ibu dalam memberikan makanan kepada bayi. WHO dan IDAI menegaskan bahwa MP-ASI sebaiknya diberikan mulai usia enam bulan, karena pada usia ini sistem pencernaan bayi telah lebih matang dan siap menerima makanan pendamping (WHO. Pemberian MP-ASI terlalu dini dapat menyebabkan gangguan pencernaan, alergi, risiko infeksi, serta menurunkan produksi ASI yang masih sangat dibutuhkan untuk menunjang imun bayi. Hidayat et . menegaskan bahwa pemberian MP-ASI dini juga dapat berdampak pada perkembangan emosional dan kognitif anak secara jangka panjang. Prosiding Konferensi Nasional STIKes Mayapada Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada Desember 2024 di Poli Anak RS X melalui wawancara terhadap 10 ibu dengan bayi berusia 12Ae24 bulan menunjukkan bahwa 60% ibu telah memberikan MPASI sejak usia empat bulan, dan 40% lainnya tidak mengetahui frekuensi pemberian MP-ASI yang Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan yang signifikan mengenai pemberian MP-ASI yang benar, baik dari segi waktu maupun cara pemberiannya. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Praktik Pemberian MP-ASI Pada Bayi Usia 6Ae12 Bulan Di Poli Anak RS X. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program edukasi dan intervensi yang lebih efektif dalam meningkatkan praktik pemberian MP-ASI yang tepat sesuai rekomendasi. METODE Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional dengan uji statistik Chi-square untuk menguji hubungan antara tingkat pengetahuan dan praktik pemberian MPASI. Sampel berjumlah 40 responden menggunakan teknik total sampling, dengan kriteria inklusi yaitu ibu yang memiliki bayi usia 12Ae24 bulan, hadir di Poli Anak RS X selama periode penelitian, mampu membaca dan menulis, serta bersedia menjadi responden. Responden yang tidak dapat menyelesaikan pengisian kuesioner maka termasuk kriteria eksklusi. Instrumen penelitian terdiri dari dua kuesioner, yaitu kuesioner tingkat pengetahuan ibu mengenai MP-ASI yang mencakup empat domain utama . aktu pemberian, frekuensi makan, tekstur sesuai usia, dan variasi bahan makana. , serta kuesioner praktik MP-ASI yang digunakan untuk menilai kesesuaian pemberian makanan berdasarkan rekomendasi WHO dan Kementerian Kesehatan RI. Uji validitas dan reliabilitas untuk instrumen telah dilakukan dengan Alpha Cronbach 0. Izin penelitian no 036/KEPPKSTIKSC/IV/2025. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Distribusi dan Frekuensi Karakteristik Ibu Di Poli Anak Rs. Karakteristik Responden Usia 20-30 tahun 31-40 tahun Total Pendidikan SMA/SMK Perguruan Tinggi Total Pekerjaan PNS Karyawan Swasta Buruh Tidak Bekerja Total (Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2. Distribusi frekuensi karakteristik berdasarkan tingkat pendidikan pendidikan dari keseluruhan 40 responden, sebanyak 30 0rang . %) memiliki pendidikan perguruan tinggi. Responden dengan pendidikan SMA/SMK berjumlah 10 orang . %). Hasil penelitian menampilkan Prosiding Konferensi Nasional STIKes Mayapada mayoritas responden memiliki pendidikan tinggi. Distribusi frekuensi karakteristik berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa dari 40 responden, sebanyak 2 orang . %) bekerja sebagai PNS, 19 orang . ,5%) bekerja sebagai karyawan swasta, 7 orang . ,5%) bekerja sebagai buruh, dan 12 orang . %) tidak bekerja, mayoritas responden berdasarkan hasil penelitian diketahui bekerja. Tabel 2 Distribusi dan Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Di Poli Anak RS. Pengetahuan (%) Baik Kurang Baik Total (Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2. Distribusi frekuensi karakteristik berdasarkan pengetahuan ibu menunjukkan bahwa dari 40 responden, sebanyak 24 orang . %) memiliki pengetahuan baik dan 16 orang . %) memiliki pengetahuan kurang baik. Mayoritas responden diketahui berdasarkan hasil penelitian memiliki pengetahuan yang baik Tabel 5. Distribusi dan Frekuensi Praktik Pemberian MP-ASI Di Poli Anak RS. Praktik Tepat Kurang Tepat Total (Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2. (%) Distribusi frekuensi karakteristik berdasarkan praktik pemberian MP-ASI menunjukkan bahwa dari 40 responden, sebanyak 27 orang . ,5%) memiliki praktik pemberian MP-ASI yang tepat dan 13 orang . ,5%) memiliki praktik pemberian MP-ASI yang yang kurang tepat. Hasil penelitian didapatkan sebagian responden melakukan pemberian MP-ASI dengan tepat. Prosiding Konferensi Nasional STIKes Mayapada Tabel 4 Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Praktik Pemberian MP-ASI Pada Bayi Usia 6-12 Bulan Di Poli Anak RS X Praktik Pemberian MP-ASI Pengetahuan Ibu Tepat Baik Kurang Baik Total (Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2. Tidak Tepat Total Value Hasil penelitian menunjukkan dari keseluruhan responden yang berjumlah 40, sebanyak 21 orang ibu . ,5%) memiliki pengetahuan yang baik dan memberikan MP-ASI dengan tepat. Sebagian kecil responden yaitu sebanyak 6 orang ibu . ,5%) yang memiliki pengetahuan kurang baik, mampu memberikan MP-ASI dengan tepat, dan sebanyak 10 orang ibu . ,5%) yang memiliki pengetahuan kurang baik memberikan MP-ASI dengan kurang tepat. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia 20Ae35 tahun dan merupakan ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan menengah. Karakteristik ini berpengaruh terhadap kemampuan ibu dalam menerima informasi kesehatan, khususnya terkait pemberian MPASI. Menurut Notoatmodjo . , usia produktif dan pendidikan yang memadai mendukung kemampuan kognitif individu dalam memahami dan menerapkan informasi kesehatan. Temuan ini sejalan dengan Wulandari & Sari . yang melaporkan bahwa ibu usia produktif cendern g memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik mengenai nutrisi anak. Pada penelitian ini, tingkat pengetahuan ibu sebagian besar berada pada kategori baik . %) atau 24 dari 40 responden. Pengetahuan yang baik ini dapat dipengaruhi oleh edukasi dari tenaga kesehatan dan paparan informasi dari media. Penelitian Sari & Handayani . menunjukkan bahwa edukasi petugas kesehatan berperan besar dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai jenis, jadwal, dan komposisi MP-ASI. Kondisi ini relevan dengan pelayanan di poli anak RS X yang rutin memberikan penyuluhan kepada ibu selama kunjungan balita. Praktik pemberian MP-ASI oleh ibu juga menunjukkan hasil yang baik. Sebanyak 27 responden . ,5%) telah menerapkan praktik pemberian MP-ASI dengan tepat, seperti waktu pemberian yang sesuai . ulai usia 6 bula. , tekstur bertahap, variasi menu, serta kebersihan penyajian. Temuan ini konsisten dengan penelitian Rachmawati . yang juga menemukan bahwa pengetahuan ibu berhubungan erat dengan ketepatan praktik pemberian makan. Hasil analisis inferensial menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dan praktik pemberian MP-ASI . -value = 0. Ibu dengan pengetahuan baik ditemukan lebih banyak melakukan praktik tepat, yakni 87,5% . dari 24 ib. Sebaliknya, ibu dengan pengetahuan kurang baik lebih banyak melakukan praktik kurang tepat, yaitu 62,5% . dari 16 ib. Pengetahuan menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku kesehatan, seperti dijelaskan dalam teori Green . , bahwa pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang sangat menentukan tindakan seseorang. Hasil ini sejalan dengan penelitian Yuliana & Putri . serta Astuti . yang menunjukkan bahwa pengetahuan ibu memiliki hubungan signifikan dengan praktik pemberian makanan pada bayi dan Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan pengetahuan ibu melalui edukasi kesehatan berperan besar dalam memperbaiki praktik pemberian MP-ASI, yang pada akhirnya mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi usia 6Ae12 bulan. Prosiding Konferensi Nasional STIKes Mayapada KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai MP-ASI, yaitu 60% . Praktik pemberian MP-ASI juga sebagian besar dilakukan secara tepat oleh 67,5% responden . Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dan praktik pemberian MP-ASI pada bayi usia 6Ae12 bulan di poli anak RS X . -value = Ibu dengan pengetahuan baik cenderung melakukan praktik MP-ASI yang tepat, yaitu 87,5% . dari 24 ib. Oleh karena itu, edukasi kesehatan mengenai MP-ASI perlu ditingkatkan secara berkelanjutan guna meningkatkan kualitas pemberian nutrisi dan mendukung pertumbuhan optimal UCAPAN TERIMAKASIH Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian yang berjudul AuHubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Praktik Pemberian MP-ASI pada Bayi Usia 6Ae12 Bulan di Poli Anak RS XAy dapat diselesaikan dengan baik. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pimpinan dan seluruh sivitas akademika Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus, para dosen pembimbing dan dosen penguji atas bimbingan, arahan, serta dukungan yang telah diberikan selama proses penyusunan penelitian ini. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Direktur, manajemen, dan seluruh staf Rumah Sakit Premier Bintaro yang telah memberikan izin dan dukungan dalam pelaksanaan penelitian, serta kepada para dokter dan tim kesehatan yang telah membantu kelancaran pengambilan data. Ucapan terima kasih yang tulus penulis sampaikan kepada seluruh responden atas partisipasi dan kerja Tidak lupa kepada suami, anak, keluarga, dan teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan doa, semangat, dan dukungan. Penulis menyadari penelitian ini masih memiliki keterbatasan, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA