Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 Fenomena Enjo Kosai Dikalangan Remaja Putri dan Kaitannya Dengan Penurunan Jumlah Kelahiran Di Jepang Husnan Nazhori1*. Hermansyah Djaya2 Hargo Saptaji Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang. Fakultas Bahasa dan Budaya. Universitas Darma Persada E-mail: gambareherman@gmail. com, nama@alamat. com, saptajihargo@gmail. AbstrakAi Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis tentang Fenomena Enjo Kosai Dikalangan Remaja Putri dan Kaitannya Dengan Penurunan Jumlah Kelahiran Di Jepang. Fenomena Enjo Kosai merupakan kebebasan seksual yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah aborsi yang berdampak kepada jumlah kelahiran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab Enjo Kosai, dampak yang ditimbulkan Enjo Kosai, serta untuk mengetahui kaitannya terhadap penurunan kelahiran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Enjo Kosai merupakan penyebab penurunan jumlah kelahiran di Jepang secara tidak langsung. Enjo kosai menyebabkan meningkatnya kehamilan di luar nikah yang mengacu kepada tindak aborsi yang dilakukan oleh remaja sehingga menurunkan jumlah kelahiran. Keywords - Enjo Kosai. Enko. JK. Joshi Kosei. Penurunan. Seks bebas. PENDAHULUAN Gambar 1. Piramida penduduk Jepang Jepang merupakan sebuah negara yang memiliki 852 pulau dengan pulau Honshuu Ou Osebagai pulau terbesar, wilayah daratan Jepang sekitar 97% terdapat pada 4 pulau utamanya, dengan 70-80% wilayah Jepang terdiri dari pegunungan berhutan yang dapat digunakan sebagai pertanian, industri, dan pemukiman. ( DBpedia. AuAbout : JepangAy , 2. Dengan wilayah yang begitu luas, menurut sensus kependudukan Jepang, negara ini memiliki total populasi sekitar 125,50 juta jiwa pada 2021, dan masuk peringkat 11 di dunia dan merupakan 1,6% dari total dunia. Kepadatan populasi Jepang diukur 338,2 orang per kilometer persegi. Pada tahun 1950, jumlah anak yang lahir sebanyak 35,4% sedangkan pada 2003 jumlahnya turun menjadi 14%, sementara populasi manula meningkat menjadi 19%. Hingga akhirnya di tahun 2020 jumlah penduduk di Jepang menjadi 126,15 juta. (Handbook of Japan, bab 2 : Populas. Sumber : Statistics Bureau. MIC Populasi Jepang per 1 Oktober 2022 sebanyak 947 ribu jiwa, turun sebanyak 556 ribu jiwa dibandingkan tahun sebelumnya dengan tingkat penurunan 0,44 persen, menurun selama 12 tahun berturut-turut. Penduduk laki-laki sebesar 60,758 mengalami penurunan sebesar 261 ribu . ,43 perse. , sedangkan penduduk perempuan sebesar 64,189 mengalami penurunan sebesar 294 ribu . ,46 perse. seperti yang terlihat pada tabel Gambar 2. Tabel komposisi penduduk Jepang Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. Sumber : Handbook of Japan, 2022 Penurunan ini memiliki banyak sekali penyebab, seperti tidak ingin menikah, focus pada karir, aborsi, dan biaya hidup yang tinggi. Di Jepang kebutuhan hidup tergolong tinggi, dilansir dari com dalam situs resmi Ceoworld . jepang menduduki peringkat ke-6 negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia. Menurut data dari The Economist Intelligence (EIU) pada 2021 dalam laporan yang berjudul Worldwide Cost Living (WCOL) melakukan perhitungan dari 400 harga individu ada pada 200 lebih produk dan layanan di 173 kota dengan tujuan menentukan kota dengan biaya hidup termahal, hasilnya Jepang masuk 10 besar Negara dengan biaya hidup termahal di dunia Mahalnya biaya hidup di Jepang membuat masyarakat kesulitan terutama para remaja. Di era modernisasi ini, kebutuhan sekunder lebih diutamakan, para remaja berlomba-lomba agar terlihat fashionable dan kekinian,di tambah dengan adanya sifat konsumsif yang tinggi membuat mereka tergiur ingin memiliki barang branded dan ternama, akan tetapi mereka membutuhkan uang yang lebih banyak agar bisa memenuhi kebutuhan sekunder mereka. Tingginya kebutuhan sekunder para remaja membuat mereka mencari cara untuk mendapatkan uang tambahan, yang mengakibatkan timbulnya fenomena Enjo-Kousai. Enjo-Kousai adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena siswi SMA atau SMP yang menjual waktu dan tubuh mereka pada pria dewasa untuk mendapatkan sejumlah uang (Thollar, 2. Fenomena Enjo-Kousai ini lahir pada akhir tahun 1990-an di Jepang, disertai munculnya fenomena Telephone Club atau di Jepang disebut Terekura dan sampai saat ini fenomena ini masih terus Akan tetapi Enjo-Kousai ini dianggap sebagai salah satu prostitusi remaja oleh masyarakat dan di cap illegal oleh banyak Negara. Fenomena ini disebut juga sebagai Enko atau JK (Joshi-Kouse. karena melibatkan para remaja sekolah menengah yang mencari cara untuk Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 mendapatkan uang jajan tambahan agar bisa mendapatkan barang mewah atau untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada pertemuan pertama biasanya remaja ini hanya ditugaskan menemani pria dewasa untuk sekedar makan, mengobrol, karoke atau menonton bioskop, namun seiring intensnya mereka, akhirnya terjadilah hubungan badan yang mengacu kepada seks bebas. Dari dari seks bebas ini lah terjadi peningkatan kasus kehamilan diluar nikah yang mana pada kasus ini para remaja akan memilih untuk menggugurkan kandungan mereka. Praktek aborsi inilah yang juga menjadi faktor penyebab penurunan angka kelahiran, di Jepang aborsi merupakan tindakan legal yang dilindungi oleh Undang-Undang Perlindungan Eugenika. Dilansir dari media online Japan Times, menurut Kementrian Kesehatan Jepang, ada 145. 340 kasus aborsi yang terjadi pada tahun 2020, kemudian pada 2021 ada 126. 170 kasus aborsi yang Pada tahun 2021 sekitar 9 ribu kasus aborsi dilakukan oleh pasien dibawah usia 20 Dari beberapa faktor penurunan angka kelahiran di Jepang, pada penelitian ini akan meneliti Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari fenomena Enjo-Kosai dan bagaimana kaitan antara fenomena Enjo Kosai dengan penurunan kelahiran di Jepang. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang digunakan untuk menjabarkan dan menggambarkan sebuah fenomena sosial tertentu (Bungin, 2. , menurut Sanjaya . 5 : . metode ini memiliki tujuan untuk menjabarkan secara utuh dan mendalam mengenai realitas sosial dan berbagai fenomena yang terjadi didalam masyarakat yang menjadi subjek pada penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan ialah melalui studi kepustakaan, menurut Mestika Zed . , studi kepustakaan ialah aktivitas yang berhubungan dengan metode pengumpulan data pustaka melalui membaca, mencatat, serta mengolah bahan penelitian. Studi pustaka mengutamakan dan mengambil bahan penelitian dari perpustakaan seperti buku, jurnal, skripsi terdahulu,web, maupunpun majalah sebagai sumber, adapun sumber lain seperti rekaman audio. Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 video, maupun film juga termasuk sumber data Kemudian penulis juga akan mengambil sumber dari dokumen yang tersedia di internet seperti blog atau artikel yang masih berkaitan dengan tema penelitian. sekala kecil maupun besar, pada bab kali ini, penulis ingin memaparkan sebuah fenomena yang bersifat sosial dan hingga kini masih terjadi, pelaku dari fenomena ini merupakan anak dibawah umur, yaitu Fenomena Enjo kosai. Teknik Analisis yang digunakan pada penelitian ini berupa Analisi Narasi yang mana penulis berusaha untuk menyampaikan data dengan narasi atau cerita yang memuat seluruh data terkait. Adapun teori yang penulis gunakan ialah Teori Sosiologi Pertukaran (Exchange Theor. yang mana merupakan pendekatan dalam sosiologi yang memandang interaksi sosial sebagai alat tukar untuk mendapatkan keuntungan dan menghindari kerugian, yang mana dalam fenomena Enjo Kosai yaitu remaja yang terlibat dalam hubungan saling menguntungkan dengan pria paru baya sebagai bentuk pertukaran melalui finansial atau materi. 1 Fenomena Enjo-Kousai Fenomena Enjo-Kousai atau yang bisa disingkat sebagai Enko ini merupakan fenomena sosial yang menarik di Jepang, dikarenakan pelaku dari fenomena ini merupakan 2 orang dengan usia yang terpaut jauh, yang mana seorang remaja smp atau sma dengan klien yang rata-rata usianya sudah menginjak usia paruh baya. Para gadis ini menjual tubuh mereka demi nilai komersial secara sukarela dan tanpa paksaan. Hubungan ini merupakan hubungan saling menguntungkan yang mana ada kesenangan dan kebutuhan dari masing-masing dua pihak (Zakaria, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut penelitian yang dilakukan oleh Asian WomenAos Fund, satu dari 20 gadis sekolah menengah mengaku melakukan praktik ini demi uang dan sebagian besar dari mereka dipengaruhi oleh percakapan bersama teman mereka dan juga karena sikap keluarga mereka. Survey yang dilakukan Mamoru Fukutomo dari Universitas Tokyo Gakugei dengan cara mewawancarai sekitar 30 siswa SMP dan 600 siswa SMA yang berpusat pada kota Tokyo mendapatkan kesimpulan bahwa sebanyak 5 persen dari 600 siswa sekolah menegah yang disurvei berkata kalau mereka pergi berkencan dengan imbalan uang atau hadiah. Setengah dari mereka pernah berhubungan seks dengan pasangan kencannya. Mereka yang terlibat bisnis ini cenderung terpengaruh oleh teman mereka yang sudah terlibat lebih dahulu (The Japan Times, 1. Enjo-Kousai merupakan sebuah fenomena yang hingga saat ini masih terjadi di Jepang. Fenomena ini merupakan hubungan antar 2 orang dengan jenis kelamin yang berbeda dan juga pautan umur yang tergolong cukup jauh, dengan masing masing tujuannya yaitu mencari kesenangan dan keuntungan pribadi. Akan tetapi dikarenakan fenomena ini merupakan fenomena yang bersangkutan dengan sebuah hubungan, maka tidak jarang sebuah hubungan melakukan kegiatan seksualitas, terlebih jika diberikan uang maka mereka akan bersedia menyerahkan tubuhnya. Memberikan dampak yang sangat berbahaya, seperti kehamilan diluar nikah yang berujung kandungannya digugurkan, penyakit sex menular HIV/AIDS sehingga dampak ini mempengaruhi dan merugikan demografi Negara. Hal ini lah yang menyebabkan fenomena ini menjadi serius di Jepang dan telah menarik perhatian dunia internasional. Dan pada bab ini, penulis akan mengkaitkan fenomena ini dengan penurunan angka kelahiran di Jepang berdasarkan data Ae data yang penulis peroleh. Enjo-Kousai sebagai sebuah fenomena Hal baru yang terjadi di sekitar masyarakat dapat disebut fenomena, di dunia ini semua hal bisa terjadi dan menimbulkan efek baru terhadap kehidupan masyarakat, fenomena dapat bersifat alamiah, sosial, ekonomi, atau budaya. Fenomena ini biasa terjadi di dalam suatu negara dengan Para pria paruh baya yang menggunakan jasa Enko ini dikenal dengan isitlah AuTamaranaiAyyang artinya tak tertahankan, secara harfiah yaitu orang yang memiliki ketertarikan yang tidak bisa terkontrol. Sebuah keadaan di mana kaum pria yang berusia 30-an ke atas tertarik dengan seorang gadis remaja yang masih berusia 15 tahunan. Ketertarikan mereka ini didukung dengan banyaknya produksi film porno dengan mengangkat tema gadis remaja berseragam sekolah, bahkan di manga adegan seperti pemerkosaan dan penyiksaan gadis sekolah cukup popular. Hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian yang di berikan dari istri kepada suami sehingga suaminya mencari jalan lain Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. dalam mengisi kekosongan dihatinya dngan cara menjadi penikmat Enko. Ini terjadi karena faktor istri yang lebih memilih karirnya dibandingan kewajibannya menjadi seorang istri. (Hays, 2. Disisi lainnya, gadis sekolah juga membutuhkan uang agar dapat memenuhi kepuasan batin dan lifestyle mereka. Biasanya mereka memposting diri secara sembunyi-sembunyi atau terang-tarangan, seperti menempelkan foto mereka di arcade atau pusat permainan, mereka mencantumkan nomor telepon dan pesan yang berisi Ausaya ingin uangAy. Ausaya mencari kekasihAy atau Ausaya akan memberikan apapun yang anda inginkanAy. Kasus lain mereka memposting pesan di sebuah situs perjodohan atau situs khusus. Sedangankan secara terang-terangan seperti menawarkan diri melalui pihak ketiga atau disebut mucikari, tugas dari mucikari ialah mencarikan klien untuk para gadis, biasanya mucikari ini mengiklankan para gadis melalui poster-poster yang dapat dibaca dengan tujuan menarik rasa penasaran para pria atau dengan mengiklankan melalui majalah. Dalam kasus lain ada juga gadis yang menawarkan dirinya kepada pejalan kaki, seperti yang terjadi di chanel youtube Dark side of Japan Yuki, ketika youtuber ini sedang jalan disebuah kawasan Ikebukuro. Yuki melihat seorang gadis berumur 18 tahun yang sedang berdiri di depan sebuah hotel, gadis itu menunggu seseorang lewat kemudian menawarkan dirinya secara langsung dengan mengatakan AuAOIEAiCeCEayyang kalau diartikan secara harfiah menjadi Auapakah kamu ingin melakukannya?Ay, kemudian gadis itu mengatakan bahwa tarifnya seharga 300 dollar seperti pada gambar dibawah ini (Dark Side of Japan Yuki. Runaway girl in front of love hotel in Japan became h00ker. Ikebukuro Tokyo. 3 Remaja Putri Sebagai Pelaku Enjo-Kousai Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa pelaku dari Enko ini merupakan seorang remaja yang masih bersekolah yang mana mereka menjual diri mereka untuk sebuah nilai Keinginan dan kebutuhan masing Ae masing mampu membuat mereka termotivasi untuk memenuhi sebuah kebutuhan dalam memuaskan hasrat mereka. Hal ini yang membuat niat dari seseorang muncul dan melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhannya (Susilowati, 2. Tindakan yang sering kali dilakukan oleh remaja berupa hal-hal yang negatif, dikutip dari The Japan Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 Times . menurut catatan kepolisian Jepang, remaja putri dalam rentan usia 15-19 tahun adalah yang paling cepat dan banyak dalam tindak Tindakan yang biasa dilakukan remaja putri adalah pencurian di toko-toko dan melakukan tindak pelacuran. Hal ini bisa terjadi karena semakin berkembangnya gaya hidup yang menjunjung kebebasan dalam bertingkah laku membuat kaum remaja melupakan tingkatan masyarakat sebagai orang yang belum dewasa dan harus menyadari bahwa mereka masih dilapisan masyarakat bagian bawah dan di atas mereka ada lapisan masyarakat yang lebih senior dan harus (Matsumoto, 2. Pada usia tersebut merupakan usia yang masih labil dan tidak menyenangkan karena di usia inilah seseorang akan mengalami perubahan yang signifikan seperti fisik, psikis dan juga sosial. Ketika masa perubahan ini, kemungkinan akan muncul yang namanya masa krisis dan mencari jati diri dengan ditandai adanya perilaku menyimpang oleh remaja. Hal ini disebabkan oleh emosi yang tidak stabil dan cenderung berubah-ubah yang menyebabkan menjadi sulit untuk memahami diri mereka sendiri. (Semiun, 2. Akibatnya banyak remaja putri yang melakukan tindak berbahaya untuk sekedar mencari jati diri atau agar dapat memiliki uang. Banyaknya kasus prostitusi di Jepang sebagian besar disebabkan oleh remaja putri, bahkan yang mengejutkannya adalah sebagian remaja putri merupakan pribadi yang cerdas, sensitive dan juga termasuk golngan keluarga menengah biasa (Asmarani, 2. Sehingga dikarenakan maraknya kasus prostitusi remaja. Jepang dianggap sebagai titik distribusi internasional utama untuk pornografi anak. Ada beberapa cabang pornografi dibawah umur yang di produksi di Jepang seperti. AuLiliconAy sebuah sebutan untuk gadis praremaja. AuShojo-aiAy sebuah sebutan untuk anak perempuan berusia 7 hingga 20 tahun, dan sebagainya. Di lansir dari New York Times. Jepang merupakan Negara yang relative toleran kepada sebuah penjualan terbuka dan konsumsi yang berorientasi Mereka menjual DVD porno secara luas, dengan berbagai genre yang disediakan, sebagai contoh banyaknya DVD dengan genre anak sekolah , sebuah majalah menampilakan seorang remaja sekolahan, yang mana artis yang debut dalam industru ini bernama Akari iinuma yang Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. berusia 13 tahun, dalam DVD-nya ia berpose dengan bikini putih mungil, membuat popcorn dengan kostum pelayan, atau bermain bola pantai sambil disemprot dengan air (Hiroko Tabuchi. Penggambaran gadis muda yang memancing ini biasa disebut sebagai idol atau idol junior, hal ini lazim di majalah. DVD, maupun video web. Salah satu contoh majalah yang dikhususkan untuk foto-foto tersebut yaitu majalah Sho-Bo yang berisi gadis-gadis sekolah dasar yang berpose, model akan dibayar sekitar 200. 000 yen untuk tiap sesi Ditahun 1990-an Jepang dianggap sebagai sumber pornografi anak di dunia dengan presentase 80%, disusul dengan berkembangnya fenomena EnjoKosai, hingga saat ini Jepang sebagai Negara penghasil situs porno terbanyak ke-3 setelah Amerika dan Rusia. Juru bicara Komite Jepang untuk UNICEF. Hiromasa Nakai mengatakan bahwa banyak tersebar pornografi anak di Jepang membuat mudah mereka-mereka yang memiliki obsesi atau fetish kepada anak dibawah umur untuk mengembangkan minat seksual pada anak-anak. Membiarkan karya-karya seperti ini berarti memberikan fasilitas kepada orang yang memiliki obsesi dan mendukung minat mereka pada gadisgadis muda. (Hiroko Tabuchi. New York Times. Menurut situs resmi Departement Amerika Serikat, dalam laporan perdagangan manusia 2022 di Jepang. Jepang tetap berada ditingkat 2 dalam kasus perdagangan manusia, pada tahun 2021 pemerintah Jepang melaporkan 627 kasus Aupelacuran anakAy yang melibatkan setidaknya 540 pelaku dan 408 korban. Pada tahun tahun sebelumnya angka ini juga tidak mengalami perubahan signifikat, lebih dari 600 kasus pada tahun 2020, 784 kasus pada tahun 2019, 700 kasus pada tahun 2018, 956 kasus pada tahun 2017. (U. Departement of State, 2. Hal ini yang menginspirasi banyak remaja purti untuk menjual diri mereka kepada para pria dengan fetish anak dibawah umur yang bertujuan mendapatkan uang tambahan, banyak remaja yang ditawari uang untuk berhubungan seks atau untuk foto telanjang, atau juga permintaan untuk menjual pakaian dalam bekas mereka pakai. Pada tahun 1999 tarif untuk berhubungan seks dengan anak berusia 16 tahun sekitar 250$ dan untuk anak berusia 12 tahun sekitar $400, namun dimasa Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 sekarang tarif merupakan kesepakatan antara 2 belah pihak yang telah mereka setujui sebelumnya (Hays, 2. 4 Kasus Praktik Enjo-Kosai Enjo-Kosai merupakan bagian dari sebuah prostitusi JK yang mana berisikan gadis sekolah dibawah umur yang menawarkan jasanya kepada pria paru baya. Mutsumi Ogaki mengatakan bahwa bisnis ini memiliki beberapa jenis layanan yang dapat diberikan gadis sekolah kepada pelanggan, seperti AuOsanpoAy yang dimana pelanggan dapat mengajak jalan-jalan gadis sekolah. AuCafyAy yaitu layanan yang diberikan gadis sekolah untuk menjadi teman mengobrol dan bermain game sembari menemani minum, dan ada juga AuRifureAy yaitu layanan pijat olah gadis sekolah dan pelanggan diperbolehkan tidur bersama atau tidur dipangkuan gadis sekolah. (Ogaki, 2. Bayaran yang didapat pelaku berbeda-beda tergantung dari jenisnya, beberapa gadis dapat menghasilka uang yang cukup banyak untuk bersenang-senang $5. berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada gadis berusia 16 tahun yang namanya tidak disebutkan, dapat diketahui bahwa dia memperoleh $2. 500 dalam sebulan dari AupapaAy nya, dan berkata bahwa ini adalah bisnis, gadis ini juga berkata bahwa dia tidak akan membiarkan pria menyentuhnya dengan gratis. Gadis lainnya yang berusia 17 tahun mengatakan bahwa sekali berkencan ia dapat menghasilkan $300 hingga $1000, remaja ini mengatakan bahwa kasihan terhadap gadis-gadis yang menghabiskan seluruh waktu luang mereka hanya untuk bekerja paruh waktu, sehingga mereka tidak dapat memamerkan hasil dari pendapatan mereka. Akibatnya beberapa siswi dilaporkan melacurkan diri dan menggunakan uang yang mereka peroleh untuk membeli tas Louis Vuitton, parfum Chanel, dan tas tangan Prada, menjelaskan hal ini seorang jurnalis Jepang bertahun-tahun gelombang ekonomi, media menyebarkan gagasan bahwa menghasilkan uang dengan cara apapun merupakan hal yang baik. Akibat dari pernyataan tersebut para gadis remaja ini tidak merasa bahwa yang mereka lakukan ini buruk. (Hays, 2. Wawancara lainnya bersama Seorang gadis yang mengaku telah mulai melakukan Enjo-Kosai di tahun kedua sekolah menengah, gadis ini mengaku bahwa ia telah melakukan hubungan seks dengan Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. pelanggannya, dan merasa bahwa hal yang paling aneh ketika bertemu seseorang untuk pertama kalinya dan menidurinya di hari yang sama. Gadis ini mengatakan bahwa dia pergi kesekolah seperti biasa, dan dia baru saja putus dengan kekasihnya, karena gadis ini merasa sulit untuk melupakan meninggalkan pesann tentang diri nya di dunia maya dan memilih pasangan untuk diajak seks, gadis ini memilih pria berdasarkan usia dan pekerjaan mereka, gadis ini mengatakan pada kencan pertamanya, ia dan pasangan kencannya bertemu di statiun Kyoto setelah mereka saling mengirim pesan selama seminggu, gadis ini berkata mereka makan malam di restoran Italia dan setelahnya mereka menuju ke hotel cinta, gadis ini bercerita ketika di hotel mereka berbincang biasa di kamar, kemudian perbincangan yang menjurus kepada seks, setelahnya gadis ini pergi untuk mandi dan diikuti oleh pria pasangan kencannya ini dan melakukan seks. Gadis ini berkata bahwa ia menggunakan kondom agar tidak hamil, setelahnya pria paruh baya ini mengantarkan gadis ini kembali ke stasiun dan membayarnya sebesar 50. 000 yen, gadis ini juga bercerita di kencan yang lain, ia menerima cincin Gucci, tetapi dijual dan uangya digunakan untuk bersenang-senang. (Hays, 2. Gadis lainnya yang diwawancarai oleh Jurnalis bernama Barnaby Lo, memperkenalkan dirinya dengan nama Yuki. Saat diwawancarai Yuki berusia 18 tahun dan ia merupakan gadis Yuki mengakui bahwa awalnya ia menemukan tempat ini . elakukan Enk. di twitter, saat Yuki baru saja kabur dan pindah ke Tokyo dan ia di haruskan mencari pekerjaan. Yuki mengatakan bahwa pekerjaanya cukup simple yaitu hanya memberikan pijatan kecil dan juga pelukan kepada pelanggan. Yuki menjelaskan bahwa ia berbaring disebelah pelanggan sambill berpelukan atau memberikan pahanya untuk dijadikan bantal. Ia mengatakan bahwa akan melakukannya untuk menghibur dan memberikan Yuki mengatakan bahwa bentuk dari penyembuhan yang dilakukannya adalah membiarkan pelanggannya berbicara tentang pekerjaan atau kehidupannya dan Yuki akan mendengarkan. Tarif menggunakan jasa Yuki yaitu $100 untuk 1 jam, dan juga Yuki menguntungkan secara finansial. Akan tetapi yuki mengatakan bahwa alasannya bertahan bukan Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 hanya pada uang, tetapi pada rasa senang yang diberikan pelanggannya, ia mengatakan hal yang paling menyenangkan baginya adalah ketika dirinya mendapatkan pujian dari pelanggannya seperti mengatakan bahwa dirinya cantik dan muda. Yuki mengatakan selama ia menjalani pekerjaan ini belum ada yang melakukan pelecehan atau kekerasan fisik terhadap dirinya. (Barnaby, 2. Berdasarkan beberapa contoh kasus yang kesimpulannya bahwa pelaku Enko merupakan remaja yang ingin mendapatkan uang jajan lebih untuk memenuhi hasrat mereka dalam sifat materialis dan hedonis. Mereka mengetahui bahwa tubuhnya memiliki harga kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan uang dengan cara cepat dan 5 Faktor Ae Faktor Yang Menyebabkan Remaja Terlibat Enjo kosai Setiap kejadian di dunia ini pasti ada penyebabnya, begitu pula dengan Fenomena EnjoKosai ini, terdapat beberapa faktor yang melahirkan dan mempertahankan fenomena ini, seperti perubahan pola pikir masyarakat, kemajuan Negara, dll. Maka pada bagian ini penulis ingin memaparkan beberapa faktor penyebab adanya fenomena ini Gaya Hidup Konsumtif dan Budaya Popular Gaya hidup konsumtif berlandaskan kepada kecenderungan seseorang untuk memprioritaskan keinginan dan materi yang berlebihan, bahkan kecenderungan ini melebihi batas kemampuan pada keuangan mereka. Pada dasarnya remaja sangat mudah terpengaruh oleh budaya konsumtif melalui media cetak, iklan, ataupun sosial media, sehingga demi memenuhi gaya hidup konsumtif ini beberapa remaja rela untuk menggadaikan tubuhnya untuk mencukupi kapasitas keuangan mereka supaya bisa membeli barang-barang yang mewah. Alasan mereka ingin tampil mewah sebagai bentuk pengekspresian diri terhadap terhadap sesama teman, melalui trend fashion. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh media untuk menarik perhatian dan rasa ingin memiliki dari para remaja dan menjadikan remaja sebagai sasaran jual dengan cara menyuguhkan berbagai macam info mengenai Media-media seperti majalah, televisi, iklan billboard yang menjadi sarana informasi dari para Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 Mudahnya para remaja mencari informasi mengakibatkan sifat Acquicition Centrality mereka berkembang, yang mana sifat ini menempatkan keyakinan bahwa kepemilikan barang dan uang merupakan tujuan hidup yang paling penting (Belk. Dipusat kota Jepang seperti di Akihabara. Shibuya maupun Shinjuku, merupakan tempat yang memperlihatkan fesyen mereka, para remaja sering kali pergi ke sana untuk sekedar belanja barangbarang yang sedang trend dikalangan mereka. Hingga akhirnya tempat tersebut banyak didatangi remaja untuk dijadikan tempat hiburan tersendiri bagi mereka dan menjadi simbol dari kehidupan remaja yang konsumtif. dikaitkan dengan peningkatan risiko anak terlibat kedalam fenomena Enjo Kosai (Sakurai, 2. Bagi remaja Jepang, sebuah merek, harga, dan kualitas merupakan hal yang sangat penting bagi Dan bagi remaja yang memiliki sifat Acquicition Centrality mereka akan melalukan apapun untuk memenuhi kebutuhan fesyen mereka. Sebagai contoh penulis ingin memaparkan hasil wawancara yang dilakukan oleh Al-Jamie dalam artikelnya berjudul JapanAos Schoolgirls Get Sex Education On The Street, bersama gadis yang menyebut dirinya sebagai Miki, mengatakan bahwa ia melakukan Enjo Kosai untuk memenuhi gaya hidupnya yang konsumtif, ia mengatakan selalu menghabiskan duitnya untuk sekedar membayar tagihan telepon genggam terbaru yang ia beli dan juga untuk belanja barang barang tren dan bermerek terbaru. Ia mengatakan melakukan Enjo Kosai karena bisa mendapatkan uang dengan cepat (Al-Jamie, n. Para remaja yang tidak memiliki tempat untuk pulang biasanya menumpang di rumah teman ataupun tempat yang bisa dijadikan persinggahan seperti warnet dan kebanyakan dari mereka merupakan korban dari kekerasan dan pelecehan di Kata-kata yang biasa mereka keluarkan untuk menyalahkan keadaan seperti Auaku harap tidak lahir diduniaAy atau Au aku sangatlah tidak berhargaAy menjadi kata-kata yang mereka ucapkan ketika mereka sedang menghadapi tekanan yang Akibatnya mereka menjadi down dan memilih menyerah terhadap kenyataan, dan membuat para remaja mudah terjerumus dalam perilaku yang menyimpang, dan mereka memilih jalur seperti Enjo Kosai untuk mendapatkan uang dengan mudah (TheJapan Reporter, 2. Berdasarkan cerita dari Miki, dapat kita simpulkan bahwa sifat konsumerisme ini menjadi faktor remaja untuk melakukan Enjo Kosai, remaja akan hidup untuk memenuhi kehidupan konsumtif mereka, tekanan sosial diantara pelaku dengan lingkungan juga mempengaruhi sifat konsumtif pelaku, dan mereka rela melakukan apapun termasuk Enjo Kosai untuk mendapatkan uang dengan cara yang cepat. 1 Keluarga Yang Tidak Harmonis Seringkali keluarga menjadi alasan remaja melakukan Enjo Kosai, peran keluarga menjadi salah satu pegangan hidup bagi seorang anak dan dapat mempengaruhi keputusan dan perilaku Seorang anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang tidak harmonis, dapat Hasil wawancara yang dilakukan oleh jurnalis bernama Barnaby dalam video dokumenternya, mengikuti Jun Tachibana dari Bond Projek, sebuah organisasi nirlaba yang mendedikasikan projek mereka untuk membantu para wanita muda yang tersesat dan bermasalah. Ketika Jun bertanya kepada para gadis remaja tentang mengapa mereka tidak ingin pulang kerumah? Jun mendapatkan jawaban bahwa para gadis sering kali memiliki masalah di rumah seperti kekerasan dalam kehidupan berkeluarga dan itulah penyebab mereka ragu untuk pulang (CGTN,2. Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting bagi remaja atas pengendalian diri mereka, remaja yang memiliki keluarga harmonis cenderung akan merasa aman dan jauh dari sifat meyimpang, berbanding terbalik dengan remaja yang keluarganya tidak harmonis, mereka lebih memilih untuk menjadi gadis pelarian tanpa arah yang akhirnya terjerumus kedalam hal-hal negatif dari pada harus kembali ke rumah mereka yang penuh dengan kepedihan. 2 Akhir dari pelaku Enjo-Kosai Para gadis pelaku Enjo-Kosai telah menganggap bahwa ini merupakan pekerjaan paruh waktu yang menguntungkan dan efisien dalam mendapatkan uang, alasan mereka simple mereka dapat berhubungan dengan orang asing karena mereka tidak memilki perasaan dan menanamkan suggest bahwa ini adalah pekerjaan. Menurut Maruta ada Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. dua kategori Enjo-Kosai sebagai kompensasi psikologi, yaitu. Pertama dikarenakan seorang gadis yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis dan mendapatkan trauma dari keluarganya sendiri, trauma yang mereka dapatkan berupa trauma fisik yang meliputi pemerkosaan, atau dianiaya oleh orang tuanya, dan juga trauma psikis atau mental seperti perceraian orang tua. Akan tetapi mengartikan pengalaman seperti ini sebagai penyebab lngsung Enjo-Kosai kurang tepat, namun tetap ada hubungan psikologis antara keduannya, yang mana mereka kekurangan rasa cinta dan mengalami perasaan kesepian. Lainnya dikarenakan gadis remaja yang hanya ingin mendapatkan pengalaman seksual dan bersenang-senang. Menjadi mungkin untuk mereka menaruh harga atas tubuh mereka (Wakabayashi. Namun pada akhirnya pelaku Enko akan dihadapkan pada pilihan masa depan, apakah mereka akan tersadar ataukah mereka akan terjun lebih dalam lagi. Dalam wawancara yang dilakukan oleh channel youtube The Japan Reporter pada tahun 2020, ditampilkan seseorang yang mengaku bahwa ia merupakanan mantan pelaku Enjo-Kosai, ia memperkenalkan dirinya dengan nama Megumi Arina, dirinya menyebutkan bahwa setelah lulus sekolah ia langsung terjun ke dalam dunia Menurut dirinya saat masih melakukan Enko, ia melihat banyak dari senior di sekolahnya yang melakukan Enko dan karena hal itulah ia jadi merasa tidak sendiri dan tidak merasa dikucilkan, walau ia tahu bahwa yang ia lakukan adalah hal yang salah dan illegal, ia tetap melakukannya waktunya itu hingga lulus sekolah. Ia mengatakan bahwa melakukan bisnis di industri prostitusi tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukannya ketika masih menjadi Enko, menurutnya sangat mudah. Dirinya menyebutkan bahwa ketika di usia 16 hingga 20 tahun, ia menggunakan peran karakter sebagai gadis baik dan lugu sehingga berhasil menarik banyak pria berusia 30 hingga 50 tahun untuk memakai jasanya. (TheJapanReporter, 2. Dalam wawancara lain yang dilakukan oleh channel youtube CGTN, menampilkan seorang Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 gadis sekolah berusia 16 tahun bernama Asuka Morita. Asuka merupakan gadis pelarian yang kabur dari rumahnya, ia mengatakan alasannya karena keadaan rumahnya yang tidak harmonis, dan ia menyaksikan sendiri ketika ibunya dipukuli oleh Akibat melihat hal tersebut terus menerus membuatnya tak tahan untuk berada dirumah dan memilih untuk menghabiskan waktu diluar rumah atau mencari teman lewat internet. Ia mengatakan bahwa awalnya ia dan teman internetnya hanya makan dan minum bersama di luar, namun lama kelamaan mereka meminta halhal yang berbau seksual, seperti meminta untuk foto dengan pose yang cabul. Suatu ketika ia menyadari bahwa uang dan kartu identitasnya dicuri dan hal itu dijadikan sebagai alat untuk memerasnya dengan cara mengancam akan membeberkan apa yang asuka lakukan selama ini (CGTN,2. Berdasarkan dari pengakuan para mantan pelaku Enjo Kosai di atas, dapat diketahui bahwa selain karena sifat konsumerisme yang berkembang di kalangan remaja, ada pula pelaku yang masuk kedalam praktik ini dikarenakan ketidakharmonisan keluarganya, seperti kasus yang dialami oleh Asuka yang tidak tahan dengan keadaan di rumahnya, dan ada juga yang melakukan Enjo Kosai karena merasa tertantang dan penasaran untuk mencoba Enko dikarenakan terpengaruh oleh teman sebaya maupun lingkungan yang memberikan tekanan kepada seseorang untuk ikut mencoba Enko, seperti yang dilakukan oleh Arina. Dan tidak semua pelaku Enko akan menjadi pelacur atau berakhir menjadi manusia gagal, ada juga yang pada akhirnya berhasil keluar dari zona merah menuju zona putih. Dampak Enjo Kosai terhadap pelaku dan masyarakat Jepang Setiap kejadian di dunia ini pasti ada penyebabnya, begitu pula dengan Fenomena Enjo-Kosai ini, terdapat beberapa faktor yang melahirkan dan mempertahankan fenomena ini, seperti perubahan pola pikir masyarakat, kemajuan Negara, dll. Maka pada bagian ini penulis ingin memaparkan beberapa faktor penyebab adanya fenomena ini 1 Dampak Psikologis Enjo-Kosai dapat didefinisikan sebagai penyakit yang menggerogoti para calon penerus bangsa, dan fenomena ini memberikan dampak kepada pelaku secara kesehatan mental dan kesehatan fisik. Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. Kurangnya moral yang dimiliki para remaja memunculkan fenomena ini. Menteri Kehakiman Ms. Moriyama dalam pidatonya di Kongres Dunia Kedua dengan tema AuMenentang Eksploitasi Seksual AnakAy yang dilangsungkan di Yokohama. Jepang, menyebutkan bahwa Fenomena ini terbentuk karena kurangnya moral (Mclellan, 2013: Hal ini telah menarik beberapa ahli untuk mengetahui bagaimana dampak secara psikologis terhadap pelaku Enjo-Kousai. Menurut Torngren dan kato remaja putri yang terlibat kedalam bisnis Enjo Kosai ini cenderung akan mengalami rasa bersalah dan malu karena terkait keikutsertaan Hal ini dikarenakan mereka akan dihadapkan kepada norma sosial atau nilai-nilai tradisional yang dapat menimbulkan perasaan negatif terhadap harga diri dan emosional mereka (Torngren & kato, 2019: . Akibatnya kebanyakan dari pelaku Enjo Kosai akan hidup dengan beban yeng berat sehingga mereka rentan mengalami tingkat kecemasan dan depresi yang Beban emosional inilah yang memberikan beban berat sehingga menyebabkan stress kepada pelaku (Lee&Zhou, 2015: . Hal ini menimbulkan krisis identitas bagi remaja putri, mereka akan merasakan bingung terhadap entitas diri sendiri seperti bingung tentang siapa mereka, nilai apa yang mereka anut, bagaimana mereka dipandang, dan apa tujuan mereka dilahirkan (Lee, 2005: . , sehingga mereka akan berpikir bahwa diri mereka tidak bernilai dan mereka akan merasa menyesal karena telah Pada akhirnya pelaku Enjo Kosai akan mengalami kesulitan untuk membangun hubungan romantis yang sehat dan bermakna, karena sebelumnya hubungan yang mereka jalani cenderung didasari kepada motif material dan finansial, akibatnya mereka kurang puas secara emosional dan dapat membangun ikatan yang lebih intim dan saling mendukung (Lee&Zhou, 2. 2 Dampak Kesehatan Fenomena Enjo Kosai menjadi pelopor terhadap dampak kesehatan secara seksual, hal ini dikarenakan pelaku Enjo Kosai mungkin terlibat dalam hubungan seksual tanpa penggunaan alat pelindung, hal ini lah yang menyebabkan Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 munculnya masalah kesehatan seksual yang kompleks dan beragam. Simposium yang diadakan di Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Tokyo membahas tentang HIV/AIDS, pembicara dari Jepang Kunio Kitamura yang menjabat sebagai direktur Asosiasi Keluarga Berencana Jepang menyebutkan bahwa salah satu dari sedikit Negara maju yang mana tingkat aborsi remaja dan jumlah orang yang terinfeksi PMS sedang meningkat, hal ini dikarenakan lalainya pemerintah. (Laras, 2. Hal ini meningkatkan remaja yang terlibat dalam Enjo Kosai berisiko tinggi terkena penularan penyakit seksual (PMS). Hal ini disebabkan karena keterlibatan beberapa pasangan seksual dan kebiasaan seksual yang tidak aman, sehingga resiko penularan PMS meningkat (Wong et al,. Menurut professor J. Sean dari Universitas Palang Merah Jepang. Kementerian Kesehatan dan Tenaga Kerja menyatakan bahwa kasus Chlamydia meningkat hampir tiga kali lipat dan telah mencapai 028 kasus pada tahun 2000. Kemudian Penyakit menular lainnya seperti sifilis juga mengalami peningkatan, tercatat pada tahun 2022 sekitar 13. 000 kasus PMS, angka ini merupakan terbanyak sejak dimulainya pencatatan pada tahun 1999. Kasus ini meningkat karena banyaknya orang yang melakukan hubungan lebih dengan 1 orang, gejala penyakit ini beragam mulai dari ruam, lesi dan bisul. Jika penyakit ini tidak segera diberikan penanganan maka bisa mempengaruhi otak dan jantung. Seorang penulis di bidang budaya anak muda bernama sasaki chiwawa mengatakan para pembeli jasa biasanya mengiming-imingi para wanita dengan uang yang lebih banyak jika dapat memberikan sebuah servis tanpa pengaman. (NHK World-Japan, 2. Seorang pakar PMS bernama dr. Onoe Yasuhiko mengatakan masalah ini sudah memasuki ranah privasi dan cukup sulit untuk dilakukan survey epidemiologi, akan tetapi berdasarkan pengalam secara langsung merawat pasien dapat diyakini bahwa ini berhubungan dengan aplikasi kencan (NHK, 2. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Kepolisian Nasional pada tahun 2003 menyebutkan bahwa jumlah situs kencan yang dapat diakses melalui PC telah mengalami peningkatan dari 884 di tahun 2001 menjadi 2039 di tahun 2002, pada periode yang sama jumah situs kencan yang diakses melalui telepon seluler meningkat dari 2. 569 menjadi 3. 401, peningkatan Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. jumlah situs kencan ini berhubungan secara langsung dengan peningkatan gadis yang terlibat Enjo-Kosai (Mclellan, 2. Hal ini menyebabkan seorang individu memiliki lebih dari satu pasangan dan melakukan seks, menurut Masako Kihara, seorang professor di Universitas Kyoto sebanyak 20 hingga 30 persen anak-anak remaja di Jepang yang berusia 16 tahun sudah pernah melakukan hubungan seks, dan seperempatnya memiliki empat atau lebih pasangan (Mclellan, 2013:. Hal inilah yang menyebabkan kasus HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya seperti sifilis meningkat secara tajam dan dapat menyebabkan kemandulan dan membuat orang yang telah terinfeksi lebih mudah terkena HIV jika pasangan mereka juga memiliki gejala yang sama. Menurut data dari kementerian kesehatan Jepang jumlah kasus HIV/AIDS dilaporkan melebihi angka 300 setiap tahunnya sejak tahun 2006, dan statistiknya menunjukan datar hingga sedikit Pada tahun 2019 terdapat 903 kasus HIV . laki-laki. 46 perempua. dan 333 kasus AIDS . laki-laki. 15 perempua. jp , 2. Gambar 3. Statistik pertumbuhan HIV Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 3 Dampak Sosial Sebagai sebuah fenomena. Enjo Kosai memiliki dampak yang cukup serius dari segi sosial menurut menggambarkan ketimpangan ekonomi dalam masyarakat, dimana kasusnya adalah wanita muda atau remaja mulai terlibat dengan hubungan kencan atau seksual dengan pria yang lebih tua. Hal ini dikarenakan adanya sebuah tekanan sosial agar seseorang mencapai standar material tertentu didalam keluarga yang kurang finansial. Dampak yang ditimbulkan dapat mempengaruhi perubahan terhadap nilai norma dan nilai sosial dalam bermasyarakat (Torngren&Kato, 2. Fenomena ini juga telah merubah pandangan masyarakat Jepang tentang nilai-nilai dan norma sosial yang mempengaruhi para remaja. Beberapa menganggap ini sebagai sebuah ekspresi individual yang berada dalam tingkat ekstrem dan dicap sebagai sebuah kemunduran moral (Chau, 2. Perubahan yang terjadi juga mencangkup pada pola pikir remaja, remaja yang terlibat dalam fenomena ini mungkin berasal dari keluarga dengan ekonomi yang kurang dan mereka akan dipaksa untuk memenuhi standar masyarakat seusia mereka yang tinggi, karena kurangnya ekonomi maka mereka mencari dukungan finansial dengan menjual jasa, hal ini menyebabkan ketimpangan sosial di masyarakat, dan juga remaja yang terlibat biasanya akan mengalami kesenjangan pada hubungan gender, yang mana hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh pembeli jasa dengan memanfaatkan ekonomi dan ketidaksetaraan sosial yang dialami oleh pelaku untuk mendapatkan keuntungan secara penuh (Lee, 2. Sumber : Statista. Japan Number New HIV Infection, 2021 Kesimpulan dari data di atas adalah fenomena Enko ini menciptakan dampak sosial yang dapat mempengaruhi norma-norma yang ada seperti hubungan, mempengaruhi persepsi terhadap nilai nilai berhubungan serta membuat risiko terganggunya emosi pada remaja yang terlibat Data di atas membantu memperkuat argument keterlibatan fenomena Enjo-Kousai yang mana merupakan salah satu cara penyebaran Penyakit Menular. Walaupun keterlibatan fenomena ini tidak secara langsung tetapi fenomena ini dapat menciptakan kondisi dan perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan PMS. Penurunan angka kelahiran akibat maraknya Fenomena Enjo-Kousai Penurunan angka kelahiran di Jepang memang terjadi selama beberapa dekade, faktor yang mempengaruhi penurunan angka kelahiran ada banyak, seperti penggunaan pil, telat menikah, ekonomi yang tinggi, perubahan sosial, dll. Namun Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. menurut peneliti, walaupun tidak secara langsung menjadi faktor. Enjo Kosai tetap menjadi penanggung jawab atas penurunan angka kelahiran. Pada bagian ini peneliti akan mengkaitkan Enjo Kosai dengan penurunan kelahiran yang dipengaruhi oleh beberapa sebab. 1 Sex Bebas Seks menggambarkan keterlibatan individu dalam hubungan seksual tanpa adanya ikatan perkawinan atau keterikatan romantis yang serius. Hal ini menjadi alasan terhadap perubahan pandangan masyarakat terhadap seksualitas dan hubungan antar pribadi yang akan berdampak kepada pola Didukung dengan perubahan terhadap norma seksual yang mana generasi muda semakin terbuka terhadap ekplorasi seksual tanpa ikatan perkawinan dan menganggap hubungan seksual yang santai menjadi umum (Sasaki, 2. Perubahan ini memungkinkan untuk para remaja melakukan hubungan seksual tanpa komitmen jangka panjang yang berujung kepada penurunan angka kelahiran. Dan juga semakin banyak remaja yang ingin berfokus kepada karir dan pendidikan sehingga mereka menunda bahkan menghindari pernikahan, persaingan di dunia kerja dan tekanan sosial untuk mencapai kesuksesan menyebabkan beberapa anak muda memilih terlibat kedalam hubungan kencan yang santai dan tidak berkomitmen seperti Enjo-Kosai dari pada harus menikah (Ozaki, 2. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The Nippon Foundation dengan objek anak laki-laki dan perempuan berusia 17 hingga 19 tahun sebanyak 1000 responden, didapatkan data yang dapat dilihat pada tabel dibawah bahwa secara keseluruhan sebanyak 23,6% responden memilki pengalaman Dengan 26,2% anak perempuan dan 21,2% anak laki-laki, dan sebanyak 30% anak prempuan memiliki pengalaman seks pertama diusia 17 tahun, sedangkan anak laki-laki diusia 18 tahun . ,3%). Menurut survey The Nippon diketahui para remaja mengetahui seks dari berbagai cara seperti teman, situs web dewasa, pelajaran sekolah, manga, sosial media, majalah dewasa, dan sebagainya. Kebebasan seks inilah yang mendasari perubahan pola pikir remaja, yang semakin terbuka tentang seks termasuk Enjo Kosai membuat pergeseran nilainilai tradisional tentang pernikahan dan keluarga, berakhir dengan keputusan remaja mengenai seksulitas dan reproduksi (Genda et al. , 2. Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 Menurut data di atas penulis meyimpulkan bahwa masyarakat khususnya remaja telah mengalami perubahan pada pola pikir yang membuat bergesernya nilai-nilai moral, mereka beranggapan bahwa seks adalah hal yang lumrah dan hal ini bukanlah sesuatu yang harus di rahasiakan , dan akibat dari kebebasan yang mereka peroleh menyebabkan semakin terbukanya pemikiran yang bebas terhadap kegiatan seksualitas seseorang sehingga beberapa dari mereka lebih memilh hubungan seksual tanpa komitmen yang serius, yang berdampak kepada berkurangnya angka pernikahan dan menyebabkan penurunan tingkat 2 Kehamilan di luar pernikahan Pelaku Enjo-Kosai bukan tidak mungkin jika mengalami kehamilan di luar nikah, fenomena ini seringkali melibatkan hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan, yang berarti ada potensi hamil di luar nikah bagi pelaku. Hal ini bisa terjadi karena beberapa pelaku Enjo-Kosai tidak memiliki pengetahuan tentang cara mencegah kehamilan atau tidak memiliki akses untuk pergi ke pelayanan kesehatan reproduksi (Kikuchi et al. , 2. Atau bisa juga para pelaku diiming-imingi akan diberikan uang lebih jika mereka mau melakukannya tanpa pengaman (Sasaki,2. Pelaku Enjo-Kosai terlibat ke dalam praktik ini tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang, karena fokus mereka adalah untuk mendapatkan uang atau barang dari hubungan tersebut, yang menanggung hasil dari perbuatan mereka bersama pria paru baya yang datang dengan kehamilan (Torngren&Kato, 2. Di dalam masyarakat Jepang, menjadi ibu tunggal masihlah hal yang tabu, bahkan dalam beberapa kasus ibu tunggal sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal karena statusnya tidak bersuami, dan juga perempuan yang hamil di luar nikah dianggap sebagai aib keluarga sehingga mereka diusir dari rumah dan tidak mendapatkan Namun Jepang mencatat adanya peningkatan angka kehamilan di luar nikah, dikutip dari Japan Today pada tahun 2020. RS Jikei di prefektur Kumamoto memberikan laporan terkait meningkatnya jumlah pelajar SMP dan SMA yang menghubungi departemen konsultasi kehamilan. Wakil presiden RS Jikei. Ken Hasuda mengatakan alasan melonjaknya angka kehamilan diluar nikah disebabkan karena ditutupnya sekolah karena virus Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. corona, bagi sebagian besar mereka jusru melihat peluang untuk melakukan aktivitas seksual yang mengarah kepada kehamilan yang tidak direncanakan (Kompas, 2. Menurut perwakilan NPO . irlaba Mikkumi. organisasi yang bergerak dalam layanan khusus konsultasi dan adopsi. Noriko Matsuoka mengatakan ada sekitar 70 panggilan konsultasi dalam enam bulan terakhir, dan hampir setengah dari panggilan tersebut berasal dari remaja, mutsuoka mengatakan tidak adanya kegiatan sekolah yang dapat dihadiri membuat beberapa dari mereka telah menggunakan sosial media untuk mulai bertemu dengan orang yang tidak mereka kenal (Kompas, 2. Dikarenakan ketidaksiapan mereka, para pelaku Enjo-Kosai yang mengalami krisis keuangan menyulitkan mereka untuk menghadapi konsekuensi kehamilan diluar nikah (Ozaki, 2. , akibatnya mereka lebih memilih untuk mengugurkan kandungan mereka, salah satunya dengan menghubungi RS Jikei, karena RS ini terkenal karena operasi AuKonotori no YurikagoAy dimana wanita dapat melakukan aborsi. 3 Aborsi Aborsi merupakan sebuah pilihan untuk menggugurkan kandungan, fenomena Enjo-Kosai yang melibatkan hubungan seksual tanpa pernikahan meningkatkan potensi kehamilan diluar Akan tetapi di Jepang kehamilan di luar nikah bukanlah sebuah kebahagiaan, dikarenakan beratnya kehidupan bagi seorang ibu tunggal. Tingginya tekanan dan Stigma sosial di Jepang membuat remaja yang hamil diluar nikah lebih memilih untuk menggugurkan kandungannya,hal ini juga dikarenakan adanya tekanan dari keluarga, teman sebaya, maupun dari masyarakat itu sendiri (Torngren&Kato, . Menurut survey yang dilakukan pada tahun 2015 dan 2016 tercatat 098 kehamilan remaja di Jepang, 642 diantaranya memutuskan untuk berhenti sekolah dan 32 diantaranya dipaksa untuk putus sekolah (Maurice, 2. Hal ini dapat terjadi karena tingginya tingkat ketidaksetaraan gender di Jepang, penghasilan wanita di Jepang lebih sedikit dari pada penghasilan prianya, hal ini dilihat sebagai alasan utama seorang ibu tungga sulit untuk memberikan nafkah anak mereka, dan jika ibu tunggal ini merupakan remaja di bawah usia 18 tahun akan Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 berdampak lebih buruk lagi, seperti mereka harus menghadapi tekanan fisik dan sosial, apalagi jika berasal dari latar belakang yang miskin, mereka harus menerima dukungan yang sedikit, pendapatan yang rendah, dan diskriminasi di tempat kerja maupun dimasyarakat (Maurice, 2. Karena hal itulah yang menjadi pertimbangan pelaku Enjo-Kosai untuk lebih memilih menggugurkan kandungannya, selain karena tekanan sosial, mengandung anak dari orang yang bahkan sebelumnya tidak dikenal merupakan masalah baru, para remaja Enko akan mengalami ketidakpastian tentang masa depan dan mulai bingung untuk menghadapi ini, ditambah lagi tidak ada Undang-Undang yang dapat memberikan perlindungan terhadap pelaku Enko. Dan juga remaja Enko akan mendapat tekanan dari klien yang telah menghamili mereka, dengan memaksa untuk mengugurkan kandungan (Torngren&Kato. Penelitian yang dilakukan oleh Tsutomu Tanaka yang dirilis oleh Nagoya Journal of Medical Science pada tahun 2019, melakukan wawancara terhadap 22 gadis remaja pelaku Enjo Kosai yang berusia 14 hinga 19 tahun, dan mengungkapkan bahwa 9 dari 22 remaja mengaku bahwa mereka hamil kemudian mengugurkan kandungannya dan juga mereka terkena penyakit menular serta memakai obat obatan terlarang (Nagoya J Med Sci, 2. Para pelaku yang hamil ini akan merasakan malu terhadap situasi yang sedang mereka hadapi, rasa malu ini tercipta karena stigma masyarakat Jepang yang menganggap bahwa hamil di luar nikah merupakan sebuah aib dan akan mendapat sanksi sosial dari masyarakat sekitar. Meskipun aborsi hal yang dilegalkan oleh negara dan tidak ada sanksi kepada pelaku aborsi, tetap saja tindakan aborsi dianggap sebgai perbuatan yang buruk dimata masyarakat Jepang dan yang melakukan aborsi harus bersiap menerima sanksi sosial (Dina, 2013. Berdasarkan data yang sudah penulis dapatkan, dapat disimpulkan bahwa fenomena ini ada karena kebebasan seksual yang lumrah di Jepang, sehingga menigkatkan resiko kehamilan diluar nikah yang akan berdampak kepada pengguguran kandungan sehingga menyebabkan penurunan angka kelahiran di Jepang. Dan walaupun Enjo kosai bukanlah penyebab utama dari penurunan angka kelahiran, namun fenomena ini menjadi salah satu penyebab Jurnal Sosial Humaniora Vol. No. p-ISSN. Penerbit. LPPM Unsada Tanggal. 8 Maret 2024 turunnya angka kelahiran, remaja yang terlibat kedalam Enjo Kosai beberapa ingin uang untuk membeli barang trendi dan kekinian, beberapa lainnya rela menjual diri karena terpaksa demi menghidupi diri sendiri, ini terjadi karena keluarga mereka yang kurang dukungan, ketidak harmonisan di lingkungan keluarga mereka memaksa mereka untuk pergi menjauh, akibatnya mereka pergi tanpa tujuan dan berakhir menjadi Enjo Kosai. Tidak jarang dari mereka yang menyetujui untuk melakukan kegiatan seksual bahkan tanpa pengaman dikarenakan tergiur uang, kemudian ketika pelaku mengalami kehamilan yang tidak diinginkan mereka akan lebih memilih untuk mengugurkan kandungannya dari pada harus menanggung sanksi sosial dan hancurnnya kehidupan mereka, dan juga ini merupakan situasi yang kompleks dan mereka membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar, terlepas dari kegiatan illegal mereka, dan juga pemerintah harus membantu dengan memberikan pendidikan seksual yang komprehensif dan mengambil langkah penting dalam mengurangi risiko kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi di kalangan remaja. didukung dengan perkembangan teknologi komusikasi yang menjadi fasilitas kala itu memudahkan mereka, seperti terekura, kafe date, maupun situs online menjadikan fenomena ini cepat Selain uang, alasan remaja terlibat kedalam fenomena ini dikarenakan adanya tekanan sosial untuk tampil sukses dan mencari pengakuan dari orang lain, hal ini dipengaruhi oleh teman sebaya mereka yang hidup glamor. Hal inilah yang membuat Enjo Kosai cepat berkembang. KESIMPULAN Enjo Kosai yang merupakan bagian dari kebebasan seks menyebabkan banyaknya hubungan tanpa dilandasi suka sama suka, yang berujung kepada hubungan seksual sementara, akibatnya banyak pelaku Enjo Kosai dengan mudahnya digauli oleh lelaki yang baru ditemui itu, hanya dengan diberikan sejumlah uang maka mereka mau menuruti keinginan pelanggannya, hal ini pengaman yang berujung kepada kehamilan diluar Bagi masyarakat Jepang, itu merupakan sebuah aib sehingga remaja lebih memilih untuk menggugurkan kandungannya, dan ketika kasus kehamilan mulai meningkat, menyebabkan remaja berbondong bodong menggugurkan kandungannya agar tidak menjadi sebuah aib dan tidak menyulitkan kehidupan mereka. Hal ini menyebabkan kasus aborsi meningkat dan mempengaruhi indeks kelahiran anak yang menyebabkan menurunnya angka kelahiran. Fenomena Enjo Kosai ini merupakan penyakit lama dalam masyarakat yang tercipta dari berbagai faktor budaya, sosial, dan individu yang kompleks. Penulis menyimpulkan bahwa faktor Enjo Kosai tidak hanya berasal dari remaja yang ingin uang untuk memenuhi sifat konsumerismenya, tetapi ada juga remaja yang melakukannya karena terpaksa keadaan, seperti kabur dari rumah, keluarga yang tidak harmonis, dan sebagainya. Sejak awal kemunculannya yaitu di tahun 1990-an, fenomena ini belum banyak peminatnya, kemudian masuknya budaya-budaya barat dan mulainya era modernisasi yang berkembang pesat membuat timbulnya sifat konsumerisme di dalam masyarakat Jepang, sehingga daya beli masyarakat meningkat. Masyarakat khususnya remaja menjadi gemar berbelanja kebutuhan diluar kebutuhan primer, hal ini disebabkan oleh pengaruh-pengaruh dari media yang beredar, seperti majalah dan televisi yang menampilkan gaya gaya trendi dan terbaru, mengakibatkan kepada meningkatnya pembelian tidak rasional oleh remaja. Akan tetapi dikarenakan kemampuan daya beli remaja terbatas kepada keuangan mereka maka sebagian remaja mencoba untuk mendapatkan uang secara cepat dan inilah awal mula meningkatnya fenomena Enjo Kosai. Remaja yang terlibat Enjo Kosai cenderung tidak memikirkan dampak yang akan mereka hadapi kedepannya, dikarenakan kurangnya pendidikan seksual yang diberikan kepada mereka, sehingga mereka tidak siap untuk menghadapi situasi seksual yang rumit, sehingga ketika mereka menghadapi situasi yang tidak dapat mereka selesaikan cenderung akan memberikan dampak kepada psikis mereka seperti kecemasan, stress, depresi hingga bunuh diri. Enjo Kosai juga meningkatkan bahaya penyakit menular dikarenakan kegiatan seksual tanpa penggunaan pengaman dan juga berganti gantinya pasangan. REFERENSI