Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika RESILIENSI KELUARGA PEKERJA MIGRAN DALAM LONG DISTANCE RELATIONSHIP: PERSPEKTIF SOSIOLOGI KELUARGA Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Fakultas Sosiologi. Universitas Muhammadiyah Malang ARTICLE INFO Article History Be accepted: July 2024 Approved: Feb 2025 Published: Dec 2025 Keywords: family resilience. worker families. longdistance relationships. ABSTRACT Migrant worker families are one example of families who live long-distance relationships, not a few also experience breakdowns that end in divorce. However, among those that are broken, there are still migrant worker families who have The objective of this research is to examine the resilience or the ability of families to withstand the pressures and problems arising from the consequences of employment, which result in long-term long-distance relationships. Long-distance relationships within families lead to each family member developing new habits, necessitating readjustment with their partner, which can cause friction within the The method used in this study is a qualitative approach with descriptive The subjects of the study are families where one spouse has recently returned from working abroad as a migrant worker. Data is collected using in-depth interviews and observation. The results of the study show that resource support provides strength within the family, specifically the presence of the spouse in supporting and neutralizing Strong resource support includes dominant attitudes, expressions of positive attitudes, partnership in spirituality, partnership in carrying out rituals and routines, partnership in discussion and communication, partnership in financial management, and building good relationships with relatives and neighbors. Maintaining family relationships, creating a positive atmosphere, protecting mutual dignity, and achieving a solid shared life contribute to the development of social resilience. Alamat Korespondensi: Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang E-mail: tutiksulistyowati@umm. vina@umm. Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 INFO ARTIKEL ABSTRAK Sejarah Artikel Diterima: Juli 2024 Disetujui: Februari 2025 Dipublikasikan: Desember 2025 Keluarga pekerja migran adalah salah satu contoh keluarga yang menjalani hubungan jarak jauh, tidak sedikit juga yang mengalami keretakan yang berujung perceraian. Namun di antara yang retak, masih ada keluarga pekerja migran yang memiliki resiliensi atau ketahanan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji tentang resiliensi keluarga dalam menghadapi tekanan dan masalah akibat dari konsekuensi pekerjaan hubungan jarak jauh dalam waktu yang cukup lama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah keluarga yang salah satu pasangannya baru kembali dari luar negeri sebagai pekerja migran. Data dikumpulkan mengunakan in-depth interview, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasangan pekerja migran memiliki unsur-unsur perekat dalam menjalani hubungan jarak jauh, yakni menjalankan nilai-nilai budaya dalam keluarga, memiliki sikap positif, dan dukungan emosional pada pasangan, terbuka dalam keuangan, serta aspek komunikasi yang intens, termasuk dengan saudara. Pemeliharaan hubungan keluarga menciptakan atmosfir positif, melindungi martabat bersama dan mendapatkan kehidupan bersama yang solid, sehingga resiliensi sosial juga terbangun. Kata Kunci: resiliensi keluarga. keluarga pekerja migran. hubungan jarak jauh. PENDAHULUAN Resiliensi keluarga sebagai kemampuan keluarga untuk pulih dari kondisi krisis melalui berbagai masalah. Herdiana et al. resiliensi keluarga adalah peristiwa yang unik dimana keluarga menjadi terpecah belah oleh krisis atau tekanan yang terjadi terus-menerus. Kondisi keluaraga yang memiliki latar belakang yang berbeda menjelaskan bahwa resiliensi keluarga dipengaruhi oleh berbagai faktor, fakor sosio kultural, dan komunitas disekitarnya (Herdiana et , 2018. MauroviN et al. , 2. Walsh . sebuah keluarga bisa tetap berfungsi secara positif dan menjadi resiliens, di tengah masalah. Walsh . untuk menghadapi masalah dalam keluarga maka dapat diambil beberapa langkah seperti family therapy sebagai langkah preventif yang berfungsi untuk mencegah potensi resiko. Penelitian tentang keluarga terfokus pada defisit keluarga, yang diceriminkan melalui pandangan budaya dan media yang lebih luas bahwa sebagian besar keluarga mengalami Walsh . kemudian melihat pada program yang diadakan untuk penderita skizofrenia dan menemukan bahwa ada keluarga yang tetap normal meski ada anggota keluarga yang menderita gangguan mental, yang disebut sebagai resiliensi keluarga (Walsh, 1996, 2015, 2016b, 2016. Zakiyah & Nuraeni . , menunjukkan bahwa kasus pada keluarga pekerja migran sebagai salah satu bukti resiko yang ditimbulkan dari pola hubungan yang tidak sehat yang diakibatkan oleh ketidak hadiran orang tua, atau keluarga yang hubungan jarak jauh (LDR). Yang selama ini dapat menyebabkan resiko lainnya seperti kesehatan atau mental (Van Schoors et al. ,2. sehingga model penanganan resiko yang ada dalam keluarga fokus pada teknik dan model aplikasi pada ketahanan keluarga melalui program dan kegiatan yang dilakukan oleh keluarga secara rutin (Simon et al. , 2. Keluarga para pekerja migran adalah keluarga yang mengalami hubungan pernikahan jarak jauh, melewati batas administrasi negara, dan dalam waktu yang lebih dari dua Hubungan pernikahan jarak jauh seperti ini rentan menyebabkan masalah bagi keluarga, misalnya perselingkuhan, penelantaran ekonomi, pola asuh anak, sampai pada timbulnya Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 Begitu pula kondisi pernikahan pada keluarga pasangan pekerja migran, hubungan jarak jauh juga menyebabkan kerentanan tersendiri. Resiko dari keluarga yang hidup saling berjauhan adalah fungsi-fungsi keluarga sulit untuk dilaksanakan, resiko sering muncul masalah baik yang berhubungan dengan internal maupun hubungan keluarga secara eksternal, misalnya dengan tetangga dan keluarga besar lainnya. Selain resiko timbul masalah, juga fungsi reproduksi bagi masing-masing pasangan suami istri, fungsi afeksi dalam membangun kekuatan moral dan mental bagi anak-anak, fungsi sosialisasi dan edukasi bagi anak-anak, tidak terpenuhi. Gambaran kondisi keluarga migran yang menjalani kehidupan hubungan jarak jauh ini perlu memiliki kekuatan agar terlepas dari suatu kondisi yang Menurut Walsh . Sebuah keluarga bisa tetap berfungsi secara positif dan menjadi resiliens, di tengah masalah jika memiliki beberapa alternatif, salah satunya adalah family therapy, yakni sebagai langkah preventif yang berfungsi untuk mencegah potensi resiko yang terjadi dalam Sehingga kehidupan keluarga yang normal bisa terwujud kembali, pasca mengalami krisis yang panjang. Hal yang menjadi penting dari resiliensi keluarga ini adalah bagaimana anggota keluarga saling memberikan dukungan saat terjadinya masalah dalam keluarga. Lalu bagaimana pula keluarga menyelesaikan masalahnya, bagaimana keluarga membangun kembali kehidupan setelah terjadi transisi. McCubbin et al. menilai resiliensi keluarga sebagai cara untuk menjaga keluarga dari situasi krisis, dalam pandangan lain Patterson . beranggapan bahwa konsep resiliensi keluarga melalui sudut pandang proses, yaitu melihat kemampuan keluarga memobilisasi kekuatan secara aktif saat mengalami krisis, menurutnya Patterson . kondisi tersebut memungkinkan keluarga dapat berfungsi kembali seperti sedia kala sebelum stressor atau krisis yang dialami (Patterson, 2002a, 2002. Meskipun demikian konsep ini mulai bergeser dilihat dari beberapa penelitian terakhir tentang resiliensi keluarga yang cenderung menekankan interaksi dari sudut pandang sifat dan proses (Herdiana, 2019. Herdiana et al. , 2. , atau psikologi yang melihat bahwa resiliensi keluarga ditentukan oleh faktor keluarga (Mawarpury & Mirza, 2. , atau ide (Walsh, 1. yang menilai bahwa resiliensi keluarga dapat diinterfensi dengan cara yang confidence dan pemahaman yang baik, yang bergantung pada budaya, struktur keluarga dan pola asuh didalamnya (Walsh, 2016. atau secara jelas disebut sebagai intervensi yang didasari oleh faktor sosio cultural (Walsh, 1996, 2015, 2016b, 2016. Ketahanan keluarga mengacu pada keluarga sebagai sistem fungsional. Walsh . ketahanan tersebut didapatkan melalui pola asuh didalamnya, (Hadfield & Ungar, 2. menyebutnya sebagai mekanisme resiliensi, yang mendorong ketahanan individu (Sternthal et al. , 2. , baik secara biologis, sosial dan psikologis (Hadfield & Ungar, 2018. Ungar, 2. Kami menggaris bawahi potensi kajian ini yang berkembang dari berbagai prespektif, oleh karena itu penelitian ini mengajukan cara baru untuk mengidentifikasi perilaku keluarga dalam mengatasi kondisi krisis keluarga. Keluarga sebagai unit sosial yang memiliki peran dalam membangun hubungan, tetapi disaat bersamaan sebuah keluarga juga dihadapkan dengan masalah yang tidak pasti dan menentu. Terutama kasus pada keluarga pekerja migran yang mengalami hubungan jarak jauh saat bekerja. Penelitian ini memahaminya sebagai sebuah krisis yang terjadi Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 apabila anggota keluarga tidak bersama dan berpotensi mengalami masalah hubungan yang mengakibatkan gangguan pisikologis bagi anggota keluarga, atau berkaitan dengan kebutuhan yang harus dipenuhi satu sama lain dalam keluarga. Dengan memahami batasan dalam perkembangan kajian resiliensi keluarga yang masih terbatas terutama hubungan keluarga dalam menjalani hubungan jarak jauh, sehingga penelitian ini mengidentifikasi potensi gap yang tidak hanya dapat diuraikan dari prespektif sosilogi Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penentu resiliensi keluarga pekerja migran dalam hubungan jarak jauh dari prespektif sosilogi keluarga. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat mengungkap fungsi keluarga sebagai tempat untuk memberikan kasih sayang, keamanan, perlindungan, dukungan antara satu sama lain, meskipun dihadapkan pada sebuah stressor yang mengakibatkan keluarga dalam kondisi krisis, sehingga memerlukan cara atau strategi dalam menghadapi tekanan, permasalahan atau konflik yang timbul. Adapun dugaan dalam penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara keeratan hubungan keluarga . loseness of family relationship. dengan resiliensi keluarga. METODE Fokus dalam penelitian ini adalah resiliensi keluarga pekerja migran dalam long distance relationship (LDR). Risiko dari keluarga yang hidup saling berjauhan bisa menimbulkan fungsifungsi keluarga sulit untuk dilaksanakan, risiko sering muncul masalah baik yang berhubungan dengan internal maupun hubungan keluarga secara eksternal, seperti dengan tetangga dan keluarga besar lainnya. Selain risiko timbul masalah, juga fungsi reproduksi bagi masing-masing pasangan suami istri, fungsi afeksi dalam membangun kekuatan moral dan mental bagi anak-anak, fungsi sosialisasi dan edukasi bagi anak-anak, tidak terpenuhi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dimana Gabb . mengusulkan pendekatan qualitative integrative antara qualitative dan quantitative yang berfungsi untuk mengkombinasikan dengan memilih cases study, cara ini digunakan untuk memahami fungsi metode qualitative secara baik terhadap case yang dianalisa. Melalui qualitative cara dipahami secara langkah yang mudah untuk mengeksplor secara mendalam kasus dengan menggali inovasi secara lengkap tanpa mengindahkan faktor pendukung dalam penelitian (Campbell, 2. Prtisipant dapat mengambil bagian secara penuh untuk memberikan informasi, menurut Felker et . informasi dapat mengikuti proses pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dengan step yang telah ditentukan dalam penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan naturalistik yakni penelitian dilakukan secara alami dan holistik, serta tidak menggunakan prinsip trinitas: validitas, realibilitas, dan generalizabilitas. Menurut (Janesick et al. , 2. prinsip trinitas dalam penelitian kualitatif akan menjauhkan Aopengalaman hidup dari aktivitas mengetahui yang dimiliki Penelitian kualitatif bergantung pada penyajian deskriptif data yang solid, sehingga peneliti mampu memberikan sebuah pemahaman tentang pengalaman subjek yang diteliti kepada pembaca secara jelas baik dilihat dari perilaku, faktor sosial dan budaya (Mann, 2. Uraian tentang makna dan interpretasi dalam kasus-kasus individu, tempat dan peristiwa-peristiwa dari objek Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 penelitian menjadi dasar dari hasil penelitian kualitatif. Jadi dalam penelitian ini tidak menggunakan prinsip trinitas, akan tetapi mengedepankan penggalian secara mendalam terhadap konstruksi social masyarakat terhadap keluarga buruh migran Indonesia. Sedang validitas dalam penelitian melakukan trianggulasi metode terhadap temuan-temuan penelitian dengan partisipan dan langkah-langkah audit. Penelitian tentang resiliensi keluarga ini adalah penelitian yang sifatnya menguraikan dan menjelaskan bagaimana masyarakat pekerja migran membangun ketahanan keluarga dalam menghadapi situasi yang kritis yakni menjalani hubungan jarak jauh. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kualitatif, pendekatan ini digunakan untuk menganalisis data-data yang berupa pernyataan dan perilaku subjek penelitian yang berkaitan dengan ketahanan keluarga dalam menjalani hubungan jarak jauh. Penggalian data dilakukan di Kabupaten Malang, yakni di Desa Kalipare Malang Selatan. Wilayah Kabupaten Malang khususnya wilayah Malang Selatan adalah daerah katong pekerja migran, yakni mayoritas masyarakat di desa ini bekerja sebagai pekerja migran terutama para kaum perempuan (Sulistyowati, 2. Subjek dalam penelitian ini adalah pasangan suami istri keluarga pekerja migran, yang ditentukan secara purposive sampling, yakni penetuan subjek penelitian berdasar kriteria yang ditetapkan peneliti, sehingga keabsahan data dapat terjaga melalui pembatasan kriteria tersebut. Kriteria subjek penelitian adalah pasangan suami istri yang istrinya bekerja sebagai pekerja migran dan telah kembali ke tanah air . , bertempat tinggal bersama dalam satu atap . , dan menjalani kehidupan rumah tangga kembali secara normal. Kriteria ini dipilih karena kembalinya pasangan suami/istri tersebut memberikan asumsi bahwa resiliensi keluarga telah terjadi selama mereka hidup berjauhan. Pasangan suami istri dengan hubungan LDR minimal selama 2 tahun juga dipilih sebagai subjek penelitian karena dianggap telah cukup lama menjalani hubungan tersebut. Dari kriteria tersebut, terpilih 5 orang yang sesuai untuk dijadikan subjek Berikut adalah nama-nama subjek penelitian yang telah ditentukan sesuai dengan kriteria No. Nama Pak Sugi Pak Put Pak Pin Pak Sam Pak Tik Tabel 01. Identitas Subjek Penelitian Usia 47 tahun 52 tahun 55 tahun 64 tahun 49 tahun Lama LDR 8 tahun 4 tahun 14 tahun 16 tahun 8 tahun Pengumpulan data menggunakan metode in-depth interview, dokumentasi, dan observasi. Metode in-depth interview sebagai metode utama dalam penggalian data, dilakukan dalam menggali data yang berkaitan dengan pembagian tugas dan peran pasangan suami istri dalam Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 menghadapi masalah komitmen dan kepercayaan antar pasangan, masalah keuangan, masalah menegakkan moral dan kedisiplinan pada anak, serta komitmen dalam menjalin hubungan dengan tetangga dan keluarga besar pada saat menjalani long distance relationship (LDR). In-depth interview didukung dengan metode observasi pada saat wawancara. Sedang metode dokumentasi digunakan untuk melihat bukti-bukti komunikasi melalui media digital. HP, media sosial, gambar atau foto-foto yang berkaitan dengan pembagian tugas dan peran pasangan suami istri saat menjalani long distance relationship (LDR). Adapun pengolahan data yang telah didapatkan menggunakan teknik deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam pandangan tradisional, bahwa resiliensi keluarga merupakan komitmen jumlah dari ketahanan anggota keluarga. Artinya setiap anggota keluarga memiliki kominten dalam menjaga keutuhan keluarga. Sedangkan dalam perspektif kontemporer, memandang resiliensi keluarga memberikan penekanan pada sifat relasional dari keluarga sebagai sebuah unit. Perspektif kontemporer ini juga memandang proses relasional yang memfasilitasi kelangsungan hidup dan pertumbuhan keluarga di bawah kondisi yang tidak menguntungkan. Dalam proses relasional melibatkan aspek interen dan eksteren keluarga dalam menjaga kelangsungan hidup dan pertumbuhan keluarga. Relasi yang terbentuk dalam hubungan pasangan keluarga migran, cenderung pada relasi yang bersifat tradisional dimana masing-masing anggota keluarga memiliki kewajiban menjaga ketahanan keluarga. Dalam keluarga tradisional di desa, peran kepala keluarga memiliki dominasi kuat dalam komunikasi maupun aspek perilaku lain dalam menjaga keutuhan keluarga. Ketika pasangan menyatakan ada masalah yang harus diselesaikan, suami sebagai kepala keluarga merasa ikut bertangungjawab terhadap permasalahan yang dihadapi istri. Seperti yang disampaikan subjek Pin kepada peneliti berikut: Auistri saya bekerja di luar negeri sudah cukup lama, lebih dari 2 tahun, namun jika ada masalah di tempat kerja saya tetap ikut dalam menyelesaikan masalahnyaAy. Pernyataan subjek Pin tersebut menunjukkan kuatnya dominasi suami dalam menjaga keutuhan keluarga dengan turut menyelesaikan permasalahan yang dihadapi istri. Keluarga pekerja migran yang mayoritas adalah keluarga tradisional tinggal di desa, memiliki kecenderungan kuat bahwa dominasi suami sebagai kepala keluarga menjadi penentu dalam menyikapi permasalahan keluarga. Sebagai keluarga yang memiliki hubungan jarak jauh, keluarga pekerja migran memiliki cara dalam menyikapi suatu masalah, salah satunya memandang istri selalu setia, sehingga suami tetap setia. Dalam konteks ini, subjek Pin mengatakan kepada peneliti bahwa, kalau mengikuti kemauan hati keluarganya sudah hancur, namun karena keluarga harus dipertahankan maka tugas dia adalah menjaga sampai istri pulang dari bekerja di luar negeri. Lingkungan pekerjaan yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggal, membuat subjek memahami jika istri memiliki perubahan sikap dan penampilan setelah menjadi pekerja migran. Namun subjek tetap mencintai pasangan sehingga merasa memiliki tangungjawab untuk membina setelah kembali ke keluarga. Dalam realitas ini, situasi krisis dalam keluarga akibat hubungan jarak jauh masih bisa terselamatkan ketika pasangan memberikan sikap positip. Kenyataan ini Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 disampaikan subjek Put kepada peneliti. Dalam kutipan wawancara dengan subjek Put adalah sebagai berikut. Auistri saya pernah menyampaikan untuk minta bercerai, karena menurut dia percuma menikah kalau sendiri-sendiri dan berjauhan. Namun saya tidak hiraukan kemauannya karena demi anak-anak. Saya berusaha untuk memenuhi keinginannya, misalnya setiap hari telpun atau video-call saya tetap lakukan, saya hanya ingin agar keluarga saya tetap utuhAy. Sikap positif dan dukungan emosional suami dari tanah air kepada istri, nampaknya merubah keinginan istri untuk bercerai, sehingga keluarga tetap bertahan. Selain aspek memposisikan pasangan secara positip, nampaknya aspek spiritualitas dan keyakinan yang dianut oleh keluarga juga menjadi aspek yang menguatkan keluarga. Sebagai masyarakat desa, mayoritas penduduknya melaksanakan kegiatan-kegiatan ritual yang menjadi penguat keluarga meskipun saling berjauhan. Kegiatan ritual tersebut adalah melakukan selamatan kirim doa untuk anggota keluarga yang sudah meninggal, selamatan untuk yang melahirkan, yang menikah, membangun rumah, dan sebagainya. Dukungan anggota keluarga menjadi penting untuk membicarakan, merencanakan, sampai melakukan selamatan. Dukungan anggota keluarga tersebut, baik berupa materi . ang dan bahan masaka. maupun ide dan pikiran. Kegiatan ritual ini penting untuk menyelamatkan keluarga dari masalah, seperti yang disampaikan subjek Sugi kepada peneliti berikut: Aukami itu orang desa, keluarga wajib melaksanakan selamatan untuk kirim doa kepada orang tua yang sudah meninggal, atau selamatan lain menjadi penting. Kami tidak mau terkena musibah karena meninggalkan kebiasaan nenek moyang. Saya dan istri sudah tahu dan sepakat jika dihari-hari tertentu akan melaksanakan salamatan, dan istri yang menangung biayanya. Ay Dari kutipan ini menunjukkan bahwa ketika subjek Sugi berjauhan dengan pasangan, mereka tetap memiliki komitmen untuk merencanakan dan melaksanakan selamatan sebagai kegiatan ritual rutin keluarga. Oleh karena itu biaya selalu siapkan istri, dan diprioritaskan untuk Akhirnya keyakinan dalam melaksanakan kegiatan ritual yang menjadi kebiasaan keluarga, menjadi motivasi tersendiri dalam menyatukan dan membuat keluarga menjadi tahan dan kuat. Selain keyakinan dalam melaksanakan kegiatan ritual yakni selamatan keluarga yang telah meninggal, kegiatan lain yang sifatnya ritual dan rutin dilakukan adalah upacara petik padi. Upacara petik biasanya dilakukan secara beramai-ramai, dan menjadi hiburan tersendiri pada warga desa. Keluarga yang akan melaksanakan upacara petik padi mempersiapkan masakan dan Banyak keluarga pekerja migran yang memiliki sawah di desa, dan ketika musim panen tiba masing-masing keluarga juga melakukan upacara petik padi. Seperti yang di sampaikan subjek Sam kepada peneliti berikut: Aukeluarga kami mempunyai kebiasaan menjelang panen yaitu upacara metik padi, biasanya menyiapkan tumpeng untuk disajikan kepada Dewi Sri sebagai penguasa padi. Biasanya istri di HongKong mengirim khusus biaya selamatan. Dia senang karena akan panenAy. Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 Dari kutipan tersebut menunjukan bahwa upacara petik padi yang rutin dilakukan keluarga sebelum panen, nampaknya juga membuat ikatan sosial keluarga semakin kuat. Pasangan yang sedang tidak tinggal di rumah karena bekerja luar negeri juga ikut merasakan kebahagian keluarga. Nampaknya kegiatan ini memberikan efek positip terhadap anggota keluarga, yang secara tidak disadari juga menjadi penguat ketahanan keluarga. Panen adalah harapan bagi semua anggota keluarga, baik yang berada di kampung halaman maupun yang ada di negeri orang. Resiliensi keluarga melibatkan kekuatan satu sama lain dalam seluruh anggota keluarga, terutama pasangan suami istri. Pasangan suami istri secara berjauhan harus mampu saling mendukung dinamika kehidupan masing-masing, saling menjaga hubungan timbal balik untuk menghadapi konflik yang muncul, hingga masalah tersebut menjadi penguat bagi ketahanan keluarga, dan bukan sebagai perusak. Dalam kontek ini family therapy, yakni sebagai langkah preventif yang berfungsi untuk mencegah potensi resiko yang terjadi dalam keluarga. Family teraphy bisa dilakukan melalui komunikasi dua arah kepada semua anggota keluarga, baik antar pasangan, dengan anak, atau dengan anggota keluarga besar lainnya, dengan tujuan membantu untuk melakukan control keluarga tehadap masalah yang mungkin terjadi yang lebih besar lagi. Hal ini menjadi penting, jika komunikasi keluarga tidak dilakukan secara terbuka dan dua arah, maka permasalahan akan terjadi. Hubungan jarak jauh yang terjadi pada keluarga pekerja migran, yang menjadi kunci perekat dari keluarga adalah komunikasi keluarga. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang dilakukan dengan anggota keluarga yang tinggal di luar negeri, dilakukan pada saat istirahat, misalnya pada sore hari atau malam. Seperti yang disampaikan subjek Tik kepada peneliti: Aukomunikasi saya dengan istri tidak setiap hari, namun jika ada masalah di rumah ya segera nelpun. Biasanya saya mencari waktu saat istri sedang istirahat kerja atau malam hari. Tapi kadang ya hanya WA. kalau penting sekali ya video callAy. Komunikasi yang dilakukan secara rutin dan hangat, membuat hubungan jauh serasa dekat. Sehingga kondisi sehari-hari pasangan selalu tahu, termasuk jika ada masalah bisa segera Komitmen melakukan komunikasi keluarga setiap saat harus disepakati dengan masing-masing pasangan, supaya antara satu dan lainnya bisa menyediakan waktu untuk Komitmen dalam berkomunikasi adalah menjadi perekat keluarga yang akhirnya berpengaruh terhadap ketahanan keluarga dari berbagai masalah. Kondisi inilah yang dibutuhkan pada realitas hubungan keluarga jarak jauh. Selain komunikasi keluarga, dukungan sosial terutama dari orang-orang terdekat, keluarga besar, tetangga kiri kanan, menjadi pendukung terhadap kekuatan dan keutuhan keluarga pasca hubungan jauh. Ibarat orang-orang dekat ini mempu meredakan masalah yang mungkin muncul akibat perbedaan-perbedaan yang ada. Apalagi pada masyarakat desa, ibarat tetangga adalah Sehingga tidak ada kata tidak akur dengan tetangga. Pendukung utama dalam keluarga bagi masyarakat desa adalah tetangga. Seperti yang disampaikan subjek Pin kepada peneliti Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 Aukalau di desa ya harus dekat dengan tetangga dan saudara, karena mereka yang menolong kita jika ada masalah. Meskipun pasangan kita jauh, kalau kita berbaik hati ke tetangga masih ada yang menolongAy. Kutipan ini menunjukkan bahwa kehidupan keluarga di desa tidak bisa lepas dari tetangga dan saudara, meskipun tidak ada pasangan. Kebaikan dan kesempurnaan keluarga didukung oleh orang-orang terdekat, yaitu saudara dan tetangga. Hal yang juga penting dalam menjaga ketahanan keluarga adalah manajemen keuangan. Manajemen keuangan keluarga dilakukan secara terbuka oleh suami istri, meskipun hubungan mereka jarak jauh. Manajemen keuangan yang terbuka ini memudahkan mereka saling mengetahui dan saling melengkapi. Namun karena hubungan jarak jauh, terkadang muncul rasa curiga terhadap pasangan. Seperti disampaikan subjek Syam kepada peneliti sebagai berikut: AuManusia itu tidak ada yang sempurna, kebutuhan salalu ada dan kurang. Masalah keuangan bagi saya dan istri, terkadang jadi masalah. Apalagi saat ini istri saya sedang bekerja di Hongkong, tapi kami selalu terbuka, sehingga tidak ada beban dari kamiAy. Komitmen pada keluarga untuk kuat, dan bisa bertahan dari semua masalah memerlukan perjuangan, terutama dalam mengelola keuangan keluarga. Pengelolaan keuangan yang dilakukan secara terbuka akan mengurangi kecurigaan dan kekhawatiran diantara pasangan, apalagi pada keluarga yang pernah terjadi hubungan jarak jauh. Oleh karena itu pengeloaan keuangan keluarga secara bersama, menjadi faktor kekuatan keluarga. Dari kutipan wawancara bisa ditabulasikan sebagai temuan penelitian seperti yang terlihat dalam tabel berikut: Tabel 02. Perekat Hubungan Jarak Jauh Pada Keluarga Migran No. Fakta Perekat Hubungan Jarak Jauh Sumber Data Suami ikut bertanggung jawab pada permasalahan Subjek Pin yang di hadapi istri Membangun hubungan dengan orang-orang terdekat, yaitu saudara dan tetangga Sikap positip dan dukungan emosional, serta berusaha Subjek Put untuk memenuhi keinginan pasangan Berkomitmen dalam melaksanakan selamatan untuk Subjek Sugi kirim doa kepada leluhur sebagai kegiatan ritual rutin Upacara petik padi sebelum panen. Panen merupakan Subjek Syam harapan semua anggota keluarga. Pasangan yang sedang tidak tinggal di rumah juga ikut merasakan kebahagian keluarga. Komitmen keluarga untuk kuat, dan bertahan dari semua masalah terutama dalam mengelola keuangan Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Komunikasi yang cenderung dilakukan secara rutin dan hangat Hal 73-87 Subjek Tik Tabel di atas menunjukkan, dari temuan penelitian terdapat unsur-unsur perekat hubungan jarak jauh pada keluarga pekerja migran. Unsur tersebut bisa dilihat dari beberapa aspek, aspek pertama adalah dari pandangan budaya, misalnya subjek Sugi dan subjek Syam memiliki komitmen dalam mengirim doa untuk leluhur dan melaksanakan upacara petik padi, aspek kedua adalah sikap positip dan dukungan emosional pada pasangan serta terbuka dalam keuangan, ini dimiliki oleh subjek Put dan subjek Syam, dan aspek ketiga adalah komunikasi yang intens yang dimiliki oleh subjek Pin da subjek Tik. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Walsh . bahwa resiliensi keluarga dapat diinterfensi dengan cara yang confidence dan pemahaman yang baik, yang bergantung pada budaya, struktur keluarga dan pola asuh didalamnya. Sebuah keluarga bisa tetap berfungsi secara positif dan menjadi resiliens, di tengah masalah jika memiliki beberapa alternatif, salah satunya adalah family therapy, yakni sebagai langkah preventif yang berfungsi untuk mencegah potensi resiko yang terjadi dalam keluarga. Sehingga kehidupan keluarga yang normal bisa terwujud kembali, pasca mengalami krisis yang panjang. Hal yang menjadi penting karena ketahanan keluarga adalah bagaimana anggota keluarga saling memberikan dukungan saat terjadinya masalah dalam keluarga. Selain itu. Patterson . mengungkapkan bahwa konsep ketahanan keluarga melalui sudut pandang proses, yaitu melihat kemampuan keluarga memobilisasi kekuatan secara aktif saat mengalami krisis. Dalam penelitian di atas ditunjukkan bahwa pasangan memiliki sikap positip dan memberi dukungan emosional pada saat menghadapi situasi yang sulit. Ketahanan keluarga mengacu pada keluarga sebagai sistem fungsional, dimana antar pasangan memberikan fungsi maksimal melalui interaksi, komunikasi dan pola asuh didalamnya. Dampak fungsional antar pasangan tersebut, mendorong ketahanan individu (Sternthal et al. , 2. , baik secara biologis, sosial dan psikologis (Hadfield & Ungar, 2018. Ungar, 2. Tabel berikut adalah bentuk ketahanan keluarga pekerja migran dalam menghadapi masalah. Tabel 03. Bentuk Resilensi Keluarga dalam Menghadapi Masalah No. Bentuk Masalah Temuan Penelitian Menghadapi kasus yang harus Kepala keluarga . memiliki diselesaikan pasangan dominasi kuat Cara dalam Pasangan memberikan aspek positip menyikapi sikap pasangan Keyakinan yang mampu Menjalankan spiritualitas bersama memberikan sugesti dalam menyelesaikan masalah Menghadapi hal yang sifatnya Melaksanakan ritual yang rutin berat secara bersama Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 Memberi dukungan dan Melaksanakan Komunikasi keluarga kekuatan pada pasangan Menghadapi masalah yang Meminta dukungan sosial: saudara dan berhubungan dengan anak tentangga dekat atau pasangan Kekhawatiran dan kecurigaan Manajemen keuangan yang terbuka pasangan dalam keuangan Walsh . mengidentifikasi proses-proses utama dalam ketahanan keluarga, adalah memaknai kesulitan, memiliki pandangan positif, transendensi dan spiritualitas, fleksibilitas, keterhubungan, memobilisasi sumber daya sosial dan ekonomi, kejelasan, berbagi emosi secara terbuka, pemecahan masalah kolaboratif, dan sikap proaktif. Proses-proses ini melibatkan pemahaman akan kesulitan, normalisasi tekanan, menumbuhkan rasa koherensi, dan fokus pada interaksi positif. Bentuk-bentuk ini terlihat dalam aspek ketika subjek menghadapi masalah, memahami masalah bahwa masalah yang timbuh dari salah satu pasangan adalah masalah mereka bersama, dan mencari solusi secara bersama. Pemecahan masalah yang muncul melibatkan keterbukaan antara pasangan, kolaboratif dan proaktif diantara mereka. Meskipun sumberdaya ekonomi istri sebagai pekerja migran, namun pengelolaan menempatkan suami sebagai memegang kendali, misalnya untuk biaya sekolah anak, untuk kebutuhan sehari-hari dan saving. Mereka menekankan pentingnya fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan otoritatif yang kuat dari suami. Walsh . keterhubungan melibatkan saling mendukung, kerja tim, dan komitmen, menghormati kebutuhan dan perbedaan individu hal ini terlihat pada komitmen masing-masing subjek penelitian untuk tetap menerima pasangan apa adanya. Kekuatan dan ketahanan keluarga dalam masa krisis, artinya antar pasangan yang saling bejauhan hanya akan bisa diperoleh ketika ada sumberdaya yang kuat yang itu diperankan oleh anggota keluarga terutama pasangan. Seperti yang di kemukakan oleh Luthar et al. untuk menghadapi keadaan krisis yang menimpa, (Herdiana, 2. keluarga harus memiliki sumber daya yang mendukung. Dukungan sumberdaya ini terutama dari pasangan, anak-anak dan orangorang di sekitarnya misalnya kakek, nenek, paman atau bibi, termasuk juga tetangga kiri kanan. Di masyarakat desa lokasi penelitian, hubungan sosial antara tetangga menunjukkan hubungan sosial yang kuat, bahkan melebihi hubungan dengan saudara, sehingga masalah keluarga terkadang terbantu dengan kehadiran tetangga. Dalam Patterson . bahwa konsep resiliensi keluarga hanya bisa dicapai melalui sudut pandang proses, yakni melihat kemampuan keluarga memobilisasi kekuatan secara aktif saat mengalami krisis. Dari hasil penelitian, menunjukkan bahwa ketika terjadi hubungan jarak jauh, subjek dengan pasangan telah mampu memobilisir kekuatan secara aktif, mulai ketika mengambil keputusan hidup berjauhan, memanfaatkan sumberdaya ekonomi, memaknai serta menyelesaikan masalah bersama. Kehidupan keluarga yang berhubungan jarak jauh selama beberapa tahun adalah situasi krisis yang dihadapi keluarga pekerja migran, rentan memunculkan masalah baru, sehingga memerlukan sumberdaya yang kuat. Keberadaan pasangan dalam mendukung dan menetralkan masalah. Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 menjadi kekuatan sendiri bagi keluarga. Dari hasil penelitian dukungan dari sumberdaya yang kuat tersebut bisa berupa sikap dominasi, ungkapan sikap positif, parter dalam spiritual, partner dalam menjalankan hal yang ritual dan rutin, partner dalam diskusi dan komunikasi, partner dalam manajemen keuangan, dan membangun relasi baik dengan saudara dan tetangga. Mawarpury & Mirza . mengatakan bahwa ketahanan keluarga, terlihat dari beberapa aspek yakni sikap saling melayani, adanya keakraban antara suami-istri. Orangtua yang selalu mengajar dan melatih anaknya dengan penuh tantangan kreatif, pelatihan yang konsisten dan mengembangkan ketrampilan. Suami-istri yang menjadi pemimpin dengan penuh kasih, dan Anak-anak yang mentaati dan menghormati orangtuanya. Indikator ketahanan ini sedikit banyak juga terlihat pada keluarga pekerja migran pasca hubungan jarak jauh, terutama pada sikap saling melayani, dan sikap keakraban pada suami istri. Ketahanan keluarga juga akan tumbuh Ketika masing-masing anggota keluarga memiliki sikap altruism antara satu dengan yang lain (Bevan & Sparks, 2011. Mawarpury & Mirza, 2. , dengan berusaha melakukan sesuatu untuk yang lain, melakukan dan melangkah bersama, pemeliharaan hubungan keluarga, menciptakan atmosfir positif, melindungi martabat bersama dan merayakan kehidupan bersama. Ketahanan keluarga di tengah situasi keluarga yang tidak berada dalam satu atap, membutuhkan energi yang besar. Secara kultur masyarakat Indonesia memiliki budaya altruism yang tinggi, sikap toleransi yang kuat, dan terbuka terhadap masalah yang dihadapi. Nilai budaya yang melekat pada masyarakat ini menjadi kekuatan dalam menciptakan ketahanan keluarga terutama pada pasangan pekerja migran saat hubungan jarak jauh. Ketahanan keluarga yang terbentuk, mengakibatkan hubungan sosial keluarga pekerja migran dalam masyarakat tetap solid, sehingga ketahanan sosial tetap terjadi SIMPULAN Hasil penelitian tentang resiliensi keluarga pekerja migran dalam long distance relationship menunjukkan bahwa pasangan pekerja migran memiliki unsur-unsur perekat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Unsur perekat tersebut terlihat dari aspek menjalankan nilai-nilai budaya dalam keluarga, aspek memiliki sikap positif dan dukungan emosional pada pasangan, terbuka dalam keuangan, serta aspek komunikasi yang intens. Dalam aspek melaksanakan nilai-nilai budaya tedapat komitmen bersama dalam mengirim doa untuk leluhur dan melaksanakan upacara petik padi, komitmen pasangan dalam menjalankan keyakinan dan ritual rutin keluarga ini menjadi salah satu perekat hubungan jarak jauh. Konteks ini seiring dengan yang diungkapkan Walsh . resiliensi keluarga dapat diinterfensi dengan cara yang confidence dan pemahaman yang baik, yang bergantung pada budaya, struktur keluarga dan pola asuh didalamnya. Unsur perekat ketahanan keluarga pekerja migran dalam hubungan jarak jauh ini terlihat dari sikap saling melayani, menghargai, dan menghormati antar pasangan, serta sikap altruistik yang Artinya keluarga mampu memobilisasi kekuatan secara aktif saat mengalami krisis (Patterson, 2. Kepala keluarga . cenderung memiliki sikap dominasi dalam menyelesaikan masalah, baik di rumah maupun di tempat kerja istri. Pasangan juga mampu memberikan dukungan emosioal dalam menyelesaikan masalah dan menjalankan kegiatan ritual Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 rutin keluarga, membangun komunikasi yang intens, termasuk dukungan sosial dari saudara dan tetangga dekat, serta manajemen keuangan yang terbuka. Ketahanan keluarga pekerja migran ini didukung oleh budaya masyarakat Indonesia yang toleran, altruistik, melayani, menghormati, dan menghargai, sehingga konflik dan keretakan dalam keluarga pekerja migran dalam hubungan jarak jauh tidak mudah terjadi. Tutik Sulistyowati1*. Vina Salviana Darvina Soedarwo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 73-87 DAFTAR PUSTAKA