Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 Pengaruh Edukasi Manajemen Kesehatan Hipertensi Terhadap Tingkat Pengetahuan Pada Pasien Hipertensi Sinta Wijayanti1 Program Studi D3 Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panca Bhakti e-mail: sinta@pancabhakti. Abstract Hypertension is a state of blood pressure above normal values where the results of systolic pressure are above Ou140 mmHg or with diastolic Ou90 mmHg. Hypertension is also known as a silent killer because people with this disease do not show any signs of symptoms. Globally, there are around 1 billion people in the world with uncontrolled hypertension. Dara Riskesdas explained that there were 50% cases of uncontrolled hypertension, and 40% of them died because of uncontrolled hypertension. When people with hypertension do not control their disease properly, it will cause various complications. Special attention is needed for people with hypertension so as not to endanger safety and even cause death. The level of patient knowledge and awareness of blood pressure control is still very low. So knowledge is the main predictor of uncontrolled hypertension. The aim of the study was to determine the effect of health education on hypertension management on the level of knowledge of hypertensive This study used the Pre-experimental design experimental method with a One-group pretest-posttest design with 50 respondents. Data were analyzed univariately and bivariately using the T test with a Confidence Interval (CI) value of 95%. shows that the provision of hypertension health management education has an influence on the level of knowledge of respondents with a p-value: 0. Increasing knowledge can be influenced by the process of hearing and listening to good information from the majority of respondents. Keywords : Hypertension Management Education. Knowledge. Hypertension Abstrak Hipertensi merupakan keadaan tekanan darah di atas nilai normal dimana hasil tekanan sistolik berada di atas Ou140 mmHg atau dengan diastolik Ou90 mmHg. Hipertensi disebut juga sebagai pembunuh diam-diam dikarenakan pada penderita penyakit ini tidak menunjukkan tanda Secara global, terdapat sekitar 1 milliar penduduk dunia dengan hipertensi yang tidak Dara Riskesdas menjelaskan bahwa terdapat 50% kasus hipertensi yang tidak terkontrol, dan 40% diantaranya meninggal karena hipertensi yang tidak terkontrol tersebut. Ketika penderita hipertensi tidak mengontrol penyakitnya dengan baik, akan menimbulkan berbagai masalah komplikasi. diperlukannya perhatian khusus pada penderita hipertensi agar tidak sampai membahayakan keselamatan bahkan dapat menimbulkan kematian. Tingkat pengetahuan serta kesadaran pasien terhadap kontrol tekanan darah masih sangat rendah. Sehingga pengetahuan merupakan prediktor utama hipertensi yang tidak terkontrol. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh edukasi kesehatan manajemen hipertensi terhadap tingkat pengetahuan pasien hipertensi. Penelitian ini menggunakan metode aksperimen Preexperimental design dengan One-group pretest- posttest design dengan jumlah responden 50 Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji T dengan nilai Confidence Interval (CI) sebesar 95%. menunjukkan bahwa pemberian edukasi manajemen kesehatan hipertensi memiliki pengaruh terdapat tingkat pengetahuan responden dengan nilai p-value : 0,000. Peningkatan pengetahuan dapat dipengaruhi oleh proses mendengar dan menyimak informasi yang baik dari mayoritas responden. Kata Kunci : Edukasi Manajemen Hipertensi. Pengetahuan. Hipertensi PENGARUH EDUKASI MANAJEMEN KESEHATAN HIPERTENSI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PADA PASIEN HIPERTENSI (SINTA WIJAYANTI) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 PENDAHULUAN Hipertensi merupakan keadaan tekanan darah di atas nilai normal dimana hasil tekanan sistolik berada di atas Ou140 mmHg atau dengan diastolik Ou90 mmHg. Hipertensi merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh kegagalan jantung, gagal ginjal, stroke. Hipertensi disebut juga sebagai pembunuh diam-diam dikarenakan pada penderita penyakit ini tidak menunjukkan tanda gejalanya (Smeltzer et al. , 2. Prevalensi hipertensi menurut WHO . bervariasi di berbagai wilayah Negara. Jumlah penderita hipertensi dari tahun 1975 semakin meningkat sampai 2015 yaitu dari 594 juta meningkat menjadi 1,13 miliar penderita. Di dunia sendiri diprediksi prevalensi penderita hipertensi semakin meningkat tahun 2025 sebanyak 29%. Di Indonesia sendiri prevalensi penderita hipertensi mencapai 26,5% dengan mayoritas pada wanita yaitu 666. 920 penderita hipertensi dan pada laki-laki sekitar 319. 121 penderita hipertensi (Maharani & Widodo, 2. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2013, faktor resiko terjadinya hipertensi terbesar yaitu penyakit kardiovaskuler sehingga dapat menyebabkan jantung iskemik sekitar 47% dan stroke sekitar 54%. Lebih lanjut di Indonesia diperkirakan hipertensi merupakan penyakit No. 5 penyebab kematian (Kemenkes, 2. Secara global, terdapat sekitar 1 milliar penduduk dunia dengan hipertensi yang tidak terkontrol. Dara Riskesdas menjelaskan bahwa terdapat 50% kasus hipertensi yang tidak terkontrol, dan 40% diantaranya meninggal karena hipertensi yang tidak terkontrol tersebut. Pada penderita hipertensi yang memiliki komplikasi serta penyakit penyerta lainnya dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas yang pada akhirnya dapat menimbulkan masalah kesehatan (Kemenkes, 2. Berdasarkan hal tersebut, hipertensi merupakan salah satu penyakit yang harus dikontrol oleh penderitanya. Ketika penderita hipertensi tidak mengontrol penyakitnya dengan baik, maka akan menimbulkan berbagai masalah komplikasi. Masalah yang ditimbulkan dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung yaitu kerusakan organ jantung seperti: gagal jantung, angina yang kemudian dapat menyebabkan stroke, gagal ginjal, retinopati, miokardium, serta penyakit arteri perifer (Setyaningrum. Permana, &Yuniarti, 2. Faktor yang berkontribusi pada terjadinya hipertensi yang tidak terkontrol tersebut adalah usia, tingkat pendidikan, ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi, merokok, obesitas, serta kurangnya aktivitas fisik yang nantinya dapat menyebabkan peningkatan resiko kematian (Kurnia et al. , 2. Berdasarkan uraian tersebut maka diperlukannya perhatian khusus pada penderita hipertensi agar tidak sampai membahayakan keselamatan bahkan dapat menimbulkan Tingkat pengetahuan serta kesadaran pasien terhadap kontrol tekanan darah masih sangat rendah. Sehingga pengetahuan merupakan prediktor utama hipertensi yang tidak terkontrol (Kurnia et al. , 2. Lebih lanjut diperlukannya penatalaksanaan dan penanganan yang baik oleh tenaga kesehatan terutama perawat (Santosa. Chasani, & Pramudo, 2. Penatalaksanaan dilakukan perawat sebagai tenaga kesehatan dapat mulai dilakukan dengan memberikan pengetahuan, informasi, dukungan, serta motivasi kepada pasien dan keluarga. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan peningkatan pemahaman pasien dan keluarga terkaut hipertensi dan komplikasinya melalui pemberian edukasi manajemen kesehatan hipertensi (Kusuma D, et al, 2. Edukasi merupakan suatu proses dimana terjadi transfer pengetahuan, nilai, keterampilan, dan pengalam suatu individu atau kelompok ke individu lainnya. Edukasi dilakukan dengan tujuan meningkatkan tingkat pengetahuan pasien terhadap kesehatan dan juga meningkatkan kesadara masyarakat terkait pentingnya menjaga kesehatan (Appulembang et al. , 2. Hal ini didukung oleh Wang et al. , . bahwa penderita hipertensi dengan tingkat kesadaran yang rendah sangat disarankan dengan pemberian edukasi dan intervensi secara efektif. Berdasarkan hal tersebut makan penulis menjadi tertarik untuk melakukan penelitian terkait AuPengaruh Edukasu Manajemen Hipertensi Terhadap Tingkat Pengetahuan Pada Pasien Hipertensi di Desa Pujorahayu. Kecamatan Negeri Katon. Kabupaten PesawaranAy. Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis efektivitas Edukasi Kesehatan Manajemen Hipertensi Terhadap Tingkat Pengetahuan Pada Pasien Hipertensi di Desa Pujorahayu. Kecamatan Negeri Katon. Kabupaten Pesawaran. Lebih lanjut tujuan khusus PENGARUH EDUKASI MANAJEMEN KESEHATAN HIPERTENSI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PADA PASIEN HIPERTENSI (SINTA WIJAYANTI) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 penelitian ini adalah diketahuinya tingkat pengetahuan pada pasien Hipertensi sebelum dan sesudah diberika edukasi kesehatan manajemen hipertensi di Desa Pujorahayu. Kecamatan Negeri Katon. Kabupaten Pesawaran. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode aksperimen Pre-experimental design dengan One-group pretest- posttest design. Pada penelitian ini dilakukan pretest sebelum memberikan perlakuan agar mendapatkan keakuratan hasilnya yang kemudian dilakukan perbandingan hasil sebelum dan sesudah perlakuan (Sugiono, 2. Pretest 5 menit sebelum dilakukannya intervensi, dengan mengisi lembar kuesioner terkait manajemen hipertensi. Selanjutnya diberikan edukasi manajemen kesehatan hipertensi selama 60 menit, dan kemudian dilakukan posttest 5 menit setelah diberikannya intervensi. Lebih lanjut hasil tingkat pengetahuan dilakukan perbandingan dan dianalisis. Total sampel pada penelitian ini berjumlah 50 responden yang tinggal di Desa Pujorahayu. Kecamatan Negeri Katon. Kabupaten Pesawaran, dengan kriteria inklusi: Usia Ou18 tahun, menderita hipertensi, mengalami kurang pengetahuan terkait manajemen hipertensi, dan tidak memiliki gangguan pendengaran serta mampu berkomunikasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kuesioner tingkat pengetahuan manajemen hipertensi dan SOP edukasi manajemen hipertensi. Kuesioner tingkat pengetahuan manajemen hipertensi yang digunakan terdiri dari 25 pertanyaan dengan total skor penilaian di persentasikan. Hasil skor terbagi menjadi tiga yaitu: tingkat pengetahuan baik . %-100%), pengetahuan cukup . %-60%) dan pengetahuan kurang (<40%). Uji layak etik yang digunakan dalam penelitian mengacu pada prinsip etik beneficence and non maleficence, justice, dan respect for human dignity (Beck & Polit, 2. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS yang dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji T dengan nilai Confidence Interval (CI) sebesar 95%. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian didapatkan melalui analisis univariat dan analisis bivariat. Pada analisis univariat bertujuan untuk mengetahui distribusi masing- masing karakteristik dan variabel yang diteliti yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, dan tingkat pengetahuan. Tabel 1 Distribusi Frekuensi dan Proporsi Variabel Penelitian Variabel Usia Dewasa Awal . -40 th. Dewasa Madya . -60 th. Lansia (>60 th. Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Tingkat Pengetahuan Sebelum Edukasi Kurang (< 49%) Cukup . -69%) Baik (Ou70%) Tingkat Pengetahuan Sesudah Edukasi Kurang (< 49%) Cukup . -69%) Baik (Ou70%) Frekuensi Persentase (%) PENGARUH EDUKASI MANAJEMEN KESEHATAN HIPERTENSI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PADA PASIEN HIPERTENSI (SINTA WIJAYANTI) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 Lebih lanjut setelah dilakukan analisis univariat kemudian peneliti melakukan analisis bivariate untuk mengetahui pengaruh edukasi manajemen hipertensi terhadap tingkat mengetahuan pasien. Tabel 2 Pengaruh Edukasi Manajemen Kesehatan Hipertensi pada Tingkat Pengetahuan Variabel Tingkat Pengetahuan Sebelum Ae Tingkat Pengetahuan Sesudah RataRata 1,520 Min Max 0,580 1,355 1,685 Nilai p 0,000 Berdasarkan table 1 diketahui hasil penelitian diketahui usia paling banyak terjadi pada responden adalah usia dewasa madya . %). Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ekarini et al. , . bahwa hipertensi lebih tinggi terjadi pada usia dewasa madya keatas dibandingkan dengan usia dewasa awal. Lebih lanjut N. Wang et al. , . bahwa usia O 55 tahun merupakan onset awal terjadinya hipertensi, usia tersebut memiliki 6,2 kali lipat resiko hipertensi pada Jumlah pasien pada usia dewasa meningkat 8,5% dari populasi dunia saat ini dan diperkirakan akan meningkat sekitar 17% pada tahun 2050 (Suvila et al. , 2. Pada usia dewasa terjadi penuaan vaskular sehingga menyebabkan terjadinya disfungsi endotel dan remodeling vaskular (Billen & Wenger 2. Proses tersebut akan meningkatkan kekakuan arteri superior dan menyebabkan hipertensi sistolik terisolasi (Suvila et al. , 2. Lebih lanjut Ekarini et al. , . menjelaskan bahwa disfungsi endotelial dan peningkatan kekakuan arteri akan terjadi pada hipertensi Seseorang akan berpengaruh pada daya tangkap dan pola pikir. Seiring dengan pertambahan usia individu makan akan semakin berkembang daya tangkap dan pola pikir individu tersebut sehingga menyebabkan meningkatnya pengetahuan. Pada usia produktif . -35 tahu. seseorang akan berperan penting dalam aktivutas dan kemampuan kognitif yang baik. Oleh sebab itu pada individu dengan usia produktiv akan meningkatkan tingkat pengetahuan (Pangesti, 2. Berdasarkan jenis kelamin, diketahui bahwa responden laki-laki . %) lebih banyak dibandingkan dengan responden wanita . %). Hal ini sejalan dengan Meinert. Thomopoulos, & Kreutz . bahwa prevalensi laki-laki . %) lebih banyak dibanding wanita . %). Hal tersebut dikarenakan jenis kelamin laki-laki banyak mengalami hipertensi terkait dengan resiko kardiovaskular yang lebih besar sehingga terjadi resiko kegagalan kardiovaskular dalam 10 tahun. Laki-laki lebih berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi dapat dikarenakan memiliki tekanan darah sistolik lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Selain itu laki-laki juga cenderung beresiko terjadinya hipertensi dikarenakan tidak memiliki hormon seperti pada wanita yaitu hormon esterogen, olehsebab itu laki-laki tidak memiliki perlindungan akan munculnya kejadian hipertensi dan komplikasinya (Arum, 2. Berdasarkan pendidikan responden paling banyak pada pendidikan SD . %). SMP . %). SMA . %), dan perguruan tinggi . %). Berdasarkan data tersebut diketahui semakin rendah tingkat pendidikan seseorang makan akan menyebabkan meningkatnya hipertensi dan sebaliknya. Hal tersebut sesuai dengan Musfirah & Masriadi, . bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi. Rendahnya tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap kesadaran sesorang dalam melaksanakan perilaku sehat. Dimana tingkat pendidikan menandakan pengetahuan dan kesadaran yang rendah akan menghambat perkembangan dan sikap seserang pada penerimaan informasi dan menyebabkan kondisi hipertensi menjadi tidak terkontrol. Namun, tingkat pendidikan yang tinggi, tidak menjamin kalau pengalaman yang didapat juga tinggi dikarenakan adanya pengaruh faktor sosial budaya yang memengaruhi seseorang dalam bertindak sesuai pengalamannya (Musfirah & Masriadi. Hasil penelitian didapatkan tingkat pengetahuan sebelum diberikan edukasi berada pada tingkat pengetahuan kurang . %) dan cukup . %). Hasil tersebut diketahui bahwa sebagian besar responden berada pada tingkat pengetahuan kurang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kurnia et al. bahwa pengetahuan sebelum diberikan intervensi edukasi penatalaksanaan hupertensi berada pada kategori kurang. Hal tersebut dikarenakan masih banyak responden yang belum mengetahui cara pengobatan yang benar serta jarang terpaparnya informasi pendidikan yang diberikan. Tingkat PENGARUH EDUKASI MANAJEMEN KESEHATAN HIPERTENSI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PADA PASIEN HIPERTENSI (SINTA WIJAYANTI) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 pendidikan juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang bahwa pengetahuan yang luas akan didapatkan oleh seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa pemberian edukasi manajemen kesehatan hipertensi memiliki pengaruh terdapat tingkat pengetahuan responden dengan nilai p-value : 0,000. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Appulembang et al. , . bahwa edukasi kesehatan dalam pencegahan hipertensi memiliki pengaruh terhadap pengetahuan pasien dengan nila pvalue : 0,006. Hal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh proses mendengar dan menyimak informasi yang baik mayoritas responden (Kurnia et al. , 2. Pemberian edukasi dilakukan melalui tahapan persiapan, direncanakan, dan dirancang dengan metode untuk memastikan pasien dapat menerima informasi yang diberikan, sehingga dapat bermanfaat dan meningkatkan pengetahuan pasien terkait hipertensi (Rahmawati et al. , 2. Edukasi hipertensi dapat meningkatkan pengetahuan yang meliputi pola makan sehat, kepatuhan pengobatan, dan bagaimana cara pencegahan pengobatan hipertensi (Kurnia et al. , 2. Penerimaan informasi baru terkait suatu hal melalui edukasi yang diberikan akan memberikan landasan afektif dalam menilai sesuatu yang pada akhirnya akan membentu pengetahuan baru (Appulembang et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh edukasi manajemen hipertensi terhadap tingkat pengetahuan padapasien hipertensi. UCAPAN TERIMAKASIH . ika ad. Bagi Desa Pujorahayu. Kecamatan Negeri Katon. Kabupaten Pesawaran saya ucapkan terimakasih karena telah bersedia memberikan fasilitas dan sarana demi kemajuan dan kepedulian dalam pemberian pelayanan bagi warga dengan penyakit kronik seperti hipertensi. DAFTAR PUSTAKA