BESTARI: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnalstkipmelawi. id/index. php/JBPK E-ISSN: 2746-8062 Interpreta on of Local Wisdom in the Tula Bak Ritual as Authe Other HomeAy among the Ile Boleng Community. Adonara. East Flores Anselmus Bala Molan*1. Paulus Pati Lewar2 1Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, 2Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero2 Abstract This article aims to examine how the Ile Boleng people in Adonara. East Flores. East Nusa Tenggara, accord a central and special place to the AubakAy . errocement tan. within their life. This treatment is revealed in the ritual stages of AuTula BakAy . he construction of AubakA. This study aims to describe and interpret it. The study, conducted using a qualitative approach, namely literature review, observation, and interviews in September 2024, resulted in one main inding that the ritual of AuTula BakAy parallel with the ritual of AuTula Uma LangoAy . he contruction of dwelling hous. in Lamaholot community. Through this parallelism, the AubakAy acquires a sacred object and seems to possess spiritual power like a house. For the Lamaholot people, the house is not merely a place of residence. it is also a site of protection, a source of strength, and a wellspring of the spirit of life. Accordingly, this study is expected to contribute to society by helping preserve its culture and promoting a water-saving lifestyle amid the increasingly signi icant crisis of clean water scarcity. Keywords: AuTula bakAy, central and special place, ritual stages, spiritual power. Submitted: 9 March 2026. Reviewed: 14 March 2026. Accepted: 4 April 2026 DOI: 10. 46368/bjpd. Interpretasi Kearifan Lokal dalam Ritual Tula Bak Sebagai AuRumah Yang LainAy pada Masyarakat Ile Boleng. Adonara. Flores Timur Abstrak Artikel ini membahas bagaimana masyarakat Ile Boleng. Adonara. Flores Timur. Nusa Tenggara Timur (NTT) menempatkan dan memperlakukan bak air secara sentral dan istimewa dalam hidup mereka. Perlakuan ini terungkap dalam tahapan ritual upacara Tula Bak, pembuatan bak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikannya. Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu studi literatur, observasi, dan wawancara pada periode September 2024 menghasilkan satu temuan utama bahwa tahapan ritual dalam upacara Tula Bak itu sama seperti tahapan ritual dalam pembangunan uma lango, rumah tinggal, masyarakat Lamaholot. Demikianlah bak air menjadi sakral dan keramat seakan memiliki kekuatan spiritual sama seperti rumah. Sebab bagi masyarakat Lamaholot, rumah tidak hanya sebagai tempat berdiam, tetapi juga sebagai tempat berlindung, tempat menimbah kekuatan dan spirit kehidupan. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi masyarakat untuk melestarikan budayanya serentak membangun pola hidup yang menghargai air . ola hidup hema. di tengah krisis kelangkaan air bersih yang semakin sigini ikan. Kata-kata Kunci: Tula Bak, tahapan ritual, perlakuan yang istimewa, kekuatan spiritual. Corresponding Author: Anselmus Bala Molan, ansel. molan@yahoo. id, vitaverliana930@gmail. Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pon anak. Kalimantan Barat. Indonesia 92 |Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Interpreta on of Local Wisdom in the Tula Bak Ritual as Authe Other HomeAy among the Ile Boleng Community. Adonara. East Flores PENDAHULUAN Kebutuhan akan air bersih adalah persoalan fundamental seluruh umat manusia. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka akan berdampak serius bagi keberlangsungan hidup manusia (Verma & Prakash, 2025: 61-. Kita boleh menyebut salah satu dampak yang paling buruk itu adalah kematian. Laporan UNICEF dan WHO menegaskan fakta ini dengan mengatakan angka kematian manusia di dunia terutama anak-anak akibat keterbatasan akses air bersih adalah cukup tinggi (Patunru, 2015: 234-. Walaupun demikian diskursus ini tetap menimbulkan persoalan terutama berhadapan dengan fenomena kekurangan atau ketiadaan air bersih sebagai situasi Fenomena itu terjadi bukan karena kelalaian manusia, melainkan karena kondisi topografis dan geologis wilayah bersangkutan. Masyarakat Ile Boleng. Adonara sudah mengalami situasi ini secara turun-temurun dengan amat Meskipun tidak memiliki satu pun titik mata air, mereka mampu bertahan-menetap hingga Solusi yang mereka lakukan adalah membangun bak penampung air hujan atau bak ferosemen . errocement tank. selanjutnya disebut ba. untuk masing-masing rumah (Kuswardono & Messakh, 2010: 22-. Tidak seperti pembangunan bak pada umumnya, pembangunan bak di wilayah ini sangat khas karena melewati tahapan ritual yang unik yang dapat dijumpai dalam upacara Tula Bak, pembangunan bak. Dengannya, bak yang dibangun bukan hanya sekadar bak biasa, melainkan bak yang memiliki nilai-nilai asali yang amat luhur. Oleh karena itu, dalam kajian ini peneliti bermaksud untuk menjelaskan makna ritual Tula Bak dalam kehidupan masyarakat Ile Boleng serta interpretasinya sebagai simbol Aurumah yang lainAy sehingga tema besar kajian ini adalah Bak Air sebagai AuRumah yang LainAy bagi Masyarakat Ile Boleng. Sebuah tempat yang diposisikan secara sentral dan istimewa karena memberikan kontribusi faktual yang luar biasa baik secara jasmani maupun rohani (Sachoemar et al. , 2021: 09-. Pemilihan kata rumah dalam frasa AuRumah yang LainAy berangkat dari posisi rumah yang khas dalam masyarakat Lamaholot . tnis masyarakat kabupaten Flores Timur. Lembata dan Alo. Menurut Ernest Vatter . 4: 40-. dalam konteks masyarakat Lamaholot rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai tempat menimbah kekuatan dan berkat. Untuk tujuan itu, pengerjaan rumah pun harus melewati tahapan ritual khusus. Anselmus Atasoge . 9: 57-. menegaskan bahwa substansi dari pelaksanaan setiap ritual dalam masyarakat Lamaholot adalah untuk mentransformasikan fungsi sesuatu benda yang kepadanya dikenakan ritual. Dengan demikian dalam dan melalui ritual, rumah mengalami tranformasi dalam fungsinya. Rumah bukan lagi menjadi bangunan mati melainkan bangunan yang berkekuatan . (Modh, 2012: 42-. Posisi bak yang sentral dan istimewa itu dipertegas kembali dengan fungsinya untuk menampung air sebagai kebutuhan pokok. Sebab air dalam konteks budaya masyarakat Lamaholot adalah personifikasi dari pengorbanan seorang perempuan . (Ona et al. , 2023: . Hal ini dapat ditemukan dalam cerita-cerita rakyat atau mitos antara lain: Wai Wui adalah kisah tentang seorang gadis yang bernama Bui. Dia dipersembahkan kepada kakek Kia Rata untuk mendapatkan mata air dari dalam gua (Ujan, 2018: 12-. Wai Belolong adalah kisah seorang dukun yang meminta guci orang-orang Lewotolok. Lembata yang adalah simbol perempuan, yang kemudian menjadi mata air di Horowura. Adonara (Molan, 2021: . Wai Leto Matan adalah pengorbanan seorang perempuan untuk menikah dengan makhluk gaib penguasa air dengan sumber air . ata ai. menjadi mas kawin. dan Wai Bele adalah kisah tentang tujuh orang perempuan yang hilang di 93 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Anselmus Bala Molan dan Paulus Pati Lewar Sebagai gantinya muncul tujuh mata air di Loga-Lewopulo. Witihama (Disbudpar Flotim, 2015:116-. Cerita-cerita rakyat tersebut di atas menggarisbawahi konsepsi tentang air yang selalu dikaitkan dengan kehadiran seorang perempuan atau ibu. Sama seperti seorang ibu yang yang bertugas memberi arti kehidupan, demikian juga air juga memberi kehidupan bagi banyak orang (Ona et al. 2023: . Lebih dari itu, kajian ini diulas berdasarkan sudut pandang masyarakat Neleblolong (Pukaon. , salah satu desa di wilayah Ile Boleng sehingga istilah-istilah yang digunakan merujuk pada wilayah ini. METODE PENELITIAN Pengerjaan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang didasarkan pada studi literatur, observasi, dan wawancara. Menurut Bogdan dan Taylor sebagaimana dijelakan dalam Trijono . 5: . secara konseptual pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian untuk menggali fenomena budaya secara mendalam, lengkap dan menyeluruh dalam konteks alami masyarakat setempat (Sugiyono, 2019: 24-. Lokus penelitian adalah wilayah desa Neleblolong (Pukaon. , kecamatan Ile Boleng, kabupaten Flores Timur, provinsi NTT. Wilayah ini dipilih oleh karena masih mempertahankan praktik ritual yang menjadi fokus kajian peneliti tidak seperti wilayah lainnya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan gerak turn in (Sugiyono, 2019: . , turun ke lapangan dan terlibat langsung bersama masyarakat Neleblolong dalam praktik ritual AuTula BakAy. Dalam proses yang berlangsung selama periode September 2024 itu penulis melakukan observasi dan wawancara mendalam dengan informan kunci (Mach, et al. , 2005: 13-. tokoh adat yang sekaligus menjadi juru bicara adat desa Neleblolong, yakni Bapak Gregorius Liat Jumat . Data-data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan model Miles dan Huberman (Sugiyono, 2019: . Pada tahap ini penulis melakukan studi literatur untuk mempertegas temuan dengan mencari dan mengumpulkan referensi yang masih relevan dengan tema penelitian (Syahruni et al. , 2025: 241-. Ada yang diperoleh dari media cetak berupa bukubuku dan ada yang diperoleh dari media eletronik berupa artikel penelitian terdahulu pada database-database legal. Peneliti menemukan bahwa masih terbatas penelitian terdahulu . esearch ga. yang membahas tema ini sehingga beberapa literatur yang digunakan masih berasal dari sumber yang relatif lama. HASIL DAN PEMBAHASAN Sekilas tentang Wilayah Ile Boleng Ile Boleng adalah salah satu kecamatan di pulau Adonara, kabupaten Flores Timur. NTT. Penamaan Ile Boleng sendiri berarti gunung Boleng. Nama ini mengindikasikan bahwa topografis wilayah ini adalah perbukitan sehingga hampir semua pemukiman masyarakat berada di area lereng gunung. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Flores Timur wilayah ini terdiri atas 20 desa. Dalam kajian ini, peneliti hanya berfokus pada 11 desa yang masih tergolong dalam satu rumpun ikatan budaya. Desa-desa itu antara lain: Helanlangowuyo (Lamahela. Lewopao, 94 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Interpreta on of Local Wisdom in the Tula Bak Ritual as Authe Other HomeAy among the Ile Boleng Community. Adonara. East Flores Herunbala (Harubal. Nelelamadike (Lamanel. Neleblolong (Pukaon. Nelelamawangi (Lamalaka Ata. Lamabayung. Nelelamawangi II (Lamalaka Bawa. Nobo. Gayak (Nelerere. , dan Duablolong (Riangder. (BPS Flotim, 2005: 3-. Menurut data badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gunung Boleng adalah salah satu gunung api aktif di Indonesia yang tercatat terakhir kali meletus pada tahun 1972. Sama seperti wilayah gunung berapi lainnya, wilayah ini cukup kering. Setiap tahun wilayah ini mengalami kekurangan dan kelangkaan air bersih. Kebutuhan air bersih sepenuhnya bergantung pada air hujan yang dikumpulkan pada sebuah bak penampung selama musim hujan dan beberapa sumur di wilayah pesisir (Sachoemar et al. , 2021, 09-. Walaupun memiliki kondisi topografisgeologis seperti demikian, mata pencaharian utama masyarakat di wilayah ini adalah petani. Sebuah profesi yang sebenarnya sangat kontras dengan keadaan alamnya yang kekurangan dan ketiadaan air bersih (Wahyudi et al. , 2018: 42-. Di sektor sosial-budaya, gunung Boleng tidak hanya sebagai sebuah gunung, tetapi juga sebagai simbol kosmologi masyarakat Ile Boleng. Gunung Boleng adalah personifikasi dari Wujud Yang Ilahi yang dikenal dengan Lera Wulan Tana Ekan, penguasa langit dan bumi (Arndt, 2003: 33. Atasoge, 2012: 55-. Mereka percaya bahwa mereka berasal dari Ile Boleng dan menyebut diri mereka sebagai suku Ile Lodo, turun dari gunung . ahir dari gunun. Karena itu, kehidupan mereka bersumber dan terarah pada gunung Boleng. Mereka meyakini bahwa berkat dan kutuk . masih berkaitan erat dengan gunung Boleng. Musim yang teratur dan panenan yang melimpah dianggap sebagai hasil dari bangunan relasi yang harmonis dengan Ile Boleng. Sementara bencana dan penyakit dianggap sebagai akibat dari bangunan relasi yang kurang harmonis, yang Dengan ini mereka menempatkan gunung Boleng secara sentral dalam hidup mereka (Molan, 2024: 7-. Upacara Tula Bak Di Indonesia bak Penampung Air Hujan (PAH) sudah mulai dikenal sejak tahun 1980-an sejalan dengan derap pembangunan nasional pasca kemerdekaan Indonesia. Proyek nasional ini menjangkau semua pelosok wilayah Indonesia secara khusus daerah-daerah yang mengalami krisis air bersih. Adapun tujuan dari proyek ini adalah memanen air atau mengumpulkan air hujan yang jatuh pada bidang tadah di atas permukaan bumi, baik berupa atap bangunan, jalan, halaman, dan untuk skala besar berupa daerah tangkapan air (Kementrian PU, 2. Dengan demikian, proyek ini dianggap sangat strategis untuk menopang kehidupan masyarakat setempat yang mengalami kekeringan atau kelangkaan air bersih (Sachoemar et al. , 2021, 09-. Sebagai salah satu wilayah dengan keadaan alam seperti tersebut sebelumnya, wilayah Ile Boleng tidak dapat lepas dari proyek Bahan dasar bak adalah campuran semen, pasir, dan air, yang diperkuat dengan anyaman kawat Sementara bentuk dan ukurannya berbeda-beda tergantung kebutuhan orang yang membangunnya (Nadasan et al. , 2013: . Untuk wilayah Ile Boleng, bak yang dibangun biasanya berbentuk segi empat dengan ukuran 3 x 3 meter . tandar minima. Ukuran ini diperkirakan dapat 000 liter air hujan. Karena berfungsi untuk menampung air sebagai kebutuhan pokok, masyarakat Ile Boleng menempatkan dan memperlakukan bak secara istimewa. Perlakuan yang istimewa ini terlihat dalam tahapan ritual upacara Tula Bak, pembangunan bak, yang dimulai dari tahap persiapan, pengerjaan sampai pemakaiannya. Oleh karena itu, di wilayah ini, bak 95 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Anselmus Bala Molan dan Paulus Pati Lewar bukanlah sekadar sebuah bak air. Bak yang ada di setiap rumah bersifat sakral dan keramat sehingga berbeda dengan bak air di wilayah-wilayah lainnya (Modh, 2012: . Ritual-Ritual yang Dilewa Seperti tersebut sebelumnya, tahapan ritual dalam upacara Tula Bak di wilayah Ile Boleng terdiri atas tiga yang mencakupi tahap persiapan, pengerjaan dan pemakaian. Pada tahap persiapan, pemilik rumah yang hendak membangun bak, harus memastikan persediaan alat dan perlengkapan ritual secara matang demi kelancaran ritual. Dengan kata lain, selain menyiapkan bahan dan material bangunan, pemilik rumah juga harus menyiapkan dua hewan korban, yaitu satu ekor babi dan satu ekor kambing. Beberapa hari sebelum pengerjaan bak, juru hubung akan melakukan hoya maya, mengundang kerabat, dari rumah ke rumah. Mereka yang diundang itu adalah anggota keluarga, anggota suku dan bahkan lewo, seluruh warga kampung. Kemudian pada hari yang ditetapkan, semua orang yang sudah diundang itu datang dan berkumpul di sekitar area yang akan dibangunkan bak (G. Jumat, komunikasi pribadi. September 2. Pada tahap pengerjaan, mula-mula setelah tukang membuat dan mematok fondasi bak, dilakukan ritual mehi goka, menumpahkan darah hewan korban. Kedua hewan korban dipotong secara berturut-turut, korban babi dan korban kambing, pada bagian leher di luar area fondasi bak. Darah kedua hewan itu dikumpulkan secara terpisah dalam dua buah wadah berupa neak atau keo, tempurung kelapa. Sesudah itu kedua neak diserahkan kepada pemilik tanah yang sudah menunggu di dalam area fondasi. Di wilayah Ile Boleng, pemilik tanah tidak dapat disamakan dengan tuan Tuan tanah boleh jadi adalah pemilik tanah, tetapi pemilik tanah tidak selamanya adalah tuan tanah (G. Jumat, komunikasi pribadi. September 2. Selanjutnya, pemilik tanah menerima kedua neak dan mengoleskan dan atau menumpahkan darah kedua hewan korban secara berturut-turut, darah korban babi dan korban kambing, pada batu pertama yang diletakkannya pada salah satu sudut fondasi bak. Adakalanya tidak hanya satu batu yang dioleskan, tetapi juga empat batu yang diletakkan pada keempat sudut fondasi. Apabila masih ada sisa darah hewan korban, pemilik tanah akan menumpahkannya di titik tengah area Setelah menyelesaikan ritual ini juru tukang bersama warga yang hadir dapat memulai pengerjaan bak secara gemohing, gotong royong. Pada umumnya pengerjaan bak dilakukan dalam tempo waktu setengah hari (A12 ja. Pekerjaan bermula pada pagi hari dan berakhir pada sore hari menjelang malam (G. Jumat, komunikasi pribadi. September 2. Selama proses pengerjaan bak, kedua hewan korban yang dipotong dalam ritual mehi goka itu diolah oleh ina bine, kaum perempuan, yaitu ibu-ibu dan anak-anak gadis di area yang dijadikan sebagai dapur. Namun mime, bagian kepala kedua hewan korban, diperlakukan secara berbeda. Mime bagian atas . ahang ata. diolah bersama dengan bagian tubuh lainnya sebagai lauk untuk perjamuan makan bagi semua orang yang hadir. Sementara mime bagian bawah . idah dan rahang bawa. menjadi bagian atau jatah dari pemilik tanah. Kedua mime hewan korban itu diserahkan kepada pemilik tanah untuk selanjutnya diolah di kediamannya (G. Jumat, komunikasi pribadi. September 2. Ketika bak sudah selesai dikerjakan, menyusul tahap terakhir, tahap pemakaian air. Tahap ini dilakukan ketika permukaan dinding dan alas bak sudah mulai mengering. Pada tahap ini, bak dapat diisi dengan air bersih secukupnya. Air itu tidak boleh digunakan begitu saja sebelum dilakukan 96 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Interpreta on of Local Wisdom in the Tula Bak Ritual as Authe Other HomeAy among the Ile Boleng Community. Adonara. East Flores sebuah ritual terakhir yang disebut dengan glete plumut, ritual sejuk-dingin. Untuk melakukan ritual ini, pemilik bak juga menyiapkan dua hewan korban sama seperti sebelumnya, yaitu satu ekor babi dan satu ekor kambing. Sebelum melakukan ritual, pemilik bak harus memastikan terlebih dahulu kehadiran semua peserta ritual, yaitu mereka yang terlibat pada hari pengerjaan bak. Tidak boleh ada yang terlupakan. Apabila ada peserta yang terlupakan, konsekuensinya adalah dilakukan ulang ritual glete plumut dengan jumlah hewan korban yang sama pula (G. Jumat, komunikasi pribadi. September 2. Berbeda dengan ritual mehi goka yang mewajibkan pemilik bak menyiapkan semua perlengkapan untuk keberlangsungan perjamuan, dalam ritual glete plumut, pemilik bak hanya menyiapkan lauk yang berasal dari kedua hewan korban. Dengan kata lain, pemilik bak hanya menyiapkan lauk untuk perjamuan bersama. Sementara nasi disiapkan masing-masing oleh kaum perempuan dari rumah mereka. Sesudah ritual glete plumut, air yang ada di dalam bak pertamatama harus diambil dan digunakan oleh seorang bine, saudara perempuan dari pemilik bak, yaitu dia yang paling tua yang masih dalam satu garis keturunan . atu nene. Pemilik bak boleh menggunakan air sesudah itu (G. Jumat, komunikasi pribadi. September 2. Bak Air sebagai AuRumah yang LainAy Semua tahapan ritual itu dilaksanakan secara cermat dan teliti. Tidak boleh terjadi kesalahan. Pelaksanaan tahapan ritual yang benar akan berakibat baik. Air yang ditampung tidak meresap, tidak kering, dan tetap terjaga kualitasnya. Sementara pelaksanaan tahapan ritual yang keliru akan berakibat buruk. Bak mudah mengalami kerusakan . sehingga tidak bisa menampung air. Dengan kata lain, masyarakat Ile Boleng percaya bahwa kerusakan bak, atau tidak berfungsinya bak, dan atau tidak bertahan lamanya bak, masih berkaitan erat dengan pelaksaan ritual yang keliru. Dalam kasus seperti ini, mesti dilakukan ulang tahapan ritual mulai dari awal. Tahapan ritual dalam upacara Tula Bak dipercaya oleh masyarakat Ile Boleng membuat bak menjadi sakral dan keramat yang mempunyai kekuatan spiritual . Dalam hal ini bak mengalami transformasi dalam fungsinya. Bak sama seperti rumah bukan lagi menjadi bangunan mati melainkan bangunan yang berkekuatan atau berjiwa (Modh, 2012: 42-73. Atasoge, 2019: 5. Atas dasar ini masyarakat Ile Boleng kemudian menempatkan dan menghormati bak secara istimewa dalam hidup mereka. Konon, pihak yang secara sengaja dan diam-diam merusakan bak, apabila tidak segera ditangani secara rekonsiliatif, akan ditimpa nasib sial seperti mengalami sakit berat atau kematian tragis. Kenyataan ini barangkali menjadi alasan mengapa pada waktu musibah banjir bandang akibat badai Siklon Tropis Seroja pada April 2021 yang menghantam desa Nelelamadike (Lamanel. , salah satu desa di wilayah Ile Boleng, beberapa bak di wilayah ini tetap aman seolah-olah dilindungi oleh sebuah kekuatan. Padahal sebagian besar rumah warga di sisi bak raib oleh ganasnya banjir. Di wilayah Ile Boleng fungsi bak sebenarnya dapat disamakan dengan fungsi uma lango, rumah tinggal, masyarakat Lamaholot. Dalam buku Ata Kiwang . 4: 40-. yang membahas konteks sosial budaya masyarakat Lamaholot. Ernest Vatter mendeskripsikan fungsi rumah tinggal yang dibedakan dari rumah adat secara spesifik antara lain: sebagai pusat reproduksi dan unit terkecil ruang pembagian kerja gender. tempat penyimpanan harta dan simbol status. perlindungan dan privasi keluarga. Fungsi-fungsi itu masih bersinggungan dengan rumah sebagai tempat berdiam dan berlindung, tempat menimbah rasa persaudaraan dan kekeluargaan, rasa kedamaian dan kegembiraan, terutama tempat menimbah kekuatan . dan spirit kehidupan. 97 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Anselmus Bala Molan dan Paulus Pati Lewar Untuk tujuan itu, pembangunan rumah harus melewati tahapan ritual khusus. Dalam konteks wilayah Ile Boleng, tahapan ritual itu ternyata tidak hanya ditemukan dalam upacara pembangunan rumah, tetapi juga dalam upacara pembangunan bak. Mengacu pada pola hubungan ini fungsi bangunan bak sebenarnya menyerupai fungsi rumah terutama sebagai tempat menimbah kekuatan . dan spirit kehidupan yang disimbolkan dalam air sebagai kebutuhan pokok. Selain sebagai kebutuhan pokok, air dalam budaya Lamaholot adalah personifikasi dari seorang perempuan . yang berkorban memberikan kehidupan (Molan, 2021: 16-. Semua orang Lamaholot berkewajiban menumbuhkan rasa hormat terhadapnya. Oleh karena itu, di wilayah Ile Boleng. Adonara. Flores Timur. NTT, tidak berlebihan apabila kita mengatakan bahwa bak adalah AuRumah Yang LainAy bagi mereka (Genua & Bala, 2022: 1. SIMPULAN Pembangunan bak penampung air hujan adalah solusi strategis bagi daerah-daerah yang mengalami krisis air bersih. Antusiasme masyarakat atasnya begitu dirasakan karena sejak diperkenalkan banyak orang yang berinisiatif membangun bak, baik itu untuk kepemilikan pribadi maupun untuk kepemilikan umum (Sachoemar et al. , 2021, 09-. Biaya bahan dan material bak yang cukup terjangkau dan daya tahan bak untuk waktu yang cukup lama menjadikan bak sebagai jawaban bagi masyarakat dalam mengatasi kelangkaan dan ketiadaan air bersih (Nadasan et al. 2013: . Fungsinya yang urgentif untuk menampung air bersih sebagai kebutuhan fundamental manusia membuat bak ditempatkan secara istimewa dalam hidup masyarakat. Fenomena ini sangat dirasakan di wilayah Ile Boleng. Adonara. Flores Timur. NTT yang menempatkan dan memperlakukan bak secara sentral dan istimewa dalam hidup mereka. Fakta ini terlihat dalam tahapan ritual upacara Tula Bak, yang mencakupi tahap persiapan, pengerjaan dan Tahapan ritual itu dilaksanakan secara cermat dan teliti agar bak bisa kokoh dan bertahan lama. Apabila dicermati, tahapan ritual dalam upacara Tula Bak di wilayah ini menyerupai tahapan ritual dalam pembangun uma lango, rumah tinggal, masyarakat Lamaholot. Tahapan ritual itu mentransformasikan bak air menjadi sakral dan keramat seakan memiliki kekuatan spiritual sama seperti rumah. Sebab dalam konteks budaya masyarakat Lamaholot, rumah tidak hanya sekadar sebagai tempat berdiam, tetapi juga sebagai tempat berlindung dan menimbah kekuatan serta spirit kehidupan (Vatter, 1984: 40-. Konteks ini didukung dengan fungsi bak sebagai wadah penampung air yang dalam konteks budaya masyarakat Lamaholot adalah personifikasi seorang perempuan . yang berkorban memberi kehidupan bagi banyak orang (Ona et al. , 2023: . Dengan demikian, bagi masyarakat Ile Boleng, bak air juga adalah tempat untuk memperoleh perlindungan, menimbah kekuatan dan spirit kehidupan. Bak adalah AuRumah yang LainAy bagi Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi penting dalam memperkaya kajian budaya masyarakat Ile Boleng karena menampilkan pemahaman yang mendalam tentang upacara Tula Bak yang mereka hidupi selama ini. Karenanya, penelitian ini adalah salah satu sumbangan bagi mereka dalam menjaga dan melestarikan budayanya tersebut. Lebih dari itu, karena tema besar penelitian ini adalah bak yang menampung air sebagai kebutuhan pokok manusia, penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi landasan untuk menumbuhkan sikap menghargai air, yaitu dengan membangun pola hidup hemat, di tengah-tengah krisis kelangkaan air bersih yang semakin merebak sekarang 98 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . Interpreta on of Local Wisdom in the Tula Bak Ritual as Authe Other HomeAy among the Ile Boleng Community. Adonara. East Flores DAFTAR PUSTAKA