Jurnal Seni Budaya FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS RASA DALAM TARI JAWA GAYA SURAKARTA Katarina Indah Sulastuti Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Abstract This article discusses the factors that affect the quality of taste/ rasa In Surakarta Style Java The quality of the taste in dance has subjective nature that arise a various interpretation of each individual. The differences that appear to be an obstacle in communication. The discussion is analyzed using the communication psychology theory, especially symbolic communication. The result of discussion is explained by several factors namely: emotional mood, cognitive scheme, atmosphere exposure, individual predisposition, and the level of character/ theme identification. the following discussion also raise the essential elements as the determinants of quality of taste or rasa in Surakarta style Java Dance, which consist material and immaterial elements. Key words : influence factors, quality, rasa. Java dance. Surakarta style Pengantar Manusia dalam melakukan komunikasi memanfaatkan simbol-simbol sebagai cara pengungkapan pesan di dalam kelompoknya. Pengungkapan pesan yang bersifat simbolis dapat berupa. gerak, bahasa, ekspresi muka, warna dan lain sebagainya. Simbol-simbol itulah yang melatarbelakangi keberadaan manusia dalam proses kehidupan yang membentuk sintesa budaya di dalam lingkunganya (Ernst Casier, 1987: . Tari Jawa Gaya Surakarta dengan segala elemen yang terdapat di dalamnya. endhing, temban. , rias-busana, properti dan lain sebagainya, merupakan sebuah sarana komunikasi yang sifatnya Segala unsur dalam tari itu merupakan ungkapan-ungkapan yang digunakan sebagai sarana penyampaian pesan yang sifatnya non Pesan non verbal ditangkap melalui penghayatan yang bermuara pada perasaan yang dalam, yaitu jiwa/batin. Wilayah batin merupakan objek penting dalam komunikasi simbolis dalam tari. Komunitas tari Jawa Surakarta memahami objek batin itu dengan istilah rasa. Rasa, dimaksudkan sebagai suatu kondisi psikis tari sekaligus penarinya. Rasa juga diartikan sebagai respon psikis/ batin individu-penonton/ penghayat setelah menikmati sebuah karya tari. Sebagai respon psikis dari stimulan bentuk tari, rasa ditangkap melalui indra fisik dan non fisik. Menurut Hegel, bentuk indera manusia ditentukan oleh dua hal yaitu internal dan eksternal, yang menciptakan manusia secara fisik dan secara spiritual . on fisi. Bentuk eksternal manusia mampu mengungkap hal spriritual dengan sesuatu cara yang inderawi seperti ekspresi manusia dalam bentuk mimik, gerak, suara dan lain sebagainya. Dari ekspresi tubuh itu juga mencerminkan roh/jiwa yang ada di dalamnya (Hegel, 2003:. Indra fisik manusia dapat diartikan sebagai indra yang sifatnya eksternal, yaitu mata-penglihatan, telinga-pendengaran, lidahpengecap, kulit-peraba dan lain sebagainya, sedangkan indra yang sifatnya non fisik adalah sebuah insight-penglihatan batin yang terbentuk dari ketajaman indra fisik. Rasa merupakan wujud indra non fisik dari sintesa sensibilitas wujud indra fisik. Dengan demikian rasa merupakan esensi komunikasi simbolis yang melibatkan seluruh totalitas indra fisik . isual dan Volume 11 No. 1 Juli 2013 Katarina Indah Sulastuti : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Rasa dalam Tari Jawa Gaya Surakarta mata, telinga,) yang diwujudkan melalui realita visual . erak, rias-busana, properti, ruang, dan lain sebagainy. sekaligus realitas auditif, gendhing tari, tembang dan lain sebagainya yang menyatu, menjadi sumber keindahan tari Jawa Gaya Surakarta. Perwujudan rasa tari Jawa Surakarta ditentukan bersama antara seniman dengan tatanan adat, pakem atau aturan-aturan internal, pemahaman serta daya interpretasi penarinya. Ditentukan juga oleh penghayat tarinya dengan segala kondisi psikis dan f isik yang Rasa muncul melalui stimulan visual maupun auditif yang diwujudkan dalam tari . esuai dengan materi dalam pola budayany. dan terbentuk dari keadaan psikis seseorang sebagai respon pengamatan terhadap karya tari tersebut. Misalnya rasa halus, agung, berwibawa dan lain sebagainya muncul dari sajian tari Bedaya yang ditarikan oleh penari yang memahami dan menguasai tarinya dengan baik, sehingga dapat membawakan dengan lemah gemulai dan representatif. Hal tersebut menunjukan bahwa hasil dari peristiwa komunikasi simbolik dalam tari adalah sebuah rangsangan emosional-rasa. Rasa sebagai rangsangan emosional muncul dari jiwa penari melalui objek tari dan akan memberi rangsangan emosional pada penonton . , sehingga muncul pula respon psikis dari penonton . asa yang muncul dalam diri penonton/penghaya. Rasa sebagai inti dalam kegiatan komunikasi yang simbolis merupakan kegiatan yang sifatnya interpretatif dan sangat tergantung dari subyek yang terlibat di dalamnya. Jika digambarkan melalui sebuah bagan dapat terlihat seperti di bawah ini. Komunikasi Simbolis Keterangan: Rasa sebagai inti komunikasi Pencipta tari interpretator lapis pertama Penari interpretator lapis ke dua Penghayat/penonton interpretator lapis ke Melihat dari interpretasi yang berlapis, kualitas rasa yang dihasilkan dari peristiwa komunikasi simbolis dalam tari sangat tergantung dari berbagai faktor yang saling Pembahasan mengenai faktorfaktor pengaruh kualitas rasa dalam tari merupakan pemaparan mengenai rasa sebagai kualitas pesan yang perwujudannya dipengaruhi oleh berbagai banyak faktor. Factor-faktor apa saja yang mempengaruhinya akan dikemukakan dalam pembahasan berikut ini. Pembahasan Pemahaman fenomena komunikasi simbolis merupakan langkah yang penting untuk mengetahui kualitas inti komunikasinya. Komunikasi simbolis dalam tari Jawa Surakarta sifatnya sangat kompleks. Kompleksitas itu menyebabkan rasa sebagai inti komunikasi antara penari dan penghayat melalui media bahasa gerak tari dan medium lainnya memiliki kualitas kesan/rasa yang berbeda-beda. Beberapa hal yang menyangkut kondisi kualitas interpretasi rasa dalam tari dapat dipahami melalui teori dalam ilmu psikologi komunikasi yang dipaparkan Weiss, bahwa kualitas inti komunikasi simbolis, tergantung dari beberapa hal yaitu, suasana emosional . , skema kognitif, suasana terpaan, predisposisi individual, dan tingkat identifikasi pada tokoh/ tema (Jalaluddin Rakhmat, 2002 :. Secara garis dapat dilihat bagan dibawah ini. Rasa (Sebagai Hasil Interaksi Simboli. Karya Tari Penari Suasana Emosional/Mood Skema Kognitif Penghayat Predisposisi Individual Diagram 1. Rasa sebagai Inti Komunikasi Simbolik dalam Tari (Indah, 2006: . Volume 11 No. 1 Juli 2013 Suasana Terpaan Tingkat Identifikasi Tokoh Jurnal Seni Budaya Bagan 2. Faktor Pengaruh Kualitas Rasa Tari Melalui perpspektif Komunikasi Simbolik (Indah, 2006: . Suasana emosional . , merupakan keadaan/kondisi jiwa yang terjadi di dalam diri penari maupun penonton. Suasana emosional/ batin penari maupun penonton sangat mempengaruhi intensitas kualitas rasa dan berbanding lurus dengan suasana/esensi yang disajikan dalam tari. Suasana emosional adalah susana hati . yang sesuai dengan suasana yang dibawakan dalam tarinya. Dalam kondisi sedih seorang penari akan dapat lebih mudah merefleksikan karya tari yang menyajikan rasa sedih, nglangut, dan yang seiring dengan itu. Dalam keadaan hati gembira seorang penari akan lebih mudah melakukan tari yang mengekspresikan kegembiraan. seneng, semsengsem, sumyak dan lain sebagainya. Keberhasilan suatu sajian tari sangat ditentukan oleh kondisi emosional penari. Sehingga dengan demikian suasana emosional penari harus senantiasa diupayakan agar sejajar dengan rasa yang disajikan dalam karya tari. Suasana emosional penari, sangat menentukan pembawan tarinya. Suasana batin yang sesuai dengan rasa yang ditampilkan melalui bentuk karya tarinya sangat mempengaruhi kualitas ekspresi seorang penari. Dalam hal ini rasa yang akan dipancarkan melalui bentuk karya tari semakin kuat, karena ada kesesuaian suasana Tari dengan tema sedih akan dengan mudah direpresentasikan secara baik oleh seorang penari yang baru dalam keadaan sedih. Demikian juga misalnya dalam kondisi jatuh cinta, intensitas rasa tari yang bertemakan percintaan akan dapat direpresentasikan dengan baik oleh penari yang mengalami kondisi batin serupa. Di samping suasana emosional . ondisi emosional yang eksterna. yang sejajar tersebut, kualitas rasa juga sangat tergantung dari kondisi mood batin penari . uasana emosi Kondisi internal tersebut merupakan kondisi yang sangat bergantung mutlak dari diri penari seperti kemauan untuk menari, kondisi emosional AomoodAo penari untuk membawakan tari, keadaan yang nyaman untuk menari/ membawakan tari dan kesadaran batin penari dalam menari. Jadi dalam keadaan mood yang baik penari akan dapat membawakan tari dengan baik pula. Kondisi emosional penonton . ondisi emosional eksternal-hubungan kesejajaran emosional penonton dengan esensi emosional tar. juga sangat mempengaruhi kualitas rasa yang ditangkap dari sebuah bentuk tari. Penonton yang berada dalam kondisi emosional sedih akan semakin peka/bisa merasakan secara baik tari yang merepresentasikan kesedihan . apat dengan mudah menangkap kondisi sedih yang dipresentasika. Kondisi batin sebagai emosi internal penghayat/ penonton menyangkut, kemauan untuk menghayati, kesadaran, dan keingintahuan , mempengaruhi kualitas rasa yang ditangkap. Namun apabila kondisi emosional dalam keadaan berbanding terbalik dengan . uatan emos. esensi tari maka seorang penari dengan demikian harus mampu menekan semaksimal mungkin perasaan yang bergejolak dalam dirinya agar pertunjukan berlangsung dengan Untuk membawakan tari yang merepresentasikan susana gembira, meskipun seorang penari dalam kondisi jiwa sedih, penari harus mampu menekan perasaan dirinya yang sebenarnya dan mencoba masuk dalam penjiwaan tari yang dibawakan. Demikian sebaliknya jika penari dalam keadaan yang gembira namun harus membawakan tarian yang sedih/prihatin maka penari harus mampu menekan perasaannya yang bergejolak dan meleburkan diri ke dalam tariannya. Indikasi kualitas rasa yang berhasil ditangkap secara jelas dapat dilihat pada reaksi spontan ketika menyaksikan sajian tari gecul. Dalam arti keberhasilan tari geculan dapat dilihat secara langsung melalui reaksi spontan penonton, seperti tertawa. Ekspresi dari keberhasilan kualitas rasa dalam geculan yang berhasil ditangkap adalah tersenyum atau Selain reaksi yang sifatnya ke luar, ada juga keberhasilan kualitas rasa yang sifatnya ke dalam. Kondisi psikis dari keberhasilan menangkap kualitas rasa yang sifatnya ke dalam tidak dapat digambarkan secara nyata, karena bersifat subyektif dan interpersonal. Pada prinsipnya ketika karya tari digelar dan dilihat oleh penonton, akan memancarkan. energi, ekspresi, daya pangaribawa, greget, nilai, yang kesemuanya merupakan esensi dari Volume 11 No. 1 Juli 2013 Katarina Indah Sulastuti : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Rasa dalam Tari Jawa Gaya Surakarta konsep teknis pandangan-pandangan dari fakta kehidupan menyangkup konsep teknis kesenimanan penari. Setelah terjadi proses pengamatan dan penghayatan, proses selanjutnya adalah terjadi perenungan dalam diri penghayat/penonton. Dalam perenungan itu akan sangat mungkin muncul pandangan-pandangan, persepsi atau pemikiran, dan nilai-nilai baru bagi dirinya di dalam kehidupannya. Dari situ tumbuh cita-cita, impian, dan harapan yang mungkin akan membawa pada perubahan tingkah laku, karena meskipun presentasinya sangat sedikit tapi mungkin sekali pandangan, pikiran, perasaan penari akan dapat mewarnai pandangan, pikiran dan perasaan penonton/penghayatFenomena yang dipaparkan tersebut dapat dipahami karena di dalam pola berpikir dan pola tingkah laku individu akan dipengaruhi oleh desakandesakan/faham-faham yang tumbuh di dalam komunitas lingkungannya. Paham-paham itu termasuk normanorma, nilai dan ideologi yang mampu mempergaruhi seseorang untuk dapat memilahkan hal-hal yang seharusnya dilakukan dan hal-hal yang seharusnya tidak pantas untuk Hal tersebut berlaku bagi individu dalam kondisi psikis yang normal dan tidak ada dalam tekanan masalah tertentu, yang menyebabkan frustasi sehingga akan mencari kebenarannya Dengan demikian pertunjukan tari buta yang menakutkan dan mengekspresikan tindakan yang amoral misalnya, tidak akan mempengaruhi tindakan penonton yang menyaksikannya, untuk menjadi brutal, brangasan dan lain sebagainya. Kualitas rasa tergantung pula pada rangsangan emosional yang muncul dari keadaan skema kognitif penari maupun Skema kognitif, merupakan keadaan yang mempengaruhi intensitas emosional seseorang. Merupakan semacam AonaskahAo pada pikiran seseorang yang terbentuk karena induksi verbal Ae atau petunjuk pendahuluan yang menggerakkan kerangka interpretif, sehingga akan mempengaruhi pola interpretasi mereka. Dalam dunia tari tradisional Ae Surakarta. AonaskahAo pada AopikiranAo ini merupakan semacam kesepakatan komunal . onvensi kultura. mengenai wujud gerak dan muatan rasa dalam bentuk-bentuk gerak tari medium lainnya. Misalnya motif gerak lung manglung, sampir sampur menggambarkan kesedihan/menghadirkan suasana sedhih, motif-motif gerak kiprahan menggambarkan suasana jatuh cinta . , dan lain Kesepakatan antara wujud bentuk dan rasa sebagai isi itu merupakan AonaskahAoAo yang menggerakkan AopikiranAo yaitu sebagai petunjuk pendahuluan yang menggerakkan kerangka interpretif penari maupun penghayat. Dapat dicontohkan juga seperti pada tokoh-tokoh dengan karakter-karakter khas misalnya Srikandi. Srikandhi adalah seorang wanita yang tangguh, gagah, lincah, gesit, cekatan, kenes, dan sebagainya, dan karakter itu membentuk skema kognitif yang membawa suasana batin/ rasa-penari dalam mengekspresikan gerak tari maupun penghayat dalam menghayati bentuk tari digiring dalam kondisi karakter tersebut. Tari Bedhaya Ketawang memunculkan rasa agung, wingit, regu , karena skema kognitif atau naskah di dalam pikiran penari dan penghayat yang berada dalam komunitas yang sama . atar belakang budaya yang sam. sudah terbentuk Hubungannya dengan rasa dari fenomena fakta skema kognitif yang terjadi dalam peristiwa pertunjukan tari semacam itu di dalam komunitas Jawa Surakarta khususnya komunitas tari Jawa Surakarta menyebut dengan rasa pinathok . asa yang sudah dipathok Ae dipolaka. Dimaksudkan sebagai kondisi roh/ isi tari Aerasa- yang dibentuk dari kenyataan yang sudah dipastikan, sebagai hasil interpretasi dari sumber tarinya. Merupakan sesuatu yang sudah ada Ae given- sejak semula tercipta, dari dulunya. Suasana terpaan atau setting of exposure, adalah suasana emosional yang terpengaruh dari keadaan atmosfir/lingkungan peristiwa seni tari digelar, termasuk setting panggung tempat karya tari dipentaskan. Tari Jawa-Surakarta kebanyakan digelar di panggung yang berbentuk pendapa, kadang panggung proscenium . iasanya untuk Wayang Oran. Kesan atau suasana tertentu dapat muncul dari wujud panggungnya. Bagi komunitas tari Jawa, pendapa maupun proscenium memberi kesan khusus, seperti yang dikemukakan oleh Daryono sebagai berikut. bahwa tari Jawa Surakarta erat kaitannya dengan lingkungan Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya kraton/istana, berhubungan langsung dengan Pendapa. Pendapa mempunyai kesan khusus yang dapat menciptakan atmosfer kraton sebagai sumber dari karya tarinya, sehingga akan mempengaruhi Tari yang ditampilkan di pendapa seolaholah memiliki roh, karena sesuai dengan Apalagi kalau pertunjukan tari itu benar-benar dipentaskan di pendapa kraton, maka roh tari akan lebih terasa. Pendapa yang memiliki empat saka/tiang yang lurus kontras dengan bentuk tarinya yang romantik, justru memberi kesan ruang atmosfer yang tanpa batas, yang mampu membangun sebuah daya, power dan memunculkan aura yang akan berakumulasi dengan kompleksitas media dalam sebuah karya tari (Wawancara dengan Daryono, 17 September 2. Ada pula yang mempunyai pendapat bahwa pendapa yang mempunyai singgetan . saka gur. , lebih memberi kesan, membingkaiAo, berbeda dengan proscenium, yang tampak luas tidak terbatas sehingga menjadi tampak terlalu Gerak tari menjadi tidak sampai, terlalu kecil, sehingga seringkali di dukung dengan lighting untuk memberi kesan ruang yang tidak terlalu luas. Kondisi panggung sebagai area pentas akan mempengaruhi kondisi batin penari dalam mengekspresikan gerak tari. Apabila dilihat dari aspek penonton, tari Jawa Surakarta yang dipergelarkan di pendapa, memberi kesan hidup. Kalau diamati lebih dalam seolah-olah seperti lukisan hidup yang dibingkai oleh empat saka pendapa. Keadaan itu dapat lebih mengantarkan kondisi batin/rasa tersendiri, rasa menjadi lebih hidup dibandingkan dengan tari yang dipentaskan di panggung proscenium. Satu hal lagi yang penting adalah berkaitan dengan waktu penyelenggaraan pertunjukan tari. kondisi kesan Ae rasa Ae yang muncul dari pertunjukan tari juga akan dipengaruhi oleh waktu yaitu. siang, malam, pagi sore dan waktu-waktu diantaranya (Sastrakartika, 1. Hal tersebut sangat meungkinkan dikarenakan terjadi perubahanperubahan kondisi/suasan emosional . ondisi psiki. dan kondisi fisik individu, dari pengaruh hormonal maupun pengaruh lingkungan alam. Faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas rasa adalah predisposisi individual, yaitu faktor yang mengacu pada karakteristik khas individu, menyangkut kondisi fisik dan mental. Seseorang yang mempunyai karakter melankolis cenderung menanggapi/merasakan tragedi lebih haru dibanding seseorang yang mempunyai karakteristik periang. Seseorang yang periang, pantas untuk membawakan bentuk tari yang lincah. Seseorang yang mempunyai karakter halus, tenang akan lebih sesuai membawakan tari dengan karakter yang halus dan tenang. Karakter tari gagah berwibawa akan lebih tepat dibawakan oleh seorang tinggi sedang . kuran norma. berperawakan padat berisi . ukan gemu. dengan pembawaan/karakter tenang. Demikian juga dalam karawitan tari, bahwa karakter suara sangat mempengaruhi kualitas rasa yang ingin Seorang dengan karakter suara halus kurang sesuai bila membawakan tembang yang mengemukakan rasa gagah sereng. Bentuk dan kondisi fisik . penari menjadi bagian yang penting dan harus dipertimbangkan dalam menari. Dalam tari Jawa-Surakarta kesesuaian fisik dan raut wajah seharusnya diselaraskan dengan tari yang dibawakan . Seperti yang tertulis dalam serat Kridawyangga bahwa raut muka menunjukkan karakter seseorang, misalnya paras yang murung baik untuk menarikan tari yang AoreguAo . Terlebih lagi untuk tari yang menampilkan karakterisasi peran/tokoh, keadaan penari yang menyangkut, corak air muka, corak watak wajah, gaya memandang, gerak-gerik, lagu percakapan dapat disesuaikan dengan bentuk tari dan lagu iringannya. Kesesuaian tersebut dimaksudkan untuk memunculkan kualitas rasa yang baik (Sastrakartika, 1979, 53-. Kondisi ini yang memunculkan spesifikasi peran di dalam bentuk-bentuk tari Jawa Gaya Surakarta, seperti spesialis kethekan, spesialisasi tokoh Srikandhi, spesialisasi Klana. Gatut Kaca dan lain Faktor berikutnya adalah faktor identifikasi, yaitu yang menunjukkan sejauh mana penari maupun penonton merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan, atau masuk dalam suasana yang ditampilkan dalam suatu sajian tari. Dalam kondisi penari/penghayat mengidolakan tokoh tertentu akan sangat memungkinkan kualitas rasa yang ditampilkan menjadi lebih. Hal ini terjadi karena dorongan Volume 11 No. 1 Juli 2013 Katarina Indah Sulastuti : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Rasa dalam Tari Jawa Gaya Surakarta psikologis dari diri penari. Bisa juga terjadi karena penonton sangat mengidolakan tokoh, sehingga muncul fanatisme yang akhirnya akan memungkinkan mempengaruhi kualitas rasa dalam tari peran tersebut. Kondisi tersebut dapat diartikan bahwa antara penari dan tokoh yang dibawakan harus mampu menyatu mejadi satu karakter utuh. Cara mensiasati kondisi tersebut seniman tari Jawa Surakarta memiliki konsep teknis tertentu agar seseorang menjadi tepat dalam membawakan tari yang memerankan tokoh tertentu. Seperti misalnya. penari harus secara maksimal menekan atau bahkan meninggalkan karakter dirinya yang sebenarnya, dan masuk ke dalam karakter tokoh dalam tari yang dibawakannya, agar esensi Ae rasa Ae dapat dipresentasikan dengan baik. Misalnya dalam menarikan tokoh Srikandi, seseorang harus betul-betul mampu menyelami betul-betul karakter Srikandhi. Selain representasi tokoh, kualitas rasa juga sangat tergantung dari kesesuaian karakter dan bentuk tubuh dengan karakter tari yang Setiap penari memiliki karakter sendiri-sendiri yang mempengaruhi mereka dalam mengambil peran khusus dalam jenis tari. Ketidak sesuaian fisik dengan karakterisasi tari, disiasati dengan mengolah volume gerak agar lebih sesuai dengan karakter yang dibawakan, misalnya seorang dengan kondisi fisik yang pendek . , agar mampu merepresentasikan kegagahan melalui tari gagah maka harus melakukan teknik-teknik tertentu dalam melakukan beberapa motif gerak. Misalnya dalam sikap kambeng dan gerakan lainnya dilakukan dengan cara memperbesar Unsur- Unsur Penting Sebagai Penentu Kualitas Rasa dalam Tari Jawa Gaya Surakarta Rasa dalam tari Jawa gaya Surakarta merupakan sebuah inti yang menjadi isi dari interaksi simbolis antara individu maupun kelompok dalam komunitas sosialnya. Rasa juga menjadi awal/dasar dari terciptanya sebuah karya tari tradisional Ae Surakarta, dan sekaligus menjadi tujuan akhir sebuah penyajian tari. Sebuah AoawalAo menuju AoakhirAo memerlukan sebuah proses yang rumit Ae bagi terciptanya sebuah karya tari tradisional Ae Surakarta. Sebagai awal dan akhir - rasa harus diwujudkan melalui proses penggarapan yang melibatkan berbagai unsur yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan yaitu: unsur yang bersifat Immaterial dan Material. Pembahasan yang menyangkut faktor pengaruh kualitas rasa sebagai kualitas sebuah karya tari, tidak bisa mengabaikan salah Unsur immaterial merupakan unsur spiritual dalam sebuah karya tari yang tidak tampak secara visual, namun keberadaannya sangat mempengaruhi wujud visualnya. Sesuatu yang menjadi latar belakang hadirnya sebuah ekspresi simbolik, dalam dunia tari gaya Surakarta yang tidak lepas dari keadaan pola budaya yang melingkupinya. Unsur Immaterial tersebut diantaranya adalah. latar belakang penari, konsep karya tari, dan latar belakang Latar Belakang Penari Kualitas rasa dalam sebuah penyajian karya tari Jawa Surakarta sangat tergantung dari penari yang membawakannya. Rasa yang ingin dimunculkan oleh seniman pencipta dalam karyanya tidak selalu tepat ditampilkan kembali oleh penari yang membawakan tarian itu. Hal itu sangat tergantung dari beberapa hal yang bersangkutan erat dengan kehidupan/perjalanan kepenarian . enyangkut kemampuan tekni. seseorang, kepekaan/pemahaman terhadap gendhing tari, ketajaman interpretasi, kecerdasan menangkap isi dan makna tari yang dibawakan melalui gerak tari Jawa dan pola budaya yang mendasari penari. Di samping itu bakat dan keterlatihan juga menjadi hal penting dalam kemampuan seorang penari membawakan tariannya. Seorang penari, untuk mencapai kepenarian yang mampu memancarkan rasa dengan kualitas yang maksimal perlu proses yang cukup panjang. Secara fisik penari harus memahami betul aspek keruangan . ubuh maupun tempa. , ketajaman interpretasi dan imaginasi, pemahaman aspek musikal, dan kemampuan penari untuk mengolah energi murni dari dalam agar dapat mengekspresikan gerak tari secara Istilah rasa, juga sering diungkapkan dengan rasa Bali, rasa Sunda, rasa Minang dan Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya lain sebagainya. Hal ini merupakan ungkapan yang mengandung makna bahwa seorang penari dalam membawakan sebuah karya tari akan sangat tergantung dari latar belakang Seorang penari berasal dari Bali misalnya, ketika membawakan sebuah karya tari Jawa gaya Surakarta meski sudah mencoba melakukan dengan maksimal dan menerapkan konsep teknik tari gaya Surakarta, kemungkinan besar masih belum memunculkan rasa Jawa, sering dikatakan sebagai tari Jawa tapi rasa Bali, dan lain sebagainya. Fenomena ini menunjukkan bahwa, latar belakang budaya penari sangat mempengaruhi kualitas rasa dalam membawakan tari Jawa-Surakarta. Penjiwaan dalam membawakan tari dengan demikian terkait erat dengan penjiwaan dan pemahaman yang dalam terhadap pola budayanya. Kondisi yang menyebabkan perbedaan sensasi dalam rasa tersebut adalah karena perbedaan sensasi dari tiap-tiap orang/penari/penonton. Sensasi merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi/stimuli, yang berasal dari kata AosenseAo, artinya alat pengindraan, yang Perbedaan sensasi dengan begitu dapat disebabkan oleh perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya (Jalalludin Rachmat, 2002:49-. Latar belakang penari menyangkut keadaan psikis penari yaitu suatu kondisi batin yang mempengaruhi keadaan lahiriah. Kondisi batin yang sangat mempengaruhi keadaan lahiriah dapat disimak dari pendapat mengenai. uraian tentang Aolarasaing JawiAo, keselarasan lahiriah ini diikuti dengan uraian tentang kekuatan keselarasan batiniah . arasing bati. Keselaraan itu dapat diwujudkan dengan keadaan psikologi yang stabil/tenang agar dapat mengendalikan pikiran dan perasaan karena pada prinsipnya raga adalah kediaman bagi jiwa (Brakel, 1991: 20-. Suyati Tarwo Sumosutargyo, memaparkan juga tentang raga sebagai bersemayam nya jiwa, sehingga rasa dalam tari erat kaitannya dengan raga. Gerak raga adalah ekspresi dari jiwa, agar gerak raga tampak indah maka harus dirasakan, gerak yang dirasakan akan muncul keindahannya, sehingga gerak itu menjadi hidup, ana rasane. Rasa berkaitan erat dengan keadaan batin dan kondisi kejiwaan penari maupun penonton. Itulah sebabnya kondisi batin dan kejiwaan . ondisi psikologi. merupakan unsur yang penting dan sangat berpengaruh dalam penyajian sebuah karya tari, untuk menampilkan sebuah tari yang mampu memancarkan rasa. Kondisi batin/jiwa dipengaruhi pula oleh Sebagai unsur yang mempunyai pengaruh dalam getaran jiwa-rasa. Bisa dikatakan bahwa sensasi adalah sub unsur dari rasa yang berhubungan pula dengan persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan meyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan yang termuat dalam sebuah karya tari. Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi . ensory stimul. Sehingga sensasi adalah bagian dari persepsi (Desiderato, 1976:. Konsep Karya Tari Karya tari Jawa gaya Surakarta dalam penciptaanya dilandasi oleh pemikiran tentang keselarasan/keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos. Konsep tersebut telah membentuk suatu pola penciptaan karya tari yang senantiasa bertolak dari segala sesuatu yang ada di sekitar kehidupan mereka. Keseimbangan dengan dunia makro diwujudkan melalui bentuk bentuk tari yang menggambarkan kondisi alam makro, seperti pemahaman jumlah mata angin Ae kiblat yang dijumpai pada bentuk tari bedaya-srimpi. Sedangkan hubungan mikro yang ditampilkan tampak dalam nama-nama penari dalam tari bedaya dengan kandungan falsafah dalamnya. Konsep karya tari yang sangat kompleks membutuhkan pemahaman yang dalam untuk dapat melahirkan sajian tari yang dapat memancarkan rasa. Konsep yang perlu dipahami diantaranya adalah konsep yang berhubungan dengan sikap tari . atrap beks. , yaitu aturan teknis yang disesuaikan dengan karakter tarinya seperti. mucang kanginan, merak ngigel, sata ngetap swiwi, brabjangan ngumbara, mundhing mangundha, nggiri gora, wrekso sol, sikatan met boga, kukilo tumiling, dan ngangrang binedo (Lihat Sastrakartika, 1979, 37-. Pemahaman yang didasarkan pada gerak peniruan terhadap fenomena alam, membutuhkan daya imaginasi penari dan penonton yang dalam. Volume 11 No. 1 Juli 2013 Katarina Indah Sulastuti : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Rasa dalam Tari Jawa Gaya Surakarta Pemahaman konsep tersebut penting hubungannya dengan pelaksanaan gerak Di samping konsep yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan gerak, ada pula konsep yang berdasarkan kesesuaian gerak dengan gendhing tarinya. KonsepAekonsep lain, yang dapat dipahami sehubungan dengan teknis/pelaksanaan gerak tari Jawa-Surakarta mbanyumili, semeleh. ondisi meleburnya teknis gerak dengan diri/ raga penari maupun kondisi menyatunya gerak dengan gendhing tariny. mapan dan ngunci . etepatan tubuh dalam melakukan sikap dasar gerak tar. , dan lain sebagainya. Selain konsep pelaksanaan gerak yang berdasarkan pada representasi dari fenomena alam, konsep gerak harus dipahami juga dari karakterisasi tokoh dalam sebuah karya tari. Karakterisasi tokoh dalam tari Jawa gaya Surakarta pada umumnya merupakan personifikasi dari wayang kulit. Karakterisasi ini muncul melalui kualitas gerak, ucapan, tembang, rias/busana, paras muka/wajah, bentuk tubuh/ gandar, pandangan/polatan, dan lain Secara umum, pengelompokan karakter tokoh wayang terdiri dari putri, gagahan, dan Dalam pustaka mengenai tari, serat Kridwayangga, membedakan karakteristik tokoh menjadi tiga, yaitu: alus, madya, dan kasar. Karakter alus meliputi Panji Sepuh. Panji Nom. Gunungsari, dan Wanodya. karakter madya, diantaranya Dugang. Tandang. Sudira. karakter kasar meliputi Buta. Bugis, dan Wanara. Berdasarkan teater tradisional, karakterisasi tokoh dibedakan menjadi lima macam, yaitu: . Putri, yang terdiri dari endel dan oyi. Alusan, yang terdiri dari luruh dan lanyapan. Gagahan, yang terdiri dari kalang kinantang, kambeng, dan bapang. Kalang kinantang . okoh kambeng . okoh dugangan, sudir. okoh buta dan wanar. Gecul. Sato/Kewanan (Sastrakartika, 1979, 114. Berkaitan dengan konsep penciptan sekaligus pelaksanaan tari di Surakarta dikenal konsep Hasta Sawanda . elapan unsur yang menjadi satu kesatua. dan konsep wiraga, wirama, wirasa. Kedua konsep itu merupakan pedoman tentang pelaksanaan pembawaan tari maupun konsep penciptaan tari secara bagus dan berkualitas. Apabila seorang penari sudah memahami betul dan menerapkan konsep tersebut menghasilkan tari yang baik/berkualitas. Kualitas tari yang baik berarti rasa yang menjadi esensi tari akan dapat dipancarkan pada penonton dengan baik. Hasta Sawanda juga dapat didudukkan sebagai kriteria penilaian bagi penari yang berkualitas . ang telah memenuhi syarat delapan unsur dalam hasta sawanda Kebanyakan dari para pelaku tari memiliki cara sendiri-sendiri dalam proses mematangkan ketrampilan seni mereka. Secara garis besar cara yang mereka lakukan terwadahi dalam konsep wiraga, wirama, wirasa dan hasta Semua cara yang ditempuh merupakan kiat dalam mewujudkan rasa sebagai esensi tari nya. Rasa merupakan sesuatu yang harus dipahami dalam menikmati maupun mewujudkan karya tari Jawa Surakarta dengan cara mereka yang khas. Latar Belakang Penghayat Latar belakang penghayat merupakan segala situasi yang melingkupi kondisi batin . elera, kepekaan, pandangan, cita-cita dan lain Kondisi tersebut sangat mempengaruhi kualitas penghayatan rasa dalam tari. Kepekaan menangkap muatan tari menjadi kurang apabila penghayat kurang memahami pola budaya yang melingkupi kehidupan sebuah karya tari. Selain faktor tersebut, hal lain yang sangat mempengaruhi munculnya kualitas rasa dalam sebuah karya tari adalah, pengalaman. Pengalaman dalam hal ini menyangkut intensitas penghayatan terhadap karya tari. Semakin banyak pengalaman dalam menghayati sebuah karya tari, akan semakin menumbuhkan kepekaan rasa. Latar belakang menyangkut kondisi psikologi penghayat, yakni. keadaan psikis/jiwa seseorang dalam hubungannya dengan kegiatan penghayatan sebuah karya tari. Keadaan batin/jiwa/psikis seseorang mempengaruhi kualitas penghayatan rasa . dari stimulus karya tari. Keberhasilan penikmatan seni . emampuan seorang penonto. menangkap esensi tari Jawa Surakarta sangat dipengaruhi latar belakang budaya penonton. Penonton yang Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya berasal dari luar lingkungan budaya Jawa kemungkinan akan tidak memahami muatan rasa yang hendak disampaikan dalam pertunjukan tari tertentu. Misalnya pertunjukan tari Bedhaya bagi penonton dari luar lingkugan Jawa, mungkin sekali hanya akan mampu menangkap keindahan dari bentuk fisiknya saja, seperti bentuk gerak yang lemah gemulai, jumlah penari, rias dan busananya bagus, gendhingnya mengalun dan lain sebagainya. Mengenai kesan yang muncul dari pertunjukan tari tersebut sebagian besar berpendapat bahwa kesan yang muncul adalah halus, pelan, monoton dan lain sebagainya. Esensi rasa seperti yang dimaksud sebenarnya tidak mereka pahami dan yang muncul adalah kesan. Beberapa hal yang akan sangat mempengaruhi keberhasilan pertunjukan tari jawa Surakarta dari aspek penghayat adalah kecerdasan pikir dan batin, daya apresiasi yang tinggi, kemauan yang muncul dari dalam hatidorongan untuk memahami, perasaan yang total dengan membuka batin/jiwa yang dalam dan memahami budaya Jawa . enyangkut krato. secara umum dan pola budaya dalam kehidupan kesenian Jawa khususnya pewayangan, karawitan dan tari karena kesenian tersebut memiliki pertalian yang erat dan saling menjadi inspirasi dalam perwujudannya. Beberapa hal yang dijelaskan di atas merupakan penjelasan unsur immaterial, berikut ini penjelasan yang berkenaan dengan unsur Unsure material yang dimaksudkan disini adalah sebagai unsur yang secara langsung dapat ditangkap melaui indera. Unsur material dalam tari Jawa Surakarta merupakan visualisasi yang kompleks sebagai sarana untuk mengejahwantahkan esensi tarinya, yang disebut rasa. Rasa yang dilahirkan dari kompleksitas unsur itu terkait erat dengan polapola mentradisi, dan dibangun dari kesepakatankesepakatan dalam komunitas sosialnya Pola-pola bentuk fisik tersebut penari dan gerak tari, rias-busana, musik tari, properti, serta ruang. Penari Gerak tubuh penari merupakan media utama sebuah karya tari. Oleh karenanya penari menjadi unsur yang penting dalam sebuah analisa tentang tari. Kehadiran penari dalam karya tari Jawa adalah mutlak, mengingat dalam budaya Jawa tari adalah AojogedAo, sebuah rangkaian gerak indah yang dilakukan oleh tubuh Tari Jawa melibatkan totalitas tubuh penari, secara . dan secara psikis. Totalitas fisik menyangkut kesadaran yang dalam terhadap tubuh dan berbagai hal yang bersangkutan langsung dengan tubuh. Totalitas batin/jiwa yang paling dalam menyangkut kesadaran emosi yang berlapis berkaitan dengan kesadaran batin dan pikir. Tubuh menjadi pertimbangan yang detail dalam hubunganya dengan rasa sebagai estetika tari Jawa. Agar keindahan itu betul-betul dapat diwujudkan diciptakan aturan/ kesepakatan mengenai ketentuan bentuk tubuh penari, dan kondisi ekspresi wajah . ang dapat ditentukan dari. raut muka, pandangan mata, bentuk wajah dan lain sebgainy. , seperti yang dipaparkan di dalam Serat Wedhataya sebagai AoWosipun ngagesang punika, kedah sampurna panglarasipun, ing badan pribadi, ing jawi lebet, liripun: tumrap larasing jawi, tiyang bade njoged Alus, sarira kedah lurus, polatan tajem, pasemon sumeh. ingkang beksa Branyak sarira repeh kewes, pasemon ingkang beksa Bergas sarira antar pasemon ladak. ingkang beksa Sereng Aeregu dedeg kepara ageng inggil, radi balung kawetu, pasemon andik angajrihi (Serat Wedhataya, t. , . (AoIntisari hidup ialah, agar laras sempurna, dalam diri pribadi, jiwa raga, maksudnya: tentang laras raga, jika orang akan menarikan tarian alus, harus bertubuh lurus, pandangan tajam, raut muka manis, jika menarikan tarian branyak, tubuh bersahaja dan luwes, air muka berwibawa, jika menarikan tarian bergas, tubuh tenang, raut muka congkak, jika menarikan tarian sereng regu, sosok tubuh agak tinggi besar, tampak kuat dan raut muka keras menakutka. Di dalam lingkungan dunia tari Jawa Surakarta keadaan/kondisi yang berhubungan dengan bentuk tubuh biasa disebut dengan Gandar menyangkut postur tubuh mempunyai peran yang penting dalam Volume 11 No. 1 Juli 2013 Katarina Indah Sulastuti : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Rasa dalam Tari Jawa Gaya Surakarta membentuk kualitas rasa dalam sebuah karya tari, sehingga postur tubuh sesungguhnya menjadi pertimbangan yang serius agar sesuai dengan bentuk tarinya. Dalam Serat Kridyawyangga, hal tersebut dipaparkan pada aturan Angka 38 Bab 30, dengan judul Aunerangaken ukuran pasikonipun badan sakojur . aujud=sauju. Ay (Sastrakartika, 1979, . , bagian yang menerangkan ukuran perbandingan . bagian-bagian seluruh badan. Pasikon badan merupakan ukuranukuran perbandingan . bagianbagian badan ketika berdiri pada saat menari. Ukuran badan ini harus serasi dengan pelaksanaan gerak-gerak tari. Merupakan hal penting untuk mewujukan keselaraasan perbandingan bagian-bagian tubuh penari (Sastrakartika, 1979, . Aturan tentang ukuran tubuh penari yang tertulis dalam serat Kridhawyangga, juga menyangkut dedeg . erbandingan tegak tubu. Dedeg ini berpengaruh terhadap jenis tarian yang akan dibawakan. Dedeg tinggi besar . edhe dhuwu. pantas membawakan tari dengan karakterisasi gagahan. Tokoh-tokoh yang dibawakan oleh postur tubuh tersebut diantaranya adalah. Bima. Buta raton. Klana. Gatut kaca. Rahwana dan lain sebagainya. Rasa dalam hal ini terkait dengan penyajian bentuk visual tubuh penari. Untuk mewujudkannya dicari kesesuaian bentuk tubuh penari dengan bentuk tubuh tokoh dan krakter yang telah disepakati dalam pola budaya Jawa Surakarta. Kesesuaian gerak dengan bentuk tubuh dan karakterisasi akan memunculkan rasa dalam sebuah karya tari. Rasa yang muncul dari kondisi visual semacam ini adalah, gagah antep, gagah mrabu, sereng, gagah cakrak, gagah bergas dan lain sebagainya. Kondisi tubuh yang tinggi ramping, atau sedang biasanya pantas untuk membawakan tari dengan tipe karakter alusan. Tokoh-tokoh yang pantas untuk diperankan diantaranya Arjuna. Janaka. Rama, dan lain Ukuran tubuh di luar kepantasan . biasanya memungkinkan untuk membawakan tarian dengan tipe karakter geculan dan kewanan . eperti Kethekan. Kidang dan lain sebagainy. Ukuran kondisi tubuh untuk penari putri tidak sejelas pada penari dengan karakterisasi putra . agah dan alu. Akan tetapi diukur dengan kepantasan gerak tarinya dan tokoh yang dibawakannya. Pada tari Bedhaya/srimpi biasanya dilakukan oleh penari dengan postur tubuh sedang sampai pada ukuran tinggi Prinsipnya adalah dalam satu tari kelompok tersebut dibawakan oleh penari dengan postur rata-rata . ata Aerata tinggi atau rata-rata sedan. Pertimbanganya adalah bahwa ketika dalam satu tarian kelompok dibawakan dalam kesatuan utuh, dalam pengertian penari dalam postur tubuh yang seimbang/rata-rata maka rasa yang akan diungkapkan akan mudah terpancar . Pada realitanya pemahaman tentang keseragaman fisik ini tidak dijumpai di dalam tari lingkungan Kraton. Hal yang penting di dalam menyajikan tari di dalam lingkungan kraton adalah pemahaman tentang pelaksanaan gerak dari dalam, gerak itu dirasakan dan dilakukan dengan menyesuaikan pada rasa gendhing tarinya. Pada karya tari yang bertema cerita, dalam arti menampilkan tokoh-tokoh tertentu, postur tubuh menjadi pertimbangan yang sangat menentukan kualitas rasa yang akan Tokoh-tokoh yang diperankan dalam karya tari Jawa Surakarta mengacu dari tokoh-tokoh dalam jagad pewayangan. Postur tubuh penari disesuikan dengan interpretasi tokoh yang hidup dalam dunia pewayangan. Postur tubuh yang sedang-tinggi . kuran komunitas Jaw. , pantas untuk membawakan tokoh Srikandhi. Mustakaw eni dan lain Postur tubuh sedang pantas untuk membawakan tokoh. Sekartaji. Damarwulan. Larasati. Sembadra, dan lain sebagainya. Raut wajah/ekpresi muka dan bentuk wajah, biasanya bisa menunjukkan karakterisasi seseorang, sehubungan dengan hal tersebut dapat dirujuk pada Serat Kridhwayangga Auukuran pasemon adalah perbandingan corak air muka yang menggambarkan watak atau karakter, diantaranya adalah lemah lembut, lanyap, . ersifat jelas dan tega. , dan regu . erba Juga menyangkut tentang ukuran ulatan . erbandingan gaya memandan. , diantaranya liyep . eperti mengantuk tapi bagu. , ada yang tajam . egas dan jela. ada yang theleng . ersifat gala. Kondisi tersebut berhubungan pula dengan ukuran tandang atau pratingkah . erbandingan corak gerak- Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya geri. , sigrak . , dan dugang . (Sastrakartika, 1979 : 52-. Gerak Tari Gerak sebagai materi pokok dalam karya tari Jawa menjadi pertimbangan yang khusus dalam ekspresi kondisi batin yang paling dalam . Pertimbangan-pertimbangan tersebut diselaraskan dengan pandangan terhadap alam/ kehidupan dan pola budaya yang mendasarinya, sehingga gerak-gerak yang tercipta dalam karya tari mereka merupakan gambaran dari pola budaya yang mengikat,dengan kandungan falsafah yang tinggi Seperti dapat dilihat pola gerak tari yang banyak menggambarkan fenomena alam, fenomena hubungan manusia dengan Sang Khalik nya. Menunjukkan bahwa masyarakat Jawa selalu sadar akan keberadaan dirinya di tengah alam semesta. Keselarasan keadaan batin dengan gerak yang diekspresikan, direpresentasikan secara simbolis melalui gerak-gerak yang telah disepakati di dalam komunitas tari dan dipahami secara turun temurun yaitu. misalnya keadaan batin yang gelisah, sedih diekspresikan ke dalam gerak manglung, sampir sampur, niba, sekar suwun dan lain sebagainya. Gerak tari Jawa Surakarta secara mandiri juga memiliki rasa, yang disebut dengan rasa gerak, sifatnya sangat bergantung dari kesepakatan internal komunitasnya, seperti disebutkan di atas. Dalam hal itu diartikan sebagai gerak sebagai media/bentuk yang mewadahi isi. Berkaitan dengan kesepakatan, di dalam pola tradisi komunitas seni tari Jawa Surakarta ada semacam aturan yang mengikat sehubungan dengan pola gerak yang diterapkan dalam setiap karakterisasi tarinya, yaitu. putri, putra alus dan putra gagah. Ketiga karakter tari tersebut memiliki ketentuan gerak dasar yang membingkai pemahaman gerak yang disesuaikan dengan karakterisasi tarinya, yaitu. untuk tari putri oyi arah pandangan lebih rendah dibanding putri endhel, pandangan mata ke arah jari-jari tangan atau bahu dan tutur kata dalam antawecana lembut. Karakter putri oyi ini dapat dilihat pada tokoh-tokoh yang mengacu dari pewayangan seperti Sembadra. Sinta dan Sekartaji. Karakter endhel pandangan mata lebih lurus ke depan, dagu agak terangkat dan tutur katanya lebih tegas terkesan bersemangat. Karakter putri endhel dapat dilihat pada tokoh Srikandhi dan Mustakaweni. Pada karakter tari putra alus memiliki ciri khas yang halus, geraknya tenang, mengalir. Kesan yang menonjol pada pola gerak tari alus adalah lamban, penuh kontrol, pola gerak lengan tidak melebihi bahu dan posisi kaki dengan lebar diantara posisi tanjak kaki tari putri dan tanjak tari gagah. Karakterisasi tari putra alus dibagi menjadi dua golongan yaitu lanyap dan luruh. Sikap badan karakter luruh maupun lanyap sama, yang membedakan adalah arah pandangan mata, dan sikap kepala. Pandangan mata tari putra alus luruh lebih ke bawah dibanding dengan pandangan mata pada tari putra alus lanyap . eperti pada tari putra endel dan oy. Tokoh tari alusan luruh dapat dilihat Arjuna. Janaka. Rama, dan lanyap pada tokoh Karna. Kerata Rupa. Palgunadi, dan lain Pada karakter tari gagah atau agal, pola gerak lengan, tungkai dan kepala lebih luas. Volume gerak lengan dan kaki lebih leluasa, gerak lengan sejajar dengan bahu dan gerakan tungkainya diangkat sejajar dengan pangkal Karakter gagah dibagi menjadi dua yaitu dugangan dan kasaran. Pola gerak lengan tari putra karakter gagah dugangan sejajar dengan Tokoh gagah dugangan adalah Gatutkaca,Bima. Antareja, bayu dengan ciri khas pola gerak kambeng . engan sikap jari mengepa. dan Bisma. Baladewa. Setyaki. Sutejo dengan ciri khas gerak kalangtinantang . engan sikap jari ngithing/nyekithin. Pola gerak tangan tari putra gagah kasaran cenderung lebih tinggi dari bahu. Tokoh gagah kasaran ini dapat dilihat pada tokoh-tokoh raksasa, seperti. Kumbakarna. Dursasana. Burisrawa. Niwatakawaca dan Rahwana. Bentuk-bentuk dasar gerak tersebut menjadi patokan agar tari dapat memancarkan rasa yang akan ditampilkan dalam sebuah karya tari, didukung dengan teknik tertentu dan berbagai unsur lain agar kualitas rasa dapat terpancar pada penghayat. Rias Busana Rias dan busana dalam penyajian karya tari Jawa Surakarta, meski dalam prosentasi Volume 11 No. 1 Juli 2013 Katarina Indah Sulastuti : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Rasa dalam Tari Jawa Gaya Surakarta yang tidak mendominasi, juga menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas rasa penyajian tari, terutama untuk tari dengan penokohan atau karakterissi tertentu. Menjadi elemen dapat menentukan kualitas rasa tari, sehingga pemahamannya sangat diperlukan. Rias dan busana lekat dengan latar belakang yang mendasari penciptaan karya Rasa yang muncul dari sensa ini adalah sebuah kesan. Kesan itu muncul dari rangsangan warna, garis dan krakter wajah, termasuk perangkat simbolik yang dikenakan penari seperti jamang, makutha dan lain Rasa sebagai kesan . asa njab. merupakan jembatan untuk menuju pada kualitas rasa sebagai inti . asa njer. dalam sebuah penyajian tari yang sesungguhnya. Rias wajah untuk tari-tari jenis Bedhaya Srimpi dan tari lain yang tidak menampilkan karakterisasi tokoh menggunakan rias untuk menegaskan dan menyempurnakan wajah Sedangkan rias wajah untuk tari yang menampilkan karakterisasi tokoh tetap mengacu pada kondisi perwatakan sesuai dengan corak wajah seperti dijumpai dalam jagad pewayangan. Kaitannya busana dalam menunjang pemunculan rasa dapat mengacu dari warna. merah memunculkan kesan sigrak, semangat, tegas, kemarahan, keberanian dan angkara murka . warna kuning memunculkan kesan lembut, anggun, ringan, lincah dan lain warna coklat, ungu, biru tua, dan warna-warna tua. hijau, ungu, hitam, merah marun dan lain sebagainya memunculkan kesan luruh, halus, tenang, anggun, tenang, kalem berwibawa, agung, kramat, magis, dan lain sebagainya. warna biru memunculkan kesan regu, berwibawa, nglangut, dan lain sebagainya. warna hijau muda, kuning, memunculkan kesan semarak, bergejolak, lincah, hidup dan sebagainya. Misalnya dalam tari Bedhaya Ela-Ela, kesan yang kemudian ditangkap sebagai rasa yang muncul dari rias wajah lugas dan gelung kadal menek, serta busana dodot ageng dengan warna putih dan merah adalah. dari warna muncul rasa sigrak, berani, bergas. dari bentuk busana muncul kesan agung berwibawa. Rasa akan semakin kuat dengan dukungan gerak, karakter gendhing tari, dan yang penting lagi adalah kesadaran penari tentang segala hal yang berhubungan dengan tari yang dibawakan tersebut, menyangkut konsep karya termasuk tema Berkenan dengan rasa yang muncul dari pacu luar . ias dan busna tar. sangat tergantung dari ketajaman sensabilitas dan interpretasi dari penghayat/penonton. Perlu pemahaman terhadap pola budaya Jawa menyangkut segala hasil karya cipta seni untuk dapat menghayati tari Jawa dengan baik, karena tari JawaSurakarta tidak bisa lepas dari konteks tarinya . ermasuk konsep dan tema kary. Pemaparan tentang faktor rias dan busana dalam tari Jawa Surakarta dalam hubungannya dengan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas rasa berikutnya dapat dilihat gambar-gambar rias busana dari beberapa karakterisasi tari. Bedhaya / Srimpi, karakterisasi tari putri endel dan oyi, putra alus luruh-lanyap, putra gagah dugangan dan kasaran, kera . dan gecul. Karawitan Tari Kehadiran karawitan di dalam penyajian tari Jawa sangat penting dan mutlak. Karena penyajian tari sangat lekat dengan gendhing Rasa yang hendak dipancarkan melalui tari sebetulnya akan menjadi lebih kuat dengan rangsangan imaginasi dari sensa auditif. Karena pada prinsipnya fakta auditif akan memperdalam imaginasi dan pengembaraan rasa penari maupun penghayat, yang sesungguhnya muatan rasa dalam musik Jawa sudah Kehadiran karawitan dalam sajian tari akan memperkuat dan menegaskan muatan rasa yang akan dipancarkan. Tari itu sendiri bagi karawitan merupakan manifestasi bentuk yang nyata dari muatan rasa dalam gendhingnya. Tari merupakan visualisasi muatan rasa gendhing/ kararawitan tarinya, sebaliknya gendhing tari memberi penegasan muatan rasa dalam sebuah karya tari. Dengan demikian antara tari Jawa Surakarta dan gendhing tari/karawitan tarinya tidak bisa dipisahkan, saling mengisi dan Karawitan Jawa terdapat kualitas nadanada tertentu yang dapat berpengaruh pada kondisi/keadaan batin penghayat, misalnya nada tinggi yang dibunyikan pelan dan panjang dikombinasi dengan nada rendah atau miring akan menghasilkan kualitas rasa yang sedih. Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya nglangut dan kualitas melankolis lainnya. Nada yang dibunyikan dengan cepat dan bervariasi dapat menghasilkan kualitas rasa yang sumyak, gembira, bahkan huru-hara ketika nada dibunyikan dengan cepat tanpa AokomaAodan secara acak. Nada rendah mengalun panjang mengarahkan pada perasaan berwibawa atau bahkan menakutkan dan lain sebagainya . awancara dengan Waluya dan Sukams. Rasa dalam tari berhubungan erat dengan rasa dalam karawitan tari. Rasa dalam tari yang dipengaruhi oleh rasa karawitan ditentukan oleh beberapa hal, yaitu. pilihanpilihan pathet, bentuk gendhing dan garap gendhing, tembang, dan lain sebagainya. Bentuk gendhing yang dipilih untuk tari dengan muatan rasa gagah sigrak, . eperti dalam tari prajuritan. Eko Prawir. atau tarian putri yang lincah . isalnya gambyon. biasanya menggunakan bentuk gendhing lancaran atau gendhing yang lain dengan teknik soran . eknik tabuhan yang Bentuk gendhing sangat mempengaruhi Rasa juga akan terbangun dari teknik permainan . Misalnya ada juga kemungkinan bentuk tari yang diringi dengan bentuk gendhing dengan garap pinjalan . engan imbal-imbal demung I,dan demung II, demung I Contoh garap pinjalan . isalnya untuk garap rasa gaga. Demung I 3 1 3 1 Demung II 5 2 2 1 Berkenaan dengan kualitas rasa sedhih yang ingin ditampilkan dalam sebuah karya tari, melalui karawitan tarinya bisa dibangun dari instrumen rebab dan vokal . dengan menggunakan nada-nada miring. Sebagai contoh dapat dilihat pada tembang Macapat. Asmarandana Slendro Miring, sebagai berikut. 5 5 5 5 mas mi-rah ku-lak-a war-ta da-sih-mu tan wu-rung la-yon 5 56 1 2 3 32 aneng ku-tha Praba ling ga 2 32 1 prang tanding Hu ru Bis ma 5 1 2 kari ya mukti wong a yu 2 321 1 pun kakang pamit palastra Satu hal yang penting agar rasa musikal dalam sebuah karawitan tari atau tembang dapat dipresentasikan dengan baik adalah adanya kesadaran teknis dan kemampuan penyaji dalam mengiterpretasikan suasanasuasana yang akan dipresentasikan. Dalam hal ini karakterisasi seniman/pelaku sangat berpengaruh pada kualitas rasa musikalitasnya. Seperti dicontohkan, misalnya seseorang yang memiliki karakter suara yang halus tidak akan cocok dalam membawakan tembang dengan rasa musikal sereng, meskipun dengan upaya maksimal melalui penguasaan teknik yang tepat dan baik sekalipun. Kualitas rasa musikal sereng akan lebih sesuai dipresentasikan oleh penyaji yang memiliki karakter suara yang menggelegar, antep, besar dan dengan kesadaran teknik yang Melalui garap karawitan tarinya, suasana sereng dapat dihadirkan dari rasa musikal yang dimunculkan dari Sekar Macapat Durma Rangsang, slendro Sanga, sebagai berikut. 3 5 5 55 yU yU yU yUyU2yU65 Ri-dhu ma-wur ma-nga-wur wu-ra-han An-jas-ma-ra A-ri ma-mi 12 165 2 1 tenga-ra-ning a- ju - rit Volume 11 No. 1 Juli 2013 Katarina Indah Sulastuti : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Rasa dalam Tari Jawa Gaya Surakarta 2 15 3 gong magu-ru gang-sa 2 2 2 2 2 2 teteg kadya butula 6 6 165 5 worpangriking tu-ra-nges-ti 6 5 . dan 5 renda. Balungan nibani tersebut digarap dengan irama tanggung, kendhang kalih dan volume tabuhan keras akan memunculkan kesan kesan/ rasa gagah antep, sedangkan balungan nibani dengan irama dadi memunculkan kesan halus. Kesan/rasa gagah antep juga bisa muncul dari garap balungan mlaku dengan ciri loncatan yang jauh . arak nadanya jau. , re-ka-tag ing-kang 3 3 32 35 561 1 dwaja le-la-yu se-bit Suasana/rasa kasmaran atau sengsem dalam tari dapat diwujudkan, misalnya melalui rasa musikal dari Ketawang Kinanthi Sandhung sebagai berikut. 1 2 2 2 216 6 1 2 3 2 1 3 2 . nimas ayu puja-ning sun musthikaning wong sabumi sun emban sun lela-lela tambanana brangta mami kakang mas prasetya hamba yen wurung sun nedya lalis Pemaparan yang diuraikan diatas menegaskan bahwa rasa dalam tari sangat berkait erat dengan rasa dalam karawitan Dan rasa dalam kerawitan sangat tergantung dari garap gendhingnya. Sehingga dalam pemilihan gendhing untuk garapan tari harus dilakukan secara cermat diantaranya diselaraskan pula dengan karakterisasi balungannya, karena garap gendhing tari ditentukan . alah satuny. dari garap Sehubungan dengan garap balungannya, untuk memunculkan rasa gagah antep, maka balungan gendhing digarap dengan teknik nibani . alungan nibani/nyeleh. , misalnya: Kesan/rasa halus biasanya bisa dimunculkan dari garapan balungan mlaku dan tidak banyak loncatan . arak nada yang jauh tidak mendominasi dalam garap balungan tersebu. 6532 1235 6532 1235 1235 3231 3235 Garap balungan mlaku di atas bisa juga digunakan untuk mengiringi tari Klana . eskipun tari tersebut dikenal dengan tari yang membawa kesan/rasa gagah cakrak, tapi pada saat-saat tertentu muncul juga kesan gagah halu. Tari yang memiliki karakter prenes . terkait dengan garap kendhangan ciblon . ntuk kebara. dengan bonangan imbal. Sedangkan rasa sedhih terkait erat dengan garap gendhing minir/minor dengan nada tengahan. Gendhing yang dapat menimbulkan kesan sedhih biasanya dengan menggunakan teknik garap irama dadi, tanpa imbal, halus, volume tabuhan lirih dan diisi dengan rebab serta vokal Unsur-unsur yang mendominasi adalah rebab, gender, vokal sinden, dan kendhang sebagai pamurba irama. Dapat dicontohkan pada gendhing Laler Mengeng sebagai berikut. contoh yang lain dapat dilihat pada gendhing ladrang Panjang Ilang . ang didominasi rebab dan voka. ladrang Tlutur . ang didominasi rebab dan voka. ketawang Pangkur Paripurna . ang didominasi juga oleh rebab dan voka. Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya Kesan lucu atau dalam istilah Jawa gecul . , biasanya dimunculkan dari garap balungan ngadal, misalnya ladrang Mandraguna. ladrang Serayu: Rasa gecul dapat dimunculkan pula dari pola kendhangan tertentu yang direspon oleh balungannya, pola iramanya cepat tapi ringan . ukan kera. Rasa sengsem/kasmaran . ang didalamnya juga mengandung unsur rasa seneng dan prene. biasanya melihat karakter tokoh tari yang ditampilkan. Untuk tokoh gagah kasaran seperti Burisrawa. Rahwana. Klana, biasanya menggunakan garap rog-rog asem dengan tabuhan keras, dan tembang yang biasanya dipakai adalah gambuh, sinom weni kenyo, pocung dengan garap rog-rog asem memunculkan kesan seneng . ada karakter gaga. yang ada kesan prenesnya. Kalau garapnya gendhingnya halus biasanya untuk memuculkan kesan seneng . ada karakter gaga. garapan yang halus diselingi dengan Untuk tokoh yang halus menggunakan gendhing dengan garapan halus gandrungan, irama dadi, kendhangan halus, tempo lambat dan volume lirih. Tokoh-tokoh halus seperti Rama. Janaka, garap gendhingnya halus, dengan pola irama dadi dan kendhangan Sedangkan untuk tokoh gagah halus seperti Gatutkaca, contoh garap gendhing bisa Pawukir dengan pola kendhang ciblon tapi halus. Penampilan rasa seneng . alam rasa seneng mengandung unsur rasa sumyak, gobyok, gecul, gayeng, regeng, linca. , dikaitkan pula dengan kelincahan tabuhannya dengan irama cepat. Dapat dicontohkan seperti pada garap gendhing ladrang wilujeng, dengan garap balungan saron di-cacah, sehingga kesan seneng bisa muncul. Misalnya sebagai berikut. 2 1 2 3 2 1 2 6 . Satu hal yang penting untuk dapat memunculkan rasa dalam tari melalui karawitan tarinya adalah dengan kesadaran yang penuh dari pelaku /penggerong/ penabuh untuk menjiwai rasa yang dimaksudkan dalam garap gendhing karawitan tari dan kesadaran teknis . enguasaan teknik-teknik tabuhan dalam garap Properti tari Properti menjadi bagian penting di dalam penyajian tari Jawa, hal ini tampak dari sebagian besar tari Jawa menggunakannya. Kehadiran properti di dalam tari Jawa Surakarta merupakan satu kesatuan garap yang mengarah pada tujuan rasa dan kesan tertentu. Terutama sampur diartikan sebagai kepanjangan tangan penari sehingga dapat memberikan kesan Kesan dari properti tameng dan pedang misalnya dalam tari Eko Prawira. Bandayuda. Prawira Watang dan lain sebagainya akan memberi kesan gagah, trampil, sigrak, bergas dan berani dari seorang prajurit yang siap bertempur di medan laga. Agar menggunakan properti tertentu terkesan hidup dan dapat memancarkan rasa tertentu . esuai dengan tem. kuncinya adalah penari harus mampu menarikan properti yang digunakan. Properti seperti keris, tongkat, tameng, gendewa, dadap dan lain sebagainya juga harus ditarikan agar hidup sehingga tidak kaku. Antawecana Kehadiran antawecana dalam tari Jawa Surakarta sering dijumpai di dalam tari dengan tema cerita tetentu. Antawecana merupakan gaya bicara tokoh, yang mengacu pada wayang Antawecana tiap karakter berbeda dan memiliki ciri khas. Penghayatan pada antawecana ini akan mampu menggiring penonton kepada imaginasi tokoh dalam pewayangan dengan berbagai karakter tertentu, seperti branyak, luruh, kenes, dan lain Juga dapat menggiring pada kesan emosi seperti misalnya,. marah, mesra, manja dan lain sebagainya. Karakter itu dapat dilihat dari panjang pendek nada dan naik turunnya intonasi dalam antawecana. Dibawah ini contoh antawecana dari tokoh Srikandi dalam berbagai Srikandi dalam keadaan mesra, sengsem ketika berhadapan dengan Arjuna: Aumangga-mangga pangeran ArjunaAy. Volume 11 No. 1 Juli 2013 Katarina Indah Sulastuti : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Rasa dalam Tari Jawa Gaya Surakarta meski teks kalimat ujarannya tidak menyuratkan kemesraan namun dari intonasi yang khas memunculkan kesan sengsem . atuh Srikandi dalam kondisi marah digambarkan dalam intonasi yang tegas dan meninggi sebagai berikut: AuO dadi kaya ngono kuwi ta!Ay AuWe la dalah yo jagad Dewa Bathara!Ay AuApa rumangsamu wong sak jagad ki sing sekti mung kowe, kowe, kowe!?Ay Dalam kondisi yang biasa/normal/wajar, antawecana Srikandhi memiliki intonasi yang khas, yang bagi komuntas tari Jawa ditafsir sebagai kesan kenes/prenes sesuai dengan gerak tarinya yang tregel . Contoh ontawecana dapat disimak dibawah ini: AuMengko dhisik to wong ayu sapa kowe sapa?Ay Tokoh putri yang berbalikan dengan Srikandi adalah Sembadra. Demikian juga ciri khas nada dalam intonasi antawecananyapun berbalikan dengan Srikandi. Kalau srikandi nada intonasinya tinggi dan cepat, sebaliknya Sembadra nada intonasinya rendah dan lambat. Tempat Pementasan Tempat Pementasan dalam tari berhubungan dengan suatu pemahaman tentang keruangan. Kebanyakan penyajian tari Jawa dipergelarkan di pendapa yang dibingkai oleh empat saka guru di setiap sudutnya. Juga di dalam ruang proscenium dengan sorot lampu sebagai bingkainya. Bentuk panggung pendapa yang memiliki empat saka menghantarkan penghayatan pada situasi kraton sebagai asal tari Jawa. Sehingga kebanyakan seniman tari berpendapat bahwa tari Jawa Surakarta terasa lebih hidup apabila digelar di pendapa. Kondisi panggung . juga mempengaruhi aura/rasa yang dipancarkan melalui karya tari menjadi lebih Lebih jauh dapat diamati bahwa dalam Masyarakat Jawa. Pendapa merupakan bangunan khas rumah penduduk Jawa. Merupakan simbol status priyayi dan simbol golongan masyarakat dari ekonomi menengah ke atas. Selain dari itu pendapa juga merupakan simbol bagi hidupnya adat dan tradisi Jawa, berhubungan dengan hal tersebut, bangunanbangunan pendapa dapat dijumpai di tempat yang mempunyai kepentingan dan kesadaran dalam menghidupkan pola tradisi Jawa, seperti di Taman Budaya Surakarta. STSI Surakarta. SMKI (SMK . - Surakarta. Kabupaten. Balai Kota. Sanggar tari dan lain sebagainya. Pendapa menjadi kekhasan bentuk bangunan Jawa, bangunan rumah tinggal adat Jawa yang ideal maupun bangunan gedung pemerintahan yang merepresentasikan budaya Jawa. Berhubungan dengan hal tersebut masyarakat Jawa, kebanyakan lebih merasakan aura tari Jawa (Klasik Ae dari krato. muncul ketika dipentaskan di panggung pendapa. Pada perkembangannya pertunjukan tari Jawa Surakarta tidak mutlak harus dipertunjukan di Pendapa. Namun juga dipentaskan dalam panggung proscenium, tapal kuda atau di panggung-panggung yang lain, untuk berbagai kepentingan dan lebih jauh yaitu pengembaraan imaginasi yang tidak harus selalu berkutat pada wilayah kerajaan. Satu hal penting lainnya yang berhubungan dengan keruangan adalah pola Bagi komunitas tari pola lantai merupakan unsur yang tidak bisa diabaikan, karena garapan pola lantai dengan formasiformasi tertentu akan mampu mengekspresikan rasa dalam tari. SentuhanAesentuhan emosional dalam tari salah satunya dicapai melalui penggarapan penempatan penari di atas lantai (Soedarsono, 1985: 4-. Kesimpulan Rasa merupakan inti pesan dalam komunikasi simbolik, yang muncul dari adanya peristiwa interaksi nonverbal. Penyampaian pesan yang dilakukan secara tidak langsung, dalam hal ini dengan melalui gerak . , sangat memungkinkan kualitas rasa yang diterima berbeda-beda. Dari hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan teori yang dikemukakan oleh Weiss, dapat diketahui factor Aefactor yang mempengaruhi kualitas rasa diantaranya: Suasana emosional, adalah susana hati . yang sesuai atau tidk sesuai dengan suasana yang dibawakan dalam tarinya. Kualitas rasa tergantung pula pada rangsangan emosional yang muncul dari Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya keadaan skema kognitif penari maupun Skema kognitif, merupakan keadaan yang mempengaruhi intensitas emosional seseorang. Merupakan semacam AonaskahAo pada pikiran seseorang yang terbentuk karena induksi verbal Ae atau petunjuk pendahuluan yang menggerakkan kerangka Berikutnya dikarenakan factor yang berkaitan dengan predisposisi individual, yaitu faktor yang mengacu pada karakteristik khas individu, menyangkut kondisi fisik dan mental. Faktor berikutnya adalah faktor identifikasi, yaitu yang menunjukkan sejauh mana penari maupun penonton merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan, atau masuk dalam suasana yang ditampilkan dalam suatu sajian tari. Berkaitan dengan factor-faktor yang mempengaruhi kualitas rasa sebagai inti pesan di dalam karya tari, maka perlu diketahui pula unsure-unsur penting yang mempengaruhi kualitas rasa itu sendiri yaitu semua unsure atau elemen yang melekat dalam sajian tari, latar belakang penari, konseptual tari, penari, gerak tari dan semua unsur yang melingkupinya termasuk rias busana, musik tari, pola lantai, dan tempat penyajian tari. Kepustakaan Ernst Casier. Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: Gramedia. Hegel. Metafisika (Jakarta: PT. Gramedia Indah Sulastuti. Katarina. AuKonsepsi dan Indikasi Rasa dalam Tari Jawa Gaya SurakartaAy. Thesis Program Pascasarjana STSI Surakarta. Jalaluddin Rakhmat. Psikologi Komunikasi. Jakarta: Gramedia. Sastrakartika. Kridhawyangga. Jakarta: Departemen Pendidikan Kebudayaan. Proyek Pengembangan Buku Bacaan da Sastra Indonesia dan Daerah. Soedarsono. Pengantar dan Pengetahuan Komposisi Tari. Yogyakarta: Depdikbud. Volume 11 No. 1 Juli 2013