Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Operasi Hitung Bilangan Bulat Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas V SDN Penedapa Kecamatan Poso Pesisir Kabupaten Poso Propensi Sulawesi Tengah Manawia H Lapase Guru SDN 1 Penedapa. Sulawesi Tengah Abstrak. PTK ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Matematika materi Operasi Hitung Bilangan Bulat Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe. manfaatnya untuk mendapatkan teori- teori baru untuk menjadi refleksi penelitian selanjutnya . Kajian ini menggunakan metode PTK yang dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap siklus dilaksanakan 2x pembelajaran . Sebagai subjek dalam PTK ini adalah siswa kelas V semester I. Sumber data yang diperoleh dalam PTK ini hasil dari siswa kelas V, hasil observasi oleh teman sejawat dan dokumentasi siswa Ae siswi . Pengumpulan data diperoleh dengan melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran dan pelaksanaan obsevasi terhadap kegiatan guru dan siswa dalam pembelajaran Sebagai alat pengumpulan data digunakan soal tes , lembar obsevasi dan dokumentasi nilai siswa. Data difentalasi dan divalidasikan dari nilai siswa secara kontilatif hasil dari tersebut hasil belajar mereka kumpulkan dalam daftar nilai . Hasil nilai siswa pada masingmasing tatap muka pembelajaran. Data yang telah diverlidasi dianalisis dengan mencari keberhasilan dan kegiatan pembelajaran dengan mencari NTT-N-TR dari pada belajar siswa. PTK ini merupakan dalam dua siklus setiap siklus dilalsanakan dalam 4 tahap . Perencanaan. Pelaksanaan. Observasi. Refleksi. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini ketuntasan belajar pertatap muka pertama 50 persen. Siswa belajar pada tatap muka dua 65 persen siswa tuntas mencapai KKM Dengan demikian rata Ae rata siswa mencapai ketuntasan, siklus 1 Sedangkan siswa pada siklus ke dua siswa ketuntasan mencapai Dengan demikian dalam siklus kedua rata- rata 71 78,75 /2 = 149,75= 74,88 % Kata kunci: Kooperatif Tipe Jigsaw. Meningkat Hasil Belajar PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Peningkatan hasil belajar khususnya pelajaran Matematika di SDN Penedapa belum terlaksana dengan baik guru dalam melaksanakan pembelajaran masih sangat Guru pembelajaran belum sesuai dengan yang Hasil belajar yang dicapai masih rendah,hasil belajar ditandai pada jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar belum mencapai nilai KKM Guru mengajar masih menggunakan metode ceramah ,sehingga banyak siswa yang membosankan dalam belajar. Pembelajaran seperti ini siswa menjadi bosan sehingga nilai ketentasan sangat rendah. Menurut hasil pengamatan penulis nilai mata pelajaran Matematika materi Operasi hitung Bilangan Bulat dikelas V, siswa memperoleh nilai 50%. Penelitian ini dilaksanakan oleh penulis untuk Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika di kelas V SDN Penedapa Kec Poso Pesisir Kabupaten Poso. Peningkatan hasil belajar yang ingin dicapai dari 50 % yang tuntas menjadi 70 % Dari kegiatan penelitian tindakan kelas ini secara bertahap belajar siswa meningkat pada Disamping meingkatkan ketuntasan siswa belajar diharapkan ketentasan dari nilai rata-rata Sehingga dengan kegiatan penelitian ini secara bertahap. Rendahnya hasil belajar pelajaran Matematika pada Kompetensi Dasar materi Operasi hitung Bilangan bulat melalui metode pembelajaran tipe Jigsaw dan hasil belajar yang meningkat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas penulis melaksanakan penelitian tindakan kelas. Penulis dengan memperdayakan siswa dengan masing-masing, sehingga dengan pelaksanaan kegiatan ini Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index proses belajar mengajar dapat meningkat. Berdasarkan latar belakang di atas penulis dapat mengidentifiksikan maslah sebagai Guru dalam melaksanakan pembelajaran sangat menonton Guru belum menggunakan media atau alat peraga yang menunjang Pembelajaran belum menyenangkan Guru belum menggunakan bahan ajar yang sesuai untuk mencapai ketuntasan Guru belum menggunakan pemblajaran kooperatif model learning togerher dengan baik dan benar Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas penulis merumuskan masalah sebagai berkut: Apakah melalui metode Pembelajaran tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi Operasi hitung bilangan bulat siswa kelas V SDN Penedapa Kec Poso Pesisir tahun ajaran 2018/ 2019 ? Apakah dengan penggunaan metode pembelajaran model tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas KAJIAN TEORI Pembelajaran Matematika Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga keterkaitan dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas (Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo. Matematika melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan (Dinas Pendidikan Kabupaten Poso. Pembelajaran Matematika bertujuan melatih cara berfikir dan bernalar, mengembangkan kemampuan memecahkan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 masalah, dan mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan (Mohamad Nur, 2007 :. Penilaian yang dilakukan lebih berfokus pada penilaian berbasiskelas. Dalam merancang penilaian, termasuk memilih teknik dan alat penilaian yang digunakan adalah penilaian tertulis, penilaian kinerja, dan penilaian karya atau portofolio. Standar Kompetensi berdiversivikasi, untuk melayani semua kelompok siswa . ormal, sedang, tingg. Kelompok normal adalah kelompok yang memerlukan waktu belajar relatif lebih lama dari kelompok sedang, sehingga perlu diberikan pelayanan dalam bentuk menambah waktu belajar atau memberikan remediasi. Sedangkan kelompok tinggi adalah kelompok yang memiliki kecepatan belajar lebih cepat dari kelompok sedang, sehingga guru dapat memberikan pelayanan dalam bentuk . memberikan materi pengayaan (Mohamad Nur, 2007: 234 ). Beberapa aspek penilaian sebagai berikut: Karya meliputi: garis bilangan, maket, model, peta, rumus, dan bangun ruang. Kinerja atau unjuk kerja meliputi: menghitung, menimbang, mengukur jarak, menafsir, mencatat data, dan membuat tabel, grafik, diagram. Perilaku: menunjukkan sifat teliti, menunjukkan sikap kritis, dan kebiasaan berfikir logis (Nur Mohamad, 2007 : . Menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) Sejarah PMR Pada tahun 1973. Freudenthal memperkenalkan suatu model baru dalam pembelajaran matematika yang akhirnya dikenal dengan nama RME (Realistic Mathematics Educatio. Dalam penelitian ini RME tersebut diberi istilah sebagai Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index yang dipandang sebagai pendekatan dan berupa urutan sajian bahan ajar. PMR awalnya dikembangkan di Negeri Belanda. Pendekatan ini didasarkan pada konsep Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas Dengan ide utamanya adalah bahwa siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali . ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa (Gravemeijer, 1. Usaha untuk membangun kembali ide dan konsep matematika tersebut melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan Realistik dalam pengertian bahwa tidak hanya situasi yang ada di dunia nyata, tetapi juga dengan masalah yang dapat mereka bayangkan (Heuvel, 1. Esensi Pembelajaran Matematika Realistik (PMR), ditemukan pada pandangan Freudenthal yang sangat penting yang berkaitan dengan PMR yaitu: Aumathematics must be connected to realityAy dan Au mathematics as human activityAy. (Waraskamdi. gertian PMR Dan saat ini pembelajaran masih didominasi oleh guru, siswa kurang dilibatkan sehingga terkesan monoton dan timbul Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) adalah suatu teori dalam pendidikan matematika yang dikembangkan pertama kali di negeri Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Matematika realistik yang dimaksudkan dalam hal ini adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran (Gravemeijer: 1. Soedjadi . 1: . mengemukakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami peserta untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada masa yang lalu. Realistic mathematics education, yang diterjemahkan sebagai pendidikan matematika realistik (PMR), yaitu sebuah Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 dikembangkan sejak tahun 1971 oleh sekelompok ahli matematika dari Freudenthal Institute. Utrecht University di Negeri Belanda. bahwa matematika adalah kegiatan manusia. Menurut pendekatan ini, kelas matematika bukan tempat memindahkan matematika dari guru kepada siswa, melainkan tempat siswa menemukan kembali ide dan konsep matematika melalui eksplorasi masalah-masalah nyata. Pendekatan Mekanistik Pendekatan pendekatan secara tradisional dan didasarkan pada apa yang diketahui dari pengalaman sendiri . iawali dari yang sederhana ke yang lebih komplek. Dalam pendekatan ini manusia dianggap sebagai mesin. Kedua (Waraskamdi : 2. Pendekatan Empirik Merupakan satu pendekatan dimana konsep-konsep matematika tidak diajarkan, dan diharapkan siswa dapat menemukan melalui matematisasi horisontal. Pendekatan Strukturalistik Merupakan menggunakan sistem formal, misalnya pengajaran penjumlahan cara panjang perlu didahului dengan nilai tempat, sehingga suatu konsep dicapai melalui matematisasi vertikal. Pendekatan Realistik Merupakan suatu pendekatan yang menggunakan masalah realistik sebagai pokok permasalahan. Tujuan PMR yaitu memudahkan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang terkait dengan pecahan bahkan matematika realistik menyajikan materi dengan rill. Teori Belajar yang Relevan dengan Perkembangan Matematika Realistik Teori piaget Piaget . alam ibrahin, 1999:. berpandangan bahwa, anak-anak memiliki Pengembangan intelektual mereka bertolak dari rasa ingin tahu dan memahami dunia disekitarnya. Pemahaman dan penghayatan tentang dunia sekitarnya akan mendorong pikiran merekan untuk menbangun tampilan tentang dunia tersebut Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index dalam otaknya. Tampilan yang merupakan struktur mental itu disebut skema atau schemata. Piaget menyatakan bahwa prinsip dasar dari pengembangan pengetahuan seseorang adalah berlangsungnya adaptasi pikiran seseorang kedalam realitas disekitarnya. proses adaptasi ini tidak terlepas dari keberadaan skema yang dimiliki orang tersebut serta melibatkan asimilasi, akomodasi dan equiliberation dalam Teori Vygotsky Pandangan Vygotsky . tentang arti penting interaksi social dalam perkembangan intelektual anak tampak dari 4 ide kunci yang membangun teorinya, yaitu: Penekanan pada hakikat sosial. Vygotsky . mengemukakan bahwa anak belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman Dalam proses belajar yang demikian, seorang anak yang sedang belajar tidak hanya menyampaikan pengertiannya atas suatu masalah kepada dirinya sendiri namun ia juga dapat menyampaikan nya pada orang lain Zone Proximal Development (Wilayah perkembangan terdeka. Didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Vygotsky . menjelaskan adanya dua tingkat perkembangan intelektual, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Pada tingkat perkembangan aktual seseorang sudah mampu untuk belajar atau memecahkan kemampuan yang ada pada dirinya pada saat itu. Sedangkan tingkat perkembangan potensial adalah tingkat perkembangan intelektual yang dicapai seseorang dengan bantuan orang lain yang lebih mampu. Tingkat perkembangan potensial terletak Perubahan itu berlangsung dengan melalui proses belajar yang terjadi pada wilayah perkembangan terdekat. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Pemagangan . ognitive Menurut Vygotsky . , dalam proses pemagangan kognitif seorang siswa bertahap mencapai kepakaran dalam interaksinya dengan seorang pakar, orang dewasa atau teman sebayanya dengan pengetahuan yang Scaffolding sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin: Scaffolding maksudnya seorang guru memberikan bantuan kepada siswanya untuk belajar dan memecahkan Bantuan tersebut dapat berupa menguraikan masalah ke dalam langkahlangkah pemecahan, memberikan contoh, tindakan-tindakan memungkinkan siswa itu belajar mandiri. Teori Ausubel Menurut Ausubel . belajar dikatakan bermakna jika informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitifnya sehingga siswa tersebut mengakaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Teori Gasong Menurut teori Gasong . asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Menurut Gasong Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bias jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Teori Burner Burner berpendapat bahwa belajar matematika adalah belajar tentang konsepkonsep dan struktur-struktur serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan strukturstruktur tersebut. Menurut Bruner pemahaman atas suatu konsep beserta strukturnya menjadikan materi itu lebih mudah diingan dan dapat dipahami lebih komprehensif. Tiga tahap perkembangan mental menurut Bruner: Enactive Dalam tahap ini seseorang mempelajari suatu pengetaahuan secara aktiv dengan menggunakan garis miring memanipulasi benda-benda konkret atau situasi nyata secara langsung. Ikonic Pada tahap ini kegiatan belajar seseorang sudah mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari objek-objek. Simbolic Tahap terakhir ini adalah tahap simbol-simbol langsung dan tidak lagi terkait dengan objek maupun gambaran objek (Slavin: Hasil Belajar Secara didefinisikan sebagai tingkah laku yang dikaitkan dengan kegiatan sekolah. Belajar merupakan fisik atau badaniah yang hasilnya berupa perubahan-perubahan dalam fisik itu, misalnya, dapat berlari, mengendarai, berjalan, dan sebagainya. Belajar selain merupakan aktivitas fisik juga merupakan kegiatan rohani atau psikhis. Emerse R. Hilgard dalam bukunya yang dikutip oleh Abu Hanafi AuTheories of LearningAy mendefinisikan bahwa seorang yang melaksanakan kegiatan belajar maka kelakuannya akan berubah dari sebelumnya. Jadi belajar tidak hanya mengenai bidang intelektual, akan tetapi mengenai seluruh pribadi anak. Seorang dikatakan belajar apabila diasumsikan dalam diri orang tersebut Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 mengalami suatu proses kegiatan belajar yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku (Wahyudin, 2006:. Setelah memahami beberapa konsep yang dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar merupakan kegiatan psikis dan badaniah yang akan mengubah tingkah laku seseorang yang didapat dari hasil pengalaman dan latihan yang bersifat positif. Perestasi belajar pada dasarnya adalah hasil yang dicapai dalam usaha penguasaan materi dan ilmu pengetahuan yang merupakan suatu kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Melalui belajar dapat diperoleh hasil yang lebih baik. Belajar berarti mengubah tingkah Hal dikemukakan oleh Sudirman . bahwa belajar adalah mengubah tingkah laku. Belajar akan membantu terjadinya suatu perubahan pada diri individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya dikaitkan dengan perubahan ilmu pengetahuan, melainkan juga berbentuk percakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri. Belajar menyangkut segala aspek organisme dan tingkah laku pribadi seseorang, prestasi belajar pada hakekatnya merupakan hasil dari belajar sebagai rangkaian jiwa raga. Psikofisik untuk menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa, dan karsa, ranah kognitif, efektfif dan prestasi Prestasi belajar sebagai suatu hasil belajar akan menjangkau tiga ranah atau matra seperti yang dikemukakan oleh Bloom, yaitu matra kognitif, efektif, dan psikomotorik dimana ranah atau matra tersebut dipenuhi menjadi beberapa jangkauan kamampuan. Jangkauan kemampuan tersebut adalah sebagai berikut : Termasuk kedalam ranah kognitif adalah : . pengetahuan dan ingatan . , . Pemahaman, menjelaskan , meringkas, contoh . , . , . merencanakan membentuk bangunan baru . , . , dan . Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Termasuk kedalam ranah afektif . adalah : . sikap menerima . , . , . , . , . ciri-ciri . Ranah psikomotor . sychomotor domai. meliputi: . tingkatan mengenal . nitiatory level. , . tingkatan pra ajeg . reroutine leve. , dan . tingkatan melakukan secara ajeg . outine leve. (Sahardiman,1988:25-. Model Pembelajaran Menurut Joyce . alam Lince, 2006:. bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran. Sedangkan Arends . menyatakan bahwa model pembelajaran mengacu kepada pendekatan pembelajaran, lingkungan belajar, dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran dalam penelitian ini diartikan sebagai suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil saling memiliki tingkat Menurut Thomson . alam Lince, 2006:. , pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur Nur . mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif menciptakan sebuah revolusi pembelajaran di dalam Tidak ada lagi sebuah kelas yang sunyi selama pembelajaran. Siswa dapat saling membantu satu sama lain guna menuntaskan bahan ajar akademiknya. Pada pembelajaran keterampilanketerampilan khusus agar dapat bekerja sama Contohnya menjadi pendengar yang baik, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Model mempunyai beberapa tipe, yaitu Student teams Achievement Division (STAD). Jigsaw. Investigasi Kelompok, pendekatan structural (Muslimin, 2000:. Tabel 1. Perbandingan ke Empat Tipe dalam Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil saling memiliki tingkat Menurut Thomson . alam Lince, 2006:. , pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur Nur . mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif menciptakan sebuah revolusi pembelajaran di dalam Tidak ada lagi sebuah kelas yang sunyi selama pembelajaran. Siswa dapat saling membantu satu sama lain guna menuntaskan bahan ajar akademiknya. Pada pembelajaran keterampilanketerampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya. Contohnya menjadi pendengar yang baik, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Model mempunyai beberapa tipe, yaitu Student teams Achievement Division (STAD). Jigsaw. Investigasi Kelompok, pendekatan structural (Muslimin, 2000:. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah satu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa orang anggota dalam satu kelompok yang bertanggungjawab atas penguasaan materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Nur, 2005:. Banyaknya anggota kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw biasanya terdiri dari 4 Ae 6 orang. Setiap anggota kelompok memiliki tugas masing-masing, dan mereka wajib menjelaskan apa yang ditugaskannya itu kepada kelompok yang Anggota kelompok yang mendapat tugas penguasaan materi itu disebut kelompok Sedangkan kelompok yang dibentuk pertama kali oleh guru disebut kelompok asal. Jika diilustrasikan akan terlihat seperti gambar berikut. Kelompak Asal Kelompak Ahli Keterangan 1 : Materi ke satu 2 : Materi ke dua 3 : Materi ke tiga 4 : Materi ke empat Kunci keberhasilan Jigsaw adalah saling ketergantungan, yaitu setiap siswa bergantung kepada anggota timnya untuk mendapat informasi yang dibutuhkannya agar dapat mengerjakan kuis dengan baik. Langkah-langkah pokok pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah pembagian tugas, pemberian lembar ahli, mengadakan diskusi, dan mengadakan kuis. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Kerangka berfikir Kegiatan penelitian tindakan kelas ini tindakan kelas,Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 ( du. silkus,setiap siklus dilaksanakan 2 ( dua ) kali kegiatan pembelajaran dilaksanakan penilaian Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut: Gambar 2. Diagram alur Penelitian Tindakan Kelas Hipotesis Tindakan Pembelajaran Kooperatif Learning Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada materi operaasi hitung bilangan bulat. METODOLOGI PENELITIAN Setting Penelitian Tempat Penelitian Penelitian Tindakan dilaksanakan di SDN Penedapa Kec Poso Pesesir pada mata pelajaran Matematika Tahun Ajaran 2018/2019. Penelitian dilakukan di Kelas V karena peneliti Dasar SK kepala Sekolah diberikan tugas mengajar di kelas V pada sekolah tersebut. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada bulan Agustus November 2019 semester Ganjil Tahun Pelajaran 2018/ 2019 . Dilakukan pada waktu tersebut karena materi Operasi Hitung Bilangan Bulat merupakan pelajaran yang diajarkan pada semester ganjil. Subyek Penelitian Sebagai Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi Kelas V tahun pelajaran 2018/ Jumlah siswa sebanyak 11 orang terdiri dari 7 laki-laki dan 4 orang siswa Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index perempuan umur siswa homogen rata 10 Tahun tingkat kecerdasan yang berbeda-beda Sumber Data Sumber data yang dihimpun dalam penelitian ini adalah : Siswa-siswa kelas V SDN Penedapa Kec Poso Pesisir tahun ajaran 2018/ 2019 ? Teman sejawat sebagai observer yang pelaksanaan kegiatan penelitian ini Dokumen Penilaian Pihak Aepihak lain yang terkait. Teknik dan Alat Pengumpulan Data. Teknik Pegumpulan data dilaksanakn sebagai berikut : Data yang dikumpulkan dengan cara sebagai berikut : Test. Test dilakukan pada setiap akhir proses instrumen soal . est tuli. Soal yang diberikan adalah soal uraian. data dari pengamatan yang dilakukan oleh kolaborastor yang dilaksanakan baik pengamatan terhadap kegiatan dalam pembelajaran maupun kegiatan penelitian yang melaksanakan pembelajaran. Wawancara Data dari wawancara berasal hasil wawancara terhadap pelaksanaan yang Alat Pengumpul Data Sebagai alat pengumpul data yang digunakan adalah : Butir soal test Lembar instrumen aktivitas siswa Lembar instrumen PBM guru Pedoman wawancara Validasi Data. Nilai Test . asil belaja. Tes pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada Materi Pengukuran sudut Tes ini diberikan setiap akhir pembelajaran, bentuk tes yang diberikan adalah tes tulisan berbentuk uraian. Validasi diperoleh dari rekaman hasil test siswa. Proses pembelajaran . bservasi aktifitas siswa dan Pelaksanan pembelajaran ) Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Validasi data pada proses pembelajaran ini adalah merupakan triangulasi antara siswa, guru yang melaksanakan PBM dan guru kolaboratif sebagai observer. Analisis Data Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif yang terdiri dari : Hasil belajar, dengan menggunakan analisis deskriptif komparatif Yaitu dengan mebandingkan nilai test antar kegiatan pembelajaran dan siklus Observasi dengan analisis deskriptif berdasarkan hasil observasi aktifitas siswa dan observasi terhadap pelaksanaan Indikatator Kinerja Sebagai indikator keberhasilan yang diharapkan dalam kegiatan penelitian ini Terjadi peningkatan hasil belajar yaitu dari 50 % menjadi 70 % siswa mencapai ketuntasan belajar. Terjadi peningkatan motivasi siswa pada setiap kegiatan pembelajaran dan antar siklus. Terjadi peningkatan pelaksanaan proses belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru. Penilaian hasil belajar dilaksanakan menggunakan soal tes dalam bentuk pilihan ganda. Prosedur Penelitian. Kemmis . alam Rochiati. penelitian Tindakan Kelas adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu . ermasuk pendidika. untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari kegiatan praktek sosial, pemahaman suatu kegiatan, dan situasi suatu kegiatan. Rancangan siklus pada penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pengukuran kooperatif model Tipe Jigsaw siswa kelas V pada SDN Penedapa Kec Poso Pesisir tahun Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Gambar 3. 1 Alur PTK Penjelasan alur di atas adalah: Rancangan/rencana mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau pembelajaran model Tipe Jigsaw Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh Rancangan/rencana berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3,dan 4 dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama . lur kegiatan yang sam. dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: Silabus Yaitu Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar. Rencana Pelajaran (RPP) Yaitu pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masingmasing RPP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar. Lembar Kegiatan Siswa Lembar kegitan ini yang dipergunakan pengumpulan data hasil kegiatan proses belajar mengajar dengan metode kooperatif model jigsaw . Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar Lembar metode pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran. Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep matematika pada Materi Operasi bulatTes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang . Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 45 soal yang telah diujicoba. Metode Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi kooperatif model Tipe Jigsawobservasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif. Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir Analisis menggunakan statistic sederhana yaitu: Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: EuX X A EuN Dengan : X = Nilai rata-rata X = Jumlah semua nilai siswa N = Jumlah siswa Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 2006 (Dinas, 2. , yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama Untuk persentase ketuntasan belajar digunakan PA Eu Siswa. belajar x100% Eu Siswa Untuk lembar observasi Lembar observasi pengelola metode pembelajarn koperatif model Jigsaw Untuk menghitung lembar observasi kooperatif model Jigsaw rumus sebagai Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 P1 A P 2 Dimana P1 = Pengamat 1 dan P2 = Pengamat 2 Lembar observasi aktifitas guru dan siswa Untuk menghitung lembar observasi aktifitas guru dan siswa digunakan rumus sebagai berikut : Dimana : % = Presentase pengamatan = Rata-rata Ocx = Jumlah rata-rata P1 = Pengamat 1 P2 = Pengamat 2 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Deskrepsi kondisi awal Guru mengajar masih menggunakan metode ceramah ,sehingga banyak siswa yang membosankan dalam belajar. Pembelajaran seperti ini siswa menjadi bosan sehingga nilai ketentasan sangat rendah Menurut hasil pengamatan penulis nilai mata pelajaran Matematika materi Operasi hitung Bilangan Bulat dikelas V, siswa memperoleh nilai 50 % Penelitian ini dilaksanakan oleh penulis untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika di kelas V SDN Penedapa Kec Poso Pesisir tahun ajaran 2018/ 2019 ? Peningkatan hasil belajar yang ingin dicapai dari 50 % yang tuntas menjadi 70 % . Hasil Penelitian Siklus I . Perencanaan Tahap perencanaan pada siklus I dihasilkan beberapa perangkat pembelajaran Perangkat pembelajaran yang dihasilkan adalah Rencana Pembelajaran (RPP). Buku Siswa . erupakan kumpulan lembar ahl. Buku Guru, dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Adapun materi yang dibahas dalam perangkat pembelajaran tersebut adalah pokok bahasan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Bilangan Bulat, yang meliputi operasi pembagian, serta menaksir hasil perkalian dan Langkah-langkah pembelajaran yang disusun dalam RPP didesain sesuai dengan langkah-langkah pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Buku siswa yang disusun merupakan kumpulan lembar ahli berupa uraian materi dari topic-topik yang Sedangkan buku guru merupakan Buku ini memuat buku siswa yang dilengkapi beberapa penjelasan. Sebelum uji coba dilaksanakan, pada bagian akhir buku siswa/lembar ahli diberikan beberapa soal latihan. Karena sebagian besar siswa lebih memperhatikan soal daripada uraian materi, maka pada tatap muka berikutnya soal latihan yang ada di buku siswa/lembar ahli dihilangkan. Ada beberapa kelemahan yang terjadi saat penyusunan perangkat pembelajaran, yaitu pada tahap validasi. Karena guru matematika SDN Penedapa Kec Poso Pesisir guru kelas. Sedangkan instrumen penelitian yang dihasilkan adalah lembar pengamatan aktivitas siswa, lembar pengamatan aktivitas guru, serta angket respon siswa. Pelaksanaan dan Observasi Tahap ini merupakan pelaksanaan dari RPP yang sudah didesain mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Berikut pembelajaran di kelas. a Pertemuan Pertama . Pendahuluan . A Guru memulai pelajaran mengacu pada apa yang telah dikenal siswa tentang bilangan bulat, yaitu dengan cara meminta siswa untuk menyebutkan beberapa contoh bilangan bulat. Sebagian besar siswa dapat menjawab pertanyaan guru, tetapi secara bersama-sama. Sedangkan siswa yang berani mengemukakan pendapat sendiri hanya dua orang. A Guru menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran hari itu, yaitu akan membahas beberapa operasi pada bilangan bulat. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 . Kegiatan Inti . A Guru menyampaikan suatu masalah dan menginformasikan bahwa masalah ini dapat diselesaikan dengan berbagai cara Siswa yang berani mengemukakan pendapatnya satu orang. A Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok beranggotakan 5 orang, dan meminta siswa untuk duduk sesuai kelompoknya. Kelompok tersebut dinamakan kelompok Kemampuan mengorganisasikan siswa masih perlu A Guru memberikan topik-topik yang akan dibahas pada setiap kelompok, yaitu tentang penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, serta menaksir hasil perkalian dan pembagian pada bilangan bulat. Setiap anggota kelompok mendapat tugas satu A Guru meminta siswa agar anggota kelompok yang menerima tugas yang sama membentuk kelompok baru, selanjutnya disebut kelompok ahli. A Guru memberikan lembar ahli sesuai dengan tugas yang diterima. A Siswa membaca dan mempelajari topik ahli dengan waktu A 10 menit. Pada kesempatan ini ada beberapa siswa yang bertanya kepada guru Meksi. Mereka lebih senang berdiskusi dengan anggota kelompok. A Guru meminta siswa mendiskusikan topik yang sama dalam kelompok ahli A 15 menit, serta mengingatkan bahwa setiap siswa harus benar-benar memahami topik yang ditugaskan tersebut, karena mereka harus menjelaskan apa yang mereka diskusikan kepada temannya di kelompok Pada diskusi itu siswa dapat bertanya, memberi saran, membuat kesimpulan, menulis dan sebagainya. (Ternyata pada pertemuan pertama ini siswa tidak melakukan diskusi. Mereka asyik membaca lembar ahli sendiri-sendiri. Bahkan ada diantara mereka yang melakukan perilaku tidak relevan, seperti bercanda, menggoda Melihat kejadian tersebut Bu Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Meksi mengingatkan kembali bahwa mereka harus diskusi agar semua anggota kelompoknya mengerti. Selanjutnya guru bertanya AuApakah semua anggota sudah dapat menjelaskan kepada kelompok temannya yang ada di kelompok asal?Mereka menjawab Selanjutnya guru meminta siswa kembali ke kelompok A Masing-masing ahli kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan topik yang dibahas di kelompok ahli pada kelompok asalnya A 10 menit. Meksi memberikan instruksi bahwa topik yang dibahas pertemuan ini tentangpenjumlahan. Siswa yang mendapat tugas yang lain akan menjelaskan pada pertemuan berikutnya. Selanjutnya guru membimbing kelompok belajar tersebut. Sebagian besar siswa enggan memberikan penjelasan kepada Guru harus jeli memintaagar siswa yang mendapat tugas penjumlahan segera menjelaskan kepada anggota Tetapi tampaknya mereka masih ragu. Mereka belum percaya diri, karena selama ini yang menerangkan materi selalu guru. A Guru memberikan LKS-1, dan meminta siswa untuk mengerjakan LKS tersebut selama 15 menit. Penutup . A Bersama dengan siswa, guru membahas hasil kerja siswa dan dilanjutkan dengan menghitung skor yang diperoleh tiap A Memberikan penghargaan kepada kelompok yang mendapat skor paling tinggi, dan kepada siswa yang paling berpartisipasi. A Membuat rangkuman tentang pembelajaran hari itu, yaitu penjumlahan pada bilangan sifat-sifatnya. Waktu menyimpulkan hasil pembelajaran ada beberapa siswa yang berani menyimpulkan beberapa sifat pembulatan penjumlahan. A Menginformasikan materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, yaitu tentang pengurangan pada bilangan bulat. b Pertemuan Kedua . Pendahuluan . A Guru menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran hari itu, yaitu akan membahas Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 masalah operasi pengurangan pada bilangan Siswa menyimak penjelasan guru. A Dengan tanya jawab guru mengingatkan sifat-sifat penjumlahan bilangan bulat. Beberapa siswa sudah mau berpartisipasi menjawab pertanyaan guru. Kegiatan Inti . A Guru meminta siswa agar duduk berkelompok seperti sebelumnya, yaitu kelompok asal. A Guru meminta siswa yang mendapat topik pengurangan dan perkalian pada bilangan kelompoknya tentang materi itu masingmasing selama A 10 menit. Pada pertemuan ke dua ini siswa sudah mulai berani memberikan penjelasan kepada temannya, tetapi tetap harus disuruh oleh guru dan Gurumembimbing siswa yang bertugas untuk memberikan penjelasan. Tetapi jika yang bersangkutan belum bersedia,Guru meminta anggota yang lain untuk memberikan penjelasan. Setelah waktu untuk diskusi habis, guru membagikan LKS untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah dibahas kelompok. A Guru membagikan LKS-2 dan LKS-3 serta mengerjakannya selama 25 menit dan tidak boleh bekerja sama. Siswa mengerjakan LKS dengan antusias, bahkan ada siswa yang mengerjakannya sambil nyanyinyanyi, . Penutup . A Bersama dengan siswa, guru membahas hasil kerja siswa yaitu LKS-2 dan LKS-3 dilanjutkan dengan menghitung skor A Memberikan penghargaan kepada kelompok yang mendapat skor paling tinggi, dan kepada siswa yang paling berpartisipasi. A Membuat rangkuman tentang pembelajaran hari itu, yaitu pengurangan dan perkalian bilangan bulat beserta sifat-sifatnya. Pada kesempatan ini ada beberapa siswa yang berani memberi simpulan sifat-sifat pengurangan dan perkalian pada bilangan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Menginformasikan materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, yaitu masalah pembagian pada bilangan bulat. Selama pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dan Aktivitas siswa dikelompokkan menjadi dua kelompok seperti pada tabel Tabel 3 Pengelompokan Aktivitas Siswa Kelompok Kode Aktivitas Partisipasi Aktif 1, 3, 4, 5, 6 Partisipasi Pasif Siklus I ini terdiri dari empat tatap Pada tatap muka yang keempat siswa diminta untuk mengisi angket yang memuat respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Karena jumlah siswa di kelas cukup banyak, sedangkan guru matematika di SDN Penedapa Kec Poso Pesisir 2 orang teman sejawat mengamati aktivitas siswa peneliti. Hasil pengamatan dari keempat pertemuan tersebut diperoleh data sebagai berikut. Data Aktivitas Siswa Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Frekuensi rata-rata aktivitas siswa yang termasuk kategori aktif sebesar 67,75 % Data Aktivitas Guru Aktivitas guru pada siklus I ini menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Pada pertemuan ke-1 guru mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan siswa. Selain itu saat membimbing siswa selama belajar kelompok, guru cenderung memberikan jawaban langsung, tanpa mengalihkan pertanyaan itu ke anggota kelompok yang Namun pada tatap muka berikutnya aktivitas guru tersebut sudah lebih Secara aktivitas guru dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5. Perkembangan Tingkat Kinerja Aktivitas Guru pada siklus I Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Keterangan :BS=Baik L= Layak PP= Perlu Perbaikan TPP= Tidak perlu perb Data Respon Siswa setelah tahap pelaksanaan selesai,selanjutnya siswa diminta untuk mengisi angket. Tujuan dari pemebrian angket adalah ingin Adapun data yang diperoleh sebagai berikut : table 6 Respon siswa terhadap kegiatan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw c Repleksi Dengan memeprhatikan respon siswa serta hasil pengalaman baik terhadap siswa maupun terhadap guru,diperoleh hal-hal sebagai - Prosentase rata-rata aktivitas yang termasuk katagori partisifasi aktif sebesar 54,31% - Aktivitas ke-5, yaitu kemampuan ditingkatkan, karena baru mencapai 1,24%. Begitu juga kemampuan untuk mengambil kesimpulan juga harus - Berdasarkan catatan di lapangan, pada siklus I ini, siswa masih sering serempak, belum berani mengemukakan pendapat sendiri-sendiri. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Pada siklus I ini, perilaku yang tidak relevan cukup tinggi, yaitu 8,97%. Menurut pengamatan peneliti, hal ini terjadi karena penelitian dilakukan di semester I, dimana mereka satu sama lain baru saling kenal, bahkan guru pun masih - Aktivitas guru dari pertemuan satu ke pertemuan berikutnya makin membaik. Kami selalu memberikan masukan kepada guru setiap selesai mengajar. - Karena respon siswa terhadap KBM sangat baik, maka perangkat pembelajaran dan instrumen pada siklus II desainnya tetap seperti pada siklus I. - Untuk meningkatkan kemampuan siswa mengambil kesimpulan, memberi saran, keberanian untuk bertanya, maka langkah pembelajaran pada siklus II akan sedikit Perubahan yang dimaksud adalah sebelum siswa mengerjakan LKS, maka terlebih dahulu setiap kelompok diminta untuk memberikan beberapa contoh masalah seperti yang ada di lembar ahli, tetapi tidak boleh sama dengan yang ada di lembar ahli. Setelah semua kelompok menyampaikan pendapatnya, mereka baru diperbolehkan mengerjakan LKS. Siklus II . Perencanaan Seperti halnya pada siklus I tahap perencanaan pada siklus II ini dihasilkan perangkat pembelajaran berupa RPP. Buku Siswa. Buku Guru, dan LKS dengan pokok bahasan Bilangan Pecahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Sedangkan instrumen yang digunakan sama dengan pada siklus I, yaitu lembar pengamatan aktivitas siswa, dan guru. Kedua instrumen tersebut sama dengan yang digunakan pada siklus I. Pelaksanaan dan Observasi Tahap ini merupakan pelaksanaan dari RP yang sudah didesain mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan pokok bahasan Bilangan Pecahan. Siklus II ini hanya terdiri dari dua tatap muka. Pada tatap Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 penjumlahan dan pengurangan pada bilangan pecahan, sedangkan pada tatap muka kedua membahas operasi perkalian dan pembagian. Setelah dilakukan pengamatan diperoleh data sebagai berikut. Data Aktivitas Siswa Data aktivitas siswa yang diperoleh pada siklus II diilustrasikan pada tabel Frekuensi rata-rata aktivitas siswa yang termasuk kategori aktif sebesar 666,25% . Data Aktivitas Guru Aktivitas guru pada siklus II ini sudah sangat baik. Guru tidak mengalami kesulitan, baik untuk mengorganisasikan siswa, membimbing siswa, juga mengatasi siswa yang berprilaku tidak relevan. Selengkapnya perkembangan aktivitas guru dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5. Perkembangan Tingkat Kinerja Aktivitas Guru pada siklus I Keterangan : BS=Baik SEkali L= Layak PP= Perlu Perbaikan TPP= Tidak perlu perbaikan . Refleksi Dengan memperhatikan hasil pengamatan baik terhadap siswa maupun terhadap guru, diperoleh hal-hal sebagai Prosentase rata-rata aktivitas yang termasuk kategori partisipasi aktif sebesar 63,488%. Prosentase mengemukakan pendapat meningkat yaitu dari 1,24% menjadi 5,5%. Begitu juga pada kategori yang lain, yang termasuk Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index kategori partisipasi aktif. Sedangkan prosentase perilaku yang tidak relevan dan mendengarkan penjelasan teman atau guru Hal ini menunjukkan perubahan langkah pembelajaran yang digunakan oleh guru cukup efektif dalam memotivasi siswa untuk lebih berani berpendapat. V Tingkat kinerja aktivitas guru semakin baik, walaupun masih ada beberapa Misalnya cara mengajukan pertanyaan dan membimbing siswa menyajikan hasil diskusi kelompok. Pada siklus II ini masih ada kelompok yang anggotanya tidak kompak. Walaupun guru sudah berusaha memotivasi mereka, bahwa jika tidak mencoba, maka kita tidak tahu salah benarnya. Pembahasan Partisipasi aktif siswa pada refleksi awal sebesar 30%, pada siklus I 54,309% dan pada siklus II 63,488%. Prosentase ini pembelajaran terjadi peningkatan partisipasi aktif siswa. Pada siklus I siswa lebih senang mendengarkan, mengerjakan LKS dan membaca buku siswa. Mereka enggan untuk Ada yang takut salah bahkan ada yang takut temannya menjadi lebih baik Kondisi ini dapat dilihat dari prosentase aktivitas bertanya 1,02%, memberi saran 0,29%, mengemukakan pendapat 1,237%, serta mengambil kesimpulan 0,655%. Aktivitas mengemukakan pendapat, mereka lebih senang menjawab secara bersamaan. Apabila guru meminta satu orang diantara mereka untuk menjawab, mereka memilih Untuk mengatasi hal ini guru cukup baik dalam memotivasi mereka, yaitu dengan cara memberikan penghargaan baikuntuk individu maupun kelompok. Pemberian penghargaan ini sejalan dengan tahapan yang ada pada kooperatif tipe Jigsaw. Pada siklus II terjadi perubahan yang cukup baik. Hal ini terlihat dari aktivitas bertanya meningkat dari 1,02% menjadi 3,124%. Prosentase ini mengindikasikan bahwa rasa takut salah dan malu untuk bertanya sudah berkurang. Begitu juga pada aktivitas mengemukakan pendapat, terjadi Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 peningkatan yang cukup tinggi, yaitu dari 1,237% menjadi 5,5%. Siswa sudah mulai mau berbagi kepada teman-temannya. Bahkan mereka juga sudah berani mengajukan saran atau mengomentari pendapat temannya yang Hal ini terlihat dari prosentase aktivitas mengajukan saran dari 0,29% menjadi 1,095%. Kalau diperhatikan tiap aktivitas, memang peningkatannya tidak seberapa Tetapi kalau dilihat dari pengelompokan partisipasi aktif dan pasif, prosentase tersebut cukup cukup besar. Meningkatnya prosentase partisipasi aktif siswa sejalan dengan perkembangan tingkat kinerja guru. Hal ini dapat dilihat dari kinerja guru mulai pertemuan ke satu ke pertemuasn lainnya makin baik, sesuai dengan yang didesain dalam RPP. Respon siswa terhadap materi dalam buku siswa 39,394% menyatakan sangat senang dan 48,485% menyatakan senang. Hal ini menunjukkan bahwa buku siswa yang disusun sesuai dengan yang diharapkan siswa. Respon siswa terhadap LKS 39,394% menyatakan sangat senang dan 51,515% menyatakan senang. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang disusun sesuai dengan tuntutan siswa. Respon siswa terhadap suasana kelas sebanyak 27,273% menyatakan sangat senang dan 24,242% menyatakan senang. Jadi pada dasarnya siswa yang menyukai suasana kelas dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebanyak 51,52%. Sementara itu yang menyatakan tidak senang sebanyak 45,45%. Prosentase yang senang dengan yang tidak senang terhadap suasana kelas ini tidak begitu besar perbedaannya. Hal ini disebabkan mereka belum terbiasa dengan suasana yang Para siswa terbiasa duduk dengan rapih untuk menyimak penjelasan dari guru. Sedangkan dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, semua siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran. Baik dalam proses pemahaman konsep maupun dalam Hal inilah yang menyebabkan siswa kurang menyenangi suasana seperti itu. Berkenaan mengajar, sebanyak 66,667% menyatakan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index sangat senang dan 30,303% menyatakan Jadi cara guru mengajar sudah menyenangkan siswa. Hal ini terjadi karena selama proses pembelajaran guru selalu memberikan motivasi positif dan setiap ada siswa yang berhasi, guru selalu memberikan Penghargaan yang diberikan biasanya berupa pujian. Sementara itu apabila ada siswa yang belum berhasil, guru dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan pada pemahaman konsep tersebut. Sehubungan dengan materi buku siswa sebanyak 96,97% menyatakan baru. Sedangkan terhadap LKS sebanyak 90,91% menyatakan baru, terhadap suasana kelas sebanyak 66,67 menyatakan baru, dan terjhadap suasana mengajar sebanyak 100% menyatakan baru. Dengan demikian bentuk buku siswa. LKS, suasana kelas dan cara guru mengajar, menurut para siswa termasuk baru. Dengan kondisi seperti itu penulis mengharapkan agar guru matematika di sekolah tersebut, dapat membuat buku siswa atau LKS sendiri. Selama ini LKS yang digunakan di sekolah tersebut adalah LKS yang dibeli dari penerbit. Dengan adanya LKS yang dibuat oleh guru, siswa akan lebih mudah memahami LKS tersebut, karena bahasa yang digunakan dalam LKS buatan guru sudah mereka kenal dengan baik. Berhubungan dengan minat siswa terhadap model pembelajaran kooperatip tipe Jigsaw sebanyak 93,9% menyatakan berminat untuk mengikuti pada materi yang lain. Besarnya minat siswa terhadap model mengindikasikan bahwa model pembelajaran tersebut perlahan-lahan dapat diterima oleh Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw menuntut siswa lebih aktif dalam perolehan suatu konsep. Apabila siswa sudah terbiasa aktif dalam perolehan suatu konsep, maka siswa tersebut akan lebih mandiri. Apabila ada guru yang tidak hadir, maka mereka akan terbiasa belajar sendiri baik di kelas maupun di perpustakaan. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa meningkatkan partisipasi siswa kelas V SDN Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 2 Maret 2020 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Penedapa Kec Poso Pesisir tahun ajaran 2018/ 2019 dalam pembelajaran matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dilakukan dengan cara sebagai berikut. Mengembangkan RPP yang didesain sesuai dengan langkah-langkah pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Adapun pelaksanaannya diatur sebagai C Pembentukan kelompok asal. C oPembagian tugas. C oSiswa yang mendapat tugas sama berkumpul dalam satu kelompok, dan disebut kelompok ahli. C oMembaca . iswa membaca buku C oDiskusi kelompok . ada kelompok C oLaporan tim . enjelaskan pada kelompok asa. C oKuis . engerjakan LKS). C oPenghargaantim. Mendesain buku guru. Buku ini merupakan panduan bagi guru untuk membimbing siswa selama proses pembelajaran. Mendesain buku siswa. Buku siswa ini merupakan kumpulan dari lembar ahli yang berisi uraian materi masing-masing Selain buku siswa disusun juga LKS untuk tiap topik. Setelah dilakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa, diperoleh rata-rata kadar partisipasi aktif siswa sebesar 54,309% pada siklus I dan 63,488% pada siklus II. Respon siswa terhadap KBM dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw Hal ini dapat dilihat dari prosentase siswa yang merasa sangat senang dan senang terhadap materi sebanyak 87,87%, sangat senang dan senang terhadap LKS sebanyak 80,9%, sangat senang dan senang terhadap cara guru mengajar sebanyak 96,97%, sangat senang dan senang terhadap kuis yang Saran