JURNAL ILMU PENDIDIKAN Available online at https://journal. com/index. php/JURIP Vol. 1 No. January-June 2022, pages: 7-10 ISSN: x-x http://dx. org/10. /JURIP. Penerapan Metode Cooperative Learning Dalam Rangka Meningkatkan Hasil Belajar IPS Bagi Siswa Kelas V SD Negeri 107 Seluma Titi Herawani a Article history: Submitted: 16 April 2022 Revised: 15 May 2022 Accepted: 16 June Keywords: Cooperative Learning. Learn the Result. Tribe And Indonesian Culture Abstract Research into this is the inclusive of researching into in the class V. Research into conducted in 2 cycle by subyek 39 student in the class V SDN 107 Seluma o. school year 2016/ 2017. Data of Result of researching into as follows : assess to flatten - flatten the result learn at cycle 1 is 69 and and in cycle II become 74,76, there is improvement 15,76. Complete student learn the pad cycle 1 only 23 student or 58% what its value reach the KKM, at cycle II become 35 student or 89,74%. Aktivitas cycle student 1 showing only 23 active student and in cycle II become 35 active student in study. Applying of Method of Cooperative Learning at Tribe items and Cultural is in Indonesian proven can improve the result learn the IPS of student of class of V SDN 107 Seluma of school year 2016 / 2017 Jurnal Ilmu Pendidikan A 2022. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. 0/). Corresponding author: Hamidan Sekolah Dasar Negeri 107 Seluma. Kabupaten Seluma. Bengkulu. Indonesia Email address: titibkl@gmail. Pendahuluan Kualitas pendidikan diperlukan dalam strategi pembelajaran yang diharapkan mampu memperbaiki proses yang telah berlangsung. Salah satu tolok ukur keberhasilan guru adalah bila dalam pembelajaran mencapai hasil yang optimal. Keberhasilan ini sangat tergantung dengan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Keberhasilan pembelajaran pada umumnya ditunjukkan dengan bukti meningkatnya hasil belajar siswa. Namun hasil belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di kelas V SD Negeri 107 Seluma untuk materi Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia masih menunjukkan nilai yang rendah. Hal ini disebabkan karena konsentrasi siswa masih sebagai pendengar bukan pelaku karena guru kelas V cenderung menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi pelajaran. Jika dilihat dari nilai hasil ulangan harian siswa 60% masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu sebesar 65. Dari 39 siswa hanya 40% . yang sudah memenuhi KKM, sedangkan 60% nilai ulangan hariannya atau 23 siswa, belum mencapai KKM. Penyebab utama rendahnya hasil belajar IPS pada siswa kelas V SD Negeri 107 Seluma ini disebabkan salah satunya karena guru kelas V masih mengunakan metode ceramah sebagai metode unggulan dalam proses pembelajarannya, atau guru belum menggunakan metode pembelajaran yang inovativ. Dalam mendesain skenario Sekolah Dasar Negeri 107 Seluma. Kabupaten Seluma. Bengkulu. Indonesia ISSN: x-x pembelajaran, guru belum menyesuaikan dengan karakteristik materi maupun kondisi siswa sehingga menyebabkan siswa kurang aktif dan kreatif. Adanya kecenderungan guru tetap menggunakan metode pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah, mengakibatkan pembelajaran tampak kering dan membosankan. Kegiatan pembelajaran masih didominasi Siswa berperan menjadi obyek bukan subyek bahkan guru cenderung membatasi partisipasi dan kreatifitas siswa selama proses pembelajaran. Penuangan informasi dari guru ke siswa hanya dilaksanakan dan berlangsung di sekolah saja sehingga hasil yang dicapai siswa hanya mampu menghafal fakta, konsep, prinsip, hukum-hukum, teori hanya pada tingkat ingatan. Bertumpu pada kenyataan tersebut untuk merangsang serta guna meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pembelajaran IPS maka masalah ini harus dicari pemecahannya. Solusinya adalah mengujicobakan metode pembelajran inovatif yang sesuai dengan materi yang diajarkan, salah satu alternatif untuk pemecahan itu adalah dengan menggunakan metode Cooperative Learning. Dengan pembelajaran Cooperative Learning diharapkan siswa dapat menggali dan menemukan pokok materi secara bersama-sama dalam kelompok atau individual. Penerapan Cooperative Learning, merupakan tindakan alternatif yang kiranya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan paparan latar belakang di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian tindakan dengan menerapkan metode Cooperative Learning dalamm upaya untuk meningkatkan hasil belajar IPS bagi siswa kelas V SD Negeri 107 Seluma semester I tahun pelajaran 2016/2017 materi Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia. Metodologi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 dengan subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri 107 Seluma. Jumlah siswa ada 39 orang terdiri dari 29 siswa laki Ae laki dan 10 siswa Subyek ini dipilih dan memiliki karakteristik sosial dan budaya yang beragam. Observer adalah 1 orang guru sejawat SD Negeri 107 Seluma. Rencana tindakan yang ada dalam program penelitian agar berjalan sesuai rencana maka peneliti menyusun jadwal pelaksanaan tindakan sebagai pada Siklus I pada Rabu, 05 Oktober 2016. Siklus II : pada Rabu, 12 Oktober 2016 Prosedur penelitian penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas . lassroom action researc. yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas 2 siklus dengan model yang digunakan adalah model Kemmis and Taggart. Menurut Sarwiji Suwandi . 9: . , bahwa setiap siklus terdiri atas . , . , . Ciri utama dalam penelitian tindakan ini adalah adanya partisipasi dari peneliti dan siswa yang diamati dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun prosedur penelitian yang diterapkan sebagai berikut: Siklus I dengan melakukan perencanaan penelitian ini peneliti menyusun rencana yang harus dilakukan yaitu: . Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) . Membuat Lembar Kerja Siswa. Membuat soal evaluasi. Membuat instrumen lembar observasi kegiatan siswa dan guru. Pelaksanaan tindakan sebagai sebuah pelaksanaan dari apa yang telah Tindakan dipandu oleh perencanaan yang telah dibuat. Tindakan direncanakan dengan . Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alur kegiatan RPP. Mengamati aktifitas guru dalam pembelajaran. Mengamati kegiatan siswa dalam pembelajaran. Melakukan penilaian. Observasi, upaya mengamati pelaksanaan tindakan dalam pembelajaran dengan item pengamatan sebagai berikut: . Pengamatan pelaksanaan pembelajaran menggunakan lembar instrumen pengamatan. Pengamatan aktivitas guru dalam pembelajaran. Pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Melaporkan hasil penilaian. Refleksi, peneliti berdiskusi dengan teman sejawat selaku observer dengan tujuan untuk mengevaluasi semua tahapan dan hasil tindakan dalam penelitian. Hasil observasi selanjutnya dibahas bersama antara peneliti dengan observer, dianalisis dan direfleksi untuk menentukan langkah dan tindakan pada siklus II. Kemudian dilanjutkan pada Siklus II berdasarkan hasil tindakan siklus I maka dilanjutkan dengan melaksanakan tindakan pada siklus II dengan tahap-tahapan sebagai berikut: dengan Perencanaan yaitu . RPP perbaikan dengan mempehatikan hasil refleksi siklus I. Membuat Lembar Kerja Siswa. Membuat lembar tes . Membuat lembar observasi aktifitas guru dan siswa. Pelaksanaan tindakan perbaikan sesuai dengan RPP yang telah disempurnakan hasil refleksi pada siklus I. Observasi Pelaksanaan proses pembelajaran diobservasi menggunakan lembar pengamatan kemudian hasilnya didokumenkan. Refleksi yaitu Hasil analisis didiskusikan oleh observer dan peneliti kemudian direfleksi data-data siklus II digunakan sebagai acuan untuk menentukan tingkat ketercapaian tujuan dan keberhasilan belajar siswa. Keberhasilan dalam penelitian ini ditandai dengan siswa JURIP Vol. 1 No. January-June 2022, pages: 29-34 JURIP ISSN: x A 31 dinyatakan tuntas belajar jika siswa mencapai KKM yang ditetapkan untuk mata pelajaran IPS kelas V yaitu 65. Ketuntasan klasikal hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS mencapai O70% Hasil dan Pembahasan Tindakan Siklus I Proses pelaksanaan tindakan pembelajaran IPS materi AuSuku Bangsa dan Budaya di IndonesiaAy pada siklus I dilaksanakan sesuai rencana yaitu pada tanggal 05 Oktober 2016 meliputi: Tahap Perencanaan (Plannin. Sebelum pembelajaran dimulai, guru mengecek persiapan perangkat pembelajaran yang akan digunakan antara lain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Media. Alat tulis. Infokus. Laptop, dan Lembar Kerja Siswa. Lembar Evaluasi serta instrumen pengamatan aktifitas guru dan siswa dalam pembelajaran. Tahap Pelaksanaan (Actio. Berdasarkan rencana yang telah disusun dalam RPP maka pelaksanaan pembelajaran diawali dengan guru mengucap salam, mengajak berdoa, menanyakan kehadiran siswa, menjelaskan tujuan pembelajaran, menanyakan kesiapan siswa, memberikan motivasi agar siswa semangat dalam belajar, menyiapkan media yang diperlukan, memilih satu gambar . umah adat, tarian adat, makanan kha. yang berkaitan dengan materi, meminta siswa menjelaskan secara singkat tentang gambar yang ditampilkan guru. Tindakan berikutnya adalah guru menguraikan materi tentang keragaman suku bangsa di Indonesia menggunakan media gambar yang telah disiapkan, meminta salah satu siswa ke depan menjelaskan salah satu suku bangsa dalam gambar yang dipegangnya, siswa dibagi dalam kelompok kerja, dalam kelompok siswa diminta mengali informasi tentang tema yang dipelajari dari buku, majalah, koran tentang budaya yang telah dibawa siswa dari rumah . enanaman prinsip alam takambang jadi gur. , meminta siswa untuk saling berbagi informasi atas tugas yang diterima masing Ae masing siswa dalam kelompok, meminta salah satu kelompok untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya, kelompok lain diminta menanggapi, kelompok yang ditanggapi diminta menjawab atas tanggapan yang diterima. Selanjutnya guru memberikan penugasan secara kelompok membuat resume, rangkuman atau kesimpulan dengan berdiskusi atau studi pustaka dari buku, majalah, koran tentang budaya yang telah dibawa siswa dari rumah, guru memfasilitasi / memberikan solusi terhadap masalah dalam diskusi. Kegiatan dilanjutkan dengan guru memberikan evaluasi, siswa mengerjakan evaluasi dengan tertib. Tindakan akhir dari kegiatan pembelajaran adalah guru memberikan umpan balik berupa penguatan dalam bentuk lisan dan tulisan dan memberikan konfirmasi serta refleksi atas kegiatan belajar yang telah dilakukan siswa. Guru mengajak siswa membuat simpulan dan memberikan kesempatan siswa bertanya mengenai materi yang kurang dimengerti. Tahap Pengamatan (Observatio. Hasil Belajar Berdasarkan data hasil evaluasi yang telah dilaksanakan diperoleh data hasil belajar siswa adalah nilai ratarata kelas V sesudah tindakan 69. Dari siswa sebanyak 39 siswa, masih ada 16 siswa atau 42% yang memperoleh nilai di bawah nilai KKM. Siswa yang memperoleh nilai di atas nilai KKM sebanyak 23 siswa atau 58%. Nilai standar KKM di SDN 107 Seluma yaitu 65. Data hasil belajar IPS dapat disimpulkan bahwa siswa yang mendapat nilai diatas KKM adalah sebanyak 23 siswa atau 58%. Siswa mendapat nilai dibawah KKM sebanyak 16 siswa atau 42% dan nilai rata-ratanya adalah menjadi 69. Observer mengamati aktivitas siswa selama tindakan pembelajaran siklus I berlangsung dengan menggunakan lembar instrument observasi yang telah dipersiapkan sebagai berikut: bahwa keaktifan siswa dengan kategori baik ada 13 siswa atau 33,33% dan kategori sangat baik terdapat 10 siswa atau 25,64% aktif. Sedang dengan kategori cukup ke bawah 41,03% siswa termasuk dalam kategori tersebut. Aktivitas Guru Dalam Pembelajaran Selain mengamati aktivitas siswa, observer juga mengamati guru dalam proses tindakan pembelajaran siklus I berlangsung dfari awal sampai akhir dengan data observasi sebagai berikut dari data aktivitas guru pada tabel 4. menunjukkan bahwa guru melaksanakan tindakan dalam pembelajaran dengan rerata nilai 2,4 kategori Cukup. Hal ini berarti bahwa guru belum optimal melaksanakan tindakan pembelajaran. Data yang diperoleh melalui evaluasi dan observasi kemudian dikumpulkan dan dianalisis. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan dalam proses pelaksanaan tindakan, masih terdapat siswa yang mendapat nilai dibawah KKM dan sebagian siswa sudah mendapat nilai diatas KKM dan dapat diuraikan sebagai berikut: Adanya peningkatan hasil belajar siswa, karena nilai rata-rata kelas mencapai 69. Sebanyak 23 siswa atau 58% yang dapat mencapai KKM, sedang 42% siswa belum mencapai KKM. Nilai terendah adalah 55 sebanyak 2 siswa. Penerapan Metode Cooperative (Titi Herawan. 32 A ISSN: x-x Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung siswa cukup aktif memperhatikan penjelasan guru dan menjawab pertanyaan guru, serta bekerja sama dalam kelompoknya. Masih ada siswa yang bercanda dengan temannya. Hasil tersebut di atas sudah menunjukkan keberhasilan bahwa materi AuSuku Bangsa dan Budaya di IndonesiaAy sudah dikuasai oleh siswa, dengan demikian Cooperative Learning dapat dikatakan berhasil, akan tetapi belum maksimal. Hasil Tindakan Siklus II Tindakan siklus II dilaksanakan setelah adanya refleksi atas tindakan pada siklus I dan dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2016. Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi pelaksanakan pada siklus I diketahui bahwa pembelajaran sudah menunjukkan peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan, namun ada beberapa siswa yang masih mendapat nilai di bawah KKM. Oleh karena itu peneliti mengulang kembali pembelajaran IPS tentang materi AuSuku Bangsa dan Budaya di Indonesia. Ay Berdasarkan hasil observasi terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar pada materi Au Perjuangan Pada Masa Penjajahan BelandaAy setelah pelaksanakan tindakan siklus I, dapat diperoleh informasi bahwa hasil pencatatan menunjukkan bahwa dari siswa kelas V sebanyak 39 siswa terdapat 16 siswa atau 42% yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Setelah dilakukan pemeriksaan pada lembar kerja siswa, ternyata siswa tersebut di atas masih kesulitan dan banyak melakukan kesalahan menjawab pertanyaan khususnya materi AuSuku Bangsa dan Budaya di Indonesia. Ay Atas dasar tersebut peneliti melakukan koordinasi dengan observer membahas alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa tersebut di atas agar hasil belajarnya meningkat paling tidak mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum. Berdasarkan hasil koordinasi dengan observer, peneliti akan melakukan tindakan untuk mencapai indikator yang belum tercapai oleh beberapa siswa tersebut di atas dengan melakukan tindakan siklus II dengan menggunakan Cooperative Learning Tahap Perencanaan (Plannin. Pada tahapan perencanaan ini peneliti membuat perencanaan dengan menyusun kembali Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Lebih mengoptimalkan Cooperative Learning dalam pembelajaran. Peneliti secara kolaboratif melaksanakan pemantauan terhadap pelaksanaan proses belajar-mengajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif. Dalam observasi ini untuk memperoleh data kesesuaian pelaksanaan penggunaan pembelajaran kooperatif dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, untuk mengetahui seberapa besar pembelajaran kooperatif yang dilaksanakan menghasilkan perubahan pada hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri 107 Seluma. Oleh karena itu pengamatan juga diarahkan pada aspek suasana kelas. Tahap Pelaksanaan (Actio. Dalam pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus II, guru mengawali dengan mengucap salam, mengajak doa bersama, menanyakan siswa yang tidak hadir, menjelaskan tujuan pembelajaran, menanyakan kesiapan belajar, serta pemberian motivasi pada siswa. Selanjutnya menyiapkan media pembelajaran dengan tujuan memunculkan daya tarik siswa dalam belajar, melemparkan pertanyaan berkaitan materi, siswa diminta menjawab melalui ungkapan penjelasan sebagai bentuk tanggapan atas pertanyaan dari guru. Pada kegiatan inti, guru menguraikan dan menjelaskan materi Keragaman Budaya di Indonesia menggunakan media foto atau gambar, siswa diminta menjelaskan, guru menerapkan prinsip alam takambang jadi guru atau siswa mencari informasi mendalam berkenaan topic yang dipelajari, salah satu siswa diminta mengutaraka satu pertanyaan dan siswa lain diminta menjawab atau menanggapi pertanyaan tersebut. Selanjutnya siswa ditugaskan mencari informasi tentang keragaman budaya di Indonesia melalui buku. koran atau internet, siswa diminta meresume dan mencantumkan sumber informasi secara individu, guru memfasilitasi siswa untuk saling bertanya dan menjawab serta berdiskusi, siswa memunculkan gagasan baru secara lisan maupun tertulis, guru memberikan lembar evaluasi, siswa mangerjakan dengan tertib LKS, guru kemudian memberikan lembar evalusi mandiri, siswa mengerjakan lembar evaluasi sesuai perintah. Pada kegiatan penutup, guru memberikan umpan balik dan penguatan berupa hadiah, memberikan konfirmasi dan refleksi bagi siswa, menarik simpulan bersama, siswa mencatat rangkuman yang telah dibahas bewrsama, menanyakan kembali kepada siswa. hal Ae hal yang belum dipahami, dan diakhiri dengan perencanaan kegiatan tindak lanjut. Tahap Pengamatan (Observatio. Berdasarkan dari pengamatan yang dilakukan pada siklus II, dapat diketahui bahwa pembelajaran IPS materi AuPerjuangan Pada Masa Penjajahan BelandaAy yang dilaksanakan dengan menggunakan Cooperative Learning, pada siklus ini aktivitas siswa sudah sangat maksimal, sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan baik. Berdasarkan data nilai diperoleh bahwa nilai rata-rata kelas V sesudah dilaksanakan tindakan siklus II adalah 74,76. JURIP Vol. 1 No. January-June 2022, pages: 29-34 JURIP ISSN: x A 33 Siswa kelas V SD Negeri 107 Seluma tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak 39 siswa, hanya 4 siswa atau 10,26% yang memperoleh nilai di bawah nilai KKM. Sebanyak 35 siswa atau 89,74% memperoleh nilai di atas nilai KKM. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran IPS materi AuSuku Bangsa dan Budaya di IndonesiaAy yang dilaksanakan dengan menggunakan metode pembelajaran Cooperative Learning mengalami peningkatan hasil belajar yang sangat signifikan artinya ada kesesuaian penggunaan metode ini dengan materi yang telah dipelajari Dalam tahap ini observer melaksanakan pemantauan terhadap pelaksanaan proses belajar-mengajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif. Dalam observasi ini untuk memperoleh data dalam pembelajaran kooperatif yang dilaksanakan menghasilkan perubahan aktivitas pada siswa kelas V SD Negeri 107 Seluma dibandingkan pada siklus sebelumnya, adapun data observasi yang diperoleh sebagai berikut: Dari data pengamatan aktivitas siswa pada 6 di atas keaktifan siswa dengan kategori baik ada 9 siswa atau 23,07%, kategori sangat baik terdapat 26 siswa atau 66,67% aktif dan keaktifan dengan kategori cukup ada 4 siswa . ,26%). Berdasarkan dari pengamatan yang dilakukan pada siklus II, dapat diketahui bahwa pembelajaran IPS materi AuSuku Bangsa dan Budaya di IndonesiaAy yang dilaksanakan dengan menggunakan metode pembelajaran Cooperative Learning, pada siklus ini aktivitas siswa sudah sangat maksimal, sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan baik Pada siklus II, pengamat juga melakukan observasi terhadap aktivitas guru dalam pelaksanaan pembelajaran dengan Cooperative Learning. Observasi ini ditujukan untuk memperoleh data akurat pada kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran, suasana kelas saat pembelajaran. Keseluruhan data yang diperoleh dalam kegiatan ini akan digunakan sebagai bahan atau masukan untuk menganalisis kegiatan guru, adapun hasil pengamatan sebagai Dari data aktivitas guru menunjukkan bahwa guru melaksanakan tindakan dalam pembelajaran dengan rerata nilai 3,0 masuk kategori Baik dan aktivitas guru pada siklus ini ada peningkatan disbanding pada siklus I, peningkatan sebesar 0,6. Hal ini berarti bahwa guru mampu optimal melaksanakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan metode Cooperative Learning. Hasil analis data balikan terhadap pelaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Cooperative Learning pada siklus II, secara umum telah menunjukkan perubahan yang signifikan, dimana guru dalam melaksanakan pembelajaran semakin mantap dan luwes dengan kekurangan-kekurangan control waktu. Presentase aktivitas siswa dalam pembelajaran meningkat. Dengan partisipasi siswa dalam pembelajaran yang semakin meningkat, suasana kelaspun menjadi hidup dan lebih menyenangkan. Dari analis hasil tes siklus I dan hasil tes siklus II diketahui bahwa pada siklus pertama nilai rata-rata siswa mencapai 69 dan siswa yang mencapai nilai lebih dari KKM sebanyak 23 anak . %). Siklus II nilai rata-rata kelas mencapai 74,76 dengan jumlah siswa yang mendapat nilai diatas KKM sebanyak 35 siswa . ,74%) dari 39 siswa. Dari penelitian ini, pembelajaran dikatakan berhasil apabila nilai hasil belajar IPS siswa dalam pembelajaran meningkat. Selain itu hasil yang dicapai siswa melalui tes akhir pembelajaran mencapai nilai rata-rata kelas di atas 65. Presentase siswa yang memperoleh nilai lebih dari KKM mencapai. ,74%) atas dasar tersebut dan melihat hasil yang diperoleh pada siklus II, maka pembelajaran yang menggunakan Cooperative Learning yang dilaksanakan pada siklus II dikatakan berhasil, sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya. Namun guru harus tetap melaksanakan bimbingan belajar untuk perbaikan prestasi belajar 4siswa yang mendapatkan dibawah KKM dan melaksanakan pengayaan untuk siswa yang memperoleh nilai diatas rata-rata kelas sebagai tindak Dalam penerapan Cooperative Learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa materi peristiwa sekitar proklamasi dibagi menjadi 2 tahap, yang meliputi : Siklus 1 dan Siklus II. Berdasarkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 107 Seluma awal sebelum dilaksanakan siklus I kemudian peneliti melakukan tindakan atas dasar kelemahan yang ditemukan. Peneliti mencoba mengujikan sebuah solusi yaitu berupa penggunaan Cooperative Learning yang bertujuan untuk meminimalisir kelemahan yang ada pada awal sebelum dilaksanakan siklus I dan untuk meningkatkan hasil belajar. Setelah dilakukan pembelajaran dengan Cooperative Learnin. nampak adanya peningkatan nilai yang dicapai oleh siswa, nilai rata-rata kelas 69. Disini terlihat ada peningkatan nilai rata-rata siswa yang semula pada pra siklus nilai rata-ratanya adalah 50 menjadi 69. Siswa yang belum mencapai nilai KKM pada awal sebelum siklus I dari 23 siswa menurun menjadi 16 siswa dari 39 siswa atau menurun sekitar 18% sedangkan yang sudah mencapai nilai KKM meningkat dari 16 siswa menjadi 23 siswa atau meningkat sekitar 18%. Karena peneliti menginginkan adanya perbaikan lagi mengenai peningkatan nilai siswa, sehingga peneliti perlu adanya perlakuan kembali bagi siswa yaitu dengan melaksanakan tindakan siklus 2. Penerapan Metode Cooperative (Titi Herawan. 34 A ISSN: x-x Akan tetapi berdasarkan pengamatan oleh observer dan peneliti, masih ditemukan beberapa kelemahan yang teridentifikasi selama proses pembelajaran dengan menggunakan Cooperative Learning pada siklus I antara lain: Beberapa siswa masih agak takut atau grogi, karena pembelajaran tidak sama dengan penbelajaran yang telah dilaksanakan sebelumnya. Situasi di dalam kelas yang masih kurang kondusif yang ditandai masih adanya beberapa siswa yang gaduh dan kurang konsentrasi pada saat proses pembelajaran berlangsung dan begitu pula saat kerja Berdasarkan kelemahan yang terjadi pada siklus I kemudian peneliti merevisi semua rancangan dengan menjelaskan konsep materi AuSuku Bangsa dan Budaya di IndonesiaAy yang belum dikuasai secara jelas sehingga mudah dipahami oleh siswa. Perencanaan pada apa yang telah dijelaskan tersebut di atas dilaksanakan pada siklus II. Pada siklus II ini beberapa siswa yang mulanya dari kegiatan siklus I aspek afektif yaitu perilaku siswa masih takut atau grogi mengikuti pembelajaran, ada beberapa yang masih ramai dan kurang konsentrasi. Selain itu juga terlihat adanya peningkatan pada aspek kemampuan kognitif yaitu adanya peningkatan pada hasil belajar siswa yang mana pada siklus I nilai rata-rata kelas adalah 69 menjadi 74,76. Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa nilai rataAerata siswa setelah dilaksanakan tindakan siklus 2 rata-rata siswa yang semula 69 meningkat menjadi 74,76 meningkat sebesar 5,76. Siswa yang belum mencapai nilai KKM semula 16 siswa menurun menjadi 4 siswa dari jumlah 39 siswa, menurun 31,74 % sedangkan yang sudah mencapai nilai KKM meningkat dari 23 siswa menjadi 35 siswa atau meningkat 37,74%. Nilai tersebut sudah sangat baik sehingga peneliti tidak melakukan perbaikan kembali. Kemudian bagi siswa yang belum mencapai nilai KKM guru membimbing secara khusus di luar jam sekolah. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran IPS melalui Penerapan Metode Cooperative Learning pada siswa kelas V SD Negeri 107 Seluma materi AuSuku Bangsa dan Budaya di IndonesiaAy dapat disimpulkan sebagai berikut: meningkatkan hasil belajar siswa, dibuktikan dari meningkatnya nilai rata-rata kelas pada siklus 1 menjadi 69 dan pada siklus II menjadi 74,76 rata-rata kelas meningkat 15,76. Ketuntasan belajar siklus I mencapai 23 siswa atau 58% dan pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 35 siswa atau 89,74%. Hasil tersebut ini sudah melampaui indikator yang ditetapkan yaitu 70%. Aktivitas siswa dalam pembelajaran dari siklus I ke siklus II juga mengalami Semula siswa yang aktif di siklus I ada 23 siswa atau 58,97% dan di siklus II meningkat menjadi 89,74% terjadi peningkatan sebesar 30,77% Saran Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan sebagai berikut: Peningkatan hasil belajar IPS materi AuSuku Bangsa dan Budaya di IndonesiaAy melalui penerapan metode Cooperative Learning sehingga dari penelitian ini dapat menjadi pertimbangan bagi guru untuk menambah metode pembelajaran. Guru harus produktif dalam mengemas metode pembelajaran disesuaikan dengan materi ajar dengan tuntutan kekinian Ucapan Terima Kasih Peneliti mengucapkan terimakasih banyak kepada Kepala Sekolah dan Guru SD Negeri 107 Seluma atas kerjasama yang baik selama penelitian ini dilakukan. Daftar Pustaka