STILISTIKA AL-QURAoAN. (Ragam Gaya Bahasa Ayat-ayat alab dalam Diskursus Stilistik. Wahyu Hanafi Email. wahyuhanafi89@gmail. Institut Agama Islam Sunan Giri. Ponorogo ABSTRACT The QurAan has its own miracle that no holy books before had, it has beautifull language and great literature. The one of itAs beauty comes from the structure of al-Amr and al-Nahy inside it. Stylistics is a excellent method that is able to discover the structure of the language style of alAmr and al-Nahy in the QurAan. So that expanding the term of stylistics QurAan. Stylistics analysis of the QurAan at this stage is focused on the syntactic domains, namely an analysis of the pattern formation of said structure, the sentence structure, sentence structure relationship, as well as the influence of the wordAs that have implications to the meaning. Finally, itAs able to find the meaning of dialogue in the structure. Keyword: Stylistics, al-QurAan, al-Amr, al-Nahy. ABSTRAK Al-Qur'an memiliki mukjizat sendiri yang tidak dimiliki kitab suci sebelumnya, di dalamnya terdapat bahasa dan sastra yang indah. Salah satu keindahan tersebut berasal dari struktur alAmr dan al-nahy yang ada di dalamnya. Stilistika adalah metode sangat baik yang mampu menemukan struktur gaya bahasa al-Amr dan al-nahy dalam Al Qur'an, sehingga memperluas penjelasan gaya bahasa Al-Qur'an. Analisis stilistika Al-Qur'an pada tahap ini difokuskan pada domain sintaksis, yaitu analisis pembentukan pola struktur kata, struktur kalimat, hubungan struktur kalimat, serta pengaruh kata yang berimplikasi pada pembentukan arti. Dengan metode tersebut dapat ditemukan arti yang sesungguhnya dalam struktur kalimat. Kata Kunci: Stilistika, al-QurAan, al-Amr, al-Nahy. PENDAHULUAN Dinamisasi penafsiran al-QurAan selalu berkembang dan tidak kunjung usai seiring perubahan zaman. Keberagaman corak penafsiran akan semakin menambah kekayaan khazanah keilmuan dalam studi al-QurAan. Berbagai upaya pendekatan dan metode penafsiran bagai atsmosfer yang selalu menyelimuti tradisi keilmuan dengan ambisi mencari kebenaran relatif yang bersifat nisbi. Sebenarnya ulasan demikian menjadi pokok mengoptimalisasi dan mengembangkan pola pikir secara rasional, obyektif dan dialektis. Ali Harb,1 mengemukakan, al-QurAan merupakan kalAm yang tidak mengenal titik akhir dalam pemahamannya dan teks yang tidak membatasi kemungkinan penafsiran model apapun untuk menyembunyikan dan menutupinya. Pemikiran keislaman senantiasa berpusat di seputar teks ini dengan melakukan eksplorasi ulang dan membacanya, dengan Ali Harb. Nalar Kritis Islam Kontemporer. Kritik dan Dialog, (Yogyakarta: IRCiSod, 2. , 110. menjelaskan, menafsirkan, dan menyimpulkannya. Setiap saat, ia dibaca dengan pembacaan yang produktif dan dinamis. Al-QurAan sebagai kitab suci memiliki karakteristik yang berbeda dibanding kitab samawi yang lain. Salah satu karakteristik al-QurAan adalah memiliki gaya bahasa, sastra yang indah serta ekspresi puitisnya yang unik jika dikaji dalam aspek stilistika. Dengan demikian gaya bahasa al-QurAan tidak bisa ditandingi oleh kalangan siapapun termasuk para linguis dan ahli sastra, dan orang Arab sendiri yang menggunakan bahasa Arab. Dalam perspektif ini. Nurcholish,2 mengungkapkan bahwa bahasa yang digunakan alQurAan memang tidak sama dengan uslb yang digunakan dalam bahasa Arab harian, bahkan dengan bahasa Arab yang ada dalam al-Sunnah pun berbeda. Pandangan bahwa bahasa Arab sebagai bahasa al-QurAan lebih merupakan soal teknis penyampaian pesan daripada nilai itu ditunjang oleh keterangan al-QurAan sendiri, yaitu keterangan karena Nabi Muhammad Saw adalah seorang Arab, maka mustahil Allah mewahyukan ajaranNya dalam bahasa bukan Arab. Pendekatan linguistik dalam studi al-QurAan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Eksistensi linguistik dalam studi al-QurAan lebih menekankan pada Analisis struktural Salah satu mikrolinguistik yang digunakan dalam studi al-QurAan adalah ilmu stilistika (AIlm al-Usl. yang kemudian berkembang menjadi stilistika al-QurAan (Uslb al-QurAa. Kajian stilistika al-QurAan berfokus pada bagaimana al-QurAan menggunakan apakah ciri khasnya dan bagaimana efek penggunaan al-MustawayAt alUslbiyyah . spek-aspek Analisis stilistik. pada ayat-ayat al-QurAan. Dalam al-QurAan. Allah memberikan isyarat wahyu kepada umat manusia untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya dengan bentuk kata perintah . l-am. dan larangan . l-nah. Kedua konsep ini merupakan kesatuan yang eklektik yang dijadikan jembatan dan cerminan bagaimana manusia melangkah. Tentunya, konsep tersebut memiliki ketentuan-ketentuan tersendiri agar sah diijadikan kunci dalam ijtihad Konsep al-amr dan al-nahy dalam al-QurAan menduduki posisi sentral sebagai obyek ijtihad, mengingat apa yang dibentuk dari keduanya akan menghasilkan produk ijtihad yang akhirnya akan diambil alih sebagai pedoman melakukan sesuatu atau Nurcholish. Islam dan Doktrin Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan. Kemanusiaan, dan Kemoderatan, (Jakarta: Paramadina, 1. , 365. Lihat Syihabuddin Qalyubi. Stilistika Bahasa dan Sastra Arab, (Yogyakarta: Karya Media, 2. Al-QurAan menggunakan konsep al-amr dan al-nahy dengan ragam gaya bahasa yang berbeda. Ragam gaya bahasa yang berbeda ini merupakan salah satu bukti ke-iAjazan al-QurAan. Stilistika merupakan metode yang eksellen yang mampu mendekosntruksi gaya bahasa konsep al-amr dan al-nahy. Perlu digaris bawahi, dalam penulisan ini lebih dispesifikkan pada analisis stilistika. Muatan tafsir yang ada sebagai penjelas . yang bersifat skunder. Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang mana sumber-sumber yang diambil dari berbagai literatur yang relevan. Stilistika Dalam Studi Al-QurAoan : Sebuah Tinjauan Epistemologi Redefinisi Stilistika . l-Usl. dalam Terminologi Linguistik Arab Stilistika berasal dari kata style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekanan dititik beratkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah. 4 Stilus itu sendiri berasal dari akar kata sti berarti mencakar atau menusuk. Diduga akar kata sti juga diadopsi ke dalam ilmu pengetahuan menjadi stylod dan dalam psikologi menjadi Dalam Bahasa Indonesia, style dikenal denga istilah AugayaAy atau Augaya bahasaAy, yaitu cara-cara penggunaan bahasa yang khas sehingga menimbulkan efek tertentu. 6 Gaya secara umum adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian dan sebagainya. Sedangkan gaya dalam artian stilistika menurut Gorys Keraf adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. 7 Kemudian style berubah menjadi kemampuan serta keahlian untuk menulis atau menggunakan kata-kata secara indah atau secara sederhana dapat diartikan sebagai kajian linguistik yang obyeknya berupa style. Stilistika sebagai ilmu bahasa lainnya mengkaji fenomena-fenomena bahasa dari dua arah. Pertama, arah horizontal yaitu mendeskripsikan hubungan fenomena bahasa antara satu dengan yang lainnya dalam kurun waktu tertentu. Kedua, arah vertikal yaitu mengkaji perkembangan bahasa dalam beberapa masa. 8 Baik secara horizontal maupun vertikal keduanya Gorys Keraf. Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2. , 112. Lihat I Nyoman Kutha Ratna. Stilistika. Analisis Puitika Bahasa. Sastra dan Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 9. Ibid. Gorys Keraf. Diksi dan Gaya Bahasa, 112. Syihabuddin. Stilistika al-QurAan, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1. , 30. mempunyai kesamaan dalam obyek material yang dibahas, yaitu bahasa. Dengan demikian bisa dikatakan bahasa merupakan obyek penelitian yang sangat luas. Adapun dalam khazanah sastra Arab, gaya atau stilistika dikenal dengan al-uslb yang berarti jalan. 9 Secara etimologi al-uslb artinya garisan di pelepah kurma, jalan yang terbentang, aliran pendapat dan seni. Secara terminologi, al-uslb artinya cara penuturan yang ditempuh penutur dalam menyusun kalimat dan memilih kosa kata. 10 Dan ilmu yang mempelajarinya adalah Ailm al-Uslb atau al-Uslbiyyah. 11 Makna Ailm al-Uslb atau alUslbiyyah dalam tatanan semantik memiliki makna relasional, yaitu AugayaAy atau Augaya bahasaAy. Makna ini mengandung bahwa dalam kajian bahasa tidak lepas dengan suatu style atau gaya yang selalu menyelimuti bahasa. Dengan adanya gaya tersendiri dalam lingkup bahasa, tentunya akan memberikan makna yang relatif dinamis. Ranah Analisis Stilistika . l-Usl. Dalam Studi Linguistik Modern & AlQurAoan Kehadiran stilistika memberikan kontribusi tersendiri dalam studi linguistik Studi stilistika mempunyai obyek material yaitu bahasa. Segi pembahasan Analisis stilistika secara umum bisa dibilang sangat luas, namun bisa lebih dispesifikkaan pada aspek gaya bahasa. Gaya bahasa yang dimaksud di sini terdapat pada struktur pola fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Tidak hanya sampai di situ saja, kajian juga bisa diperluas pada struktur pembentukan frasa, morfem, maupun klausa. Khafaji,12 mengatakan diantara karakteristik stilistika adalah menganalisis persoalan-persoalan yang terkait dengan fonologi, struktur kalimat, leksikologi, penggunaan bahasa metaphor, hipalase dan mitomini. Kemudian Syihabuddin,13 mengatakan bahwa analisis stilistika meliputi al-awAt . , ikhtiyAr al-lafe . referensi kat. , ikhtiyAr al-jumlah . referensi kalima. , al-inhirAf . , yang masing masing mempunyai pengaruh Ahmad Warson Munawwir. Kamus al-Munawwir: Arab-Indonesia. Edisi Kedua, (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1. , 647. Lebih jelas lihat dalam Syihabuddin Qalyubi. Stilistika al-QurAan. Makna di Balik Kisah Ibrahim, (Yogyakarta. LKiS, 2. , 16. Fathullah Ahmad Sulaiman, al-Uslbiyyah, (Kairo: Maktabah al-Adab, 2. , hlm. Abdul MunAim al-Khafaji, al-Uslbiyyah wa al-BayAn al-AArab, (Beirut: al-DAr al-Miriyyah alLubnAniyya. , hlm. Syihabuddin. Stilistika Bahasa, 69. Adapun ilmu bunyi yang membahas tentang bunyi bahasa tertentu dengan mempertimbangkan fungsi dan makna yang dikandungnya dinamakan fonologi. Masalah mengenal fonem, alofon, pengaruh antar bunyi, modifikasi bunyi . dghAm, ikhfAA, imAlah, isymAm dan rou. , tekanan, intonasi . anjang-pende. , dan waqaf adalah materi utama dalam fonologi. Lihat lebih jelas dalam Ahmad Suyuti Anshari. Fonetik dan Fonologi al-QurAan, (Jakarta: Amzah, 2. , 3. terhadap makna yang ditimbulkan penutur akan membawa bahasan keluar konteks Kajian stilistika bisa menggunakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan tradisional, pada pendekatan ini struktur bahasa dikaji dengan pola-pola tradisional seperti sastra klasik. Kedua, pendekatan modern, pendekatan ini lebih menekankan pada kajiankajian teori-teori linguistik, seperti aspek fonologi, morfologi, sintaksis dan semantis. Pada pendekatan modern ini, stilistika berperan dan dibantu dengan disiplin ilmu yang linguistik yang lain. Pendekatan modern inilah yang sering dilakukan oleh para linguis guna mencari maksud makna pada konsep teks sastra klasik maupun modern. Selain itu stilistika juga dibagi ke dalam konsep genetis dan deskriptis. Konsep genetis menekankan pada struktur penggunaan bahasa secara individu baik secara verbal maupun non verbal. Ucapan bahasa yang terbentuk oleh kesatuan individu ini biasanya berbeda dengan penutur lain. Kemudian konsep deskriptis menekankan pada Analisis stilistika bahasa dengan teori-teori linguistik seperti fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Stilistika al-QurAan mempunyai komponen penting baik vertikal maupun horizontal yang secara garis besar bisa dijadikan pisau analisis dalam studi al-QurAan. Secara vertikal mencakup analisis dalam ranah fonologi . l-mustawA al-au. , ranah sintaksis . l-mustawA al-tark. , ranah morfologi . l-mustawA al-ar. , dan ranah semantik . l-mustawA al-dalA. Sedangkan secara horizontal mencakup analisis tentang kata, kalimat, paragraf, wacana, dan teks secara keseluruhan. Struktur penggunaan komponen-komponen tersebut akan memberikan efek tehadap makna dalam suatu susunan Berikut ini bagan ranah analisis Ailm al-Uslb :14 Syihabuddin. Stilistika Bahasa, 70 AIEE EO IEEOE EEOOA AIE OO IAOOA AIE OO IIOOA AIE OO IAOAA AIE OO EEOEA AIEEIA AIEEA AIACA AEA AIIAA AEu A AIEA AIEIOA AIONA Penggunaan ranah analisis uslbiyyah ini tergantung pada genre obyek analisis. Sebagai contoh pada genre syiAr . ranah analisis yang dominan adalah ranah fonologi . l-mustawA al-au. , sedangkan pada genre nar . ranah tersebut jarang digunakan, tetapi jika kelima ranah tersebut diaplikasikan, maka lebih baik. Analisis ranah fonologi . l-mustawA al-au. misalnya, mengkaji kata, kalimat dari sisi konsonan . wAmi. , kemudian vokal . wAi. Selanjutnya, mengkaji pada aspek fonetik dan fonemik, yang mana kedua aspek ini termasuk katagori fonologi ucapan . lawAt al-nu. 16 Seperti contoh repitisi huruf konsonan dAl pada surat al-IkhlA, dan huruf qAf pada surat al-Ariq. Dalam ranah ini nantinya akan menimbulkan dua efek, yaitu Ibid. Fonetik adalah ilmu yang mempelajari tentang suara . dari aspek tempat keluarnya. Sedangkan Fonemik adalah ilmu suara . yang memperhatikan Analisis suara bahasa dalam struktur Maksudnya adalah keterkaitan suatu suara dengan dengan suara yang lain dari berbagai aspek, ataupun keterkaitan makna fonologi pada batasan makna tertentu dengan makna yang lain. Lihat lebih jelas dalam Abdul Wahab Rasyidi. AIlm al-AwAt al-Nuq. Naeariyyah wa MuqAranah ma Tabq f al-QurAAn al-Karm, (Malang: UIN Maliki Press, 2. , 5-6. efek terhadap keserasian dan efek terhadap makna. Kemudian juga mengkaji mengenai aspek historis, seperti perubahan fonem yang disebabkan pergeseran waktu dan masa, perubahan fonem yang disebabkan dua huruf yang sama makhraj-nya, kemudian perbandingan fonem pada bahasa AAmiyyah dengan ragam suara bahasa fauuah. Kemudian dalam ranah sintaksis . l-mustawA al-tark. , yaitu meliputi pola pembentukan struktur kata, struktur susunan kalimat . , hubungan susunan kalimat, serta pengaruh struktur kata dengan kata yang lain dalam sisi iArAb. 18 Pada ranah ini tidak membahas tentang perubahan uArakat suatu lafal . ArA. maupun strukutur kalimat . seperti al-mubtada wa al-khabar, kata kerja dengan pelaku . l-fiAlu wa al-fAAi. , karena sudah dibahas secara terperinci dalam ilmu Nahwu. Namun pada ranah ini membahas tentang alasan penggunaan struktur atau pola tertentu dalam suatu kalimat, seperti penggunaan masdAr . erba nou. dalam membentuk kata perintah . iAlu al-am. , alasan penggunaan kata kerja berlangsung . l-fiAlu al-musAriA) dalam kedudukan almubtadaA, maupun pengulangan kalimat . seperti yang terdapat pada surat alRaumAn. Ranah semantik . l-mustawA al-dalA. , memberikan obyek linguistik secara umum seperti fonologi, leksikal, morfologi, dan sintaksis, tetapi biasanya memiliki batasan obyek tertentu, seperti makna leksikal . alAlah al-lafe al-muAja. , polisemi . lmusytarak al-laf. , sinonim . l-tarAdu. dan antonim . l-tibA. 19 Pada ranah ini lebih bersifat umum, karena studi semantik lebih menekankan pada aspek makna. Maknamakna yang di dapat pada ranah ini dikaji dalam cakupan tersendiri secara kompleks. Selanjutnya yang terakhir adalah ranah analisis morfologi . l-mustawA al-ar. Pada aspek Analisis ini mengulas hakikat kalimat diluar susunannya, yakni mengenai struktur pembentukan kalimat, perubahan kalimat baik pengurangan maupun penambahan Muhammad Daud, al-AArabiyyah wa AIlm al-Lughah al-Hadu, (Kairo: DAr al-Gharb, 2. Ibid. Pada ranah analisis ini lebih menekankan pada aspek-asek kebahasaan yang ditinjau dari sisi semantik seperti sinonim . l-tarAdu. adalah suatu kata yang memiliki makna tunggal secara sempurna, sinonim . l-tarAdu. tidak memiliki ketetatapan dalam bahasa Arab, akan tetapi terbentuknya sinonim . ltarAdu. dalam bahasa ini mempunyai makna dan maksud tertentu. Kemudian polisemi . l-musytarak allaf. ialah pengulangan disertai perubahan, tetapi menyimpan beberapa aspek kalimat dalam satu bentuk. Dengan kata lain, polisemi . l-musytarak al-laf. ialah wujud kalimat dengan asal yang berbeda dan mempunyai dalAlah yang berbeda pula tetapi mempunyai kedekatan sisi bentuk maupun pengucapan. Sedangkan antonim . l-tibAq/ al-asdA. ialah suatu kalimat yang menunjukkan dua makna yang saling menjelaskan, atau dua makna yang kontradiksi. Lihat lebih jelas dalam Uril Bahruddin. Fiqh al-Lughah alAArabiyyah. Madkhal al-DirAsat MausAAt Fiqh al-Lughah, (Malang: UIN Maliki Press, 2. , 129-137. ataupun pengaruhnya pada makna. Kemudian pada analisis ini juga membahas perubahan mendasar pada kalimat tertentu dari aspek bahasa maupan lahjah yang digunakan, dengan tujuan agar sampai pada uslb masing-masing bahasa dari sisi pembentukan kalimat. Gaya bahasa kata maupun kalimat yang menggunakan ranah morfologi mempunyai alasan tersendiri sehingga mampu membentuk pola gaya bahasa yang beragam sesuai dengan konteks kalimat. Agus mengungkapkan,21 kajian gaya bahasa dalam ranah ini berarti upaya menggali, mengapresiasi, dan memasyarakatkan keindahan al-QurAan dalam bentuk yang berbeda dari upaya serupa yang dilakukan dalam bentuk puitisasi terjemahan dan puitisasi perwajahan. Stilistika al-QurAoan: Wilayah dan Sasaran Berbicara mengenai stilistika al-QurAan, berarti berbicara mengenai metodemetode al-QurAan sebagai wahyu yang boleh diteliti interpretasinya secara ilmiah. Di atas telah dibahas mengenai pengertian dan ranah analisis stilistika. Pembahasan stilistika kiranya tidak berhenti pada konsep tersebut. Sebagaimana diketahui, stilistika mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Perkembangan ini sudah meraba pada dunia teks Islam, seperti al-QurAan dan al-Sunnah, sehingga hadir dalam formulasi tersendiri yakni stilistika al-QurAan. Stilistika al-QurAan adalah ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam sastra al-QurAan. Aspek-aspek bahasa yang dipelajari dalam stilistika al-QurAan sama seperti aspek-aspek dalam stilistika pada umumnya, yang meliputi aspek fonologi, leksikal, sintaksis, retorika . aya retoris, kiasan dan pencitraa. serta kohesi. Namun sejauh perkembangannya, orientasi stilistika al-QurAan dan al-Sunnah hanya sebagai metode yang mengkonstruk gaya bahasa pada susunan fonem, frasa, morfem dan klausa tertentu yang terdapat dalam kedua teks tersebut. Stilistika al-QurAan bukanlah susunan kosa kata dan susunan kalimat, akan tetapi metode yang dipakai al-QurAan dalam memilih kosa kata dan gaya kalimatnya. Kemudian, yang menjadi penting dalam stilistika al-QurAan adalah kenyataan sejarah yang menunjukka bahwa para sarjana muslim klasik berusaha keras untuk menunjukkan eloquency al-QurAan . aAua. melalui cara pandang stastik. Di samping itu, diskursus tentang teori makna dalam kesarjanaan klasik menunjukkan relasi yang intern antara teori Muhammad Daud, al-AArabiyyah, 106. Agus Tri Cahyo. Metafora dalam al-QurAan. Melacak Ayat-ayat Metaforis dalam al-QurAan, (Ponorogo: STAIN Po Press, 2. , 7. Syihabuddin. Stilistika al-QurAan, 23. Al-Zarqani. ManAhil al-AIrfAn f Ulm al-QurAAn, (Mesir: DAr al-IhyAA, t. , 199. bahasa Arab dengan al-QurAan sebagai teks. Wacana yang berkembang dalam khazanah kesarjanaan klasik adalah hubungan antara kata dengan makna kata serta antara kalimat dan makna kalimat. 24 Stilistika juga memegang peran penting dalam mengalihkan makna sebuah kosa kata. Dalam kerangka linguistik modern biasa disebut dengan model sintagmatik, yakni susunan kata dalam kalimat yang mempengaruhi peralihan makna dari kosa kata. 25 Stilistika al-QurAan berupaya merekonstruksi gaya bahasa pada satuan teks dengan konfigurasi appliyed linguistics sehingga menimbulkan efek makna. Relasi makna yang hadir sebagai hasil obyektif yang selalu bersifat dinamis. Struktur al-Amr dan al-Nahy dalam al-QurAoan: Studi Analisis Stilistika Analisis stilistika yang akan digunakan pada riset ini adalah ranah analisis sintaksis . l-mustawA al-tark. Eksistensi al-amr dan al-nahy dalam al-QurAan memiliki struktur yang bervariasi. Tuhan memberikan struktur perintah dan larangan dengan ghah yang Permintaan terhadap penutur untuk melakukan suatu perbuatan dalam al-QurAan dapat diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya adalah menggunakan : ghah al-amr yang menggunakan kata kerja perintah . iAlu al-am. , seperti yang terdapat dalam QS. al-AArAf : 31. aae aAeAA a Aeaa aI eU a e a aIOca asAye A a aU a ae auaeaA Ay a A ac eO ay AeAaoe uaccaia aEA a Ae s a aIOaoe a e aaoe aEa aA AuHai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan dam minumlah kalian dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhya Dia (Alla. tidak menyukai orang-orang yang berlebihanAy. Kata fokus pada ayat ini adalah tiga fiAlu al-amr yang terdapat di akhir ayat. Repitisi fiAlu al-amr tersebut memberikan makna bahwa kumpulnya tiga frasa ini dilakukan secara berlangsung oleh musnad ilaih-nya, yaitu orang yang melakukan aktivitas tersebut. Jika manusia tidak melakukan aktivitas makan, maka ia tidak akan minum dan tidak akan memberi dampak berlebih-lebihan dari makan dan minum. Selain memberikan makna demikian. Repitisi fiAlu al-amr pada ayat tersebut memberikan estetika tersendiri dalam diri komunikan . ukhAa. , yaitu mudahnya memahami khiAb yang difirmankan oleh komunikator . Lihat dalam M. Nur Kholis Setiawan, al-QurAan Kitab Sastra Terbesar, (Yogyakarta, eLSAQ Press, 2. , 157-158. Ibid. , 162. Abdurrahman al-Akhdhari, al-Jauhar al-Maknn: f oalAu al-Funn, (Ponorogo: Darul Huda Press, t. , 40. Pada ayat tersebut. Allah memerintahkan manusia untuk memakai pakaian yang baik ketika hendak memasuki masjid, kemudian makan, minum tanpa berlebih lebihan. Perintah ini bersifat mubah, mengingat kegiatan makan dan minum merupakan perkara yang mubah. Akan tetapi perlu diperhatikan ketika manusia sedang melakukan aktivitas makan dan minum. Allah memberikan isyarat untuk tidak berlebih lebihan. Kerena demikian tidak termasuk dalam sendi-sendi Islam. Islam tidak mengajarkan melakukan perbuatan apapun dengan cara berlebih-lebihan. ghah al-amr dengan menggunakan verba lampau/fiAlu mAsi AukutibaAy dan derivasinya, seperti dalam QS: al-Baqarah: 183. aa eoa as ea Ca eOa aI eU Oa aOca aI eU acaCAye A Oca aAoA aOA a a aU aIa aIA acA aI aU OAAe aA aOA a a aseaoe aIAye Aacna Oca aAyay Auwahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwaAy Pada ayat tersebut Allah memberikan perintah berpuasa kepada hamba-Nya dengan menggunakan verba AuA Ay aEaAyang artinya Autelah diwajibkanAy. Secara struktur bahasa, verba AuA Ay aEaAmerupakan fiAlu mAsi mabni li al-majhli, yaitu kata kerja pasif intransitif yang memiliki subyek AuberpuasaAy. Verba ini menunjukkan perintah dalam susunan ayat. Orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa selama ia masih hidup di dunia. Ketentuan ini hanya berlaku bagi orang yang beriman, tidak bagi orang kafir dan Berpuasa sebagai bentuk ibadah mausah merupakan aktivitas langsung seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Allah memerintahkan puasa kepada umat sekarang sebagaimana puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, agar mereka menjadi ghah al-amr yang menggunakan verba . arasnA) dan derivasinya, seperti dalam QS: al-AuzAb: 50. e A a eA a a an eU a as asOa aIAoA an eU AAe aACa e aOa eaea as Aa ae ea aOA A UaAe AE a a a aIaa NEEa aoe U a aA a e a eIoe aa aOAy aAEAe Aacana eU Oa aIAye aA A Ausesungguhnya kami telah mengetahui apa yang kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadikan kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha PenyayangAy Allah memberikan isyarat perintah kepada manusia dengan menggunakan verba yang diikuti pro nomina AuAAyAa ae eaA, yang memiliki arti Auyang kami wajibkanAy. Secara akar, verba Au a eay-AA a A AyAa aAmemiliki arti Aumenduga, mengira-ngirakan, menggambarkan dan menentukanAy, kemudian susunan verba tersebut mengalami pergeseran makna menjadi AumewajibkanAy jika diberi tambahan Auia e aA Ay aOAsetelah verba. Secara style bahasa, dalam ayat tersebut terdapat dua jumlah khabar yang sesuai secara lafal. Pertama, kalimat AuUe na A a eA a aAoA AyAAyang mempunyai arti Autentang istri-istri merekaAy dan yang kedua, kalimat AuA AyOI IEE e aOeIaIa a eIAyang berarti Audan hamba sahaya yang mereka milikiAy. Dalam istilah balAghah, kesesuaian dua jumlah baik khabar maupun insyaA secara lafal dan makna ataupun secara makna saja maka mewajibkan hukum waal . Isyarat perintah dalam ayat tersebut adalah Allah telah mengetahui hukum yang diwajibkan bagi orang-orang yang beriman mengenai istri-istri dan para wanita yang mereka miliki dari tawanan perang. Dan Allah juga menjelaskan keringanan hukum untuk Nabi Muhammad Saw agar Nabi tidak merasa keberatan di saat menjalankan perintah Allah. ghah al-amr yang menggunakan verba . aAmur. dan derivasinya, seperti dalam QS: al-NisAA: 58. e aA AoA uaOA AiOanaA a esae as a aI eU a ea aa ac eAy aAua caa NEEA AuSesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanyaAy Pada penjelasan ini. Allah memberikan isyarat perintah kepada manusia agar menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dengan menggunakan kata perintah AuAae as aAyAy dan derivasinya yang memiliki arti AumemerintahkanAy. 29 Secara style bahasa, penggunakan struktur AuAae as aAyAy dalam hal memerintah merupakan liqadi altaAsm . ujuan menghormat. , serta menunjukkan bahwa Allah sangat santun dalam berkomunikasi dengan manusia. Perintah ini berlaku sepanjang masa secara mutlak dan bersifat wajib, mengingat bahwa amanat yang dititipkan pada diri seseorang bukanlah miliknya secara totalitas, melainkan milik orang lain lewat jalur perantara orang yang mendapatkan Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir, 1046. Abdurrahman, al-Jauhar al-Maknn, 40. Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir, 38. ghah al-amr yang menggunakan fiAlu al-musAriA yang kemasukan lam amr, seperti yang terdapat pada QS: yAli AImrAn: 104. aa eoaAE ia aU eO aa eAOaA a aAenaoe aa aa eO aae aI a aaOAya a a a eae asae aa a eOa eAya A aeAA eO aAoa Aa e aoe aa uaOAy Aa eOa aI ea ase aI eU a casA Audan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maAruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orangorang yang beruntungAy Bentuk kata perintah . l-am. pada ayat ini berbeda dengan verba sebelumnya. Jika ayat sebelumnya menggunakan struktur perintah dengan formasi verba . iAlu almusAriA), maka pada ayat ini Allah memerintahkan manusia dengan struktur verba/ fiAlu al-musAriA yang disertai lam amr ae A a eOa aIAyang memiliki arti Auhendaklah menyeruAy. Kemudian, struktur kalimat tersebut bisa dikatagorikan dengan jAz, yaitu mengumpulkan beberapa makna pada satuan lafal yang sesuai dengan tujuannya. 30 Pola kalimat yang terkumpul adalah AuAllah memerintahkan agar manusia senantiasa menyuruh kepada hal yang baikAy dan Aumencegah dari yang mungkarAy. Kedua struktur ini merupakan kesatuan yang eklektik yang saling berkaitan yang harus dilakukan Meskipun berbeda dalam menggunakan struktur kata perintah, kedua struktur tersebut secara semantis memiliki padanan makna yang sama, yaitu sama-sama Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan agar dalam golongan hendaknya ada seseorang yang mencari ilmu dan menyeru melakukan hal yang baik dan meninggalkan hal yang mungkar. Perintah tersebut menunjukkan isyarat mubah untuk dilakukan oleh suatu golongan, mengingat kebutuhan agama hendaknya dimiliki oleh masing-masing individu sebagai bekal hidup di akhirat. ghah al-amr dengan cara menyebutkan janji dan pahala bagi yang melaksanakan perintah tersebut, sebagaimana dalam QS: al-Hadd: 11. Aea aOai aA ae aIA,Aa aiaA Oia a aeU AA U eAa eC aa NEEa CaAy euAcas ea a Oca aA Aubarang siapa yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan . pijaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyakAy Abdurrahman, al-Jauhar al-Maknn, 42. Secara struktur bahasa, ayat tersebut merupakan inAb, yaitu menguatkan makna dengan suatu lafal tambahan yang dikehendaki. 31 Kemudian struktur inAb pada ayat tersebut menunjukkan penjelasan terhadap sesuatu yang masih samar dan berfungsi menguatkan makna dalam hati komunikan . ukhAa. 32 Pada penjelasan ayat. Allah memberikan perintah secara tidak langsung kepada manusia dengan cara kiasan, yaitu dengan menyebutkan janji pahala yang akan didapatkan manusia jika mereka mau meminjamkan harta mereka ke jalan Allah. Perintah yang diformulasikan dengan kalAm khabar ini memiliki nilai keindahan bahasa dalam susunan ayat. Perintah ini bersifat mubah, karena termasuk katagori muamalah. Allah menjelaskan Aubarang siapa yang meminjamkan kepada Allah sesuatu yang baik, maka Allah akan melipat gandakan balasan untuknyaAy. Kemudian dikuatkan, bahwa balasan yang dimaksud di sini adalah pahala yang sangat banyak. Penguatan makna pada ayat tersebut merupakan suatu kabar gembira bagi manusia untuk selalu beramal salih supaya Allah melipat gandakan pahala sesuai yang ghah al-amr dengan menggunakan verba noun . sebagai pengganti fiAlu alamr, seperti dalam QS: al-IsraA: 23. Aa uae acUAye Acaea aa eO aoOa aAyaAE aEca a ea ae uaEca uA a caA aAoAaCaA Audan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orangtua dengan sebaik-baiknyaAy Secara style bahasa. Perintah Allah dalam ayat tersebut diformulasikan dengan verba noun . Au UA " eIAyang mempunyai arti Ausebaik-baiknyaAy, yang mana dalam kaidah sintaksis, madAr adalah sesuatu yang menunjukkan maknanya tanpa disertai dengan zaman. 33 Struktur verba noun . yang terdapat ayat tersebut bisa digunakan dalam pembentukan sebuah klausa sebagai pengganti kata kerja perintah . iAlu al-am. Perintah yang terdapat dalam susunan ayat ini merupakan bentuk al-wal . erintah yang disusun secara runtut dan berangsu. , yaitu. Allah memberikan perintah kepada manusia untuk selalu beribadah kepada-Nya dan serta diiringi dengan berbuat Ibid. Ahmad Hasyimi. Jauhar al-BalAghah, (Kairo. Maktab al-AhAb, t. , 188. FuAad NaAmah. Mulakha QawAAid al-Lughah al-AArabiyyah. (Beirut: DAr al-aqAfah alIslAmiyyah, t. , 30. baik kepada orang tua. Perbuatan baik kepada orang tua diaplikasikan dengan selalu menurut perkataan yang baik, melayani dan tidak durhaka kepada mereka. Ini semata mata dilakukan untuk beribadah kepada Allah. ghah al-amr dengan menggunakan kalimat berita . alAm khaba. , sebagai mana dalam QS: al-Baqarah: 228. a a eO aOcaCA Aa aacaAe aa aa ecAa a an caa aEa Caae sAy AA Auwanita-wanita yang ditalak hendaknya menahan diri . tiga kali qurAAy. Analisis stilistika pada ayat tersebut menggambarkan bahwa perintah yang difirmankan Allah kepada wanita-wanita yang tertalak adalah dengan menggunakan bentuk fiAlu al-musAriA AuA AyOa ac eAIAyang artinya Aumenahan diriAy, maksudnya adalah wanitawanita yang ditalak oleh suami-suami mereka hendaklah mereka menunggu dan menjalani masa penantian (Aidda. selama tiga kali qurA, yaitu haid atau suci menurut perbedaan pendapat para ulama tentang maksud dari qurA tersebut, walaupun yang benar maksud qurA adalah haid. Perintah yang diformulasikan dengan struktur fiAlu almusAriA dapat menggantikan kedudukan fiAlu al-amr dalam pembentukan klausa. Susunan ayat tersebut tergolong dalam kalAm khabar, yaitu suatu kalAm yang mengandung unsur benar maupun salah tergantung dengan kenyataan yang ada. Meskipun ayat tersebut dalam katagori kalAm khabar, ayat tersebut memiliki nilai ghah al-amr dengan menggunakan ismu fiAli al-amr, seperti dalam QS: al-MAidah: aa eoaeacaa aI eU aa aI ea eU a eaOaU AAe aa A NEEa ase a a aI eU aAoAOA a ae sa Ue ac aIAy A aI eU a ecAa a aI eU aEAe a aseaoe aOAye Aacna Oca aAyaA Ay a a eU uAye A caO ua a eia aA Auwahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu, tidaklah orang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakanAy. Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan meminta petunjuk kepada Allah. Perintah yang difirmankan Allah pada pembentukan ayat ini dengan menggunakan ismu fiAli al-amr AuA AyE eO a eEAyang mempunyai arti AujagalahAy. Ismu fiAli adalah kalimat yang menggantikan fiAil dalam maknanya dan Ali Atsri Ziyad. Darsu al-BalAghah al-AArabiyyah, (Jakarta: PT. RajaGRafindo, 1. , 24. pengamalannya serta tidak dapat dibekasi oleh Amil-Amil. 35 Struktur ismu fiAli al-amr pada ayat tersebut dapat menggantikan fiAlu al-amr dalam memformulasikan perintah. Secara semantis, ismu fiAli al-amr AuA AyE eO a eEAsama halnya dengan fiAlu al-amr AuA AyCa eOAyang memiliki arti AujagalahAy. Penjelasan ayat tesebut adalah orang-orang yang beriman haruslah berusaha memperbaiki diri dengan taat kepada Allah. Kesesatan orang lain tidak akan membahayakan mereka selama mereka mendapat petunjuk dan meyerukan kebenaran. Selain ghah al-amr tersebut, dalam al-QurAan juga terdapat ghah al-nahy. Strukturalisasi al-nahy demikian adalah sebagai bentuk komunikasi verbal antara Allah dengan manusia dengan maksud tertentu, maksud itu bisa diaplikasikan dalam bentuk larangan ataupun yang lain. Isyarat al-nahy yang disampaikan Allah dalam firman-Nya mempunyai nilai keistimewaan bahasa. ghah al-nahy dalam al-QurAan diantaranya : ghah al-nahy yang menggunakan fiAlu al-musAriA yang disertai lA nahy, seperti dalam QS: al-IsrAA: 31. e Aca aI eU ua caa Ca eOana eU aIaa eAyaAC cae aa cae aACana eU auA A UAe AU aI aA s a ua es aEa aE a eCaOaoe ae aE a aI eU a eA Audan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yan akan memberi rizki kepadan mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besarAy Allah memberikan isyarat al-nahy pada ayat tersebut dengan menggunakan fiAlu al-musAriA yang disertai lA nahy AuA Ay a aE a eCaOaoe Ayang artinya Audan janganlah kamu membunuh anak-anakmuAy. Larangan pada ayat ini bersifat haram . i al-taur. karena tidak ada qarnah yang menunjukkan hukum selain haram. Formulasi al-nahy dalam ayat ini memilki makna keharaman yang sangat kuat, sehingga Allah mempertegas larangannya dengan menggunakan fiAlu al-nahy. Maksud ayat tersebut adalah. Allah melarang mutlak kepada hamba-Nya untuk membunuh anak-anak mereka dengan cara mengubur hidup-hidup karena khawatir menjadi miskin. Sesungguhnya Allah lah yang akan menanggung dan menjamin rizki mereka, dan juga kepada orang tua mereka. Dan harus diketahui, perbuatan membunuh termasuk perbuatan dosa besar. ghah al-nahy yang menggunakan verba AuutrukAy dan derivasinya, sebagaimana dalam QS: al-DukhAn: 24. Lebih jelas lihat Naem Alfiyyah Ibn al-MAlik khususnya dalam bait 627-634, dalam Ibn Malik. Matan Alfiyyah Ibn al-MAlik. Penyelaras Abdullah Lathif, (Kuwait: Maktabah DAr al-AUrbah, 2. , 41-42. aa eoaAE eOae a a ei Uo uaccana eU ae as e aCA a Aa e aA Audan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yyang akan ditenggelamkanAy. Allah memberikan isyarat al-nahy dalam ayat tersebut dengan menggunakan verba AuA AyO e a aEAyang mempunyai arti Audan biarkanlah atau dan tinggalkanlahAy. Secara style bahasa, verba AuA AyOe a aEAmerupakan fiAlu al-amr yang menyimpan makna al-nahy. Allah memerintahkan agar kaum Nabi Musa segera meninggalkan laut yang telah dibelah dengan perantara tongkat Nabi Musa ketika kaum nabi Musa dikejar oleh tentara FirAaun. Dan saat itu pula, ketika kaum Nabi Musa telah sampai di daratan. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya lagi di tepi laut, dan akhirnya laut kembali seperti semula serta menenggelamkan tentara FirAaun. Hal ini merupakan suatu iAtibAr bahwa Allah Maha Kuasa yang mampu mengendalikan seluruh alam. ghah al-nahy yang menggunakan verba Auday dan derivasinya, seperti dalam QS: al-AuzAb: 48. UAEAe A aNEEa a aIAoA NEEa a aIAAoa a a e a aia eU aa ao caIOe aOAe a a eO aaeaCAye Aa aE a a a eO aIAa aA Audan janganlah kamu menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah, dan cuukuplah Allah sebagai PelindungAy. Pada ayat tersebut. Allah memberikan isyarat al-nahy dengan menggunakan verba AuA AyO eAyang mempunyai arti Audan janganlah kamu hiraukanAy. Secara balAghah, penggunaan verba ini adalah bentuk larangan yang bersifat memberi petunjuk . i alirsyA. Yakni. Allah memberi petunjuk kepada orang-orang mukmin untuk tidak menghiraukan ajakan orang-orang kafir dan munafik serta tidak menghiraukan mereka. Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin agar tidak mengikuti orangorang kafir dan munafik dalam hal yang bertentangan dengan syariat. Dan Allah juga memerintahkan untuk tidak menghiraukan kejahatan mereka. Jadikanlah Allah sebagai pelindungmu dari bahaya dan keburukan mereka. ghah al-nahy yang menggunakan verba AuuarramaAy dan derivasinya, seperti dalam QS: al-Baqarah: 275. A a a a ca aU OcaoAe a a caO NEEa eOA AuAllah telah menghalalakan jual beli dan mengharamkan ribaAy Isyarat al-nahy yang terdapat dalam ayat tersebut adalah menggunakan verba AuuarramaAy yang secara akar berarti AumelarangAy. 36 Secara stilistika, susunan ayat tersebut mengalami kontradiksi dalam dua jumlah, atau bisa disebut dengan istidrAk. Satu sisi Allah menghalalkan akad jual beli dan di sisi lain Allah mengharamkan riba. Kontradiksi dalam dua jumlah tersebut tidak menggunakan partikel pada umumnya seperti penggunaan partikel AuA Ay eEAdan AuAAyI aE acIA, tetapi cukup dengan menggunakan dua verba . iAlu al-mAs. yang disusun secara runtut. Allah memberikan apresiasi lebih kepada manusia untuk mencari rizki dengan cara jual beli. Jual beli dilakukan sebagai bentuk pekerjaan demi menyambung keberlangsungan hidup seseorang. Di sisi lain, dalam jual beli Allah mengharamkan akad riba . yang dinilai dehumanisasi dan merugikan pihak lain. Ini sebagai upaya menjaga harkat manusia untuk tidak mengambil harta yang bukan haknya. Islam memberikan toleransi penuh dalam hal muamalah dengan unsur saling menolong dan membantu, bukan saling menjatuhkan dan merugikan pihak lain. ghah al-nahy yang menggunakan verba AuyanhAAy dan derivasinya, seperti dalam QS: al-Nahl: 90. aa ea ea aI eU OaOca aI eU a a caIAy ua A aa eOAae a a a eO aae aI a a eOa eAoneaya oA eOCae AoAa aA a AAye a as a a eO a e aN a e aEe a aa aAy aAua caa NEEA Ausesungguhnya Allah menyuruh . berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang . perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaranAy. Dalam ayat tersebut. Allah memberikan isyarat larangan kepada manusia dengan menggunakan verba AuoneayAy yang terbentuk dari akar kata Auoneay-onacAy yang artinya Aumelarang, mencegahAy. 37 Larangan yang diberikan Allah dalam kalAm ini berbentuk kalAm khabar. Formulasi al-nahy menggunakan verba tersebut merupakan langkah penyesuaian dengan verba sebelumnya. Dalam hal ini. Allah memberikan isyarat perintah . l-am. dengan pola verba AuAae as aAyAy yang berarti AumemerintahAy. Dalam istilah Nahwu hal ini disebut dengan susunan al-afu wa al-maAf, yaitu susunan verba/ nomina yang mengikuti verba/ nomina sebelumnya. Allah memerintahkan manusia untuk selalu berbuat baik kepada sesamanya, baik kepada saudara, kerabat maupun tetangga. Hal ini dilakukan sebagai bentuk Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir, 257. Ibid. , 1471. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bersandar dengan orang lain. Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk toleransi dan tolong menolong dalam kehidupan nyata. Selain itu. Allah juga melarang manusia untuk melakukan perbuatan keji seperti halnya berzina, menyukai sesama jenis, dan juga perbuatan yang bersifat mungkar seperti mencuri, berkelahi dan minum-minuman Ini sebagai upaya agar manusia selalu menjadi hamba yang baik untuk mengabdi kepada Tuhannya. Penutup al-QurAan memiliki sensualitas gaya bahasa dan sastra yang begitu indah yang tidak dimiliki kitab sebelumnya. Studi ilmu al-QurAan telah merambah pada dunia stilistika, yaitu upaya menyelidiki bahasa al-QurAan dengan salah satu metode linguistik. Stilistika (Ailm al-usl. hadir dengan karakteristik tertentu guna menggali struktur pola kebahasaan al-QurAan. Struktur yang ditawarkan dalam stilistika meliputi ranah fonologi . l-mustawA al-au. , ranah sintaksis . l-mustawA al-tark. , ranah morfologi . lmustawA al-ar. , dan ranah semantik . l-mustawA al-dalA. al-Amr dan al-nahy merupakan dua konsep yang sentral dalam al-QurAan. Konsep ini dijadikan pedoman oleh para mujtahid dan ilmuan dalam reinterpretasi makna. Konsep al-amr dan al-nahy mempunyai ghah dan isyarat yang beragam. Kedudukan ini yang membuat daya tarik stilistika (Ailm al-usl. untuk mendekonstruksi struktur gaya bahasa yang terdapat di dalamnya. Upaya ini dilakukan untuk menemukan hakikat makna dialogis dalam al-QurAan. Dengan demikian al-QurAan merupakan kalAm Tuhan yang memiliki keistimewaan tertinggi dalam sisi bahasa. DAFTAR PUSTAKA