Jurnal JAPS Volume 6. Nomor 3 Desember 2025 P-ISSN: 2722-161X E-ISSN: 2722-1601 DOI: 10. 46730/japs. Peran Media Sosial Tiktok dalam Transformasi Politik Gen Z Pada Pemilihan Presiden Tahun 2024 di Kelurahan Tegal Rejo 1Alfon Apriel Simanullang, 2Prayetno Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Medan. Kota Medan. Sumatera Utara. Indonesia Email: alfonapriel1204@gmail. Kata kunci Abstrak Media Sosial. TikTok. Transformasi Politik. Pemilihan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Peran Media Sosial TikTok Dalam Transformasi Politik Gen Z Pada Pemilihan Presiden Tahun 2024 di Kelurahan Tegal Rejo. Dalam konteks perkembangan teknologi digital. TikTok telah menjadi salah satu platform yang berpengaruh dalam menyebarkan informasi politik, terutama di kalangan generasi muda. Media sosial ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai alat komunikasi politik yang efektif untuk kampanye, sosialisasi kebijakan, dan membentuk opini publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan warga Desa Tegal Rejo yang aktif menggunakan TikTok. Data yang diperoleh akan dianalisis untuk memahami bagaimana konten politik di TikTok memengaruhi kesadaran politik, partisipasi, dan keputusan memilih masyarakat desa tersebut. Hasil penelitian diharapkan memberikan wawasan baru tentang dinamika komunikasi politik di era digital serta kontribusi media sosial dalam membangun pola pikir dan perilaku politik di tingkat lokal. Keywords Social Media. TikTok. Political Transformation. Election Abstract This study aims to analyze the role of TikTok social media in Gen Z's political transformation during the 2024 presidential election in Tegal Rejo Village. In the context of digital technology development. TikTok has become an influential platform for disseminating political information, especially among the younger generation. This social media not only functions as a means of entertainment, but also as an effective political communication tool for campaigns, policy dissemination, and shaping public opinion. This study uses a qualitative method with a case study approach, involving direct observation and in-depth interviews with residents of Tegal Rejo Village who actively use TikTok. The data obtained will be analyzed to understand how political content on TikTok influences the political awareness, participation, and voting decisions of the village The results of this study are expected to provide new insights into the dynamics of political communication in the digital era and the contribution of social media in shaping political mindsets and behavior at the local level. Pendahuluan Kemajuan di bidang Teknologi Informasi semakin memperkuat peran media di tengah masyarakat. Media memiliki pengaruh besar dalam membentuk serta mengarahkan opini publik di berbagai bidang, termasuk politik. Dalam konteks politik, media berfungsi sebagai alat untuk memengaruhi persepsi dan opini masyarakat terhadap pesan-pesan politik. Saat ini, ada berbagai platform media sosial yang populer, namun TikTok menonjol sebagai salah satu platform dengan dampak signifikan, terutama bagi generasi muda. Pemilihan umum 2024 merupakan momen politik penting bagi masyarakat Indonesia. Hal ini mendorong berbagai media untuk menyampaikan informasi dan isuisu terkait melalui media sosial. TikTok, sebagai platform yang mampu memengaruhi opini publik mengenai calon presiden, menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Dalam dunia politik, kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial telah mendorong para politisi Indonesia untuk semakin memanfaatkan TikTok sebagai sarana membangun koneksi politik dengan membagikan video- video pendek yang menarik (Deriyanto & Qorib, 2. Dengan adanya media sosial TikTok, penyebaran informasi, komunikasi politik, membangun personal branding hingga pada pembentukan propaganda politik dapat terjadi dan tersampaikan kepada publik. Hal-hal ini adalah faktor yang sangat penting untuk mendukung dinamika politik. Dampaknya pun dapat terasa hingga hasil dari pemilihan umum. Data dari We Are Social pada Januari 2024 menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan kedua dalam jumlah pengguna TikTok yang berusia 18 tahun ke atas. Setelah itu, mendapati data yang dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 23 Juni 2023. Data tersebut mengungkapkan bahwa mayoritas pemilih, sebanyak 55%, berasal dari kalangan generasi muda. Pihak KPU juga berpendapat, bahwa dengan perkembangan teknologi yang ada, generasi muda diharapkan mampu menyaring dengan baik setiap informasi yang tersebar di media. Pada Pemilu 2024, terdapat sedikit perbedaan dibandingkan dengan pemilu Setiap calon presiden menampilkan karakter politik yang berbeda dan mengusung strategi politik unik dengan memanfaatkan media sosial, khususnya TikTok. KPU memutuskan untuk menetapkan 3 pasangan calon Presiden pada tanggal 23 November 2023. Mereka adalah:- Pasangan nomor urut 1. Anies Rasyid Baswedan dan Muhaimin Iskandar,- Pasangan nomor urut 2. Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, dan- Pasangan nomor urut 3. Ganjar Pranowo dan Mahfud MD. Di media sosial TikTok, pasangan calon presiden nomor urut 1 menampilkan keunikan dalam retorikanya. Namun, masyarakat melihat perbedaan antara apa yang dipublikasikan di TikTok dengan realitas kinerjanya yang kurang konkret. Pasangan calon no urut 2 sangat menonjol dalam pembentukan personal branding. Mereka memiliki pendekatan yang unik yang selaras dengan tren terkini dan memilih kata-kata yang mampu memikat perhatian publik. Pasangan calon nomorurut tiga meneguhkan citra diri melalui pendekatan yang penuh empati, serta membagikannya melalui media sosial untuk menggambarkan interaksi mereka dengan masyarakat. Penggunaan media sosial TikTok memudahkan akses terhadap kampanye politik dari pasangan calon presiden. Melalui peraturan KPU no 28 tahun 2018 yang berkaitan dengan kampanye politik, hal ini terjadi pada pemilihan umum calon presiden 2024. Penggunaan mediasebagai alat kampanye untuk menyalurkan informasi, membuat interaksi publik, dan meyakinkan pemilih dalam memberi dukungan. Dengan jumlah pemilih muda terbanyak dan pengguna media TikTok kedua terbesar, banyak politikus menggunakan TikTok sebagai media untuk membentuk opini publik melalui video yang disertai dengan filter, musik, dan bahasa yang dapat mengarahkan opini publik. Hal ini terutama penting mengingat bahwa banyak generasi muda yang belum sepenuhnya memahami politik dan cenderung membentukpersepsi mereka berdasarkan apa yang mereka tonton dan dengar melalui media Penelitian terdahulu menemukan bahwa. Media sosial memiliki kemampuan untuk memberikan akses yang mudah kepada publik. Dengan demikian,memungkinkan mereka untuk dengan cepat melihat berbagai konten yang disampaikan. Dengan adanya faktor ini, komunikasi pesan menjadi lebih efektif dan respon publik dapat diterima dengan cepat, hal ini juga berpotensi memengaruhi pandangan publik (Fauzi Syarif, 2. TikTok memberikan peluang bagi politisi untuk menyampaikan pesan politik secara inovatif dan menarik. Berkat fitur-fitur seperti musik, stiker, dan efek visual, politisi dapat menghasilkan konten yang tidak hanya memberikan informasi tetapi juga bersifat menghibur. Pendekatan ini menjadi kunci dalam menarik perhatian generasi muda yang merupakan mayoritas pengguna platform tersebut. Studi menunjukkan bahwa kehadiran politisi di TikTok mampu meningkatkan keterlibatan dan interaksi dengan audiens, sekaligus membuka ruang untuk diskusi politik yang lebih aktif dan dinamis. Di era digital, opini publik dapat terbentuk secara cepat melalui konten viral di media sosial. TikTok berperan sebagai platform untuk membangun citra dan menyebarkan informasi mengenai calon presiden. Melalui fitur komentar dan interaksi lainnya, politisi dapat langsung memantau tanggapan publik terhadap konten yang mereka unggah. Dengan begitu. TikTok tidak hanya berfungsi sebagai alat kampanye, tetapi juga sebagai indikator untuk mengukur tingkat dukungan masyarakat terhadap kandidat tertentu. Pembentukan opini publik melalui media sosial mungkin saja dapat terjadi dengan adanya berbagai konten yang diunggah. Dalam konteks konten politik, media sosial sebaiknya berperan dalam pembentukan pengetahuan politik di Pengetahuan tentang sesuatu tidak hanya diperoleh melalui media sosial, tetapi juga harus dapat ditemukan dalam media yang dipercayai kredibilitasnya (Zenti. Kuswanti & Maryam, 2. Konten pada media sosial harus memuat sebuah informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan publik tentang isu tersebut. Pemanfaatan media TikTok menjadi sebuah keunikan dalam pemilihan umum Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi dampak yang dimiliki media sosial TikTok terhadap khalayak. Dengan Fokus penelitian yang akan menuju pada kontenyang dimuat dalam aplikasi TikTok tentang calon presiden 2024. Dengan menggunakan pendekatan analisis konten, kita dapat memahami dengan lebih baik isi dari konten politik dan dampaknya terhadap opini publik dalam menentukan pilihan calon presiden 2024. Generasi muda adalah kelompok pengguna terbesar TikTok, menjadikan platform ini sebagai alat strategis bagi politisi untuk menjangkau segmen pemilih Dengan menghadirkan konten yang menarik dan relevan, politisi dapat memberikan edukasi kepada pemilih muda mengenai isu-isu politik sekaligus mendorong partisipasi mereka dalam proses demokrasi. Studi mengungkapkan bahwa TikTok memiliki potensi signifikan dalam memengaruhi sikap dan perilaku pemilih muda, sehingga menjadi elemen penting dalam strategi kampanye politik. Penggunaan media sosial, khususnya TikTok, semakin menonjol sebagai fenomena penting dalam transformasi politik di Indonesia, terutama menjelang pemilihan presiden 2024. Dengan format video pendek yang interaktif. TikTok menyediakan platform unik bagi politisi untuk menjalin komunikasi dengan pemilih, khususnya generasi muda. Di kelurahan Tegal Rejo, dampak TikTok dalam membentuk opini publik dan memengaruhi preferensi politik semakin nyata. Mereka bisa dengan mudah mengakses berita, opini, dan diskusi politik melalui berbagai platform media sosial seperti TikTok. Twitter. Facebook. Instagram, dan Saat ini. TikTok menjadi salah satu platform yang sangat populer, terkenal karena konten-konten singkat dan kreatif yang mampu menarik minat terutama para pengguna muda (Windawati Pinem 2. Dengan kata lain. TikTok memainkan peran yang sangat penting dalam dinamika transformasi politik. menjelang pemilihan presiden 2024 Platform ini tidak hanya menjadi jembatan komunikasi antara politisi dan pemilih, tetapi juga turut andil dalam membentuk opini publik yang berpotensi memengaruhi hasil pemilu. Media sosial tiktok turut di gemari masyarakat khususnya di kelurahan tegal rejo, kelurahan tegal rejo terletak di Sumatera Utara. Kota Medan . Kecamatan Medan Perjuangan. Tiktok memungkinkan memiliki peranan dalam mempengaruhi partisipasi politik masyarakat kelurahan tegal rejo dalam hak pilihnya. Mereka bisa dengan mudah mengakses berita, opini, dan diskusi politik melalui berbagai platform media sosial seperti TikTok. Twitter. Facebook. Instagram, dan Saat ini. TikTok menjadi salah satu platform yang sangat populer, terkenal karena konten-konten singkat dan kreatif yang mampu menarik minat terutama para pengguna muda (Windawati Pinem 2. Dengan kata lain. TikTok memainkan peran yang sangat penting dalam dinamika transformasi politik. menjelang pemilihan presiden 2024 Platform ini tidak hanya menjadi jembatan komunikasi antara politisi dan pemilih, tetapi juga turut andil dalam membentuk opini publik yang berpotensi memengaruhi hasil pemilu. Media sosial tiktok turut di gemari masyarakat khususnya di kelurahan tegal rejo, kelurahan tegal rejo terletak di Sumatera Utara. Kota Medan . Kecamatan Medan Perjuangan. Tiktok memungkinkan memiliki peranan dalam mempengaruhi partisipasi politik masyarakat kelurahan tegal rejo dalam hak pilihnya. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. adalah disiplin ilmu yang memiliki sifat multidimensional atau multifaset, mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan kewarganegaraan secara komprehensif. Konsep multifaset ini menegaskan bahwa PPKn tidak hanya berfokus pada teori kenegaraan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif warga negara dalam aspek sosial, hukum, dan politik. Sapriya . menjelaskan bahwa PPKn merupakan suatu proses pendidikan yang berfokus pada nilai dan moral, dengan tujuan untuk membentuk warga negara yang cerdas, bertanggung jawab, dan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejalan dengan pendapat tersebut. Winataputra . menambahkan bahwa PPKn menggabungkan berbagai dimensi ilmu, termasuk filsafat politik, pendidikan nilai, hukum, dan demokrasi, dalam konteks pendidikan karakter bangsa. Dengan demikian, konsep multifaset dalam PPKn merujuk pada beragamnya aspek pembelajaran yang tidak hanya terbatas pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan kepribadian politik yang reflektif dan kritis terhadap situasi masyarakat dan negara. Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peran strategis dalam membekali siswa dengan kemampuan untuk menangkal disinformasi dan hoaks politik yang beredar di media sosial. Melalui penanaman nilai-nilai demokrasi, peningkatan literasi digital, serta pemahaman etika bermedia, peserta didik menjadi lebih siap dan cermat dalam menyikapi informasi menyesatkan selama masa kampanye di era digital (Fazli Rachman PKN memiliki peran yang signifikan dalam membantu siswa memahami proses multifase politik serta memberikan keterampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi secara aktif dalam berbagai tahap politik. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang politik dan kebijakan, siswa dapat menjadi warga negara yang lebih terlibat dan bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. , partisipasi kewarganegaraan . ivic participativ. merupakan kemampuan yang penting untuk membantu individu memahami dinamika tahun politik secara lebih mendalam dan kritis, serta menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang aktif, beretika, dan beradab dalam merespons situasi tersebut (Batubara 2. Kota Medan yang merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Utara termasuk salah satu kota yang mempunyai presentase penduduk yang relatif besar dan salah satu kelurahan yang ada di Kota Medan yaitu Kelurahan Tegal Rejo dengan jumlah penduduk mencapai 23. 563 Manusia, baik laki-laki dan perempuan. Sebelum munculnya era digital dan media sosial seperti TikTok, pola pikir dan perilaku pemilih di Kota Medan, terutama dalam konteks pemilihan umum, masih mengikuti cara-cara konvensional dan tradisional. Akses terhadap informasi politik pada waktu itu terbatas pada media massa utama seperti televisi, radio, dan surat kabar, serta melalui komunikasi langsung antarwarga. Akibatnya, proses pembentukan opini politik cenderung bersifat top-down, di mana masyarakat lebih banyak menerima informasi dari pihak berwenang, tokoh masyarakat, atau elite politik secara sepihak. Aspinall . mencatat bahwa karakteristik pemilih di daerah perkotaan seperti Medan sebelum era digital lebih mengutamakan hubungan sosial dan ekonomi lokal dibandingkan dengan isu atau gagasan yang bersifat nasional. Dengan demikian, politik yang bersifat transaksional dan emosional lebih dominan dibandingkan dengan pemahaman yang kritis terhadap visi dan misi para calon. Tabel 1. Jumlah Penduduk Kota Medan Beserta Kelurahan Tegal Rejo Sumber : BPS Kota Medan Bagan 1. Pengguna Tiktok Sumber : G-Form Angket. Metode Secara garis besar metode penelitian adalah langkah atau kegiatan dalam informasi sehingga meemperoleh dan agar bisa diolah dan dianalisis. Artinya metode penelitian adalah bagaimana peneliti membuat gambaran secara komprehensif. Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis (Bungin,2003:. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode Kualitatif adalah data-data yang hadir atau dinyatakan dalam bentuk kata, kalimat, ungkapan narasi, dan gambar (Sutama, 2016:. Menurut Creswell . , penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami makna yang diberikan individu terhadap fenomena sosial, dengan penekanan pada analisis yang mendalam. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang. (Sujana dan Ibrahim, 1989:. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada pemecahan masalahmasalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan. Dalam pendidikan, penelitian deskriptif lebih berfungsi untuk pemecahan praktis dari pada pengembangan ilmu pengetahuan. Peneliti berusaha memotret peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatiannya, kemudian menggambarkan atau melukiskannya sebagaimana adanya, sehingga pemanfaatan temuan penelitian ini berlaku pada saat itu pula yang belum tentu relevan bila digunakan untuk waktu yang ada. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian merupakan suatu tempat dan waktu penelitian yang akan dilaksanakan oleh penulis. Adapun lokasi penelitian yang telah ditetapkan penulis ialah di Kelurahan Tegal Rejo terletak di Kecamatan Medan Perjuangan. Kota Medan. Sumatera Utara. Daerah ini merupakan salah satu kelurahan yang berkembang sebagai pusat jasa, perdagangan, dan permukiman. Kelurahan ini memiliki luas wilayah sekitar 1,1 kmA dan berpenduduk sekitar 23. 132 jiwa, dengan 15 lingkungan yang Kepadatan penduduk di Kecamatan Medan Perjuangan termasuk yang tertinggi di Kota Medan, membuatnya menjadi lokasi yang strategis untuk penelitian sosial dan politik. Alasan penulis memilih tempat lokasi penelitian tersebut adalah Kepadatan Penduduk Dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Kelurahan Tegal Rejo menawarkan sampel yang beragam dan representatif untuk penelitian tentang pengaruh media sosial dalam transformasi politik. Akses Informasi: Lokasinya di pusat kota memudahkan akses ke berbagai sumber informasi dan teknologi, termasuk media sosial seperti TikTok. Aktivitas Politik: Sebagai bagian dari Kota Medan. Kelurahan Tegal Rejo sering menjadi sasaran kampanye politik dan aktivitas sosial yang intensif, membuatnya ideal untuk mempelajari dinamika politik melalui media sosial. Subjek Penelitian Penelitian kualitatif membutuhkan data atau informasi dari berbagai sumber yang dapat memberikan informasi sesuai dengan tujuan penelitian. dimana pada penelitian kualitatif, responden ataupun subjek penelitian disebut dengan istilah informan, yaitu orang yang akan memberikan informasi tentang data yang diinginkan peneliti yang berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan. Dalam melakukan penelitian ini. Teknik Sampling yang digunakan ialah Kuota Sampling. Teknik kuota sampling ialah Sebelum proses pengumpulan data dilakukan, maka harus ditentukan apakah data akan dikumpulkan dari populasisecara keseluruhan subjek atau hanya dari sebagiannya yang disebut sampel. Penelitian dapat dilakukan atas populasi maupunsampel (Arikunto, 1998 : . Sehingga dalam hal ini informan yang dipilih ialah pihak yang dianggap mudah ditemui oleh peneliti sehingga pengumpulan datanya mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian ini. Adapun yang menjadi Informan dalam penelitian ini ialah Masyarakat terutama Gen Z, yang dimana di Kelurahan Tegal Rejo terdapat 10 Jadi peneliti hanya mengambil setiap lingkungan masing masing 3-5 informan, seperti lingkungan 7,8,9. Maka subjek pada penelitian ini berjumlah A 15 Definisi Operasional dan Fokus Penelitian Definisi operasional merujuk pada ciri atau atribut dari individu atau organisasi yang dapat diukur atau diamati, serta memiliki variasi tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dianalisis dan diambil kesimpulannya (Sugiono 2. Pada penelitian ini definisi operasional adalah untuk mengetahui Peran media sosial TikTok dalam transformasi politik pada pemilihan presiden tahun 2024 di Kelurahan Tegal Rejo. Teknik Pengumpulan Data Jenis Data Penelitian dilakukan untuk menggali dan mengumpulkan data yang diperoleh dari sumber-sumber yang berhubungan dengan apa yang diperlukan. Dalam penelitian ini jenis data yang saya gunakan terdiri dari: Data primer, data primer adalah data yang caranya diperoleh langsung dari orang-orang atau informan yang dipilih oleh peneliti guna memperoleh datadata atau informasi yang relevan dengan permasalahan yang diangkat pada penelitian yang dilakukan. Data sekunder, data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen dokumen yang ada, dalam hal ini data sekunder pada penelitian ini adalah dokumen yang dikutip dari buku-buku atau jurnal yang berhubungan Peran media sosial TikTok dalam transformasi politik pada pemilihan presiden tahun Instrumen Pengumpulan Data Observasi, observasi adalah suatu bentuk pengamatan terhadap suatu objek yang dianggap penting dalam pelaksanaan penelitian. Observasi merupakan langkah awal dalam pelaksanaan penelitian, pelaksanaan observasi ini sangat penting karena sebelum melakukan penelitian, peneliti sudah terlebih dahulu mengetahui tentang situasi dan kondisi pada tempat atau lokasi yang akan diteliti nantinya. Wawancara, pada tahap kegiatan ini merupakan proses tanya jawab antara peneliti dengan informan yang dipilih untuk mendapat informasi tentang permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Menurut Andrea Fontona dan James Frey ( Denzin dan Lincoln, 2009-. wawancara adalah bentuk perbincangan, seni bertanya dan mendengar, penulis dalam penelitian bentuk wawancara yang digunakan adalah wawancara berstruktur karena sudah ditentukan hal apa yang perlu ditanyakan tanpa menambah pertanyaan yang baru. Tabel 3. 2 Kisi Kisi Instrumen Penelitian Variabel Indikator Deskriptor Peran Media Sosial Frekuen Menunjuk TikTok si penggunaan tiktok kan seberapa sering Jeni s politik yang Tiktok dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh Menunju konten tiktok terhadap kkan bentuk konten pemahaman politik politik yang di tonton seperti kampanye, opini atau debat. Menunju kkan sejauh mana tiktok informasi poliitk. Transformasi Peruba Menunj Politik Gen Z han pola pikir politik Peningka perhatian tan kesadaran politik Peng isu politik. Menunjuk perilaku memilih kan adanya pengaruh Tiktok menentukan pilihan calon presiden. Dokumentasi, dokumentasi berarti barang-barang tertulis, di dalam proses dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku, jurnal,dan hal lain yang berkaitan. Teknik Analisis Data Menurut bodgun (Sugyono, 2013:. analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah- milah data menjadi satuan yang dapat dikelola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dalam memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain. Dalam penelitian kualitatif, teknik analisis data kualitatif berkaitan erat dengan pengumpulandata, yaitu observasi dan wawancara serta dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Pengumpulan data Pengumpulan data merupakan upaya untuk mengumpulkan data dengan berbagai macam cara yaitu dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Reduksi data Reduksi data merupakan proses seleksi dan pemusatan perhatian terhadap penyederhanaan data yang diperoleh dari catatan lapangan. Proses ini dilakukan secara berkelanjutan selama penelitian berlangsung. Peneliti melakukan reduksi data dengan menyaring, menyederhanakan, dan memfokuskan data hasil wawancara di lapangan. Tujuannya adalah untuk mempermudah peneliti dalam memahami hasil penelitian dari berbagai narasumber serta memudahkan pembaca dalam mengakses informasi yang telah disederhanakan dan disajikan secara akurat. Kondensasi data merupakan proses yang melibatkan pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, pengabstrakan, dan/atau transformasi terhadap data yang berasal dari keseluruhan isi catatan lapangan, transkrip wawancara, dokumen, maupun sumber empiris lainnya. Melalui proses peringkasan ini, data justru menjadi lebih tajam dan bermakna. Istilah Aureduksi dataAy dihindari karena dapat memberi kesan bahwa ada pengurangan nilai atau kehilangan informasi penting dalam proses tersebut. Proses kondensasi data tidak terpisah dari kegiatan analisis, melainkan menjadi bagian penting di dalamnya. Peneliti harus membuat keputusan analitis, seperti menentukan potongan data mana yang perlu dikodekan atau dipilih, menetapkan label kategori yang paling representatif, serta menentukan alur cerita yang akan diungkapkan. Kondensasi data merupakan proses analitis yang bertujuan untuk menajamkan, menyaring, memusatkan perhatian, mengeliminasi, dan mengorganisasi data secara sistematis, sehingga memungkinkan penarikan serta verifikasi kesimpulan akhir (Mattew B Miles, 2. Penyajian data (Display Data Penyajian data merupakan tahap di mana data yang telah direduksi disusun dan disajikan dalam bentuk narasi. Dalam proses ini, peneliti menyusun informasi dari hasil wawancara dengan narasumber secara sistematis, dengan memperhatikan kesimpulan dari setiap topik pembahasan. Hal ini bertujuan untuk membantu peneliti dalam memahami arah penelitian dan menentukan langkah selanjutnya. Penarikan kesimpulan (Verificatio. Penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan tahap akhir dalam analisis data Pada tahap ini, peneliti menyusun kesimpulan berdasarkan data yang telah dikumpulkan di lapangan serta informasi yang diperoleh dari wawancara dengan berbagai informan. Hasil dan Pembahasan Deskripsi Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tegal Rejo. Kecamatan Medan Perjuangan. Kota Medan. Provinsi Sumatera Utara. Kelurahan Tegal Rejo merupakan salah satu kelurahan yang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Medan Perjuangan. Secara geografis. Kelurahan Tegal Rejo merupakan daerah yang cukup padat dengan ciri khas lingkungan perkotaan. Sebagian besar lahan di wilayah ini digunakan sebagai permukiman, sementara sebagian kecil lainnya dimanfaatkan untuk kegiatan perdagangan dan jasa. Wilayah ini tergolong strategis karena letaknya yang dekat dengan pusat kota Medan serta tersambung dengan jalan- jalan utama yang memudahkan mobilitas masyarakat. Menurut data dari kantor kelurahan, jumlah penduduk di Kelurahan Tegal Rejo mencapai sekitar 23. 563 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sekitar 1. 557 KK . ata terbaru akan disesuaikan dengan data resmi keluraha. Penduduk di wilayah ini memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam. Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal seperti perdagangan, jasa, buruh, serta ada juga yang berprofesi sebagai pegawai swasta maupun pegawai negeri, dalam hal pendidikan. Kelurahan Tegal Rejo menyediakan beberapa fasilitas pendidikan formal mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, serta lembaga pendidikan nonformal seperti TPA dan kursus. Fasilitas umum lainnya meliputi masjid, gereja, posyandu, dan sarana kesehatan berupa puskesmas pembantu, secara administratif. Kelurahan Tegal Rejo dipimpin oleh seorang Lurah yang dibantu oleh perangkat kelurahan. Wilayah kelurahan ini terbagi menjadi beberapa lingkungan (RT/RW) yang menjadi unit dasar dalam administrasi Pemilihan Kelurahan Tegal Rejo sebagai lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa wilayah ini memiliki masyarakat dengan karakteristik yang beragam serta kondisi sosial yang sesuai dengan fokus penelitian. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai fenomena yang diteliti. Deskripsi Hasil Penelitian Literasi Digital dan Politik Gen Z Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji tingkat kemampuan Generasi Z dalam menyaring informasi politik yang diterima melalui platform TikTok, terutama yang berkaitan dengan berita palsu, propaganda, serta materi kampanye. Sebagai kelompok yang lahir di era digital. Gen Z biasa mendapatkan informasi dengan cepat dan langsung, tetapi hal ini juga menjadikan mereka rawan terhadap banjir konten yang kurang dapat dipercaya. TikTok, sebagai jejaring sosial yang berfokus pada video pendek, kerap menyuguhkan berita politik dalam format yang ringkas, menyenangkan, dan menggugah, sehingga sangat memikat bagi kalangan pemilih usia muda. Karenanya, esensial untuk menelaah bagaimana keterampilan analitis Gen Z dalam memfilter informasi semacam itu dapat berdampak pada pandangan politik mereka, derajat keterlibatan, serta pilihan yang diambil saat pemilihan umum. Penelitian ini diantisipasi mampu menyajikan ilustrasi tentang kontribusi literasi digital dalam memperkuat pemahaman politik di kalangan pemuda, sekaligus mengungkap peluang serta hambatan bagi demokrasi pada masa media sosial, penulis menelusuri secara langsung kepada para narasumber untuk menjawab pertanyaan mengenai Apakah pernah menemukan berita hoaks di TikTok? Bagaimana cara menanggapinya? Dari hasil wawancara dengan sejumlah narasumber mengenai keberadaan berita hoaks di TikTok, dapat ditarik kesimpulan bahwa Generasi Z di Kelurahan Tegal Rejo menunjukkan tingkat kewaspadaan yang bervariasi dalam menyikapi informasi politik. Sebagian responden memperlihatkan sikap kritis dengan melakukan pengecekan ulang melalui media arus utama, membaca komentar pengguna lain, hingga melaporkan konten yang dianggap menyesatkan. Temuan ini menandakan adanya perkembangan literasi digital yang mulai tumbuh di kalangan pemilih muda. Meski demikian, masih ada narasumber yang mengaku mudah terpengaruh oleh informasi hoaks karena cara penyajian konten yang menarik dan persuasif. Perbandingan Platform Media Sosial Dalam hal pemanfaatan media sebagai sarana memperoleh informasi politik, terdapat perbedaan yang cukup jelas antara TikTok dengan platform lain seperti Instagram. Twitter, televisi, maupun surat kabar. TikTok cenderung lebih populer di kalangan generasi Z karena menyajikan konten singkat, ringkas, dan menarik dalam bentuk video pendek yang mudah diakses. Dukungan algoritma TikTok yang menampilkan konten sesuai minat pengguna menjadikan arus informasi politik lebih cepat tersebar dan lebih mudah dipahami, meskipun kerap kali bersifat dangkal. Hal ini berbeda dengan Instagram yang lebih menonjolkan visual berupa foto, infografis, atau video berdurasi lebih panjang sehingga menuntut perhatian lebih besar dari penggunanya. Sementara Twitter banyak dimanfaatkan untuk mengikuti isu politik secara langsung melalui teks pendek, meski sering memunculkan polarisasi akibat interaksi perdebatan antar pengguna. Di sisi lain, televisi dan surat kabar masih dipandang sebagai sumber informasi politik yang lebih formal serta kredibel. Televisi menyampaikan berita, wawancara, hingga debat kandidat dengan durasi lebih panjang sehingga lebih menyeluruh dibandingkan konten TikTok. Sedangkan surat kabar menyediakan informasi mendalam melalui artikel analisis, opini, maupun data faktual. Namun, kedua media ini memiliki keterbatasan dalam hal daya tarik dan aksesibilitas bagi kalangan muda karena formatnya dianggap kurang praktis serta minim interaktivitas. Oleh karena itu peneliti memberikan pertanyaan mengenai perbedaan penggunaan TikTok dengan media lain menunjukkan bahwa generasi Z lebih mengutamakan kecepatan dan kemudahan dalam memahami isu politik, sementara media konvensional tetap memiliki peran penting sebagai rujukan yang lebih detail dan dapat dipercaya. Partisipasi Politik Gen Z di Tingkat Lokal Penelitian yang dilakukan di Kelurahan Tegal Rejo tepatnya pada kelurahan 7,8 & 9 mengungkapkan bahwa 94,7% generasi Z menjadikan TikTok sebagai platform media sosial favorit mereka. Persentase yang sangat tinggi ini menggarisbawahi peran TikTok sebagai sumber informasi sekaligus wadah bagi interaksi politik di kalangan Usai menyaksikan konten bertema politik di aplikasi tersebut, mayoritas Gen Z tidak sekadar menjadi pengamat diam, melainkan aktif berpartisipasi dalam diskusi dan perdebatan, baik melalui kolom komentar maupun obrolan dengan rekan sebaya. Hal ini menandakan bahwa TikTok memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk cara-cara keterlibatan politik Gen Z pada skala lokal. Strategis Kampanye Digital Pemanfaatan TikTok oleh para kandidat politik kini tidak lagi terbatas sebagai wadah hiburan, melainkan telah berkembang menjadi media strategis dalam melakukan branding politik. Melalui platform ini, kandidat berupaya membangun citra yang lebih dekat dengan masyarakat, menyampaikan visi serta misi secara ringkas melalui video pendek, dan menghadirkan konten yang ringan serta mudah dicerna oleh generasi Z. TikTok juga memberikan peluang interaksi langsung lewat kolom komentar, siaran langsung . , hingga fitur duet, sehingga menciptakan hubungan yang lebih personal dan partisipatif antara kandidat dan pemilih. Dengan demikian. TikTok berperan sebagai ruang digital yang tidak hanya memperkuat komunikasi politik, tetapi juga memperluas jangkauan kampanye. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa mayoritas Gen Z menggunakan TikTok untuk mendapatkan berita seputar pemilihan presiden tahun Mereka menyaksikan klip kampanye, orasi, dan aktivitas kemanusiaan para kandidat yang disajikan dalam format pendek dan memikat. Gaya video yang ringkas, dilengkapi dengan elemen visual, irama musik, serta pendekatan komunikasi yang rileks, membuat TikTok lebih mudah diterima daripada media tradisional seperti TV atau koran. Reaksi Gen Z terhadap materi politik di TikTok cenderung mendukung. Mereka merasa bahwa penyajian politik yang inovatif mampu membangkitkan ketertarikan pada masalah nasional. Meskipun begitu, sekelompok kecil pengguna menyatakan kesulitan dalam membedakan berita akurat dari kampanye politik yang menyesatkan. Kondisi ini menekankan perlunya penguatan literasi digital agar generasi muda tidak rentan terhadap konten yang menipu. Dari perspektif keterlibatan, warga TikTok di Kelurahan Tegal Rejo menunjukkan tingkat aktivitas yang tinggi dalam merespons konten politik. Mereka rajin memberikan komentar, menyukai, membagikan, serta mengikuti akun kandidat yang dianggap menarik. Tren ini menggambarkan transformasi dalam komunikasi politik yang lebih inklusif dan dinamis. TikTok menjelma sebagai wadah segar di mana pemilih muda bisa menyuarakan opini politiknya secara spontan, tanpa perlu bergabung dalam acara formal. Lebih lanjut, observasi dan wawancara mengungkap adanya peningkatan pemahaman politik di kalangan Gen Z setelah sering terpapar konten politik di TikTok. Mereka mulai menyadari urgensi keterlibatan dalam pemilu dan lebih sensitif terhadap isu sosial serta kebijakan pemerintahan. Bahkan, beberapa responden mengungkapkan dorongan untuk berpartisipasi dalam aktivitas politik setempat, seperti forum diskusi atau kampanye pemilu. Akan tetapi, dari sudut pandang masyarakat yang lebih tua, pemanfaatan TikTok untuk keperluan politik memiliki sisi ganda. Platform ini diakui efektif dalam menyebarluaskan prinsip demokrasi dan menyediakan pendidikan politik yang menghibur, tetapi juga berisiko disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu. Karenanya, masyarakat mengharapkan agar pemuda menggunakan media ini dengan bijaksana, sambil menjunjung etika digital dan sikap kritis terhadap segala informasi yang diterima. Secara umum, verifikasi data menunjukkan bahwa TikTok telah menciptakan perubahan konkret dalam sikap politik Gen Z. Platform ini berperan sebagai instrumen ampuh untuk mendidik, memotivasi, dan mendorong pemilih muda agar aktif dalam mekanisme demokrasi. Perubahan politik yang terlihat di Kelurahan Tegal Rejo mencerminkan evolusi budaya politik dari sikap pasif menuju yang lebih aktif dan introspektif melalui saluran digital. Pembahasan Bagian ini menguraikan temuan penelitian yang diperoleh dari proses pengamatan serta wawancara intensif dengan informan di Kelurahan Tegal Rejo. Pembahasan disusun dengan menghubungkan data empiris dari lapangan dan teori-teori terkait, bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian seputar pengaruh platform media sosial TikTok dalam mengubah dinamika politik Generasi Z pada Pemilihan Presiden 2024. Pendekatan analisis bersifat deskriptif kualitatif, yang digunakan untuk menginterpretasikan arti dari setiap temuan dalam kerangka konteks sosial, politik, serta budaya komunitas setempat. Kemudian, narasi selanjutnya akan menyajikan interpretasi peneliti terkait dampak media sosial TikTok terhadap pergeseran pola keterlibatan politik Generasi Z, yang dieksplorasi melalui sejumlah aspek pokok. Analisis Peran Media Sosial TikTok terhadap Transformasi Politik Gen Z Kemajuan teknologi digital telah memicu transformasi mendasar pada pola perilaku politik di kalangan generasi muda. Di Indonesia. TikTok yang merupakan platform media sosial terpopuler telah menjelma sebagai saluran primer bagi Generasi Z untuk memperoleh, memproses, serta menyuarakan opini politik mereka. Dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di Kelurahan Tegal Rejo, terungkap bahwa hampir 94,7% responden dari Generasi Z secara rutin memanfaatkan TikTok sebagai sumber pengetahuan dan rekreasi, yang juga mencakup topik-topik politik. Temuan ini menggarisbawahi bahwa TikTok tidak hanya berfungsi sebagai alat hiburan semata, tetapi juga sebagai ruang krusial dalam membentuk pemahaman politik di kalangan pemuda. Format konten politik berupa video singkat terbukti lebih efektif dalam memikat perhatian pemilih muda ketimbang saluran media tradisional. Pada Pemilihan Presiden 2024, sejumlah pasangan calon memanfaatkan TikTok guna menyampaikan program kerja, visi, serta image politik mereka melalui pendekatan komunikasi berbasis digital. Pendekatan ini selaras dengan argumen Deriyanto & Qorib . , yang menekankan bahwa platform media sosial memfasilitasi para pelaku politik dalam menjalankan kampanye yang berfokus pada pembangunan merek pribadi dan ikatan emosional. Transformasi Politik Gen Z melalui Konten TikTok Perubahan politik yang dialami Generasi Z di Kelurahan Tegal Rejo tidak terbatas pada peningkatan pemahaman politik semata, melainkan juga melibatkan transformasi dalam pola keterlibatan. Dahulu, politik sering dianggap sebagai ranah eksklusif para elit, tetapi kini, melalui platform TikTok, politik tampil dalam format yang lebih ringan, inovatif, dan inklusif. Generasi Z tidak lagi berperan sebagai pengamat pasif, melainkan sebagai pembuat konten yang berpotensi membentuk persepsi masyarakat secara luas. Berdasarkan wawancara dengan sejumlah informan, terungkap bahwa sebagian besar Generasi Z menanggapi isu politik melalui mekanisme komentar, like, serta pembagian ulang konten . Tindakan-tindakan ini merepresentasikan partisipasi di dunia digital, yang menjadi wujud inovatif dari bentuk keterlibatan politik. Hal ini sejalan dengan pernyataan Castells . , yang menjelaskan bahwa lingkungan digital menciptakan jaringan sosial yang mendukung kemunculan gerakan politik berbasis horizontal dan tanpa hierarki. Walaupun demikian, perubahan ini juga disertai dengan risiko, terutama mengenai tingkat literasi digital. Sebagian besar responden mengakui bahwa mereka masih kesulitan untuk membedakan konten politik yang akurat dari yang berupa berita bohong atau propaganda. Keadaan ini menggarisbawahi bahwa meskipun TikTok berfungsi sebagai pintu masuk utama untuk partisipasi, platform tersebut juga dapat memicu penyebaran informasi politik yang salah arah. Strategi Kampanye Politik di TikTok dan Pengaruhnya terhadap Opini Gen Z Pendekatan kampanye di platform TikTok memanfaatkan elemen visual, humor, serta musik sebagai metode komunikasi politik yang selaras dengan preferensi Generasi Para calon presiden pada Pemilihan 2024 menerapkan strategi yang beragam: Pasangan 1 (Anies-Muhaimi. menekankan narasi berbasis ideologi. Pasangan 2 (Prabowo-Gibra. mengadopsi gaya humoris dan tren kekinian. Pasangan 3 (Ganjar-Mahfu. menonjolkan rasa empati serta ikatan sosial yang erat. Berdasarkan temuan penelitian, konten dari pasangan urutan kedua paling banyak menuai respons positif dari Generasi Z, karena dianggap relevan, mudah dipahami, dan menyenangkan. Hasil ini menggarisbawahi bahwa kampanye berbasis pendekatan lunak lebih efektif ketimbang komunikasi politik yang konvensional. Pendekatan semacam itu selaras dengan teori Uses and Gratifications (Katz, 1. , yang menjelaskan bahwa pengguna media secara proaktif memilih konten yang memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial mereka. Dampak Media Sosial terhadap Partisipasi Politik Lokal Platform TikTok memberikan dampak signifikan dalam memperkuat keterlibatan politik masyarakat di Kelurahan Tegal Rejo, khususnya bagi pemilih baru. Generasi Z menyatakan bahwa konten kampanye di TikTok memotivasi mereka untuk berdiskusi, berdebat, serta lebih tertarik pada berbagai isu politik. Bentuk keterlibatan ini melampaui sekadar kehadiran di Tempat Pemungutan Suara (TPS), melainkan juga mencakup kegiatan online seperti membagikan materi kampanye dan mengajak temanteman untuk berpartisipasi dalam pemilihan. Kejadian ini menegaskan bahwa media sosial berpotensi sebagai instrumen pendidikan politik non-formal yang efektif dalam membangun rasa keterlibatan sipil. Pandangan tersebut selaras dengan Sapriya . , yang menekankan bahwa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan perlu mendorong masyarakat agar lebih proaktif dan kritis dalam menghadapi dinamika politik di lingkungan sekitar. Tantangan dan Implikasi Etis dalam Penggunaan TikTok Politik Walaupun memberikan manfaat positif, pemanfaatan TikTok sebagai instrumen kampanye politik juga memunculkan isu etika yang serius. Sejumlah konten politik sering kali bersifat memprovokasi, menyesatkan, atau menerapkan pembingkaian yang memengaruhi persepsi masyarakat secara manipulatif. Ketentuan regulasi untuk kampanye berbasis digital masih belum memadai dalam mengawasi batas-batas etis penggunaan platform media sosial. Dalam kerangka ini, penguatan literasi digital dan norma etika bermedia menjadi aspek esensial yang harus ditingkatkan, khususnya melalui pendidikan Generasi muda perlu dibekali dengan kemampuan berpikir analitis yang tajam agar tidak mudah terombang-ambing oleh konten politik yang bersifat Dengan begitu. TikTok tidak hanya berfungsi sebagai alat kampanye, tetapi juga sebagai wadah pendidikan demokrasi digital yang berkelanjutan dan sehat. Refleksi terhadap Transformasi Politik Gen Z Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa transformasi politik Gen Z di Kelurahan Tegal Rejo melalui TikTok berlangsung secara simultan dalam tiga aspek utama: Kognitif Ae meningkatnya pengetahuan politik melalui konten video Afektif Ae tumbuhnya ketertarikan emosional terhadap figur politik Perilaku Ae munculnya partisipasi aktif dalam bentuk digital engagement maupun tindakan nyata pada pemilu. Perubahan ini menegaskan bahwa TikTok telah menjadi ruang sosial-politik baru bagi generasi muda. Dalam konteks PPKn, fenomena ini menunjukkan pentingnya pendidikan literasi politik berbasis media digital untuk membentuk warga negara yang cerdas, kritis, dan beretika dalam berpolitik di era teknologi. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai peran media sosial TikTok dalam perubahan politik generasi Z pada Pemilihan Presiden 2024 di Kelurahan Tegal Rejo, dapat disimpulkan bahwa TikTok berperan signifikan dalam membentuk kesadaran politik, pola pikir, serta perilaku pemilihan generasi muda. TikTok tidak hanya berfungsi sebagai platform hiburan, tetapi juga menjadi media komunikasi politik yang efektif bagi para kandidat untuk menyampaikan pesan-pesan politik secara kreatif dan menarik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar generasi Z di Kelurahan Tegal Rejo mengandalkan TikTok sebagai sumber utama informasi politik, yang kemudian mendorong peningkatan partisipasi mereka dalam pemilu. Konten politik yang disajikan di TikTok mampu memengaruhi perspektif generasi Z terhadap berbagai isu politik, meskipun keterbatasan literasi digital masih menjadi tantangan yang berpotensi membuka ruang bagi penyebaran informasi yang keliru. Oleh karena itu, transformasi politik generasi Z melalui TikTok dapat dipahami sebagai pergeseran pola partisipasi politik dari cara konvensional menuju pola yang lebih digital, interaktif, dan dinamis. Referensi