JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 PENGARUH SEBELUM DAN SETELAH PENKES TERHADAP TINGKAT PEMAHAMAN IBU DALAM PENANGANAN KEGAWATDARURATAN CIDERA KAKI PADA ANAK USIA 9-36 BULAN DI JAKARTA UTARA Ni Wayan. Lilis. Lailatul M. Dosen Akper Husada Karya Jaya Mahasiswa Akper Husada Karya Jaya Email: Nancyfebriana@gmail. ABSTRAK Pemahaman adalah suatu kemampuan seseorang dalam memahami arti atau konsep dan juga fakta yang Cedera adalah kerusakan fisik yang terjadi ketika tubuh manusia tiba tiba mengalami penurunan energi dalam jumlah yang melebihi batas toleransi fisiologis atau akibat dari kurangnya satu atau lebih elemen penting seperti oksigen (WHO,2. Cedera biasanya berawal dari rasa keingintahuan dan rasa ingin bereksperimen dengan hal hal yang baru namun belum mampu atau seimbang dalam memahami bahaya (Hastuti, 2. Hasil Riskesdas . mengatakan bahwa kasus cedera pada anak 2 % dan biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun, dan 12. 1% pada anak usia 5-14 tahun. Berdasarkan data yang sudah disebutkan peneliti bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman ibu berdasarkan dengan usia dan tingkat pendidikan nya dengan menggunakan metode kualitatif dan menggunakan uji sample sebanyak 20 orang, penelitian yang dilakukan selama 1 hari ini didapatkan bahwa adanya peningkatan pemahaman responden sesudah dilakukan sosialisasi baik terhadap definisi, ciri ciri, penanganan, alat yang digunakan, dan jenis jenis penanganan pada saat cedera. Kata kunci : pemahaman, cedera kaki, anak Daftar pustaka: 2010-2020 PENDAHULUAN Anak adalah suatu hal yang sangat ditunggu oleh pasangan suami dan istri, sehingga kehadiran nya sangatlah berharga dalam kehidupan mereka, semakin berjalan nya waktu maka anak akan semakin tumbuh besar dan berkembang. Istilah tumbuh kembang anak sebenarnya mencakup 2 hal yang sifatnya berbeda, tetapi berkaitan satu sama lain, yaitu pertumbuhan dan Untuk tercapainya tumbuh kembang anak yang optimal semua tergantung kepada potensi biologiknya. Tingkat tercapainnya potensi biologik seseorang anak merupakan hasil daripada berbagai factor yang saling berkaitan seperti factor geneti, lingkungan ,bio-psiko-sosial dan perilaku. Proses yang unik dan hasil yang berbedalah yang memberikan ciri tersendiri pada anak. Mengingat tumbuh kembang anak yang aktif dapat meningkatkan juga resiko cidera. Fenomena cedera memang banyak terjadi dikalangan asia terutama di bagian negara berkembang. Memon et al . dalam penelitiannya mengatakan bahwa cedera memang banyak terjadi pada usia anak anak, yaitu sebanyak 62. Cedera biasanya berawal dari rasa keingintahuan dan rasa ingin bereksperimen dengan hal hal yang baru namun belum mampu atau seimbang dalam memahami bahaya (Hastuti, 2. Hasil Riskesdas . mengatakan bahwa kasus cedera pada anak mencapai 8. 2 % dan biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun, 1% pada anak usia 5-14 tahun. Menurut World Health Organization (WHO) cedera menyebabkan 5,8 juta p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 42 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 kematian di seluruh dunia,dan hampir lebih dari 3jt kasus cedera terjadi di negara kebanyakan penyebab terjadinya cedera yaitu karena kurangnya pengawasan dari orang tua terhadap anak sedangkan cedera dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Sepert kondisi bagian bagian rumah yang kurang baik atau tidak adanya sekat dan tempat penyimpanan untuk barang barang berbahaya (Hyder et al, 2. Melihat kasus cedera pada anak yang banyak terjadi maka dari itu Orang tua jelas meiliki peran penting saat anak mengalami cedera, seharuusnya sebagai orang tua mampu memberikan pengawasan terhadap anak agar tehindar dari cedera. Namun, selain pengawasan orang tua juga harus memiliki waawasan yang luas agar dapat memberikan pertolongan pertama dengan tepat jika suatu saat terjadi cedera pada anak (Indarwati, 2. salah atau bahkan terlambat dalam memberikan pertolongan pertama dapat menyebabkan kondisi yang semakin memburuk bahkan hingga kondisi yang fatal. WHO . dalam Lubis . menjelaskan bahwa, keterlambatan dalam memberikan pertolongan dapat memberikan dampak buruk berkepanjangan. Dan luka yang memiliki keadaan serius jika tidak segera diberikan pertolongan akan merusak fisik dan psikologis anak, seperti trauma. Post Traumatic Syndrome Disorder (PTSD), phobia, dan cemas. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah dengan memberikan penyuluhan dan dilanjutkan dengan kegiatan simulasi penanganan/ cara-cara pertolongan pada cedera otot, serta teknikteknik untuk mencegah cedera otot. Dalam proses penyuluhan dan demonstrasi juga dilakukan evaluasi kesulitan peserta kemudian akan dilakukan pendampingan dan kegiatan untuk memecahkan masalah Metode pelaksanaan kegiatan secara rinci adalah sebagai berikut: Pengurusan perizinan serta survei awal terkait kondisi permasalahan kesehatan pada kelompok sasaran. Metode penyuluhan diawali dengan pre test pemahaman awal tentang topik yang akan diberikan, kemudian dilanjutkan presentasi dan diskusi . emaparan mater. , serta diskusi. Metode penyuluhan dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan APD yang baik dan benar menurut kesehatan. Selanjutnya seluruh peserta melakukan simulasi satu persatu Selama proses penyuluhan akan dievaluasi dan dilakukan penilaian terkait kesulitan, hambatan, dalam mendemonstrasikan dan memahami materi yang disampaikan, dan akan diberikan umpan baliknya. Kegiatan pos test akan dilaksanakan setelah kegiatan penyuluhan selesai dilakukan HASIL PENELITIAN Karakteristik responden Tabel 4. 1 distribusi karakteristik jenis responden berdasarkan usia Usia Frekuensi Presentase 17 Ae 25 th 26 Ae 35 th 36 Ae 45 th berdasarkan data diatas jumlah responden paling dominan dengan usia 17-25 th sebanyak 50%. Tabel 4. 2 distribusi karakteristik Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Frekuensi Presentase p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 43 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 Beberdasarkan data diatas jumlah responden dominan dengan tingkat pendidikan SD yaitu sebanyak 48% Tingkat pemahaman terhadap definisi kegawatdaruratan cidera kaki pada anak Tabel 4. 3 jumlah tingkat pemahaman ibu mengenai definisi kegawatdaruratan cidera kaki pada anak Data Sebelum Kategori Sesudah % Kategori Kurang Baik Berdasarkan tabel diatas diketahui jumlah tingkat pemahaman ibu mengenai definisi kegawatdaruratan cedera kaki pada anak sebanyak 55% sebelum sosialisasi dengan kategori kurang dan 88% sesudah sosialisasi dengan kategori baik. Tingkat pemahaman terhadap ciri ciri kegawatdaruratan cidera kaki pada anak Tabel 4. 4 jumlah tingkat pemahaman ibu mengenai ciri ciri cidera kaki pada anak Data Sebelum Kategori Sesudah Kategori Kurang Baik Berdasarkan tabel diatas diketahui jumlah tingkat pemahaman ibu mengenai ciri ciri dari kegawatdaruratan cedera kaki pada anak sebanyak 55% sebelum sosialisasi dengan kategori kurang dan 88% sesudah sosialisasi dengan kategori baik. Tingkat penanganan kegawatdaruratan cidera kaki pada anak Tabel 4. 5 jumlah tingkat pemahaman ibu terhadap penanganan kegawatdaruratan cidera kaki pada anak Sebelum Sesudah Data Kategori % Kategori 20 orang 45% Kurang 88% Baik Berdasarkan tabel diatas diketahui jumlah penanganan kegawatdaruratan cedera kaki pada anak sebanyak 45% sebelum sosialisasi dengan kategori kurang dan 88% sesudah sosialisasi dengan kategori Tingkat pemahaman terhadap alat yang dapat digunakan dalam penanganan kegawatdaruratan cidera kaki pada anak Tabel 4. 6 jumlah tingkat pemahaman terhadap alat yang dapat digunakan dalam penanganan kegawatdaruratan cidera kaki pada anak. Data Sebelum responden sosialisasi % Kategori 20 orang 66 Cukup Sesudah Kategori 86% Baik Berdasarkan tabel diatas diketahui mengenai alat yang dapat digunakan dalam penanganan kegawatdaruratan cedera kaki pada anak sebanyak 66% sebelum sosialisasi dengan kategori cukup dan 86% sesudah sosialisasi dengan kategori baik. Tingkat pemahaman mengenai jenisjenis cidera kaki pada Tabel 4. 6 jumlah tingkat pemahaman ibu mengenai jenis jenis penanganan cedera kaki pada anak p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 44 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 Data Sebelum Sesudah responden sosialisasi Kategori % Kategori pemahaman ibu terhadap penanganan kegawatdaruaratan cidera kaki pada anak. KESIMPULAN Kurang 83% Baik Berdasarkan tabel diatas diketahui jumlah tingkat pemahaman ibu mengenai jenis cedera kaki pada anak sebanyak 58% sebelum sosialisasi dengan kategori kurang dan 83% sesudah sosialisasi dengan kategori baik. Hasil keseluruhan tingkat pemahaman ibu mengenai kegawatdaruratan cidera kaki pada anak Tabel 4. 7 hasil tingkat pemahaman ibu mengenai kegawatdaruratan cidera kaki pada anak. Data Sebelum Sesudah responden sosialisasi % Kategori % Kategori 20 51 Kurang 72% Cukup Berdasarkan tabel diatas diketahui hasil keseluruhan dari tingkat pemahaman ibu mengenai kegawatdaruratan cidera kaki pada anak sebanyak 51% sebelum sosialisasi dengan kategori kurang dan 72% setelah sosialisasi dengan kategori cukup. PEMBAHASAN Melihat tabel diatas maka dapat diketahui jika ibu belum memahami mengenai penanganan kegawatdaruratan cidera kaki. Saat dilakukan kegiatan penkes ini para ibu sangat antusias dalam mendengarkaan dan memahami sehingga terjadi peningkatan Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai Karakteristik responden Usia Berdasarkan hasil penelitian diatas usia ibu 17-25th lebih banyak dibandingkan dengan usia ibu 26-35th dan usia ibu 36-45th lebih rendah dibandingkan dengan usia 26-35th. Tingkat pendidikan Berdasarkan hasil penelitian diatas tingkat pendiddikan ibu SD lebih banyak dibandingkan dengan tingkat pendidikan ibu SMP dan tingkat pendidikan ibu SMA lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pendidikan SMP, dan dalam penelitian ini tidak ditemukan ibu dengan tingkat pendidikan perguruan Tingkat pemahaman ibu tehadap definisi dari cedera Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas tingkat pemahaman ibu terhadap definisi dari cidera mengalami peningkatan setelah dilakukan sosialisasi yaitu sebanyak 33%. Tingkat pemahaman ibu terhadap ciri ciri dari cedera Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas tingkat pemahaman ibu mengenai ciri ciri dari cidera sosialisasi yaitu sebanyak 16% Tingkat pemahaman ibu terhadap penanganan dari cedera Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas tingkat pemahaman ibu terhadap penanganan dari cidera mengalami peningkatan setelah dilakukan sosialisasi yaitu sebanyak 43%. p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 45 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 Tingkat pemahaman ibu terhadap alat yang dapat digunakan dalam penanganan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas tingkat pemahaman ibu terhadap alat yang dapat digunakan dalam penanganan cidera mengalami peningkatan setelah dilakukan sosialisasi yaitu sebanyak 20%. Tingkat pemahaman ibu terhadap jenis jenis penanganan cedera Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas tingkat pemahaman ibu mengenai jenis jenis penanganan cedera mengalami peningkatan setelah dilakukan sosialisasi yaitu sebanyak 25%. REFRENSI Adinda. K, dkk. Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Dasar Balita. Jurnal. Nursing Studies. Volume 1. Nomor 1 Tahun 2012. Halaman 30 Ae 35. Adriani. M dan Wirjatmadi. Pengantar Gizi Masyarakat. Kencana. Jakarta: 48-57. Adriani. , & Wirjatmadi. Peran Gizi Dalam Status Kehidupan. Jakarta: Kencana Prenada Media Gro Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi Revis. Jakarta. Rineka Cipta. Barbara. Kozier. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 7 Volume 1. Jakarta: EGC. Budiman. Riyanto Agus. Pengetahuan dan Sikap Marmi K. R,. Asuhan Neonatus. Bayi. Balita. Anak Prasekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Marmi. dan Rahardjo. Asuhan Neonatus. Bayi. Balita, dan Anak Prasekolah. Yogyakarta: Pustaka PelajarMedika. Penelitian Medika. Kesehatan. Jakarta: Salemba Budiman. Penelitian Kesehatan. Buku Pertama. Bandung: Refika Aditama. Chomaria. Nurul. Tumbuh Kembang Anak Usia 0-5 Tahun. Surakarta:Cinta. European child safety alliance. What are european countries doing to international injury to children?. http://jurnalilmiah. /index. php/JI/article/download/42 /19/ http://repository. id/bitstream/12 3456789/366/6/108150020_file6. https://ejournal. id/PMNJ/article/downloa dSuppFile/13133/2538 https://w. edu/34742338/H akikat_Perkembangan_dan ambatan_Perkembangan Junaidi, . Pedoman pertolongan pertama yang harus dilakukan saat gawat dan darurat medis. Yogyakarta: Ansi Yogyakarta Kasman dan Fauzan Akhmad. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR DI RSIA ANNISA BANJARMASIN. Fakultas kesehatan UNISKA. kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. In: Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI. Millar LA. Sprains. Strains. And tears. American College of Sports Medicine. ited : nop 22nd 2. Available http://w. org/docs/brochures/spa ins-strains-and-tears. Notoatmodjo. Soekidjo. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 46 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 Prasetyo. Fajar Ahmad Dwi. Pendampingan Orang Tua Dalam Proses Belajar Anak. Skripsi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Riset Kesehatan Dasar. Profil Kesehatan Indonesia 2018. Diakses dari //labdata. id pada 1 Januari 2021 Sari Anggita. Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi DPT-HB di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin. Vol 11 No. 11 Edisi 07 Juli 2013 Akbid Sari Mulya Banjarmasin Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC Who Http://repository. diperoleh tgl 15 maret 2021 jam Yogyakarta: Graha Ilmu Muscary. p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 47 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 48 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 49 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 2