Vol. No. September 2024 e-ISSN 2723-0120 p-ISSN x-x ANALISIS PENGARUH STRES KERJA DAN KEPUASAN KERJA DENGAN INTENTION TO STAY SEBAGAI PEMEDIASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. GIORDANO INDONESIA Melani Citra Dewi1*. Heru Mulyanto2 Universitas Ipwija. Jakarta. Indonesia melanicitradewi1@gmail. Abstrak Setiap perusahaan memfokuskan tercapainya tujuan perusahaan, perusahaan juga harus bisa menghadapi perubahan lingkungan yang cepat agar tetap dapat bertahan dalam persaingan pasar yang semakin ketat. Adanya sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kompetensi sudah menjadi suatu keharusan agar perusahaan dapat memiliki kinerja yang lebih baik. Menurut beberapa pandangan stress kerja dan kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja suatu perusahaan. Serta kebaruan dalam penelitian ini yang menjadikan satu variable mediasi yaitu intention to stay juga mempengaruhi kinerja karyawan. Namun dalam beberapa penelitian, menunjukan hasil yang berbedabeda. Adanya perbedaan antar pandangan dengan hasil penelitian, serta adanya research gap diantara satu penelitian dengan penelitian yang lain, maka penulis bermaksud meneliti keterkaitan antara kompensasi dan budaya organisasi dalam mempengaruhi kinerja karyawan. Variabel yang digunakan penelitian ini adalah stress kerja (X. dan kepuasan kerja (X. , dan variable mediasi intention to stay (Z) serta variabel terikat dalam penelitian ini adalah kinerja karyawan (Y). Sampel dalam penelitan ini merupakan kayawan yang bekerja di PT. GIORDANO INDONESIA yang berjumlah 102 orang, dan populasi yang didapat sebanyak 137 orang. Teknik pengambilan sampel dengan rumus slovin. Pengumpulan data menggunakan angket/kuesioner,Uji validitas instrument menggunakan Pearson Correlation dan uji reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha. Hasil penelitian ini akan menunjukan bahwa : di dalam uji t variabel independen secara parsial mempengaruhi variabel dependen. Dan dalam uji f variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Dan variable independent melalui variable mediasi secara parsial mempengaruhi variable dependen. Kata kunci: Stress Kerja. Kepuasan Kerja. Intention to Stay. Kinerja Karyawan Abstract Every company focuses on achieving company goals, companies must also be able to deal with rapid environmental changes so that they can survive in increasingly fierce market competition. The existence of qualified and competent human resources has become a necessity so that companies can have better performance. According to some views, job stress and job satisfaction affect the performance of a company. As well as the novelty in this study which makes a mediating variable, namely the intention to stay, also affect employee performance. However, several studies have shown different results. There are differences between views and research results, as well as research gaps between one study and another, the authors intend to examine the relationship between compensation and organizational culture in influencing employee performance. The variables used in this research are job stress (X. and job satisfaction (X. , and the mediating variable is intention to stay (Z) and the dependent variable in this study is employee performance (Y). The sample in this research is employees who work at PT. GIORDANO INDONESIA, totaling 102 people, and the population obtained is 137 Sampling technique using the slovin formula, data collection using a questionnaire, testing the validity of the instrument using Pearson Correlation and reliability testing using Cronbach Alpha. The results of this study will show that: in the t test the independent variables partially affect the dependent And in the independent variable f test simultaneously has a significant effect on the dependent And the independent variable through the mediating variable partially affects the dependent Keywords: Job Stress. Job Satisfaction. Intention to Stay. Employee Performance PENDAHULUAN Bisnis fashion merupakan segmen bisnis yang setiap tahunnya berkembang sangat Saat ini setiap orang meminati fashion dan fashion menjadi gaya hidup, dapat dilihat begitu banyak fashion yang berkembang dan bermunculan dari berbagai kategori baik untuk Copyright A 2024 pada penulis Melani Citra Dewi, et al. Analisis Pengaruh Stres Kerja. Hal: 303-318 orang tua, remaja bahkan untuk anak balita sekalipun. Banyak sekali orang yang ingin tampil berbeda dan menarik dengan setiap orang lain tentunya dalam pergaulan mereka, oleh karena itu penampilan berpenampilan yang menarik sangat dan perlu diperhatikan. Sehingga persaingan pasar dalam dunia fashion dan store-store yang bermunculan banyak terjadi saat ini bisa disebutkan beberapa merek internasional seperti Giordano. Pull and Bear. Uniqlo. Guess. H&M, juga merek local seperti. Hammer. The executive dan sebagainya. Bisa dibilang semua itu brand yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Dengan berkaitan hal itu juga harus di dukung oleh SDM atau sumber daya manuasia yang handal dan berpotensi dalam bidangnya yang mempunyai kinerja dan loyalitas yang tinggi jug adedikasi terhadap kelangsungan bisnis di perusahaan retail. Sumber daya manusai memiliki peranan yang sangat penting daam pengelolaan perusahaan terutama bisnis, karena membutuhkan pengelolaan pengetahuan keterampilan baik soft skill ataupun hard skill dalam hal memanajerial dan sekaligus kepekaan terhadap peluang supaya memiliki kompetensi untuk Hal ini dapat dilihat pada perubahan trend, pentinganya sdm mempengaruhi kelangsungan perusahaan terutama bisis karena untuk tujuan dan harapan yang sama agar perusahaan tetap berkembang. Store yang mulai berkembang saat ini salah satunya yaitu PT. Giordano Indonesia. PT. Giordano Indonesia merupakan perusahaan pakaian kasual untuk pria, wanita bahkan anak-anak dari Hongkong. Diantara seluruh brand-brand besar yang terdapat di Indonesia ataupun Internasioanl dapat dibilang brand Giordano ini menjadi salahsatu fashion yang tetap berdiri kokoh sejak tahun 1981 yang mempunyai 1500 gerai dengan 8000 pegawai yang tersebar di 31 negara, walaupun beberapa kali kerap mengalamai guncangan dalam bisnis fashion seperti krisis monetere 1998, pandemic 2 tahun lalu. Berikut ini adalah salah satu penjualan per quantity di salah satu store Giordano di Indonesia Mall Ciputra Cibubur yang di ambil pada periode Februari sampai April 2023. Tabel 1. Fenomena Tahun Jumlah Karyawan stay Februari 2023 Maret 2023 April 2023 Jika dilihat pada table tersebut dari 3 bulan, dari bulan februari Ae April terdapat 8 karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan. Hal ini menjadi isu dan topik dalam kinerja karyawan yang menurun. Denangnp pengunduran diri dari 8 orang tersebut dapat dikatakan bahwa kinerja karyawan pada perusahaan mengalami penurunan dari berbagai faktor yang dialami karyawan selama 3 bulan berturut Ae turut. Dan kuat dugaan juga bisa dengan adanya tekanan dalam pekerjaan. Tabel 1. Data Empiris performance sales salah satu store PT. GIORDANO INDONESIA (Mall Ciputra Cibubu. dan performance sales PT. GIORDANO INDONESIA selama 3 bulan Bulan Target Achievement 2023 % Achievement 2022 Compare Februari Maret -4,8 April -22,3 Total -10,0 Bulan Target Overall Februari Tax and Business Journal Achievement Total kekurangan dari target Jurnal Pajak dan Bisnis Volume 5. Nomor 2. Tahun 2024 Maret April Total Bisa dilihat pada table 1. target pada salah satu store PT. GIORDANO INDONESIA selama 3 bulan kebelakang di Mall Ciputra Cibubur yang tidak bisa mencapai target dari target yang di planning oleh RSM. Jika di compare ke 2022 hanya 1 bulan saja yang increase secara Target 2023 yang di setting cukup besar, namun untuk traffic mall tahun 2023 tidak sesuai ekspektasi seperti tahun 2022 sehingga membuat tidak achievement target. Table 1. target dan pencapaian overall pada PT. GIORDANO INDONESIA selama 3 bulan berturut -turut mengalami tidak tercapainya target yang telah di planning. Dengan adanya kasus ini, membuat staff stress dalam bekerja karena semakin banyak tuntutan dan complain untuk bisa memberikan kontribusi pencapaian target yang lebih maksimal di bulan berikutnya. Stress yang berlebih berakibat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Hasilnya, gejala stress pada diri karyawan berkembang dan dapat mengganggu kinerja kerja Stress kerja juga akan mempengaruhi psikis dan fisik serta kinerja karyawan karena keadaan yang dihadapi yaitu target yang besar dan tidak tercapai memberikan ketegangan dan perubahan perilaku pada karyawan dan juga berpengaruh kepuasan pada hasil yang didapat saat bekerja. Dalam penelitian ini penulis memilih PT. GIORDANO INDONESIA sebagai objek penelitian, karena fenomena pada PT. GIORDANO INDONESIA selaras dengan topik yang peneliti akan ambil dengan menunjukan hasil kinerja karyawan pada PT. GIORDANO INDONESIA yang menurun. Dapat dilihat pada dibawah yang menyebutkan hasil observasi yang dilakukan 38 karyawan PT. GIORDANO INDONESIA. Karyawan yang menjadi responden diperbolehkan menjawab 3 faktor tersebut yang akan mempengaruhi kinerja karyawan Tabel 1. Data Prasurvey Faktor yang Mempengaruhi Jawaban Presentase Stress Kerja 28,94% Kepuasan Kerja 23,68% Intention to Stay 15,78% Manajemen Kepemimpinan 2,63% Lingkungan Kerja 2,63% Jenjang Karir 2,63% Kompensasi 10,52% Jobdesk 5,26% Motivasi Kerja 7,89% Terlihat dari data hasil presurvey tersebut, bahwa 3 faktor mendapat jawaban lebih banyak adalah Stress Kerja. Kepuasan Kerja, dan Intention to Stay, yaitu masing-masing sebesar 28,94%, 23,68% dan sebesar 15,78%. Ada 12 karyawan yang menjawab factor yang berbeda yaitu, manajemen kepemimpinan . ,63%), lingkungan kerja . ,63%), jenjang karir . ,63%), kompensasi . ,52%), jobdesk . ,26%) dan motivasi kerja . ,89%) yang juga dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Namun peneliti disini menyimpulkan untuk mengambil 3 faktor yang mendapat jawaban lebih banyak dari 9 faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan, yaitu Stress Kerja. Kepuasan Kerja, dan Intention to Stay. Untuk 6 faktor yang mendapat jawaban sedikit peneliti tidak mengikut sertakan dalam penelitian ini. Berdasarkan data diatas, dapat diketahu kinerja karyawan pada PT. GIORDANO INDONESIA sangat menutun dan kurang maksimal karena 3 faktor, yakni Stress kerja. Copyright A 2024 pada penulis Melani Citra Dewi, et al. Analisis Pengaruh Stres Kerja. Hal: 303-318 Kepuasan Kerja, dan Intention to Stay. Stres kerja yang dialami setiap karyawan adalah salah satu factor yang dianggap dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Stress kerja yang dialami karyawan pada PT. GIORDANO INDONESIA ini dikarenakan 3 bulan kebelakang tidak bisa mencapai target penjualan yang telah di planning sebelumnya. Ada perbedaan hasil dari beberapa penelitian pendahulu yang terkait dengan variable stress kerja dan kinerja karyawan, yang sangat menarik peneliti untuk meneliti variable stress kerja terhadap pkinerja karyawan yang merupakan salah satu factor utama dalam mempengaruhi kinerja karyawan di perusahaan. Berikut 2 penelitian terkait stress kerj aterhadap kinerja karyawan dengan hasil penemuan yang konsisten dan tidak sejalan: Table 1. Gap Penelitian Stress Kerja Peneliti. Thn Isu Hasil (Valendra Y. Stress Kerja dan Lingkungan Stress kerja berpengaruh Kerja Terhadap Kinerja positif terhadap kinerja Karyawan (Hartono J. Stres Kerja. Kepuasan Kerja. Stress kerja berpengaruh Kinerja Karyawan negative terhadap kinerja Berdasarkan table search gap diatas, penelitian (Valendra Y, 2. mendapatkan hasil dari penelitian kedua variable (Stress kerja dan Lingkungan Kerj. saling mempengaruhi kinerja karyawan. Peneliti menyimpulkan dalam penelitian tersebut bahawa Stres kerja mempengaruhi kinerja karyawan. Sedangkan, (Hartono J, 2. hasil penelitian adanya pengaruuh negative dan signifikan stress kerja terhadap kinerja karyawan. Gap penelitian diatas menunjukkan bahwa masih terbuka cukup besar peluang untuk meneliti dan menelaah stress kerja pada kinerja karyawan. Dapat dilihat pada penelitian sebelumnya kinerja tidak dipengaruhi oleh stress kerja secara tidak langsung dapat mempengaruhi melalui penguhubung diantaranya. Maka dari itu penelitian ini menambahkan intention to stay. Dimana intention to stay merupakan niat untuk tetap bertahan pada pekerjaannya saat ini. Dan peneliti menyimpulkan bahwa intention to stay merupakan penghubung dan pemediasi antara stress kerja terhadap kinerja karyawan dan faktor berikutnya yang terkait dengan kinerja karyawan. intention to stay bisa dikatakan berpengaruh terhadap kinerja karyawan, saat ini permasalahan pada tingginya tingkat intensi keluar menjadi masalah yang sangat serius bagi banyak perusahaan. Jika terjadi tingginya nilai intensi keluar maka akan berdampak bagi kinerja karyawan. Di penelitian ini Intention To Stay menjadi variable mediasi dari kedua fakto stress kerja dan faktor berikutnya, dimana intention to stay merupakan keinginan karyawan untuk tetap bertahan. Dapat dikatakan bawah stress kerja merupakan salah factor penting yang dapat menyebabkan naik turunnya kinerja karyawan. Stress kerja juga merupakan satu penghambat dalam kinerja karyawan. Stress pada karyawan akan berdampak negative pada kinerjanya. Karyawan mengalami hambatan dalam berfikir gingga terganggunya kesehatan apabila beban yang dirasakan karyawan terlalu berat. Perusahaan akan mengalami kerugian jika karyawan mengalami stress yang terlalu lama. Stress yang terlau lama mengakibatkan terjadinya karyawan ingin keluar dari perusahaan hingga dapat menimbulkan kerugian perusahaan memang adakalanya keluar masuknya karyawan berdampaka positif naun akan lebih banya kerugian yang di dapat Kedua penelitian tersebut terdapat perbedaan bahwa stress kerja dapat mempengaruhi kinerja karyawan dan juga bisa negative terhadap kinerja karyawan. Jika seorang karyawan mengalami stress kerja, secara spontan dapat berpengaruh terhadap hasil kerja atau kinerja dan kepuasan kerjanya, serta mengakibatkan adanya keinginan agar tetap Sehingga harus dilakukan peningkatan mutu organisasional bagi karyawan oleh manajemen atau perusahaan. Dengan menunjang kepuasan kerja karyawan merupakan Upaya dalam meningkatkan kinerja karyawan. Kepuasan kerja menjadi fakta yang juga dapat mempengaruhi kinerja karyawan pada PT. GIORDANO INDONESIA. Disebabkan dari stress kerja yang mengalamai Tax and Business Journal Jurnal Pajak dan Bisnis Volume 5. Nomor 2. Tahun 2024 besarnya target penjualan dan tidak tercapainya target penjualan tersebut selama 3 bulan berturut-turut, kepuasan kerja dari hasil yang di dapat juga tidak maksimal. Menurut (Purba D, 2. kepuasan kerja cerminan perasaan pegawai terhadap pekerjaanya. (Alfian N, 2. , kepuasan kerja dapat meningkatakan performa karyawan, jika kepuasan kerja yang terlalu buruk mengakibatka karyawan sering keluar masuk dan tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup panjang di perusahaan. Mendapatkan hasil kerja yang optimal juga merupakan salah satu factor penting dalam kepuasan kerja. Ketika seseorang merasa puas dalam bekerja, seseorang itu akan berupaya dengan segenap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas pekerjannya. Kemudian, hasil kerja akan meningkat secara optimanl dan produktivitas. Terlihat dari sikap karyawan dan segala sesuatu di lingkungan kerja mencerminkan kepuasan kerja dengan perasaan seseorang terhadap pekerjaanya. Arti penting kepuasan kerja juga di definisiakn sebagai aktualisasi diri Diman karyawan mendapatkan kepuasan kerja yang baik dengan mempunyai catatan kehadiran, perputaran kerja dan prestasi kerja yang baik disbanding karyawan yang tidak mendapat kepuasan kerja. Dapat diartikan juga kepuasan kerja untuk memberikan situasi yang kondusif dilingkungan perusahaan. Dimana, karyawan maupun perusahaan akan diamati dari manfaat yang didapat, bagi karyawan yang akan diteliti tentang sebab dan sumber kepuasan kerja yang didapat, serta usaha yang dapat meningktakan kepuasan karyawan. Sedangkan bagi perusahaan dapat di teliti dengan tercapainya tujuan perusahaan. Pada table 1. Kepuasan kerja mendapatkan 9 Jawaban dengan hasil 23,68%. Pada PT. GIORDANO INDONESIA terjadinya penurunan kepuasan dikarenakan adanya stress kerja yang berlebih, semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan karyawan maka akan semakin rendah stress kerja yang dirasakan karyawan, begitu sebaliknya semakin menurunnya tingkat kepuasan kerja yang dirasakan karyawan, maka akan semakin tinggi stress kerja yang dirasakan karyawan. Kepuasan kerja yang tinggi dapat memberikan dampak positif terhadap perusahaan atau organisasi seperti, meningkatnya profit perusahaan, meningkatnya produktivitas karyawan dan efisiensi. Penurunan tingakt turnover rate atau perputaran karyawan dan meningkatanya loyalitas karyawan yang mengarah pada Intention to Stay terhadap perusahaan lebih besar. Kepuasan kerja menjadi acuan meningkatnya karyawan untuk tetap bertahan. Berdasarkan hasil prasurvey pada table 1. variable intention to stay mendapat jawaban 6 karyawan dengan persentase 15,78%, setiap karyawan jika merasa puas atas hasil kerja kemungkinan besar keinginan untuk tetap bertahan akan jauh lebih tinggi, namun sebaliknya ketika karyawan mengalami stress kerja dan mempenagruhi kepuasan kerja maka keinginan untuk tetap bertahan akan mengalami intention turnover. Pada PT. GIORDANO INDONESIA ini tercatat 8 karyawan PT. GIORDANO INDONESIA mengundurkan diri di periode bulan April Ae Mei. Karena adanya tuntutan target penjualan 3 bulan yang tinggi, beberapa karyawan mengalami stress dalam bekerja untuk mengatur strategi ulang yang dapat menyebabkan penurunan kinerja pada karyawan itu sendiri. Setipa karyawan terdapat kemampuan SDM yang berbeda-beda, termasuk pada karyawan PT. GIORDANO INDONESIA. Hal tersebut menyebakan target baik individual atau overall tidak tercapai sesuai ekspektasi yang diharapkan maka terjadi stress kerja karyawan yang berlebih dan menurunkan kepuasan kerja karyawan itu sendiri, yang kemudian menyebabkan keinginan untuk tetap bertahan akan hilang dan mengakibatkan kinerja karyawan pada perusahaan akan bermasalah atau Sebagian besar perusahaan menyadari betapa pentingnya sumber daya manusia bagi bisnis mereka, oleh karena itu intention to stay perlu diperhatikan oleh perusahaan. Upaya mempertahankan karyawan berkaitan denga niat untuk tetap tinggal di organisasi, maka perusahaan mampu menciptakan okondisi karyawan dihargai dan dianggap sebagai bagian penting dari suatu organisasi (Santoso A, 2. Menurun dan meningkatnya kinerja karyawan pada suatu organisasi sangat berhubungan pada keinginan setiap pegawai untuk tetap bekerja Copyright A 2024 pada penulis Melani Citra Dewi, et al. Analisis Pengaruh Stres Kerja. Hal: 303-318 pada organisasi (Dewi A, 2. Dengan bertahannya pegawai, akan memicu peningkatan dari kualitas kinerja setiap pegawai. (Khoirunnisa, 2. dengan judul AuPengaruh Stress Kerja dan Kepuasan Kerja terhadap Intention to Stay dengan Worklife balance sebagai variable interveningAy. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa berpengaruh negative dan signifikan stress kerja terhadap worklife balance sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima. Adanya pengaruh posotof dan signifikan kepuasan kerja terhadapa worklife balance, maka H2 diterima. Terdapat pengaruh negative dan signifikan stress kerja terhadap intention to stay H3 diterima. Terdapat pengaruh positif dan signifikan kepuasan kerja terhadap intentio to stay H4 di terima. Pada penelitian sebelumnya, (Dewi C, 2. AuPengaruh Stress Kerja dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada bagian tenaga penjualana UD Surya Raditya NegaraAy. Dengan hasil penelitian, menyatakan stress kerja dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan terdapat pengaruh positif dan signifikan, terdapat hubungan negative dan signifikan stress kerja dan kepuasan kerja karyawan, stress kerja terhadap pkinerja karyawan terdapat pengaruh negative dan signifikan, dan adanya pengaruh positif dan signifikan kepuasan kerja karyawan terhadap pada bagian tenaga penjualan UD surya Raditya Negara. Dalam kajian Hartono (Jat, 2. AuPengaruh Stress Kerja dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja KaryawanAy dengan hasil penelitian menyatakan bahwa stress kerja berpengaruh negative dan signifikan terhadap kienrja karyawan dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan pada Telkom Witel Jakarta Utara berpengaruh positif dan signifikan. (Zaenal A, 2. AuPengaruh Karakteristik Individu. Stress kerja. Kepercayaan Organisasional terhadap Intention to stay melalui Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi Studi pada Dosen tetap Yayasan PTS MakassarAy. Memiliki hipotesis positif dan siginifikan: karakteristik individu berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Keyakinan organisasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja, karakteristik individu berpengaruh terhadap komitmen organisasi, stress kerja berpengaruh terhadap komitmen organisasi, kepuasan kerja berpengaruh terhadap komitmen organisasi, kepuasan kerja terhadap niat bertahan, dan komitmen organisasi berpengaruh terhadap niat bertahan. Hipotesis yang tidak berpengaruh positif dan signifikan yaitu : . Stress kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja, dan . keyakinan organisasi berpengaruh terhadap komitmen organisasi. Berdasarkan paparan yang telah diurakan dalam penelitian ini, peneliti menarik variable mediasi dalam penelitian ini yang menjadi kebaruan dari penelitian terdahulu dengan Intention to Stay yang menjadi variable intervening. Maka peneliti tertarik untuk membahas dan meneliti tema in dengan memilih judulu penelitian AuAnalisis Pengaruh Stress Kerja Dan Kepuasan Kerja Dengan Intention to Stay sebagai Pemediasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. GIORDANO INDONESIAAy. METODE Dalam penelitian ini, yang berfokus pada analisis pengaruh stres kerja dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan dengan perantara intention to stay, digunakan desain penelitian kuantitatif asosiatif kausal. Penelitian dilaksanakan di PT. Giordano Indonesia yang terletak di Kelapa Gading. Jakarta, dengan durasi sembilan bulan mulai dari April hingga Januari tahun berikutnya. Penelitian mengadopsi model struktural dengan lima variabel yang dibagi menjadi variabel exogen . tres kerja dan kepuasan kerj. dan variabel endogen . ntention to stay dan kinerja karyawa. Operasionalisasi variabel dalam penelitian melibatkan penggunaan skala interval untuk mengukur indikator dari masing-masing variabel. Data primer dikumpulkan melalui survei kuesioner yang disebar ke 102 karyawan, sementara data sekunder diperoleh dari sumbersumber yang relevan seperti jurnal dan literatur. Analisis data dilakukan menggunakan teknik Partial Least Square (PLS) dengan perangkat lunak SmartPLS, yang diawali dengan uji validitas dan reliabilitas instrumen. Tax and Business Journal Jurnal Pajak dan Bisnis Volume 5. Nomor 2. Tahun 2024 Pengujian model dilakukan melalui evaluasi R Square untuk variabel laten endogen. SRMR, dan F2 untuk menilai kelayakan model. Hipotesis diuji menggunakan uji-t dengan tingkat signifikansi yang ditetapkan pada 0,05 untuk menentukan ada tidaknya pengaruh signifikan antar variabel. Proses penelitian ini bertujuan untuk menyediakan bukti empiris tentang dinamika internal karyawan dan implikasinya terhadap kinerja di lingkungan kerja. HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi Model Structural R-square pada variable dependen, dalam menilai model dengan PLS Ae SEM, peneliti dapat memulai untuk mengecek nilai R-Square bagi setiap variabel dependen. Interpretasinya R Square dalam PLS SEM sama dengan interpretasi pada regresi pada umumnya yang memaknai kemampuan variabel. Hasil R-Square menunjukkan indikasi baik sebesar 0,67. (Ayatulloh Michael Musyaffi, 2021, p. Adapun hasil dari R-Square adalah sebagai berikut: Tabel 4. 9 Hasil R-Square Variabel R Square Kinerja Karyawan Intention To Stay Berdasarkan tabel 4. 9 terkait hasil R Sqaure menjelaskan bahwa variabel kinerja karyawan dan intention to stay memperoleh nilai R-square adalah sebesar 0,991. Yang artinya antara variable yaitu sangat kuat. Gambar 4. Model Penelitian PLS Pengujian Hipotesis Copyright A 2024 pada penulis Melani Citra Dewi, et al. Analisis Pengaruh Stres Kerja. Hal: 303-318 Gambar Model Penelitian PLS Uji signifikan diketahui dapat dilihat nilat t-statistics dan p-values jika suatu hipoteisi diterima atau ditolak. Uji hipotesi akan dinyatakn doterima apabila nilai t-statistics >1,64 dengan p-values <0,05. T-statistics dan p-values diperoleh hasil dari SmartPLS dengan menggunakan metode Bootstrapping. Direct Effect Tabel 4. 10 Hasil Uji Direct Effect Hipotesis Variabel Original T-Statistic P-Value Keterangan Sample Uji Hipotesis 1 Stress Kerja (X. Ie 0,938 Diterima Kinerja Karyawan (Y) Uji Hipotesis 2 Stress Kerja (X. 0,942 Diterima IeIntention to Stay (Z) Uji Hipotesis 3 Kepuasan Kerja (X. 0,057 Diterima Ie Kinerja Karyawan (Y) Uji Hipotesis 4 Kepuasan Kerja (X. 0,058 Diterima Ie Intention to Stay (Z) Uji Hipotesis 5 Intention to Stay (Z) 0,995 Diterima Ie Kinerja Karyawan (Y) Uji Hipotesis 1 Berdasarkan table 4. menjelaskan bahwa hipotesis variabel Stress Kerja (X. melalui Intention to Stay (Z) terhadap Kinerja Karyawan (Y) diterima. Hal ini dibuktikan nilai T-Statistic . > 1,659 dan P-Values . < 0,05. Maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa Stress kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan melalui intention to stay. Uji Hipotesis 2 Berdasarkan table 4. menjelaskan bahwa nilai P-Value sebesar 0,000 < 0,05 dan TStatistics sebesar 31. 205 > 1,64, maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa Stress kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Intention to Stay. Uji Hipotesis 3 Tax and Business Journal Jurnal Pajak dan Bisnis Volume 5. Nomor 2. Tahun 2024 Berdasarkan table 4. menjelaskan bahwa hipotesis Kepuasan Kerja (X. melalui Intention to Stay (Z) terhadap Kinerja Karyawan (Y) diterima. Hal ini dibuktikan dengan nilai T-Statistic . > 1,659 dan P-Values . <0,05. Maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa Kepuasan kerja memilki pengaru positis dan signifikan terhadap kinerja karyawan melalui intention to stay. Uji Hipotesis 4 Berdasarkan table 4. menjelaskan bahwa nilai P-Value sebesar 0,034 < `0,05 dan TStatistic sebesar 1. 842 > 1,64, maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa Kepuasan Kerja memiliki penegaruh positif dan signifikan terhadap Intention to Stay. Uji Hipotesi 5 Berdasarkan tabel 4. menjelaskan bahwa nilai P-Value sebesar 0,000 < 0,05 dan TStatistic sebesar 424. 250 > 1,64, maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa Intention to Stay memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Karyawan. Indirect Effect Indirect Effect biasa disebut dengan dampak bundaran dalam penelitian. Backhanded Impact bermaksud untuk memecah area kekuatan yang serius untuk seberapa besar dampak suatu variabel pada berbagai faktor antara eksogen dan endogen. Faktor-faktor yang menghasilkan hasil backhanded ini diharapkan menjadi faktor penengah atau mediasi. Variable yang mempengaruhi hubungan faktor bebas dengan bawahan merupak varibel Adapun hasil Indirect Effect pada penelitian ini sebagi berikut : Tabel 4. 11 Hasil Uji Indirect Effect Hipotesis Variabel Original T-Statistic P-Value Keterangan Sample Uji Hipotesis 6 Stress Kerja (X. 0,938 Diterima IeIntention Stay (Z) Ie Kinerja Karyawan (Y) Uji Hipotesis 7 Kepuasan Kerja 0,057 Diterima (X. Ie Intention to Stay (Z) Ie Kinerja Karyawan (Y) Uji Hipotesis 6 Berdasarkan table 4. menjelaskan bahwa hipotesis variabel Stress Kerja (X. melalui Intention to Stay (Z) terhadap Kinerja Karyawan (Y) diterima. Hal ini dibuktikan nilai T-Statistic . > 1,659 dan P-Values . < 0,05. Maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa Stress kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan melalui intention to stay. Uji Hipotesis 7 Berdasarkan table 4. menjelaskan bahwa hipotesis Kepuasan Kerja (X. melalui Intention to Stay (Z) terhadap Kinerja Karyawan (Y) diterima. Hal ini dibuktikan dengan nilai T-Statistic . > 1,659 dan P-Values . < 0,05. Maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa Kepuasan kerja memilki pengaru positis dan signifikan terhadap kinerja karyawan melalui intention to stay. PEMBAHASAN Pengaruh Stress Kerja terhadap Kinerja Karyawan Stress kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Hasil ini menunjukkan bahwa stress kerja dapat diterapkan pada karyawan, karena dengan adanya stress kerja Copyright A 2024 pada penulis Melani Citra Dewi, et al. Analisis Pengaruh Stres Kerja. Hal: 303-318 karyawan di perusahaan tersebut dapat meningkatkan disiplin dalam memberikan pelayanan pada konsumen sesuai dengan aturan disiplin perusahaan, karena perusahaan mengharapkan adanya kinerja karyawan yang lebih tinggi untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen agar konsumen lebih tertarik untuk datang kembali ke perusahaan. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya (Wartono, 2. dimana terdapat pengaruh yang signifikan yang sangat kuat atau positif antara stres kerja terhadap kinerja Hasil penelitian (Dewi C, 2. bahwa stress kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan melalui intention to stay. Beberapa hal diatas dapat disebutkan adanya pengaruh yang negative, dapat dikatakan stress kerja berpengaruh pada hasil akhir dimana jika karyawan mengalami stress kerja kinerja juga akan menurun dan stress yang berlebih kemungkinan besar niat untuk tetap tinggal akan berubah menjadi niat untuk keluar, begitu sebaliknya apabila seseorang mengalami stress kerja ringan, kinerja tidak sepenuhnya akan menurun da niat untuk tetap bertahan masih ada walau sedikit. Dalam penelitian ini stress kerja yang diperlukan kinerja karyawan yang mempunyai dedikasi dan disiplin yang tinggi terhadap perusahaan, karena dengan adanya tekanan dari perusahaan tersebut akan membawa dampak positif terhadap kinerja karyawan. Pengaruh Stress Kerja terhadap Intention to Stay Stress kerja memiliki pengaruh terhadap intention to stay dengan arah positif dan Stress kerja meningkatkan rangsangan, stress kerja juga dapat meingkatkan motivasi diri untuk lebih keras lagi dalam bekerja, dengan seperti itu menimbulkan keinginan karyawan untuk tetap tinggal. Hasil penelitin ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya (Adzani A, 2. pengaruh stress kerja (SK) terhadap variable intention to stay (ITS) memiliki pengaruh berlawanan atau negative artinya ketika karyawan merasa stress kerjanya tinggi maka keinginan karyawan untuk tetap bertahan akan menurun. Hasil penelitian (Zaenal A, 2. stress kerja memiliki pengaruh negative dan signifikan terhadap intention to stay. Dimana bahwasannya stress kerja sangat mempengaruhi kesehatan mental karyawan. Karyawan merupakan asset yang harus dijaga oleh perusahaan. Dalam penelitian ini stress kerja sangat diperlukan untuk dapat mempertahankan Stress kerja perlu diberikan kepada karyawan dengan menambah tekanan Stress kerja juga dapat dilakukan dengan tekanan emosional di berikan pada karyawan untuk menguji apakah dapat bertanggung jawab secara profesional atas Terkadang perusahaan memberikan tugas diluar kemampuan karyawan, untuk mengetahui seberapa layak dan kuat kemampuan karyawan tersebut untuk organisasi. Dan perusahaan memberikan deadline pekerjaan, untuk mengukur sebarapa cepat dan tanggap karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan itu. Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan Kepuasan terhadap kinerja karyawan bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa kepuasan kerja harus diberikan atau diterapkan pada karyawan, dengan adanya kepuasan kerja maka akan dapat meningkatkan kinerja karyawan, apabila karyawan merasa puas dalam menjalankan tugasnya dan berbagai faktor lain yang diberikan perusahaan maka karyawan akan termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya. Sejalan dengan penelitian (Maditiya, 2. bahwa berpengaruh positif dan signifikan kepuasan kerja terhadap kinerja melalui intention to stay. dan sejalan dengan penelitian (Hartono J, 2. bahwa berpengaruh posotof dan signifikan kepuasan kerja melalui intention to stay. Dapat disimpulkan bahwa kepuasan tercermin dalam prestasi kerja, moral kerja yang akan dinikmati dalam pekerjaan maupun luar kerja. Dalam hal itu kepuasn dapat memepengaruhi kinerja apabila karyawan merasakan keadilan dalam bekerja, maka kepuasan akan meningkat dan mempengaruhi kinerja dengan ia akan tetap tinggal pada perusahaan, begitu sebaliknya jika karyawan tidak merasakan keadilan, kepauasan akan menurun dan kinerja tidak maksimal sehingga niat untuk tetep bertahan pada perusahaan sangat kecil. Tax and Business Journal Jurnal Pajak dan Bisnis Volume 5. Nomor 2. Tahun 2024 Kepuasan kerja yang diperlukan dalam kinerja karyawan dengan intention to stay sebagai mediasinya dapat dilakukan dengan melakukan hubungan kerja yang baik, antar karyawan maupun atasan dalam hal pekerjaan, dimana karyawan mendapatakan hubungan kerja yang baik sesuai dengan karyawan harapkan. Hubungan kerja yang baik tentunya karyawan juga akan merasa lebih puas dalam bekerja. Pengaruh Kepuasan kerja terhadap Intention to stay Kepuasan kerja memiliki pengaruh terhadap intention to stay dengan arah positif dan Semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan maka karyawan akan memilih tetap bertahan pada oraganisasi. Dengan karyawan memiliki kepuasan kerja yang tinggi, cenderung akan lebih memilki kepedulian terhadap organisasi yang ada didalamnya. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya (Monica D, 2. dengan hasil menunjukkan bahwa kepuasan berpengaruh positif terhadap intention to stay. Sehinggan dapat dikatakan bahwa variable kepuasan berpengaruh secara signifikan terhadap intention to stay. Sejalan dengan penelitian (Tantrianto Y, 2. kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap intention to stay. Dengan adanya rasa kepuasan dalam bekerja maka karyawan akan menampilkan pribadi yang baik dalam perusahaan termasuk timbulnya kesediaan untuk tetap bertahan dan mengusahakan produktifitas yang lebih. Dalam penelitian ini bahwa kepuasan kerja sangat diperlukan dalam menjaga karyawannya agar tetap bertahan dalam organisasi. Dengan adanya kepuasan yang diberikan perusahaan karyawan akan merasa sangat dihargai dan meningkatkan niat intention to stay dalam organisasi. Kepuasan kerja dapat dilakukan dari beberapa indikator seperti memberikan ketenangan dalam bekerja. Dengan diberikannya situasi kerja dalam artian situasi kerja yang nyaman, karyawan merasa sangat dihargai dan merasa layak untuk bertahan dalam perusahaan karena memenuhi beberapa hal yang memudahkan mereka dalam menjalankan pekerjaannya, sehingga membentuk rasa atau niat ingin tetap bertahan dalam organisasi atau intention to stay. Pengaruh intention to Stay terhadap Kinerja Karyawan Intention to stay berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Intention to stay yang semakin tinggi dapat menambah kinerja karyawan yang lebih baik dan berkualitas. Keingina karyawan untuk tetap bertahan meningkatkan semua aspek dalam perusahaan, termasuk hasil kerja karyawan itu sendir yang nantinya akan mencapai tujuan organisasi. Hal ini sejalan dengan penelitian (Lukito, 2. dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa signifikan intention to stay (X. berpengaruh terhadap kinerja karyawan (Y). sejalan dengan penelitian (Fahmi H. , 2022. Ahmad Y, 2019. Putr, 2. bahwa intention to stay berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Maka dari itu jika dilihat dari hasil intention to stay yang sangat berpengaruh terhadap kinerja, dimana jika karyawan ingin tetap tinggal maka ada harapan besar bagi perusahaan kepada karyawan untuk mencapai tujuan perusahaan yang akan tetap dijalai oleh karyawan dan pastinya kinerja karyawan juga akan jauh lebih meningkat jika terciptanya keinginan untuk tetap bertahan. Intention to stay sangat diperlukan untuk kinerja karyawan, agar visi dan misi organisasi itu akan tercapai. Intention to stay dapat diberikan kesempatan pengembangan dan Salah satunya pengembangan karir, karyawan akan bertahan dalam organisasi, untuk berlomba-lomba secara sehat mencapai posisi yang karyawan itu mau. Pengaruh Stress Kerja terhadap Kinerja Karyawan melalui Intention to stay Stress kerja meliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan melalui mediasi intention to stay. Disampaikan dalam hasil ini bahwa stress kerja harus diberikan atau diterapkan pada karyawan, dengan adanya stress kerja dapat mengetahui dengan melalui intention to stay apakah kinerja karyawan jauh lebih meningkat atau tidaknya. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya (Khoirunnisa, 2. dimana terdapat pengaruh negative stress kerja terhadap kinerja karyawan melalui intention to stay. Hasil penelitian (Dewi C, 2. bahwa stress kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan melalui intention to stay. Beberapa hal diatas dapat disebutkan adanya pengaruh yang negative, dapat Copyright A 2024 pada penulis Melani Citra Dewi, et al. Analisis Pengaruh Stres Kerja. Hal: 303-318 dikatakan stress kerja berpengaruh pada hasil akhir dimana jika karyawan mengalami stress kerja kinerja juga akan menurun dan stress yang berlebih kemungkinan besar niat untuk tetap tinggal akan berubah menjadi niat untuk keluar, begitu sebaliknya apabila seseorang mengalami stress kerja ringan, kinerja tidak sepenuhnya akan menurun da niat untuk tetap bertahan masih ada walau sedikit. Dalam peneiltian ini stress kerja yang diperlukan dalam kinerja karyawan dengan intention to stay sebagai mediasinya dapat tekanan emosional terhadap karyawan, dimana karyawan mendapat challenge dengan diberikan tugas dengan waktu yang singkat atau deadline yang dapat berkaitan dengan emosional karyawan akan lebih professional atau Karyawan akan tergesa-gesa dengan tugas deadline itu, agar dapat mengetahui bahwa intention to stay ada dalam diri karyawan dan memicu kinerja karyawan tersebut maksimal menjalankan tugas yang deadline, serta dengan adanya tugas yang deadline ini. Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan melalui Intention to Stay Kepuasan terhadap kinerja karyawan melalui intention to stay bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan melalui intention to stay. Disampaikan dalam hasil ini bahwa kepuasan kerja harus diberikan atau diterapkan pada karyawan, dengan adanya kepuasan kerja dapat mengetahui dengan melalui intention to stay apakah kinerja karyawan jauh lebih maksimal atau tidak. Sejalan dengan penelitian (Maditiya, 2. bahwa berpengaruh positif dan signifikan kepuasan kerja terhadap kinerja melalui intention to stay. dan sejalan dengan penelitian (Hartono J, 2. bahwa berpengaruh posotof dan signifikan kepuasan kerja melalui intention to stay. Dapat disimpulkan bahwa kepuasan tercermin dalam prestasi kerja, moral kerja yang akan dinikmati dalam pekerjaan maupun luar kerja. Dalam hal itu kepuasn dapat memepengaruhi kinerja apabila karyawan merasakan keadilan dalam bekerja, maka kepuasan akan meningkat dan mempengaruhi kinerja dengan ia akan tetap tinggal pada perusahaan, begitu sebaliknya jika karyawan tidak merasakan keadilan, kepauasn akan menurun dan kinerja tidak maksimal sehingga niat untuk tetep bertahan pada perusahaan sangat kecil. Kepuasan kerja yang diperlukan dalam kinerja karyawan dengan intention to stay sebagai mediasinya dapat dilakukan dengan melakukan hubungan kerja yang baik, antar karyawan maupun atasan dalam hal pekerjaan, dimana karyawan mendapatakan hubungan kerja yang baik sesuai dengan karyawan harapkan. Hubungan kerja yang baik tentunya karyawan juga akan merasa lebih puas dalam bekerja dan pastinya akan menumbuhkan rasa intention to stay dalam organisasi, dengan merasa bahwa niat untuk tetap bertahan itu ada kinerja karyawan akan jauh lebih meningkat dan menguntungkan perusahaan. Dari penelitian stress kerja dan kepuasan kerja dengan intention to stay sebagai pemediasi terhadap kinerja karyawan pada PT. GIORDANO INDONESIA: Meningkatkan stress kerja kepada karyawan merupakan hal yang penting diberikan dengan melalui tekanan emosional terhadap karyawan, guna untuk meningkatkan profesionalitasn kerja dan tanggung jawab pada diri karyawan. Meningkatkan kepuasan kerja kepada karyawan dengan hubungan kerja yang baik antar karyawan maupun dengan atasan. Karena dengan adanya hubungan yang baik itu karawan akan merasa nyaman dalam bekerrja dan menumbuhnkan rasa ingin tetap bekerja dalam waktu lamam di organisasi. Dalam menciptakan sebuah kinerja yang baik diperlukan secara khusus treatment atau usaha yang dilakukan baik dari segi tugas yang berat hingga, kondisi pekerjaan yang baik dan kenyamanan di tempat kerja. Agar jauh lebih produktif dalam organisasi sehingga kinerja karyawan akan jauh lebih meningkat dan berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Penerapan faktor-faktor yang berpengaruh dalam perusahaan Pengaruh Stress Kerja terhadap Kinerja Karyawan Dari hasil penelitian bahwa stress kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan, penerapannya dalam perusahaan bahwa setiap karyawan diberikan tugas dan tanggungjawab yang tinggi baik segi pelayanan, maupun dari segi admiistrasi dengan Tax and Business Journal Jurnal Pajak dan Bisnis Volume 5. Nomor 2. Tahun 2024 tanggungjawab dan disiplin tersebut maka akan merubah sikap karyawan dari hal-hal ketidak seimbangan fisik dan fsikis, emosional dan gangguan berfikir. Menjadi nilai posif bagi karyawan untuk meningkatkan semangat kerjanya Pengaruh Stress Kerja terhadap Intention to Stay Penerapannya dalam perusahaan bahwa dengan disiplin kerja dan tanggungjawab yang tinggi makan akan merobah keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi, adanya kesempatan pengembangan dan pertumbuhan organisasi yang lebih positif. Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan Penerapan kepuasan kerja di perusahaan yaitu dengan diberikannya kesempatan kepada semua karyawan untuk mengetahui dan memahami situasi kerja, hubungan kerja yang harmonis baik secara pertikal ke bawah dan ke atas serta diberikan imbalan oleh perusahaan yang seimbang. Pengaruh Kepuasan kerja terhadap Intention to stay Penerapannya apabila karyawan merasa puas atas situasi yang ada serta terciptanya hubngan yang harmonis dan imbalan yang memadai maka akan merubah keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi serta adanya kesempatan pengembangan dan pertumbuhan bagi organisasi yang lebih positif Pengaruh intention to Stay terhadap Kinerja Karyawan Dengan adanya keseimbangan kerja pada karyawan yang diberikan oleh perusahaan maka merubah sikap karyawan dalam meningkatkan kinerjanya baik secara kualitas, kuantitas serta kehadiran dan disiplin yang tinggi dan produktivitas perusahaan meningkat Pengaruh Stress Kerja terhadap Kinerja Karyawan melalui Intention to stay Sikap disiplin dan dedikasi yang tinggi disebabkan oleh tekanan perusahaan dalam menjalankan tugasnya sehingga akan merubah stress kerja menjadi nilai positif dalam meningkatkan kinerja karyawan melalui penerapan keseimbangan kerja, kehidupan pribadi dan kesempatan untuk pengembangan dan pertumbuhan maka dapat berdampak pada peningkatkan kerja yang lebih baik. Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan melalui Intention to Stay Apabila karyawan mendapat kepuasan kerja yang tinggi sesuai dengan yang diharapkan karyawan maka akan dapat meningkatkan keseimbangan kerja sehingga dengan keseimbangan ini akan berdampak kepada peningkatan kinerja karyawan yang sekaligus akan berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan. PENUTUP Simpulan Dari hasil penelitian mengenai "analisis pengaruh stres kerja dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan dengan intention to stay sebagai pemediasi," terdapat beberapa kesimpulan penting. Pertama, stres kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi stres kerja, kinerja karyawan juga cenderung meningkat. Selain itu, stres kerja juga berpengaruh positif terhadap intention to stay, artinya stres yang lebih tinggi dapat meningkatkan keinginan karyawan untuk tetap di Kepuasan kerja juga ditemukan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dengan kata lain, semakin tinggi kepuasan kerja, semakin baik pula kinerja Kepuasan kerja juga meningkatkan intention to stay, yang menandakan bahwa karyawan yang merasa puas dengan pekerjaannya cenderung ingin tetap bertahan di Intention to stay memiliki efek positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, menunjukkan bahwa keinginan kuat untuk tetap di organisasi berkaitan dengan peningkatan Penelitian juga menemukan bahwa stres kerja dapat meningkatkan kinerja karyawan melalui intention to stay, yang mengindikasikan bahwa tekanan kerja yang dihadapi karyawan dapat memotivasi mereka untuk tetap bertahan dan meningkatkan kinerjanya. Sama halnya Copyright A 2024 pada penulis Melani Citra Dewi, et al. Analisis Pengaruh Stres Kerja. Hal: 303-318 dengan kepuasan kerja, di mana tingkat kepuasan yang tinggi tidak hanya meningkatkan kinerja tetapi juga mendorong karyawan untuk bertahan dalam organisasi. DAFTAR PUSTAKA