Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya Budi Muhammad Taftazani 1* Nurliana Cipta Apsari 2 Meilanny Budiarti Santoso 2 Departemen Kesejahteraan Sosial. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Padjajaran. Jawa Barat. Indonesia 2 Pusat Studi CSR. Kewirausahaan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat. Universitas. Padjajaran. Jawa Barat. Indonesia * Korespondensi: taftazani@unpad. Tel: . 08-1571-671-03 Diterima: 7 Februari 2023. Disetujui: 19 Juli 2023 . Diterbitkan: 29 Juli 2023 Abstrak: Berbagai lembaga yang menyelenggarakan rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba telah berkembang, salah satunya diselenggarakan oleh Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya yang menerapkan pendekatan spiritualisme Islam untuk mengubah kebiasaan menggunakan narkoba menjadi kebiasaan melaksanakan ritual keagamaan sehingga tertanam sikap dan perilaku yang yang baik atau ahlakul karimah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba di Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan Sumber data primer diperoleh dari informan yang terdiri dari pimpinan pondok pesantren, pimpinan yayasan, pengelola Inabah, dan anak bina sebagai penerima manfaat. Hasil penelitian menunjukkan proses rehabilitasi yang diselenggarakan oleh Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya menggunakan aktivitas beribadah keagamaan sebagai kegiatan yang mengalihkan perhatian dan tenaga penyalahguna dari keinginan untuk menggunakan narkoba. Dari tujuan dan proses rehabilitasi, pendekatan spiritualisme yang dijalankan lembaga memungkinkan terjadinya perubahan perilaku melalui aktivitas ritual yang dapat mengembangkan dan memperkuat aspek spiritual anak bina. Namun demikian, masih dibutuhkan proses tindak lanjut untuk penguatan agar anak bina tidak lagi tergoda dengan kebiasaan lamanya yang buruk. Kajian kritis yang bersifat evaluatif diperlukan pada layanan berbasis faith based untuk memperkuat pengaruh dan posisi dari pendekatan ini di arena praktik pekerjaan sosial. Kata Kunci: rehabilitasi, pengguna narkoba, spiritualisme Abstract: Various institutions that organize rehabilitation for drug abusers have developed, one of which is organized by the Suryalaya Islamic Boarding School Serba Bakti Foundation which applies an Islamic spiritualism approach to change the habit of using drugs into the habit of carrying out religious rituals so that good attitudes and behavior are embedded or ahlakul karimah. This study aims to describe the rehabilitation process for drug abusers at the Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. The research method is descriptive with a qualitative approach. Primary data sources were obtained from informants consisting of leaders of Islamic boarding schools, leaders of foundations, managers of Inabah and The results showed that the rehabilitation process organized by the Suryalaya Islamic Boarding School Serba Bakti Foundation used religious worship activities as an activity that diverted the attention and energy of abusers from the desire to use drugs. From the goals and rehabilitation process, the spiritualism approach carried out by the institution allows for behavioral changes through ritual activities that can develop and strengthen the spiritual aspects of beneficiaries. However, a follow-up process is still needed for strengthening so that the beneficiaries is no longer tempted by his old bad An evaluative critical study is needed on faith-based services to strengthen the influence and position of this approach in the arena of social work practice. Keywords: rehabilitation. drug abusers. https://ejournal. id/index. php/SosioKonsepsia/article/view/3105 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 Pendahuluan Pada dasarnya manusia itu mahluk ruhaniah yang diberi bungkus jasad biologis. Dengan demikian perbuatan yang bersifat jasadiah sesungguhnya merupakan manifestasi dari keadaan Dalam bukunya. Coates, dkk . mengutip ungkapan Gratton . menyebutkan bahwa to be human means to be spiritual. Human beings have longings and aspirations that can be honored only when the personAos spiritual capacity is taken seriously . Itulah inti dari kemanusiaan manusia yaitu ruhnya . Dalam pekerjaan sosial pendekatan spiritual merupakan pendekatan yang banyak digunakan dalam praktik. Schmid . , menyebutkan bahwa telah tumbuh kesadaran terkait dimensi agama dan spiritual di dalam pekerjaan sosial. Hal ini nampaknya berkaitan pula dengan sifat dari profesi ini yang berorientasi pada pertolongan dan pengembangan manusia dan kemanusiaan. The professional social work value system has strong religious and humanistic (Siporin, 1975:. Lebih lanjut. Frame . 3: . sebagaimana dikutip oleh Kirst-Ashman & Hull . mendefinisikan spiritualitas sebagai Aua related concept, includes oneAos values, beliefs, mission, awareness subjectivity, experience, sense of purpose and direction, and a kind of striving toward something greater than oneself. It may or may not include a deityAy. Pekerjaan sosial merupakan profesi yang memiliki kewenangan dan mandat untuk melaksanakan pelayanan sosial, termasuk rehabilitasi para penyandang masalah sosial yang termasuk ke dalam kategori penyimpangan sosial . osial devian. Salah satu masalah sosial yang ditangani oleh profesi pekerjaan sosial adalah penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan pada pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai profesinya, pekerja sosial terlibat dalam rehabilitasi narkoba, membantu para pencandu mencapai kepulihan dan keberfungisan sosial mereka. Salah satu bentuk praktik rehabilitasi narkoba dilakukan oleh Pondok Inabah Suryalaya di bawah Yayasan Serba Bakti Pesantren Suryalaya. Lembaga ini merupakan badan pelayanan sosial yang menyelenggarakan pelayanan sosial rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba. Metode yang diterapkan di pondok Inabah dalam proses rehabilitasi terhadap para penyalahguna narkoba adalah pendekatan ritual spiritual dengan maksud menanamkan kembali sistem keyakinan yang akan mengembalikan anak bina . ebutan bagi penyalahguna narkoba di pondok Inaba. kepada sisi ruhaninya. Solechah . yang menyebut metode tersebut dengan AotasapudzAo . obat, shalat, puasa, dan dziki. dari hasil penelitiannya menyatakan kesadaran akan kelemahan diri dan kebesaran Allah SWT pada akhirnya dapat membawa kesempurnaan jiwa . embalinya jiwa yang kotor menjadi bersi. Kembalinya jiwa yang bersih, dan sadar akan kedudukan sebagai hamba Allah SWT yang lemah, diharapkan dapat menjadi modal bagi klien penyalahguna narkoba untuk kembali ke masyarakat setelah menjalani rehabilitasi. Riset yang dilakukan oleh Dale & Daniel . menjelaskan bahwa spiritualitas dapat menjadi jalan dalam upaya memberdayakan klien terutama secara sosial dan emosional. Lezotte . dalam catatannya menuliskan bahwa kelompok alkoholik dan pengguna narkoba menggunakan spiritualitas sebagai bagian dari proses penyembuhan mereka, sehingga mendorong banyak lembaga rehabilitasi yang berbasis agama tertentu agar dapat memberikan pelayanan bagi kelompok agama tertentu. Spiritualitas memberikan penyembuhan terhadap penyalah guna narkoba karena korban tersebut mendapatkan dukungan sosial dari Lembaga agama dimana dia tergabung, kedua agama menawarkan iman kepada Tuhan yang mempertegas makna dan tujuan hidup mereka. Ketiga, spiritualitas membantu mereka untuk bisa bertahan dari masa-masa sulit dan meyakini bahwa Tuhan akan membantu untuk memperbaiki keadaan. Keempat, spiritualitas/religiusitas dapat memberikan wawasan yang bernilai meskipun mereka mengalami kesulitan (Dale & Daniel, 2. Nelson . dalam kajiannya telah mencatat beberapa aspek positif dari spiritualitas/religiusitas terhadap kesehatan fisik, yaitu, agama telah berperan dalam melindungi individu melawan penyakit dan meningkatkan derajat kesehatan. Sejalan dengan pendapat Nelson tersebut. Fahrudin . menyatakan bahwa sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa jalan spiritual dan religiusitas memberikan jalan pada pencapaian kesejahteraan secara batiniah . ubjective well-bein. maupun keberdayaan secara emosional dalam menghadapi perjalanan kehidupan. Adapun dalam praktik Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 klinis, menfasilitasi klien dalam pembentukan makna . eaning-makin. dapat menjadi efektif dalam proses pertolongan (Northcut, 2000. Leung. Chan. Siu- man & Lee, 2. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah yang hendak dijawab dalam artikel ini adalah bagaimana proses rehabilitasi yang dilaksanakan di Yayasan Surya Bakti Pondok Pesantren Suryalaya ditinjau dari sudut pandang spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses rehabilitasi penyalahguna narkoba di Yayasan Surya Bakti Pondok Pesantren Suryalaya sebagai lembaga berbasis Agama Islam yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, kemudian proses rehabilitasi tersebut ditelaah dari sudut pandang spiritualitas dalam praktik pekerjaan sosial. Kerangka Teori Mengenai Spiritualitas Kajian yang dilakukan oleh Rapp . menunjukkan bahwa agama dan spiritual adalah kekuatan dan bukannya patologi. Spiritualitas pun dapat menjadi peluang penyelesaian masalah sebab spiritual adalah salah satu komponen utama kebutuhan manusia. Setiap orang memiliki kebutuhan akan transendensi yakni mengalami dan merasakan adanya kekuatan yang lebih besar di luar diri individu termasuk seluruh eksistensi material maupun non-material yang disadari keberadaanya. Kekuatan inilah yang kemudian dijadikan sebagai sandaran atau tempat kembali di tengah kepenatan, kegelisahan, penderitaan dan ketidakpastian serta kelemahan yang sedang dialami (Canda & Furman. Pendekatan spiritualitas dapat digunakan dalam membangun kembali spirit . dalam usaha menumbuhkan kepercayaan diri klien untuk menjalani kehidupan secara normal. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Pierre dalam Nelson . , bahwa spiritualitas dapat membantu seseorang dalam menemukan makna hidupnya, mendorong untuk senantiasa berpikir dan berbuat baik, mendorong untuk menjalin keharmonisan dengan Tuhan, alam, masyarakat termasuk menemukan kedamaian pikiran dan hati . , spiritulitas dapat memberikan semangat . , kebebasan dari belenggu keterpurukan dan spiritulitas turut memberikan jalan ke arah transformasi diri yang lebih bermakna. Selama beberapa dekade terakhir istilah spiritualitas telah menjadi bahasa umum untuk mengambarkan aktivitas pencarian akan transendensi yang dilakukan oleh seseorang atau individu. Spiritualitas berasal dari Bahasa Inggris yang bila diterjemahkan maknanya adalah rohani atau ruh yang berarti segala sesuatu yang bukan jasmani, tidak bersifat duniawi dan bukan cara-cara yang bersifat materialistik. Roof . dalam Nelson . berpendapat bahwa spiritualitas mencakup 4 tema yakni: . Sebagai sumber nilai, makna dan tujuan hidup yang melewati batas kedirian . eyond the sel. , termasuk rasa-misteri . ense of myster. dan transendensi diri . elf- transcendenc. Sebuah cara untuk mengerti dan memahami kehidupan. Kesadaran batin . nner awarenes. Integrasi personal. Spiritualitas memiliki fungsi integratif dan harmonisasi yang melibatkan kesatuan batin dan keterhubungan dengan manusia lain serta realitas yang lebih luas yang memberikan kekuatan dan kemampuan pada individu untuk menjadi transenden (Nelson, 2. Dalam istilah kontemporer dan literatur ilmiah, spiritualitas memiliki sejumlah makna umum dan definisi. Perbedaan makna dan definisi ini mencerminkan kenyataan bahwa spiritualitas adalah istilah yang memiliki makna yang luas, meliputi beberapa domain makna yang mungkin berbeda antara kelompok-kelompok budaya, kebangsaan dan berbagai agama. Sejumlah cendekiawan melihat spiritualitas dan agama sebagai konsep yang berbeda. Sinnott . dalam Nelson . misalnya, menganggap spiritualitas melibatkan hubungan seseorang dengan sesuatu yang suci, sakral, besar atau agung, sebagai hal yang berbeda dari religy . yang melibatkan kepatuhan terhadap keyakinan dan praktek-praktek . tertentu, meskipun ia juga mengakui bahwa keduanya kadang-kadang sulit untuk dipisahkan dan sering tidak dapat dibedakan dalam teori dan penelitian. Dowling, et. dalam Nelson . telah menemukan bahwa agama dan spiritualitas memiliki efek independen pada perkembangannya yang pesat, meskipun spiritualitas juga memiliki Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 efek pada religiusitas. Mereka menemukan spiritualitas yang melibatkan orientasi untuk membantu orang lain dan melakukan pekerjaan yang baik, serta berpartisipasi dalam kegiatan berdasarkan minat pribadi . elf-interes. Ini kontras dengan religiusitas, yang melibatkan hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan dan pengaruh institusional. Beberapa penelitian dengan orang dewasa juga menunjukkan bahwa agama dan spiritualitas dapat dipisahkan (Nelson, 2. Penjelasan tersebut memberikan petunjuk dan kata kunci terkait spiritual bahwa spiritual terkait dengan pencarian makna, keyakinan akan adanya kekuatanyang lebih dahsyat diluar dirinya yang dapat memberikan kemaslahatan hidup jika dijadikan sebagai pedoman hidup. Berbicara mengenai perkembangan spiritualitas dalam diri seseorang, tahapannya sejalan dengan rentang kehidupannya. Fowler dalam Dacey & Travers . mengajukan sebuah teori mengenai perkembangan akan keyakinan spiritual manusia yang terdiri atas tahap: Primalor undifferentiated faith . - 2 tahu. : Semua orang memulai mengembangkan pandangan akan keyakinan dan dunia dari menggaruk atau meraba. Bayi akan belajar apakah lingkungannya dapat dipercayai atau tidak, apakah mereka dirawat dalam kehangatan, keamanan, kenyamanan lingkungan, atau penuh dengan abuse, penelantaran dan menyakiti. Anak mulai mempelajari makna dari hubungannya dengan lingkungan. Intiutive-projective faith . inimal 4 tahun: Anak terus melanjutkan mengembangkan kemampuannya memungut makna dari lingkungan. Dalam perkembangan ini, konsep Tuhan direfleksikan sebagai sesuatu yang gaib. Pada fase ini manusia hanya fokus pada kualitas secara permukaan saja, seperti apa yang digambarkan oleh orang dewasa dan tergantung pada luasnya fantasi dari manusia itu sendiri. Myhtical-literal faith . inimal 5 - 6 tahu. : Pada fase ini anak butuh pembuktian kebenaran sehingga fantasi sudah tidak lagi menjadi sumber utama dari pengetahuan. Pembuktian kebenaran disini bukan berasal dari pengalaman aktual yang dialami sendiri, tapi berasal dari sesuatu yang dianggap lebih ahli atau orang yang lebih dewasa, seperti guru, orangtua, buku, dan tradisi. Kepercayaan di fase ini mengarah pada sesuatu yang konkrit dan tergantung dari kredibilitas orang yang menyampaikan informasi terkait sebuah keyakinan. Poetic-conventional faith . inimal 12 Ae 13 tahu. : Pada fase ini individu mulai percaya pada penilaian mereka sendiri, mulai mempelajari fakta sebagai sumber informasi meskipun demikian mereka belum sepenuhnya percaya terhadap penilaian mereka tersebut. Kepercayaan masih tergantung pada konsensus dari opini orang lain yakni orang yang lebih ahli. Individuating-reflective faith . inimal 18 Ae 19 tahu. : Pada fase yang ketiga remaja tidak dapat menemukan area pengalaman baru karena tergantung pada orang lain di kelompoknya yang belum tentu dapat menyelesaikan masalah. Individu di fase ini mulai mengambil tanggung jawab atas kepercayaannya, perilaku, komitmen, dan gaya hidupnya. Tapi individu pada tahap ini tetap masih membutuhkan figure yang bisa diteladani. Paradoxical-consolidation faith . inimal 30 tahu. : Pada fase ini individu mulai bisa memahami dan mengintegrasikan elemen spiritual seperti simbolisasi, ritual, dan kepercayaan. Individu di fase ini juga menganggap bahwa semua orang termasuk dalam kelompok yang universal dan memiliki rasa kekeluargaan terhadap semua orang. Universalizing faith . inimal 40 tahu. : Fowler menganggap bahwa sangat sedikit orang yang mampu mencapai fase ini, sama seperti fase terakhir dari perkembangan moral Kohlberg. Dicirikan dengan komitmen tanpa pamrih terhadap keadilan atas nama orang lain. Pada tahap ini mencerminkan sebuah kedalaman spiritual yang berkaitan perhatian sangat spiritual untuk kebaikan yang lebih besar, manfaat dari massa atas diri sendiri. Komitmen untuk mengabdikan kehidupan untuk kebaikan pada jalan Tuhan atau kemanusiaan sekalipun harus mengorbankan kesenangan dan kesejahteraan pribadi. James Fowler juga mengemukakan bahwa antara kebutuhan kognitif dan emosional tidak dapat dipisahkan dalam perkembangan spiritual. Spritual tidak dapat berkembang lebih cepat dari kemampuan intelektual dan tergantung pada perkembangan kepribadian. Jadi teori perkembangan Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 spiritual Fowler meliputi ketidaksadaran, kebutuhan, kemampuan seseorang, dan perkembangan Metode Penelitian Artikel ini disusun berdasarkan hasil penelitian lapangan mengenai rehabilitasi penyalahguna narkoba yang dilaksanakan dengan pendekatan spiritual dengan ritual ibadah Agama Islam yang diselenggarakan oleh Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, data diperoleh dari sumber data primer diperoleh dari informan yang terdiri dari pimpinan pondok pesantren, pimpinan yayasan, pengelola Inabah, dan penerima manfaat yang disebut sebagai anak bina dan sumber data sekunder berupa literatur-literatur yang berkaitan dengan rehabilitasi narkoba dengan pendekatan spiritual. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah teknik observasi, wawancara mendalam, studi literatur dan studi dokumen. Adapun validitas data dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi, yaitu triangulasi data dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa Hasil Dan Pembahasan Data dari informan menyebutkan adanya tiga tahapan proses rehabilitasi yang dilakukan di Pondok Inabah yang masing-masing dilaksanakan selama 40 hari. Batasan 40 hari dalam menjalani masa rehabilitasi di Pondok Inabah ini ditentukan berdasarkan ajaran aliran triqat naqsabandiyah. Kuntowijoyo . : Aokelompok tarekat Naqshabandiyah mengajarkan pengikutnya yang ingin mencari hakikat kebenaran, untuk selama 40 hari melakukan tasyakur dengan wirid dan zikirAo. Dalam ajaran tariqat naqsabandiyah yang dianut oleh Pondok Inabah, hitungan 40 hari dianggap sebagai hitungan sunnah, sehingga hitungan tersebut digunakan sebagai ukuran atau patokan waktu untuk durasi rehabilitasi di Pondok Inabah. Tahapan rehabilitasi dengan masing-masing durasi 40 hari adalah upaya pengalihan aktivitas atau mengubah kebiasaan lama yang negatif ke kebiasaan baru yang positif yaitu mengganti perilaku menggunakan narkoba ke perilaku ritual yang mengasah aspek spiritual. Sejauh ini proses rehabilitasi yang dilaksanakan oleh Pondok Inabah adalah dengan cara rawat inap, tidak ada rehabilitasi yang dilaksanakan dengan rawat jalan atau pun rehabilirasi yang dilaksanakan diluar pondokan. Ketiga tahapan dalam proses rehabilitasi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: 40 hari pertama merupakan fase pembersihan . aitu membersihkan diri dari berbagai macam pemikiran ataupun pembicaraan yang berkaitan dengan narkob. , berikutnya 40 hari kedua adalah fase pengisian . aitu diisi dengan amalan-amalan dan ilmu-ilmu agam. , dan 40 hari ketiga adalah fase pengamalan, . aitu mendorong anak bina untuk terus mengamalkan berbagai hal yang sudah didapatkan oleh anak bina pada tahap pertama dan tahap kedu. Berbagai macam kegiatan yang harus dilakukan oleh anak bina dalam tahapan proses rehabilitasi di Pondok Inabah adalah: Mandi taubat, yang dilakukan sendiri oleh anak bina dengan pengawasan dari terapis atau oleh pembina, namun apabila anak bina masih ada dalam keadaan tidak sadar . ataupun belum mampu untuk melakukannya sendiri, maka anak bina akan dimandikan oleh terapis ataupun oleh Mandi taubat ini dilakukan setiap hari pada pukul 02. 00 WIBsetiap hari dan tidak boleh terputus, yang berguna untuk menghentikan sakawyang dialami oleh anak bina. Mandi di malam hari ini merupakan cara khas yang digunakan oleh Pondok Inabah dalam melakukan proses rehabilitasi terhadap penyalahguna narkoba, karena dianggap dapat mempengaruhi efek fisiologi ketergantungan anak bina terhadap narkoba. Shalat dan dzikir, yang harus dikerjakan oleh setiap anak bina, kecuali jika anak bina belum memungkinkan untuk melakukan sholat dan dzikir, maka anak bina tidak diizinkan untuk mengikuti kegiatan shalat dan dzikir. Dalam sehari semalam, setiap anak bina diwajibkan untuk menjalankan shalat sebanyak 117 rakaAoat. Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 Proses pembiasaan aktivitas ritual spiritual . andi, shalat dan dziki. dan melakukan intensifikasi berbagai kegiatan tersebut, sehingga jika kebiasaan baru sudah terbentuk, maka hal tersebut menjadi indikator keberhasilan dari proses rehabilitasi yang dilakukan di Pondok Inabah. Pondok Inabah menerapkan pendekatan ritual spiritual dalam menjalankan proses rahabilitasi terhadap para penyalahguna narkoba. Pendekatan ritual spiritual dimaksudkan untuk menanamkan kembali sistem keyakinan yang akan mengembalikan anak bina . ebutan bagi penyalahguna narkoba di pondok Inaba. kepada sisi ruhaninya. Metode dalam proses rehabilitasi yang digunakan di Pondok Inabah diambil dari aktivitas ritual spiritual yang berasal dari ajaran tariqat naqsabandiyah. Aktivitas ritual spiritual tersebut pada awalnnya diamalkan oleh Abah Anom sebagai salah satu tokoh tariqat naqsabandiyah di Indonesia. Ritual spiritual yang dijalankan yaitu mandi tobat, sholat wajib dan sunnah, mengaji dan Metode ritual spiritual yang digunakan di Pondok Inabah ini tidak sama dengan metode yang pada umumnyadigunakan dalam proses rehabilitasi narkoba yang dilakukan oleh lembaga pelayanan rehabilitasi lainnya. Karena berawal dari ajaran tariqat, pemilik pondokan sendiri mengakui bahwasannya Inabah tidak memberikan metode penyembuhan, akan tetapi rehabilitasi yang dilakukan Pondok Inabah adalah metode penyadaran, yaitu kesadaran akan kedudukan manusia sebagai hamba Allah SWT yang lemah, sehingga diharapkan dapat menjadi modal bagi anak bina sebagai penyalahguna narkoba untuk mendapatkan kembali jiwa yang bersih dan dapat kembali ke masyarakat setelah menjalani proses rehabilitasi. Terdapat berbagai cara bagi seorang klien calon anak bina untuk dapat masuk dan mengikuti proses rehabilitasi di Pondok Inabah, yaitu berdasarkan keinginan diri klien sendiri lalu diantar oleh orang tua, dipaksa dimasukan oleh orang tua ataupun saudara, ataupun berdasarkan rekomendasi dari institusi lainnya yang menangani para penyalahguna narkoba tersebut. Pada tahap awal ini, orang tua ataupun institusi yang mengantarkan klien calon anak bina akan bertemu dengan pihak Yayasan Serba Bakti. Setelah keluarga menyepakati dan menandatangani kontrak, maka pihak yayasan memiliki kewenangan tersendiri dalam menempatkan anak bina ke pondok-pondok Inabah yang ada berdasarkan data diri anak bina yang diperoleh yayasan dari keluarganya. Dalam menempatkan anak bina pada Pondok Inabah, tidak ada kriteria khusus yang menjadi acuan bagi yayasan dalam menentukannya. Selama Pondok Inabah yang ditunjukoleh yayasan mampu untuk menerima anak bina, yaitu dengan pertimbangan proses pembinaan, ketersediaan fasilitas, kemampuan terapis, serta masih dimungkinkan untuk dapat menampung anak bina, maka yayasan bisa menempatkan anak bina ke Pondok Inabah yang ditunjuk tersebut. Selain itu, penempatan anak bina juga bisa disesuaikan dengan tempat tinggal calon anak bina, yaitu dengan ditempatkan di pondok Inabah yang terdekat dengan tempat tinggal anak bina, tujuannya adalah untuk memudahkan agar anak bina dapat segera ditolong. Terhadap anak bina yang ditanganinya. Pondok Inabah melakukan proses rehabilitasi dan memberikan perlakuan yang sama dan menggunakan metode yang sama pula. Dengan demikian, tidak ada pembedaan perlakuan terhadap anak bina dan tanpa mempertimbangkan tingkat masalah penyalahgunaan narkoba yang dimiliki oleh masing-masing anak bina. Terkait proses rehabilitasi berbasis religi di Pondok Inabah. Siswanto . dalam Wibhawa, et. al, . menyatakan bahwa dalam pelaksanaannya terdapat 3 fase rehabilitasi, yaitu: Fase I (Dasa. : 40 hari pertama Ae 2 bulan Fase II (Menenga. : Bulan ke 3 Ae 4 . elama kurang lebih 2 bula. Fase i (Akhi. : Bulan ke 5 Ae 6 . elama kurang lebih 2 bula. Fase pertama merupakan tingkatan dasar bagi anak bina dengan konsekuensi sebagai berikut: . mengikuti seluruh kegiatan program. mempelajari ilmu pengetahuan dan aktivitas program . halat, dzikir, mandi tauba. menghafal surat-surat Juz AoAmma dari Al-QurAoan minimal 4 . menghafal 10 . bacaan doAoa sehari-hari. pada tahap dasar ini, anak bina belum bisa dijenguk oleh keluarga. rokok dibatasi hanya 3 batang per hari. sebelum memasuki fase selanjutnya, anak bina diberi penilaian . oleh pengelola Pondok Inabah. Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 Setelah fase dasar dijalani dengan baik, anak bina akan mengalami peningkatan pada fase berikutnya, yaitu fase menengah dengan konsekuensi sebagai berikut: . mengikuti seluruh kegiatan dasar program religi. menghafal bacaan AukhotamanAy dalam bahasa arab . urang lebih 15 meni. mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pada akhir fase. mempelajari ajaran agama Islam secara lebih . mengikuti seminar psikologi dan medis. aktivitas keterampilan yang meliputi: bacatulis huruf arab, komputer, bahasa Inggris dan percetakan. boleh dijenguk oleh keluarga. rokok dibatasi hanya 4 batang per hari. sebelum memasuki tingkat selanjutnya, diberikan penilaian . oleh pengelola Pondok Inabah. Setelah anak bina menyelesaikan tahap fase menengah, residen akan memasuki fase akhir dengan konsekuensi sebagai berikut: . mengikuti seluruh kegiatan dasar program religi. menghafal seluruh bacaan khotaman dalam bahasa arab . urang lebih 30 meni. mengikuti kegiatan . mempelajari ajaran agama Islam secara lebih mendalam. mengikuti seminar psikologi dan medis. aktivitas keterampilan yang meliputi: baca-tulis huruf Arab, komputer, bahasa Inggris dan percetakan. mendampingi residen yang lebih junior . erada pada tingkat dasa. boleh dijenguk oleh keluarga. merokok dibatasi hanya 5 batang per hari. diberikan evaluasi belajar oleh pengelola Pondok Inabah. Setelah mengikuti seluruh kegiatan dengan baik, residen yang dinilai lolos melewati semua fase dapat melanjutkan kegiatan rehabilitasi pada fase lanjutan dengan konsekuensi sebagai berikut: . mengikuti seluruh kegiatan program dasar religi. mempelajari ajaran agama Islam secara lebih mendalam . iqh dan tasawu. membaca dan memahami arti dari kitab suci Al-QurAoan minimum 30 menit per hari. mengikuti pengajian Manaqib . engajian bulana. membantu ustadz memberi pembinaan kepada anak bina yang berada pada tingkat dasar. home leave diberikan setiap 2 minggu selama 1x12/24 jam. anak bina diberi uang saku harian. Fase-fase treatment yang dijalani oleh anak bina tersebut, hingga harus dibiasakan untuk dikerjakan oleh anak bina merupakan latihan untuk pengkondisian kebiasaan guna menggantikan kebiasaan buruk anak bina mengkonsumsi narkoba. Namun lebih jauh dari itu, tujuan sesungguhnya dari berbagai fase treatment tersebut adalah untuk menanamkan dan memunculkan kesadaran akan kehidupan beragama untuk menjadi pegangan agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang salah dan membahayakan diri sendiri. Berdasarkan perspektif spiritual, perilaku kencanduan merupakan manifestasi dari keinginan untuk menghindari kekecewaan dan mengejar kesenangan. Keadaan ketergantungan merupakan keadaan saat orang menyerah kepada hasrat untuk memperoleh kesenangan dan membebaskan diri dari perasaan sakit (Derezotes, 2. Masalahnya adalah dalam situasi kecanduan seseorang mungkin mendapatkan kesenangan yang yang ia inginkan namun dalam waktu bersamaan ada pula bagian dari kehidupan mereka yang hilang. Masalah lain adalah semakin kuat tingkat ketergantungan seseorang pada narkoba maka semakin kuatseorang pencandu mendapatkan dirinya lebih menyerah pada narkoba daripada mendapatkan apa yang ia inginkan. Hal ini terjadi karena narkoba hanya memberi efek kesenangan sementara sehingga orang akan kembali secara terus menerus pada aktivitas penggunaan narkoba. Sementara dari pandangan spiritualisme kesenangan itu tidaklah abadi dan kekecewaan dalam hidup tidaklah bisa dihindari. Para pengguna benar-benar akan terjebak di dalam lingkaran setan yang berbahaya jika tidak segera diputus. Sebenarnya pola itulah yang terjadi kepada seseorang yang telah kecanduan, apapun yang menjadi AocanduAo-nya. Pendekatan spiritual mengarahkan tindakan manusia pada mengendalikan keinginan dan penyerahan diri pada kekuatan terbesar di luar diri. Di Inabah, proses ini dikenal dengan riyadhah yaitu latihan penyempurnaan diri secara terus menerus melalui zikir dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Tujuan dari penggunaan metode ibadah menurut pihak Inabah adalah sebagai upaya pembinaan dan pembiasaan ahlakul karimah yaitu penyadaran kepada anak bina bahwa apa yang dilakukannya merupakan perbuatan salah sehingga mereka bisa berhenti menggunakan narkoba. Ahlakul karimah menunjuk pada perilaku atau kebiasaan yang baik yang berbeda dengan perilaku yang buruk seperti menggunakan narkoba, dan ahlak seperti itu hanya dapat terbentuk jika khuluq-nya adalah wahyu . lQurAoa. Mohamed . dalam Krenawi & Graham . , menyebutkan bahwa sholat dan lima pilar Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 yang dipercayai orang Islam (Musli. dapat membuang pengaruh jahat dan meningkatkan kesadaran akan Tuhan sebagai proses esensial dari aktualisasi sifat manusia . Narkoba sebagai sesuatu yang jahat harusnya dapat dibuang melalui upaya pendekatan diri kepada Tuhan. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa penggunaan zat adiktif merupakan upaya untuk mengurangi perasaan sakit atau kekecewaan serta meningkatkan kesenangan - sebagai kebalikan dari ahlakul karimah-, maka pendekatan spiritual di Inabah paling tidak mengarahkan pencandu kepada dua hal yaitu pertama, mereka harus melepaskan sebagian untuk memperoleh yang lainnya. Artinya pecandu harus membuang kesenangan saat menggunakan narkoba untuk memperoleh manfaat yang Kedua para pecandu diarahkan pada aktivitas penyerahan diri atas kelemahan terkait ketidakmampuan mereka keluar dari kecanduan narkoba. Dalam proses rehabilitasi di pondok Inabah, para pecandu atau anak bina diberi aktivitas melakukan ritual sebagai pengganti aktivitas menggunakan narkoba. Dalam konteks perubahan ke arah kesadaran spiritual, para pecandu harus membuang kebiasaan mengerjar kesenangan menggunakan narkoba untuk memperoleh kemaslahatan baik kesehatan jasmani, rohani, dan dampak positif lainnya. Selama di pondok, anak bina umumnya berhasil mengganti kebiasaan buruk menggunakan narkoba ke kebiasaan menjalankan ritual, meski di awal mereka mengakui terasa berat namun selama di pondok para pecandu tersebut berhasil meninggalkan penggunaan narkoba. Selanjutnya aktivitas spiritual anak bina diarahkan pada penyerahan diri kepada kekuatan yang maha tinggi (Allah SWT) melalui berbagai aktivitas ritual. Faktor kekuatan Tuhan menjadi sangat penting sebagai kekuatan yang lebih besar dari manusia sehingga Dia bisa memperbaiki manusia yang mengalami kerusakan akibat narkoba. Inabah menyebut bahwa tujuan dari pelayanannya bukanlah untuk penyembuhan, melainkan untuk penyadaran dan memunculkan akhlak yang yang baik. Pelayanan Inabah sepertinya memaknai bahwa kesembuhan adalah efek dari munculnya kesadaran dan akhlak yang baik Aktivitas amalan yang dilakukan di Inabah adalah solat, berdzikir, dan meminta atau berdoa. Aktivitas ini dalam perspektif spiritual merupakan upaya peningkatan kontak kesadaran dengan Tuhan, mendapatkan kehendakNya, dan untuk memperoleh kekuatan mengatasi masalah. Solat merupakan aktivitas yang murah untuk menjaga dan mencegah anxiety dan depresi (Krenawi & Graham, 2. Solat dapat menciptakan keadaan batin yang tenang karena menurut pandangan Islam, solat adalah aktivitas dialog antara manusia dengan Allah. Selain adanya penyerahan diri kepada kekuatan Allah yang Maha Tinggi dalam aktivitas solat juga terdapat kesempatan manusia untuk mengadu dan meminta kekuatan dari Allah. Aktivitas berdzikir pun demikian ia memiliki kekuatan untuk mengubah sikap, seperti Sholihah . menyebutkan bahwa berdzikir berperan dalam mengurangi sikap negative yang ada pada individu. Saat Inabah menetapkan bahwa tujuan dari metode ibadah adalah untuk mencapai ahlakul karimah, maka hal ini terkait dengan pengembangan kepribadian positif dari para pecandu. Praktik solat dan bentuk-bentuk lain dari ibadah atau ketaatan dapat membawa pada keseimbangan kepribadian seorang muslim (Nagati . , meningkatkan perasaan sejahtera, perasaan lega, dan mengurangi anxiety (Azahar, et al. , 1. Sementara ritual mandi taubat yang dipraktikan di Inabah, merupakan aktivitas bertaubat untuk mengakui kesalahan-kesalahan kepada Tuhan dan kepada diri Mengakui kesalahan dalam pandangan Islam berarti mengakui bahwa seseorang telah mengabaikan ketaatan pada Tuhan. Islam sendiri telah menetapkan bahwa sesuatu yang dapat menimbulkan kerusakan (Mudhoro. seperti narkoba adalah dilarang untuk digunakan. Bahkan secara khusus, zat adiktif yang sebenarnya bukan hanya narkoba, secara langsung diharamkan di dalam al QurAoan. Pertaubatan atas kesalahan yang telah dilakukan merupakan bentuk mengubah sikap dan perilaku dari yang buruk menjadi baik. Inilah yang dapat dianggap sebagai efek terapi atau penyembuhan dari proses rehabilitasi ini. Abdullah . , menyebutkan bahwa seseorang yang bertaubat menyadari kesalahan yang ia lakukan, mengalami akibat emosional karena penyesalan atas apa yang sudah dilakukan, kemudian menjauhkan diri dari tindakan di masa lalu sambil berupaya keras untuk tidak mengulanginya. Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 Abramowitz, 1993. Ranganathan, 1994. Saucer, 1991 . alam Krenawi & Graha. , menyebutkan bahwa pada tingkat tertinggi bagi yang mempercayainya, solat dapat membawa individu menemukan kebijaksanaan dari sang Maha Mengetahui dan kekuatan penyembuhan dari Allah yang maha kuasa. Dalam pandangan Islam aktivitas solat harus dapat mencegah berbuat keji dan mungkar. Artinya solat haruslah berefek kepada perilaku keseharian yang nyata. Saat seseorang melakukan solat, ia akan merasakan kehadiran Tuhan. Bacaan dan permintaan atau doa saat solat merupakan bentuk dialog antara hamba dan Tuhannya. Dengan demikian saat seseorang selesai melakukan solat, efek dari aktivitas solat tersebut seharusnya terasa yaitu dengan tetap menghadirkan Tuhan pada setiap perilakunya sehingga setiap tindakan atau pilihan tindakan yang ditetapkan selalu berdasarkan pertimbangan bahwa Tuhan mengawasinya seperti saat ia melakukan solat. Bagi anak bina Inabah yang sukses melewati proses spiritual ini akan berakibat pada munculnya pengendalian diri dan berhati-hati dalam melangkah sehingga sejatinya ia tidak lagi terlibat dengan perbuatan buruk seperti menggunakan narkoba. Solechah . , menyebutkan bahwa orang yang melakukan solat dengan benar ia akan dapat mengenal kembali siapa dirinya dan suara hatinya. Ia akan kembali menjadi peka karena pegangan hidupnya kembali memancar dari dalam dirinya. Itulah yang membuat solat dapat memunculkan perasaan tentram, terlidung dari tekanan serta pengaruh lingkungan luar yang buruk yang datang bertubi-tubi. Solat dengan dimikan jika dilakukan dengan benar dapat dijadikan aktivitas untuk membantu menjaga perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan lingkungan. Inilah yang Inabah sebut sebagai tujuan dari rehabilitasi yaitu dapat memunculkan Ahlakul Karimah atau perilaku yang Berdasarkan data hasil wawancara terhadap informan, dinyatakan bahwa memang penyembuhan bukanlah tujuan dari rehabilitasi Inabah. Tujuan sesungguhnya adalah untuk pembentukan akhlak yang baik berdasarkan ajaran agama, sehingga metode yang digunakan oleh Pondok Inabah dalam melakukan proses rehabilitasi bagi para penyalahguna narkoba adalah bersifat penyadaran. Mengembangkan kesadaran melalui pendekatan spiritual tentu dalam prosesnya akan sesuai dengan tingkat perkembangan spiritualitas manusia. Usia anak bina di Inabah adalah mulai remaja sampai dewasa yang menurut Fowler dalam Dacey & Travers . adalah masa dimana mereka sudah mulai mampu mempercayai penilaian mereka sendiri meski pada awal masa yang disebut poetic conventional faith dan individuating reflective faith kepercayaan tersebut masih tergantung pada konsesus dan opini orang yang dianggap ahli atau figur yang bisa diteladani - dalam situasi rehabilitasi di inabah adalah para pembimbing atau guru -. Namun di rentang usia 30 tahun ke atas yang Fowler sebut sebagai tahap paradoxical-consolidation faith, anak bina dianggap sudah mampu memahami dan mengintegrasikan elemen spiritual yang terdiri dari kepercayaan akan kekuatan Tuhan dan ritual tasawuf yang diajarkan di Inabah secara Secara umum hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ritual spiritualisme serta pendidikan agama yang diterapkan di Pondok Inabah telah mencapai hasil seperti yang diinginkan, bukan sekedar anak bina berhenti mengkonsumsi narkoba, melainkan sampai pada tertanamnya kesadaran terhadap perilaku yang baik yang didasari oleh ajaran agama. Informan anak bina menyatakan bahwa telah terjadi perubahan pada sikap dan perilaku mereka dan mereka merasa lebih nyaman dengan kebiasaan baru menjalankan rangkaian kegiatan ritual spiritual serta dengan adanya pemahaman terhadap ilmu agama yang mereka peroleh. Informan pengelola Pondok Inabah menyebutkan keberhasilan yang diperoleh dalam proses rehabilitasi tersebut antara 80-100 persen. Namun demikian, dikemukakan pula oleh pengelola Pondok Inabah bahwa keberhasilan tersebut akan tergantung kepada dukungan lingkungan asal anak bina ketika mereka telah kembali ke lingkungannya semula. Untuk memastikan keberhasilan tersebut dalam arti bukan saja anak bina terbebas dari kebiasaan buruknya mengkonsumsi narkoba, melainkan sudah tumbuh dan mantap kesadarannya akan buruknya kebiasaan tersebut dan tertanamnya ajaran agama, pondok pesantren melalui yayasan telah menyiapkan program lanjutan yang disebut dengan program bina lanjut. Program bina lanjut disiapkan untuk pembinaan bagi anak bina yang tingkat ketergantungannya dinilai tidak berat Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 sehingga anak bina pada program bina lanjut dapat berasal dari dua sumber, yaitu anak bina yang dimasukkan ke program bina lanjut tanpa melalui program rehabilitasi di pondok inabah terlebih dahulu, dan anak bina yang telah selesai menempuh program rehabilitasi di pondok inabah. Anak bina yang langsung dimasukkan ke program bina lanjut didasarkan kepada hasil asesmen yang dilakukan oleh yayasan terhadap calon anak bina, dan kemudian direkomendasikan kepada pengelola program bina lanjut. Sedangkan untuk anak bina yang berasal dari pondok inabah, program ini baru merupakan pilihan, bukan bagian dari tahapan proses rehabilitasi. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat telah dikembangkan model program rehabilitasi penyandang masalah penyalahgunaan narkoba yang terdiri dari dua bagian, yaitu proses rehabilitasi dan proses bina lanjut. Disebut dua bagian, karena ke duanya masing-masing dirancang dan dilaksanakan secara terpisah, namun sebenarnya masih dalam satu rangkaian. artinya program bina lanjut tersebut bukan bagian dari proses rehabilitasi, melainkan merupakan kelanjutan dari program rehabilitasi tersebut. Program bina lanjut tersebut disebut the Crest, yang pada awalnya diadaptasi dari program Aohalfway houseAo pada program koreksional untuk para narapidana, yaitu yang di Indonesia dikenal dengan Aoprogram pemasyarakatanAo yang tujuannya memberi kesempatan kepada para narapidana menjelang habisnya masa hukumannya untuk mulai memasuki kehidupan pergaulan di dalam masyarakat umum dengan pembinaan dari petugas khusus. Program bina lanjut Inabah juga prinsipnya sama, yaitu memantapkan hasil proses rehabilitasi dan sekaligus mempersiapkan para anak bina untuk memiliki tempat di dalam masyarakat melalui program-program vokasional, sampai kepada penempatan di pekerjaan, mempersiapkan penerimaan dan dukungan keluarga. Proses ini berlangsung selama beberapa bulan, sampai anak bina dinilai benar-benar siap untuk kembali kepada kehidupan bermasyarakat. Dengan statusnya sebagai program yang mandiri walaupun merupakan kelanjutan dari program rehabilitasi, maka untuk menjalankan program bina lanjut ini dibutuhkan segala kelengkapan yang mendukung seperti layaknya sebuah program pembinaan, mulai dari fasilitas tempat dengan persyaratan yang dibutuhkan, pelibatan berbagai fihak . mulai dari berbagai ahli dalam bidang terkait, jaringan sistem sumber, serta staf pengelola. Pada konteks spiritual, layanan bina lanjut ini adalah sebuah upaya untuk mengintegrasikan dimensi-dimensi manusia yang sebelumnya terpecah-pecah. Proses rehabilitasi sejatinya merupakan upaya mengembalikan keutuhan manusia sehingga dapat berfungsi dengan baik. Perspektif spiritualisme keutuhan ini merupakan prasyarat agar manusia menemukan hakikat kemanusiaannya sebagai makhluk Tuhan. Jika kehidupan spiritual berlimpah, penyesuaian tidak akan begitu sulit dan beban klien akan menjadi ringan. Klien perlu memenuhi aspek-aspek kehidupannya secara utuh. Dengan demikian rehabilitasi pada aspek vokasi dan ekonomi dapat membantu klien bekerja kembali dan memperoleh jaminan eknomi. Tidak ada satu aspek yang lebih penting atau kurang penting dari yang lainnya. Terdapat mata rantai yang saling berhubungan antara satu aspek kehidupan dengan aspek kehidupnan lainnya yang membuat seorang manusia dapat hidup secara utuh. Jika satu bagian dalam keadaan yang lemah, maka kehidupan seseorang tidak akan lengkap dan rehabilitasi hanya akan mencapai setengah keberhasilan. Implikasi untuk Pekerjaan Sosial Secara keseluruhan, pendekatan spiritual dalam rehabilitasi merupakan upaya pengembalian manusia kepada jatidirinya sebagaimana pernyataan Gratton yang sudah dikutip sebelumnya yaitu Auto be human means to be spiritual. Ay Pendekatan ini juga memberi petunjuk bahwa masalah penyalahgunaan narkoba bukan semata disebabkan oleh kekacauan mental seseorang atau ketidakmamapuan seseorang dalam memilih tindakan, namun juga sebagai indikasi adanya keterpecahan elemen-elemen kehidupan yang lebih luas. Manusia dengan segala keterbatasannya perlu memiliki pengertian yang dalam tentang makna hidup dan kehidupan dan menempuh pencarian jawaban seperti siapa dirinya, mengapa ia ada di bumi ini, akan kemana ia pergi, dan apa kaitan dirinya dengan unsur kehidupan yang lain seperti dengan sesama manusia dan alam semesta ini. Pencarian makna ini tentu tidak akan bisa ditemukan jika cara pandang manusia hanya sekedar pada dimensi lingkungan yang bisa terlihat dan terukur. Dalam spriritualisme gagasan mengenai Aubeyond Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 empiricismAy adalah ide yang bisa ditempuh manusia dan artinya manusia sebenarnya mampu mencapai pengertian-pengertian yang tidak melulu terbatas pada pengamalan pengetahuan empirikpositivistik. Kajian tentang spiritualisme dalam pekerjaan sosial adalah bagian atau beririsan dengan perspektif transpersonal yang melibatkan aspek kehendak . yang melewati batas-batas ego atau identitas personal. Dalam perkembangan psiktoerapi pendekatan transpersonal merupakan kekutan keempat setelah didahului oleh psikoanalisa, kognitif-behavioral, dan humanistik. Sebagai kekuatan keempat, transpersonal seringkali tidak sepadan dengan paradigma saintifik atau positivistik karena mencakup kajian mengenai pengalaman-pengalaman yang tidak bisa terlihat dan terukur. Meskipun demikian persepektif ini sejalan dengan kemampuan manusia memaknai domain-domain yang tidak terlihat itu seperti keberadaan kehendak dan bahkan kekuatan yang maha kuasa (Tuha. Pada tingkat kemanfaatannya pendekatan spiritual yang melibatkan domain yang tidak terlihat itu pada kenyataannya dapat membantu seseorang yang mengalami masalah personal seperti pada berbagai bentuk rehabilitasi yang berbasis sprititual, termasuk layanan untuk pengguna narkoba seperti Inabah. Sauter . , menjelaskan tentang manfaat dan tantangan untuk pengembangan sains terkait kekuatan transpersonal. Menurutnya, apa yang saat ini tidak bisa diukur atau sulit dievaluasi bukan berarti tidak berarti atau tidak bisa diambil manfaatnya. Sebaliknya, ini adalah semacam undangan untuk pngembangan metode saintifik yang dapat mencapai dunia transpersonal hingga dapat ditawarkan pengetahuan yang valid mengenai pengalaman penyatuan kesadaran manusia dan bagaimana pengalaman ini berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan manusia. Ilmu pekerjaan sosial sangat menghargai keberagaman dari pengalaman manusia, namun seringkali melewatkan perhatian pada aspek spiritual manusia dan pertumbuhan klien yang melibatkan domain yang tidak tidak terlihat seperti pada kekuatan kehendak dan doa. Praktik-praktik terbaik dari lapangan yang menggunakan pendekatan dan metode spiritual perlu direplikasi dan Mengingat pendekatan spiritual ini lebih banyak berakar dari tradisi masyarakat lokal, kebudayaan timur dan agama maka pekerja sosial yang akan bekerja dengan pendekatan ini perlu memiliki kepekaan kultural dan keterampilan bekerja dalam keberagaman. Pekerja sosial memahami bagaimana budaya, tradisi, kebiasaan, kepercayaan dan agama mempengaruhi perkembangan dan keberfungsian manusia dan sekaligus menyadari bahwa kemungkinan faktor-faktor tersebut juga dapat menjadi penghambat keberfungsian dan Dengan demikian riset evaluasi praktik, studi efektivitas layanan perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pendekatan berbasis spiritual atau faith based tidak bias dogma atau ideologi dengan mengabaikan aspek kemanfaatan dan kemaslahatannya. Kesimpulan Sumber masalah sosial secara substantif sebenarnya terletak kepada sikap warga masyarakat terhadap sistem keyakinan yang diturunkan kepada nilai-nilai dan norma-norma sosial masyarakat itu Dengan demikian rehabilitasi penyimpangan perilaku dalam bentuk penyalahgunaan narkoba dari sisi pelaku dengan pendekatan spiritual sesungguhnya merupakan upaya untuk mengembalikan pelaku kepada sistem keyakinan dan sistem nilai tersebut. Hal ini sesungguhnya merupakan upaya untuk menumbuhkan kesadaran akan kedudukan manusia sebagai hamba Tuhan yang lemah, sehingga diharapkan dapat menjadi modal untuk mendapatkan kembali jiwa yang bersih dan dapat kembali ke lingkungan masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pekerjaan sosial yaitu agar warga masyarakat dapat berfungsi secara sosial, mampu beradaptasi pada setiap perubahan dengan tetap berpijak kepada sistem keyakinan dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat itu sendiri. Pendekatan spiritualisme memungkinkan proses rehabilitasi menyentuh Ausisi dalamAy . pada diri anak bina. Namun demikian, masih dibutuhkan sebuah proses tindak lanjut untuk penguatan agar anak bina tidak tergoda lagi kepada kebiasaan lamanya yang buruk. Tujuan tersebut dimungkinkan dapat dicapai jika proses rehabilitasi ini berlanjut sampai tertanamnya kembali keyakinan serta sistem nilai masyarakat Budi Muhammad Taftazani. Nurliana Cipta Apsari, dan Meilanny Budiarti Santoso Spiritualisme Dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba Pada Pondok Pesantren Suryalaya SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 1 - 13 di dalam diri individu-individu anak bina. Untuk itu dibutuhkan sebuah sistem rehabilitasi yang melibatkan berbagai bidang keahlian untuk mendukung proses resosialisasi yang dimaksud tersebut. Dilihat dari perkembangan anak bina selama dalam proses rehabilitasi memang dapat dikatakan anak bina sudah sembuh dari kebiasaan buruknya, namun perlu diingat bahwa penyembuhan di tempat rehabilitasi belum dapat menjamin keterbebasan yang sesungguhnya dari masalah ketika anak bina sudah kembali ke lingkungan asalnya. Dibutuhkan sebuah program lanjutan yang tidak hanya berfokus kepada anak bina, melainkan juga melibatkan berbagai fihak dari luar untuk membantu mempersiapkan anak bina kembali ke kehidupan pergaulan masyarakat sebagai warga masyarakat yang sama dengan warga masyarakat yang lain. Di pondok pesantren Suryalaya, program ini sudah ada yang disebut program Aobina lanjutAo. Diperlukan kajian khusus untuk menelaah bagaimana pelaksanaan program ini, beserta segala faktor pendukungnya, sampai kepada efektivitasnya. Budaya, tradisi, kepercayaan dan agama merupakan kekuatan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Diperlukan kepekaan kultural dan kemampuan bekerja dalam keberagaman dari pekerja sosial yang bekerja di dalam pelayanan yang menggunakan pendekatan faith based. Kajian kritis yang bersifat evaluatif diperlukan pada layanan berbasis faith based untuk memperkuat pengaruh dan posisi dari pendekatan ini. Daftar Pustaka