Journal of Digital Ecosystem for Natural Sustainability (JoDENS) Vol. No. Desember 2023, pp. e-ISSN: 2798-6179 DOI https://doi. org/10. 63643/jodens. Perancangan Aplikasi Kesehatan Mental berbasis Mobile Menggunakan Metode Design Thinking Geona Theophillia 1. Cyntia Chandra 2 * 1,2Sistem Informasi. Unviersitas Universal *Corresponding author E-mail: cyntiachandratan25@uvers. Article Info ABSTRACT Article history: The purpose of this research is to determine an application prototype to giving more Anonymous Feature so that they can easily speak up what problem that they embarrassed or feel ashamed to talk to. The problem that weAore having at the moments is that user canAot be freely to speak up because of scared that people look at them as an person that want attention from others also a weak person that canAot handle something like that which its make people have some mental disorder that will risk to death if not assisted immediately. Design Thinking have five stages are involved which is emphatizing, defining, ideation, prototype and testing. The goal of this study is for made an innovation about mental health application and hope that they can interact to communicate without feel being judge. Received 02-06-2023 Revised 08-06-2023 Accepted 22-12-2023 Keyword: Aplikasi. Design Thinking. Gangguan Mental. Kesehatan Mental. Speak-Up Copyright A 2023. This is an open access article under the CC BY license. PENDAHULUAN Di masa atau generasi sekarang, kesehatan mental menjadi topik yang sering dibicarakan dan adakalanya kesehatan mental tersebut memiliki gangguan yang penyebabnya bisa dikarenakan gejala stress pada mahasiswa, disebabkan tugas perkuliahan yang banyak dan sulitnya berkompromi dalam tugas kelompok, dan keterbatasan pemahaman materi perkuliahan . Secara keseluruhan,gangguan mental telah merugikan ekonomi dunia per tahunnya dikarenakan Kesehatan yang buruk dan penurunan produktivitas, hilangnya produktivitas paling umum dikarenakan dua gangguan mental yaitu kecemasan dan depresi . Kesehatan mental merupakan sebuah kondisi seorang individu yang tidak memiliki keterkaitan atau terbebas dengan segala bentuk gejala yang mencerminkan gangguan mental, dalam kesehatan mental mencangkup emosi diri kita, psikologis kita, dan kesejahteraan sosial, sehingga akan mempengaruhi cara berpikir kita, perasaan, dan reaksi kita. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik bagi manusia dan penting pula untuk berbagai usia. Dari kesehatan mental ini harus di stabilkan keseimbangannya, kita harus tau bagaimana kita menangani stress yang diakibatkan oleh orang lain, serta mengetahui gejala yang sudah menandakan bahwa diri kita mengalami gangguan mental walaupun di diagnosa tidak memiliki gangguan mental Available online: http://journal. id/index. php/jodens tersebut, karena gangguan tersebut dapat berubah seiring waktu menjadi kesehatan mental yang baik. Berdasar data yang bersumber dari riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 menunjukkan bahwa sejumlah penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun yang mengalami gangguan mental telah sebanyak lebih dari 19 juta dan sebanyak lebih dari 12 juta penduduk yang berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi . Pemulihan tiap individu yang memiliki masalah kesehatan mental pun berbeda-beda, ada yang memiliki solusi adapun yang tidak jadi terbilang tidak mudah. Banyak upaya yang telah diberikan dan diterapkan pemerintah Indonesia untuk menangani kesehatan mental yang dialami oleh masyarakatnya. Salah satunya diupayakan dengan diterbitkannya UU No 18 tentang kesehatan mental dan diberikan perawatan bagi yang memiliki penyakit mental. Namun solusi tersebut tidaklah menjadi solusi yang lancar, ternyata masih banyakan orang yang mengalami kesulitan dalam speak-up akan masalah kesehatan mentalnya dan menolak untuk konsultasi karena merasa itu sebuah hal yang memalukan dan berlebihan, adapun stigma bahwa orang yang speakup dianggap mencari perhatian karena melebih-lebihkan sebuah penyakit, itu merupakan stigma yang dibuat orangorang sehingga orang yang memikirkan stigma selfesteem, mencegah mereka mencari pertolongan, dan mencegah mendapatkan peluang kesempatan kerja karena JoDENS e-ISSN: 2798-6179 pemikiran yang rumit . Maka dari itu sebenarnya penting untuk memberikan edukasi kepada orang yang mengalami gangguan mental untuk mendapatkan konseling dari psikolog bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apapun . Gangguan mental itu biasanya semakin diperparah dengan adanya melakukan aktivitas yang berhubungan dengan sosial media, karena sosmed menjadi tempat orang untuk bebas berpendapat, maka dari itu tak heran ada sebagian orang yang tidak mem-filter terlebih dahulu ketikannya sebelum dikirim . Hal-hal yang dikatakan atau stigma orang lain seperti itulah yang membuat temanteman yang memiliki gangguan mental semakin sulit untuk speak-up padahal jika teman gangguan mental ini menemukan teman yang bisa respect atau orang yang tepat, bisa saja itu menjadi sebuah langkah kecil nan berani menuju perubahan dan mengajak teman-teman yang memiliki hal yang sama untuk berani speak-up juga. Akan terlihat menyenangkan, jika kita dapat melihat seseorang bahagia dengan temannya tanpa perlu khawatir lagi akan didiskriminasi . Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang membuat banyaknya peluang untuk memanfaatkannya sebagai tempat alternatif pengguna yang memiliki gangguan mental. Fiturnya yang daring membuat pengguna dapat follow atau catch-up untuk permasalahannya kapan saja dan dikala mereka memiliki waktu luang, namun harus pula diselingi dengan rasa empati dan suportif bagi yang memiliki gangguan Teman yang memiliki gangguan mental tersebut hanya membutuhkan orang yang mau mendengarkan dengan ketulusan . Hubungan pertemanan yang baik akan memberikan pengaruh yang baik terhadap kesehatan mental diri, pertemanan yang buruk tidak hanya dirugikan secara fisik saja tetapi kesehatan mental ikut terugikan sebaliknya hubungan pertemanan yang buruk akan memberikan pengaruh yang buruk pula terhadap kesehatan mental . Seringkali teman yang memiliki gangguan mental ini juga tidak yakin dimana dan bagaimana untuk mencari bantuan dikarenakan sumber daya yang masih sedikit, kemudian jika dilakukan konseling secara rutin ke psikologis pun membutuhkan uang yang lebih dan itu membuat uang terlanjur terkuras sebelum mental tersebut sehat kembali . Adapula gangguan mental ini terkadang tidak disadari oleh yang Oleh karena itu dikembangkanlah sebuah aplikasi yang tujuannya untuk memberikan ruangan bagi yang memiliki gangguan mental untuk bebas bercerita tanpa perlu khawatir akan identitasnya karena secara rapi nama-nama tersebut telah disensor agar pengguna memiliki kenyamanannya dalam bercerita . Secara biaya dan waktu pun terbilang hemat jika berkonsultasi atau men-speak-up menggunakan aplikasi. Termasuk pula secara efektifitas yang akan win-win solution bagi Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa individu yang memiliki gangguan kesehatan mental memiliki perasaan takut karena takut memiliki teman cerita yang tidak sepenuhnya mengerti posisi mereka, kemudian malah men-judge si pengguna bahwa itu sebuah hal yang normal apalagi jika teman cerita membandingkan dirinya dengan masalah kesehatan mental si pengguna. Fitur aplikasi yang kurang membuat aplikasi tersebut tidak berjalan secara maksimal dan memenuhi kebutuhan pengguna, aplikasi yang memiliki tampilan sebagus mungkin tetap akan dinilai minus oleh pengguna jika kebutuhannya terpenuhi karena secara garis besar aplikasi itu dibuat untuk pengguna yang memiliki gangguan mental agar mendapatkan penanganan yang tepat dan memiliki mental yang sehat. II. METODE Dalam penelitian ini, digunakan metode Design Thinking. Design Thinking merupakan sebuah proses pemikiran kritis yang komprehensif dan titik fokusnya yaitu untuk menciptakan dan mendapatkan sebuah solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang pengguna Pendekatan Design Thinking haruslah disesuaikan dengan pemahaman akan kebutuhkan pengguna. Tahapan dari proses design thinking dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Pendekatan Design Thinking . ttps://w. com/media/catalog/product/cache/1/image/7 20x540/c96a280f94e22e3ee3823dd0a1a87606/d/e/design-thinkingslide17. Tahapan dalam metode design thinking dijelaskan sebagai berikut: Emphatize atau Empati adalah sebuah tahapan yang dapat dikatakan sebagai inti atau berperan besar dalam perancangan design thinking. Dikarenakan pada tahapan emphatize, perancangan tersebut dipusatkan pada manusia atau disebut juga dengan Human Centered Design. Tahapan ini dilakukan dengan metode observasi di lapangan, wawancara pada pihak terkait, kemudian kedua metode tersebut digabungkan sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan. Dalam tahap ini peneliti akan mewawancara dengan bantuan google form yang Vol. No. Desember 2023, pp. e-ISSN: 2798-6179 Tabel 1. Empathy Maps Target Pengguna disebarkan secara umum. Dengan maksud untuk mendapatkan data terkait perilaku para individu yang memiliki kesehatan mental atau bagaimana selama ini perilaku orang-orang yang menjadi teman cerita si penderita gangguan mental. Define atau Penetapan. Tahapan ini lebih utamain proses penganalisaan dan pemahaman akan informasi-informasi sebelumnya dalam proses empati. Tahapan ini akan menghasilkan pernyataan masalah sebagai point of view atau pusat yang ingin disampaikan dalam Peneliti akan memanfaatkan metode menyimpulkan permasalahan yang terjadi. Apakah ada platform untuk Saya tidak memiliki tempat bercerita yang Saya terhadap permasalahan Saya stress dan cemas akan pencapaian orang lain di media sosial Saya cemas akan karir serta masa kedepan yang akan dihadapi Tabel 2. Empathy Maps Target Pengguna Pain Points Cemas berlebihan akan karir serta hubungan yang sedang dijalani Tempat bercerita yang dimiliki terbatas sehingga seringkali masalah dipendam sendiri Tdak mengerti kepada siapa dapat dijadikan temen cerita agar mendapatkan feedback mengenai permasalahan mentalitas yang sedang dirasakan Pada Tabel 2 terlihat bahwa calon pengguna aplikasi Kesehatan mental pun masih belum memiliki titik solusi yang diinginkan pada aplikasi Kesehatan Tahapan Define Pada tahapan define, peneliti menemukan bahwa para teman gangguan mental berharap tidak di-judging oleh lingkungannya dan diberikan dukungan yang penuh dan mendapatkan perasaan aman. Para mental health warrior juga mengharapkan adanya fitur-fitur pada aplikasi yang akan membantu mereka dalam men-speak up akan permasalah mentalnya. Fitur yang bisa memberikan teman cerita untuk mereka tanpa diketahui identitas aslinya agar memiliki keleluasaan dalam bercerita. Dari tahapan define ini maka permasalahan yang diangkat untuk diselesaikan adalah Bagaimana membangun aplikasi dengan fitur yang diinginkan para teman gangguan mental dalam mengatasi permasalahan mentalnya? Hasil Tahapan Ideate Didukung dengan data yang ada pada tahapan empati, maka peneliti mengusulkan untuk membangun aplikasi dengan fitur-fitur sebagai berikut: HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang dilakukan mendapatkan sebuah hasil temuan yang diperoleh pada tahapan-tahapan metode penelitian dengan rincian sebagai berikut. Vol. No. Desember 2023, pp. Prototype atau Prototipe. Pada tahapan ini akan dirancang suatu produk. Rancangan ini merupakan pengguna untuk membuat rancangan menjadi lebih Penliti akan merancang sistem yang menggunakan Figma untuk menggambarkan sistem seperti apa yang akan dibangun. Tahapan Emphatize Tahap pertama yang dilakukan yaitu penggalian permasalaan yang terdiri dari indetifikasi pembuat dan mengandalkan google form yang disebar. Tahap kedua yang dilakukan yaitu mengindentifikasi karakterisitik pengguna yang terdiri dari empathy maps pengguna yang terdapat pada Tabel 1 dan pain points pengguna yang terdapat pada Tabel 2. Thinks . Ideate atau Ide. Tahapan ini merupakan tahapan yang berfokus pada penyusunan gagasan atau ide, yang dimana akan dijadikan landasan dalam sebuah prototype rancangan yang akan dibuat. Test atau uji coba, tahapan ini merupakan tahap terakhir akan segalanya, yaitu untuk mendapatkan sebuah umpan balik dari hasil prototype yang telah dibuat sebelumnya, tahap ini memungkinkan pula akan terjadinya sebuah perulangan dikarenakan kritik dan saran setelah diujicobakan. Pada tahapan ini, peneliti berusaha men-uji cobakan dengan cara mengimplementasi figma layaknya simulasi. Namun dalam tahapan ini belum dijelaskan secara spesifik pada artikel ini . Says Fitur Open Sharing, merupakan fitur yang disediakan oleh aplikasi agar pengguna dapat bercerita secara terbuka dengan orang asing tanpa memedulikan nama pengguna akan terungkap sehingga dapat dengan leluasa bercerita. JoDENS e-ISSN: 2798-6179 Fitur Call Centre, merupakan fitur yang disediakan oleh aplikasi untuk memberikan kesan mendalam ketika bercerita, sebagian pengguna ada yang nyaman ketika berbicara secara langsung maka otomatis akan merasa nyaman dengan adanya fitur ini. Fitur Medical Appointment, merupakan fitur yang disediakan oleh aplikasi untuk memudahkan pengguna dalam melakukan penjadwalan dengan si terapis sehingga nantinya tidak ada jadwal yang bentrok dengan para teman gangguan mental lainnya. Fitur Daily Quotes, merupakan fitur yang disediakan oleh aplikasi untuk memotivasi pengguna dikala sedang galau atau ada masalah. Fitur Music Playlist, merupakan fitur yang disediakan oleh aplikasi untuk memberikan suasana tenang kepada pengguna agar hidup terasa damai walau sesaat. Hasil Tahapan Prototype Pada tahapan prototipe, akan ditampilkan sebuah gambaran atau visualisasi produk, yang berisikan rancangan sistem dengan menggunakan Figma sebagai pembentuk bentukan sistem yang diinginkan. Tahapan ini dimulai dengan use case diagram untuk menggambarkan fungsional dari ssitem tersebut seperti pada Gambar 2: call centre untuk menelepon ke terapis secara langsung untuk pembicaraan yang lebih mendalam, kemudian ada pula mendapatkan sebuah daily quotes yang dapat dibaca ketika senggang, dan terakhir mendapatkan akses mendengar musik yang cocok untuk menenangkan diri. Gambar 2 Tampilan Awal Gambar 3 merupakan tampilan awal dari aplikasi blue box health kit, yang dimana pengguna akan diminta untuk melakukan registrasi terlebih dahulu jika belum melakukan pendaftaran atau bisa juga dengan melakukan login secara langsung jika sudah pernah mendaftar. Tujuan dilakukannya ini untuk mendapatkan fitur-fitur yang dimiliki aplikasi ini dan dibutuhkan oleh pengguna. Gambar 4 merupakan tampilan registrasi dalam aplikasi dan data-data yang dibutuhkan sebelum masuk ke fitur aplikasi tersebut, registrasi tersebut dapat pula dilakukan dengan menggunakan bantuan google atau Gambar 3. Use Case Diagram Pada gambar 2 ini menggambarkan bahwa seorang pengguna aplikasi dapat melakukan registrasi jika belum mendaftar dan login jika sudah mendaftar, kemudian memiliki arahan untuk mengisi kuisioner yang akan memberikan sedikit kesimpulan kepada admin aplikasi untuk mendiagnosa penyebab pengguna tidak dapat memberanikan diri untuk speak-up, setelah itu pengguna memiliki akses untuk melakukan sesi open sharing atau bercerita secara terbuka tanpa perlu khawatir akan identitas, kemudian ada pula penjadwalan appointment jika dibutuhkan, kemudian Gambar 4. Tampilan Register Vol. No. Desember 2023, pp. e-ISSN: 2798-6179 Gambar 7 merupakan tampilan login menggunakan bantuan facebook, sehingga cara pengisiannya pun mirip ketika men-login dengan facebook. Gambar 5. Tampilan Login Gambar 8. Tampilan login dengan Google Gambar 5 merupakan tampilan login dalam aplikasi dan data yang harus dimasukkan untuk memasuki kembali aplikasi tersebut, jika sebelumnya registrasi menggunakan bantuan google atau facebook, maka pengguna dapat menlogin dengan menggunakan fitur tersebut. Gambar 8 merupakan tampilan login menggunakan bantuan google, sehingga cara pengisiannya pun mirip ketika men-login dengan google. Gambar 9. Tampilan Loading Gambar 9 merupakan gambaran aplikasi ketika loading sebelum menuju ke dashboard aplikasi. Gambar 6. Tampilan Kuisioner Gambar 6 merupakan tampilan kuisioner yang dapat membantu admin untuk mengetahui sedikit mengenai pengguna sehingga dapat merangkum apa yang kemungkinan diperlukan pengguna sesuai dengan data-data yang diisi sebelumnya. Gambar 10. Tampilan dashboard Gambar 7. Tampilan login dengan Facebook Vol. No. Desember 2023, pp. Gambar 10 merupakan tampilan dari dashboard aplikasi beserta fitur-fitur yang dimilikinya dan bisa diakses secara gratis oleh pengguna, seperti halnya sesi open sharing atau bercerita secara terbuka tanpa perlu khawatir akan identitas, kemudian ada pula penjadwalan appointment jika dibutuhkan, kemudian call centre untuk menelepon ke JoDENS e-ISSN: 2798-6179 terapis secara langsung untuk pembicaraan yang lebih mendalam, kemudian ada pula mendapatkan sebuah daily quotes yang dapat dibaca ketika senggang, dan terakhir mendapatkan akses mendengar musik yang cocok untuk menenangkan diri. Gambar 13. Tampilan Konsultan Gambar 11. Tampilan Mood Gambar 13 merupakan tampilan konsultan-konsultan yang bersedia untuk membantu pasien gangguan mental ketika dibutuhkan dan pengguna dapat memilih konsultan seperti apa yang diinginkan. Gambar 11 merupakan tampilan fitur mood yang dapat pengguna lakukan untuk melihat rutinitas mood yang dirasakan apakah ada perubahan atau tidak. Gambar 14. Tampilan Daily Quotes Gambar 12. Tampilan Medical Appointment Gambar 14 merupakan tampilan quotes-quotes yang dapat membantu memberikan ketenangan atau pencerahan kepada pengguna. Gambar 12 merupakan tampilan tempat-tempat atau rumah sakit yang dapat menaung atau memberikan terapis terbaik untuk pengguna, rumah sakit ini yang membuat kerja sama dengan aplikasi untuk turut membantu pasien gangguan mental. Gambar 15. Tampilan Music Playlist Vol. No. Desember 2023, pp. e-ISSN: 2798-6179 Gambar 15 merupakan tampilan kumpulan musik yang dapat diakses pengguna untuk mendapatkan ketenangan ketika pengguna butuhkan. Karena musik, terbukti dapat membantu pengguna dalam memberikan suasana hati yang Perancangan sistem menggunakan Figma. Yang akan memberikan sebuah simulasi ketika aplikasi tersebut dijalankan, dari saat dilakukan per-login-an dan register, kemudian dilanjuti dengan kuesioner untuk menyimpulkan permasalahan yang dialami serta keluh kesah yang dialami, kemudian diteruskan dengan halaman beranda yang berisi berbagai fitur dan bisa diinteraksikan sesuai dengan kebutuhan pengguna. IV. KESIMPULAN Aplikasi Kesehatan Mental yang kami beri nama Blubox Health Kit dapat berjalan dengan baik di perangkat Android, mudah digunakan dan bermanfaat untuk pengguna yang membutuhkan responden akan ceritanya serta mendapatkan nasehat dan saran akan gangguan mental yang dialaminya. Aplikasi ini juga tidak hanya fokus ke menyembuhkan gangguan mental namun juga menjadi tempat untuk pengguna bercerita secara leluasa tanpa perlu memikirkan hal-hal yang berbau stigma dari orang lain. UCAPAN TERIMA KASIH Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan Rahmat dan karunia-Nya sehingga artikel ini dapat terselesaikan. Artikel yang berjudul AuPerancangan Aplikasi Kesehatan Mental berbasis Mobile Menggunakan Metode Design ThinkingAy merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan nilai UAS yang tinggi. Terwujudnya artikel ini tidak lepas dari partisipasi dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih setulus-tulusnya kepada Ibu Steffi Adam. SI. MSI sebagai dosen pembimbing artikel yang telah meluangkan waktu untuk memberikan masukan, bimbingan, dan motivasi yang membangun kepada penulis hingga artikel ini terselesaikan dengan baik, serta Bapak Akhmad Rezki Purnajaya. Kom. Kom sebagai dosen penasehat yang memberikan masukan kepada penulis dan penerbitan artikel ini. DAFTAR PUSTAKA