Jurnal Geuthyy: Penelitian Multidisiplin (Multidiciplinary Researc. Vol. No. April 2025, pp. ISSN: 2614-6096. DOI: 10. 52626/jg. v%vi%i. ic 45 Fostering character through Pancasila and Civic Education in the digital era at Labschool Senior High School. Unsyiah Pembinaan karakter melalui Pendidikan Pancasila dan 52626/jg. v%vi%i. 400Kewarganegaraan di era digital di SMA Labschool Unsyiah Fathur Rawandi1. Ruslan2. Hasbi Ali3 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Syiah Kuala. Indonesia rawandi05@gmail. com, 2ruslan@usk. id, 3 hasbi@unsyiah. Corresponding Author: fathur. rawandi05@gmail. ABSTRACT This study focuses on the role of teachers in fostering and shaping students' character in response to the challenges of the current digital era through Pancasila and Civic Education. The objectives of this research are to: . describe the role of teachers in character development in the digital era, . identify the forms of character development implemented by teachers, and . examine the challenges and obstacles faced by teachers in the character development process. This research employs a qualitative approach with a descriptive research design. The subjects of this study include Civics Education teachers and 11th-grade students from Labschool Senior High School. Unsyiah. Data collection techniques are triangulated, combining observations, interviews, and document analysis. Data analysis procedures involve data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings of this study indicate that . in the digital era, teachers play a crucial role as mentors, facilitators, and role models in fostering students' character, . the forms of character development implemented by teachers include the application of interactive teaching methods, such as group discussions and collaborative projects, to help students learn teamwork and appreciate differences, as well as integrating character values into the curriculum, and . the primary challenges in character development include students' susceptibility to negative content on social media, such as the spread of false information. Keywords: Digital era. Character Fostering, and Pancasila and Civic Education. ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada peran guru dalam membina dan membentuk karakter siswa yang sesuai dengan tantangan era digital saat ini melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Penelitian ini bertujuan untuk . Mendeskripsikan peran guru dalam melakukan pembinaan karakter siswa di Era digital, . Mendeskripsikan bentuk pembinaan karakter yang dilakukan oleh guru, . Mendeskripsikan tantangan dan hambatan yang dilakukan guru dalam proses pembinaan karakter. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari Guru PPKn serta siswa kelas XI SMA Labschool Unsyiah. Teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi . abungan observasi, wawancara, dokumentas. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa . Di era digital, guru memiliki peran penting sebagai pembimbing, fasilitator, dan teladan dalam membina karakter siswa. Bentuk pembinaan karakter yang dilakukan oleh guru dengan menerapkan metode pembelajaran yang interaktif, seperti diskusi kelompok dan proyek kolaboratif agar membantu siswa untuk belajar bekerja sama dan menghargai perbedaan, serta mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam kurikulum. Tantangan utama pembinaan karakter meliputi siswa yang mudah terpapar konten negatif media sosial seperti penyebaran informasi yang tidak valid . , adanya perundungan . , berkurangnya kemampuan berinteraksi sosial secara langsung. Saran dari penelitian ini adalah Mendorong kolaborasi antara sekolah dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan karakter. Journal homepage: https://w. com/index. php/JG/index The published content of this journal is licensed under a Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. Fostering character trough Pancasila and Civic --- 46ic Kata kunci: Era digital. Pembinaan Karakter, dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. PENDAHULUAN Pendidikan saat ini dimudahkan dengan adanya kemajuan teknologi, dimulai dari metode, media, hingga sumber belajar yang inovatif dalam membentuk karakteristik peserta didik. era yang serba digital saat ini membuat masyarakat tidak bisa terlepas dari teknologi dan media digital, terutama dalam kaitannya dengan proses pembelajaran. Pendidikan berpengaruh besar terhadap manusia agar mampu bertahan hidup dan tetap memiliki karakter baik ditengah gempuran arus globalisasi yang begitu kuat yang menyerang bangsa dari berbagai segi kehidupan (Suryana & Muhtar, 2. Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu pendidikan yang berperan sebagai pembentuk karakter bangsa yaitu Pendidikan pancasila dan Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan semangat perjuangan bangsa yang merupakan kekuatan mental spiritual yang telah melahirkan kekuatan luar biasa dalam masa perjuangan fisik, sedangkan dalam menghadapi globalisasi untuk mengisi kemerdekaan memerlukan perjuangan non fisik sesuai dengan bidang profesi masing-masing. Pelaksanaan pembelajaran sekarang ini berusaha untuk membentuk karakter peserta didik yang berintegritas, bertanggung jawab, dan memiliki rasa cinta terhadap bangsa dan Pembinaan karakter diperlukan untuk memberikan pemahaman terhadap siswa terkait bagaimana mereka dalam membedakan antara yang Aubaik dan burukAu serta Aubenar dan salahAu sehingga ia dapat menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan Krisis moral yang melanda generasi bangsa ini diakibatkan oleh melemahnya nilainilai moral bangsa dalam kehidupan masyarakat. Pembinaan karakter dilakukan dengan tujuan agar peserta didik mempunyai akhlak dan moral yang baik, untuk menciptakan kehidupan berbangsa yang adil, aman dan makmur (Putri, 2. Melalui Pembelajaran PPKn, guru berusaha mempersiapkan generasi muda agar menjadi warga negara yang baik dan mampu berkontribusi positif dalam masyarakat di tengah perubahan sosial, teknologi, dan tantangan global saat ini. Siswa perlu memahami peran mereka dalam 11dunia yang semakin terhubung dengan globalisasai dan digitalisasi. Oleh sebab itu. PPKn memberikan landasan untuk memahami hak asasi manusia, perdamaian global, dan isu-isu penting lainnya. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. memiliki peranan penting dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa sebagai generasi penerus bangsa. Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan memiliki peran sebagai salah satu mata pelajaran yang begitu strategis dan sangat berkontribusi secara teoritis maupun praktis dalam membangun nilainilai kemanusiaan, wawasan kebangsaan dan memperkuat karakter peserta didik di tiap satuan tingkat pendidikan (Harry, 2. Lembaga pendidikan memiliki peran sentral dalam memberikan layanan pendidikan yang mengakomodir penanaman karakter. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang lebih mengedepankan hakikat dan makna terhadap moral dan akhlak. Pendidikan yang mampu membentuk pribadi yang terpuji dalam diri seseorang. Pada konteks pendidikan karakter, terdapat banyak sekali instrumen yang mempengaruhi, salah satunya adalah pendidikan formal. Pendidikan formal memiliki peran penting dalam rangka pendidikan etika dan nilai (Akhwani, 2. Pembentukan karakter peserta didik diperlukan sehingga mereka mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Karena kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis . ard skil. saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain . oft skil. PPKn memiliki potensi besar sebagai sarana untuk mengembangkan pendidikan karakter siswa di era digital. Namun, perlu diakui bahwa implementasi PPKn di sekolah tidak selalu efektif dan tidak selalu berhasil menghasilkan siswa yang memiliki karakter yang kuat. Hal ini menjadi tantangan bagi guru dalam membentuk karakter siswa di era digital sekarang ini. JG. Vol. No. April 2025: 45 - 53 47ic Fathur Rawandi. Ruslan. Hasbi Ali Era digital membawa perubahan dalam pola berpikir dan perilaku siswa, sehingga perlu adanya penyesuaian dalam pelaksanaan pembelajaran PPKn agar tetap relevan dan efektif dalam membentuk karakter yang kuat. Pentingnya pendidikan karakter dalam pembelajaran PPKn di era digital dapat dilihat dari adanya tantangan-tantangan moral dan etika yang muncul akibat penggunaan teknologi, seperti penyebaran berita palsu, perilaku negatif di media sosial, dan pengabaian terhadap norma-norma kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembinaan karakter membahas tentang nilai-nilai moral dan etika yang melibatkan etika digital, seperti cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, menjaga privasi, dan menghindari perilaku negatif seperti cyberbullying atau penyebaran hoaks. Era digital merupakan era demokratisasi informasi, yang berdampak pada adanya keterbukaan yang seluas-luasnya dan hilangnya kerahasiaan (Prisgunanto, 2. Era digital membawa perubahan signifikan dalam cara siswa belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Penggunaan teknologi dan akses mudah terhadap informasi melalui internet dapat memiliki dampak positif dalam memperkaya pengetahuan siswa, tetapi juga membawa risiko negatif seperti informasi yang tidak akurat, konten yang merugikan, dan hilangnya nilai-nilai tradisional. Perkembangan di abad 21 yang semakin menjadikan peradaban maju membutuhkan kesiapan yang ekstra dalam menghadapinya. Perlu pemahaman terhadap beberapa hal yang melatarbelakangi kemerosotan moral anak yang wajib kita ketahui sehingga mampu menemukan pemecahan yang terbaik dan membantu dalam penyelesaian masalah tersebut (Laksana, 2. Pembinaan karakter siswa di era digital saat ini memerlukan pendekatan yang holistik, melibatkan kolaborasi antara berbagai pihak terkhusus guru dalam membimbing siswa untuk menjadi individu yang bertanggung jawab, etis, dan peduli terhadap dunia digital dan fisik di sekitar mereka (Muslich, 2. Pembinaan karakter siswa di era digital ini memiliki tantangan dan peluang yang memberikan akses mudah terhadap berbagai informasi, tetapi banyak di antaranya tidak terverifikasi atau tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diinginkan dalam pendidikan karakter (Maryam, 2. Peserta didik sekarang ini dengan mudah terpapar pada konten negatif seperti kekerasan, pornografi, atau perilaku tidak etis melalui internet dan media sosial. Peserta didik lebih cenderung menghabiskan waktu di depan layar dan kurang berinteraksi secara langsung, sehingga mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial dan empati mereka. Era digital membawa kita dalam era baru pendidikan karakter, yang ditujukan secara langsung terhadap peluang dan tantangan pada kehidupan gaya hidup digital. Penelitian sebelumnya tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. dalam konteks era digital menunjukkan bahwa ada kekosongan terkait integrasi kewarganegaraan digital di dalam kurikulum PPKn, khususnya di tingkat sekolah menengah. Dalam penelitian Rini, mengungkapkan bahwa norma dalam PPKn bisa digunakan untuk menanamkan kewarganegaraan digital, namun masih terbatas dalam implementasinya. Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di abad ke-21 menuntut adanya pembekalan karakter yang kuat bagi generasi muda. Namun, belum banyak penelitian yang mengkaji secara mendalam bagaimana pendidikan karakter dan kewarganegaraan digital diterapkan dalam konteks sekolah menengah. Terkadang, pendekatan yang ada belum sepenuhnya menjawab tantangan kemerosotan moral anak yang semakin kompleks seiring dengan kemajuan teknologi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan PPKn dalam membentuk karakter digital siswa, serta memahami lebih dalam terkait bentuk pembinaan karakter dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku digital peserta didik di era modern ini. Sehingga mampu menjawab persoalan terkait tantangan yang dihadapi pendidik dalam membina karakter siswa di era digital sekarang ini. Novelty dalan penelitian ini terletak pada upaya guru dalam menghadapi tantangan pelaksanaan pembelajaran di era digital saat ini dalam membina karakter siswa serta peran yang dapat guru lakukan dalam melakukan pembinaan karakter di Era digital saat ini. Adapun indikator dari pendidikan karakter adalah keteladanan, kedisiplinan, pembiasaan, dan menciptakan keadaan yang kondusif. Era digital memberikan pengaruh terhadap perkembangan karakter peserta didik, sehingga peneliti berusaha untuk mengetahui lebih ISSN: 2614-6096 48ic Fostering character trough Pancasila and Civic --- jauh terkait pelaksanaan pembelajaran PPKN di era digital dalam membentuk karakter siswa baik secara positif maupun negatif dikarenakan pendidikan karakter menjadi aspek penting dalam pembentukan generasi muda yang memiliki moral, etika, dan nilai-nilai yang baik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono, metode penelitian kualitatif merupakan metode yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme atau interpretif, digunakan untuk meneliti objek yang berada dalam kondisi alamiah, di mana peneliti berperan sebagai instrumen utama. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara triangulasi, yakni melalui gabungan antara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang dihasilkan bersifat kualitatif, dianalisis secara induktif untuk memahami makna, mengonstruksi fenomena, serta mengemukakan hipotesis berdasarkan kenyataan di lapangan. Jenis penelitian yang diterapkan adalah penelitian deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai suatu variabel atau fenomena secara mendalam tanpa melakukan perbandingan atau mencari hubungan antarvariabel. Penelitian ini diarahkan untuk mendeskripsikan fenomena yang terjadi secara alami sebagaimana Penelitian dilaksanakan di SMA Labschool Unsyiah, yang berlokasi di Jl. Kuta Inong Balee No. Kopelma Darussalam. Kecamatan Syiah Kuala. Kota Banda Aceh. Subjek penelitian terdiri dari satu orang guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. yang diinisialkan DS dan lima orang siswa kelas XI yang masing-masing diinisialkan sebagai FA. SP. FI. HH, dan RA. Guru PPKn dipilih sebagai informan kunci karena keterkaitannya dengan fokus penelitian mengenai peran, tantangan, dan hambatan dalam membina karakter siswa melalui pembelajaran PPKn di era digital. Sementara itu, siswa dipilih sebagai subjek tambahan untuk memperoleh persepsi yang komprehensif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara mendalam, observasi langsung, dan Wawancara terhadap guru DS dilaksanakan di luar jam pelajaran guna mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan bebas dari tekanan aktivitas pembelajaran Adapun wawancara terhadap siswa FA. SP. FI. HH, dan RA dilakukan setelah jam pelajaran selesai, untuk menghindari gangguan terhadap proses akademik. Observasi dilakukan secara langsung pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung untuk mencatat strategi pembelajaran, interaksi antara guru dan siswa, serta penggunaan media pembelajaran berbasis digital. Dalam upaya menjaga validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi yang mencakup triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari guru dan siswa. Triangulasi teknik dilakukan dengan memadukan hasil wawancara, hasil observasi, dan hasil dokumentasi untuk menguji konsistensi informasi. Triangulasi waktu diterapkan dengan melakukan pengumpulan data pada beberapa kesempatan yang berbeda, sehingga memungkinkan untuk mendeteksi perbedaan atau perubahan informasi yang mungkin terjadi. Proses verifikasi keterkaitan antar data dilakukan melalui pencocokan hasil wawancara guru DS dengan hasil observasi di kelas dan hasil dokumentasi pembelajaran. Selanjutnya persepsi yang diberikan oleh siswa FA. SP. FI. HH, dan RA dibandingkan untuk mengidentifikasi adanya kesamaan atau perbedaan persepsi terhadap praktik pembelajaran karakter yang diterapkan oleh guru. Dengan prosedur triangulasi dan verifikasi yang sistematis, diharapkan data yang diperoleh memiliki tingkat keabsahan yang tinggi sehingga dapat menggambarkan secara akurat fenomena yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil JG. Vol. No. April 2025: 45 - 53 49ic Fathur Rawandi. Ruslan. Hasbi Ali Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa guru DS memainkan beberapa peran penting dalam membina karakter siswa di kelas. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan teladan dalam menanamkan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan toleransi. Hal ini terungkap dari wawancara dengan DS yang menyebutkan bahwa dalam setiap kegiatan pembelajaran, guru berusaha mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam materi PPKn, baik secara eksplisit maupun implisit. Dalam kaitannya dengan indikator keteladanan, guru DS memberikan contoh langsung dalam perilaku sehari-hari yang menjadi acuan bagi siswa. Misalnya, dalam situasi kelas, guru DS selalu menunjukkan sikap jujur dan tanggung jawab yang dijadikan model oleh siswa. Temuan ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan siswa, di mana kelima siswa, yaitu FA. SP. FI. HH, dan RA, mengungkapkan bahwa guru DS sering mengaitkan materi pelajaran dengan contoh-contoh sikap positif dalam kehidupan sehari-hari. Observasi di kelas juga menunjukkan adanya aktivitas pembelajaran yang menekankan kerja kelompok, diskusi nilai, serta refleksi diri, yang merupakan bagian dari indikator pembiasaan. Siswa didorong untuk melakukan kebiasaan baik melalui kegiatan diskusi yang berfokus pada nilai-nilai karakter. Namun demikian, dalam praktiknya, guru DS menghadapi berbagai tantangan dalam menerapkan pembelajaran karakter berbasis digital. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan fasilitas pendukung seperti jaringan internet yang kurang stabil dan perangkat teknologi yang belum memadai di sekolah. Guru DS juga mengakui bahwa tingkat literasi digital sebagian siswa masih rendah, sehingga menyulitkan proses integrasi teknologi dalam pembelajaran karakter. Siswa FA dan SP, misalnya, mengungkapkan bahwa seringkali mereka kesulitan mengakses platform pembelajaran daring yang digunakan guru. Observasi peneliti terhadap proses pembelajaran juga menunjukkan adanya keterbatasan dalam penggunaan media digital secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan era digital bukan hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia, baik guru maupun siswa. Selain tantangan, terdapat pula beberapa hambatan yang menghambat efektivitas pembelajaran karakter di kelas. Hambatan tersebut meliputi kurangnya motivasi siswa, keterbatasan waktu dalam menyelesaikan kurikulum, serta tekanan akademik yang membuat pembinaan karakter kurang menjadi prioritas utama. Dalam kaitannya dengan indikator kedisiplinan, hambatan ini tampak dari pengakuan guru DS yang mengatakan bahwa keterbatasan waktu dan fokus pada pencapaian akademik seringkali mengurangi kesempatan untuk menanamkan kedisiplinan dalam belajar. Untuk mengatasi berbagai tantangan dan hambatan tersebut, guru DS menerapkan beberapa strategi adaptif, seperti memodifikasi metode pembelajaran agar lebih interaktif tanpa bergantung sepenuhnya pada teknologi, serta membangun komunikasi yang lebih intensif dengan siswa. Dalam hal ini, indikator keteladanan dan pembiasaan terlihat jelas pada pendekatan yang dilakukan guru DS, yang secara konsisten memberi contoh dan mendiskusikan nilai-nilai karakter dalam setiap kesempatan. Guru DS juga melakukan pendekatan personal kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami nilai-nilai karakter, yang memberikan dampak positif terhadap indikator kedisiplinan, karena siswa merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk menjaga sikap disiplin dalam pembelajaran. Strategi ini mendapat respon positif dari siswa, sebagaimana diungkapkan oleh RA yang merasa lebih termotivasi untuk mengembangkan sikap positif karena dukungan dan perhatian ISSN: 2614-6096 50ic Fostering character trough Pancasila and Civic --- Pembahasan hasil penelitian ini menunjukkan adanya konsistensi dengan teori-teori tentang pendidikan karakter yang menyatakan bahwa pembelajaran karakter tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus diintegrasikan dalam seluruh proses pembelajaran secara kontekstual dan berkelanjutan. Lickona mengemukakan bahwa pengembangan karakter membutuhkan proses yang melibatkan knowing . engetahuan tentang nila. , feeling . erasaan atau sikap terhadap nila. , dan acting . indakan yang mencerminkan nilai tersebu. Dalam hal ini, praktik yang diterapkan oleh guru DS menunjukkan bahwa ketiga elemen tersebut telah diterapkan, meskipun ada tantangan dalam pelaksanaannya. Penelitian ini juga menguatkan temuan sebelumnya bahwa dalam era digital, pembelajaran karakter membutuhkan adaptasi terhadap perubahan teknologi dan kesiapan sumber daya pendidikan Prinsip Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan karakter yang menekankan pada ing ngarsa sung tuladha . i depan memberikan conto. , ing madya mangun karsa . i tengah memberikan doronga. , dan tut Wuri handayani . i belakang memberi dorongan dan semanga. tercermin dalam cara guru DS memberikan contoh dan membimbing siswa dalam mengembangkan karakter mereka. Dengan demikian, hasil penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang pentingnya kesiapan sekolah, guru, dan siswa dalam membina karakter di tengah tantangan digitalisasi pendidikan. 2 PEMBAHASAN Di era digital saat ini, guru berperan sangat penting dalam membina karakter siswa. Penggunaan teknologi dan internet membawa dampak besar dalam kehidupan sehari-hari siswa, baik positif maupun negatif. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator, motivator, serta pembimbing dalam membentuk karakter siswa agar tetap memiliki nilai-nilai moral yang kuat di tengah perkembangan digital. Guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar materi pelajaran, tetapi juga sebagai penilai perkembangan belajar siswa secara berkelanjutan. Melalui evaluasi hasil belajar, guru memperoleh informasi penting sebagai umpan balik terhadap efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran. Tugas ini menuntut guru untuk konsisten dalam memantau perkembangan siswa guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan pencapaian kompetensi. Pembelajaran berbasis teknologi memungkinkan guru untuk memasukkan pembinaan karakter secara terintegrasi dalam proses belajar. Salah satu bentuk pembinaan yang relevan di era digital adalah pendidikan etika digital. Guru memberikan pemahaman kepada siswa tentang bagaimana berperilaku secara etis dalam penggunaan teknologi. Siswa diajarkan tentang pentingnya menjaga jejak digital, memposting konten yang positif, dan tidak melakukan cyberbullying. Mengajarkan pentingnya memverifikasi sumber informasi sebelum membagikan sesuatu di internet untuk menghindari penyebaran berita palsu dan menanamkan kesadaran pada siswa untuk tidak melakukan plagiarisme dan menghormati hak Selain itu, guru memiliki peran yang semakin kompleks dalam membina karakter siswa agar mampu beradaptasi dengan dunia digital. Salah satu tanggung jawab utama adalah mengajarkan penggunaan teknologi secara bijak, termasuk pemahaman etika digital, penghargaan terhadap privasi, serta pencegahan tindakan negatif seperti cyberbullying dan penyebaran hoaks. Dengan bimbingan guru, siswa dapat menyadari dampak perilaku mereka di dunia maya dan belajar untuk bersikap lebih bertanggung jawab. Khususnya bagi guru PPKn, peran sebagai pembina karakter menjadi sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila dan membentuk siswa menjadi warga negara digital yang baik. Guru juga dituntut untuk mengembangkan literasi digital siswa agar mampu berpikir kritis terhadap informasi di internet, memilah konten yang valid, serta menghindari pengaruh negatif dunia maya. Sikap JG. Vol. No. April 2025: 45 - 53 51ic Fathur Rawandi. Ruslan. Hasbi Ali guru sebagai panutan menjadi penting dalam mencontohkan penggunaan teknologi yang sehat dan positif. Teori pendidikan karakter dari Thomas Lickona sangat relevan dalam konteks ini. Lickona menekankan pentingnya keteladanan moral, integrasi nilai-nilai moral dalam pembelajaran, serta pengembangan keterampilan sosial-emosional sebagai bekal siswa menghadapi tantangan digital. Guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan positif serta membimbing siswa agar dapat mengelola penggunaan teknologi secara sehat dan bertanggung Selain itu, prinsip-prinsip pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara seperti "ing ngarso sung tulodo", "ing madyo mangun karso", dan "tut wuri handayani", juga menjadi pedoman penting dalam pembinaan karakter siswa. Guru harus menjadi teladan, membangun semangat, dan memberikan dorongan kepada siswa untuk berkembang secara holistik. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga diperlukan agar pendidikan karakter di era digital dapat berjalan efektif dan menyeluruh. Proses pembinaan karakter siswa merupakan tanggung jawab penting yang diemban oleh guru, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Meskipun karakter menjadi aspek krusial dalam pendidikan, guru sering kali menghadapi berbagai tantangan dalam menanamkannya. Tantangan tersebut muncul dari lingkungan digital yang negatif, karakteristik siswa yang beragam, keterbatasan waktu, serta kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar. Media sosial, internet, dan game online memengaruhi cara berpikir dan bertindak siswa, bahkan menciptakan masalah baru seperti cyberbullying, paparan konten negatif, dan ketergantungan pada gadget yang mengurangi interaksi sosial secara langsung. Selain itu, kondisi siswa yang pasif, kurang percaya diri, atau memiliki masalah psikologis, turut menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran yang bermuatan karakter. Guru juga sering kekurangan waktu untuk menyampaikan nilai-nilai karakter secara optimal karena tekanan kurikulum yang berfokus pada aspek kognitif. Dalam praktiknya, guru harus menghadapi sikap siswa yang acuh tak acuh terhadap pelajaran dan kurangnya keterlibatan dalam pembelajaran. Perubahan teknologi yang cepat juga menuntut guru untuk terus beradaptasi, meski mereka belum tentu memiliki akses atau pelatihan yang memadai untuk mengikuti perkembangan ini. Teori Ki Hadjar Dewantara menjadi fondasi penting dalam pembinaan karakter siswa, namun penerapannya di lapangan menemui berbagai kendala. Salah satu tantangan utama adalah pengaruh lingkungan digital yang bertentangan dengan nilai-nilai moral yang ingin Selain itu, keterbatasan sumber daya, seperti waktu dan fasilitas, membuat guru kesulitan mengintegrasikan pembelajaran karakter ke dalam proses belajar mengajar. Pendidikan saat ini lebih menekankan capaian akademik, sehingga pembentukan karakter sering kali terpinggirkan. Di era digital, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh guru dalam pembinaan karakter adalah pengaruh negatif dari lingkungan digital. Media sosial, internet, dan game online sangat memengaruhi cara siswa berpikir, bersikap, dan berinteraksi. Kurangnya dukungan dari orang tua dan masyarakat juga memperlemah upaya pembinaan karakter. Ketidakterlibatan keluarga dalam proses pendidikan menyebabkan upaya sekolah kurang Sementara itu, perubahan paradigma pendidikan yang terlalu fokus pada hasil akademik turut menyulitkan guru menerapkan pendekatan yang holistik seperti yang dicontohkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Bahkan, beberapa guru mengalami resistensi terhadap perubahan metode pengajaran, dan masih nyaman dengan pendekatan lama yang kurang relevan dengan tantangan zaman. Oleh karena itu, untuk mengatasi hambatan tersebut dibutuhkan sinergi antara guru, orang tua, masyarakat, dan sistem pendidikan, serta peningkatan pelatihan dan pengembangan profesional guru agar pembinaan karakter dapat berjalan efektif di era digital. KESIMPULAN Peran guru dalam pembinaan karakter siswa di era digital memiliki signifikansi yang semakin vital. Guru tidak hanya berperan sebagai pembimbing yang membantu siswa ISSN: 2614-6096 52ic Fostering character trough Pancasila and Civic --- memahami dan menginternalisasi nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang aktif, kondusif, serta mendukung pengembangan kemandirian siswa. Serta guru dapat menjadi motivator dalam membentuk karakter siswa di era digital yaitu dengan memberikan dorongan, inspirasi, dan keteladanan agar siswa tetap memiliki nilai-nilai positif seperti disiplin, tanggung jawab, jujur, dan empati. Yaitu Selain itu, guru berfungsi sebagai teladan, memperlihatkan perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai positif yang diharapkan untuk diadopsi siswa, seperti kejujuran, tanggung jawab sosial, dan etika digital. Bentuk pembinaan karakter yang dilakukan guru harus adaptif dan inovatif, dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam berbagai aspek pembelajaran, baik melalui kurikulum maupun metode interaktif seperti diskusi kelompok, proyek kolaboratif, dan studi kasus berbasis isu-isu aktual di dunia digital. Integrasi ini memungkinkan siswa untuk memahami nilai-nilai karakter tidak sekadar sebagai teori, tetapi sebagai bagian yang relevan dalam kehidupan sehari-hari mereka di tengah perubahan sosial dan teknologi yang cepat. Dalam hal ini diperlukan pengembangan model pembinaan karakter berbasis digital yang dapat diterapkan dalam konteks pendidikan saat ini agar dapat mengkombinasikan literasi digital, penguatan nilai moral, dan keterampilan sosial sebagai satu kesatuan yang saling Model pembelajaran yang cocok diterapkan salah satunya adalah Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learnin. yang terintegrasi dengan Literasi Digital dan Pendidikan Karakter. Model ini dapat mempertimbangkan tantangan nyata yang dihadapi oleh guru dalam membentuk karakter siswa di era digital seperti adanya pengaruh negatif media sosial, paparan terhadap hoaks, cyberbullying, dan menurunnya keterampilan sosial langsung akibat interaksi virtual yang dominan. Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, literasi digital, serta nilai moral dan sosial siswa melalui proyek nyata yang relevan dengan kehidupan mereka di era digital. Secara akademik, kajian ini memperkaya pengembangan teori pendidikan karakter dengan mengusulkan perluasan konsep menjadi pendidikan karakter berbasis PPKn digital. Hal ini mengimplikasikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya harus fokus pada nilai-nilai universal, tetapi juga perlu membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi digital, kemampuan bermedia yang bertanggung jawab, serta memperkuat identitas kebangsaan di dunia maya. Dengan demikian, pembinaan karakter di era digital tidak hanya mempertahankan nilai tradisional, tetapi juga memperkaya karakter siswa agar siap menghadapi tantangan era digital saat ini. Dengan semakin kompleksnya tugas guru, maka perlu adanya dukungan sistemik berupa pelatihan guru berkelanjutan, pengembangan media pembelajaran berbasis nilai karakter, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas digital untuk memastikan bahwa pembinaan karakter siswa dapat berjalan efektif dan relevan di era digital ini. REFERENSI