LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Teologi Ambivalensi Monarki Awal: Dialektika Otoritas Ilahi dan Inisiatif Manusia dalam 1 Samuel 8-12 Binsar Pandapotan Silalahi1. Kezia Sharon Kurniawan2 Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta1. Sekolah Tinggi Teologi Injili Surabaya2 binsarsilalahi557@gmail. com1, keziasharonn21@gmail. Abstract This article analyzes the ambivalence of monarchy in 1 Samuel 8-12 by emphasizing the dynamic relationship between YHWH and Saul as the first king of Israel. This narrative presents the monarchy as an institution born of tension: on the one hand, it was requested by the people as a rejection of divine rule, but on the other hand, it was facilitated through Saul's anointing by the prophet Samuel. Previous studies have focused more on historical, literary, or ethical dimensions, thus not paying particular attention to the theological ambivalent aspects of the early monarchy. The novelty of this research lies in placing 1 Samuel 8-12 as the main locus for examining the dialectic between divine authority and human initiative. This study s the method of narrative exegesis of the Masoretic text to examine the literary structure, repetition of key , and patterns of relationships in the narrative. The results of the analysis show that the early monarchy is narratively positioned as an ambivalent institution, which is both legitimized and criticized, thus forming a theological strategy that affirms the limitations of human power within the framework of its relationship with divine authority. Keywords: Ambivalence. Monarchy. YHWH, 1 Samuel 8-12. Abstrak Artikel ini menganalisis ambivalensi monarki dalam 1 Samuel 8-12 dengan menekankan dinamika relasi antara YHWH dan Saul sebagai raja pertama Israel. Narasi ini menampilkan monarki sebagai institusi yang lahir dari ketegangan: di satu sisi diminta oleh umat sebagai penolakan terhadap pemerintahan ilahi, tetapi di sisi lain difasilitasi melalui pengurapan Saul oleh nabi Samuel. Kajian sebelumnya lebih banyak menyoroti dimensi historis, literer, atau etis, sehingga belum memberi perhatian khusus pada aspek teologis-ambivalen monarki awal. Kebaruan penelitian ini terletak pada penempatan 1 Samuel 8-12 sebagai locus utama untuk mengkaji dialektika antara otoritas ilahi dan inisiatif manusia. Penelitian ini menggunakan metode eksegesis naratif terhadap teks Masoret untuk menelaah struktur literer, repetisi diksi kunci, dan pola relasi dalam narasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa monarki awal diposisikan secara LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. naratif sebagai institusi ambivalen, yang sekaligus dilegitimasi dan dikritisi, sehingga membentuk strategi teologis yang menegaskan keterbatasan kekuasaan manusia dalam bingkai relasi dengan otoritas ilahi. Kata Kunci: Ambivalensi. Monarki. YHWH, 1 Samuel 8-12. PENDAHULUAN Monarki Israel merupakan salah satu isu teologis yang paling kompleks dalam Perjanjian Lama. Narasi tentang lahirnya institusi monarki dalam 1 Samuel 8-12 menghadirkan dinamika yang penuh ketegangan, di mana rakyat menuntut seorang raja. Allah memperingatkan tentang konsekuensi raja manusia, tetapi pada saat yang sama Allah sendiri berperan dalam pengangkatan Saul sebagai raja pertama. Ketegangan ini membentuk suatu teologi ambivalensi, di mana monarki dipahami sebagai wujud penolakan terhadap pemerintahan Allah sekaligus sarana ilahi untuk menyatakan kehendak-Nya dalam sejarah Israel. Melalui kisah Saul, teks ini tidak sekadar mencatat transisi politik, melainkan merefleksikan dialektika antara kedaulatan Allah dan kehendak umat. Kajian terdahulu telah menyoroti isu-isu penting seputar monarki awal dalam Samuel dengan pendekatan yang beragam. Beberapa penelitian menekankan dimensi teologis-psikologis, seperti Balfour yang menggarisbawahi penolakan terhadap Saul sebagai realisasi hukuman ilahi melalui roh jahat yang menguasainya, menekankan hilangnya legitimasi kepemimpinan Saul sebagai konsekuensi teologis yang tragis. 1 Gilmour menambahkan dengan menafsir ketakutan akan pembalasan Allah dalam kitab Samuel sebagai unsur kunci yang membentuk karakter relasi umat dengan Allah, tetapi fokusnya lebih pada dimensi ketakutan ketimbang struktur teologi monarki itu sendiri. 2 Kajian lain lebih menekankan aspek literer dan tekstual, seperti Glover yang membahas problem tekstual 1 Samuel 10:27b dengan perspektif intertekstualitas Qumran, sehingga lebih menyinggung dimensi transmisi teks daripada membangun teologi naratif 3 Sementara itu. MihEilE menekankan pentingnya prinsip literer dan homiletis dalam membaca narasi 1 Samuel. 8, tetapi pembahasannya lebih diarahkan pada implikasi khotbah ketimbang refleksi teologi biblika yang mendalam. R J Balfour. AuRejection Realized: Saul, the Evil Spirit and the Loss of Kingship,Ay Journal for the Study of the Old Testament 47, no. : 206Ae22. Rachelle Gilmour. AuFrom Anxiety to Reverence: Fear of GodAos Retribution and Violence in the Book of Samuel,Ay Die Welt Des Orients 51, no. : 84Ae99. Daniel B Glover. AuIs Josephus Among The Qumranites? Unraveling A Textual Conundrum In 1 Samuel 10: 27b,Ay Zeitschrift Fyr Die Alttestamentliche Wissenschaft 132, no. : 266Ae80. corin MihEilE. AuReading Ot Narratives And Preaching From Ot Narratives. Some Literary And Homiletical Principles With An Example From 1 SamueL 8,Ay The Journal of Ministry and Biblical Research, 2024, 45. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Di sisi lain, terdapat kajian yang menempatkan fokus pada isu kepemimpinan dan ideologi Omosor dan Umeanolue bersama Nwoko, misalnya, menggarisbawahi pidato perpisahan Samuel dalam 1 Samuel 12 sebagai model integritas dan akuntabilitas kepemimpinan, sehingga menekankan fungsi etik bagi gereja kontemporer. 5 Namun, pendekatan semacam ini cenderung aplikatif dan normatif, sehingga belum menggali dimensi teologis-ambivalen monarki awal. Sergi, dengan pendekatan historis-arkeologis, menelaah pembentukan monarki Israel sebagai proses sosial-politik yang lebih luas, sehingga menggeser fokus dari konstruksi teologis menuju rekonstruksi sejarah. 6 Demikian pula Randolph melalui pembacaan intertekstual Saul dengan Hakim-hakim 19-21, serta Smith melalui analogi karakter, keduanya menambah nuansa literer tetapi belum menyoroti ketegangan teologis dalam relasi YHWH-Saul. 7 Sementara itu. Putra menafsir monarki secara teologis sebagai penolakan terhadap teokrasi, namun narasi 1 Samuel 812 menunjukkan kerumitan lebih lanjut, yakni keterlibatan aktif YHWH dalam memilih dan meneguhkan Saul. 8 Meskipun studi-studi terdahulu telah memberikan kontribusi signifikan dalam memperkaya pemahaman tentang Saul dan monarki Israel dari berbagai perspektif, baik teologis, literer, historis, maupun etis, kajian yang secara eksplisit menyoroti dimensi ambivalensi teologi monarki awal dalam kaitannya dengan relasi YHWH dan Saul masih belum menjadi fokus Padahal, aspek ini menempati posisi sentral dalam narasi 1 Samuel 8-12 dan penting untuk dianalisis dalam kerangka teologi biblika. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menempatkan 1 Samuel 8-12 sebagai locus utama untuk memahami ambivalensi teologi monarki awal dalam relasi antara YHWH dan Saul sebagai raja pertama Israel. Jika kajian sebelumnya lebih menekankan aspek historis, literer, etis, atau aplikatif, penelitian ini secara khusus mengarahkan fokus pada dinamika teologis yang menegaskan sekaligus mengkritisi institusi monarki dalam kerangka teologi biblika. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan bagaimana teks 1 Samuel 8-12 menampilkan ketegangan antara kedaulatan Allah dan keinginan umat, serta bagaimana hal itu membentuk pemahaman teologis tentang peran raja dalam sejarah Israel. Penelitian ini sangat penting karena meninjau monarki bukan sekadar sebagai transisi politik atau figur kepemimpinan, melainkan sebagai wacana teologis yang menyatakan dialektika antara penolakan dan penerimaan terhadap pemerintahan Alexander I Omosor. AuSamuelAos Farewell Address in 1 Samuel 12: 1-5 As a Resource for Integrity in Leadership,Ay Nigerian Journal of Christian Studies 4, no. : 48Ae63. Ikenna Umeanolue and Chukwuma Chieloka Nwoko. AuLEADERSHIP AND ACCOUNTABILITY IN 1 SAMUEL 12: 1-5: MODEL FOR CHURCH LEADERSHIP IN ASSEMBLIES OF GOD CHURCH NIGERIA,Ay IFEDICHE: Journal of African Studies 2, no. Omer Sergi. AuSaul. David, and the Formation of the Israelite Monarchy: Revisiting the Historical and Literary Context of 1 Samuel 9Ae2 Samuel 5,Ay Saul. Benjamin, and the Emergence of Monarchy in Israel: Biblical and Archaeological Perspectives (Society of Biblical Literature Atlanta, 2. Blake Randolph. AuSaul the Levite: An Intertextual Reading of 1 Samuel 9-11 and Judges 19-21Ay (New Orleans Baptist Theological Seminary, 2. Cameron Boston Smith. AuSome Character Analogies in 1 SamuelAy (The University of St Andrews, 2. Adi Putra and M Th. AuMonarki: Penolakan Terhadap Teokrasi,Ay Explore Contact FAQ, 2021. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Sehingga, kontribusi penelitian ini terletak pada perluasan diskursus akademis mengenai monarki Israel serta penyediaan kerangka analitis yang lebih tajam bagi studi teologi biblika, khususnya dalam memahami relasi antara Allah, umat, dan institusi politik dalam narasi Perjanjian Lama. Sekalipun kajian-kajian terdahulu telah memberikan kontribusi penting dalam memahami dimensi historis, literer, etis, maupun aplikatif dari kemunculan monarki Israel, akan tetapi penelitian ini secara khusus menekankan ambivalensi teologi monarki awal sebagaimana tercermin dalam relasi antara YHWH dan Saul dalam 1 Samuel 8-12. Fokus tersebut dipilih sebab teks ini bukan hanya merekam transisi politik dari sistem hakim ke institusi kerajaan, melainkan juga mengartikulasikan pergumulan teologis tentang kedaulatan Allah yang berhadapan dengan keinginan umat. Oleh karenanya, penelitian ini menempatkan monarki awal Israel bukan sekadar sebagai fenomena sejarah atau narasi literer, melainkan sebagai konstruksi teologis yang mengandung dialektika mendasar antara otoritas ilahi dan kehendak manusia, yang pada gilirannya memperkaya pemahaman teologi biblika mengenai relasi Allah, umat, dan kekuasaan politik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan eksegesis teologi biblika dengan fokus pada narasi sejarah Israel dalam 1 Samuel 8-12. Dalam hal ini, objek penelitian adalah 1 Samuel 8-12, dengan fokus pada konstruksi naratif mengenai relasi antara YHWH dan Saul sebagai raja pertama Israel. Sumber data primer penelitian ini adalah WTT Leningrad Codex Hebrew Old Testament (WTT), yang secara luas diakui sebagai manuskrip Masoret tertua dan terlengkap serta menjadi dasar bagi edisi kritis modern Alkitab Ibrani. 9 Sumber data sekunder berupa literatur akademik, meliputi komentar kritis, buku teologi biblika, dan artikel jurnal yang relevan. Pratt menjelaskan bahwa teks Alkitab bergenre narasi harus dipahami terlebih dahulu melalui analisis alur cerita, tokoh, setting, konflik, dan resolusi, sebelum beralih pada kajian tekstual secara detail. 10 Berdasarkan hal tersebut, proses penelitian dilakukan melalui beberapa langkah, yakni sebagai berikut: . analisis naratif 1 Samuel 8-12 untuk mengidentifikasi struktur plot, perkembangan karakter Samuel. Saul, umat, dan YHWH, serta konflik teologis yang dibangun narator. analisis tekstual terhadap teks Ibrani untuk menelusuri kata kunci, repetisi, dan struktur literer yang menegaskan nuansa ambivalensi monarki. interpretasi teologis terhadap hasil analisis naratif dan tekstual untuk menyingkap relasi ambivalen antara YHWH dan Saul. sintesis teologi biblika untuk merumuskan pemahaman yang komprehensif tentang monarki awal Israel. Tarigan menjelaskan bahwa penelitian teologi dengan pendekatan seperti ini perlu didasarkan pada eksegesis yang Aron Dotan. Biblia Hebraica Leningradensia: Prepared According To The Vocalization. Accents. And Masora Of Aaron Ben Moses Ben Asher In The Leni (Peabody: Hendrickson Publishers, 2. Richard L. Pratt. Jr. The Bible StudentAos Guide To Interpreting Old Testament Narratives: He Gave Us Stories (Surabaya: Momentum, 2. , 126Ae30. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. akurat11, serta mengikuti prinsip metodologis yang menekankan keterpaduan antara kritik tekstual, analisis naratif, dan refleksi teologis dalam studi Perjanjian Lama. 12 Dengan langkah-langkah tersebut, penelitian ini berupaya menegaskan bahwa ambivalensi monarki dalam 1 Samuel 8-12 dapat dipahami secara lebih komprehensif melalui kerangka teologi biblika. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Naratif dan Alur Narasi 1 Samuel 8-12 Narasi 1 Samuel 8-12 membentuk alur transisi besar dalam sejarah Israel, yaitu perubahan dari teokrasi menuju monarki. Struktur alur dapat dilihat melalui empat tahap utama, yakni sebagai Penolakan rakyat terhadap kepemimpinan Allah melalui Samuel . Sam. 8:1-. II. Pemilihan Saul oleh YHWH melalui perantaraan Samuel . Sam. Pengukuhan Saul melalui kemenangan militer . Sam. 11-1-. IV. Pidato perpisahan Samuel di Gilgal . Sam. 12:1-. Menurut Hung-En Lee, struktur ini tidak hanya menyajikan catatan historis, melainkan membangun suatu kerangka ideologis yang menyampaikan pesan bahwa monarki merupakan institusi yang penuh paradoks, yakni ditolak sekaligus dipakai oleh Allah. 13 Pandangan Lee sejalan dengan John Goldingay yang menekankan bahwa Kitab Samuel secara konsisten menampilkan monarki dalam kerangka Auparadoks teologis,Ay di mana peran raja tidak pernah dilepaskan dari tegangan antara kehendak umat dan kedaulatan Allah. 14 Penulis melihat bahwa penyusunan alur ini sejak awal sudah diarahkan bukan semata untuk kronik historis, melainkan untuk menghadirkan wacana teologis yang menyoroti dialektika antara pilihan manusia dan intervensi ilahi. Kisah dalam 1 Samuel 8-12 bergerak perlahan dari panggung lokal menuju momen yang mengguncang sejarah Israel. Narasi dibuka dengan gambaran suram, di mana Samuel yang telah menua, anak-anaknya yang tidak setia, dan sebuah bangsa yang mulai gelisah karena merasa butuh kepastian politik . Sam. 8:1-. Di sinilah permintaan akan seorang raja lahir, bukan sebagai sekadar pilihan praktis, melainkan sebagai tanda ketidakpercayaan pada kepemimpinan Allah sendiri . Sam. Hung-En Lee menafsirkan bagian ini sebagai konstruksi ideologis, di mana penulis mengarahkan pembaca untuk merasakan ketegangan bahwa monarki tidak pernah berdiri Iwan Setiawan Tarigan. AuEksegesis Dan Penelitian Teologis,Ay Jurnal Teologi Cultivation 5, no. 86Ae102. John H. Walton and Andrew E. Hill. Old Testament Today: A Journey from Ancient Context to Contemporary Relevance, ed. 2nd Ed. (Grand Rapids. Michigan: Zondervan, 2. , 42Ae43. Hung-En Lee. AuGive Us A King To Govern Us: An Ideological Reading Of 1 Samuel 8-12,Ay University of Stellenbosch. December 2011, 45Ae48. John Goldingay. Old Testament Theology: The Theology Of The Book Of Samuel (United Kingdom: Cambridge University Press, 2. , 11Ae13. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. di atas fondasi yang netral, melainkan atas dasar paradoks teologis. 15 Penulis berpendapat bahwa narasi awal ini memperlihatkan bahwa sejarah Israel ditata sedemikian rupa sehingga transisi menuju monarki selalu dimaknai sebagai pergulatan batin antara kerinduan manusia dan kedaulatan Allah. Setelah itu, cerita mengalir menuju pertemuan yang tampak kebetulan, tetapi dalam bingkai naratif disajikan sebagai takdir ilahi, di mana perjumpaan Saul dengan Samuel . Sam. 9:15-. Peristiwa ini menjadi titik balik, di mana Allah yang sebelumnya AuditolakAy justru menjadi pihak yang paling aktif dalam memilih raja. Goldingay menyebutnya sebagai Auparadoks teologi monarki,Ay sebab Allah tetap berdaulat bahkan ketika umat menolak-Nya. 16 Pilihan atas Saul lalu diteguhkan melalui tindakan simbolis Samuel yang menuangkan minyak di kepalanya . Sam. , menandai peralihan dari wacana penolakan menuju perwujudan monarki yang sah. Penulis melihat bagian ini sebagai strategi literer, di mana narasi seakan mengingatkan bahwa sekalipun raja hadir karena tekanan rakyat, keberadaannya tetap tidak lepas dari rancangan Allah. Dalam hal ini, monarki digambarkan sebagai jalan tengah antara kehendak manusia dan kehendak ilahi. Narasi mencapai puncaknya ketika Saul membuktikan dirinya melalui kemenangan atas orang Amon . Sam. , lalu dilanjutkan dengan pidato Samuel di Gilgal . Sam. Peristiwa militer itu memberi Saul legitimasi politik di hadapan umat, tetapi pidato Samuel segera mengembalikan fokus pada Allah sebagai Raja sejati Israel. Gilmour melihat bagian ini sebagai refleksi atas rasa takut umat terhadap murka Allah, yang menjadi benang merah dari seluruh alur 17 Akan tetapi, menurut penulis, lebih dari sekadar rasa takut, bagian ini mengikat kembali seluruh struktur naratif, di mana peringatan Samuel di awal . Sam. 8:11-. kini bergema ulang dalam 1 Samuel 12:12-17, menciptakan simetri literer yang menegaskan pesan utama. Oleh karena itu, narasi 1 Samuel 8-12 tidak hanya berfungsi sebagai laporan historis, melainkan sebagai konstruksi teologis yang secara sadar menampilkan ambivalensi monarki sebagai bentuk akomodasi ilahi yang bersifat kondisional. Monarki diberikan sebagai respons Allah terhadap penolakan umat terhadap pemerintahan-Nya, namun akomodasi tersebut tidak berdiri secara otonom, melainkan berada di bawah kendali kedaulatan Allah dan terikat pada rancangan teologis yang lebih luas. Dalam kerangka ini, monarki Saul diposisikan sebagai bentuk kepemimpinan sementara yang diizinkan dalam konteks ketidaktaatan umat, tetapi sekaligus dibatasi dan diarahkan menuju pemenuhan kehendak Allah yang dinyatakan secara progresif dalam janji Daud, sehingga menegaskan bahwa legitimasi monarki sejak awal bersifat terbatas dan bergantung pada kesetiaan kepada YHWH. Struktur naratif tersebut sekaligus memperlihatkan strategi literer dalam menyusun ketegangan cerita. Misalnya, permintaan umat untuk raja dalam 1 Samuel 8 diposisikan sebagai tindakan AupenolakanAy terhadap YHWH . Sam. , sementara pada saat yang sama YHWH Lee. AuGive Us A King To Govern Us: An Ideological Reading Of 1 Samuel 8-12,Ay 45Ae48. Goldingay. Old Testament Theology: The Theology Of The Book Of Samuel, 11Ae13. Gilmour. AuFrom Anxiety to Reverence: Fear of GodAos Retribution and Violence in the Book of Samuel. Ay LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. justru memimpin proses pemilihan Saul . Sam. 9:15-17. Rachelle Gilmour menegaskan bahwa narasi Samuel secara sengaja membangun dinamika ketegangan antara Aukekhawatiran akan kekerasan AllahAy dengan Aupengakuan atas otoritas-Nya,Ay sehingga menimbulkan nuansa ambivalen dalam pembacaan. 18 Namun demikian, penulis berpendapat bahwa alur cerita bukan hanya membangun ketegangan psikologis umat, tetapi juga secara sadar menegaskan otoritas narator dalam menempatkan Allah sebagai pihak yang tetap berdaulat meskipun umat menolak. Oleh sebab itu, struktur naratif 1 Samuel 8-12 dapat dibaca sebagai sarana literer untuk menyampaikan teologi ambivalensi, bukan sekadar kronologi politik. Kemudian, pengulangan dan simetri dalam alur narasi juga mempertegas pesan Peringatan Samuel mengenai konsekuensi monarki . Sam. 8:11-. diulang dan ditegaskan kembali dalam pidatonya di Gilgal . Sam. 12:12-. , menciptakan bingkai naratif yang mengikat keseluruhan cerita. Menurut Daniel Glover, penyusunan ulang teks dan bahkan variasi tradisi di sekitar 1 Samuel 10:27b menunjukkan bahwa komunitas penulis kuno berusaha menata narasi agar semakin menekankan ketegangan seputar legitimasi Saul. 19 Dalam hal ini, penulis melihat bahwa struktur alur 1 Samuel 8-12 dirancang dengan kesadaran literer yang tinggi, sehingga fungsi naratifnya bukan hanya menyampaikan peristiwa tetapi juga menanamkan refleksi Oleh karena itu, alur cerita dapat dipahami sebagai instrumen naratif yang secara sistematis menampilkan ambivalensi monarki awal sebagai bagian integral dari teologi biblika. Karakter. Setting, dan Konflik Narasi 1 Samuel 8-12 Kisah 1 Samuel 8-12 menampilkan tokoh-tokoh yang tidak hanya berperan dalam jalannya cerita, tetapi juga menjadi simbol dari dinamika teologis yang lebih besar. Samuel hadir sebagai nabi tua yang menolak permintaan umat, sekaligus sebagai juru bicara Allah yang menegaskan penolakan itu sebagai penolakan terhadap YHWH . Sam. Saul, sebaliknya, muncul sebagai sosok muda dari suku kecil. Benjamin, yang tidak memiliki catatan prestasi sebelumnya . Sam. Kehadiran dua tokoh ini menciptakan kontras naratif yang tajam Samuel melambangkan teokrasi yang perlahan meredup, sementara Saul menjadi wajah baru monarki yang ambigu. Omer Sergi menunjukkan bahwa penggambaran Saul sebagai raja pertama dimaksudkan untuk menyoroti rapuhnya legitimasi monarki sejak awal, karena ia dipilih di tengah krisis dan bukan dari garis keturunan bangsawan. 20 Dari sudut pandang penulis, penokohan ini memang dimaksudkan untuk memperlihatkan ketegangan struktural, di mana di satu sisi. Israel membutuhkan seorang pemimpin. di sisi lain, raja ini muncul dari keadaan yang tidak ideal, sehingga membuka jalan bagi teologi ambivalensi. Gilmour. Glover. AuIs Josephus Among The Qumranites? Unraveling A Textual Conundrum In 1 Samuel 10: 27b. Ay Sergi. AuSaul. David, and the Formation of the Israelite Monarchy: Revisiting the Historical and Literary Context of 1 Samuel 9Ae2 Samuel 5. Ay LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Kemudian, latar tempat dalam 1 Samuel 8-12 tidak dapat dipandang sekadar geografis, melainkan simbolis. Mispa dan Gilgal menjadi panggung politik sekaligus spiritual bagi transisi Di Mispa . Sam. 10:17-. Saul diundi dan diangkat sebagai raja, tetapi narasi segera memperlihatkan adanya oposisi yang menolak legitimasinya. Kemudian di Gilgal . Sam. 11:1415. 12:1-. , seluruh bangsa berkumpul untuk memperbaharui kerajaan, dan Samuel menyampaikan pidatonya yang sarat teologi. Blake Randolph menghubungkan latar-latar ini dengan trauma kolektif Israel dalam Hakim-Hakim 19-21, sehingga narasi Saul tidak pernah lepas dari ingatan akan kekacauan bangsa sebelumnya. 21 Menurut penulis, penggunaan setting ini berfungsi sebagai Aumemori ruang,Ay yakni tempat yang tidak hanya menyimpan peristiwa tetapi juga menanamkan makna teologis, di mana setiap lokasi mengingatkan Israel bahwa legitimasi politik selalu berdiri di bawah bayang-bayang pengalaman kolektif mereka bersama YHWH. Pada narasi 1 Samuel 8-12, konflik utama dalam bagian ini terletak pada pertarungan antara kehendak umat dan kedaulatan Allah. Umat menuntut raja Auseperti bangsa-bangsa lainAy . Sam. 8:5, 19-. , tetapi Allah menilai tuntutan itu sebagai penolakan terhadap pemerintahan-Nya . Sam. Cameron Smith menafsirkan konflik ini dalam bingkai kontras karakter, di mana umat digambarkan sebagai komunitas yang menyerupai bangsa-bangsa kafir, sementara Samuel tetap menjadi figur setia yang menjaga kemurnian identitas Israel. 22 Namun, penulis berpendapat bahwa konflik ini tidak dapat direduksi pada level karakter saja. justru yang lebih penting adalah lapisan Pertarungan ini adalah soal identitas, yakni apakah Israel tetap menjadi umat yang diperintah langsung oleh Allah, ataukah mereka memilih pola kepemimpinan politik seperti bangsa-bangsa lain. Dalam hal ini, konflik yang dibangun narasi ini lebih luas daripada sekadar ketegangan sosial, melainkan menyentuh inti relasi Israel dengan Allah. Konflik itu pada akhirnya tidak diselesaikan dengan penolakan mutlak, melainkan melalui sebuah resolusi yang paradoks. Allah memberikan Saul sebagai jawaban atas permintaan umat . Sam. 9:16-17. , tetapi tetap menegaskan bahwa keputusan itu akan membawa konsekuensi . Sam. 8:18. Robert Balfour menyoroti bahwa sejak awal, kisah Saul telah dirancang untuk menuju kegagalannya, sebab roh Allah yang menyertai dia kemudian diambil, sebagai tanda bahwa legitimasi raja bergantung penuh pada kedaulatan Allah. 23 Menurut penulis, hal ini menunjukkan bahwa narasi 1 Samuel 8-12 memang tidak pernah bermaksud solusi final atas konflik umat dan Allah. Sebaliknya, teks ini menciptakan dialektika yang terbuka, yakni monarki bisa menjadi berkat jika raja dan umat setia kepada YHWH, tetapi juga dapat berbalik menjadi kutuk jika mereka menolak Dia. Inilah bentuk ambivalensi monarki awal yang ditekankan dalam alur besar Kitab Samuel. Randolph. AuSaul the Levite: An Intertextual Reading of 1 Samuel 9-11 and Judges 19-21. Ay Smith. AuSome Character Analogies in 1 Samuel. Ay Balfour. AuRejection Realized: Saul, the Evil Spirit and the Loss of Kingship. Ay LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Analisis Teks 1 Samuel 8-12 Narasi 1 Samuel 8 menekankan dimensi linguistik yang menyingkap potensi opresif Kata kerja dari akar kata AAu u AlaqachAy diterjemahkan AumengambilAy, diulang sebanyak empat kali dalam bentuk imperfektif AAu o AyiqqAuAy, dengan bentuk kata Qal. Imperfektif orang ketiga maskulin tunggal dalam 1 Samuel 8:11, 13, 14, 16, dan pengulangan ini menghasilkan efek retoris yang kuat. Pola ini diperluas dengan verba AA AAuAasarAy yang artinya AumemungutAy pada 1 Samuel 8:15, 17, sehingga secara konseptual terdapat enam kali gambaran eksploitasi. Repetisi tersebut mengindikasikan intensi tindakan berulang yang menandai pola otoritas yang dominan. Dalam kerangka naratif, bentuk kata yang terkandung pada ayat tersebut tidak hanya menunjuk pada masa depan yang hipotetis, melainkan pada kepastian sosial yang akan dialami Israel jika monarki ditegakkan. Robert Alter menegaskan bahwa repetisi semacam ini berfungsi sebagai perangkat literer untuk menanamkan nuansa peringatan dalam pikiran pembaca. 25 Berdasarkan hal tersebut, sejak awal monarki digambarkan bukan sebagai institusi netral, melainkan sebagai mekanisme yang penuh ambivalensi antara kebutuhan dan ancaman. Dalam konteks analisis tekstual, hal ini memperlihatkan bahwa konsekuensi monarki diproyeksikan dalam bentuk hukum naratif. Frasa Ao i i u oA AAu AAmipa hammeleAAy yang diterjemahkan Auketentuan rajaAy dalam 1 Samuel 8:11 merujuk pada hak prerogatif raja, bukan keadilan normatif yang bersifat kolektif. Hal ini menegaskan bahwa dalam konteks kerajaan, istilah mipa lebih dekat dengan arti Audekret sepihakAy daripada norma yuridis. 26 Pemahaman ini menjadi semakin jelas ketika istilah tersebut dibaca secara intertekstual dengan Ulangan 17:14-20, yang menetapkan batasan-batasan ideal bagi raja Israel, yakni larangan memperbanyak kuda, istri, dan kekayaan, serta kewajiban tunduk pada Taurat. Berbeda dari visi Deuteronomistik tersebut, mipa hammeleA dalam 1 Samuel 8 justru menggambarkan raja sebagai figur yang AumengambilAy (A )u Asumber daya umat secara sistematis, sehingga melanggar secara langsung batasan etis dan teologis yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian, penggunaan istilah mipa dalam konteks ini tidak merepresentasikan keadilan perjanjian, melainkan menandai penyimpangan struktural monarki dari ideal teologis yang digariskan oleh Taurat, sehingga memperkuat kritik naratif terhadap institusi kerajaan sejak awal kemunculannya. Hal ini menandai pergeseran fundamental dari relasi perjanjian yang timbal balik menuju relasi hierarkis antara raja dan rakyat. John Goldingay menilai bahwa Kitab Samuel memang membingkai perubahan ini sebagai paradoks teologis, di mana Allah tetap memegang kedaulatan meskipun umat menuntut sistem politik yang menyerupai bangsa-bangsa lain. 27 Craig Ludwig Koehler and Walter Baumgartner. The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament, ed. Johann Jakob Stamm (Leiden. The Netherlands: Koninklijke Brill, 2. , 531. Robert Alter. The Art Of Biblical Narrative (New York: Basic Books, 1. , 114Ae15. David J. Clines, ed. The Dictionary Of Classical Hebrew. Volume V (Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2. , 711Ae13. Goldingay. Old Testament Theology: The Theology Of The Book Of Samuel, 11Ae13. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Bartholomew menambahkan bahwa teks-teks naratif semacam ini harus dibaca dengan kesadaran akan fungsi teologisnya, bukan hanya dimensi historis-politisnya. 28 Maka, narasi ini membentuk kerangka ganda, yakni menegaskan legitimasi politik sekaligus memperingatkan potensi degenerasi teologis. Lebih lanjut, kata kunci AAu e oeAnagidAy yang diterjemahkan AupemimpinAy dalam 1 Samuel 9:16 mengungkapkan nuansa yang berbeda dari istilah AAu u oAmelekAy diterjemahkan AurajaAy. Randolph berargumen bahwa penggunaan nagid mencerminkan peran Saul yang lebih sebagai figur fungsional ketimbang penguasa absolut, sejajar dengan pola kepemimpinan dalam kitab Hakim-Hakim. 29 Pola ini diperkuat secara tekstual, sebab istilah melek memang dipakai dalam pidato umat, sedangkan nagid muncul dalam perkataan Allah melalui Samuel. Dalam hal ini, terdapat kontras semantis yang menggarisbawahi ambivalensi teologi monarki, yakni umat menghendaki seorang raja . , tetapi Allah hanya memberikan seorang pemimpin . Dari segi struktur Masoret, diksi ini memperlihatkan nuansa ironis bahwa monarki pertama Israel hadir dalam bingkai keterbatasan, bukan kebesaran. Perbedaan terminologi ini menjadi salah satu kunci untuk memahami bahwa narasi ini mengandung tegangan internal yang disengaja secara Menariknya kata kunci teks Masoret juga menonjolkan diksi AA AAu AmashachAy yang diterjemahkan AumengurapiAy, yang muncul pada 1 Samuel 10:1 ketika Samuel menuangkan minyak ke atas kepala Saul. Bentuk Qal. perfect di sini menandai tindakan yang sudah tuntas, berbeda dengan proses sosial-politik yang masih berlangsung. Glover menekankan bahwa keberadaan teks tambahan dalam beberapa tradisi memperlihatkan adanya pergulatan redaksional mengenai legitimasi Saul sebagai raja. 30 Namun, dalam teks Masoret, kata mashach justru menekankan legitimasi teologis yang tidak bisa dihapuskan begitu saja. Hal ini menciptakan ketegangan dengan pasal 12, di mana Samuel mengingatkan bahwa meskipun Saul diurapi. Allah tetap menjadi Raja Israel yang sejati. Dalam hal ini, diksi mashach tidak hanya berfungsi sebagai tindakan simbolis, tetapi juga sebagai perangkat teologis yang menegaskan bahwa monarki berdiri dalam tegangan antara kehendak umat dan kedaulatan Allah. Uniknya, tulisan Glover yang membahas mengenai kritik teks memperkuat pemahaman terhadap dinamika naratif ini. Varian yang ditemukan dalam 4QSamAE dan dikutip oleh Yosefus (Ant. pada 1 Samuel 10:27b-11:1 menambahkan detail tentang ancaman Nahas orang Amon yang hendak mencongkel mata kanan seluruh Israel. Tambahan ini, yang tidak ditemukan dalam teks WTT, memperjelas situasi darurat yang memperkuat legitimasi Saul sebagai penyelamat Daniel Glover menunjukkan bahwa perbedaan ini kemungkinan besar terjadi karena fenomena homeoteleuton, sehingga tradisi Qumran dan Yosefus dapat dianggap sebagai saksi bagi Craig G. Bartholomew. Introducing Biblical Hermeneutics: A Comprehensive Framework for Hearing God In Scripture (Grand Rapids. Michigan: Baker Academic, 2. , 223Ae25. Randolph. AuSaul the Levite: An Intertextual Reading of 1 Samuel 9-11 and Judges 19-21. Ay Glover. AuIs Josephus Among The Qumranites? Unraveling A Textual Conundrum In 1 Samuel 10: 27b. Ay LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. bentuk teks yang lebih asli. 31 McCarter juga menekankan bahwa bacaan AuplusAy ini lebih konsisten dengan perkembangan alur narasi ketimbang versi Masoret. 32 Dengan menerima varian ini, peran Roh Allah atas Saul dalam 1 Samuel 11:6 dapat dipahami sebagai respons providensial dalam kondisi yang ekstrem. Berdasarkan hal ini, kritik teks tidak hanya bersifat filologis, tetapi juga menentukan bagaimana narasi teologis dipahami. Selain aspek leksikal dan tekstual, intertekstualitas menegaskan bahwa narasi 1 Samuel 812 tidak berdiri sendiri. Ulangan 17:14-20 telah memberikan cetak biru bagi institusi raja dengan batasan yang jelas agar tidak menyaingi kedaulatan Allah. Epilog Hakim-Hakim . mengingatkan pembaca bahwa ketiadaan raja dapat berujung pada kekacauan moral yang ekstrem. Akhirnya, tidak dapat dipungkiri bahwa motif penolakan terartikulasikan melalui kata kerja A a A AumaAoacAy diterjemahkan AumenolakAy, yang dipakai dalam 1 Samuel 8:7 ketika YHWH menegaskan bahwa Israel tidak menolak Samuel, melainkan diri-Nya sebagai Raja. Balfour menekankan bahwa diksi maAoac dalam kitab Samuel selalu berkaitan dengan dinamika relasi antara Allah dan pemimpin yang diurapi. 33 Pola ini mencapai puncaknya dalam pasal-pasal berikut, ketika Saul sendiri AuditolakAy oleh Allah . Sam. 15:23, . Berdasarkan hal ini, dari sisi struktur literer, terjadi semacam inklusi, yakni umat menolak Allah dengan meminta raja, dan akhirnya raja yang dipilih pun ditolak Allah. Dari perspektif teologis, pola repetisi maAoac menegaskan bahwa konflik fundamental monarki Israel bukan sekadar politis, tetapi menyentuh inti relasi umat dengan YHWH. Hal ini menunjukkan betapa redaksi Masoret membangun sebuah drama teologis yang menggambarkan monarki awal sebagai paradoks ketaatan dan penolakan. Ambivalensi Monarki Dalam Perspektif Teologi Narasi Narasi 1 Samuel 8-12 memperlihatkan ambivalensi monarki Israel sebagai institusi yang dihadirkan melalui interaksi antara kehendak manusia dan kedaulatan Allah. Permintaan Israel akan seorang raja dipandang sebagai penolakan terhadap pemerintahan langsung YHWH . Sam. , namun ironisnya Allah sendiri yang kemudian memilih dan mengurapi Saul . Sam. 9:16. Pola naratif ini mencerminkan dinamika dialektis di mana Allah tetap berdaulat sekaligus mengizinkan umat menjalani konsekuensi dari pilihan mereka. Butar-butar dkk menekankan bahwa proses pengurapan Saul dan Daud menandai momen transisi besar, di mana kepemimpinan Israel bergerak dari pola karismatik menuju pola monarki yang diinstitusionalisasi, tetapi tetap berada dalam kerangka teologis Allah. 34 Sejalan dengan itu. McConville menunjukkan bahwa monarki dalam Perjanjian Lama selalu diletakkan dalam hubungan antara kekuasaan Glover. Kyle McCarter. Jr. , 1 Samuel: A New Translation With Introduction. Notes And Commentary (Garden City. New York: Doubleday & Company, 1. , 199Ae201. Balfour. AuRejection Realized: Saul, the Evil Spirit and the Loss of Kingship. Ay Grecetinovitria Merliana Butar-butar et al. AuPerjalanan Samuel Mengurapi Saul Dan Daud Menjadi Raja Atas Israel,Ay Jurnal Silih Asah 1, no. : 73Ae81. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. manusia dan kedaulatan Allah, sehingga mengandung dimensi politis sekaligus teologis. Berdasarkan hal tersebut, kitab Samuel menarasikan monarki sebagai realitas yang ambigu, yang di satu sisi menjawab kebutuhan umat, tetapi di sisi lain memperlihatkan keterbatasannya di bawah otoritas Allah. Ambivalensi semakin ditegaskan melalui cara narator menggambarkan proses pemilihan Saul yang melibatkan undian dan pengakuan komunitas . Sam. 10:20-. Damanik dan Pakpahan mencatat bahwa sistem undi yang digunakan dalam kisah ini memiliki plus minus, di mana di satu sisi menunjukkan keterlibatan Allah dalam menentukan pemimpin, tetapi di sisi lain memperlihatkan potensi keterbatasan dalam legitimasi sosial-politik. 36 Perspektif ini memperlihatkan bahwa monarki tidak hanya hadir sebagai respons teologis, tetapi juga sebagai hasil kompromi sosial yang sarat ketegangan. Walter Brueggemann menambahkan bahwa kitab Samuel secara sadar menyajikan Saul sebagai figur yang ambigu, di mana legitimasi ilahi melalui pengurapan tidak serta merta menghapuskan kerentanan politik dan keraguan rakyat. 37 Hal ini sejalan dengan pola naratif yang terus-menerus menekankan tindakan Allah dalam mengangkat sekaligus menolak pemimpin, sehingga monarki ditempatkan dalam bingkai yang tidak pernah sepenuhnya stabil. Oleh karena itu, ambivalensi dalam narasi bukanlah sekadar kebetulan redaksional, melainkan strategi teologis untuk menyoroti keterbatasan kekuasaan manusiawi. Pidato perpisahan Samuel dalam 1 Samuel 12 memperlihatkan klimaks dari ambivalensi Di satu sisi. Samuel mengafirmasi Saul sebagai raja yang dipilih Allah dan diteguhkan melalui kemenangan militer, tetapi di sisi lain ia menegaskan bahwa Allah tetap menjadi Raja sejati Israel. Balfour menekankan bahwa diksi A a Amembentuk pola teologis, di mana penolakan umat terhadap Allah berakhir dengan penolakan Allah terhadap Saul. 38 Terence Fretheim menafsirkan dinamika ini dalam kerangka relasi Allah yang penuh risiko, di mana keterlibatan Allah dalam sejarah manusia tidak meniadakan penderitaan akibat pilihan umat. 39 Dengan demikian, struktur naratif menampilkan monarki sebagai instrumen pedagogis yang digunakan Allah untuk menyingkapkan kesetiaan maupun penolakan umat. Pola ini memperlihatkan bahwa ambivalensi monarki bukanlah anomali, melainkan dimensi esensial dari teologi narasi dalam kitab Samuel, di mana Allah mengizinkan raja hadir, tetapi kedaulatan-Nya tetap menjadi acuan utama dalam menilai setiap kepemimpinan. McConville. God and Earthly Power: An Old Testament Political Theology (New York: T&T Clark, 2. , 45Ae47. Jhon Marthin Elizon Damanik and Binsar Jonathan Pakpahan. AuMembuang Undi Menemukan Pemimpin: Analisis Plus Minus Sistem Undi Pemilihan Pemimpin Dalam Kisah Raja Saul,Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen Dan Musik Gereja 4, no. : 199Ae215. Walter Brueggemann. Interpretation A Bible Commentary for Teaching and Preaching: First and Second Samuel (Louisville. Kentucky: Westminster John Knox Press, 1. , 362Ae64. Balfour. AuRejection Realized: Saul, the Evil Spirit and the Loss of Kingship. Ay Terence E. Fretheim. The Suffering Of God: An Old Testament Perspective (Philadelphia: Fortress Press, 1. , 79Ae81. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Sintesis Teologi Biblika Tentang Relasi YHWH Dan Saul Relasi YHWH dan raja dalam 1 Samuel 8-12 memperlihatkan bahwa monarki Israel tidak pernah dipahami sebagai institusi otonom, melainkan sebagai arena teologis tempat kedaulatan Allah berinteraksi dengan pilihan umat. Narasi ini mengungkap bahwa pengangkatan Saul sebagai raja merupakan bentuk akomodasi Allah terhadap permintaan umat, sekaligus instrumen pedagogis untuk menyingkapkan konsekuensi penolakan mereka terhadap pemerintahan ilahi. Struktur AumengambilAy di sisi raja dan pengurapan di sisi Allah menunjukkan adanya dialektika yang tidak dapat dipisahkan: monarki dapat menjadi sarana keselamatan jika taat kepada Allah, tetapi juga dapat berbalik menjadi instrumen penindasan jika menjauh dari-Nya. Dengan demikian, ambivalensi yang muncul bukanlah kelemahan redaksional, melainkan strategi teologis yang secara sadar menempatkan monarki dalam ketegangan antara legitimasi ilahi dan potensi eksploitatif manusiawi. Lebih jauh, relasi YHWH dan raja di dalam teks ini membentuk paradigma teologi biblika yang menolak absolutisme politik. Allah tetap digambarkan sebagai Raja sejati, sementara raja manusia hanya diberi mandat terbatas yang selalu tunduk pada firman-Nya. Teologi ambivalensi monarki dalam 1 Samuel 8-12 memberikan peringatan bagi kepemimpinan politik dan religius kontemporer bahwa legitimasi karismatik atau institusional, sebagaimana dialami Saul melalui pengurapan, tidak pernah bersifat final dan tidak kebal terhadap evaluasi ilahi. Penolakan YHWH terhadap Saul menegaskan bahwa kepemimpinan yang diakui secara struktural atau populer tetap berada di bawah penilaian etis-teologis, sehingga integritas dan ketaatan kepada kehendak Allah menjadi ukuran utama keberlanjutan legitimasi tersebut. Dalam pengertian lain, ambivalensi dalam narasi bukan bertujuan untuk merombak monarki secara total, melainkan untuk menekankan bahwa stabilitas politik tidak akan pernah menggantikan ketergantungan umat kepada Allah. Oleh karena itu, monarki dalam 1 Samuel 8-12 dapat dipahami sebagai cermin dialektis, di mana ia hadir sebagai jawaban atas kebutuhan historis Israel, tetapi pada saat yang sama berfungsi sebagai teguran ilahi agar umat tidak mengandalkan struktur politik lebih daripada kesetiaan pada YHWH. Dalam perspektif teologi biblika, ambivalensi ini meneguhkan prinsip dasar bahwa setiap bentuk kuasa manusiawi pada akhirnya harus tunduk pada otoritas Allah yang transenden. Implikasi Berdasarkan langkah-langkah analisis yang telah digunakan, kajian teologi ambivalensi monarki dalam 1 Samuel 8-12 memiliki implikasi praktis yang signifikan bagi refleksi teologis dan praksis kepemimpinan masa kini. Pertama, teks ini menegaskan bahwa setiap bentuk kekuasaan politik maupun religius harus dipahami sebagai mandat terbatas yang tunduk pada otoritas Allah, sehingga menolak model kepemimpinan absolut yang berpotensi menindas. Kedua, narasi ini menunjukkan bahwa legitimasi pemimpin bukan hanya ditentukan oleh pengangkatan LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. institusional atau dukungan komunitas, melainkan terutama oleh kesetiaan pada prinsip moral dan kehendak Allah, sehingga menjadi koreksi terhadap praktik kepemimpinan yang mengutamakan legitimasi formal tetapi mengabaikan integritas. Ketiga, pola ambivalensi monarki memperingatkan bahwa stabilitas politik atau keberhasilan pragmatis tidak dapat menggantikan kesetiaan spiritual, sehingga komunitas iman perlu menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap struktur pemerintahan dengan peneguhan nilai-nilai etis dan teologis yang melampaui kepentingan kekuasaan. KESIMPULAN Penelitian mengenai teologi ambivalensi monarki dalam 1 Samuel 8-12 menunjukkan bahwa narasi ini tidak sekadar merekam transisi politik dari sistem hakim menuju monarki, melainkan membangun refleksi teologis yang kompleks tentang relasi YHWH dan Saul sebagai raja pertama Israel. Struktur literer, repetisi kata kunci, dan diksi kata dari teks Masoret memperlihatkan strategi naratif yang menekankan ambivalensi, yakni di satu sisi monarki muncul sebagai jawaban atas kebutuhan historis umat, tetapi di sisi lain dipahami sebagai bentuk penolakan terhadap kedaulatan Allah. Narasi ini menampilkan Allah bukan hanya sebagai pihak yang mengakomodasi kehendak umat dalam kerangka anugerah umum, tetapi juga sebagai subjek yang secara aktif mengarahkan kehendak tersebut di bawah kedaulatan-Nya dalam batas-batas Ambivalensi monarki berfungsi sebagai strategi teologis yang disengaja, di mana pengangkatan Saul ditempatkan sebagai bagian dari rancangan ilahi yang tetap membuka ruang bagi kerentanan politik dan spiritual, sehingga legitimasi monarki sejak awal dipahami sebagai bersifat kondisional pada kesetiaan kepada YHWH. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menegaskan bahwa monarki awal Israel merupakan instrumen pedagogis ilahi yang berfungsi untuk menguji dan menyingkap kesetiaan umat, serta menolak segala bentuk absolutisme politik yang mengabaikan kedaulatan Allah. Keseluruhan analisis ini memperkaya wacana teologi biblika dengan menunjukkan bahwa monarki dalam 1 Samuel 8-12 dapat dipahami dalam dialektika permanen antara kehendak manusia dan otoritas transenden Allah. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. DAFTAR PUSTAKA