Jurnal Peduli Masyarakat Volume 5 Nomor 2. Juni 2023 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM PEMBERDAYAAN KELUARGA UNTUK MENURUNKAN BULLYING ANAK MELALUI LATIHAN ASERTIF Tantri Widyarti Utami*. Imam Makhrus. Yunani Sri Astuti Program Studi Keperawatan Bogor. Poltekkes Kemenkes Bandung. Jln Dr Sumeru no 116 Bogor Jawa barat 16111. Indonesia *tantriwidyarti@gmail. ABSTRAK Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Fungsi keluarga yaitu membina peran, memberikan pendidikan dan sosialisasi yang berdampak positif bagi perkembangan dan kematangan anak. Selama perkembangannya, anak sering mendapat perlakuan tidak adil dan tidak Bullying merupakan masalah yang banyak ditemukan pada anak usia sekolah . Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah melakukan pemberdayaan keluarga untuk menurunkan bullying anak usia sekolah melalui latihan asertif. Kegiatan ini telah dilakukan ke keluarga . yang memiliki anak usia sekolah dasar dengan bullying sebanyak 17 orang di Bogor. Latihan asertif dilakukan dalam tujuh pertemuan selama 120 menit setiap pertemuan. Evaluasi dilaksanakan secara kognitif dan psikomotor . Evaluasi kognitif melalui post test pengetahuan keluarga tentang bullying dan latihan asertif. Evaluasi psikomotor mengukur kemampuan keluarga mempratekkan latihan asertif pada anak. Hasil pengabdian masyarakat telah menunjukkan peningkatan pengetahuan keluarga dalam latihan asertif mencapai 21%. Peningkatan ketrampilan keluarga dalam melakukan latihan asertif sebesar 66%. Telah meningkatnya ketrampilan keluarga mempraktekkan latihan asertif sebesar 49%. Penurunan bullying pada anak sebesar 40%. Manfaat dari pemberdayaan keluarga ini adalah latihan asertif pada keluarga dapat menurunkan bullying pada anak. Kata kunci: anak. latihan asertif. pemberdayaan keluarga FAMILY EMPOWERMENT TO REDUCE CHILDREN'S BULLYING THROUGH ASSERTIVENESS TRAINING ABSTRACT The family is the smallest unit of society. The family's function is to foster roles, provide education, and socialization, all of which benefit children's development and maturity. During their development, children are frequently subjected to unfair treatment. Bullying is a major issue among school-age children. The purpose of this community program is to empower families to reduce bullying in school-age children through assertiveness training. In Bogor, this effort focused on families . with primary school-aged children, bullying as many as 17 people. Assertiveness training is conducted in seven meetings and 90-120 minutes each. Cognitive and psychomotor evaluations have been done. A cognitive evaluation is provided by a post-test on family awareness of bullying and assertiveness training. A post-test on family knowledge of bullying and assertiveness training serves as a cognitive evaluation. A psychomotor evaluation was conducted to determine how well-equipped families are to help children practice being aggressive. Community service resulted a 21% increase in family knowledge of assertiveness training. Community service resulted a 21% increase in family knowledge of assertiveness training. Family assertiveness training Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group abilities increased by 66%. The ability of the family to carry out assertiveness training has increased by 49%. Bullying in children was reduced by 40%. Family assertiveness training can help children avoid bullying. Keywords: assertiveness training. family empowerment PENDAHULUAN Anak merupakan generasi penerus bangsa dalam artian bahwa golongan-golongan tua nantinya akan tergantikan oleh golongan-golongan muda yang merupakan evolusi dari Keberadaan anak dalam satu negara sangatlah penting, karena nantinya akan menjadi pemimpin yang akan melanjutkan kehidupan sebuah negara. Anak berhak memperoleh dan menikmati hak-haknya tanpa terkecuali guna membantu tumbuh kembangnya agar kelak menjadi manusia yang berguna, sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi masing-masing. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anak sering diperlakukan tidak adil dan tidak Di sisi lain anak dituntut untuk menjadi generasi penerus keluarga dan bahkan bangsa yang berkualitas, namun tidak sedikit keluarga yang mengabaikan hak-hak anak. UndangUndang No. 35 tahun 2014 tentang perlindungan Anak telah tertuang dengan jelas dan sesungguhnya sudah cukup berat dalam ketentuan sanksi kepada para pelaku kekerasan terhadap anak, namun di lapangan sering ketentuan tersebut diabaikan. (Pemerintah Pusat. Beberapa issue yang terjadi pada anak sekolah dasar adalah kekerasan, stress pada keluarga, tempat tinggal yang tidak adekuat, nutrisi buruk, kemiskinan, kurangnya perawatan kesehatan dan penyalahgunaan zat. (The Annie E. Casey Foundation, 2. Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan. (Friedman, 2. Pemberdayaan keluarga bertujuan meningkatkan kemampuan keluarga untuk mengatasi masalah yang mereka alami, meningkatkan kapasitas sistem untuk mendukung keluarga, termasuk peningkatan layanan dan sumber daya, meningkatkan hubungan saling membantu, meningkatkan moral dan keterampilan antar anggota keluarga serta menumbuhkan sikap positif positif untuk anak dan keluarga. (Building, 2. Bullying adalah tindakan siswa di bully ketika siswa lain atau grup siswa: Pertama, mengatakan dengan maksud menyakiti atau memperlakukan orang lain dengan tidak menyenangkan hanya untuk kesenangan diri atau memanggil dengan nama yang Kedua, mengabaikan atau mengucilkan orang lain dari grupnya. Ketiga, memukul, menendang, mendorong, mengguncang dan mengancam. Keempat, mengatakan kebohongan atau rumor yang tidak benar tentang seseorang atau mengirim sebuat catatan dan mencoba membuat siswa lain tidak disukai atau dilukai. (Olweus et al. , 2. Penelitian menunjukkan dari 196 responden anak sekolah dasar di kota Bogor usia 9-11 tahun sebanyak 113 siwa . ,7%) melakukan bullying . (Utami & Astuti, 2. Penelitian lain yang dilakukan di Aceh besar juga menunjukkan bullying pada anak SD lebih dari 50% pernah melakukan kejadian bullying fisik di sekolah, dan 68% melakukan bullying non (Dewi et al. , 2. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan. (Friedman, 2. Pemberdayaan keluarga bertujuan meningkatkan kemampuan keluarga untuk mengatasi masalah yang mereka alami, meningkatkan kapasitas sistem untuk mendukung keluarga, termasuk peningkatan layanan dan sumber daya, meningkatkan hubungan saling membantu, meningkatkan moral dan keterampilan antar anggota keluarga serta menumbuhkan sikap positif anak dan keluarga. (Building, 2. Kohesi keluarga yang lebih tinggi bertindak sebagai faktor pelindung dari perilaku (Duggins et al. , 2. Strategi dukungan keluarga sebagai upaya mempercepat proses pemulihan korban bullying, hubungan dengan orang lain merupakan sumber dukungan untuk membantu mengatasi dampak bullying, ketahanan psikologis pada korban (Soimah et al. , 2. Dalam upaya menurunkan bullying pada anak, peran orang tua sebagai pendidik adalah orang tua perlu menanamkan kepada anak-anak arti penting pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dari sekolahi budi pekerti anak. Orang tua perlu melatih anak bagaimana mengontrol sikap, emosi dan perilaku dengan orang lain. Salah satu latihan yang dapat dilakukan adalah latihan asertif. Latihan asertif merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung. (Corey, 2. Latihan asertif menurut merupakan prosedur latihan yang diberikan kepada individu untuk melatih penyesuaian sosialnya dalam mengekspresikan sikap, perasaan, pendapat dan haknya. (Gunarsa & Gunarsa, 2. Dengan penerapan latihan asertif pada individu dengan perilaku kekerasan dan agresif diharapkan dapat mengurangi frekuensi perilaku kekerasan pada individu resiko perilaku kekerasan dan pada akhirnya membentuk perilaku asertif. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatnya kemampuan keluarga dalam melakukan latihan asertif untuk menurunnya bullying pada anak sekolah dasar. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat diawali dengan screening anak sekolah dasar yang melakukan bullying menggunakan bullying behaviour test berjumlah 30 anak. Kriteria pemilihan anak adalah berusia 9-12 tahun, tinggal bersama orang tua . Setelah selesai dilakukan screening maka dilakukan pertemuan bersama ibu yang memiliki anak dengan bullying untuk menindaklanjuti hasil screening tersebut. Keluarga yang akan dilibatkan dalam latihan asertif adalah ibu yang memiliki anak dengan bullying berjumlah 17 orang . erdasarkan hasil screenin. Sebelum kegiatan dilakukan pengukuran menggunakan tiga Instrumen pertama adalah data keluarga, kedua tentang pengetahuan keluarga tentang bullying dan latihan asertif dan instrumen ketiga tentang kemampuan keluarga dalam latihan asertif . Perilaku bullying pada anak sekolah dasar diukur menggunakan bullying behaviour test. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group Pelaksanaan pengabdian masyarakat dilaksanakan bulan Juni 2022 Ae November 2022, dilakukan selama 7x 120 menit. Tempat pelaksanaan kegiatan dilakukan di posyandu di Bogor . Keluarga diberikan buku panduan tentang mengatasi bullying dan latihan asertif. Metode yang dilakukan adalah ceramah,diskusi, demonstrasi dan role play selanjutnya diakhiri dengan evaluasi. Latihan asertif dilakukan setelah pretest selesai diberikan. Keluarga ( ibu yang memiliki anak dengan bullyin. dilatih tentang tentang latihan asertif sebanyak tujuh kali pertemuan. Metoda yang digunakan adalah pemberian materi melalui ceramah, diskusi, tanya jawab, selanjutnya dilakukan role play, demonstrasi dan Setiap akhir kegiatan keluarga akan diminta mempraktekkan latihan yang sudah diajarkan kepada anak dirumah masing-masing. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut . Kegiatan pertama, pretest pengetahuan dan kemampuan keluarga mengatasi bullying dan menjelaskan kepada keluarga tentang bullying. Kegiatan kedua, melatih keluarga latihan relaksasi saat anak atau orang tua marah. Latihan pernapasan. Menarik napas dalam-dalam secara perlahan dapat membantu meredakan stress. Kegiatan ketiga, melatih keluarga agar anak dapat meminta dengan baik saat nmengingkapkan sesuatu. Kegiatan keempat, melatih keluarga agar anak mampu menolak dengan baik. Kegiatan kelima, melatih keluarga agar anak mengungkapkan keinginan/ ketidaksukaan terhadap orang tua , keluarga ataupun teman. Kegiatan keenam, melatih keluarga mempraktekkan latihan asertif pada anak. Kegiatan ketujuh, melatih keluarga mempraktekkan latihan asertif pada anak. Evaluasi dilaksanakan dilakukan dalam dua tahap yaitu kognitif dan psikomotor . Evaluasi kognitif dilakukan post test tentang dilakukan satu minggu setelah kegiatan yaitu setelah kegiatan yaitu pengetahuan keluarga tentang bullying pada anak dan kemampuan keluarga melakukan latihan asertif. Evaluasi kemampuan psikomotor dilakukan satu minggu setelah pelaksanaan latihan asertif yaitu mengukur kemampuan keluarga mempratekkan latihan asertif pada anak. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik keluarga . Tabel 1. Karakteristik keluarga . yang memiliki anak dengan bullying Variabel Mean Median Min-Maks Usia Pendidikan terakhir SMP SMP SD-SMP Pekerjaan Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja-Buruh Penghasilan keluarga < Rp 4. 000 < Rp 4. 000 < Rp 4. 000 perbulan Ou Rp 4. Jumlah anak Tabel 1 Karakteristik keluarga . yang memiliki anak dengan bullying didapatkan usia rata-rata ibu 37 tahun, pendidikan terakhir SMP, tidak bekerja, penghasilan perbulan kurang dari (< Rp 4. dan jumlah anak 2 orang. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group Pengetahuan keluarga sebelum dan sesudah latihan asertif Tabel 2. Pengetahuan keluarga sebelum dan sesudah latihan asertif Variabel Mean Median Min-Maks 37,5-62,5 Sesudah 37,5-87,5 Selisih Tabel 2 Pengetahuan keluarga Sebelum latihan asertif mean 47, median 50 , standar deviasi 7 dan minimun maksimal 37,5-62,5. Sesudah latihan asertif mean 57, median 56 , standar deviasi 12 dan minimun-maksimal 37,5-87,5. Sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan pengetahuan keluarga sebelum dan sesudah latihan asertifsebesar 21% . Kemampuan keluarga sebelum dan sesudah latihan asertif Tabel 3. Kemampuan keluarga sebelum dan sesudah Latihan asertif Variabel Mean Median Min-Maks Sesudah Selisih Tabel 3 Kemampuan keluarga Sebelum latihan asertif mean 26, median 25 , standar deviasi 6 dan minimun maksimal 25-50. Sesudah latihan asertif mean 92, median 100, standar deviasi 12 dan minimun-maksimal 75-100. Sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan kemampuan keluarga sebelum dan sesudah latihan asertif. sebesar 66%. Kemampuan keluarga setelah mempraktekkan latihan asertif pada anak Tabel 4. Kemampuan keluarga setelah mempraktekkan latihan asertif pada anak Variabel Mean Median Min-Maks Sesudah Selisih Tabel 4 Kemampuan keluarga mempraktekkan latihan asertif pada anak adalah sebagai berikut Sebelum latihan asertif mean 48, median 50, standar deviasi 6 dan minimun maksimal 25-50. Sesudah latihan asertif mean 97, median 100 , standar deviasi 8,3 dan minimun-maksimal 75-100. Sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan kemampuan keluarga mempraktekkan latihan asertif sebelum dan sesudah latihan asertif sebesar 49%. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group Bullying anak sekolah dasar sebelum dan sesudah dilakukan pemberdayaan keluarga Tabel 5. Bullying anak sekolah dasar sebelum dan sesudah dilakukan pemberdayaan keluarga Variabel Mean Median Min-Maks Sesudah Selisih Tabel 5 Bullying anak sekolah dasar sebelum dan sesudah dilakukan pemberdayaan keluarga adalah sebagai berikut Sebelum latihan asertif mean 58, median 60, standar deviasi 23 dan minimun maksimal 19-92. Sesudah latihan asertif mean 35, median 42 ,standar deviasi 24 dan minimun-maksimal 0-73. Sehingga dapat disimpulkan terjadi penurunan bullying sebelum dan sesudah pemberdayaan keluarga sebesar 40%. Keluarga merupakan support system utama bagi anak. Keluarga juga merupakan tempat pertama dan utama bagi pendidikan dan pembentukan pola kepribadian anak. Juga tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan belajar serta membantu penguasaan terhadap Dukungan keluarga dalam bentuk dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, motivasi dan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group mendengarkan atau di dengarkan saat mengeluarkan perasaannya. Pemberdayaan keluarga: tindakan melibatkan, melibatkan, dan menyuarakan kepentingan anak dan berperan aktif untuk kesejahteraan anak. Pemberdayaan keluarga merupakan indikator penting dari kemampuan keluarga untuk mengakses dan memanfaatkan sistem kesehatan mental secara efektif untuk memenuhi kebutuhan mereka. (Panes et al. , 2. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini terlihat bahwa peningkatan pengetahuan keluarga sebelum dan sesudah latihan asertif. sebesar 21%. Pengetahuan merupakan hasil AutahuAy dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraanterhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh mata dan telinga. (Notoatmodjo Soekidjo, 2. Peningkatan pengetahuan keluarga pada kegiatan pengabdian masyarakat ini meningkat dipengaruhi beberapa hal diantaranya keluarga mampu mengingat kembali. dan memahami materi tentang bullying dan latihan Bullying merupakan permasalahan yang nyata, banyak dilakukan dan dialami oleh anak sekolah saat ini serta banyaknya informasi tentang bullying. Tingginya minat keluarga untuk belajar mengatasi latihan asertif dan penyampaian materi yang tidak asing lagi bagi keluarga memudahkan keluarga untuk memahami materi tersebut juga merupakan factor yang mempengaruhi peningkatan pengetahuan keluarga. Hal ini sesuai dengan teori bahwa banyaknya informasi dan pengalaman merupakan factor yang meningkatkan pengetahuan. Hasil pengabdian masyarakat juga didapatkan peningkatan ketrampilan keluarga dalam melakukan latihan asertif meningkat sebesar 66% dan peningkatan kemampuan keluarga mempraktekkan latihan asertif sebelum dan sesudah latihan asertif sebesar 49% . Kemampuan psikomotorik . etrampilan ) merupakan hasil pembelajaran yang didapat sebagai kemampuan kognitif dan diinternalisasikan melalui kemampuan afektif dan diaplikasikan secara nyata melalui kemampuan psikomotorik. Kemampuan psikomotorik dapat diukur dengan melalui . penilaian tingkah laku dan pengamatan langsung selama kegiatan pembelajaran berlangsung . memberikan tes sebagai bahan evaluasi dan digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, dan sikap . jika pembelajaran selesai maka perlu dinilai praktiknya. Peningkatan kemampuan keluarga pada kegiatan pengabdian masyarakat ini disebabkan beberapa hal . pemahaman keluarga yang baik tentang pengetahuan yang diberikan . media pembelajaran yang dibuat menarik. metode pembelajaran yang bervariasi seperti role play yang dilakukan oleh semua ibu setelah diberikan contoh oleh tim pengabdian masyarakat dan melakukan praktik langsung pada anak yang melakukan bullying. Kegiatan latihan asertif pada keluarga menurunkan bullying sebesar 40%. Keluarga merupakan support system utama bagi anak, merupakan tempat pertama dan utama bagi pendidikan dan pembentukan pola kepribadian anak. Keluarga juga tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan belajar serta membantu penguasaan terhadap emosi. Dukungan keluarga dalam bentuk dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, motivasi dan mendengarkan atau di dengarkan saat mengeluarkan perasaannya. Latihan asertif adalah prosedur terapeutik untuk menghilangkan kekurangan dalam hubungan individu dengan diri mereka sendiri dan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group orang lain di mana itu memungkinkan mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang sehat. (Peneva & Mavrodiev, 2. Dampak latihan asertif adalah meningkatkan harga diri dan adaptasi, peningkatan harga diri(Tavakoli et al. , 2. ,menurunkan bullying (Keliat et al. , 2. peningkatan self-efficacy dan pengurangan penundaan akademik (Moradi, 2. , peningkatan asertif pada pelaku bullying, (Shafie et , 2. dan dampak latihan asertif meningkatkan efikasi social pada korban bullying. (Melhem, 2. Latihan asertif penting dilakukukan tidak hanya kepada pelaku dan korban bullying saja tetapi juga kepada keluarga sebagai support system terbesar untuk menanamkan nilai-nilai asertif pada keluarga. Latihan asertif mengajarkan kemampuan untuk berbicara secara terbuka tentang keinginan dan kebutuhan sendiri, kemampuan untuk mengatakan "TidakAy, kemampuan untuk secara terbuka berbicara tentang perasaan positif dan negatif diri sendiri, kemampuan untuk menjalin kontak, kemampuan memulai mempertahankan, dan mengakhiri percakapan. Setiap anggota keluarga diharapkan dapat saling memahami anggota keluarga yang lain. Untuk bersikap asertif , seseorang tidak hanya harus mengetahui hak-haknya, tetapi juga harus dapat menerapkannya dalam berbagai situasi dan keadaan yang berbeda. Latihan asertif pada anak, orang tua , guru dan staff, tenaga kesehatan di puskesmas merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying melalui latihan asertif akan menciptakan budaya saling menghargai , menurunkan error communication dan meningkatkan kualitas hubungan interpersonal. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk menurunkan bullying adalah meningkatkan layanan konseling pada guru BK, meningkatkan kesadaran di antara anak-anak, menekankan perilaku yang baik, empati, dan capaian prestasi bersama di sekolah. malatih guru dan staf sekolah tentang bagaimana mengatasi bullying. Peranan Pemerintah memberikan pelatihan kepada guru dan staf sekolah tentang cara mengatasi masalah bullying,serta memberikan sanksi administratif bagi pelaku bullying, seperti denda atau sanksi lain yang sesuai dengan Tindakan serta membuka layanan pengadian kekerasan/media bagi murid untuk melaporkan bullying secara amandan terjaga kerahasiaannya. Masyarakat juga diharapkan dapat ber peran untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah bullying, memberikan dukungan kepada anak yang mengalami masalah bullying, dan memberikan dukungan kepada anak yang terlibat bullying untuk memahami konsekuensi dari tindakannya. SIMPULAN Keluarga sangat berperan penting dalam menanankan nilai-nilai asertif pada seluruh anggota keluarganya . Latihan asertif dilakukan sebagai upaya untuk menurunkan bullying pada anak. Latihan asertif pada keluarga dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan keluarga dalam mengatasi anak dengan bullying. Bullying pada anak menurun setelah keluarga diberikan latihan asertif. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group DAFTAR PUSTAKA