LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. DIMENSI KULTIS DAN ETIS: KAJIAN HISTORIS-TEOLOGIS PRAKTIK PERSEPULUHAN DALAM ALKITAB Deky Nofa Aliyanto Sekolah Tinggi Teologi Berea dekytheo@gmail. Abstract Tithing practices constitute an important aspect of Christian faith that is closely related to worship, ethics, and the social responsibility of believers. However, in contemporary ecclesial realities, tithing is often narrowly understood as a ritual obligation or an administrative regulation of the church, resulting in debates, rejection, and practices that lose their theological significance. This study aims to trace and analyze tithing practices throughout the entire biblical witness, both in the Old and New Testaments, and to uncover their theological meaning by highlighting the cultic and ethical dimensions of tithing as expressions of faith and obedience to God. The research employs a qualitative method through library research, using a biblical-topical and historical-theological The findings demonstrate that tithing practices in the Bible encompass two inseparable Cultically, tithing functions as an act of worship and a confession of faith that God is the Creator. Owner, source of blessing, holy, and just. Ethically, tithing serves as a concrete means of promoting social justice, supporting those who serve in GodAos work, and caring for vulnerable groups such as foreigners, widows, and orphans. This study concludes that biblical tithing cannot be reduced to a legalistic obligation or a transactional means of obtaining blessing, but must be understood as a discipline of faith that integrates worship of God with ethical responsibility toward Therefore, tithing remains relevant for contemporary church life as an expression of true worship and a tangible means of embodying the values of the Kingdom of God in social life. Keywords: Tithing Practices. Cultic Dimension. Ethical Dimension Abstrak Praktik persepuluhan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan iman Kristen yang berkaitan erat dengan ibadah, etika, dan tanggung jawab sosial umat. Namun, dalam realitas gerejawi masa kini, persepuluhan sering dipahami secara sempit sebagai kewajiban ritual atau aturan administratif gereja, sehingga memunculkan perdebatan, penolakan, dan praktik yang kehilangan makna teologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dan menganalisis praktik LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. persepuluhan dalam keseluruhan kesaksian Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, serta mengungkap makna teologisnya dengan menyoroti dimensi kultis dan etis persepuluhan sebagai ekspresi iman dan ketaatan umat Allah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi pustaka, dengan pendekatan biblis-topikal dan historisteologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik persepuluhan dalam Alkitab memiliki dua dimensi yang tidak terpisahkan. Secara kultis, persepuluhan merupakan bagian dari ibadah dan pengakuan iman bahwa Allah adalah pencipta, pemilik, sumber berkat, kudus, dan adil. Secara etis, persepuluhan berfungsi sebagai sarana konkret untuk mewujudkan keadilan sosial, menopang kehidupan para pelayan Tuhan, serta memelihara kelompok-kelompok rentan seperti orang asing, janda, dan anak yatim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik persepuluhan dalam Alkitab tidak dapat direduksi menjadi kewajiban legalistik atau transaksi berkat, melainkan harus dipahami sebagai disiplin iman yang menyatukan ibadah kepada Allah dan tanggung jawab etis terhadap Dengan demikian, persepuluhan tetap relevan bagi kehidupan gereja masa kini sebagai ekspresi penyembahan yang benar dan sarana nyata untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sosial. Kata Kunci: Praktik Persepuluhan. Dimensi Kultis. Dimensi Etis LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. PENDAHULUAN Kebenaran mengenai praktik persepuluhan merupakan salah satu aspek penting dalam spiritualitas dan etika orang Kristen, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa ajaran ini kerap diabaikan bahkan kurang dipahami secara komprehensif. Banyak orang Kristen memaknai persepuluhan sekadar sebagai kewajiban ritual atau praktik administratif gerejawi, tanpa menyadari landasan teologis, historis, dan etis yang melekat di dalamnya. Situasi ini menuntut adanya penjelasan yang mendalam dan bertanggung jawab berdasarkan kesaksian Firman Tuhan. Pemaparan yang bersumber dari Kitab Suci diperlukan bukan hanya untuk menegaskan signifikansi dan kebenaran doktrinal persepuluhan, tetapi juga untuk menunjukkan peranannya dalam pembentukan karakter orang Kristen, pemeliharaan kehidupan liturgis, serta penguatan komunitas iman. Faktanya orang Kristen sendiri terbagi menjadi minimal 2 kelompok dalam praktik Kelompok pertama, menolak praktik persepuluhan. Kelompok kedua menerima praktik persepuluhan. Penolakan terhadap praktik persepuluhan seringkali muncul karena berbagai faktor yang bersifat teologis maupun psikologis. Beberapa individu atau kelompok kurang memahami hakikat dan tujuan dari persembahan persepuluhan, sehingga mereka menganggapnya sebagai suatu kewajiban yang bersifat hukum Taurat semata. Selain itu, keterbatasan penghasilan sering dijadikan alasan praktis untuk menolak memberi persepuluhan, terutama bagi mereka yang menghadapi kesulitan ekonomi. Faktor iman juga memainkan peran penting. sebagian orang mungkin kehilangan keyakinan atau motivasi spiritual sehingga merasa tidak perlu mengikuti praktik ini. Ketidakteladanan dari pemimpin rohani, seperti pendeta yang tidak konsisten dalam memberi, turut memengaruhi persepsi jemaat. Di samping itu, muncul pandangan negatif bahwa persepuluhan hanya bermanfaat bagi pendeta secara pribadi, sehingga menimbulkan skeptisisme dan mengurangi partisipasi jemaat. 2 Dengan demikian, kombinasi dari faktor-faktor ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap persepuluhan bukan semata-mata masalah finansial, melainkan juga terkait dengan pemahaman teologis, iman pribadi, dan integritas kepemimpinan Motivasi memberikan persepuluhan didorong oleh beberapa faktor utama. Pertama, persepuluhan dipandang sebagai wujud ketaatan terhadap Firman Tuhan, sebagai pengakuan bahwa segala sesuatu yang dimiliki berasal dari-Nya dan membawa berkat bagi kehidupan jemaat. Kedua, ketaatan dan loyalitas terhadap organisasi gereja menjadi motivasi penting, karena gereja dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi, dan bergabung serta mendukung organisasi melalui persepuluhan merupakan bentuk kesetiaan serta pemahaman akan peran gereja dalam kehidupan Jeff Hammond dan Annette Hammond. Persepuluhan (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil Imanuel, 2. Riem Sem Waruwu. Apakah Persepuluhan Relevan Saat Ini? (Semarang: Jl. Gunung Jati Utara Nomor 72, 2. , 39-41. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Ketiga, keyakinan terhadap berkat dan pemeliharaan Tuhan mendorong jemaat untuk memberi, dengan harapan bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan hidup secara ajaib, meskipun penghasilan utama terasa terbatas. Terakhir, persepuluhan menjadi sarana untuk mengekspresikan dedikasi, syukur, dan penghormatan kepada Allah serta organisasi gereja, menunjukkan pengakuan atas kehidupan, pertumbuhan rohani, dan dukungan yang diterima melalui keberadaan 3 Praktik persepuluhan menjadi sarana untuk mengekspresikan dedikasi kepada organisasi gereja, karena sebagian tata gereja tertentu mengatur praktik persepuluhan. Praktik memberikan persepuluhan sebagai wujud ketaatan kepada Firman Tuhan umumnya didasarkan pada Maleakhi 3:10, yang menekankan pentingnya membawa seluruh persembahan ke rumah perbendaharaan agar kebutuhan rumah Tuhan terpenuhi, sekaligus menjadi ujian iman bagi pemberi: Tuhan berjanji akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat secara Ayat ini sering dijadikan landasan teologis bagi jemaat untuk menegaskan hubungan antara ketaatan dan berkat, sehingga tidak jarang gereja menempatkan kutipan ayat ini secara langsung pada kotak persembahan atau tempat persepuluhan, sebagai pengingat yang konkret bagi jemaat akan janji dan prinsip spiritual yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, keberadaan ayat ini pada kotak persembahan bukan hanya simbol, tetapi juga berfungsi sebagai dorongan praktis untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ketaatan dan iman dalam Selain Maleakhi 3:10. Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, memuat banyak teks yang membahas praktik persepuluhan. Beberapa contohnya antara lain Kejadian 14:20 dan 28:22. Imamat 27:30-32. Bilangan 18:21, 24, 26. Ulangan 14:23, 28 dan 26:12. 2 Tawarikh 31:5-6, 12. Nehemia 10:37-38, 12:44, 13:5, 12. Amos 4:4. Maleakhi 3:8, 10. Matius 23:23. Lukas 11:42 dan 18:12. serta Ibrani 7:2, 5-9. Keberadaan teks-teks ini menunjukkan bahwa persepuluhan merupakan praktik keagamaan yang sudah lama ada dalam sejarah Israel dan jemaat Kristen. Jika meninjau kajian-kajian sebelumnya dapat ditemukan bahwa tema mengenai praktik persepuluhan telah banyak diteliti. Sebagian besar penelitian tersebut memusatkan perhatian pada penafsiran terhadap Maleakhi 3:6Ae12 sebagai teks kunci dalam memahami dasar teologis 5 Penelitian lainya mengkaji pengaruh persepuluhan terhadap pertumbuhan Wawancara pribadi dengan pelayan Injil. Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Jawa Tengah 1 Wilayah 3, 18 November 2025. Tata gereja yang mengatur persembahan persepuluhan misalnya: Gereja Bethel Indonesia. Lihat dalam Konsep Tata Gereja Gereja Bethel Indonesia, (Jakarta: Badan Pekerja Harian Gereja Bethel Indonesia, 2. , 31, 79, 80. Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah Lihat dalam Tata Gereja dan Perarturan Pelaksanaan Gereja SidangSidang Jemaat Allah Di Indonesia, (Surabaya: Kongres XXII, 2. , 59-60. Sri Binar. Edwin Sucipto Koeswono, dan Olivia Sharon Koeswono. AuPersembahan Persepuluhan Menurut Maleakhi 3:6Ae12,Ay Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso 9, no. : 77Ae90, https://doi. org/10. 33856/kerusso. Afgrita Fendy Christiawan. AuPersepuluhan Menurut Maleakhi 3:7Ae12,Ay Missio Ecclesiae 7, no. 1 (April 2. : 30Ae67. Narsing L. Marriba dan Yusuf L. AuInterpretasi Seruan Memberi Persembahan dalam Maleakhi 3:6Ae12,Ay Luxnos: Jurnal Sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia 9, no. 1 (Juni 2. , 96. Yonathan Wingit Pramono. AuRelevansi Ajaran Kitab Maleakhi tentang Persembahan Persepuluhan bagi Kehidupan Umat Kristen Masa Kini,Ay Veritas Lux Mea: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. : 158Ae170. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. kesejahteraan jemaat Gereja Bethany Indonesia AuAlmasih QomAy Surabaya. 6 Juga terdapat penelitian yang membahas tentang problematika persembahan persepuluhan dalam Gereja masa 7 Bahkan ditemukan penelitian dengan tema kajian teologis tentang persembahan persepuluhan dengan tujuan memberikan kejelasan teologis bagi orang percaya. 8 Meskipun penelitian dalam artikel ini menelaah persepuluhan melalui pendekatan historis-teologis dalam keseluruhan kesaksian Alkitab, terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan studi-studi Kebanyakan penelitian terdahulu cenderung menitikberatkan pada dasar biblis atau penafsiran tekstual semata, sedangkan kajian ini secara khusus menyoroti dimensi kultis dan etis dari praktik persepuluhan sebagai suatu ekspresi keagamaan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya membahas aspek historis dan teologis, tetapi juga mengkaji bagaimana persepuluhan berfungsi dalam kehidupan ibadah serta implikasinya bagi etika umat Allah pada waktu itu. Selain itu, penelitian ini tidak berfokus pada perdebatan antara kelompok yang mendukung maupun yang menolak praktik persepuluhan. Kajian ini dimaksudkan untuk menemukan bahwa dimensi kultis praktik persepuluhan terlihat dalam peran persepuluhan sebagai bagian dari ibadah dan tata kehidupan liturgis umat Allah, baik pada masa para patriarkh, periode Taurat, masa kerajaan, hingga pemulihan pasca-pembuangan. Setiap periode sejarah menunjukkan bahwa persepuluhan berkaitan erat dengan penyembahan yang benar, pemeliharaan rumah Tuhan, dan penghormatan umat terhadap kekudusan Allah. Dimensi etis terlihat dalam Pentateukh maupun tulisan para nabi, persepuluhan terkait langsung dengan keadilan sosial, kesejahteraan para imam dan orang Lewi, serta kepedulian terhadap kelompok rentan seperti orang asing, janda, dan anak yatim. Selain itu, kritik para nabi khususnya Amos dan Maleakhi yang menunjukkan bahwa praktik persepuluhan tanpa kebenaran hidup, keadilan, dan kesetiaan hanya akan menjadi formalitas kosong yang ditolak oleh Allah. Prinsip ini ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus yang mengafirmasi pentingnya persepuluhan, namun menolak kemunafikan religius yang mengabaikan aspek etis dari hukum Taurat. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif, yang merupakan sebuah bentuk rancangan riset dan sebagai bagian dari tinjauan pustaka yang Stanley. Wasidi Sugianto. Tantra L. Weinardy. Christian Eliazar Bawias, dan Andre Yulius. AuPengaruh Persepuluhan terhadap Pertumbuhan Kesejahteraan Jemaat di Gereja Bethany Indonesia AoAlmasih QomAo Surabaya,Ay Kerusso 3, no. , 17. Adi Putra. AuKajian tentang Problematika Persembahan Persepuluhan dalam Gereja Masa Kini,Ay Kharismata: Jurnal Teologi Pentakosta 7, no. 2 (Januari 2. : 291Ae308, https://doi. org/10. 47167/3vx5yn62 Ndaru Sarjono. AuKajian Teologis tentang Persembahan Persepuluhan,Ay Luxnos: Jurnal Sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia 6, no. 1 (Juni 2. : 6. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. memadukan penyelidikan Alkitab secara topikal, 9 dengan analisis terhadap karya-karya kesejarahan dan teologis. 10 Penyelidikan topikal memungkinkan peneliti menelusuri seluruh kesaksian Alkitab mengenai persepuluhan secara historis, sehingga setiap teks dari tradisi Pentateukh, sejarah Israel, tulisan para nabi, maupun refleksi Perjanjian Baru dapat dibaca sebagai satu kesatuan teologis. Dengan kerangka metodologis ini, penelitian mampu mengidentifikasi bagaimana persepuluhan tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban kultis dalam kehidupan ibadah umat, tetapi juga memiliki dimensi etis yang kuat dalam membentuk relasi sosial, tanggung jawab komunitas, dan kepedulian terhadap kelompok rentan. Integrasi metode biblis-topikal dan kajian historis-teologis tersebut memungkinkan analisis yang lebih komprehensif mengenai perkembangan, makna, serta tujuan kultis dan etis praktik persepuluhan dalam keseluruhan narasi Alkitab. Pada bagian pertama hasil dan pembahasan penulis akan menjelaskan praktik persepuluhan dalam sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sejarah praktik persepuluhan Perjanjian Lama mencakup zaman bapa-bapa leluhur Israel, berdirinya bangsa Israel di padang gurun, kerajaan Israel dan kebalinya bangsa Israel dari pembuangan. Sejarah praktik persepuluhan Baru mencakup zaman Yesus dan zaman sesudah Yesus. Selanjutnya pada bagian kedua penulis akan menjelaskan dimensi kultis dan etis praktik persepuluhan bersumber dari sejarah praktik persepuluhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Persepuluhan Dalam Perjanjian Lama Kata Ibrani A CA Ama`aser berarti sepersepuluh bagian atau persepuluhan. Ay 11 Kata ACA A maAoaser yang berhubungan dengan persembahan persepuluhan muncul dalam beberapa ayat Alkitab Perjanjian Lama, yaitu: (Kej. , 14: 20. 28: . , (Im. , 27: 30-. , (Bil. , 18: 21, 24, . , (Ul. 14: 23, 28. 26: . , . Taw. , 31: 5, 6, . , (Neh. , 10: 37, 38. 12: 44. 13: 5, . , (Am. , 4: . , (Mal. 3: 8, . Sejarah Persembahan persepuluhan dalam Perjanjian Lama mencakup. Zaman BapaBapa Leluhur Isarel. Zaman Berdirinya Bangsa Israel dipadang Gurun. Zaman Kerajaan Israel dan Zaman Kembalinya Umat Allah Dari Pembuangan. Andreas B. Subagyo. Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif: Termasuk Riset Teologi Dan Keagamaan (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2. , 143. Ibid, 140. (WTM) and has been edited over the years to bring it into greater conformity with the Leningrad Codex. Bible Works. Westminster Leningrad Text (WTT). Hebrew text based on the MichiganAeClaremont Hebrew Text, encoded at the University of Michigan . 1Ae1. under the direction of H. Van Dyke Parunak and Richard E. Whitaker, an electronic encoding of Biblia Hebraica Stuttgartensia reflecting the Leningrad Codex, distributed with the GrovesAeWheeler Westminster Morphology and Lemma Database (WTM), accessed via BibleWorks. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Zaman Bapa-Bapa Leluhur Israel Sejarah Persepuluhan dimulai pada zaman Bapa-bapa leluhur bangsa Israel dimulai dengan rangkaian cerita panggilan Abraham (Kejadian . , dilanjutkan dengan kisah kelahiran Ishak (Kejadian 21:1-. dan Yakub (Kejadian 25: 19-. sampai kepada keduabelas anak Yakub yang menjadi nenek-moyang dua belas suku Israel (Kejadian 29:31-30:. AuOrang-orang inilah yang dikenal dengan sebutan Bapa-bapa Leluhur . alam bahasa Yunan. Patriarkh. Ay 12 Pada zaman ini persembahan persepuluhan pertama kali diberikan oleh AuAbramAy 13 kepada Melkisedek raja Salem dan imam Allah Yang Maha Tinggi (Kejadian 14: 17-. Hal itu dilakukan Abram dengan alasan bahwa Melkisedek telah mengucapkan berkat terhadap dirinya (Kejadian 14: . Peristiwa itu terjadi sesudah Abram pergi berperang dan mengalahkan Raja Kedorlaomer dan sekutunya karena Lot ditawan dan segala harta bendanya dirampas oleh mereka (Kejadian 14: 1, 12-. Tindakan Abram memberikan persepuluhan didasarkan atas keyakinan bahwa Allah Yang Maha Tinggi telah memberikan berkat kemenangan dalam mengalahkan musuh. Keyakinan itu juga diperkuat dengan sumpah Abram yang dengan tegas menolak harta benda yang akan diberikan oleh raja Sodom (Kejadian 14: 21-. Sumpah penolakan itu terjadi karena dirinya tidak mau memunculkan spekulasi bahwa Raja Sodom-lah yang telah membuatnya menjadi kaya. Abram tetap pada pendirian bahwa Allah yang Mahatinggi yang telah memberkatinya. Sesudah Abram, bapa leluhur Isarel yang memberikan persepuluhan adalah Yakub (Kejadian 28: 10-. Kisah ini oleh Lembaga Alkitab Indonesia diberi judul AuMimpi Yakub di Betel. Ay Teks Kejadian 28:10Ae22 dapat dibagi ke dalam tiga bagian utama. Pertama, ayat 10Ae15 memuat mimpi Yakub di Betel yang berisi pernyataan janji-janji Allah, yang sejalan dengan janji yang sebelumnya diberikan kepada Abraham. Janji tersebut meliputi pemberian tanah . pertumbuhan keturunan Yakub yang akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa di bumi . serta penyertaan dan perlindungan Allah ke mana pun Yakub pergi . Kedua, ayat 16Ae19 menggambarkan respons Yakub setelah terbangun dari mimpinya. Ia menyadari bahwa TUHAN hadir di tempat itu meskipun sebelumnya tidak diketahuinya, sehingga ia diliputi rasa takut dan mengakui kekudusan tempat tersebut dengan berkata. AuAlangkah dahsyatnya tempat ini! Ini tidak lain dari rumah Allah dan ini pintu gerbang sorga. Ay Kesadaran ini diikuti oleh tindakan simbolis, yakni Yakub bangun pagi-pagi, mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala, mendirikannya sebagai tugu, dan menuangkan minyak ke atasnya. Tempat itu kemudian dinamainya Betel, yang sebelumnya bernama Lus. Ketiga, ayat 20Ae22 berisi nazar Yakub yang didasarkan pada pengharapannya akan penyertaan dan perlindungan Allah dalam perjalanan Dalam nazar tersebut. Yakub menyatakan komitmennya bahwa TUHAN akan menjadi David F. Hinson. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 30. Nama Abram kemudian diubah Allah menjadi Abraham di dalam kejadian 17: 5 AuKarena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Ay LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Allahnya, tugu batu yang didirikannya akan menjadi rumah Allah, dan dari segala sesuatu yang diterimanya dari Allah ia akan mempersembahkan sepersepuluh kepada-Nya. Praktik persepuluhan merupakan bagian dari Nazar Yakub kepada Allah dalam mimpinya di Betel. Isi nazarnya. jika Allah memberkati, melindungi, memberi makanan untuk dimakan, pakaian untuk dipakai dan menyelamatkan sampai kerumah ayahnya, maka Yakub akan mepersembahkan persepuluhan kepada Allah. Salah satu bukti bahwa Allah benar-benar memberkati, melindungi dan memberikan keselamatan kepada Yakub bahkan kepada keturunannya terlihat dalam catatan Maleakhi 3: 6 bahwa Allah tidak berubah dan Bani Isarel tidak akan lenyap. Berdasarkan catatan dalam Kitab Ulangan 14: 22, maka Yakub menepati Nazarnya karena di disebutkan bahwa persembahan persepuluhan kemudian menjadi perintah Allah yang harus ditaati oleh bangsa Isarel. Dengan demikian praktik persepuluhan yang dilakukan oleh para Bapa Leluhur tidak dapat dipahami semata-mata sebagai tindakan ritual spontan atau nazar individual, melainkan sebagai tindakan teologis yang merepresentasikan orientasi hidup di bawah kedaulatan Allah. Dalam konteks Abram, persepuluhan kepada Melkisedek menegaskan pengakuan iman bahwa seluruh hasil kemenangan dan kepemilikan hidup berada di bawah otoritas Allah Yang Mahatinggi, sehingga persepuluhan berfungsi sebagai simbol penyerahan total, bukan sekadar pemberian Demikian pula pada Yakub, persepuluhan dalam nazarnya tidak dimaksudkan sebagai transaksi untuk memperoleh berkat, tetapi sebagai ekspresi komitmen eksistensial untuk hidup dalam relasi perjanjian dengan Allah yang hadir, menyertai, dan memelihara. Makna sejati persepuluhan pada masa para Patriarkh terletak pada pengakuan bahwa seluruh hidup manusia, tanah, keturunan, keamanan, dan kesejahteraan yang bersumber dari Allah dan harus diarahkan kembali kepada-Nya. Pemaknaan ini memberikan dasar implikatif bagi praktik persepuluhan di masa kini, bukan sebagai kewajiban legalistik atau sarana manipulasi berkat, melainkan sebagai disiplin rohani yang membentuk sikap ketergantungan, tanggung jawab, dan kesetiaan umat Allah dalam mengelola berkat yang dipercayakan-Nya di tengah konteks sosial dan ekonomi yang terus Zaman Berdirinya Bangsa Israel dipadang Gurun Zaman ini bisa juga disebut zaman Musa atau zaman ketika hukum Taurat diberikan kepada Allah melalui Musa di gunung Sinai setelah mereka keluar dari perbudakan di Mesir (Keluaran 19-. David F. Hilson menyatakan bahwa periode ini merupakan fase krusial dalam sejarah iman Israel, karena di dalamnya berlangsung rangkaian peristiwa yang membentuk dan menyatukan Israel sebagai suatu bangsa. Menurut Hilson, peristiwa Keluaran dari Mesir tidak sekadar menjadi narasi pembebasan, tetapi juga menjadi fondasi identitas teologis dan sosial Israel. Melalui pengalaman eksodus. Israel mengenal Allah sebagai Pembebas dan Penuntun, menerima hukum sebagai pedoman hidup, serta dibentuk menjadi komunitas perjanjian yang terikat oleh komitmen kultis dan etis. Keluaran berfungsi sebagai titik awal terbentuknya kesadaran LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. kebangsaan dan religius Israel yang terus memengaruhi pemahaman mereka mengenai ibadah, hukum, dan praktik keagamaan, termasuk di dalamnya konsep persepuluhan. Beberapa catatan penting mengenai persepuluhan dalam zaman ini dimulai dalam Imamat 27: 30 yang menyebutkan dengan jelas bahwa persembahan persepuluhan dari tanah, baik hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan adalah milik Tuhan, dan merupakan persembahan kudus bagi Tuhan. Selain itu, dalam zaman ini persembahan persepuluhan berkaitan dengan bani Lewi. Artinya persembahan persepuluhan menjadi milik pusaka bani Lewi dengan alasan: Pertama, karena mereka tidak memperoleh bagian dalam tanah perjanjian. Kedua, untuk membalas pekerjaan yang mereka lakukan di kemah pertemuan supaya ada makanan untuk dimakan oleh orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda-janda (Bilangan 18: 21-. , (Ulangan 14: 27-29. 26: 12-. Meskipun demikian bani Lewi harus menangung akibat jika berbuat kesalahan dalam pelayanan kemah pertemuan (Bilangan 18: . dan harus mempersembahkan sepersepuluh dari persepuluhan yang mereka terima kepada imam Harun sebagai persembahan khusus (Bilangan 18: 25-. Tidak hanya itu, persembahan persepuluhan juga merupakan perintah Tuhan yang harus ditaati oleh bangsa Isarel. Perintah ini memiliki tujuan supaya mereka belajar takut akan Dia (Ulangan 14: 22-23. 26: 13b-. , dan supaya Tuhan Allah memberkati mereka dalam segala usaha yang dikerjakannya (Ulangan 14: 29b. 26: . Jika dibandingkan dengan praktik persepuluhan pada masa para Bapa Leluhur, persepuluhan dalam Taurat menunjukkan pergeseran dari tindakan iman yang bersifat personal dan relasional menuju ketetapan normatif dalam kehidupan komunitas perjanjian. Pada masa Abram dan Yakub, persepuluhan muncul sebagai respons iman yang lahir dari pengalaman perjumpaan langsung dengan Allah sebagai pengakuan kedaulatan Allah dan komitmen hidup dalam relasi perjanjian. Namun dalam Taurat, makna teologis tersebut tidak dihapus, melainkan dilembagakan dan diperdalam, sehingga persepuluhan menjadi sarana pembentukan umat secara Persepuluhan kini berfungsi bukan hanya sebagai pengakuan bahwa segala sesuatu adalah milik TUHAN, tetapi juga sebagai mekanisme pemeliharaan ibadah, penegakan keadilan sosial, dan pendidikan rohani agar Israel hidup dalam takut akan Allah dan ketaatan konkret. Dengan demikian, persepuluhan dalam Taurat memiliki kekuatan normatif karena mengintegrasikan dimensi iman personal dengan tanggung jawab sosial-komunal. Argumen normatif ini relevan bagi masa kini: praktik persepuluhan tidak boleh direduksi menjadi kewajiban legalistik atau transaksi berkat, melainkan harus dipahami sebagai disiplin iman yang menata relasi umat dengan Allah. Orang-orang Yahudi memikirkan Keluaran dari Mesir sebagai peristiwa terpenting dalam seluruh sejarah Kitab-kitab Keluaran, imamat. Bilangan dan ulangan selalu menunjuk kembali kepada kenyataan bahwa Allah telah membawa Israel keluar dari Mesir. Para penulis kitab-kitab Yosua. Hakim-hakim. I dan II Samuel serta I dan II Raja-raja, yang menulis suatu sejarah Israel sesudah peristiwa tersebut, sering kali menyebut paristiwa itu sebagai peristiwa yang menyatukan Israel menjadi bangsa . Semua nabi-nabi besar (Yesaya. Yeremia. Yehezkie. dan banyak nabi-nabi kecil senantiasa mengingatkan para pendengarnya kepada peristiwa itu. Beberapa pemazmur memuji-muji Allah karena apa yang telah dilakukan-Nya dalam peristiwa keluaran dari Mesir. Ibid, 56. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. menopang kehidupan bersama, dan mewujudkan kesetiaan perjanjian dalam konteks sosial yang Zaman Kerajaan Israel Zaman ini disebut zaman kerajan Israel karena disinilah untuk pertama kali Israel meminta seorang raja yang akan memerintah mereka . Samuel 8: . Raja-raja Israel yang pertama adalah Saul. Daud dan Salomo. Sesudah Salomo raja yang memerintah adalah anaknya bermana Rehabeam. AuPada masa pemerintahan Rehabeam inilah Kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yaitu kerajan utara (Israe. dan selatan (Yehud. Ay15 AuPada zaman ini persembahan persepuluhan berkaitan dengan reformasi keagamaan yang dilakukan oleh Raja Hiskia,Ay 16 setelah sebelumnya Raja Ahas ayahnya melakukan apa yang jahat dimata Tuhan . Tawarikh 28: 1-. Reformasi keagamaan yang dilakukan Hizkia terdiri dari tiga hal. Pertama. Hizkia menguduskan kembali rumah Tuhan . Tawarikh 29: 3-. Kedua. Hizkia merayakan kembali Paskah . Tawarikh 30: 1-. Ketiga. Hizkia mengatur kembali persembahan untuk para iman dan orang Lewi . Tawarikh 31: 2-. Persembahan persepuluhan merupakan bagian dari reformasi ketiga ini. Ketaatan terhadap perintah untuk mempersembahkan persepuluhan mendatangkan berkat . Tawarikh 31:5-. Azarya imam kepala keturunan Zadok mengatakan AuSejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah TUHAN, kami telah makan sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab TUHAN telah memberkati umatNya, sehingga tinggal sisa yang banyak iniAy . Tawarikh 31:. Raja Hizkia juga memerintahkan membuat bilik-bilik untuk menampung persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus yang bertimbun-timbun Selain itu. Raja Hizkia juga memilih dari orang-orang Lewi untuk mengawasi persembahanpersembahan dan mengadakan pembagian kepada setiap orang laki-laki dari keluarga iman dan kepada setiap orang Lewi yang terdaftar . Tawarikh 31: 5-. Pada zaman ini persembahan persepuluhan juga berkaitan dengan AuNabi AmosAy17 seperti tertulis dalam kitab Amos 4:4 AuDatanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan perhebatlah perbuatan jahat! Daftar raja-raja setelah Kerajaan terpecah menjadi dua dapat dlihat dalam Alkitab Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 2. , 603-606. Hiskia adalah anak Ahas dan ibunya bernama Abia anak Zakharia. Dia menjadi raja ketika berumur dua puluh lima tahun serta memerintah selama 29 tahun dan melakukan apa yang benar di mata Tuhan seperti yang dilakukan Daud bapa leluhurnya. Baca . Raja-raja 18: 1-12 dan 2 Tawarikh 29-. Menurut Amos kitabnya ditulis dalam masa pemerintahan Yerobeam II, raja Israel, dan Uzia, raja Yehuda, dua raja yang juga disebut-sebut oleh Hosea. Berarti Amos melayani sekitar waktu ketika Hosea memulai pelayanannya, yaitu di antara tahun 767 SM, pada waktu Uzia mulai memerintah, dan tahun 753 SM, yaitu akhir pemerintahan Yerobeam. Jadi waktunya adalah sekitar tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Yerobeam, dan ini sesuai dengan Amos 6: 2 yang menyiratkan bahwa wilayah Hamat pada waktu itu dikuasai oleh Yerobeam. Telah kita ketahui pada waktu membahas latar belakang sejarah Hosea bahwa Yerobeam telah meluaskan kekuasaanya sampai sejauh Hamat di sebelah utara pada masa pemerintahannya . II Raj. Leon J. Wood. The Prophets Of Israel: Nabi-Nabi Israel (Malang: Gandum Mas, 2. , 408. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga!Ay Pada Masa Amos melayani Aukemurtadan rohani, keruntuhan baik di bidang moral dan sosial serta kemerosotan politik kerajaan utara menyebabkan Allah mengutus Amos dari Yehuda untuk menyeberangi perbatasan dan bernubuat di Betel di kawasan Israel. Ay 18 Menurut Frank M. Boyd keadaan keagamaan pada waktu itu Auada kuil-kuil berhala di Betel. Gilgal. Bersyeba, yaitu tempat-tempat ziarah bagi rakyat. Kedua patung anak lembu emas Yerobeam I masih di Betel. Ay19 AuDalam kitab Amos terdapat empat pesan penting,Ay20 dan Amos 4:4-5 merupakan sindiran kasar terhadap bangsa Isarel yang merupakan bagian dari pesan kedua . :1-6:. Disini AuAmos menyalahkan secara khusus perbuatan-perbuatan ketidakadilan sosial dan kemunafikan rohani. Ay 21 AuIsrael bukan hanya menyembah qallah yang salah, tetapi juga menyembah di tempat yang salah. Mereka tidak menyembah Allah di Yerusalem, namun mereka menyembah di Betel dan Gilgal. Bahkan Israel juga telah menggantikan ibadah yang sejati dengan kebiasaan baik saja. Ay 22 Mereka merasa bahwa. Adalah cukup bagi Israel apabila mereka telah membawa korban sembelihan pada waktu pagi dan persepuluhan. Adalah cukup bagi mereka jika mereka membakar korban syukur dan mengumumkan semuanya itu pada khalayak ramai. Ibadah mereka berhenti di situ. Mereka tidak mempunyai kesadaran apakah ibadah mereka berkenan atau tidak, dilakukan dalam keadaan kehidupan yang berkenan atau tidak, atau bahkan ditujukan pada Tuhan atau tidak. Yang penting mereka telah melakukan kebiasaan baik itu. Tuhan Allah Israel telah digantikan kedudukanNya dengan kebiasaan baik. AuPemberitahuan-hukuman yang diucapkan oleh Amos tertuju kepada orang Isarel, yang masih saja mengira bahwa mereka berbakti kepada Yahwe (= TUHAN), meskipun pendirian mereka tentang Allah sudah sangat dipengaruhi oleh religi orang Kanaan . 5:21-. Ay24 Jadi Andrew E. Hill & John H. Walton. Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2. , 613. Frank M. Boyd. Kitab Nabi-Nabi Kecil (Malang: Gandum Ma. , 41. Pesan pertama . :6-. : Nabi mencela dosa Israel dan meramalkan malapetaka nasional dengan maksud mengingatkan umat itu mengenai akibat-akibat ketidaktaatan terhadap Perjanjian. Pesan ketiga . :1-9:. : Amos menceritakan lima penglihatan yang dialaminya, yang kesemuanya berhubungan dengan hukuman dan murka Allah atas Isarel. Penglihatan-penglihatan tersebut diberikan untuk mempertegas ucapan-ucapan nubuat melawan bangsa itu, menekankan kepastian kehancuran dan pembuagan Israel, dan memperkenalkan tema sisa-sisa bangsa itu. Pesan keempat . :5-. : Nabi Amos mengakhiri pelayannya kepda Israel dengan janji mengenai pemulihan dan berkat, yang dilakukan oleh Sang Mesias. Di sini tujuannya adalah membesarkan hati dan menanamkan pengharapan di dalam sisa-sisa umat yang hidup benar di antara bangsa itu dengan cara meyakinkan mereka bahwa hukuman Allah bukanlah akhir dari segala-galanya Ae Ia akan mengingat perjanjian-Nya dengan Isarel dan membaharui kembali kasih setia-Nya. Andrew E. Hill & John H. Walton, 613-614. Ibid. Douglas Stuart. Word Biblical Commentary. Volume 31: Hosea-Jonah, (Dallas. Texas: Word Books. Publisher, 1. , - . Silwanus Gabriel. Monoteisme Etis Dalam Kitab Amos. Jurnal Sekolah Tinggi Teologi Berea 1. J Boland. Tafsiran Alkitab: Kitab Amos (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 43. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. dalam masa Amos Allah justru menegur bangsa Israel karena di satu sisi mereka mempersembahkan korban sembelihan dan persepuluhan, tetapi disisi yang lain ibadah mereka dipengaruhi religi Kanaan, menyembah patung-patung berhala yang ada di Betel dan tidak melakukan keadilan sosial. AuSebab itu seluruh keberagamaan orang Israel itu adalah dusta dan bohong . Ay25 Dalam zaman Kerajaan Israel, praktik persepuluhan memiliki makna teologis yang menegaskan bahwa ibadah kepada TUHAN tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan perjanjian dan kehidupan etis umat. Persepuluhan dipahami sebagai bagian integral dari pemeliharaan ibadah yang benar dan keberlangsungan pelayanan imam serta orang Lewi, sebagaimana tampak dalam reformasi keagamaan Raja Hizkia yang menata kembali kehidupan kultis dan menghasilkan kelimpahan berkat bagi komunitas perjanjian. Namun pada saat yang sama, kritik Nabi Amos menunjukkan bahwa persepuluhan kehilangan maknanya ketika dipraktikkan secara formalistis, bercampur dengan penyembahan berhala, dan dilepaskan dari tuntutan keadilan sosial. Dengan demikian, makna sejati persepuluhan pada masa kerajaan bukan terletak pada ketaatan ritual semata, melainkan pada integrasi antara ibadah yang murni, pengakuan akan kedaulatan Allah, dan tanggung jawab moral terhadap sesama. Persepuluhan berfungsi sebagai indikator kualitas iman umat: ia berkenan kepada Allah apabila lahir dari hati yang setia, diarahkan kepada Allah yang benar, dan diwujudkan dalam kehidupan yang adil dan benar di tengah masyarakat. Zaman Kembalinya Umat Allah Dari Pembuangan AuPada tahun 539 Kota Babel jatuh kepada jenderal Raja Persia. Ugbaru. Dengan demikian kerajaan Neo Babel berakhir, dan kekuasaan Palestina berpindah kepada Koresy. Ay 26 Berdasarkan catatan dalam Kitab 2 Tawarikh 36: 22-23 dan Kitab Ezra 1:1-3 raja Koresy kemudian mengeluarkan dekrit yang mengizinkan bangsa Yahudi kembali ke Yehuda dan membangun kembali Bait Allah. Pada zaman ini persembahan persepuluhan berkaitan dengan AuNehemiaAy 27 dan Maleakhi. AuBerdasarkan struktur atau garis besar kitab, maka Nehemia 9: 38-10:39 berisi tentang pembaharuan perjanjian. Sedangkan Nehemia 13:4-31 berisi tentang pembaharuan lebih lanjut yang diadakan Nehemia di bidang sosial dan agama. Ay 28 Karena ayat-ayat tentang persembahan persepuluhan tercakup dalam pembagian garis besar kitab tersebut, maka persembahan persepuluhan harus dipahami dalam konteks pembaharuan janji dalam bidang sosial dan agama. Mencakup beberapa hal penting yaitu: Para imam dan orang-orang Lewi berhak menerima dan memungut persembahan persepuluhan (Nehemia 10: 37-39. 12: . Persembahan persepuluhan juga harus dibawa ke dalam bilik-bilik rumah perbendaharaan dan diangkat beberapa Ibid, 44. Hassell Bullock. Kitab Nabi-Nabi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2. , 375. Nehemia sangat terkenal karena kemampuan administratifnya yang ditunjukkannya dalam menorganisir masyarakat yang kembali itu untuk memperbaiki dan membangun kembali sebagian besar tembok Yerusalem yang dihancurkan oleh orang Babel pada tahun 587 SM. Andrew E. Hill & John H Walton, 367. Ibid, 374. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. orang dari golongan imam dan orang-orang Lewi untuk mengawasinya. Beberapa dari mereka yang diangkat menjadi pengawas juga diserahi tugas untuk mengurus pembagian persembahan persepuluhan kepada saudara-saudara mereka (Nehemia 12: 44. 13: 5-. Persepuluhan dalam zaman ini juga berkaitan dengan Nabi Maleakhi khususnya dalam kitab Maleakhi 3: 6-12. Konteks kitab Maleakhi berbicara mengenai AuGelombang-gelombang awal orang buangan yang pulang dan gelora antusiasme pertama terhadap Bait Allah yang sudah dipugar dan masyarakat telah lenyap. Bahkan kegemaran menyembah dari para imam, sebagai pemain utama di pentas-pasca pembuangan telah berubah menjadi sikap sembrono yang mengasihi diri sendiri. Ay29 Dr. Kyle M. Yates melukiskan keadan-kedaan itu dengan jelas sekali bahwa para imam begitu rusak akhlaknya, sehingga suatu roh ketidakpercayaan memenuhi semua penduduk Rakyat bersunggut-sunggut terhadap Allah, meratapi keadaannya yang menyedihkan, menolak membayar persepuluhan dan persembahan mereka, bersalah melakukan ketidakadilan sosial, dan bergaul dengan penduduk yang menyembah berhala. Talak dianggap hal yang biasa, perjanjian Yehova telah dilupakan, dan kelakuan yang rendah adalah lazim pada masa itu. Ibadah telah merosot menjadi tata-cara yang kosong dan tidak senonoh. Para pemuka yang menginginkan keuntungan dari agama tanpa bersedia membayar harganya, menyebabkan kesukaran yang berat. Teladan dan kelakuan para pemuka dan imam merambat kepada masyarakat seluruhnya. Semua orang cenderung meragu-ragukan kekuasaan dan cara Allah. Dalam teks Maleakhi 3: 8-10 Allah menegur bani Yakub sebagai penipu oleh karena mereka tidak mempersembahkan persepuluhan dan persembahan khusus. Allah memerintahkan mereka untuk membawa persembahan persepuluhan kedalam rumah perbendaharaan supaya ada persediaan makannan di rumah-Nya. Selain itu ketaatan bani Yakub mempersembahkan persepuluhan akan mendatangkan berkat berkelimpahan atasanya. Bahkan untuk hal ini Allah menyediakan diri untuk diuji oleh umat-Nya. Dalam konteks pasca-pembuangan, praktik persepuluhan memiliki makna teologis sebagai indikator kesetiaan umat terhadap pembaruan perjanjian dan pemulihan kehidupan sosialAe keagamaan Israel. Persepuluhan tidak sekadar berfungsi sebagai kewajiban ekonomi, melainkan sebagai sarana konkret untuk menegakkan kembali ibadah yang teratur, menopang pelayanan para imam dan orang Lewi, serta memulihkan tata kehidupan komunitas perjanjian yang sempat runtuh akibat pembuangan. Penekanan Nehemia terhadap pengelolaan perbendaharaan dan pengawasan persepuluhan menunjukkan bahwa praktik ini dipahami sebagai tanggung jawab kolektif yang menuntut integritas struktural dan moral. Sementara itu, teguran keras Allah melalui Nabi Maleakhi menyingkapkan bahwa kegagalan mempersembahkan persepuluhan bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan tanda kemerosotan iman, ketidakpercayaan kepada Allah, dan ketidakadilan sosial. Oleh karena itu, persepuluhan dalam zaman ini berfungsi sebagai ujian kesetiaan perjanjian: ketaatan dalam memberi mencerminkan pemulihan relasi umat dengan Allah Ibid, 455. Frank M. Boyd, 170. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. dan membuka ruang bagi berkat pemeliharaan ilahi, sedangkan pengabaian terhadapnya mengungkap krisis iman dan rusaknya kehidupan religius serta sosial umat. Sejarah Persepuluhan Dalam Perjanjian Baru Kata Yunani apodekatoo berarti membayar persepuluhan, memberikan sepersepuluh Kata apodekatoo yang berhubungan dengan persembahan persepuluhan muncul dalam beberapa ayat Alkitab Perjanjian Baru, yaitu: Matius 23:23. Lukas 11:42. AuLukas 18: 12Ay31. Ibrani 7:2, 5-9. Sejarah persembahan persepuluhan dalam Perjanjian Baru tidak sebanyak dalam Perjanjian Lama. Sejarah persembahan persepuluhan dalam Perjanjian Lama mencakup Zaman Tuhan Yesus dan sesudah Tuhan Yesus. Zaman Tuhan Yesus ditemukan dalam kitab-kitab Injil. Sedangkan Zaman sesudah Tuhan Yesus ditemukan dalam surat Ibrani. Zaman Tuhan Yesus Persembahan persepuluhan dalam Dunia Perjanjian Baru dimulai pada Zaman Tuhan Yesus. Catatan tentang persepuluhan dalam zaman ini terdapat dalam (Matius 23:. yang pararel dengan (Lukas 11:. Persembahan persepuluhan dalam konteks ini berkaitan dengan ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, hukum Taurat dan Tuhan Yesus sendiri. Dalam catatan pararel ayatayat tersebut Tuhan Yesus menganggap celaka dan munafik ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang membayar persepuluhan. Alasannya, di satu sisi mereka mempersembahkan persepuluhan tetapi di sisi yang lain mengabaikan yang terpenting dalam hukum Taurat yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Menurut Tuhan Yesus yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Artinya persembahan persepuluhan harus dilakukan tetapi keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan juga harus dilakukan. Kondisi yang terjadi pada zaman ini memiliki kemiripan dengan zaman nabi Amos. Disatu sisi umat mempersembahkan persepuluhan, namun disisi lain mengabaikan keadilan sosial. Persembahan persepuluhan pada zaman Tuhan Yesus memunculkan pertanyaan apakah Tuhan Yesus mempersembahkan persepuluhan atau tidak? Di dalam Injil sinoptik dan kitab-kitab lainya dalam Alkitab tidak ada jawaban yang dengan tegas dan jelas menjawab pertanyaan itu. Namun ada beberapa catatan ayat-ayat dalam Injil Sinoptik yang dapat menerangi jawaban atas pertanyaan itu. Pertama. Yesus adalah seorang Yahudi sejati yang mentaati hukum Taurat. Lukas mencatat, ketika Yesus genap berusia delapan hari Ia disunat (Lukas 2: 21 bandingkan Imamat 12:. dan Auketika genap waktu pentahiran Yesus di bawa ke Yerusalem untuk diserahkan kepada Persembahan persepuluhan pada zaman ini juga disinggung Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai yang tercatat dalam (Lukas 18: 9-. Namun demikian persembahan persepuluhan dalam teks ini tidak dapat dilihat secara historis dan teologis karena maksud perumpaman itu terdapat dalam ayat 9 AuDan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain. Yesus mengatakan perumpamaan ini:Ay serta ayat 14b AuSebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Ay LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Tuhan sesuai dengan hukum Musa (Lukas 2: 22-. Ay32. Bahkan ketika berusia 12 tahun Yesus merayakan paskah di Yerusalem (Lukas 2: 41-. Sebagai orang Yahudi yang mentaati hukum Taurat maka ada kemungkinan bahwa Yesus juga mempersembahkan persepuluhan. Kedua. Dalam Matius 5: 17 Tuhan Yesus mengatakan AuJanganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk AomeniadakannyaAo33, melainkan untuk Aomenggenapinya. Ao34Ay Persembahan persepuluhan merupakan perintah dalam hukum Taurat, sehingga hal ini bisa berarti Yesus tidak sedang meniadakan persembahan persepuluhan. Memang dalam ayat-ayat selanjutnya yaitu ayat ayat 2324 Tuhan Yesus kemudian tidak menyinggung persembahan persepuluhan, tetapi Yesus menyinggung tentang persembahan. AuSebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Ay Bukan berarti Yesus meniadakan persembahan tetapi dalam persembahan itu Tuhan Yesus juga menuntut hubungan damai dengan saudara yang lain. Ketiga. AuMatius 22: 21bAy35 AuBerikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah. Ay Jika membayar pajak merupakan kewajiban maka persembahan persepuluhan yang merupakan kewajiban tentu juga harus ditaati sebagaimana perintah dalam hukum Taurat. Dalam konteks pelayanan Tuhan Yesus, praktik persepuluhan memperoleh makna teologis yang diperdalam dan dikoreksi secara etis. Yesus tidak meniadakan persepuluhan sebagai bagian dari ketaatan terhadap hukum Taurat, tetapi menempatkannya dalam kerangka nilai Kerajaan Allah yang lebih mendasar, yakni keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan (Mat. Dengan demikian, persepuluhan dipahami bukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri atau ukuran kesalehan lahiriah, melainkan sebagai ekspresi ketaatan yang harus selaras dengan integritas relasi kepada Allah dan sesama. Kritik Yesus terhadap orang Farisi menunjukkan bahwa persepuluhan kehilangan maknanya ketika dipraktikkan secara legalistik dan munafik, terpisah dari tanggung jawab moral dan keadilan sosial sebuah kondisi yang menggemakan kritik profetis pada zaman Amos. Oleh karena itu, dalam dunia Perjanjian Baru, persepuluhan berfungsi sebagai bagian dari Yesus tinggal dalam keluarga yang sederhana bahkan bisa diktakan miskin terlihat dari persembahan korban Maria yang hanya mempersembahkan sepasang burung terkukur atau dua anak burung merpati. Berdasrkan Imamat 12: 8 jika yang bersangkutan mampu maka harus mempersembahkan seokor kambing atau domba. Tetapi jika tidak mampu boleh mempersembahkan sepasang burung terkukur atau dua anak burung merpati. Kata meniadakan dalam teks tersebut adalah EIE kata kerja aorist infinitif aktif dari kata EO yang berarti merusak, menghancurkan atau meniadakan. Dalam teks ini berarti Yesus tidak sedang merusak, menghancurkan atau meniadakan hukum Taurat. Kata menggenapi dalam teks tersebut adalah AAE kata kerja aorist infinitif aktif dari kata AAO yang berarti menjadikan penuh atau lengkap. Dalam teks ini berarti menjadikan penuh atau lengkap hukum Taurat. Dan pemakaian aorist menyatakan bahwa tindakan Yesus menjadikan penuh, lengkap dari hukum Taurat sudah LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. ketaatan yang digenapi dalam kasih: ia tetap dijalankan, tetapi hanya bernilai rohani sejauh diwujudkan dalam kehidupan yang adil, penuh belas kasihan, setia kepada Allah, dan selaras dengan prinsip Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus. Zaman Sesudah Tuhan Yesus Sesudah zaman Tuhan Yesus persembahan persepuluhan muncul dalam Surat Ibrani. Surat ini ditulis dalam masa hidup generasi Kristen yang kedua (Ibrani 2: 1-. dan pada suatu tenggang waktu yang cukup lama setelah orang-orang itu menjadi percaya dan bertobat . Mereka telah melupakan Aumasa yang laluAy . dan pemimpin-pemimpin mereka telah meninggal dunia . Timotius telah dipenjarakan . , tetapi masih hidup dan sudah dibebaskan. 36 Secara khusus tema persembahan persepuluhan muncul dalam surat Ibrani 7: 1-10. Dalam ayat 1-3 penulis kitab Ibrani mengutip sejarah Kejadian 14: 17-21 yaitu kisah tentang Abraham yang mempersembahkan persepuluhan kepada Melkisedek. Namun di ayat 3-4 penulis surat Ibrani memberikan penekanan yang berbeda dengan catatan dalam Kejadian 17: 17-21 yang menyatakan bahwa Melkisedek tidak berbapa dan tidak beribu. Harinya tidak berawal dan hidupnya tidak Karena dia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya. Melkisedek juga disebut orang besar karena Abraham bapa leluhur Israel memberikan persepuluhan kepadanya. Selain itu, dalam ayat 5-10 persembahan persepuluhan dikaitkan dengan Lewi yang menerima jabatan imam serta mendapat tugas memungut persepuluhan dari Isarel menurut hukum Taurat. Sejarah persepuluhan Abraham yang dikaitkan dengan keimaman Melkisedek dan keimaman Lewi sebenarnya hendak menunjukan bahwa keimaman Melkisedek adalah keimaman yangbersifat kekal dan secara otomatis lebih tinggi dari pada keimaman Lewi. AuBerdasarkan catatan dalam surat Ibrani 6: 20 dan surat Ibrani 7: 17 keimaman Yesus adalah keimaman menurut peraturan Melkisedek sekali untuk selamanya. Ay 37 Keimaman Yesus menurut peraturan melkisedek adalah keimaman yang lebih tinggi dari keimaman Lewi (Haru. Itulah sebabnya Tuhan Yesus disebut sebagai imam besar Agung agung yang telah melintasi semua langit (Ibrani 4: . Jadi penulis surat Ibrani mengkaitkan persembahan persepuluhan dengan Yesus sebagai imam besar agung menurut peraturan Melkisedek yang lebih tinggi dari keimaman Harun. Dalam Surat Ibrani, praktik persepuluhan tidak dibahas sebagai kewajiban etis atau aturan praktis bagi jemaat, melainkan ditempatkan dalam kerangka kristologis dan teologis yang lebih Dengan mengacu pada peristiwa Abraham yang mempersembahkan persepuluhan kepada Melkisedek (Ibr. 7:1Ae. , penulis Ibrani menegaskan superioritas keimaman Melkisedek atas keimaman Lewi, karena AbrahamAibapa leluhur IsraelAimengakui otoritas Melkisedek melalui Merrill C. Tenney, 444. Nama Melkisedek juga muncul dalam Mazmur 110: 1-7 dimana Mazmur itu juga menyebutkan peraturan iman menurut melkisedek yang bersifat selama-lamanya. Ayat ini kemudian dikutip oleh penulis surat Ibrani untuk menegaskan keimaman Yesus menurut peraturan Melkisedek. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. tindakan memberi persepuluhan. Makna persepuluhan di sini bukan terletak pada jumlah atau praktik ritualnya, melainkan pada pengakuan iman terhadap keimaman yang lebih tinggi dan Ketika keimaman Yesus dinyatakan sebagai keimaman menurut peraturan Melkisedek, persepuluhan secara teologis dipahami sebagai simbol penyerahan dan pengakuan umat kepada Kristus sebagai Imam Besar Agung yang hidup untuk selama-lamanya. Dengan demikian, dalam perspektif Surat Ibrani, persepuluhan tidak lagi berfungsi sebagai ketetapan Taurat yang mengikat secara legal, tetapi sebagai tanda pengakuan bahwa seluruh hidup dan berkat umat berada di bawah otoritas Kristus. Sang Imam Kekal, yang melampaui sistem keimaman lama dan menggenapinya secara sempurna. Dimensi Kultis Praktik Persepuluhan Istilah AukultisAy berasal dari bahasa Latin cultus, yang berarti melakukan tindakan penghormatan dan penyembahan kepada Tuhan melalui serangkaian tata upacara yang teratur dan 38 Dalam tradisi Alkitab, tindakan kultis umat sering kali diungkapkan dengan istilah latreia, yang berarti penyembahan atau pelayanan kepada Allah. 39 Dengan demikian. AukultisAy menunjuk pada aspek ibadah formal dan ritual keagamaan, yakni tugas-tugas liturgis imam yang berhubungan langsung dengan Allah melalui perayaan sakramen dan kegiatan liturgis lainnya. Dalam konteks historis Alkitab, tindakan memberi persepuluhan dari hasil panen atau pendapatan kepada Allah juga memiliki dimensi kultis vertikal yaitu bagaimana tindakan penghormatan dan penyembahan kepada Tuhan dilakukan umat melalui serangkaian tata upacara. Aspek ini dilakukan sebagai ungkapan penyembahan, ketaatan, dan pengakuan bahwa segala berkat berasal dari Allah . Im. 27:30. Ul. 14:22Ae. Praktik persepuluhan bukan sekadar kewajiban ekonomi atau sosial, melainkan bagian dari ibadah ritual yang menegaskan relasi vertikal umat dengan Tuhan. Dengan demikian, persepuluhan dapat dipahami sebagai praktik kultis yang mengandung makna teologis mendalam yakni tindakan simbolik yang menghubungkan iman dengan pengakuan konkret atas kedaulatan dan pemeliharaan Allah dalam kehidupan umat. Praktik persepuluhan dilihat dari aspek kultis vertikal yaitu perspektif ke-Allah-an menunjukan hakikat Allah. Diantaranya: Allah pencipta adalah pemilik segala sesuatu. Praktik persepuluhan merupakan suatu bukti bahwa Allah adalah pencipta sekaligus pemilik segala Itulah sebabnya dalam Imamat 27: 30 praktik persepuluhan dari tanah yaitu dari buah dan pohon-pohonan adalah milik Allah, meskipun ada peranan manusia dalam mengupayakan dan Emanuel Martasudjita. Liturgi: Pengantar Studi dan Praksis Liturgi (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 4. Yohanes Rusae dan Graciana Amanda Bele. AuSosialisasi Tata Perayaan Ekaristi Tahun 2020 di Stasi St. Markus Kaniti. Paroki St. Yosep Pekerja Penfui. Keuskupan Agung Kupang,Ay JADIMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 1, no. 1 (Desember 2. : 47. Isidorus Lilijawa. AuDari Meja Kultis ke Arena Profetis: Peran Politik Kaum Imam dan Tantangan Pendidikan Agama Kristen,Ay Apostolicum: Jurnal Pendidikan Keagamaan Katolik Ledalero 1, no. : 5, diakses 11 November 2025, https://journal. id/index. php/JAPOS/article/view/313/64 LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. mengolah tanah sehingga menghasilkan sesuatu. Hal ini logis karena dalam Kitab Kejadian 1: 130 Allah sebagai pencipta dari alam semesta secara otomatis menjadi pemilik tunggal atas dunia ciptaan-Nya itu. Selain itu, persembahan persepuluhan dilihat dari persfektif ke-Allah-an menunjukan bahwa Allah adalah sumber berkat yang memberkati umat-Nya. Oleh sebab itu persembahan persepuluhan tidak bisa dilepaskan dari kebenaran bahwa Allah sebagai sumber berkat yang memberkati umat-Nya. Realitas ini terlihat dari kisah Abraham yang mempersembahkan persepuluhan karena Allah telah memberkatinya dengan jalan memberikan kemenangan dalam berperang. Meskipun didasarkan atas sebuah Nazar praktik persepuluhan Yakub berkaitan erat dengan Allah sebagi sumber berkat yang memberkati umat-Nya. Di zaman Musa . ukum Taura. ketaatan dalam praktik mempersembahkan persepuluhan mendatangkan berkat dalam segala usaha yang dikerjakan umat. Adalah tidak mungkin jika Allah bukan merupakan sumber berkat maka kemudian Raja Hiskia. Nehemia dan Nabi Maleakhi menggemakan perintah dengan lantang untuk mentaati praktik persembahan persepuluhan. Bahkan dalam zaman Maleakhi umat yang menolak mempersembahkan persepuluhan disebut oleh Allah sebagai pencuri. Karena Allah merupakan sumber berkat yang memberkati umat-Nya maka para tokoh itu, atas nama kebenaran Allah menggemakan perintah untuk mentaati persembahan Tidak hanya itu, persembahan persepuluhan dilihat dari persfektif ke-Allah-an menunjukan bahwa Allah adalah kudus. Kekudusan Allah terlihat dari ungkapan bahwa persembahan persepuluhan adalah persembahan kudus bagi Tuhan (Imamat 27: . Kekudusan Allah juga terlihat pada zaman Amos dimana justru Tuhan menyindir persembahan persepuluhan umat Israel karena mereka di satu sisi mempersembahkan Korban tetapi ibadah mereka dipengaruhi religi Kanaan dan mereka tidak melakukan perbuatan-perbuatan keadilan sosial. Sebabnya pula di dunia Perjanjian Baru Tuhan Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang mempersembahkan persepuluhan tetapi mengesampingkan keadilan, belas kasihan dan kesetian. Praktik persembahan persepuluhan dilihat dari persfektif ke-Allah-an juga menunjukan bahwa Allah adalah Adil. Keadilan Allah terlihat dari peraturan yang kemudian dibuatnya bahwa persembahan persepuluhan yang ditujukannya kepadaNya harus diberikan kepada orang-orang Lewi. Alasan utamanya, suku Lewi sebagai bagian dari 12 suku Israel tidak mendapat milik pusaka . agian tanah perjanjia. Sebagai gantinya menerima persembahan persepuluhan dari suku Israel yang lain supaya ada makanan untuk dimakan. Namun demikian suku Lewi bertanggung jawab dalam pelayanan kemah pertemuan. Penyataan atau Wahyu Allah menuntut respon dan tanggapan dari manusia yang merupakan objek . dari kasih dan karyaNya. Jika praktik persembahan persepuluhan dipahami sebagai manifestasi dari kasih dan karyaNya terhadap umat, maka praktik persembahan persepuluhan juga harus dipahami sebagai respon dan tanggapan terhadap kasih dan karya-Nya. Praktik persembahan persepuluhan membuktikan bahwa Allah adalah pencipta sekaligus pemilik segala sesuatu. Maka ketaatan mempersembahkan persepuluhan menolong umat Allah supaya LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. mereka belajar takut dan hormat kepada Allah pencipta sekaligus pemilik segala sesuatu (Ulangan 14: 22-. Oleh karena persembahan persepuluhan membuktikan bahwa Allah adalah sumber berkat yang memberkati umatNya. Maka ketaatan mempersembahkan persepuluhan menyadarkan umat bahwa mereka sedang hidup dalam pemeliharaan Allah. Dimensi Etis Praktik Persepuluhan Dimensi etis adalah aspek yang berkaitan dengan nilai-nilai, prinsip, dan norma moral yang memandu perilaku manusia satu dengan lainya dalam berbagai konteks kehidupan. Ketaatan mepersembahkan persepuluhan dalam dimensi kultis vertikal di satu sisi merupakan tanggapan atas keberadaan dan pemeliharaan Allah atas umat-Nya. Namun Di sisi lain ketaatan mempersembahkan persepuluhan dalam dimensi etis horizontal memiliki tujuan untuk mewujudkan keadilan sosial diantara umat Allah. Dalam persfektif kedailan sosial persembahan persepuluhan berkaitan dengan suku Lewi yang tidak mendapat milik pusaka di tanah perjanjian. Persembahan persepuluhan diberikan kepada mereka supaya ada persediaan makanan. Bukan hanya bagi suku Lewi, tetapi juga untuk memeliharakan orang asing, anak yatim dan janda-janda. Disinilah arti penting praktik persembahan persepuluhan dipahami dari persfektif keadilan sosial dalam dimensi etis. Dimensi etis persepuluhan, sebagaimana terungkap sepanjang kesaksian Alkitab dari Taurat, para nabi, hingga Perjanjian Baru, menunjukkan bahwa persepuluhan tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai praktik kultis atau simbol kesalehan individual, melainkan sebagai instrumen konkret untuk mewujudkan keadilan sosial dalam komunitas umat Allah. Dalam hukum Taurat, persepuluhan secara eksplisit diarahkan untuk menopang kehidupan orang Lewi, orang asing, anak yatim, dan janda yaitu kelompok-kelompok yang secara struktural rentan dan terpinggirkan (Ul. 14:27Ae29. 26:12Ae. Kritik profetis, khususnya melalui Nabi Amos dan Maleakhi, semakin menegaskan bahwa persepuluhan kehilangan makna teologisnya ketika dilepaskan dari praktik keadilan, solidaritas, dan pembelaan terhadap kaum lemah. Dengan demikian, dimensi etis persepuluhan berfungsi sebagai ukuran integritas iman umat: kesetiaan kepada Allah diuji bukan hanya melalui ketaatan ritual, tetapi melalui keberpihakan nyata kepada mereka yang miskin, tertindas, dan terabaikan dalam tatanan sosial. Dalam terang Perjanjian Baru, terutama melalui pengajaran Yesus dan refleksi kristologis Surat Ibrani, dimensi etis persepuluhan tidak dihapuskan, melainkan ditransformasikan dan Yesus menegaskan bahwa praktik persepuluhan harus berjalan seiring dengan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan (Mat. , sementara Surat Ibrani menempatkan persepuluhan dalam kerangka pengakuan iman kepada Kristus sebagai Imam Besar Agung yang Dari perspektif ini, mempertahankan praktik persepuluhan di masa kini bukanlah soal mempertahankan hukum Taurat secara legalistik, melainkan menjaga sebuah disiplin etisAeteologis yang membentuk solidaritas, tanggung jawab sosial, dan pengelolaan berkat secara adil. Dalam konteks dunia modern yang ditandai oleh kesenjangan ekonomi, kemiskinan struktural, dan LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. ketidakadilan sistemik, persepuluhan berfungsi sebagai sarana nyata bagi gereja untuk menghadirkan kasih Kristus secara sosial: menopang pelayanan, membela kaum miskin, dan menjadi tanda Kerajaan Allah yang bekerja melalui keadilan dan belas kasihan di tengah dunia. KESIMPULAN Dalam keseluruhan kesaksian Alkitab, persepuluhan berfungsi sebagai ekspresi ketaatan umat kepada Allah yang berakar pada relasi perjanjian dan pengakuan iman bahwa seluruh kehidupan serta hasil pekerjaan manusia berasal dari Allah. Dimensi kultis terlihat dalam peran persepuluhan sebagai bagian dari ibadah dan tata kehidupan liturgis umat Allah, baik pada masa para patriarkh, periode Taurat, masa kerajaan, hingga pemulihan pasca-pembuangan. Setiap periode sejarah menunjukkan bahwa persepuluhan berkaitan erat dengan penyembahan yang benar, pemeliharaan rumah Tuhan, dan penghormatan umat terhadap kekudusan Allah. Di sisi lain, penelitian ini juga menegaskan bahwa persepuluhan memiliki dimensi etis yang kuat. Dalam Pentateukh maupun tulisan para nabi, persepuluhan terkait langsung dengan keadilan sosial, kesejahteraan para imam dan orang Lewi, serta kepedulian terhadap kelompok rentan seperti orang asing, janda, dan anak yatim. Selain itu, kritik para nabi khususnya Amos dan Maleakhi yang menunjukkan bahwa praktik persepuluhan tanpa kebenaran hidup, keadilan, dan kesetiaan hanya akan menjadi formalitas kosong yang ditolak oleh Allah. Prinsip ini ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus yang mengafirmasi pentingnya persepuluhan, namun menolak kemunafikan religius yang mengabaikan aspek etis dari hukum Taurat. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. DAFTAR PUSTAKA