Jurnal Pendidikan Bahasa Volume 15. Nomor 4. Desember 2025 | ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Gaya Bahasa dalam Parno Adat Pernikahan di Desa Koto Dian Kecamatan Hamparan Rawang Wika Tri Andesti1,*. Ade Kusmana1. Nurfadilah1 Universitas Jambi *Corespondence: wikatriandesti@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gaya bahasa kiasan dalam parno adat pernikahan di Desa Koto Dian. Kecamatan Hamparan Rawang. Kota Sungai Penuh. Provinsi Jambi. Pendekatan yang digunakan ialah stilistika dengan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa naskah parno adat pernikahan dalam bentuk tertulis dan tuturan lisan yang direkam saat prosesi pernikahan. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara dengan penutur adat serta tokoh masyarakat. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik dan pengecekan ulang temuan bersama pemangku adat. Hasil penelitian menunjukkan 39 data gaya bahasa kiasan yang mencakup 10 jenis, yaitu simile, metafora, alegori, personifikasi, alusi, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomasia, dan pronomasia. Gaya bahasa kiasan digunakan untuk memperindah tuturan dan menyampaikan pesan adat secara simbolik. Unsur alam banyak dimanfaatkan sebagai lambang keharmonisan, tanggung jawab, dan keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga. Dengan demikian, parno adat pernikahan memiliki kekhasan bahasa yang sarat makna budaya serta berpotensi mendukung pelestarian sastra lisan dan pembelajaran muatan lokal. Kata Kunci: Stilistika. Gaya Bahasa Kiasan. Parno Adat Pernikahan Received: 22 Des 2025. Revised: 24 Des 2025. Accepted: 26 Des 2025. Available Online: 27 Des 2025 This is an open access article under the CC - BY license. PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang digunakan untuk saling berinteraksi (Kusmana, 2. Kedudukan bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai peran yang penting, karena membawa pesan maupun informasi dari penutur kepada lawan, baik secara lisan maupun tulisan yang biasa digunakan dalam karya sastra seperti tradisi adat (Kapidin. , et al. , 2. Stilistika merupakan cabang ilmu dalam linguistik yang mengkaji penggunaan bahasa dalam karya sastra maupun teks non-sastra dengan pendekatan linguistik (Pramesti & Hermawan, 2. Menurut Keraf . , gaya bahasa dalam retorika dikenal dengan istilah style, yang berasal dari kata Latin stilus, yaitu alat tulis untuk menggores papan lilin. Awalnya, istilah ini berkaitan dengan kejelasan tulisan, namun kemudian berkembang menjadi kemampuan menggunakan kata-kata secara indah dan estetis dalam penyusunan bahasa. Parno merupakan karya sastra lisan masyarakat Kerinci yang terdiri atas ungkapan-ungkapan adat yang disampaikan secara lisan. Tradisi ini telah lama menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya masyarakat Kerinci dan diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang. Parno diungkapkan dengan bahasa yang estetis serta mengandung nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat pendukungnya. Dalam penyampaiannya, parno banyak menggunakan bahasa kiasan dan perumpamaan sebagai sarana untuk memperindah tuturan sekaligus menyampaikan pesan adat secara simbolik (Hardiyandra et al. , 2. Desa Koto Dian di Kecamatan Hamparan Rawang. Kota Sungai Penuh. Provinsi Jambi, merupakan salah satu wilayah yang masih kuat mempertahankan adat dan kebudayaannya. Salah satu bentuk kekayaan budaya tersebut ialah sastra lisan (Nur Anisa, 2. Parno merupakan sastra lisan penting bagi masyarakat Kerinci karena memuat ajaran moral, nilai estetika, dan identitas budaya. Menurunnya pemahaman generasi muda menjadikan parno semakin terancam, sehingga pelestariannya perlu didukung melalui kajian ilmiah. Oleh https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. karena itu, parno adat pernikahan masyarakat Desa Koto Dian diteliti untuk mengungkap makna, keindahan bahasa, dan nilai budaya lokal yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks pernikahan, parno adat disampaikan oleh Teganai Rumah. Ninik Mamak, dan Depati. Tradisi parno mencakup dua unsur utama, yaitu pidato adat dan kata-kata adat. Pidato adat berfungsi sebagai sarana penyampaian resmi maksud dan tujuan penyelenggaraan hajat, yang dilakukan melalui beparno, yakni dialog antartokoh adat untuk menyampaikan pemberitahuan serta permohonan izin pelaksanaan acara oleh Anak Batino, yaitu keluarga dari garis keturunan ibu. Dialog ini disebut pnou atau parno dan diikuti dengan tuturan pembuka serta penutup. Adapun kata-kata adat disampaikan dalam bentuk pantun adat dengan menggunakan bahasa daerah yang sarat nilai budaya dan kearifan lokal (Miza & Istiqomah, 2. Parno dilaksanakan dalam tiga tahapan prosesi pernikahan, yaitu Pertunangan (Ngantok Paletau. Duduk Pemangku Adat (Ngimbeu Tuwe. , dan Ijab Qabul (Akad Nika. Penelitian ini difokuskan pada parno akad nikah karena pada tahap ini terjadi interaksi resmi antara kedua keluarga sebelum akad berlangsung. Interaksi tersebut menjadi sarana penyampaian nasihat, harapan, dan nilai-nilai kehidupan rumah tangga oleh para pemangku adat. Sastra lisan seperti parno, memiliki peran yang sangat penting dalam menyampaikan nilai-nilai budaya dan tradisi. Semadi . Sastra lisan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana penyampaian nilai budaya dan tradisi masyarakat. Dalam hal ini, parno akad nikah mencerminkan sastra lisan sebagai elemen budaya yang hidup, berkembang, dan berperan menjaga keterikatan masyarakat dengan warisan budayanya. Selain berfungsi komunikatif, gaya bahasa dalam parno memperkaya pengalaman budaya melalui kekhasan bahasa daerah dan irama tuturan. Penggunaannya oleh Anak Jantan. Depati, dan Ninik Mamak dalam dialog beparno menambah kesakralan prosesi hajat atau pernikahan. Gorys Keraf . Gaya bahasa atau style berasal dari kata Latin stilus, yaitu alat untuk menulis pada lempengan lilin. Awalnya berkaitan dengan kejelasan tulisan, kemudian berkembang menjadi kemampuan memilih dan menggunakan kata-kata secara indah dan Gaya bahasa dalam parno menarik diteliti karena menunjukkan kesenjangan antara kemampuan melafalkan dan pemahaman makna serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Banyak masyarakat hanya menguasai tuturan parno tanpa menghayati filosofi dan pesan leluhur, sehingga kajian ini penting bagi upaya pelestarian budaya. yang diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah Kerinci berperan penting dalam mengenalkan generasi muda pada kearifan lokal dan nilai budaya. Oleh karena itu, kajian gaya bahasa dalam parno menjadi relevan untuk mengungkap makna dan filosofi hidup yang terkandung di dalamnya, tidak hanya pada aspek pelafalan, tetapi juga nilai-nilai luhur warisan leluhur. Di tengah tantangan globalisasi, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis gaya bahasa parno sebagai upaya memperkuat pemahaman serta pelestarian budaya lokal. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan stilistika, yang berfokus pada analisis gaya bahasa dalam karya atau tuturan parno adat pernikahan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, karena data yang dikaji bersifat deskriptif dan kontekstual. Sugiyono . , menyatakan bahwa metode adalah cara ilmiah yang digunakan untuk memperoleh data dengan tujuan dan kegunaan yang spesifik. Dalam konteks penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang berlandaskan pada filsafat positivisme. Data penelitian berupa data verbal, yaitu kata-kata yang terealisasi dalam naskah parno adat pernikahan masyarakat Desa Koto Dian. Kecamatan Hamparan Rawang. Sumber data terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer berupa naskah parno adat pernikahan yang telah dibukukan oleh tim Dinas Pendidikan Kota Sungai Penuh dan diterbitkan pada tahun 2021, sedangkan data sekunder berupa rekaman parno adat pernikahan yang berlangsung di lokasi penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumen, rekaman, observasi pengamatan langsung di lapangan serta wawancara dengan informan yaitu tetua adat. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu berupa lembar observasi, lembar wawancara serta menggunakan tabel indikator gaya bahasa menurut Gorys Keraf tahun Analisis data menggunakan model Milles and Huberman dalam (Sugiyono, 2. melalui tiga tahap yaitu reduksi data dengan mencocokkan data-data yang dikumpulkan sesuai dengan teori gaya bahasa menurut Gorys Keraf . Data tersebut diklasifikasikan berdasarkan jenis-jenis gaya bahasa kiasan. Penyajian data disajikan https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. dalam bentuk narasi yang dilengkapi tabel klasifikasi dan penarikan kesimpulan, peneliti menyusun kesimpulan awal yang menggambarkan penggunaan gaya bahasa kiasan dalam parno adat pernikahan. Untuk memastikan Keabsahan data dalam penelitian ini didasarkan pada penekanan kredibilitas, yaitu data diperoleh melalui triangulasi teknik serta member check dengan melibatkan tetua adat yang memiliki pemahaman mendalam tentang parno adat. Tetua adat berperan memverifikasi kebenaran dan keakuratan data, termasuk hasil terjemahan parno dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia, agar makna asli tuturan tetap terjaga. HASIL DAN PEMBAHASAN Parno masih dilaksanakan dan terjaga kelestariannya di masyarakat Desa Koto Dian. Kecamatan Hamparan Rawang. Selain digunakan dalam upacara pernikahan, parno adat juga diterapkan pada berbagai acara adat lainnya, seperti kenduri sko, upacara kematian, keberangkatan haji, dan membangun rumah baru. Hasil wawancara dengan Bapak Rodi, seorang pemangku adat (Ninik Mamak/Ri. yang aktif dalam berbagai kegiatan adat. Bapak Rodi menjelaskan. AuParne untuk nikauh inoih agiu dipake sampe mini, inoih tradisi anu berlanjut diwarisi untuk kite generasi-generasi selanjutnyiu. Ay Terjemahan: AuParno masih digunakan dalam acara pernikahan dan tetap dilestarikan hingga saat ini. Tradisi ini sangat penting bagi masyarakat dan harus berusaha agar tetap hidup di setiap generasi. Ay Lebih lanjut wawancara dengan Bapak Rodi. AuParne iteuh disampe Anek Janto, sebagai tuan rumah anu nahiu kjeu, untuk mintek izin ngusui kamai inoih pemangku adat. Depati dan Ninik Mamak/Rio. Ay Terjemahan: "Parno ini dituturkan oleh Anak Jantan, yaitu orang yang memiliki hajat yang ingin disampaikan, atau orang yang meminta izin kepada pemangku adat untuk melaksanakan acara, seperti Depati dan Ninik Mamak/Rio. Penelitian ini berfokus pada analisis gaya bahasa dalam parno prosesi akad nikah di Desa Koto Dian Kecamatan Hamparan Rawang, dengan menggunakan pendekatan stilistika yang mengacu pada teori Gorys Keraf . Hasil yang diperoleh terkait gaya bahasa tersebut adalah sebagai berikut: Persamaan atau Simile Gaya bahasa kiasan persamaan . dalam parno akad nikah menggunakan kata pembanding ibarat untuk menggambarkan kedudukan Depati dalam pelaksanaan hajat. Simbol seperti kayu besar, gendang, dan pelita menegaskan Depati sebagai figur utama yang berwenang memberi arahan, izin, dan menjaga keharmonisan Melalui parno, tujuan hajat disampaikan hingga tercapai kesepakatan bersama, sehingga simile berfungsi menegaskan peran adat sebagai penuntun dan perekat sosial bagi masyarakat dan kedua pengantin. Tabel 1. Gaya Bahasa Persamaan atau Simile Kutipan Parno 1 Jadi mitu Kaye tuweu Bapoik Ske jangi dipake Tinggai dipandau dari jaoih, gedo dului basuwe ialah Kaye tuweu Depatai uhau bekuase dali negehiu Kaye ibarek kayiu gedo di tengeh pado, bati tempoik kamai basandau, ako tempoik kamai basile, daun nyiu tempoik kamai batedoih 2 Yang mane leh parageu kamai tigo perkara Ke mane ngileu empauk ugo sampe ke rawau Segedi bicara idok diparagoi ibarek tebui di gungu musau idok sentau uju dengan pangke Dari tabel tersebut, data berupa gaya bahasa persamaan atau simile yang berhasil ditemukan berjumlah 2 Perbandingannya secara eksplisit . dengan menggunakan kata ibarat. Agar lebih mudah untuk dipahami, peneliti akan menjabarkan beberapa penjabaran dari data di atas. Jadi mitu Kaye tuweu Bapoik Ske jangi dipake Tinggai dipandau dari jaoih, gedo dului basuwe ialah Kaye tuweu Depatai uhau bekuase dali negehiu Kaye ibarek kayiu gedo di tengeh pado, bati tempoik kamai basandau, ako tempoik kamai basile, daun nyiu tempoik kamai batedoih Terjemahan: https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Jadi begini Anda tua Bapak Sko yang dipakai Tinggi dipandang dari jauh, besar dulu bertemu ialah Anda Bapak Sko Depati yang berkuasa dalam Negeri Anda ibarat kayu besar di tanah lapang, batangnya tempat kami bersandar, akarnya tempat kami duduk, daunnya tempat kami berteduh Dalam kutipan . terdapat gaya bahasa kiasan persamaan . yang ditandai dengan penggunaan kata Ungkapan kayiu gedo di tengeh pado mengibaratkan Depati sebagai pohon besar di tengah lapangan, yakni figur sentral yang dihormati dalam masyarakat adat. Frasa bati tempoik kamai basandau menggambarkan Depati sebagai tempat bersandar atau penopang masyarakat, ako tempoik kamai basile sebagai fondasi kehidupan bersama, dan daun nyiu tempoik kamai batedoih sebagai simbol perlindungan dan kenyamanan. Melalui simile tersebut. Depati diposisikan sebagai pemimpin adat yang memiliki otoritas tertinggi, berperan memberi arahan, menjaga keharmonisan adat, serta menjadi tempat mengadu dan penengah dalam berbagai persoalan masyarakat dengan kebijaksanaan dan keadilan. Metafora Metafora dalam parno akad nikah digunakan sebagai perbandingan langsung tanpa kata pembanding. Simbol alam seperti hujan, matahari, ikan di lubuk, dan gajah menggambarkan adat sebagai warisan leluhur yang tidak dapat ditinggalkan serta menegaskan kehormatan, sumpah, dan tanggung jawab pemangku adat. Melalui metafora ini, parno menegaskan bahwa setiap hajat yang disampaikan telah sah dan sesuai dengan ketentuan adat. Gaya bahasa kiasan metafora yang ditemukan dalam parno akad nikah terdapat pada kutipan berikut ini. Tabel 2. Gaya Bahasa Metafora Kutipan Parno 1 Kamai atas namiu Anek Jantoi Anek Batine Sebagai penyambu lidoh panguleh kate, ndek paragoi sapateh duo 2 Bak kateu salukiu adok ngate Kamai idok batane kacau Kamai ambuik jadiu bungiunyiu Kamai batuwaik buparne tentiu ado wujud maksud dan Berdasarkan tabel tersebut, ditemukan 2 data gaya bahasa metafora. Metafora digunakan untuk menyampaikan makna secara langsung melalui perbandingan antara objek yang dibicarakan dan objek pembanding tanpa kata penghubung, sehingga maknanya lebih mendalam. Untuk memperjelas pemahaman, data tersebut dijabarkan lebih lanjut pada pembahasan berikut. Kamai atas namiu Anek Jantoi Anek Batine Sebagai penyambu lidoh panguleh kate, ndek paragoi sapateh duo Terjemahan: Kami atas nama Anak Jantan Anak Betina Sebagai penyambung lidah pengolah kata, mau bicara sepatah dua Dalam kutipan . terdapat gaya bahasa kiasan metafora pada frasa penyambu lidoih . enyambung lida. dan panguleh kate . engolah kat. Penyambu lidoih memaknai peran Anak Jantan dan Anak Betina sebagai perantara komunikasi antara tuan rumah dan tokoh adat, seperti Depati dan Ninik Mamak. Sementara itu, panguleh kate merujuk pada tugas Anak Jantan sebagai pihak yang menyusun dan menyampaikan hajat pernikahan dalam parno adat. Alegori Gaya bahasa alegori dalam parno akad nikah menggambarkan sifat abstrak tokoh-tokoh adat melalui Ninik Mamak. Anak Jantan, dan Anak Betina dilukiskan sebagai figur penting dengan peran dan tanggung jawab adat masing-masing. Ninik Mamak digambarkan sebagai sosok cerdik dan bijaksana, bukan https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. karena usia. Gaya bahasa kiasan alegori yang ditemukan dalam parno akad nikah terdapat pada kutipan berikut Tabel 3. Gaya Bahasa Alegori Kutipan Parno 1 Lah buloik ayai di panghuliu, bulok kate dimupakek Kamai atas namiu Anek Jantoi Anek Batine, sebagai penyambu lidoh panguleh kate, ndek paragoi sapateh 2 Ninik mamauk tuwe dari padeu Ninek, cedeuk lebih mulye dari padeu mamauk Anek Janto taganui umauh, dului tibo kaniyau lahui Kamai ndek batuwaik batanye ngusui Kaye, kamai tuweu Anek Janto ndek parne Mane tumbiuk tente parniu kamai tuweu Anek Janto tuweu Anek Batine padeu pagui ahui inoih Dari tabel tersebut, data berupa gaya bahasa alegori yang berhasil ditemukan berjumlah 2 data. Alegori yang digunakan mengandung sifat abstrak dan makna tersirat yang dimiliki oleh Ninik Mamak dan Anak Jantan Anak Betina. Agar lebih mudah untuk dipahami, peneliti akan menjabarkan beberapa penjabaran dari data di . Lah buloik ayai di panghuliu, bulok kate dimupakek Kamai atas namiu Anek Janto Anek Batine, sebagai penyambu lidoih panguleh kate, ndek paragoi sepateh duo Terjemahan: Sudah bulat air di hulu, bulat kata dimufakat Kami atas nama Anak Jantan Anak Betina, sebagai penyambung lidah pengolah kata, mau bicara sepatah dua Dalam kutipan . , terdapat gaya bahasa kiasan alegori pada frasa Lah buloik ayai di panghuliu, bulok kate dimupakek (Sudah bulat air di hulu, bulat kata dimufaka. , mengandung makna tersirat yang melambangkan sifatsifat abstrak pada kata bulat, kata tersebut bukan menandakan bulat sebuah lingkaran atau bola yang berbentuk bulat, namun menyampaikan pesan atau tujuan bahwa dari semua tokoh adat yang hadir, telah melakukan perundingan dan sudah sepakat dengan keputusan atau langkah awal yang dibuat untuk melaksanakan hajat, kesepakatan itu sudah jelas dan tidak bisa diubah karena telah sesuai dengan yang diinginkan, atau juga bisa dikatakan keputusan yang telah disepakati bersama dalam mufakat. Personifikasi atau Prosopopoeia Pada gaya bahasa kiasan personifikasi dalam parno akad nikah, ditemukan penggambaran benda mati seolah-olah memiliki perilaku manusia. Hal ini tampak pada kutipan kanyahe memancing ikan pagi dan sore, bisa menghentikan hujan, bisa memikat si burung liar. Frasa memancing ikan dan memikat burung yang lazimnya dilakukan manusia dilekatkan pada kanyahe . , sehingga pohon tersebut digambarkan seolah-olah hidup dan berperilaku seperti manusia. Personifikasi ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Kerinci terhadap kanyahe sebagai pohon keramat yang dihuni makhluk keramat. Temuan personifikasi dalam parno akad nikah Desa Koto Dian. Kecamatan Hamparan Rawang, menunjukkan bahwa gaya bahasa ini dominan digunakan untuk menggambarkan kanyahe sebagai objek yang AudiinsankanAy. Gaya bahasa kiasan personifikasi dalam parno akad nikah terdapat dalam kutipan berikut ini. Tabel 4. Gaya Bahasa Personifikasi atau Prosopopoeia Kutipan Parno 1 Kanyahe nyiu tumbeuh di Lubiuk Sule, bunamiu kanyaheu Mangkek, nyiu dihunui si hulu baloi, yang bersunguk lentaik, bumateu mirauh, mumancing ikau pagiu ngi ptau, pande munenung si ahui ujo, pande mamikek si buru liyau Dari tabel tersebut, data berupa gaya bahasa personifikasi yang berhasil ditemukan berjumlah 1 data. Personifikasi yang digunakan mengiaskan kanyahe disebut dengan pohon seolah-olah berperilaku seperti Agar lebih mudah untuk dipahami, peneliti akan menjabarkan beberapa penjabaran dari data di atas. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Kanyahe nyiu tumbeuh di Lubiuk Sule, bunamiu kanyaheu Mangkek, nyiu dihunui si hulu baloi, yang bersunguk lentaik, bumateu mirauh, mumancing ikau pagiu ngi ptau, pande munenung si ahui ujo, pande mamikek si buru liyau Terjemahan: Kanyahe yang tumbuh di Lubuk suli, yang bernama Kanyahe Mangkek, yang dihuni si hulu balang, yang berkumis lentik, bermata merah, memancing ikan pagi dan sore, bisa menghentikan hujan, bisa memikat si burung liar Dalam kutipan . , gaya bahasa kiasan personifikasi tampak pada ungkapan memancing ikan pagi dan sore, bisa menghentikan hujan, bisa memikat si burung liar. Ungkapan tersebut memaknai kanyaho sebagai pohon yang diberi kemampuan manusiawi, seperti memancing ikan, yang dalam kenyataan hanya dapat dilakukan manusia. Selain itu, frasa bisa menghentikan hujan menunjukkan pemberian kekuatan mengendalikan alam kepada pohon, sehingga kanyaho digambarkan seolah-olah memiliki daya dan perilaku seperti manusia. Terakhir, frasa bisa memikat si burung liar menggambarkan burung liar sebagai makhluk bebas yang tidak mudah dikendalikan. Meskipun demikian, dalam parno adat ini, kanyaho diberikan kemampuan untuk memikat burung liar, yang menunjukkan bahawa pohon tersebut seolah-olah bisa berinteraksi dengan alam dan mengendalikan hewan. Alusi Pada gaya bahasa kiasan alusi yang ditemukan dalam parno akad nikah ini, mengacu pada suatu hal atau kejadian yang sudah dikenal secara umum yang terdapat pada hewan. Frasa puyuh beranak muda merujuk pada burung puyuh puyuh yang memiliki ciri khas mudah berkembang biak. Digunakan untuk memberikan gambaran tentang harapan atau doa agar pasangan pengantin nantinya mendapatkan keturunan yang banyak. Gaya bahasa alusi dalam parno akad nikah terdapat pada kutipan berikut ini. Tabel 5. Gaya Bahasa Alusi Kutipan Parno Dari Samihauh ke Kutiu Tuwe naloik puyeuh baranek mudo Sembauh ku angkauk padeu yang Maha Kuase Maeh kupintauk padeu yang tuwe Berikuk selau kepadeu kite yang banyok. kamai ndek paragoi sepateh duo Dari tabel tersebut, data berupa gaya bahasa alusi yang berhasil ditemukan berjumlah 1 data. Alusi yang digunakan yaitu mengacu pada kejadian yang sudah dikenal secara umum, yaitu burung puyuh yang memiliki ciri khas mudah berkembang biak. Agar lebih mudah untuk dipahami, peneliti akan menjabarkan beberapa penjabaran dari data di atas. Dari Samihauh ke Kutiu Tuwe naloik puyeuh baranek mudo Sembauh ku angkauk padeu yang Maha Kuase Maeh kupintauk padeu yang tuwe Berikuk selau kepadeu kite yang banyok. kamai ndek paragoi sepateh duo Terjemahan: Dari Semerah ke Koto Tua mencari puyuh beranak muda Sembah ku angkat kepada yang Maha Kuasa Maaf ku mohon kepada yang tua Serta salam kepada kita yang banyak. kami ingin berbicara sepatah dua Dalam kutipan . , terdapat gaya bahasa kiasan alusi pada frasa puyeuh baranek mudo . uyuh beranak Kata puyuh yang merujuk pada burung puyuh, sudah dikenal luas oleh masyarakat sebagai burung yang cepat berkembang biak. Kata ini digunakan sebagai kiasan untuk mengharapkan agar pasangan yang menikah akan diberkahi dengan keturunan yang banyak, kebahagiaan, dan kehidupan rumah tangga yang penuh berkah. Epitet Epitet merupakan gaya bahasa yang menyiratkan sifat atau ciri khas individu atau objek tertentu melalui frasa deskriptif yang berfungsi sebagai penanda identitas. Dalam parno akad nikah, epitet digunakan untuk menggambarkan karakter kepemimpinan adat. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Contohnya ungkapan Ninik Mamak berdada lapang yang mencerminkan sifat kepemimpinan Ninik Mamak/Rio yang bijaksana, terbuka, dan mampu menerima serta menyelesaikan berbagai persoalan Anak Betina, khususnya dalam urusan pernikahan. Epitet ini menegaskan peran Ninik Mamak sebagai pemimpin adat yang mengedepankan kebijaksanaan, ketenangan, dan kelapangan hati dalam menjalankan tanggung jawabnya. Gaya bahasa kiasan epitet dalam parno pernikahan terdapat pada kutipan berikut ini. Tabel 6. Gaya Bahasa Epitet Kutipan Parno Bak kateu selukiu adok jangi ngate. Ninik Mamauk badadeu lapau Bajenjai naek ke tuweu Depatai Batakeh turang ke Anek Jantoi Menuhuk ske ngi tigeu takauh, menuhuk adok dali neghiu. Dari tabel tersebut, data berupa gaya bahasa alusi yang berhasil ditemukan berjumlah 1 data. Epitet yang menyiratkan sifat tau ciri khas ari individu atu objek tertentu, yaitu sifat dari Ninik Mamak yang menggunakan frasa berdada lapang. Agar lebih mudah untuk dipahami, peneliti akan menjabarkan beberapa penjabaran dari data di atas. Bak kateu selukiu adok jangi ngate. Ninik Mamauk badadeu lapau Bajenjai naek ke tuweu Depatai Batakeh turang ke Anek Jantoi Menuhuk ske ngi tigeu takauh, menuhuk adok dali neghiu. Terjemahan: Bak pepatah adat mengatakan. Ninik Mamak berdada lapang Berjenjang naik ke tetua Depati Bertakah turun ke Anak Jantan Mengikuti sko yang tiga takah, mengikuti adat dalam negeri. Dalam kutipan . , gaya bahasa kiasan epitet tampak pada frasa badadeu lapau . erdada lapan. yang menggambarkan sifat Ninik Mamak sebagai pemangku adat. Epitet ini menekankan karakter terbuka, besar hati, dan bijaksana dalam menjalankan peran kepemimpinan adat. Kata lapang melukiskan kemampuan Ninik Mamak menyelesaikan persoalan, khususnya terkait pernikahan Anak Betina, dengan penuh pengertian dan Sinekdoke Pada gaya bahasa kiasan sinekdoke yang ditemukan dalam parno akad nikah ini, menggunakan bagian dari sesuatu untuk mewakili keseluruhan . ars pro tot. Menggunakan frasa setikar kita yang duduk, pada kutipan tersebut merujuk pada keseluruhan orang yang hadir dalam acara pernikahan yang dilaksanakan. Penggunaan kata setikar ini, menggambarkan seluruh hadirin yang ikut serta dalam acara tersebut. Hal ini juga ditemukan dalam kutipan parno akad nikah lainnya. Penjelasan ini memperlihatkan bagaimana bahasa dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang lebih mendalam dengan menggunakan simbolis terhadap sesuatu yang lebih luas, meskipun hanya merujuk pada bagian tertentu saja. Gaya bahasa ini memperkaya makna dalam acara tersebut dan memberikan nuansa yang lebih hidup pada parno akad nikah ini. Gaya bahasa kiasan sinekdoke ditemukan dalam kutipan parno akad nikah berikut ini. Tabel 7. Gaya Bahasa Sinekdoke Kutipan Parno 1 o. sarapek-rapek kite ngi dudoik Yang dipampo lante, disungkuk atauk, kiri-kanan dilingku dindong, di bawoih alau jangi malinteu, ka datoih babumbung salayang pirauk, ka bawoih baaluih sendai, dudoik basentiu lutangk, tegok basentiu bahiu. Kok kcaik Kaye leh banamo, kok gedo kaye leh bagelo pulo https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. 2 Kemudian daripadeu iteuh, kamai Anek Jantoi Anek Batine leh berkembang lapaik babenti tikau, bapiyiuk gedoi batungkiu jaroi, leh ngenengoh berupa hidangan, kaleu adoi yang basaluh letek salauh aju, baik berupa nasai sekepau, lau mangenyau bagi Kaye, ayai sategoik lau malepoih aeuh bagi Kaye Dari tabel tersebut, data berupa gaya bahasa sinekdoke yang berhasil ditemukan berjumlah 2 data. Sinekdoke yang digunakan bagian dari sesuatu untuk mewakili keseluruhan dengan menggunakan kata setikar. Maksudnya yaitu menggambarkan orang-orang yang hadir pada acara pernikahan tersebut. Agar lebih mudah untuk dipahami, peneliti akan menjabarkan beberapa penjabaran dari data di atas. sarapek-rapek kite ngi dudoik Yang dipampo lante, disungkuk atauk, kiri-kanan dilingku dindong, di bawoih alau jangi malinteu, ka datoih babumbung salayang pirauk, ka bawoih baaluih sendai, dudoik basentiu lutangk, tegok basentiu bahiu. Kok kcaik Kaye leh banamo, kok gedo kaye leh bagelo pulo Terjemahan: Oo. setikar kita yang duduk Yang di bawah langit, di tutupi atap, kiri kanan sekeliling dinding, di bawah loteng yang melintang, ke atas puncak yang perak, ke bawah ber alas pondasi, duduk bersentuh lutut, berdiri bersentuh Dari kecil Anda sudah bernama, sudah besar Anda bergelar pula Dalam kutipan . terdapat gaya bahasa kiasan sinekdoke pada kata sarapek . , yang bermakna sebagian untuk keseluruhan. Kata sarapek mewakili kehadiran lengkap para tetua adat, teganai, lurah, dan kepala desa dalam acara pernikahan atau penyampaian hajat. Pada baris terakhir, kata bagelo . juga merupakan sinekdoke, yakni bagian yang mewakili Gelar yang diterima tetua adat mencerminkan keseluruhan peran, kedudukan, dan tanggung jawab yang diemban dalam struktur masyarakat adat. Metonimia Gaya bahasa kiasan metonimia dalam parno akad nikah tampak pada penggunaan frasa sirih dan pinang, yang tidak dimaknai secara harfiah sebagai tumbuhan, melainkan sebagai simbol perangkat adat untuk meminta izin memulai beparno. Sirih dan pinang disajikan kepada pemangku adat dan dimakan sebelum parno dimulai sebagai bentuk penghormatan. Dengan demikian, frasa tersebut berfungsi sebagai metonimia yang mewakili simbol adat dan penghormatan kepada tokoh adat dalam prosesi pernikahan. Gaya bahasa kiasan metonimia terdapat pada kutipan parno akad nikah berikut ini: Tabel 8. Gaya Bahasa Metonimia Kutipan Parno Bak kateu selukiu adok ngate Kamai mangenengoh sihaih ngan sapalanto Sihaih ngi jadiu sihuih tanye Pinau ngi jadiu pine tuwaik Terjemahan: Bak pepatah adat mengatakan Kami mengenengah sirih dengan seperangkatnya Sirih itu menjadi sirih Tanya Pinang itu menjadi pinang untuk bertanya Dari tabel tersebut, data berupa gaya bahasa metonimia yang berhasil ditemukan berjumlah 1 data. Metonimia yang digunakan memiliki hubungan yang dekat seperti sirih dan pinang yang merupakan seperangkat alat untuk sebuah penghormatan ketika ingin memulai parno. Agar lebih mudah untuk dipahami, peneliti akan menjabarkan beberapa penjabaran dari data di atas. Dalam kutipan . , terdapat gaya bahasa kiasan metonimia pada kata sihaih . yang bukan merujuk pada daun sirih secara harfiah, melainkan melambangkan perangkat adat atau simbol dalam upacara pernikahan yang digunakan untuk memulai percakapan atau proses beparno, seperti dalam prosesi akad nikah. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Kata pinau . tidak dimaknai secara harfiah, tetapi melambangkan sarana bertanya dan meminta izin dalam adat. Perangkat adat seperti sirih dan pinang berfungsi sebagai simbol penghormatan kepada pemangku adat, yaitu Depati dan Ninik Mamak. Penyerahan dan penerimaan perangkat tersebut dalam proses beparno menandai keterlibatan serta otoritas pemangku adat dalam menentukan keputusan dan jalannya prosesi pernikahan adat. Antonomasia Antonomasia merupakan bentuk khusus sinekdoke yang menggunakan epitet untuk menggantikan nama diri deng an gelar atau jabatan. Dalam parno akad nikah, antonomasia tampak pada penggunaan gelar Bapoik Ske/Depati dan Ninik Mamak/Rio untuk menyebut pemangku adat. Gelar tersebut mencerminkan peran, otoritas, dan tanggung jawab dalam menyelesaikan persoalan serta mengatur prosesi adat, sehingga berfungsi bukan sekadar sebagai penanda nama, melainkan sebagai simbol struktur sosial dan pelestarian tradisi adat. Gaya bahasa kiasan antonomasia terdapat dalam kutipan parno akad nikah berikut ini: Tabel 9. Gaya Bahasa Antonomasia Kutipan Parno 1 Jadi mitu Kaye tuweu Bapoik ske/Depati jangi dipake. Tinggau dipandau dari jaoih, gedo dului basuwe ialah Kaye tuweu Depatai uhau bekuase dali negehiu 2 Jadi mitang kaye tuweu Riye. Bak kateu selukiu adok ngate Malayau sampe ka pulo Mangimbauh manuju tangkoi Manyumpangk mek trase di lidoih Kaleu parne tentiu ado tumbiuk tentenyiu Berdasarkan tabel tersebut, ditemukan 2 data gaya bahasa antonomasia. Antonomasia digunakan untuk menggantikan nama diri pemangku adat dengan gelar yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab adat yang diemban. Data tersebut dijabarkan lebih lanjut pada pembahasan berikut. Jadi mitu Kaye tuweu Bapoik ske/Depati jangi dipake. Tinggau dipandau dari jaoih, gedo dului basuwe ialah Kaye tuweu Depatai uhau bekuase dali negehiu Terjemahan: Jadi begini Anda tua Bapak Sko/Depati yang dipakai. Tinggi dipandang dari jauh, besar dulu bertemu ialah Anda Bapak Depati orang yang berkuasa dalam negeri Dalam kutipan . terdapat gaya bahasa kiasan antonomasia pada sebutan Bapoik Ske/Depatai (Bapak Sko/Depat. , yaitu gelar bagi pemegang sko sebagai dewan tertinggi adat. Depati berfungsi sebagai tempat Anak Betina bertanya dan mengadu, pengambil keputusan yang adil, serta hakim adat dalam menyelesaikan Dalam adat pernikahan. Depati menjadi tetua yang wajib mengetahui setiap hajat Anak Betina yang disampaikan melalui Rio atau Ninik Mamak. Paronamasia Paronomasia atau pun merupakan gaya bahasa yang memanfaatkan kemiripan bunyi dengan perbedaan Dalam parno akad nikah, paronomasia ditemukan pada penggunaan kata jatuh yang memiliki makna berbeda sesuai konteks. Kata jatuh digunakan untuk menggambarkan peristiwa fisik, seperti tas yang jatuh ke dalam lubang, serta makna simbolik, yaitu pembicaraan yang jatuh atau tertuju kepada Tua Rio. Penggunaan paronomasia ini tidak hanya memperindah tuturan, tetapi juga merefleksikan struktur sosial adat dan kehalusan bahasa dalam prosesi pernikahan adat. Gaya bahasa kiasan pun atau paronomasia terdapat dalam kutipan parno akad nikah berikut ini: https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Tabel 10. Gaya Bahasa Pun atau Paronamasia Kutipan Parno Ado ugo papateh adok jangi ngate Lah lame manyande rago Ndek dibuwo ka dali kota Rupeunyiu jatoih ka dali payeu Oo. leh lame kamai parago, naloik tumbiuk kate rupeunyiu jatoih ugo ngusui kaye tuweu Riye. Terjemahan: Ada juga pepatah ada mengatakan Sudah lama menyandang tas Ingin dibawa ke dalam kota Rupanya jatuh ke dalam lubang Oo. sudah lama kami berbicara, mencari lawan berbicara rupanya jatuh kepada Anda Tua Rio. Dari tabel tersebut, data . berupa gaya bahasa pun atau paronamasia yang berhasil ditemukan berjumlah 1 data. Menciptakan permainan kata yang memiliki dua makna yang berbeda. Agar lebih mudah untuk dipahami, peneliti akan menjabarkan beberapa penjabaran dari data di atas Dalam kutipan . terdapat penggunaan gaya bahasa kiasan pun atau paronomasia pada kata jatuh yang muncul pada baris keempat dan keenam. Pada ungkapan rupenyiu jatoih ka dali payeu, kata jatuh bermakna berpindah atau masuk ke suatu tempat yang tidak terduga. Sementara itu, pada ungkapan rupanya jatuh kepada Anda Tua Rio, kata jatuh bermakna tujuan pembicaraan yang akhirnya tertuju kepada Tua Rio atau Ninik Mamak. Kesamaan bunyi dengan perbedaan makna ini menunjukkan penggunaan paronomasia yang disesuaikan dengan konteks dalam parno adat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis, ditemukan 39 data gaya bahasa kiasan dalam parno akad nikah masyarakat Desa Koto Dian. Kecamatan Hamparan Rawang, dengan dominasi metafora sebanyak 21 data gaya bahasa persamaan atau simile sebanyak 4 data, disusul alegori dan personifikasi masing-masing 3 data, sinekdoke dan antonomasia masing-masing 2 data, serta alusi, epitet, metonimia, dan paronomasia masing-masing 1 data. Seluruh gaya bahasa tersebut umumnya diungkapkan dalam bahasa Melayu Kerinci dan banyak memanfaatkan diksi yang bersumber dari unsur alam, seperti gunung, hutan, hewan, dan tumbuhan, yang mencerminkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan alamnya. Penggunaan simbol alam dalam metafora dan simile berfungsi untuk menyampaikan harapan, nilai, dan makna pernikahan secara simbolik dan mendalam. Dominasi kedua gaya bahasa tersebut menunjukkan efektivitasnya dalam menegaskan nilai adat, kesakralan prosesi pernikahan, serta pentingnya pelestarian tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Desa Koto Dian. Daftar Pustaka