ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 2 MEI 2022 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN PENANGANAN KEJADIAN KEJANG DEMAM PADA ANAK USIA 6 BULAN-5 TAHUN DI PUSKESMAS TANJUNG UNCANG Sarita Miguna1. Malahayati Rusli Bintang2. Sitti Srie Luthfia Rekozar3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam, saritamiguna@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, malahayatiruslibintang@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, btm. luthfiarekozar@gmail. ABSTRACT Background: Febrile seizures occur in 2-5% of children aged 6 months-5 years. Although the incidence of febrile seizures in childhood generally has a good prognosis and can resolve spontaneously, the occurrence of seizures is considered frightening for most mothers. Actions for handling and/or management of febrile seizures are certainly influenced by the behavior of mothers, one of which is based on knowledge. Methods: This research method is descriptive analysis with a cross sectional approach conducted at Tanjung Uncang Public Health Center in December 2021. Sampling technique is accidental sampling with the number of samples as much as 72 mothers. The results of the study were analyzed with chi Results: Results of this study in 72 respondents, obtained . ,3%) respondents with less knowledge, . ,5%) respondents with less behavior for the handling of febrile seizure. The results of the chi-square test bivariate analysis found a meaningful relationship between the level of knowledge and the handling of febrile seizure . =0,. Conclusion:Based on this research that there is a relationship between the mother's level of knowledge and the handling of febrile seizures in children aged 6 months-5 years at the Tanjung Uncang Health Center in 2021. Keywords: Knowledge. Handling. Febrile Seizure ABSTRAK Latar Belakang: Kejang demam terjadi pada 2-5% anak berumur 6 bulan-5 tahun. Walaupun kejadian kejang demam pada masa anak-anak umumnya memiliki prognosis baik dan dapat sembuh spontan, namun kejadian kejang tersebut dianggap menakutkan bagi kebanyakan Tindakan penanganan dan/atau penatalaksanaan kejang demam tentunya dipengaruhi oleh perilaku dari ibu, dimana perilaku itu salah satunya didasarkan oleh pengetahuan. Metode: Metode penelitian ini adalah analitik deskriptif dengan pendekatan crosectional yang dilakukan diPuskesmas Tanjung Uncang padabulanDesember 2021. Teknik pengambilan sampel yaitu accidental samplingdengan jumlahsampel sebanyak 72 ibu. Hasil penelitian dianalisis dengan chi square. Hasil: HasilPenelitianinipada72responden, didapatka n. ,3%)respondendengan pengetahuan kurang,. ,5%)responden dengan perilaku kurang terhadap penanganan kejadian kejang demam. Hasil analisis bivariat uji chisquaredidapatkanada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan penanganan kejadian kejang demam . =0,. Kesimpulan:Berdasarkan penelitian ini bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan penanganan kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan-5 tahun di Puskesmas Tanjung Uncang tahun 2021. Kata Kunci: Pengetahuan. Penanganan. Kejang Demam Universitas Batam Page 107 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 2 MEI 2022 PENDAHULUAN Kenaikan suhu tubuh pada anak diatas normal yaitu diatas 37EE tidak selalu menimbulkan bahaya, namun jika anak mengalami demam dengan suhu diatas 38EE, bisa menyebabkan step atau kejang demam. Bila terus menerus terjadi dapat menyebabkan gangguan dalam proses tumbuh kembang anak (Mariyani & Sinurat, 2. , (Pujilestari & Mudapati, 2. , (Sudarmoko, 2. , (Umar Zein. Menurut International League Against Epilepsy (ILAE),(Seinfeld & Pellock, gangguan neurologis akut yang paling umum terjadi pada bayi dan anak-anak tanpa adanya infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam jarang terjadi setelah anak usia 5 tahun, anak laki- laki sering menderita kejang demam dengan insiden sekitar 2 kali lipat lebih sering dibandingkan anak perempuan (Budi et , 2. Prevalensi di Asia, kejang demam meningkat dua kali lipat bila dibandingkan di Eropa dan di Amerika Serikat dengan prevalensi kejang demam berkisar 2-5% (Herman, 2. Berdasarkan lokasi geografis, terdapat variasi prevalensi yang lebih tinggi, seperti pada anak-anak di Finlandia terdapat 6. 9% kasus kejadian kejang demam, bekisar 3,4-9,3% pada anak-anak di Jepang, 5-10% pada anakanak di India, dan prevalensi tertinggi 14% di Guam (Kepulauan Marian. (Paul S. Seymour M. Flower D. , 2. , (Chung Sajun M. , 2. Sementara di Indonesia berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI . , disebutkan kejang demam terjadi pada 2Universitas Batam 5% anak berusia 6 bulan sampai dengan 3 tahun dan 30% diantaranya akan mengalami kejang demam berulang. Sedangkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Batam pada tahun 2020, kasus kejang demam berdasarkan hasil rekam data di beberapa puskesmas terjadi pada anak usia 1 bulan sampai O 9 tahun dengan jumlah 73 kasus pada seluruh puskesmas, untuk kasus di Puskesmas Tanjung Uncang terdapat 42 kasus kejang Kejadian kejang demam pada masa anak-anak umumnya memiliki prognosis baik dan dapat sembuh spontan, namun kejadian kejang tersebut dianggap mengerikan bagi kebanyakan orangtua (Swaiman et al. , 2. Kejadian kejang demam merupakan hal yang menakutkan bagi sebagian besar orang tua khususnya Seorang ibu akan merasa khawatir dan panik jika melihat anaknya mendadak Seringkali ibu tidak tahu harus berbuat apa saat anaknya mengalami kejang demam (Hull & Johnston, 2. Pengetahuan dan kesadaran ibu-ibu mengenai kejang demam penting untuk mencegah kejadian kejang demam pada anak (Najimi et al. , 2. Kebanyakan orangtua tidak menyadari, kapan tindakan segera yang perlu diambil untuk komplikasinya (Najimi et al. , 2. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian AuHubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Penanganan Kejadian Kejang Demam Pada Anak Usia 6 Bulan-5 TahunAy. Page 108 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 2 MEI 2022 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo. Dalam penelitian yang menjadi populasi adalah pasien yang berobat di Puskesmas Tanjung Uncang pada tahun 2020 yang berjumlah sebanyak 3. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik accidental sampling yaitu teknik dengan pengambilan kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat/keadaan tertentu sesuai dengan konteks penelitian (Notoatmodjo, 2. Total sampel dalam penelitian ini adalah 72 responden. Teknik pengambilan data menggunakan data primer dengan menggunakan kuisioner, untuk data sekunder diperoleh dari hasil pencatatan dan pelaporan masing-masing puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota Batam. Analisis data penelitian ini menggunakan uji hipotesis korelasi Chi-Square. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat DistribusiFrekuensi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Ibu Tabel 1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Ibu Variabel Frekuensi Presentase . (%) Baik Kurang Total Universitas Batam Berdasarkan tabel 1 diketahui hasil analisis univariat responden dengan pengetahuan kurang yaitu 65 orang . ,3%), lebih banyak daripada responden yang memiliki pengetahuan baik yaitu 7 orang . ,7%). Distribusi Frekuensi BerdasarkanPenanganan Kejadian Kejang Demam Tabel 2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Penanganan Kejadian Kejang Demam Variabel Frekuensi Presentase . (%) Baik Cukup Kurang Total Berdasarkan tabel 2 diketahui hasil analisis univariat responden dengan perilaku kurang yaitu 50 orang . ,5%), lebih banyak daripada responden yang memiliki perilaku baik yaitu 8 orang . ,1%) ataupun perilaku cukup yaitu 14 orang . ,4%). Analisis Bivariat Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Penanganan Kejadian Kejang Demam Berdasarkan tabel 3 didapatkan 12 reponden memiliki pengetahuan baik dengan perilaku baik dan 15 responden memiliki pengetahuan baik dengan perilaku cukup. Page 109 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 2 MEI 2022 Tabel 3 Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Penanganan Kejadian Kejang Demam Penanganan Kejadian Kejang Demam Total Tingkat Perilaku Perilaku Value Perilaku Baik Pengetahuan Cukup Kurang Pengetahuan 15 53,6 Baik 0,000 Pengetahuan 16 36,3 Kurang Total Lalu didapatkan 1 responden memiliki Pengetahuan sangat erat kaitannya pengetahuan baik dengan parilaku dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula Hal tersebut dapat disebabkan walaupun terhadap bagaimana ibu berperilaku ibu sudah mengetahui ilmu dasar tentang dalam menangani anak pada saat terjadi kejang demam, namun belum pernah kejang demam (Notoatmodjo, 2. mengalami kejadian anak kejang demam. Selain itu, hal tersebut dapat disebabkan Perilaku penanganan kejadian kejang oleh faktor lain, dari faktor ekonomi, demam dapat disebabkan oleh faktor lain, meskipun pendapatan tidak berpengaruh seperti faktor psikologis bahwa saat secara langsung terhadap pengetahuan seseorang, tetapi keluarga dengan status keguncangan organisme yang disertai oleh ekonomi tinggi lebih mudah mencukupi gejala-gejala kesadaran atau perilaku kebutuhan primer maupun kebutuhan maka dapat memengaruhi seseorang sekunder dibandingkan dengan keluarga dalam bersikap, misalnya saat anak dengan status ekonomi rendah, dari mengalami demam tinggi ibu merasa faktor usia. Semakin cukup usia, panik atau gelisah (Notoatmodjo, 2. seseorang akan lebih matang dalam Selanjutnya pada penelitian ini juga Memori atau daya ingat dipengaruhi oleh usia. Semakin banyak pengetahuan kurang dengan perilaku baik usia seseorang, maka semakin besar dan 16 responden memiliki pengetahuan memori dan daya ingat seseorang. kurang dengan perilaku cukup. Hal Bertambahnya usia seseorang dapat tersebut dapat disebabkan oleh beberapa Seperti pendidikan terakhir yang (Notoatmodjo, 2. pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan Universitas Batam Page 110 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 2 MEI 2022 seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula Namun ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak (Notoatmodjo, 2. Adapun dari faktor pengalaman, pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. Pengalaman ini merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan. Lalu didapatkan 24 responden memiliki pengetahuan kurang dengan parilaku kurang. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pendidikan, pendidikan dapat menambah wawasan atau pengetahuan seseorang, terutama tentang kejang demam. Ibu yang pendidikannya lebih rendah mmemiliki wawasan cenderung rendah sehingga informasi yang diperoleh juga tidak diterima dengan maksimal menjadi Selain itu, pengalaman akan memperluas pengetahuan dan tindakan seseorang, karena pengalaman ibu yang kurang menyebabkan perilaku yang ibu lakukan kurang baik. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Wahyudi et al. , 2. tentang hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan penanganan kejang demam pada balita sebelum dirawat di Rumah Sakit Ahmad Yani Metro 2019, diperoleh bahwa terdapat hubungan pengetahuan ibu dengan penanganan kejang demam pada balita sebelum dirawat di Rumah Sakit Ahmad Yani Metro Tahun 2017, dengan p-value = 0,002 . -value < = 0,. dan OR= 16,667 sehingga dapat Universitas Batam berpengetahuan kurang baik tentang kejang demam mempunyai risiko 16 kali lebih besar untuk melakukan penanganan kurang baik pada saat balita mengalami kejang demam dibanding dengan ibu yang berpengetahuan baik (Wahyudi et al. Berdasarkan analisis dari hasil uji statistik dengan Chi-square diperoleh nilai p=0,000 . <0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yaitu terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku penanganan kejadian kejang demam di Puskesmas Tanjung Uncang. KESIMPULAN Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku penanganan kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan-5 tahun di Puskesmas Tanjung Uncang tahun 2021. SARAN