Original Research Paper Keanekaragaman Tumbuhan Mangrove di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam. Provinsi Kalimantan Timur Diversity Of Mangrove Plants In Balikpapan Bay and Mahakam Delta. East Kalimantan Province Muhammad Hijri Haydar1. Tri Atmoko2,*. Istiana Prihatini3. Abdul Razaq Chasani1 Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Jl. Teknika Selatan. Mlati. Yogyakarta, 55281. Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional. Cibinong. Bogor, 16911. *Corresponding Author: tri. atmoko@brin. Abstrak: Mangrove memberi banyak manfaat bagi lingkungan dan manusia. Eksploitasi berlebihan akan merusak tumbuhan mangrove sehingga akan mengurangi manfaat mangrove tersebut. Inventarisasi jenis mangrove memberikan informasi keanekaragaman dan komposisi mangrove sebagai basis data untuk monitoring mangrove. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari keanekaragaman dan perbandingan komposisi tumbuhan mangrove di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam. Kalimantan Timur. Pengambilan sampel dilakukan dengan menelusuri jalur perairan dengan metode purposive sampling. Sampel spesimen herbarium dikoleksi untuk didentifikasi di Laboratorium Sistematika Tumbuhan. Fakultas Biologi UGM. Identifikasi jenis dilengkapi deskripsi dan kunci identifikasi buatan, analisis perbandingan komposisi menggunakan Indeks Similaritas Sorensen. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 44 spesies yang tergolong dalam 35 genus, 25 familia, dan 15 ordo. Teluk Balikpapan memiliki keanekaragaman jenis mangrove lebih tinggi . , dibandingkan dengan Delta Mahakam . Genus yang paling umum ditemukan di kedua lokasi adalah Avicennia. Bruguiera. Ceriops. Rhizophora. Sonneratia, dan Xylocarpus. Komposisi spesies mangrove antara Delta Mahakam dan Teluk Balikpapan menunjukkan tingkat kesamaan yang rendah, dengan nilai similaritas 40,67%. Diperlukan upaya pelestarian spesies mangrove di kedua lokasi, karena jenis mangrove yang ada saling melengkapi di antara keduanya. Kata kunci: Bakau. Keanekaragaman. Indeks Syrensen. Inventarisasi Abstract: Mangroves have many benefits for the environment and human life. Excessive exploitation will damage mangrove plants, thereby reducing their benefits. Mangrove species inventory provides information on mangrove diversity and composition as a database for mangrove monitoring. The purpose of this study was to study the diversity and comparative composition of mangrove plants in Balikpapan Bay and the Mahakam Delta. East Kalimantan. Samples were collected along the coast and river using a purposive sampling method. Herbarium samples were collected for further identification at the Plant Systematics Laboratory. Faculty of Biology. Gadjah Mada University. Species identification was accompanied by descriptions and identification keys, and comparative analysis of species composition using the Sorensen Similarity Index. The results showed that there were 44 species belonging to 35 genera, 25 families, and 15 orders in the study location. Balikpapan Bay has a higher mangrove species diversity . , compared to the Mahakam Delta . The most common genera found in both locations were Avicennia. Bruguiera. Ceriops. Rhizophora. Sonneratia, and Xylocarpus. The mangrove species composition between the Mahakam Delta and Balikpapan Bay shows a low level of similarity, with a similarity value of 40. Conservation efforts are needed in both locations, as the existing mangrove species complement each other. Copyright: A 2025. Berkala Ilmiah Biologi (CC BY 4. Keywords: Diversity. Inventory. Mangrove. Syrensen Index Dikumpulkan: 30 Oktober 2023 Direvisi: 18 Juni 2023 A 2025 Haydar . This article is open access Diterima: 29 Agustus 2025 Dipublikasi: 31 Agustus 2025 Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Pendahuluan Kata AumangroveAy gabungan dua kata yaitu mangue dari Portugis dan grove dari Inggris yang berarti hutan kecil atau belukar (Noor et al, 1999. Fahraeni, 2. Hutan mangrove memiliki istilah pertama yang dikenal dengan vloedosschen atau hutan payau, hal ini karena keberadaannya dapat ditemukan pada daerah payau, yang menjadi pertemuan antara air asin dan air tawar (Farhaeni, 2. Hutan mangrove menunjukkan komunitas berbagai tumbuhan yang ditemukan pada kawasan intertidal, dengan karakteristik kawasan tergenang air, tanah berlumpur dan berpasir (Giri et al. , 2010. Djamaluddin, 2. Keberadaan mangrove di zona intertidal berperan penting terhadap lingkungan dan manusia (Dharmawan et , 2. Manusia mendapatkan manfaat dengan keberadaan mangrove seperti kayu bakar, kawasan tambak dan pertanian, obat-obatan, material kontruksi, dan produk ekonomi lainnya (Noor et al, 1999. Djamaluddin, 2. Indonesia memiliki garis pantai yang 181 km dengan setiap pesisir pantainya dapat ditemukan hutan mangrove (Pramudji, 2000. Edwin et al. , 2. Luas kawasan hutan mangrove di Indonesia diperkirakan 3,3 juta hektar atau sekitar 60% dari total luas wilayah mangrove di Asia Tenggara yaitu sekitar 5,1 juta hektar (Djamaluddin, 2018. Arifanti et al. , 2. Luas hutan mangrove dengan cepat berkurang karena pembukaan lahan berupa deforestrasi, kegiatan alih fungsi lahan hutan menjadi lahan terbuka untuk kegiatan manusia seperti pemukiman penduduk, industri, tambang dan lain sebagainya (Asadi et al. , 2. Kalimantan Timur memiliki luas hutan mangrove sekitar 364. 255 ha, namum seiring berjalannya waktu terjadi penurunan luas dan (Asnaenie et al, 2. Alih fungsi lahan hutan mangrove dijadikan areal permukiman dan kawasan industri di Teluk Balikpapan serta kegiatan akuakultur seperti tambak ikan dan udang (Warsidi dan Endayani, 2017. Asnaenie et al, 2019. Sodikin et al, 2. Inventarisasi keanekaragaman jenis memperbaharui data dan informasi terhadap keanekaragaman jenis di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam. Kalimantan Timur. Informasi A 2025 Haydar . This article is open access yang diperoleh sangat penting dalam pengawasan terhadap komunitas mangrove yang saat ini sedang mengalami penurunan luasan serta kerusakan ekosistem. Di sisi lain Teluk Balikpapan berada di dalam dan sekitar areal Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Kota Balikpapan, sedangkan Delta Mahakam berdekatan dengan Ibu Kota Provisi Kalimantan Timur. Kota Samarinda, sehingga berpotensi rentan terjadi kerusakan dan alih fungsi lahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman dan komposisi spesies mangrove di kedua area Bahan dan Metode Tempat dan Waktu Pengambilan sampel dilakukan di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam. Provinsi Kalimantan Timur yang dilakukan mulai Agustus - September 2022. Identifikasi dan analisis data dilakukan di Laboratorium Sistematika Tumbuhan. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pengambilan sampel adalah kamera smartphone 12MP. GPS smartphone, kertas waterproof berukuran 40x30 cm, kertas koran, gunting stek, plastic box volume 60x40 cm, dan etiket gantung berukuran 6x3 cm. Alat untuk pembuatan herbarium meliputi penggaris . anjang 50 c. , kertas koran, alat pengempa . asak kay. berukuran 50x30 cm, tali pengikat berupa sabuk, kertas kapsul atau amplop berukuran 7x4 cm, lakban bening 19mm x 33mm, gunting, etiket tempel berisikan informasi sampel, dan pinset. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi sampel tumbuhan mangrove, alkohol 70%, akuades, dan kertas plan . ounting pape. berukuran 45 x 30 cm. Pengambilan sampel mangrove Tahap pengambilan sampel mangrove dilakukan dengan menelusuri jalur air di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam. Pengoleksian sampel tumbuhan lengkap berupa batang, daun, bunga, buah, dan biji. Setiap koleksi diberi catatan: nomor koleksi, tanggal koleksi, lokasi, habitat, kolektor, dan deskripsi singkat. Proses Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Gambar 1 Lokasi pengambilan sampel di Teluk Balikpapan Gambar 2 Lokasi pengambilan sampel di Delta Mahakam Preparasi spesimen herbarium mangrove Spesimen yang sudah terkoleksi diproses menjadi herbarium kering. Pembuatan herbarium dimulai dari membersihkan spesimen, pengeringan dan pengepresan serta penataan. Pembersihan sampel menggunakan alkohol 70%, kemudian sampel dikeringkan dalam oven. Sampel yang berupa daun dan bunga dilakukan pengepresan menggunakan triplek, koran dan karton serta diikat menggunakan strap, sementara sampel buah tidak dilakukan Sebelum digunakan, oven disterilisasi dengan alkohol 70% dan dinyalakan hingga mencapai suhu maksimum, kemudian susunan sampel dimasukkan ke dalam oven selama 5-7 Pengechekan sampel di dalam oven dilakukan setiap hari untuk memastikan sampel telah kering secara merata. Sampel yang telah kering dilanjutkan tahap mounting menggunakan paper tape A 2025 Haydar . This article is open access berukuran kecil di atas kertas herbarium. Terakhir, ditempelkan etiket tempel yang berisi informasi nama ilmiah, nama lokal, identitas identifikator dan kolektor spesimen, deskripsi singkat, nomor koleksi, lokasi, dan waktu Identifikasi mangrove Identifikasi menggunakan buku panduan Giesen et al, . dan Noor et al, . Hasil identifikasi digunakan untuk menelusuri data mengenai persebaran spesies yang ditemukan dan nama Data tersebut digunakan untuk menganalisis komposisi keanekaragaman dan komposisi spesies mangrove di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam. Analisis data Analisis dilakukan secara deskriptif dalam bentuk daftar jenis, kunci identifikasi buatan dan indeks similaritas Syrensen. Analisis menggunakan perhitungan indeks Syrensen, dengan persamaan sebagai berikut (Chasani and Suyono, 2. (A B) Keterangan: Cs = Indeks similaritas Sorensen A = Jumlah spesies mangrove pada lokasi A B = Jumlah spesies mangrove pada lokasi B C = Jumlah spesies mangrove sama dikedua Struktur komposisi spesies mangrove dari kedua lokasi dinilai memiliki kesamaan jika nilai indeks similaritas >50%, dan akan dianggap berbeda jika nilai indeks similaritas <50%. Hasil dan Pembahasan Keanekaragaman spesies mangrove Jumlah spesies mangrove dari lokasi dua lokasi studi teridentifikasi sebanyak 44 spesies. Hasil identifikasi spesies tumbuhan mangrove tersaji pada Tabel 1. Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Tabel 1 Daftar spesies mangrove di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam Kalimantan Timur Ordo Familia Spesies Lokasi IUCN Red List Kategori Nama Lokal Asterales Asteraceae Pluchea indica (L. Less. Beluntas. Lamutasi Celastrales Celastraceae Elaeodendron viburnifolium (Juss. Merr. Landinglanding. Rambai laut Dilleniales Dilleniaceae Dillenia suffruticosa Martelli E Simpoh air Aegiceras corniculatum (L. ) Blanco Teruntun. Perpat Kecil Ardisia elliptica Thunb. Buah letus. Lampeni Derris trifoliata Lour. Kamulut. Tuba laut Pongamia pinnata (L. Pierre E Awakal. Kacang Kayu Laut Cerbera manghas L. Bintaro. Kayu Scyphiphora hydrophyllacea Gaertn. Duduk Rayap. Perepat Lanang Uncaria sp. Uncaria sp. Avicennia alba Blume Api-api Avicennia marina (Forssk. ) Vierh. Api-api jambu Lamiaceae Teijsmanniodendron hollrungii (Warb. Kosterm. Calophyllaceae Calophyllum inophyllum L. Nyamplung. Punaga Blumeodendron sp. Kamulut. Tuba laut Excoecaria sp. Awakal. Kacang Kayu Laut Glochidion littorale Blume Bintaro. Kayu Ericales Fabales Primulaceae Fabaceae Apocynaceae Genitianales Rubiaceae Acanthaceae Lamiales Malpighiales Euphorbiaceae Phyllantaceae A 2025 Haydar . This article is open access Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Ordo Familia Rhizophoraceae Malvales Malvaceae Lokasi IUCN Red List Kategori Bruguiera cylindrica (L. ) Blume Bruguiera gymnorhiza (L. ) Lam. Bruguiera parviflora (Roxb. ) W. & A. Griff. Bruguiera sexangula (Lour. ) Poir. Spesies Nama Lokal Duduk Rayap. Perepat Lanang Lindur. Tanjang Lindur. Tanjang Lindur. Tanjang Ceriops decandra (Griff. Theob. Bido-bido. Palun Ceriops tagal (Perr. Rob. Bido-bido. Tangar Rhizophora apiculata Blume Bakau Rhizophora mucronata Poir. Bakau Camptostemon philippinensis (Vida. Becc. Kayu baluno Heritiera littoralis Dryand. Dungun. Bayur Laut Hibiscus tiliaceus L. Siron. Waru Lot Lumnitzera littorea (Jac. Voigt. Teruntum Terminalia catappa L. Ketapang. Lisa Osbornia octodonta Muell. Dulok-dulok. Taualis Sonneratia alba Sm. Pedada. Bogem Sonneratia caseolaris (L. ) Engl. Pedada. Bogem Combretaceae Myrtales Myrtaceae Lythraceae Oxidales Elaeocarpaceae Elaeocarpus serratus Rosales Moraceae Ficus curtipes Corner Ara. Beringin Santalales Loranthaceae Amyema gravis Danser. A 2025 Haydar . This article is open access Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Ordo Kategori Amyema mackayensis (Blake. ) Dans. Anacardiaceae Gluta renghas L. Rutaceae Sapindales Meliaceae Solanales Lokasi IUCN Red List Familia Convolvulaceae Spesies Nama Lokal Acronychia pedunculata (L. ) Miq. Kayu Semidra. Sarirah Aglaia cucullata (Roxb. ) Pellegr. Xylocarpus granatum Koenig Nyirih. Niri Xylocarpus rumphii (Kostel. ) Mabb. Nyirih. Niri Ipomoea pes-caprae (L. ) Sweet. Batata Pantai. Kabai-kabai Keterangan: Red List IUCN: EN=Endangered. NT=Near threatened. LC= Least Concern. DD= Data Deficient. NE=Not evaluated. Kategori: MS=Mangrove Sejati. MA=Mangrove Asosiasi. Lokasi: TB=Teluk Balikpapan. DM=Delta Mahakam Pada Tabel 1, menunjukkan tumbuhan mangrove masing Ae masing tergolong ke dalam 1 kelas, 15 ordo, 24 familia, 35 genus dan 44 Ordo dengan anggota familia dan spesies yang banyak ditemukan adalah Malpighiales, dan Myrtales. Pada ordo Malpighiales ditemukan 12 spesies yang terbagi ke dalam 4 familia, yaitu Calophyllaceae. Euphorbiaceae. Phyllantaceae, dan Rhizophorceae. Pada ordo Myrtales ditemukan 5 spesies yang terbagi ke dalam 3 familia, yaitu Combretaceae. Myrtaceae, dan Lythraceae. Pada ordo Sapindales ditemukan 5 spesies ynag terbagi ke dalam 3 familia, yaitu Anacardiaceae. Rutaceae, dan Meliaceae. Berikut adalah deskripsi untuk masing Ae masing spesies yang berhasil teridentifikasi. Acronychia pedunculata (L. ) Miq. Pohon, tinggi 9 Ae 25 m. Daun tunggal, elips, ujung daun runcing . , pangkal daun runcing . , petiole, estipulate, duduk daun opposite. Bunga aksilar, calyx 3 Ae 5 petals, berwarna hijau Ae kekuningan. corolla 4 petals, berwarna putih. stamen 8 filaments. Buah berbentuk globosa, hijau. Sistem perakaran: akar A 2025 Haydar . This article is open access Aegiceras corniculatum (L. ) Blanco Pohon, tinggi 2 Ae 7 m. Daun tunggal, obovate, ujung daun tumpul . , pangkal daun tumpul . , petiole, estipulate, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx 4 Ae 6 petals, berwarna putih Ae kehijauan. corolla 5 petals, berwarna putih. stamen 5 filaments. Buah berbentuk seperti tanduk, hijau Ae kemerahan. Sistem perakaran: akar nafas . Aglaia cucullata (Roxb. ) Pellegr. Pohon, tinggi 6 Ae 15 m. Daun tunggal, elips Ae lanset, ujung daun runcing . , pangkal daun runcing . , petiole, estipulate, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx 3 sepals, berwarna hijau kekuningan. petals, berwarna kuning, stamen 3 Ae 5 filaments. Buah berbentuk globosa, berwarna kuning Sistem perakaran: akar nafas . Amyema gravis Danser Epifit, panjang 0,5 Ae 1 m. Daun tunggal, obovate, ujung daun membundar . , pangkal daun membundar . , petiole, estipulate, duduk daun opposite. Bunga terminal, calyx 3 Ae 5 sepals, berwarna merah. Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. petals, berwarna merah. stamen tidak ditemukan. Buah berbentuk elips membulat, berwarna hijau. Sistem perakaran: akar berbonggol . uberous Amyema mackayensis (Blake. ) Dans. Epifit, panjang 0,5 Ae 2 m. Daun tunggal, bulat telur . , ujung daun membundar . , pangkal daun tumpul . , petiole, estipulate, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx 4 Ae 6 sepals, berwarna hijau Ae corolla 5 petals, berwarna merah Ae stamen tidak ditemukan. Buah berbentuk elips membulat, berwarna hijau. Sistem perkaran: akar berbonggol . uberous Ardisia elliptica Thunb. Semak, tinggi 3 Ae 5 m. Daun tunggal, ujung daun runcing . , pangkal daun meruncing . , petiole, estipulate, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx 5 sepals, berwarna hijau Ae kekuningan. corolla 5 petals, berwarna putih Ae merah muda. Buah berbentuk globosa, berwarna ungu kemerahan Ae hitam. Sistem perakaran: akar tunjang . tilt-roo. Avicennia alba Blume Pohon, tinggi 10 Ae 25 m. Daun tunggal, lanset, ujung daun meruncing . , pangkal daun meruncing . , petiole, estipulate, duduk daun opposite. Bunga terminal, calyx 5 sepals, berwarna kuning terang. 4 petals, berwarna kuning Ae keorenan. Buah berbentuk bulat telur mengerucut dan berparuh, berwarna hijau Ae Sistem perakaran: akar nafas . Avicennia marina (Forssk. ) Vierh. Pohon, tinggi 9 Ae 18 m. Daun tunggal, elips Ae lanset, ujung daun meruncing . , pangkal daun runcing . , petiole, estipulate, duduk daun opposite. Bunga terminal, calyx 5 sepals, berwarna kuning gelap. petals, berwarna kuning cerah. Buah berbentuk bulat telur dan tidak berparuh, berwarna hijau Ae keabu-abuan. Sistem perakaran: akar nafas . A 2025 Haydar . This article is open access Blumeodendron sp. Pohon, tinggi 5 Ae 17 m. Daun tunggal, elips Ae oblong, ujung daun meruncing . , pangkal daun tumpul . , petiole, estipulate, duduk daun alternate. Bunga dan buah tidak didapatkan Sistem perakaran: akar banir/papan . Brugueira cylindrica (L. ) Blume Pohon, 4 Ae 15 m. Daun tunggal, elips Ae lanset, ujung daun meruncing . , pangkal daun . , petiole, stipule, duduk daun opposite. Bunga aksilar, calyx 8 sepals, berwarna hijau Ae kecoklatan. corolla 8 petals, berwarna putih Ae kecoklatan. stamen 3 Ae 5 Buah berbentuk lonceng, berwarna hijau Ae kecoklatan, hipokotil berbentuk cerutu, berwarna hijau, panjang 8 Ae 15 cm. Sistem perakaran: akar lutut . nee-roo. Bruguiera gymnorhizza (L. ) Lam. Pohon, tinggi 7 Ae 25 m. Daun tunggal, elips, ujung daun meruncing . , pangkal daun runcing . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx 8 Ae 10 sepals, berwarna merah Ae merah muda. Ae 10 petals, berwarna putih Ae cokat. stamen 8 Ae 10 filaments. Buah berbentuk loceng, berwarna merah Ae kuning kecoklatan, hipokotil silindris, berwarna hijau tua, panjang 14 Ae 25 cm. Sistem perakaran: akar lutut . nee-roo. Bruguiera praviflora (Roxb. ) W. & A. ex Griff. Pohon, tinggi 4 Ae 15 m. Daun tunggal, elips, ujung daun meruncing . , pangkal daun runcing . , petiole, stipule, duduk daun opposite. Bunga aksilar, calyx 8 sepals, berwarna hijau Ae kekuningan. corolla 8 petals, berwarna hijau Ae kekuningan. Buah berbentuk silindris, berwarna hijau, hipokotil berbentuk cerutu, berwarna hijau Ae kekuningan, panjang 8 Ae 15 cm. Sistem perakaran: akar lutut . nee-roo. Bruguiera sexangula (Lour. ) Poir. Pohon, tinggi 12 Ae 30 m. Daun tunggal, elips Ae lanset, ujung daun meruncing . , pangkal daun runcing . Ae tumpul . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx 10 Ae 12 sepals, berwarna corolla 10 Ae 11 petals, bewarna putih. Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. stamen 10 Ae 12 filaments. Buah berbentuk lonceng, berwarna hijau Ae kekuningan, hipokotil silindris, berwarna hijau, panjang 7 Ae 12 cm. Sistem perakaran: akar lutut . nee-roo. Calophyllum inophyllum L. Pohon, tinggi 8 Ae 24 m. Daun tunggal, oblong Ae bulat telur terbalik . , ujung daun membundar . , pangkal daun tumpul . , petiole, estipulate, duduk daun Bunga aksilar, calyx 4 sepals, berwarna corolla 4 petals, berwarna putih. Buah berbentuk globosa, berwarna hijau. Sistem perakaran: akar banin/papan . Camptostemon philippinensis (Vida. Becc. Pohon, tinggi 6 Ae 15 m. Daun tunggal, elips Ae bulat telur terbalik . , ujung daun membundar . , pangkal daun meruncing . , petiole, estipulate, duduk daun Bunga aksilar, calyx 2 Ae 5 sepals, berwarna putih Ae kehijauan. corolla 5 petals, berwarna putih. stamen 5 filaments. Buah berbentuk buah pir . , berwarna hijau. Sistem perakaran: akar tunjang . tilt-roo. Cerbera manghas L. Pohon, tinggi 3 Ae 7 m. Daun tunggal, berbentuk memanjang . , ujung daun meruncing . , pangkal daun meruncing . , petiole, estipulate, duduk daun Bunga terminal, calyx 5 Ae 6 sepals, berwarna hijau Ae kekuningan. corolla 5 petals, berwarna putih di luar, kuning Ae kemerahan di tidak ada stamen. Buah berbentuk bulat telur, berwarna hijau Ae kemerahan. Sistem perakaran: akar banir/papan . Ceriops decandra (Griff. ) W. Theob. Pohon, tinggi 3 Ae 7 m. Daun tunggal, berbentuk bulat telur terbalik . , ujunghelain daun tumpul . , pangkal daun runcing . , petiole, estipulate, duduk daun opposite. Bunga aksilar, calyx 5 sepals, berwarna hijau. corolla 5 petals, berwarna putih Ae coklat . aat tu. Buah berbentuk bulat telur, berwarna hijau Ae merah tua, hipokotil berbentuk silindris, berwarna hijau Ae kecoklatan, panjang 7 Ae 15 cm. sistem perakran: akar lutut . nee-roo. Ceriops tagal (Perr. ) C. Rob. A 2025 Haydar . This article is open access Pohon, tinggi 3 Ae 8 m. Daun tunggal, oblong Ae bulat telur terbalik . , ujung daun terbelah . Ae tumpul . , pangkal daun runcing . , petiole, estipulate, duduk daun opposite. Bunga aksilar, calyx 5 sepals, berwarna hijau. corolla 5 petals, berwarna putih Ae kecoklatan. Buah berbentuk bulat telur terbalik, berwarna hijau Ae merah tua, hipokotil berbentuk silindris, berwarna hijau Ae kecoklatan, panjang 6 Ae 20 cm. Sistem perakaran: akar lutut . nee-roo. Derris trifoliata Lour. Liana, panjang 4 Ae 15 m. Daun majemuk, bulat telur . Ae elips, ujung daun meruncing . , pangkal daun tumpul Ae membundar . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx ditemukan, berwarna hijau. corolla 2 Ae 3 petals, berwarna putih Ae merah stamen 1 filament. Buah berbentuk seperti ginjal, berwarna hijau Ae kecoklatan. Sistem perakaran: root-suckers. Dillenia suffruticosa Martelli. Semak, tinggi 3 Ae 7 m. Daun tunggal, elips Ae bulat telur . , ujung daun meruncing . , pangkal daun membundar . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga terminal, calyx 6 sepals, berwarna hijau Ae corolla 5 petals berwarna kuning. Buah berbentuk globosa, berwarna hijau Ae Sistem perakaran: akar tunggang. Eleocarpus serratus (L. Pohon, tinggi 6 Ae 18 m. Daun tunggal, lanset, ujung daun runcing . , pangkal daun runcing . , petiole, stipule, duduk daun Bunga aksilar, calyx 5 sepals, berwarna hijau. corolla 5 petals, berwarna putih. stamen ditemukan. Buah berbentuk telur . , berwarna hijau Ae kekuningan. Sistem perakaran: akar tunggang. Elaeodendron vibrunifolium (Juss. ) Merr. Pohon, tinggi 3 Ae 10 m. Daun tunggal, elips Ae bulat telur terbalik . , ujung daun runcing . , pangkal daun runcing . , petiole, estipulate, duduk daun opposite. Bunga aksilar, calyx 4 sepals, berwarna hijau Ae corolla tidak ditemukan. Buah berbentuk bulat telur terbalik Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. , berwarna hijau Ae kekuningan. Sistem perakaran: akar tunggang. Excoecaria sp. Pohon, tinggi 6 Ae 14 m. Daun tunggal, elips Ae lanset, ujung daun meruncing . , pangkal daun runcing . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga tidak didapatkan. Buah berbentuk seperti sabit . rescent-lik. , berwarna hijau. Sistem perakaran: akar Ficus curtipes Corner Pohon, tinggi 5 Ae 10 m. Daun tunggal, elips Ae oblong, ujung daun runcing . , pangkal daun tumpul . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga tidak didapatkan. Buah berbentuk globosa, berwarna merah Ae Sistem perakaran: akar udara . Glochidion littorale Blume Pohon, tinggi 2 Ae 7 m. Daun tunggal, bulat telur . Ae elips, ujung daun runcing . , pangkal daun tumpul . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx 4 Ae 6 sepals, berwarna hijau Ae kekuningan. corolla tidak ditemukan. stamen 5 Ae 6 filaments. Buah berbentuk globosa, berwarna kemerahan. Sistem perakaran: akar tunggang. Gluta renghas L. Pohon, tinggi 6 Ae 15 m. Daun tunggal, elips Ae lanset, ujung daun runcing . , pangkal daun runcing . , petiole, estipulate, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx 4 Ae 5 sepals, berwarna hijau. petals, berwarna putih. stamen 5 Ae 6 filaments. Buah berbentuk globosa, berwarna kecoklatan. Sistem perakaran: akar menyerupai ular . Heritiera littoralis Dryand. Pohon, tinggi 5 Ae 15 m. Daun tunggal, oblong, ujung daun runcing . , pangkal daun runcing . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga aksilar atau terminal, calyx 5 sepals, berwarna kemerahan. tidak ditemukan. stamen ditemukan. Buah berbentuk bulat lonjong . , berwarna Sistem perakaran: akar banir/papan A 2025 Haydar . This article is open access . Hibiscus tiliaceus L. Pohon, tinggi 3 Ae 15 m. Daun tunggal, seperti hati . , ujung daun meruncing . , pangkal daun berbentuk hati . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx 5 sepals, berwarna hijau Ae corolla 5 petals, berwarna kuning, di tengah berwarna coklat Ae keungunan. stamens menyatu. Buah berbentuk bulat . , berwarna hijau. Sistem perakaran: akar tunggang. Ipomoea pes-carpae (L. ) Sweet. Herba, tinggi 5 Ae 18 m. Daun tunggal, bulat telur menyerupai hati . , ujung daun terbelah . , pangkal daun membundar . , petiole, estipulate, duduk daun Bunga aksilar, calyx 4 Ae 5 sepals, berwarna hijau. corolla 5 petals, berwarna merah muda bagian luar, merah Ae keunguan bagian stamen hanya satu filament. Buah berbentuk bulat . , berwarna coklat. Sistem perakaran: akar tunggang. Lumnitzera littorea (Jac. Voigt. Pohon, tinggi 5 Ae 20 m. Daun majemuk, bulat telur terbalik . , ujung daun terbelah . Ae membundar . , pangkal daun meruncing . , petiole, estipulate, duduk daun alternate. Bunga terminal, calyx 5 Ae 6 sepals, berwarna hijau. corolla 5 petals, berwarna merah muda. Ae 10 filaments. Buah berbentuk vas memanjang . , berwarna hijau Ae keunguan. Sistem perakaran: akar nafas . Osbornia octodonta F. Muell. Pohon, tinggi 2 Ae 7 m. Daun tunggal, bulat telur terbalik . , ujung daun membundar . , pangkal daun meruncing . , petiole, stipule, duduk daun Bunga aksilar, calyx 8 sepals, berwarna corolla tidak ditemukan. Buah berbentuk lonceng terbalik . , berwarna hijau. Sistem perakaran: akar seperti ular . nake-lik. terkadang akar nafas . Pluchea indica (L. ) Less. Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Semak, tinggi 2 Ae 3 m. Daun majemuk, elips, ujung daun meruncing . , pangkal daun meruncing . , petiole, estipulate, duduk daun alternate. Bunga terminal, calyx 5 Ae 7 sepals, berwarna hijau Ae keputihan. petals, berwarna putih Ae merah muda. Buah berbentuk bulat telur terbalik . , berwarna putih. Sistem perakaran: akar Pongamia pinnata (L. ) Pierre Pohon, tinggi 5 Ae 16 m. Daun majemuk, bulat telur . Ae oblong, ujung daun . , membundar . Ae menumpul . , petiole, stipule, duduk daun alternate. Bunga aksilar, calyx berwarna hijau Ae kecoklatan. corolla berwarna putih Ae merah muda. Buah berbentuk polong pipih, berwarna hijau. Sistem perakaran: akar Rhizophora apiculata Blume Pohon, tinggi 5 Ae 30 m. Daun tunggal, lanset, ujung daun meruncing . , pangkal daun meruncing . , petiole, stipule, duduk daun opposite. Bunga aksilar, calyx 4 sepals, berwarna kuning Ae kecoklatan. corolla 4 petals, berwarna kuning Ae keputihan. stamen 11 Ae 12 filaments. Buah berbentuk lonceng, berwarna coklat. kotiledon berbentuk silindris, berwarna kuning Ae kemerahan. hipokotil berbentuk silindris, berwarna hijau Ae keunguan, panjang 7 Ae 30 cm. Sistem perakaran: akar tunjang . tilt-roo. dan akar udara . Rhizophora mucronata Poir. Pohon, tinggi 5 Ae 30 m. Daun tunggal, elips Ae bulat telur . , ujung daun meruncing . , pangkal daun runcing . , petiole, stipule, duduk daun opposite. Bunga aksilar, calyx 4 sepals, berwarna kuning Ae corolla 4 petals, berwarna kuning Ae stamen 8 filaments. Buah berbentuk lonceng, berwarna coklat. kotiledon berbentuk silindris, berwarna hijau. hipokotil berbentuk silindris, berwarna hijau Ae kekuningan, panjang 12 Ae 35 cm. Sistem perakaran: akar tunjang . dan akar udara . erial-roo. A 2025 Haydar . This article is open access Scyphiphora hydrophyllacea Gaertn. Pohon, tinggi 1 Ae 3 m. Daun tunggal, bulat telur terbalik . , ujung daun membundar . , pangkal daun meruncing . , petiole, stipule, duduk daun Bunga aksilar, calyx 4 Ae 5 sepals, berwarna hijau. corolla 4 Ae 5 petals, berwarna putih Ae merah. stamen 4 Ae 6 filaments. Buah berbentuk bulat telur memanjang, berwarna hijau Ae kecoklatan. Sistem perakaran: akar nafas . Sonneratia alba Sm. Pohon, tinggi 5 Ae 15 m. Daun tunggal, elips Ae bulat telur terbalik . , ujung daun membundar . , pangkal daun runcing . , petiole, estipulate, duduk daun Bunga terminal, calyx 6 Ae 8 sepals, berwarna hijau di luar, hijau Ae kekuningan di corolla berwarna merah. Buah berbentuk bulat pipih . , berwarna hijau. Sistem perakaran: akar nafas . Sonneratia caseolaris (L. ) Engl. Pohon, tinggi 5 Ae 15 m. Daun tunggal, elips Ae lanset, ujung daun meruncing . , pangkal daun meruncing . , petiole, estipulate, duduk daun opposite. Bunga terminal, calyx 6 Ae 8 sepals, berwarna hijau di luar, hijau Ae kekuningan di dalam. corolla berwarna merah. stamen ditemukan. Buah berbentuk bulat pipih . , berwarna hijau. Sistem perakaran: akar nafas . Teijsmanniodendron hollrungii (Warb. ) Kostrm. Pohon, tinggi 4 Ae 18 m. Daun tunggal, oblong, ujung daun memanjang berekor . , pangkal daun menumpul . , petiole, estipulate, duduk daun opposite. Bunga terminal, calyx 5 sepals, berwarna putih Ae corolla tidak ditemukan. Buah berbentuk globosa, berwarna Sistem perakaran: akar tunggang. Terminalia catappa L. Pohon, tinggi 7 Ae 25 m. Daun tunggal, bulat telur terbalik . , ujung daun membundar . , pangkal daun meruncing . , petiole, estipulate, duduk daun Bunga aksilar, calyx 5 sepals. Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. berwarna hijau keputihan. corolla tidak stamen 6 Ae 10 filament. Buah berbentuk bulat telur, berwarna hijau Ae Sistem perakaran: akar tunggang. Uncaria sp. Liana, tinggi 5 Ae 15 m. Daun tunggal, bulat telur . Ae elips, ujung daun meruncing . , pangkal daun menumpul . , petiole, stipule, duduk daun opposite. Tidak terdapat cakar . atAos cla. Bunga tidak Buah berbentuk vas terbalik . , berwarna hijau. Sistem perakaran: akar tunggang. Uncaria sp. Liana, tinggi 5 Ae 15 m. Daun tunggal, bulat telur . Ae elips, ujung daun meruncing . , pangkal daun menumpul . , petiole, stipule, duduk daun opposite. Terdapat cakar . atAos cla. Bunga tidak didapatkan. Buah berbentuk vas terbalik . , berwarna Sistem perakaran: akar tunggang. Xylocarpus granatum J. Koenig Pohon, tinggi 6 Ae 14 m. Daun majemuk, elips - bulat telur terbalik . , ujung daun runcing . , pangkal daun menumpul . , petiole, estipulate, duduk daun Bunga aksilar, calyx 4 sepals, berwarna corolla 4 petals, berwarna putih Ae stamen ditemukan. Buah berbentuk globosa, berwarna hijau Ae kecoklatan. Sistem perakaran: akar udara . erial-roo. Xylocarpus rumphii (Kostel. ) Mabb. Pohon, tinggi 4 Ae 12 m. Daun majemuk, bulat telur . , ujung daun meruncing . , petiole, estipulate, pangkal daun menumpul . , duduk daun opposite. Bunga aksilar, calyx 4 sepals, berwarna putih Ae corolla 4 petals, berwarna putih Ae stamen ditemukan. Buah berbentuk globosa, berwarna hijau. Sistem perakaran: akar udara . erial-roo. Berdasarkan keterangan deskripsi morfologi yang telah dibuat, sebagai berikut kunci dikotomi Terdapat daun penumpu . A 2025 Haydar . This article is open access Tidak terdapat daun penumpu . Daun majemuk. Daun tunggal . Daun ovate-elips, ujung meruncing, buah menyerupai ginjal . Derris trifoliata Daun ovate-oblong, ujung meruncing, buah berbentuk polong Pongamia pinnata Daun oblong . Heritiera littoralis Daun tidak oblong . Sistem perakaran lutut . Sistem perkaran bukan lutut . Hipokotil seperti cerutu . Hipokotil berbentuk silindris . Daun elips, buah silindris . Bruguiera parviflora Daun elips-lanset, buah lonceng. Bruguiera cylindrica Daun elips, calyx 8-10 sepals . Bruguiera gymnorhiza Daun elips-lanset, calyx 10-12 sepals . Bruguiera sexangula Adaksial daun hijau mengkilap . Adaksial daun tidak hijau mengkilap . Buah bulat. Buah tidak bulat . Ujung daun meruncing . Dillenia suffruticosa Ujung daun tidak meruncing . Daun elips-oblong . Ficus curtipes Daun ovate-elips. Glochidion littorale Daun obovate, ujung membundar. Schphiphora hydrophllacaea Daun lanset, ujung runcing. Elaeocarpus serratus Adaksial daun hijau tua . Adaksial daun tidak hijau tua . Terlihat kotiledon . Tidak terlihat kotiledon . Daun lanset, calyx hijau-kecoklatan . Rhizophora apiculata Daun elips-ovate, calyx hijau . Rhizophora mucronata Daun seperti hati . Hibiscus tiliaceus Daun obovate. Osbornia octodonta Terdapat cakar kucing . Uncaria sp. Tidak terdapat cakar kucing . Daun elips-lanset, buah seperti sabit . Excoecaria sp. Daun ovate-elips, buah seperti vas terbalik Uncaria sp. Calyx hijau . Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Calyx tidak hijau . Petal > 5 . Petal < 5 . Diameter buah > 2cm . Diameter buah < 2cm. Pangkal daun tumpul. Pangkal daun tidak tumpul . Camptostemon philippinensis Daun obovate, calyx 4-6 sepal . Aegiceras corniculatum Daun elips-oblong, calyx 5 sepal . Blumeodendron sp. Daun elips, calyx 5-7 sepal . Pluchea indica Daun oblong, calyx 5 sepal . Teijsmanniodendron hollrungii Corolla kuning . Corolla putih . Daun lanset, pangkal meruncing . Avicennia alba Daun lanset, pangkal runcing. Avicannia marina Stamen > 8 . Stamen < 8 . Calophyllum inophyllum Daun ovate, corolla putih-kekuningan . Xylocarpus rumphii Daun elips-obovate, corolla putihkehijauan . Xylocarpus granatum Bunga tumbuh aksilar . Bunga tumbuh terminal . Bunga di-atau monochlamydeous . Bunga dichlyamydeous . Daun elips-ovate, ujung runcing . Elaeodendron viburnifolium Daun obovate, ujung membundar . Terminalia catappa Habitus pohon . Habitus epifit, semak atau herba . Lebar daun > 3cm . Lebar daun < 3cm . Tinggi tumbuhan > 10m. Acronchyia pendunculata Tinggi tumbuhan < 10m . Daun elips-lanset, calyx 3 sepal . Aglaia cucullata Daun elips-lanset, calyx 4-5 sepal . Gluta renghas Daun obovate . Ceriops decandra Daun oblong. Ceriops tagal Tumbuh memerlukan inang . Amyema mackayensis A 2025 Haydar . This article is open access Tumbuh tidak memerlukan inang. Daun elips . Ardisia elliptica Daun menyerupai hati . Ipomoea pes-carpae Panjang daun > 10cm . Cerbera manghas Panajng daun < 10cm . Duduk daun alternate . Lumnitzera littorea Daun opposite. Corolla putih . Sonneratia alba Corolla merah . Daun obovate, calyx 4 sepal . Amyema gravis Daun elips-lanset, calyx 6-8 sepal . Sonneratia caseolaris Komposisi vegetasi mangrove di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam Dari 66 spesimen mangrove yang diperoleh dari lokasi pengambilan sampel di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam, diketahui 44 spesies mangrove yang tergolong dalam 15 ordo, 24 familia, dan 35 genus, yang berhasil Jumlah keseluruhan dari komposisi spesies, 61% . dikategorikan sebagai mangrove sejati sementara sisanya 39% . merupakan mangrove asosiasi. Tipe habitus yang paling banyak ditemukan adalah pohon meliputi 35 spesies . %), 3 spesies semak . %), 3 spesies liana . %), 2 spesies epifit . %), dan 1 spesies herba . %). Komposisi vegetasi mangrove Teluk Balikpapan terdiri atas 17 familia dan 32 spesies, sementara di Delta Mahakam terdiri atas 18 familia dan 24 spesies. Spesies anggota familia yang banyak ditemukan di Teluk Balikpapan antara lain Rhizophoraceae sebanyak 8 spesies. Euphorbiaceae. Lythraceae. Malvaceae. Meliaceae. Acanthaceae. Primulaceae, dan Rubiaceae masing-masing 2 Spesies anggota familia Euphorbiaceae yang ditemukan meliputi Blumeodendron sp. Excoecaria sp. Blumeodendron sp. ditemukan pada zona mangrove payau . rackish stream mangrov. atau rawa gambut. Spesies ini cukup jarang ditemukan karena merupakan tumbuhan darat. Excoecaria sp. ditemukan pada zona belakang mangrove . ear mangrov. dengan kawasan tergenang 3 Ae 4 m. Spesies anggota familia Malvaceae yang ditemukan adalah Camptostemon philippinensis dan Hibiscus tiliaceus, dapat ditemukan pada zona Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. belakang mangrove . ear mangrov. Ae mangrove payau . rackish stream mangrov. , kawasan tergenang dengan ketinggian 3 Ae 4 m dan berada diperbatasan dengan aliran pasang surut. Spesies anggota Meliaceae yang ditemukan adalah Xylocarpus granatum dan Xylocarpus rumphii, dapat ditemukan pada zona mangrove tengah . enter mangrov. yang memiliki substrat berupa lumpur dan kawasan tergenang setinggi 2,5 Ae 3 Spesies anggota familia Acanthaceae yang ditemukan di Teluk Balikpapan adalah Avicennia alba dan Avicennia marina, dapat ditemukan pada zona mangrove terbuka . xposed Zona mangrove terbuka merupakan kawasan tergenang 2 Ae 3 m, dan substrat berlumpur . uddy shore. Spesies anggota famili Primulaceae yang ditemukan adalah Aegiceras corniculatum dan Ardisia elliptica. Aegicras corniculatum ditemukan pada zona mangrove payau . rackish mangrov. , dengan substrat berupa pasir. Ardisia elliptica ditemukan pada zona belakang mangrove . ear mangrov. Ae mangrove payau . rackish stream mangrov. , dapat tumbuh pada substrat berpasir maupun Spesies anggota famili Rubiaceae Scyphiphora hydrophllacea dan Uncaria sp. 2, dapat ditemukan pada zona belakang mangrove . ack mangrov. , zona dengan substrat berupa lumpur serta cukup dekat dengan kawasan tumbuhan Familia Rhizophoraceae di Teluk Balikpapan dibandingkan dengan familia yang lainnya. Sebanyak delapan spesies ditemukan yaitu B. dan R. Pada penelitian Kusmana and Azizah . Warsidi dan Endayani . , dan Seyaktiningsih et al . , menunjukkan bahwa spesies-spesies yang berasal dari familia Rhizophoraceae banyak ditemukan pada vegetasi mangrove, hal ini dikarenakan spesies tersebut mampu beradaptasi dengan baik. Zona mangrove tengah . entral mangrov. menjadi areal yang banyak ditemukan spesies dari familia Rhizophoraceae dengan kawasan tergenang setinggi 2 Ae 3 m, dan substrat berupa lumpur. Sehingga, jenis Bruguiera dan Rhizophora merupakan pionir untuk vegetasi mangrove. A 2025 Haydar . This article is open access Spesies anggota familia Lythraceae yang ditemukan di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam sama, yaitu Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris. Sonneratia alba berada di zona mangrove terbuka . xposed mangrov. Umumnya spesies Sonneratia akan tersebar pada berbagai wilayah, dapat ditemukan sendiri saat kondisi substrat terdiri atas tanah, atau berdampingan dengan Avicennia dan Rhizophora saat kondisi substrat tercampur oleh lumpur (Giesen et al. , 2. Spesies mangrove di Delta Mahakam yang paling banyak ditemukan berasal dari familia Lythraceae. Meliaceae. Rhizophoraceae dan Rubiaceae. Spesies anggota Meliaceae yang ditemukan adalah Aglaia cucullata dan Xylocarpus granatum, dapat ditemukan pada zona belakang mangrove . ear mangrov. atau mangrove payau, dimana kedua zona tersebut berada di belakang garis mangrove Aglaia cucullata berada pada zona dengan kawasan tergenang mencapai 2 Ae 3 meter, berada lebih dekat dengan sumber air tawar. Xylocarpus granatum berada pada zona dengan substrat berupa lumpur dengan tinggi genangan mencapai 2,5 Ae 3 meter, dan jauh dari sumber air tawar (Noor et al, 2. Spesies familia Rhizophoraceae yang ditemukan di Delta Mahakam adalah Bruguiera parviflora dan Rhizophora apiculata, dapat ditemukan pada zona tengah mangrove . entral mangrov. , pada zona tersebut terdiri atas Bruguiera dan Rhizophora. Zona tengah mangrove dapat terbagi lagi menjadi dua, zona yang lebih menjorok ke laut dominan oleh Rhizophora, sebaliknya yang menjorok ke daratan didomonasi oleh Bruguiera, karena pada zona ini substrat berupa lumpur yang tinggi dan kebutuhan air tawar terpenuhi sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan hidup (GouthamBharathi et al. , 2014. Henri et al. , 2. Spesies anggota familia Rubiaceae yang ditemukan adalah Scyphiphora hydrophllacea dan Uncaria 1, dapat ditemukan pada zona belakang mangrove . ack mangrov. , zona dengan substrat berupa lumpur serta cukup dekat dengan kawasan tumbuhan darat. Perbedaan keanekaragaman spesies mangrove antara Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam sangat dipengaruhi oleh kondisi lokasi dalam kegiatan Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. pengambilan sampel (Goutham-Bharathi et al. Purposive sampling atau sebuah metode yang digunakan dalam pengoleksian sebuah sampel tanpa memperhatikan luas area dan fokus terhadap rasionalitas dalam pemilihan sampel untuk mencapai tujuan penelitian (Campbell et Penelitian keanekaragaman dan komposisi spesies mangrove dengan luasan area tidak ditentukan. Kondisi fisik mangrove menjadi faktor yang berpengaruh terhadap keanekaragaman, seperti adaptasi khusus yang dimiliki oleh mangrove terhadap pengaruh salinitas tinggi, kondisi substrat, sedimentasi, serta kondisi pasang surut (Giesen et al. , 2. Pada penelitian ini. Camptostemon philippinensis tersebut hanya ditemukan di Teluk Balikpapan, dan termasuk dalam kategori dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK RI nomor 106 tahun 2018 dan termasuk spesies . ndangered berdasarkan IUCN Red List. Spesies C. philippinensis atau kayu baluno memiliki distribusi yang terbatas, baik di Indonesia dan Philippina (Damayanto et al. , 2023. Middlejans, philippinensis terancam punah karena jumlah populasi di dunia kurang dari 1200 dan dapat terus berkurang. Keberadaan C. philippinensis di Indonesia menurut Damayanto et al. dapat diperkirakan kurang dari 200 Kondisi C. philippinensis yang mengalami penurunan jumlah individu akibat antropogenik atau ancaman dari manusia, seperti alih fungsi lahan mangrove untuk tambak perikaranan dan pemanfaataan batang kayu secara berlebih untuk kayu bakar, kontruksi rumah dan lain sebagainya. Pemanfataan batang kayu C. philippinensis yang berlebih ini karena struktur yang cukup lunak tetapi cukup kuat karena memiliki kepadatan 470 Ae 635 kg/m3 dengan kadar air 15% (Damayanto et al. , 2. Jumlah spesies Avicennia yang ditemukan pada Delta Mahakam lebih sedikit dari rangkuman beberapa referensi seperti Edwin et al. , . , dan Sodikin et al, . , ditemukan A. lanata, dan Pada penelitian ini hanya ditemukan Avicennia alba di Delta Mahakam. Terjadinya degradasi spesies dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti tingkat salinitas, substrat, dan pasang-surut serta intervensi manusia A 2025 Haydar . This article is open access terhadap kawasan mangrove. Spesies Avicennia dapat tumbuh dengan baik pada tingkat konsentrasi garam sekitar 1 Ae 2,5% atau pada tingkat 50 Ae 70% salinitas air laut, serta kondisi rendah tingkat salinitas 10% - 20% atau konsentrasi garam berada di bawah <1% (Basunyi et al. , 2018 Cheng et al. , 2020. Nguyen et al. , 2. Spesies Avicennia dikondisi tingkat salinitas rendah akan mengurangi penyerapan biomassa, karena pembentukan pembuluh baru berkurang dan daun akan mudah gugur (Nguyen et al. , 2. Substrat berpengaruh pada pertumbuhan suatu spesies mangrove. Avicennia akan tumbuh pada substrat berupa tanah berlumpur sehingga jenis ini dapat ditemukan di wilayah yang terendam air laut maupun pasang surut. (Giesen et al. , 2. Intervensi manusia terhadap kawasan mangrove di Delta Mahakam menjadi penyebab berkurangnya keberadaan spesiesspesies, seperti pada Avicennia. Kawasan mangrove di Delta Mahakam mengalami deforestrasi yang disebabkan alih fungsi lahan, seperti pembukaan kawasan tambak udang, kawasan dengan produksi oli dan gas, pemukiman, dan lain sebagainya (Sodikin et al. Faktor-faktor yang sudah dijelaskan memungkinkan terjadinya perubahan pada keberadaan Avicennia dalam kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan di Delta Mahakam. Analisis struktur komposisi spesies antar Spesies mangrove yang ditemukan di Delta Mahakam berjumlah 24 spesies, dan sebanyak 12 spesies yang hanya ditemukan di Delta Mahakam. Sementara, spesies mangrove di Teluk Balikpapan berjumlah 32 spesies, dan sebanyak 20 spesies yang hanya ditemukan di Teluk Balikpapan. Indeks similaritas spesies mangrove untuk kedua lokasi adalah . ,67%), yang menjelaskan bahwa tingkat similaritas spesies penyusun vegetasi mangrove di antara keduanya rendah. Indeks Syrensen berada pada rentang 0 Ae 100%, jika nilai indeks tinggi dibandingkan memiliki unit penyusun spesies yang mirip, sementara nilai indeks rendah dibandingkan memiliki unit penyusun spesies Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. yang berbeda (Chasani and Suyono, 2. Hal ini menunjukkan bahwa, kondisi stuktur dan komposisi spesies antara Delta Mahakam dan Teluk Balikpapan menunjukkan kemiripan struktur dan komposisi spesies yang rendah. Indeks similaritas rendah menunjukkan keanekaragaman mangrove penyusun vegetasi mangrove rendah, hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi substrat, suhu, dan salinitas. Substrat adalah tempat yang memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh. Kondisi vegetasi mangrove dipengaruhi oleh substrat yang menyusunya, karena setiap fisik substrat yang berbeda akan berpengaruh terhadap keberadaan spesies mangrove. Keberadaan substrat di kawasan mangrove merupakan hasil dari pengendapan material yang terjadi di akar Tipe substrat yang ditemukan berupa campuran dari lumpur, pasir, tanah atau karang (Irawan et al. , 2. Pembentukan sulfida pada substrat merupakan modifikasi khas dari sedimen hutan mangrove, dan memberikan pengaruh terhadap persebaran spesies mangrove. Tingkat sulfida yang tinggi bersifat toksik terhadap tumbuhan mangrove, sehingga mempengaruhi menghambat laju pertumbuhan dan kematian individu mangrove (Youssef & Saenger, 1. Sulfida berlebih terbentuk akibat kondisi lingkungan anaerobik tanah yang karena perubahan pada topografi . embukaan lahan hutan mangrov. , genangan air, dan detritus dalam jumlah besar (Reef et al. , 2. Proses dekomposisi sulfida akan terbentuk hidrogen sulfida (H2S), senyawa tersebut dapat membahayakan bagi keberlangsungan mangrove jika akar tidak mampu melepas H2S ke udara dalam bentuk gas. Salah satu buktinya dapat dilihat pada tren penurunan populasi Avicennia di wilayah Delta Mahakam. Gastadol . menyebutkan bahwa wilayah delta front dari Delta Mahakam didominasi oleh lumpur . Lumpur yang berlebih dapat menutup akar nafas . sehingga dapat membahayakan tumbuhan mangrove, terutama pada kondisi akumulasi H2S . Faktor lain yang mempengaruhi keanekaragaman adalah suhu lingkungan. Mangrove dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimal dengan rentang 28 Ae 32oC, sementara mangrove di kawasan tropis tumbuh pada suhu A 2025 Haydar . This article is open access Pada kondisi suhu yang optimal akan menguntungkan bagi mangrove karena dapat berkembang dengan maksimal, tetapi saat kondisi suhu ekstrim rentang 38 Ae 40oC akan mempengaruhi kondisi daun mangrove, dan juga terhambat proses fotosintesisnya. Peningkatan suhu dalam skala kecil dapat mempengaruhi waktu siklus pembungaan mangrove, sehingga akan mengganggu lama durasi pembungaan dan (Kathiresan and Rajendran, 2. Salinitas . adar gara. salah satu faktor penting dalam distribusi spesies, dan pertumbuhan di hutan mangrove. Tumbuhan mangrove memiliki toleransi tinggi terhadap salinitas dibandingkan dengan tumbuhan nonmangrove. Vegetasi keanekaragaman melimpah memiliki kondisi salinitas optimum, sekitar 15 Ae 30%. Ketika mangrove berada dikondisi salinitas rendah akan mengganggu fungsi fisiologis sel, seperti turgiditas sel dan penurunan proses respirasi. Pada salinitas tinggi, mangrove akan meningkatkan penggunaan energi untuk menjaga keseimbangan air dan konsentrasi ion, meningkatkan stress osmotik, dan mengganggu keseimbangan nutrisi (Chen and Ye, 2014. Dittmann et al. , 2. Salintitas tinggi selain mengganggu fisiologis dari organ mangrove, dapat mengganggu ekosistem mangrove seperti degradasi dan hilangnya spesies mangrove karena keanekaragaman endemik mangrove Selain itu, mengalih fungsi ekosistem mangrove yang semestinya, hutan mangrove dikenal sebagai blue carbon karena penyerapan akumulasi karbon yang tinggi menjadi sumber produksi karbon (Dittmann et al. , 2. Kemiripan jenis mangrove di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam rendah menunjukkan bahawa komunitas mangrove di kedua lokasi tersusun dari jenis yang relatif Oleh karena itu upaya perlindungan areal mangrove di kedua lokasi perlu dilakukan secara bersama-sama, karena keduanya saling Beberapa jenis tumbuhan yang tidak ada di Teluk Balikpapan ditemukan di Delta Mahakam, demikian juga sebaliknya. Selain itu kedua lokasi adalah areal yang strategis sebagai green area di sekitar dua kota besar (Balikpapan dan Samarind. dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Haydar, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 107 Ae 124 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa spesies tumbuhan mangrove yang ditemukan di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam. Kalimantan Timur meliputi 15 ordo, 25 familia, 35 genus dan 44 spesies. Genus yang paling umum ditemukan Avicennia. Bruguiera. Ceriops. Rhizopora. Sonneratia, dan Xylocarpus. Komposisi tumbuhan mangrove di Teluk Balikpapan dan Delta Mahakam mempunyai tingkat kemiripan yang rendah dengan nilai indeks similaritas Sorensen 40,67%. Penelitian ini masih terdapat beberapa kekurangan dan diperlukan pengkajian lebih lanjut, karena seiring dengan berjalannya waktu, kondisi hutan mangrove akan mengalami perubahan, baik berupa degradasi hutan ataupun penanaman kembali. Selain itu perlu dilakukan inventarisasi dengan pengambilan sampel mangrove dengan cakupan yang lebih luas dan merata, sehingga diperoleh data keanekaragaman yang lebih baik. Referensi