ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Pengaruh Model Pembelajaran Radec terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Materi Cahaya dan Sifatnya Kelas V SD Negeri Lampeuneurut Aufa Sahasika1. Tursinawati2. Mislinawati3 1,2,3 PGSD. Universitas Syiah Kuala e-mail : aufasahasikaa6@gmail. Abstrak Pembelajaran yang masih menggunakan metode konvensional cenderung kurang mendorong peserta didik untuk menganalisis, mengavaluasi, dan menyimpulkan informasi secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran RADEC (Read. Answer. Discuss. Explain, and Creat. terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi cahaya dan sifatnya di kelas V SD Negeri Lampeuneurut. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design dengan rancangan Nonequivalent . retest and posttes. Control Group Design. Sampel penelitian terdiri atas dua kelas, yaitu kelas eksperimen yang diberikan pembelajaran dengan model RADEC dan kelas kontrol yang diajar dengan metode konvensional. Instrumen penelitian berupa tes uraian kemampuan berpikir kritis yang diberikan dalam bentuk pretest dan posttest, sedangkan teknik analisis yang digunakan berupa uji-T . ndependent sample T-Tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai pretest kelas eksperimen sebesar 43,7 meningkat menjadi 94,2 pada posttest. Sedangkan kelas kontrol mengalami peningkatan dari 35,55 menjadi 53,9. Uji N-Gain menunjukkan bahwa kelas eksperimen memperoleh skor rata-rata sebesar 91%, sedangkan kelas kontrol 28%. Selanjutnya hasil uji-t menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran RADEC berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi cahaya dan sifatnya kelas V SD Negeri Lampeuneurut. Selain itu, seluruh indikator berpikir kritis mengalami peningkatan setelah diterapkannya pembelajaran dengan model RADEC, dengan peningkatan tertinggi pada indikator Situation, diikuti oleh Inferance. Reason. Clarity. Fokus dan Overview. Kata kunci: Model Pembelajaran RADEC. Berpikir Kritis. Cahaya dan Sifatnya. Pembelajaran Abad 21 Abstract Learning that still uses conventional methods tends to discourage students from analyzing, evaluating, and concluding information in depth. This study aims to determine the effect of the RADEC (Read. Answer. Discuss. Explain, and Creat. learning model on improving students' critical thinking skills in the subject of light and its properties in grade V at Lampeuneurut Public Elementary School. The type of research used was a quasi-experimental design with a nonequivalent . retest and posttes. control group design. The research sample consisted of two classes, namely the experimental class, which was taught using the RADEC model, and the control class, which was taught using conventional methods. The research instrument was an essay test of critical thinking skills administered in the form of a pretest and posttest, while the analysis technique used was the T-test . ndependent sample T-Tes. The results showed that the average pretest score of the experimental class increased from 43. 7 to 94. 2 on the posttest. Meanwhile, the control class experienced an increase from 35. 55 to 53. The N-Gain test showed that the experimental class obtained an average score of 91%, while the control class obtained Furthermore, the t-test results showed a significance value of 0. 000 < 0. Thus, it can be concluded that the RADEC learning model has an effect on improving students' critical thinking skills in the subject of light and its properties in grade V at Lampeuneurut Public Elementary School. In addition, all critical thinking indicators improved after the implementation of the RADEC Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 learning model, with the highest improvement in the Situation indicator, followed by Inference. Reason. Clarity. Focus, and Overview. Keywords: RADEC Learning Model. Critical Thinking. Light and Its Properties, 21st Century Learning PENDAHULUAN Pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan juga Kini kita berada pada abad ke-21 yang tentu saja membawa perubahan yang sangat signifikan dalam segi kehidupan. Pendidikan, dan lainnya dengan era-era sebelumnya. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat merupakan salah satu ciri khas dari abad 21 karena ini banyak terjadi perubahan dari masyarakat industri menjadi masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan, selain itu juga tentu saja Pendidikan nasional juga mengalami perubahan yang besar, yang awalnya menggunakan model penghafalan kini berubah sesuai dengan tuntutan era Abad ke-21 (Wijaya et al. , 2. Pembelajaran abad 21 lebih berpusat kepada peserta didik guna untuk membekali kemampuan peserta didik. Pengembangan Pendidikan pada abad 21 memerlukan pendekatan pembelajaran yang memperhitungkan kebutuhan, kesiapan, dan juga ketertarikan peserta didik, agar tujuan pembelejaran dapat tercapai secara optimal. Di Abad ke-21 ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik yaitu kemampuan berfikir kritis, kemampuan berpikir kreatif, kemampuan bekerja sama, dan juga kemampuan berkomunikasi (Rahmawati, 2. Menurut Wagner dalam (Yuni, 2. ada 7 kecakapan hidup yang diperlukan dalam Abad ke-21, yaitu . kemampuan berpikir kritis dan juga pemecahan masalah . mampu bekerjasama dan memiliki jiwa kepemimpinan . kompeten dan adaktif . proaktif dan juga memiliki jiwa kewirausahaan . mampu berkomunakasi dengan baik, baik secara lisan maupun tulisan . mampu mengakses dan mampu mencari indormasi . memiliki jiwa ingin tau dan kreatif. Pada era pembelajaran Abad 21 sangat penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis adalah proses seseorang berpikir untuk menemukan suatu hal yang belum diketahui dan mencari jawaban berdasarkan sumber yang akurat. Menurut syafitri . alam yuni, 2. dengan berpikir kritis, akan timbul pertanyaan-pertanyaan dan melakukan penyelidikan akan diketahui jawaban yang sebenarnya sesuai dengan yang terjadi di Demikian juga menurut Ilham & Hardiyanti, . Hal ini dapat dipahami bahwa berpikir kritis merupakan kemampuan untuk menganalisis dan merenungkan suatu hal yang sedang di Peserta didik yang dapat berpikir kritis akan bermanfaat bagi kehidupannya. Keterampilan berpikir merupakan kompetensi esensial yang harus dimiliki oleh peserta didik, karena dengan adanya kerampilan berpikir peserta didik akan lebih mudah menerima ide-ide baru, peka terhadap masalah, serta mampu mencari solusi yang sesuai dengan situasi. Namun, hingga kini kemampuan berpikir kritis peserta didik sekolah dasar masih tergolong rendah. Penelitian (Haniva et al. , 2. menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan berpikir kritis disebabkan metode pembelajaran yang masih dominan ceramah dan latihan soal. Hal serupa juga ditemukan oleh Hayati & Setiawan . yang menyatakan sebagian besar peserta didik SDN 3 Brabowan memperoleh skor kurang dari 50% pada tes berpikir kritis IPA. Oleh karena itu proses pembelajaran akan terasa bosan dan monoton dan peserta didik juga tidak memiliki kebebasaan untuk mengemukakan pendapatnya atau kurang bisa mengesplorasi pengetahuan awal yang sudah ada. Akibatnya peserta didik kurang peka akan berpikir kritis dan kreatid dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan di SD Negeri Lampeuneurut kelas V, kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran masih kurang. Hal ini terlihat dari hasil tes yang menunjukkan rata-rata nilai peserta didik masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu 55 dari skor maksimal 100, dengan sebagaian besar peserta didik hanya mampu menjawab soal pada level pengetahuan dasar. Kondisi ini juga ditunjukkan oleh peserta didik yang kurang mampu menyelesaikan suatu permasalahan yang diberikan serta kurang terampil dalam menganalisis suatu masalah. Peserta didik cenderung hanya mendengar ketika guru sedang memberikan materi Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Selain itu, dalam proses pembelajaran guru kebanyakan menggunakan metode ceramah, lalu kemudian memberikan tes berupa soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa guru kurang merangsang dan melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik, karena dalam proses pembelajaran mereka kurang dapat mengeksplor materi serta tidak diberikan suatu AumasalahAy yang dapat melatih mereka berpikir untuk menemukan solusi. Oleh karena itu diperlukannya model pembelajaran di kelas V SD Negeri Lampeuneurut agar kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat berkembang. Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis salah satunya adalah dengan menggunakan model pembalajaran RADEC, model RADEC merupakan model pembelajaran yang mengarahkan peserta didik memiliki keterampilan pada abad ke-21 yang memiliki keunggulan dapat menstimulus peserta didik untuk terlibat aktif selama proses pembelajaran, dapat meningkatkan minat dan daya baca sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir, model RADEC yang sudah pernah digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. IPA dan IPS. sebagaimana hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa model RADEC berpengaruh signifikan terhadap keterampilan membaca pemahaman peserta didik (Ica et al. , 2. dapat meningkatkan penguasaan konsep pada materi respirasi manusia (Setiawan et al. , 2. meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada materi sifat-sifat cahaya (Karlina et al. , 2. dan dalam konteks Bahasa Indonesia (Pratama et al. , 2. meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan berpikir tingkat tinggi pada pembelajaran energi (Sopandi, 2. mengembangkan kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi (Sukmawati et , 2. , serta keterampilan membaca pemahaman Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti berkomitmen menerapkan model pembelajaran RADEC sebagai strategi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi cahaya dan sifatnya kelas V SD Negeri Lampeuneurut. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi eksperimen dan desain Nonequivalent Control Group Design. Subjek penelitian terdiri dari 40 siswa, yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas eksperimen sebanyak 20 siswa dan kelas kontrol sebanyak 20 Instrumen penelitian berupa tes pretest dan posttest untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik. Teknik analisis data melalui uji normalitas. Uji homogenitas. N-Gain Score, dan uji hipotesis HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Lampeuneurut yang beralamat di Lampeuneurut Ujong Kecamatan Darul Imarah. Kabupaten Aceh Besar. Provinsi Aceh. Data yang dikumpulkan berupa tes kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi cahaya dan sifatnya kelas V B dan V C SD Negeri Lampeuneurut yang diberikan sebelum dan sesudah proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 7 kali pertemuan dalam 2 minggu. Adapun pada kelas kontrol sebanyak 3 pertemuan dan 5 pertemuan di kelas eksperimen. Perlakuan yang diberikan di kelas kontrol dan eksperimen berbeda, di kelas kontrol di gunakan model pembelajaran secara konvensional sementara di kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran RADEC (ReadAnswer- Discuss- Explain- Creat. Pada pertemuan ke-1 peneliti memberikan soal pretest kepada kelas kontrol dan juga kelas eksperimen dan memberikan soal prapembelajaran untuk dijawab oleh peserta didik di rumah dan mengonfirmasikan kepada peserta didik untuk dibawa kembali ke sekolahpada pertemuan Pertemuan ke-2 peneliti melakukan proses pembelajaran di kelas eksperimen dengan menggunakan model RADEC pada pembelajaran IPAS materi cahaya dan sifatnya, dimulai dengan membahas soal prapembelajaran yang sudah dijawab oleh masing-masing peserta didik di rumah kemudia melakukan kegiatan diskusi antarkelompok dengan menjawab LKPD yang telah Pertemuan ke-3 melanjutkan kembali di kelas eksperimen pada kegiatan disuksi bagi kelompok yang belum mempresentasikan dilanjutkan untuk mempresentasikan hasilnya di depan Setelah selesai kegiatan explain pada pertemuan ke-4 dilanjutkan dengan create yang mana masing-masing kelompok membuat atau menciptakan sebuah karya yang berkaitan dengan materi cahaya dan sifatnya sebagai penutup pembelajaran menggunakan model RADEC. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Pertemuan ke-5 dilanjutkan dengan pengambilan nilai posttest pada kelas kontrol dan juga Adapaun data yag terkumpul pada penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut. Data Penelitian Data hasil penelitian ini diperoleh dari hasil pretest dan posstest yang diberikan kepada peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tes yang diberikan kepada peserta didik berupa soal uraian yang terdiri dari 6 butir soal dengan skor maksimum 24. Berikut data hasil kemampuan berpikir krtisi perserta didik kelas V B dan V C SD Negeri Lampeuneurut. Aceh Besar pada mata pelajaran IPAS materi cahaya dan sifatnya disajikan dalam tabel berikut Tabel 1 Rata Rata Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen Nama siswa Pre-Test Post-Test Siswa 1 Siswa 2 Siswa 3 Siswa 4 Siswa 5 Siswa 6 Siswa 7 Siswa 8 Siswa 9 Siswa 10 Siswa 11 Siswa 12 Siswa 13 Siswa 14 Siswa 15 Siswa 16 Siswa 17 Siswa 18 Siswa 19 Siswa 20 Total Rata-rata Sumber: Data Hasil Penelitian Berdasarkan tabel 1. Berdasarkan tabel 4. 1 dapat terlihat adanya peningkatan nilai rata rata peserta didik yaitu pada pretest sebanyak 43,7 dengan nilai maksimum 62 dan nilai minimum 25 meningkat menjadi 94,2, dengan nilai maksimum 100 dan minimum 66 pada hasil posttest. Tabel 2 Rata Rata Pretest dan Posttest Kelas Kontrol Nama siswa Pre-Test Post-Test Siswa 1 Siswa 2 Siswa 3 Siswa 4 Siswa 5 Siswa 6 Siswa 7 Siswa 8 Siswa 9 Siswa 10 Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Total Rata-rata Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Siswa 11 Siswa 12 Siswa 13 Siswa 14 Siswa 15 Siswa 16 Siswa 17 Siswa 18 Siswa 19 Siswa 20 Sumber: Data Hasil Penelitian Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa rata rata pretest sebesar 35,55 dengan nilai maksimum 45 dan nilai minimum 25 dan terlihat peningkatan pada posttest dengan nilai rata-rata 53,9 dengan nilai maksimum 62 dan nilai minimum 37. Setelah diperoleh data hasil pretest dan posttest, data tersebut kemudian diolah untuk memperoleh nalai rata-rata . , nilai tertinggi, nilai tertendah, dan standar deviasi. Berikut adalah hasil pengolahan data pretest dan posttest tersebut dengan bantuan SPSS 25. Analisi Data Adapun untuk hasil analisis data deskriptif yang akan dilihat nilainya menggunakan bantuan program SPSS versi 25 yaitu, nilai minumum, nilai maksimum, dan nilai rata- rata pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berikut hasil analisis data deskriptif dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 3 Hasil Analisis Data Deskriptif Descriptive Statistics Range Minimum Maximum Mean Pretest Eksperimen Posttest Eksperimen 20 Pretest Kontrol Posttest Kontrol Valid N . Sumber: Output SPSS V. Std. Deviation Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat nilai minimum pretest pada kelas eksperimen sebesar 25 dan pada kelas kontrol sebesar 25. Nilai maksimum posttest di kelas eksperimen memperoleh nilai sebesar 100 dan di kelas kontrol sebesar 62. Adapun nilai rata-rata pretest yang diperoleh peserta didik di kelas eksperimen sebesar 43,70 dan di kelas kontrol sebesar 35,55. Sedangkan nilai rata-rata posttest yang diperoleh peserta didik di kelas eksperimen sebesar 94,20 dan di kelas kontrol sebesar 53,90. Uji Normalitas Data Tabel 4 Hasil pengujian normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig. PreTestEks PreTestKon PostTestKon . PostTestEks . Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Lilliefors Significance Correction Sumber: Output SPSS Vers. Berdasarkan tabel 4, diperoleh pada kolom Shapiro Wilk tertulis signifikansi pada kelas kontrol sebesar 0,008, kemudian pada data kelas eksperimen didapatkan siginifikansi sebesar 0,018. Dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas Shapiro Wilk yaitu jika nilai < 0,05 maka data berdistribusi tidak normal dan jika nilai sig > 0,05 maka data berdistribusi normal. Data yang diperoleh pada hasil test kelas eksperimen dan kelas kontrol seperti yang terdapat pada tabel 4. di atas dapat disimpulkan bahwa perolehan nilai hasil signifikansi lebih dari 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa data nilai hasil test kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi atau memenuhi persyaratan uji normalitas. Uji Homogenitas Tabel 5 Data Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic Hasil Berpikir Based on Mean Kritis Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Sumber: Output SPSS 25 . Sig. Dasar pengambilan keputusan dalam uji homogenitas yaitu: Jika nilai signifikasi . pada Based On Mean > 0. 05 maka data bersifat homogen. Jika nilai signifikasi (Si. pada Based On Mean < 0. 05 maka data penelitian bersifat tidak Berdasarkan tabel 4. 5 diatas hasil test kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat diketahui bahwa signifikansi yang mjuncul adalah 0,910. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa data hasil test kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varian yang homogen atau berasal dari populasi varian yang sama. Hal ini disebabkan probabilitas test kelas eksperimen dan kelas kontrol lebih besar dari 0. Uji N-Gain Score N-Gain Score bertujuan untuk mengetahui efekivitas penggunaan suatu metode atau perlakuaj . Peningkatan ini diperoleh dari nilai posttest yang didapatkan oleh peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. N-Gain merupakan perbandingan antara skor gain aktual dan skor gain maksimum. Berikut ini kriteria interpretasi N-Gain Score : Persentase (%) < 40 40 Ae 55 56 Ae 75 >76 Tabel 6 Kategori Tafsiran N-Gain Tafsiran Tidak Efektif Kurang Efektif Cukup Efektif Efektif Berdasarkan perhitungan N-Gain Score pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, berikut perhitungan pengukuran hasil tes kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan bantuan SPSS 25. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Tabel 7 Uji Independent Sampel T-Test Descriptives Kelas Statistic NGain_Persen Eksperimen Mean 95% Confidence Interval for Mean Kontrol 5% Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Sumber: Output SPSS versi 25 . Lower Bound Upper Bound Lower Bound Upper Bound Std. Error Hasil uji N_Gain Score yaitu menghasilkan rata-rata . N-Gain Score skala pengukuran hasil tes pada kelas eksperimen . enggunakan model RADEC) memperoleh nilai sebesar 90,9127 atau 91% termasuk kedalam kategori efektf dengan nilai minimum 52% dan nilai maksimum 100%. Sedangkan nilai rata-rata . N-Gain Score skala pengukuran hasil belajaran pada kelas kontrol . anpa menggunakan model RADEC) memperoleh nilai sebesar 28, 1876 atau 28% termasuk kedalam kategori tidak efektif. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan berdasarkan hasil penelitian setelah memenuhi persyaratan analisis tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan berpikir kritis peserta didik dalam mata pelajaran IPAS materi cahaya dan sifatnya dengan proses pembelajaran menggunakan model RADEC. Setelah memenuhi uji hipotesis dapat dilakukan menggunakan independent sampel t-test Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Tabel 8 Uji Independent Sampel T-Test Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Sig. - Mean taile. Difference Sig. Equal Equal Sumber: Output SPSS ver. Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,005, sehingga hipotesis Ho ditolak dan Ha diterima Dasar pengambilan keputusan uji T-Test Independent berdasarkan nilai signifikansi . -taile. Jika nilai signifikansi . - taile. < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jika nilai signifikansi . -taile. > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Berdasarkan tabel 4. 7 data hasil berpikir kritis peserta didik diketahui bersifat homogen, maka hasil signifikansi . -taile. dilihat pada equal variances asumed. Hasil nilai signifikansi . sebesar 0,000 < 0,05 sehingga terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran RADEC terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi cahaya dan sifatnya kelas V SD Negeri Lampeuneurut. Berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah dilakukan, diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pengaruh model pembelajaran RADEC terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi cahaya dan sifatnya di SD Negeri Lampeuneurut. Adapun indikator peningkatan keterampilan berpikir kritis secara menyeluruh dapat diskripsikan dalam bentuk diagram dibawah ini. Pengaruh Model Pembalajaran RADEC Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpiki Kritis Pre-Test Post-Test Gambar 4. 1 Peningkatan Indikator FRISCO Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Berdasarkan diagram diatas menunjukkan bahwa seluruh indikator berpikir kritis mengalami peningkatan setelah dilakukannya pembelajaran dengan menggunakan model RADEC pada materi cahaya dan sifatnya di SD Negeri Lampeuneurut. Peningkatan paling tinggi terdapat pada indikator Situation, diikuti oleh Inferance . Reason Clarity. Fokus dan Overview. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menggunakan soal tes pada kelas V B dan V C di SD Negeri Lampeuneurut pada mata pelajaran IPAS materi cahaya dan sifatnya menunjukkan terdapat perbedaan antara nilai hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen peneliti menggunakan model RADEC (Read- Answe- Discuss- Explain- Creat. nilai peserta didik setelah diberikan perlakuan . mengalami peningkatan dan rata-rata nilai yang diperoleh tuntas. Sedangkan pada kelas kontrol peneliti tidak menggunakan model pembelajaran RADEC Read- Answe- Discuss- Explain- Creat. nilai peserta didik mengalami peningkatan namun belum tuntas. Hasil penelitian, peneliti memperoleh hasil belajar pretest dan posttest di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun hasil tes belajar tersebut memperoleh nilai rata-rata pretest di kelas eksperimen sebesar 43,70 dan nilai rata-rata pretest di kelas kontrol sebesar 35,55. Sedangkan nilai rata-rata pada kelas posttest di kelas eksperimen meningkat menjadi 94,20 dan juga kelas kontrol mengalami peningkatan nilai dengan rata-rata 53,90. Dari analisis data yang diperoleh membuktikan bahwa di kelas eksperimen terdapat pengaruh model pembelajaran RADEC terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi cahaya dan sifatnya kelas V SD Negeri Lampeuneurut dengan data yang diperoleh yaitu signifikansi atau sig . -taile. sebesar 0,000 < 0,05. Penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan (N. Rahmawati et al. , 2. dengan judul penelitian Pengaruh Model Pembelajaran RADEC terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa terdapat peningkatan yang signifikan setelah belajar menggunakan pembelajaran RADEC untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan nilai rata-rata 67,6 dan nilai tertinggi 90. Pengaruh model pembelajaran RADEC terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi cahaya dan sifatnya kelas V SD Negeri Lampeuneurut melalui tes berpengaruh signifikan. Penggunaan model pembelajaran RADEC terhadap peningkatan kemampuan berpikir peserta didik materi cahaya dan sifatnya peneliti ajarkan langsung di kelas V C setiap pembelajarannya berjalan dengan baik. Selama proses pembelajaran menggunakan model RADEC siswa diberi kebebasan untuk berpikir, menghubungkan konsep-konsep yang berbeda, dan menerepkan pemikiran kritis dalam mencari solusi. Dalam kelompok eksperimen, siswa didorong untuk berkolaborasi, saling bertukar pendapat, dan membangun pengetahuan secara bersama-sama. Diskusi dalam kelompok ini dapat merangsang berpikir kritis pserta didik. Hasil penilaian dari test dan produk . yang telah dihasilkan oleh setiap kelompok cukup memuaskan. Melalui proses secara nyata tersebut, peserta didik menjadi lebih memahami konsep cahaya dan sifatnya yang sedang di pelajari. Terlihat ketika proses pembelajaran berlangsung peserta didik sangat antusias dari awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pernyataan Suriani & Yanti . penggunaan model pembelajaran RADEC menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, karena peserta didik menjadi lebih aktif, terlibat, dan berinterkasi dengan guru serta teman sejawatnya. Indikator utama yang menempati peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik adalah situation. Hal ini terlihat dari capaian skor indikator tersebut yang relatif tinggi. Temuan ini sejalan dengan Hidayanti & Syahri . yang menyatakan bahwa baik siswa laki-laki maupun perempuan sama-sama dapat memenuhi indikator situation. Artinya, indikator ini cukup konsisten tercapai dalam proses berpikir kritis, meskipun terdapat perbedaan gaya belajar. Peningkatan indikator situation tersebut tampak pada tahapan Explain dalam model RADEC, di mana peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Pada tahap ini, siswa dituntut untuk menjelaskan fenomena yang dipelajari dengan mengaitkannya pada situasi nyata, memberikan contoh konkret, serta menanggapi pertanyaan dari teman maupun guru. Proses ini membantu peserta didik menempatkan informasi dan konsep yang dipelajari dalam Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 konteks kehidupan sehari-hari, sehingga pemahaman mereka lebih bermakna. Dengan demikian, keterampilan situation dapat berkembang optimal melalui tahapan Explain karena siswa belajar menghubungkan konsep dengan konteks nyata dan mengomunikasikannya secara kritis. Dengan demikian, indikator situation berkembang optimal melalui tahapan Explain pada model RADEC, karena siswa tidak hanya menyampaikan hasil diskusi, tetapi juga mengaitkan konsep dengan situasi nyata sehingga kemampuan berpikir kritis mereka semakin terasah. Indikator yang menampati peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik selanjutnya adalah Inferance, hal ini disebabkan kerena keterampilan menarik kesimpulan merupakan inti dari proses berpikir kritis, dimana peserta didik dituntut untuk menghubungkan fakta, mengelola informasi, serta membangun argumentasiyang logis. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Anggraini & Purnomo, 2. yang menyatakan bahwa model pembelajaran guided inquiry pada materi tekanan zat cair menghasilkan peningkatan signifikan dalam keterampilan berpikir kritis siswa, khususnya pada aspek inference, yang menempati posisi tertinggi dibandingkan aspekaspek lainnya. Peningkatan indikator inference dalam penelitian ini juga terlihat jelas pada tahapan Discuss dalam model RADEC. Pada tahap ini peserta didik dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing terdiri dari lima siswa, kemudian diminta mendiskusikan jawaban mereka terhadap soal prapembelajaran. Melalui diskusi, siswa saling menyatukan pemahaman, mengemukakan pendapat, menyanggah, memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajukan dan menjawab pertanyaan berdasarkan pemahaman mereka. Interaksi yang hidup tersebut menuntut siswa untuk menarik kesimpulan dari berbagai argumen yang muncul, sehingga keterampilan inference dapat berkembang secara optimal. Hal ini sejalan dengan pendapat (Dinil Arifah et al. yang menyatakan bahwa diskusi kelompok kecil, apabila dipandu dengan strategi seperti pertanyaan terbuka, umpan balik konstruktif, dan pembagian peran, dapat meningkatkan kolaborasi siswa yang tercermin dalam komunikasi, tanggung jawab individu, dan pengambilan keputusan dalam kelompok. Indikator ketiga yang meningkatkan kemampuan berpikir kritis adalah reason. Pada tahap ini, peserta didik dituntut untuk memberikan alasan logis, argumentasi rasional, serta dasar pemikiran yang kuat dalam mendukung suatu pernyataan. Reason mendorong individu untuk tidak hanya menerima informasi begitu saja, melainkan menanyakan AumengapaAy dan Auapa alasannyaAy. Indikator ini juga tercatat sebagai salah satu aspek yang konsisten muncul dalam peningkatan berpikir kritis siswa pada pembelajaran berbasis inquiry (NidaAo KhoirunnisaAo & Mohamad Aminudin. Peningkatan indikator reason tampak jelas pada tahapan Discuss dalam model RADEC, di mana peserta didik dibagi menjadi kelompok kecil untuk mendiskusikan jawaban dari soal Selama proses diskusi, siswa mengemukakan pendapat, menyanggah argumen teman, memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajukan dan menjawab pertanyaan sesuai dengan pemahaman mereka. Aktivitas ini menuntut siswa untuk selalu menyertakan alasan yang logis dalam setiap pernyataan yang mereka kemukakan, sehingga keterampilan reason berkembang secara optimal. Dengan demikian, tahapan Discuss dalam RADEC berperan penting dalam menumbuhkan indikator reason karena mendorong peserta didik untuk membangun argumen yang rasional dan memperkuat kemampuan berpikir kritis mereka. Peningkatan kemampuan berpikir kritis selanjutnya dipengaruhi oleh indikator clarity. Indikator ini berperan penting karena kejelasan merupakan dasar dari pemahaman suatu masalah, argumen, maupun informasi. Kejelasan memastikan bahwa informasi, argumen, maupun gagasan dipahami dan disampaikan dengan tepat, sehingga proses analisis, evaluasi, dan penarikan kesimpulan dapat dilakukan secara lebih akurat dan mendalam. Hal ini sejalan dengan Nugraha . dalam Indonesian Journal of Primary Education yang menyatakan bahwa indikator clarity menjadi salah satu aspek penting dalam menilai kemampuan berpikir kritis siswa, meskipun pada awalnya masih berada dalam kategori cukup. Peningkatan indikator clarity tersebut tampak jelas pada tahapan Explain dalam model RADEC. Setelah melakukan diskusi kelompok, setiap kelompok diminta untuk maju ke depan kelas mempresentasikan hasil diskusi mereka. Misalnya, ada kelompok yang menjelaskan mengapa sendok terlihat bengkok ketika berada di dalam air, kemudian perwakilan kelompok lain Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 menambahkan penjelasan berdasarkan pengalaman percobaan mereka. Selama presentasi berlangsung, terdapat tiga peserta didik yang mengajukan pertanyaan, seperti: . AuBisakah kalian mencontohkan cahaya dapat dipantulkan?Ay dan kelompok yang mempresentasikan langsung memperagakan percobaan sifat cahaya memantul, . AuBagaimana jika semua benda dapat ditembus cahaya?Ay kelompok menjawab dengan logika bahwa tidak akan ada bayangan dan semua benda akan tembus pandang seperti rumah, serta . AuBagaimana jika di dunia ini tidak ada cahaya?Ay kelompok menjawab bahwa dunia akan gelap seperti mati lampu dan kegiatan akan sulit Dari proses tanya jawab tersebut, peneliti kemudian memberikan klarifikasi dan penguatan agar tidak terjadi kesalahpahaman konsep. Tahapan Explain ini membuka ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan gagasan dengan jelas, mengajukan pertanyaan, memberikan tanggapan, maupun menambahkan informasi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, terjadi proses pembelajaran yang interaktif, kritis, dan kolaboratif. Hal ini sejalan dengan pendapat Marwati . yang menyatakan bahwa presentasi kelompok dengan tanya jawab mendorong siswa berpikir kritis dan memahami konsep secara lebih mendalam, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian tentang penerapan metode diskusi-presentasi di SD yang terbukti meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan penguasaan konsep materi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa indikator clarity berkembang secara optimal melalui tahapan Explain pada model RADEC. Kejelasan dalam penyampaian ide saat presentasi kelompok, tanya jawab, maupun klarifikasi dari guru menjadikan proses pembelajaran lebih terarah, sehingga kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat meningkat secara signifikan. Indikator selanjutnya yaitu focus, yang berperan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis karena melatih peserta didik untuk memusatkan perhatian pada inti persoalan, menyaring informasi yang relevan, serta membangun argumen yang sistematis dan tepat sasaran. Dengan fokus yang baik, proses berpikir kritis menjadi lebih efisien dan akurat. Hal ini sejalan dengan pendapat Aditama . yang menyatakan bahwa focus memiliki peranan penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, karena siswa yang mampu mengidentifikasi informasi dan permasalahan dengan jelas akan lebih mudah menentukan strategi penyelesaian masalah. Peningkatan indikator focus ini tercermin dalam tahapan Read dan Answer pada model RADEC. Pada tahap Read, siswa diarahkan untuk membaca materi atau sumber informasi dengan cermat sehingga dapat mengidentifikasi inti persoalan dan memilah informasi yang relevan. Selanjutnya, pada tahap Answer, peserta didik diberikan pertanyaan prapembelajaran yang disusun dari tingkat berpikir rendah hingga tinggi. Proses menjawab pertanyaan ini mendorong siswa untuk memusatkan perhatian pada inti masalah serta menyeleksi jawaban yang sesuai dengan pemahaman mereka. Dengan demikian, keterkaitan antara focus dengan tahapan Read dan Answer menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dapat terlatih sejak awal proses pembelajaran melalui kegiatan membaca secara cermat dan menjawab pertanyaan dengan tepat Indikator selanjutnya yang berperan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis adalah Indikator ini penting karena melatih peserta didik untuk meninjau kembali, melihat gambaran besar, menghubungkan konsep, dan melakukan refleksi sehingga mereka tidak hanya berpikir logis, tetapi juga mampu menghasilkan kesimpulan yang matang dan menyeluruh. Hal ini sejalan dengan pendapat Lidiawati . yang menyatakan bahwa indikator overview dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Peningkatan indikator overview tampak jelas pada tahapan terakhir dalam model RADEC, yaitu Create. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk menghasilkan sebuah ide yang berkaitan dengan cahaya dan sifatnya melalui pembuatan alat peraga sederhana. Setiap kelompok bekerja sama dengan antusias untuk menciptakan karya mereka, kemudian mempraktikkannya di depan kelas guna membuktikan berbagai sifat cahaya. Misalnya, ada kelompok yang membuktikan bahwa cahaya dapat diuraikan dengan bahan sederhana seperti sabun, air, dan botol, sementara kelompok lain menunjukkan bahwa cahaya dapat dipantulkan ke arah gelap dengan menggunakan cermin, senter, dan kardus agar pantulan terlihat jelas. Kegiatan ini melatih peserta didik untuk melakukan refleksi, meninjau kembali teori yang telah dipelajari, serta menghubungkannya dengan praktik nyata. Hal ini sejalan dengan temuan Prasetya & Muhroji . yang menyatakan bahwa Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29734-29746 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 penggunaan kotak sifat cahaya (Kosifaca. mampu meningkatkan penguasaan konsep IPA siswa sekolah dasar karena siswa belajar melalui pengalaman langsung. Dengan demikian, indikator overview berkembang optimal melalui tahapan Create dalam model RADEC, karena pada tahap ini peserta didik dituntut untuk meninjau kembali konsep, merefleksi pemahaman, serta menghubungkannya dengan praktik nyata sehingga kemampuan berpikir kritis mereka semakin terasah Dengan demikian, model RADEC pada kelas eksperimen dapat memberikan dorongan yang lebih besar bagi peserta didik untuk mengembangkan keampuan berpikir kritis. Mereka memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengasah kemampuan menghubungkan konsep, berpikir inovatif, dan mengeksplorasi solusi. Sehingga besar kemungkinan model pembelajaran RADEC ini dapat dijadikan sebagai sebuah model pembelajaran alternatif dan juga inovatif ynag bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didikserta dapat mengatasi beberapa faktor penyebab rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kendala utama dalam penelitian pengaruh model RADEC terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis mencakup keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan awal siswa, kesiapan guru, serta resistensi peserta didik. Kendala-kendala ini perlu diantisipasi dengan perencanaan yang matang agar penerapan RADEC benar-benar dapat memberikan gambaran yang akurat tentang peningkatan berpikir kritis peserta didik SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh model RADEC (Read. Answer. Discuss. Explain. Creat. terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas V SD Negeri Lampeuneurut Kabupaten Aceh Besar didapatkan hasil data signifikansi . - taile. sebesar 0,000 < 0,05. Kriteria pengambilan keputusan yaitu keputusan Ho ditolak dan Ha diterima. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran RADEC terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi cahaya dan sifatnya kelas V SD Negeri Lampeuneurut Kabupaten Aceh Besar. Berdasarkan hasil analisis data terhadap indikator kemampaun berpikir kritis peserta didik dengan menggunakan model pembelaran RADEC pada materi cahaya dan sifatnya di SD Negeri Lampeuneurut bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik meningkat pada setiap indikator FRISCO (Fokus. Reason. Inferance. Situation. Clarity. Overvie. Indikator Situation memperoleh urutan tertinggi, diikuti dengan Inferance. Reason. Clarity. Fokus dan overview. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun kemampuan berpikir kritis peserta didik sudah mulai berkembang, masih terdapat aspek yang perlu ditingkatkan secara intensif, khususnya pada indikator Focus dan Inference, agar keterampilan berpikir kritis siswa dapat tercapai secara optimal. DAFTAR PUSTAKA