Jurnal Kajian Bali Journal of Bali Studies p-ISSN 2088-4443 # e-ISSN 2580-0698 Volume 10. Nomor 02. Oktober 2020 http://ojs. id/index. php/kajianbali Terakreditasi Sinta-2. SK Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti No. 23/E/KPT/2019 Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial I Wayan Sugita Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Penulis Koresponden: wayansugita2@gmail. Abstract Drama Gong as Educational Media and Social Criticism This paper aims to discuss the drama gong as a medium of education and social criticism as well as the audienceAos Data collection was carried out through document study, namely reviewing reading material and five recorded stories of drama gongs on videotapes and CDs, conducting observations involved in the performance of drama gongs, and in-depth interviews with Balinese arts and culture observers and representatives of loyal drama gong audiences in Denpasar and Gianyar. Data analysed by theory of symbolic interactionism and semiotics. The study shows that as a performing art for the Balinese people, the drama gong, which was born in the 1950s, has become an effective educational media and social criticism. The educational messages and social criticism conveyed by the drama gong are easy for the audience to understand. It is therefore need to be preserved in the modern era. Keywords: drama gong, response. Bali Abstrak Tulisan ini bertujuan membahas drama gong sebagai media pendidikan dan kritik sosial serta respons penontonnya. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumen, yakni mengkaji bahan bacaan dan lima kisah rekaman drama gong dalam kaset video dan CD, melakukan pengamatan terlibat dalam pementasan drama gong, serta wawancara mendalam dengan pemerhati seni-budaya Bali dan wakil dari penonton setia drama gong di Denpasar dan Gianyar. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori interaksionisme simbolik dan semiotika. Hasil kajian menujukkan bahwa sebagai seni pertunjukan rakyat Bali, drama gong yang lahir 1950-an telah menjadi media pendidikan dan kritik sosial yang efektif. Pesan JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 I Wayan Sugita pendidikan dan kritik sosial yang disampaikan drama gong mudah dipahami penontonnya sehingga perlu dilestarikan di era modern ini. Kata Kunci: drama gong, penonton. Bali Pendahuluan rtikel ini membahas aspek pendidikan dan kritik sosial yang disampaikan dalam seni pertunjukan drama gong dan respons penonton atas pesan edukatif yang disajikan. Kajian ini penting dilakukan untuk meluruskan kesan bahwa drama gong dianggap sebagai hiburan semata. Kenyataannya, pentas drama gong yang biasa mengangkat cerita-cerita rakyat yang kaya akan kearifan lokal menyelipkan banyak pesan-pesan pendidikan dan kritik sosial. Masyarakat Bali memiliki banyak kesenian yang membuatnya dikenal sebagai masyarakat yang ekspresif (Geriya, 1. Beragam seni budaya itu hidup, tumbuh dan berkembang, antara lain seni lukis, seni pahat, seni kria, dan seni pertunjukan. Di antara seni pertunjukan yang popular dan banyak diminati masyarakat Bali untuk hiburan adalah drama gong, yakni seni pertunjukan drama klasik-kontemporer yang memadukan drama modern dengan kostum tradisional, dekorasi panggung serta musik gamelan gong kebyar. Drama gong lahir sejak akhir tahun 1950-an (Putra 2. , dan populer tahun 1960-an sampai 1990-an. Belakangan mengalami kemunduran karena jarang masyarakat atau lembaga mengundang mereka pentas, selain juga karena banyak seniman drama gong yang sudah senior sehingga tidak aktif. Selain itu, drama gong meredup karena harus menghadapi era globalisasi yang antara lain diwarnai hadirnya media hiburan online. Beberapa pemain drama gong generasi berikutnya berjuang lebih gigih untuk mempertahankan dan merevitalisasi drama gong mengingat seni pertunjukan ini telah menjadi bagian dari identitas budaya Bali. Keberadaannya telah mewarnai budaya nasional, bahkan budaya global (McGrew, 1. Drama gong adalah drama berdialog yang elegan, walau merosot namun masih diterima oleh masyarakat Bali. Keberadaan serial drama JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial gong di TVRI Denpasar dan Bali TV dalam 2000-an mengindikasikan bahwa drama gong masih menjadi seni pertunjukan yang memiliki segmentasi pengemarnya sendiri. Pada tahun 2020, ketika artikel ini disusun, penulis masih terlibat sebagai pemain serial drama gong dengan kisah AuJayapranaAy di Bali TV. Walaupun drama gong tidak bisa hadir langsung Aumenyapa dan menghiburAy penggemarnya dengan melibatkan penonton secara kolosal seperti dekade 1970-1980-an, seni pentas berdialog ini masih dicintai oleh masyarakat Bali. Penggemar drama gong bisa menikmati seni drama berdialog ini melalui layar kaca (TV) dan Youtube. Keberadaan drama gong masih diperlukan, baik sebagai media hiburan . maupun sebagai media pendidikan . Drama gong bisa diposisikan sebagai guru dan penonton mewakili masyarakat diidentikkan sebagai murid (Sugita, 2. Posisi drama gong sebagai guru rupanya tidak berlebihan mengingat dalam budaya Bali, dalang wayang kulit sering dijuluki sebagai Auguru lokaAy atau guru Dalam penyampaian pesan, seorang dalang tidak berbeda dengan pemain drama gong. Baik dalang maupun pemain drama gong sama-sama menyampaikan pesan, bahkan juga kritik sosial yang dibungkus dengan lelucon atau melalui dialog-dialognya. Sebagian besar kesenian di Bali mempergunakan bahasa Bali, termasuk drama gong. Akan tetapi, totalitas penggunaan bahasa Bali hanya bisa ditemui dalam dialog drama gong, baik dari bahasa kasar, kepara, alus sor, alus mider hingga alus singgih. Dialog dalam drama gong tertata apik dengan menggunakan kata-kata terpilih berdasarkan ketah anggah-ungguhing basa Bali. Dengan mempertimbangan kedudukan dan fungsi drama gong semacam ini, maka drama gong telah menjadi media edukasi bahasa Bali bagi masyarakat penontonnya. Selain itu, drama gong juga menjadi media kritik sosial, dan sosialisasi pembangunan yang cukup efektif. Drama gong telah dijadikan sebagai media komunikasi dan informasi yang membicarakan berbagai permasalahan sosial di masyarakat, termasuk masalah pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan hidup dan pariwisata. Sembari menghibur masyarakat, drama gong sering dijadikan Aucorong pemerintahAy untuk menyampaikan pesan pembangunan. Tentu saja, materi informasi yang disampaikan lewat drama gong JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 I Wayan Sugita Hlm. 557Ae578 hanya bersifat umum, perlu penjelasan lebih lanjut. Sebagaimana tayangan drama gong di layar kaca (TV) sebelumnya, paket tayangan seni pertunjukan drama gong produksi Bali TV pada tahun 2020 ini juga menyampaikan Aupesan-pesan penguasaAy terkait pembangunan di Bali. Secara khusus, tayangan drama gong dengan kisah Jayaprana di Bali TV . ini mensosialisasikan visi Pemerintah Provinsi Bali, yakni AuNangun Sat Kerthi Loka BaliAy, membangun kesucian dan kesejahteraan Bali. Kajian Pustaka Terdapat sejumlah publikasi yang membahas seni pertunjukan drama gong, baik yang membahas aspek perkembangan drama secara historis maupun yang membahas fungsi drama gong dalam pelestarian seni budaya termasuk bahasa Bali (Putra 2008. Dibia 2012. Purnami Aridawati 2. Dibia. Mengenai sejarah perkembangan drama gong, terdapat dua versi pendapat. Sebagian pemerhati seni-budaya Bali berpendapat bahwa drama gong adalah sebuah drama yang lahir dari olah kreativitas seniman Bali pada tahun 1966, dipelopori oleh Anak Agung Raka Payadnya dari Abianbase. Gianyar (Dibia, 2. Sebagian pemerhati seni-budaya Bali lainnya menunjukkan fakta bahwa cikal bakal seni pertunjukan drama gong sebetulnya sudah ada sejak akhir 1950-an, berupa bentuk campuran . dari teater Barat, sandiwara, stambul, dan janger. Drama dibawakan dalam bahasa Indonesia dan menggunakan pakaian adat Bali, sedangkan gaya akting dan proses produksinya lebih mirip dengan teater gaya Salah satu contoh drama gong adalah drama AuMayadenawaAy yang pernah dipentaskan tahun 1959, jauh sebelum tampilnya drama gong rintisan Raka Payadnya (Putra, 2. Sebagai seni pertunjukan, drama gong pernah mengalami masa kejayaannya dalam dekade 1970-an dan 1980-an, menjadi tontonan favorit masyarakat Bali. Masa keemasan drama gong ini setidaknya ditandai oleh tiga hal: . drama gong menemukan bentuknya sebagai seni drama berdialog dengan iringan gamelan gong gebyar. drama gong merajai panggung-panggung pentas kesenian di seluruh Bali dan para pemain utamanya diberlakukan seperti selebritis. gengsi drama gong di mata masyarakat Bali mengalahkan semua bentuk seni pertunjukan tradisi Bali lainnya (Dibia, 2. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial Selain membicarakan mengenai sejarah drama gong, terdapat publikasi yang membahas isi dan makna pertunjukan drama gong. Dalam kaitan ini. Aridawati . mengkaji makna sosiokultural paribasa Bali dalam seni pertunjukan drama gong di Bali, lakon AuKalung BerlianAy. Hasil kajiannya menunjukkan, seni pertunjukan drama gong lakon AuKalung BerlianAy terdapat dua belas jenis paribasa Bali, yaitu sesonggan, sesenggakan, wewangsalan, sesawangan, bebladbadan, seloka, raos ngempelin, pepindan, sesimbing, cecangkitan, peparikan, dan sesemon. Jenis-jenis paribasa Bali yang disampaikan dalam dialog antarpemainnya menyiratkan makna sosiokultural, seperti: perbandingan, perumpamaan, sindiran, ejekan, pujian, pengharapan, ajakan, merajuk, nasihat, mengecoh lawan bicara, mengolok-olok lawan bicara, tidak peduli, senda gurau, gundah gulana, rayuan, ketidakpastian, imbauan, dan pernyataan. Di samping sebagai media hiburan, drama gong juga sebagai media pendidikan. Dalam kaitan ini. Purnami . membahas AuImplikatur Percakapan dalam Naskah Drama Gong Gusti Ayu Klatir Karya A. Wiyat S. ArdhiAy. Kajiannya menyimpulkan bahwa . implikatur percakapan dalam naskah drama gong Gusti Ayu Klatir berfungsi asertif, direktif, dan ekspresif. konstruksi kebahasaannya menggunakan tuturan bermodus deklaratif dan interogatif. Hasil penelitian ini memiliki implikasi yang berkaitan dengan kompetensi komunikasi dan kompetensi strategi, yakni kemampuan memilih bahasa untuk meningkatkan efektivitas penutur dalam berkomunikasi kepada mitra tutur. Selanjutnya Widagama . mengkaji Pementasan Drama Gong Wijayakusuma Sebagai Media Komunikasi Tradisional. Disimpulkan, pertunjukan drama gong memiliki dua fungsi, yaitu . fungsi primer, yakni sebagai sarana hiburan untuk masyarakat baik dalam upacara-upacara agama atau acara-acara khususAo. fungsi sekunder yaitu sebagai media komunikasi masa, sebagai pengikat solidaritas masyarakat, sebagai media program pemerintah, dan sebagai fungsi Secara garis besar dinamika drama gong tercermin pada tema cerita dan bentuk organisasi pengelolanya. Tema drama gong terus berkembang: . sesuai permintaan pasar, . sesuai keperluan upacara, . sesuai keadaan sosial masyarakat, dan . sesuai wacana JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 I Wayan Sugita yang disuguhkan. Selanjutnya dinamika organisasi pengelola drama gong meliputi . sekaa drama gong dalam bentuk sebunan, . sekaa drama gong profesional (Sugita, 2. Beberapa publikasi di atas telah menjelaskan tentang sekilas sejarah drama gong dan eksistensinya sebagai media komunikasi Semua publikasi tersebut belum ada yang secara khusus membahas Aufungsi pendidikan drama gongAy. Namun demikian, beberap hasil kajian pustaka ini menjadi referensi yang berharga dalam menyusun publikasi yang membahas Audrama gong sebagai media pendidikan dan kritik sosialAy ini. Metode dan Teori Publikasi ini merupakan hasil penelitian kualitatif tentang keberadaan seni pertunjukan drama gong di Bali yang ada di Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar. Pengumpulan data dilakukan dengan mengkaji kembali lima kisah drama gong yang terekam dalam bentuk kaset Video Produksi TVRI Bali tahun 1980-an, dan rekaman drama gong dalam bentuk CD Produksi TVRI Bali dan Bali TV dekade 1990-2000-an (Tabel . Bahan ini dipilih dengan alasan . mewakili jamannya, . ada variasi cerita dan keterwakilan sekaa . drama gong, dan . penulis terlibat langsung dalam pementasaanya. terdapat pesan pendidikan dan kritik sosial yang disampaikan punokawan, disamping pesan inti yang terkandung dalam tiap-tiap cerita . pertunjukannya (Lihat Tabel 1 dan . Tabel 1. Lima Sekaa Drama Gong dan Kisah yang Dimainkan Judul/Kisah Sekaa/Grup Drama Gong Periode/ Angling Dharma Bintang Bali Timur 1980-an Raden Mas Kantong Bolong Gong Wira Bhuwana. Gianyar Galuh Kembar Sancaya Dwipa Milenium Balian Sakti Himpunan Pramuwista Indonesia 1998/1999 (HPI) Jayaprana Bali TV Sumber: Sugita, 2020 JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial Data yang dijadikan bahan tulisan ini juga didapatkan dari bahan bacaan yang terkait dengan topik yang dibahas, serta melalui pengamatan terlibat . bservasi partisipas. seni pertunjukan drama gong tahun 2020 yang sedang diproduksi oleh Bali TV, di mana penulis terlibat sebagai salah seorang pemainnya, serta wawancara mendalam dengan informan kunci, yakni pemerhati seni-budaya Bali dan wakil dari penonton setia drama gong di Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar. Data yang berhasil diperoleh kemudian dianalisis dengan menerapkan teori semiotika dan teori interaksionime simbolik. Semiotika merupakan teori tentang tanda (Pateda 200. Sobur, 2. Isi dialog, adegan, penampilan drama gong adalah sebagai tanda untuk diterjemahkan lebih lanjut dalam kajian ini. Selanjutnya, untuk memahami respons penonton terhadap pertunjukan drama gong diterapkan teori interaksionisme simbolik. Inti teori interksionisme simbolik adalah bahwa interaksi manusia dengan sesamanya dipengaruhi oleh simbol-simbol tertentu (Riyadi, 2. , termasuk isi dialog, adegan dalam pertunjukan drama gong yang mempengaruhi pikiran dan tindakan penontonnya. Drama Gong sebagai Media Pendidikan Karya seni, termasuk drama gong, merupakan ekspresi untuk menyampaikan pesan atau nilai-nilai pendidikan. Pesan itu disampaiakn dalam kisah atau dialog. Drama gong adalah salah satu seni drama berdialog yang memadukan berbagai elemen seni, termasuk gerak dan akting, gamelan, cerita, tata pentas, rias dan busana yang berakar pada seni pertunjukan tradisional dan modern. Drama Gong merupakan bentuk seni pertunjukan Bali yang memadukan unsur-unsur kesenian teater tradisional Bali dengan drama modern . eater modern bara. Unsur teater modern lebih difokuskan pada tata dekorasi, sound effect, akting dan tata busana. Sementara di sisi lain dominasi kesenian klasik Bali masih sangat kuat (Dibia, 1999. Sugita, 2. Lewat dialog itulah, berbagai pesan disampaikan kepada penonton. Makna pesan tentu saja sesuai dengan resepsi penonton. Drama gong dapat dilihat dari dua sisi yaitu sebagai teater tradisional dan sebagai sastra lisan. Sebagai teater tradisional seni pertunjukan memiliki unsur-unsur tata panggung, tata rias, lakon dan pelaku, dan lain-lain. Sebagai sastra lisan seni pertunjukan JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 I Wayan Sugita Hlm. 557Ae578 memiliki unsur-unsur pembangun yang sama seperti karya sastra pada umumnya dan prosa fiksi pada khususnya yang memiliki aspek intrinsik dan aspek ektrinsik (Taum, 2. Ada pesan pendidikan yang disampaikan dalam pertunjukan drama gong melalui tema cerita, adegan serta ekspresi para Pemain drama gong mampu menjiwai tiap karakter yang diperankannya, terkesan sangat hidup dan menuntut seniman yang berperan di dalamnya menjadi bagian utuh dari masing-masing tokoh yang diperankan (Atmaja, 1. Berhasil tidaknya sebuah pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak . amat tergantung dari karakter dan kepiawaian para pemain drama gong. Secara umum, formasi pemain . penting drama gong meliputi sejumlah tokoh, yakni raja manis, raja buduh, putri manis, putri buduh, raja tua, permaisuri, dayangdayang, patih keras . atih agun. , patih tua . atih ano. (Foto . , dua pasang punakawan (Sugita, 2. Di antara punakawan yang terkenal mewarnai pertunjukan drama gong adalah Petruk-Dolar yang tergabung dalam sekaa drama gong Sancaya Dwipa Milenium 1997 yang eksis hingga 2002. Punakawan inilah yang menyampaikan pesan sisipan atau pesan tambahan, di samping pesan yang terkandung dalam inti cerita yang dipentaskan. Pesan tambahan itu menyangkut berbagai masalah pembangunan, termasuk masalah pendidikan keehatan, dan pariwisata (Tabel . Pesan Foto 1. Sosok Patih Agung yang galak (Sumber: Dokumentasi Penuli. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial sisipan yang disampaikan punakawan ini bersifat situasional sesuai kebutuhan dan fenomena sosial yang tengah terjadi, seperti pesan terkait kehidupan pariwisata Auone rangda two dollarAy yang disampaikan oleh petruk dollar yang berberan sebagai guide dalam sebuah pementasan drama gong dengan kisah Galuh Kembar oleh sekaa drama gong Sancaya Dwipa Milenium 1999. Tabel 2. Pesan inti dan pesan tambahan dalam Lima Kisah Drama Gong Judul/ Kisah (Tahu. Angling DharAma 0-a. Raden Mas Kantong Bolong Pesan Inti . alam cerit. Pertempuran antara dharma dan Konflik antar dua orang patih memperebutkan wanita dan tahta . Perebutan kekuasaan di negeri Sigar Petung, sehingga terjadi Galuh Kembar perubahan kekekuasaan di tangan raja baru (Gusti Ngura. Kisah Raden Galuh/ putri Balian Sakti bersama Pan Dukuh menyamar . 8/1. sebagai balian sakti Kisah tentang cinta sejati Jayaprana dengan Layonsari, dan kesewenangwenangan 5 Jayaprana . Kalianget yang Augelap mataAy tega membunuh Jayaprana akibat ingin merebut Lanyonsari. Sumber: Sugita, 2020 Pesan Tambahan C Kesehatan C Pendidikan C Pariwisata Sosial politik . alam bentuk kritik sosial lihat Tabel . C Pentingnya pemakaian Bahasa Bali C Promosi tentang keluarga sejahtera C Sosialisasi visi AuSat Kerti Loka BaliAy Tema pertunjukan drama gong terus berubah, berkembang dinamis sesuai kebutuhan zaman. Perubahan-perubahan yang terjadi ada tema dan pesan-pesan drama gong disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk tuntutan situasi pasar sesuai harapan penontonnya. 1 Pembinaan Bahasa Bali Drama gong dipentaskan dengan menggunakan bahasa Bali. Lewat pentas drama gong, bahasa Bali dilestarikan. Eksistensi sebuah kebudayaan masyarakat, antara lain tercermin dalam eksistensi bahasa masyarakat yang bersangkutan. Khasanah kebudayaan masyarakat Hindu Bali akan tetap ajeg, lestari sepanjang bisa merawat eksistensi bahasa Bali. Bahasa Bali bisa lenyap di muka bumi pada tahun 2041. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 I Wayan Sugita Hlm. 557Ae578 bila generasi muda Bali tidak menggunakan bahasa Bali (Setia, 2006: Oleh karena itu, upaya pembinaan bahasa Bali menjadi penting. Upaya pembinaan bahasa Bali secara langsung maupun tidak langsung bisa dilakukan melalui seni pertunjukan drama gong. Bahasa Bali merupakan bahasa daerah yang paling tepat dipakai mempelajari, menyelami, menginventarisasi, dan mengungkapkan kembali nilai-nilai kebudayaan daerah Bali yang berguna bagi pembinaan, pemeliharaan, dan pengembangan kebudayaan nasional. Terdapat beberapa materi pembinaan bahasa Bali dalam drama Pertama, pembinaan bahasa Bali yang menyangkut sor-singgih Basa Bali. Sor-singgih Basa Bali adalah untuk norma kesantunan (Gautama, 2. Konteksnya adalah bahwa setiap orang yang menjadi lawan bicara, baik personal yang tidak diketahui asal-usulnya, kemudian orang yang patut untuk dimuliakan . , insan yang memang layak untuk dihormati seperti guru, orang suci, dan para pemimpin, maka secara langsung akan mempergunakan Bahasa alus singgih. Kedua, pembinaan bahasa Bali yang terkait dengan stratifikasi sosial masyarakat Bali. Stratifikasi sosial itu terjadi sebagai akibat dari sebuah jabatan fungsional dan struktural dalam organisasi Dalam pemetasan Drama Gong, stratifikasi sosial antara lain ditunjukan dalam dialog penguasa, yakni patih Sawonggaling dengan punokawannya dalam kisah Jayaprana . berikut ini. AuUduh. cai parekan bena ajak dadua, siaga cai, bena lakar luwas, ngungsi alas ngatehang I Nyoman Jayaprana (Artinya: Hai abdiku berdua, bersiap-siaplah anda, aku akan pergi, menuju hutan mengantar kepergian I Nyoman Jayapran. AuInggih ratu gusti patih, durusang mamargi, titiang sampun siaga ngiring pamargin palungguh gustiAy (Artinya: Sandiko gusti patih, silakan jalan, saya sudah siap siaga mendampingi perjalalan gusti mengantar Nyoman Jayaprana pergi ke tengah huta. Ketiga, pengajaran tentang pola bahasa Bali yang secara langsung menunjukkan posisi siapa lawan bicara yang tengah diajak untuk Pola bahasa berada dalam ruang lingkup penekanan bahasa itu sendiri. Maka kesan yang berbeda akan muncul dari pola yang JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial Bisa saja bahasa alus singgih yang diucapkan akan terkesan sangat sadis dan kejam, ketika pola berbicara yang dipergunakan memang untuk menyindir lawan bicara, demikian pula sebaliknya, bahasa jabag akan terdengar lembut ketika dipergunakan dengan pola tuturan yang tepat dengan orang yang tepat. Pola bahasa Bali yang terdapat di dalam pementasan drama gong, bisa diklasifikasikan sebagai berikut ini: . pola beraturan dan . pola tidak beraturan dan tidak terstruktur . pola searah . idak terjadi dialo. pola dua arah, terjadi dialog. 2 Sosialisasi Pembangunan Seni pertunjukan tradisional drama gong cukup sering digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan (Setyawan, 2. Pesan yang ingin disampaikan dapat dilakukan melalui tokoh, pemain atau punokawan drama gong. Punakawan inilah yang mengambarkan figur-figur rakyat sehingga kritik-kritik sosial ataupun media penerangnan disampaikan melalui mereka dan diharapkan para penonton akan lebih mudah mencernanya. Agar mampu sebagai penyampai informasi yang efektif, para pemain drama gong dituntut untuk memahami permasahan sosial yang tengah terjadi di masyarakat. Terdapat berbagai masalah sosial penting yang dihadapi oleh masyarakat, yaitu: . masalah kemiskinan. disorganisasi keluarga, yaitu suatu perpecahan dalam keluarga sebagai suatu unit, oleh karena anggota-anggota keluarganya gagal memenuhi kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan peranan . masalah generasi muda. pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat. masalah kependudukan. masalah lingkungan. birokrasi (Soekanto, 1990: 462-. Selain itu, permasalahan sosial juga menyangkut persoalan gangguan personal, termasuk masalah populasi, kemiskinan, kriminal, ras, perubahan lingkungan dan masalah seks (Palen, 1. Dalam tiga dekade . 0-an, 1990-an, dan 2000-a. , pesan umum drama gong terkait dengan aneka permasalahan sosial di atas. Di antaranya adalah membahas masalah kerusuhan, patologi sosial narkoba, edukasi agar masyarakat mampu berperilaku aman, tidak berganti-ganti pasangan seksual agar terhindar dari ancaman HIVAIDS (Sugita, 2017: . Pesan drama gong yang terkait dengan HIVJURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 I Wayan Sugita Hlm. 557Ae578 AIDS ini gencar dilakukan oleh kelompok drama gong HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesi. melalui kisah AuBalian SaktiAy pada tahun 1998/1999. Grup drama gong yang didukung oleh pelaku wisata Bali ini juga membahas berbagai masalah aktual lainya, termasuk masalah pendidikan, pentingnya pengembangan ekonomi rakyat melalui koperasi, sadar pariwisata dan sebagainya. Pada era kejayaannya itu . ekade 1970-an dan 1980-a. , pertunjukan drama gong di banjar-banjar, bahkan di yang digelar di Taman Budaya (Art Cente. Denpasar selalu dipenuhi penonton (Foto Pertunjukan drama gong di Taman Budaya Denpasar setiap momen Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar tiap tahun dapat menjadi barometer atas keberadaan dan pengembangan drama gong di Bali. Berkat adanya PKB, drama gong tumbuh dan berkembang di seluruh pelosok Pulau Bali. Foto 2. Penonton Drama Gong yang berjubel, dekade 1980-an (Foto: Dokumentasi Penuli. Menginjak tahun 1990-an, kepopuleran drama gong di Bali mulai pudar dan semakin terpinggirkan. Hal itu dapat dilihat dari jarangnya pertunjukan drama gong melakukan pementasan. Selain itu juga merosotnya minat masyarakat sebagai pelaku dan kurangnya minat masyarakat untuk menonton pertunjukan tersebut. Banyak faktor penyebab drama gong tidak menjadi tontonan favorit masyarakat JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial Bali di masa kini, di antaranya adalah faktor kurang profesionalnya pengelolaan organisasi drama gong dan akibat dari gencarnya pengaruh seni budaya modern, baik yang ditayangkan televisi maupun media online pada era digital 4. 0 dewasa ini. Kendati tak sepopuler pereode sebelumnya . ekade 1970-1980 a. , drama gong pada tahun 2020 ini mulai digiatkan lagi dengan mengusung tema pembangunan lokal Bali. Salah satunya adalah serial drama gong dengan mengangkat lakon AuJayapranaAy yang ditayangkan di Bali TV. Lakon serial drama gong AuJayapranaAy Bali TV tahun 2020 ini sengaja mengangkat tema visi Pemerintah Provinsi Bali AuNangun Sat Kerthi Loka BaliAy. Visi tersebut dimaksudkan untuk menuju Bali Era Baru, yaitu suatu era yang ditandai dengan tatanan kehidupan baru. Bali yang Kawista. Bali yang tata tentram kerta raharja, gemah ripah lohjinawi, yakni tatanan kehidupan holistik. Visi ini diterjemahkan melalui pola pembangunan semesta berencana, yang mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang Sejahtera dan Bahagia. Sekala-Niskala menuju kehidupan krama dan Gumi Bali sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno yakni berdaulat secara Politik. Berdikari secara Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan melalui pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah, dan terintegrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila 1 Juni 1945 (Pemda Bali, 2. Sejak perkembangan pentas drama gong periode dekade 1980 hingga sekarang, isi-isu aktual terkait dengan kehidupan masyarakat Hindu Bali memang terus diangkat menjadi topik perbincangan dalam dialog drama gong, termasuk visi Pemerintah Daerah Provinsi Bali tersebut di atas (Tabel . Pesan pembangunan yang acapkali diangkat adalah pesan untuk secara konsisten menjaga tradisi dan budaya Bali sebagai modal utama pembangunan pariwisata budaya Bali. Penyelamatan dan penguatan budaya Bali ini, antara lain diwujudkan dengan berbagai upaya, antara lain: . mentradisikan penggunaan busana adat Bali (Pergub No. 79 Tahun 2. menguatkan keberadaan desa adat di Bali (Perna No 4 tahun 2. upaya perlindungan dan penggunaan bahasa Bali (Pergub No. 80 tahun 2. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 I Wayan Sugita Media Kritik Sosial Drama gong adalah sebuah seni pertunjukan yang dipentaskan dan diwarnai dengan canda dan kritik oleh pemainnya. Semua kisah drama gong yang dikaji dalam tulisan ini (Tabel . menyampaian kritik Menurut Damono . 9: . , kritik sosial dalam karya sastra dewasa ini tidak lagi hanya menyangkut hubungan antara orang miskin dan orang kaya, kemiskinan dan kemewahan. Kritik sosial mencakup segala macam masalah sosial yang ada di masyarakat, hubungan manusia dengan lingkungan, kelompok sosial, penguasa dan institusiinstitusi yang ada. Kritik sosial merupakan interpretasi sastra dalam aspek-aspek sosial dalam masyarakat. Melalui karya sastra, kritik sosial yang berpengaruh tidak langsung kepada masyarakat dapat disampaikan secara terbuka (Wilson, 1921: . Sebagai seni pertunjukan, drama gong telah menjadi media penerangan atau kritik sosial. Kritik sosial yang disampaikan melalui bentuk kesenian tradisional sungguh tepat. Hal itu disebabkan oleh masyarakat Indonesia yang menganut paham paternalistik. Artinya, tabu apabila orang yang dikritik adalah pemimpinnya, atasannya, ataupun saudaranya. Media yang sangat tepat untuk menyindir adalah melalui tokoh-tokoh yang diperankan dalam seni pertunjukan tersebut (Setyawan, 2011:. Berdasarkan pengamatan, diketahui bahwa sindiran-sindiran memang perlu disampaikan untuk mendapat respons masyarakat penonton. Kritik sosial yang disampaikan drama gong tentu sesuai gejala sosial yang muncul di masyarakat. Tabel 2 dan tabel 3 menunjukkan beberapa kisah drama gong dan kritik sosial yang disampaikan melalui Aupesan tambahannyaAy, menyangkut masalah kesehatan, pendidikan, lingkungan dalam kehidupan pariwisata budaya Bali. Tabel 3. Contoh Kritik Sosial dalam Drama Gong No. Topik Muatan Kritik Sosial Kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) masih penting, tetapi jangan terpaku pada 2 anak cukup karena bisa menghilangkan tradisi Bali . nak ke 3 komang dan ke 4 ketu. bisa tiada lagi di kemudian hari. Masyarakat Bali boleh memiliki 4 anak atau lebih sesuai dengan kemampuan keluarga yang bersangkutan. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial Pendidikan Orientasi pendidikan yang hanya bertumpu pada kecanggihan IT (Ilmu dan Teknolog. semata cenderung memproduksi manusia yang hanya Aupandai berhitungAy, tetapi tidak bermoral, dan tidak mengerti tradisi budaya yang melahirkannya. Oleh karean itu, pendidikan IT perlu dimbangi dengan pendidikan seni-budaya untuk membangun karakter kepribadian anak bangsa. LingAkungan Keelokan panorama perkotaan di Bali terkadang dicederai oleh sampah yang dibuang sembarangan. Karena itu, pengelolaan sampah perlu didukung oleh segenap masyarakat Bali, sehingga keasrian Bali sebagai destinasi wisata tetap terjaga. Selan itu, ada fenomena pelanggaran jalur hijau, yang melanggar RUTW. Penataan tata ruang yang mendukung pelestarian palemahan Bali perlu ditegakkan. Pariwisata Mestinya krama Bali menjadi pemain inti . dalam lapangan bisnis pariwisata Bali, tetapi kenyataannya mayoritas krama Bali hanya sebagai pekerja rendahan di bidang pariwisata. Pembinaan profesionalitas di bidang pariwisata bagi krama Bali masih perlu ditingkatkan. S o s i a l Politik Tak semua kampung di pelosok Bali telah memiliki jalan yang mulus, sementara di wilayah lain renovasi pembanguanan fisik terus dilakukan. Kurang meratanya bangunan fisik jalan itu karena di desa atau wilayah itu belum diperjuangkan oleh wakil rakyat di DPRD Semestinya, semua wakil rakyat benar-benar wewakili semua rakyat, bukan wakil kelompok tertentu. Sumber: Sugita, 2020 Seperti kritik sosial politik (Tabel . , ada kritik yang menyoroti kesenjangan pembangunan fisik di Bali. Ketimpangan pembangunan bisa menimbulkan kegelisahan sosial. Dalam hal ini, humor diperlukan sebagai penampung aspirasi yang tidak resmi disuarakan oleh pelawak atau pemain drama gong. Humor sengaja dimunculkan sebagai sindiran, kritik atas ketidakseimbangan yang terjadi. Sindiran, ejekan, lelucon, dan protes merupakan ungkapan dari ketertindasan, dari kondisi powerlessness (Sobary, 1. Pada dasarnya drama gong merupakan sebuah seni drama berdialog yang memadukan berbagai elemen seni, seperti akting, gamelan gong kebyar, cerita yang berakar pada kebudayaan Bali. Drama gong menyajikan kisah dramatik yang bersifat tragicomedy yang secara profesional menyeimbangkan adegan-adegan serius dengan yang lucu atau humor (Semadi, 2015. Tisnu. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 I Wayan Sugita Hlm. 557Ae578 Kritik sosial drama gong disampaikan secara elegan, berupa refleksi atas segala ketidakseimbangan yang timbul dalam kehidupan masyarakat yang diungkapkan secara bercada, penuh humor. Humor merupakan perilaku atau tata kalimat yang bukan kejadian seharihari yang dapat menimbulkan tawa orang yang melihatnya. Tawa diperlukan oleh makhluk manusia guna keseimbangan jiwanyanya yaitu melampiaskan perasaan tertekan melalui cara riang dan dapat dinikmati (Hasan, 1. Tertawa mampu Aumenjernihkan dan menjelaskanAy, menghadirkan keriangan, serta menghilangkan kesepian dan keterasingan (Kartodirdjo, 1. Foto 3. Salah satu adegan Jayaprana-Layonsari (Sumber: balipost. Kritik sosial drama gong disampaikan secara persuasif, tidak menyerang personal secara langsung, namun mampu secara efektif menggugah kesadaran akan sifat tercela dari kesombongan, ketamakan, keegoisan manusia. Kritik sosial menyoroti ketidakadilan, kesewenang-wenangan penguasa, keangkaramurkaan, ketimpangan sosial, serta perilaku pragmatis masyarakat yang perlu diluruskan seperti kisah AuJayapranaAy yang dalam tahun 2020 ini diproduksi kembali oleh Bali TV (Tabel . Secara umum kisah panji ini menuturkan cinta sejati Jayaprana dengan dengan Layonsari, dan kesewenangwenangan penguasa . Kalianget yang Augelap mataAy tega membunuh Jayaprana akibat ingin merebut Lanyonsari (Foto . JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial Akibat ingin merebut istri Jayaprana, sang raja sengaja mengutus patih Sawonggaling untuk membunuh Jayaprana. Respons Masyarakat terhadap Pesan Edukatif Drama Gong Secara umum, pertunjukan drama gong direspon positif oleh Setidaknya, hal ini diketahui dari model pendekatan, substansi materi pesan, serta penilaian penonton drama gong itu Dari pendalaman di lapangan diketahui bahwa respons positif masyarakat Bali terhadap seni pertunjukan drama gong secara umum dibuktikan dengan partisipasi penontonnya. Dalam dekade 1970-1980an, ketika siaran media televisi masih terbatas, dan media online . yber commnuit. belum membudaya di masyarakat, penonton drama gong selalu berjubel, baik pementasan drama gong di banjar-banjar, maupun pementasan drama gong di Taman Budaya (Art Centr. Denpasar, seperti pernyataan dua orang informan sebagai berikut. AuSetahu saya, sekitar tahun 1980-an drama gong - saat saya remaja sampai sekarang drama gong masih dicintai masyarakat Bali. Dulu, penonton pementasan drama gong di Taman Budaya (Art Centr. Denpasar selalu membludak, karena terpesona oleh celotehan lucu para pemainnya. Sekarang pun drama gong juga bisa ditonton melalui youtube (Wayan Juni Ambara, peminat seni- budaya Bali, wawancara 1 Agustus 2. Ay AuDrama gong sebagai seni pertunjukan favorit saya sejak SD dulu. Saya terkesan dengan patih agung yang galak, raja buduh, serta Petruk dan Dolar sebagai punokawan. Karena menggunakan bahasa Bali yang sesuai dengan budaya sasaran penontonnya, maka pesan pendidikan drama gong mudah dipahami, nyampek ke penonton, termasuk ajakan untuk menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan hidup (Widiadnyana, wartawan Bali Express, wawancara 11 Juni Ay Seperti testimoni di atas, drama gong mendapat apresiasi Selain dibuktikan dengan kehadiran langsung penontonnya, sambutan positif masyarakat Bali terhadap seni pentas berdialog drama gong juga dibuktikan dengan beredarnya CD rekaman pertunjukan drama gong di pasaran. Masyarakat penggemar drama gong bisa membeli dan mengoleksi CD rekaman drama gong untuk diputar sendiri, atau menonton tayangan drama gong melalui Youtube (Foto . JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 I Wayan Sugita Sumber: youtube. com/Kelor TV, 22-7- 2020 Sumber: ragtimemp3. Foto 4. Contoh CD Drama Gong Mengapa masyarakat Bali jatuh hati terhadap seni pertunjukan drama gong? Alasan mendasarnya adalah karena drama gong menggunakan pendekatan, bahasa dan materi cerita yang komunikatif, sesuai dengan Aubahasa budayaAy sasarannya. Sesuai teori interaksionisme simbolik Blummer (Nurhadi, 2. , pemikiran dan bahasa drama gong bisa dimengerti oleh penontonnya. Penonton drama gong menilai bahwa materi edukasi drama gong cukup komunikatif sehingga mampu menggugah kesadaran dan partisipasi penontonnya. Cerita rakyat semacam AuPanji SemirangAy atau AuJayapranaAy menjadi lebih dikenal khalayak melalui pertunjukan drama gong. Hal ini sesuai teori semiotik kultural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan tertentu (Pateda, 2. Seluruh dialog dan adegan dalam pertunjukan drama gong adalah bentuk dari semiotika kultural yang sesuai dengan budaya masyarakat Bali. Walaupun pertunjukan drama gong secara kolosal tidak dimungkinkan lagi dewasa ini, namun pertunjukan drama gong secara tidak langsung bisa diakses penontonnya, yakni melalui tayangan TV, video dan melalui Youtube di jaringan internet. Keberadaan tayangan drama gong di layar kaca (TV) dan Youtube ini membuktikan bahwa drama gong masih eksis dan potensial direvitalisasi kembali. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangan dalam meA revitalisasi seni pertunjukan drama gong pada masa kini. Pertama, materi cerita rakyat Bali atau kisah panji seperti AuJayapranaAy. AuPanji SemirangAy. AuSampek Ing TaiAy masih bisa tetap dipertahankan, namun perlu dimodifikasi dengan realitas kehidupan saat ini. Kedua, dialog drama gong berbahasa Bali tetap dipertahankan, namun bisa JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 557Ae578 Drama Gong sebagai Media Pendidikan dan Kritik Sosial diperkaya dengan variasi bahasa Indonesia dan bahasa asing (Inggri. Hal ini penting karena audien . drama gong, tidak hanya masyarakat Bali semata, tetapi juga masyarakat non Bali. Ketiga, perlu memberikan porsi yang lebih besar kepada para pemain drama gong generasi milenial. Mereka bisa mengeksplorasi bakat dan kemampuan ekspresi seninya untuk mewarnai masa depan seni pertunjukan drama gong Bali. Keempat, inovasi tata pentas . dengan sentuhan teknologi digital. Berbeda dengan tata panggung konvesional, setting lokasi untuk drama gong era 4. 0 bisa dilengkapi dengan teknologi LCD yang memperkaya latar belakang lokasi/tata panggung sedemikian rupa sesuai tuntutan cerita. Seperti adegan kisah Jayaprana versi Bali TV tahun 2020 yang bagian dari adegannya dilakukan di alam terbuka. Kelima, perlunya manajemen pertunjukan drama gong yang lebih efektif dan efisien sesuai prinsip komodifikasi seni pertunjukan pada era 4. 0 dewasa ini. Selain didasari oleh sumber daya dan potensi lokal yang memadai, keberlanjutan seni pertunjukan drama gong harus ditopang dengan kemandirian finansial dalam pengelolaannya. Hal ini sesuai dengan konsep komodifikasi seni Adorno . bahwa agar tetap eksis sebuah karya seni perlu dikomodifikasikan sebagai produksi budaya yang perlu dikemas sedemian rupa dan dijual ke pasaran sebagai hiburan, bahkan disajikan sebagai atraksi wisata. Seperti hasil kajian Ruastiti . , drama gong bisa menjadi salah satu seni pertunjukan untuk atraksi wisata yang bisa disuguhkan untuk turis. Selain mengatur segmentasi adegan Ae sesuai tuntutan cerita, efisiensi pengemasan produksi tayangan drama gong untuk tayangan TV dan Youtube bisa dilakukan antara lain dengan tanpa melibatkan kru gamelan secara langsung Ae karena bisa dilakukan dengan Audubbing gamelanAy. Sesuai pendapat McGrew . , drama gong sebagai seni budaya lokal memiliki kesempatan yang terbuka untuk dikembangkan dalam mewarnai budaya global dewasa ini. Begitu pula seni pertunjukan drama gong sebagai bagian dari budaya masyarakat Bali sekaligus sebagai budaya nusantara. Oleh karena itu, drama gong bisa terus dikembangkan sesuai selera dan tuntutan jaman. Segenap pihak, termasuk lembaga seni-budaya Bali, masyarakat Bali serta media massa bisa mendukung upaya penyelamatan dan pengembangan drama gong sebagai teater rakyat Bali. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 I Wayan Sugita Hlm. 557Ae578 Penutup Drama gong telah menjadi salah satu seni pertunjukan yang popular dan digemari oleh masyarakat Bali. Sebagai drama berdialog, drama gong masih eksis dan bisa ditonton melalui saluran televisi dan Youtub, drama gong yang lahir sejak dekade 1950-an telah menjadi media pendidikan, termasuk pembinaan bahasa Bali, dan sosialisasi Drama gong juga sebagai wahana menyampaikan kritik sosial yang menyangkut masalah kesehatan, pendidikan, lingkungan dalam kehidupan pariwisata budaya Bali. Pesan pendidikan dan kritik sosial yang disampaikan para punokawan drama gong mudah dipahami Sebagai bagian dari seni-budaya rakyat Bali, eksistensi drama gong perlu dipertahankan dan direvitalisasi. Revitalisasi seni pertunjukan drama gong perlu dilakukan sesuai tuntutan zaman Daftar Pustaka