TIME JOURNAL: Journal of Islamic Taransformation and Education Management https://journal. id/index. php/time/index Vol 2. No 1, 2025 | Page . KOLABORASI ORANG TUA DAN GURU BIMBINGAN KONSELING (BK) DALAM MENDUKUNG PERKEMBANGAN SISWA DI MA AISYIYAH 1 PALEMBANG Ovi Imelda *1. Ade Akhmad Saputra 2 1, 2 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Indonesia 1uO imeldaopi@gmail. com, 2uO adeakhmadsaputra_uin@radenfatah. Abstract This study aims to analyze the role of collaboration between guidance and counseling (GC) teachers and parents in supporting student development at Madrasah Aliyah Aisyiyah 1 Palembang. The focus of this research is to identify the benefits of structured collaboration in helping both parties understand students' needs, as well as to determine improvement steps that should be taken to ensure students' future success. This study employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews and observation, then analyzed using thematic analysis techniques. The findings indicate that collaboration between GC teachers and parents has a significant positive impact on students' emotional development, self-confidence, and social skills. However, the study also reveals several obstacles that hinder the effectiveness of such collaboration, including parents' time constraints, a lack of understanding about the role of GC teachers, and limited Therefore, the study recommends more flexible meeting schedules, the use of technology to facilitate communication, and more intensive outreach to parents regarding the role of GC teachers. The implications of this research highlight the need for programs aimed at increasing parental involvement in their children's education and strengthening the partnership between school and family. For future research, it is recommended to use a mixed-methods approach . uantitative and qualitativ. to gain a more comprehensive understanding of the collaboration between GC teachers and parents. Keywords: Islamic Education. History Of Education. Pesantren. Madrasah. Education Policy History Articles Received 12/1/2025 Revised 16/3/2025 Accepted 10/4/2025 How to Cite: Imelda. , & Akhmad Saputra. Collaboration Between Parents And Guidance And Counseling (BK) Teachers In Supporting Student Development At MA Aisyiyah 1 Palembang. Transformation of Islamic Management and Education, 2. , 1Ae9. Doi: https://doi. org/10. 65663/timejournal. INTRODUCTION Kolaborasi, yang didefinisikan sebagai proses yang melibatkan kerja sama, komunikasi, negosiasi, kepercayaan, rasa hormat, dan pemahaman untuk membangun aliansi sinergis yang memaksimalkan kontribusi masing-masing peserta (Noviani, 2. , merupakan elemen penting dalam implementasi layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di satuan pendidikan. Sebagai bagian integral dari sistem pendidikan, layanan BK tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pengembangan sosial dan emosional siswa (Ferreira, et al. , 2020. Hattie. Dalam konteks ini, kolaborasi tidak hanya diperlukan antara guru BK dan siswa, tetapi juga melibatkan pihak orang tua sebagai aktor utama dalam kehidupan anak di luar sekolah. Dukungan dari orang tua secara aktif dan berkelanjutan terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi akademik, penyesuaian sosial, serta kesejahteraan emosional siswa (Pramesti, 2. Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak berkorelasi positif dengan capaian hasil belajar yang lebih baik (Huovila, et al. , 2022. Wang, et al. , 2. Oleh karena itu, hubungan kolaboratif antara guru BK dan orang tua perlu dikembangkan sebagai strategi utama untuk mendukung tercapainya tujuan layanan BK secara optimal (Purwaningrum et al. Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 secara eksplisit menekankan bahwa kerja sama merupakan bagian mendasar dari layanan bimbingan dan konseling. Guru BK diharapkan menjalin relasi yang saling setara dan saling menghargai dengan berbagai pihak, termasuk orang tua siswa (Purwaningrum et al. , 2. Untuk itu, pemahaman terhadap karakteristik kolaborasi menjadi penting, agar masing-masing pihak dapat Page | 1 berpartisipasi secara optimal berdasarkan peran dan tanggung jawabnya (Sulitiawan. Sinaga et al. menegaskan bahwa kolaborasi memungkinkan layanan bimbingan dan konseling menjadi lebih terstruktur, karena proses bimbingan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru BK, tetapi juga melibatkan pihak sekolah dan keluarga. Hal ini menjadi semakin krusial dalam konteks pembelajaran jarak jauh yang memerlukan keterlibatan aktif dari orang tua (Armini, 2. Kolaborasi ini bahkan diperluas dengan menjalin kemitraan antara sekolah dengan lembaga eksternal seperti perguruan tinggi, dunia usaha, serta institusi pemerintah (Ramdani et al. , 2. Namun, di Madrasah Aliyah Aisyiyah 1 Palembang, tantangan dalam membangun kolaborasi efektif antara guru BK dan orang tua masih cukup menonjol. Kurangnya komunikasi yang intensif serta minimnya partisipasi orang tua dalam program-program BK menjadi kendala utama dalam pencapaian hasil yang optimal. Kondisi ini menjadi hambatan dalam memberikan dukungan menyeluruh terhadap siswa yang menghadapi tekanan akademik, persoalan sosial, maupun masalah emosional. Indreswari, & Ediyanto, . mengemukakan bahwa proses kolaborasi terdiri dari tiga tahapan penting: problem setting, direction setting, dan implementation. Pada tahap problem setting, para pemangku kepentingan perlu menyadari saling ketergantungan dan merumuskan masalah secara bersama. Selanjutnya, tahap direction setting mencakup penyusunan strategi bersama dan agenda kerja yang terorganisir. Tahap akhir, yaitu implementation, menekankan pentingnya struktur kolaboratif yang berkelanjutan serta monitoring terhadap pelaksanaan kesepakatan (Sentanu, 2. Kolaborasi juga berperan strategis dalam membangun keterampilan sosial siswa serta meningkatkan kesiapan mereka menghadapi dunia kerja di masa depan (Marr. Jatiyasa, 2. Interaksi yang terjadi dalam kolaborasi memungkinkan siswa belajar dari pengalaman orang lain, mengembangkan empati, dan memperluas sudut Di sisi lain, guru BK dan orang tua yang bekerja sama secara aktif mampu melakukan evaluasi mendalam terhadap kebutuhan siswa, serta merancang langkahlangkah strategis untuk pengembangan potensi siswa (Phytanza, 2. Penelitian-penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Sandra . Suryana . , dan Alfi, . lebih banyak menyoroti aspek umum dari kolaborasi, seperti dukungan terhadap proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar. Sedangkan penelitian ini menitikberatkan pada bagaimana kolaborasi antara guru BK dan orang tua dapat difokuskan secara lebih terarah untuk mengevaluasi kebutuhan siswa secara mendalam serta menyusun langkah-langkah perbaikan secara bersama. Artinya, penelitian ini tidak hanya mengusulkan kolaborasi sebagai bentuk kerja sama pasif, tetapi sebagai strategi aktif untuk merancang program-program bimbingan yang lebih efektif dan personal bagi setiap siswa. Dalam konteks ini, penting bagi madrasah atau sekolah untuk menginisiasi pertemuan rutin antara guru BK dan orang tua, memanfaatkan teknologi digital untuk menjalin komunikasi yang fleksibel, serta melibatkan orang tua dalam pengambilan Sinergi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan efektivitas layanan BK, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap keberhasilan pendidikan secara RESEARCH METHODS Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini dirancang secara komprehensif untuk mengeksplorasi secara mendalam peran kolaborasi antara guru bimbingan konseling (BK) dan orang tua dalam mendukung perkembangan siswa di Madrasah Aliyah Aisyiyah 1 Palembang. Fokus penelitian diarahkan pada dua unit utama, yakni guru BK dan orang tua siswa yang secara aktif terlibat dalam proses bimbingan konseling. Pemilihan unit ini dilandasi oleh peran strategis mereka dalam membentuk dan memperkuat aspek akademik serta psikologis siswa. Kolaborasi antara dua pihak ini diyakini memiliki kontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter, pengelolaan emosi, dan penyesuaian diri siswa dalam lingkungan pendidikan (Supena, et al. , 2. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, karena pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali lebih dalam berbagai pengalaman, persepsi, serta pandangan subjektif para partisipan. Dengan pendekatan ini pula, nuansa hubungan dan dinamika kolaborasi antara guru BK dan orang tua dapat dipahami secara holistik. Penelitian ini menggunakan jenis studi kasus, yang memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menelaah satu konteks spesifik secara mendalam. Page | 2 yakni praktik kolaboratif di Madrasah Aliyah Aisyiyah 1 Palembang. Melalui studi kasus ini, peneliti dapat menangkap realitas empiris yang kompleks dan unik dari praktik kolaborasi di lapangan. Proses pengumpulan data dilakukan melalui dua teknik utama, yakni wawancara mendalam dan observasi langsung. Wawancara mendalam dilakukan dengan melibatkan guru BK dan orang tua siswa untuk memperoleh informasi terperinci mengenai pengalaman mereka dalam menjalin kolaborasi. Sebelum pelaksanaan wawancara, peneliti terlebih dahulu menyusun pedoman wawancara yang berisi pertanyaanpertanyaan terbuka guna menggali aspek-aspek penting dari kolaborasi yang berlangsung (Nahar, 2. Setelah itu, peneliti menghubungi para partisipan untuk mengatur jadwal wawancara sesuai dengan waktu yang mereka anggap nyaman. Wawancara dilakukan baik secara langsung maupun daring, bergantung pada preferensi masing-masing Sepanjang proses wawancara, peneliti mencatat informasi penting serta merekam percakapan dengan persetujuan dari pihak yang diwawancarai. Seluruh rekaman kemudian ditranskrip secara sistematis dan diorganisasi untuk mempermudah proses analisis. Sementara itu, observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung interaksi antara guru BK dan orang tua dalam konteks kegiatan bimbingan konseling. Peneliti menetapkan lokasi dan waktu pelaksanaan observasi yang sesuai, seperti saat pertemuan orang tua dan guru atau saat berlangsungnya sesi konseling. Selama kegiatan observasi, peneliti mencatat secara detail perilaku verbal maupun nonverbal, termasuk konteks situasional yang mempengaruhi jalannya komunikasi (Lenning, et al. , 2. Hasil observasi kemudian direfleksikan kembali dan dianalisis untuk menemukan tema-tema yang relevan dengan tujuan penelitian. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis tematik, yang memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola-pola makna dalam data kualitatif. Langkah awal dilakukan dengan membaca dan memahami keseluruhan transkrip wawancara dan catatan observasi (Murkatik, et al. , 2. Selanjutnya, peneliti mengidentifikasi unit-unit makna yang berkaitan dengan fokus penelitian, seperti persepsi terhadap kolaborasi, kendala yang dihadapi, serta strategi dan solusi yang diusulkan oleh para partisipan. Unit-unit makna yang telah ditemukan kemudian dikelompokkan ke dalam tema-tema besar yang mencerminkan kecenderungan umum dalam data. Setelah tema-tema terbentuk, peneliti menafsirkan makna yang terkandung di dalamnya dengan mengaitkannya pada kerangka teoritis dan konsep-konsep yang relevan dalam bidang bimbingan konseling dan pendidikan. Hasil analisis selanjutnya disajikan dalam bentuk narasi yang koheren, dengan tujuan memberikan gambaran yang utuh dan mendalam mengenai praktik kolaborasi antara guru BK dan orang tua di Madrasah Aliyah Aisyiyah 1 Palembang. Melalui proses penelitian ini, diharapkan diperoleh pemahaman yang tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga reflektif terhadap bagaimana kolaborasi ini dijalankan, tantangan yang dihadapi, serta peluang-peluang untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan siswa secara menyeluruh (Tomasik, et al. , 2. FINDINGS AND DISCUSSION Penelitian ini mengkonfirmasi dampak positif dari kolaborasi bimbingan konseling terhadap perkembangan emosional siswa di Madrasah Aliyah Aisyiyah 1 Palembang. Temuan ini sejalan dengan pernyataan seorang guru BK dalam wawancara. Kolaborasi ini sangat membantu siswa dalam mengenali dan mengelola emosi Kami melihat perubahan signifikan pada siswa yang aktif berpartisipasi dalam program bimbingan konseling. Data wawancara menunjukkan bahwa siswa yang terlibat aktif dalam kolaborasi ini menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan mereka, serta mengembangkan strategi koping yang lebih efektif dalam menghadapi situasi sulit (SlijepseviN, et al. , 2. Namun, penelitian ini juga mengungkapkan adanya kendala signifikan dalam implementasi kolaborasi yang efektif. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan waktu orang tua. Sebagian besar orang tua bekerja penuh waktu, sehingga sulit bagi mereka untuk menghadiri pertemuan rutin dengan guru BK (Andra, et al. , 2. Seperti yang diungkapkan oleh seorang orang tua dalam wawancara. Saya sangat ingin terlibat, tetapi jam kerja saya sering kali tidak memungkinkan Page | 3 saya untuk menghadiri pertemuan di sekolah. Kendala lain adalah kurangnya pemahaman orang tua tentang peran guru BK. Banyak orang tua yang tidak sepenuhnya memahami fungsi dan tanggung jawab guru BK, sehingga mereka tidak tahu bagaimana cara berkolaborasi secara efektif. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tantangan yang dihadapi, data wawancara dan survei dianalisis dan disajikan dalam bentuk tabel berikut: Tabel 1. Kendala dalam Kolaborasi Orang Tua dan Guru BK Persentase Kendala Orang Tua yang Komentar Orang Tua/ Wali Murid Mengalami Saya sangat ingin terlibat, tetapi jam kerja saya Keterbatasan sering kali tidak memungkinkan saya untuk Waktu menghadiri pertemuan di sekolah. Kurangnya Saya tidak begitu paham apa saja yang dilakukan Pemahaman guru BK. Saya pikir mereka hanya membantu Peran Guru BK siswa yang bermasalah. Kurangnya Komunikasi dengan guru BK sangat terbatas. Komunikasi Kami hanya bertemu saat pembagian rapor Intensif Kesulitan Sulit sekali menemukan waktu yang cocok untuk Mengatur Waktu bertemu dengan guru BK. Pertemuan Tabel di atas menunjukkan bahwa keterbatasan waktu dan kurangnya pemahaman tentang peran guru BK adalah kendala utama dalam kolaborasi antara orang tua dan guru BK. Selain itu, kurangnya komunikasi yang intensif juga menjadi faktor Untuk mengatasi kendala-kendala ini, penelitian ini mengusulkan beberapa solusi Pertama, penjadwalan pertemuan yang lebih fleksibel, seperti di akhir pekan atau sore hari, dapat meningkatkan partisipasi orang tua (Li, et al. , 2021. Awasthy, et al. , 2. Kedua, pemanfaatan teknologi, seperti aplikasi komunikasi atau portal digital, dapat mempermudah komunikasi antara orang tua dan guru BK. Ketiga, sosialisasi yang lebih intensif tentang peran dan fungsi guru BK kepada orang tua dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya kolaborasi. Solusi-solusi ini dinilai sangat relevan dan praktis oleh para peserta penelitian. Seperti yang diungkapkan oleh seorang guru BK. Pemanfaatan teknologi sangat membantu kami dalam berkomunikasi dengan orang Kami bisa memberikan informasi dan menerima umpan balik secara lebih Seorang orang tua juga menyatakan. Pertemuan di akhir pekan akan sangat membantu kami. Kami bisa lebih leluasa berpartisipasi tanpa mengganggu pekerjaan. Untuk memvisualisasikan efektivitas solusi yang diusulkan, data survei tentang preferensi orang tua terhadap metode komunikasi dan jadwal pertemuan disajikan dalam bentuk bagan berikut: Bagan 1. Preferensi Orang Tua terhadap Metode Komunikasi dan Jadwal Bagan di atas menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua lebih memilih Page | 4 komunikasi melalui aplikasi dan pertemuan di akhir pekan. Hal ini menunjukkan bahwa solusi yang diusulkan sesuai dengan preferensi orang tua. Penelitian ini menegaskan bahwa kolaborasi yang efektif antara orang tua dan guru BK memiliki dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan siswa (Rauch. Sinaga, et al. , 2. Namun, untuk mencapai kolaborasi yang optimal, perlu ada upaya untuk mengatasi kendala-kendala yang ada, seperti keterbatasan waktu dan kurangnya pemahaman tentang peran guru BK. Dengan menerapkan solusi- solusi praktis dan memanfaatkan teknologi, diharapkan kolaborasi antara orang tua dan guru BK dapat menjadi lebih efektif dan memberikan dampak positif yang lebih besar bagi perkembangan siswa di Madrasah Aliyah Aisyiyah 1 Palembang. Hasil penelitian ini juga memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya membangun kemitraan yang kuat antara sekolah dan keluarga. Kemitraan ini tidak hanya mendukung perkembangan akademik siswa, tetapi juga perkembangan sosial dan emosional mereka. Dalam konteks ini, guru BK memainkan peran kunci sebagai penghubung antara sekolah dan keluarga, memastikan bahwa kedua belah pihak bekerja sama untuk mendukung siswa secara holistik. Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi yang terbuka dan transparan antara orang tua dan guru BK. Komunikasi yang efektif memungkinkan kedua belah pihak untuk berbagi informasi penting tentang perkembangan siswa, mengidentifikasi masalah sejak dini, dan merumuskan strategi intervensi yang tepat. Seperti yang diungkapkan oleh seorang guru BK. Komunikasi yang baik memungkinkan kami untuk memahami siswa secara lebih mendalam dan memberikan dukungan yang lebih tepat sasaran. Penelitian ini juga menekankan pentingnya peran orang tua sebagai mitra dalam pendidikan anak-anak mereka. Orang tua memiliki wawasan yang berharga tentang kehidupan dan kebutuhan anak-anak mereka di luar sekolah (Sentanu, 2. Dengan berbagi informasi ini dengan guru BK, orang tua dapat membantu guru BK untuk memahami siswa secara lebih komprehensif dan memberikan dukungan yang lebih Dalam konteks ini, penelitian ini merekomendasikan agar sekolah mengembangkan program-program yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka. Program-program ini dapat mencakup lokakarya tentang peran orang tua dalam pendidikan, pertemuan rutin antara orang tua dan guru BK, dan penggunaan teknologi untuk memfasilitasi komunikasi dan kolaborasi. Kontribusi memberikan pemahaman tentang pentingnya kolaborasi antara orang tua dan guru BK dalam mendukung perkembangan siswa. Temuan penelitian ini memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan program-program yang lebih efektif untuk meningkatkan kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Hasil penelitian ini secara jelas menunjukkan bahwa kolaborasi antara orang tua dan guru bimbingan konseling (BK) memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan emosional siswa di Madrasah Aliyah Aisyiyah 1 Palembang. Temuan ini memperkuat pemahaman teoritis bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak tidak hanya memengaruhi pencapaian akademik, tetapi juga sangat penting dalam aspek sosial dan emosional. Peningkatan kemampuan siswa dalam mengenali, mengungkapkan, dan mengelola emosi mereka setelah mengikuti program bimbingan konseling merupakan bukti kuat akan efektivitas pendekatan kolaboratif dalam mendukung kesejahteraan psikologis siswa. Pernyataan guru BK yang menyebutkan adanya perubahan signifikan pada siswa yang aktif berpartisipasi dalam kolaborasi ini, serta data empiris dari wawancara dan survei, memperlihatkan bahwa program bimbingan konseling yang melibatkan peran serta orang tua secara aktif menciptakan ruang bagi siswa untuk tumbuh secara Strategi koping yang lebih efektif yang berkembang pada siswa menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka antara rumah dan sekolah menjadi fondasi bagi pemberdayaan individu dalam menghadapi tekanan atau permasalahan yang mereka Namun demikian, hasil penelitian ini juga mengungkap sisi lain dari implementasi program, yaitu adanya hambatan-hambatan yang cukup berarti dalam mewujudkan kolaborasi yang optimal. Dua kendala utama yang ditemukan adalah keterbatasan waktu orang tua serta kurangnya pemahaman mereka mengenai peran dan fungsi guru BK. Keterbatasan ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara keinginan untuk terlibat dan kemampuan aktual untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan sekolah. Data Page | 5 survei menunjukkan bahwa mayoritas orang tua merasa kesulitan untuk menghadiri pertemuan karena jam kerja yang padat, dan lebih dari separuh responden tidak memahami secara utuh apa yang menjadi tanggung jawab guru BK. Hal ini menunjukkan bahwa kendala bukan hanya bersifat struktural, tetapi juga kognitif dan informasional. Kurangnya intensitas komunikasi dan kesulitan dalam menyepakati waktu pertemuan yang tepat menjadi faktor penghambat tambahan yang dapat melemahkan efektivitas kolaborasi. Temuan-temuan ini menyiratkan bahwa meskipun kesadaran akan pentingnya kolaborasi mulai tumbuh, sistem pendukung dan strategi pelaksanaannya masih memerlukan penguatan yang signifikan. Dengan pendekatan kolaboratif dalam bimbingan konseling harus dirancang lebih adaptif terhadap kebutuhan dan kondisi orang tua. Fleksibilitas dalam penjadwalan pertemuan, pemanfaatan teknologi sebagai media komunikasi, serta upaya sosialisasi yang lebih terstruktur tentang peran guru BK menjadi langkah strategis yang perlu diadopsi oleh pihak sekolah. Pilihan metode komunikasi seperti penggunaan aplikasi pesan singkat, grup daring, atau portal informasi digital terbukti lebih disukai oleh orang tua dan dapat menjembatani kendala keterbatasan waktu. Sementara itu, pertemuan yang dijadwalkan di akhir pekan juga dinilai lebih ideal bagi sebagian besar orang tua yang bekerja penuh waktu. Dalam konteks kebijakan sekolah, temuan ini menegaskan perlunya penguatan sistem kemitraan antara sekolah dan keluarga melalui program-program partisipatif. Pemberdayaan orang tua melalui pelatihan, diskusi kelompok, dan kegiatan yang bersifat edukatif dapat menjadi sarana untuk meningkatkan literasi mereka terhadap fungsi pendidikan dan peran guru BK secara menyeluruh. Hal ini penting agar kolaborasi yang terbangun tidak hanya bersifat administratif atau reaktif, tetapi menjadi relasi sinergis yang bertumpu pada pemahaman bersama dan kepedulian terhadap perkembangan anak. Peran guru BK sebagai penghubung antara dunia sekolah dan rumah harus dikembangkan lebih lanjut dalam kerangka pendekatan holistik. Guru BK tidak hanya berfungsi sebagai fasilitator konseling individu, tetapi juga sebagai mediator hubunn sosial antara siswa, orang tua, dan sekolah. Kemampuan mereka dalam membangun komunikasi yang terbuka dan responsif menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang siswa secara utuh. Pengembangan kebijakan Pendidikan sangatlah penting, khususnya dalam Upaya meningkatkan efektivitas program bimbingan konseling di madrasah. Implementasi strategi kolaboratif yang inklusif dan berbasis teknologi dapat menjadi model intervensi yang relevan dalam konteks pendidikan modern, di mana tantangan waktu, komunikasi, dan pemahaman menjadi isu yang umum dihadapi. Penelitian ini membuka ruang bagi kajian lanjutan yang meneliti efektivitas model kolaborasi berbasis teknologi serta pengaruhnya terhadap aspek lain dari perkembangan siswa, baik akademik maupun nonakademik. CONCLUSION Penelitian mengidentifikasi bahwa kolaborasi antara guru bimbingan konseling (BK) dan orang tua memiliki dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan siswa di Madrasah Aliyah Aisyiyah 1 Palembang, terutama dalam pengelolaan emosi, peningkatan keyakinan diri, dan pengembangan keterampilan sosial. Meskipun demikian, penelitian ini juga mengungkapkan adanya kendala-kendala yang menghambat efektivitas kolaborasi, seperti keterbatasan waktu orang tua, kurangnya pemahaman tentang peran guru BK, dan komunikasi yang kurang intensif. Temuan ini menegaskan pentingnya upaya terstruktur dan praktis untuk meningkatkan kolaborasi antara guru BK dan orang tua demi mendukung perkembangan siswa secara holistik. Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa rekomendasi dapat diajukan. Secara khusus, sekolah perlu menjadwalkan pertemuan rutin antara guru BK dan orang tua pada waktu yang lebih fleksibel, seperti di akhir pekan atau sore hari, serta memanfaatkan teknologi untuk memfasilitasi komunikasi yang lebih efisien. Selain itu, sosialisasi yang lebih intensif tentang peran dan fungsi guru BK kepada orang tua juga diperlukan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya kolaborasi. Secara umum, penelitian ini mengimplikasikan perlunya pengembangan program-program yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka, serta membangun kemitraan yang kuat antara sekolah dan keluarga. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggunakan metode penelitian campuran . uantitatif dan kualitati. untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif Page | 6 tentang kolaborasi antara guru BK dan orang tua. Penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi faktor-faktor lain yang memengaruhi kolaborasi, seperti budaya sekolah, kebijakan pendidikan, dan sumber daya yang tersedia. ACKNOWLEDGMENT