Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 Pemikiran Pendidikan Pesantren K. Hasyim Asyari Dan Pengembangan Islam Berbasis Multikultural Di Indonesia Moh. Yusuf STIT Buntet Pesantren Cirebon Email: moh. yusuf@stit-buntetpesantren. Abstract (This study aims to examine the educational thoughts of K. Hasyim AsyAoari regarding pesantren (Islamic boarding school. and their relevance to the development of multicultural-based Islam in Indonesia. As a prominent Islamic scholar and the founder of Nahdlatul Ulama. Hasyim AsyAoari made significant contributions to shaping the pesantren education system grounded in Islamic values, nationalism, and openness to cultural diversity. This research employs a qualitative-descriptive approach through library research. The findings reveal that K. Hasyim AsyAoariAos educational philosophy emphasizes the importance of moral character, mastery of religious knowledge, and a tolerant attitude toward differences. Pesantren are positioned not only as institutions for producing religious scholars but also as spaces for character-building that enable students to live harmoniously in a pluralistic society. Thus, the pesantren values inspired by K. Hasyim AsyAoari are highly relevant in strengthening social integration and supporting the development of multicultural Islam in Indonesia. Keywords : Pesantren. Islamic Education. Multiculturalism Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran pendidikan pesantren K. Hasyim AsyAoari dan relevansinya dalam pengembangan Islam berbasis multikultural di Indonesia. Sebagai tokoh ulama dan pendiri Nahdlatul Ulama. Hasyim AsyAoari memiliki kontribusi besar dalam membentuk sistem pendidikan pesantren yang berbasis pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keterbukaan terhadap keberagaman budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan kualitatifdeskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan K. Hasyim AsyAoari menekankan pentingnya akhlak, penguasaan ilmu agama, serta sikap toleran terhadap perbedaan. Pesantren diposisikan sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga membentuk karakter santri yang mampu hidup dalam masyarakat yang majemuk. Dengan demikian, nilai-nilai pendidikan pesantren K. Hasyim AsyAoari relevan untuk memperkuat integrasi sosial dan memperkaya pengembangan Islam di Indonesia. Kata Kunci : Pesantren. Pendidikan Islam. Multikultural. Pemikiran Pendidikan Pesantren K. Hasyim Asyari Dan Pengembangan Islam Berbasis Multikultural Di Indonesia Moh Yusuf Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 Pendahuluan Pendidikan Islam di Indonesia memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari peran pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter dan nilai-nilai sosial yang adaptif terhadap keberagaman budaya (Mukhibat. Dalam konteks ini. Hasyim Asy'ari, sebagai pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama, memiliki kontribusi signifikan dalam merumuskan konsep pendidikan pesantren yang inklusif dan multikultural (N. Azizah, 2. Salah satu tokoh sentral dalam pengembangan pendidikan pesantren di Indonesia adalah K. Hasyim AsyAoari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama. Beliau dikenal sebagai ulama yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan dan keterbukaan terhadap keberagaman. Pemikiran pendidikan beliau tidak hanya fokus pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada pengembangan karakter dan sikap toleran terhadap perbedaan (Rohman, 2. Hal ini tercermin dalam kurikulum pesantren yang beliau kembangkan, yang mencakup pelajaran agama dan umum, serta metode pembelajaran yang mendorong diskusi dan musyawarah (Aziz, 2. Hasyim AsyAoari merupakan sosok pendidik sejati yang sepanjang hidupnya didedikasikan untuk dunia pendidikan, khususnya melalui Pesantren Tebuireng di Jombang. Pesantren yang beliau dirikan ini kini diasuh oleh cucunya. Sholahuddin Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Sholah (Rahman, 2021. Selain dikenal sebagai ulama ahli agama. Hasyim AsyAoari juga memiliki kepiawaian dalam merancang kurikulum dan strategi pembelajaran pesantren. Dalam dunia pendidikan, beliau dikenal sebagai pendidik yang langka dan sulit dicari Setiap harinya, beliau menghabiskan waktu dari pagi hingga malam untuk mengajarkan berbagai kitab klasik Islam kepada para santri, seperti al-Tahir, al-Syifa fi Huquq al-Musthafa karya Qadhi AoIyadh, al-Muhaddzab karya al-Syairazi, al-Muwatta karya Imam Malik. Fath al-Qarib. Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, serta Tafsir al-QurAoan al-Azhim karya Ibnu Katsir (A. Syamsuddin, 2. Gagasan-gagasannya tentang pendidikan pesantren tradisional juga dituangkan dalam karya penting berjudul Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim, yang menitikberatkan pada pendidikan akhlak sebagai inti dari pendidikan Islam (Basri, 2. Bagi K. Hasyim AsyAoari, pendidikan akhlak merupakan ruh utama dalam membentuk karakter peserta didik dan menjadi tujuan dasar dari sistem pendidikan Islam (Mulyono, 2. Hasyim Asy'ari menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum dalam kurikulum pesantren. Beliau percaya bahwa penguasaan kedua bidang ilmu tersebut akan membentuk individu yang tidak hanya taat beragama tetapi juga Pemikiran Pendidikan Pesantren K. Hasyim Asyari Dan Pengembangan Islam Berbasis Multikultural Di Indonesia Moh Yusuf Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 mampu berkontribusi dalam kehidupan sosial yang majemuk (N. Azizah, 2. Selain itu, beliau juga menekankan pembentukan akhlak mulia dan keterampilan hidup . ife skill. sebagai bagian integral dari pendidikan pesantren (Rohman, 2. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi wadah pendidikan yang relevan dalam menghadapi tantangan masyarakat multikultural (A. Syamsuddin, 2. Kemajemukan budaya, etnis, dan agama di Indonesia merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Keberagaman ini, jika dikelola dengan baik, menjadi kekayaan yang memperkaya bangsa. Namun, apabila diabaikan, keragaman ini justru berpotensi menjadi sumber konflik dan perpecahan antar kelompok (Muhaimin. Dalam hal ini, pendidikan Islam diharapkan mampu berperan sebagai pilar utama dalam menjaga kerukunan sosial, bukan hanya untuk memperkuat integritas nasional, tetapi juga sebagai landasan dalam mengayomi keberagaman sejati di masyarakat (Basri, 2. Dalam beberapa dekade terakhir, banyak gagasan yang mencoba mengakomodasi nilai-nilai multikultural dalam pendidikan Islam. Namun, dalam tataran praktik, masih banyak tantangan yang dihadapi. Secara kuantitatif, nilai-nilai multikulturalisme belum tersebar luas di kalangan masyarakat dan institusi pendidikan. Pemahaman masyarakat tentang pentingnya multikulturalisme pun masih tergolong minim. Sementara secara kualitatif, konsep pendidikan Islam berbasis multikultural belum sepenuhnya tersusun secara sistematis, sehingga sulit untuk diterapkan dalam ranah publik (Rohman, 2. Minimnya referensi yang membahas implementasi pendidikan multikultural secara rinci juga berdampak pada terbatasnya langkah-langkah praktis dalam pembelajaran, terutama di tingkat sekolah menengah di mana nilai-nilai multikultural belum secara formal terintegrasi dalam kurikulum (Aziz, 2. Selain itu, banyak tenaga pendidik yang belum memahami sepenuhnya konsep multikulturalisme, sehingga proses internalisasi dalam pembelajaran pun belum optimal (Mulyono, 2. Seiring semakin kompleksnya kehidupan masyarakat yang majemuk, tuntutan terhadap dunia pendidikan pun semakin bertambah. Oleh karena itu, sangat diperlukan pengembangan model pendidikan Islam berbasis multikultural yang mampu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat tersebut. Menurut Muhaimin . , membumikan pendidikan Islam yang berwawasan multikultural menjadi sangat mendesak, mengingat kesadaran akan pentingnya kemajemukan dapat menjadi kekuatan baru untuk mempererat integrasi bangsa yang selama ini sering mengalami perpecahan. Dalam era globalisasi dan meningkatnya pluralitas masyarakat Indonesia, pendekatan pendidikan yang menekankan pada toleransi, moderasi, dan penghargaan terhadap perbedaan menjadi semakin penting. Pemikiran K. Hasyim Pemikiran Pendidikan Pesantren K. Hasyim Asyari Dan Pengembangan Islam Berbasis Multikultural Di Indonesia Moh Yusuf Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 Asy'ari tentang pendidikan pesantren yang inklusif dan adaptif terhadap keberagaman budaya memberikan kontribusi penting dalam pengembangan Islam berbasis multikultural di Indonesia (N. Azizah, 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran pendidikan pesantren K. Hasyim Asy'ari dan relevansinya dalam konteks pengembangan Islam yang menghargai keberagaman budaya di Indonesia. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. (Creswell, 2. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan memahami dan mendeskripsikan pemikiran K. Hasyim AsyAoari terkait pendidikan pesantren serta relevansinya dalam pengembangan Islam berbasis multikultural di Indonesia secara mendalam dan kontekstual (Rahman, 2. Data dikumpulkan melalui kajian terhadap berbagai sumber literatur yang relevan, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dokumen resmi, serta sumber primer karya-karya K. Hasyim AsyAoari, di antaranya Adabul AoAlim wal MutaAoallim dan Risalah Ahlussunnah wal JamaAoah (AsyAoari, 2019. Selain itu, literatur kontemporer yang membahas pendidikan Islam multikultural juga menjadi rujukan untuk memperkaya analisis (Muhaimin, 2020. Mulyono, 2. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif-analitis, yaitu mendeskripsikan data yang ditemukan dari literatur, kemudian menganalisisnya secara kritis untuk menemukan hubungan antara pemikiran pendidikan pesantren K. Hasyim AsyAoari dengan kebutuhan pengembangan Islam berbasis multikultural dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini (N. Azizah, 2. Hasil dan Pembahasan Hasyim AsyAoari, sebagai salah satu tokoh utama dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia dan pendiri Nahdlatul Ulama serta Pondok Pesantren Tebuireng, memiliki pemikiran yang mendalam tentang pentingnya pendidikan pesantren (Noer. Beliau menekankan bahwa pendidikan Islam bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah serta meraih kebahagiaan dunia dan akhirat (AsyAoari, 2. Pemikiran K. Hasyim AsyAoari tidak hanya berfokus pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan karakter, moral, dan etika yang menjadi dasar dalam kehidupan seorang santri (Zuhri, 2. Selain itu, beliau memandang pendidikan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi siswa secara holistik, yang mencakup aspek spiritual, intelektual, dan sosial (Munawwir, 2. Visi pendidikan beliau menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama dengan kehidupan sosial yang lebih luas, menjadikan pesantren Pemikiran Pendidikan Pesantren K. Hasyim Asyari Dan Pengembangan Islam Berbasis Multikultural Di Indonesia Moh Yusuf Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang inklusif dan toleran (A. Syamsuddin. Pendidikan Islam multikultural di indonesia Pendidikan Islam multikultural merupakan pengembangan konsep pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam, yang bersumber dari Al-QurAoan dan Hadis, ke dalam prinsip pendidikan multikultural. Pendidikan ini berupaya mentransformasikan dan menginternalisasi nilai-nilai dasar Islam dengan tetap mengakomodasi perbedaan dan keragaman sebagai bagian dari sunnatullah (Azizah, 2. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakat yang plural dan multikultural, sehingga tercapai tatanan sosial yang adil. UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS) Nomor 20 Tahun 2003. Pasal 4 menyatakan bahwa pendidikan harus diselenggarakan secara demokratis, adil, dan tidak diskriminatif, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai budaya, dan kemajemukan bangsa (UU Sisdiknas, 2. Dengan demikian, nilai-nilai keagamaan tetap menjadi dasar dalam penyelenggaraan pendidikan. Nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi bagi pendidikan multikultural dapat dikategorikan ke dalam dua prinsip utama. Pertama adalah nilai toleransi, yang menjadi pilar utama dalam membentuk masyarakat yang harmonis dalam keberagaman, sejalan dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (Rahman, 2021. Dalam ajaran Islam, sikap toleran dan penghargaan terhadap perbedaan memiliki dasar yang kuat, baik dari Al-QurAoan, hadis Nabi, maupun dari praktik dan pandangan para sahabat (Zuhri, 2. Kedua adalah nilai perdamaian, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Anfal ayat 61, yang mengajarkan pentingnya memilih jalan damai saat menghadapi konflik. Islam menjunjung tinggi perdamaian sebagai fondasi utama dalam menciptakan kehidupan sosial yang stabil dan berkeadaban (Fauzi, 2. Perdamaian di sini bukan sekadar tidak adanya pertikaian, tetapi juga mencakup terciptanya kondisi sosial yang tenang, aman, serta terbebas dari rasa takut, permusuhan, dan Indonesia, sebagai negara dengan keragaman etnis, budaya, dan agama, menghadirkan tantangan sekaligus peluang dalam membangun masyarakat yang harmonis dan inklusif (Munawwir, 2. Dalam konteks ini. Islam memainkan peran penting dalam mempromosikan nilai-nilai multikulturalisme yang sejalan dengan prinsip-prinsip keislaman. Islam mengakui pluralisme sebagai suatu keniscayaan . dalam kehidupan manusia. Al-Qur'an menyatakan bahwa keberagaman adalah bagian dari rencana Allah SWT, sebagaimana dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 (Basri, 2. Pemikiran Pendidikan Pesantren K. Hasyim Asyari Dan Pengembangan Islam Berbasis Multikultural Di Indonesia Moh Yusuf Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan adalah bagian dari fitrah manusia yang harus dihargai dan dijadikan sarana untuk saling memahami. Dalam konteks Indonesia, pendidikan Islam multikultural menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan semangat persatuan (Mukhibat, 2. Pendidikan ini tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku yang menghargai keberagaman. Melalui pendekatan ini, peserta didik diajarkan untuk hidup berdampingan secara damai dengan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda latar belakang budaya, agama, dan etnis. Implementasi pendidikan Islam multikultural di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Secara kuantitatif, nilai-nilai multikulturalisme belum tersebar luas di kalangan masyarakat dan institusi pendidikan (Mulyono, 2. Secara kualitatif, konsep pendidikan Islam berbasis multikultural belum sepenuhnya tersusun secara sistematis, sehingga sulit untuk diterapkan dalam ranah publik. Minimnya referensi yang membahas implementasi pendidikan multikultural secara rinci juga berdampak pada terbatasnya langkah-langkah praktis dalam pembelajaran, terutama di tingkat sekolah menengah di mana nilai-nilai multikultural belum secara formal terintegrasi dalam kurikulum. Selain itu, banyak tenaga pendidik yang belum memahami sepenuhnya konsep multikulturalisme, sehingga proses internalisasi dalam pembelajaran pun belum optimal (Azizah, 2. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih serius dalam mengembangkan dan mengimplementasikan pendidikan Islam multikultural di Indonesia. Hal ini mencakup pengembangan kurikulum yang inklusif, pelatihan bagi tenaga pendidik, serta penyediaan sumber daya dan referensi yang memadai (Syamsuddin, 2. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat berperan aktif dalam membentuk masyarakat Indonesia yang toleran, inklusif, dan menghargai keberagaman. Pemikiran K. Hasyim Asy'ari dalam Pendidikan Pesantren Hasyim Asy'ari merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia, terutama dalam konteks pesantren (Fauzi, 2. Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Pondok Pesantren Tebuireng, beliau memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan pada aspek spiritual, tetapi juga pada aspek sosial, budaya, dan intelektual (S. Azizah, 2. Pemikiran pendidikan beliau mencerminkan visi yang luas tentang bagaimana pesantren dapat berperan dalam membangun karakter umat serta membina hubungan harmonis antara Islam dan masyarakat yang majemuk (Rohman, 2. Dalam pemikiran K. Hasyim AsyAoari, pendidikan pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama secara mendalam, tetapi juga mendorong pengembangan Pemikiran Pendidikan Pesantren K. Hasyim Asyari Dan Pengembangan Islam Berbasis Multikultural Di Indonesia Moh Yusuf Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 ilmu pengetahuan umum sebagai bagian dari kebutuhan hidup sehari-hari (Noer. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren, bagi beliau, merupakan lembaga yang tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga individu yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dalam masyarakat yang multikultural (Munawwir, 2. Hasyim AsyAoari percaya bahwa pendidikan yang baik harus menyentuh semua aspek kehidupan, baik dari sisi spiritual maupun sosial (Basri, 2. Dalam hal ini, beliau mengadopsi prinsip al-Aoilm wa al-Aoamal . lmu dan ama. yang berarti bahwa pendidikan bukan hanya bertujuan untuk memperoleh ilmu, tetapi juga untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata, terutama dalam konteks kerukunan sosial dan keberagaman (A. Syamsuddin, 2. Menurut K. Hasyim Asy'ari, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat pengembangan intelektual dan sosial (Zuhri, 2. Beliau berpendapat bahwa pendidikan pesantren harus mampu mempersiapkan santri untuk menjadi individu yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan masyarakat (Rahman, 2021. Dengan demikian, pendidikan pesantren yang beliau kembangkan mengintegrasikan ilmu agama dan umum, serta menekankan pada penguatan karakter dan akhlak (Mulyono, 2. Pemikiran K. Hasyim Asy'ari dalam pendidikan pesantren juga mengedepankan pentingnya sikap toleransi dan keterbukaan terhadap perbedaan (Aziz, 2. Beliau mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang menghargai keberagaman dan mengedepankan prinsip musyawarah dalam menyelesaikan masalah (Muhaimin. Dalam konteks ini, pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk mempelajari kitab-kitab klasik, tetapi juga untuk mengembangkan nilai-nilai kebangsaan dan toleransi, sehingga santri dapat beradaptasi dan berkontribusi dalam masyarakat yang multikultural (A. Syamsuddin, 2. Selain itu, beliau juga mendorong pengembangan kurikulum yang seimbang antara pendidikan agama dan pengetahuan umum (Mukhibat, 2. Hal ini terlihat dari konsep pendidikan yang diterapkan di pesantren Tebuireng, yang tidak hanya mengajarkan ilmu fiqih, tafsir, dan hadits, tetapi juga mata pelajaran seperti bahasa, sejarah, dan ilmu pengetahuan lainnya (Azizah, 2. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan santri yang memiliki wawasan luas dan mampu berperan aktif dalam masyarakat yang sedang berkembang (Rohman, 2. Pentingnya pendidikan karakter dalam pandangan K. Hasyim Asy'ari juga tercermin dalam metodologi pengajaran yang digunakan di pesantren (Basri, 2. Beliau menekankan pada pembentukan akhlak yang mulia melalui pendekatan yang penuh kasih sayang, kesederhanaan, dan keteladanan (Mulyono, 2. Santri didorong untuk tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk Pemikiran Pendidikan Pesantren K. Hasyim Asyari Dan Pengembangan Islam Berbasis Multikultural Di Indonesia Moh Yusuf Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari (Rahman, 2021. Pemikiran-pemikiran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pesantren yang digagas oleh K. Hasyim Asy'ari memiliki landasan yang kokoh dalam membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial (A. Syamsuddin, 2. Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman, pendekatan pendidikan ini sangat relevan, karena mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan semangat kebangsaan dan keterbukaan terhadap perbedaan (Zuhri, 2. Salah satu aspek penting dalam pemikiran K. Hasyim Asy'ari adalah penekanan pada pentingnya nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman (Aziz. Dalam pandangan beliau, pesantren bukan hanya tempat mempelajari ilmuilmu keagamaan secara mendalam, melainkan juga wahana untuk membentuk santri agar mampu hidup berdampingan secara harmonis dalam masyarakat yang beragam budaya, suku, dan agama (Muhaimin, 2. Hasyim AsyAoari memahami bahwa realitas sosial Indonesia yang multikultural menuntut model pendidikan yang terbuka terhadap perbedaan (Munawwir, 2. Karena itu, beliau mendorong agar santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai seperti saling menghormati, menjaga kerukunan, serta menghindari sikap ekstrem dalam beragama (Rohman, 2. Dengan demikian, pendidikan pesantren di bawah bimbingan beliau berfungsi ganda: memperkuat identitas keislaman sekaligus membentuk sikap sosial yang toleran dan inklusif (Azizah, 2. Kesimpulan Pemikiran pendidikan K. Hasyim Asy'ari memberikan kontribusi besar dalam pengembangan karakter bangsa Indonesia yang multikultural. Melalui model pendidikan pesantren yang beliau kembangkan, nilai-nilai keislaman yang toleran, moderat, dan menghargai keberagaman berhasil ditanamkan di tengah masyarakat yang plural. Hasyim Asy'ari tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menekankan pentingnya adab, musyawarah, serta sikap terbuka terhadap perbedaan, sejalan dengan prinsip-prinsip Islam yang mengakui pluralitas sebagai bagian dari Dalam konteks Indonesia modern, pemikiran ini menjadi sangat relevan untuk memperkuat upaya membangun Islam berbasis multikultural. Pendidikan Islam harus diarahkan untuk tidak hanya membentuk individu yang taat beragama, tetapi juga yang mampu hidup harmonis di tengah masyarakat yang majemuk. Pemikiran Pendidikan Pesantren K. Hasyim Asyari Dan Pengembangan Islam Berbasis Multikultural Di Indonesia Moh Yusuf Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 Nilai-nilai toleransi dan perdamaian yang diajarkan Islam perlu diinternalisasi lebih kuat dalam sistem pendidikan, baik di lingkungan pesantren maupun di lembaga pendidikan Islam lainnya. Pengembangan model pendidikan Islam yang berbasis multikultural idealnya terus dikembangkan eksistensinya, yang tidak hanya memperkuat identitas keislaman peserta didik, tetapi juga membentuk kesadaran mereka akan pentingnya keberagaman dan hidup berdampingan secara damai. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat menjadi salah satu fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia di tengah dinamika globalisasi dan tantangan intoleransi yang semakin kompleks. Daftar Pustaka