Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial Yulita Jumada Barqah 1* Pajar Hatma Indra Jaya 1 Sri Widayanti 2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia STPMD APMD Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia * Korespondensi: yulita. jumada06@gmail. Tel: . 08-5377-72-3666 Diterima: tanggal 25 April 2024. Disetujui: tanggal 20 Mei 2024. Diterbitkan: tanggal 25 Mei 2024 Abstrak: Sociopreneur merupakan kegiatan inovasi dengan motif menyelesaikan masalah sosial, sekaligus mengembangkan aspek bisnisnya. Banyak orang percaya bahwa kegiatan sociopreneur merupakan solusi untuk mengatasi persoalan sosial dewasa ini. Munculnya banyak startup sociopreneur menandakan adanya optimisme masyarakat terhadap sosiopreneur. Namun jika melihat perkembangan sociopreneur dewasa ini muncul kekhawatiran karena banyak aktivitas sociopreneur yang mati suri, meskipun ada juga yang berkembang. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa ada sociopreneur yang mati suri, namun ada juga yang terus berkembang. Untuk menjawab permasalahan tersebut dilakukan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dalam kegiatan sociopreneur bank sampah-sedekah sampah, maggot, dan serbat jahe. Penelitian ini menemukan bahwa kegiatan sociopreneur dapat berjalan ketika aktivitas bisnisnya berjalan dengan baik dan kegiatan sociopreneur lama kelamaan akan mati jika kegiatan yang berjalan hanya kegiatan sosial. Kegiatan sociopreneur pada bank sampah-sedekah sampah dan maggot mengalami mati suri karena mempunyai fokus terbalik, yaitu mementingkan kegiatan pada aktivitas sosial dan mengesampingkan aktivitas bisnisnya. Penelitian ini memberikan pengetahuan bahwa untuk menjamin sustainability program pemberdayaan sosial maka aktivitas tersebut harus menghasilkan keuntungan ekonomi. Kata kunci: Keuntungan. Masalah Sosial. Sociopreneur. Sustainability Abstract: Sociopreneurship is an innovation activity with the purpose of solving social problems as well as developing Many people believe that sociopreneur activities are a solution for today's social problems. Many sociopreneur startups indicate that society is optimistic about sociopreneurs. However, with the with the development of sociopreneurs today, there are concerns because many sociopreneur activities have failed, although they are developing. Based on this background, this research aims to explain why sociopreneurs are Aucool-headedAy. To answer this problem, observations, interviews, and documentation studies were carried out on the sociopreneur activities of the waste bank, maggots, and ginger This research found that sociopreneur activities can run when business activities are running well and that over time, sociopreneur activities will collapse because they only focus on social activities. Sociopreneur activities at the trash and maggot banks collapsed because they prioritized social activities over business activities. This research provides knowledge that, to ensure the sustainability of social empowerment programs, these activities must produce economic benefits. Keywords: Profits. Social Problems. Sociopreneur. Sustainable https://ejournal. id/index. php/SosioKonsepsia/article/view/3410 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 190 - 201 Pendahuluan Sociopreneur atau social entrepreneurs atau social enterprise atau kewirausahaan sosial atau bisnis sosial diyakini akan menjadi salah satu jalan keluar untuk menyelesaikan masalah sosial (Anas, 2019. Kimmitt et al. , 2022. Ottlewski, 2021. Suyatna & Nurhasanah, 2017. Utami et al. , 2. Istilah-istilah tersebut meskipun ada perbedaan sedikit, namun pada prinsipnya sama. Sociopreneur merupakan gerakan sosial baru yang menggabungkan kegiatan penyelesaian masalah sosial dengan kegiatan Disatu sisi kegiatan sociopreneur diharapkan mampu menyelesaikan masalah sosial, disisi lain juga memberikan manfaat berupa keuntungan finansial (Faizal, 2. Beberapa orang mengaitkan kegiatan sociopreneur dengan aktivitas Muhammad Yunus dan grameenbank pada tahun 1983 (Suyatna & Nurhasanah, 2. Sebelumnya juga ada nama Bill Drayton yang mempopulerkan istilah social entrepreneurs pada tahun 1972 dan mendirikan Ashoka pada tahun 1981 (Sen, 2. Ada juga orang yang mengaitkan istilah itu dengan Joseph Banks (Anas, 2. Di Indonesia sendiri konsep sociopreneur juga sudah lama muncul sebagai perkembangan konsep kewirausahaan. Namun sebagai aktivitas gerakan, beberapa orang mengatakan gerakan tersebut sudah ada sejak tahun 1895 ketika Raden Wira Atmaja membentuk koperasi dengan maksud melindungi masyarakat dari rentenir (Raditya, 2. Banyak orang optimis dengan model kegiatan sociopreneur dewasa ini. Go-Jek, ruang guru. Klinik Asuransi Sampah merupakan beberapa contoh gerakan sociopreneur yang sukses berkontribusi menyelesaikan masalah sosial, namun tetap memperhatikan aspek keuangan. Kementerian Sosial juga mengeluarkan beberapa program pemberdayaan sosial yang sebagian bentuknya bisa dimasukan sebagai kegiatan sociopreneur, seperti beberapa Program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan Kewirausahaan Sosial pasca PKH (Program Keluarga Harapa. (Setiawan et al. , 2023. Yuda et al. , 2. Namun di tengah optimisme terkait perkembangan sociopreneur dan kegiatan pemberdayaan sosial, dewasa ini banyak juga kegiatan sociopreneur yang tidak berkelanjutan. Salah satu kegiatan sociopreneur yang mengalami pasang surut adalah sociopreneur yang mencoba mengatasi persoalan sampah. Persoalan sampah merupakan salah satu masalah sosial yang dihadapi banyak kota besar di Indonesia, seperti Bandung. Surabaya. Yogyakarta (Ritonga, 2. Sociopreneur hadir guna menyelesaikan persoalan sampah dalam bentuk bank sampah, sedekah sampah. Klinik Asuransi Sampah (ASK), sampai budidaya maggot. Bank sampah merupakan kegiatan sociopreneur yang pada awalnya mengalami perkembangan pesat. Keberadaan bank sampah dimulai pada tahun 2008 dan berkembang pesat menjadi lebih dari 25 ribu bank sampah yang tersebar di seluruh Indonesia (Purnomo, 2. Namun dalam perkembangannya banyak bank sampah yang kesulitan untuk bertahan dan mengalami mati suri (VOA Indonesia, 2. Tidak hanya bank sampah, banyak kegiatan sociopreneur yang di awal berdirinya mengalami perkembangan pesat, namun di tengah jalan mengalami kemacetan. Kegiatan sociopreneur yang berbasis teknologi . di awal perkembangannya juga sangat bagus, namun belakangan ini banyak startup sociopreneur yang mengalami gulung tikar (CNN Indonesia, 2. Meskipun sociopreneur tidak hanya menjadikan keberhasilan bisnis dan peningkatan laba sebagai ukuran kesuksesan, namun banyaknya kegiatan sociopreneur yang mati menarik untuk dipelajari. Meskipun sociopreneur tidak hanya berfokus pada pendapatan, namun juga pada pemecahan masalah sosial yang lebih besar (Johnson, 2. , tetapi ketidakberlanjutan merupakan satu masalah yang perlu Dua keuntungan sekaligus dalam satu kegiatan merupakan hal yang menarik untuk mengembangkan kegiatan sociopreneur, namun banyaknya kegiatan sociopreneur yang jalan di tempat bahkan mati juga menjadi data yang perlu diperhatikan. Studi tentang sociopreneur yang ada saat ini lebih banyak memberikan penjelasan tentang dampak positif gerakan sociopreneur (Aisyianita, 2021. Syihabudin et al. , 2. Studi tentang penjelasan mengapa kegiatan sociopreneur banyak yang mati belum banyak diteliti. Salah satu studi yang dapat dipakai untuk melihat matinya kegiatan sosial adalah teori social loafing. Social loafing bisa disebut kemalasan bersama, yaitu kemalasan yang muncul dalam kegiatan bersama, dimana muncul persepsi psikologis bahwa ketika ada anggota tim yang bekerja lebih banyak dibandingkan dengan anggota yang lain, namun mereka akan mendapatkan keuntungan keuangan yang sama. Pemahaman tersebut melemahkan kegiatan yang sifatnya bersama (Aminah, 2017. Kim et al. , 2. Berdasarkan paparan Yulita Jumada Barqah. Pajar Hatma Indra Jaya dan Sri Widayanti Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 1 - 201 tersebut studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memberi penjelasan lebih lanjut tentang mengapa banyak kegiatan sociopreneur yang jalan di tempat, bahkan tidak berkelanjutan. Kajian tersebut penting dilakukan agar tidak semakin banyak kegiatan sociopreneur yang mati. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksplanatif. Hal ini dimaknai sebagai pendekatan untuk menginvestigasi, memahami fenomena, dan menjawab pertanyaan penelitian: apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan bagaimana terjadinya dalam situasi tertentu . atural settin. yang ada di dalam kehidupan riil. Fokus kajian penelitian ini adalah menjelaskan mengapa banyak kegiatan sociopreneur yang tidak berkelanjutan atau mengalami stagnasi, guremisasi, dan mati, namun di sisi lain ada juga yang mampu bertahan dan berkembang. Menjawab rumusan masalah tersebut dilakukan pengumpulan data di empat kegiatan sociopreneur, yaitu kegiatan bank sampah, sedekah sampah, budidaya maggot, dan serbat jahe. Secara lebih detail lokasi penelitian adalah dua kelompok bank sampah di Yogyakarta, dua kelompok sedekah sampah di Yogyakarta, dua kegiatan sociopreneur berbasis usaha maggot (Yogyakart. , dan satu kegiatan sociopreneur Serbat Jahe di Lombok Barat. Tujuh lokasi dipilih dalam penelitian ini karena mereka melakukan kegiatan sociopreneur dengan hasil yang berbeda-beda. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2022 sampai dengan Agustus 2023. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan sociopreneur yang dilakukan ketika menjalankan usaha, studi dokumentasi dilakukan untuk melihat perkembangan usaha dan pemberitaan usaha mereka di internet. Wawancara dilakukan kepada para pengelola program dan masyarakat dalam kegiatan sociopreneur. Teknik analisis data menggunakan skema analisis interaktif dari model Miles. Huberman, dan Saldana (Miles et al. , 2. yang dimodifikasi. Model interaktif tersebut membagi proses menjadi tiga tahap, yaitu data condensation, data display, dan conclusion drawing/verification. Dalam penelitian ini tahap analisis yang digunakan dimulai dari pengumpulan data, pemilihan data, reduksi data berupa validitas data . ahap kondensas. Validitas data dilakukan dengan menggunakan tringgulasi sumber dan triangulasi metode, yaitu mencocokkan data dari beberapa metode pengumpulan data yang berbeda . riangulasi metod. dan mengecek informasi dari informan yang berbeda . riangulasi Setelah data dianggap valid maka masuk tahap berikutnya, yaitu tahap penyajian data, interpretasi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil Pelaksanaan dan Keberlanjutan Sociopreneur Bank Sampah dan Sedekah Sampah Kegiatan sociopreneur merupakan inovasi untuk menyelesaikan masalah sosial dengan memadukan prinsip bisnis. Sociopreneur dipercaya mampu memberikan solusi inovatif terhadap permasalahan sosial yang kompleks. Sociopreneur tidak hanya mampu memberikan manfaat berupa terselesainya masalah sosial, namun juga memberikan keuntungan finansial dan sering sekali diikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat. Sociopreneur menjadi kegiatan alternatif yang menarik karena menggabungkan kepedulian sosial dengan aspek bisnis. Namun realitasnya banyak kegiatan sociopreneur yang tidak berkelanjutan. Empat kegiatan sociopreneur, yaitu kegiatan bank sampah, kegiatan sedekah sampah, kegiatan budidaya maggot BSF (Black Soldier Fl. , dan serbat jahe LBS, keempatnya mengalami perkembangan yang berbeda-beda. Keempat sociopreneur muncul sebagai inovasi untuk menyelesaikan masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Kegiatan sociopreneur bank sampah, sedekah sampah, dan sistem budidaya maggot BSF (Black Soldier Fl. merupakan kegiatan sociopreneur untuk menyelesaikan masalah sosial berupa sampah. Sedangkan sociopreneur serbat jahe LBS di Lombok Barat merupakan sociopreneur dengan tujuan untuk mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapi petani aren . ketika harga jual gula aren jatuh. Yulita Jumada Barqah. Pajar Hatma Indra Jaya dan Sri Widayanti Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 190 - 201 Bank Sampah muncul pertama kali di Badegan. Bantul. Yogyakarta pada Bulan Februari 2008. Kegiatan ini mencoba menarik partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam usaha mengatasi sampah. Mereka membuat kegiatan inovasi dengan cara membuat gerakan jual beli sampah dalam jangka yang agak panjang sehingga kegiatannya mirip dengan aktivitas menabung di bank. Kegiatan bank sampah merupakan inovasi sosial yang berhasil karena mempu menginspirasi dan menyebarkan bank sampah ke banyak tempat di Indonesia. Pemerintah ikut mempopulerkan gerakan bank sampah. Bank sampah telah mengalami perkembangan pesat dari awalnya satu buah bank sampah di Badegan Bantul kemudian berkembang menjadi lebih dari 25 ribu bank sampah yang tersebar di 363 kabupaten/kota di seluruh Indonesia (Purnomo, 2. Namun dalam perkembangannya banyak bank sampah yang kesulitan untuk bertahan. Di Bandung 92 persen bank sampah mati suri. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Bandung, namun juga di Yogyakarta. Bekasi. Kutai Kertanegara, dan masih banyak di kota-kota lain (VOA Indonesia, 2022. Wardani, 2. Sedekah sampah merupakan inovasi dan pengembangan dari kegiatan bank sampah. Jika dalam kegiatan bank sampah masyarakat dilibatkan untuk mengumpulkan sampah sebagaimana mencontoh kegiatan menabung di bank, sedekah sampah merupakan kegiatan mengumpulkan sampah dengan cara meniru sebagaimana layaknya orang bersedekah. Jika dari aktivitas bank sampah nasabah mendapatkan uang dari menabung atau jualan sampah, maka dalam sedekah sampah, nasabah akan mendapatkan AupahalaAy karena bersedekah dengan sampah. Bank sampah sendiri menjadi alat inklusi sosial, spiritual dan ekonomi yang melibatkan banyak kelompok masyarakat, termasuk kelompok kurang beruntung dan rentan. Konsep bank sampah dapat menjadi model bisnis sosial yang efektif untuk mengatasi masalah lingkungan sekaligus menambah penghasilan masyarakat meski hasilnya tidak menentu. Tujuan utama dua kegiatan tersebut adalah menyelesaikan persoalan sampah, sedangkan kegiatan bisnis . merupakan kegiatan tambahannya. Berdasarkan wawancara dengan informan pengelola bank sampah, ia menceritakan: Kegiatan bank sampah di daerah tempat saya ini mati ketika Covid-19, pada waktu itu susah menjual sampah. Banyak akses jalan yang ditutup, padahal pembeli sampah ini dari Surabaya, jadi tidak ada yang mau membeli sampah yang sudah dikumpulkan. Ketika kondisi transportasi sudah normal, gantian pengurusnya yang malas memulai lagi. Faktor yang membuat kegiatan bank sampah ini berhenti adalah larangan berkumpul ketika muncul pandemi Covid-19. Ketika muncul wabah Covid-19, bank sampah berhenti beroperasi. Namun ketika wabah Covid-19 sudah dinyatakan berakhir, anehnya bank sampahnya sampai saat ini belum mulai beraktivitas kembali. Motivasi para pengurus tidak sekuat pertama kali ketika mendirikan bank Hal ini karena para pengurus merasakan bahwa kegiatan bank sampah tidak memberikan dampak ekonomi yang menarik bagi pengurusnya. Para pengurus perlu bekerja di pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bank sampah tidak mampu memberikan jaminan pendapatan yang cukup. Pada kasus bank sampah yang lain, gairah untuk mengembangkan bank sampah pada umumnya juga hilang setelah satu tahun berjalan. Hasil wawancara dari salah satu informan menyatakan: Bank sampah ini sebenarnya mampu untuk menyelesaikan persoalan sampah anorganik dan persoalan lingkungan yang muncul di masyarakat, tapi sayangnya kegiatan ini tidak bisa menjamin ekonomi para pengurusnya. Hasil dari bank sampah memberikan manfaat kembali ke Masyarakat. Kegiatan bank sampah merupakan kegiatan inovasi yang menarik perhatian banyak orang, namun dilihat dari dampak ekonominya kegiatan bank sampah tidak bisa berubah menjadi kegiatan bisnis, namun menjadi kegiatan sosial. Pengurus bank sampah menyampaikan bahwa problem utama yang dihadapi pengelola bank sampah terkait masalah harga sampah. Secara teoritis, semua sampah, selain sampah B3 (Bahan Berbahaya Beracu. dapat dijual, namun ketika harga jual sampah jatuh, para pengepul ternyata tidak mau membeli sampah. Bahkan muncul satu peristiwa dimana sampah sama sekali tidak bisa dijual. Sebenarnya sampah di bank sampah dapat disimpan, namun hal itu Yulita Jumada Barqah. Pajar Hatma Indra Jaya dan Sri Widayanti Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 1 - 201 membutuhkan tempat yang luas. Padahal lahan bank sampah sangat terbatas. Tidak adanya orang yang mau membeli sampah juga membuat para pengurusnya tidak mendapatkan uang dalam waktu yang lama. Ketika hal itu terjadi, pemerintah tidak mempunyai solusi sehingga terjadi kemandekan Pengelola bank sampah tidak mungkin membeli sampah dengan harga normal dari masyarakat ketika tidak ada pengepul sampah yang mau membeli. Jika hal itu dipaksa dilakukan, bank sampah akan menelan kerugian, namun jika sampah yang dikirim ke bank sampah tidak dibeli, masyarakat juga akan kehilangan motivasi untuk menabung sampah. Akibatnya banyak bank sampah yang tidak beroperasi karena tidak mampu membeli sampah dari nasabahnya. Program sedekah sampah juga berjalan hampir sama dengan bank sampah. Ketika awal program sedekah sampah pengurus mengatakan bahwa sampah yang dikumpulkan cukup banyak. Pada awal program warga masih mempunyai banyak sampah untuk disedekahkan, namun dalam kegiatan pengambilan sampah berikutnya jumlahnya menurun. Dalam satu tahun satu pengelola bank sampah di Sendowo Yogyakarta mendapatkan dana Rp954. 000,00 dari 55 kepala keluarga. Jika dibagi menjadi 12 bulan maka dalam satu bulan hanya mendapatkan Rp79. 500,00. Jumlah tersebut tidak signifikan jika dibanding dengan jumlah tenaga kerja yang dilibatkan, serta makan dan minum yang sering disuguhkan ketika acara berlangsung. Meskipun kegiatan sedekah sampah jika dilihat dari aspek ekonomi tidak terlalu menjanjikan, namun kegiatan tersebut berdampak sosial dan lingkungan. Dari gerakan sedekah sampah masyarakat tidak lagi membuang sampah di sungai sehingga menjaga sungai tetap bersih. Selain itu masyarakat tidak lagi membuang sampah melalui tukang sampah sehingga turut mengurangi tumpukan di TPA (Tempat Pembuangan Akhi. Piyungan yang sudah penuh. Ketika panen sampah, masyarakat bertemu dan berinterkasi satu sama lain sehingga menjaga keguyuban dan solidaritas sosial. Sebagian uang hasil penjualan sampah digunakan untuk kegiatan sosial, seperti membantu ketika ada warga yang Namun demikian kegiatan bank sampah maupun sedekah sampah ini tidak dapat dijadikan sumber pendapatan utama pengelolanya sehingga mereka harus tetap bekerja di luar bank sampah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pelaksanaan dan Keberlanjutan Sociopreneur Maggot BSF Sistem maggot BSF (Black Soldier Fl. merupakan inovasi sosial untuk mengatasi sampah. Dengan satu kilogram maggot mampu mengurai sepuluh kilogram sampah dalam satu hari. Jika bank sampah dan sedekah sampah untuk mengatasi sampah anorganik, budidaya maggot untuk mengatasi sampah organik. Dari budidaya maggot akan dihasilkan maggot segar yang dapat dijual untuk makanan ternak. Selain itu sisa kotoran yang diurai maggot akan menjadi pupuk organik yang dapat Produksi maggot sangat dipengaruhi kualitas sampah sebagai pakan yang diberikan ke maggot. Jika sampah yang dimakan maggot berkualitas maka maggot segar yang dihasilkan mempunyai ukuran yang standar dan cenderung gemuk. Namun jika sampah yang digunakan kurang berkualitas maka maggot yang dihasilkan juga tidak berkualitas dan tidak seragam. Hal tersebut mengakibatkan harga jual maggot menjadi murah dan terkadang ditolak pasar. Dengan demikian jika kegiatan budidaya maggot menggantungkan pakan dari sampah yang diambil dari masyarakat maka maggot yang dihasilkan cenderung kecil-kecil atau di bawah standar. Kualitas sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga dianggap kurang bergizi bagi maggot, apalagi sampah dari keluarga miskin. Jika kegiatan budidaya maggot mengharapkan makanan maggot dari sampah rumah tangga maka maggot yang dihasilkan tidak maksimal. Hal ini berbeda jika maggot diberi pakan dari sampah yang mengandung gizi tinggi. Sampah model ini dapat diperoleh dari sampah yang dihasilkan hotel, restoran, dan atau rumah sakit. Penggunaan sampah yang berkualitas akan menghasilkan maggot yang memenuhi standar pasar. Jika dalam pengelolaan maggot hanya menggunakan sampah berkualitas maka sampah organik yang dihasilkan masyarakat akan terbengkalai. Dalam budidaya maggot, mencampur sampah berkualitas dengan sampah yang kurang baik juga menghasilkan maggot di bawah standar. Produk maggot dengan ukuran di bawah standar tidak dapat dijual dengan mudah. Para pengepul Yulita Jumada Barqah. Pajar Hatma Indra Jaya dan Sri Widayanti Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 190 - 201 menentukan standar ukuran agar produknya dapat memenuhi permintaan industri, bahkan juga maggot yang diekspor. Maggot dengan kualitas di bawah standar mempunyai segmen pasar yang terbatas, seperti untuk pemancing ataupun petani unggas. Pengelola yang mengambil sampah organik dari hotel atau rumah sakit maka akan menghasilkan maggot yang memenuhi standar pasar. Namun jika hal itu dilakukan, terjadi pergeseran sistem maggot yang awalnya dikembangkan untuk mengatasi masalah sampah dari perkampungan tidak akan Namun jika kegiatan maggot hanya mengemban misi sosial maka misi bisnisnya juga tidak Hal ini menjadi dilema bagi pengelola budidaya maggot. Wawancara dengan pengelola budidaya maggot yang berhasil mengekspor maggot sampai ke luar negeri mengatakan: Tujuan bisnis dan tujuan sosial dalam budidaya maggot sulit dicampur, salah satunya pasti ada yang kalah. Ketika budidaya maggot difungsikan untuk menyelesaikan masalah sampah maka maggot yang dihasilkan tidak memenuhi standar kualitas pasar. Ketika kendala tersebut disampaikan ke pemerintah yang seharusnya mengurusi sampah, ternyata pemerintah tidak Dari situ saya akhirnya merubah usaha maggot yang awalnya ada misi sosial menjadi murni bisnis. Informan dari Kandang Maggot Yogyakarta menceritakan bahwa ketika mereka mencampur proyek maggotnya untuk sosial dan bisnis, setiap bulan usahanya minus. Pakan maggot diambil dari membeli sampah dari masyarakat agar sampah tidak dibuang ke sungai. Kandang Maggot juga menyediakan ember dan membeli satu ember sampah dari masyarakat seharga lima ribu rupiah. Namun berat dan jumlah maggot yang dihasilkan dari pakan yang diambil dari masyarakat tidak sesuai teori. Akibatnya setiap bulan kegiatan di Kandang Maggot tidak menghasilkan keuntungan, namun malah minus. Jika hal ini dipertahankan maka kegiatan tidak akan berkelanjutan. Apalagi maggot yang dihasilkan tidak diterima pengepul karena ukurannya yang tidak standar. Ketika terjadi hal yang demikian pemerintah tidak mampu bertindak apa-apa. Oleh karena itu. Kandang Maggot Yogyakarta mengubah orientasi usaha, dari misi sosial menjadi bisnis yang tujuannya mencari Perubahan orientasi bisnis usaha maggot tersebut dilakukan dengan cara mengubah sistem pengambilan sampahnya. Sampah untuk pakan maggot saat ini lebih banyak diambil dari hotel dan rumah sakit dibandingkan diambil dari masyarakat. Sampah dari dua institusi ini menghasilkan maggot yang memenuhi standar pasar. Namun masyarakat sekitar tidak lagi bisa merasakan dampak positif dari kegiatan kandang maggot karena sampah-sampah dari masyarakat dianggap tidak layak sebagai pakan maggot yang berkualitas. Dampak dari perubahan orientasi bisnis sosial. Kandang Maggot akhirnya tidak bisa turut serta dalam menyelesaikan permasalah sampah di lingkungan sekitar dan meningkatkan pendapatan warga. Pelaksanaan dan Keberlanjutan Sociopreneur Serbat Jahe LBF Kegiatan sociopreneur Serbat Jahe LBF diinisiasi oleh pemerintah untuk memberdayakan masyarakat dan mengurangi produksi tuak mabuk di Langko. Kabupaten Lombok Barat. Hal itu dilakukan dengan inovasi dan diversifikasi produk olahan pohon aren yang ada disana. Harga gula aren sebagai produk utama pencaharian masyarakat sering mengalami fluktuasi harga. Ketika harga gula aren jatuh mereka mengalami kerugian. Kerugian dalam waktu lama akan membuat mereka Ketika hal itu terjadi para pembuat gula aren terpaksa beralih profesi untuk membuat tuak mabuk (Jaya et al. , 2. Tuak mabuk merupakan produk yang dilarang diproduksi oleh pemerintah, namun mereka terpaksa membuatnya ketika harga gula aren jatuh. Salah satu informan yang terpaksa membuat nira aren menjadi tuak mabuk mengatakan: Ya gimana, harus putar otak supaya gak terus rugi sebagai petani aren, makanya ada inisiatif bikin tuak mabuk dari nira aren yang seharusnya jadi gula aren, tapi karena harga gula aren terus turun dan kami makin rugi, terpaksa kami buatlah tuak mabuk hasilnya lebih menjanjikan bisa untuk makan dan melanjutkan usaha biar tidak bangkrut, yang sebenarnya ini gak boleh. Yulita Jumada Barqah. Pajar Hatma Indra Jaya dan Sri Widayanti Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 1 - 201 Merespon hal itu pemerintah mengorganisir beberapa orang untuk pengembangan produk turunan dari gula aren. Dilakukan studi banding di beberapa kota di Jawa untuk menemukan produk yang tepat. Akhirnya muncul ide untuk mengolah gula aren menjadi gula semut. Mereka kemudian menambahkan dengan jahe sehingga muncullah produk Serbat Jahe LBF. Produk tersebut diterima pasar, bahkan mampu menembus toko jejaring di Lombok Barat. Serbat Jahe LSB melanjutkan misi sosialnya untuk membantu petani aren. Mereka membuat keputusan membeli gula aren dengan harga standar meskipun harga gula aren di pasar sedang jatuh. Meskipun mereka membeli harga gula aren di atas harga pasar, namun mereka tidak mengalami kerugian. Hal ini karena Serbat Jahe tidak mengalami penurunan harga meskipun harga gula aren sedang turun. Ini sama dengan harga sambal pabrik yang tidak mengalami penurunan meskipun harga cabe turun. Sociopreneur tidak boleh didasarkan pada sikap serakah. Jika sikap serakah ini muncul maka mereka tentu tidak akan bersedia untuk membeli gula aren dengan harga standar ketika harga pasar lebih murah. Dengan membeli gula aren sesuai harga pasar mereka akan mendapatkan keuntungan lebih. Namun karena sejak awal bisnis tersebut didasarkan pada misi sosial maka mereka tetap membeli dengan harga standar. Kegiatan sociopreneur mampu memadukan kegiatan bisnis dan kegiatan sosial. Kegiatan sociopreneur membutuhkan dukungan banyak pihak, mulai dari pemerintah dan dunia usaha lain. Salah satu permintaan serbat gula semut muncul dari hotel dan pihak hotel juga tidak minta penurunan harga ketika mengetahui harga gula aren turun. Para konsumen di toko juga tidak menuntut penurunan harga. Semua pihak mendukung dan memahami bahwa bisnis Serbat Jahe LSB juga mempunyai misi sosial. Disini pentingnya pemerintah untuk ikut mempromosikan bahwa bisnis Serbat Jahe bukan sekedar bisnis biasa, namun juga gerakan membela kesejahteraan para petani gula Gerakan ini juga berkontribusi untuk mencegah para petani agar tidak terjebak pada kegiatan melanggar hukum dengan membuat dan menjual tuak mabuk di pasar gelap. Ketika misi sosial berkorelasi positif dengan kegiatan ekonomi maka kegiatan sociopreneur akan berkelanjutan. Tabel 1. Perbandingan Karakteristik Kegiatan Sociopreneur Jenis Kegiatan Sociopreneur Bank Sampah dan Sedekah Sampah Maggot BSF Serbat Jahe LBF Aktivitas Sosial Mengatasi masalah sampah anorganik di Mengatasi masalah sampah organik di Aktivitas Bisnis Menjual sampah Persoalan yang Harga sampah yang Menjual maggot, menjual telur magot, menjual kasgot Ukuran maggot tidak Membeli gula aren petani dengan harga normal ketika harga Menjual serbat jahe Karakter Perluasan jaringan Sumber: diolah dari data penelitian Pembahasan Tipologi Kegiatan Sociopreneur yang Berkelanjutan Sociopreneur mempunyai empat unsur yang harus ada dalam kegiatannya, yaitu mempunyai tujuan untuk menyelesaikan masalah sosial . ocial valu. , kerja kolaborasi . , aktivitas bisnis . conomic activit. , dan ide baru . (Hulgard, 2. Dengan demikian kegiatan sociopreneur merupakan sebuah ide baru . yang diwujudkan dalam kegiatan yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah sosial yang dihadapi masyarakat, namun juga menghasilkan keuntungan Yulita Jumada Barqah. Pajar Hatma Indra Jaya dan Sri Widayanti Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 190 - 201 Persoalan pokoknya adalah bagaimana aktivitas ekonomi berjalan berbarengan dengan aktivitas sosial sehingga kegiatannya dapat berkelanjutan . Panggabungan kegiatan bisnis dengan kegiatan sosial bukan perkara mudah karena logika keduanya bertentangan secara ektrim. Aktivitas bisnis mempunyai tujuan untuk mengejar keuntungan sebanyak mungkin, sedangkan aktivitas sosial bertujuan untuk membantu orang. Aktivitas bisnis identik dengan kerja mengumpulkan uang, sedangkan aktivitas sosial identik dengan kegiatan nyumbang atau donasi untuk mengeluarkan uang. Di beberapa negara, entitas bisnis sosial yang telah berdiri dan berkembang telah diakui secara hukum sebagai kategori bisnis tersendiri (Anderson, 2. Merujuk pada konsep Lars Hulgard (Hulgard, 2. yang dipadukan dengan temuan dari empat kegiatan sociopreneur yang ada maka unsur yang paling utama adalah aspek ekonomi berupa aktivitas yang menghasilkan untung rugi dan kegiatan social value yang mana ukurannya pada penyelesaikan masalah sosial. Dari perpaduan tersebut dapat tersusun empat tipologi sociopreneur, yaitu: Sociopreneur rugi dan tidak menyelesaikan masalah Sociopreneur tipe ini adalah bisnis sosial yang mati suri atau tidak mampu bertahan, dimana kegiatan yang dilakukan tidak menghasilkan keuntungan ekonomi dan kegiatannya tidak mampu menyelesaikan masalah masyarakat setempat. Hal ini berarti kegiatan usaha model ini mandek dan tidak berkelanjutan. Sociopreneur untung tapi tidak menyelesaikan masalah Sociopreneur tipe ini adalah bisnis sosial yang mampu menghasilakn keuntungan ekonomi, tetapi gagal menjawab permasalahan sosial. Hal ini berarti kegiatan yang dilakukan mampu mendapatkan keuntungan ekonomi dan berdampak pada kesejahteraan pengelolanya, namun tidak berdampak pada penyelesaian satu masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Kegiatan tipe ini dapat bertahan dan berkelanjutan, namun orientasinya berubah ke bisnis. Sociopreneur rugi tapi bisa menyelesaikan masalah Sociopreneur tipe ini adalah bisnis sosial yang tidak/belum menghasilkan keuntungan ekonomi atau sekedar mampu membiayai operasional kegiatan/self-financing, tetapi mampu membentuk tradisi kolaborasi masyarakat untuk bekerjasama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi Tipe ini tidak bisa berkelanjutan kecuali mendapat donasi di luar kegiatan utamanya. Sociopreneur untung dan bisa menyelesaikan masalah Sociopreneur tipe ini adalah bisnis sosial yang paling ideal, dimana kegiatan yang dilakukan mampu menghasilkan keuntungan ekonomi dan mampu berkontribusi terhadap kemakmuran masyarakat Artinya, keuntungan yang diperoleh bisa terdistribusi secara adil kepada pihak-pihak yang berkolaborasi untuk kegiatan bisnis sosial. Dengan kata lain, ini adalah tipe sustainable sociopreneurship, yaitu mampu membentuk tradisi kolaborasi yang selalu berinovasi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan sosial bagi semua pihak secara adil. Kegiatan sociopreneur yang dapat bertahan serta berkelanjutan adalah sociopreneur dengan tipe b dan d yang sama-sama mampu menghasilkan keuntungan ekonomi. Hanya saja sociopreneur tipe b tidak ideal karena kehilangan aktivitas sosialnya. Kegiatan sociopreneur tipe c merupakan kegiatan yang mampu menyelesaikan masalah sosial yang dihadapi masyarakat, namun rawan mengalami ketidakberlanjutan karena pendanaannya tidak mampu dicukupi dari aktivitas utamanya. Kegiatan bank sampah dan sedekah sampah merupakan contoh kegiatan sociopreneur yang kuat unsur inovasinya. Keduanya melakukan inovasi untuk menyelesaikan masalah sampah dengan model pengelolaan bank dan sedekah amal. Kedua kegiatan mampu menyelesaikan masalah sosial sampah yang dihadapi masyarakat. Namun kegiatan keduanya tidak berkelanjutan karena aktivitas ekonominya tidak mampu membiayai aktivitas sosialnya. Kegiatan budidaya maggot pada awalnya didedikasikan sebagai bisnis sosial untuk membantu masyarakat mengurangi sampah organik rumah tangga. Namun pengelolaannya beralih dari kegiatan sosial menjadi kegiatan bisnis, dari mengambil sampah rumah tangga di masyarakat beralih ke sampah organik hotel dan rumah sakit. Hal itu dilakukan karena tuntutan pasar yang memilik standar ukuran Yulita Jumada Barqah. Pajar Hatma Indra Jaya dan Sri Widayanti Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 1 - 201 produk maggot tersendiri. Pengelola sudah berusaha berkomunikasi dengan pemerintah untuk membantu agar kegiatannya tetap bernuansa sosial, namun tidak ada hasil. Padahal pengelola berharap ada andil dari pemerintah dalam menyelesaikan masalah sosial ini agar masalah sampah masyarakat bisa teratasi dengan budidaya maggot. Dari karakter tersebut maka kegiatan budidaya maggot masuk dalam tipologi sociopreneur untung tapi tidak menyelesaikan masalah. Kegiatan sociopreneur Serbat Jahe LSB merupakan sociopreneur yang ideal karena selain berkontribusi dalam menyelesaikan masalah sosial . juga mampu untuk mendatangkan keuntungan ekonomi bagi pengelolanya. Serbat Jahe LSB merupakan aktivitas yang paling memenuhi aspek berkelanjutan. Hal ini karena sociopreneur Serbat Jahe LSB mampu menjalankan aktivitas Serbat jahe LSB menghasilkan output berupa income finansial. Adanya ide inovasi produksi gula aren menjadi Serbat Jahe LSB yang dikemas menarik dan modern juga tahan lama sangat membantu petani gula aren dalam mempertahankan pendapatan mereka. Terlibatnya pemerintah untuk membantu mempromosikan produk Serbat Jahe LSB ini membuat produk tersebut diminati pasar besar, seperti perhotelan. Produksi Serbat Jahe LSB ini akhirnya membuat petani aren di Lombok Barat tidak lagi mengalami kerugian ketika harga gula aren sedang turun dikarenakan produsen Serbat Jahe LSB tetap membeli gula aren dengan harga standar ketika harga gula aren turun. Disinilah kegiatan sosial dalam bisnis Serbat Jahe LSB muncul untuk turut serta mensejahterakan petani gula aren yang didukung oleh pemerintah setempat. Tipologi yang muncul dalam gerakan bisnis Serbat Jahe LSB ini adalah sociopreneur untung dan bisa menyelesaikan masalah. Bisnis sosial seperti inilah yang diharapkan berkembang di Indonesia dimana gerakan bisnis Serbat Jahe LSB ini tidak hanya memikirkan keuntungan pribadi, namun membantu mensejahterakan petani gula aren yang ada di Lombok Barat. Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mensinergikan kesejahteraan di masyarakat, khususnya para petani gula aren di Lombok Barat secara berkelanjutan. Peran Pemerintah untuk Menjaga Keberlanjutan Kegiatan Sociopreneur Aktivitas sociopreneur yang tidak mampu menjalankan aktivitas bisnisnya akan mengalami kesulitan untuk menjaga keberlanjutan kegiatannya, mengalami stagnasi, dan mati. Jika kegiatan tersebut masih bertahan, hal ini dikarenakan masyarakat masih merasa bahwa ada beberapa peran pada aspek sosial yang manfaatnya masih dirasakan masyarakat. Namun kegiatan sociopreneur semacam itu lama kelamaan akan mati juga, kecuali dilakukan perubahan. Jika kegiatan sociopreneur sudah tidak mampu menghasilkan keuntungan dari kegiatan utamanya maka perlu dilakukan perubahan orientasi dengan mengubah kegiatannya sebagai kegiatan sosial yang bersifat nirlaba. Pengelola mempunyai tugas untuk mencari mitra yang bersedia memberikan pendanaan . dalam misi sosial mereka. Mencari pendanaan yang sesuai merupakan tugas yang menantang dan memerlukan kemampuan dalam mengkomunikasikan ide. Lembaga yang potensial menjadi mitra pemberi dana misi sosial adalah perusahaan bisnis dalam bentuk program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Setiap perusahaan yang baik mempunyai konsep keseimbangan antara people, planet, dan profit yang disebut prinsip triple bottom line dan diimplemantasikan dalam kegiatan CSR (Batra, 2. Kegiatan CSR berbeda dengan kegiatan sociopreneur yang mencampurkan aktivitas bisnis dan sosial dalam satu kegiatan. Kegiatan CSR merupakan kegiatan yang sejak awal bertujuan untuk membiayai kegiatan sosial, sedangkan sociopreneur merupakan aktivitas yang menggabungkan aktivitas sosial sekaligus aktivitas bisnis dalam satu kegiatan. Jika perusahaan sudah terlibat untuk mendukung pendanaan suatu kegiatan maka pengelola aktivitas sociopreneur bisa berubah menjadi organisasi sosial atau nirlaba. Jika sudah berubah menjadi organisasi sosial maka aktivitasnya dapat berkelanjutan jika ia didukung oleh pendanaan atau hibah atau sumbangan atau penggalangan dana dari luar . Meskipun ada juga kegiatan sosial yang berusaha untuk mendanai kegiatannya sendiri, namun pada prinsipnya kegiatan yang mereka lakukan tidak bertujuan untuk mendapatkan keuntungan . Hal ini tentu sesuai dengan namanya sebagai lembaga yang bergerak di bidang sosial atau sering disebut sebagai organisasi nirlaba yang membutuhkan dukungan dari masyarakat. Yulita Jumada Barqah. Pajar Hatma Indra Jaya dan Sri Widayanti Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 190 - 201 Sociopreneur yang dibutuhkan masyarakat, namun tidak mampu menjalankan aktivitas bisnisnya perlu didukung pemerintah. Dilihat dari upaya keberlanjutan sociopreneur seperti Bank Sampah dan Sedekah Sampah. Budidaya Maggot, dan Serbat Jahe LSB, ternyata tidak semua sociopreneur dapat langsung menjadi contoh dalam mengentaskan masalah sosial di masyarakat. Dukungan dan pendampingan yang kurang dari pemerintah menjadi salah satu faktor terhambatnya sociopreneur berkembang dan maju menjadi pilot project dalam mengatasi masalah sosial. Bagaimanapun menyelesaikan masalah sosial seperti kemiskinan dan sampah, meskipun terdapat tanggungjawab masyarakat, pada umumnya ada bagian dari pemerintah yang diberikan mandat dan kewenangan untuk menyelesaikannya. Jika kegiatan sociopreneur belum sehat secara finansial, maka pemerintah perlu hadir memberikan intervensi langsung ataupun tidak langsung sehingga aktivitas sociopreneur dapat terdanai (Jaya & Khidhriyah, 2. Pemerintah dapat berperan dalam upaya memberikan dukungan keuangan atau regulasi yang mendukung sociopreneur untuk maju dan berkembang. Jika saja pengusaha dan pemerintah dapat bergandengan tangan dalam menjalankan sociopreneur maka masalah-masalah sosial dapat dibantu untuk diselesaikan bersama. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa kegiatan sociopreneur dapat bertahan dan berkelanjutan jika aktivitas bisnisnya dapat berjalan dengan baik. Kegiatan sociopreneur berkelanjutan jika mampu memberikan manfaat ekonomi bagi pengelolanya. Kegiatan yang mampu memberikan manfaat ekonomi . ini akan menjamin bahwa program dapat berkelanjutan. Jika aktivitas bisnis dari kegiatan sociopreneur berjalan maka aktivitas sosialnya juga berjalan. Namun tidak demikian dengan aktivitas sosial, jika aktivitas sosial jalan, namun aktivitas bisnisnya tidak jalan maka kegiatan tersebut lama kelamaan akan mati. Temuan penelitian ini berbeda dengan keyakinan selama ini yang menganggap bahwa kegiatan sociopreneur mensyaratkan aktivitas sosial dan bisnis harus dijalankan secara seimbang dan bareng. Selain aspek ekonomi . sociopreneur membutuhkan empat aspek yang perlu jalan agar program dapat berkelanjutan. Empat aspek tersebut adalah inovasi, kolaborasi, menyelesaikan masalah sosial, dan mendapatkan profit. Penelitian ini menemukan bahwa semua aktivitas sociopreneur memenuhi unsur inovasi, kolaborasi, dan menyelesaikan masalah sosial, namun tidak semua aktivitas sociopreneur memenuhi unsur profit. Ketidakmampuan memenuhi unsur profit ini membuat aktivitas sociopreneur tidak berkembang dan akhirnya mati suri. Ukuran profit ini minimal mampu mencukupi kebutuhan para pengelola dan karyawannya. Jika hal itu tidak terjadi maka kegiatan sociopreneur rawan Dengan demikian bertahannya kegiatan sociopreneur ditopang secara deterministik oleh basis ekonomi dalam artian aktivitas bisnis yang berjalan secara sehat dan menghasilkan profit. Sociopreneur yang aspek bisnisnya mati biasanya masih bisa bertahan, namun tidak berkembang. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut masih mampu mempertahankan fungsi sosial dan kolaborasi. Beberapa kegiatan masih bertahan karena kegiatan itu mampu menjadi katup yang menjadi ajang kumpul Namun demikian sociopreneur yang tidak mampu memenuhi aspek bisnis sangat rawan terhadap guncangan yang timbul. Temuan ini memberikan perspektif baru dalam melihat sociopreneur. Dengan adanya perspektif baru ini peneliti memberikan masukan bahwa untuk menjalankan kegiatan sociopreneur yang paling urgen adalah kegiatan untuk menyehatkan aktivitas bisnis terlebih dahulu. Jika aktivitas bisnisnya sehat, aktivitas sosialnya otomatis berjalan karena kegiatan sociopreneur pasti dimulai dari niat untuk menyelesaikan masalah. Niat mulia untuk menyelesaikan masalah sosial tersebut harus didukung aktivitas bisnis yang sehat. Saran Berdasarkan temuan bahwa kegiatan sociopreneur dapat bertahan dan berkelanjutan jika aktivitas bisnisnya dapat berjalan dengan baik maka penelitian ini memberikan saran kepada orang-orang yang akan menjalankan kegiatan sociopreneur untuk lebih fokus memperhatikan aspek kesehatan bisnisnya. Kegiatan sociopreneur tidak harus menjalankan aktivitas sosial dan bisnis berjalan secara seimbang dan Yulita Jumada Barqah. Pajar Hatma Indra Jaya dan Sri Widayanti Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah. Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 1 - 201 bareng sebagaimana konsep selama ini, namun dapat lebih fokus ke aktivitas bisnis. Hal ini dikarenakan aspek bisnis menjaga keberlanjutan kegiatan sosialnya. Jika kegiatannya sociopreneur yang dijalankan tidak mampu menjaga kesehatan aspek bisnisnya, maka lebih baik kegiatannya dirubah menjadi kegiatan sosial yang keberlanjutan programnya tergantung dari donasi. Ucapan Terima Kasih: Peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua informan dan juga semua pihak yang terlibat dan berperan dalam penelitian dan penulisan artikel ini, terutama kepada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang memberi ruang dalam mendiskusikan temuan-temuan penelitian terutama di kajian Community Development yang merupakan salah satu cabang keilmuan dari Pekerjaan Sosial. Daftar Pustaka