Perawatan ODGJ Di Rumah Dengan Masalah Gangguan Halusinasi Melyza . Renda Alghoniy Saputri . Presti Marsyandah . Puja Enjelina . Shevi Deonina Putri . Sasi Sugianto . Ade Herman Surya Direja . 1,2,3,4,5,6,. STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu Email: . zamely@gmail. 4 enjelinapuja350@gmail. 2 Rendaalgoni@gmial. 3 fmarsyandah@gmail. 5 shevideonitaputri21@gmail. com 6 sasisugianto2023@icloud. Adehermansuryadireja@gmail. ARTICLE HISTORY Received . December 2. Revised . Januari 2. Accepted . Januari 2. KEYWORDS Pengetahuan. Halusinasi. Dukungan. Keluarga. Kemampuan. Mengontrol This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Halusinasi merupakan persepsi dimana individu tidak mampu membedakan antara persepsi nyata dengan tidak nyata, menyebabkan individu akan kehilangan kontrol akan dirinya. Keluarga memiliki pengaruh dalam kesembuhan atau kekambuhan pasien apabila keluarga belum memiliki pengetahuan yang baik mengenai perawatan halusinasi dan dukungannya pada pasien saat mengontrol halusinasi. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan hubungan pengetahuan keluarga tentang perawatan halusinasi dan dukungan keluarga terhadap kemampuan pasien mengontrol Metode yang digunakan yaitu menyeleksi artikel dari berbagai sumber dengan menggunakan Teknik PICO lalu di sesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah di tentukan yaitu artikel terpublikasi maksimal 5 tahun . 6 Ae 2. , artikel full teks, menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa inggris, tema artikel pengetahuan keluarga tentang merawat halusinasi dan dukungan keluarga terhadap kemampuan mengontrol halusinasi. Berdasarkan analisis artikel disimpulkan bahwa kemampuan pasien mengontrol halusinasi di pengeruhi oleh pengetahuan keluarga tentang merawat anggota keluarganya yang mengalami halusinasi dan adanya pemberian dukungan keluarga yang baik untuk pasien. Saran : keluarga secara mandiri merawat pasien dengan halusinasi, di rekomendasikan masuk dalam intervensi asuhan ABSTRACT Hallucinations are perceptions where individuals are unable to distinguish between real and unreal perceptions, causing individuals to lose control of themselves. The family has an influence on the patient's recovery or recurrence if the family does not have good knowledge about hallucinations treatment and support for patients when controlling hallucinations. The purpose of this study was to explain the relationship between family knowledge about hallucinations treatment and family support on the patient's ability to control hallucinations. The method used is to select articles from various sources using the PICO technique and then adjust them to the inclusion and exclusion criteria that have been determined, namely articles published for a maximum of 5 years . 6 Ae 2. , full 278 text articles, using Indonesian and English, the theme of the article. family knowledge about treating hallucinations and family support for the ability to control hallucinations. Based on the analysis of the article, it was concluded that the patient's ability to control hallucinations was influenced by family knowledge about caring for family members who experienced hallucinations and the provision of good family support for PENDAHULUAN Gangguan jiwa adalah gangguan pada fungsi mental, yang meliputi emosi, pikiran, perilaku, motivasi daya tilik diri dan persepsi yang menyebabkan penurunan semua fungsi kejiwaan terutama minat dan motivasi sehingga mengganggu seseorang dalam proses hidup di masyarakat (Adianta and Putra, 2. Halusinasi merupakan salah satu dari gangguan jiwa dimana seseorang tidak mampu membedakan antara kehidupan nyata dengan kehidupan palsu. Dampak yang muncul dari pasien dengan gangguan halusinasi mengalami panik, perilaku dikendalikan oleh halusinasinya, dapat bunuh diri atau membunuh orang, dan perilaku kekerasan lainnya yang dapat membahayakan dirinya maupun orang disekitarnya (Rahmawati, 2. Menurut data WHO . , dari keseluruhan penduduk dunia sebanyak 25% orang mengalami gangguan jiwa dan angka ini cukup terbilang tinggi dengan sebanyak 1% mengalami gangguan jiwa Selanjutnya pada tahun 2013 sampai 2015 Dinas Kesehatan melakukan pendataan dimana orang dengan gangguan jiwa mengalami peningkatan sebanyak 5. 112 jiwa. Indonesia merupakan negara dengan angka gangguan jiwa yang relative tinggi dari jumlah total populasi orang dewasa. Jika ada 000 orang dewasa maka sebanyak 15. 000 atau 6,0% orang Indonesia mengalami gangguang jiwa (Damanik, 2. Halusinasi yang dialami oleh individu dapat disebabkan oleh faktor presipitasi dan predisposisi. Didukung dengan berbagai penyebabnya seperti . faktor biologis, . faktor pola asuh orang tua, . lingkungan, . sosial budaya, . ekonomi, dan . Individu yang mengalami halusinasi jika tidak dapat mengontrolnya maka klien akan melakukan perilaku yang dapat membahayakan dirinya, orang lain, dan juga lingkungannya. Oleh karena itu dengan adanya pemberian Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 3 No. 1 Januari 2024 page:115Ae120 | 115 asuhan keperawatan yang bertujuan agar penderita halusinasi bisa menjalani kehidupan nyata pasien maka perlu dilakukan bersamaan dengan adanya dukungan dari orang Ae orang terdekat dari pasien seperti keluarga, teman dekat, maupun lingkungannya. Keikutsertaan keluarga dalam pendampingan, pengawasan serta pemberi dukungan terhadap pasien dengan halusinasi sangatlah penting dan dapat membantu proses penyembuhan serta terapinya. Keluarga seharusnya memahami bagaimana merawat anggota keluarganya yang mengalami gangguan halusinasi karena keluarga merupakan orang terdekat dengan pasien yang dapat memberikan perawatan selain yang dilakukan oleh tenaga medis di rumah sakit. Menurut (Sarahwati, 2. keluarga harus dilibatkan dalam proses penyembuhan dari penderita gangguan halusinasi, tentu saja dengan perlunya pendidikan, bimbingan dan pelatihan sehingga dapat mengoptimalkan peran keluarga dalam merawat penderita gangguan halusinasi. Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah 2021 didapatkan jumlah pasien yang datang dengan amuk dan terdiagnosa halusinasi terhitung 3 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2020 sebanyak 96 pasien, bulan November sebanyak 144 pasien, dan mengalami lonjakan tinggi pada bulan Desember sebanyak 221 pasien, maka total pasien halusinasi yang telah diterima oleh RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah sebanyak 461 pasien. Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa kepala ruang hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman serta dukungan keluarga terhadap pasien dengan gangguan halusinasi sehingga pasien yang telah pulang ke rumah di bawa kembali karena mengalami amuk atau kekambuhan. METODE Desain penelitian dengan literature review dimana peneliti harus melakukan pencarian literature secara mendalam, detail, dan teliti. Tujuan literature review memberikan gambaran mengenai penelitian sebelumnya untuk di kolaborasikan dengan gambaran peneliti atau pengarang saat ini sebagai pandangan baru dalam sebuah penelitian (Ramdhani. Ramdhani and Amin, 2. Pencarian literature dapat dilakukan dengan penelusuran artikel atau jurnal publikasi Google Scholar. Comprehensive Health Care, dan Scitepress. Pencairan literature dilakukan dengan memasukkan kata kunci Pengetahuan Keluarga. Perawatan Pasien Halusinasi. Dukungan Keluarga dan Kemampuan Mengontrol Halusinasi. Langkah selanjutnya setelah melakukan pencarian literature yaitu menyeleksi artikel dengan Teknik PICO dan menyesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah di pubelikasikan maksimal 5 tahun . 6 Ae 2. , menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, artikel tersedia dalam bentuk full text, tema dari artikel yaitu Pengetahuan Keluarga. Perawatan Pasien Halusinasi. Dukungan Keluarga dan Kemampuan Mengontrol Halusinasi HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan penyuluhan kesehatan ini dilakukan senin 16 oktober 2023 di rumah Tn A. Desa Talang Empat kecamatan karang tinggi. Kabupaten Bengkulu Tengah, pukul 09-selesai. Pada kegiatan ini di ikuti 1 orang keluarga Tn A dan Tn A yg di awali dengan pembukaan, tim memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan diadakannya kegiatan ini. Pada kegiatan penyuluhan ini kepada pasien kami di bantu oleh keluarga pasien karena bahasa yang digunakan pasien termasuk susah untuk dimengerti, alhamdulillah keadaan pasien bersih, sehat, tidak memberontak dan menerima penyuluhan ini dengan Gambar 1. penyuluhan kesehatan dengan ganguan halusinasi di Rumah Tn A,Desa Talang Empat Kecamatan Karang tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah. Kegiatan ini berlangsung dengan lancar, dimana Tn A dapat hadir. Setelah pemberian materi , keluarga pasien memiliki antusias untuk bertanya tentang Halusinasi. 116 | Melyza. Renda Alghoniy Saputri. Presti Marsyandah. Puja Enjelina. Shevi Deonina Putri. Sasi Sugianto. Ade Herman Surya Direja. Perawatan ODGJ Di Rumah. Kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasinya dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, antara lain : pasien mengenal halusinasi yang dialaminya, pasien memiliki keinginan untuk sembuh, sikap pasien dalam menerima terapi, keterbukaan pasien dalam. Dapat dilihat bahwa dukungan keluarga memiliki cukup andil dalam kemampuan pasien mengontrol halusinasi. Kemampuan pasien mengontrol halusinasi dan kesembuhan pasien bukan hanya ditentukan dari seberapa sering pasien minum obat atau intervensi lainnya dari pihak tenaga Kesehatan, akan tetapi turut sertanya keluarga dalam membantu pengobatan pasien juga menentukan kemampuan mengontrol halusinasi dan kesembuhan pasien (Andika, 2. Kemampuan Pasien Mengontrol Halusinasi Kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi menurut (Utami and Puji Rahayu, 2. di pengaruhi oleh faktor internal dimana ha ini ditentukan dari diri pasien itu sendiri, bagaimana sikap dan respon pasien serta sejauh mana pemahaman pasien mengenai halusinasi. seperi pasien mampu mengenai halusinasinya sendiri, pasien memiliki untuk sembuh, keterbukaan pasien menyampaikan isi halusinasi atau apa yang pasien alami, dan respon atau sikap pasien dalam menghadapi halusinya apabila muncul. Selain factor internal, peneliti juga menerangkan adanya factor eksternal yang mempengaruhi kemampuan mengontrol pasien seperti pengetahuan dan dukungan yang ada pada keluarga pasien, lingkungan tempat tinggal pasie, dan asuhan keperawatan. memberikan informasi terkait halusinasi yang sedang dialami, pengetahuan dan dukungan dari keluarga pasien, lingkungan tempat tinggal pasien, dan asuhan keperawatan dari layanan Kesehatan. Dalam penelitian literature review ini, peneliti melakukan studi literatur pada 8 artikel guna mengetahui adanya hubungan pengetahuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi di rumah serta dukungan keluarga dengan bagaimana kemampuan klien dalam mengontrol gangguan halusinasinya. Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Pasien Halusinasi Keluarga merupakan garda terdepan dalam pengawasan, pendampingan, dan pengayom dalam tatanan bermasayarakat. Sesuai dengan salah fungsi keluarga yaitu perawatan Kesehatan, dalam hal ini apabila ada dari salah satu anggota keluarga mengalami gangguann halusinasi maka keluarga harus memiliki pengetahuan, atau pemahaman mengenai bagaimana merawat anggota keluarganya. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Rahmi, 2. tingkat pengetahuan keluarga masih rendah, hal ini dipengaruhi oleh masih kurangnya pengalaman keluarga dalam merawat orang dengan halusinasi, pendidikan dari anggota keluarga, ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Sehingga keluarga yang memiliki pengetahuan yang rendah ini akan mengalami kecemasan yang mengakibatkan stressor tersendiri pada keluarga. Sangat di perlukan adanya Pendidikan Kesehatan atau health education bagi keluarga selepas pasien keluar dari rumah sakit jiwa, dan hal pemberian edukasi ini juga dilakukan secara bertahap dan Keluarga akan diberikan informasi sejelas Ae jelasnya mengenai isi halusinasi pasien. SP Keluarga untuk pasien, perawatan seperti apa bagi pasien dengan halusinasi seperti alat makan yang cocok untuk pasien dimana tidak melukai atau membahayakan pasien, pasien memiliki aktivitas yang terjadwal sehinggal tidak sering berhalusinasi, dan melatih pasien untuk menghardik apabila halusinasi kembali muncul. Pendidikan Kesehatan juga bermanfaat untuk mengidentifikasi masalah Ae masalah yang muncul dalam proses merawat pasien. Kemampuan psikomotor dan berfikir keluarga pun akan meningkat sejalan dengan baiknya pengetahuan keluarga. Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 3 No. 1 Januari 2024 page:115Ae120 | 117 Dukungan Keluarga Pemberian dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pasien dalam mengontrol gangguan halusinasi, penelitian keterkaitan pemberian dukungan keluarga dengan kemampuan pasien mengontrol halusinasi. Menurut (Andika, 2. menerangkan dukungan keluarga merupakan penyangga bagi kesembuhan pasien, dimana pasien merasa diperhatikan, adanya kasih sayang menimbulkan kepercayaan diri dalam diri pasien dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Peneliti (Sumah, 2. juga meneliti adanya hubungan dukungan keluarga dengan kemampuan pasien mengontrol halusinasi, dalam penelitiannya peneliti menemukan apabila keluarga memberikan dukungannya kepada pasien maka tingkat kesembuhan pasien juga meningkat begitu juga sebaliknya apabila dukungan keluarga kurang maka pasien akan kehilangan kontrol akan halusinasinya dan sering mengalami kekambuhan. Dukungan yang dapat diberikan keluarga antara lain, dukungan emosional dimana keluarga memberikan kasih sayang, perhatian secara terkhusus kepada pasien, rasa saling percaya, dan mendengarkan apa yang pasien rasakan, selanjutnya ada dukungan informasional yang diberikan keluarga sebagai upaya untuk memberikan informasi secara jelas kepada pasien terkait halusinasinya, disini juga keluarga mengarahkan dan memberikan nasehat kepada pasien terkait informasi yang dibutuhkan oleh pasien. Dukungan yang ketiga ada dukungan instrumental, dalam proses perawatan pasien dengan halusinasi keluarga memfasilitasi pasien seperti tempat tinggal, transportasi pasien menuju pelayanan Kesehatan terdekat, dan kebutuhan pasien lainnya yang digunakan di rumah. Selanjutnya ada dukungan penilaian atau penghargaan, peneiliti (Nurlela. Harfika and Novitasari, 2. menyampaikan pada dukungan ini pasien akan mengamati kegiatan yang dilakukan keluarga sebagai bentuk adaptasinya di lingkungan sosial , dalam hal ini pasien akan merasa diakui dan kepercayaan akan dirinya kembali. Dapat dilihat bahwa dukungan keluarga memiliki cukup andil dalam kemampuan pasien mengontrol halusinasi. Kemampuan pasien mengontrol halusinasi dan kesembuhan pasien bukan hanya ditentukan dari seberapa sering pasien minum obat atau intervensi lainnya dari pihak tenaga Kesehatan, akan tetapi turut sertanya keluarga dalam membantu pengobatan pasien juga menentukan kemampuan mengontrol halusinasi dan kesembuhan pasien (Andika, 2. Kemampuan Pasien Mengontrol Halusinasi Kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi menurut (Utami and Puji Rahayu, 2. di pengaruhi oleh faktor internal dimana ha ini ditentukan dari diri pasien itu sendiri, bagaimana sikap dan respon pasien serta sejauh mana pemahaman pasien mengenai halusinasi. seperi pasien mampu mengenai halusinasinya sendiri, pasien memiliki untuk sembuh, keterbukaan pasien menyampaikan isi halusinasi atau apa yang pasien alami, dan respon atau sikap pasien dalam menghadapi halusinya apabila muncul. Selain factor internal, peneliti juga menerangkan adanya factor eksternal yang mempengaruhi kemampuan mengontrol pasien seperti pengetahuan dan dukungan yang ada pada keluarga pasien, lingkungan tempat tinggal pasie, dan asuhan keperawatan. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Utami and Puji Rahayu, 2. seberapa lama pasien di rawat di rumah sakit jiwa apabila factor eksternalnya tidak mendukung maka kemampuan mengontrol halusinasinya juga belum tentu baik. Dan apabila factor internal dan eksternal ini berdampingan pada pasien, maka kesembuhan pasien akan meningkat dan kekambuhan yang dialami pasien akan jauh KESIMPULAN DAN SARAN Artikel yang membahas mengenai pengetahuan keluarga dalam merawat pasien dengan gangguan halusinasi dinilai perlu adanya pendampingan dan pengawasan jangka Panjang oleh tenaga medis RSJ/Yankes terdekat. Pemberian health education yang selalu terupdate bagi keluarga membuat keluarga tahu bagaimana perawatan pasien dengan gangguan halusinasi di rumah dengan baik dan Dukungan keluarga meliputi : dukungan emosional, dukungan informasional, dukungan instrumental, dan dukungan penilaian/penghargaan. Kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi salah satunya dipengaruhi oleh adanya dukungan yang diberikan oleh keluarga, semakin baik keluarga memberikan dukungannya maka semakin mampu juga pasien dalam mengontrol halusinasinya. Kemampuan pasien untuk mengontrol halusinasi bukan hanya di tentukan dari seberapa lama asuhan keperawatan yang pasien terima, akan tetapi adanya factor internal dan eksternal yang saling beriringan sehingga tingkat kekambuhan pasien menurun dan kemampuannya dalam mengontrol halusinasi meningkat. 118 | Melyza. Renda Alghoniy Saputri. Presti Marsyandah. Puja Enjelina. Shevi Deonina Putri. Sasi Sugianto. Ade Herman Surya Direja. Perawatan ODGJ Di Rumah. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis hendak menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah memberikan dukungan selama proses analisi artikel penelitian. DAFTAR PUSTAKA