Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 PENGARUH PUPUK SP-36 DAN PUPUK KCl TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG HIJAU (Solanum melongenaL. ) VARIETAS PATRIOT F1. Heni Indra Sari1. Marisi Napitupulu2. Hery Sutejo3. Puji Astuti4. Noor Jannah5 1,2,3,4,5 Fakultas Pertanian. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Indonesia. Jl Ir. Juanda No. 80 Samarinda. KP 75124. E-Mail: sari185009016@untag-smd. id (*Corresponding autho. Submit: 13-02-2024 Revisi: 19-03-2025 Diterima: 08-04-2025 ABSTRAK Pengaruh Pupuk Sp-36 Dan Pupuk KCl Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Terung Hijau (Solanum melongena L. ) Varietas Patriot F1. Terung merupakan komoditas pertanian yang penting dibutuhkan di Indonesia, hal ini disebabkan karena terung mempunyai kandungan gizi cukup lengkap dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pupuk SP-36 dan pupuk KCl serta interaksinya, terhadap hasil tanaman terong hijau, dan juga untuk memperoleh dosis pupuk SP-36 dan dosis pupuk KCl yang tepat untuk memperoleh hasil tanaman terong hijau tertinggi. Penelitian dilaksanakan di Desa Ujoh Bilang. Kecamatan Long Bagun. Kabupaten Mahakam Ulu. Pada bulan Juli-November 2022. Penelitian menggunakan rancangan percobaan dengan analisis faktorial 3 x 3 dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 kali ulangan. Terdiri atas 2 faktor perlakuan. Faktor I. Dosis Pupuk SP-36 (P) terdiri dari 3 taraf yaitu: tanpa pupuk SP-36 atau kontrol . , dosis pupuk 150 kg/ha atau setara dengan 12 g/polibag . , dan dosis pupuk 300 kg/ha atau setara dengan 24 g/polibag . Faktor II. Pupuk KCl (B)) terdiri atas 4 taraf, yaitu: tanpa pupuk SP-36 atau kontrol . , dosis pupuk 100 kg/ha atau setara dengan 8 g/polibag . , dosis pupuk 200 kg/ha atau setara dengan 16 g/polibag . , dan dosis pupuk 300 kg/ha setara dengan 24 g/polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk SP-36 tidak berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga dan umur saat panen. Berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman dan berat buah pertanaman. Perlakuan pupuk KCl berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga, umur saat panen dan jumlah buah per tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi Interaksi perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Kata kunci : Pupuk SP-36. Pupuk KCl. Terung hijau. ABSTRACT Effect of SP-36 Fertilizer and KCl Fertilizer on Growth and Yield of Green Eggplant (Solanum melongena ). Patriot F1 Variety. Eggplant is an important agricultural commodity needed in Indonesia, due to its relatively complete nutritional content and high economic value. The purpose of the study was to determine the effect of SP-36 fertilizer and KCl fertilizer and their interactions, on the yield of green eggplant plants, and also to obtain the right dose of SP-36 fertilizer and KCl fertilizer to obtain the highest yield of green eggplant The research was conducted in Ujoh Bilang Village. Long Bagun District. Mahakam Ulu Regency. July-November 2022. The study used an experimental design with a 3 x 3 factorial analysis in a Complete Randomized Design (RAL), with 4 replicates. It consists of 2 treatment factors. Factor I. SP-36 Fertilizer Dosage (P) consists of 3 levels, namely: without SP-36 fertilizer or control . , fertilizer dose of 150 kg/ha or equivalent to 12 g/polybag . , and fertilizer dose of 300 kg/ha or equivalent to 24 g/polybag . Factor II. KCl Fertilizer (B)) consists of 4 levels, namely: without SP-36 fertilizer or control . , fertilizer dose of 100 kg/ha or equivalent to 8 g/polybag . , fertilizer dose of 200 kg/ha or equivalent to 16 g/polybag . , and fertilizer dose of 300 kg/ha equivalent to 24 g/polybag. The results showed that the treatment of SP-36 fertilizer had no real effect on the age of flowering and the age of harvest. It had a significant effect on the plant height. It had a very significant effect on plant height and fruit weight per plant. KCl fertilizer treatment had a significant effect on the age of flowering, the age of harvest and the number of fruits per plant. It has a very real effect on plant height. The interaction of treatments had no significant effect on plant height. Key words : Green Eggplant. KCl Fertilizer. SP-36 Fertilizer. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pengaruh Pupuk SP-36 A PENDAHULUAN Terung (Solanum melongena L. merupakan komoditas pertanian yang penting dibutuhkan di Indonesia, hal ini disebabkan karena terung mempunyai kandungan gizi cukup lengkap dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Biasanya digunakan sebagai bahan makanan, bahan terapi, dan bahan kosmetik alami. Tanaman terung banyak mengandung kalium dan vitamin A yang dapat berguna bagi tubuh. Komposisi kimia terung per 100 gram yaitu air 92,70 abu . 0,60 gram. besi 0,60 karbohidrat 5,70 gram. lemak 0,20 serat 0,80 gram. kalori 24,00 kal. fosfor 27,00 mg. kalium 223,00 mg. kalsium 30,00 mg. protein 1,10 gram. natrium 4,00 mg. vitamin B3 0,60 mg. vitamin B2 0,05 mg. vitamin B1 10,00 vitamin A 130,00 SI. dan vitamin C 5,00 mg Direktorat Gizi. Terung juga mengandung banyak vitamin dan gizi yang tinggi, seperti vitamin B-kompleks, thiamin, pyridoxine, riboflavin, zat besi, phosphorus, manganese, dan potassium (Hendri et al. , 2015. Kering, 2024. Oktaviani, 2. Tanaman terung merupakan salah satu sayuran yang cukup popular dan digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Buah terung yang masih muda selain enak untuk dijadiakan sayuran dan lalapan, juga mengandung gizi yang cukup tinggi dan komoditas terung sangat potensial untuk dikembangkan secara intensif dalam skala agribisnis sekaligus menyumbang cukup besar terhadap keanekaragaman pangan bergizi bagi penduduk (Rina et al. , 2019. Maisarah B. Syafruddin, 2. Pemeliharaan tanaman Terung (Solanum melongena L. ) diantaranya Pemupukan merupakan upaya memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman. Kebutuhan unsur hara dapat di penuhi dilakukan dengan cara melakukan pemupukan menggunakan Sari et al. pupuk organik (Marsono dan Lingga. Pemupukan dilakukan dengan cara memberikan pupuk. Pupuk terbagi dua kelompok berdasarkan bentuk pupuk yaitu pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat dalam aplikasinya sebagai besar dilakukan dengan cara pemberian pada tanah dan membutuhkan waktu untuk dimanfaatkan dalam proses fotosintesis. Sedangkan pupuk cair aplikasinya dapat langsung disemprotkan pada bagian tanaman, terutama pada bagian daun yang mana pada bagian daun tersebut terdapat stomata yang merupakan tempat proses Sehingga dalam penyediaan unsur hara pada tanaman dapat tercukupi dalam waktu singkat (Alfiandi et al. , 2022. Jasmi et al. , 2. Tujuan penelitian adalah Untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk SP - 36 dan pupuk KCl serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Terung Hijau (Solanum melongena L). Untuk mengetahui dosis pupuk SP-36 dan dosis pupuk KCl yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Terung Hijau (Solanum melongena L. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Desa Ujoh Bilang. Kecamatan Long Bagun. Kabupaten Mahakam Ulu. Pada bulan Juli-Nopember 2022. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah benih tanaman Terung Hijau (Varietas Patriot F. , pupuk SP-36, pupuk KCl dan polibag 35 cm x 45cm. Alat yang digunakan adalah cangkul, sabit, timbangan, pisau, turus ukuran 150 cm, kamera, hand sprayer, karung plastik, meteran, kertas, tali raffia, sarlon, dan alat tulis. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Rancangan Penelitian Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial 3 x 4 yang di ulang sebanyak 4 kali. Faktor-faktor perlakuan, yaitu Faktor I. Dosis Pupuk SP-36 (P) yang terdiri dari 3 taraf, yaitu : p0 = 0 g/polibag . p1 = 150 kg/ha setara dengan 12 g/polibag p2 = 300 kg/ha setara dengan 24 g/polibag ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Faktor II. Dosis Pupuk KCl (B) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: b0 = tanpa pupuk KCl . b1 = 100 kg KCl/ha setara dengan 8 g b2 = 200 kg KCl/ha setara dengan 16 g polibag-1 b2 = 300 kg KCl/ha setara dengan 24 g Kombinasi penelitian sebagai berikut Tabel 1. Kombinasi Perlakuaan dalm Penelitian. Perlakuan p0 b0 p0 b1 p0 b2 p1 b0 p1 b1 p1 b2 p2 b0 p2 b1 p2 b2 p3 b0 p3 b1 P3 b2 Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 4 kali, sehingga jumlah satuan penelitian menjadi 3 x 4 x 4 = 48 buah Prosedur Pelaksanaan Penelitian Persiapan Lahan Pembuatan media tanam Tanah yang dijadikan media tanam adalah tanah top soil, yang diambil disekitar tempat penelitian. Tanah dicampur jadi satu, dicampurkan secara merata, kemudian dipisahkan dari kotoran seperti rumput, akar, kayu dan memperoleh tanah yang seragam dan bebas dari kotoran lainnya. Tanah yang telah dicampurkan pestisida furadan 3 gram dan di biarkan selama tiga hari. Pengisian tanah di polibag Tanah Topsoil yang telah dicampurkan dengan Furadan 3 gram tersebut, polibag dengan ukuran 45x35 cm dengan berat tanah 10 kg. Jumlah polibag yang disiapkan berjumlah 48 Kemudian polibag disusun dilokasi penelitian sesuai dengan tata Lahan berukuran 10 m x 15 m dibersihkan dari kotoran dan gulma meletakkan polibag. Penyemaian Benih Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyemaian benih terung adalah sebagai berikut : Seleksi Benih Benih terung yang diperoleh dengan cara membeli benih siap tanam harus diseleksi terlebih dahulu karena biasanya terdapat benih yang keriput. Seleksi benih dilakukan dengan cara merendam biji dalam air. Biji-biji yang baik akan tenggelam, sedangkan biji-biji yang keriput akan mengambang. Biji-biji yang keriput ini harus dibuang karena tidak akan dapat tumbuh atau kecambah. Perendaman Benih Dalam Air Hangat Dan Desinfektan Perendaman benih dalam air hangat This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pengaruh Pupuk SP-36 A merangsangnya perkecambahan benih dan seragam setelah benih disemaikan. Desinfektan meningkatakan daya tahan benih atau mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit sehingga dapat tumbuh dengan Benih terung direndam dalam air hangat selama empat jam. Benih yang telah direndam kemudian ditiriskan. Pemeraman Benih Pemeraman benih bertujuan untuk mengecambahkan benih sebelum disemai. Pemeraman benih terung sebenarnya dapat tidak dilakukan, namun sebaiknya dilakukan karena langkah ini merupakan seleksi benih sebelum disemai. Dengan pemeraman benih, hanya benih-benih yang berkecambah yang akan ditanam atau disemaikan. Selain itu, pemeraman membuat perkecambahan benih terjadi lebih cepat yaitu antara 1-2 hari. Penanaman benih . secara langsung ke dalam polybag menguntungkan karna benih akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk Di samping itu, harus dilakukan penyulaman terhadap benih yang tidak tumbuh atau berkecambah. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pemeraman benih adalah sebagai berikut : Benih yang telah ditiriskan diletakkan di atas kain basah dan ditutup dengan kain basah yang lain, atau dapat juga menggunakan satu kain yang digulung atau dilipat satu Jika tidak ada kain basah, pemeraman dapat juga dilakukan dengan menggunakan media kertas merang atau koran. Dalam keadaan demikian, benih dibiarkan selama 1-2 hari. Selama pemeraman, kelembapan harus dijaga untuk memprcepat Setiap hari media Sari et al. kain harus disemprot dengan air 3-5 . Dalam waktu 1-2 hari benih sudah mulai berkecambah. Benih yang dipindahkan ke pesemaian . antong plastik atau kotak bedenga. , apabila akar benih telah mencapai panjang 2 mm-3 mm. Penanaman/Penyemaian Benih Benih-benih berkecambah harus segera dipindahkan atau disemaikan ke dalam kantong plastik atau kotak bedengan yang sudah Penyemaian benih dilakukan dengan cara sebagai berikut: Media semai atau tempat pesemaian dibasahi terlebih dahulu sampai air meresap ke bagian dasar. Penyiraman media semaian sebaiknya dilakukan sehari sebelum benih disemai. Dibuat lubang tanam sebesar pensil pada kantong atau kotak bedengan, dengan kedalam sekitar 1 cm. Benih yang telah berkecambah dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan menggunakan pinset, dengan posisi miring atau agak tidur. Benih ditimbun dengan media tanah yang sama, maksimal setinggi 1 cm. Penimbunan yang terlalu dalam dapat menggagalkan pertumbuhan benih. Penanaman pada kotak harus memperhatikan jarak tanam. Jarak tanam pada penanaman benih di kotak bedengan adalah 10 cm x 10 cm. Setelah benih ditanam, media semai dibasahi dengan air secukupnya. Pemeliharaan bibit Benih yang telah ditanam harus dipelihara secara intensif selama awal pertumbuhan, sampai tanaman atau bibit dapat dipindah ke polibag. Waktu yang diperlukan untuk memelihara bibit sampai dapat dipindahkan ke polibag adalah This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. sekitar tiga minggu, atau tepatnya 21 hari setelah penyemaian. Pemeliharaan bibit di persemaian sampai dapat dipindahkan ke polibag kegiatan-kegiatan . Penyiraman Penyiraman berlubang halus agar tidak merusak bibit tanaman yang sudah tumbuh atau baru tumbuh. Penyiraman dilakukan agar media semai tetap Air disiramkan secukupnya sampai tanah cukup basah . encapai Penyiraman dilakukan dua kali sehari . ada pagi dan sore har. sehingga tanaman tidak akan menderita kekeringan dan terjamin pertumbuhannya. Pengaturan naungan Pengaturan naungan adalah kegiatan membuka dan menutup naungan terutama pada pesemaian di dalam sungkuo . onstruksi atap berbentuk setengah lingkara. Pengaturan mendapatakan cahaya matari yang cukup, sesuai dengan yang diperlukan Naungan dibuka setiap pagi dan sore hari, pada saat cuaca cerah/ tidak berawan. Pembukaan naungan pada pagi hari dilakukan sampai pukul 10. Setelah pukul 00 sinar matahari sudah mulai terik dan tidak baik bagi pertumbuhan benih yang baru disemai. Kemudian naungan dibuka kembali pada sore hari, pukul 15. 00 atau 15. 30 dan ditutup lagi menjelang matahari Dengan sinar matahari yang cukup, bibit akan tumbuh sehat, kokoh, serta batang dan daunnya berwarna hijau. Kekurangan sinar matahari dapat ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 memamjang, kurus, batang dan daun pucat, dan tambah lemah. Penyiangan Penyiangan dilakukan jika tempat Rumput-rumput dicabut dan dibersihkan supaya tidak mengganggu pertumbuhan benih atau Penanaman Penanaman dilakukan setelah bibit Terung hijau Varietas Patriot F1 berumur tiga minggu setelah semai media tanam yang digunakan berupa campuran topsoil, pupuk kandang. Aplikasi perlakuan Pemberian pupuk SP-36 dilakukan pada tanaman berumur 14 hari setelah tanam dengan interval waktu pemberian 1 minggu sekali dengan 4 kali aplikasi. Pemberian pupuk dilakukan sesuai perlakuan yaitu, diberikan pupuk SP-36 atau control (P. , dosis pupuk 12 g tanaman (P. , dosis pupuk 24 g tanaman (P. Pemberian pupuk KCl dilakuan sebelum penanaman, hal ini dilakukan dengan cara menaburkan disekitar lubang tanam, sesuai dengan dosis yang ditentukan pada setiap plot pengamatan, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan maka dalam aplikasi diatur jarak dari tanaman agar tidak mengenai akar kalaupun mengenai akar tidak secara langsung dan berlebihan. Pemberian pupuk KCl dilakukan sesuai perlakuan yaitu, diberikan pupuk KCl atau control . , diberikan pupuk 8 g tanaman . , diberikan pupuk 16 g tanaman . , diberikan pupuk 24 g tanaman . Pemasangan Ajir Pemasangan ajir dari kayu dengan panjang A 150 cm dilakukan setelah tanaman berumur dua minggu setelah This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pengaruh Pupuk SP-36 A Sari et al. Pemeliharaan . Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari sesuai dengan keadaan curah hujan. Penyiangan Penyiangan dilakukan 7 hari sekali secara manual menggunakan tangan dan cangkul untuk sekitar lahan penelitian. Pewiwilan Pewiwilan dilakukan 2 minggu setelah tanam secara manual menggunakan tangan pada cabang ketiak daun. Umur Saat Berbunga . Dihitung sejak mulai bibit dipindah ke dalam polibag sampai dengan munculnya bunga pertama kali. Umur Saat Panen . Dihitung sejak mulai bibit dipindah ke dalam polibag sampai dengan panen pertama kali. Jumlah Buah Per Tanaman . Dihitung jumlah buah per tanaman setiap panen dan dijumlahkan sampai 4 kali panen. Berat Buah Per Tanaman . Dengan menimbang berat buah segar per tanaman pada setiap kali panen dan dijumlahkan beratnya, dari panen pertama sampai panen Panen Panen dilakukan pada saat Terung Hijau Varietas Patriot F1 sudah berwarna Hijau mengkilap dan keras buahnya, pemanenan dilakukan sebanyak 4 kali dengan interval seminggu sekali. Analisis Data Untuk perlakuan pupuk SP-36 dan pupuk KCl serta interaksinya, maka data hasil pengamatan di analisis dengan sidik ragam (Steel & Torrie, 1. Bila hasil sidik ragam berpengaruh nyata (F. hitung > F tabel 5 %) atau berpengaruh sangat nyata (F. hitung > F tabel 1 % ), maka untuk membandingkan dua rata-rata perlakuan dilakukan uji lanjutan dengan Beda nyata terkecil (BNT) taraf nyata 5 %, sedangkan bila berbeda tidak nyata (F hitung O F tabel 5 %) tidak dilakukan uji lanjutan. Rumus uji BNT sebagai berikut : Pengamatan dan Pengambilan Data . Tinggi Tanaman . Tinggi tanaman diukur pada saat tanaman berumur 15, 30, dan 45 hari setelah tanam (HST). Pengukuran tinggi tanaman dilakukan 2 cm dari permukaan tanah yang telah diberi tanda dengan cat atau spidol pada bagian pangkal tanaman yang bersentuhan dengan tanah sampai dengan titik tumbuh cabang utama tanaman yang diteliti. yu 2yaycNya yc BNT () = t 2 . yccycayci x Oo Keterangan : T Ae tabel = nilai t pada tabel T ( = 5 %, nilai derajat bebas galat ) KT galat = kuadrat tengah galat = banyaknya ulangan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Tinggi Tanaman Umur 15 Hari Setelah Tanam . Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk KCl (B) dan pupuk SP-36 (P) berpengaruh sangat nyata, sedangkan interaksinya (PxB) tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari setelah tanam. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk SP-36 (P) terhadap tinggi tanaman umur 15 hari setelah tanam, menunjukkan bahwa perlakuan p2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p1, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan p0. Perlakuan p1 berbeda nyata dengan perlakuan p0. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk KCl (B) terhadap tinggi tanaman umur 15 hari setelah tanam, menunjukkan bahwa perlakuan b3 berbeda nyata dengan perlakuan b2, b1 dan b0. Perlakuan b2 berbeda nyata dengan perlakuan b1 dan b0. Perlakuan b1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan b0. menunjukkan bahwa perlakuan b3 berbeda nyata dengan perlakuan b2, b1 dan b0. Perlakuan b2 dan b1 berbeda nyata dengan perlakuan b0. Hasil uji BNT taraf 5% pada interaksi perlakuan pupuk SP-36 dan pupuk KCl (PxB) terhadap tinggi tanaman umur 30 hari setelah tanam, menunukkan bahwa perlakuan p0b3 dan p1b3 berbeda nyata dengan perlakuan p2b2, p2b3, p2b0, p2b1, p1b2, p0b1, p0b2, p1b1, p1b0 dan p0b0. Perlakuan p2b2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p2b3, p2b0 dan p2b1, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan p1b2, p0b1, p0b2, p1b1, p1b0 dan p0b0. Perlakuan p2b0 dan p2b1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p1b2, p0b1 dan p0b2, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan , p1b1, p1b0 dan p0b0. Perlakuan p1b2, p0b1 dan p0b2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p0b1 dan p0b2, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan p1b0 dan p0b0. Perlakuan p0b1 dan p0b2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p1b1, tetapi berbrda nyata dengan perlakuan p1b0 dan p0b0. Perlakuan p1b1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p1b0, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan p0b0. Perlakuan p1b0 berbeda nyata dengan perlakuan p0b0. Tinggi Tanaman Umur 30 Hari Setelah Tanam . Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk SP-36 (P) berpengaruh nyata, sedangkan perlakuan pupuk KCl (B) dan interaksinya (PxB) berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 30 hari setelah tanam. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk SP-36 (P) terhadap tinggi tanaman umur 15 hari setelah tanam, menunjukkan bahwa perlakuan p2 berbeda nyata dengan perlakuan p1 dan p0. Perlakuan p1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p0. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk KCl (B) terhadap tinggi tanaman umur 15 hari setelah tanam. Tinggi Tanaman Umur 45 Hari Setelah Tanam . Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk SP-36 (P), pupuk KCl (B) dan interaksinya (PxB) berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 45 hari setelah tanam. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk SP-36 (P) terhadap tinggi tanaman umur 45 hari setelah tanam, menunjukkan bahwa perlakuan p2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p1, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan p0. Perlakuan p1 berbeda nyata dengan perlakuan p0. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk KCl (B) terhadap tinggi tanaman umur 45 hari setelah tanam. Tinggi Tanaman . This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pengaruh Pupuk SP-36 A menunjukkan bahwa perlakuan b3 berbeda nyata dengan perlakuan b2, b1 dan b0. Perlakuan b2 berbeda nyata dengan perlakuan b1 dan b0. Perlakuan b1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan b0. Hasil uji BNT taraf 5% pada interaksi perlakuan pupuk SP-36 dan pupuk KCl (PxB) terhadap tinggi tanaman umur 45 hari setelah tanam, menunukkan bahwa perlakuan p1b3 berbeda nyata dengan perlakuan p2b3, p0b3, p1b2, p2b2, p2b0, p1b1, p2b1, p0b2, p0b0, p0b1 dan p1b0. Perlakuan p2b3 dan p0b3 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p1b2, p2b2, p2b0 dan p1b1, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan p2b1, p0b2, p0b0, p0b1 dan p1b0. Perlakuan p1b2, p2b2, p2b0 dan p1b1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p2b1 dan p0b2, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan p0b0, p0b1 dan p1b0. Perlakuan p2b1 dan p0b2 berbeda nyata dengan perlakuan p0b0, p0b1 dan p1b0. Perlakuan p0b0, p0b1 dan p1b0 satu sama lainnya saling tidak berbeda nyata. Umur Saat Berbunga . Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk KCl (B) tidak berpengaruh nyata, perlakuan pupuk SP36 (P) berpengaruh nyata dan interaksinya (PxB) tidak berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk KCl (B) terhadap umur saat berbunga, menunjukkan bahwa perlakuan b3, b2 dan b1 satu sama lainnya tidak saling berbeda nyata, tetapi ketiga perlakuan tersebut . 3, b2 dan . berbeda nyata dengan perlakuan b0. Umur Saat Panen . Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk KCl (B) tidak berpengaruh nyata, perlakuan pupuk SP36 (P) berpengaruh nyata, interaksinya (PxB) tidak berpengaruh nyata terhadap umur saat panen. Sari et al. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk KCl (B) terhadap umur perlakuan b3 tidak berbeda nyata dengan perlakuan b2, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan b1 dan b0. Perlakuan b2, b1 dan b0 satu sama lainnya saling tidak berbeda Jumlah Buah Per Tanaman . Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk KCl (B) berpengaruh sangat nyata, perlakuan pupuk SP-36 (P) berpengaruh nyata dan interaksinya (PxB) berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah per tanaman. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk SP-36 (P) terhadap jumlah buah per tnaman, menunjukkan bahwa perlakuan p2 berbeda nyata dengan perlakuan p1 dan p0. Perlakuan p1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p0. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk KCl (B) terhadap jumlah buah per tanaman, menunjukkan bahwa perlakuan b3 dan b2 berbeda nyata dengan perlakuan b1 dan b0. Perlakuan b1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan b0. Hasil uji BNT taraf 5% pada interaksi perlakuan pupuk SP-36 dan pupuk KCl (PxB) terhadap jumlah buah per tanaman, menunukkan bahwa perlakuan p2b2 dan p2b3 berbeda nyata dengan p2b1, p1b1, p1b0, p1b3, p0b3, p0b2, p0b1, p2b0, p1b2 dan p0b0. Perlakuan p2b1, p1b1 dan p1b0 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p1b3, p0b3, p0b2 dan p0b1, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan p2b0, p1b2 dan p0b0. Perlakuan p1b3, p0b3, p0b2, p0b1, p2b0, p1b2 dan p0b0 satu sama lainnya saling tidak berbeda nyata. Berat Buah Per Tanaman . Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk SP-36 (P), pupuk KCl (B) dan interaksinya (PxB) berpengaruh sangat nyata terhadap berat buah per tanaman. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk SP-36 (P) terhadap berat buah per tanaman, menunjukkan bahwa perlakuan p2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan p1, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan p0. Perlakuan p1 berbeda nyata dengan perlakuan p0. Hasil uji BNT taraf 5% pada perlakuan pupuk KCl (B) terhadap berat buah per tanaman, menunjukkan bahwa perlakuan b3, b2 dan b1 satu sama lainnya tidak saling berbeda nyata, tetapi ketiga perlakuan tersebut . 3, b2 dan . berbeda nyata dengan perlakuan b0. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Hasil uji BNT taraf 5% pada interaksi perlakuan pupuk SP-36 dan pupuk KCl (PxB) terhadap berat buah per tanaman, menunukkan bahwa perlakuan p0b2, p0b3, p2b3, p2b1, p1b2, p2b0, p1b0 dan p1b1 saling tidak berbeda nyata satu sama lainnya, tetapi perlakuan tersebut . 0b2, p0b3, p2b3, p2b1, p1b2, p2b0, p1b0 dan p1b. , berbeda nyata dengan perlakuan p1b3, p2b2, p0b1 dan p0b0. Perlakuan p1b3, p2b2, p0b1 dan p0b0 satu sama lainnya saling berbeda nyata. Tabel 2. Rekapitulasi Data Penelitian Pengaruh Pupuk KCl dan Pupuk SP-36 Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terung Hijau (Solanum melongena L. ) Varietas Patriot F1. Tinggi Tanaman . Faktor Perlakuan Pupuk SP-36 (P) Sidik Ragam dosis 0 kg/ha . dosis 150 kg/ha . dosis 300 kg/ha . Pupuk KCl (B) Sidik Ragam Dosis 0 kg/hakontrol . dosis 100 kg/ha . dosis 200 kg/ha . dosis 300 kg/ha . Interaksi (PxB) Sidik Ragam Umur Saat Berbunga . Umur Saat Panen Jumlah Buah Per Tanaman . Berat Buah Per Tanaman . 15 HST 30 HST 45 HST 8,21 b 8,93 a 8,95 a 12,23 b 12,33 b 12,83 a 22,25b 23,75 a 24,25 a 37,25 37,00 37,13 69,25 69,00 69,13 7,38 b 7,50 b 8,00 a 1134,13 b 1166,06 a 1184,56 a 8,38 c 11,21 c 21,50 c 37,42 b 69,42 b 7,25 b 1111,08 b 8,41 c 8,78 b 9,20 a 11,95 b 12,43 b 14,26 a 22,08 c 23,75 b 26,33 a 37,08 a 37,00 a 37,00 a 69,17 b 69,00 ab 68,92 a 7,67 b 7,75 a 7,83 a 1153,50 a 1184,58 a 1197,17 a 7,80 7,50 8,53 9,00 8,68 8,98 8,85 9,20 8,68 8,75 8,98 9,40 10,08 g 11,90 de 11,75 de 15,18 a 11,00 f 11,50 ef 12,30 cde 14,53 a 12,55 bcd 12,45 bcd 13,25 b 13,08 bc 21,00 e 20,00 e 23,00 d 25,00 bc 19,50 e 23,25 cd 24,25 bcd 28,00 a 24,00 cd 23,00 d 24,00 cd 26,00 bc 37,75 37,25 37,00 37,00 37,00 37,00 37,00 37,00 37,50 37,00 37,00 37,00 69,75 69,25 69,00 69,00 69,00 69,00 69,00 69,00 69,50 69,25 69,00 68,75 7,00 c 7,50 bc 7,50 bc 7,50 bc 7,75 b 7,75 b 7,00 c 7,50 bc 7,00 c 7,75 b 8,75 a 8,50 a 990,00 e 1091,00 d 1234,50 a 1221,00 a Keterangan : Pupuk SP-36 (P) : dosis 150 kg/ha . Pupuk KCl (B) : dosis 100 kg/ha . dosis 200 kg/ha . dosis 300 kg/ha . dosis 300 kg/ha . 1170,50 a 1164,00 a 1177,50 a 1152,25 b 1172,75 a 1205,50 a 1141,75 c 1218,25 a HST : Hari Setelah Tanam This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pengaruh Pupuk SP-36 A Pengaruh Pupuk SP-36 Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terong (Solanum melongena L. Perlakuan pupuk SP-36 tidak berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga dan umur saat panen. Berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 30 hari setelah tanam dan berat buah per tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari dan umur 45 hari setelah tanam, dan jumlah buah per tanaman. Hasil sidik ragam menunjukkan SP-36 berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari, umur 30 hari dan umur 45 hari setelah tanam. Peningkatan dosis pupuk dari 150 kg/ha ke 300 kg/ha memberikan pengaruh yang nyata pada semua parameter tinggi tanaman. Tanaman perlakuan dengan dosis 300 kg/ha . , yaitu 8,95 cm . mur 15 har. , 12,83 cm . mur 30 har. dan 24,25 c. pada umur 45 hari setelah tanam. Tanaman terendah terdapat pada perlakuan tanpa pupuk SP36 . , yaitu 8,21 cm . mur 15 har. , 12,23 cm . mur 30 har. dan 22,25 cm pada umur 45 hari setelah tanam. Adanya perbedaan pertumbuhan tinggi tanaman dengan meningkatnya dosis pupuk SP-36 yang diberikan, diduga bahwa unsur hara fosfor (P) berperan dalam perkembangan akar tanaman. Sebagaimana telah dikemukakan oleh Lakitan . , bahwa Fosfor merupakan komponen utama pada asam nukleat, fosfolipid, dan senyawa fosfat yang berperan dalam perkembangan Kekurangan menyebabkan pertumbuhan kerdil pada tanaman muda, warna daun menjadi ungu tua kehijau. Pemberian pupuk fosfor yang seimbang dan optimal dapat membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman (Santoso & PS, 2013. Triani et al. , 2. Perlakuan pupuk SP-36 tidak berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga dan umur saat panen. Keadaan ini disebabkan bahwa kemungkinan Sari et al. adanya faktor lain yang lebih dominan mempengaruhi umur berbunga dan umur panen, seperti faktor genetik dan Perlakuan SP-36 berpengaruh nyata terhadap jumlah buah dan berat buah per tanaman. Berdasarkan data pada Tabel 2 (Tabel Rekapitulas. , menunjukkan bahwa semakin meningkat dsosis pupuk SP-36 yang diberikan cenderung meningkatkan jumlah buah dan berat buah per tanaman. Hal ini disebabkan karena ada peran unsur fosfor (P) yang terdapat pada pupuk SP-36, yang mampu meningkatkan dan memperbaiki pertumbuhan generatif tanaman seperti jumlah buah dan berat buah. Unsur P berperan dalam sintesis protein, sintesis bunga, buah dan biji (Wijaya, 2020. Triyanti, 2. Pengaruh Pupuk KCl Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terong (Solanum melongena L. Perlakuan pupuk KCl berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga, umur saat panen dan jumlah buah per tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari, umur 30 hari dan umur 45 hari setelah tanam, dan berat buah per Perlakuan pupuk KCl berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari, umur 30 hari dan umur 45 hari setelah tanam. Meningkatnya pemberian dosis pupuk KCl cenderung meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, dan kedaan ini disebabkan adanya peran unsur kalium (K) pada pertumbuhan vegetatif tanaman. Hal ini diduga bahwa unsur kalium yang terkandung di dalam pupuk KCl mempunya peranan yang penting dalam mengaktifkan enzim-enzim metabolisme dan biosistesis, serta memperbaiki transfortasi asimilat (Wijaya, 2020. Rakhman et al. , 2. Sehingga akan memacu pertumbuhan tanaman, terutama tinggi tanaman. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Pemberian pupuk KCl memberikan pengaruh yang nyata pada parameter umur saat berbunga dan umur saat panen. Keadaan ini bisa disebabkan karena adanya peranan faktor lingkungan seperti tanah dan iklim. Perlakuan pupuk KCl berpengaruh nyata terhadap jumlah buah dan berat buah per tanaman. Berdasarkan Tabel 2 jumlah buah terbanyak per tanaman dan berat buah terberat terdapat pada perlakuan pupuk KCl dengan dosis 300 kg/ha . , yaitu 7,83 buah/tanaman dan 1197,17 g/tanaman. Sedangkan jumlah buah paling sedikit dan berat buah teringan terdapat pada perlakuan tanpa pupuk KCl . , yaitu 7,25 buah per tanaman dan 1111,08 g/tanaman. Untuk parameter berat buah per tanaman, perlakuan pupuk KCL dengan dosis 300 kg/ha . , 200 kg/ha . dan 100 kg/ha . , secara statistik berat buah per tanaman tidak berbeda nyata Tabel 2. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan dosis pupuk tidak selalu diikuti dengan meningkatnya hasil tanaman. Namun KCl memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan tanpa pupuk KCl. Unsur kalium (K) memiliki fungsi sebagai pembentuk pati, mengaktifkan enzim, memperngaruhi penyerapan unsur-unsur kekeringan, penyakit dan membantu perkembangan akar (Hardjowigeno, 2010. Ayu et al. , 2. Pengaruh Interaksi Perlakuan Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terong (Solanum melongena Interaksi perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari setelah tanam, umur saat berbunga dan umur saat panen. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 30 hari dan umur 45 hari setelah tanam, jumlah buah per tanaman dan berat buah per tanaman. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Secara umum interaksi perlakuan pupuk SP-36 dan pupuk KCl berpengaruh terhadap parameter tanaman. Pada parameter jumlah buah per tanaman, jumlah buah buah terbanyak terdapat pada perlakuan dosis 300 kg/ha pupuk SP-36 dan dosis pupuk 200 kg/ha pupuk KCl . , yaitu 8,75 buah per tanaman. Sedangkan berat buah terberat terdapat pada interasi perlakuan dengan tanpa pupuk SP-36 dan dosis 100 kg/ha pupuk KCl . , yaitu 1234,50 g/tanaman. Kondisi kombinasi pemberian pupuk SP-36 dan pupuk KCl pada tanaman terung yang dibudidayakan di dalam polibag, tidak selalu menghasilkan produksi yang maksimal, karena banyak faktor yang Seperti kesuburan tanah, iklim dan juga gangguan hama dan Untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan persyaratan teknis dan budidaya, faktor iklim dan tanah dan juga faktor gangguan hama dan penyakit (Cahyono, 2016. Arisona et al. , 2022. Lusiana, 2. Hal ini diduga bahwa bahan organik selain mampu memperbaiki sifat-sifat tanah juga dapat meningkatkan produksi tanaman, dalam bahan organik terkandung unsur hara makro dan mikro yang berfungsi untuk menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman, kecukupan hara makro akan menyebabkan pertumbuhan dan produksi tanaman yang meningkatnya jumlah buah dan diikuti oleh bobot buah pertanaman. Waktu pemberian bahan organik yang tepat akan meningkatkan produksi tanaman yang optimal karena hara akan manjadi tersedia bagi tanaman. Pengaruh pupuk SP-36 menunjukan hasil yang baik terhadap jumlah buah pertanaman, hal ini SP-36 meningkatkan unsur P dalam tanah sebesar 36% yang berperan dalam pembelahan sel untuk daun buah dan biji serta untuk pembentukan bunga. Hal ini This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pengaruh Pupuk SP-36 A Sari et al. lah yang menyebabkan semakin tinggi dosis yang diberikan semakin banyak jumlah yang dihasilkan pertanaman, pada berat buah hasil sidik ragam berpengaruh tidak nyata terhadap tanaman cabai walaupun hasil yang diperoleh tetap tinggi (Rakhman et al. , 2. KCl dengan dosis 200 kg/ha . , yaitu 1234,50 g/tanaman, sedangkan berat buah teringan per tanaman terdapat pada perlakuan tanpa pupuk SP-36 dan tanpa pupuk KCl . , yaitu 990,00 g/tanaman. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan sebagai berikut : Perlakuan pupuk SP-36 tidak berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga dan umur saat panen. Berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 30 hari setelah tanam dan berat buah per tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari dan umur 45 hari setelah tanam, dan jumlah buah per tanaman. Berat buah per tanaman terberat terdapat pada perlakuan pupuk SP-36 dengan dosis 300 kg/ha . , yaitu 1184,56 g/tanaman, sedangkan berat buah teringan terdapat pada perlakuan tanpa pupuk SP-36 . , yaitu 1134,13 g/tanaman. Perlakuan pupuk KCl berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga, umur saat panen dan jumlah buah per tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari, umur 30 hari dan umur 45 hari setelah tanam, dan berat buah per tanaman. Buah terberat per tanaman terdapat pada perlakuan pupuk KCl dengan dosis 300 kg/ha . , yaitu 1197,17 g/tanaman, sedangkan buah teringan per tanaman terdapat pada perlakuan tanpa pupuk KCl . , yaitu 1111,08 g/tanaman. Interaksi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari setelah tanam, umur saat berbunga dan umur saat panen. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 30 hari dan umur 45 hari setelah tanam, jumlah buah per tanaman dan berat buah per tanaman. Buah terberat per tanaman terdapat pada interaksi perlakuan tanpa pupuk SP-36 dan pupuk DAFTAR PUSTAKA Alfiandi. Hasbi. , & Suroso, . Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Terung (Solanum melongena L. ) Terhadap Pemberian Pupuk Oraganik CairAzolla (Azolla Pinat. Dan Pupuk P. National Multidisciplinary Sciences, 1. , 123Ae137. https://doi. org/10. 32528/nms. Arisona. Purnamasari. , & Sulistyawati. Pengaruh Pemberian Kompos Limbah Bunga Krisan (Chrysanthemum morifolium ) Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Terung Ungu (Solanum melongena L. Jurnal Agroteknologi Merdeka Pasuruan, 6. , 40. https://doi. org/10. 51213/jamp. Ayu. Sasli. Agroteknologi. Pertanian. Tanjungpura. Anggrek. Hilir. Utara. , & Alluvial. PENGARUH BOKASI KULIT RAMBUTAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG UNGU ( Solanum melongena L . ) PADA TANAH ALLUVIAL. July 2020, 65Ae Cahyono. Teknik Budidaya Secara Organik dan Anorganik Terung Hibrida. Pustaka Mina.