JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Tasawuf sebagai Pendekatan Pedagogis dalam Pembelajaran Berbasis Nilai: Kajian Kepustakaan dalam Pendidikan Islam Fuadi1. Fakhrul Rijal2 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh Email: fuadi. munir@ar-raniry. ABSTRACT Values based learning emphasizes the cultivation of studentsAo character, moral reasoning, and spirituality alongside cognitive achievement. In Islamic education. Sufism or tasawuf can be approached as a pedagogical lens that foregrounds self-purification or tazkiyat alnafs, moral formation, and the meaning of knowledge as a pathway to ethical and spiritual This article examines the philosophical foundations of Sufism in Islamic education, the relevance of core Sufi values to values based learning, and their pedagogical implications for teachers and classroom practices. Using a qualitative library research design with descriptive analytical and thematic content analysis, this study synthesizes classical and contemporary literature on Sufism. Islamic pedagogy, and character education. The review indicates that key Sufi values such as sincerity or ikhlas, patience or sabar, humility or tawadhuAo, ascetic self-restraint or zuhud, and muraqabah as self-awareness under divine supervision are conceptually aligned with values based learning and can be internalized through teacher role modeling, habituation, reflective learning or muhasabah, and contextual integration across subjects. Effective implementation, however, depends on teacher readiness and systematic instructional design to ensure that values education moves beyond purely normative transmission. Keywords: Sufism. pedagogical approach. values-based learning. Islamic education. character education Abstrak Pembelajaran berbasis nilai menekankan pengembangan karakter, penalaran moral, dan spiritualitas peserta didik di samping capaian kognitif. Dalam pendidikan Islam, tasawuf dapat diposisikan sebagai lensa pedagogis yang menekankan penyucian jiwa atau tazkiyat al-nafs, pembentukan akhlak, serta pemaknaan ilmu sebagai jalan menuju kematangan etik dan spiritual. Artikel ini mengkaji landasan filosofis tasawuf dalam pendidikan Islam, relevansi nilai-nilai inti tasawuf dalam pembelajaran berbasis nilai, serta implikasi pedagogisnya terhadap peran guru dan praktik pembelajaran. Kajian ini menggunakan studi pustaka kualitatif dengan desain deskriptif analitis dan analisis isi tematik melalui sintesis literatur klasik dan kontemporer tentang tasawuf, pedagogi Islam, dan pendidikan Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai tasawuf seperti ikhlas, sabar, tawadhuAo, pengendalian diri atau zuhud, dan muraqabah secara konseptual selaras dengan pembelajaran berbasis nilai dan dapat diinternalisasikan melalui keteladanan guru, pembiasaan, pembelajaran reflektif atau muhasabah, serta integrasi kontekstual lintas mata pelajaran. Namun demikian, implementasi yang efektif memerlukan kesiapan pendidik dan rancangan pembelajaran yang sistematis agar pendidikan nilai tidak berhenti pada tataran normatif. Kata kunci: Tasawuf. pendekatan pedagogis. pembelajaran berbasis nilai. Islam. pendidikan karakter. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pembentukan manusia seutuhnya, tidak hanya pada aspek intelektual, tetapi juga moral, emosional, dan spiritual. Tujuan pendidikan dapat dipahami sebagai upaya melahirkan insan yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kesadaran nilai dalam kehidupan sosial maupun spiritualnya. Namun, realitas pendidikan kontemporer menunjukkan kecenderungan dominasi pendekatan kognitif dan instrumental, yang menempatkan keberhasilan belajar pada capaian akademik semata, sementara dimensi nilai dan spiritualitas sering kali terpinggirkan (Tilaar, 2. Kondisi ini berpotensi berdampak pada munculnya krisis moral, dekadensi akhlak, serta melemahnya kesadaran etis peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran berbasis nilai . alues-based learnin. hadir sebagai paradigma alternatif yang menekankan pentingnya internalisasi nilai dalam setiap proses pendidikan. Pendekatan ini memandang bahwa pendidikan tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari nilai, melainkan perlu secara sadar menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman perilaku peserta didik (Lickona, 1. Dalam konteks pendidikan Islam, nilai-nilai tersebut bersumber dari ajaran Al-QurAoan dan Sunnah yang menekankan keseimbangan antara aspek lahiriah dan batiniah. Namun demikian, implementasi pembelajaran berbasis nilai dalam praktik pendidikan Islam sering masih bersifat normatif dan belum selalu menyentuh dimensi penghayatan spiritual peserta didik. Tasawuf sebagai dimensi batin ajaran Islam memiliki kontribusi yang relevan dalam penguatan pembelajaran berbasis nilai. Tasawuf tidak hanya dipahami sebagai praktik spiritual individual, tetapi juga sebagai sistem nilai dan metode pembinaan kepribadian yang menekankan penyucian jiwa . azkiyat al-naf. , pengendalian diri, serta pembentukan akhlak mulia . l-Ghazali, 2. Dalam sejarah pendidikan Islam, nilainilai tasawuf dipandang sebagai salah satu fondasi penting dalam pembentukan karakter peserta didik, terutama melalui relasi guru dan murid yang bersifat transformatif dan teladan (Nasr, 1. Secara pedagogis, tasawuf menawarkan pendekatan pembelajaran yang holistik dan integratif. Pendekatan ini tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan spiritual, sehingga proses belajar dapat diarahkan menjadi sarana pembentukan kesadaran diri dan kedekatan kepada Allah Swt. (Zarnuji, 2. Nilai-nilai tasawuf seperti ikhlas, sabar, tawadhuAo, zuhud, dan muraqabah dapat diinternalisasikan dalam JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. proses pembelajaran melalui keteladanan guru, pembiasaan sikap, refleksi diri, serta penghayatan makna ilmu. Dengan demikian, ilmu tidak dipandang sekadar sebagai alat mencapai kepentingan duniawi, tetapi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbaiki kualitas kemanusiaan. Urgensi tasawuf sebagai pendekatan pedagogis semakin relevan di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi pendidikan. Arus materialisme, hedonisme, dan individualisme yang kuat dalam masyarakat modern berpotensi menggerus nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan peserta didik (Azra, 2. Pendidikan yang tidak dibarengi dengan penguatan nilai dan spiritualitas dapat berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang empati, integritas, dan tanggung jawab moral. Dalam konteks ini, tasawuf dapat diposisikan sebagai penyeimbang . yang mengarahkan pendidikan pada tujuan pembentukan insan kamil. Selain itu, tasawuf memiliki fleksibilitas metodologis yang memungkinkan integrasinya dalam berbagai mata pelajaran, tidak terbatas pada pendidikan agama. Nilainilai tasawuf dapat diintegrasikan dalam pembelajaran melalui pendekatan reflektif, dialogis, dan kontekstual, sehingga peserta didik mampu mengaitkan pengetahuan yang dipelajari dengan nilai-nilai kehidupan nyata (Muhaimin, 2. Peran guru dalam pendekatan ini menjadi sangat strategis, tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendidik nilai dan teladan moral yang hidup dalam keseharian peserta didik. Berdasarkan uraian tersebut, kajian tentang tasawuf sebagai pendekatan pedagogis dalam pembelajaran berbasis nilai menjadi penting untuk dikembangkan secara konseptual dan aplikatif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji landasan filosofis tasawuf dalam pendidikan, relevansinya dengan pembelajaran berbasis nilai, serta implikasinya terhadap peran guru dan proses pembelajaran. Diharapkan kajian ini dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan wacana pendidikan Islam serta kontribusi praktis bagi implementasi pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter dan spiritualitas peserta didik secara berkelanjutan. METODE Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis kajian kepustakaan . ibrary researc. , karena fokus pembahasan diarahkan pada penelaahan konseptual mengenai tasawuf sebagai pendekatan pedagogis dalam pembelajaran berbasis nilai. Melalui kajian kepustakaan, penulis menelusuri, menafsirkan, dan menyusun JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. argumentasi teoretis berdasarkan sumber-sumber tertulis yang relevan guna membangun kerangka konseptual yang runtut dan dapat dipertanggungjawabkan (Zed, 2. Kajian ini bersifat konseptual-tematik, sehingga AutemuanAy yang disajikan dipahami sebagai sintesis gagasan dari literatur, bukan hasil pengukuran lapangan. Secara desain, penelitian ini bersifat deskriptif-analitis: aspek deskriptif digunakan untuk memaparkan konsep-konsep utama tasawuf dan pembelajaran berbasis nilai, sedangkan aspek analitis digunakan untuk mengkaji keterkaitan dan implikasinya terhadap proses pembelajaran dan peran pendidik dalam pendidikan Islam (Creswell. Sumber data terdiri atas data primer dan sekunder. data primer meliputi karyakarya rujukan utama tasawuf dan pendidikan Islam, sementara data sekunder berupa buku, artikel jurnal, prosiding, dan dokumen akademik yang membahas pendidikan nilai, pendidikan karakter, dan pedagogi Islam (Nasr, 1997. Muhaimin, 2. Pemilihan literatur didasarkan pada kriteria: . memuat konsep tasawuf/pendidikan Islam atau pembelajaran berbasis nilai. relevan untuk menjelaskan relasi AunilaiAepembelajaranAe pembentukan akhlak/spiritualitasAy. memiliki otoritas akademik . ujukan klasik/teoretikus utama dan publikasi ilmia. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan tahapan identifikasi, seleksi, pembacaan kritis, pencatatan, dan pengelompokan konsep-konsep kunci yang terkait nilai-nilai tasawuf serta kemungkinan integrasinya dalam pembelajaran (Sugiyono, 2. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis isi . ontent analysi. dengan pendekatan tematik melalui proses reduksi data, penyajian data dalam uraian naratif, dan penarikan kesimpulan berbasis interpretasi kritis (Miles & Huberman, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Landasan Filosofis Tasawuf dalam Pendidikan Islam Dalam diskursus pendidikan Islam, pembahasan tentang pembelajaran berbasis nilai pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan filosofis mengenai untuk apa ilmu dipelajari dan ke arah mana proses pembelajaran diarahkan. Jika pembelajaran dipahami hanya sebagai pencapaian kognitif, maka nilai dan spiritualitas mudah tereduksi menjadi aspek pelengkap. Karena itu, kajian ini menempatkan tasawuf sebagai kerangka etik-spiritual yang memberi orientasi pada pembelajaran, terutama dalam upaya menjaga keseimbangan antara dimensi intelektual, moral, dan spiritual sebagaimana tujuan pendidikan Islam. Dalam kerangka ini, tasawuf tidak diposisikan semata sebagai praktik JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. kesalehan individual, melainkan sebagai sistem nilai yang menjiwai proses pendidikan melalui pembinaan akhlak, penguatan kesadaran moral, dan penyucian jiwa . azkiyat alnaf. (Farhan, 2025. Yahya et al. , 2. Berdasarkan penelaahan literatur, hasil kajian konseptual dalam artikel ini menunjukkan bahwa tasawuf memiliki relevansi sebagai pendekatan pedagogis dalam pembelajaran berbasis nilai karena menawarkan fondasi filosofis tentang manusia dan ilmu: manusia tidak hanya makhluk rasional, tetapi juga makhluk moral dan spiritual. sementara ilmu tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan menuntut adab dan orientasi Temuan ini sejalan dengan argumen bahwa adab merupakan kerangka moralepistemik yang menentukan kualitas pengetahuan dan mencegah pemisahan ilmu dari nilai (Qanitatin et al. , 2025. Silaturahim et al. , 2. Temuan ini juga sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang mengarahkan proses pembelajaran pada pembentukan . nsan kami. , yakni manusia yang seimbang antara aspek intelektual, moral, dan spiritual (Muhaimin, 2. Dengan demikian, tasawuf dapat dipahami sebagai fondasi konseptual yang menghubungkan tujuan pendidikan dengan praksis pembelajaran berbasis nilaiAi yakni bagaimana nilai dihadirkan bukan sebagai AutambahanAy, tetapi sebagai ruh yang menuntun cara belajar, cara mengajar, dan cara memaknai ilmu. Pada level pedagogis, tasawuf menawarkan pendekatan pembelajaran yang holistik dan transformatif. Pembelajaran tidak dipahami sekadar sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan sebagai proses internalisasi nilai dan pembentukan kepribadian. Dalam titik ini, argumentasi al-Ghazali menjadi penting: ilmu yang tidak disertai penyucian jiwa dan akhlak yang baik berpotensi menjerumuskan manusia pada kesombongan dan penyalahgunaan pengetahuan . l-Ghazali, 2. Penekanan alGhazali tentang pendidikan sebagai proses pemurnian jiwa dan integrasi ilmuAiimanAi amal juga ditegaskan dalam kajian literatur kontemporer yang memandang pemikiran alGhazali relevan bagi pendidikan modern untuk memperkuat dimensi moral dan spiritual, bukan hanya intelektual (Yahya et al. , 2. Pernyataan ini dapat dibaca sebagai kritik epistemologis terhadap pembelajaran yang hanya menekankan capaian kognitifAibukan berarti capaian akademik tidak penting, tetapi capaian tersebut perlu ditopang oleh orientasi etik-spiritual agar ilmu berfungsi sebagai sarana perbaikan diri dan kemaslahatan sosial. Karena itu, integrasi tasawuf dalam pembelajaran berbasis nilai lebih tepat dipahami sebagai kebutuhan konseptual untuk menata kembali orientasi JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. pendidikan, terutama ketika pendidikan menghadapi kecenderungan instrumental dan pragmatis dalam konteks kontemporer. Lebih lanjut, kerangka tasawuf juga memberi justifikasi filosofis bahwa pendidikan idealnya mengarah pada pembentukan kesadaran diri, pengendalian nafs, dan penguatan tanggung jawab moral. Ketika tasawuf menekankan pembinaan batin dan akhlak, ia sebenarnya menyediakan landasan bagi pendidikan untuk mengembangkan dimensi afektif dan spiritual peserta didik secara terarah, bukan sekadar normatif. Hal ini sejalan dengan temuan studi konseptual yang menempatkan tasawuf sebagai fondasi pedagogis yang mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan spiritual dalam pembelajaran (Farhan, 2. Dalam konteks pembelajaran berbasis nilai, posisi ini membantu menjelaskan mengapa nilai perlu diinternalisasikan melalui proses yang berkelanjutan . eteladanan, pembiasaan, dan refleks. , bukan hanya melalui penyampaian konsep moral secara verbal. Dengan demikian, poin pertama ini menegaskan bahwa tasawuf dapat diposisikan sebagai landasan filosofis yang memperkuat arah pembelajaran berbasis nilai: membangun manusia berpengetahuan yang beradab, bukan hanya manusia yang AumampuAy secara akademik. Relevansi Tasawuf dalam Pembelajaran Berbasis Nilai Setelah landasan filosofis tasawuf dipahami sebagai orientasi etik-spiritual dalam pendidikan, pembahasan berikutnya mengarah pada pertanyaan kunci: nilai apa yang paling operasional untuk diinternalisasikan dalam pembelajaran berbasis nilai, dan bagaimana nilai tersebut selaras dengan tujuan pembentukan karakter. Pada titik ini, kajian literatur menunjukkan bahwa nilai-nilai inti tasawufAiikhlas, sabar, tawadhuAo, zuhud, dan muraqabahAimemiliki korespondensi yang jelas dengan prinsip pembelajaran berbasis nilai, karena nilai-nilai tersebut tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga berfungsi sebagai pengarah sikap dalam proses belajar mengajar. Nilai-nilai ini dapat diposisikan sebagai AujembatanAy antara pembelajaran yang berorientasi pengetahuan dan pembelajaran yang berorientasi pembentukan karakter serta kesadaran spiritual peserta didik, terutama ketika pendidikan nilai menuntut strategi internalisasi yang nyata . embiasaan, keteladanan, dan kultur sekola. , bukan sekadar pengajaran konsep (Mulyana et al. , 2023. Samdani et al. , 2. Berdasarkan hasil kajian konseptual, ikhlas mendorong peserta didik menempatkan aktivitas belajar sebagai bentuk pengabdian dan tanggung jawab moral. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. bukan sekadar sarana meraih prestasi akademik. Nilai ini penting dalam menggeser orientasi belajar dari yang semata-mata pragmatis menuju belajar yang bermakna dan Dalam kajian tematik Al-QurAoan, ikhlas dipahami sebagai Aumotivasi intrinsik transendentalAy yang menopang konsistensi dan orientasi makna dalam belajar (Firdiansyah et al. , 2. Sejalan dengan itu, kajian tentang pembinaan keikhlasan pada pendidik menekankan bahwa ikhlas berkaitan dengan pelurusan niat dan kesadaran profesi sebagai pengabdian, yang secara pedagogis dapat memengaruhi iklim nilai dalam pembelajaran (Muttaqin et al. , 2. Selanjutnya, sabar dan tawadhuAo membentuk ketekunan, kerendahan hati, serta kesiapan menerima perbedaan dalam proses belajar dua nilai ini relevan untuk membangun iklim kelas yang etis, dialogis, dan menghargai proses (Nasr, 1. Sabar, dalam perspektif pendidikan Islam, juga dapat dipahami sebagai bentuk Auketahanan akademikAy . cademic resilienc. yang membantu peserta didik bertahan menghadapi kesulitan belajar secara terarah (Firdiansyah et al. Sementara itu, tawadhuAo terbukti terinternalisasi kuat dalam kultur pesantren dan dipahami sebagai proses transfer nilai dan moral yang membentuk perilaku santun serta pengendalian ego dalam relasi belajar (Rahmatullah et al. , 2. Sementara itu, zuhud dapat dipahami secara pedagogis sebagai pengendalian diri dari orientasi materialistik berlebihan dalam belajar, sehingga peserta didik terdorong mengutamakan substansi ilmu dan adab dibanding sekadar capaian simbolik. Kajian mutakhir menunjukkan bahwa percepatan budaya digital dapat menguatkan orientasi materialistik, dan dalam konteks tersebut zuhud dapat dipahami sebagai kerangka adaptif untuk membangun Auketahanan spiritualAy serta pengendalian konsumsi/hasrat yang lebih etis (Abitolkha et al. , 2. Adapun muraqabah menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan berada dalam pengawasan Tuhan, yang pada level praktik berpotensi berkontribusi pada penguatan integritas dan kontrol diri peserta didik ketika mengambil keputusan moral. Temuan empiris menunjukkan adanya korelasi antara muraqabah dan self-control pada pelajar dalam penggunaan media sosial, yang menguatkan argumentasi bahwa kesadaran Aupengawasan ilahiAy berkelindan dengan mekanisme kontrol diri (Cholili et al. , 2. Dengan demikian, nilai-nilai tasawuf tersebut secara konseptual dapat berkontribusi pada pembentukan karakter yang berintegritas dan kepribadian yang lebih JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Integrasi nilai-nilai tasawuf ini juga dapat dijelaskan melalui kerangka pembelajaran berbasis nilai yang menuntut pengembangan komponen pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral secara seimbang (Lickona, 1. Dalam konteks ini, nilai tasawuf tidak berhenti pada level AudiketahuiAy, tetapi perlu diarahkan agar AudirasakanAy dan AudipraktikkanAy melalui pengalaman belajar yang reflektif, dialogis, dan kontekstual. Sejalan dengan itu, kajian ini menempatkan modernisasi dan globalisasi sebagai konteks yang membuat internalisasi nilai semakin penting, karena orientasi pendidikan yang cenderung materialistik dan pragmatis berpotensi menggeser spiritualitas dan kemanusiaan dari ruang kelas (Tilaar, 2. Karena itu, nilai-nilai tasawuf dapat berfungsi sebagai penyeimbang . agar pembelajaran berbasis nilai tidak berhenti pada slogan normatif, tetapi bergerak ke penguatan habitus etik-spiritual dalam keseharian belajar, misalnya melalui kultur sekolah dan praktik pembiasaan yang terstruktur (Samdani et al. , 2025. Mulyana et al. , 2. Implikasi Pedagogis dan Strategi Internalisasi Nilai Tasawuf Jika poin sebelumnya menegaskan relevansi nilai-nilai tasawuf, maka implikasi pedagogisnya terletak pada siapa yang menghidupkan nilai tersebut dan bagaimana nilai itu diinternalisasikan dalam pembelajaran. Hasil kajian menegaskan bahwa tasawuf memposisikan guru sebagai aktor utama dalam internalisasi nilai: guru tidak hanya berperan sebagai muAoallim yang menyampaikan materi, tetapi juga sebagai . dan teladan moral yang menghadirkan nilai dalam praktik keseharian. Dalam tradisi pendidikan Islam, fungsi . tercermin pada praktik pembinaan karakter melalui keteladanan, pembiasaan nilai, dan pendampingan spiritual yang terintegrasi dengan kehidupan sekolah (Muzaki et al. , 2. Sejalan dengan itu, temuan studi di konteks sekolah/madrasah menunjukkan bahwa keteladanan guru dan konsistensi perilaku pendidik merupakan faktor kunci dalam internalisasi nilai karakter peserta didik (Zaini. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran berbasis nilai dipengaruhi oleh kualitas kepribadian, integritas, dan konsistensi pendidik dalam membangun lingkungan belajar yang bernuansa etis dan religius, karena internalisasi nilai lebih efektif ketika peserta didik menyaksikan contoh nyata dalam rutinitas belajar. Temuan serupa juga tampak pada internalisasi nilai melalui metode uswah . yang menekankan imitasi perilaku positif, bukan hanya penyampaian nasihat (Siahaan, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Secara strategi, internalisasi nilai dapat dilakukan melalui kombinasi keteladanan, pembiasaan sikap, integrasi nilai dalam materi ajar, serta pengalaman belajar yang reflektif dan kontekstual. Prinsip . efleksi dir. dalam tasawuf, misalnya, memiliki relevansi metodologis dengan pendekatan pembelajaran reflektif dalam pedagogi modern: peserta didik diajak memahami makna pembelajaran, tujuan menuntut ilmu, serta implikasi pengetahuan terhadap kehidupan pribadi dan sosial. Praktik muhasabah melalui jurnal reflektif terbukti membantu meningkatkan kesadaran diri . dan membuka ruang pendampingan individual oleh guru, sehingga refleksi tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi kebiasaan pedagogis yang terstruktur (Anggraini, 2. Pada level bimbingan dan pendampingan karakter, pengembangan model berbasis muhasabah juga menunjukkan bahwa refleksi dapat dioperasionalkan ke dalam tahap-tahap sistematis . isalnya pemantauan diri, evaluasi moral, komitmen perbaikan, dan evaluas. untuk memperkuat motivasi spiritual dan regulasi emosi peserta didik (Aisyah et al. , 2. Di sisi lain, kajian ini juga menunjukkan adanya peluang integrasi lintas mata pelajaran: nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kesadaran diri dapat diinternalisasikan dalam sains, sosial, maupun bahasa melalui strategi berbasis pengalaman dan refleksi, sehingga nilai tasawuf dapat menjiwai kurikulum secara lebih luas (Lickona, 1. Temuan implementatif di madrasah menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai tasawuf banyak berlangsung melalui Auhidden curriculumAy . utinitas harian dan atmosfer religius sekola. , didukung pembelajaran reflektif dan keteladanan guru (Samdani et al. , 2. Namun demikian, integrasi tasawuf sebagai pendekatan pedagogis juga menghadapi tantangan implementatif yang perlu diantisipasi agar argumentasi tidak Kajian ini mengidentifikasi beberapa tantangan, antara lain keterbatasan pemahaman guru terhadap konsep tasawuf, kecenderungan pembelajaran yang masih dominan berorientasi capaian kognitif, serta minimnya model pembelajaran sistematis yang berbasis nilai tasawuf. Tantangan tersebut juga tampak dalam konteks pendidikan Islam kontemporer, ketika guru perlu menjembatani nilai-nilai moral-spiritual dengan realitas peserta didik . ermasuk ekosistem digita. , sehingga strategi internalisasi menuntut pendekatan yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis praktik (Nuraini et al. Karena itu, penguatan kompetensi pendidik, pengembangan desain pembelajaran yang integratif, dan dukungan kebijakan sekolah/madrasah merupakan prasyarat agar JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. internalisasi nilai berjalan berkelanjutan. Dengan kata lain, tasawuf memiliki peluang konseptual dan metodologis untuk memperkaya pembelajaran berbasis nilai, tetapi efektivitas penerapannya bergantung pada kesiapan aktor . uru dan institus. serta rancangan pembelajaran yang realistis dan terukur. KESIMPULAN Berdasarkan kajian kepustakaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tasawuf dapat diposisikan sebagai landasan filosofis yang relevan dalam pendidikan Islam karena menegaskan orientasi ilmu pada pembentukan akhlak, penyucian jiwa . azkiyat al-naf. , dan penguatan kesadaran etik-spiritual peserta didik. Kerangka ini membantu menempatkan pembelajaran bukan semata proses kognitif, melainkan proses pembinaan kepribadian yang mengarah pada tujuan pendidikan Islam, termasuk pembentukan insan kamil sebagai pribadi yang seimbang secara intelektual, moral, dan Kajian ini juga menunjukkan bahwa nilai-nilai inti tasawuf seperti ikhlas, sabar, tawadhuAo, zuhud, dan muraqabah berpotensi memperkaya pembelajaran berbasis nilai karena menyediakan pedoman sikap yang operasional dalam proses belajar mengajar. Nilai-nilai tersebut dapat diinternalisasikan tidak hanya pada ranah pengetahuan moral, tetapi juga pada ranah afektif dan perilaku melalui pengalaman belajar yang reflektif dan kontekstual, sehingga pembelajaran berbasis nilai lebih mungkin menghasilkan perubahan sikap yang berkelanjutan. Implikasi pedagogisnya, guru memiliki peran strategis tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai murabbi dan teladan moral yang menghadirkan nilai dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Internalisasi nilai tasawuf dapat dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, integrasi nilai dalam materi ajar, serta muhasabah sebagai strategi refleksi diri. Namun demikian, penerapan pendekatan ini memerlukan kesiapan pendidik, rancangan pembelajaran yang sistematis, serta dukungan institusi agar tidak berhenti pada tataran normatif. Dengan demikian, tasawuf sebagai pendekatan pedagogis dapat menjadi kontribusi konseptual bagi penguatan pembelajaran berbasis nilai dalam pendidikan Islam, sekaligus membuka ruang pengembangan model implementasi yang lebih terukur pada penelitian berikutnya. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. REFERENCES